Anda di halaman 1dari 28

RESUME BAB 9

AUDIT SEKTOR PUBLIK


Dosen : Dr. Rudi Zulfikar, SE., Akt., M.M.

Kelompok : 6
- Rosedian Andriani (7774160067)
- Yongky Rangga Yudha Nugraha (7774160065)

MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG
2018
BAB 9
PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR PUBLIK
TEORI PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR PUBLIK

Pengertian Pelaksanaan Audit

Pelaksanaan audit adalah salah satu tahapan dalam proses audit di mana auditor akan
mengembangkan suatu program audit,menilai keefektifan sistem pengendalian internal
organisasi, dan melakukan pengujian-pengujian yang diperlukan untuk memperoleh bukti audit
yang memadai.

Indikator Pelaksanaan Audit yang Baik

Indikator pelaksanaan auditsektor publik yang baik adalah yang dilakukan sesuai dengan standar
seperti yang telah ditetapkan, baikstandar internasional maupun standaryang ditetapkan di dalam
negara yang bersangkutan. Prinsip dasar audit sektor publik internasional (draf eksposur
INTOSAI, 15 Februari 2013) harus dipertimbangkan auditor sebelum dimulainya dan selama
proses audit. Berikut adalah prinsip pelaksanaanproses audit:

(1) Terkait kegiatanpelaksanaan audit.

a. Auditor harus memastikan bahwa prosedur audit memberikan bukti

audit yang cukup tepat untuk mendukung tujuan audit.

(2) Kegiatan yang berkaitan dengan mengevaluasi buktiaudit, menyimpulkan dan pelaporan hasil
audit.

b. Auditor harus mengevaluasi bukti audit dan menarik kesimpulan.

c. Auditor harus menyiapkan laporan tertulis berdasarkan kesimpulan yang diambil.

Sebagai contoh di Indonesia, indikator pelaksanaan audit sektor publik yang baik adalah yang
dilakukan sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).

Struktur Pengendalian Internal

Suatu proses yang dijalankan oleh eksekutif (kepala daerah, instansi/dinas, pimpinan organisasi
sektor publik dan segenap personel yang ada di dalamnya). didesain untuk memberikan
keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan sebagai berikut.

a. Keandalan laporankeuangan.
b. Kepatuhan terhadap hukum danperaturan yang berlaku.
c. Efektivitas dan efisiensi operasional.
Apabila sistem pengendalian internal organisasi baik, maka akan menjadi sebuah proses
penyaringan dan mencegah atau mendeteksi tingkat salah saji. Hal itu sejalan bahwa sebuah
sistem yang baik akan mengurangi tingkat pengujian substantif. Meskipun pada dasarnya
pengujian substantif tidak bisa dihilangkan karena laporan auditor pada substansinya adalah
melaporkan jumlah angka yang ada dalam laporan keuangan bebas dari salah saji material, bukan
pada sistem yang menghasilkan angka-angka dalam laporan keuangan.

Konsep Pengendalian Internal .

Pengendalian internal seharusnya bisa membuat parapegawai bertanggung jawab atas berbagi
tugasnya, pengendalian akuntansi membuat parapegawai akuntabel terhadap tindakan-
tindakannya (Pratt, Michael J., Robert M. Kennedy, dan Jack Horrocks, 1985).

Berikut penjelasan jenis-jenis pengendalian internal.

a). Organisasi

b). Pemisahan Tugas

c). Fisik

d). Persetujuan dan otorisasi

e). Akuntansi

f). Personel

g). Supervisi

h). Manajemen

Pengendalian Organlsasional

Pengendalian ini berkaitan dengan caradi manaorganisasi yang diaudit mengelola pegawainya.
Beberapa ciri berikutseharusnya terdapat dalam sebuah organisasi, agar

struktur organisasi kondusifdengan pengendalian internalyang memadai.

(1) Perekrutan dan pelatihan personel yang jujurdan kompeten.

(2) Pemisahan fimgsi.

(3) Pembagian tugas dalam fiingsi akuntansi.

(4) Tanggung jawab yang dirinci dengan baikuntuksemua personel.


Pengendalian Supervisory

Aspek penting dari pengendalian adalah supervisi manajemen terhadap aktivitas organisasi yang
diaudit secara keseluruhan dan keefektifan pengendalian internal khusus lainnya. Supervisi yang
efektif dihasilkan dalam pelibatan manajemen pada titik-titik penting sistem pengendalian
internal, yaitu laporan keuangan dan analisis selisih anggaran. Diorganisasi yang lebih besar,
tanggung jawab untuk mengawasi dan mengendalikan didelegasikan kedepartemen pengendalian
internal.

Pengendalian Organlsasional dan Pengendalian Supervisory merupakan dasar penting untuk


evaluasi auditor terhadap sistemyang berlaku. Apabila ada elemen pengendalian yang hilang,
maka auditor mungkin tidak mempunyai keyakinan memadai terhadap pengendalian internal
khusus iainnp. Oleh karena itu, auditor seharusnya selalu mempertimbangkan aspek
pengendalian ini sebelum pekerjaan yang lebih mendalam dilakukan.

Pengendalian terhadap Kelengkapan dan Keakuratan Transaksi

Ada empat teknik pengendalian yang berhubungan secara khusus dengan kelengkapan dan
keakuratan pemrosesan transaksi, di manakenptaannp, bersifat preventif maupun detektif, dan
kombinasi keduanya. Keempat teknik tersebut adalah:

(1) Sequence checking

Dokumen kunci seharusnya diberi nomor urutbercetak dansecara rutin dicek untuk
menghindarikehilangan pencatatan. (hal ini tidakmemberikan keyakinan mengenai keakuratan
catatan).

(2) Perbandingan (comparison) '

Perbandingan antara sekumpulan dokumen atau catatan akuntansi dengan yang lainnp
mendeteksi ada tidaknp bukti-bukti atau catatan yang hilang.

(3) Control totals

Manfaat pembandingan sekumpulan dokumen atau catatan pada permulaan proses dibandingkan
dan sekumpulan yang ada pada saat proses tersebut sudah selesai adalah keyakinan tentang
kelengkapan dan keakuratannp. Idealnya, sekumpulan tersebut dicek oleh seseorang yang
independen terhadap prosesnp.

