Anda di halaman 1dari 21

FILSAFAT ILMU

TENTANG KEBENARAN
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu : Dr. Jaka Isgiyarta, Ak, CA

Disusun oleh :

Muliani 12030117420063
Hilda Anggraeni 12030117420074
Ghina Maulina 12030117420066

Angkatan 38
MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
“Tentang Kebenaran ” dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini. Tanpa bantuan dari semua pihak makalah ini tidak akan selesai tepat
waktu.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu
kami mengharapkan pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang membangun untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.

Semarang, 2 Juni 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

HalamanJudul........................................................................................... i
KataPengantar …………………………………………………………. ii
DaftarIsi .................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ………………………………………………… 2
C. Tujuan .............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Teori Kebenaran Prespektif Filsafat ...............................................
B. Pendekatan Mencari Kebenaran ......................................................
C. Hakikat Fakta dan Kebenaran .........................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................
B. Saran ..............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah


Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk
memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis
dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh
manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian
yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari
fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-
hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuan adalah formulasi
hasil aproksimasi atas fenomena alam atau simplifikasi atas fenomena tersebut.
Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal
menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut
menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan
struktur terendah dalam struktur tersebut. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah
pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran
secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada
pengetahuan inderawi dan naluri. Oleh sebab itulah pengetahuan ini harus dilengkapi
dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah,
manusia melakukan penataan pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas.
Filsafat ilmu memiliki tiga cabang kajian yaitu ontologi, epistemologi dan
aksiologi. Ontologi membahas tentang apa itu realitas. Dalam hubungannya dengan
ilmu pengetahuan, filsafat ini membahas tentang apa yang bisa dikategorikan sebagai
objek ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, realitas hanya dibatasi pada
hal-hal yang bersifat materi dan kuantitatif. Ini tidak terlepas dari pandangan yang
materialistik-sekularistik. Kuantifikasi objek ilmu pengetahuan berari bahwa aspek-
aspek alam yang bersifat kualitatif menjadi diabaikan. Epistemologis membahas
masalah metodologi ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, jalan bagi
diperolehnya ilmu pengetahuan adalah metode ilmiah dengan pilar utamanya
rasionalisme dan empirisme. Aksiologi menyangkut tujuan diciptakannya ilmu
pengetahuan, mempertimbangkan aspek pragmatis-materialistis.
Dari semua pengetahuan, maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologi,
epistemologi, dan aksiologinya telah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan
pengetahuan-pengetahuan lain, dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin.
misalnya hukum-hukum, teori-teori, ataupun rumus-rumus filsafat, juga kenyataan
yang dikenal dan diungkapkan. Mereka muncul dan berkembang maju sampai pada
taraf kesadaran dalam diri pengenal dan masyarakat pengenal. Kebenaran dapat
dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran
metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasa, etika, ia menunjukkan hubungan antara
yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan
epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan
realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan
dengan akal budi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada
merupakan dasar dari kebenaran, dan akal budi yang menyatakannya.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksut dengan teori kebenaran dalam perspektif filsafat?
2. Bagaimakah pendekatan dalam mencari kebenaran?
3. Apakah yang dimaksud dengan hakikat fakta dan kebenaran?

C. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan dari
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan teori kebenaran dalam perpektif
filsafat
2. Untuk mengetahui pendekatan dalam mencari kebenaran
3. Untuk mengetahui maksud dari hakikat fakta dan kebenaran
BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Kebenaran Perspektif Filsafat


