Anda di halaman 1dari 12

TUGAS

PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PROGRAM GIZI SEBAGAI


INTERVENSI PADA REMAJA PUTRI ANEMIA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perencanaan dan Kebijakan Program
Gizi

Dosen Pengampu Mata Kuliah:


Dr. Diffah Hanim, M.Si

Oleh :
Ezhaty Diah Riani S531708020
Ivanda Glanny Anindya S531708027
Martha Arum Nugraheni S531708053

PROGRAM STUDI S2 ILMU GIZI PASCASARJANA


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang
mempengaruhi mayoritas populasi dunia di negara maju maupun berkembang
(Chakma et al., 2012). Secara global sebanyak 273 miliar atau setara dengan
42,6% orang di dunia menderita anemia (WHO, 2015). Sebesar 50% kasus
anemia disebabkan oleh defisiensi besi dimana kelompok usia remaja terutama
remaja putri merupakan kelompok yang rentan menderita anemia defisiensi besi.
Prevalensi tertinggi adalah antara usia 12-15 tahun yaitu ketika kebutuhan zat
besi meningkat tajam. Di semua negara di Asia Tenggara lebih dari 25% remaja
putri dilaporkan mengalami anemia (WHO, 2011). Di Indonesia prevalensi
anemia mencapai 21,7% dengan proporsi anemia pada perempuan lebih tinggi
daripada laki-laki (Kemenkes RI, 2013).
Masa remaja adalah masa pertumbuhan yang paling cepat kedua hingga
masa kanak-kanak. Perubahan fisik dan fisiologis yang terjadi pada remaja
memberi banyak permintaan pada kebutuhan nutrisi mereka sehingga membuat
lebih rentan terhadap anemia terutama remaja putri (Tesfaye et al., 2015). Akib
& Sumarmi (2017) menyebutkan bahwa remaja putri mempunyai risiko 10 kali
lebih besar untuk mengalami anemia dibandingkan remaja putra. Hal ini
disebabkan karena remaja putri mengalami siklus menstruasi setiap bulan yang
mengakibatkan kehilangan zat besi (Hardinsyah & Supariasa, 2016). Selain itu
faktor lain seperti asupan zat gizi, aktivitas, faktor pertumbuhan, dan
pengetahuan juga berpengaruh terhadap terjadinya anemia pada remaja putri
(Suryani et al., 2015; Akib & Sumarmi, 2017).
Anemia memiliki dampak yang negatif terhadap pertumbuhan semua
kelompok umur termasuk remaja (Soliman et al., 2014). Di samping itu, anemia
pada remaja putri juga berhubungan dengan prestasi belajar. Anemia
menyebabkan daya konsentrasi rendah dan berdampak pada prestasi belajar
menjadi kurang optimal atau rendah (Dumilah & Sumarmi, 2017). More et al.
(2013) juga membuktikan bahwa defisiensi besi pada remaja putri berdampak
pada penurunan kemampuan belajar, IQ dan skor keseimbangan mental,
konsentrasi, serta memori verbal dan rekognisi.
Mengetahui besarnya dampak yang ditumbulkan, pemerintah telah
menyusun beberapa program dan kebijakan untuk mencegah dan menangani
masalah anemia pada remaja putri seperi program suplementasi besi dan asam
folat dari WHO yang juga sudah diimplementasikan di berbagai negara (WHO,
2014). Di Indonesia, program perbaikan gizi remaja putri dilakukan melalui
pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) dan kampaye serta konseling gizi
seimbang (Kemeskes, 2015). Lebih lanjut, makalah ini akan membahas tentang
perencanaan dan kebijakan program gizi sebagai intervensi anemia pada remaja
putri.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana perencanaan dan kebijakan program gizi sebagai intervensi anemia
pada remaja putri?

