Anda di halaman 1dari 10

2.

1 Gerak dan Aliran Fluida


Aliran fluida secara ekstrim bisa menjadi kompleks, seperti yang diperlihatkan pada lau
arus sungai dan pusaran api pada obor. Tetapi pada beberapa keadaan dapat ditunjukkan
dengan model ideal yang relatif sederhana. Dinamika fluida disebut juga hidrodinamika.
(Young & Freedman, 2002) menyatakan bahwa pola yang ditempuh sebuah partikel dalam
aliran fluida disebut garis alir (flow line). Jika seluruh pola aliran tidak berubah tergadap waktu,
aliran disebut aliran tunak (steady flow). Dalam aliran tunak, setiap elemen yang melalui titik
tertentu akan mngikuti pola yang sama. Garis arus (streamline) adalah kurva dimana garis
singgungnya pada setiap titik adalah arah dari laju fluida pada titik tertentu. Ketika pola aliran
berubha pada terhadap waktu, garis arus tidak akan bertabrakan dengan garis aliran. Garis
aliran yang melalui sudut elemen luas imajiner, membentuk tabug yang disebut tabung alir
(flow tube). Beranjak dari definisi garis aliran dalam aliran tunak tidak ada fluida yang dapat
melalui sisi dinsing tabung aliran; fluida dalam tabung aliran yang berbeda tidak dapat
bercampur.
(Giancolli, 2001) menyatakan bahwa dalam fluida dinamis ada dua jenis utama aliran
fluida.
1. Aliran Laminer adalah adalah aliran fluida yang mengikuti garis (lurus atau lengkung) yang
jelas ujung dan pangkalnya. Pada aliran jenis ini, setiap partikel fluida mengikuti lintasan
yang mulus, dan lintasan ini tidak saling bersilangan. Contoh aliran laminer adalah aliran
air sungai saat jernih. Kita akan melihat aliran air seragam mengikuti aliran sungai

Gambar 1. Aliran Laminer


2. Aliran Turbulen ditandai oleh adanya aliran berputar akibat partikel-partikel yang arah
geraknya berbeda, bahkan berlawanan arah dengan arah gerak keseluruhan. Contoh aliran
turbulen adalah pada saat banjir, kita bisa melihat ada bagian air yang ke atas, ke bawah atau
pun mengikuti aliran sungai.

Gambar 2. Aliran Turbulen


Sifat-sifat aliran fluida ideal atau cairan yang ideal adalah sebagai berikut:
 Fluida mengalir tanpa ada gaya gesek. Dengan demikian tenaga mekanik cairan tetap,
tidak ada yang hilang karena gesekan. Fluida seperti ini kita sebut fluida yang non
viskos. Pada fluida yang viskos atau kental kita tidak bisa mengabaikan gesekan
antarmolekul fluida.
 Fluida tidak termampatkan. Pada fluida yang tidak termampatkan kerapatan fluida
konstan di seluruh fluida, meskipun fluida mendapat tekanan. Pada umumnya kerapatan
fluida akan berubah karena adanya perubahan volume bila mendapat tekanan. Akan
tetapi pada keadaan tertentu kita dapat menganggap fluida tidak termampatkan.
 Fluida mengalir dengan aliran tunak (steady state). Fluida mengalir dengan kecepatan
konstan.

2.2 Konsep Hukum-Hukum Dasar Fluida Dinamis


2.2.1 Debit dan Kontinuitas
Debit adalah besaran yang menyatakan volume fluida yang mengalir melalui suatu
penampang tertentu dalam satuan waktu tertentu. Laju lairan volumetrik atau debit (Q)
pada suatu sistem fluida adalah ukuran yang menyatakan vulume fluida yang melewati
suatu titik dalam sistem tersebut per satuan waktu Giancolli (2001).
𝑉
𝑄=
𝑡
Dengan:
V = volume fluida (m3 )
t = selang waktu (s)
Q = debit (m3/s)