Terdapat dua macam kenyataan atau fakta dalam hidup ini, yaitu kenyataan yang
disepakati dan kenyataan yang didasarkan atas pengalaman pribadi. Dimana, kenyataan
yang disepakati adalah segala sesuatu yang dianggap nyata karena kita bersepakat
menetapkannya sebagai kenyataan, dan kenyataan yang dialami orang lain diakui
sebagai kenyataan. sedangkan, kenyataan yang didasarkan atas pengalaman sifatnya
berbeda-beda, perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan pengalaman dan
latar belakang subjeknya. Berdasarkan adanya dua kenyataan diatas, pengetahuan pun
dibagi menjadi dua macam, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui persetujuan dan
pengetahuan melalui pengalaman langsung atau observasi.
Ilmu pun juga memiliki dua pendekatan terhadap kenyataan atau fakta, baik agreed
reality maupun melalui penalaran rasio dalam menemukan kebenaran. Oleh karena itu,
proses berfikir hanya akan mungkin terjadi pada suatu fakta atau sesuatu yang bernilai
fakta atau dapat diindrakan. Untuk itu, jika tidak ada fakta yang diindera, aktifitas
berfikir tidak mungkin bisa dilakukan. Tidak adanya penginderaan terhadap fakta telah
meniadakan proses berfikir dan kemungkinan berfikir.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME, manusia dibekali akal untuk berfikir.
Adanya rasa ingin tahu yang dimiliki manusia inilah yang mengarahkan manusia untuk
mencari kebenaran dengan berbagai cara atau pendekatan. Adanya kemajuan berfikir
pada manusia inilah yang mendorong adanya perkembangan dalam konsep kebenaran.
Kebenaran juga dikelompokkan kedalam tiga jenis:
1. Kebenaran epistomologi, adalah kebenaran dalam kaitannya dengan pengetahuan
manusia.
2. Kebenaran ontological, adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada
segala sesuatu yang ada ataupun diadakan.
3. Kebenaran semantikal, adalah kebenaran yang ada dan melekat dalam tutur kata
dan bahasa.
a. Pengertian Fakta dan Kebenaran
Fakta adalah apa yang membuat pernyataan itu benar atau salah. Menurut
Bertrand Russel, kebenaran adalah sesuatu yang ada. Fakta berbentuk kongkret dan
dapat ditangkap panca indera serta dapat diketahui dan dapat pula diikuti
kebenaranya.
Sedangkan kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia
sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Kebenaran menurut
Bertrand Russel adalah suatu sifat dari kepercayaan dan diturunkan dari kalimat
yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran adalah suatu hubungan antara
kepercayaan dengan suatu fakta.
Plato dan Aristoteles menyatakan kebenaran sebagai pernyataan yang dianggap
benar itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya.
Kebenaran sendiri bersifat relative, sebab apa yang dianggap oleh suatu masyarakat
belum tentu dinilai sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat lainnya.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa fakta itu
kenyataan yang dapat ditangkap oleh panca indera dan diakui kebenarannya.
Sedangkan kebenaran adalah sesuatu yang nyata sesuai dengan fakta dan bersifat
relative.
b. Teori-Teori Kebenaran
Semua orang berkeinginan untuk mengetahui dan mencari tahu kebenaran dan
bertindak sesuai dengan kebenaran. Untuk dapat mengetahui lebih detail mengenai
teori-teori kebenaran, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Teori Korespondensi
Menurut teori ini, kebenaran merupakan kesesuian antara data dengan
statement dengan fakta atau realita. Sedangkan menurut Louis Katsoff, dalam
teori korespondensi menyatakan bahwa kebanaran adalah suatu pendapat itu
benar jika arti yang dikandungnya sungguh merupakan halnya/adanya/nyata.
Teori Koherensi
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran ditegakkan atas hubungan keputusan
baru dengan keputusan-keputusan yang telah diketahui dan diakui
kebenarannya terlebih dahulu. Suatu proporsi dinyatakan benar apabila ia
berhubungan dengan kebenaran yang telah ada dalam pengalaman kita, teori
ini merupakan teori hubungan semantic, teori kecocokan atau konsistensi.
Teori Pragmatis
Menurut teori ini, proporsi dinyatakan sebagai suatu kebenaran apabila ia
berlaku, berfaedah, bermanfaat dan memuaskan kebenaran dibuktikan dengan
kegunaannya, hasilnya dan akibatnya. Teori pragmatis juga menguji kebenaran
ide-ide, pendapat, fakta, teori. Ide-ide itu sendiri belum dapat dikatakan benar
atau salah sebelum dilakukan pengujian dalam praktek dan memerlukan proses
pembuktian. Sebab tujuan utama pragmatism adalah supaya manusia selalu