C. Tujuan
Untuk menganalisis perencanaan dan kebijakan program gizi sebagai intervensi
anemia pada remaja putri

D. Manfaat
Sebagai informasi tentang perencanaan dan kebijakan program gizi sebagai
intervensi anemia pada remaja putri
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Anemia Remaja Putri


1. Definisi dan Diagnosis
Anemia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berkurangnya
jumlah sel darah merah (Hb) (De, 2011). Batas kadar Hb dalam darah untuk
diagnosis anemia dapat dilihat pada Tabel 2.1. Anemia pada masa remaja
menyebabkan berkurangnya kemampuan fisik dan mental dan berkurangnya
konsentrasi dalam pekerjaan dan kinerja pendidikan, dan juga merupakan
ancaman besar bagi keawetan aman di masa depan bagi anak perempuan
(Tesfaye et al. 2015).
Tabel 2.1 Standar Hb untuk diagnosis anemia
Tidak Anemia
Populasi
anemia Ringan Sedang Berat
Anak usia 6-59 bulan ≥ 110 110-109 70-99 <70
Anak usia 5-11 tahun ≥ 115 110-114 80-109 <80

Anak usia 12-14 tahun ≥ 120 110-119 80-109 <80


Wanita tidak hamil ≥ 120 110-119 80-109 <80
(≥ 15 tahun
Wanita hamil ≥ 110 100-109 70-99 <70

Laki-laki (≥ 15 tahun) ≥ 130 110-129 80-109 <80


Sumber: WHO, 2011
2. Faktor Risiko Anemia
Anemia pada remaja putri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya asupan zat gizi, aktivitas, faktor pertumbuhan, siklus menstruasi,
dan pengetahuan (Suryani et al., 2015; Akib dan Sumarmi, 2017). Remaja
dengan pola makan tidak baik berisiko 1,2 kali mengalami anemia (Suryani et
al., 2015). Ahankari et al. (2017) menambahkan, konsumsi buah ≥3
hari/minggu dapat menurunkan risiko anemia pada remaja putri. Asupan gizi
yang kurang biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan melewatkan satu atau dua
waktu makan. Remaja dengan asupan karbohidrat, protein, vitamin C, zat
besi, dan zat pemercepat rendah mempunyai resiko lebih tinggi mengalami
anemia. Sedangkan remaja dengan asupan zat penghambat yang sering
memiliki risiko terkena anemia yang lebih rendah dibandingkan remaja
dengan asupan tinggi zat penghambat (Akib dan Sumarmi, 2017). Asupan
gizi yang rendah salah satunya dipengaruhi karena kurangnya pengetahuan
pengetahuan remaja tentang anemia sehingga mengakibatkan kurangnya
konsumsi makanan makanan protein hewani (Suryani et al., 2015).
Faktor risiko lain yang secara signifikan mempengaruhi status anemia
adalah usia dan status gizi. Remaja putri yang berada pada kisaran usia 13-15
tahun memiliki kecenderungan untuk mengalami anemia 2.73 kali lebih besar
dibandingkan remaja putri yang berusia 10-12 tahun. Remaja putri yang
berstatus gizi kurus cenderung untuk mengalami anemia 8.32 kali lebih besar
dibandingkan remaja putri yang berstatus gizi gemuk. Remaja putri yang
berstatus gizi normal memiliki kecenderungan 6.73 kali lebih besar untuk
mengalami anemia dibandingkan remaja putri yang berstatus gizi gemuk
(Briawan et al., 2011). Selain itu, remaja putri dengan lingkar lengan atas
(LILA) ≥22 cm berisiko lebih kecil untuk menderita anemia (Ahankari et al.,
2017).
Penyakit epidemik seperti malaria, kemiskinan yang menyebabkan
tingkat kebersihan yang rendah dan konsumsi air minum yang tidak aman
juga merupakan penyebab terjadinya anemia pada remaja putri (Najafi et al.,
2013).