Gambar 3. Aliran Fluida Dalam Pipa


Berdasarkan gambar di atas, aliran fluida yang melalui pipa yang panjangnya 𝐿
dengan kecepatan 𝑣 dan luas penampang pipa adalah 𝐴. Selama 𝑡 detik volume fluida yang
𝐿
mengalir adalah 𝑉 = 𝐿. 𝐴, sedangkan jarak 𝐿 ditempuh selama 𝑡 = 𝑣 detik maka debit air

adalah:
𝑉 𝐿. 𝐴
𝑄= = = 𝐴. 𝑣
𝑡 𝐿⁄𝑣

Dengan:
V = volume fluida yang mengalir (m3),
t = waktu (s),
A = luas penampang (m2),
v = kecepatan aliran (m/s), dan
Q = debit aliran fluida (m3/s).
Debit merupakan laju aliran volume. Kecepatan air yang mengalir dalam sebuah pipa
atau selang akan lebih cepat ketika luas penampang (ujung selang) ditekan. Hal tersebut
menimbulkan terjadinya tekanan yang lebih besar sehingga menyebabkan air yang keluar
dari selang akan lebih deras. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa luas penampang
sangatlah mempengaruhi besar kecilnya aliran suatu fluida. Berikut ini merupakan
pemaparan terkait dengan besar aliran fluida pada penampang yang memiliki luas berbeda.
Selama waktu 𝑡 maka volume fluida mengalir lewat pipa sebanyak 𝑉. Debit fluida
adalah 𝑄 = 𝐴. 𝑣. Persamaan tersebut bisa digunakan untuk meninjau fluida yang mengalir
di dalam pipa dengan luas penampang ujung-ujung pipa berbeda. Fluida mengalir dari kiri
masuk ke pipa dan keluar melalui penampang di sebelah kanan seperti ditunjukkan gambar
di bawah ini.