dalam keseimbangan, untuk itu manusia harus mampu melakukan penyesuaian
dengan tuntutan lingkungan.
Teori Kebenaran Berdasarkan Arti
Proporsisi ditinjau dari segi arti atau maknanya, teori ini mempunyai tugas
untuk kesahan dari proporsi dalam referensinya. Teori kebenaran semantic
dianut oleh paham filsafat analitika bahasa, misalnya pengetahuan tersebut
dinyatakan benar kalau ada referensi yang jelas, jika tidak mempunyai
referensi yang jelas maka pengetahuan tersebut dinyatakan salah.
Teori Kebenaran Sintaksis
Teori kebenaran sintaksis menganggap pernyataan memiliki benar apabila
pengetahuan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku, atau dengan kata
lain apabila proporsi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang
isyaratkan maka proporsi itu memiliki arti.
Teori Kebenaran Logic
Pada dasarnya dalam pembuktian mencari kebenaran memiliki derajat logis
yang sama, masing-masing saling melengkapi. Dengan demikian
sesungguhnya setiap proporsi mempunyai isi yang sama memberikan
informasi yang sama dan semua orang sepakat. Oleh karena itu, berfikir
tentang kebenaran ialah menjadikan keputusan yang telah ada dikeluarkan akal
sesuai secara sempurna dengan fakta yang telah ditransfer ke dalam otak
melalui perantara penginderaan.
Teori kebenaran Spiritual
Dalam filsafat islam, mempercayai bahwa kebenaran mutlak adalah milik
Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah al-haqqul awal (kebenaran awal).
Kepercayaan terhadap Tuhan sebagai sumber kebenaran mutlak hatus diyakini
sepenuh hati, dan tidak boleh ada keraguan didalamnya, hal ini seperti yang
dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 147.
Al-Quran berfungsi sebagai pedoman bagi manusia di dlaam mencari dan
menentukan kebenaran-kebenaran yang relative dan juga menentukan
kepastiam hukum didalam kehidupannya. Sebagaimana diatur dalam suart An-
Nisa (4) ayat 105.
c. Sifat Kebenaran
Menurut Abbas Hamami Mintaredja, kebenaran dapat digunakan sebagai suatu
benda yang kongkret maupun abstrak. Subjek menyatakan benerana proporsisi yang
diuji itu memiliki kualitas, sifat atau karakteristik hubungan dengan nilai. Karena
kebenaran tidak begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nilai itu
sendiri.
Kebenaran dalam filsafat ilmu dibedakan menjadi tiga hal:
1) Kebenaran yang berkaitan dengan kualitas pengetahuan
Pengetahuan itu berupa:
a. Pengetahuan biasa. Penegtahuan seperti ini memiliki inti kebenaran yang
sifatnya subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal.
Pengetahuan memiliki sifat selalu benar, sejauh mana untuk memperoleh
pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
b. Pengetahuan ilmiah. Yaitu pengetahuan yang telah menetapkan objek yang
khas atau spesifik dengan menerapkan metodologi yang khas pula.
Kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat
relative.dengan demikian kebenaran dalam pengetahuan ilmiah selalu
mengalami pembaharuan sesuai denga hasil penemuan penelitian yang
paling akhir, dan mendapatkan persetujuan para ilmuan sejenis
c. Penemuan filsafat. Yaitu penemuan yang pendekatannya melalui
metodologi pemikiran filsafat yang sifatnya mendasar dan menyeluruh
dengan moel pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran
dalam penemuan filsafat bersifat absolute, maksudnya nilai kebenaran
yang terkandung selalu melekat pada pandangan seorang pemikir filsafat
itu.
d. Kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama,
memiliki sifat dogmatis artinya pernyataan dalam suatu agama selalu
dihampiri oleh keyakinan yang telah diyakini sehingga pernyataan dalam
kitab suci agama memiliki kebenaran sesuai dengan keyakinan yang
digunakan untuk memahaminya.
2) Kebenaran yang dikaitkan dengan sifat atau karakteristik
Yaitu bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun
pengetahuannya. Implikasi dari pengguna alat untuk memperoleh pengetahuan
melalui alat indera tertentu akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang
dikandung oelh pengetahuan akan memiliki cara tertentu untuk
membuktikannya.
3) Kebenaran yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan
Artinya, bagaimana relasi atau hubungan antara subjek dengan objek. Yang
manakah yang dominan untuk membangun pengetahuan. Jika subjek yang
berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya
subjektif, atinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungnya amat
tergantung dengan subjek yang memiliki pengetahuan itu.