B. Perencanaan dan Kebijakan Program Gizi untuk Penanganan Anemia


Berikut contoh program penanganan anemia di beberapa negara di dunia.
1. Vietnam
Pada tahun 2006, sebuah proyek percontohan yang mendistribusikan
asam besi-folic mingguan, bersama dengan obat cacing untuk semua wanita
usia reproduktif, dilaksanakan di dua distrik di provinsi Yen Bai, yang
mencakup sekitar 50 000 wanita berusia 15 hingga 45 tahun. Intervensi ini
terdiri dari satu tablet asam besi-folat yang diambil setiap minggu (200 mg
sulfat besi setara dengan 60 mg besi elemental dan 0,4 mg asam folat), dan
satu tablet albendazol (400 mg) yang diambil setiap empat bulan untuk tahun
pertama. Setelah survei evaluasi 12 bulan kemudian, program ini diperluas
untuk menargetkan semua wanita usia reproduktif di provinsi (250.000
wanita), dengan pengelolaan program yang dipimpin oleh otoritas kesehatan
provins (Casey et al., 2013).
2. Venezuela
Krisis ekonomi yang parah mulai tahun 1983 di Venezuela
mengakibatkan pnurunan kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi
oleh penduduk dengan sosial ekonomi rendah di Venezuela. Situasi ini
mengakibatkan meningkatkan prevalensi defisiensi besi pada tahun 1980-an
hingga 1990-an. Pada tahun 1993, sebuah program fortifikasi-besi dimulai, di
mana tepung jagung diperkaya dengan zat besi, vitamin A, tiamin, niacin, dan
riboflavin dan tepung terigu putih diperkaya dengan zat gizi yang sama
kecuali vitamin A. Tepung jagung diperkaya zat besi hingga 50 mg/kg dan
tepung terigu putih diperkaya zat besi hingga 20 mg/kg, lebih lanjut fortifikasi
zat gizi pada tepung jagung dan tepung terigu putih disajikan pada Tabel 2.2
(Layrisse et al., 2002).
Tabel 2.2 Daftar zat gizi yang difortifikasi dalam tepung jagung dan tepung
terigu putih di Venezuela
Zat gizi Tepung jagung Tepung terigu putih
Vitamin A (IU/kg) 9500 -
Thiamine (mg/kg) 3,1 1,5
Riboflavin (mg/kg) 2,5 2,0
Niacin (mg/kg) 51,0 20,0
Zat besi* (mg/kg) 50,0 20,0
*Dalam bentuk ferrous fumarate sampai tahun 1994
Sumber: Layrisse et al., 2002.

3. India
Sebuah program suplementasi asam folat besi mingguan untuk remaja
putri diujicobakan di 52 distrik di 13 negara bagian di India. Program ini
menjangkau 27,6 juta remaja putri yang terdiri dari 16,3 juta adalah remaja
putri yang bersekolah dan 11,3 juta remaja putri putus sekolah dengan rentang
usia 10-19 tahun. Biaya program diperkirakan sebesar US $0,58 per remaja
per tahun. Proyek ini diperluas untuk mencakup 11 negara bagian pada akhir
tahun 2011. Pada tahun 2013, Pemerintah India memperkenalkan penerapan
nasional suplemen besi dan asam folat mingguan untuk sekitar 120 juta
remaja putri (Aguayo et al., 2013).
4. Indonesia
Strategi Operasional Pembinaan Gizi Masyarakat di Indonesia 2015-
2019 dalam perbaikan gizi remaja putri yaitu melalui pada program pemberian
Tablet Tambah Darah (TTD) dan kampaye serta konseling gizi seimbang
(Kemeskes, 2015a). Target remaja puteri yang mendapat Tablet Tambah Darah
(TTD) pada tahun 2019 berdasarkan Rencana Strategis Kementerian
Kesehatan tahun 2015-2019 sebesar 30% (Kemenkes RI, 2015b). Program
suplementasi zat besi telah diatur dalam buku Pedoman Penatalaksanaan
Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Setiap tablet tambah darah (TTD)
bagi WUS sekurangnya mengandung zat besi setara dengan 60 mg besi
elemental dalam bentuk sediaan Fero Sulfat, Fero Fumarat atau Fero
Glukonat dan asam folat 0,4 mg. Cara pemberian yaitu 1 tablet setiap minggu
saat tidak haid dan 1 tablet setiap hari saat sedang haid, selama minimal 4
bulan (Kemenkes, 2015c).
BAB III
PEMBAHASAN

