Anda di halaman 1dari 184

SISTEM PENUNJUKAN LANGSUNG DALAM PENGADAAN

BARANG DAN/ATAU JASA OLEH BADAN USAHA MILIK


NEGARA DARI PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN
USAHA DI INDONESIA

TESIS
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Menyelesaikan
Program Studi Strata Dua
Magister Hukum

Oleh:

Nama : Fakhri Azzumar

NIM : 110150055

Konsentrasi : Hukum Bisnis

PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER HUKUM
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2017
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU HUKUM
UNIVERSITAS TRISAKTI

TANDA PERSETUJUAN TESIS

Nama : Fakhri Azzumar

NIM : 110150055

Konsentrasi : Hukum Bisnis

Judul Tesis : Sistem Penunjukan Langsung Dalam Pengadaan Barang


dan/atau Jasa Oleh Badan Usaha Milik Negara Dari
Perspektif Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia.

Telah disetujui dan kemudian dihadapkan kepada sidang panitia ujian


Magister Ilmu Hukum Universitas Trisakti Jakarta.

Jakarta, 28 Agustus 2017

Mengetahui,

Menyetujui, Ketua,

Pembimbing Tesis Program Magister Ilmu Hukum


PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU HUKUM
UNIVERSITAS TRISAKTI

TANDA PENGESAHAN TESIS

Nama : Fakhri Azzumar

NIM : 110150055

Konsentrasi : Hukum Bisnis

Judul Tesis : Sistem Penunjukan Langsung Dalam Pengadaan Barang


dan/atau Jasa Oleh Badan Usaha Milik Negara Dari
Perspektif Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia.

Hari Tanggal Ujian : Senin, 28 Agustus 2017

Waktu : 09.00 – 10.00 WIB

Tempat : Fakultas Hukum, Universitas Trisakti

No Nama Penguji Jabatan Tanda Tangan

1 Prof. Dr. Eriyantouw Wahid, SH.MH. Ketua 1.

2 Dr. A. M. Tri Anggraini, S.H., M.H Pembimbing 2.

3 Dr. Gunawan Djayaputra, S.H., S.S., M.H Penguji 3.

Jakarta, 28 Agustus 2017

Mengetahui,
Ketua,
Program Magister Ilmu Hukum

(Prof. Dr. Eriyantouw Wahid, SH.MH.)


“Push yourself, because no one else is going to do it for you.”

“Ku persembahkan tesis ini untuk dr. Risalatul


Nurhikmah, Wawan A. Heryana S.H dan Dian
Meidiana, Nurhadi dan Tarsiti, Revky Herdyana
dan Annisa Nur Diana tercinta yang selalu
mendukung dan mendoakan tiada henti.”
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT karena berkat

rahmat dan kasih karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyusun dan

menyelesaikan Karya Penulisan Hukum dengan judul “SISTEM

PENUNJUKAN LANGSUNG PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA

OLEH BADAN USAHA MILIK NEGARA DARI PERSPEKTIF HUKUM

PERSAINGAN USAHA DI INDONESIA”. Adapun Karya Penulisan

Hukum ini disusun sebagai salah satu syarat kelengkapan untuk

menyelesaikan program Strata-2 Pascasarjana Magister Hukum

Universitas Trisakti.

Penulis menyadari bahwa penyusunan Karya Penulisan Hukum ini

tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT yang telah memberikan kesempatan, rahmat, hikmat

dan kebijaksanaan kepada Penulis sehingga Karya Penulisan

Hukum ini dapat selesai tepat pada waktunya.

2. Orang tua Penulis, Ayah terhebat Wawan Agus Heryana, S.H dan

Nurhadi, Ibu tersayang Dian Meidiana dan Tarsiti dan adik yang

Penulis banggakan Revky Herdyana dan Annisa Nur Diana.

Berkat kasih sayang, dukungan, perhatian, doa, kesabaran dan


ketulusan yang luar biasa diberikan kepada Penulis, maka Penulis

mengucapkan alhamdulillah dan terima kasih banyak atas apa

yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Penulis telah

memberikan orang tua dan adik terbaik bagi Penulis.

3. Calon pendamping hidup Penulis, dr. Risalatul Nurhikmah. Terima

kasih banyak untuk kesabaran, keyakinan dan semangat yang

selalu diberikan kepada Penulis setiap waktu. Ich liebe dich!

4. Kakek dan nenek Penulis, Alm. H. Hasan Bisri, Alm. Hj. Mimin

Uminah, dan H. Ahmad Durwita, Alm. Hj. Ma’ani Jubaedah yang

telah memberikan semangat, doa dan dukungan kepada Penulis,

meskipun Alm. H. Hasan Bisri, Alm. Hj. Mimin Uminah dan Alm.

Hj. Ma’ani Jubaedah tidak sempat melihat Penulis menyelesaikan

Penulisan Hukum dan upacara wisuda pada saat cucunya ini

mencapai gelar Strata-2.

5. Ibu Dr. A. M. Tri Anggraini, S.H., M.H, sebagai pembimbing dalam

Penulisan Hukum ini yang telah memberikan inspirasi, masukan,

arahan, serta bimbingan dalam menyelesaikan Penulisan Hukum

ini, tanpa peran dari beliau tentunya Penulisan Hukum ini tidak

akan dapat diselesaikan dengan baik.

6. Prof. Dr. Eriyantouw Wahid, SH.MH dan Dr. Endang Pandamdari,

S.H., C.N., M.H selaku dosen penguji yang telah memberikan

arahan maupun semangat kepada penulis dan telah membantu

penyempurnaan thesis ini.


7. Wurianalya Maria Novenanty, S.H., LL.M dan Ibu Dewi Sukma

Kristianti, S.H., M.H yang telah memberikan dukungan dan

rekomendasi untuk Penulis untuk melanjutkan Pendidikan Strata-2

di Pascasarjana Magister Hukum Universitas Trisakti.

8. Seluruh Bapak dan Ibu Guru Besar dan Dosen-Dosen Fakultas

Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Fakultas Hukum

Universitas Indonesia, dan Fakultas Hukum Universitas Trisakti,

atas pengajaran dan pelajaran yang diberikan kepada Penulis

selama Penulis menempuh pendidikan di Pascasarjana Magister

Hukum Universitas Trisakti.

9. Orang-orang terbaik Penulis, Olivin Setia Graha, S.H., M.Kn,

Jessica Simanjuntak, S.H., M.Kn, Jessica Simatupang, S.H., M.H.,

Nadila R. Nurfitri, S.H, Kevin N. Reza, S.H., M.H., Fahmi A.

Prasetia S.H., Andre K. Sitepu, S.H, Martin S. Thahjadi, S.H,

Stephanie Liyanto, S.H., Hendrique Haznam, S.H.

10. Rekan kerja Penulis, Mr. David R. B Nurcahya (Direksi), Mr.

Andrio P. Wibowo, Mr. Chrisman W, Mr. Alanudin, Mr. Rudiyanto,

Ms. Desi K, rekan kerja Astra Internasional dan United Tractors

Group.

11. Rekan seperjuangan Penulis selama menempuh pendidikan di

Magister Hukum Trisakti, Aldi Wijaya, Kynan, Pak Doni, Pak

Yayan, Bang Hendra, Kak Linda Ong, Maiza, Ibu Erma Ranik,

Bang Kikin, Bang Andi serta rekan hebat lainnya yang telah
membagi suka duka dan canda tawanya, serta terima kasih

karena tidak pernah bosan memberikan semangat dan dukungan

kepada Penulis mulai dari awal perkuliahan hingga Penulis

menyelesaiakan Karya Penulisan Hukum ini.

12. Semua pihak yang telah mendukung Penulis dalam

menyelesaikan Karya Penulisan Hukum serta studi di Magister

Hukum Universitas Trisakti yang tidak dapat disebutkan satu per

satu.

Terima kasih banyak juga Penulis ucapkan kepada semua pihak yang

tidak dapat disebutkan satu per satu oleh Penulis karena terlalu banyak

tetapi kalian tetap pihak-pihak yang terbaik yang Penulis kenal. Terima

kasih, terima kasih, terima kasih.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam Penulisan

Hukum ini mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh Penulis. Oleh karena

itu, Penulis menerima saran, kritik, dan masukkan atas kekurangan dari

Karya Penulisan Hukum ini untuk menjadi bahan perbaikan di masa yang

akan datang.

Jakarta, 28 Agustus 2017

Fakhri Azzumar
ABSTRAK

Nama : Fakhri Azzumar


Program Studi : Hukum Bisnis
Judul : Sistem Penunjukan Langsung Dalam
Pengadaan Barang dan/atau Jasa oleh Badan
Usaha Milik Negara Dari Perspektif Hukum
Persaingan Usaha di Indonesia.

Dalam menjalankan kegiatan ekonomi, para pelaku usaha melakukan


berbagai macam kegiatan untuk mencukup kebutuhan atas barang
dan/atau jasa untuk kelangsungan usaha perusahaan. Ketentuan
pengadaan barang dan jasa pada Badan Usaha Milik Negara terlepas
dari aturan pengadaaan barang/jasa pemerintah, dimana Badan Usaha
Milik Negara diberikan kebebasan dan wewenang untuk membuat tata
cara pelaksanaan pengadaannya sendiri berdasarkan kebutuhan
kegiatan usaha dan kondisi dari masing-masing perusahaan. Prinsip-
prinsip pengadaan barang dan/atau jasa oleh Badan Usaha Milik Negara
diatur dalam Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-
05/MBU/2008 Juncto Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Pedoman
Umum Pengadaan Barang Dan Jasa Badan Usaha Milik Negara, yaitu
efisien, efektif, transparan, adil dan wajar, serta akuntabel. Dari peraturan
Menteri tersebut, dikatakan bahwa untuk melaksanakan pedoman
pengadaan barang dan/atau jasa, melalui pengaturan Direksi dapat
mengatur tata cara pengadaan barang dan/atau jasa untuk kebutuhan
perusahaan. Pedoman pengadaan barang dan jasa pada Badan Usaha
Milik Negara yang dituangkan dalam bentuk surat keputusan Direksi
sangat rawan terhadap resiko-resiko penyimpangan prinsip-prinsip
persaingan usaha yang sehat berdasarkan Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat.

Kata Kunci: Pengadaan Barang dan Jasa, BUMN, Persaingan Usaha,


Efisien dan Efektif, Penunjukan Langsung
ABSTRACT

Name : Fakhri Azzumar


Study Program : Business Law
Title : Direct Development Systems In Procurement Of
Goods And/ Or Services By The State-Owned
Enterprise Business From Business Competition
Perspective In Indonesia

In conducting economic activities, business actors undertake various


activities to meet the need for goods and / or services for the sustainability
of the company's business. Provisions on procurement of goods and
services to State-Owned Enterprises irrespective of government goods /
services procurement rules, whereby State-Owned Enterprises are
granted the freedom and authority to make procedures for the
implementation of their own procurement based on the needs of the
business activities and conditions of their respective companies. Principles
of procurement of goods and / or services by State-Owned Enterprises
shall be regulated in Regulation of the Minister of State-Owned Enterprise
Number PER-05 / MBU / 2008 Juncto Number PER-15 / MBU / 2012 on
General Guidelines for Procurement of Goods and Services of State-
Owned Enterprises, that is efficient, effective, transparent, fair and
reasonable, and accountable. From the Minister's regulation, it is said that
to implement the procurement guidelines of goods and / or services, the
company through the Board of Directors' arrangements can arrange the
procurement of goods and / or services for the company's needs.
Guidelines for procurement of goods and services in State-Owned
Enterprises as set forth in the Decree of the Board of Directors are very
vulnerable to the risks of deviations from the principles of fair business
competition based on Law Number 5 Year 1999 concerning Prohibition of
Monopolistic Practices and Unfair Business Competition.

Keyword : Procurement of Goods and Services, BUMN, Business


Competition, Efficient and Effective, Direct Appointment
DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL..................................................................................................... . i
LEMBAR PERSETUJUAN TESIS........................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN TESIS ............................................................................ iii
LEMBAR MOTTO DAN PERSEMBAHAN .............................................................. iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................... v
ABSTRAK ............................................................................................................... ix
DAFTAR ISI ............................................................................................................ xi
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Perumusan Masalah ............................................................................. 17
C. Tujuan Penelitian ................................................................................... 17
D. Manfaat Penelitian ................................................................................. 18
E. Kerangka Teori ...................................................................................... 19
F. Kerangka Konsepsional ......................................................................... 24
G. Metode Penelitian .................................................................................. 30
H. Sistematika Penulisan ............................................................................ 32
BAB II SISTEM PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA OLEH
BADAN USAHA MILIK NEGARA ............................................................. 34
A. Tinjauan Umum Badan Usaha Milik Negara .......................................... 34
1. Latar Belakang Badan Usaha Milik Negara ....................................... 34
2. Maksud dan Tujuan Pendirian Badan Usaha Milik Negara ................ 36
B. Sistem Pengadaan Barang dan/atau Jasa di Lingkungan Badan
Usaha Milik Negara ................................................................................ 38
1. Pengadaan Barang dan/atau Jasa .................................................... 38
2. Pedoman Pengadaan Barang dan/atau Jasa di Lingkungan Badan
Usaha Milik Negara ........................................................................... 44
C. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia atas Penunjukan
Langsung Pengadaan Barang dan/atau Jasa ........................................ 59
1. Definisi Persaingan Usaha................................................................. 59
2. Sejarah Hukum Persaingan Usaha di Indonesia ............................... 61
3. Asas-Asas Dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia ............... 64
4. Kegiatan Yang Dilarang Dalam Persaingan Usaha di Indonesia ....... 68
5. Sanksi Dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia ...................... 78
6. Contoh Kasus Pelanggaran Hukum Persaingan Usaha di
Indonesia ........................................................................................... 84
BAB III PROFIL UMUM DAN SISTEM PENGADAAN BARANG DAN/ATAU
JASA OLEH BADAN USAHA MILIK NEGARA PADA PT X, PT Y
DAN PT Z ................................................................................................... 91
A. Profil Umum Atas Badan Usaha Milik Negara Pada PT X, PT Y
dan PT Z ................................................................................................ 91
1. Profil Badan Usaha Milik Negara PT X .............................................. 91
2. Profil Badan Usaha Milik Negara PT Y .............................................. 93
3. Profil Badan Usaha Milik Negara PT Z .............................................. 96
B. Sistem Pengadaan Barang dan/atau Jasa atas Badan Usaha Milik
Negara PT X, PT Y dan PT Z ................................................................. 101
1. Bentuk Dasar Hukum dan Sistem Pengadaan Barang dan/atau
Jasa PT X .......................................................................................... 102
2. Bentuk Dasar Hukum dan Sistem Pengadaan Barang dan/atau
Jasa PT Y .......................................................................................... 107
3. Bentuk Dasar Hukum dan Sistem Pengadaan Barang dan/atau
Jasa PT Z .......................................................................................... 112
C. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha Dengan Sistem Penunjukan
Langsung Dalam Pengadaan Barang dan/atau Jasa oleh Badan
Usaha Milik Negara ................................................................................ 116
1. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha Dalam Pengadaan Barang
dan/atau Jasa Pada Badan Usaha Milik Negara Oleh PT X .............. 116
2. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha Dalam Pengadaan Barang
dan/atau Jasa Pada Badan Usaha Milik Negara Oleh PT Y .............. 121
3. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha Dalam Pengadaan Barang
dan/atau Jasa Pada Badan Usaha Milik Negara Oleh PT Z .............. 125
BAB IV KARAKTERISTIK DAN ANALISA SISTEM PENUNJUKAN
LANGSUNG DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN
USAHA DI INDONESIA ............................................................................. 130
A. Pelanggaran pasal 19 huruf (d) Undang-Undang Nomor 5
tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat .......................................................... 130
1. Perkara tentang Penunjukan Langsung PT Perusahaan
Gas Negara (Persero), Tbk ........................................................... 130
2. Pengenaan Sanksi ........................................................................ 137
B. Sistem Penunjukan Langsung Ditinjau Dari Undang-Undang
Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat .......................................................... 139
BAB V PENUTUP .................................................................................................. 156
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 166
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ...................................................... 171
RIWAYAT HIDUP ................................................................................................... 172
LAMPIRAN ............................................................................................................. 173
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perekonomian merupakan salah satu bidang yang sangat esensial

yang dilakukan oleh seluruh perusahaan diberbagai negara di dunia.

Dalam menjalankan perekonomian tersebut, suatu perusahaan

membutuhkan pengadaan berupa barang maupun jasa untuk

mendukung terlaksananya kegiatan perusahaan guna mendapatkan

keuntungan. Guna mendapatkan keuntungan tersebut, perusahaan

melakukan persaingan dengan para pesaingnya dengan melakukan

berbagai macam cara. Persaingan merupakan esensi dari tumbuh dan

berkembangnya aktivitas ekonomi, seperti halnya ungkapan premise

antitrus yang terkenal yaitu some industries contribute best to overall

social welfare if they are competitive.1

Atas sikap semangat tumbuh oleh perusahaan dalam peran

membangun ekonomi hal tersebut tidak terlepas dari manfaat dan

sumbangsih perusahaan kepada negara dengan melihat pembukaan

Undang-undang Dasar 1945 tertulis bahwa tujuan pembangunan

nasional adalah “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah

darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan

1
Didin S. Damanhuri, SDM Indonesia dalam Persaingan Global,
https://www.sinarharapan.co.id/berita/0306/13/op01.html, diunduh pada 2 Agustus 2017
kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang

berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. 2

Bahwa dalam hal ini, selain mencari keuntungan perusahaan turut

melakukan pembangunan nasional dalam bidang perkonomian yang

sejalan dengan semangat negara Republik Indonesia. Keterlibatan

negara dalam bidang ekonomi menurut Friedman diletakan pada 3

(tiga) bentuk perusahaan negara, yaitu:3

1. Department Government Enterprise, adalah

perusahaan negara yang merupakan bagian integral

dari suatu departemen pemerintahan yang

kegiatannya bergerak di bidang Public Utilities;

2. Statutory public corporation adalah perusahaan

negara yang sebenarnya hampir sama dengan

department government enterprise, hanya dalam hal

manajemen lebih otonom dan bidang usahanya masih

tetap public utilities;

3. Commercial Companies adalah perusahaan negara

yang merupakan campuran dengan modal swasta dan

diberlakukan hukum privat.

Pembangunan ekonomi diarahkan untuk mendorong peningkatan

kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang diamanatkan dalam

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai salah satu tujuan


2
Naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
3
Ibrahim. R, Landasan Filosofis dan Yuridis Keberadaan BUMN: Sebuah Tinjauan,
(Jurnal Hukum Bisnis, Volume 26, Nomor 1, 2007), h. 9
pembangunan negara Indonesia. Untuk mempercepat pembangunan,

merupakan tugas konstitusional untuk memberikan kesempatan

berusaha yang sama bagi setiap warga negara berpartisipasi di dalam

kegiatan ekonomi.4 Dari semangat untuk meningkatkan kesejahteraan

tersebut, perusahaan dalam mencari barang dan/atau jasa terkait

kebutuhan usahanya seringkali tidak memperhatikan ketentuan

peraturan hukum yang berlaku atas tindakan pengadaan barang

dan/atau jasa dengan cara penunjukan langsung kepada pelaku

usaha tertentu.

Dalam proses pengadaan barang dan/atau jasa, Badan Usaha

Milik Negara (BUMN) memiliki landasan berupa peraturan-peraturan

yang berlaku guna mengatur prosedur atas pengadaan barang

dan/atau jasa. Melalui Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri

Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan

Usaha Milik Negara. Dalam konsiderans huruf (b) dijelaskan “bahwa

dalam rangka mendorong sinergi Badan Usaha Milik Negara, sinergi

anak peusahaan, sinergi Badan Usaha Milik Negara dan anak

perusahaan, guna menambah nilai perusahaan dengan berpedoman

pada peningkatan efisiensi dan perekonomian, serta menciptakan

4
Kerangka Acuan Kunjungan Kerja Panitia Kerja Komisi VI DPR RI ke Jerman dalam
Memperkuat Analisis dalam Penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Jakarta: 12 September 2015), h. 1
kesetaraan dalam dunia usaha bagi Badan Usaha Milik Negara dan

memberi kesempatan bagi usaha kecil/mikro, perlu menyempurnakan

ketentuan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa Badan Usaha

Milik Negara. Dalam Pasal 1 ayat (1) definisi dari pengadaan barang

dan jasa adalah “kegiatan pengadaan barang dan jasa yang dilakukan

oleh Badan Usaha Milik Negara yang pembiayaannya tidak

menggunakan dana dari APBN/APBD”. Selain itu, yang melakukan

pengadaan barang turut dijelaskan dalam peraturan ini dalam Pasal 1

ayat (4) yaitu “Penyedia Barang dan Jasa adalah badan usaha,

termasuk BUMN, badan hukum, atau orang perseorangan/subjek

hukum yang kegiatan usahanya menyediakan barang dan jasa”.

Selain Peraturan Menteri tersebut, dalam Peraturan Pemerintah

Nomor 45 Tahun 2005 tentang Pendirian, Pengurusan, Pengawasan,

dan Pembubaran Badan Usaha Milik Negara, diterangkan dalam

Pasal 99 ayat (1) dijelaskan bahwa “Pengadaan barang dan jasa oleh

BUMN yang menggunakan dana langsung dari Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara (APBN) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan

pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara”. Terkait

dengan ketentuan pengadaan barang dan/atau jasa, pada Pasal 99

ayat (2) dinyatakan bahwa “Direksi BUMN menetapkan tata cara

pengadaan barang dan jasa bagi BUMN yang bersangkutan, selain

pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

berdasarkan pedoman umum yang ditetapkan oleh Menteri”.


Pengadaan barang dan/atau jasa dalam kerangka konsepsi yang

dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara, perlu dinyatakan dan diatur

oleh Direksi untuk tata cara pelaksanaan dan pedoman pengadaan

barang dan/atau jasa. Selain hal tersebut, selain ketentuan Peraturan

Pemerintah ini, pedoman umum pengadaan barang dan/atau jasa

perlu diatur lebih lanjut oleh Menteri dan Menteri yang dimaksud

dalam hal ini adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara. Pengadaan

barang dan/atau jasa sebagaimana diatur dalam ayat (1) dan (2)

tersebut, terdapat prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Pasal 99 ayat

(3) yaitu “Pedoman umum dan tata cara sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) ditetapkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip efisensi dan

transparansi”.

Pengadaan barang dan/atau jasa telah disediakan oleh

pemerintah melalui e-procurement. Namun, menurut A.M. Tri Angraini

masih banyak ditemukan pengadaan barang dan/atau jasa secara

kolusif, baik secara vertikal yang melibatkan panitia maupun horizontal

di kalangan para peserta tender.5 Hal ini terlihat dari data laporan

yang masuk ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang

mana berdasarkan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat merupakan lembaga yang salah satu kewenangannya adalah

menangani perkara persekongkolan tender, selain perjanjian/kegiatan


5
Anna Maria Tri Angraini, Sinergi BUMN Dalam Pengadaan Barang dan/atau Jasa
Dalam Perspektif Persaingan Usaha, (Jurnal Mimbar Hukum, Volume. 25, Nomor 3,
Oktober 2013), h. 447
anti persaingan lainnya.6 Pada Tahun 2015, jumlah laporan yang

diterima oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha terkait tender

adalah 66 laporan atau 49% merupakan laporan tender dan sisanya

sebanyak 70 laporan atau 51% adalah laporan non-tender.7 Serta

menurut laporan Tahunan pada Tahun 2015, Komisi Persaingan

Usaha mencatatkan bahwa prosetase berdasarkan jenis laporan

mencatatkan bahwa substansi laporan masyarakat masih didominasi

atas dugaan pelanggaran Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha

Tidak Sehat dan tercatat 13 (tiga belas) dan 18 (delapan belas)

laporan resmi terkonsentrasi pada isu persekongkolan tender.8 Selain

itu menurut Direktur Penindakan KPPU Gopprera Pangabeas

menjelaskan bahwa pada Tahun 2016 terdapat 209 (dua ratus

Sembilan) laporan diterima oleh KPPU dan sebanyak 73% (tujuh

puluh tiga) persen laporan adalah terkait tender atau pengadaan

barang dan jasa dengan total nilai tender yang menjadi obyek

penanganan perkara di KPPU hingga bulai Mei 2017 sebesar Rp 22,5

triliun dan 73,9 miliar dollar AS.9

Dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat

6
Ibid
7
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Laporan Tahunan 2015, h. 13
8
Ibid, h. 44
9
https://www.google.co.id/amp/s/app.kompas.com/amp/bisniskeuangan/read/2017/05/30
200000326/selama.17.Tahun.kppu.terima.2.537.laporan.73.persen.terkait.tender,
diunggah pada 16 Juni 2017, pukul 21.21 wib
dijelaskan bahwa “Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak

lain untuk mengatur dan/atau menentukan pemenang tender sehingga

dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat”.

Definisi pelaku usaha dalam Pasal 1 ayat (5) adalah “setiap orang

perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum

atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau

melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia,

baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian,

penyelenggaraan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi”.

Lalu yang dimaksud dengan persekongkolan atau konspirasi usaha

adalah “bentuk kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan

pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar

bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol”.

Dalam penjelasan Pasal 22 yang dimaksud dengan tender adalah

“tawaran mengajukan harga atau memborong suatu pekerjaan, untuk

mengadakan barang-barang atau untuk menyediakan jasa”. Terkait

dengan peraturan tersebut, pada Tahun 2012 Kementerian BUMN

mengeluarkan Peraturan Menteri BUMN Nomor 15 Tahun 2012

tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik

Negara Nomor 05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara dengan latar

belakang penerbitan tersebut sebagai bentuk dukungan dilakukannya


sinergi BUMN, anak perusahaan, dan sinergi BUMN dengan anak

perusahaan yang tercantum dalam konsideran huruf (b).

Badan Usaha Milik Negara dalam melakukan pengadaan barang

dan/atau jasa guna kepentingan usahanya mengacu terhadap Pasal 9

ayat (1) Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor 15

Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor 05/MBU/2008 tentang Pedoman

Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara yaitu “Pengadaan Barang dan/atau Jasa melalui penunjukan

langsung dilakukan dengan menunjuk langsung 1 (satu) atau lebih

penyedia Barang dan Jasa”. Lalu selanjutnya pada ayat (2) dikatakan

bahwa “penunjukan langsung hanya dapat dilakukan sepanjang

Direksi terlebih dahulu merumuskan ketentuan internal dan kriteria

yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan

Pasal 3 dengan memperhatikan pada ayat (3) Pasal ini”. Pada ayat (3)

tersebut diterangkan bahwa “Penunjukan langsung sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan apabila memenuhi minimal

salah satu dari persyaratan sebagai berikut”:

1. Barang dan Jasa yang dibutuhkan bagi kinerja utama


perusahaan dan tidak dapat ditunda keberadaannya
(business critical asset);
2. Penyedia barang dan jasa dimaksud hanya satu-
satunya (barang spesifik);
3. Barang dan jasa yang bersifat knowledge intensive
dimana untuk menggunakan dan memelihara produk
tersebut membutuhkan kelangsungan pengetahuan
dari penyedia barang dan jasa;
4. Bila pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan
menggunakan cara sebagai mana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (2) huruf (a) dan (b) telah dua kali
dilakukan namun peserta pelelangan atau pemilihan
langsung tidak memenuhi kriteria atau tidak ada pihak
yang mengikuti pelelangan atau pemilihan langsung,
sekalipun ketentuan dan syarat-syarat telah
memenuhi kewajaran;
5. Barang dan jasa yang dimiliki oleh pemegang hak
kekayaan intelektual (HAKI) atau yang memiliki
jaminan (warranty) dari original equipment
manufacture;
6. Penanganan darurat untuk keamanan, keselamatan
masyarakat, dan aset strategis perusahaan;
7. Barang dan jasa yang merupakan pembelian berulang
(repeat order) sepanjang harga yang ditawarkan
menguntungkan dengan tidak mengorbankan kualitas
barang dan jasa;
8. Penanganan darurat akibat bencana alam, baik yang
bersifat lokal maupun nasional;
9. Barang dan jasa lanjutan yang secara teknis
merupakan satu kesatuan yang sifatnya tidak dapat
dipecah-pecah dari pekerjaan yang sudah
dilaksanakan sebelumnya;
10. Penyediaan barang/jasa adalah BUMN, anak
perusahaan BUMN atau perusahaan terafilitasi
BUMN, sepanjang barang dan/atau jasa dimaksud
adalah merupakan produk atau layanan dari BUMN,
anak Perusahaan BUMN, Perusahaan Terafiliasi
BUMN, dan/atau usaha kecil dan mikro dan sepanjang
kualitas, harga dan tujuannya dapat
dipertanggungjawabkan, serta dimungkinkan dalam
peraturan sectoral;
11. Pengadaan barang dan jasa dalam nilai tertentu yang
ditetapkan Direksi dengan terlebih dahulu
mendapatkan persetujuan Dewan Komisaris.

Sebagai pelaksana dari ketentuan tersebut, terdapat Surat

Keputusan atau Surat Penetapan oleh Direksi mengenai penunjukan

langsung yang diatur secara internal guna pelaksanaan Peraturan

Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor 15 Tahun 2012 tentang

Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara


Nomor 05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara yang

dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara yaitu PT X, PT Y dan PT Z.

Terkait penunjukan langsung, Direksi PT Y (Persero) menetapkan

Peraturan Direksi Nomor PD 19 Tahun 2015 tentang Tata Cara

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkungan PT Y (PD-

19). PD-19 memuat beberapa ketentuan berkaitan dengan

penunjukan langsung anak perusahaan sebaga mitra bisnis PT Y.

Salah satu peraturan umum dalam PD-19 yaitu mengutamakan

kepada anak perusahaan atupun sinergi dengan BUMN lain atas

proses penunjukan langsung.

