Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY “S” DENGAN CKD (CRONIC


KIDNEY DISEASE) DI RUANG SHOFA MARWAH STASE
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH RS SITI KHODIJAH SEPANJANG
SURABAYA

OLEH
KELOMPOK 2

1. SOLEMAN BUNI LEROO (20161660100)


2. PUJI HARIYADI (20161660105)
3. INTAN PERMATASARI (20161660111)
4. TRI ARGANITA (20161660108)
5. AZKIYATUL FITRI (20161660103)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat Rahmat
dan Ridha-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus dengan
judul Asuhan Keperawatan Pada Tn “H” dengan Fraktur Femur di Ruang IC
Stase Keperawatan Medikal Bedah RSU HAJI SURABAYA. Laporan ini
disusun untuk menyelesaikan tugas akhir pada stase Keperawatan Medikal Bedah
yang dilakukan pada tanggal 23 Mei 2018 sampai tanggal 1 Juni 2018.
Dalam penyusunan laporan ini penulis menyadari banyak kekurangan, untuk
itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini
karena manusia tidak luput dari kesalahan, sedangkan kebenaran datangnya dari
Allah SWT. Semoga laporan kasus ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis
dan pembaca serta perkembangan ilmu keperawatan pada umumnya.

Surabaya, 17 Mei 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ 1


KATA PENGANTAR ...................................................................................... 2
DAFTAR ISI ..................................................................................................... 3
BAB I KONSEP DASAR ................................................................................. 4
1. Pengertian ................................................................................................... 4
2. Etiologi ........................................................................................................ 4
3. Patofisiologi ................................................................................................ 5
4. Manifistasi Klinis ........................................................................................ 6
5. Klasifikasi ................................................................................................... 6
6. Penatalaksanaan .......................................................................................... 7
7. Web of Caution ........................................................................................... 8
8. Asuhan Keperawatan .................................................................................. 9
9. Diagnosa Keperawatan ............................................................................... 14
10. Intervensi Keperawatan ............................................................................... 14
BAB II ASUHAN KEPERAWATAN ............................................................ 20
I. Pengkajian ................................................................................................... 20
1. Identitas Pasien .................................................................................... 20
2. Status Kesehatan .................................................................................. 20
3. Riwayat Kesehatan ............................................................................... 21
4. Pola Fungsi Kesehatan ......................................................................... 22
5. Pemeriksaan Penunjang ....................................................................... 26
6. Daftar Masalah Keperawatan ............................................................... 26
II. Analisa Data ................................................................................................ 26
III. Diagnosa Keperawatan ............................................................................... 27
IV. Intervensi Keperawatan................................................................................ 28
V. Implementasi Keperawatan ......................................................................... 30
VI. Evaluasi Keperawatan ................................................................................. 32
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
KONSEP DASAR

1. Pengertian
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontuinitas jaringan tulang
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer Arif
dkk, 2009). Fraktur merupakan rusaknya komtiunitas tulang yang disebakan
tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang diserap oleh tulang
(Wahid, 2013). Berdasarkan batasan pengertian diatas dapat diambil sebuah
kesimpulan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau
patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma, ruda
paksa atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma. Menurut
Lukman dan Ningsih (2009) fraktur radius ulna biasanya terjadi karena
trauma langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan hiperekstensi, hal ini
dikarenakan adanya mekanisme refleks jatuh di mana lengan akan menahan
badan dengan posisi siku agak menekuk.

2. Etiologi
Menurut Wahid (2013), etiologidari fraktur meliputi:
a. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan. Fraktur demikian sering besifat fraktur terbuka dengan garis
patah melintang atau miring.
b. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh
dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah tulang adalah bagian yang
paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
c. Kekerasan akibat trauma
Patah tulang tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa
pemutiran, penekukan, penekanan, dan kombinasi dari ketiganya.

4
3. Patofisiologi
Pada kondisi trauma, diperlukan gaya yang besar untuk mematahkan
tulang individu dewasa. Kebanyakan fraktur ini terjadi pada pria muda yang
mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh dari ketinggian.
Biasanya, klien ini mengalami trauma multipel yang menyertainya. Kondisi
degenerasi tulang (osteoporosis) yang menyebabkan fraktur patologis tanpa
riwayat trauma, memadai untuk mematahkan tulang. Kerusakan
neurovaskuler menimbulkan manifestasi peningkatan resiko syok, baik syok
hipovolemik karena kehilangan darah banyak kedalam jaringan maupun syok
neurogenik karena nyeri yang sangat hebat yang dialami klien. Respon
terhadap pembengkakan yang hebat adalah sindrom kompartemen.
Sindrom kompartemen adalah suatu keadaan tejebaknya otot, pembuluh
darah, jaringan saraf akibat pembengkakan lokal yang melebihi kemampuan
suatu kompartemen atau ruang lokal dengan manifestasi gejala yang khas,
meliputi keluhan nyeri hebat pada area pembengkakan, penurunan perfusi
perifer secara unilateral pada sisi distal pembengkakan, CRT (capillary refill
time) lebih dari 3 detik pembengkakan. Komplikasi yang terjadi akibat situasi
ini adalah kematian jaringan bagian distal dan memberikan implikasi pada
peran perawat dalam kontrol yang optimal terhadap pembengkakan yang
hebat pada klien fraktur.
Kerusakan fragmen tulang diikuti dengan spasme otot yang
menimbulakan deformitas. Apabila kondisi ini berlanjut tanpa dilakukan
intervensi yang optimal akan menimbulkan terjadinya malnunion pada tulang
femur. Intervensi medis dengan penatalaksanaan pemasangan fiksasi interna
dan eksterna memberikan implikasi pada masalah tinggi infeksi pasca-bedah,
nyeri akibat trauma jaringan lunak, resiko tinggi trauma jaringan lunak, resiko
tinggi trauma sekunder akibat pemasangan fiksasi eksterna, dampak
psikologis ansietas sekunder akibat rencana bedah dan prognosis penyakit dan
pemenuhan informasi (Mutaqin, 2012).