Pesan gizi seimbang untuk remaja putri adalah membiasakan


mengkonsumsi beranekaragam makanan serta mengkonsumsi sayuran hijau
dan buah berwarna. Salah satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh remaja
adalah zat besi dan asam folat. Zat besi dibutuhkan untuk mencegah terjadinya
anemia yang disebabkan oleh menstruasi, karena zat besi mampu mmbentuk
hemoglobin. Asam folat juga berperan dalam pencegahan terjadinya anemia
karena asam folat berperan dalam pembentukan sel darah merah. Sedangkan
sayuran hijau dan buah berwarna dibutuhkan oleh remaja untuk pertubuhan
tinggi badan dan berat badan dengan cepat. Selain itu kandungan vitamin dan
antioksidan yang tinggi juga baik bagi kesehatan (Kemenkes RI, 2014). WHO
merekomendasikan suplementasi besi harian pada remaja putri di lingkungan
dengan prevalensi anemia tinggi yaitu ≥ 40% sebagai intervensi anemia
defisiensi besi. Suplementasi diberikan sebanyak 30-60 mg zat besi elemental
(setara dengan 150-300 mg Fero Sulfat Hekta Hidrat, 90-180 mg Fero
Fumarat/ 250-500 mg Fero Glukonat) selama 3 bulan berturut-turut. Selain
itu, suplemen zat besi dan asam folat secara mingguan disarankan pada wanita
yang mengalami menstruasi yang tinggal di daerah dengan prevalensi anemia
20% atau lebih WHO (2016).
Pada penelitian di Vietnam, pemberian dengan cara mingguan
prevalensi anemia turun dari 38% pada awal menjadi 19% setelah 12 bulan
dan 18% setelah 54 bulan intervensi; prevalensi anemia defisiensi besi turun
dari 18% pada awal menjadi 3% pada 12 bulan dan tetap pada 4% pada 54
bulan (Casey et al., 2013) dan di India dalam evaluasi program percontohan
menunjukkan pengurangan 24%. Seperti di Gujarat dalam prevalensi anemia
setelah 1 tahun pelaksanaan, penerapan suplementasi zat besi-asam folat
intermiten (mingguan) ke lebih dari 1,2 juta remaja putri menyebabkan
penurunan prevalensi anemia, dari 74,2% menjadi 53,5% dalam waktu satu
tahun, dengan perkiraan kepatuhan lebih dari 90% (Aguayo et al., 2013).
Selain itu Kotecha et al (2009), dalam program suplementasi iron folic acid (IFA)
pada remaja berusia 8-12 tahun di Gurajat India dengan pemberian setiap satu
minggu sekali berpotensi meningkatkan hemoglobin (sebanyak 80%), kandungan
serum feritin dan simpanan besi dalam tubuh. Hal ini sesuai dengan penelitian
Monica (2014), menjelaskan pemberian suplemen zat besi dua kali seminggu
dapat efektif dalam meningkatkan kadar Hb dan simpanan zat besi dalam
tubuh.
Penelitian di Venezuela, prevalensi defisiensi besi pada anak usia 7, 11
dan 15 tahun yang diukur berdasarkan serum feritin menurun dari 27% pada
thun 1992 menjadi 16% pada tahun 1994. Prevalensi anemia, yang diukur
dengan konsentrasi hemoglobin, berkurang dari 19% menjadi 10% selama
periode yang sama (satu tahun setelah fortifikasi pada tepung jagung)
(Layrisse et al., 2002). Sejalan dengan Pachón et al., (2015) yaitu fortifikasi
tepung gandum dan jagung dengan zat besi, asam folat dan mikronutrien
lainnya disarankan karena makanan ini merupakan bahan yang sering
dikonsumsi oleh masyarakat. Hasil evaluasi fortifikasi tepung di 80 negara
menunjukkan adanya penurunan prevalensi anemia pada anak-anak dan
wanita usia subur. Selain itu, prevalensi wanita dengan feritin rendah juga
menurn secara signifikan setelah dilakukan program fortifikasi pada tepung.
Penelitian di Indonesia pada program TTD remaja putri, terdapat
keberhasilan pada tahun 2015 dengan target 10% telah mencapai 20%
(Kemeskes, 2015a) dan tahun 2017 dengan target 20% telah mencapai 20,40%
secara nasional (Anung, 2017). Sejalan dengan Susanti et al (2016),
suplementasi besi dapat menurunkan prevalensi anemia masing-masing
sebesar 15,8% (M), 18,0% (M+Mens) dan 4,9% (M+PG). Dalam
meningkatkan keberhasilan program TTD remaja putri di Indonesia. Menurut
Nuradhiani et al (2017), dengan pemberian dukungan dari guru akan
berpengaruh signifikan pada tingkat kepatuhan konsumsi TTD. Hasil
penelitian menunjukkan tingkat kepatuhan konsumsi TTD dapat lebih tinggi
yaitu 15% dibanding yang tidak mendapat dukungan dari guru dan
peningkatan 70,1% pada penelitian Dhikale et al (2015).

