Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PELAPORAN KORPORAT

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAN DAERAH

Oleh :

DEWI AMBARWATI AULIA FEBRIANI (1700201131110007)

ERIKA MARTHA WINDESI (170020113111004)

PPAk Reg- I Angkatan 30

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
Analisis Laporan Keuangan Pemerintah dan Daerah

Laporan Keuangan Pemerintah


Laporan Keuangan Pemerintah merupakan laporan keuangan yang
dihasilkan dari suatu proses identifikasi, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan
transaksi keuangan dari suatu organisasi pemerintah, baik pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah kabupaten, kota, dan provinsi.
Dalam rangka pelaksanaan APBN setiap entitas baik pemerintah pusat,
kementerian negara/lembaga, pemerintah daerah, dan satuan kerja di tingkat
pemerintah pusat/daerah wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban
berupa laporan keuangan. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, laporan keuangan pemerintah pokok setidak-tidaknya
terdiri atas:
a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
b) Neraca
c) Laporan Arus Kas (LAK)
d) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas
Laporan Keuangan disajikan oleh setiap entitas pelaporan. Hal ini berarti setiap
Menteri/pimpinan lembaga wajib menyusun dan menyajikan laporan keuangan di
atas.
Di samping menyajikan laporan keuangan pokok, suatu entitas pelaporan
diperkenankan menyajikan Laporan Kinerja Keuangan dan Laporan Perubahan
Ekuitas. Laporan Kinerja Keuangan adalah laporan yang menyajikan pendapatan
dan beban serta surplus/defisit selama suatu periode yang disusun berdasarkan
basis akrual. Laporan Perubahan Ekuitas adalah laporan yang menyajikan mutasi
atau perubahan saldo ekuitas dana pemerintah selama suatu periode.
Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas dan kinerja keuangan suatu entitas
(pemerintah) pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan
mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Tujuan pembuatan
laporan keuangan ditujukan secara umum kepada pengguna laporan keuangan,
dan tidak ditujukan secara khusus/spesifik. Pengguna utama laporan keuangan
menurut PP. 71 Tahun 2010 adalah:
1. Masyarakat
2. Wakil Rakyat, Lembaga Pengawas, dan Lembaga Pemeriksa
3. Pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi, investasi, dan
pinjaman
4. Pemerintah

1. Laporan Realisasi Anggaran


Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan realisasi pendapatan,
belanja, dan pembiayaan selama suatu periode. Laporan Realisasi Anggaran
(LRA) mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah pusat/daerah yang
menunjukkan ketaatan terhadap APBN dengan menyajikan ikhtisar sumber,
alokasi dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah
pusat/daerah dalam satu periode pelaporan. LRA menggambarkan perbandingan
antara anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan. LRA
menyajikan sekurang-kurangnya unsur-unsur sebagai berikut:
a. Pendapatan
Pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara yang
menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar
kembali oleh pemerintah.
b. Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara yang
mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran
bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh
pemerintah.
c. Transfer
Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan
dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana
bagi hasil.
d. Surplus/defisit
Surplus/defisit adalah selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja
selama satu periode pelaporan.
e. Pembiayaan
Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang
dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup
defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.
f. Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran
Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA/SiKPA) adalah selisih
lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran APBN selama
satu periode pelaporan.
LRA menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan, belanja,
transfer, surplus/defisit, dan pembiayaan dari suatu entitas akuntansi/entitas
pelaporan yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya. Informasi
tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan
mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi dan ketaatan entitas terhadap
anggaran dengan:
1. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan
sumber daya ekonomi
2. Menyediakan informasi mengenai realisasi anggaran secara menyeluruh
yang berguna dalam mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal efisien
dan efektivitas penggunaan anggaran.

