Anda di halaman 1dari 44

DOSEN : Haderiah, SKM.,M.

Kes
Ir.Abdur Rivai.MT
MATA KULIAH : Sanitasi Permukiman

“LAPORAN SANITASI PERMUKIMAN PERKOTAAN”

Oleh
KELOMPOK I
D III B

ADE REZKY OCTAVIA SALIM PO.71.4.221.15.1.043


ADELIA SURYANI JONATHAN PO.71.4.221.15.1.044
ANDI REZKY AVITA PO.71.4.221.15.1.047
ARINI ANGGRIANI PO.71.4.221.15.1.049
ARSIL PO.71.4.221.15.1.050
DESI RESKITA LAPASAMULA PO.71.4.221.15.1.052
DEVI MARDIANA PO.71.4.221.15.1.053
DIONA ZAKIA PO.71.4.221.15.1.054
EKA HARDANINGSIH PO.71.4.221.15.1.055
FATMAWATI RAHIM PO.71.4.221.15.1.056
FITRIANI HAMZAH PO.71.4.221.15.1.057
ILFAH PO.71.4.221.15.1.059
INDAH DWI LESTARY PO.71.4.221.15.1.060

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.IV
2018
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Survei dan Observasi Penilaian Rumah Sehat Di Kelurahan
Gususng, Kecamatan Ujung Tanah, Poetere, Kota Makassar
Disusun dan Diajukan Oleh:
KELOMPOK 1

Menyetujui,
Tim Dosen
Ketua

Ir.Abdur Rivai.MT

Anggota

Haderiah,SKM.,M.Kes

Ketua Jurusan Kesling Ketua Program Studi


D.IV Jurusan Kesling

Hj. Wahyuni Sahani,ST.,M.Si Hidayat,SKM.,M.Kes

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa karena atas
anugrah-NYA kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan judul “LAPORAN
SANITASI PERMUKIMAN PERKOTAAN”dengan tepat waktu dan
penuh rasa tanggung jawab, mengingat ini merupakan salah satu kriteria penilaian
Dosen terhadap mahasiswa khususnya dalam mata pelajaran Sanitasi
Permukiman.

Adapun dalam penulisan laporan ini kami dihadapkan dengan berbagai


kesulitan dan hambatan-hambatan, namun semua itu dapat teratasi berkat adanya
bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan moral, maupun materil.

Oleh karena itu, ijinkan kami menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak yang telah membantu, akhirnya kami menyadari
bahwa “tiada gading yang tak retak” begitu pula kami selaku insan manusia biasa
yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Olehnya saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan laporan ini sangat diharapkan.

Makassar, 15 Mei 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG .............................................................................. 1

B. IDENTIFIKASI MASALAH ................................................................... 2

C. TUJUAN ................................................................................................... 2

D. MANFAAT ............................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN .......................... 3

B. FUNGSI RUMAH ..................................................................................... 4

C. KOMPONEN RUMAH ............................................................................. 4

1. Lantai .................................................................................................... 4

2. Dinding ................................................................................................. 5

3. Langit – langit ....................................................................................... 6

4. Atap ....................................................................................................... 7

5. Pembagian Ruangan ............................................................................. 7

6. Ventilasi ................................................................................................ 9

7. Pencahayaan.......................................................................................... 9

D. SARANA SANITASI RUMAH .............................................................. 10

1. Penyediaan Air Bersih ........................................................................ 10

2. Penggunaan Jamban ............................................................................ 10

iii
3. Sarana Pembuangan Sampah .............................................................. 11

4. Pembuangan Air Limbah .................................................................... 12

E. STANDAR RUMAH SEHAT................................................................. 13

F. PERSYARATAN RUMAH SEHAT ...................................................... 14

BAB II TARGET DAN LUARAN

A. TARGET ................................................................................................. 18

B. LUARAN................................................................................................. 18

BAB III METODE PELAKSANAAN

A. GAMBARAN UMUM ............................................................................ 19

B. JENIS KEGIATAN ................................................................................. 19

C. WAKTU DAN LOKASI ......................................................................... 19

D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA ....................................................... 20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL ..................................................................................................... 21

B. PEMBAHASAN ..................................................................................... 28

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN ....................................................................................... 34