(4) Reperformance

Reperformance merupakan teknik pengendalian di mana sebuah prosedur dilakukan oleh seorang
personel, dan, kemudian, dilakukan kembali secara independen oleh seorang lainnp, yang
kemudian membandingkan hasilnp dengan basil asli. Teknik ini biasa digunakan imtuk
mengecek hasil perhitungan.
Rancangan Pengendalian untuk Penjagaan Aset

Manajemen mempunyai tanggung jawab untuk menjaga aset-aset organisasi. Pengendalian


dikategori ini signifikan bagi auditor, terutama dalam hubungannya dengan keterjadian dan
keberadaan sebuah aset. Pembatasan akses terhadap aset adalah contoh pengendalian preventif.
Sementara, stock takesecaraberkala adalah pengendalian detektifyang cukup relevan dalam
sebuah audit. Kevalidan pengendalian ini bergantung pada pemisahan antara fungsi
penjagaan/pengadaan dengan pencatatan.

Pengendalian Dokumentasi

Pengendalian ini memberi keyakinan bahwa sistem dibuat sesuai dengan tujuan awal, yaitu
memberikan pemahaman yang jelas kepada personel organisasi mengenai tugas dan tanggung
jawabnya, dan membuat pencatatan transaksi dengan benar secara sederhana. Apabila sebuah
sistem pengendalian mencakup preventif dan detektif, maka pengendalian detektif lebih efektif.
Pengendalian jenis ini biasanya dapat diuji kepatuhannya secara lebih efisien daripada
pengendalian preventif. Selain itu, pengendalian detektif dilakukan secara berkala dan tidak pada
setiap transaksi.

Keterbatasan Pengendalian Internal

Bagaimanapun, tidak ada sistem pengendalian internal yang dengan sendirinya, dapat menjamin
administrasi yangefisien, kelengkapan, dan keakuratan pencatatan. Keterbatasan tersebut, antara
lain:

Berikut ciri-ciri sistem pengendalian yang baik.

(1) Independen dalam prosedur pemrosesan.

(2) Harus ada kolusi untuk melewatinya.

(3) Personel dengan senioritas yang memadai.

(4) Secara tepat waktu.

(5) Pengendalian internal yang bergantung pada pemisahan tugas, dapat

dihindari dengan kolusi.

(6) Otorisasi dapat diabaikan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan

tertentu atau oleh manajemen.

(7) Personel keliru dalam memahami perintah, akibat kelalaian, tidak perhatian,

maupun kelelahan.
Prosedur Pengujian Pengendalian

Auditor tidak dapat yakin hanya dengan pengendalian internal,tetapi auditor melakukan
pengujian kepatuhan untuk mendapatkan keyakinan yang memadai bahwa sistem pengendalian
yangada berfimgsi dengan baik selama periode tersebut. Perlu dicatat bahwayangdiuji adalah
pengendaliannya dan bukan transaksinya. Untuk alasan ini, auditor mencatat dan memeriksa
semua perkecualian yang didapat selama pengujian pengendalian, tanpamemandang jumlah
rupiahyang terlibat dalam transaksi tersebut.

Jika auditor memperoleh keyakinan bahwa prosedur pengendalian dilakukan dengan baik,
makaauditor harusmendapatkan bukti mengenai keefektifan pengendalian selama periode
tersebut secara keseluruhan. Ada beberapa alternatif prosedur yang dapat dilakukan, yaitu:

(1) Hasil pengujian pengendalian sebelumnya.

(2) Berdasarkan pertanyaan yang dibuat, apakah pengendalian tetap sama untuk waktu yang
tersisa sampai berakhirnya periode tersebuL

(3) Sifat dan ukuran transaksi dan jumlah akun yang terlibat

(4) Pengujian substantif yang akan dilakukan tanpa melihat kecukupan prosedur pengendalian.

Jika terjadi perubahan sistem pengendalian internal selama masa review, auditor harus
mengevaluasi dan menguji pengendalian internal sebelum dan sesudah adanya perubahan.

Unsur Struktur Pengendalian internal

Unsur pengendalian internal dari lima unsur pokok sebagai berikut.

a). Lingkungan pengendalian.

b). Penaksiran risiko.

c). Inforraasi dan komunikasi.

d). Aktivitas pengendalian.

e). Pemantauan.

Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian menggambarkan keseluruhan sikap organisasi yang memengaruhi


kesadaran dan tindakan petsonel organisasi mengenai pengendalian.

Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu entitas, antara lain:

a). Nilai integritas dan etika.


b). Komitmen terhadap kompetensi.

c). Filosofi dan gaya operas! manajemen.

e). Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab.

f). Kebijakan dan praktik sumber daya manusia.

Penaksiran Risiko

Penaksiran risiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi, analisis, dan

pengelolaan risiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan> sesuai

dengan prinsipakuntansi berterima umum.

Penaksiran risiko mencakup pertimbangan khusus risiko yang timbul dari:

a). Perubahan standar akuntansi baru.

b). Hukumdan peraturan baru.

c). Perubahan yang berkaitan dengan revisi sistem dan teknologi baru yang digunakan untuk
pengolahan informasi.

d). Pertumbuhan pesat suatu entitas yang menuntut perubahan fiingsi pengolahan dan pelaporan
informasi dan karyawan yang terlibat dalam fungsi tersebut.

Informasi dan Komunikasi

Fokus utama kebijakan dan prosedur pengendalian yang berkaitan dengan sistem akuntansi
adalah bahwa transaksi dilaksanakan dengan mencegah salah saji potensial asersi manajemen
dalam laporan keuangan. Oleh karena itu,sistem akuntansi yang efektif dapat memberikan
keyakinan memadai bahwa transaksi yangdicatat atau terjadiadalah:

a). Sah.

b). Telah diotorisasi

c). Telah dicatat.

d). Telah dinilai secara wajar.

e). Telah digolongkan secara wajar.

f). Telah dicatat dalam periode yangseharusnya.

g). Telah dimasukkan kedalam bukupembantu dantelah diringkas dengan benar.


Aktivitas Pengendalian

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memastikan
pelaksanaan petunjuk yang dibuat oleh manajemen. Kebijakan dan prosedur ini memberikan
keyakinan bahwa tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk mengurangi risiko dalam
pencapaian tujuan entitas. Aktivitas pengendalian dapat dibagi atasbeberapa kelompok:

(1) Pengendalian pengolahan informasi.

a. Pengendalian umum.

b. Pengendalianaplikasi.

(a) Otorisasi memadai.

(b) Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatanmemadai.

(c) Pengecekan secara independen.

(2) Pemisahan fimgsi yangmemadai.

(3) Pengendalian fisik ataskekayaan pemerintahdaerahdan catatan.

(4) Review atas kinerja.