Penunjukan langsung dalam PD-19 diatur dalam Pasal 28 ayat (1),

ayat (2) dan ayat (3) yaitu:

1. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus,


pemilihan Penyedia Barang/Jasa dapat dilakukan
dengan cara menunjuk secara langsung 1 (satu)
barang/jasa atau melalui Direct Deal atau Beauty
Contest, dengan cara melakukan Negosiasi baik
teknis maupun harga sehingga diperoleh harga yang
wajar dan secara teknis dapat
dipertanggungjawabkan.
2. Biro Logistik/Panitia Pelelangan dilarang memecah
Pengadaan Barang/Jasa menjadi beberapa paket
pengadaan dengan maksud menghindari pelelangan
atau pemilihan langsung.
3. Proses penunjukan langsung diatur sebagai berikut:
a. penunjukan langsung untuk nilai sampai dengan
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta) dilakukan oleh
Unit Fungsional terkait di Kantor Pusat,
sedangkan di Cabang diatur sebagai berikut;
1) Kelas Utama dan TPM dengan nilai sampai
dengan Rp. 400.000.000, - (empat ratus juta
Rupiah) dilaksanakan oleh unit fungsional,
sedangkan nilai diatas Rp. 400.000.000
(empat ratus juta Rupiah) sampai dengan Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta Rupiah)
dilakukan penunjukan langsung oleh Panitia
Pelelangan.
2) Kelas I dan TPB dengan nilai sampai dengan
Rp 300.000.000, - (tiga ratus juta Rupiah)
dilaksanakan oleh unit fungsional, sedangkan
nilai diatas Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta
Rupiah) sampai dengan Rp 500.000.000,-
(lima ratus juta) Rupiah dilakukan penunjukan
langsung oleh Panitia Pelelangan.
3) Kelas II dan III dengan nilai sampai dengan
Rp 150.000.000, - (seratus lima puluh juta
Rupiah) dilaksanakan oleh unit fungsional
sedangkan nilai diatas Rp 150.000.000,-
(seratus lima puluh juta Rupiah) sampai
dengan Rp 500.000.000,- (lima ratus juta
Rupiah) dilakukan penunjukan langsung oleh
Panitia Pelelangan.
4) Kelas IV dan UPK dengan nilai sampai
dengan Rp 100.000.000, - (seratus juta
Rupiah) dilaksanakan oleh unit fungsional
sedangkan nilai diatas Rp 100.000.000,-
(seratus juta Rupiah) sampai dengan Rp
500.000.000,- (lima ratus ribu Rupiah)
dilakukan penunjukan langsung oleh Panitia
Pelelangan.
b. penunjukan langsung untuk nilai tak terbatas,
dilakukan oleh Biro Pengadaan/ Panitia
Pelelangan apabila memenuhi paling sedikit salah
satu ketentuan sebagai berikut :
1) Barang dan jasa yang dibutuhkan untuk
kinerja utama perusahaan dan tidak dapat
ditunda keberadaannya/ kebutuhannya
(business critical asset);
2) keadaan mendesak misalnya:
a) kecelakaan operasional terhadap fasilitas
pelabuhan;
b) kerusakan fasilitas pelabuhan yang
disebabkan oleh bencana alam, huru hara
dan keadaan force majeure lainnya;
yang apabila tidak segera dilaksanakan dapat
merugikan Perseroan baik materiil maupun
non-materiil dan berdampak mengganggu
perekonomian regional dan/atau nasional;
3) pekerjaan spesifik, yang menurut sifatnya
hanya dapat dipenuhi oleh satu
perusahaan/lembaga/institusi tertentu (non
sertifikat/non ATPM) sehingga harus disertai
data pendukung menyangkut profesionalisme
perusahaan tersebut di bidang tertentu yang
relevan dengan pekerjaan spesifik tersebut;
4) Penunjukan langsung dengan nilai tak
terbatas hanya dapat dilakukan atas Penyedia
Barang/Jasa yang menurut sifatnya hanya
dapat dipenuhi oleh perusahaan yang
merupakan ATPM yang dibuktikan dengan
surat penunjukan resmi dari
prinsipalnya;dengan ketentuansistem
Pengadaan Barang yang dilakukan langsung
kepada ATPM atau Prinsipal, menggunakan
cara pembelian dengan pajak dan bea masuk
ditanggung oleh Pembeli (DDU)
5) Barang dan jasa yang bersifat knowledge
intensive yang untuk menggunakan dan
memelihara produk tersebut membutuhkan
kelangsungan pengetahuan dari Penyedia
Barang/Jasa tertentu;
6) Barang dan Jasa yang dimiliki oleh pemegang
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau yang
memiliki jaminan (warranty) dari Original
Equipment Manufacturer (OEM);
7) telah dilakukan pelelangan ulang sebanyak 2
(dua) kali berturut-turut namun mengalami
kegagalan atau batal;
8) Barang yang merupakan pengadaan berulang
(Repeat Order) adalah barang dan jasa yang
menguntungkan Perseroan dengan ketentuan
sebagai berikut :
a) keperluan mendesak Perseroan;
b) spesifikasi Teknis minimal harus sama
dengan kontrak induk sebelumnya
c) harga minimal sama dengan kontrak
sebelumnya;
d) dilaksanakan di Tahun dan pelaksana
yang sama;
e) efisiensi dan efektifitas.
9) Jasa yang merupakan pengadaan berulang
(Repeat Order) misalnya Kontrak
Pemeliharaan, asuransi, jasa penyedia tenaga
kerja, cleaning service, dan Jasa Lainnya
paling banyak 1 (satu) kali untuk 1 (satu)
Tahun anggaran sepanjang harga yang
ditawarkan sama dengan harga jasa
sebelumnya dan menguntungkan bagi
Perseroan dengan tetap mempertimbangkan
hasil evaluasi pelaksanaan sebelumnya.;
10) Untuk penyeragaman brand/merek dalam
rangka efisiensi pelaksanaan pemeliharaan
dan mendukung/ meningkatkan kualitas
pelayanan serta memudahkan proses Repair
and Replacement;
11) Barang dan jasa lanjutan yang secara teknis
merupakan satu kesatuan yang sifatnya tidak
dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang
sudah dilaksanakan sebelumnya (bukan
merupakan addendum tetapi Kontrak baru);
12) Migrasi suatu aplikasi sistem informasi
manajemen tertentu yang telah berhasil
diterapkan pada Kantor Pusat atau Kantor
Cabang dan telah dievaluasi serta
menguntungkan bagi Perseroan;
13) Penyedia Barang/ Jasa adalah BUMN, Anak
Perusahaan BUMN, dan/atau Perusahaan
Terafiliasi BUMN sepanjang barang/ jasa yang
dibutuhkan merupakan produk atau layanan
dari BUMN, Anak Perusahaan BUMN,
dan/atau Perusahaan Terafiliasi BUMN
dimaksud. Apabila ternyata BUMN, Anak
Perusahaan BUMN, dan/atau Perusahaan
Terafiliasi BUMN yang memproduksi atau
yang menyediakan pelayanan yang
dibutuhkan tersebut lebih dari satu
perusahaan maka harus dilakukan Pemilihan
Langsung;
14) Pekerjaan yang dilaksanakan oleh Anak
Perusahaan Perseroan;
15) Lembaga Pendidikan atau Universitas
Negeri/Swasta (terakreditasi) atau Tenaga
Ahli yang mempunyai spesialisasi keahlian
yang dibutuhkan oleh Perseroan;
16) Adanya kebijakan khusus Direksi dengan
mempertimbangkan kriteria selain angka 1
sampai dengan angka 14 di atas, yang
didukung dengan kajian/ telaahan/
rekomendasi dari unit kerja terkait,
sehubungan dengan aspek waktu,
operasional, teknis, efisiensi biaya serta aspek
relevan lainnya.
17) Tata cara pemilihan/penentuan 1 (satu)
rekanan yang akan diundang diatur lebih
lanjut dengan Surat Edaran Kepala Biro
Logistik.
4. Untuk pekerjaan penunjukan langsung dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1) Biro Logistik/Panitia Pelelangan mengundang
secara tertulis 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa
yang memenuhi kriteria dan syarat yang telah
dievaluasi dan disarankan oleh Pemberi Kerja,
untuk menyampaikan penawaran harga sesuai
spesifikasi yang tercantum pada dokumen
Pengadaan Barang/Jasa dan jika diperlukan dapat
dilakukan Beauty Contest, dengan batas waktu
paling lama 3 (tiga) hari kerja;
2) Biro Logistik/Panitia Pelelangan melakukan
Klarifikasi dan Negosiasi terhadap penawaran
tersebut dan membuat berita acara Klarifikasi dan
Negosiasi, dengan waktu paling lama 5 (lima) hari
kerja;
3) Biro Logistik/Panitia Pelelangan menyampaikan
rekomendasi kepada Pemberi Kerja, tentang
calon Penyedia Barang/Jasa yang ditunjuk;
4) penandatanganan Pakta Integritas antara Pemberi
Kerja, Biro Logistik/Panitia Pelelangan dan
Penyedia Barang/Jasa sebelum
penandatanganan Kontrak;
5) apabila kedudukan/domisili Penyedia Barang/Jasa
dimaksud berada di luar kota/wilayah/Cabang dari
lokasi kegiatan bersangkutan maka pemasukan
penawaran dapat diatur tersendiri.

Penunjukan langsung atas PD-19 dengan cara dilakukan oleh Panitia

Pelelangan dan Panitia Kewajaran Harga sebagaimana tercantum

dalam Pasal 1 ayat (29). Penunjukan langsung merupakan salah satu

bentuk sinergi Badan Usaha Milik Negara yang dilakukan oleh pelaku

usaha Badan Usaha Milik Negara kepada anak perusahaan.


Secara substansial, PD-19 tersebut, bertentangan dengan Pasal

22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Persekongkolan

memiliki karakteristik tersendiri, karena dalam persekongkolan

(conspiracy/konspirasi) terdapat kerjasama yang melibatkan 2 (dua)

atau lebih pelaku usaha yang secara bersama-sama melakukan

tindakan melawan hukum.10 Pasal 22 menyatakan bahwa “Pelaku

usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur

dan/atau menentukan pemenang tender sehingga dapat

mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat". Persaingan

usaha yang dilakukan secara negatif atau sering diistilahkan sebagai

persaingan tidak sehat, akan berakibat pada:11

1. Matinya atau berkurangnya persaingan antar pelaku

usaha;

2. Timbulnya praktik monopoli, di mana pasar dikuasai

hanya oleh pelaku usaha tersebut;

3. Bahkan kecenderungan pelaku usaha untuk

mengeksploitasi konsumen dengan cara menjual

barang yang mahal tanpa kualitas yang memadai.12

Bentuk persekongkolan ini tidak harus dibuktikan dengan adanya

perjanjian, tetapi bisa dalam bentuk kegiatan lain yang tidak mungkin

10
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan
Konteks, h. 146
11
Ibid, h. 4
12
Hikmahanto Juwana, Sekilas tentang Hukum Persaingan dan UU Nomor 5 Tahun
1999, (Jurnal Magister Hukum 1 Tahun 1999), h. 32
diwujudkan dalam suatu perjanjian.13 Adapun jenis persekongkolan

antara lain ditetapkan pada larangan persekongkolan tender antara

lain:

1. Melakukan pendekatan dan kesepakatan dengan


instansi terkait panitia/penyelenggara sebelum
pelaksanaan tender mengenai berbagai hal yang
dapat mengarah untuk memenangkan pelaku usaha
tertentu;
2. Melakukan pendekatan dan kesepakatan mengenai
spesifikasi merek, jumlah, tempat dan waktu
penyerahan barang dan jasa yang akan ditenderkan;
3. Melakukan pendekatan dan kesepakatan mengenai
cara, tempat, waktu dan Batasan pengumuman
tender;
4. Melakukan komunikasi atau berbagi informasi yang
terkait dengan harga penawaran yang akan diajukan
dalam tender;
5. Memberi kesempatan secara eksklusif atau lebih oleh
penyelenggara/panitia kepada pelaku usaha tertentu;
6. Menciptakan persaingan semu;
7. Secara terang-terangan maupun diam-diam
melakukan tindakan penyesuaian dokumen dengan
peserta lainnya;
8. Membandingkan dokumen tender sebelum
penyerahan;
9. Melakukan penyesuaian penawaran antar pelaku
usaha/peserta tender;
10. Melakukan pembagian kesempatan memenangkan
tender diantara pelaku usaha/peserta tender;
11. Melakukan penyesuaian termasuk manipulasi
persyaratan tender dan penawaran yang diterima
untuk pelaku usaha/peserta tender tertentu.

Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat sistem pengadaan

barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara

perlu dikaji dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan

karena hal tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti dan

13
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan
Konteks, h. 147
menganalisa penelitian ini dengan judul “Sistem Penunjukan

Langsung Dalam Pengadaan Barang dan/atau Jasa oleh Badan

Usaha Milik Negara Dari Perspektif Hukum Persaingan Usaha Di

Indonesia” yang akan dipaparkan secara komperhensif dalam

penelitian ini.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis akan

mencoba menguraikan perumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses atau pengaturan pengadaan barang dan/atau

jasa di lingkungan Badan Usaha Milik Negara menurut peraturan

perundang-undangan yang berlaku?

2. Bagaimana proses atau pengaturan pengadaan barang dan/atau

jasa di lingkungan internal Badan Usaha Milik Negara pada PT X,

PT Y dan PT Z?

3. Apakah sistem penunjukan langsung dalam pengadaan barang

dan/atau jasa di lingkungan Badan Usaha Milik Negara

bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat?
C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah disusun dan diuraikan diatas,

maka selanjutnya penelitian ini bertujuan:

1. Memberikan analisa atas sistem pengadaan barang dan/atau jasa

oleh Badan Usaha Milik Negara;

2. Melakukan analisa atas pertentangan antara penunjukan langsung

oleh Badan Usaha Milik Negara dengan Undang-Undang Nomor 5

Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan

Usaha Tidak Sehat.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang sitem

penunjukan langsung dan analisa hukum berdasarkan hukum

persaingan usaha yang mengatur persaingan usaha di Indonesia, oleh

karena itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi,

sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis manfaat penelitian ini untuk dunia akdemis, adalah

bahwa penelitian ini memberika informai tentang bagaimana

sistem penunjukan langsung dan analisa hukum dari perspektif

hukum persaingan usaha, sehingga dapat menjadi referensi bagi

penelitian terkait.
2. Manfaat Praktis

Bagi pelaku usaha, hasil dari penelitian ini dapat menjadi

pedoman agar dapat memberikan deskripsi informasi mengenai

sistem penunjukan langsung yang berada di lingkungan Badan

Usaha Milik Negara dan anlisa hukum dari prespektif hukum

persaingan usaha di Indonesia, sehingga membantu memberikan

informasi kepada para pelaku usaha khususnya Badan Usaha

Milik Negara dalam mengadakan barang dan/atau jasa di

Indonesia.

E. Kerangka Teori

Dalam tindakan persekongkolan tender, menurut Pasal 22 bahwa

pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain. Tindakan

persekongkolan tersebut dilakukan oleh dua pihak atau lebih dimana

terdapat kesepakatan yang dilakukan oleh pihak tersebut untuk

melakukan persekongkolan tender. Dalam hal tidak ditemukan bukti

adanya perjanjian tersebut dipersengketakan, maka diperukan

penggunaan bukti yang tidak langsung atau bukti yang melingkupi

untuk menyimpulkan perjanjian dan/atau perekongkolan tersebut.14

Dalam menjawab permasalahan atas penelitian, penulis

menggunakan teori perjanjian yang merujuk kepada Pasal 1320 dan

1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Teori perjanjian tersebut


14
A. M. Tri Anggraini, Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat:
Perse Illegal atau Rule of Reason, Cet. I (Jakarta: Program Pasca Sarjana Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, 2003), h. 404
digunakan untuk melihat bagaimana suatu perjanjian dapat tercipta,

bagaimana penentuan perjanjian tersebut memenuhi ketentuan serta

bagaimana akibat atas perjanjian. Perjanjian menurut Subekti adalah

suatu peristiwa ketika seorang berjanji kepada orang lain atau dua

orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.15 Dalam Pasal

1313 perjanjian dirumuskan sebagai berikut: “perjanjian adalah suatu

perbuatan di mana satu orang atau lebih mengkatkan diri terhadap

satu orang lain atau lebih.”16

1. Syarat Sahnya Perjanjian

Menurut Pasal 1320 KUHPerdata, suatu perjanjian adalah sah,

apabila memenuhi empat syarat sebagai berikut:17

a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

b. Kecapakan untuk mmbuat suatu perikatan;

c. Suatu hal tertentu;

d. Suatu sebab yang halal.

Dua syarat pertama, disebut syarat subjektif, karena menyangkut

subheknya atu para pihak yang mengadakan perjanjian,

sedangkan dua syarat terakhir adalah mengenai objeknya disebut

syarat objektif.

Dengan sepakat dimaksud bahwa para pihak yang

mengadakan perjanjian itu harus bersepakat setuju mengenai hal-

15
R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: PT Intermasa, 1985), h. 1
16
Djaja S. Meliala, Perkembangan Hukum Perdata tentang Benda dan Hukum Perikatan,
(Bandung: Penerbit Nuansa Aulia, 2015), h. 59
17
Ibid, h. 68
hal yang pokok dari perjanjian yang diadakan itu. Apa yang

dikehendaki oleh pihak yang satu, juga dikehendaki oleh pihak

lain.18

Cara mengutarakan kehendak ini bisa bermacam-macam.

Dapat dilakukan secara tegas atau secara diam-diam, dengan

tertulis (melalui akta autentik atau dibawah tangan), atau dengan

tanda.19 Atau sekarang dapat dengan menggunakan computer,

jaringan computer, dan/atau media elektronik lainnya.20

Jika suatu perjanjian dibuat oleh dua pihak yang tidak tinggal

di kota yang sama dan percakapan pun tidak dilakukan secara

lisan, tetapi dengan surat atau telegram, maka timbul pertanyaan,

kapan saat terjadinya perjanjian itu, untuk itu dikenal beberapa

teori. Teori tersebut adalah:21

1. Teori Pernyataan (Uitingstheorie)

Menurut teori pernyataan, perjanjian telah ada pada

saat telah ditulis surat jawaban penerimaan.

2. Teori pengiriman (Verzendingstheorie)

Menurut teori penerimaan, perjanjian sudah tercipta

pada saat surat jawaban penerimaan telah dikirimkan.

3. Teori pengetahuan (Vernemingstheorie)

18
Djaja S. Meliala, Op. Cit
19
J. Satrio, Hukum Perjanjian, (Jakarta: PT Citra Aditya Bakti, 1992), h. 3
20
Djaja S. Meliala, Op. Cit, h. 69
21
Ibid, h 180
Menurut teori pengetahuan, saat terjadinya perjanjian

itu tidak pada saat penawaran dan penerimaan itu

dinyatakan, tetapi setelah kedua pihak itu mengetahui

pernyataan masing-masing.

4. Teori Penerimaan (Ontvangstheorie)

Menurut teori penerimaan yaitu saat lahirnya

perjanjian, yaitu pada saat diterimanya surat jawaban.

Tidak peduli apakah surat itu sudah dibaca atau

belum.

2. Akibat perjanjian yang Sah

Bahwa sesuai Pasal 1338 (3) KUHPerdata, suatu perjanian

harus dilaksanakan dengan itikad baik. Demikian pula suatu

perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas

dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang

menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan,

atau undang-undang dalam Pasal 1339 KUHPerdata.22

3. Hapusnya perjanjian

Hapusnya perjanjian harus benar-benar dibedakan dengan

hapusnya perikatan, karena suatu perikatan dapat hapus,

sedangkan perjanjian yang meruakan sumbernya masih tetap

ada. Misalnya, pada perjanjian jual-beli, dengan dibayarnya harga

maka perikatan mengenai pembayaran menjadi hapus,

22
Ibid, h. 74
sedangkan perjanjiannya belum, karena perikatan mengenai

penyerahan barang belum terlaksana. Dapat juga terjadi bahwa

perjanjiannya sendiri telah berakhir (hapus), tetapi perikatannya

masih ada. Misalnya dalam perjanjian sewa-menyewa, perjanjian

sewa-menyewanya sudah berakhir, tetapi perikatan untuk

membayar uang sewa belum berakhir karena belum dibayar.

Walaupun pada umumnya jika perjanjian hapus maka perikatan

punmenjadi hapus, sebaliknya jika perikatannya hapus maka

perjanjiannya pun menjadi hapus.23 Suatu perjanjian dapat hapus

karena:24

a. Para pihak menentukan berlakunya perjanjian untuk

jangka waktu tertentu;

b. Undang-Undang menentukan batas waktu berlakunya

suatu perjanjian (Pasal 1066 (3) KUHPerdata;

c. Salah satu pihak meninggal dunia, misalnya dalam

perjanjian pemberian kuasa (Pasal 1813), perjanjian

perburuhan (Pasal 1603 huruf j), dan perjanjian

pereroan/persekutuan perdata (Pasal 1646 (4)

KUHPerdata);

d. Salah satu pihak atau kedua belah pihak menyatakan

menghentikan perjanjian, misalnya dalam perjanjian

kerja atau perjanjian sewa-menyewa;

23
Ibid, h. 84
24
R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, (Bandung: Putra A. Barding, 1999), h. 7
e. Karena putusan hakim;

f. Tujuan perjanjian tersebut telah tercapai, misalnya

dalam perjanjian pemborongan; dan

g. Dengan persetujuan para pihak.

F. Kerangka Konsepsional

Dalam penulisan hukum ini, diperlukan kerangka konseptual.

Kerangka konseptual merupakan kerangka yang menggambarkan

hubungan antara konsep-konsep khusus yang ingin atau akan diteliti.

Konsep bukan merupakan gejalan yang akan diteliti, akan tetapi

merupakan suatu abstraksi dari gejala tersebut. Gejala itu sendiri

dinamakan fakta, sedangkan konsep merupakan suatu uraian

mengenai hubungan-hubungan dalam fakta.25

Sebagai dasar dan analisis terhadap pokok permasalahan dalam

tesis ini, digunakan beberapa konsep serta peraturan-peraturan

dari suatu peraturan perundang-undangan. Menurut Peter

Mahmud, penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan

aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin

hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. 26

Kerangka konsepsi mengandung makna adanya stimulasi dan

dorongan konseptualisasi untuk melahirkan suatu konsep baginya

25
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), h. 132
26
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2011), h. 35
atau memperkuat keyakinannya akan konsepnya sendiri mengenai

sesuatu permasalahan.27

Kerangka konsepsi dalam penelitian hukum diperoleh dari

peraturan perundang-undangan atau melalui usaha untuk

merumuskan atau membentuk pengertian-pengertian hukum. Apabila

kerangka konsepsional tersebut diambil dari peraturan perundang-

undangan tertentu, maka biasanya kerangka konsepsional tersebut

sekaligus merumuskan definisi-definisi tertentu, yang dapat dijadikan

pedoman operasional di dalam proses pengumpulan, pengolahan,

analisis dan konstruksi data.28

Oleh karena itu, untuk menghindari perbedaan penafsiran atas

penelitian ini, maka dipandang perlu untuk mendefinisikan beberapa

konsep penelitian agar pemahaman yang ditulis oleh penulis sesuai

dengan makna variable yang ditetapkan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Persaingan Usaha Tidak Sehat

Dalam Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha TIdak

Sehat definisi dari persaingan usaha tidak sehat adalah

“persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan

produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang

dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau

menghambat persaingan usaha.


27
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1994), h. 132
28
A. M. Tri Anggraini, Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,
Op. Cit, h. 137
2. Pelaku Usaha

Dalam Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat definisi dari pelau usaha adalah “Setiap orang perorangan

atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan

badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan

kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik

sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian,

menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang

ekonomi”.

3. Badan Usaha Milik Negara

Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003

tentang Badan Usaha Milik Negara defisinisi dari Badan Usaha

Milik Negara adalah “badan usaha yang seluruh atau sebagian

besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara

langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan”.

4. Persekongkolan

Dalam Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat definisi dari persekongkolan atau konspirasi usaha adalah

“bentuk kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan

pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar

bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol”.


5. Persekongkolan Horizontal

Merupakan persekongkolan yang terjadi antara pelaku usaha atau

penyedia barang dan jasa dengan sesama pelaku usaha atau

penyedia barang dan jasa pesaingnya. Persekongkolan ini dapat

dikategorikan sebagai persekongkolan dengan menciptakan

persaingan semu di antara peserta tender.29

6. Persekongkolan Vertikal

Merupakan persekongkolan yang terjadi antara salah satu atau

beberapa pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan

panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa

atau pemilik atau pemberi pekerjaan. Persekongkolan ini dapat

terjadi dalam bentuk dimana panitia tender atau panitia lelang atau

pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan

bekerjasama dengan salah satu atau beberapa peserta tender.30

7. Persekongkolan Horizontal dan Vertikal

Merupakan persekongkolan antara panitia tender atau panitia

lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi

pekerjaan dengan pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa.

Persekongkolan ini dapat melibatkan dua atau tiga pihak yang

terkait dalam proses tender. Salah satu bentuk persekongkolan ini

adalah tender fiktif, dimana baik panitia tender, pemberi

29
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Pedoman tentang Larangan Persekongkolan
dalam Tender berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, h. 16
30
Ibid
pekerjaan, maupun para pelaku usaha melakukan suatu proses

tender hanya karena secara administratif dan tertutup.31

8. Pengadaan Barang dan/atau Jasa

Menurut Pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara, yang

dimaksud dengan barang dan/atau jasa adalah “kegaiatan

pengadaan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh Badan

Usaha Milik Negara yang pembiayaannya tidak menggunakan

dana dari APBN/APBD.

9. Pengguna Barang

Menurut Pasal 1 ayat (3) Peraturan Menteri Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara, yang

dimaksud dengan pengguna barang adalah “BUMN pemilik

pekerjaan”.

31
Ibid h. 17
10. Penyedia Barang dan Jasa

Menurut Pasal 1 ayat (4) Peraturan Menteri Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara, yang

dimaksud dengan penyedia barang dan jasa adalah badan usaha,

termasuk BUMN, badan hukum, atau orang perseorangan/subjek

hukum yang kegiatan usahanya menyediakan barang dan jasa.

11. Anak Perusahaan BUMN

Menurut Pasal 1 ayat (6) Peraturan Menteri Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara, yang

dimaksud dengan anak perusahaan BUMN adalah:

a. Perusahaan yang sahamnya minimum 90% dimiliki

oleh BUMN yang besangkutan;

b. Perusahaan yang sahamnya minimum 90% dimiliki

oleh BUMN lain;

c. Perusahaan patungan dengan jumlah gabungan

kepemilikan saham BUMN minimum 90%.


12. Sinergi Badan Usaha Milik Negara

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata sinergi yaitu

kegiatan operasi atau gabungan.32 Tujuan sinergi Badan Usaha

Milik Negara adalah untuk proses pengadaan secara cepat,

fleksibel, kompetitif, efisien, dan efektif, tanpa kehilangan

momentum bisnis sehingga mengakibatkan kerugian perusahaan.

13. Perusahaan Terafiliasi

Menurut Pasal 1 ayat (7) Peraturan Menteri Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara, yang

dimaksud dengan perusahaan terafiliasi adalah “perusahaan yang

sahamnya minimum 90% dimiliki oleh anak perusahaan BUMN,

gabungan anak perusahaan BUMN, atau gabungan anak

perusahaan BUMN dengan BUMN.

G. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian dalam penelitian hukum ini adalah penelitian

hukum normatif. Penelitian hukum normatif yang nama lainnya

adalah penelitian hukum doktrinal disebut juga sebagai penelitian

32
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sinergi, dikutip pada 20 Juli 2017
perpustakaan atau studi dokumen karena penelitian ini dilakukan

atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau

bahan-bahan hukum yang lain.33 Penulis melakukan penelitian ini

dengan cara meneliti bahan-bahan pustaka atau data sekunder.

2. Alat Pengumpul Data

Sebagai penelitian hukum normatif, teknik pengumpulan data

yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian

kepustakaan untuk mendapatkan teori dan doktrin, pendapat atau

pemikiran konseptual dan penelitian terdahulu yang berhubungan

dengan objek telaahan penelitian ini yang dapat berupa peraturan

perundang-undangan, buku, tulisan ilmiah dan karya ilmiah

lainnya. Sebagai sumber data dalam penelitian ini adalah Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat serta literature ilmiah lainnya.

3. Teknik Pengumpulan Data

Studi dokumen adalah salah satu alat pengumpulan bahan hukum

yang dilakukan melalui bahan hukum tertulis dengan

mempergunakan content analisys.34 Teknik ini digunakan untuk

mendapatkan landasan teori dengan mengkaji dan mempelajari

buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen, laporan,

arsip dan hasil penelitian lainnya baik cetak maupun elektronik

yang berhubungan dengan analisa hukum persaingan usaha


33
Soerjono Soekanto dan Sri mamudji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2012), hlm 14.
34
Ibid, h. 21
dengan sistem penunjukan langsung atas pengadaan barang

dan/atau jasa oleh Badan Usaha Milik Negara.

4. Analisis Data

Analisa data yang digunakan adalah analisis data secara kualitatif.

Data yang diperoleh dan dikumpulkan dalam penelitian ini berupa

data yang berasal dari studi pustaka terhadap bahan-bahan

hukum primer, bahan-bahan hukum sekunder, dan bahan-bahan

hukum tersier kemudian dianalisis dengan penalaran secara

deskriptif kualitatif, yaitu dengan membuat deskripsi berdasarkan

kualitas data yang ada. Hasil penelitian dari data yang diperoleh

tersebut dipelajari dan dibahas sebagai suatu bahan yang

komperhensif.

H. Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Memuat pendahuluan yang mencakup tentang latar

belakang masalah, tujuan penelitian, kerangka teori,

dan kerangkap konsepsi dan metodologi tujuan.

BAB II : SISTEM PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA

OLEH BADAN USAHA MILIK NEGARA

Berisi tentang dasar dan konsep penunjukan

langsung atas barang dan/atau jasa yang dilakukan di

lingkungan Badan Usaha Milik Negara.


BAB III : PROFIL UMUM DAN SISTEM PENGADAAN

BARANG DAN/ATAU JASA OLEH BADAN USAHA

MILIK NEGARA PADA PT X, PT Y DAN PT Z

Berisi tentang bagaimana sistem dan tata

pelaksanaan pengadaan barang dan/atau jasa oleh

Badan Usaha Milik Negara di PT X, PT Y dan PT Z.

BAB IV : KARAKTERISTIK DAN ANALISA SISTEM

PENUNJUKAN LANGSUNG DI TINJAU DARI

PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN USAHA DI

INDONESIA

Berisi tentang analisa hukum atas sistem penunjukan

langsung oleh Badan Usaha Milik Negara yang

ditinjau dari perspektif hukum persaingan usaha di

Indonesia.

BAB V : PENUTUP

Berisi tentang kesimpulan tentang hasil penelitian

mendasar kepada hasil analisis hukum.


BAB II

SISTEM PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA OLEH

BADAN USAHA MILIK NEGARA

A. TINJUAN UMUM BADAN USAHA MILIK NEGARA

1. Latar Belakang Badan Usaha Milik Negara

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menurut Pasal 1 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha

Milik Negara adalah “badan usaha yang seluruh atau sebagian

besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara

langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan”.

Dari definisi tersebut, BUMN dapat berupa perusahaan yang

penguasaan sahamnya dapat dimiliki oleh negara 100% (serratus

persen) atau 51% (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh

negara. Hal ini mengacu terhadap Pasal 2 ayat (2) Undang-

Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik

Negara yang dimaksud dengan perusahaan perseroan yaitu

“BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi

dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51% (lima puluh

satu persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia

yang tujuan utamanya mengejar keuntungan”. Bila melihat Pasal

33 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 bahwa “perekonomian

disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas


kekeluargaan”. Disisi lain, negara membentuk BUMN sebagai

suatu peluka usaha yang bertujuan mengejar keuntungan tetapi

negara memiliki latar belakang bahwa perusahaan yang dibentuk

oleh negara tersebut tetap berdasar atas asas kekeluargaan yang

bertujuan untuk kemakmuran rakyat sebagaimana dijeaskan

dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 serta pada

hal menimbang huruf (b) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003

tentang Badan Usaha Milik Negara.

Dalam latar belakang pembentukan BUMN tersebut, terdapat

karakteristik yang dimiliki oleh BUMN yaitu “A corporation clothed

with the power of government but possessed the flexibility an

initiative of a private enterprise” (suatu badan usaha yang

“berbaju” pemerintah tetapi mempunyai fleksibilitas dan inisiatif

sebagai perusahaan swasta).35 Apabila diuraikan lebih lanjut

maka dalam dari public enterprise (BUMN) ada 3 (tiga) makna

terkandung didalamnya yakni public purpose, public ownership,

dan public control dimana dari ke – 3 (tiga) makna tersebut public

purpose yang menjadi inti dari konsep BUMN yaitu hasrat

pemerintah untuk mencapai cita-cita pembangunan (sosial, politik,

dan ekonomi) bagi kesejahteraan bangsa dan negara.36

Pembentukan BUMN oleh negara memiliki peran besar dalam

pembangunan ekonomi di negara Indonesia. Atas peranan


35
Pandji Anoraga, BUMN, Swasta, dan Koperasi Tiga Pelaku Ekonomi, (Jakarta: UI
Press, 2003), h. 2
36
Ibid, h. 2-3
tersebut, menurut M. Dawan Rahardjo terdapat 2 (dua) macam

peranan yaitu sebagai gulator dan sebagai aktor yang berupa

Badan Usaha Milik Negara (BUMN).37 Apabila dikaitkan dengan

Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, BUMN yang

dibentuk oleh negara diberi dan memiliki peran sebagai aktor.

Pemberian peran sebagai actor, memberikan kewenangan

terhadap BUMN untuk menguasai cabang-cabang produksi yang

penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak

sesuai Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945.

Memperhatian bahwa peran BUMN tersebut sebagai aktor, dalam

penjelasan Nomor (VII) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003

tentang Badan Usaha Milik Negara maka BUMN pemerintah

membentuk BUMN untuk melaksanakan usaha sebagai

implementasi kewajiban pemerintah guna menydiakan barang dan

jasa tertentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

2. Maksud dan Tujuan Pendirian Badan Usaha Milik Negara

Maksud dan tujuan pendirian BUMN oleh pemerintah memiliki

tujuan yang dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang

Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara

disebutkan bahwa maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah:

a. Memberikan sumbangan bagi perkembangan


perekonomian, nasional pada umumnya dan
penerimaan negara pada khususnya;

37
M. Dawan Rahardjo, Evaluasi dan Dampak Amandemen UUD 1945 terhadap
Perekonomian di Indonesia, UNILA, Nomor 49/XXVI/III/2003, h. 23
b. Mengejar keuntungan;
c. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa
penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi
dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang
banyak;
d. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum
dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi;
e. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan
kepada pengusaha golongan ekonomi lemah,
koperasi, dan masyarakat.