B. SARAN ................................................................................................... 35

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perumahan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Rumah atau
tempat tinggal, dari zaman ke zaman mengalami perkembangan. Pada
zaman purba manusia bertempat tinggal di gua-gua, kemudian
berkembang dengan mendirikan rumah di hutan-hutan dan di bawah
pohon. Sampai pada abad modern ini manusia sudah
membangun rumah bertingkat dan diperlengkapi dengan peralatan yang
serba modern. Rumah yang sehat merupakan salah satu sarana untuk
mencapai derajat kesehatan yang optimum.
Untuk memperoleh rumah yang sehat ditentukan oleh tersedianya
sarana sanitasi perumahan. Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan
masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap struktur fisik
dimana orang menggunakannya untuk tempat tinggal berlindung yang
mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Rumah juga merupakan salah
satu bangunan tempat tinggal yang harus memenuhi kriteria kenyamanan,
keamanan dan kesehatan guna mendukung penghuninya agar dapat
bekerja dengan produktif (Munif Arifin, 2009).
Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat
dengan penyakit berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin
meningkat akhir-akhir ini. Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih
merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Bahkan pada
kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan
menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan
balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan
kualitas intervensi kesehatan lingkungan (Munif Arifin, 2009).

1
Oleh karena itu kelompok tertarik untuk membahas makalah ini dengan
judul “Sanitasi Permukiman Perkotaan”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Definisi perumahan
2. Fungsi dan komponen rumah sehat
3. Saranan sanitasi rumah
4. Standar rumah dan persyaratan rumah sehat
5. Penilaian rumah sehat Kelurahan Gusung

C. TUJUAN
Tujuan dari laporan ini untuk mengetahui gambaran tentang sanitasi
Rumah Sehat.

D. MANFAAT
1. Menambah wawasan pengetahuan mengenai rumah fungsinya bagi
manusia
2. Sebagai bahan rujukan dalam mempelajari komponen dan saranan
sanitasi rumah yang sehat
3. Sebagai bahan tambahan bagi mahasiswa lain dalam mempelajari
standar dan persyaratan yang sehat.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN

Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang perumahan dan


permukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan
prasarana dan sarana lingkungan. Rumah adalah tempat tujuan akhir dari
manusia.
Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area
sekitarnya yang dipakai sebagai tempa t tinggal dan sarana pembinaan
keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992). Menurut WHO, rumah adalah struktur
fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna
untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk
kesehatan kelu arga dan individu (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan
Lingkungan, 2001). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat
adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana
pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fis ik,
mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara
produktif.
Rumah menjadi tempat berlindung dari cuaca dan kondisi lingkungan
sekitar, menyatukan sebuah keluarga, meningkatkan tumbuh kembang
kehidupan setiap manusia, dan menjadi bagian dari gaya hidup manusia.
Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya dan cukup luas bagi
seluruh pemakainya, sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap
penghuninya dapat berjalan baik. Lingkungan rumah juga sebaiknya terhindar
dari faktor-faktor yang dapat merugikan kesehatan.

3
Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung dan tempat
untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna fisik,
rohani maupun social.

B. FUNGSI RUMAH
Fungsi rumah bagi manusia adalah :
1. Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat setelah penat
melasanakan kewajiban sehari-hari.
2. Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa
kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada.
3. Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya yang datang
mengancam.
4. Sebagai lambang status sosial yang dimiliki yang masih dirasakan hingga
saat ini.
5. Sebagai tempat untuk meletakan atau menyimpan barang-barang berharga
yang dimiliki, yang terutama masih ditemui pada masyarakat pedesaan.

C. KOMPONEN RUMAH
1. Lantai
Lantai harus cukup kuat untuk manahan beban di atasnya. Bahan
untuk lantai biasanya digunakan ubin,kayu plesteran, atau bambu dengan
syarat-syarat tidak licin, stabil tidak lentur waktu diinjak, tidak mudah
aus, permukaan lantai harus rata dan mudah dibersihkan, yang terdiri
dari:
a. Lantai tanah stabilitas
Lantai tanah stabilitas terdiri dari tanah,pasir, semen, dan kapur,
seperti tanah tercampur kapur dan semen, dan untuk mencegah
masuknya air kedalam rumah sebaiknya lantai dinaiKKan 20 cm dari
permukaan tanah.

4
b. Lantai papan
Pada umumnya lantai papan dipakai di daerah basah/rawa. Hal yang
perlu diperhatikan dalam pemasanan lantai adalah :
1) Sekurang-kurangnya 60 cm diatas tanah dan ruang bawah tanah
harus ada aliran air yang baik.
2) Lantai harus disusun dengan rapi dan rapat satu sama
lain,sehingga tidak ada lubang-lubang ataupun lekukan dimana
debu bisa bertepuk. Lebih baik jika lantai seperti ini dilapisi
dengan perlak atau kampal plastik ini juga berfungsi sebagai
penahan kelembaban yang naik dari dikolong rumah.
3) Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang tahan air
dan rayap serta untuk konstruksi diatasnya agar digunakan lantai
kayu yang telah dikeringkan dan diawetkan.

c. Lantai ubin
Lantai ubin adalah lantai yang terbanyak digunakan pada bangunan
perumahan karena : Lantai ubin murah/tahan lama,dapat mudah
dibersihkan dan tidak dapat mudah dirusak rayap.