Pemantauan

Pemantauan adalah proses penilaian kualitas kinerja struktur pengendalian internal


sepanjangwaktu. Pemantuan dilaksanakan oleh personel yang semestinya melakukan pekerjaan
tersebut baik pada tahap desain, maupun pengoperasian pengendalian, pada waktu yang tepat
untuk menentukan apakah struktur pengendalian internal beroperasi sebagaimana yang
diharapkan, dan untuk menentukan apakah struktur pengendalian internal tersebut telah
memerlukan perubahan, akibat terjadinya perubahan keadaan.

Pemahaman atas Sistem Pengendalian Internal

Dalam memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian internal, auditor menggunakan tiga
macam prosedur audit, yaitu:

(1) Mewawancarai personel dinas/instansi yang berkaitan dengan unsur struktur pengendalian.

(2) Melakukan inspeksi terhadap dokumen dan catatan.

(3) Melakukan pengamatan atas kegiatan organisasi.

Informasi yang dikumpulkan oleh auditor dalam pelaksanaan prosedur audit tersebut di atas
adalah:
(1) Rancangan berbagai kebijakan dan prosedur dalam setiap unsur struktur pengendalian
internal.

(2) Apakah kebijakan dan prosedur tersebut telah benar-benar dilaksanakan.

Sifat-sifat Pengujian Audit

Sifat pengujian audit mengacu pada sifat dan efektivitas pengujian audit yang akan dilaksanakan.
Pertama, prosedur audit tersebutharus dapat memberikan bukti tentang kinerja kompetitifsuatu
entitas atau terkait dengan tujuan spesifik yang ingin dicapai auditor. Auditor juga harus
mempertimbangkan biaya relatifdan efektivitas prosedur dalam kaitannya dengan tujuan audit
yang spesifik. Prosedur audit mana yang akan dilaksanakan terkait dengan tujuan spesifik yang
ingin dicapai auditor.

Harus relevan.

Mempertimbangkan biaya relatif serta efektivitas dalam kaitannya dengan tujuan audit.
Pendekatan compliance atausubstantive test.

Bukti Audit

Bukti audit sangat mudah memengaruhi sifat pekerjaan audit yang tercantum pada standar ketiga
pekerjaan lapangan yang menyatakan bahwa: "Bahan bukti kompeten yang mencukupi dapat
dapat diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan
konfirmasiyangdigunakan sebagai dasaryanglayak untuk menyatakan pendapat atas laporan
keuangan yang diaudit". Standar tersebut menguraikan bahwa bukti kompeten (artinya dapat
diandalkan) yang mencukupi (dalam jumlah yang cukup) harus diperoleh untuk memberikan
dasar yang memadai (artinya rasional) untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. SAS
31 (AU 326.20), tentang bahan bukti yang diperlukan untuk mendukung pendapat yang
diinformasikan merupakan masalah bagi auditor untuk menentukan penggunaan pertimbangan
profesional setelah melakukan penelitian yang mendalam tentang kondisi pada suatu kasus
tertentu. Pengumpulan dan evaluasi bahan bukti merupakan inti dari audit.

Beberapa halpenting yang berkaitan dengan bukti audit.

(1) Kecukupan bukti audit.

(2) Kompetensi bukti audit.

(3) Dasaryangmemadai atau rasional.

(4) Prosedur yang dapat dilakukan untuk menghimpun bukti audit.

Kecukupan Bukti Audit

Kecukupan bukti audit lebih berkaitan dengan kuantitas buktiaudit. Faktor-faktor yang
Memengaruhi kecukupanbukti auditlaporan keuangan adalah:

(1) Materialitas.

Auditor hams memberikan pendapat pendahuluan atas tingkat materialitas laporan keuangan.
Tingkat materialitas dan kuantitas bukti audit memiliki hubungan terbalik.

(2) Risiko Audit.

Risiko audit dengan jumlah bukti audit yang diperlukan, memiliki hubungan yang terbalik.
Rendahnya risiko audit berarti tingkat kepastian yang diyakini auditor mengenai ketepatan
pendapatnya, adalah tinggi.

(3) Faktor-Faktor Ekonomi.

Auditor harus memperhitungkan apakah setiap tambahan waktu dan biaya untuk mengumpulkan
audit memberikan manfaat terhadap kuantitas dan kualitas bukti yangdikumpulkan.

(4) Ukuran dan Karakteristik Populasi.

Ukuran populasi dan besar sampling bukti audit memiliki hubungan yang searah. Semakin besar
populasi, maka semakin besar jumlah sampel bukti audit yang harus diambil dari populasi.
Auditor memerlukan lebih banyak sampel bukti audit dan informasi yang lebih kuat atau
mendukung atas populasi yang bervariasi anggotanya daripada populasi yang seragam.

Kompetensi Bukti Audit

Kompetensi atau reliabilitas bahan bukti yang berupa catatan akuntansi berkaitan erat dengan
efektivitas pengendalian internal organisasi,dalam Kompetensi bukti audit yang berupa informasi
penguat tergantung pada faktor berikut.

(1) Relevansi Bukti.

(2) Sumber Informasi Bukti.

(3) Ketepatan Waktu.

(4) Objektivitas.

Dasar yang Memadai

Auditor tidakdiharuskan untukmempunyai dasaryang bersifet mutiakatau absolut untuk


menyatakan pendapatnya. Hal yang terpenting adalah dasar yang digunakan bersifat memadai
atau rasional, jikadihubungkan dengan seluruh tingkatkeyakinan auditor imtuk keperluan
penyimpulan hasil audit imtuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan.

Dasar yang bersifat memadai atau rasional dipengaruhi oleh berbagai fektor berikut
(1) Pertimbangan Profesional Auditor.

(2) Integritas Pengurus Struktural Entitas.

(3) Transaksi yang terjadi di Entitas.

(4) Kondisi Keuangan.

Prosedur Untuk Menghimpun Bukti Audit

Terdapatempatprosedur atau tindakan yangdapat dilakukan untuk menghimpun

bukti audit, yaitu:

(1) Inspeksi.

(2) Pengamatan.

(3) Pengajuan pertanyaan.

(4) Konfirmasi.

Disamping proseduratautindakan tersebutdi atas,beberapa hal lain yang perlu diketahui berkaitan
dengan keputusan auditordalam proses pengumpulan buktiaudit laporan keuangan,yaitu:

(1) Penentuan prosedur audit

(2) Penentuanbesarnyasampelbukti.

(3) Penentuan elemen tertentuyang harusdipilih sebagai sampel bukti.

(4) Penentuanwaktupelaksanaan proseduraudit.