Selain itu, terdapat di ayat (2) yang menyatakan bahwa

“kegiatan BUMN harus sesuai dengan maksud dan tujuannya

serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,

ketertiban umum, dan/atau kesusilaan”.

Dalam melaksanakan tujuannya, menurut Riyanto (1992),

fungsi dan peranan di Indonesia tampak unik; disatu pihak dituntut

sebagai badan usaha pengemban kebijaksanaan dan program-

program pemerintahan atau yang kita kenal sebagai agen

pembangunan, dipihak lain harus tetap berfungsi sebagai unit

usaha komersial biasa dan mampu berjalan dan beroperasi

berdasarkan prinsip-prinsip usaha yang sehat.38

BUMN sebagaimana disebut dalam 4 ayat (1) huruf (c)

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha

Milik Negara dimaksudkan untuk setiap hasil usaha yang

dilakukan oleh BUMN, baik barang maupun jasa, dapat memenuhi

kebutuhan masyarakat. Salah satu tujuan BUMN sebagai

penyedia barang dan/atau jasa bagi kebutuhan masyarakat,

38
Pandji Anoraga, Op. Cit, h. 8
pengadaan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh pemerintah

melalui BUMN tersebut dengan tujuan untuk mewujudkan

kesejahteraan masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab negara

terhadap masyarakat. Dalam bentuk tanggung jawab negara

terhadap masyarakat atas pemenuhan barang dan/atau jasa yang

dihasilkan oleh BUMN, terdapat prinsip dasar sesuai dengan teori

welfare state yakni bahwa negara/pemerintah bertanggung jawab

penuh untuk menyediakan semua kebutuhan rakyatnya dan tidak

dapat dilimpahkan kepada siapapun.39 Bentuk tanggung jawab

yang dilimpahkan terhadap BUMN tersebut sebagai upaya negara

untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

B. SISTEM PENGADAAN BARANG DAN/JASA DI LINGKUNGAN

BADAN USAHA MILIK NEGARA

1. Pengadaan Barang dan/atau Jasa

Pengadaan bertujuan untuk mendapatkan barang atau benda.

Barang adalah setiap benda, baik berwujud maupun tidak

berwujud, bergerak maupun tidak bergerak, yang dapat

diperdagangkan, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh pengguna

barang. Jasa Terdiri dari Input, proses, dan/atau output.40 Dalam

Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan

39
Otto von Bismarck. Soziale Sicherheit. 1880. Dalam buku Nicholas Abercombie. The
penguin Dictionary of Sociology, Fourth ed, Middlesex, England, 2000, h. 382
40
Samsul Ramli, Buku Bacaan Wajib Sertifikasi Ahli Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah, (Jakarta: Visimedia, Cet. 1, 2003), h. 2
atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara

didefinisikan pada Pasal 1 ayat (1) bahwa pengadaan barang dan

jasa adalah “kegiatan pengadaan barang dan jasa yang dilakukan

oleh Badan Usaha Milik Negara yang pebiayaannya tidak

menggunakan dana dari APBN/APBD”. Barang dan Jasa

didefinisikan dalam Pasal 1 ayat (5) bahwa “barang dan jasa

adalah semua bentuk produk dan/atau layanan yang dibutuhkan

oleh pengguna barang dan jasa”. Pengguna barang dan jasa

dalam Pasal 1 ayat (3) yaitu “BUMN pemilik pekerjaan”. Maka dari

hal tersebut, BUMN sebagai pemilik pekerjaan yang memerlukan

barang dan/atau jasa dapat melakukan permintaan barang

dan/atau jasa kepada badan usaha, termasuk BUMN, badan

hukum, atau orang perseorangan atau subjek hukum yang

kegiatan usahanya menyediakan barang dan jasa.

Dalam Pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Nomor PER-

15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Badan Usaha Milik Negara terdapat kata-kata APBN dan APBD,

merujuk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang

Keuangan Negara, pada Pasal 1 ayat (7) yang dimaksud dengan


anggaran pendapatan dan belanja negara (ABPN) adalah

“rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui

oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Lalu pada Pasal 1 ayat (8) yang

dimaksud dengan anggaran pendapat dan belanja daerah (APBD)

adalah “rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang

disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat”. Dalam hal ini, merujuk

pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan

Usaha Milik Negara bahwa pada Pasal 1 ayat (1) Badan Usaha

Milik Negara didefinisikan yaitu “badan usaha yang seluruh atau

sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan

secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang

dipisahkan”. Makna dari kekayaan negara yang dipisahkan

menjadikan bahwa Badan Usaha Milik Negara bertindak sebagai

hukum privat dalam menjalankan kegiatan usahanya. Kekayaan

negara yang terpisah inilah yang merupakan ciri kedudukan

mandiri BUMN dalam konteks apabila tindakan suatu kelompok

mendatangkan keuntungan atau hak maka dianggap sebagai

keuntungan dan hak kelompok.41 Demikian pula apabila

mendatangkan kerugian atau utang yang menjadi beban

kelompok.42 Konsep pemisahan kekayaan negara inilah yang

41
Anna Maria Tri Angraini, Sinergi BUMN Dalam Pengadaan Barang dan/atau Jasa
Dalam Perspektif Persaingan Usaha, Op. Cit, h. 447-460
42
Ibid
dianut oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 sehingga

kekayaan BUMN bukanlah dianggap sebagai kekayaan negara.43

Tujuan pengaturan pengadaan barang dan/atau jasa dalam

Pasal 3 Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara yaitu:

a. Meningkatkan efisiensi;
b. Mendukung menciptakan nilai tambah di BUMN;
c. Menyederhanakan dan mempercepat proses
pengambilan keputusan;
d. Meningkatkan kemandirian, tanggung jawab, dan
profesionalisme;
e. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri;
f. Meningkatkan sinergi antar BUMN dan/atau anak
perusahaan.

Dalam proses pengadaan barang dan/atau jasa yang

dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara, terdapat prinsip-prinsip

yang patut dilakukan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 2 ayat

(1) Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012 tentang

Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara yaitu:

a. Efisien, berarti Pengadaan Barang dan Jasa harus


diusahakan untuk mendapatkan hasil yang optimal
dan terbaik dalam waktu yang cepat dengan
menggunakan dana dan kemampuan seminimal
mungkin secara wajar dan bukan hanya didasarkan
pada harga terendah;

43
Ibid
b. Efektif, berarti Pengadaan Barang dan Jasa harus
sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya seusi
dengan sasaran yang ditetapkan;
c. Kompetitif, berarti Pengadaan Barang dan Jasa harus
terbuka bagi Penyedia Barang dan Jasa yang
memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui
persaingan yang sehat di antara Penyedia Barang dan
Jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria
tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang
jelas dan transparan;
d. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi
mengenai Pengadaan Barang dan Jasa, termasuk
syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara
evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calin Penyedia
Barang dan Jasa, sifatnya terbuka bagi peserta
Penyedia Barang dan Jasa yang berminat;
e. Adil dan wajar, berarti memberikan perlakuan yang
sama bagi semua calon Penyedia Barang dan Jasa
yang memenuhi syarat;
f. Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran dan dapat
dipertanggungjawabkan sehingga menjauhkan dari
potensi penyalahgunaan dan penyimpangan.

Pelaksanaan pengadaan barang dan/atau jasa tersebut

dimaknai sebagai sebuah proses yang tetap mematuhi tata

pelaksanaan dan peraturan hukum yang berlaku dan mengatur

atas pengadaan barang dan/atau jasa di Indonesia.

Pengguna barang dan/atau jasa dalam hal ini adalah Badan

Usaha Milik Negara (BUMN), terdapat penjelasan dalam Pasal 2

ayat (4) bahwa “pengguna barang dan jasa mengutamakan sinergi

antar BUMN, anak perusahaan BUMN, dan/atau perusahaan

terafiliasi BUMN atau antar anak perusahaan BUMN dan/atau

antar perusahaan terafiliasi BUMN, dalam rangka meningkatkan

efisiensi usaha atau perekonomian”. Pengaturan yang


menyatakan bahwa pengguna barang dan/atau jasa yaitu BUMN

perlu mengutamakan sinergi BUMN, anak perusahaan BUMN,

dan/atau perusahaan terafiliasi BUMN atau antar anak

perusahaan BUMN dan/atau antar perusahaan terafiliasi BUMN,

dalam rangka meningkatkan efisiensi usaha atau perekonomian

dapat menimbulkan aspek anti persaingan usaha yang sehat

dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat. Sebab, dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Nomor

PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008

tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan

Jasa Badan Usaha Milik Negara disebutkan bahwa dalam

pengadaan barang dan/atau jasa, terdapat prinsip-prinsip yang

patut dilakukan BUMN seperti efektif, efisien, kompetitif,

transparan, adil dan wajar, dan akuntabel. Sebab apabila BUMN

melakukan penyimpangan ataupun kesalahan penafsiran atas

peraturan tersebut dengan melakukan penunjukan langsung atas

pengadaan barang dan/atau jasa, maka BUMN tersebut sebagai

badan hukum privat dapat dikenakan dan dikaitkan dengan pada

Pasal 19 dan 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.


2. Pedoman Pengadaan Barang dan/atau Jasa di Lingkungan

Badan Usaha Milik Negara

Sebagai pelaksana pedoman pengadaan barang dan/atau

jasa yang dilakukan oleh BUMN, cara pengadaan barang dan jasa

diatur dalam Pasal 5 Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012

tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha

Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara yaitu:

a. Cara pengadaan Barang dan Jasa disesuaikan


dengan kebutuhan Pengguna Barang dan Jasa serta
dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip umum
sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan best practice
yang berlaku;
b. Cara pengadaan Barang dan Jasa dapat dilakukan
dengan cara antara lain tetapi tidak terbatas pada:
1) Pelelangan terbuka, atau seleksi terbuka untuk
jasa konsultan, yaitu diumumkan secara luas
melalui media massa guna memberi kesempatan
kepada penyedia barang dan jasa yang memnuhi
kualifikasi untuk mengikuti pelelangan;
2) Pemilihan langsung, atau seleksi untuk
pengadaan barang dan jasa konsultan, yaitu
pengadaan barang dan jasa yang ditawarkan
kepada beberapa pihak terbatas sekurang-
kurangnya 2 (dua) penawaran;
3) Penunjukan langsung, yaitu pengadaan barang
dan jasa yang dilakukan secara langsung dengan
menunjuk satu penyedia barang dan jasa atau
melalui beauty contest;
4) Pembelian langsung, yaitu pembelian terhadap
barang yang terdapat di pasar, dengan demikian
nilainya berdasarkan harga pasar.
c. Tata cara pengadaan barang dan jasa sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), diatur lebih lanjut oleh Direksi
BUMN.
Terkait pelaksanaan pengadaan barang dan jasa tersebut,

dalam Pasal 7 disebutkan bahwa pelaksanaan pengadaan barang

dan jasa dilaksanakan oleh panitia pengadaan atau pejabat

pengadaan, atau lembaga profesional yang memenuhi syarat.

Pada Pasal 9 Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012

tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha

Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara, disebutkan tentang penunjukan langsung yaitu:

a. Pengadaan barang dan jasa melalui penunjukan


langsung dilakukan dengan menunjuk langsung 1
(satu) atau lebih penyedia barang dan jasa;
b. Penunjukan langsung hanya dapat dilakukan
sepanjang Direksi terlebih dahulu merumuskan
ketentuan internal dan kriteria yang memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan
Pasal 3 dengan memperhatikan ketentuan pada ayat
(3) Pasal ini;
c. Penunjukan langsung sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dilakukan apabila memenuhi minimal 1
(satu) dari persyaratan sebagai berikut:
1) Barang dan jasa yang dibutuhkan bagi kinerja
utama perusahaan dan tidak dapat ditunda
keberadaannya (business critical asset);
2) Penyedia barang dan jasa dimaksud hanya satu-
satunya (barang spesifik);
3) Barang dan jasa yang bersifat knowledge
intensive dimana untuk menggunakan dan
memelihara produk tersebut membutuhkan
kelangsungan pengetahuan dari penyedia barang
dan jasa;
4) Bila pelaksanaan pengadaan barang dan jasa
dengan menggunakan cara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf a dan b
telah dua kali dilakukan namun peserta
pelelangan atua pemilihan langsung tidak
memenuhi kriteria atau tidak ada pihak yang
mengikuti pelelangan atau pemilihan langsung,
sekalipun ketentuan dan syarat-syarat telah
memenuhi kewajaran;
5) Barang dan jasa yang dimiliki oleh pemegang hak
atas kekayaan intelektual (HAKI) atau yang
memiliki jaminan (warranty) dari Original
Equipment Manufacture;
6) Penanganan darurat untuk keamanan,
keselamatan masyarakat, dan aset strategis
perusahaan;
7) Barang dan jasa yang merupkan pembelian
berulang (repeat order) sepanjang harga yang
ditawarkan menguntungkan dengan tidak
mengorbakan kualitas barang dan jasa;
8) Penanganan darurat akibat bencana alam, baik
yang bersifat lokal maupun nasional;
9) Barang dan jasa lanjutan yang secara teknis
merupakan satu kesatuan yang sifatnya tidak
dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang sudah
dilaksanakan sebelumnya;
10) Penyedia barang dan jasa adalah BUMN, Anak
Perusahaan BUMN atau Perusahaan Terafiliasi
BUMN, sepanjang barang dan/atau jasa dimaksud
adalah merupakan produk atau layanan dari
BUMN, anak perusahaan BUMN, Perusahaan
Terafiliasi BUMN, dan/atau usaha kecil dan mikro,
dan sepanjang kualitas, harga dan tujuannya
dapat dipertanggungjawabkan, serta
dimungkinkan dalam peraturan sektoral.
11) Pengadaan barang dan jasa dalam jumlah dan
nilai tertentu yang ditetapkan Direksi dengan
terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Dewan
Komisaris.
d. Penunjukan langsung kepada BUMN, Anak
Perusahaan BUMN, dan Perusahaan Terafiliasi
BUMN sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf j,
diprioritaskan kepada Anak Perusahaan BUMN atau
Perusahaan Terafiliasi BUMN yang bersangkutan.

Konsep pengadaan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh

BUMN tersebut selanjutnya dapat dibentuk prosedur atau

ketentuan yang ditetapkan oleh Direksi perusahaan. Melalui

penetapan tersebut, pelaksanaan pengadaan barang dan/atau


jasa tersebut dapat dilakukan sesuai dengan pedoman pengadaan

barang dan/atau jasa. Selain hal tersebut, terdapat persyaratan

dan prinsip-prinsip yang patut dilakukan oleh BUMN sebagai

pengguna atas pengadaan barang dan/atau jasa yang diatur

dalam Pasal 13 ayat (2) Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor

05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Barang dan

Jasa BUMN.

Sebagai pelaksana dari ketentuan tersebut, terdapat

ketetapan Direksi dari PT X, PT Y dan PT Z yang mengatur

tentang pengadaan barang dan/atau jasa dimana salah satu

prosedurnya melakukan penunjukan langsung atas pengadaan

barang dan/atau jasa. Kebijakan tersebut dibentuk dengan dasar

untuk melaksanakan ketentuan sinergi BUMN yang telah

ditetapkan.

Melalui ketetapan yang telah ditetapkan oleh Direksi BUMN

atas PT X, PT Y dan PT Z tersebut, terdapat pedoman yang

mengatur tentang tata laksana atas pengadaan barang dan/atau

jasa yang mengacu terhadap Peraturan Menteri Nomor PER-

15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Badan Usaha Milik Negara.


Ketetapan tersebut dapat memicu timbulnya permasalahan

karena terdapat subyektifitas dan relativitas atas tindakan

penunjukan langsung yang didasari oleh Peraturan Menteri Nomor

PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008

tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan

Jasa Badan Usaha Milik Negara dan dilaksanakan sesuai

peraturan atau ketetapan yang disahkan oleh Direksi PT X, PT Y,

dan PT Z.

Penunjukan langsung tersebut dapat dilakukan oleh PT X, PT

Y, dan PT Z dengan cara melakukan perjanjian. Menurut Subekti,

suatu perjanjian merupakan suatu peristiwa di mana seseorang

berjanji kepada orang lain, atau di mana dua orang saling berjanji

untuk melaksanakan sesuatu hal.44 R. Setiawan, menyebutkan

bahwa perjanjian ialah suatu perbuatan hukum di mana satu

orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan

dirinya terhadap satu orang atau lebih.45 Dari pendapat-pendapat

di atas, maka pada dasarnya perjanjian adalah proses interaksi

atau hubungan hukum dan 2 (dua) perbuatan hukum yaitu

penawaran oleh pihak yang satu dan penerimaan oleh pihak yang

lainnya sehingga tercapai kesepakatan untuk menentukan isi

perjanjian yang akan mengikat kedua belah pihak.


44
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta: PT. Intermasa, 2001), h. 36
45
R. Setiawan, Hukum Perikatan-Perikatan Pada Umumnya, (Bandung: Bina Cipta,
1987), h. 49
Dalam hal terjadinya penunjukan langsung, apabila dikaitkan

dengan proses pembentukan suatu perjanjian, menurut Pasal

1313 KUHPerdata perjanjian tersebut mengandung unsur sebagai

berikut:

a. Perbuatan Penggunaan kata “Perbuatan” pada


perumusan tentang Perjanjian ini lebih tepat jika
diganti dengan kata perbuatan hukum atau tindakan
hukum, karena perbuatan tersebut membawa akibat
hukum bagi para pihak yang memperjanjikan;
b. Satu orang atau lebih terhadap satu orang lain atau
lebih, Untuk adanya suatu perjanjian, paling sedikit
harus ada dua pihak yang saling berhadap-hadapan
dan saling memberikan pernyataan yang cocok/pas
satu sama lain. Pihak tersebut adalah orang atau
badan hukum.
c. Mengikatkan dirinya, Di dalam perjanjian terdapat
unsur janji yang diberikan oleh pihak yang satu
kepada pihak yang lain. Dalam perjanjian ini orang
terikat kepada akibat hukum yang muncul karena
kehendaknya sendiri.

Sebelum suatu perjanjian disusun perlu diperhatikan

identifikasi para pihak, penelitian awal tentang masing-masing

pihak sampai dengan konsekuensi yuridis yang dapat terjadi pada

saat perjanjian tersebut dibuat.46 Dengan merujuk pada Pasal 11

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara bahwa

baik pengguna dan pihak yang mengadakan pengadaan barang

dan/atau jasa perlu membentuk suatu perjanjian. Perjanjian yang

46
Salim H.S, ed, Perancangan Kontrak dan Memorandum of Understanding (MoU),
(Jakarta: Sinar grafika, 2007), h. 124
dibentuk oleh pengguna dan penyedia barang dan/atau jasa

dalam Pasal 11 disebutkan bahwa perlu memperhatikan

sekurang-kurangnya aspek-aspek sebagai berikut:

a. Identitas yang meliputi nama, jabata, alamat badan


usaha masing-masing dan ditandatangani oleh pihak
yang bersangkutan;
b. Pokok pekerjaan yang diperjanjikan dengan uraian
yang jelas mengenai jenis dan jumlah barang dan jasa
yang diperjanjikan;
c. Hak dan kewajiban para pihak yang terikat di dalam
perjanjian;
d. Nilai atau harga pekerjaan, serta syarat-syarat
pembayaran;
e. Persyaratan dan spesifikasi teknik yang jelas dan
terinci;
f. Keluaran atau hasil (output) dari pengadaan barang
dan jasa;
g. Jadwal pelaksanaan dari kondisi serah terima;
h. Jaminan teknis/hasil pekerjaan yang dilaksanakan
dan/atau ketentuan mengenai kelayakan;
i. Cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak
memenuhi kewajibannya;
j. Pemutusan kontrak secara sepihak;
k. Keadaan memaksa (force majeure);
l. Penyelesaian sengketa yang mengutamakan
penyelesaian melalui musyawarah dan alternatif
penyelesaian sengketa;
m. Jangka waktu berlakunya kontrak;
n. Pakta integritas (letter of undertaking) yang
ditandatangani oleh penyedia barang dan jasa;
o. Kepastian adanya jaminan terhadap barang dan/atau
jasa yang diperjanjikan.

Sebagaimana dijelaskan atas aspek-aspek yang perlu

diperhatikan dalam pembentukan perjanjian atas pengadaan

barang dan/atau jasa oleh penyedia maupun pengguna barang

dan/atau jasa, perlu diperhatikan bahwa sebagaimana dijelaskan

dalam ayat (2) bahwa “kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) tetap harus mengindahkan ketentuan peraturan perundang-

undangan yang berlaku dan tata kelola perusahaan yang baik

(good corporate governance) serta prinsip kehati-hatian dalam

pengambilan keputusan bisnis (business judgment rule).

Perjanjian yang dilakukan oleh penyedia barang dan/atau jasa

selain perlu memenuhi ketentuan dalam Pasal 11, secara dasar

bahwa perlu juga mematuhi ketentuan pada Pasal 1320

KUHperdata, suatu perjanjian itu sah harus terpenuhi 4 (empat)

syarat, yaitu:

a. Adanya kata sepakat;


b. Kecakapan untuk membuat perjanjian;
c. Adanya suatu hal tertentu;
d. Adanya causa yang halal.

Syarat pertama dan kedua adalah syarat yang harus dipenuhi

oleh subyek suat perjanjian, oleh karena itu disebut sebagai syarat

subyektif Syarat ketiga dan keempat adalah syarat yang harus

dipenuhi oleh obyek perjanjian oleh karena itu disebut syarat

obyektif. Adapun penjelasan dari masing-masing adalah sebagai

berikut:

1) Kata sepakat berarti persesuaian kehendak,

maksudnya memberikan persetujuan atau

kesepakatan. Jadi sepakat merupakan pertemuan

dua kehendak dimana kehendak pihak yang satu

saling mengisi dengan apa yang dikehendaki

pihak lain dan kehendak tersebut saling bertemu.


Menurut Subekti, yang dimaksud dengan kata sepakat adalah

persesuaian kehendak antara dua pihak yaitu apa yang

dikehendaki oleh pihak ke satu juga dikehendaki oleh pihak lain

dan kedua kehendak tersebut menghendaki sesuatu yang sama

secara timbal balik. Dan dijelaskan lebih lanjut bahwa dengan

hanya disebutkannya "sepakat" saja tanpa tuntutan sesuatu

bentuk cara (formalitas) apapun sepertinya tulisan, pemberian

tanda atau panjer dan lain sebagainya, dapat disimpulkan bahwa

bilamana sudah tercapai sepakat itu, maka sahlah sudah

perjanjian itu atau mengikatlah perjanjian itu atau berlakulah ia

sebagai Undang undang bagi mereka yang membuatnya. 47

J. Satrio, menyatakan, kata sepakat sebagai persesuaian

kehendak antara dua orang di mana dua kehendak saling bertemu

dan kehendak tersebut harus dinyatakan. Pernyataan kehendak

harus merupakan pernyataan bahwa ia menghendaki timbulnya

hubungan hukum. Dengan demikian adanya kehendak saja belum

melahirkan suatu perjanjian karena kehendak tersebut harus

diutarakan, harus nyata bagi yang lain dan harus dimengerti oleh

pihak lain.48

2) Cakap untuk membuat perjanjian (bertindak)

Dalam Pasal 1329 KUH Perdata menyebutkan

bahwa setiap orang adalah cakap untuk membuat


47
Subekti, Bunga Rampai Ilmu Hukum, (Bandung: Alumni, 1992), h. 4
48
J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, (Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti Bandung, 1993), h. 129
suatu perjanjian dengan ketentuan oleh undang-

undang tidak ditentukan lain yaitu ditentukan

sebagai orang yang tidak cakap untuk membuat

suatu perjanjian.

Selanjutnya Pasal 1330 KUH Perdata menyebutkan bahwa orang

yang tidak cakap membuat perjanjian:

a) Orang yang belum dewasa


b) Mereka yang berada di bawah
pengampuan/perwalian dan
c) Orang perempuan/isteri dalam hal telah
ditetapkan oleh Undang-undang dan semua
orang kepada siapa undang-undang telah
melarang membuat perjanjian-perjanjian
tertentu.
3) Adanya suatu hal tertentu Yang dimaksud dengan

suat hal tertentu dalam suatu perjanjian ialah

objek perjanjian. Objek perjanjian adalah prestasi

yang menjadi pokok perjanjian yang

bersangkutan. Prestasi itu sendiri bisa berupa

perbuatan untuk memberikan suatu, melakukan

sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Di dalam KUH Perdata Pasal 1333 ayat (1) menyebutkan bahwa

suatu perjanjian harus mempunyai suatu hal tertentu sebagai

pokok perjanjian yaitu barang yang paling sedikit ditentukan

jenisnya. Mengenai jumlahnya tidak menjadi masalah asalkan di

kemudian hari ditentukan (Pasal 1333 ayat 2).


4) Yang dimaksud dengan sebab atau kausa di sini

bukanlah sebab yang mendorong orang tersebut

melakukan perjanjian. Sebab atau kausa suatu

perjanjian adalah tujuan bersama yang hendak

dicapai oleh para pihak,49 sedangkan

sebagaimana yang telah dikemukakan Soebekti,

adanya suatu sebab yang dimaksud tiada lain

daripada isi perjanjian.

Pada Pasal 1337 KUH Perdata menentukan bahwa suatu

sebab atau kausa yang halal adalah apabila tidak dilarang oleh

undang-undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan

kesusilaan. Perjanjian yang tidak mempunyai sebab yang tidak

halal akan berakibat perjanjian itu batal demi hukum.

Pembebanan mengenai syarat subyektif dan syarat obyektif

itu penting artinya berkenaan dengan akibat yang terjadi apabila

persyaratan itu tidak terpenuhi. Tidak terpenuhinya syarat

subyektif mengakibatkan perjanjian tersebut merupakan perjanjian

yang dapat dimintakan pembatalannya. Pihak di sini yang

dimaksud adalah pihak yang tidak cakap menurut hukum dan

pihak yang memberikan perizinannya atau menyetujui perjanjian

itu secara tidak bebas. Misalkan orang yang belum dewasa yang

memintakan pembatalan orang tua atau walinya ataupun ia sendiri

49
Sri Soedewi Masjchon, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan
dan Jaminan Perorangan, (Yogyakarta: Liberty, 1980), h. 319
apabila ia sudah menjadi cakap dan orang yang ditaruh di bawah

pengampuan yang menurut hukum tidak dapat berbuat bebas

dengan harta kekayaannya diwakili oleh pengampu atau

kuratornya. Dan apabila syarat obyektif tidak terpenuhi, maka

perjanjian itu batal demi hukum, artinya dari semula tidak pernah

dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah ada suatu perikatan.

Tujuan para pihak yang mengadakan perjanjian tersebut untuk

melahirkan suatu perikatan hukum adalah gagal. Maka tiada dasar

untuk saling menuntut di depan hakim. Perjanjian seperti itu

disebut null and void. Sedangkan tidak terpenuhinya syarat

obyektif mengakibatkan suat perjanjian batal demi hukum.

Mengenai perjanjian ini diatur dalam Buku III KUH Perdata,

peraturan-peraturan yang tercantum dalam KUH Perdata ini sering

disebut juga dengan peraturan pelengkap, bukan peraturan

memaksa, yang berarti bahwa para pihak dapat mengadakan

perjanjian dengan menyampingkan peraturan-peraturan perjanjian

yang ada. Oleh karena itu di sini dimungkinkan para pihak untuk

mengadakan perjanjian-perjanjian yang sama sekali tidak diatur

dalam bentuk perjanjian itu:

a. Perjanjian bernama, yaitu merupakan perjanjian-

perjanjian yang diatur dalam KUH Perdata. Yang

termasuk ke dalam perjanjian ini, misalnya: jual beli,

tukar menukar, sewa menyewa, dan lain-lain.


b. Perjanjian-perjanjian yang tidak teratur dalam KUH

Perdata. Jadi dalam hal ini para pihak yang

menentukan sendiri perjanjian itu. Dan ketentuan-

ketentuan yang ditetapkan oleh para pihak, berlaku

sebagai undang-undang bagi masing-masing pihak.50

c. Dalam KUHPerdata Pasal 1234, perikatan dapat

dibagi 3 (tiga) macam, yaitu:

1) Perikatan untuk memberikan atau menyerahkan


sesuatu barang
2) Perikatan untuk berbuat sesuatu
3) Perikatan untuk tidak berbuat sesuatu.

Setelah membagi bentuk perjanjian berdasarkan pengaturan

dalam KUH Perdata atau diluar KUH Perdata dan macam

Perjanjian dilihat dari lainnya, disini R. Subekti,51 membagi lagi

macam-macam perjanjian yang dilihat dari bentuknya, yaitu:

a. Perikatan bersyarat, adalah suatu perikatan yang

digantungkan pada suatu kejadian di kemudian hari,

yang masih belum tentu akan atau tidak terjadi.

Pertama mungkin untuk memperjanjikan, bahwa

perikatan itu barulah akan lahir, apabila kejadian yang

belum tentu timbul. Suatu perjanjian yang demikian

itu, mengandung adanya suatu perikatan pada suatu

syarat yang menunda atau mempertanggung

50
R. M. Suryodiningrat, Perikatan-Perikatan Bersumber Perjanjian, (Bandung: Tarsito,
1978), h. 10
51
R. Subekti, Aneka Perjanjian, (Bandung: Alumni, 1982), h. 35
jawabkan (ospchoriende voorwade). Suatu contoh

saya berjanji pada seseorang untuk membeli mobilnya

kalau saya lulus dari ujian, di sini dapat dikatakan

bahwa jual beli itu akan hanya terjadi kalau saya lulus

dari ujian.

b. Perikatan yang digantungkan pada suatu ketepatan

waktu (tijdshcpaling), perbedaan antara suatu syarat

dengan suatu ketetapan waktu ialah yang pertama

berupa suatu kejadian atau peristiwa yang belum

tentu atau tidak akan terlaksana, sedangkan yang

kedua adalah suatu hal yang pasti akan datang,

meskipun mungkin belum dapat ditentukan kapan

datangnya, misalnya meninggalnya seseorang.

c. Perikatan yang memperbolehkan memilih (alternatif)

adalah suatu perikatan, dimana terdapat dua atau

lebih macam, prestasi, sedangkan kepada si

berhutang diserahkan yang mana ia akan lakukan.

Misalnya ia boleh memilih apakah ia akan

memberikan kuda atau mobilnya atau satu juta rupiah.

d. Perikatan tanggung menanggung (hooldelijk atau

solidair) ini adalah suatu perikatan dimana beberapa

orang bersama-sama sebagai pihak yang berhutang

berhadapan dengan satu orang yang menghutangkan,


atau sebaliknya. Beberapa orang bersama-sama

berhak menagih suatu piutang dari satu orang. Tetapi

perikatan semacam belakangan ini, sedikit sekali

terdapat dalam praktek.

e. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat

dibagi, apakah suatu perikatan dapat dibagi atau tidak

tergantung pada kemungkinan tidaknya membagi

prestasi. Pada hakekatnya tergantung pula dari

kehendak atau maksud kedua belah pihak yang

membuat suatu perjanjian. Persoalan tentang dapat

atau tidaknya dibagi suatu perikatan, barulah tampil ke

permukaan. Jika salah satu pihak dalam perjanjian

telah digantikan oleh beberapa orang lain. Hal mana

biasanya terjadi karena meninggalnya satu pihak yang

menyebabkan ia digantikan dalam segala hak-haknya

oleh sekalian ahli warisnya.

f. Perikatan dengan penetapan hukum (strafbeding),

adalah untuk mencegah jangan sampai ia berhutang

dengan mudah saja melalaikan kewajibannya, dalam

praktek banyak hukuman, apabila ia tidak menepati

kewajibannya. Hukuman ini, biasanya ditetapkan

dalam suatu jumlah uang tertentu yang sebenarnya

merupakan suatu pembayaran kerugian yang sejak


semula sudah ditetapkan sendiri oleh para pihak yang

membuat perjanjian itu. Hakim mempunyai kekuasaan

untuk meringankan hukuman apabila perjanjian telah

sebahagian dipenuhi.

C. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia atas

Penunjukan Langsung Pengadaan Barang dan/atau Jasa

1. Definisi Persaingan Usaha

Persaingan usaha dan monopoli diatur secara khusus dalam

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Peraturan tersebut

dibentuk untuk dapat mengatur kegiatan yang menyebabkan

timbulnya pesaingan usaha bagi para pelaku usaha di Indonesia.

Dalam Black’s Law Dictionary, monopoli diartikan sebagai “A

privilege or peculiar advantagevested in one or more person or

companies, consisting in the exclusive right (or power) to carry on

a particular business or trade, manufacture a particular article, or

control the sale of the whole supply of a particular commodity”.52

Pengertian monopoli dalam Black Law Dictionary, lebih ditekankan

pada adanya suatu hak istimewa yang menghapuskan persaingan

bebas, yang tentu akhrnya juga menimbulkan penguasaan

52
Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, cet. 6, St, Paul-Minn, (USA: West
Publishing Co, 1990), h. 217
pasar.53 Dalam Pasal 2 Shermen Act, monopoli diartikan sebagai

“every person who shall monopolize, or attempt to monopolize, or

combine or conspire with any other person or persons, to

monopolize any part of trade or commerce among the seceral

states, or wih foreignnatin, shall be deemed guilty of a felony, and

conviction therof,…”54

Dalam Black’s Law Dictionary dikatakan bahwa “Monopoly as

prohibited by section 2 of the Sherman Antitrust Act, has two

elements:

a. Possesio of monopoly power in relevat market;

b. Willful acquisition or maintenance of that power.

Dalam hal ini jelas bahwa monopoli yang dilarang dalam section 2

Shermen Act adalah monopoli yang bertujuan untuk

menghilangkan kemampuan untuk bersaing dan memberikan

konsekuensi bahwa dimungkinkan untuk dibolehkannya monopoli

yang terjadi secara alamiah tanpa adanya kehendak dari pelaku

usaha untuk melakukan monopoli.55

Dalam Pasal 1 ayat (6) pengertian dari persaingan usaha tidak

sehat yaitu “persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan

kegiatan produksi dan/atau pemasaran barang dan atau jasa yang

dilakukan dengan cara tiak jujur atau melawan hukum atau

53
Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Hukum Anti Monopoli, Cet. 3, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2002), h. 13
54
Elyta Ras Ginting, Hukum Anti Monopoli Indonesia, Cet. 1, (Bandung: PT Citra Aditya
Bakti, 2001), h. 20
55
Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Op. Cit, h. 13
menghambar persaingan usaha”. Kelemahan dari konsep

pengertian persaingan usaha tidak sehat dalam Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah bahwa pengertian tersebut

tidak dirinci secara lebih jauh perbuatan-perbuatan apa yang

termasuk dalam persaingan usaha tidak sehat tersebut, sehingga

pengertian persaingan usaha tidak sehat yang mana selalu

menjadi kata alternatif dalam setiap Pasal selain monopoli sebagai

salah satu akibat yang timbul dari perjanjian atau perbuatan yang

dilarang, menjadi tidak jelas dan multiinterpretasi.56

2. Sejarah Hukum Persaingan Usaha di Indonesia

Sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat, secara garis besar terdapat 3 (tiga) bidang hukum yang

mana hukum persaingan usaha diatur di dalamnya.

a. Hukum Perdata

Dalam hukum perdata, permasalahan hukum

persaingan usaha diatur dalam Pasal 1365

KUHPerdata yaitu “Tiap perbuatan melanggar hukum

yang membawa kerugian pada seorang lain,

mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan

kerugian tersebut, mengganti kerugian tersebut.”

56
Elyta Ras Ginting, Hukum Anti Monopoli Indonesia, Cet. 1, (Bandung: PT Citra Aditya
Bakti, 2001), h. 21
Keberlakuan Pasal ini melihat bahwa perbuatan

melanggar persaingan usaha merupakan perbuatan

melawan hukum karena pelanggaran tersebut

membawa kerugian bagi pihak lain sehingga bagi

pihak yang dirugikan dapat menuntut ganti rugi secara

perdata maupun pidana.57

b. Hukum Ekonomi

Untuk persaingan usaha yang terdapat di hukum

ekonomi, ada beberapa peraturan yang mengatur

permasalahan persaingan usaha yang salah satunya

adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang

Perindustrian. Ketentuan mengenai persaingan usaha

di undang-undang ini secara princip juga melarang

industri-industri yang mengakibatkan terjadinya

monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, tetapi

makna dan konsep larangan tersebut dalam Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

sangatlah tidak jelas dan terfokus, sehingga

menimbulkan implikasi ketentuan-ketentuan tersebut

jarang dipraktekkan.58 Lalu terdapat di Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan

Terbatas, pada Pasal 104 ayat (1) yaitu “Perbuatan

57
Ibid
58
Ibid
hukum penggabungan, peleburan pengambilalihan

perseroan harus memperhatikan:

1) Kepentingan perseroan, pemegang saham

minoritas, dan karyawa perseroan.

2) Kepentingan masyarakat dan persaingan sehat

dalam melakukan usaha.

c. Hukum Pidana

Dalam hukum pidana, permasalahan hukum

persaingan usaha ditemui dalam Buku Kedua Titel

XXV tentang perbuatan curang Pasal 382 bis KUHP

yaitu “Barangsiapa denganmaksud untuk

menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara

melawan huku dengan memakai nama palsu atau

martabat palsu; dengan tipu muslihat, ataupun

rangkaian kebohonan, menggerakan orang lain untuk

menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau

supaya memberi utang maupun menghapuskan

piutang, diancam karena penipuan, dengan pidana

penjara paling lama 4 (empat) Tahun”.

Pasal 382 bis KUHP kurang sesuai diterapkan dalam

persaingan usaha karena dalam persaingan usaha,

perbuatan curang tidak selamanya mengandung

unsur penipuan, tetapi suatu perbuatan atau


perjanjian yang tujuan utamanya adalah untuk

meniadakan persaingan antar sesama pelaku usaha

untuk memperoleh keuntungan dari ketiadaan

persaingan tersebut.59

3. Asas-Asas Dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia

Guna memahami makna suatu aturan perundang-undangan,

perlu disimak terlebih dahulu apa asas dan tujuan dibuatnya suatu

aturan. Asas dan tujuan akan memberi refleksi bagi bentuk

pengaturan dan norma-norma yang dikandung dalam aturan

tersebut. Selanjutnya pemahaman terhadap norma-norma aturan

hukum tersebut akan memberi arahan dan mempengaruhi

pelaksanaan dan cara-cara penegakan hukum yang akan

dilakukan.60

Asas dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

sebagaimana diatur pada Pasal 2 bahwa: “Pelaku usaha di

Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan

demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antar

kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum”. Asas

demokrasi ekonomi tersebut merupakan penjabaran Pasal 33

UUD 1945 dan ruang lingkup pengertian demokrasi ekonomi yang

59
Elyta Ras Ginting, Op. Cit, h. 5-6
60
Andi Fahmi Lubis, ed, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks, (Jakarta:
Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit, 2009), h. 14
dimaksud dahulu dapat ditemukan dalam penjelasan atas Pasal

33 UUD 1945.61

Demokrasi ekonomi pada dasarnya dapat dipahami dari

sistem ekonominya sebagaimana diamanatkan dalam Undang-

Undang Dasar. Dalam Rísalah Sidang BPUPKI pada tanggal 31

Mei 1845 di Gedung Pejambon Jakarta dapat diketahui bahwa

Supomo selaku ketua Panitia Perancang UUD menolak paham

individualisme dan menggunakan semangat kekeluargaan yang

terdapat dalam masyarakat pedesaan Indonesia. Di sini ia

mengikuti ajaran filsafat idealisme kekeluargaan dari Hegel, Adam

Muller, dan Spinoza. Adam Muller adalah penganut aliran Neo-

Romantisisme Jerman, aliran yang timbul sebagai reaksi terhadap

ekses-ekses individualisme Revolusi Perancis.62

Adapun tujuan dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

sebagaimana diatur pada Pasal 3 adalah untuk:

a. menjaga kepentingan umum dan meningkatkan


efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;
b. mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui
pengaturan persaingan usaha yang sama bagi pelaku
usaha besar, pelaku usaha menengah dan pelaku
usaha kecil;
c. mencegah praktek monopoli dan/atau persaingan
usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku
usaha, dan
d. terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan
usaha.

61
Ibid
62
Saafroedin Sabar ed., Hukum Persaingan Usaha: Filosofi, Teori dan Implikasi
Penerapannya di Indonesia, Cetakan kedua, Sekretariat Negara Republik Indonesia,
1992) in Johnny Ibrahim, (Malang: Bayumedia, 2007), h.192
Dua hal yang menjadi unsur penting bagi penentuan kebijakan

(policy objectives) yang ideal dalam pengaturan persaingan di

negara-negara yang memiliki undang-undang persaingan adalah

kepentingan umum (public interest) dan efisiensi ekonomi

(economic efficiency). Ternyata dua unsur penting tersebut (Pasal

3 (a)) juga merupakan bagian dari tujuan diundangkannya

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.63

Pasal 2 dan 3 tersebut di atas menyebutkan asas dan tujuan-

tujuan utama Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Diharapkan

bahwa peraturan mengenai persaingan akan membantu dalam

mewujudkan demokrasi ekonomi sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945 (Pasal 2) dan menjamin sistem

persaingan usaha yang bebas dan adil untuk meningkatkan

kesejahteraan rakyat serta menciptakan sistem perekonomian

yang efisien (Pasal 3). Oleh karena itu, mereka mengambil bagian

pembukaan UUD 1945 yang sesuai dengan Pasal 3 Huruf (a) dan

(b) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dari struktur ekonomi

untuk tujuan perealisasian kesejahteraan nasional menurut UUD

1945 dan demokrasi ekonomi, dan yang menuju pada sistem

persaingan bebas dan adil dalam Pasal 3 Huruf (a) dan (b)

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Hal ini menandakan

adanya pemberian kesempatan yang sama kepada setiap pelaku

63
Andi Fahmi Lubis, ed, Op. Cit, h. 15
usaha dan ketiadaan pembatasan persaingan usaha, khususnya

penyalahgunaan wewenang di sektor ekonomi.64

Selaku asas dan tujuan, Pasal 2 dan 3 tidak memiliki relevansi

langsung terhadap pelaku usaha, karena kedua Pasal tersebut

tidak menjatuhkan tuntutan konkrit terhadap perilaku pelaku

usaha. Walaupun demikian, kedua Pasal tersebut harus

digunakan dalam interpretasi dan penerapan setiap ketentuan

dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Peraturan

persaingan usaha agar diinterpretasikan sedemikian rupa

sehingga tujuan-tujuan yang termuat dalam Pasal 2 dan 3 tersebut

dapat dilaksanakan seefisien mungkin. Misalnya, sehubungan

dengan penerimaan dan jangkauan dari rule of reason dalam

rangka ketentuan tentang perjanjian-perjanjian yang dilarang

(Pasal 4-16), harus diperhatikan bahwa Pasal 2 dan 3 tidak

menetapkan tujuan-tujuan yang dilaksanakan dalam bidang

sumber daya manusia, kebijakan struktural dan perindustrian.65

4. Kegiatan Yang Dilarang Dalam Persaingan Usaha di

Indonesia

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli terdapat kegiatan yang dilarang

seperti tertuang dalam BAB IV tentang Kegiatan Yang Dilarang

64
Ibid
65
Ibid
dari bagian pertama hingga bagian keempat. Hal-hal tersebut

sebagai berikut:

a. Monopoli

Monopoli merupakan masalah yang menjadi perhatian

utama dalam setiap pembahasan pembentukan

Hukum Persaingan Usaha. Monopoli itu sendiri

sebetulnya bukan merupakan suatu kejahatan atau

bertentangan dengan hukum, apabila diperoleh

dengan cara-cara yang fair dan tidak melanggar

hukum. Oleh karenanya monopoli itu sendiri belum

tentu dilarang oleh hukum persaingan usaha, akan

tetapi justru yang dilarang adalah perbuatan-

perbuatan dari perusahaan yang mempunyai

monopoli untuk menggunakan kekuatannya di pasar

bersangkutan yang biasa disebut sebagai praktek

monopoli atau monopolizing atau monopolisasi. Suatu

perusahaan dikatakan telah melakukan monopolisasi

jika pelaku usaha mempunyai kekuatan untuk

mengeluarkan atau mematikan perusahaan lain; dan

syarat kedua, pelaku usaha tersebut telah

melakukannya atau mempunyai tujuan untuk

melakukannnya.66

66
Ibid, h. 127
Sebetulnya istilah monopoly berasal dari bahasa

Inggris, yaitu monopoly dan istilah tersebut menurut

sejarahnya berasal dari bahasa Yunani, yakni “monos

polein” yang berarti sendirian menjual.159 Kebiasaan

masyarakat di Amerika menyebut monopoli sebagai

“antitrust” untuk antimonopoli atau istilah “dominasi”

yang banyak digunakan oleh orang Eropa untuk

menyebut istilah monopoli. Istilah monopoli harus

dibedakan dengan istilah monopolis yang berarti

orang yang menjual produknya secara sendirian

(monopolist).67

Pengertian monopoli selalu dikaitkan dengan

monopoli dalam perspektif ekonomi, tetapi monopoli

dalam perspektif hukum pun juga acapkali digunakan

dalam literatur. Sebetulnya pasar persaingan

sempurna dapat ditempatkan pada satu sisi dan

sekaligus disebut sebagai sisi yang ekstrim, dan posisi

monopoli merupakan sisi sebaliknya dari pasar

persaingan sempurna.68

Pengertian monopoli secara umum adalah jika ada

satu pelaku usaha (penjual) ternyata merupakan satu-

satunya penjual bagi produk barang dan jasa tertentu,

67
Ibid
68
Ibid, h. 127-128
dan pada pasar tersebut tidak terdapat produk

substitusi (pengganti). Akan tetapi karena

perkembangan jaman, maka jumlah satu (dalam

kalimat satu-satunya) kurang relevan dengan kondisi

riil di lapangan, karena ternyata banyak usaha industri

yang terdiri lebih dari satu perusahaan mempunyai

perilaku seperti monopoli.69

Berdasarkan kamus Ekonomi Collins yang dimaksud

dengan monopoli adalah “salah satu jenis struktur

pasar yang mempunyai sifat-sifat, bahwa satu

perusahaan dengan banyak pembeli, kurangnya

produk substitusi atau pengganti serta adanya

pemblokiran pasar (barrier to entry) yang tidak dapat

dimasuki oleh pelaku usaha lainnya”.70

Demikian pula Black’s Law Dictionary memberikan

definisi tentang monopoli dari segi yuridis sebagai

berikut “Monopoly is a privilege or peculiar advantage

vested in one or more persons or companies,

consisting in the exclusive right (or power) to carry out

on a particular business or trade, manufacture a

69
Ibid, h. 128
70
Elyta Ras Ginting, Op. Cit, h. 19
particular article, or control the sale of the whole

supply of a particular commodity”.71

Sedangkan berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 yang dimaksud dengan

monopoli adalah “penguasaan atas produksi dan atau

pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa

tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok

pelaku usaha “

b. Monopsoni

Jika dalam hal monopoli, seorang atau satu kelompok

usaha menguasai pangsa pasar yang besar untuk

menjual suatu produk, maka istilah monopsoni,

dimaksudkan sebagai seorang atau satu kelompok

usaha yang menguasai pangsa pasar yang besar

untuk membeli suatu produk, atau acapkali monopsoni

itu identik dengan pembeli tunggal atas produk barang

maupun jasa tertentu. Dalam teori ekonomi

disebutkan pula, bahwa monopsoni merupakan

sebuah pasar dimana hanya terdapat seorang

pembeli atau pembeli tunggal. Dalam pasar

monopsoni, biasanya harga barang atau jasa akan

71
Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, cet. 6, St, Paul-Minn, (USA: West
Publishing Co, 1990), h. 52
lebih rendah dari harga pada pasar yang kompetitif. 72

Biasanya pembeli tunggal ini pun akan menjual

dengan cara monopoli atau dengan harga yang tinggi.

Pada kondisi inilah potensi kerugian masyarakat akan

timbul karena pembeli harus membayar dengan harga

yang mahal dan juga terdapat potensi persaingan

usaha yang tidak sehat.73

Ketentuan mengenai monopsoni pada Pasal 18 ayat

(1) dirumuskan secara Rule of Reason. Kebalikan dari

monopoli dimana satu atau satu kelompok penjual

menguasai pasar, maka dalam monopsoni, satu atau

satu kelom penerima atau pembeli barang yang

menguasai pasar. Kemudian Pasal 18 ayat (2)

berbunyi “Pelaku usaha patut diduga atau dianggap

menguasai penerimaan pasokan atau menjadi

pembeli tunggal sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) apabila satu pelaku usaha atau satu kelompok

pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh

persen) satu jenis barang atau jasa tertentu.

c. Penguasaan pasar

Penguasaan pasar atau dengan kata lain menjadi

penguasa di pasar merupakan keinginan dari hampir


72
Andi Fahmi Lubis, ed, Op. Cit, h. 136
73
R. Sheyam Khemani and D. M. Shapiro, Glossary af Industrial Organisation Economics
and Competition Law, (Paris: OECD, 1996), h. 51.
semua pelaku usaha, karena penguasaan pasar yang

cukup besar memiliki korelasi positif dengan tingkat

keuntungan yang mungkin bisa diperoleh oleh pelaku

usaha. Untuk memperoleh penguasaan pasar ini,

pelaku usaha kadangkala melakukan tindakan-

tindakan yang bertentangan dengan hukum Kalau hal

ini yang terjadi, maka mungkin saja akan berhadapan

dengan para penegak hukum karena melanggar

ketentuan-ketentuan yang ada dalam Hukum

Persaingan Usaha.74

Walaupun Pasal ini tidak merumuskan berapa besar

penguasaan pasar atau berapa pangsa pasar suatu

pelaku usaha, namun demikian suatu perusahaan

yang menguasai suatu pasar pasti mempunyai posisi

dominan di pasar.75

Permasalahan mengenai penguasaan pasar diatur

dalam Pasal 19, Pasal 20, dan Pasal 21 Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan

Usaha Tidak Sehat yaitu “pelaku usaha dilarang


74
Andi Fahmi Lubis, ed, Op. Cit, h. 138
75
Departemen Perindustrian dan Perdagangan dan GTZ, Undang-Undang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, 2000, h. 273
melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik sendiri

maupun bersama pelaku usaha lain, yang dapat

mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau

persaingan usaha tidak sehat” berupa:

1) Menolak dan atau menghalangi pelaku usaha


tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang
sama pada pasar bersangkutan, atau
2) Menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku
usaha pesaingnya untuk tidak melakukan usaha
dengan pelaku usaha pesaingnya; atau
3) Membatasi peredaran dan atau penjualan barang
dan atau jasa pada pasar bersangkutan; atau
4) Melakukan praktek diskriminasi terhadap pelaku
usaha tertentu.

Kemudian, Pasal 20 Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak sehat berbunyi “Pelaku

usaha dilarang melakukan pemasokan barang dan

atau jasa dengan cara melakukan jual rugi atau

menetapkan harga yang sangat rendah dengan

maksud untuk menyingkirkan atau mematikan usaha

pesaingnya di pasar bersangkutan sehingga dapat

mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau

persaingan usaha tidak sehat”.

Lalu pada Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak sehat berbunyi “Pelaku

usaha dilarang melakukan kecurangan dalam


menetapkan biaya produksi dan biaya lainnya yang

menjadi bagian dari komponen harga barang danatau

jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan

usaha tidak sehat”.

d. Persekongkolan

Persekongkolan mempunyai karakteristik tersendiri,

karena dalam persekongkolan (conspiracy/konspirasi)

terdapat kerjasama yang melibatkan dua atau lebih

pelaku usaha yang secara bersama-sama melakukan

tindakan melawan hukum.76 Persekongkolan

merupakan suatu perjanjian yang konsekuensinya

adalah perilaku yang saling menyesuaikan

(conspiracy is an agreement which has consequence

of concerted action).77

Secara yuridis pengertian persekongkolan usaha ini

diatur dalam Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang Nomor

5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, yakni “sebagai

bentuk kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha

dengan pelaku usaha lain dengan maksud untuk

menguasai pasar bersangkutan bagi kepentingan

pelaku usaha yang bersekongkol“. Bentuk kegiatan


76
Andi Fahmi Lubis, ed, Op. Cit, h. 146
77
Knud Hansen, Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat (Katalis-Publishing – Media Services, 2002), h. 323-324
persekongkolan ini tidak harus dibuktikan dengan

adanya perjanjian, tetapi bisa dalam bentuk kegiatan

lain yang tidak mungkin diwujudkan dalam suatu

perjanjian”.

Terdapat 3 (tiga) bentuk kegiatan persekongkolan

yang dilarang oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat, yaitu persekongkolan

tender (Pasal 22), persekongkolan untuk

membocorkan rahasia dagang (Pasal 23), serta

persekongkolan untuk menghambat perdagangan

(Pasal 24).

Persekongkolan tender secara khusus diatur dalam

Pasal 22 UU Nomor 5 Tahun 1999, yang berbunyi

“bahwa pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan

pihak lain untuk mengatur dan/atau menentukan

pemenang tender, sehingga dapat mengakibatkan

terjadinya persaingan usaha tidak sehat“. Oleh karena

itu yang dilarang dalam Pasal 22 Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah

persekongkolan (conspiracy dan collusion) antara

pelaku usaha dengan pihak lain dalam penentuan


pemenang tender, yakni melalui pengajuan untuk

menawarkan harga dalam memborong suatu

pekerjaan atau juga pengajuan penawaran harga

untuk pengadaan barang dan jasa-jasa tertentu.

Akibat dari persekongkolan dalam menentukan siapa

pemenang tender ini, seringkali timbul suatu kondisi

“barrier to entry” yang tidak menyenangkan atau

merugikan bagi pelaku usaha lain yang samasama

mengikuti tender (peserta tender) yang pada

gilirannya akan mengurangi bahkan meniadakan

persaingan itu sendiri.78 Pada Pasal 22 tersebut,

menganggap adanya persekongkolan tender

bergantung pada 2 (dua) kondisi, yaitu para pihak

tersebut harus berpartisipasi dan menyepakati

kegiatan kolusi secara bersama-sama.79

Terdapat 3 (tiga) jenis persekongkolan tender dalam

Peraturan Komisi Persaingan Usaha Nomor 2 Tahun

2010 tentang Pedoman Pasal 22 tentang Larangan

Persekongkolan Dalam Tender Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, yaitu:

1) Persekongkolan tender secara horizontal.


78
Andi Fahmi Lubis, ed, Op. Cit, h. 151
79
Anna Maria Tri Angraini, Sinergi BUMN Dalam Pengadaan Barang dan/atau Jasa
Dalam Perspektif Persaingan Usaha, Op. Cit, h.451
Persekongkolan ini terjadi antara pelaku usaha
dengan sesama pelaku usaha dengan cara
menciptakan persaingan semu diantara peserta
tender;
2) Persekongkolan Secara Vertikal
Persekongkolan ini terjadi antara salah satu atau
beberapa pelaku usaha dengan panitia tender
atau pemilik atau pemberi pekerjaan;
3) Persekongkolan Vertikal dan Horizontal
Merupakan persekongkolan antara panitia tender
atau pemilik pekerjaan dengan pelaku usaha yang
melibatkan dua atau tiga pihak terkait proses
tender. Bentuk persekongkolan ini adalah tender
fiktif, dimana baik panitia tender pemberi
pekerjaan, maupun pelaku usaha melakukan
proses tender hanya secara administratif dan
tertutup.

5. Sanksi Dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia

Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

menetapkan 2 (dua) macam sanksi yaitu sanksi administratif dan

sanksi pidana yang terdiri dari pidana pokok dan pidana

tambahan. Menurut Black’s Law Dictionary, sanction (sanksi)

adalah “a penalty or coercive measure that results from failure to

comply with a law, rule, or order (a sanction for discovery abuse)”

atau sebuah hukuman atau tindakan memaksa yang dihasilkan

dari kegagalan untuk mematuhi undang-undang.80

Di Amerika Serikat penanganan kartel di sana mengacu pada

perspektif hukum pidana, Sebagaimana diatur dalam Section. 1

Sherman Act, praktik kartel merupakan kejahatan yang diancam

80
Samsul Ramli dan Fahrurrazi, Bacaan Wajib Swakelola Pengadaan Barang/Jasa,
(Jakarta: Visimedia Pustaka, 2014), h. 191.
dengan pidana denda maksimal USD 100 juta jika dilakukan oleh

korporasi, dan pidana denda maksimal USD 1 juta dan/atau 28

pidana penjara maksimal 10 (sepuluh) Tahun bagi individu yang

melakukan atau terlibat dalam kartel.81

Menurut Hans Kelsen, sanksi didefinisikan sebagai reaksi

koersif masyarakat atas tingkah laku manusia (fakta sosial) yang

mengganggu masyarakat. Setiap sistem norma dalam pandangan

Hans Kelsen selalu bersandar pada sanksi. Esensi dari hukum

adalah organisasi dari kekuatan, dan hukum bersandar pada

sistem paksaan yang dirancang untuk menjaga tingkah laku sosial

tertentu. Dalam kondisi-kondisi tertentu digunakan kekuatan untuk

menjaga hukum dan ada sebuah organ dari komunitas yang

melaksanakan hal tersebut. Setiap norma dapat dikatakan “legal”

apabila dilekati sanksi, walaupun norma itu harus dilihat

berhubungan dengan norma yang lainnya.82

Kebijakan di Amerika Serikat mengartikan leniency sebagai:

“not charging such a firm or such an individual criminally for the

activity being reported”. Berdasarkan pemahaman tersebut, hanya

dikenal satu jenis leniency di Amerika Serikat yaitu yang berupa

pembebasan (amnesti) dari sanksi pidana. Leniency diberikan

kepada anggota kartel yang mengadukan atau memberikan

81
Christina Aryani, Studi Komparatif Leniency Program Untuk Pembuktian Kartel Dalam
Antitrust Law Di Amerika Serikat Dan Antimonopoly Law Di Jepang, (Depok: FH UI,
2012). h. 61-62
82
Antonius Cahyadi dan E. Fernando M. Manullang, Pengantar Ke Filsafat Hukum,
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 84
kesaksian akan praktik kegiatan kartel kepada otoritas persaingan

usaha. Dengan menjadi pemohon pertama yang mengajukan

leniency, pelaku kartel dapat memperoleh pembebasan dari

ancaman sanksi pidana Sherman Act.83

Sanksi yang diterapkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha

Tidak Sehat adalah:

a. Sanksi Administratif
Sanksi administratif merupakan satu tindakan yang
dapat diambil oleh Komisi terhadap pelaku usaha
yang melanggar UU No 5 Tahun 1999. Sanksi
administratif ini diatur dalam Pasal 47, yang berupa:
1) Penetapan pembatalan perjanjian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 sampai 13, Pasal 15 dan
Pasal 16;
2) Perintah untuk menghentikan integrasi vertikal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14;
3) Perintah untuk menghentikan penyalahgunaan
posisi dominan;
4) Penetapan pembatalan atas penggabungan atau
peleburan badan usaha dan pengambilalihan
saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28;
5) Penetapan pembayaran ganti rugi;
6) Pengenaan denda minimal Rp 1.000.000.000,-
(satu miliar rupiah) dan setinggi tingginya Rp
25.000.000.000,- (dua puluh lima miliar rupiah).
b. Sanksi Pidana
Pasal 48 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat menentukan bahwa sanksi pidana
pokok meliputi pidana denda minimal Rp
25.000.000.000,- dan maksimal Rp.100.000.000.000,.

83
Sanksi pidana dalam ketentuan ini adalah berdasarkan perubahan terakhir pasca
diundangkannya Antitrust Criminal Penalty Enhancement and Reform Act 2004 (Public
Law 108- 237, Section. 213(b)), yang berlaku efektif sejak 22 Juni 2004. Undang-undang
ini meningkatkan jumlah sanksi pidana Sherman Act, dimana pidana penjara dari yang
semula selama 3 Tahun diubah menjadi selama 10 Tahun, dan pidana denda
maksimum, yang semula $350,000 untuk individu ditingkatkan menjadi $1,000,000 dan
yang semula $10,000,000 untuk korporasi ditingkatkan menjadi $100,000,000.
Pidana denda tersebut dapat diganti dengan pidana
kurungan selama lamanya 6 bulan. Sanksi pidana ini
diberikan oleh pengadilan (bukan merupakan
kewenangan Komisi) apabila:
1) Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4,
9-14, 16-19, 25, 27, dan 28. Pelaku diancam
dengan pidana serendah rendahnya Rp.
25.000.000.000 (dua puluh lima miliar rupiah) dan
setingi tingginya Rp. 100.000.000.000 (seratus
miliar rupiah) atau pidana kurungan pengganti
denda selama lamanya 6 bulan.
2) Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5-
8, 15, 20-24 dan 26. Pelaku diancam pidana
denda serendah rendahnya Rp. 5.000.000.000,-
dan setinggi tingginya Rp 25.000.000.000,- atau
pidana kurungan pengganti denda selama
lamanya 5 bulan.
3) Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 41.
Ancaman pidananya adalah serendah rendahnya
Rp. 1.000.000.000,- dan setinggi tingginya Rp
5.000.000.000,- atau pidana kurungan pengganti
denda selama lamanya 3 bulan.
c. Pidana Tambahan
Pasal 49 UU Nomor5/1999 menentukan bahwa
pidana tambahan yang dapat dijatuhkan terhadap
pelaku usaha dapat berupa:
1) Pencabutan ijin usaha, atau
2) Larangan kepada pelaku usaha yang telah
terbukti melakukan pelanggaran terhadap UU ini
untuk menduduki jabatan direksi atau komisaris
sekurang kurangnya 2 Tahun, atau
3) Penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang
menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain.

Dalam menegakkan sanksi-sanksi tersebut

dibutuhkan koordinasi efektif dengan pihak-pihak

terkait, seperti Polri, Kejaksaan, dan Komisi

Pemberantasan Korupsi. Hal ini mengingat bahwa

praktek persekongkolan dalam pengadaan barang


dan jasa pemerintah kadang kala mengandung unsur

korupsi.84

Di dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 5

Tahun 1999 disebutkan bahwa Komisi hanya

berwenang menjatuhkan sanksi administratif,

sedangkan yang berwenang menjatuhkan sanksi

pidana adalah pengadilan. Suatu perkara yang

ditangani oleh KPPU dapat kemudian diserahkan

kepada penyidik dan karenanya dapat dijatuhi pidana

dalam hal:

a) Pelaku usaha tidak menjalankan putusan


Komisi yang berupa sanksi administratif
(Pasal 44 ayat (4));
b) Pelaku usaha menolak untuk diperiksa,
menolak memberikan informasi yang
diperlukan dalam penyelidikan dan atau
pemeriksaan, atau menghambat proses
penyelidikan dan atau pemeriksaan (Pasal
41 ayat (2)).