2. Neraca
Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu
entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal
pelaporan. Neraca di Pemerintahan Daerah disusun oleh entitas-entitas akuntansi
sebagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang kemudian digabung oleh
entitas pelaporan.
Neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas dana (net asset). Aset
adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah
sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau
sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun
masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya
nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan
sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Aset
diklasifikasikan menjadi aset lancar dan aset nonlancar.
Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika:
1. diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual
dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan, atau
2. berupa kas dan setara kas.
Aset lancar disajikan dalam neraca meliputi kas dan setara kas, investasi
jangka pendek, piutang, dan persediaan.
Aset nonlancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang dan aset tak
berwujud, yang digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan
pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. Aset nonlancar
diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset tetap, dana cadangan, dan
aset lainnya.
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah.
Kewajiban diakui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya
ekonomi akan dilakukan atau telah dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban
yang ada sekarang, dan perubahan atas kewajiban tersebut mempunyai nilai
penyelesaian yang dapat diukur dengan andal. Kewajiban diakui pada saat dana
pinjaman diterima atau pada saat kewajiban timbul. Kewajiban diklasifikasikan
menjadi kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika
diharapkan dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.
Kewajiban jangka pendek antara lain terdiri atas bagian lancar utang jangka
panjang, utang bunga, utang PFK
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika
diharapkan dibayar dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan. Kewajiban
jangka panjang dapat diklasifikasikan Utang Dalam Negeri-Sektor Perbankan,
Utang Dalam Negeri-Obligasi, Utang Luar Negeri, Utang Jangka Panjang
Lainnya.
Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih
antara aset dan kewajiban pemerintah. Ekuitas Dana diklasifikasikan menjadi
Ekuitas Dana Lancar, Ekuitas Dana Investasi, dan Ekuitas Dana Cadangan.
Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dan kewajiban jangka
pendek. Ekuitas Dana Lancar terdiri dari: Sisa lebih pembiayaan anggaran
(SiLPA), Cadangan Piutang, Cadangan Persediaan, Dana yang Disediakan Untuk
Pembayaran Utang Jangka Pendek.
Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang
tertanam dalam investasi jangka panjang, aset tetap, dan aset lainnya, dikurangi
dengan kewajiban jangka panjang. Ekuitas Dana Investasi terdiri dari
Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang, yang merupakan akun pasangan
dari Investasi Jangka Panjang, Diinvestasikan dalam Aset Tetap merupakan akun
pasangan dari Aset Tetap, Diinvestasikan dalam Aset Lainnya, yang merupakan
akun pasangan Aset Lainnya, Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran
Utang Jangka Panjang
3. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas adalah laporan yang menyajikan informasi terkait
sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama satu periode akntansi,
serta saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Adapun klasifikasinya
terdiri atas arus kas aktivitas operasi, aktivitas investasi aset non keuangan,
aktivitas pembiayaan serta aktivitas non anggaran.
a) Aktivitas operasi
Arus kas bersih aktivitas operasi menunjukkan kemampuan operasi
pemerintah dalam menghasilkan kas untuk pembiayaan aktivitas
operasionalnya di masa yang akan datang. Adapn arus kas masuk dari
aktivitas operasi terutama diperoleh dari pendapatan asli daerah, dana
perimbangan, serta lain-lain pendapatan yang sah. Sedangkan arus kas
keluarnya digunakan antara lain untuk belanja pegawai, belanja barang,
bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial serta belanja lain-lain.
b) Aktivitas investasi aset nonkeuangan
Arus kas ini menunjukksn penerimaan dan pengeluaran kas bruto dalam
rangka perolehan dan pelepasan sumber daya ekonomi yang bertujuan
untuk meningkatkan & mendukung layanan pemerintah kepada
masyarakat di masa yang akan datang. Adapun arus masuk kasnya terdiri
atas penjualan aset tetap serta penjualan aset lainnya. sedangkan arus kas
keluarnya terdiri atas perolehan aset tetap dan perolehan aset lainnya.
c) Aktivitas pembiayaan
Arus kas ini mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas bruto
sehubungan dengan pendanaan defisit atau penggunaan surplus anggaran
yang bertujuan untuk memprediksi klaim pihak lain terhadap arus kas
pemerintah ataupun sebaliknya di masa yang akan datang. Adapun arus
kas masuknya terdiri atas penerimaan pinjaman, penjualan surat
utang/obligasi pemerintah, hasil privatisasi perusahaan daerah/divestasi,
penjualan investasi jangka panjang lainnya serta pencairan dana cadangan.
Sedangkan arus kas keluarnya terdiri atas pembayaran cicilan pokok utang,
pembayaran obligasi pemerintah, penyertaan modal pemerintah,
pemberian pinjaman jangka panjang, serta pembentukan dana cadangan.
d) Aktivitas non anggaran
Arus kas ini mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas bruto yang
tidak mempengaruhi anggaran pendapatan, belanja serta pembiayaan
pemerintah daerah. Arus kas ini contohnya seperti Perhitungan Pihak
Ketiga (PPK) dan kiriman uang. Adapun PPK ini menggambarkan kas
yang berasal dari jumlah dana yang dipotong dari surat perintah membayar
atau diterima secara tunai untuk pihak ketiga seperti Taspen. Adapun arus
kas masuk dari aktivitas ini meliputi penerimaan PPK serta kiriman uang
masuk dan arus kas keluarnya meliputi pengeluaran PPK dan kiriman uang
keluar.
4. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) merupakan laporan yang berisi
penjelasan terkait aspek-aspek yang terdapat dalam laporan keuangan lainnya,
dengan tujuan agar laporan keuangan dapat dipahami dan dibandingkan dengan
laporan keuangan entitas lainnya. adapun CALK ini disajikan sekurang-
kurangnya dengan aspek berikut:
a) Informasi terkait kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro,
pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD beserta
kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target
b) Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan
c) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan
kejadian-kejadian penting lainnya
d) Pengungkapan informasi yang diharuskan oleh PSAP yang belum
disajikan dalam laporan keuangan
e) Pengungkapan informasi untuk akun-akun aset dan kewajiban yang
timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan
belanja serta rekonsiliasinya dengan penerapan berbasis kas
f) Informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian wajar yang tidak
disajikan dalam laporan keuangan