Jenis Bukti Audit

Jenis-jenis bukti audit laporan keuangan, dapat digolongkan sebagai berikut.

a. Bukti Fisik.

Bukti fisik banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud, terutama kas dan persediaan.
Pemeriksaan langsung oleh auditor secara fisik terhadap aktiva, merupakan cara yang paling
objektif dalam menentukan kualitas aktiva yang bersangkutan.

b. Bukti Konfirmasi.

Bukti konfirmasi merupakan bukt iyang sangat tinggi tingkat reliabilitasnya. Hal ini
dikarenakanbukti konfirmasi, berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung.
Konfirmasi yang dilakukan, misalnya pemeriksaan kasdi bank, dikonfirmasikan kebankkliendan
pemeriksaan piutang pajak dikonfirmasikan ke wajib pajak. Meskipun demikian, perolehan bukti
konfirmasi kadang terkendala dengan sikap yang tidak menyenangkan dari pihak-pihak yang
diminta konfirmasidan berbiaya relative tinggi.

c. Bukti Dokumenter.

Bukti dokumenter merupakan bukti yang paling penting dalam audit. Bukti dokumenter antara
lain meliputi notulen rapat, faktur pembelian, dan kontrak proyek. Bukti dokumenter dapat
dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu bukti dokumenter yang dibuat pihak luar
(eksternal) dan dikirim kepada auditor secara langsung, bukti dokumenter yangdibuat pihakluar
(eksternal) dan dikirimkepadaauditor melalui klien, serta bukti documenter yang dibuat dan
disimpan oleh klien.

d. Catatan Akuntansi

Catatan akuntansi, seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber data yang digunakan untuk
membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti yang berupa catatan akuntansi merupakan
objek yang harus diperiksa dalam audit laporan keuangan. Namun, bukan berarti catatan
akuntansi adalah objek audit, karena objek audit adalah laporan keuangan.

e. Bukti Surat Pernyataan Tertulis

Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani satu individu yang
bertanggumgjawab dan memiliki pengetahuan mengenai rekening, kondisi, atau kejadian
tertentu. Bukti audit berupa surat pernyataan tertulis dapat berasal dari pihak internal khen
maupun dari sumber ekstemal termasukdari ahlif. Bukti Matematis.

Bukti matematis diperoleh auditor melalui pengulangan pekerjaan klerikal yang telah dilakukan
klien. Bukti matematis merupakan bukti audit yang bersifat kuantitatif. Bukti ini dapat digunakan
untuk membuktikan ketelitian catatan akuntansi klien. Bukti matematis yang berasal dari auditor
bersifat reliable, biaya relatif murah, dan dapat dijadikan dasar bagi auditor dalam mengambil
kesimpulan tentang penegasan mengenai penilaian atau pengalokasian.

g. Bukti Lisan.

Auditordalam melaksanakan tugasnya banyakberhubungandengan pihak-pihak yang


berkepentingan dengan pekerjaan auditor, sehingga auditor berkesempatan mengajukan
pertanyaan secara lisan. Jawaban atas pertanyaan yang diajukan merupakan bukti lisan. Bukti
lisan memiliki nilai keterandalan (reliabihtas) yang sangat tergantung kepada pengarahan auditor
dalam mendapatkan bukti-bukti lisan tersebut h. Bukti Analitis danPerbandingan.

i. Struktur Pengendalian Internal.

Struktur pengendalian internal dapat digunakan untuk mengecek ketehtian dan dapat dipercaya
tidaknya data akuntansi. Kuat dan lemahnya struktur pengendalian internal merupakan indikator
utama yang menentukan jumlah buktiyang harus dikumpulkan. Oleh karena itu,
strukturpengendahan internal merupakan bukti yang kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya
informasi keuangan untuk dipercaya.

j. Bukti Elektronik.

Bukti elektronik yang dimaksud adalah informasi yang dihasilkan oleh alat elektronik yang
digimakan auditor sebagai dasar dalam memberikan pendapat tentang penegasan.Yang termasuk
dalam bukti elektronik ini mehputi penggunaan komputer, sensor, magnetic media,scanner.

Terminologi Pengujian

Secara terminologi menurut kamus bahasa Indonesia pengujian berasal dari kata uji yang berarti
percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu,sedangkan pengujian berarti proses, cara,
pemeriksaan atas transaksi keuangan. Pengujian dalam audit berkaitan dengan kewajaran
penyajian laporan keuangan dan materialitas. Kewajaran laporan keuangan dinilai berdasarkan
asersieksekutif. Sedangkan, aspekmateriahtasadalahbesarnyanilaiyangdihilangkanatau salah saji
informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, sehingga berpengaruh
terhadap pertimbangan pengguna informasikeuangantersebut karena adanya penghilangan
atausalahsaji. Waktu pengujian dapatdilakukan sebelum tangal neraca, saat tanggal neraca, dan
setelah tanggal neraca.

Waktu Pengujian:

❖ Sebelum Tanggal Neraca.

❖ Menjelang Tanggal Neraca.

❖ SaatTanggal Neraca.

❖ SesudahTanggal Neraca.

LuasPengujian:

❖ Sedikit Sampel.

- Banyak Sampel.

❖ Seluruh Sampel.

Di dalam pengujian/audit, terdapat duakelompokistilah, yaitu istilah kontroversiai

dan istilah nonkontroversial.

a. Istilah Kontroversial.
(1) Pengawasan danPengendalian.

(2) Audit dan Pemeriksaan.

(3) Audit Keuangan (Financial Audit) dan Audit Umum (General Audit).

(4) Audit Operasional, Audit Manajemen, Audit atas Program, dan Audit Kinerja.

(5) Audit Komprehensif.

(6) Pemeriksaan Serentak (Pemtak).

(7) Pemeriksaan Kemudian (Post Audit).

(8) Audit Khusus (Special Audit).

(9)Pengawasan Aspek Strategis.

(10) Evaluasi.

(11) Pengawasan Sejak Tahap Perencanaan.

(12) Pengawasan Melekat (Waskat).

(13) Pengawasan Fungsional (Wasnal).

(14) Pengawasan Masyarakat (Wasmas).

b, Istilah Non Kontroversial,

(1) TaxAuditing

(2) FraudAuditing

(3) Social Audit

(4) Quality Audit

(5) Single Audit

(6) Risk Based Auditing

(7) Legal Auditing

(8) Due Deligence Audit

(9) Audit Lingkungan

(10) KataUsator
(11) Objek Pemeriksaan (obrik)

(12) Electronic Data Processing (EDP) Audit

(13) Audit Ekstemal dan Audit Internal

(14) Audit Pemerintah

(15) Audit Independen

(Sumber.PusatPenelitian dan Pengembangan Pengawasan BPKP Online).