B. PENDEKATAN MENCARI KEBENARAN


Kebenaran dapat diperoleh manusia melaui pendekatan non ilmiah atau pendekatan
ilmiah.
1. Pendekatan Non-ilmiah
Pendekatan non-ilmiah yang banyak digunakan antara lain:
a. Akal sederhana dan prasangka
Akal sederhana (biasa disebut juga akal sehat). Akal sederhana merupakan
serangkaian konsep atau bagan konseptual yang memuaskan untuk
digunakan secara praktis. Akal sederhana dapat menghasilkan kebenaran
dan dapat pula menyesatkan Karna kebenaran yang diperoleh dengan akal
sederhana sangat dipengaruhi oleh kepentingan yang menggunakannya,
maka sering orang mempersempit pengamatannya kepada hal
halyengbersifat negatif saja. Dalam penggunaan sehari-hari , prasangka
pada umumnya diberi konotasi negatif.
b. Penemuan kebetulan dan coba-coba
Penemuan secara kebetulan diperoleh tanpa rencana, tidak pasti, serta tidak
melalui langkah-langkah sistematis dan tidak terkendali. Penenmuan secara
coba-coba diperoleh petunjuk yang jelas samapi seseorang menemukan
sesuatu. Penemuan dengan coba-coba pada umunya tidak efisien dan tidak
terarah.
c. Otoritas dan kekuasaan
Otoritas ilmiah biasanya dimiliki oleh orang-orang yang telah menempuh
pendidikan formal tertinggi, atau mempunyai pengalaman kerja ilmiah
dalam suatu bidang tertentu. Pendapat mereka sering diterimah tenpa diuji,
karna dipandang benar. Kebenaran tersebut diterimah karena otoritas
ilmiah, yang adakalanya kalau diuji ternyata tidak benar. Otoritas seorang
pemimpin politik dapat menghasilkan suatu kebenaran yang diterima oleh
masyarakat. Dalam kehidupan manusia sehari-hari , banyak kebiasaan dan
tradisi yang dilakukan tanpa melalui penalaran.
2. Pendekatan Ilmiah
Pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah pada umumnya
melalui suatu penelitian yang berdasar pada suatu teori tertentu. Teori
ini berkembang melalui penelitian, yaitu penelitian yang sistematis dan terkontrol
berdasarkan data empiris. Pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan
yang serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatan tersebut tidak diwarnai
oleh keyakinan pribadi, bias, dan perasaan. Metode ilmiah yang pertama kali
diperkenalkan oleh Jhon Dewey adalah perpaduan antara proses berfikir deduktif
dan induktif untuk memecahkankan masalah.
Langkah-langkah pemecahan masalah secara garis besar dapat dikemukakan
sebagai berikut:
a. Merasakan adanya masalah, dan masalah tersebut mendorong perlunya
pemecahan.
b. Merumuskan atau membatasi masalah.
c. Mencoba mengajukan pemecahan masalah dalam bentuk hipotesis.
d. Merumuskan masalah dan akibat dari hipotesis yang dirumuskan secara
deduktif.
e. Menguji hipotesis yang diajkan berdasarkan fakta empiris yang telah
dikumpulkan.
f. Hasil pengujian hipotesis secara ilmiah inilah akan menjadi masukan dan
pertimbangan penting dalam menyelesaikan masalah.
C. Hakikat Fakta dan Ilmu
Hakikat ialah realitas (real) artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat adalah
kenyataan yang sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang
menipudan bukan keadaan yangberubah. Misalnya kepercayaan seorang muslim pada
Al-Quran dalam menjawab masalah-masalah asasi tentang hakikat Tuhan, hakikat alam
semesta dan hakikat manusia. Kepercayaan tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa
Al-Quran bahwa Al-Quran adalah sumber kebenaran, seperti di dalam QS.An-Nisa
(4):105.
Surat An-Nisa' Ayat 105