Gambar 4. Aliran Fluida dengan Luas Penampang Yang Berbeda


Berdasarkan gambar tersebut diperoleh informasi bahwa air memasuki pipa dengan
kecepatan 𝑣1 . Volume air yang masuk dalam selang waktu Δt adalah:
𝑉1 = 𝐴1 𝑣1 ∆𝑡
Fluida tak termampatkan, dengan demikian bila ada V1 volume air yang masuk pipa,
sejumlah volume yang sama akan keluar dari pipa. Luas penampang ujung pipa yang lain
adalah A2.
𝑉2 = 𝐴2 𝑣2 ∆𝑡
𝑉1 = 𝑉2
𝐴1 𝑣1 ∆𝑡 = 𝐴2 𝑣2 ∆𝑡
Dengan demikian:
𝐴1 𝑣1 = 𝐴2 𝑣2 = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
Besaran 𝐴𝑣 dinamakan laju aliran volume 𝐼𝑉 . Dimensi 𝐼𝑉 adalah volume per waktu
(m3/s). Laju aliran volume adalah sama di setiap detik dalam aliran fluida inkompresibel,
yakti:
𝐼𝑉 = 𝐴𝑣
Dengan:
𝐼𝑉 : Laju aliran volume (m3/s)
𝐴 : Luas penampang (m2)
𝑣 : kecepatan fluida (m/s)
Persamaan ini disebut persamaan kontinuitas. Persamaan tersebut menunjukkan
bahwa debit yang masuk pada suatu penampang luasan sama dengan debit yang keluar
pada luasan yang lain meskipun luas penampangnya berbeda.
2.2.2 Hukum Bernoulli
Berdasarkan persamaan kontinuitas, laju aliran fluida dapat berubah-ubah sepanjang
jalur fluida. Tekanan juga dapat berubah-ubah tergantung pada ketinggian seperti pada keadaan
statis dan juga tergantung pada laju aliran. Persamaan Bernoulli didapat dari hubungan tekanan,
laju aliran, dan ketinggian untuk aliran, fluida inkompresibel yang ideal. Persamaan Bernoulli
merupakan alat pokok dalam menganalisis sistem perpipaan, stasiun pembangkit listrik tenaga
air, dan penerbangan pesawat.
Ketergantungan tekanan mengikuti persamaan kontinuitas. Ketika fluida
inkrompresibel mengalir sepanjang tabung alir dengan penampang yang berubah-ubah, lajunya
pasti berubah dan karena itu elemen dari fluida memiliki percepatan. Jika tabung horizontal,
gaya yang menyebabkan percepatan ini digunakan oleh fluida di sekelilingnya. Ini berarti
bahwa tekanan pasti berbeda pada penampang melintang yang berbeda. Jika tekanannya sama
di setiap tempat, gaya total pada setiap elemen fluida akan berharga nol. Ketika tabung alir
horizontal menyempit dan laju elemen fluida meningkat, fluida akan bergerak menuju daerah
bertekanan rendah untuk mendapatkan gaya ke depan total untuk mempercepatnya. Jika
ketinggian juga berubah, peningkatan perbedaan tekanan akan terjadi.
Gambar 5. Aliran Fluida dengan Luas Penampang dan Tinggi yang Berbeda
Gambar di atas menujukan sebuah aliran fluida pada pipa yang memiliki luas dan
ketinggian pipa yang berbeda. Massa jenis fluida dalam kedua luas penampang tersebut adalah
sama. Terjadi perubahan energi kinetik dan potensial dalam peristiwa tersebut. Berdasarkan
hal tersebut dapat ditinjau persamaan-persamaan berikut.
∆𝑚
𝜌=
∆𝑉
∆𝑚 = 𝜌∆𝑉
∆𝑡 = 𝑠𝑎𝑚𝑎/𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
Perubahan energi potensial yang terjadi pada peristiwa di atas adalah sebagai berikut.
∆𝑈 = ∆𝑚𝑔𝑦2 − ∆𝑚𝑔𝑦1
∆𝑈 = 𝜌∆𝑉𝑔(𝑦2 − 𝑦2 )
Perubahan energi kinetiknya adalah sebagai berikut.
1 1
∆𝐾 = ∆𝑚𝑣2 2 − ∆𝑚𝑣1 2
2 2
1
∆𝐾 = 𝜌∆𝑉(𝑣2 2 − 𝑣1 2 )
2
Usaha yang bekerja pada peristiwa tersebut adalah sebagai berikut:
1
∆𝑈 + ∆𝐾 = 𝜌∆𝑉𝑔(𝑦2 − 𝑦1 ) + 𝜌∆𝑉(𝑣2 2 − 𝑣1 2 )
2
Fluida yang mengikuti massa fluida ∆𝑚 dalam pipa (di bagian kiri) memberikan gaya ke kanan
yang besarnya 𝐹1 = 𝑃1 𝐴1 . Gaya tersebut melakukan usaha sebesar:
𝑊1 = 𝐹1 ∆𝑥1 = 𝑃1 𝐴1 ∆𝑥1 = 𝑃1 ∆𝑉
Pada saat yang sama, fluida di kanan memberikan gaya 𝐹2 = 𝑃2 𝐴2 ke sisi kiri. Gaya ini
melakukan usaha negatif karena berlawanan dengan gerakannya, hal tersebut dapat dipaparkan
dalam persamaan berikut:
𝑊2 = −𝐹2 ∆𝑥2 = −𝑃2 𝐴2 ∆𝑥2 = −𝑃2 ∆𝑉
Usaha totoal yang dilakukan gaya-gaya ini adalah:
𝑊𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑃1 ∆𝑉 − 𝑃2 ∆𝑉 = (𝑃1 − 𝑃2 )∆𝑉
Teorema usaha dengan energi diperoleh persamaan sebagai berikut:
𝑊𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = ∆𝑈 + ∆𝐾
1
(𝑃1 − 𝑃2 )∆𝑉 = 𝜌∆𝑉𝑔(𝑦2 − 𝑦1 ) + 𝜌∆𝑉(𝑣2 2 − 𝑣1 2 )
2
Selanjutnya persamaan di atas di bagi dengan ∆𝑉, sehingga diperoleh;
1
𝑃1 − 𝑃2 = 𝜌𝑔(𝑦2 − 𝑦1 ) + 𝜌(𝑣2 2 − 𝑣1 2 )
2
1
𝑃1 − 𝑃2 = 𝜌𝑔(𝑦2 − 𝑦1 ) + 𝜌(𝑣2 2 − 𝑣1 2 )
2
1 1
𝑃1 + 𝜌𝑔𝑦1 + 𝜌𝑣1 2 = 𝑃2 + 𝜌𝑔𝑦2 + 𝜌𝑣2 2
2 2
1
𝑃 + 𝜌𝑔𝑦 + 𝜌𝑣 2 = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
2
Dimana :
P = tekanan air (Pa)
v = kecepatan air (m/s)
g = percepatan gravitasi
h = ketinggian air
Kombinasi besaran tersebut mempunyai nilai yang sama di tiap titik sepanjang pipa.
Persamaan tersebut dikenal dengan Persamaan Bernoulli untuk aliran tunak, fluida
inkompresible nonviskos.