SISTEM PELAKSANAAN AUDIT,SEKTOR PUBLIK

Pengumpulan Data

Berikutkegiatandalam pengumpulandata,

a. Wawancara

Hal-hal terkait wawancara adalah:

(1) PertanyaanPembukaan.

Pada tahap permulaan dari wawancarahendaknya pertanyaan berkisar pada masalah yang netral
dan ringan.

(2) Gaya Bicara.

Gaya bicara dalam wawancara hendaknya tersusun baik, jangan berbelit-belit.

(3) Nada dan Irama dalammemberi Pertanyaan.

Nada berfungsi agar orang yang diwawancara mengerti dan dapat memberikan jawaban yang
dibutuhkan. Sedangkan, irama bicara juga dapat membantu dalam kelancaran wawancara.
Sebaiknya dalam berbicara tidak terlalu lambat ataupun terlalu cepat, sehingga tidak berkesa
nbertanya seperti bertubi-tubi.

(4) SikapPewawancara.

Sikap pewawancara idealnya dapat menimbulkan suasana penuh keakraban,suasana yang bebas
dan tidak kaku serta penuh kehangatan.

(5) Uraian dengan kata-kata sendiri.

Peranan pewawancara adalah harus dapat membentuk pihak yang diwawancarai agar dapat
merumuskan keterangannp dalam kata-kata yang lebih tepat dan begitu juga pewawancara
terhadap dirinya sendiri.
(6) Mengadakan Penggalian.

Penggalian yang dimaksud adalah yang lebih mendalam dari suatu wawancara. Hal ini dapat
dilihat bilamana pihak yang diwawancarai telah memberikan pemyataan atau jawaban yang
cukup jelas, akan tetapi pewawancara ingin mengetahui lebih dalam mengenai jawaban yang
telah diberikan.

(7) Membuat Catatan.

Sebaiknya dibuat catatan dari hasil wawancara yang diperoleh.

(8) Menilai Jawaban.

Ketelitian dari pencatatan tergantung kepada ketepatan penilaian pewawancara terhadap jawaban
ataupun informasi yang diberikan pihak yang diwawancarai. Salah satu sikap yang mendorong
kesuksesan wawancara adalah sikap kritis. Sikap kritis perlu dikembangkan dalam wawwcara
agar mendapat informasi yang lebih terinci dan selengkap-lengkapnya.

b. Mereview Dokumen

Dalam konteks audit, auditor harus mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan, dan


mendokumentasikan informasi (bukti) untuk mendukung hasil audit.

c. Observasi.

Observasi bermanfaat agar peneliti memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial,
mendapatkan pengalamanlangsung,melihat hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain,

Analisis Data

Terdapat tiga pendekatan yang dilakukan oleh auditor dalam memeriksa laporan
keuanganklienyangtelahmempergunakan SistemInformasiAkuntansi(Davis, James. R, C. Wayne
Alderman,LeonardA. Robinson, 1990).

(1) Pemeriksaan sekitar komputer.

(2) Pemeriksaan dengan komputer.

(3) Pemeriksaan melalui komputer.


SIKLUS PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR PUBLIK
Pengujian Kepatuhan

Dalam audit kinerja, Auditor melaksanakan pengujian kepatuhan organisasai terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan dan pengendalian internal. Saat melakukan audit kinerja, auditor
harus mengkomunikasikan sifat pekerjaan audit dan tingkat keyakinan, dengan memberikan
penekanan bahwa pekerjaan audit dan pelaporan yang berkaitan dengan pengujian pengendalian
internal, kepatuhan atas ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengendalian atas sumber
daya meliputi kebijakan dan prosedur yang telah dilaksanakan oleh manajemen untuk
memastikan bahwa sumber daya diamankan secara memadai dari pemborosan, kehilangan dan
penyalahgunaan. Pemahaman atas pengendalian inidapat membantu auditor merencanakan audit
terhadap tingkat ekonomis dan efisisensi organisasi.

Pengujian Validitas Bukti Transaksi

Pengujian validitas bukti transaksi dilakukan untuk menentukan:

(1) Ketepatan otorisasi transaksi akuntansi klien.

(2) Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi tersebut dalam jumal.

(3) Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi tersebut kedalam buku besar dan buku
pembantu.

Pengujian Pelaksanaan Peraturan/Regulasi

Entitas pemerintahan, organisasi nirlaba, atau perusahaan dapat menugasi auditor untuk
mengaudit laporan keuangan entitas tersebut berdasarkan Standar Audit Pemerintahan. Dalam
melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan, auditor memikul tanggung jawab
melampaui tanggung jawab yang dipikulnya dalam audit berdasarkan standar auditing yang
ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia untuk melaporkan tentang kepatuhan dengan
peraturan perundang-undangan dan tentang pengendalian internal.

Pelaporanatas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku

Auditor dapat melaporkan masalah kepatuhan peraturan perundang-undangan dan pengendalian


internal dalam laporan audit atas laporan keuanganatau dalam suatu laporan terpisah. Apabila
auditor melaporkan kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan dan pengendalian internal
dalam laporan audit atas laporan keuangan, maka auditor harus mencantumkan dalam suatu
paragraph pengantar yang menjelaskan pokok-pokok temuan utama dari audit atas laporan
keuangan dan dari pengujian atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan serta
pelaksanaan pengendalian internal.
PengujianKepatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku

Paragraf 5.11 StandarAudit Pemerintahan mengharuskan auditor melakukan hal-hal berikut.

(1) Auditor hams merancang audituntukdapat memberikan keyakinan memadai guna mendeteksi
ketidakberesan yang material bagi laporan keuangan.

(2) Auditor harusmerancang audit untukmemberikan keyakinan memadai guna mendeteksi


kesalahan/kekeliruan yang material dalam laporan keuangan sebagai akibat langsung dari adanya
unsur perbuatan melanggar/melawan hukum yang material.

(3) Auditor harus waspada terhadap kemungkinan telah terjadinya unsur perbuatan
melanggar/melawan hukum secara tidak langsung. Jika informasi khusus yang telah diterima

Pelaporan Ketidakpatuhan

Auditor harus melaporkan hal material dari ketidakpatuhan terlepas apakah akibat salah saji telah
dikoreksi dalam laporan keuangan entitas. Auditor dapat mengharapkan untuk memasukkan
suatu pernyataan tentang apakah salah saji sebagai akibat hal material dari ketidakpatuhan telah
dikoreksi dalam laporan keuangan atau suatu pernyataan yang menjelaskan dampak salah saji
tersebut dalam laporannya atas laporan keuangan pokok.