ِ ‫ِۚو ََل ِ ت َك ُ ْن ِل ل ْ َخ ائ ن ي َن‬ َ ‫ب ِب الْ َح ق ِل ت َ ْح ك ُ مَ ِ ب َ يْ َن ِالن اس ِب َم اِأ َ َر ا‬


َ ُِ ‫ك َِّللا‬ َ ‫ك ِالْ ك ت َا‬
َ ْ‫إِ نِ اِأ َن ْ زَ ل ْ ن َاِإ ل َ ي‬
‫َخ ص ي ًم ا‬

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah
wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak
bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.

Kebenaran yang terdapat dalam Al-Quran terjamin dari kesalahan dan kekeliruan,
kebenarannya bersifat mutlak, sebagimana dalam QS. Al-Fussilat (41): 41-42.
Al-Quran sebagai landasan pemikiran para filsuf islam cara mengungkapkannya
sesuai dengan kenyataan, contohnya adalah penemuan yang mutlak diarahkan pada
pengamatan terhadap alam (matahari, bulan, siang dan malam) untuk direnungkan
tanda-tandanya dan jangan melewati mereka seolah olah ia peka dan buta terhadap
kebenaran.
Thomas Aquinas berusaha menyususn argumen logis untuk membuktikan adanya
Tuhan.
1. Argumen gerak alam
2. Argumen kausalitas
3. Argumen kemungkinan
4. Argumen tingkatan
5. Argumen tujuan.
Masalah teologis adalah pembuktian adanya Tuhan melalui Ciptaannya. Adanya
alam menunjukkan adanya sang pencipta karena alam tidak mungkin ada tanpa ada
yang menciptakan.
Fakta adalah kenyataan konkret yang dapat ditangkap panca indra dan dapat
diketahui kebenarannya. Sebenarnya kebenaran menurut bertrand russel adalah sutu
sifat dari kepercayaan yang diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan
tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan
dengan suatu fakta di luar kepercayaan. Hakikat fakta dan kebenaran dalam menjawab
masalah-masalah assasi tentang hakikat Tuhan hakikat alam semesta dan hakikat
manusia, didasarkan pada keyakinan bahwa Al-Quran adalah sumber kebenaran.
Kebenaran dalam Al-Quran terjamin dari kesalahan dan kekeliruan kebenarannya
bersifat urni dan mutlak.
1. Pembahasan Tentang Teori
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi dan dalil yang saling
berhubungan dan menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai penomena
dengan menentukan hubungan antar variabel untuk menjelaskan penomena
alamiah. Secara umum teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu
dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta . hal ini mengindikasikan
bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan
berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.
Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya. Sebuah
teori membentuk generalisasi atas banyak observasi dan terdiri atas kumpulan ide
yang kohern dan saling berkaitan. Istilah teoritis dapat digunakan untuk
menjelaskan sesuatu yang diramalkan oleh suatu teori namun belum pernah
terobservasi.
Di dalam sebuah teori terdapat beberapa elemen yang mengikutinya yang
berfungsi untuk mempersatukan variabel-variabel yang terdapat di dalam teori
tersebut. Elemen-elemennya terdiri dari:
1. Konsep konsep yang di ekspresikan dengan simbol atau kata.
2. Scope, konsep abstrak dpat diaplikasikan terhadap penomena sosial yang lebih
luas, dari pada yang konkret, contohnya “kekuasaan cendrung dikorupsikan”.
3. Relationship, teori merupakan relasi dari konsep-konsep atau bagaimana
konsep-konsep berhubungan seperti sebab-akibat atau proposisi.
2. Kajian Tentang Hipotesis
a. Hubungan antara hipotesis dan teori
Hipotesis berasal dari bahas Yunani : hypo artinya di bawah, sedangkan
thesis berarti pendirian, pendapat yang ditegakkan atau kepastian.
Artinya, hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah
yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah
yang akan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul
tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian
hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan
suatu gejala, kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen.
Hipotesis jugaa berarti sebuah pernyataan atau proporsi yang mengatakan
bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu. Proporsi inilah yang akan
membentuk proses terbentuknya sebuah hipotesis di dalam penelitian, salah satu
diantaranya yaitu penelitian social.
Proses pembentukan hipotesis merupakan sebuah proses penalaran, yang