(bahas keberlangsungan program ini di indo atau negara lain)


Efektifitas program, cost effective
Penurunan anemia berapa
Cakupannya bagaimana
Bagaimana sistemnya
Kenapa terhambat
Kenapa prevalensi masih tinggi
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
- Penanganan anemia pada remaja putri dari beberapa Negara lebih
memfokuskan pemberian suplementasi zat besi dan asam folat atau TTD.
- Pemberian suplementasi besi dan asam folat lebih efektif diberikan secara
intermittent (mingguan) dan selama menstruasi.
- Pemberian dukungan dari guru dapat meningkatkan kepatuhan sehingga dapat
meningkatan asupan zat besi dan asam folat guna mencegah terjadinya anemia
pada remaja putri.

4.2 Saran
Disarankan adanya pemberian kartu monitoring kepatuhan disertai dengan
kerjasama yang baik dengan orang tua juga guru untuk membantu memonitoring
remaja putri dalam mengonsumsi TTD.
DAFTAR PUSTAKA

Chakma T, Roo PV, Meshram PK. 2012. Factor Associated With High
Compliance/Feasibi-Lity During Iron And Folic Acid Supplementatiom In
A Tribal Area Of Madhya Pradesh, India. Public Health Nutr. Vol.
16(2):377-380.

De LM, Pena-Rosas RJP, Cusick S, et al. 2011. Hemoglobin Concentrations for the
Diagnosis of Anemia and Assessment of Severity; Vitamin and Mineral
Nutrition Information System. Vol. 11. Geneva: World Health
Organization.

Dhikale PT, Suguna E, Thamizharasi A, Dongre AR. 2015. Evaluation Of Weekly


Iron And Folic Acid Supplementation Program For Adolescents In Rural
Podicherry, India. Int J Med Sci Public Health. Vol. 4(10):1360-1365.

Anung. 2017. Pendekatan Program Kesehatan Masyarakat Tahun 2018. Bekasi :


Direktur Jendral Kesehatan Masyarakat.

Kemenkes. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Kemenkes1. 2015. Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2015. Jakarta: Ditjen Bina
Gizi dan KIA, Kementerian Kesehatan.

Kemenkes2. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 88 Tahun


2014 : Standar Tablet Tambah Darah Wanita Usia Subur Dan Ibu Hamil.
Jakarta : Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Monica J. 2014. Iron Devisiensy Anemia And Coqnition In School Age Girls
Acomparison Of Iron And Food Suplementation Strategies. Internasional
Jurnal Of Nutrition. Vol. 1(1):55-62.

Tesfaye M, Yemane T, Adisu W, Asres Y, Gedefaw L. 2015. Anemia And Iron Defi-
ciency Among School Adolescents: Burden, Severity, And Determinant
Factors In Southwest Ethiopia. Adolesc Health Med Ther. Vol. (6):189-196.

Nuradhiani A, Briawan D, Dwiriani Cm. 2017. Dukungan Guru Meningkatkan


Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah Pada Remaja Putri Di Kota
Bogor. Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (Fema).
Institut Pertanian Bogor : Bogor. J. Gizi Pangan. Vol. 12(3):153-160.