Unsur Perbuatan Melanggar/Melawan Hukum

Standar Audit Pemerintahan mengharuskan auditor untuk melaporkan hal-hal atau indikasi unsur
perbuatan melanggar/melawan hukum yang dapat berakibat ke penuntutan pidana.

Pengujian Substantif

Perancangan Pengujian Substantif

Auditor harusmenghimpun buktiyang cukup untukmemperoleh dasaryang memadai untuk


menyatakan pendapat atas laporan keuangan klien. Pengujian substantive menyediakan
buktimengenai kewajaran setiap asersi laporankeuangan yangsignifikan. Perancangan
pengujiansubstantifmeliputipenentuan:

a. Sifat pengujian.

b. Waktupengujian.

c. Luaspengujiansubstantif.

Prosedur untuk melaksanakan Pengujian Substantif

Ada delapan prosedur untukmelaksanakan pengujian pengendalian substantif, yaitu:

a. Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan berkaitan dengan kinerja tugas mereka.
b. Pengamatan atau Observasi terhadap persoalan dalam melaksanakan tugas mereka.

c. Menginspeksi dokumen dan catatan.

d. Melakukan penghitungan kembali atau reperforming.

e. Konfirmasi.

f. Analisis.

g. Tracimg atau pengusutan.

h. Vbwc/jmg ataupenelusuran.

Penyusunan Kuesioner

Pengumpulan data yang dilakukan auditor meliputi pengamatan danpengukuran. Terdapat


banyak metode untuk mengumpulkan data, di antaranya adalah kuesioner, wawancara, observasi
langsimg danperhitxmgan. Penggimaan metode kuesioner sangat cocok diterapkan padakasus
dimanatim audit secara geografis berjauhan danjenis data yang dibutuhkan adalah data
kuantitatif. Dengan metode kuesioner, daftarpertanyaan memungkinkan auditor
untukmenanyakan hal yang dirasa tidak pantas diungkapkan secara lisan. Data yang diperoleh
dengan metode kuesioner dapat dianalisis secara akurat dan dapat memberikan data kuantitatif
yang solid untuk mendukung temuan data kualitatif.

Prosedur Analitis

Prosedur analitis adalah pengevaluasian informasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari
hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data nonkeuangan.

Prosedur analitis akan membantu auditor dengan mendukung dan meningkatkan pemahamannya
tentang operasional organisasi yang diaudit. Prosedur analitis juga membantu auditor dalam
mengidentifikasi hubungan yang tidak sewajarnya dan fluktuasi data yang tidak diharapkan.

Ada enam langkah yang harus dilakukan auditor dalam melakukan prosedur analitis, yaitu;

1. Mengidentifikasi perhitungan dan perbandingan yang akan dibuat.

2. Mengembangkan ekspektasi.

3. Melakukan perhitungan dan perbandingan

4. Menganalisi data

5. Menyelidiki perbedaan atau penyimpangan yang tidak diharapkan yang signifikan

6. Menentukan pengaruh perbedaan atau penyimpangan terhadap perencanaan audit


Teknik Mengelola Risiko Audit Sektor Publik

Risiko Audit merupakan salah satu yang menjadi perhatian auditor dalam menjalankan tugas dan
tanggung jawab profesionalnya dan kemungkinan terjadinya risiko audit. Risiko audit dapat
ditimbulkan dari tingkat penemuan yang direncanakan dalam menghadapi penyimpangan,
misalnya:

a. Related party transaction (transaksi organisasi induk dan anak atau transaksi antar keluarga).

b. Client misstate (klien melakukan penyimpangan),

c. Kualitas komunikasi (klien tidakkooperatif).

d. Initialaudit (klien baru pertamakalidiaudit).

e. Klien bermasalah.

Mengetahui Risiko

Risiko deteksi {detection risk) adalah risiko bahwa auditor tidak akan mendeteksi salah saji
material menggimakan proseduranalitik atau pengujian substantifrisiko bahwa auditor
tidakdapatmendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.

Risiko deteksi merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor.

Alasan tingginya risiko deteksi;

 Badan Pengatur sedikit dan lemah.


 Umumnya miskin kualitas auditor.
 Hukumanyang rendah untuk pelanggaran.

Inherent Risk

Inherent Risk adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah
saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat pengendalian yang terkait (maksudnya bahwa
risiko bawaan timbul dengan asumsi pengedalian internal dalam organisasi tidak ada. Jika
sekiranya pengendalian internal dalam organisasi memadai serta efektif dalam pelaksanaannya
dengan sendirinya risiko bawaan akan dapat diminimalisasi). Risiko salah saji demikian adalah
lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain,
Sebagai contoh, perhitungan yang rumit lebih mungkin disajikan salah jika dibandingkan dengan

perhitunganyangsederhana (SAS No.47AU312.20).


Audit Risk

Seperti yang dijelaskan dalam SPAP PSA seksi 312 paragraf28 bahwarisikobawaan dan risiko
pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. Adapun risiko bawaan dan risiko pengendalian tetap
ada, terlepas daridilakukan atautidaknya audit atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi
berhubungan dengan prosedur audit dan dapat diubah oleh keputusan auditor itusendiri. Risiko
deteksi mempunyai hubungan yang terbalikdenganrisiko bawaan danrisiko pengendalian.
Semakin kecil risikobawaan dan risiko pengendalian yang diyakini olehauditor, semakin
besarrisiko deteksi yang dapat diterima. Sebaliknya, semakin besaradanya risiko bawaan
danrisiko pengendalian yang diyakini olehauditor, semakinkeciltingkat risikodeteksiyangdapat
diterima.Atau dengan rumus dapat dijabarkan seperti berikut.

AR {Audit Risk) = IR XCP X DR.

Teknik Menulis Kertas Kerja Audit

Kertas kerja audit merupakan kertas-kertas yang diperoleh akuntan selama melakukan
pemeriksaan dan dikumpulkan untuk memperlihatkan pekerjaan yang telah dilaksanakan, metode
danprosedur pemeriksaan yang diikuti serta kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuatnya.

Contoh kertas kerja antara lain; Catatan memo; Hasil analisisjawahan konfirmasi. Clients
Representation Letter; Komentar yang dibuat atau didapat oleh akuntan pemeriksa; Tembusan
(copy) dari dokumen penting dari suatu daftar baik yang diperoleh ataupuh yang didapat dari
klien dan diverifikasi oleh akuntan.