5
4. Manifistasi Klinis
Menurut Mutaqin (2012), manifestasi klinis dalam fraktur meliputi:
nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas atas karena
kontraksi otot, krepitasi, pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit
yang terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur, spasme
otot, pergerakan abnormal, rontgen abnormal. Tanda ini terjadi beberapa jam
atau hari setelah cidera.
Pada kondisi klinis, perawat sering dihadapkan dengan kondisi klien
yang mengalami komplikasi lanjut fraktur yaitu malunion dengan deformitas
yang jelas. Secara anatomis, kondisi klinis ini tejadi akibat penarikan dari
kontraksi otot-otot paha yang kuat sehingga posisi fragmen tulang menjadi
tidak tepat dengan deformitas yang khas (pemendekan tungkai bawah).
Kondisi ini sering terjadi apabila klien tidak optimal melakukan terapi kondisi
frakturnya, seperti berobat ke dukun patah atau tidak dilakukan intervensi.

5. Klasifikasi
Menurut Mansjoer Arif (2009), fraktur dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar.
b. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen
dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit.
Femur merupakan tulang terpanjang dan terbesar di dalam tulang
kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan asetabolum
membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. Fraktur femur adalah
adalah terputusnya hubungan kontinuitas di jaringan tulang bagian pangkal
yang berhubungan dengan asetabolum membentuk kepala sandi yang disebut
kaput femoris. Fraktur femur mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi
dibanding dengan patah tulang jenis berbeda umumnya fraktur terjadi pada
1/3 tengah.

6
Menurut Mansjoer Arif (2009), derajat kerusakan tulang dapat dibagi
menjadi 2 meliputi:
a. Patah tulang lengkap (Complete fraktur)
Dikatakan lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan yang lainya,
atau garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan
fragmen tulang biasanya berubak tempat.
b. Patah tulang tidak lengkap (Incomplete fraktur)
Bila antara oatahan tulang masih ada hubungan sebagian. Salah satu sisi
patah yang lainya biasanya hanya bengkok yang sering disebut green
stick.
Menurut Mansjoer Arif (2009), bentuk garis patah dan hubungannya
dengan mekanisme trauma ada 5 yaitu:
a. Fraktur transversal: fraktur yang arahnya malintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b. Fraktur oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat dari trauma angulasi juga.
c. Fraktur spiral: fraktur yang arah garis patahnya sepiral yang di sebabkan
oleh trauma rotasi.
d. Fraktur kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang kea rah permukaan lain.
e. Fraktur afulsi: fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau traksi
otot pada insersinya pada tulang.

6. Penatalaksanaan
Penalaksanaan fraktur dibagi 2 macam, yaitu: secara konservatif
(penanganan tanpa pembedahan) dan operatif meliputi operasi ORIF (open
reduction internal fixation) dan OREF (open reduction eksternal fixation).
ORIF adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fikasasi
pada tulang yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan
posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran.
Internal fiksasi ini berupa Intra Medullary Nail biasanya digunakan untuk

7
fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur transvers. OREF adalah
penanganan intraoperatif pada fraktur terbuka yang dengan cara reduksi
terbuka diikuti fiksasi eksternal OREF (open reduction eksternal fixation)
sehingga diperoleh stabilisasi fraktur yang baik. Kkeuntugan fiksasi eksternal
adalah memungkinkan stabilisasi fraktur sekaligus menilai jaringan lunak
sekitar dalam masa penyembuhan fraktur (Lukman dan Ningsih, 2009).

7. Web of Caution
Trauma langsung, trauma tidak langsung, kondisi patilogis

Ketidakmampuan tulang dalam menahan beban

Fraktur

Pergeseran Terputusnya Malunion, non-union, Kerusakan saraf


frakmen tulang hubungan tulang dan delayed union spasme otot

nyeri deformitas Terapi imobilisasi,


traksi, terapi bedah Kerusakan Kerusakan
Ketidakmampuan fiksasi interna dan jaringan kulit vaskuler
melakukan pergerakan fiksasi eksterna
Pembengkakan
Hambatan Nyeri
lokal
mobilitas fisik

Risiko sindrom
Respon psikologis Pasca bedah
kompartemen

Ansietas Port de entree kuman

Risiko infeksi
Defisit
perawatan diri

(Mutaqin, 2012)

8
8. Asuhan Keperawatan
Menurut Mutaqin (2012), pengkajian yang dilakukan antara lain:
a. Anamnesis:
1) Identitas klien meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama,
bahasa yang digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,
asuransi, golongan darah, nomor register, tanggal dan jam masuk
rumah sakit (MRS), dan diagnosa medis. Pada umumnya keluhan
utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri yang hebat. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap mengenai rasa nyeri klien,
perawat dapat menggunakan PQRST.
2) Riwayat penyakit sekarang, kaji kronologi terjadinya trauma, yang
menyebabkan fraktur, pertolongan apa yang telah didapatkan, dan
apakah sudah berobat di dukun patah. Dengan mengetahui
mekanisme terjadinya kecelakaan, perawat dapat mengetaahui luka
kecelakaan yang lain.
3) Riwayat penyakit dahulu, penyakit-penyakit tertentu seperti kanker
tulang dan penyakit yang menyebabkan fraktur patologis sehingga
tulang sulit menyambung. Selaian itu, klien diabetes dengan luka di
kaki sangat beresiko mengalami osteomilitis akut dan kronis dan
penyakit diabetes menghambat proses penyembuhan tulang.
4) Riwayat penyakit keluarga, penyakit keluarga yang berhubungan
dengan patah tulang paha adalah faktor presdiposisi terjadinya
fraktur, seperti osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa
keturunan dan kanker tulang yang cenderung diturunikan secara
genetik.
5) Riwayat alergi dan obat-obatan
Tanyakan kepada pasien, apakah pasien memiliki riwayat alergi
terhadap obat-obatan dan makanan.