melalui tahap-tahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan
hipotesis ilmiah yang dilakukan dengan sadar, teliti, dan terarah. Sehingga dapat
dikatakan bahwa sebuah hipotesis merupakan satu tipe proporsi yang langsung
dapat diuji.
b. Kegunaan Hipotesis
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya
penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alas an utama yang mendukung pandangan
ini diantaranya :
1. Hipotesis dapat dikatan sebagai piranti kerja teori
Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan
permasalahan yang akan diteliti. Misalnya sebab dan akibat dari konflik
dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
2. Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak di
falsifikasi.
3. Hipotesisi adalah alat yang besar dayanya untuk menunjukkan
pengetahuan karena membuat ilmuan dapat keluar dari dirinya sendiri.
Artinya hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau
salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang
menyusun dan mengujinya.
c. Hipotesis dalam penelitian
Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam
penelitian, tidak semua penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus
memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan
pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian
tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu
penelitian eksplorasi yang tujuanntya untuk menggali dan mengumpulkan
sebanyak mungkin data ata informasi tidak menggunakan hipotesis. Hal ini
sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan
hipotesis sebab hanya membuat diskripsi atau mengukur secara cermat tentang
fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menggangap penelitian deskriptif
dapat menggunakan hipotesis.
Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu :
a) Untuk menguji teori
b) Mendorong munculnya teori,
c) Menerangkan fenomena sosial,
d) Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian,
e) Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.
f) Memberikan gagasan baru untuk mengembangkan suatu teori dan
g) Memperluas pengetahuan peneliti mengenai suatu gejala yang sedang
dipelajari
h) Memberikan arah pada penelitian
d. Karakteristik Hipotesis
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan
benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan menaburkan hasil penelitian.
Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proposional, jika hipotesis
tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian,
melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, setidaknya
harus memilik beberapa ciri-ciri pokok, yakni :
1) Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan
masalah dan dinyatakan dalam proporsi-proporsi. Oleh sebab itu, hipotesis
merupaka jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan
atau searah dengan tujuan penelitian.
2) Hipotesis harus dinyatakan denga jelas, dalam istilah yang benar dan secara
operasional. Aturan untuk menguji satu hipotesis secara empiris adalah
harus mendefinisikan secara operasional semua variable dalam hipotesis
dan diketahui secara pasti variable independen dan variable dependen.
3) Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapa diukur secara empiris dan
memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis
deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau
distribusi suatu variable atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-
nilai yang mempunyai makna.
4) Hipotesis harus bebas nilai, artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan
preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah
seperti halnya dalam hipotesis.
5) Hipotesis dapat diuji. Untyuk itu, instrument harus ada (atau dapat
dikembangkan) yang akan menggambrkan ukuran yang valid dari variable
yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia
yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan
hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa
tidak ada metode penelitian yang mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi
hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya,