Kertas kerja audit dapat berasal dari pihak klien, hasil analisis yang dibuat auditor
ataudaripihakketiga yang independen baiksecara langsung maupun tidak langsung. Berkas
kertaskerja yang berasal dari klien dapatberupa: Neraca saldo (Trial balance), Rekonsiliasi bank
(Bank reconciliation), Analisis Umur Piutang (Accounts Receivable Aging Schedule), Rincian
Persediaan (Final Inventory List),Rincian Utang, Rincian Biaya Umum danAdministrasi, Rincian
Biaya Penjualan,

Surat Pernyataan Langganan.

Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit: Untuk mengkoordinasi danmengorganisasi semua tahap
pengauditan. Sebagai pendukung yang penting terhadap pendapat akuntan atas laporan keuangan
yang diauditnya. Sebagai penguat kesimpulan akuntan dan kompetensi pengauditannya. Sebagai
pedoman dalam pengauditan berikutnya.

Teknik Dasar Pembuatan Kertas Kerja Audit:

Ada empat teknik dasar yang digunakan dalam pembuatan kertas kerja. Keempat teknik

tersebut adalah:
 Pembuatan heading
 Nomor indeks.
 Tick marks.
 Pencantuman tanda tangan pembuat maupun penelaah, dan tanggal pembuatan serta
penelaahan.

Tipe Kertas Kerja:

❖ Audit program

Agar takmenimbulkan kerancuan istilah makaperlu dipisahkan pengertian audit program dan
audit prosedur. Audit program (program pemeriksaan) merupakan daftar prosedur pengauditan
untuk seluruh pemeriksaan elemen tertentu.

❖ Working Trial Balance.

Kertas kerja ini dapat pula dipisahkan menjadi Working Balance Sheet dan Working Profit and
Loss.

* Summary of adjustment journal entries.

Ringkasan ini merupakan daftar yang berisikan jurnal-jurnal koreksi yang diusulkan kepada
klien yang diperoleh selama pemeriksaan berlangsung.

* Top Schedules.

Merupakan kertas kerja pemeriksaan yang digunakan untuk meringkas informasi yang dicatat
dalam daftar pendukung untuk rekening-rekening yang berhubungan.

*Supportingschedules.

Merupakan kertas kerja yang memuat detail dari pada temuan basil pemeriksaan, serta koreksi-
koreksi yang ada, serta memuat berbagai informasi dan teknik pemeriksaan yang dilaksanakana
oleb akuntan. Dengan kata lain supporting schedule merupakan rincian dari pada top schedules.

Review Kertas Kerja dan Kesimpulan

Kertas kerja barus disesuaikan dengan keadaan yang dibadapi dan kebutuban auditor dalam
melaksanakan suatu penugasan audit. Kertas kerja juga berhubungan erat dengan ketiga
kelompok standar auditing yakni standar umum, standar pekerjaan lapangan, danstandar
pelaporan.

Kertas kerja juga berhubungan erat dengan standar pelaporan. Kertas kerja bukan hanya berguna
untuk memudabkan pembuatan laporan audit Kertas kerja berguna untuk mendukung pendapat
auditor yang diberikan dalam laporan audit. Kertas kerja harus meliputi bukti yang berkaitan
dengan kesesuaian prinsip akuntansi yang berlaku umum, konsistensi, pengimgkapan yang
memadai, dan, pernyataan pendapat sesuai standar auditing. Hal ini perlu dilakukan untuk
menjaga diri terhadap tuntutan pemakai

dansanksi lembaga profesi.

Isi Kertas Kerja

Daiam SA 339, SPAP - LAI dan SAP 7.63, kertas keija biasanya berisi dokumentasi yang
memperlihatkan:

a. Pemeriksaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik yang menunjukkan


dilaksanakannya standarpekeijaan lapangan yangpertama.

b. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian internal telah diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, danlingkup pengujian yang telah dilakukan.

c. Bukti audit telah diperoleh, prosedur pemeriksaan yang telah diterapkan, dan pengujian yang
telah dilaksanakan, yang memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar yang memadai
untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, yang menunjukkan dilaksanakannya
standar pekerjaan lapangan yang ketiga.

Dalam SA 339 dikemukakan bahwa kertas kerja biasanya berisi dokumentasi yang
memperlihatkan:

 Pemeriksaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik, yang menunjukkan


dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan yang pertama.
 Pemahaman yang memadai atas struktur pengendahan internal telah diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang telah
dilakukan.
 Bukti audit telah diperoleh, prosedur pemeriksaan yang telah diterapkan dan pengujian
yang telah dilaksanakan, yang memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar
yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, yang
menunjukkan dilaksanakannya standar pekeijaan lapangan yangketiga.

Secara umum kertas kerja audit memiliki susunan sebagai berikut.

a). Draf laporan pemeriksaan {audit report).

b). Laporan keuangan yang telah diaudit.

c). Ringkasan informasi bagi penelaah.

d). Program pemeriksaan.


e). Laporan keuangan atau neraca lajur yang dibuat klien.

f). Ringkasan jurnal penyesuaian.

Faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja audit:

a) Kertas Kerja kerja harus dibuat lengkap.

b) Teliti.

c) Ringkas.

d) Jelas.

e) Rapi.

Jenis Kertas Kerja

Pada dasarnya, ada beberapa tipe kertas kerja audit. Namun demikian, ada enam tipe

kertas kerja audit yang biasanya dikenal, yaitu:

(1) Program audit

(2) Working trial balance.

(3) Ringkasan jumal penyesuaian dan jurnal pengklasiiikasian kembali.

(4) Daftar pendukung.

(5) Daftar utama.

(6) Memorandum audit dan dokumentasi informasi pendukung.

Jenis Kertas Kerja

Pada dasarnya, ada beberapa tipe kertas kerja audit. Namun demikian, ada enam tipe

kertas kerja audit yang biasanya dikenal, yaitu:

(1) Program audit

(2) Working trial balance.

(3) Ringkasan jumal penyesuaian dan jurnal pengklasiiikasian kembali.

(4) Daftar pendukung.

(5) Daftar utama.


(6) Memorandum audit dan dokumentasi informasi pendukung.

Penelaahan Kertas Kerja

Penelaahan kertas kerja pada umumnya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan
jika pekerjaan pemeriksaan pada suatu segmen tertentu sudah selesai. Penelaahan pada tahap ini
meliputi pekerjaan yang dilakukan, dan bukti yang diperoleh. Dan, kesimpulan diperoleh
pembuat kertas kerja. Sedangkan, tahap kedua dilakukan bila semua pekerjaan lapangan sudah
diselesaikan.