Terhadap kedua pelanggaran tersebut, Komisi

menyerahkan kepada penyidik untuk dilakukan

penyidikan. Putusan Komisi merupakan bukti

permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan

penyidikan (Pasal 41 ayat (3) jo Pasal 44 ayat (5)).

d. Class Action85

84
Susanti Adi Nugroho, Persaingan Usaha Tidak Sehat, Hukum Persaingan Usaha di
Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2012), h 378
85
Andi Fahmi Lubis, Op. Cit, h. 345
Dalam putusan perkara Temasek sebagai dampak

dari putusan KPPU, maka terjadi beberapa gugatan

kelompok (class action) dibeberapa daerah di

Indonesia. Keadaan ini telah memberikan beberapa

wacana baru dalam penegakan hukum persaingan

usaha di Indonesia. Sebagaimana di beberapa negara

lain, hukum juga melalui Peraturan Mahkamah Agung

telah mengatur beberapa hal dalam gugatan

kelompok.86

Class action diartikan sebagai gugatan yang diajukan

oleh satu atau beberapa orang yang bertindak

sebagai wakil kelompok (class representative) untuk

dan atas nama kelompok tanpa mendapatkan surat

kuasa dari yang diwakilinya namun dengan

mendefinisikan identifikasi anggota kelompok secara

spesifik. Anggota kelompok tersebut mempunyai

kesamaan fakta yang mengakibatkan adanya

kesamaan kepentingan dan penderitaan.87

6. Contoh Kasus Pelanggaran Hukum Persaingan Usaha di

Indonesia

Terdapat laporan tentang dugaan terhadap Pasal 19 huruf (d)

dan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang


86
Andi Fahmi Lubis, Op. Cit, h. 345
87
M Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan,
Pembuktian dan Putusan Pengadilan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), h. 876
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

yang diproses oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

dalam perkara “Tender Pengadaan Pipa Untuk Proyek Transmisi

Jalur Lepas Pantai Labuhan Maringgai – Muara Bekasi Untuk

Proyek Pipanisasi Gas South Sumatra – West Java (SSWJ)

Tahap II PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk dengan

Nomor perkara 22/KPPU/-L/2005.88

Dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh PT Perusahaan

Gas Negara (Persero), Tbk, PT South East Asia Pipe Industries

(SEAPI), PT Bakrie & Brothers, Welspun Gujarat Stahl Rohren

Pte. Ltd (Welspun), Daewoo Intenational Coporation (Daewoo),

Det Norske Veritas Pte. Ltd (DNV Singapore), dan PT Cipta

Dekatama Tastek (Cipta Dekatama). Bahwa bentuk pelaporan

yang diterima oleh KPPU adalah:

a. Penunjukan Konsorsium SEAPI-Welspun sebagai


pemenang tender dalam tender pengadaan pipa
offshore South Sumatera – West Java (SSWJ) Tahap
II paket Labuhan Maringgai – Muara Bekasi dilakukan
dengan cara yang tidak sah;
b. Bahwa PGN melakukan diskriminasi dengan tidak
melakukan inspeksi terhadap seluruh peserta tender.

Dugaan pelanggaran tersebut ditindaklanjuti melalui Penetapan

Komisi Nomor 45/PEN/KPPU/XII/2005 tanggal 15 Desember 2005

tentang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor: 22/KPPU-

88
Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Perkara Nomor 22/KPPU-L/2005
Tentang Penunjukan Langsung Dalam pengadaan pipa untuk proyek transmisi gas jalur
lepas pantai Labuhan Maringgai – Muara Bekasi untuk proyek pipanisasi gas South
Sumatera – West Java (SSWJ) tahap II PT. Perusahaan Gas Negara (Persero),Tbk,
tanggal 18 Juli 2006
L/2005, untuk melakukan Pemeriksaan Pendahuluan terhitung

sejak tanggal 15 Desember 2005 sampai dengan 26 Januari 2006.

Setelah dilakukan proses indikasi atas dugaan pelanggaran yang

dilakukan oleh PGN, KPPU menemukan indikasi pelanggaran

sebagai berikut:

a. Pembentukan Konsorsium SEAPI-Welspun;


1. Bahwa dalam proses tender ulang, SEAPI
membentuk konsorsium dengan Welspun yang
masing-masing merupakan peserta tender yang
bersaing pada tender pertama;
2. Bahwa pada tender pertama, SEAPI membentuk
konsorsium dengan Daewoo, sedangkan Welspun
bekerjasama dengan PT. Abadi Kuasa Karya;
3. Bahwa perubahan konsorsium yang dilakukan
oleh SEAPI dan Welspun dalam tender ulang
bertentangan dengan Perjanjian Konsorsium
antara SEAPI dan Daewoo;
4. Bahwa Konsorsium SEAPI-Welspun tidak
terdaftar sebagai peserta dalam tender pertama,
sehingga seharusnya tidak dapat mengikuti
proses tender ulang karena Panitia Tender hanya
mengundang 21 perusahaan yang membeli
dokumen tender pada tender pertama;
b. Nilai Penawaran Konsorsium SEAPI-Welspun
1. Bahwa dalam tender pertama, harga penawaran
Konsorsium SEAPIDaewoo adalah yang paling
tinggi dibandingkan dengan peserta lain dan di
atas Owner Estimate (OE);
2. Bahwa dalam tender ulang, harga penawaran
Konsorsium SEAPIWelspun lebih rendah dari
harga penawaran Konsorsium SEAPIDaewoo dan
lebih tinggi dari harga penawaran Welspun di
tender pertama;
3. Bahwa harga penawaran yang diajukan oleh
Konsorsium SEAPIWelspun pada tender ulang
lebih tinggi dari nilai OE pada tender pertama;
c. Penunjukan DNV Singapore sebagai konsultan untuk
melakukan inspeksi;
1) Bahwa DNV Singapore adalah konsultan yang
ditunjuk PGN untuk menyusun spesifikasi teknis
dan conceptual design dalam dokumen tender;
2) Bahwa untuk melakukan evaluasi pada tender
pertama, PGN menunjuk PT. Tripatra Engineering
sebagai Project Management Consultant (PMC);
3) Bahwa pada saat proses evaluasi tender pertama
berlangsung, PGN kemudian menunjuk DNV
Singapore untuk melakukan inspeksi kepada
pabrik pipa dan pabrik plat yang diajukan oleh
para peserta tender;
4) Bahwa penunjukan DNV Singapore dilakukan
tanpa melalui proses tender;
d. PGN tidak melakukan inspeksi terhadap semua pabrik
pipa dan pabrik plat peserta tender;
1) Bahwa dalam tender pertama dan tender ulang,
PGN tidak melakukan inspeksi tehadap semua
pabrik pipa dan pabrik plat yang diajukan oleh
peserta tender;
2) Bahwa salah satu pabrik peserta tender yang
tidak diinspeksi adalah SEAPI karena dianggap
telah memenuhi persyaratan kualifikasi DNV OSF-
101 2000 berdasarkan pengalaman (past record
experience) pada proyek Kuala Tungkal-Panaran
untuk pembangunan jalur pipa offshore PGN;
3) Pengguguran Seluruh Peserta dalam Tender
Pertama;
Bahwa keputusan PGN untuk melakukan tender
ulang didasarkan pada alasan tidak adanya
peserta tender yang memenuhi persyaratan
administrasi, teknis dan harga. Namun keputusan
untuk melakukan tender ulang tidak disertai
pemberitahuan mengenai alasan masing-masing
peserta dinyatakan gugur.

Dari indikasi yang dikaji oleh KPPU, terdapat analisa dan

ketentuan normatif yang digunakan oleh Majelis Komisi KPPU

untuk perkara Nomor 22/KPPU-L/2005 yaitu:

a. Prinsip-prinsip Dasar:
1) Bahwa prinsip dasar dari penyelenggaraan tender
pengadaan barang dan jasa adalah untuk
mendapatkan barang atau jasa dengan kualitas
yang memenuhi syarat dengan harga yang
kompetitif (economic reason);
2) Bahwa berdasarkan prinsip tersebut, apabila
terdapat beberapa produk yang ditawarkan
memenuhi persyaratan, maka akan dipilih produk
dengan harga yang paling murah;
3) Bahwa Majelis Komisi memperhatikan ide dasar
pelaksanaan tender adalah untuk menjembatani
keinginan purchaser/bohir untuk dapat membeli
barang yang memenuhi syarat dengan harga
termurah dengan memberikan wewenang kepada
Panitia Tender untuk menyelenggarakan tender;
4) Bahwa tugas utama Panitia Tender adalah
melakukan seleksi dan menilai apakah peserta
memenuhi persyaratan yang telah ditentukan
Panitia Tender akan menjalankan konsep tender
sewajarnya dengan harapan dapat memfasilitasi
keinginan purchaser;
5) Bahwa kewajaran penyelenggaraan tender dapat
dinilai antara lain dari segi persamaan perlakuan
(equal treatment) terhadap seluruh peserta tender,
efektif dan efisien, kewajaran dan transparansi
dalam melakukan evaluasi;
6) Bahwa penunjukan pemenang yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan (tidak mempunyai
economic reason), dapat dipertimbangkan
sebagai petunjuk adanya rekayasa dalam proses
tender;
7) Bahwa penunjukan peserta dengan nilai
penawaran yang lebih tinggi sebagai pemenang
dapat dikategorikan sebagai tidak dapat
dipertanggungjawabkan apabila terdapat peserta
lain yang memenuhi persyaratan atau responsif,
dan menawarkan harga yang lebih rendah.
b. Ketentuan Normatif dalam Pengadaan Barang
dan/atau Jasa
1) Bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor
12 Tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan
(Persero), PGN sebagai Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) dapat mengatur sendiri tata cara
pengadaan barang/jasa dengan tetap
memperhatikan ketentuan umum yang berlaku;
2) Bahwa dalam hal ini ketentuan umum tentang
pengadaan barang/jasa dimaksud adalah
Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2000
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Instansi Pemerintah;
3) Bahwa dalam rangka mengatur sendiri prosedur
pengadaan barang/jasa, PGN mengeluarkan
Keputusan Direksi Nomor 065.K/92/750/2002
tentang Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa;
4) Bahwa dengan demikian, yang menjadi acuan
normatif berkaitan dengan prosedur pengadaan
barang/jasa dalam perkara ini adalah Keputusan
Direksi PGN Nomor 065.K/92/750/2002;
5) Bahwa untuk hal-hal yang tidak diatur dalam
keputusan Direksi tersebut di atas, berpedoman
pada ketentuan yang berlaku.

Dengan analisa dan ketentuan normatif yang dilakukan oleh

KPPU berdasarkan keterangan, bukti dan fakta-fakta, selanjutnya

KPPU menyatakan bahwa pada kasus ini dipertimbangkan

tentang keterkaitan dugaan kasus dengan Pasal 19 huruf (d) dan

Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Dalam hal ini, menurut hasil analisa KPPU, terdapat hal-hal

yang dinyatakan memenuhi unsur sebagai pelaku usaha dalam

Pasal 1 ayat (5). Bahwa terdapat unsur diskriminatif yang

dilakukan PGN yaitu pertama untuk penunjukan kepada DNV

Singapore tanpa melalui proses tender, kedua tindakan Panitia

Tender yang merekomendasikan 6 (enam) perusahaan sebagai

plate supplier dalam tender ulang; dan ketiga yaitu Tindakan

Panitia Tender yang tidak melakukan aanwijzing dalam proses

tender ulang. PGN juga dinyatakan melanggar Pasal 1 ayat (6)

tentang persaingan usaha tidak sehat karena melakukan cara

tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan

usaha.
Dengan dasar-dasar tersebut, maka KPPU memutuskan

bahwa PGN dinyatakan secara sah dan meyakinkan melanggar

ketentuan Pasal 19 huruf (d) Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha

Tidak Sehat dengan memerintahkan kepada PGN untuk:

a. menghentikan kerjasama dengan Terlapor VII (DNV


Singapore) dalam pekerjaan konsultan dalam Tender
Pengadaan Pipa Untuk Proyek Transmisi Gas Jalur
Lepas Pantai Labuhan Maringgai – Muara Bekasi
untuk Proyek Pipanisasi Gas South Sumatera West
Java (SSWJ) Tahap II PT. Perusahaan Gas Negara
(Persero), Tbk;
b. Memerintahkan Terlapor I (PGN) untuk melaksanakan
secara konsisten peraturan pengadaan barang dan
atau jasa sesuai dengan Keputusan Direksi PGN
dan/atau peraturan lain yang menyangkut pengadaan
barang dan atau jasa;
c. Memerintahkan kepada Direktur Utama PGN agar
memberikan tindakan administratif kepada Project
Manager SSWJ IV, Jobi Triananda atas
tindakantindakan yang dilakukan olehnya.

Dari uraian contoh kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa

persekongkolan yang dilakukan dengan cara penunjukan

langsung berdampak terhadap dilanggarnya ketentuan Pasal 19

huruf (d) tentang disrkriminasi. PT Perusahaan Gas Negara

(Persero), Tbk yang berbentuk badan hukum serta berstatus

sebagai Badan Usaha Milik Negara, tetap wajib mematuhi dan

melaksanakan ketentuan peraturan hukum tentang persaingan

usaha tidak sehat, kecuali bila dikesampingkan atas dasar

perintah langsung dari peraturan perundang-undangan

sebagaimana diatur dalam Pasal 50 Undang-Undang Nomor 5


Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan

Usaha Tidak Sehat.


BAB III

PROFIL UMUM DAN SISTEM PENGADAAN BARANG

DAN/ATAU JASA OLEH BADAN USAHA MILIK NEGARA

PADA PT X, PT Y DAN PT Z

A. PROFIL UMUM ATAS BADAN USAHA MILIK NEGARA PADA PT X,

PT Y DAN PT Z

1. Profil Badan Usaha Milik Negara PT X

Badan Hukum Milik Negara yang dimiliki oleh negara dengan

nama PT X adalah sebuah perusahaan yang berbentuk perseroan

terbuka. Penjelasan perseroan terbuka sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003

tentang Badan Usaha Milik Negara yaitu Perusahaan Perseroan

Terbuka, yang selanjutnya disebut Persero Terbuka, adalah

Persero yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi

kriteria tertentu atau Persero yang melakukan penawaran umum

sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pasar

modal. Perusahaan berdiri pada Tahun 2 Agustus 1976 dengan

bidang usaha berupa penambangan timah dan produsen logam

timah yang memiliki izin usaha pertambangan (IUP) timah seluas

473. 303 hektar di darat dan lepas pantai kepulauan Bangka,

Belitung dan Kundur, Kepulauan Riau di Indonesia. Kepemilikan


perusahaan tersebut yaitu 65% (enam puluh lima persen) dimiliki

oleh Pemerintah dan 35% (tiga puluh lima persen) dimiliki oleh

masyarakat umum.

Perusahaan ini berdiri dengan modal dasar yang ditempatkan

sebesar Rp 500.000.000.000 yang terdiri dari saham seri A dan

9.999.999.999 saham seri B dengan modal ditempatkan dan

disetor penuh Rp 372.388.000.000 yang terdiri dari 7.447.753.454

saham. Saham perseroan dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia

(d/h. Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya) dan Bursa

Efek London pada tanggal 19 Oktober 1995. Perusahaan ini

memiliki visi yaitu menjadi perusahaan pertambangan terkemuka

di dunia yang ramah lingkungan dan misi yaitu yang pertama,

membangun sumber daya manusia yang tangguh, unggul, dan

bermartabat, kedua, melaksanakan tata kelola penambangan

yang baik dan benar, ketiga, mengoptimalkan nilai perusahaan

dan kontribusi terhadap pemegang saham serta tanggung jawab

sosial.

Kegiatan usaha PT X adalah:

a) Eksplorasi
b) Penambangan Darat dan Laut
c) Pengolahan dan Peleburan
d) Produk Timah
e) Produk Non-Timah

PT X melakukan pemasaran atas kegiatan usahanya 95%

(Sembilan puluh lima persen) untuk memenuhi pasar di luar negeri


(ekspor) dan sekitar 5% (lima persen) untuk memenuhi pasar

domestik. Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor timah

antara lain Asia yang meliputi Korea, Jepang, Taiwan, Tiongkok,

dan Singapura. Untuk Wilayah Eropa meliputi Inggris, Belanda,

Perancis, Spanyol, Italia, serta wilayah Amerika dan Kanada.

Pendistribusian produk timah untuk ekspor dilakukan melalui

pelabuhan Singapura, sedangkan untuk pasar domestik

dilaksanakan langsung melalui gudang yang ada di Jakarta.

Adapun tipe pembeli logam timah dibedakan dalam kelompok

pengguna langsung (end user), seperti pabrik, industri solder,

industri pelat timah dan pedagang distributor.

2. Profil Badan Usaha Milik Negara PT Y

Badan Usaha Milik Negara yang selanjutnya PT Y adalah

sebuah perusahaan yang berdiri pada tanggal 19 Oktober 1991

dengan dasar hukum pendirian yaitu Peraturan Pemerintah Nomor

59 Tahun 1991. Perusahaan ini mengalami perubahan bentuk

menjadi Perseroan Terbatas pada 19 Oktober 1991 setelah

sebelumnya berstatus sebagai Perusahaan Umum (Perum).

Bidang usaha yang dilakukan oleh PT Y adalah

penyelenggara dan pengusahaan jasa kepelabuhan. PT Y

memiliki 3 (tiga) anak perusahaan, 1 (satu) kantor perwakilan, 16

(enam belas) kantor cabang, 3 (tiga) unit pelayanan kepelabuhan

dan 2 (dua) terminal petikemas. Jumlah karyawan yang dimiliki


oleh PT Y yaitu 1.669 karyawan. Kepemilikan atas saham PT Y

dimiliki oleh pemerintah sebesar 100%. Dengan modal dasar Rp

1.400.000.000.000 dan modal disetor dan ditempatkan sebesar

Rp 2.912.132.000.000.

Visi dari PT Y adalah menjadi perusahaan yang bernilai dan

berdaya tarik tinggi melalui proses dan pelayanan unggul dengan

orang-orang yang bahagi dan misi PT Y yaitu Menjadi penggerak

dan pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia Tengah dan

Timur, Memberikan tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi,

Tingkat kepuasan dan keterikatan pegawai terus meningkat,

Menjadi mitra usaha yang terpercaya dan menguntungkan,

Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha 20% setiap tahun dan

menjadi public company tahun 2018.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 59

tanggal 19 Oktober 1991, Pasal 2 tentang Maksud dan Tujuan

Pendirian Perseroan, serta Akta Perubahan Anggaran Dasar

Nomor 157 tanggal 23 April 1998, yang diikuti dengan Pernyataan

Keputusan Rapat tentang Perubahan Anggaran Dasar Perseroan

PT Y Nomor 4 tanggal 15 Agustus 2008, Pasal 3, bahwa maksud

dan tujuan Perseroan adalah melakukan usaha di bidang

penyelenggaraan dan pengusahaan kepelabuhanan, serta

optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Perseroan

untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi


dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan

guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-

prinsip Perseroan Terbatas. Kegiatan usaha yang sampai dengan

saat ini dilaksanakan oleh PT Y adalah:

a. Penyediaan dan/atau pelayanan kolam-kolam


pelabuhan dan perairan untuk lalu lintas dan
tempattempat berlabuhnya kapal;
b. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa-jasa yang
berhubungan dengan pemanduan (pilotage) dan
penundaan kapal;
c. Penyediaan dan/atau pelayanan dermaga dan fasilitas
lain untuk bertambat, bongkar muat petikemas, curah
cair, curah kering, multi-purpose, barang termasuk
hewan, general cargo dan kendaraan;
d. Penyediaan pelayanan jasa bongkar muat, petikemas,
curah cair, curah kering (general cargo) dan
kendaraan;
e. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa terminal
petikemas, curah cair, curah kering, multi purpose,
penumpang, pelayaran rakyat dan RORO;
f. Penyediaan dan/atau pelayanan gudang-gudang dan
lapangan penumpukan dan tangki/tempat penimbunan
barang-barang angkutan bandar, alat bongkar muat
serta peralatan pelabuhan;
g. Penyediaan dan/atau pelayanan tanah untuk berbagai
bangunan dan lapangan, industri dan gedung-
gedung/bangunan yang berhubungan dengan
kepentingan kelancaran angkutan multi modal;
h. Penyediaan dan/atau pelayanan listrik, air minum dan
instalasi limbah serta pembuangan sampah;
i. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa pengisian bahan
bakar minyak untuk kapal dan kendaraan di
lingkungan pelabuhan;
j. Penyediaan dan/atau pelayanan kegiatan konsolidasi
dan distribusi barang termasuk hewan.
k. Penyediaan dan pengelolaan jasa konsultasi,
pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan
kepelabuhanan;
l. Pengusahaan dan penyelenggaraan depo petikemas
dan perbaikan, cleaning, fumigasi serta pelayanan
logistik;
m. Pengusahaan kawasan pabean dan tempat
penimbunan sementara.

Adapun jenis kegiatan lain yang menjadi bagian dari kegiatan PT


Y adalah:

a. Jasa angkutan;
b. Jasa persewaan dan perbaikan fasilitas dan peralatan;
c. Jasa perawatan kapal dan peralatan di bidang
kepelabuhanan;
d. Jasa pelayanan alih muat dari kapal ke kapal (shipto-
ship transfer) termasuk jasa ikuran lainnya;
e. Properti di luar kegiatan utama kepelabuhanan;
f. Kawasan industri;
g. Fasilitas pariwisata dan perhotelan;
h. Jasa konsultan dan surveyor kepelabuhanan;
i. Jasa komunikasi dan informasi;
j. Jasa konstruksi kepelabuhanan;
k. Jasa forwarding/ekspedisi;
l. Jasa kesehatan;
m. Perbekalan dan catering;
n. Tempat tunggu kendaraan bermotor dan shuttle bus;
o. Jasa penyelaman (salvage);
p. Jasa tally;
q. Jasa pas pelabuhan;
r. Jasa timbangan.

3. Profil Badan Usaha Milik Negara PT Z

Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang selanjutnya

disebut PT Z adalah sebuah perusahaan yang berstatus

perseroan terbatas sebagai badan usaha milik negara dengan

bidang usaha energi yang didirikan pada Tahun 10 Desember

1957. Dasar hukum pendirian PT Z adalah PP Nomor 31 Tahun

2003. Status atas jumlah pekerja pada PT Z adalah 13.604 orang

dan jumlah pekerja di PT Z Group yaitu 27.318 orang. PT Z

memiliki beberapa unit kerja yaitu:


a. 6 Unit Pengolahan
b. 8 Marketing Operation Region
c. 593 Unit Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE)
d. 64 Unit Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU)
e. 21 Unit Terminal LPG
f. 3 Unit Lube Oil Blending Plant (LOBP)
g. 116 Unit Terminal BBM
h. 2.130 Unit Jalur Pipa Gas
i. Mengoperasikan 59 unit Tanker Milik dan 160 unit
Tanker Charter
j. 5.407 Unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
(SPBU)
k. 34 Unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG)
l. 107 Terminal Khusus dan TUKS (Terminal Untuk
Kepentingan Sendiri)
m. 167 Dermaga
n. 13 Unit SPM (Single Point Mooring)
o. 6 Unit STS (Ship to Ship)
p. 10 Unit CBM (Central Buoy Mooring)
q. 126 Unit KKR (Kapal Kecil Ringan)
r. 27 Anak Perusahaan
s. 7 Perusahaan Asosiasi
t. 6 Entitas Ventura Bersama

Selain itu PT Z memiliki produk dan jasa yang dihasilkan berupa:

a. Produk BBM (BBM PSO, BBM NPSO, BBM


Penugasan (Non Jamali)
b. Produk Non BBM (LPG PSO, LPG NPSO, Gas
Products, Bitumen, Aromatic Olefin, Special Chemical)
c. Produk Bahan Bakar Penerbangan (Avtur, Avgas,
Methanol Mixture)
d. Perkapalan (Charter Out Kapal)

Aset yang dimiliki oleh PT Z yaitu USD47,23 miliar dengan modal

dasar Rp200.000.000.000.000,- (dua ratus triliun rupiah), terdiri

dari Rp200.000.000,- (dua ratus juta) lembar saham dengan nilai

nominal Rp1.000.000,- (satu juta rupiah) per lembar saham.

Dengan modal ditempatkan yaitu Rp133.090.697.000.000,-

(seratus tiga puluh tiga triliun sembilan puluh miliar enam ratus
sembilan puluh tujuh juta rupiah), terdiri dari 133.090.697 (seratus

tiga puluh tiga juta sembilan puluh ribu enam ratus sembilan puluh

tujuh) lembar saham dengan nilai nominal Rp1.000.000,- (satu

juta rupiah) per lembar saham.

PT Z memiliki Visi yaitu menjadi perusahaan energi nasional

kelas dunia. Dengan misi yaitu menjalankan usaha minyak, gas,

serta energi baru dan terbarukan secara terintegrasi, berdasarkan

prinsip-prinsip komersial yang kuat. Dimana PT Z memiliki tujuan

yaitu:

a. Melaksanakan dan menunjang kebijakan dan Program


Pemerintah di bidang Ekonomi dan Pembangunan
Nasional pada umumnya, terutama di bidang
Penyelenggaraan Usaha Minyak dan Gas Bumi baik
di dalam maupun luar negeri serta kegiatan lain yang
terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang
minyak dan gas bumi tersebut, serta;
b. Pengembangan optimalisasi sumber daya yang
dimiliki Perseroan untuk menghasilkan barang
dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing
kuat serta mengejar keuntungan guna meningkatkan
nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip
Perseroan Terbatas.

Berdasarkan anggaran dasar, PT Z dapat melaksanakan usaha

utama, antara lain melaksanakan:

a. Eksplorasi minyak dan gas bumi;


b. Eksploitasi minyak dan gas bumi;
c. Kegiatan di bidang energi listrik termasuk tetapi tidak
terbatas pada eksplorasi dan ekploitasi energi panas
bumi, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP),
pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan energi listrik
yang dihasilkan Perusahaan;
d. Kegiatan pengolahan yang menghasilkan bahan bakar
minyak (BBM), bahan bakar khusus, non bahan bakar
minyak (non-BBM), petrokimia, bahan bakar gas
(BBG), LNG, GTL dan hasil/produk lainnya baik
produk akhir ataupun produk antara;
e. Kegiatan penyediaan bahan baku, pengolahan,
pengangkutan, penyimpanan dan niaga bahan bakar
nabati (BBN);
f. Kegiatan pengangkutan minyak bumi, BBM, BBG dan/
atau hasil/produk lain melalui darat, air dan/atau udara
termasuk pengangkutan gas bumi melalui pipa;
g. Kegiatan penyimpanan (penerimaan, pengumpulan,
penampungan dan pengeluaran) minyak bumi, BBM,
BBG dan/atau hasil/produk lain pada lokasi di atas
dan/atau di bawah permukaan tanah dan/atau
permukaan air;
h. Kegiatan niaga (pembelian, penjualan, ekspor, impor)
minyak bumi, BBM, BBG dan/atau hasil/produk lain,
termasuk niaga energi listrik;
i. Kegiatan pengembangan, eksplorasi, produksi dan
niaga energi baru dan terbarukan.

Selain kegiatan usaha utama tersebut di atas, PT Z dapat

melakukan kegiatan usaha dalam rangka optimalisasi

pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk:

a. Trading house, real estate, pergudangan, pariwisata,


resort, olahraga dan rekreasi, rest area, rumah sakit,
pendidikan, penelitian, prasarana telekomunikasi, jasa
penyewaan dan pengusahaan sarana dan prasarana
yang dimiliki Perusahaan, jalan tol dan pusat
perbelanjaan;
b. Pengelolaan kawasan ekonomi khusus;
c. Pengelolaan kawasan industri;
d. Kegiatan usaha dalam rangka melaksanakan kegiatan
usaha lainnya yang menunjang dan terkait dengan
kegiatan usaha utama.

PT Z memiliki barang dan jasa yang dihasilkan dari kegiatan bisnis

perusahaan yang dikelolanya dengan produk barang sebagai

berikut:

a. Bahan bakar minyak (BBM) yang dipasarkan secara


ritel untuk umum, terdiri dari bahan bakar minyak
bersubsidi (PSO), penugasan, dan non subsidi (non
PSO). Termasuk dalam kategori ini antara lain Solar
PSO, Biosolar PSO, Kerosene PSO, Premium
Penugasan, Solar non PSO, Premium non PSO,
Kerosene non PSO.
b. BBM yang dipasarkan untuk industri, terdiri dari non
subsidi (non PSO) dan sebagian kecil BBM bersubsidi
(PSO). Termasuk dalam kategori ini antara lain
Premium non PSO, Solar non PSO, Kerosene PSO
dan non PSO, IFO, IDO, MFO 380 dan MGO.
c. Bahan bakar khusus (BBK) yang dipasarkan secara
retail untuk umum antara lain Pertalite, Pertamax,
Pertamax Plus, Pertamax Turbo, Pertamax Racing,
Dexlite, dan Pertamina Dex.
d. Bahan Bakar Penerbangan, yaitu Avtur, Avgas dan
Methanol Mixture.
e. Produk domestik gas yang dipasarkan secara ritel
maupun industri, terdiri dari: LPG PSO (ELPIJI 3kg),
LPG non PSO (ELPIJI 12kg, ELPIJI 50kg, ELPIJI
Bulk, Bright Gas 12kg, Bright Gas 5,5kg, Bright Gas
Can 220gr, Gas Product (Vi-Gas, HAP, MusiCool) dan
jasa Cooldown.
f. Produk petrokimia, yang terdiri dari 3 kategori utama
produk yaitu Bitumen, Aromatic Olefins, dan special
chemical yang digunakan untuk kebutuhan industri.
g. LNG untuk industri, LNG untuk kereta api, LNG untuk
vehicle, LNG untuk pertambangan, CNG, City Gas,
gas untuk industri dan pembangkit listrik.

PT Z memiliki barang dan jasa yang dihasilkan dari kegiatan bisnis

perusahaan yang dikelolanya dengan produk jasa sebagai berikut:

a. Jasa angkutan laut Internal Customer Crude,


Intermedia, produk BBM & Non BBM.
b. Jasa angkutan laut eksternal customer (charter out).
c. Jasa Floating Storage & Offloading.
d. Jasa Vetting.
e. Marine Services: Teknik Bawah Air, Docking, Agency,
Mooring Master, dan Jasa Radio Maritim.
f. Jasa Offshore Support Vessel, sarana kepelabuhanan
dan dermaga.
g. Jasa solusi teknologi hulu dalam bentuk task force
specialist, kajian dan evaluasi termasuk di dalamnya
peer review, problem solving, sentralisasi data dan
aplikasi perangkat lunak, simulasi dan pemodelan,
workshop dan pelatihan serta solusi lainnya.
B. SISTEM PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA ATAS BADAN

USAHA MILIK NEGARA PT X, PT Y DAN PT Z

Melalui Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri

Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan

Usaha Milik Negara dan sesuai dengan Pasal 5 ayat (3) Peraturan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008

tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Badan Usaha Milik Negara bahwa “tata cara pengadaan barang dan

jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur lebih lanjut oleh

Direksi BUMN serta pada Pasal 9 ayat (2) yang menyatakan bahwa

penunjukan langsung hanya dapat dilakukan sepanjang Direksi

terlebih dahulu merumuskan ketentuan internal dan kriteria yang

memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan

Pasal 3 dengan memperhatikan ketentuan pada ayat (3) Pasal ini”.

Dengan hal tersebut, Direksi pada PT X, PT Y dan PT Z telah

membentuk suatu ketetapan Direksi yang berisi tentang pengaturan

atas sistem pengadaan barang dan/atau jasa maupun konsep

penunjukan langsung. Sebab pada Pasal 13 dinyatakan bahwa

Direksi memiliki kewajiban untuk menyusun ketentuan internal untuk

penyelenggaraan pengadaan barang dan jasa.


1. Bentuk Dasar Hukum dan Sistem Pengadaan Barang dan/atau

Jasa PT X

PT X dalam melakukan pengadaan barang dan/atau jasa

sesuai dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan

Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara dan sesuai dengan

Pasal 5 ayat (3) Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara bahwa “tata cara pengadaan barang dan jasa

sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur lebih lanjut oleh

Direksi BUMN serta pada Pasal 9 ayat (2) yang menyatakan

bahwa penunjukan langsung hanya dapat dilakukan sepanjang

Direksi terlebih dahulu merumuskan ketentuan internal dan kriteria

yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2

dan Pasal 3 dengan memperhatikan ketentuan pada ayat (3)

Pasal ini”.

PT X mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 1263/TBK/SK-

0000/15-S11.2 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan/Jasa PT

X (selanjutnya disebut SK-12) yang disahkan oleh Direksi PT X

pada 21 September 2015 dimana Surat Keputusan ini adalah hasil


dari peninjauan kembali atas Surat Keputusan Direksi Nomor

114/TBK/SK-0000/15-S11.2 tanggal 30 Januari 2015 tentang

Pedoman Pengadaan Barang/ Jasa di Lingkungan PT X.