baik metode observasi, pengumpulan data, dan analisis data, maupun
generalisasi.
6) Hipotesis harus spesifik, yang menujuk kenyatak sebenarnya. Peneliti
harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyatakyang sebenarnya. Peneliti
harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan diantara variable
dalam istilah arah (seperti positif dan negative).
7) Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar- variable. Satu
variable yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di
antara variable dibuat secara eksplisit.
e. Tahap-Tahap pembentukan hipotesis secara umum
Tahap-tahap pembentukan hipotesa pada umumnya sebagai berikut :
a) Penentuan masalah.
Dasar penalaran ilmiah adalah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya
timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak
dapat diterangkan berdasarkan hokum atau teori dalil ilmu yang sudah
diketahui
b) Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer
Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari
semua kegiatan. Hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis
keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya
digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya
dilaksanakan.
c) Pengumpulan fakta
Dalam penalaran ilmiah diantara jumlah fata yang besarnya tidak terbatas
itu hanya dipilih yang relevan dengan hipotesa preliminer yang
perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatak memilih fakta.
d) Formulasi hipotesa
Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi dimana logika tidak
dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat
hubungan tertentu diantar sejumlah fakta.
e) Pengujian hipotesa
Mencocokan hipotesa dengan keadaan yang dapat diobservasi dalam istilah
ilmiah hal ini disebut verivikasi (pembenaran). Apabila hipotesa terbukti
cocok denga fakta maka disebut konfirmasi. Terjadi falsifikasi
(penyalahan) jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak
sesuai dengan hipotesa, dan bilamana usaha itu tidak berhasil, maka
hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi. Hipotesa
yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
f) Aplikasi atau penerapan
Apabila hipotesa ini benar dan dapat diadakan menjadi ramalan dan
ramalan itu terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus diverifikasi atau
dikolaborasikan dengan fakta.
f. Hubungan hipotesis dan teori
Hipotesis ini merupakan suatu jenis proposisi yang dirumuskan sebagai
jawaban tentatif atas suatu masalah dan kemudian diuji secara empiris. Sebagai
suatu jenis proposisi, umumnya hipotesis menyatakan hubungan antara dua atau
lebih variabel yang di dalamnya pernyataan-pernyataan hubungan tersebut telah
diformulasikan dalam kerangka teoritis. Hipotesis ini, diturunkan, atau
bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah
yang akan diteliti. Pernyataan hubungan antara variabel, sebagaimana
dirumuskan dalam hipotesis, merupakan hanya merupakan dugaan sementara
atas suatu masalah yang didasarkan pada hubungan yang telah dijelaskan dalam
kerangka teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab,
teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan
sebagai jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari dalam
penelitian. Dalam penelitian kualitatif peneliti menguji suatu teori. Untuk
meguji teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori.
Agar teori yang digunakan sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat
diamati dan diukur dalam kenyataan sebenarnya, teori tersebut harus dijabarkan
ke dalam bentuk yang nyata yang dapat diamati dan diukur. Cara yang umum
digunakan ialah melalui proses operasional, yaitu menurunkan tingkat
keabstrakan suatu teori menjadi tingkat yang lebih konkret yang menunjuk
fenomena empiris atau ke dalam bentuk proposisi yang dapat diamati atau dapat
diukur. Proposisi yang dapat diukur atau diamati adalah proposisi yang
menyatakan hubungan antar-variabel. Proposisi seperti inilah yang disebut
sebagai hipotesis.
Jika teori merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-konsep
(pada tingkat abstrak atau teoritis), hipotesis merupakan pernyataan yang