9
b. Pola-pola fungsi kesehatan dalam proses keperawatan klien fraktur:
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Klien fraktur akan merasa takut terjadi kecacatan pada dirinya dan
harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu
penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian meliputi kebiasaan
hidup klien, seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu
metabolism kalsium, pengonsumsi alkohol yang dapat mengganggu
keseimbangan klien, dan apakah klien melakukan olahraga atau
tidak.
2) Pola persepsi dan konsep diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur adalah timbul ketakutan atau
kecacatan akibat fraktur yang dialaminya, merasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra diri).
3) Pola sensori dan kognitif
Daya raba klien fraktur berkurang terutama pada bagian yang
mengalami fraktur, sedangkan indra yang lain dan kognitifnya tidak
mengalami gangguan. Selain itu, timbul nyeri akibat akibat fraktur.
4) Pola manajemen koping
Pada klien fraktur timbul rasa cemas akan keadaan dirinya, yaitu
ketakutan yaitu timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya.
Mekanisme koping yang ditempuh klien dapat tidak efektif.
5) Pola tata nilai dan keyakinan
Klien fraktur tidak dapat melaksanakan ibadah dengan baik,
terutama frekuensi dan konsentrasi dalam beribadah. Hal ini dapat
disebabkan oleh nyeri dan keterbatasangerak klien.
6) Pola nutrisi dan metabolik, klien fraktur harus mengonsumsi nutrisi
melebihi kebutuhan sehari-hari, seperti kalsium, zat besi, protein,
vitamin C, dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan
tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien dapat menentukan
penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi

10
dari nutrisi yang tidak adekuat, terutama kalsium atau protein. Nyeri
pada fraktur menyebabkan klien kadang mual muntah sehingga
pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi berkurang. konjungtiva tidak
anemis (pada klien dengan patah tulang tertutup karena tidak terjadi
perdarahan). Klien fraktur terbuka dengan banyaknya perdarahan
yang keluar biasanya mengalami konjungtiva anemis.
7) Pola eliminasi, untuk kasus fraktur femur, klien tidak mengalami
gangguan pola eliminasi. Meskipun demikian, perawat perlu
mengkaji frekuensi, konsentrasi, serta warna dan bau feses pada pola
eliminasi alvi. Selain itu, perawat perlu mengkaji frekuensi,
kepekatan, warna, bau, dan jumlah pada pola eliminasi urine. Pada
kedua pola ini juga dikaji adanya kesulitan atau tidak. inspeksi
abdomen: bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. Palpasi: turgor
baik, tidak ada defans muscular dan hepar tidak teraba. Perkusi :
suara timpani, ada pantulan gelombang cairan. Auskultasi :
peristaltic usus normal + 20 kali/menit. Inguinal-genitalia-anus :
tidak ada hernia, tidak ada pembesaran limfe, dan tidak ada kesulitan
BAB (buang air besar).
8) Pola aktivitas, karena timbul rasa nyeri, gerak menjadi terbatas.
Semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan klien
memerlukan banyak bantuan orang lain. Hal ini yang perlu dikaji
adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien karena
beberapa pekerjaan beresiko terjadinya fraktur.
9) Pola tidur dan istirahat, semua klien fraktur merasakan nyeri dan
gerakan terbatas sehingga dapat mengganggu pola dan kebutuhan
tidur klien. Selain itu, dilakukan pengkajian lamanya tidur, suasana
tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, kesulitan tidur, dan
penggunaan obat tidur.

11
10) Pola aktivitas
a) Pemeriksaan saraf serebral, status mental : observasi penampilan
dan tingkah laku klien. Biasanya status mental tidak mengalami
perubahan.
b) Pemeriksaan reflek, biasanya tidak didapatkan reflek-reflek
patologis.
c) Pemeriksaan sensorik, daya raba klien fraktur femur berkurang
terutama pada bagian distal fraktur, sedangakan indra yang lain
dan kognitif tidak mengalami gangguan. Selain itu, timbul nyeri
akibat fraktur. Adanya fraktur akan mengganggu secara lokal,
baik fungsi motorik, sensorik, maupun peredaran darah.
d) Look, pada sistem integument terdapat eritema, suhu disekitar
daerah trauma meningkat, bengkak, edema, dan nyeri tekan.
Perhatikan adanya pembengkakan yang tidak biasa (abnormal)
dan deformitas. Apabila terjadi fraktur terbuka, perawat dapat
menemukan adanya tanda-tanda trauma jaringan lunak samapai
kerusakan integritas kulit
e) Pada keadaan tertentu, terjebaknya otot, lemak, saraf, dan
pembuluh darah dalam sindrom kompartemen memerlukan
perhatian perawat secara khusus agar organ dibawah paha tidak
mengalami penurunan suplai darah atau nekrosis.
f) Feel, kaji adanya nyeri tekan (tendrnes) dan krepitasi pada
daerah fraktur.
g) Move, setelah dilakukan pemeriksaan feel, peeriksaan
dilanjutkan menggerakan ekstremitas, kemudian perawat
mencatat apakah ada keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan
rentang gerak ini perlu dilakukan agar dapat mengevaluasi
keadaan sebelum dan sesudahnya. Pemeriksaan ini menentukan
apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Gerakan yang
dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.

12
9. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berubungan dengan agen injuri fisik, kerusakan neuro
muskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan
lnak, pemasanggan traksi.
b. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan respon nyeri,
kerusakan neuromuskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang, terapi
restriktif (imobilisasi)
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik ekstremitas
bawah.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive, luka bedah,
pemasangan traksi tulang dan fiksasi eksterna.
e. Ansietas berhubungan dengan prosedur invasif (tindakan medis).

10. Intervensi Keperawatan


a. Nyeri yang berubungan dengan kompresi saraf, kerusakan
neuromuskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang.
1) Tujuan: nyeri dapat berkurang atau teratasi setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 1x24 jam. Kriteria hasil: secara
subyektif, klien melaporkan nyeri berkurang atau dapat diatasi, dapat
mengidentifikasi aktivitas yang dapat meningkatkan atau
menurunkan nyeri, klien tidak gelisah, skala nyeri 0 sampai 1 atau
tidak terdeteksi.
2) Intervensi:
a) Observasi karakteristik nyeri.
Rasional: nyeri merupakan respon subyektif yang dapat dikaji
menggunakan skala nyeri.
b) Atur posisi imobilisasi.
Rasional: imobilisasi yang adekuat dapat mengurangi
pergerakkan fragmen tulang.
c) Lakukan pemasangan traksi kulit secara sistematis.