Maksud dan tujuan dari dibentuknya SK-12 ini seperti tertuang

pada Pasal 2 SK-12 yaitu:

a. Mengatur tugas, tanggung jawab, kewenangan, hak,


fungsi, dan kewajiban masing-masing pihak dalam
proses pengadaan barang/ jasa diperusahaan;
b. Selain dimaksud pada ayat (1) di atas bahwa
peraturan ini dibuat dengan maksud agar setiap
proses pengadaan barang/jasa mengikuti prosedur
yang telah ditetapkan sebagaimana pedoman
pengadaan barang/jasa ini.
c. Tujuan diberlakukannya keputusan direksi ini adalah
agar pelaksanaan pengadaan barang/jasa dilakukan
secara efisien, efektif, kompetitif, transparan, adil dan
wajar, akuntabel, serta proses pengambilan
keputusan secara cepat untuk mendukung proses
bisnis dan kegiatan perusahaan.

Pada Pasal 3 ayat (1) bahwa “keputusan direksi ini berlaku untuk

pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya dibebankan pada

anggaran perusahaan”. Dalam pengadaan barang dan/atau jasa

ini, terdapat ketentuan atas kebijakan pengadaan pada Pasal 5

yaitu:

a. Barang/jasa diperoleh sesuai kebutuhan perusahaan,


memenuhi spesifikasi teknis, berkualitas, jumlah yang
cukup, tepat waktu dan harga yang wajar.
b. Mengacu pad rencana kerja dan anggaran
perusahaan (RKAP) yang telah ditetapkan oleh
Direksi.
c. Mengusahakan pengadaan barang atau jasa dengan
mengutamakan pabrian (source) melalui agen resmi.
d. Pengguna barang/jasa mengutamakan penggunaan
produksi dalam negeri, rancang bangun dan
perekayasaan nasional serta perluasan kesempatan
bagi usaha kecil sepanjang kualitas, harga dan
tujuannya dapat dipertanggungjawabkan.
e. Pengadaan barang yang dibeli oleh mitra usaha
langsung dari luar negeri, harus dilengkapi dengan
surat rekomendasi dan jaminan bantuan teknis
langsung dari pabrik, Certificate of Origin, Bill of
Lading (konosemen).
f. Dalam rangka mendorong pertumbuhan industri
dalam negeri, pengguna barang/jasa dapat
memberikan preferensi penggunaan produksi dalam
negeri denan tetap mengindahkan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
g. Mengusahakan pengadan barang/jasa untuk
kebutuhan operasional rutin dan terus menerus
secara jangka panjang (multi years), untuk jaminan
ketersediaan dan kelangsungan operasional serta
pengembangan perusahaan.
h. Dalam hal pengadaan jangka panjang atau multi
years, perusahaan perlu membuat formula
peyesuaian harga tertentu (price adjustment) baik
untuk kenaikan maupun penurunan yang disesuaikan
dengan kondisi pasar dan best practice yang berlaku.
i. Memberikan kesempatan kebijakan pengadaan
barang/jasa dilaksanakan secara terbatas dengan
sistem desentralisasi.
j. Proses pengadaan barang/jasa harus dilaksanakan
sesuai denan urutan ketentuan sebagimana diatur
dalam surat keputusan ini, kecuali dalam hal keadaan
mendesak dengan persetujuan Direksi, proses
pengadaan barang/jasa dapat dilaksanakan secara
khusus. Pelanggaaran atas kebijakan ini akan
menyebabkan tidak dapat diprosesnya pembayaran
oleh perusahaan.
k. Mengutaman sinergi antar BUMN, BUMD, BUMdes,
anak Perusahaan BUMN, Perusahaan Terafiliasi
BUMN dan/atau Perusahaan Terafiliasi BUMD, dalam
rangka meningkatkan efisiensi usaha atau
perekonomian.

Konsep penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT X tertuang

dalam Pasal 24 SK-12 yaitu:

a. Penunjukan langsung dilakukan secara langsung


dengan menunjuk satu penyedia barang dan jasa atau
melalui beauty contest.
b. Penunjukan langsung dilaksanakan untuk nilai
pengadaan diatas Rp 20.000.000,- (dua puluh juta
Rupiah) sampai dengan nilai pengadaan Rp
100.000.000,- (serratus juta Rupiah).
c. Penunjukan langsung dengan nilai pengadaan di atas
Rp 100.000.000,- (seratus juta Rupiah) harus
memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:
1) Barang/jasa yang dibutuhkan bagi kinerja utama
perusahaan dan tidak dapat ditunda
keberadaanya (business critical asset) atau
pekerjaan mendesak (urgent) yang apabila tidak
dilaksanakan segera akan mengakibatkan
kerugian lebih besar atau kehilangan kesempatan
memperoleh pendapatan, yang sebelumnya telah
mendapatkan persetujuan dari Direktur yang
membawahi pemakai barang/jasa.
2) Pelelangan ulang dan pemilihan langsung yang
mengalami kegagalan sebagaimana yang
disebutkan pada Pasal 21 ayat (6), Pasal 22 ayat
(4) dan Pasal 23 ayat (3) huruf e.
3) Barang/jasa spesifik hanya dapa dilaksanakan
oleh 1 (satu) mitra usaha barang/jasa yang
memiliki surat tanda keagenan dari instansi yang
berwenang atau pabrikan, dan barang/jasa
standard yang hanya dapat dilaksanakan oleh 1
(satu) agen dengan membuat contract service
dan/atau blanket order.
4) Pekerjaan kompleks yang dilaksanakan dengan
menggunakan teknologi khusus dan/atau hanya
ada 1 (satu) mitra usaha barang/jasa yang mampu
meyediakan;
5) Barang/jasa yang dimilii oleh pemegang hak atas
kekayaan intelektual (HAKI) atau yang memiliki
jaminan warranty dari original equipment
manufacture.
6) Barang yang sedang diuji coba atas permintaan
mitra usaha barang/jasa yang selanjutnya telah
dinyatakan berhsail (trial purchase), dan harganya
lebih murah dari pengadaan sebelumnya atau
secara ekonomis lebih menguntungkan;
7) Pekerjaan yang berkesinambungan yang secara
teknis merupakan satu kesatuan yang sifatnya
tidak dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang
sudah dilaksanakan sebelumnya;
8) Penanganan darurat untuk kemanan,
keselamatan masyarakat dan aset strategis
perusahaan atau penanganan darurat akibat
bencana alamat baik bersifat lokal maupun
nasional;
9) Barang/jasa yang merupakan pembelian berulang
(repeat order) sepanjang harga yang ditawarkan
menguntungkan dengan tidak mengorbankan
kualitas barang/jasa.
10) Mitra usaha barang atau jasa adalah lembaga
negara atau pemerintah, BUMN/BUMD/BUMdes,
Anak perusahaan BUMN/BUMD/BUMDes,
Perusahaan Terafilitasi BUMN/BUMD/BUMDes
dan/atau usaha kecil dan mikro, sepanjang barang
dan/atau jasa dimaksud adalah merupakan
produk layanan dari Lembaga Negara atau
Pemerintah, BUMN/BUMD/BUMDes, Anak
Perusahaan BUMN/BUMD/BUMdes, Perusahaan
Terafiliasi BUMN/BUMD/BUMDes dan/atau usaha
kecil dan mikro dan sepanjang kualitas, harga dan
tujuannya dapa dipertanggungjawabkan;
11) Pekerjaan jasa konsultan dengan lembaga
Pendidikan/Lembaga negara/Pemerintah/Swasta
atau Perorangan yang dianggap mampu dan
memiliki keahlian khusus;
12) Barang/jasa bersifat knowledge intensive dimana
untuk menggunakan dan memelihara
produk/pabrik tersebut membutuhkan
kelangsungan pengetahuan dari mitra usaha
barang/jasa;
13) Pengadaan barang/jasa yang bersifat spesifik,
mengandung unsur estetika dan keahlian khusus
(antara lain: pengacara, advisor, barang seni,
technical auditor); atau
14) Pekerjaan jasa (pekerjaan jasa mekanikal,
elektrikal, cleaning service, jasa boga, jasa tenaga
kerja) yang dapat dilaksanakan oleh usaha
kecil/koperasi/usaha perbengkelan setempat yang
memiliki kompetensi sesuai bidangnya di sekitar
lokasi perusahaan atau di lokas unit kerja
perusahaan dalam rangkap konsep kepedulian
perusahaan terhadap masyarakat sekitar (CSR).
d. Penunjukan langsung sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) huruf j, diutamakan penunjukan langsung
kepada anak perusahaan dan perusahaan terafilitasi.
2. Bentuk Dasar Hukum dan Sistem Pengadaan Barang dan/atau

Jasa PT Y

PT Y dalam melakukan pengadaan barang dan/atau jasa

sesuai dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan

Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara dan sesuai dengan

Pasal 5 ayat (3) Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara bahwa “tata cara pengadaan barang dan jasa

sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur lebih lanjut oleh

Direksi BUMN serta pada Pasal 9 ayat (2) yang menyatakan

bahwa penunjukan langsung hanya dapat dilakukan sepanjang

Direksi terlebih dahulu merumuskan ketentuan internal dan kriteria

yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2

dan Pasal 3 dengan memperhatikan ketentuan pada ayat (3)

Pasal ini”.

PT Y mengeluarkan Peraturan Direksi PT Y Keputusan Nomor

PD 19 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan

Barang dan Jasa di Lingkungan PT Y (selanjutnya disebut PD-19).


Tata Cara pengadaan barang dan jasa diatur dalam Bab III Pasal

19 tentang Macam dan Cara Pengadaan Barang dan Jasa.

a. Penentuan cara Pengadaan Barang dan Jasa akan


ditetapkan oleh Pemberi Kerja dengan memperhatikan
kondisi yang paling menguntungkan bagi Perseroan
dan sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang
berlaku.
b. Pengadaan Barang dan Jasa dapat ditempuh melalui
1) untuk pemilihan Penyedia Barang/Jasa
Pemborongan/ Jasa Lainnya dapat dilakukan
melalui:
a) pelelangan umum;
b) pemilihan langsung;
c) penunjukan langsung;
d) pembelian langsung ke pasaran (cash and
carry).
2) untuk pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi dapat
dilakukan melalui:
a) seleksi umum;
b) seleksi langsung;
c) penunjukan langsung konsultan;
d) sayembara
3) Untuk pemilihan Penyedia Jasa Lainnya atau Jasa
Konsultansi tertentu dapat dilaksanakan dengan
Metode Beauty Contest berdasarkan persetujuan
Direksi;
c. Pengadaan Barang dan Jasa sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a dan huruf b dapat ditambahkan
dengan metode/sistem Beauty Contest untuk proses
pelelangan.
Konsep penunjukan langsung sebagaimana diatur dalam Pasal 19
terkait penunjukan langsung diatur dalam Pasal 28 PD-19 sebagai
berikut:
a. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus,
pemilihan Penyedia Barang/Jasa dapat dilakukan
dengan cara menunjuk secara langsung 1 (satu)
barang/jasa atau melalui Direct Deal atau Beauty
Contest, dengan cara melakukan Negosiasi baik
teknis maupun harga sehingga diperoleh harga yang
wajar dan secara teknis dapat
dipertanggungjawabkan.
b. Biro Logistik/Panitia Pelelangan dilarang memecah
Pengadaan Barang/Jasa menjadi beberapa paket
pengadaan dengan maksud menghindari pelelangan
atau pemilihan langsung.
c. Proses penunjukan langsung diatur sebagai berikut :
1) penunjukan langsung untuk nilai sampai dengan
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta) dilakukan oleh
Unit Fungsional terkait di Kantor Pusat,
sedangkan di Cabang diatur sebagai berikut;
a) Kelas Utama dan TPM dengan nilai sampai
dengan Rp.400.000.000, - (empat ratus juta
Rupiah) dilaksanakan oleh unit fungsional,
sedangkan nilai diatas Rp.400.000.000
(empat ratus juta Rupiah) sampai dengan
Rp.500.000.000,- (lima ratus juta Rupiah)
dilakukan penunjukan langsung oleh Panitia
Pelelangan.
b) Kelas I dan TPB dengan nilai sampai dengan
Rp.300.000.000, - (tiga ratus juta Rupiah)
dilaksanakan oleh unit fungsional, sedangkan
nilai diatas Rp.300.000.000,- (tiga ratus juta
Rupiah) sampai dengan Rp.500.000.000,-
(lima ratus juta) Rupiah dilakukan penunjukan
langsung oleh Panitia Pelelangan.
c) Kelas II dan III dengan nilai sampai dengan
Rp.150.000.000, - (seratus lima puluh juta
Rupiah) dilaksanakan oleh unit fungsional
sedangkan nilai diatas Rp.150.000.000,-
(seratus lima puluh juta Rupiah) sampai
dengan Rp.500.000.000,- (lima ratus juta
Rupiah) dilakukan penunjukan langsung oleh
Panitia Pelelangan.
d) Kelas IV dan UPK dengan nilai sampai
dengan Rp.100.000.000, - (seratus juta
Rupiah) dilaksanakan oleh unit fungsional
sedangkan nilai diatas Rp.100.000.000,-
(seratus juta Rupiah) sampai dengan
Rp.500.000.000,- (lima ratus ribu Rupiah)
dilakukan penunjukan langsung oleh Panitia
Pelelangan.
2) penunjukan langsung untuk nilai tak terbatas,
dilakukan oleh Biro Pengadaan atau Panitia
Pelelangan apabila memenuhi paling sedikit salah
satu ketentuan sebagai berikut:
a) Barang dan jasa yang dibutuhkan untuk
kinerja utama perusahaan dan tidak dapat
ditunda keberadaannya/kebutuhannya
(business critical asset);
b) Keadaan mendesak misalnya:
(1) kecelakaan operasional terhadap fasilitas
pelabuhan;
(2) kerusakan fasilitas pelabuhan yang
disebabkan oleh bencana alam, huru hara
dan keadaan force majeure lainnya;
yang apabila tidak segera dilaksanakan dapat
merugikan Perseroan baik materiil maupun
non-materiil dan berdampak mengganggu
perekonomian regional dan/atau nasional;
c) Pekerjaan spesifik, yang menurut sifatnya
hanya dapat dipenuhi oleh satu
perusahaan/lembaga/institusi tertentu (non
sertifikat/non ATPM) sehingga harus disertai
data pendukung menyangkut profesionalisme
perusahaan tersebut di bidang tertentu yang
relevan dengan pekerjaan spesifik tersebut;
d) Penunjukan langsung dengan nilai tak
terbatas hanya dapat dilakukan atas Penyedia
Barang/Jasa yang menurut sifatnya hanya
dapat dipenuhi oleh perusahaan yang
merupakan ATPM yang dibuktikan dengan
surat penunjukan resmi dari prinsipalnya;
dengan ketentuan sistem Pengadaan Barang
yang dilakukan langsung kepada ATPM atau
Prinsipal, menggunakan cara pembelian
dengan pajak dan bea masuk ditanggung oleh
Pembeli (DDU);
e) Barang dan jasa yang bersifat knowledge
intensive yang untuk menggunakan dan
memelihara produk tersebut membutuhkan
kelangsungan pengetahuan dari Penyedia
Barang/Jasa tertentu;
f) Barang dan Jasa yang dimiliki oleh pemegang
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau yang
memiliki jaminan (warranty) dari Original
Equipment Manufacturer (OEM);
g) Telah dilakukan pelelangan ulang sebanyak 2
(dua) kali berturut-turut namun mengalami
kegagalan atau batal;
h) Barang yang merupakan pengadaan berulang
(Repeat Order) adalah barang dan jasa yang
menguntungkan Perseroan dengan ketentuan
sebagai berikut:
(1) keperluan mendesak Perseroan;
(2) spesifikasi Teknis minimal harus sama
dengan kontrak induk sebelumnya
(3) harga minimal sama dengan kontrak
sebelumnya;
(4) dilaksanakan di Tahun dan pelaksana
yang sama;
(5) efisiensi dan efektifitas.
i) jasa yang merupakan pengadaan berulang
(Repeat Order) misalnya Kontrak
Pemeliharaan, asuransi, jasa penyedia tenaga
kerja, cleaning service, dan Jasa Lainnya
paling banyak 1 (satu) kali untuk 1 (satu)
Tahun anggaran sepanjang harga yang
ditawarkan sama dengan harga jasa
sebelumnya dan menguntungkan bagi
Perseroan dengan tetap mempertimbangkan
hasil evaluasi pelaksanaan sebelumnya.;
j) Untuk penyeragaman brand/merek dalam
rangka efisiensi pelaksanaan Pemeliharaan
dan mendukung/meningkatkan kualitas
pelayanan serta memudahkan proses Repair
and Replacement;
k) Barang dan jasa lanjutan yang secara teknis
merupakan satu kesatuan yang sifatnya tidak
dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang
sudah dilaksanakan sebelumnya (bukan
merupakan addendum tetapi Kontrak baru);
l) Migrasi suatu aplikasi sistem informasi
manajemen tertentu yang telah berhasil
diterapkan pada Kantor Pusat atau Kantor
Cabang dan telah dievaluasi serta
menguntungkan bagi Perseroan;
m) Penyedia Barang/Jasa adalah BUMN, Anak
Perusahaan BUMN, dan/atau Perusahaan
Terafiliasi BUMN sepanjang barang/jasa yang
dibutuhkan merupakan produk atau layanan
dari BUMN, Anak Perusahaan BUMN,
dan/atau Perusahaan Terafiliasi BUMN
dimaksud. Apabila ternyata BUMN, Anak
Perusahaan BUMN, dan/atau Perusahaan
Terafiliasi BUMN yang memproduksi atau
yang menyediakan pelayanan yang
dibutuhkan tersebut lebih dari satu
perusahaan maka harus dilakukan Pemilihan
Langsung;
n) pekerjaan yang dilaksanakan oleh Anak
Perusahaan Perseroan;
o) Lembaga Pendidikan atau Universitas
Negeri/Swasta (terakreditasi) atau Tenaga
Ahli yang mempunyai spesialisasi keahlian
yang dibutuhkan oleh Perseroan;
p) Adanya kebijakan khusus Direksi dengan
mempertimbangkan kriteria selain angka 1
sampai dengan angka 14 di atas, yang
didukung dengan
kajian/telaahan/rekomendasi dari unit kerja
terkait, sehubungan dengan aspek waktu,
operasional, teknis, efisiensi biaya serta aspek
relevan lainnya.
3) Tata cara pemilihan/penentuan 1 (satu) rekanan
yang akan diundang diatur lebih lanjut dengan
Surat Edaran Kepala Biro Logistik.
d. Untuk pekerjaan penunjukan langsung dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1) Biro Logistik/Panitia Pelelangan mengundang
secara tertulis 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa
yang memenuhi kriteria dan syarat yang telah
dievaluasi dan disarankan oleh Pemberi Kerja,
untuk menyampaikan penawaran harga sesuai
spesifikasi yang tercantum pada dokumen
Pengadaan Barang/Jasa dan jika diperlukan dapat
dilakukan Beauty Contest, dengan batas waktu
paling lama 3 (tiga) hari kerja;
2) Biro Logistik/Panitia Pelelangan melakukan
Klarifikasi dan Negosiasi terhadap penawaran
tersebut dan membuat berita acara Klarifikasi dan
Negosiasi, dengan waktu paling lama 5 (lima) hari
kerja;
3) Biro Logistik/Panitia Pelelangan menyampaikan
rekomendasi kepada Pemberi Kerja, tentang
calon Penyedia Barang/Jasa yang ditunjuk;
4) Penandatanganan Pakta Integritas antara
Pemberi Kerja, Biro Logistik/Panitia Pelelangan
dan Penyedia Barang/Jasa sebelum
penandatanganan Kontrak;
5) Apabila kedudukan/domisili Penyedia
Barang/Jasa dimaksud berada di luar
kota/wilayah/Cabang dari lokasi kegiatan
bersangkutan maka pemasukan penawaran dapat
diatur tersendiri.
3. Bentuk Dasar Hukum dan Sistem Pengadaan Barang dan/atau

Jasa PT Z

Pada perusahaan PT Z, konsep pengadaan barang dan/atau

jasa telah dilakukan melalui Surat Keputusan Direksi PT Z Nomor

Kpts-51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010 tentang

Manajemen Pengadaan Barang/Jasa. Namun, pada Tahun 2013,

terdapat usulan revisi atas Surat Keputusan Direksi PT Z Nomor

Kpts-51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010 tentang

Manajemen Pengadaan Barang/Jasa berdasarkan risalah rapat

Direksi Nomor RRD-74/C00000/2012-S0 tanggal 31 Juli 2012 dan

Nomor RRD-125/C00000/2012-S0 tanggal 23 Oktober 2012, telah

disetujui oleh Jajaran Direksi perubahan ke-2 atas SK-51/2010

dengan pokok perubahan yang salah satunya adalah “penunjukan

langsung kepada BUMN, anak perusahaan BUMN dan

Perusahaan terafiliasi BUMN”. Hal ini menandakan bahwa, Surat

Keputusan Direksi tersebut mengacu terhadap Peraturan Menteri

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang

Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara.

Pada Pedoman Pengadaan Barang/Jasa pada PT Z melalui SK-

51/2010 rev-2 dengan sistem penunjukan langsung.


a. dapat dilakukan apabila memenuhi salah satu kriteria
sebagai berikut:
1) Penanganan keadaan darurat berdasarkan
pernyataan dari Pejabat Tertinggi setempat;
2) Barang dan jasa yang dibutuhkan bagi kinerja
utama Perusahaan dan tidak dapat ditunda
keberadaannya (business critical asset);
3) Pekerjaan yang bersifat spesifik karena alasan
tertentu (kompleksitas, teknologi, availability) yang
karena sifatnya tersebut, maka hanya dapat
dilaksanakan oleh satu Penyedia Barang/Jasa.
4) Barang dan jasa yang dimiliki oleh pemegang hak
paten atau hak atas kekayaan intelektual (HAKI)
atau yang memiliki jaminan (warranty) dari
Original Equipment Manufacture (OEM) dan/atau
untuk memenuhi kebutuhan standarisasi
operasional sehingga dibutuhkan merk / brand
tertentu;
5) Pekerjaan yang bersifat knowledge intensive
dimana untuk menggunakan dan memelihara
produk tersebut membutuhkan kelangsungan
pengetahuan dari penyedia barang dan/atau jasa
serta diperlukan untuk transfer pengetahuan atau
alih teknologi;
6) Pekerjaan lanjutan/tambahan yang secara teknis
merupakan satu kesatuan yang sifatnya tidak
dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang sudah
dilaksanakan sebelumnya dan sedapat mungkin
menggunakan satuan harga menurut harga yang
berlaku pada kontrak sebelumnya, sepanjang
dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.
7) Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa
dengan menggunakan metode Pelelangan atau
Pemilihan Langsung telah dua kali dilakukan
namun peserta tetap tidak memenuhi kriteria atau
tidak ada pihak yang mengikuti Pelelangan atau
Pemilihan Langsung, sekalipun ketentuan dan
syarat-syarat telah memenuhi kewajaran;
a) Apabila Penyedia Barang/Jasa adalah
Anak Perusahaan Pertamina atau
Perusahaan Terafiliasi Pertamina,
sepanjang barang dan/atau jasa yang
dibutuhkan merupakan produk atau
layanan utama dari Anak Perusahaan atau
Perusahaan Terafiliasi Pertamina;
b) Apabila tidak ada Anak Perusahaan
Pertamina atau Perusahaan Terafiliasi
Pertamina yang dapat ditunjuk langsung
sesuai ketentuan butir h.(i) diatas, maka
dapat dilakukan penunjukan langsung
kepada BUMN atau Anak Perusahaan
BUMN atau Perusahaan Terafiliasi BUMN,
sepanjang barang dan/atau jasa yang
dibutuhkan merupakan produk atau
layanan utama dari BUMN atau Anak
Perusahaan BUMN atau Perusahaan
Terafiliasi BUMN.
Apabila penyedia barang/jasa seperti dimaksud dalam
butir (i) dan (ii) diketahui lebih dari satu, maka harus
tetap dilakukan Pemilihan Langsung.
b. Penyedia Barang/Jasa perguruan tinggi/unit usaha
yang sahamnya dimiliki minimal 90% oleh perguruan
tinggi untuk bidang usaha penelitian, desain dan
engineering atau lembaga penelitian lainnya, baik
dalam maupun luar negeri;
c. Penyedia Barang/Jasa lembaga pemerintah;
d. Barang/jasa yang merupakan pembelian berulang
(repeat order) setelah melalui kajian yang
komprehensif dengan ketentuan sbb:
1) Hasil kerja Penyedia Barang/Jasa sebelumnya
dinilai baik;
2) Spesifikasi dan kualitas Barang/Jasa yang sama,
apabila tidak dapat terpenuhi, dapat digantikan
dengan Barang/Jasa sejenis dengan spesifikasi
dan kualitas yang lebih baik dan/atau lebih tinggi;
3) Volume Barang/Jasa yang dibutuhkan kurang
atau sama dengan volume pengadaan
sebelumnya;
4) Harga Barang/Jasa lebih rendah atau paling tinggi
sama dengan pengadaan sebelumnya, apabila
tidak dapat terpenuhi harga Barang/Jasa dapat
lebih tinggi maksimal 10% dari harga sebelumnya;
5) Merupakan Barang/Jasa yang bersifat
operasional;
6) Bukan merupakan pekerjaan yang dilaksanakan
untuk jangka waktu lebih dari seTahun
(multiyears);
7) Pelaksanaan pembelian berulang (repeat order)
hanya dapat dilaksanakan paling banyak 2 (dua)
kali pengadaan dengan membuat kontrak baru,
dilakukan untuk pekerjaan yang sebelumnya
diproses dengan kompetisi oleh Fungsi
Pengadaan yang sama.
e. Apabila penyedia barang/jasa yang ditunjuk memiliki
kontrak yang sedang berjalan, dimana proses
pengadaan sebelumnya diproses dengan kompetisi
melalui Fungsi Pengadaan lain, sepanjang terdapat
excess capacity dari kontrak yang sudah ada di
lingkungan Perusahaan atau penyedia barang/jasa
sepakat dengan harga yang sudah ada. Apabila
diterbitkan kontrak baru maka nilai kontrak maksimal
sama dengan nilai kontrak sebelumnya.
f. Pengadaan barang kepada perseorangan sesuai
dengan batasan kualifikasi dan klasifikasi yang
terdapat pada BAB IV butir C dengan
mempertimbangkan faktor kewajaran harga dan
barang merupakan hasil produksi sendiri (home
industry).
g. Pengadaan jasa konsultan perseorangan sesuai
dengan batasan kualifikasi dan klasifikasi yang
terdapat pada BAB IV butir C dengan
mempertimbangkan faktor kewajaran harga serta
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Pelaksanaan pekerjaan yang ditugaskan tidak
memerlukan kerja kelompok (team work) untuk
penyelesaiannya;
2) Jasa konsultansi tersebut bukan merupakan
proyek/kegiatan secara utuh yang berdiri sendiri;
3) Pekerjaan hanya memungkinkan dilakukan oleh
seorang yang sangat ahli di bidangnya;
4) Jasa konsultansi tersebut harus bersifat tugas
khusus Perusahaan dalam memberikan masukan
/ nasehat dalam pelaksanaan proyek/ kegiatan;
5) Konsultan perorangan yang ditunjuk diyakini
mampu menyelesaikan penugasannya ditinjau
dari segi teknis, waktu, dan harga.
h. Dilakukan oleh Fungsi Pengadaan, dengan cara:
Mengundang calon Penyedia Barang/Jasa terdaftar
atau belum terdaftar sesuai dengan persyaratan
kualifikasi, klasifikasi dan persyaratan CSMS yang
telah ditentukan;
i. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa tersebut harus
dapat dipertanggung jawabkan dari sisi harga, kualitas
dan ketersediaan pasokan yang dibutuhkan.
C. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha Dengan Sistem

Penunjukan Langsung Dalam Pengadaan Barang dan/atau Jasa

oleh Badan Usaha Milik Negara

1. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha Dalam Pengadaan

Barang dan/atau Jasa Pada Badan Usaha Milik Negara Oleh

PT X

Dalam konsepsi hukum persaingan usaha yang berada di

Indonesia, berdasarkan pertimbangan pada huruf (c) Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dijelaskan bahwa “bahwa

setiap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam

situasi persaingan yang sehat dan wajar, sehingga tidak

menimbulkan adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku

usaha tertentu, dengan tidak terlepas dari kesepakatan yang telah

dilaksanakan oleh negara Republik Indonesia terhadap perjanjian-

perjanjian internasional”. Hukum persaingan usaha menginginkan

adanya persaingan usaha yang sehat dan wajar dalam

pelaksanaan kegiatan ekonomi di Indonesia. Bentuk sehat dan

wajar tersebut dijabarkan oleh pemerintah bahwa pelaku usaha

dilarang melakukan kegiatan yang dilarang dalam hukum

persaingan usaha di Indonesia sebagaimana diatur pada Pasal 17

hingga Pasal 23 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.


Pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh PT X apabila

dikaji terhadap kasus yang telah diputuskan oleh Komisi

Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap PT Gas Negara

dengan Nomor perkara 22/KPPU-L/2005, dapat dikaji bahwa

unsur pelaku usaha terhadap PT X dapat dilihat dalam Pasal 1

ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yaitu “setiap

orang perorangan atau badan usaha baik yang berbentuk badan

hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan

berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum

negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama

melalui perjanjian menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha

dalam bidang ekonomi”. Pernyataan dalam Pasal 1 ayat (5)

tersebut menyatakan bahwa adalah benar PT X merupakan

sebuah Badan Usaha Milik Negara yang berbadan hukum

Indonesia didirikan dan berkedudukan di Indonesia dan

melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Bahwa atas hal tersebut,

unsur pelaku usaha pada PT X terpenuhi.

Dengan hal tersebut, penunjukan langsung yang dilakukan

oleh PT X sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Nomor

1263/TBK/SK-0000/15-S11.2 tentang Pedoman Pengadaan

Barang dan/Jasa PT X (selanjutnya disebut SK-12) yang disahkan

oleh Direksi PT X pada 21 September 2015 dimana Surat


Keputusan ini adalah hasil dari peninjauan kembali atas Surat

Keputusan Direksi Nomor 114/TBK/SK-0000/15-S11.2 tanggal 30

Januari 2015 tentang Pedoman Pengadaan Barang/ Jasa di

Lingkungan PT X, bahwa “Penunjukan langsung dilakukan secara

langsung dengan menunjuk satu penyedia barang dan jasa atau

melalui beauty contest”. Konsep penunjukan langsung tersebut

dinyatakan sesuai dengan dengan yang tercantum dalam

Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Badan Usaha Milik Negara Pasal 9 ayat (3). Dengan demikian,

unsur penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT X terpenuhi.

Setelah unsur pelaku usaha dan sesuainya konsep

penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT X, maka apabila

dilakukan kajian atas asas dengan persaingan usaha tidak sehat

dan Pasal 19, terdapat inkonsisten dalam penerapannya. Sebab,

dalam Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat dijelaskan bahwa persaingan usaha tidak sehat adalah

“persaingan antar pelaku pelaku usaha dalam menjalankan

kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan/atau jasa yang

dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau


menghambat persaingan usaha”. Bila dikaitkan dengan asas yang

tercantum pada Pasal 3 huruf (c) yaitu “mencegah praktek

monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan

oleh pelaku usaha”. Merujuk terhadap penjelasan tersebut, maka

konsep penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT X dengan

dasar Surat Keputusan Nomor 1263/TBK/SK-0000/15-S11.2

tentang Pedoman Pengadaan Barang dan/Jasa PT X (selanjutnya

disebut SK-12) yang disahkan oleh Direksi PT X pada 21

September 2015 dimana Surat Keputusan ini adalah hasil dari

peninjauan kembali atas Surat Keputusan Direksi Nomor

114/TBK/SK-0000/15-S11.2 tanggal 30 Januari 2015 tentang

Pedoman Pengadaan Barang/ Jasa di Lingkungan PT X yang

mendasari terhadap Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan

Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara dan dikaitkan dengan

Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dengan

melakuka praktek diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu.

Praktek diskriminasi tersebut dilakukan dengan cara penunjukan

langsung untuk pengadaan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan

oleh PT X. Maka secara peraturan, benar bahwa peraturan


tersebut merujuk terhadap peraturan yang lebih tinggi, bahwa

dalam pelaksanaan penunjukan langsung PT X dapat

dikategorikan menghambat persaingan usaha dengan tidak

memberikan kesempatan kepada pelaku usaha pada pasar

bersangkutan yang sama untuk memperoleh kesempatan yang

sama dalam kegiatan usahanya. Dengan demikian, unsur

persaingan usaha tidak sehat dipenuhi oleh PT X dengan tidak

menjalankan asas-asas yang diatur dalam hukum persaingan

usaha di Indonesia.

2. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha Dalam Pengadaan

Barang dan/atau Jasa Pada Badan Usaha Milik Negara Oleh

PT Y

Dalam konsepsi hukum persaingan usaha yang berada di

Indonesia, berdasarkan pertimbangan pada huruf (c) Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dijelaskan bahwa “bahwa

setiap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam

situasi persaingan yang sehat dan wajar, sehingga tidak

menimbulkan adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku

usaha tertentu, dengan tidak terlepas dari kesepakatan yang telah

dilaksanakan oleh negara Republik Indonesia terhadap perjanjian-

perjanjian internasional”. Hukum persaingan usaha menginginkan

adanya persaingan usaha yang sehat dan wajar dalam


pelaksanaan kegiatan ekonomi di Indonesia. Bentuk sehat dan

wajar tersebut dijabarkan oleh pemerintah bahwa pelaku usaha

dilarang melakukan kegiatan yang dilarang dalam hukum

persaingan usaha di Indonesia sebagaimana diatur pada Pasal 17

hingga Pasal 23 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh PT Y apabila

dikaji terhadap kasus yang telah diputuskan oleh Komisi

Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap PT Gas Negara

dengan Nomor perkara 22/KPPU-L/2005, dapat dikaji bahwa

unsur pelaku usaha terhadap PT Y dapat dilihat dalam Pasal 1

ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yaitu “setiap

orang perorangan atau badan usaha baik yang berbentuk badan

hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan

berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum

negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama

melalui perjanjian menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha

dalam bidang ekonomi”. Pernyataan dalam Pasal 1 ayat (5)

tersebut menyatakan bahwa adalah benar PT Y merupakan

sebuah Badan Usaha Milik Negara yang berbadan hukum

Indonesia didirikan dan berkedudukan di Indonesia dan


melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Bahwa atas hal tersebut,

unsur pelaku usaha pada PT Y terpenuhi.

Dengan hal tersebut, penunjukan langsung yang dilakukan

oleh PT Y sebagaimana diatur dalam Peraturan Direksi PT Y

Keputusan Nomor PD 19 Tahun 2015 tentang Tata Cara

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkungan PT Y,

bahwa “Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus, pemilihan

Penyedia Barang/Jasa dapat dilakukan dengan cara menunjuk

secara langsung 1 (satu) barang/jasa atau melalui Direct Deal

atau Beauty Contest, dengan cara melakukan Negosiasi baik

teknis maupun harga sehingga diperoleh harga yang wajar dan

secara teknis dapat dipertanggungjawabkan”. Konsep penunjukan

langsung tersebut dinyatakan sesuai dengan dengan yang

tercantum dalam Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan

Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara Pasal 9 ayat (3).

Dengan demikian, unsur penunjukan langsung yang dilakukan

oleh PT Y terpenuhi.

Setelah unsur pelaku usaha dan sesuainya konsep

penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT Y, maka apabila

dilakukan kajian atas asas dengan persaingan usaha tidak sehat


dan Pasal 19, terdapat inkonsisten dalam penerapannya. Sebab,

dalam Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat dijelaskan bahwa persaingan usaha tidak sehat adalah

“persaingan antar pelaku pelaku usaha dalam menjalankan

kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan/atau jasa yang

dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau

menghambat persaingan usaha”. Bila dikaitkan dengan asas yang

tercantum pada Pasal 3 huruf (c) yaitu “mencegah praktek

monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan

oleh pelaku usaha”. Merujuk terhadap penjelasan tersebut, maka

konsep penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT Y dengan

dasar Peraturan Direksi PT Y Keputusan Nomor PD 19 Tahun

2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan Barang dan

Jasa di Lingkungan PT Y yang mendasari terhadap Peraturan

Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-15/MBU/2012

tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha

Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara dan dikaitkan dengan Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5

Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan

Usaha Tidak Sehat dengan melakuka praktek diskriminasi

terhadap pelaku usaha tertentu. Praktek diskriminasi tersebut


dilakukan dengan cara penunjukan langsung untuk pengadaan

barang dan/atau jasa yang dibutuhkan oleh PT Y. Maka secara

peraturan, benar bahwa peraturan tersebut merujuk terhadap

peraturan yang lebih tinggi, bahwa dalam pelaksanaan

penunjukan langsung PT Y dapat dikategorikan menghambat

persaingan usaha dengan tidak memberikan kesempatan kepada

pelaku usaha pada pasar bersangkutan yang sama untuk

memperoleh kesempatan yang sama dalam kegiatan usahanya.

Dengan demikian, unsur persaingan usaha tidak sehat dipenuhi

oleh PT Y dengan tidak menjalankan asas-asas yang diatur dalam

hukum persaingan usaha di Indonesia.

3. Pendekatan Hukum Persaingan Usaha Dalam Pengadaan

Barang dan/atau Jasa Pada Badan Usaha Milik Negara Oleh

PT Z

Dalam konsepsi hukum persaingan usaha yang berada di

Indonesia, berdasarkan pertimbangan pada huruf (c) Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dijelaskan bahwa “bahwa

setiap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam

situasi persaingan yang sehat dan wajar, sehingga tidak

menimbulkan adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku

usaha tertentu, dengan tidak terlepas dari kesepakatan yang telah

dilaksanakan oleh negara Republik Indonesia terhadap perjanjian-


perjanjian internasional”. Hukum persaingan usaha menginginkan

adanya persaingan usaha yang sehat dan wajar dalam

pelaksanaan kegiatan ekonomi di Indonesia. Bentuk sehat dan

wajar tersebut dijabarkan oleh pemerintah bahwa pelaku usaha

dilarang melakukan kegiatan yang dilarang dalam hukum

persaingan usaha di Indonesia sebagaimana diatur pada Pasal 17

hingga Pasal 23 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh PT Z apabila

dikaji terhadap kasus yang telah diputuskan oleh Komisi

Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap PT Gas Negara

dengan Nomor perkara 22/KPPU-L/2005, dapat dikaji bahwa

unsur pelaku usaha terhadap PT Z dapat dilihat dalam Pasal 1

ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan

Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yaitu “setiap

orang perorangan atau badan usaha baik yang berbentuk badan

hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan

berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum

negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama

melalui perjanjian menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha

dalam bidang ekonomi”. Pernyataan dalam Pasal 1 ayat (5)

tersebut menyatakan bahwa adalah benar PT Z merupakan

sebuah Badan Usaha Milik Negara yang berbadan hukum


Indonesia didirikan dan berkedudukan di Indonesia dan

melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Bahwa atas hal tersebut,

unsur pelaku usaha pada PT Z terpenuhi.

Dengan hal tersebut, penunjukan langsung yang dilakukan

oleh PT Z sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Direksi PT

Z Nomor Kpts-51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010

tentang Manajemen Pengadaan Barang/Jasa. Namun, pada

Tahun 2013, terdapat usulan revisi atas Surat Keputusan Direksi

PT Z Nomor Kpts-51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November

2010 tentang Manajemen Pengadaan Barang/Jasa berdasarkan

risalah rapat Direksi Nomor RRD-74/C00000/2012-S0 tanggal 31

Juli 2012 dan Nomor RRD-125/C00000/2012-S0 tanggal 23

Oktober 2012, telah disetujui oleh Jajaran Direksi perubahan ke-2

atas SK-51/2010, bahwa

Penunjukan langsung dapat dilakukan apabila ketentuan

dalam BAB V B.3 halaman 29. Konsep penunjukan langsung

tersebut dinyatakan sesuai dengan dengan yang tercantum dalam

Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Badan Usaha Milik Negara Pasal 9 ayat (3). Dengan demikian,

unsur penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT Z terpenuhi.


Setelah unsur pelaku usaha dan sesuainya konsep

penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT X, maka apabila

dilakukan kajian atas asas dengan persaingan usaha tidak sehat

dan Pasal 19, terdapat inkonsisten dalam penerapannya. Sebab,

dalam Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat dijelaskan bahwa persaingan usaha tidak sehat adalah

“persaingan antar pelaku pelaku usaha dalam menjalankan

kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan/atau jasa yang

dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau

menghambat persaingan usaha”. Bila dikaitkan dengan asas yang

tercantum pada Pasal 3 huruf (c) yaitu “mencegah praktek

monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan

oleh pelaku usaha”. Merujuk terhadap penjelasan tersebut, maka

konsep penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT Z dengan

dasar Peraturan Surat Keputusan Direksi PT Z Nomor Kpts-

51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010 tentang

Manajemen Pengadaan Barang/Jasa. Namun, pada Tahun 2013,

terdapat usulan revisi atas Surat Keputusan Direksi PT Z Nomor

Kpts-51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010 tentang

Manajemen Pengadaan Barang/Jasa berdasarkan risalah rapat

Direksi Nomor RRD-74/C00000/2012-S0 tanggal 31 Juli 2012 dan

Nomor RRD-125/C00000/2012-S0 tanggal 23 Oktober 2012, telah


disetujui oleh Jajaran Direksi perubahan ke-2 atas SK-51/2010

yang mendasari terhadap Peraturan Menteri Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara dan

dikaitkan dengan Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat dengan melakuka praktek diskriminasi terhadap pelaku

usaha tertentu. Praktek diskriminasi tersebut dilakukan dengan

cara penunjukan langsung untuk pengadaan barang dan/atau jasa

yang dibutuhkan oleh PT Z. Maka secara peraturan, benar bahwa

peraturan tersebut merujuk terhadap peraturan yang lebih tinggi,

bahwa dalam pelaksanaan penunjukan langsung PT Z dapat

dikategorikan menghambat persaingan usaha dengan tidak

memberikan kesempatan kepada pelaku usaha pada pasar

bersangkutan yang sama untuk memperoleh kesempatan yang

sama dalam kegiatan usahanya. Dengan demikian, unsur

persaingan usaha tidak sehat dipenuhi oleh PT Z dengan tidak

menjalankan asas-asas yang diatur dalam hukum persaingan

usaha di Indonesia.
BAB IV

KARAKTERISIK DAN ANALISA SISTEM PENUNJUKAN

LANGSUNG DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM

PERSAINGAN USAHA DI INDONESIA

A. PELANGGARAN PASAL 19 HURUF (D) UNDANG-UNDANG

NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK

MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

1. Perkara tentang Penunjukan Langsung PT Perusahaan Gas

Negara (Persero), Tbk89

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menindak lanjuti

laporan tentang dugaan terhadap Pasal 19 huruf (d) dan Pasal 22

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang diproses oleh

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam perkara

“Tender Pengadaan Pipa Untuk Proyek Transmisi Jalur Lepas

Pantai Labuhan Maringgai – Muara Bekasi Untuk Proyek

Pipanisasi Gas South Sumatra – West Java (SSWJ) Tahap II PT

Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk dengan Nomor perkara

22/KPPU-L/2005.

89
Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Perkara Nomor 22/KPPU-L/2005
Tentang Penunjukan Langsung Dalam pengadaan pipa untuk proyek transmisi gas jalur
lepas pantai Labuhan Maringgai – Muara Bekasi untuk proyek pipanisasi gas South
Sumatera – West Java (SSWJ) tahap II PT. Perusahaan Gas Negara (Persero),Tbk,
tanggal 18 Juli 2006
Dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh PT Perusahaan

Gas Negara (Persero), Tbk, PT South East Asia Pipe Industries

(SEAPI), PT Bakrie & Brothers, Welspun Gujarat Stahl Rohren

Pte. Ltd (Welspun), Daewoo Intenational Coporation (Daewoo),

Det Norske Veritas Pte. Ltd (DNV Singapore), dan PT Cipta

Dekatama Tastek (Cipta Dekatama). Bahwa bentuk pelaporan

yang diterima oleh KPPU adalah:

a. Penunjukan Konsorsium SEAPI-Welspun sebagai


pemenang tender dalam tender pengadaan pipa
offshore South Sumatera – West Java (SSWJ) Tahap
II paket Labuhan Maringgai – Muara Bekasi dilakukan
dengan cara yang tidak sah;
b. Bahwa PGN melakukan diskriminasi dengan tidak
melakukan inspeksi terhadap seluruh peserta tender.

Dugaan pelanggaran tersebut ditindaklanjuti melalui Penetapan

Komisi Nomor 45/PEN/KPPU/XII/2005 tanggal 15 Desember 2005

tentang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor: 22/KPPU -

L/2005, untuk melakukan Pemeriksaan Pendahuluan terhitung

sejak tanggal 15 Desember 2005 sampai dengan 26 Januari 2006.

Setelah dilakukan proses indikasi atas dugaan pelanggaran yang

dilakukan oleh PGN, KPPU menemukan indikasi pelanggaran

sebagai berikut:

a. Pembentukan Konsorsium SEAPI-Welspun;


1. Bahwa dalam proses tender ulang, SEAPI
membentuk konsorsium dengan Welspun yang
masing-masing merupakan peserta tender yang
bersaing pada tender pertama;
2. Bahwa pada tender pertama, SEAPI membentuk
konsorsium dengan Daewoo, sedangkan Welspun
bekerjasama dengan PT. Abadi Kuasa Karya;
3. Bahwa perubahan konsorsium yang dilakukan
oleh SEAPI dan Welspun dalam tender ulang
bertentangan dengan Perjanjian Konsorsium
antara SEAPI dan Daewoo;
4. Bahwa Konsorsium SEAPI-Welspun tidak
terdaftar sebagai peserta dalam tender pertama,
sehingga seharusnya tidak dapat mengikuti
proses tender ulang karena Panitia Tender hanya
mengundang 21 perusahaan yang membeli
dokumen tender pada tender pertama;
b. Nilai Penawaran Konsorsium SEAPI-Welspun
1. Bahwa dalam tender pertama, harga penawaran
Konsorsium SEAPIDaewoo adalah yang paling
tinggi dibandingkan dengan peserta lain dan di
atas Owner Estimate (OE);
2. Bahwa dalam tender ulang, harga penawaran
Konsorsium SEAPIWelspun lebih rendah dari
harga penawaran Konsorsium SEAPIDaewoo dan
lebih tinggi dari harga penawaran Welspun di
tender pertama;
3. Bahwa harga penawaran yang diajukan oleh
Konsorsium SEAPIWelspun pada tender ulang
lebih tinggi dari nilai OE pada tender pertama;
c. Penunjukan DNV Singapore sebagai konsultan untuk
melakukan inspeksi;
1. Bahwa DNV Singapore adalah konsultan yang
ditunjuk PGN untuk menyusun spesifikasi teknis
dan conceptual design dalam dokumen tender;
2. Bahwa untuk melakukan evaluasi pada tender
pertama, PGN menunjuk PT. Tripatra Engineering
sebagai Project Management Consultant (PMC);
3. Bahwa pada saat proses evaluasi tender pertama
berlangsung, PGN kemudian menunjuk DNV
Singapore untuk melakukan inspeksi kepada
pabrik pipa dan pabrik plat yang diajukan oleh
para peserta tender;
4. Bahwa penunjukan DNV Singapore dilakukan
tanpa melalui proses tender;
d. PGN tidak melakukan inspeksi terhadap semua pabrik
pipa dan pabrik plat peserta tender;
1. Bahwa dalam tender pertama dan tender ulang,
PGN tidak melakukan inspeksi tehadap semua
pabrik pipa dan pabrik plat yang diajukan oleh
peserta tender;
2. Bahwa salah satu pabrik peserta tender yang
tidak diinspeksi adalah SEAPI karena dianggap
telah memenuhi persyaratan kualifikasi DNV OSF-
101 2000 berdasarkan pengalaman (past record
experience) pada proyek Kuala Tungkal-Panaran
untuk pembangunan jalur pipa offshore PGN;
3. Pengguguran Seluruh Peserta dalam Tender
Pertama;

Bahwa keputusan PGN untuk melakukan tender ulang didasarkan

pada alasan tidak adanya peserta tender yang memenuhi

persyaratan administrasi, teknis dan harga. Namun keputusan

untuk melakukan tender ulang tidak disertai pemberitahuan

mengenai alasan masing-masing peserta dinyatakan gugur.

Dalam melakukan pembuktian terhadap dugaan pelanggaran

yang dilakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk

tersebut, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan

pertimbangan pembuktian unsur dugaan pelanggaran yang

dilakukan PT Perusahaan Gas Negara dalam Pasal 19 huruf (d)

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Majelis Komisi menimbang pemenuhan unsur-unsur dalam

Pasal 19 huruf (d) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

menyatakan “Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau

beberapa kegiatan, baik sendiri maupun bersama pelaku usaha

lain, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan

atau persaingan usaha tidak sehat berupa: (d) melakukan praktek

diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu.


Unsur pertama adalah pelaku usaha. Bahwa yang dimaksud

dalam Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat adalah “setiap orang perorangan atau badan usaha baik

yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang

didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam

wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun

bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan berbagai

kegiatan usaha dalam bidang ekonomi”. Pernyataan dalam Pasal

1 ayat (5) tersebut menyatakan bahwa adalah benar PT

Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk adalah benar sebuah

Badan Usaha Milik Negara yang berbadan hukum Indonesia

didirikan dan berkedudukan di Indonesia dan melakukan kegiatan

usaha di Indonesia. Bahwa atas hal tersebut, unsur pelaku usaha

pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) terpenuhi.

Unsur kedua adalah unsur penunjukan langsung. Bahwa

dalam rangka mengatur sendiri prosedur pengadaan barang/jasa,

PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk mengeluarkan

Keputusan Direksi Nomor 065.K/92/750/2002 tentang Cara

Pengadaan Barang/Jasa, ketentuan tersebut dijadikan acuan

normatif dalam penyelesaian perkara.

Unsur ketiga yaitu Melakukan satu atau beberapa kegiatan.

Bahwa tindakan yang diduga merupakan tindakan diskriminatif


yaitu “Penunjukan DNV Singapore untuk melakukan assessment

terhadap para peserta tender tanpa melalui proses tender; b.

Tindakan Panitia Tender yang merekomendasikan 6 (enam)

perusahaan sebagai plate supplier dalam tender ulang; c.

Tindakan Panitia Tender yang tidak melakukan aanwijzing dalam

proses tender ulang; Bahwa dengan demikian unsur melakukan

satu atau beberapa kegiatan terpenuhi.

Unsur yang ke-empat yaitu Melakukan praktek diskriminasi

terhadap pelaku usaha tertentu. Bahwa PGN menunjuk DNV

Singapore untuk melakukan assessment terhadap para peserta

tender tidak dilakukan melalui proses tender dengan alasan

pekerjaan assesment tersebut merupakan pekerjaan yang

spesifik; Bahwa meskipun jenis pekerjaan yang dilakukan oleh

DNV Singapore bersifat spesifik, namun tidak berarti hanya DNV

Singapore saja yang dapat mengerjakan pekerjaan tersebut

karena terdapat perusahaan lokal dalam hal ini adalah PT.

Germanischer Llyod Nusantara (GL Nusantara) maupun

perusahaan asing yang dapat mengerjakan pekerjaan sejenis;

Bahwa berdasarkan Keputusan Direksi PGN Nomor

065.K/92/750/2002 yang menyatakan untuk pekerjaan dengan

nilai dibawah Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah), PGN dapat

melakukan penunjukkan langsung sedangkan untuk pekerjaan

yang nilainya melebihi Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)


penunjukannya harus dilakukan melalui proses tender; Bahwa

karena nilai pekerjaan assessment yang dilakukan oleh DNV

Singapore adalah sebesar USD 75,397.00 (tujuh puluh lima ribu

tiga ratus sembilan puluh tujuh dollar Amerika Serikat), maka PGN

seharusnya melakukan tender; Bahwa tindakan PGN menunjuk

langsung DNV Singapore telah mengakibatkan pelaku usaha

tertentu dalam hal ini PT. Germanischer Llyod Nusantara (GL

Nusantara) dan perusahaan-perusahaan penyedia jasa lain yang

mempunyai kegiatan usaha yang sama dengan DNV Singapore

tidak memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing dalam pasar

jasa yang sama; Bahwa tindakan Panitia merekomendasikan 6

(enam) perusahaan sebagai plate supplier dalam tender ulang

dilakukan berdasarkan usulan dari para peserta tender pada

tender pertama; Bahwa karena tindakan merekomendasikan 6

peserta didasarkan pada alasan yang wajar, maka tindakan

tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan diskriminatif;

Bahwa dalam proses tender ulang Panitia Tender tidak melakukan

aanwijzing; Bahwa dari 21 perusahaan yang membeli dokumen

tender pada saat tender pertama hanya 19 perusahaan yang

mengikuti aanwijing; Bahwa tindakan Panitia yang tidak

melaksanakan aanwijzing pada tender ulang dapat menimbulkan

perbedaan kesempatan dalam memperoleh informasi berkaitan

dengan pelaksanaan tender; Bahwa dalam tender ulang tidak


terdapat peserta baru yang belum pernah mengikuti aanwijzing

pada tender pertama; Bahwa berdasarkan hal tersebut tindakan

Panitia Tender yang tidak melaksanakan aanwijzing pada saat

tender ulang bukan merupakan tindakan yang dapat menghambat

masuknya peserta baru dalam tender ulang; Bahwa dengan

demikian dalam hal penunjukan DNV Singapore, unsur melakukan

tindakan diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu terpenuhi.

Pada unsur ke-lima tentang persaingan usaha tidak sehat,

Bahwa tindakan PGN untuk menunjuk langsung DNV Singapore

merupakan tindakan yang dikategorikan menghambat persaingan

usaha dengan tidak memberikan kesempatan kepada pelaku

usaha pada pasar bersangkutan yang sama untuk memperoleh

kesempatan yang sama dalam melakukan kegiatan usahanya.

Bahwa dengan demikian, unsur persaingan usaha tidak sehat

terpenuhi.

2. Pengenaan Sanksi

Atas kasus PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk tersebut

dalam dugaan terhadap Pasal 19 huruf (d) dan Pasal 22 Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Majelis Komisi memutuskan:

a. Menyatakan bahwa Terlapor I (PGN) secara sah dan


meyakinkan terbukti melanggar ketentuan Pasal 19
huruf d Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
b. Menyatakan bahwa Terlapor I (PGN), Terlapor II
(Panitia Tender), Terlapor III (SEAPI), Terlapor IV
(Bakrie and Brothers), Terlapor V (Welspun), Terlapor
VI (Daewoo), Terlapor VII (DNV Singapore), dan
Terlapor VIII (Cipta Dekatama) secara sah dan
meyakinkan tidak terbukti melanggar ketentuan Pasal
22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
c. Memerintahkan Terlapor I (PGN) untuk menghentikan
kerjasama dengan Terlapor VII (DNV Singapore)
dalam pekerjaan konsultan dalam Tender Pengadaan
Pipa Untuk Proyek Transmisi Gas Jalur Lepas Pantai
Labuhan Maringgai – Muara Bekasi untuk Proyek
Pipanisasi Gas South Sumatera West Java (SSWJ)
Tahap II PT. Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk.;
d. Memerintahkan Terlapor I (PGN) untuk melaksanakan
secara konsisten peraturan pengadaan barang dan
atau jasa sesuai dengan Keputusan Direksi PGN
dan/atau peraturan lain yang menyangkut pengadaan
barang dan atau jasa;
e. Memerintahkan kepada Direktur Utama PGN agar
memberikan tindakan administratif kepada Project
Manager SSWJ IV, Jobi Triananda atas
tindakantindakan yang dilakukan olehnya

Dengan dasar tersebut, berkaitan dengan sistem pengadaan barang

dan/atau jasa di lingkungan PT Perusahaan Gas Negara (Persero),

Tbk, tetap perlu untuk mematuhi pengaturan dan peraturan terkait

prosedur pengadaan barang dan/atau jasa dengan memperhatikan

peraturan hukum persaingan usaha di Indonesia. Sehingga metode

atas pengadaan barang dan/atau jasa tersebut tetap dapat

berlangsung tanpa adanya pelanggaran yang mengarah terhadap

tindakan diskriminasi terhadap pelaku usaha lainnya yang memiliki

bidang usaha yang sejenis dalam hal pengadaan barang dan/atau

jasa.
B. SISTEM PENUNJUKAN LANGSUNG DITINJAU DARI UNDANG-

UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN

PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

Pada Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Pelaku usaha adalah

“setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk

badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan

berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara

Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui

perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang

ekonomi”.

Pada Pasal 2 diatur tentang asas ekonomi yang perlu diperhatikan

oleh pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya bahwa:

“Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya

berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan

keseimbangan antar kepentingan pelaku usaha dan kepentingan

umum”. Asas demokrasi ekonomi tersebut merupakan penjabaran

Pasal 33 UUD 1945 dan ruang lingkup pengertian demokrasi ekonomi

yang dimaksud dahulu dapat ditemukan dalam penjelasan atas Pasal

33 UUD 1945.90

90
Andi Fahmi Lubis, ed, Op. Cit, h. 14
Selain hal tersebut, dalam pelaksanaan pengadaan barang

dan/atau jasa, PT X, PT Y dan PT Z sebagai Badan Usaha Milik

Negara perlu memahami asas-asas yang teracantum dalam peraturan

perundang-undangan khususnya persaingan usaha. Asas dan tujuan

akan memberi refleksi bagi bentuk pengaturan dan norma-norma yang

dikandung dalam aturan tersebut. Selanjutnya pemahaman terhadap

norma-norma aturan hukum tersebut akan memberi arahan dan

mempengaruhi pelaksanaan dan cara-cara penegakan hukum yang

akan dilakukan.91

Pengadaan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh PT X, PT Y

dan PT Z melalui surat penetapan ataupun surat keputusan direksi

dimana aturan tersebut mendasari terhadap Peraturan Menteri Nomor

PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan

Usaha Milik Negara. Kewenangan Menteri untuk mengangatur lebih

lanjut berkenaan dengan dibentuknya Peraturan Menteri dan

menyatakan kepada Badan Usaha Milik Negara yang hendak megatur

lebih lanjut tentang prosedur pengadaan barang dan/atau jasa seperti

yang tercantum dalam peraturan Menteri tersebut didasari terhadap

Pasal 8 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang menjelaskan

91
Ibid
pada ayat (1) dan (2) bahwa “peraturan perundang-undangan

sebagaimana dimaksud ayat (1) diakui keberadaannya dan

mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh

Peraturan Perundang-Undangan yang lebih tinggi atau dibentuk

berdasarkan kewenangannya”.

Asas-asas dalam hukum persaingan usaha tentu memiliki tujuan

dalam tercapainya persaingan usaha yang sehat. PT X, PT Y dan PT

Z melakukan pengaturan lebih lanjut melalui surat keputusan atau

penetapan Direksi dalam pengadaan barang dan/atau jasa perlu tetap

memperhatikan asas-asas tersebut. Dengan memperhatikan asas-

asas tersebut, maka PT X, PT Y dan PT Z dapat memahami bahwa

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat memiliki Tujuan

sebagaimana diatur pada Pasal 3 adalah untuk:

a. menjaga kepentingan umum dan meningkatkan


efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;
b. mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui
pengaturan persaingan usaha yang sama bagi pelaku
usaha besar, pelaku usaha menengah dan pelaku
usaha kecil;
c. mencegah praktek monopoli dan/atau persaingan
usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku
usaha, dan terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam
kegiatan usaha.

Dua hal yang menjadi unsur penting bagi penentuan kebijakan (policy

objectives) yang ideal dalam pengaturan persaingan di negara-negara

yang memiliki undang-undang persaingan adalah kepentingan umum


(public interest) dan efisiensi ekonomi (economic efficiency).92 PT X,

PT Y dan PT Z perlu memahami bahwa dari peraturan yang telah

ditetapkan oleh pemerintah dan dilanjutkan dengan pengaturan

secara internal oleh perusahaan, perlu tetap memperhatikan aspek

kepentingan umum. Kepentingan umum diartikan sebagai bentuk

bahwa suatu tindakan yang ruang lingkupnya terkait dengan

keberadaan khalayak ramai. Pengadaan barang dan/atau jasa yang

dilakukan oleh PT X, PT Y dan PT Z perlu mewadahi bahwa pelaku

usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa adalah memiliki

kepentingan untuk melakukan usahanya dan kegiatan usaha tersebut

tentunya perlu untuk tetap dapat berjalan dengan baik tanpa adanya

diskriminasi dan persaingan usaha yang tidak sehat.

Pasal 2 dan 3 tersebut diharapkan bahwa peraturan mengenai

persaingan akan membantu dalam mewujudkan demokrasi ekonomi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945 (Pasal 2)

dan menjamin sistem persaingan usaha yang bebas dan adil untuk

meningkatkan kesejahteraan rakyat serta menciptakan sistem

perekonomian yang efisien (Pasal 3). Oleh karena itu, mereka

mengambil bagian pembukaan UUD 1945 yang sesuai dengan Pasal

3 Huruf (a) dan (b) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dari struktur

ekonomi untuk tujuan perealisasian kesejahteraan nasional menurut

UUD 1945 dan demokrasi ekonomi, dan yang menuju pada sistem

92
Saafroedin Sabar, ed, Op. Cit, h.192
persaingan bebas dan adil dalam Pasal 3 Huruf a dan b UU Nomor 5

Tahun 1999. Hal ini menandakan adanya pemberian kesempatan

yang sama kepada setiap pelaku usaha dan ketiadaan pembatasan

persaingan usaha, khususnya penyalahgunaan wewenang di sektor

ekonomi.93

Terdapat alasan mengapa perlu menerapkan hukum persaingan

usaha bagi PT X, PT Y dan PT Z dalam melaksanakan pengadaan

barang dan/atau jasa guna tidak menimbulkan permasalahan hukum

tentang persaingan usaha tidak sehat. Alasan hukum, dimaksudkan

bahwa terdapat pelaku usaha yang melakukan kegiatan yang sama

atau yang dapat disamakan akan mendapatkan perlakuan yang sama

menurut prinsip dan standar hukum persaingan usaha yang berlaku,

antara lain memberikan jaminan adanya keadilan (fairness),

kesamaan kesempatan (equality), dan perlakuan yang sama atau non

diskriminasi. Pendekatan ini diharapkan mampu untuk mendorong

proses penegakan hukum (due process of law) dilaksanakan sesuai

dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.94

Dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

dijelaskan bahwa “pelaku usaha dilarang melakukan satu atau

93
Andi Fahmi Lubis, ed, Op. Cit, h. 15
94
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Pedoman Pelaksanaan Ketentuan Pasal 50
huruf (a) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat, h. 16
beberapa kegiatan baik sendiri maupun bersama pelaku usaha lain,

yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/atau

persaingan usaha tidak sehat pada huruf (d) berupa melakukan

praktek diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu”. Dari hal

tersebut, tindakan penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT X, PT

Y dan PT Z sebagai badan Usaha Milik Negara memiliki indikasi

bertentangan dengan asas Pada Pasal 2 dan 3 tentang asas dan

tujuan dari pembentukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat. Penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT X, PT Y dan PT

Z dapat di indikasikan sebagai diskriminasi non-harga. Karena

menurut Komisi Pengawas Persaingan Usaha, tindakan yang

menghambat atau bertentangan dengan prinsip persaingan usaha

tidak sehat berdasarkan Pasal 19 huruf (d) dapat berupa diskriminasi

harga maupun non-harga.95

KPPU mendefinisikan pengertian bersekongkol terkait pengaturan

dan/atau penentuan pemenang tender yaitu “kerja sama antara dua

pihak atau lebih, secara terang-terangn maupun diam-diam melalui

tindakan penyesuaian (concertedaction) dan/atau membandingkan

dokumen tender sebelum penyerahan (comparing bid prior to

submission) dan/atau menciptakan persaingan semu (shame

competition) dan/atau menyetujui dan/atau memfasilitasi dan/atau


95
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Pedoman Pelaksanaan tentang Pasal 19 Huruf
(d) Praktek Diskriminasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, h. 1
tidak menolak melakukan suatu tindakan meskipun mengetahui atau

sepatutnya mengetahui bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk

mengatur dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu”.96

Pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh PT X, PT Y dan

PT Z apabila dikaitkan terhadap kasus yang telah diputuskan oleh

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap PT Gas

Negara (Persero), Tbk dengan Nomor perkara 22/KPPU-L/2005,

dapat dikaji bahwa unsur pelaku usaha terhadap PT X, PT Y dan PT Z

dapat dilihat dalam Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha

Tidak Sehat yaitu “setiap orang perorangan atau badan usaha baik

yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan

dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum

negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama

melalui perjanjian menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam

bidang ekonomi”. Pernyataan dalam Pasal 1 ayat (5) tersebut

menyatakan bahwa adalah benar PT X, PT Y dan PT Z merupakan

sebuah Badan Usaha Milik Negara yang berbadan hukum Indonesia

didirikan dan berkedudukan di Indonesia dan melakukan kegiatan

usaha di Indonesia. Bahwa atas hal tersebut, unsur pelaku usaha

pada PT X, PT Y dan PT Z terpenuhi.