menunjukkan hubungan antar-variabel (dalam tingkat yang konkret atau
empiris). Hipotesis menghubungkan teori dengan realitas sehingga melalui
hipotesis dimungkinkan dilakukan pengujian atas teori dan bahkan membantu
pelaksanaan pengumpulan data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan
penelitian. Oleh sebab itu, hipotesis sering disebut sebagai pernyataan tentang
teori dalam bentuk yang dapat diuji (statement of theory in testable form), atau
kadang-kadanag hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan tentatif tentang
realitas (tentative statements about reality).
Oleh karena teori berhubungan dengan hipotesis, merumuskan hipotesis
akan sulit jika tidak memiliki kerangka teori yang menjelaskan fenomena yang
diteliti, tidak mengembangkan proposisi yang tegas tentang masalah penelitian,
atau tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan teori yang ada. Kemudian,
karena dasar penyusunan hipotesis yang reliabel dan dapat diuji adalah teori,
tingkat ketepatan hipotesis dalam menduga, menjelaskan, memprediksi suatu
fenomena atau peristiwa atau hubungan antara fenomena yang ditentukan oleh
tingkat ketepatan atau kebenaran teori yang digunakan dan yang disusun dalam
kerangka teoritis. Jadi, sumber hipotesis adalah teori sebagaimana disusun
dalam kerangka teoritis.
Karena itu, baik-buruknya suatu hipotesis bergantung pada keadaan relatif
dari teori penelitian mengenai suatu fenomena sosial disebut hipotesis
penelitian atau hipotesis kerja. Dengan kata lain, meskipun lebih sering terjadi
bahwa penelitian berlangsung dari teori ke hipotesis (penelitian deduktif),
kadang-kadang sebaliknya yang terjadi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya. Artinya
pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui jika pengetahuan benar
adalah pengetahuan obyektif. Sedangkan yang dimaksud kebenaran ilmiah adalah
kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan.
Untuk menentukan kepercayaan dari sesuatu yang dianggap benar, para filosof
bersandar kepada tiga cara untuk menguji kebenaran yaitu koresponden (yakni
persamaan dengan fakta), teori koherensi atau konsistensi dan teori pragmatis. Ketiga
teori kebenran ini kelihatannya tidakbisa dipakai sebagai pedoman untuk mengukur
kebenaran realitas sebagai objek materi pada filsafat ilmu pengetahuan karena masing-
masing mempunyai titik kelemahan.
Semua teori kebenaran itu ada dan dipraktekkan manusia di dalam kehidupan
nyata. Yang mana masing-masing mempunyai nilai di dalam kehidupan manusia.
Uraian dan ulasan mengenai berbagai teori kebenaran di atas telah menunjukkan
kelebihan dan kekurangan dari berbagai teori kebenaran.
Kebenaran ilmiah menghendaki adanya pengetahuan dapat diterima, karena
kebenaran ilmiah muncul melalui syarat-syarat ilmiah, metode ilmiah, didukung teori
yang menunjang serta didasarkan kepada data empiris dan dapat dibuktikan. Sangat
rasional jika kebenran yang semacam ini menghendaki adanya objek dikaji apa adanya
tanpa campur tangan subjek.
Dalam melakukan suatu penelitian terhadap fenomena sosial, seorang peneliti
tidak dapat bekerja dengan baik tanpa suatu sistematika yang sesuai. Untuk menemukan
jawaban yang sesuai serta memuaskan, peneliti harus memahami kaidah dalam
meneliti. Tahapan awal dari suatu penelitian adalah menciptakan pertanyaan mengenai
suatu fenomena yang dipilih untuk diteliti. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan
definisi, fakta dan nilai suatu objek kajian.
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang harus diuji. Pengujian itu
bertujuan untuk membuktikan apakah hipotesis diterima atau ditolak. Hipotesis
berfungsi sebagai kerangka kerja bagi peneliti, memberi arah kerja, dan
mempermudah dalam penyusunan laporan penelitian.
B. Saran
Dalam makalah ini sebenarnya kami belum terlalu memuat berbagai
pengetahuan, masih banyak kekurangan yang kami bahas dalam makalah ini, oleh
karena itu kami sebagai pembuat makalah meminta, jangan hanya membaca atau
berfokus pada makalah yang kami buat ini, masih banyak referensi-referensi yang
berbobot dalam menguraikan penjelasan sesuai judul dalam makalah ini.