Pemilikan dan Penyimpanan Kertas Kerja

Kertas kerja adalah milik lembaga yang mengaudit (seperti KAP dan BPK), bukan milik pribadi
auditor maupun yayasan. Kertas kerja tidak boleh dianggap sebagai bagian maupun sebagai
pengganti catatan akuntansi klien. Auditor harus menerapkan prosedur yang memadai untuk
menjaga keamanan dan kerahasiaan kertas kerja, dan harus menyimpannya minimal selama
sepuluh tahun. Berkaitan dengan penyimpanan kertas kerja, Auditor blasanya menyelenggarakan
dua jenis pengarsipan berikut ini.

a. Arsip permanen (permanent file) untukkertas kerja yang berisi informasi yang relatif tidak
pernah mengalami perubahan. Informasi yang ada di dalam arsip permanen seperti berikut.

(1) Salinan anggaran dasardananggaran rumahtangga.

(2) Salinan surat perjanjian penting yang berlaku dalam jangka panjang.

(3) Salinannotulen rapat dan baganyayasan.

(4) Pedoman akun dan prosedur pengendalian internal.

(5) Ringkasan prinsip akuntansiyayasan.

b. Arsip kini (currentfile) untuk kertaskerjayanghanyadipakai untuk suatu audit yang telah
diselesaikan.

Hubungan antar Kertas Kerja Audit

Untuk suatu bagian tugas pengauditan yang saling berkaitan, kertas kerja audit yang dihasilkan
tentu saling berkaitan pula. Dengan demikian, antar kertas kerja dapat terjadi saling hubungan
ceksilang (cross check).

Pengauditan saldo kas, misalnya, daftar jurnal penyesuaian terhadap kas tercantum dalam daftar
pendukung. Selanjutnya di daftar utama dan di Working Trial Balance, saling keterkaitan juga
ditimjukkan.
Pelaporan Tentang Pengendalian Internal

Pengendalian internal adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan
sistem teknologi informasi yang dirancang untuk membantu orgahiSasi dalam mencapai
tujuannya. Pengendalian internal merupakan cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan
mengukur sumber daya suatu organisasi. Tujuan pengendalian internal suatu organisasi adalah
agara organisasi tetap berada dalam jalur tujuan organisasi dan mengurangi risiko perubahan
mendadak selama operasi organisasi sector publik. Penerapan pengendalian internal dalam suatu
organisasi dimaksudkan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan-tujuan
organisasi yang meliputi

Faktor-fektor unsur pelaporan yang balk meliputi beberapa hal sebagai berikuL

(1) Sistem pelaporan yang diciptakan hendaknya dapat memberikan informasi terkini yang
dibutuhkan oleh pimpinan yang bertanggung jawab.

(2) Laporan disusun berdasarkan informasi dan data yang benar, akurat dan tepat waktu.

(3) Adanya keharusan bagi setiap pegawai tertentu untuk membuat laporan hasil pekerjaannya
secara tertulis. ,

(4) Isi laporan didukung dengan bukti yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan.

Isi Dan Bentuk Laporan

Laporan hasil audit disiapkan dengan pengarahan ketua tim audit yang bertanggung jawab atas
keakuratan dan kelengkapan laporan hasil audit. Pembicaraan awal tentang daftar temuan audit
merupakan bagian dari tahap penyiapan konsep laporan hasil audit. Sebelum penyusunan laporan
hasil audit, terlebih dahulu dilakukan komunikasi internal tim audit. Komunikasi internal tim
pada tahap penyiapan konsep laporan hasilauditbertujuan untuk:

(1) Mencapai kata sepakat mengenai seluruh temuan audit.

(2) Memperoleh tanggapan dan persetujuan final dari pengendali teknis bahwa seluruh temuan
audit telah objektif dan rekomendasi yangdiberikan layak dan dapat dilaksanakan.

(3) Memastikan bahwakertaskerjaaudittelahdisusun secara memadai dan substansi


kertaskerjaauditnya cukupsebagal bahan untuk menyusun laporanhasilaudit. Komunikasi
yangterjadipada tahap penyiapan konsep laporan hasilaudit antara lain adalah:

(1) Kesepakatan tim atashasil-hasil audit.

(2) Penyusunanlaporan hasil audit.

(3) Review kertaskeijaauditdan laporanolehpengendali teknis dan pengendali mutu.


Secara umum laporan audit berisi beberapa hal sebagai berikut.

(1) Tujuan dan lingkup audit.

(2) Rincian rencanaaudit,identitasanggota tim audit dan perwakilan teraudit atau klien, tanggal
pelaksanaan audit,dan identitas unit organisasi teraudit.

(3) Identitas dokumen standar yang dipakai dalam audit anatra lain standar mutu akademik dan
manual mutu akademik teraudit.

(4) Temuan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan audit.Temuan audit harus didukung dengan
kertas kerja yang memadai objektif dan konstruktif.

(5) Penilaian tim audit mengenai keluasan kesesuaian teraudit dengan standar Sistem mutu
yangberlaku dan dokumen terkait.

(6) Kemampuan sistem mutu untuk mencapai tujuan pengendalian yang telah ditetapkan.

(7) Daftar distribusi laporan hasil audit.'

Sedangkan untuk laporan hasil audit mutu harus memuat beberapa hal, sebagai berikut.

(1) Aktivitas. Dalam laporan hasil audit, bagian pekerjaan unit yang telah teridentifikasi
sebaiknya disebutkan secaraspesifik.

(2) Klausul Dalam laporan hasil audit sebaiknya menyebutkan klausul secara spesifik.

(3) Bukti. Temuan audit yang termuat dalam laporan hasil audit hendaknya disertai dengan
buktidanfakta objektifpendukung temuan audittersebut.

(4) Kesimpulan. Hasil temuan yang telah dianalisis harus dibuat menjadi sebuah kesimpulan
yangmeruapakanringkasan dari hasil analisis temuan tersebut.

(5) Rekomendasi. Berdasarkan kesimpulan auditor perlu membuat rekomendasi yang layak dan
mungkin imtuk dilaksanakan oleh klien demi perbaikan di masa yang akan datang.
CONTOH PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR PUBLIK

Flowchart atas Pemeriksaan Pendapatan Asli Daerah

Referensi:

Bastian, Indra, 2001, Akuntansi Sektor Publik di Indonesia, Yogyakarta : BPFE UGM

Anda mungkin juga menyukai