96
Wahyuni Bahar, ed, Litigasi Persaingan Usaha (competition Litigation) dalam CFISEL
Litigation Series, (Tangerang: Telaga Ilmu, 2010), h. 6
Dengan hal tersebut, penunjukan langsung yang dilakukan oleh

PT X sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Nomor

1263/TBK/SK-0000/15-S11.2 tentang Pedoman Pengadaan Barang

dan/Jasa PT X (selanjutnya disebut SK-12) yang disahkan oleh

Direksi PT X pada 21 September 2015 dimana Surat Keputusan ini

adalah hasil dari peninjauan kembali atas Surat Keputusan Direksi

Nomor 114/TBK/SK-0000/15-S11.2 tanggal 30 Januari 2015 tentang

Pedoman Pengadaan Barang/ Jasa di Lingkungan PT X, bahwa

“Penunjukan langsung dilakukan secara langsung dengan menunjuk

satu penyedia barang dan jasa atau melalui beauty contest”. Konsep

penunjukan langsung tersebut dinyatakan sesuai dengan dengan

yang tercantum dalam Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri

Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan

Usaha Milik Negara Pasal 9 ayat (3). Dengan demikian, unsur

penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT X terpenuhi.

Penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT Y sebagaimana

diatur dalam Peraturan Direksi PT Y Keputusan Nomor PD 19 Tahun

2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa di

Lingkungan PT Y, bahwa “Dalam keadaan tertentu dan keadaan

khusus, pemilihan Penyedia Barang/Jasa dapat dilakukan dengan

cara menunjuk secara langsung 1 (satu) barang/jasa atau melalui


Direct Deal atau Beauty Contest, dengan cara melakukan Negosiasi

baik teknis maupun harga sehingga diperoleh harga yang wajar dan

secara teknis dapat dipertanggungjawabkan”. Konsep penunjukan

langsung tersebut dinyatakan sesuai dengan dengan yang tercantum

dalam Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan

Usaha Milik Negara Pasal 9 ayat (3). Dengan demikian, unsur

penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT Y terpenuhi.

Pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh PT Z apabila

dikaji terhadap kasus yang telah diputuskan oleh Komisi Pengawas

Persaingan Usaha (KPPU) terhadap PT Gas Negara dengan Nomor

perkara 22/KPPU-L/2005, dapat dikaji bahwa unsur pelaku usaha

terhadap PT Z dapat dilihat dalam Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat yaitu “setiap orang perorangan atau

badan usaha baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan

hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan

dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri

maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan

berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi”. Pernyataan dalam

Pasal 1 ayat (5) tersebut menyatakan bahwa adalah benar PT Z


merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara yang berbadan hukum

Indonesia didirikan dan berkedudukan di Indonesia dan melakukan

kegiatan usaha di Indonesia. Bahwa atas hal tersebut, unsur pelaku

usaha pada PT Z terpenuhi.

Setelah unsur pelaku usaha dan sesuainya konsep penunjukan

langsung yang dilakukan oleh PT X, maka apabila dilakukan kajian

atas asas dengan persaingan usaha tidak sehat dan Pasal 19,

terdapat inkonsisten dalam penerapannya. Sebab, dalam Pasal 1 ayat

(6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dijelaskan bahwa

persaingan usaha tidak sehat adalah “persaingan antar pelaku pelaku

usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran

barang dan/atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau

melawan hukum atau menghambat persaingan usaha”. Bila dikaitkan

dengan asas yang tercantum pada Pasal 3 huruf (c) yaitu “mencegah

praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang

ditimbulkan oleh pelaku usaha”. Merujuk terhadap penjelasan

tersebut, maka konsep penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT

X dengan dasar Surat Keputusan Nomor 1263/TBK/SK-0000/15-

S11.2 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan/Jasa PT X

(selanjutnya disebut SK-12) yang disahkan oleh Direksi PT X pada 21

September 2015 dimana Surat Keputusan ini adalah hasil dari

peninjauan kembali atas Surat Keputusan Direksi Nomor 114/TBK/SK-


0000/15-S11.2 tanggal 30 Januari 2015 tentang Pedoman Pengadaan

Barang/ Jasa di Lingkungan PT X yang mendasari terhadap Peraturan

Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang

Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara dan

dikaitkan dengan Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat dengan melakuka praktek diskriminasi terhadap pelaku usaha

tertentu. Praktek diskriminasi tersebut dilakukan dengan cara

penunjukan langsung untuk pengadaan barang dan/atau jasa yang

dibutuhkan oleh PT X. Maka secara peraturan, benar bahwa

peraturan tersebut merujuk terhadap peraturan yang lebih tinggi,

bahwa dalam pelaksanaan penunjukan langsung PT X dapat

dikategorikan menghambat persaingan usaha dengan tidak

memberikan kesempatan kepada pelaku usaha pada pasar

bersangkutan yang sama untuk memperoleh kesempatan yang sama

dalam kegiatan usahanya. Dengan demikian, unsur persaingan usaha

tidak sehat dipenuhi oleh PT X dengan tidak menjalankan asas-asas

yang diatur dalam hukum persaingan usaha di Indonesia.

Setelah unsur pelaku usaha dan sesuainya konsep penunjukan

langsung yang dilakukan oleh PT Y, maka apabila dilakukan kajian

atas asas dengan persaingan usaha tidak sehat dan Pasal 19,
terdapat inkonsisten dalam penerapannya. Sebab, dalam Pasal 1 ayat

(6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dijelaskan bahwa

persaingan usaha tidak sehat adalah “persaingan antar pelaku pelaku

usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran

barang dan/atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau

melawan hukum atau menghambat persaingan usaha”. Bila dikaitkan

dengan asas yang tercantum pada Pasal 3 huruf (c) yaitu “mencegah

praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang

ditimbulkan oleh pelaku usaha”. Merujuk terhadap penjelasan

tersebut, maka konsep penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT

Y dengan dasar Peraturan Direksi PT Y Keputusan Nomor PD 19

Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan Barang dan

Jasa di Lingkungan PT Y yang mendasari terhadap Peraturan Menteri

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-15/MBU/2012 tentang

Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara

Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara dan

dikaitkan dengan Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat dengan melakuka praktek diskriminasi terhadap pelaku usaha

tertentu. Praktek diskriminasi tersebut dilakukan dengan cara

penunjukan langsung untuk pengadaan barang dan/atau jasa yang


dibutuhkan oleh PT Y. Maka secara peraturan, benar bahwa

peraturan tersebut merujuk terhadap peraturan yang lebih tinggi,

bahwa dalam pelaksanaan penunjukan langsung PT Y dapat

dikategorikan menghambat persaingan usaha dengan tidak

memberikan kesempatan kepada pelaku usaha pada pasar

bersangkutan yang sama untuk memperoleh kesempatan yang sama

dalam kegiatan usahanya. Dengan demikian, unsur persaingan usaha

tidak sehat dipenuhi oleh PT Y dengan tidak menjalankan asas-asas

yang diatur dalam hukum persaingan usaha di Indonesia.

Setelah unsur pelaku usaha dan sesuainya konsep penunjukan

langsung yang dilakukan oleh PT X, maka apabila dilakukan kajian

atas asas dengan persaingan usaha tidak sehat dan Pasal 19,

terdapat inkonsisten dalam penerapannya. Sebab, dalam Pasal 1 ayat

(6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dijelaskan bahwa

persaingan usaha tidak sehat adalah “persaingan antar pelaku pelaku

usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran

barang dan/atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau

melawan hukum atau menghambat persaingan usaha”. Bila dikaitkan

dengan asas yang tercantum pada Pasal 3 huruf (c) yaitu “mencegah

praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang

ditimbulkan oleh pelaku usaha”. Merujuk terhadap penjelasan

tersebut, maka konsep penunjukan langsung yang dilakukan oleh PT


Z dengan dasar Peraturan Surat Keputusan Direksi PT Z Nomor Kpts-

51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010 tentang Manajemen

Pengadaan Barang/Jasa. Namun, pada tahun 2013, terdapat usulan

revisi atas Surat Keputusan Direksi PT Z Nomor Kpts-

51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010 tentang Manajemen

Pengadaan Barang/Jasa berdasarkan risalah rapat Direksi Nomor

RRD-74/C00000/2012-S0 tanggal 31 Juli 2012 dan Nomor RRD-

125/C00000/2012-S0 tanggal 23 Oktober 2012, telah disetujui oleh

Jajaran Direksi perubahan ke-2 atas SK-51/2010 yang mendasari

terhadap Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan

Usaha Milik Negara dan dikaitkan dengan Pasal 19 Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat dengan melakuka praktek diskriminasi

terhadap pelaku usaha tertentu. Praktek diskriminasi tersebut

dilakukan dengan cara penunjukan langsung untuk pengadaan barang

dan/atau jasa yang dibutuhkan oleh PT Z. Maka secara peraturan,

benar bahwa peraturan tersebut merujuk terhadap peraturan yang

lebih tinggi, bahwa dalam pelaksanaan penunjukan langsung PT Z

dapat dikategorikan menghambat persaingan usaha dengan tidak

memberikan kesempatan kepada pelaku usaha pada pasar


bersangkutan yang sama untuk memperoleh kesempatan yang sama

dalam kegiatan usahanya. Dengan demikian, unsur persaingan usaha

tidak sehat dipenuhi oleh PT Z dengan tidak menjalankan asas-asas

yang diatur dalam hukum persaingan usaha di Indonesia.

Dengan hal-hal tersebut, PT X, PT Y dan PT Z sebagai Badan

Usaha Milik Negara yang melakukan pengaturan atas pengadaan

barang dan/atau jasa yang diatur lebih lanjut melalui peraturan internal

yaitu surat keputusan ataupun penetapan oleh Direksi, diharapkan

dapat memahami peraturan hukum yang berkenaan dengan konsep

persaingan usaha yang sehat guna mencapai tujuan dari konsep

pengadaan barang dan/atau jasa yang diatur dalam Pasal 3 Peraturan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008

tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Badan Usaha Milik Negara yaitu guna meningkatkan efisiensi;

mendukung menciptakan nilai tambah di BUMN; menyederhanakan

dan mempercepat proses pengambilan keputusan; meningkatkan

kemandirian, tanggung jawab, dan profesionalisme; dan

meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri; serta

meningkatkan sinergi antar BUMN dan/atau anak perusahaan.

Pengaturan tentang pedoman pengadaan barang dan/atau jasa

tersebut selain memperhatikan tujuan, PT X, PT Y dan PT Z tentu

perlu memperhatkan prinsip-prinsip yang patut dilakukan

sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri


Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan

Usaha Milik Negara yaitu Efisien, berarti Pengadaan Barang dan Jasa

harus diusahakan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan terbaik

dalam waktu yang cepat dengan menggunakan dana dan kemampuan

seminimal mungkin secara wajar dan bukan hanya didasarkan pada

harga terendah; Efektif, berarti Pengadaan Barang dan Jasa harus

sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan memberikan

manfaat yang sebesar-besarnya seusi dengan sasaran yang

ditetapkan; Kompetitif, berarti Pengadaan Barang dan Jasa harus

terbuka bagi Penyedia Barang dan Jasa yang memenuhi persyaratan

dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara Penyedia

Barang dan Jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu

berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;

Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai

Pengadaan Barang dan Jasa, termasuk syarat teknis administrasi

pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calin

Penyedia Barang dan Jasa, sifatnya terbuka bagi peserta Penyedia

Barang dan Jasa yang berminat; Adil dan wajar, berarti memberikan

perlakuan yang sama bagi semua calon Penyedia Barang dan Jasa

yang memenuhi syarat; Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran


dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menjauhkan dari potensi

penyalahgunaan dan penyimpangan.


BAB V

PENUTUP

1. Sistem pengadaan barang dan/atau jasa di lingkungan Badan

Usaha Milik Negara didasari melalui Peraturan Menteri Nomor

PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008

tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan

Jasa Badan Usaha Milik Negara yang didasari dari Keputusan

Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004

sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir den an

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 31/P Tahun 2007,

Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2005 tentang Pendirian,

Pengurusan, Pengawasan dan Pembubaran Badan Usaha Milik

Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2003 tentang

Pelimpahan Kedudukan, Tugas Dan Kewenangan Menteri

Keuangan Pada Perusahaan Perseroan (Perseroan) Perusahaan

Umum (Perum), dan Perusahaan Jawatan (Perjan) Kepada

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Undang-Undang

Nomor 13 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, dan

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas Nomor 40 Tahun 2007.


Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012 tentang

Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara adalah sebagai pelaksana ketentuan dan tahapan atas

proses pengadaan barang dan/atau jasa yang berada di

lingkungan Badan Usaha Milik Negara dengan ketentuan yang

selanjutnya diatur oleh Direksi perusahaan sebagai pengaturan

internal.

Pelaksanaan pengadaan barang dan/atau jasa ini bertujuan

untuk meningkatkan efisiensi; Mendukung menciptakan nilai

tambah di BUMN; Menyederhanakan dan mempercepat proses

pengambilan keputusan; Meningkatkan kemandirian, tanggung

jawab, dan profesionalisme; Meningkatkan penggunaan produksi

dalam negeri; Meningkatkan sinergi antar BUMN dan/atau anak

perusahaan yang dicantumkan dalam Pasal 3 Dalam Pasal 1 ayat

(1) Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012 tentang

Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik

Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara.

Dimana peraturan Menteri tersebut mengutamakan sinergi

yang dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (4) yaitu “pengguna barang


dan jasa mengutamakan sinergi antar BUMN, anak perusahaan

BUMN, dan/atau perusahaan terafiliasi BUMN atau antar anak

perusahaan BUMN dan/atau antar perusahaan terafiliasi BUMN,

dalam rangka meningkatkan efisiensi usaha atau perekonomian”.

Pengaturan yang menyatakan bahwa pengguna barang dan/atau

jasa yaitu BUMN perlu mengutamakan sinergi BUMN, anak

perusahaan BUMN, dan/atau perusahaan terafiliasi BUMN atau

antar anak perusahaan BUMN dan/atau antar perusahaan

terafiliasi BUMN, dalam rangka meningkatkan efisiensi usaha atau

perekonomian dapat menimbulkan aspek anti persaingan usaha

yang sehat dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 5

Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan

Usaha Tidak Sehat. Sebab, dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan

Menteri Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan atas

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara

disebutkan bahwa dalam pengadaan barang dan/atau jasa,

terdapat prinsip-prinsip yang patut dilakukan BUMN seperti efektif,

efisien, kompetitif, transparan, adil dan wajar, dan akuntabel.

Sebab apabila BUMN melakukan penyimpangan ataupun

kesalahan penafsiran atas peraturan tersebut dengan melakukan

penunjukan langsung atas pengadaan barang dan/atau jasa,


maka BUMN tersebut sebagai badan hukum privat dapat

dikenakan dan dikaitkan dengan pada Pasal 19 dan 22 Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

2. Pengaturan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh PT X, PT Y

dan PT Z dengan mengacu terhadap Surat Keputusan atau

Penetapan dari Direksi pada masing-masing perusahaan yang

mengacu terhadap Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012

tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha

Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum

Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik

Negara.

PT X mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 1263/TBK/SK-

0000/15-S11.2 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan/Jasa PT

X (selanjutnya disebut SK-12) yang disahkan oleh Direksi PT X

pada 21 September 2015 dimana Surat Keputusan ini adalah hasil

dari peninjauan kembali atas Surat Keputusan Direksi Nomor

114/TBK/SK-0000/15-S11.2 tanggal 30 Januari 2015 tentang

Pedoman Pengadaan Barang/ Jasa di Lingkungan PT X.

Pengaturan pengadaan barang dan/atau jasa pada PT Y,

Direksi mengeluarkan Peraturan Direksi PT Y Keputusan Nomor

PD 19 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan

Barang dan Jasa di Lingkungan PT Y. Dan pada PT Z, pengaturan


barang dan/atau jasa dibentuk dalam Surat Keputusan Direksi PT

Z Nomor Kpts-51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010

tentang Manajemen Pengadaan Barang/Jasa.

Melalui Surat Keputusan Nomor 1263/TBK/SK-0000/15-S11.2

tentang Pedoman Pengadaan Barang dan/Jasa PT X tersebut,

konsep penunjukan langsung yang tertuang didalam Pasal 24, lalu

melalui Peraturan Direksi PT Y Keputusan Nomor PD 19 Tahun

2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan Barang dan

Jasa di Lingkungan PT Y, dan Surat Keputusan Direksi PT Z

Nomor Kpts-51/C00000/2010/-S0 tanggal 29 November 2010

tentang Manajemen Pengadaan Barang/Jasa, pengaturan

penunjukan langsung yang dilakukan oleh perusahaan tersebut

yang statusnya adalah Badan Usaha Milik Negara telah

memenuhi dasar dari Peraturan Menteri Nomor PER-

15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Badan Usaha Milik Negara.

Tata cara pengadaan barang dan jasa diatur dalam Pasal 5

Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan

atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara. Dimana


cara pengadaan Barang dan Jasa disesuaikan dengan kebutuhan

Pengguna Barang dan Jasa serta dilaksanakan dengan

memperhatikan prinsip umum sebagaimana diatur dalam Pasal 2

dan best practice yang berlaku; Cara pengadaan Barang dan Jasa

dapat dilakukan dengan cara antara lain tetapi tidak terbatas pada

Pelelangan terbuka, atau seleksi terbuka untuk jasa konsultan,

yaitu diumumkan secara luas melalui media massa guna memberi

kesempatan kepada penyedia barang dan jasa yang memnuhi

kualifikasi untuk mengikuti pelelangan; Pemilihan langsung, atau

seleksi untuk pengadaan barang dan jasa konsultan, yaitu

pengadaan barang dan jasa yang ditawarkan kepada beberapa

pihak terbatas sekurang-kurangnya 2 (dua) penawaran;

Penunjukan langsung, yaitu pengadaan barang dan jasa yang

dilakukan secara langsung dengan menunjuk satu penyedia

barang dan jasa atau melalui beauty contest; Pembelian langsung,

yaitu pembelian terhadap barang yang terdapat di pasar, dengan

demikian nilainya berdasarkan harga pasar. Lalu untuk tata cara

pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat

(2), diatur lebih lanjut oleh Direksi BUMN. Dengan dasar tersebut,

maka peraturan internal dari PT X, PT Y dan PT Z yang dimana

ketentuan teknis atas pengadaan barang dan/atau jasa,

sepenuhnya merujuk dan sesuai dengan yang tertuang dalam

Peraturan Menteri Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan


atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor

PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara.

3. Pengadaan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh PT X, PT Y

dan PT Z sebagai Badan Usaha Milik Negara tetap memiliki

kewajiban untuk mematuhi ketentuan dalam hukum persaingan

usaha yang diatur dalam Undang-Undang Nomor Tahun 1999

tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat.

Pada pedoman yang diterbitkan oleh Komisi Pengawas

Persaingan Usaha Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman

Pelaksanaan Ketentuan Pasal 50 huruf (a) Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam Pasal 50 huruf (a) tersebut

dijelaskan bahwa adanya 4 (empat) unsur yang perhatikan yaitu

perbuatan, perjanjian, bertujuan melaksanakan dan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Dalam pengadaan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh

PT X, PT Y dan PT Z, tindakan perbuatan yang dilakukan adalah

penunjukan langsung yang diatur lebih lanjut melalui surat

keputusan Direksi dari masing-masing perusahaan. Surat

keputusan Direksi tersebut mengacu terhadap Peraturan Menteri

Nomor PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan


Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-

05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan

Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara. Pada Peraturan

Menteri tersebut, dijabarkan asas dan tujuan dimana terdapat

prinsip-prinsip yang patut dilakukan sebagaimana dijelaskan

dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Nomor PER-

15/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2008 tentang

Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa

Badan Usaha Milik Negara yaitu efisien, efektif, kompetitif,

transparan, adil dan wajar, dan akuntabel.

Dimana pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang

Larangan Praktek Monopoli tersebut, terdapat asa-asas yang

mengatur persaingan usaha yang sehat. Asas dari Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1999 sebagaimana diatur pada Pasal 2

bahwa: “Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan

usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan

keseimbangan antar kepentingan pelaku usaha dan kepentingan

umum”. Asas demokrasi ekonomi tersebut merupakan penjabaran

Pasal 33 UUD 1945 dan ruang lingkup pengertian demokrasi

ekonomi yang dimaksud dahulu dapat ditemukan dalam

penjelasan atas Pasal 33 UUD 1945.97 Dimana tujuan dari

97
Andi Fahmi Lubis, ed, Op. Cit, h. 14
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 sebagaimana diatur pada

Pasal 3 adalah untuk : menjaga kepentingan umum dan

meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu

upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; mewujudkan

iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha

yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah dan

pelaku usaha kecil; mencegah praktek monopoli dan/atau

persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha,

dan terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.

Dari hal-hal tersebut, pengaturan penunjukan langsung yang

dilakukan oleh PT X, PT Y dan PT Z, perlu dikaji dengan

pemahaman bahwa konsep penunjukan langsung tersebut tidak

serta merta dapat dilakukan. Sebab terdapat asas-asas yang

wajib dipenuhi sebagai penjabaran suatu peraturan hukum yang

berlaku dan memaksa.

Asas dan tujuan tersebut diharapkan bahwa peraturan

mengenai persaingan akan membantu dalam mewujudkan

demokrasi ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Ayat

1 UUD 1945 (Pasal 2) dan menjamin sistem persaingan usaha

yang bebas dan adil untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat

serta menciptakan sistem perekonomian yang efisien (Pasal 3).

Oleh karena itu, mereka mengambil bagian pembukaan UUD

1945 yang sesuai dengan Pasal 3 Huruf a dan b UU Nomor 5


Tahun 1999 dari struktur ekonomi untuk tujuan perealisasian

kesejahteraan nasional menurut UUD 1945 dan demokrasi

ekonomi, dan yang menuju pada sistem persaingan bebas dan

adil dalam Pasal 3 Huruf (a) dan (b) Undang-Undang Nomor 5

Tahun 1999. Hal ini menandakan adanya pemberian kesempatan

yang sama kepada setiap pelaku usaha dan ketiadaan

pembatasan persaingan usaha, khususnya penyalahgunaan

wewenang di sektor ekonomi.98

98
Ibid, h. 15
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Anna Maria Tri, Sinergi BUMN Dalam Pengadaan Barang


dan/atau Jasa Dalam Perspektif Persaingan Usaha, Jurnal Mimbar
Hukum, Volume. 25, nomor 3, Oktober 2013
______________________, Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat: Perse Illegal atau Rule of Reason
______________________, Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Tidak Sehat: Per se Illegal dan Rule of Reason, Pusat
Studi Hukum Ekonomi (PSHE), FH UI, Depok
Aryani, Christina, Studi Komparatif Leniency Program Untuk Pembuktian
Kartel Dalam Antitrust Law Di Amerika Serikat Dan Antimonopoly Law
Di Jepang, (Depok: FH UI, 2012)
Anoraga, Pandji, BUMN, Swasta, dan Koperasi Tiga Pelaku Ekonomi
Bahar, Wahyuni, ed, Litigasi Persaingan Usaha (competition Litigation)
dalam CFISEL Litigation Series, Tangerang: Telaga Ilmu, 2010
Black, Henry Campbell, Black’s Law Dictionary, cet. 6, St, Paul-Minn,
USA: West Publishing Co, 1990
Bismarck, Otto von. Soziale Sicherheit. 1880. Dalam buku Nicholas
Abercombie. The penguin Dictionary of Sociology, Fourth ed
Middlesex, England, 2000
Cahyadi, Antonius dan E. Fernando M. Manullang, Pengantar Ke Filsafat
Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007
Damanhuri, Didin. S, SDM Indonesia dalam Persaingan Global,
https://www.sinarharapan.co.id/berita/0306/13/op01.html
Ginting, Elyta Ras, Hukum Anti Monopoli Indonesia, Cet. 1, PT Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2001
Ibrahim. R, Landasan Filosofis dan Yuridis Keberadaan BUMN: Sebuah
Tinjauan, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 26, no. 1, 2007
Hansen, Knud, Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat (Katalis-Publishing – Media Services,
2002)
Harahap, M Yahya, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan,
Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan, Sinar Grafika, 2004
J. Satrio, Hukum Perjanjian, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992
Juwana, Hikmahanto, Sekilas tentang Hukum Persaingan dan UU No. 5
Tahun 1999, Jurnal Magister Hukum 1 Tahun 1999
Khemani, R. Sheyam and D. M. Shapiro, Glossary af Industrial
Organisation Economics and Competition Law, OECD, Paris, 1996
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Hukum Persaingan Usaha Antara
Teks dan Konteks
Lubis, Andi Fahmi Lubis dkk. Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan
Konteks. Jakarta: Deutsche Gesellschaft für Technische
Zusammenarbeit, 2009
Lubis, M Solly, Filsafat Ilmu dan Penelitian, CV. Mandar Maju, Bandung,
1994
Masjchon, Sri Soedewi, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok
Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Liberty, Yogyakarta, 1980)
Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media
Group, Jakarta, 2011
Meliala, Djaja S, S.H., M.H, Perkembangan Hukum Perdata tentang
Benda dan Hukum Perikatan, Penerbit Nuansa Aulia, Bandung, 2015
Nugroho, Susanti Adi, Persaingan Usaha Tidak Sehat, Hukum Persaingan
Usaha di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2012
R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Putra A. Barding, Bandung,
1999
Rahardjo, M. Dawan, Evaluasi dan Dampak Amandemen UUD 1945
terhadap Perekonomian di Indonesia, UNISIA, No. 49/XXVI/III/2003
Ramli, Samsul, Buku Bacaan Wajib Sertifikasi Ahli Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah, Visimedia, Cet. 1, Jakarta
Ramli, Samsul dan Fahrurrazi, Bacaan Wajib Swakelola Pengadaan
Barang/Jasa, Visimedia Pustaka, Jakarta, 2014
Sabar, Saafroedin dkk, Hukum Persaingan Usaha: Filosofi, Teori dan
Implikasi Penerapannya di Indonesia, Cetakan kedua, Sekretariat
Negara Republik Indonesia, 1992) in Johnny Ibrahim, Malang:
Bayumedia, Jakarta, 2007
Salim H.S dkk, Perancangan Kontrak dan Memorandum of Understanding
(MoU), Sinar grafika, Jakarta, 2007, hlm. 124
Satrio, J., Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, PT. Citra
Aditya Bakti Bandung, 1993
Setiawan, R., Hukum Perikatan-Perikatan Pada Umumnya, Bina Cipta,
Bandung, 1987
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta,
1986
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2012
Subekti, R., Aneka Perjanjian, Alumni, Bandung, 1982
______, R, Hukum Perjanjian, PT Intermasa, Jakarta, 1985
______, Bunga Rampai Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 1992
______, Pokok-Pokok Hukum Perdata, PT. Intermasa, Jakarta, 2001
Suryodiningrat, R. M., Perikatan-Perikatan Bersumber Perjanjian, Tarsito,
Bandung, 1978
Yani, Ahmad dan Gunawan Widjaja, Hukum Anti Monopoli, Cet. 3, PT
Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2002

Peraturan
_______________.Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
1945
_______________.Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
_______________.Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Badan
Usaha Milik Negara
_______________. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2005 tentang
Pendirian, Pengurusan, Pengawasan, dan Pembubaran Badan Usaha
Milik Negara
_______________. Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara nomor
PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Negara Badan Usaha Milik Negara nomor PER-05/MBU/2008 tentang
Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan
Usaha Milik Negara
Antitrust Criminal Penalty Enhancement and Reform Act 2004
United States. Sherman Act. 15 U.S.C §§ 1.
______Clayton Act. 15 U.S.C § 1.
______Antitrust Criminal Penalty Enhancement and Reform Act 2004,
Public Law No. 108-273.
______Antitrust Criminal Penalty Enhancement and Reform Act 2004
Extention Act. Public Law No. 111-30.

Artikel:
Kerangka Acuan Kunjungan Kerja Panitia Kerja Komisi VI DPR RI ke
Jerman dalam Memperkuat Analisis dalam Penyusunan Rancangan
Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat, (Jakarta, 12 September 2015)
Departemen Perindustrian dan Perdagangan dan GTZ, Undang-Undang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, 2000
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Pedoman tentang Larangan
Persekongkolan dalam Tender berdasarkan Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Laporan Tahunan 2015
Departemen Perindustrian dan Perdagangan dan GTZ, Undang-Undang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, 2000
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Pedoman Pelaksanaan tentang
Pasal 19 Huruf (d) Praktek Diskriminasi Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Pedoman Pelaksanaan Ketentuan
Pasal 50 huruf (a) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
KPPU, Pedoman tentang Larangan Persekongkolan dalam Tender
berdasarkan Undang-Undang nomor. 5 tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Laporan Tahunan 2015

Putusan Pengadilan:
Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Perkara Nomor 22/KPPU-
L/2005 Tentang Penunjukan Langsung Dalam pengadaan pipa untuk
proyek transmisi gas jalur lepas pantai Labuhan Maringgai – Muara
Bekasi untuk proyek pipanisasi gas South Sumatera – West Java
(SSWJ) tahap II PT. Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk, tanggal
18 Juli 2006

Media:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sinergi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Fakhri Azzumar


Jl. Sungai Musi E1, RT. 003, RW. 005,
Alamat : Kelurahan Kalikoa, Kecamatan Kedawung,
Kab. Cirebon
Jl. Kayu Jati 2 no. 9, Rawamangun, Jakarta
Alamat Menetap :
TImur, DKI Jakarta
Tempat dan Tanggal Lahir : Makassar, 18 April 1992
Golongan Darah : O
Tinggi Badan : 174 Cm
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Telepon : 81320559106
E-Mail : fakhri.azzumar@gmail.com

Latar Belakang Pendidikan


Taman Kanak-Kanak PGRI, Kota
1996-1998 :
Tasikmalaya
Sekolah Dasar Negeri Panglayungan, Kota
1998-2004 :
Tasikmalaya
Sekolah Menengah Pertama 2, Kota
2004-2005 :
Tasikmalaya
2005-2007 : Sekolah Menengah Pertama 5, Kota Cirebon
2007-2010 : Sekolah Menengah Atas 2, Kota Cirebon
Fakultas Hukum, Universitas Katolik
2010-2015 :
Parahyangan, Bandung.
Program Pascasarjana, Fakultas Hukum,
2015-2017 :
Universitas Trisakti, Jakarta.

Penghargaan
1. Finalis Lomba Debat Hukum Tingkat Nasional Padjajaran Law Fair April
2013
2. Juara 1 Lomba Legislatif Drafting dengan tema “Perancangan Peraturan
Daerah Tentang Sampah Spesifik Yang Berbasis Lingkungan Hidup Sebagai
Bentuk Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi” Fakultas Hukum
Universitas Katolik Parahyangan Mei 2013
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Fakhri Azzumar

NIM : 110150055

Konsentrasi : HUKUM BISNIS

Judul Tesis : Sistem Penunjukan Langsung Dalam Pengadaan


Barang dan/atau Jasa Oleh Badan Usaha Milik Negara
Dari Perspektif Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia.

Menyatakan bahwa tesis ini adalah murni hasil karya sendiri. Apabila saya
mengutip dari karya orang lain, maka saya akan mencantumkan sumbernya
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Tesis ini hasil jiplakan
(Plagiat), maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai
dengan sanksi yang berlaku di lingkup Universitas Trisakti dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Jakarta, 28 Agustus 2017

Yang Membuat Pernyataan,

Materai

6000

Fakhri Azzumar

NIM: 110150055