13
Rasional: traksi kulit dengan pengaturan posisi kontraksi dapat
menurunkan kompresi saraf sehingga dapat menurunkan respon
nyeri.
d) Manajemen lingkungaan: lingkungan tenang, batasi pengunjung,
dan istirahatkan klien.
Rasional: lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri
eksternal.
e) Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam ketika nyeri.
Rasional: meningkatkan asupan oksigen sehingga akan
menurunkan nyeri sekunder akibat iskemia.
f) Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
Rasional: distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan
stimulus nyeri internal.
g) Kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan traksi tulang.
Rasional: traksi yang efektif akan memberikan dampak pada
penurunan pergeseran fragmen tulang dan memberikan posisi
yang baik untuk penyatuan tulang.
h) Kolaborasi dengan dokter untuk operasi pemasangan fiksasi
internal.
Rasional: fiksasi interna dapat membantu imobilisasi fraktur
femur sehingga pergerakan fragmen berkurang.
i) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik
Rasional : pemberian analgesik membantu mengurangi nyeri.
b. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan respon nyeri,
kerusakan neuromuskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang.
1) Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan
kemampuannya. Kriteria hasil; klien dapat ikut serta dalam program
latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot,
klien menunjukan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.

14
2) Intervensi
a) Observasi mobilitas yang ada dan observasi peningkatan
kerusakan dan kaji secara teraur fungsi motorik.
Rasional: untuk mengetahui tingkat kemampuan klien dalam
melakukan aktivitas.
b) Atur posisi imobilisasi pada fraktur.
Rasional: imobilisasi yang adekuat dapat mengurangi
pergeragakan fragmen tulang.
c) Ajarkan pada klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada
ekstremitas yang tidak sakit.
Rasional: gerakan aktif memberikan masa, tonus dan kekuatan
otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan.
d) Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai
toleransi.
Rasional: untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai
kemampuan.
e) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
Rasional: peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ekstremitas
dapat dicaapi dengan latihan fisik dari tim ahli fisioterapi.
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik ekstremitas
bawah.
1) Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan klien dapat menunjukan perubahan hidup untuk
kebutuhan merawat diri. Kriteria hasil: klien mampu melakukan
aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan,
mengidentifikasi personal yang dapat membantu.
2) Intervensi:
a) Observasi kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0
sampai 4 untuk melakukan ADL.
Rasional: untuk membantu klien dalam pemenuhan ADL.
b) Dekatkan alat dan sarana yang dibutuhkan klien.

15
Rasional: memudahkan klien dan menngkatkan kemandirian
klien.
c) Identifikasi kebiasaan defekasi dan anjurkan minum dan
tingkatkan aktivitas.
Rasional: untuk meningkatkan latihan dan menolong mencegah
konstipasi.
d) Kolaborasi pemberian supositoriia dan pelunak feses atau
pencahar.
Rasional: pertolongan utama terhadap fungsi defekasi.
e) Kolaborasi terapi ke dokter okupasi.
Rasional: untuk mengembangkan terapi dan melengkapi
kebutuhan khusus.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan port de entree, luka bedah,
pemasangan traksi tulang dan fiksasi eksterna.
1) Tujuan: tidak terjadi infeksi selama dilakukan tindakan keperawatan
di rumah sakit. Kriteria hasil: bebas dari infeksi nosokomial selama
perawatan di rumah sakit.
2) Intervensi:
a) Kaji-kaji faktor yang memungkinkan terjadinya infeksi yang
masuk ke port de entrée.
Rasional: faktor port de entree fraktur adalah luka terbuka dari
fraktur, luka pasca-bedah, sisi luka dari traksi tulang, setiap sisi
besi pada fiksasi eksterna.
b) Pantau atau batasi kunjungan.
Rasional: untuk mengurangi kontak infeksi dari orang lain.
c) Lakukan perawatan luka secara steril:
Rasional: teknik perawatan luka secara steril dapat mengurangi
kontaminasi kuman.
d) Bantu perawatan diri dan keterbatasan aktivitas sesuai toleransi
serta bantu program latihan.

16
Rasional: untuk menunjukan kemampuan secara umum dan
kekuatan otot dan merangsang pengembalian sistem imun.
e) Tingkatkan asupan nutrisi tinggi kalori dan tinggi protein.
Rasional: untuk meningkatkan imunitas tubuh secara umum dan
membantu menurunkan resiko infeksi.
f) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik sesuai
indikasi.
Rasional: satu atau beberapa agens diberikan bergantung pada
sifat patogen dan infeksi yang terjadi.
e. Ansietas berhubungan dengan prosedur invasif (tindakan medis).
1) Tujuan: cemas klien berkurang atau dapat teratasi setelah dilakukan
tindakan keperawatan dalam 30 menit. Kriteria hasil: pasien akan
menggambarkan tingkat kecemasan dan pola koping, klien
mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya dan cara
perawatannya.
2) Intervensi
a) Observasi tingkat kecemasan pasien.
Rasional: untuk menentukan tindakan berikutnya.
b) Jelaskan tentang proses penyakitnya.
Rasional: untuk menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan
perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.
c) Diskusikan faktor individu yang meningkatkan kondisi,
misalnya lingkungan dengan suhu ekstrim.
Rasional: faktor lingkungan dapat menimbulkan atau
meningkatkan iritasi.

17
BAB II
RESUME KEPERAWATAN

Data diambil tanggal : 14 Mei 2018


Ruangan rawat/kelas : IC/3
No. Rekam Medik : 836811

I. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama : Tn “H”
Umur : 19 tahun
No. Register : 836811
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku Bangsa : Jawa
Pekerjaan : wiraswasta
Pendidikan : SMP
Alamat : Surabaya
Tanggal MRS : 13 Mei 2018
Diagnosa Medis : Close Fraktur Femur 1/3 tengah
Jam pengkajian : 16.00 WIB
2. Status Kesehatan
a. Keluhan saat MRS:
Pasien mengatakan nyeri pada paha kanan dan tidak bisa digerakkan,
P (provokatif): fraktur akibat KLL, Q (kualitas): seperti ditusuk-
tusuk, R (region): paha kanan, S (skala): 6 (sedang), T (time): saat
digerakan.
b. Keluhan utama saat pengkajian:
Pasien mengatakan nyeri pada paha kanan, P (provokatif): fraktur
akibat KLL, Q (kualitas): seperti ditusuk-tusuk, R (region): tangan
kanan, S (skala): 5 (sedang), T (time): saat digerakan.