2. Dinding

Adapun syarat-syarat untuk dinding antara lain :


a. Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat sendiri, beban
tekanan angin, dan bila sebagai dinding pemikul harus pula dapat
memikul beban diatasnya.
b. Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan air rapat air
sekurangkurangnya 15 cm di bawah permukaan tanah sampai 20 cm
di atas lantai bangunan, agar air tanah tidak dapat meresap naik
keatas, sehingga dinding tembok terhindar dari basah dan lembab dan
tampak bersih tidak berlumut.

5
c. Lubang jendela dan pintu pada dinding, bila lebarnya kurang dari 1 m
dapat diberi susunan batu tersusun tegak diatas batu,batu tersusun
tegak diatas lubang harus dipasang balok lantai dari beton bertulang
atau kayu awet.
d. Untuk memperkuat berdirinya tembok ½ bata digunakan rangka
pengkaku yang terdiri dari plester-plester atau balok beton bertulang
setiap luas 12 meter.

3. Langit – langit
Dibawah kerangka atap/ kuda-kuda biasanya dipasang penutup yang
disebut langit-langit yang tujuannya antara lain:
a. Untuk menutup seluruh konstruksi atap dan kuda-kuda penyangga
agar tidak terlihat dari bawah, sehingga ruangan terlihat rapi dan
bersih.
b. Untuk menahan debu yang jatuh dan kotoran yang lain juga menahan
tetesan air hujan yang menembus melalui celah-celah atap.
c. Untuk membuat ruangan antara yang berguna sebagai penyekat
sehingga panas atas tidak mudah menjalar kedalam ruangan
dibawahnya.

Adapun persyaratan untuk langit-langit yang baik adalah :


a. Langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain yang jatuh
dari atap
b. Langit-langit harus menutup rata kerangka atap kuda-kuda penyangga
dengan konstruksi bebas tikus.
c. Tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari permukaan lantai
d. Langit-langit kasaunya miring sekurang-kurangnya mempunyai tinggi
rumah 2,40 m,dan tinggi ruang selebihnya pada titik terendah titik
kurang dari 1,75m
e. Ruang cuci dan ruang kamar mandi diperbolehkan sekurang
kurangnya sampai 2,40 m.

6
4. Atap
Secara umum konstruksi atap harus didasarkan kepada perhitungan
yang teliti dan dapat dipertanggung jawabkan kecuali untuk atap yang
sederhana tidak disyaratkan adanya perhitungan-perhitungan. Maksud
utama dari pemasangan atap adalah untuk melindungi bagian-bagian
dalam bangunan serta penghuninya terhadap panas dan hujan, oleh karena
itu harus dipilih penutup atap yang memenuhi persyaratan sebagai
berikut:

a. Rapat air serta padat dan Letaknya tidak mudah bergeser


b. Tidak mudah terbakar dan bobotnya ringan dan tahan lama

Bentuk atap yang biasa digunakan ialah bentuk atap datar dari
konstruksi beton bertulang dan bidang atap miring dari genteng, sirap,
seng gelombang atau asbes semen gelombang. Pada bidang atap miring
mendaki paling banyak digunakan penutup/atap genteng karena harga
rumah dan cukup awet.

5. Pembagian Ruangan
Telah dikemukakan dalam persyaratan rumah sehat, bahwa rumah
sehat harus mmpunyai cukup banyak ruangan-ruangan seperti : ruang
duduk/ruang makan, kamar tidur, kamar mandi, jamban, dapur, tempat
cuci pakaian, tempat berekreasi dan tempat beristirahat, dengan tujuan
agar setiap penghuninya merasa nikmat dan merasa betah tinggal di
rumah tersebut. Adapun syarat-syarat pembagian ruangan yang baik
adalah sebagai berikut :
a. Adanya pemisah yang baik antara ruangan kamar tidur kepala
keluarga (suami istri) dengan kamar tidur anak-anak, baik laki-laki
maupun perempuan, terutama anak-anak yang sudah dewasa