2.3 Aplikasi Fluida Dinamis dalam Kehidupan Sehari-hari


a. Selang yang digunakan pada saat menyiram tanaman. Ketika ujung selang dijepit
(penampang diperkecil) laju aliran air akan bertambah (v semakin besar) dibandingkan
dengan sebelum dijepit. Hal ini sesuai dengan persamaan kontinuitas yaitu utuk aliran
fluida, kecepatan pada pipa yang berpenampang besar adalah kecil, sedang pada pipa
yang berpenampang kecil kecepatan fluida besar. Dalam persamaan kontinuitas dapat
ditulis 𝑄 = 𝐴 𝑣, sehingga dapat disimpulkan bahwa kevepatan aliran air dan luas
penampang berbanding terbalik.
b. Penerapan Asas Bernoulli pada Gaya Angkat Pesawat. Pesawat terbang dapat naik
turun karena pengaruh dari sayap pesawat. Jika pesawat akan naik, dibuat gaya angkat
pesawat lebih besar dari berat pesawat. Sebaliknya, jika pesawat akan menadarat,
secara bertahap posisi pesawat harus diturunkan yaitu dengan mengubah posisi suatu
alat pegatur yang terletak pada nelakang sayap pesawat, sehingga gaya angkat pesawat
akan berkurang dan pesawat bisa turun. Prinsip yang digunakan memenuhi persamaan
Bernoulli. Bentuknya dirancang bagian atas lebih lengkung dan bagian bawah lebih
datar sehingga udara bagian atas sayap lebih rapat dan bergerak lebih cepat. Akibatnya
tekanannnya lebih kecil.

Gambar 6. Skema Sayap Pesawat


Karena tekanan diatas lebih kecil maka akan timbul gaya dorong dari bawah yang dapat
mengangkat pesawat.
Resultan kedua gaya tersebut adalah:
𝐹 = 𝐹1 − 𝐹2 = (𝑃1 − 𝑃2 )𝐴
Dengan memasukkan persamaan Bernoulli maka diperoleh:

1
𝐹 = 𝜌𝐴(𝑣1 2 − 𝑣2 2 )
2

c. Penyemprot Nyamuk. Jika penghisap dari pompa ditekan, udara yang melewati pipa
venturi (V) yaitu bagian pipa yang menyempit akan mempunyai kelajuan sangat besar.
Oleh karena kelajuan aliran udara pada pipa venturi besar, tekanannya akan menjadi
rendah sehingga cairan obat nyamuk yang ada pada pada tabung (T) akan naik ikut
keluar bersama udara.