18
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan atau penyakit sekarang
Pasien mengatakan mengalami kecelakaan sepeda motor dengan
sepeda motor pada tanggal 13 Mei 2017 pukul 21.00 WIB. Pasien
tidak ingat kejadian kecelakaan, pasien dibonceng. Keluarga pasien
mengatakan paha kanan pasien terkena stang motor lawan, pasien
tidak pusing, tidak muntah kemudian pasien di bawa ke IGD RSU
Haji Surabaya, Di IGD terapi yang didapatkan yaitu ketorolac 3x 1
ampul dan dipasang bidai di kaki kanan. Kemudian di rawat di ruang
IC untuk mendapatkan tindakan keperawatan yang lebih lanjut, pada
sat pengkajian pasien mengatakan nyeri dan terlihat gelisah.
Tindakan yang direncanakan setelah di ruang IC, pemasangan traksi
dengan beban 5 Kg, terapi antrain 3x1 ampul iv, rencana pasang
plate.
b. Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan pernah KLL sekitar 3 minggu yang lalu, namun
tidak dirawat di RS dan puskesmas, hanya luka kecil di kaki dan
tangan, ada yang bekas dan ada yang belum sembuh.
c. Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan tidak ada riwayat penyakit keluarga seperti
hipertensi, diabetes militus, jantung. Pasien mengatakan ibunya
memiliki riwayat asma.
d. Riwayat alergi obat atau makanan
Tidak ada riwayat alergi makanan dan oabt.
e. Vital sign
Tekanan darah : 140/80 mmHg
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 360 C
Nadi : 98 x/menit
Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 165 cm

19
4. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola penatalaksanaan kesehatan / persepsi sehat
Pasien mengatakan bila sakit, pasien hanya membeli obat warung,
luka-luka KLL sebelumnya tidak diobati apapun oleh pasien.
b. Pola nutrisi – metabolic
Sebelum MRS :
DS : pasien mengatakan makan 2x/hari, nasi dan lauk. Minum
sekitar 1500 cc.
Selama MRS :
DS: Pasien mengatakan tidak ada penurunan nafsu makan.
DO: Frekuensi makan 2 kali sehari, pada waktu pagi, siang. Pasien,
lauk, dan nasi tanpa buah maupun susu. Minum ±1500 cc/hari
dengan air putih. Clinikal: konjungtiva ananemis, turgor kulit elastis,
mukosa bibir lembab.
Pemeriksaan fisik keadaan umum:
Kulit:
Inspeksi: warna kulit sawo matang, terdapat bengkak di paha kanan,
terpasang infus RL 21 tpm tangan kiri
Braden Scale:
Sub Skala Keterangan Nilai
Persepsi sensori Berespon pada perintah verbal, 3
namun harus dibantu
membalikkan tubuh
Kelembapan Imobilisasi, kulit kadang lembab 3
Aktifitas Tirah baring / imobilisasi 1
Mobilisasi Kadang melakukan perubahan 2
kecil dalam merubah posisi tubuh
Nutrisi 2 porsi makan 2
Friksi dan gesekan Membutuhkan bantuan minimum 2
dan makan
Kesimpulan Resiko tinggi dekubitus 13

c. Pola eliminasi:
1) Eliminasi alvi (BAB)
Sebelum MRS : pasien mengatakan BAB 1x/2 hari.

20
Selama MRS : Pasien mengatakan belum BAB.
2) Eliminasi uri (BAK)
Sebelum MRS : Pasien mengatakan frekuensi BAK 5 x/hari
sekitar 1500 cc. Warna kuning jernih, tidak ada kesulitan dalam
berkemih.
Selama MRS : Pasien mengatakan frekuensi BAK 3 x/hari
sebanyak 1000cc, berwarna kekuningan tidak terpasang kateter,
pasien mampu mengontrol BAK.
d. Pola aktivitas dan latihan
Sebelum MRS : pasien mengatakan bekerja juru parkir.
Selama MRS :
Aktivitas 0 1 2 3 4 Keterangan:
Makan  0: mandiri
Mandi  1: dibantu orang lain
Berpakaian  2: dibantu alat
3:dibantu orang lain
Toileting 
dan alat
Mobilisasi di 4: tergantung total

tempat tidur
Ambulasi  0: mandiri
Kesimpulan: pasien dalam melakukan aktivitas dibantu orang lain,
tidak terpasang O2.
DS : pasien mengatakan tidak bisa menggerakkan kaki kanan.
DO : Sebelumnya terpasang bidai di kaki kanan, terpasang fraksi di
kaki kanan dengan beban 5 Kg, terdapat bengkak di paha kanan.
Kekuatan otot : 5 5
3 5
Penampilan umum tidak rapi, sprei kotor dan tidak rapi.
Pemeriksaan kardiovaskuler:
Inspeksi: terdapat ictus cordis, tidak ada jaringan parut atau bekas
luka.
Palpasi: ictus cordis teraba ICS 5.
Perkusi: suara jantung pekak.
Auskultasi : terdengar S1 & S2 tunggal.