Sedangkan bagian kebijakan akuntansi pada CALK sekurang-kurangnya harus


menyajikan hal-hal berikut:

a) Basis pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan


b) Sampai sejauh mana kebijakan-kebijakan akuntansi yang berkaitan
dengan ketentuan-ketentuan transisi SAP diterapkan oleh entitas
pelaporan
c) Setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk memahami
laporan keuangan

Pada dasarnya, kebijakan-kebijakan akuntansi yang perlu dipertimbangkan


untuk disajikan meliputi (namun tidak terbatas pada) hal-hal berikut ini,
yaitu:
a) Pengukuran pendapatan
b) Pengakuan belanja
c) Prinsip-prinsip penyusunan laporan konsolidasian
d) Investasi
e) Pengakuan dan penghematan/penghapusan aset berwujud dan tidak
berwujud
f) Kontrak-kontrak konstruksi
g) Kebijakan kapitalisasi pengeluaran
h) Kemitraan dengan pihak ketiga
i) Biaya penelitian dan pengembangan
j) Persediaan, baik untuk dijual maupun dipakai sendiri
k) Dana cadangan
l) Penjabaran mata uang asing dan lindung nilai

Selain itu, dalam CALK juga dapat dilaporkan hal-hal berikut ini apabila
belum diinformasikan dalam bagian manapun dari laporan keuangan, yaitu:

a) Domisili dan bentuk hukum suatu entitas serta juridiksi di mana entitas tersebut
beroperasi
b) Penjelasan mengenai sifat operasi entitas dan kegiatan pokoknya
c) Ketentuan perundang-undangan yang menjadi landasan kegiatan operasionalnya

Daftar Pustaka:

Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Modul Chartered Accountant: Pelaporan Korporat