Gambar 7. Skema Penyemprot Nyamuk


Semakin besar gaya yang diberikan pada penghisap (P), semakin besar laju udara pada
venturi dan semakin banyak pula cairan obat nyamuk yang keluar bersama udara.
2.4 Contoh Soal
1. Ahmad mengisi ember yang memiliki kapasitas 20 liter dengan air dari sebuah kran
seperti gambar berikut!

Jika luas penampang kran dengan diameter D2 adalah 2 cm2 dan kecepatan aliran air di
kran adalah 10 m/s tentukan:
a) Debit air
b) Waktu yang diperlukan untuk mengisi ember
Pembahasan
Diketahui:
𝐴2 = 2𝑐𝑚2 = 2 × 10−4 𝑚2
𝑣2 = 10 𝑚⁄𝑠
Ditanya:
a. 𝑄 = ⋯ ?
b. t untuk mengisi ember = ….?
Jawab:
a. Debit air
3
𝑄 = 𝐴2 𝑣2 = 2 × 10−4 × 10 = 2 × 10−3 𝑚 ⁄𝑠
b. Waktu yang diperlukan untuk mengisi ember
Data:
𝑉 = 20 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 = 20 × 10−3 𝑚3
3
𝑄 = 2 × 10−3 𝑚 ⁄𝑠
𝑉 20 × 10−3
𝑡= = = 10 𝑠
𝑄 2 × 10−3
2. Pipa saluran air bawah tanah memiliki bentuk seperti gambar berikut!
Jika luas penampang pipa besar adalah 5 m2 , luas penampang pipa kecil adalah 2 m2
dan kecepatan aliran air pada pipa besar adalah 15 m/s, tentukan kecepatan air saat
mengalir pada pipa kecil!
Pembahasan
Diketahui:
𝐴1 = 5 𝑚2
𝐴2 = 2 𝑚2
𝑣1 = 15 𝑚⁄𝑠
Ditanya: 𝑣2 = ⋯ ?
Jawab
Persamaan kontinuitas
𝐴1 𝑣1 = 𝐴2 𝑣2
5.15 = 2𝑣2
75 = 2𝑣2
𝑣2 = 37,5 m⁄s
3. Pipa untuk menyalurkan air menempel pada sebuah dinding rumah seperti terlihat pada
gambar berikut! Perbandingan luas penampang pipa besar dan pipa kecil adalah 4 : 1.

Posisi pipa besar adalah 5 m diatas tanah dan pipa kecil 1 m diatas tanah. Kecepatan
aliran air pada pipa besar adalah 36 km/jam dengan tekanan 9,1 x 105 Pa. Tentukan :
a) Kecepatan air pada pipa kecil
b) Selisih tekanan pada kedua pipa
c) Tekanan pada pipa kecil
(ρair = 1000 kg/m3)
Pembahasan
Data :
h1 = 5 m
h2 = 1 m
v1 = 36 km/jam = 10 m/s
P1 = 9,1 x 105 Pa
A1 : A2 = 4 : 1
a) Kecepatan air pada pipa kecil
Persamaan Kontinuitas :
A1v1 = A2v2
(4)(10) = (1) (v2)
v2 = 40 m/s
b) Selisih tekanan pada kedua pipa
Dari Persamaan Bernoulli :
1 1
𝑃1 + 𝜌𝑔𝑦1 + 𝜌𝑣1 2 = 𝑃2 + 𝜌𝑔𝑦2 + 𝜌𝑣2 2
2 2
1
𝑃1 − 𝑃2 = 𝜌𝑔(𝑦2 − 𝑦1 ) + 𝜌(𝑣2 2 − 𝑣1 2 )
2
P1 − P2 = /2(1000)(40 − 102) + (1000)(10)(1 − 5)
1 2

P1 − P2 = (500)(1500) − 40000 = 750000 – 40000


P1 − P2 = 710000 Pa = 7,1 x 105 Pa
c) Tekanan pada pipa kecil
P1 − P2 = 7,1 x 105
9,1 x 105 − P2 = 7,1 x 105
P2 = 2,0 x 105 Pa