21
Pemeriksaan paru-paru:
Inspeksi: bentuk dada normal chest, frekuensi napas 20x/menit,
irama napas reguler tidak ada cuping hidung
Palpasi: getaran dinding dada kiri dan kanan sama.
Perkusi: sonor seluruh lapang paru.
Auskultasi: terdengar suara vesikuler, frekuensi perrnapasan
20x/menit, reguler.
e. Pola tidur dan istirahat:
Sebelum MRS :
Pasien mengatakan tidur di malam hari sekitar 7 jam, pasien jarang
tidur siang.
Selama MRS :
Pasien mengatakan susah tidur karena nyeri. Saat ini klien hanya
terbaring ditempat tidur. Pasien tidur 2 jam malam hari, dan tidur
siang kadang 2 jam. Klien bisanya tidur dalam keadaan lampu
menyala dan dalam lingkungan yang tenang. Pasien tidak pernah
terbangun lebih awal dan tidak merasa puas dengan waktu tidurnya.
f. Pola kognitif-prsepsi-keadekuatan alat sensori
Penglihatan: pasien mampu melihat benda-benda lingkungan sekitar
tanpa bantuan kaca mata.
Perasa: pasien bisa merasakan makanan yang diberikan oleh rumah
sakit, tidak terlalu asin maupun manis.
Pembau: pasien bisa membau aroma sekitar.
Kemampuan untuk berbahasa: saat diajak berkomunikasi pasien bisa
menjawab dengan baik.
g. Pola persepsi dan konsep diri:
Pola persepsi:
Pasien mengatakan takut dan dirinya ingin sembuh dan kembali
kerumah dengan keadaan sehat. Pasien selalu bertanya, kenapa saya
panas, kenapa nyeri sekali, nanti kalau dioperasi apakah saya sadar ?.

22
Pasien tampak gelisah, ketakutan, bingung dengan fraktur yang
dialaminya
1) Gambaran diri
Pasien mengatakan bahwa pasien ingin sekali cepat sembuh dari
penyakitnya.
2) Harga diri:
Pasien mengatakan terkadang sering marah karena penyakitnya
tapi hanya sebentar.
3) Ideal diri:
Pasien mengatakan ingin segera sembuh.
4) Peran diri
Pasien mengatakan sebagai anak dan memiliki hubungan yang
akrab dengan seluruh anggota keluarga. Klien bekerja untuk
memenuhi kebutuhan anggota keluarganya.
5) Identitas diri:
Pasien mengatakan menyukai semua yang ada di dirinya, namun
kadang-kadang pasien bertanya bekas lukanya yang tidak
kunjung sembuh.
h. Pola reprodukusi seksual:
Pasien mengatakan seorang laki-laki dan belum memiliki istri, tidak
terpasang kateter, tidak mengalami gangguan seksual, genetalia
bersih.
i. Pola hubungan peran:
1) Persepsi klien tentang pola hubungan:
Pasien mengatakan hubungan dengan anggota keluarga maupun
lingkungan sosial terjalin dengan baik.
2) Persepsi klien tentang peran dan tanggung jawab:
Pasien mengatakan di dalam keluarga sebagai anak, selama
dirawat di rumah sakit, pasien tidak dapat menjalankan perannya
untuk bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga.

23
j. Mekanisme koping:
1) Kemampuan mengendalian stress
Pasien mengatakan dalam menejemen stress, keluarga biasanya
berkumpul bersama dan menonton TV, metode koping yang
digunakan adalah dengan berdo’a.
2) Sumber pendukung
Sumber koping berasal dari kebiasaan keluarga yang selalu
bermusyawarah jika terdapat masalah di dalam keluarga.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan:
Pasien mengatakan berharap bisa cepat sembuh, pasien selalu
berdo’a di dalam hati agar diberikan kesembuhan supaya bisa
bekerja dan menjalankan aktivitas seperti biasanya.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN
WB C 19.05 [10^3/uL] 4,3 – 11,3
EO% 0.7 [%] 0–6
PDW 10.3 [fL] 9,0 – 13,0
P-LCR 19.6 [%] 15,0 – 25,0
HGB 14.5 [G/dL] 11.4-15.1
TROMBOSIT 385.000 /mm3 150.000-440.000
HEMATOKRIT 42.5 % 33-45
GDA 121 mg/dL 50-140
BUN 11 mg/dL 6-20
CREATININ 0,8 mg/dL <1.2
SERUM
SGOT 24 U/L <40
SGPT 26 U/L <41
KALIUM 3.4 mmol/L 3.6-5.0
NATRIUM 137 mmol/L 136-145

24
b. Pemeriksaan radiologi
Foto pelvis AP, alignment baik, tak tampak fratur line, trabekulasi
tulang baik, sacroiliac kanan kiri dan hip joint kanan baik. Deffect di
posterior S1. Tak tampak fraktur line, spina bifida S1.
c. Terapi obat dan diet
No. Obat Rute Dosis Indikasi
1 Ketorolax IV 3X30mg Analgesik
1500cc/24 cairan elektrolit
2 NaCl IV
jam

Diet pasien di rumah sakit nasi biasa dan sayur, lauk pauk, TKTP
6. Daftar Masalah Keperawatan
a. Nyeri akut
b. Hambatan mobilitas fisik
c. Defisit Perawatan Diri

II. Analisa Data


Nama : Tn. H No. Register : 836811
Umur : 19 tahun Diangnosa Medis : Fraktur Femur
ANALISA DATA PRE OPERASI
DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS: Pasien mengatakan Agens cidera (fisik) Nyeri akut
nyeri pada paha kanan, P
(provokatif): fraktur akibat Trauma langsung
KLL, Q (kualitas): seperti
Ketidakmampuan
ditusuk-tusuk, R (region): tulang dalam
tangan kanan, S (skala): 5 menahan beban
(sedang), T (time): saat
digerakan. Fraktur
DO: pasien tampak gelisah,
nadi: 98 x/menit. Pasien Pergeseran frakmen
menyeringai kesakitan, tulang
terdapat bengkak pada paha
kanan,tekanan darah: Nyeri akut
140/80 mmHg, pernafasan:
20 x/menit.

25
DS: Pasien mengatakan kaki Trauma langsung Hambatan mobilitas
kanan tidak bisa digerakkan fisik
Ketidakmampuan
DO: Pola aktivitas dan tulang dalam
laithan pasien seperti: menahan beban
makan, mandi, berpakaian,
tolileting, ambulasi dibantu Fraktur
orang lain.
Sebelumnya terpasang bidai Terputusnya
dan terpasang traksi di kaki hubungan tulang
kanan dengan beban 5 Kg,
Kekuatan otot 5 5 deformitas

3 5 Kerusakan rangka
neuromuskular
DS: Pasien mengatakan Trauma langsung Defisit perawatan
kakinya tidak bisa diri
digerakkan Ketidakmampuan
tulang dalam
DO: Level score 1, aktivitas
menahan beban
dibantu orang lain,
penampilan tidak rapi, sprei Fraktur
kotor dan tidak rapi.
Terputusnya
hubungan tulang

Deformitas

Ketidakmampuan
melakukan
pergerakan

ANALISA DATA POST OPERASI


DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS : pasien mengatakan Trauma langsung Nyeri akut
nyeri di paha kanan seperti
tertusuk-tusuk, nyeri terasa Fraktur
semakin sakit saat
digerakkan. Proses Pembedahan
DO : Skala nyeri 4, wajah
meringis kesakitan, nadi 100

26
x/menit, wajah menyeringai
kesakitan.

III. Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera (fisik).
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskular.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik ekstremitas
bawah
4. Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan.

IV. Intervensi Keperawatan


Nama : Tn. H No. Register : 836811
Umur : 19 tahun Diangnosa Medis : Fraktur Femur
Diagnosa Tujuan dan
No. Intervensi Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil
1 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi karakteristik 1. Nyeri merupakan
keperawatan selama 1x24 nyeri. respon subyektif yang
jam nyeri dapat berkurang, dapat dikaji
dengan kriteria hasil: skala menggunakan skala
nyeri 0-3, pasien tampak nyeri.
tenang, TTV dalam batas 2. Atur posisi imobilisasi. 2. Imobilisasi yang
normal. adekuat dapat
TD : sistole 100-120 mengurangi
mmHg pergerakkan fragmen
Diastole 60-70 mmHg tulang.
Nadi : 60-100 x/menit 3. Lakukan pemasangan 3. Traksi kulit dengan
RR : 16-20 x/menit traksi kulit secara pengaturan posisi
Suhu : 36,7- 37ºC sistematis. kontraksi dapat
menurunkan kompresi
saraf sehingga dapat
menurunkan respon
nyeri.
4. Manajemen 4. Lingkungan tenang
lingkungaan: akan menurunkan
lingkungan tenang, stimulus nyeri
batasi pengunjung, dan eksternal.
istirahatkan klien.
5. Ajarkan teknik 5. Meningkatkan asupan

27
relaksasi pernapasan oksigen sehingga akan
dalam ketika nyeri. menurunkan nyeri
sekunder akibat
iskemia.
6. Ajarkan teknik 6. Distraksi (pengalihan
distraksi pada saat perhatian) dapat
nyeri. menurunkan stimulus
nyeri internal.
7. Kolaborasi dengan 7. Traksi yang efektif
dokter untuk akan memberikan
pemasangan traksi dampak pada
tulang. penurunan pergeseran
fragmen tulang dan
memberikan posisi
yang baik untuk
penyatuan tulang.
8. Kolaborasi dengan 8. Fiksasi interna dapat
dokter untuk operasi membantu imobilisasi
pemasangan fiksasi fraktur femur sehingga
internal. pergerakan fragmen
berkurang.
9. Kolaborasi dengan tim 9. Pemberian analgesik
medis dalam pemberian dapat mengurangi
analgesik. nyeri.
2 Hambatan Setelah dilakukan tidakan 1. Observasi mobilitas 1. Untuk mengetahui
mobilitas fisik keperawatan selama 3x24 yang ada dan observasi tingkat kemampuan
jam klien mampu peningkatan kerusakan klien dalam
melaksanakan aktivitas dan kaji secara teraur melakukan aktivitas.
fisik sesuai dengan fungsi motorik.
kemampuannya, dengan 2. Atur posisi imobilisasi 2. Imobilisasi yang
kriteria hasil; klien dapat pada fraktur. adekuat dapat
ikut serta dalam aktivitas mengurangi
dan latihan seperti makan, pergeragakan fragmen
mandi, berpakaian, tulang.
tolileting, ambulasi secara 3. Ajarkan pada klien 3. Gerakan aktif
mandiri. untuk melakukan memberikan masa,
latihan gerak aktif pada tonus dan kekuatan
ekstremitas yang tidak otot serta
sakit. memperbaiki fungsi
jantung dan
pernapasan.
4. Bantu klien melakukan 4. Untuk memelihara
latihan ROM, fleksibilitas sendi
perawatan diri sesuai sesuai kemampuan.
toleransi.
5. Kolaborasi dengan ahli 5. Peningkatan

28
fisioterapi untuk latihan kemampuan dalam
fisik klien. mobilisasi ekstremitas
dapat dicaapi dengan
latihan fisik dari tim
ahli fisioterapi.

3 Defisit setelah dilakukan tindakan 1. Observasi kemampuan 1. untuk membantu klien


perawatan diri keperawatan selama 1x24 dan tingkat penurunan dalam pemenuhan
jam diharapkan klien dapat aktivitas dalam ADL.
skalabraden scale.
menunjukan perubahan
2. Dekatkan alat dan 2. Memudahkan klien
hidup untuk kebutuhan sarana yang dibutuhkan dan meningkatkan
merawat diri. Kriteria klien kemandirian klien.
hasil: klien mampu 3. Observasi kemampuan 3. Untuk menentukan
melakukan aktivitas klien untuk perawatan tindakan yang bisa
perawatan diri sesuai diri yang mandiri. dilakukan pasien
dengan tingkat secara mandiri.
4. Ajarkan klien dan 4. untuk meningkatkan
kemampuan,
keluarga untuk kemandirian pasien
mengidentifikasi personal mendorong
yang dapat membantu. kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak
mampu untuk
melakukannya.

V. Implementasi Keperawatan
Nama : Tn. H No. Register : 836811
Umur : 19 tahun Diangnosa Medis : Fraktur Femur
Tanggal/Jam No. Dx Implementasi Ttd
14 Mei 2018 1,3 Mengobservasi nyeri klien, mengukur
16.00 tanda-tanda vital:
 Pasien mengatakan nyeri pada paha
kanan, P (provokatif): fraktur akibat
KLL, Q (kualitas): seperti ditusuk-
tusuk, R (region): tangan kanan, S
(skala): 5 (sedang), T (time): saat
digerakan.
 Tekanan darah : 140/80 mmHg
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 360 C
 Nadi : 98 x/menit
Mengobservasi kemampuan dan tingkat

29
penurunan aktivitas dalam skala braden
scale.
16.30 3 Mengajarkan klien dan keluarga untuk
mendorong kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya jika pasien
tidak mampu untuk melakukannya.
R/ keluarga mengatakan memberi
bantuan jika pasien tidak bisa
melakukan sendiri

17.00 2,3 Membantu klien dalam ADL (menyeka)


di tempat tidur.
R/ penempilan umum bersih dan rapi,
spprei dan baju tidak kotor.
Memberikan HE mengenai pentingnya
mobilisasi atau pergerakan ringan pada
kaki yang mengalami fraktur.
R/ pasien mengatakan mengerti dan
menggerakkan ujung jari kaki saja

18.30 1 Mengajarkan teknik relaksasi


pernapasan dalam ketika nyeri.
Mengajarkan teknik distraksi pada saat
nyeri seperti mendengarkan musik
R/ px mengatakan nyeri berkurang
dengan skala nyeri 4

20.00 1 Memberikan injeksi:


 Ketorolaxc 30mg
15 Mei 2018 1,2 Mengobservasi nyeri klien, mengukur
15.30 tanda-tanda vital:
 S (skala): 4 (sedang)
 Tekanan darah : 130/80 mmHg
 Pernafasan : 18 x/menit
 Suhu : 37 0 C
 Nadi : 90 x/menit

Membantu mobilisasi pasien.


R/ pasien kesakitan saat bergerak

Memberikan injeksi:
 Ketorolaxc 30mg
R/ pasien mengatakan sakit saat
dilakukan injeksi

30
16.00 1&3 Membantu klien dalam ADL (mandi) di
tempat tidur.
R/ penampilan umum bersih dan rapi
Memberikan HE mengenai pentingnya
mobilisasi atau pergerakan ringan pada
kaki yang mengalami fraktur.
R/ pasien mengatakan mengerti tentang
pentingnya pergerakan

16.30 1 Mengajarkan teknik relaksasi


pernapasan dalam ketika nyeri.
1 Mengajarkan teknik distraksi pada saat
nyeri. Seperti mendengarkan musik
R/ pasien mengatakan tetap nyeri
dengan skala 4
19.00 1 Memberikan injeksi ketorolac 30 mg
R/ pasien mengatakan sakit saat
diinjeksi
16 Mei 2018 1&2 Mengobservasi nyeri klien, mengukur
18.00 tanda-tanda vital:
 S (skala): 4 (sedang)
 Tekanan darah : 130/80 mmHg
 Pernafasan : 18 x/menit
 Suhu : 37 0 C
 Nadi : 90 x/menit

Membantu mobilisasi pasien.


R/ pasien mengatakan sakit saat kakinya
digerakkan
19.30 1 Membantu klien melakukan latihan
ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
R/ pasien melakukan perawatan dibantu
oleh perawat dan keluarga
19.45 2 Memberikan injeksi ketorolac 30 mg
Ceftriaxone 1000 mg
R/ pasien mengatakan sakit saat
diinjeksi
20.00 2 Mengajarkan pada klien untuk
melakukan latihan gerak aktif pada
ekstremitas yang tidak sakit.
R/ pasien melakukan latihan gerak pada
kaki yang tidak sakit
20.30 2 Mengajarkan teknik relaksasi dan
distraksi dengan mendengarkan musik
R/ pasien mengatakn nyeri berkurang

31
dengan skala nyeri 3.

VI. Evaluasi Keperawatan


Nama : Tn. H No. Register : 836811
Umur : 19 tahun Diangnosa Medis : Fraktur Femur
Tanggal Diagnosa
Evaluasi Ttd
/Jam Keperawatan
14 Mei 2018 Nyeri akut S : Pasien mengatakan nyeri
16.00 berkurang dengan skala 4 sedang.
O:
 Tekanan darah: 130/80 mmHg
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36 0 C
 Nadi : 90 x/menit
A: Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 1,5,6,9.

14 Mei 2018 Hambatan S: Pasien mengatakan kaki masih


16.15 mobilitas fisik tidak bisa digerakkan
O: Aktivitas dibantu keluarga dan
perawat, terpasang traksi di kaki
kanan dengan berat 5 Kg
A: Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 2,3,4

14 Mei 2018 Defisit S: Pasien mengatakan nyaman.


17.00 Perawatan diri O: penampilan umum rapi, sprei
bersih.
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi 2,3,4

32
15 Mei 2018 Nyeri akut S : Pasien mengatakan nyeri tetap
16.00 dengan skala 4 sedang.
O:
 Tekanan darah: 130/80 mmHg
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36 0 C
 Nadi : 90 x/menit
A: Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 1,5,6,9

15 Mei 2018 Hambatan S: Pasien mengatakan kaki masih


16.15 mobilitas fisik tidak bisa digerakkan
O: Aktivitas dibantu keluarga dan
perawat, terpasang traksi di kaki
kanan dengan berat 5 Kg
A: Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 2,3,4
15 Mei 2018 Defisit S: Pasien mengatakan nyaman.
17.00 Perawatan diri O: penampilan umum rapi, sprei
bersih.
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi 2,3,4
16 Mei 2018 Nyeri akut S : Pasien mengatakan nyeri
16.00 berkurang dengan skala 3 (ringan)
O:
 Tekanan darah: 120/80 mmHg
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36 0 C
 Nadi : 96 x/menit
 Terpasang drain
A: Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 1,5,6,9
16 Mei 2018 Hambatan S: Pasien mengatakan kaki masih
16.15 mobilitas fisik tidak bisa digerakkan
O: Aktivitas dibantu keluarga dan
perawat, terdapat luka post operasi
di paha kanan.
A: Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 2,3,4
16 Mei 2018 Defisit S: Pasien mengatakan nyaman.
17.00 Perawatan diri O: penampilan umum rapi, sprei
bersih.
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi 2,3,4

33
DAFTAR PUSTAKA

Lukman dan Ningsih (2009).Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan


Muskolosekeletal.Jakarta. Salemba Medika.
Mansjoer Arief (2009). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid Kedua.
Jakarta: FKUI.
Mutaqin Arif (2012). Buku Sdaku Gangguan Muskoloskeletal. Jakarta: EGC.
Wahid Abdul (2013). Buku Saku Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem
Muskoloskeletal. Jkarta: CV. Trans Info Medika.

34