7
b. Memilih tata ruangan yang baik, agar memudahkan komunikasi dan
perhubungan antara ruangan didalam rumah dan juga menjamin
kebebasan dan kerahasiaan pribadi masing-masing terpenuhi
c. Tersedianya jumlah kamar atau ruangan kediaman yang cukup
dengan luas lantai sekurang-kurangnya 6 m2 agar dapat memenuhi
kebutuhan penghuninya untuk melakukan kgiatan kehidupan.
d. Bila ruang duduk digabung dengan ruang tidur, maka luas lantai tidak
boleh kurang dari 11 m2 untuk 1 orang, 14 m2 bila digunakan 2 orang,
dalam hal ini harus dipisah.
e. Dapur
1) Luas dapur minimal 14 m2 dan lebar minimal 1,5 m2
2) Bila penghuni tersebut lebih dari 2 orang, luas dapur tidak boleh
kurang dari 3 m2
3) Di dapur harus tersedia alat-alat pengolahan makanan, alat-alat
masak, tempat cuci peralatan dan air bersih,
4) Didapur harus tersedia tempat penyimpanan bahan makanan. Atau
makanan yang siap disajikan yang dapat mencegah pengotoran
makanan oleh lalat, debu dan lain-lain dan mencegah sinar
matahari langsung.

f. Kamar Mandi dan jamban keluarga


1) Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit salah satu dari
dindingnya yang berlubang ventilasi berhubungan dengan udara
luar. Bila tidak harus dilengkapi dengan ventilasi mekanis untuk
mengeluarkan udara dari kamar mandi dan jamban tersebut,
sehingga tidak mengotori ruangan lain.
2) Pada setiap kamar mandi harus bersih untuk mandi yang cukup
jumlahnya.
3) Jamban harus berleher angsa dan 1 jamban tidak boleh dari 7
orang bila jamban tersebut terpisah dari kamar mandi.

8
6. Ventilasi
Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar kedalam suatu
ruangan dan pengeluaran udara kotoran suatu ruangan tertutup baik
alamiah maupun secara buatan. Ventilasi harus lancar diperlukan untuk
menghindari pengaruh buruk yang dapat merugikan kesehatan manusia
pada suatu ruangan kediaman yang tertutup atau kurang ventilasi.
Pengaruh-pengaruh buruk itu ialah (Sanropie, dKK, 1989) :
a. Berkurangnya kadar oksigen diudara dalam ruangan kediaman.
b. Bertambahnya kadar asam karbon (CO2) dari pernafasan manusia.
c. Bau pengap yang dikeluarkan oleh kulit, pakaian dan mulut manusia.
d. Suhu udara dalam ruangan naik karena panas yang dikeluarkan oleh
badan manusia.
e. Kelembaban udara dalam ruang kediaman bertambah karena
penguapan air dan kulit pernafasan manusia.

7. Pencahayaan
Menurut Sanropie, dKK (1989) dalam Mukono (2000) bahwa cahaya
yang cukup kuat untuk penerangan didalam rumah merupakan kebutuhan
manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya
buatan dan cahaya alam.
a. Pencahayaan alam
Pencahayaan alam diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke
dalam ruangan melalaui jendela, celah-celah atau bagian ruangan
yang terbuka. Sinar sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-
pohon maupun tembok pagar yang tinggi. Kebutuhan standar cahaya
alam yang memenuhi syarat kesehatan untuk kamar keluarga dan
kamar tidur mnurut WHO 60-120 Lux.
b. Pencahayaan buatan
Penerangan pada rumah tinggal dapat diatur dengan memilih
sistem penerangan dengan suatu pertimbangan hendaknya penerangan
tersebut dapat menumbuhkan suasana rumah yang lebih

9
menyenangkan. Lampu Flouresen (neon) sebagai sumber cahaya
dapat memenuhi kebutuhan penerangan karena pada penerangan yang
relatif rendah mampu menghasilkan cahaya yang baik bila
dibandingkan dengan penggunaan lampu pijar. Bila ingin
menggunakan lampu pijar sebaiknya dipilih yang warna putih dengan
dikombinasikan beberapa lampu neon.

D. SARANA SANITASI RUMAH


1. Penyediaan Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari
yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum
apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang syaratnya memenuhi
syarat kesehatan dan dapat langsung diminum yang berasal dari
penyediaan air minum.
Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai sumber air
bagi penghuni rumah untuk digunakan bagi penghuni rumah yang
digunakan untuk kehidupan sehari-hari.
Yang perlu diperhatikan antara lain :
a. Jarak antara sumber air dengan sumber pengotoran (seperti septik
tank, tempat pembuangan sampah, air limbah) minimal 10 meter.
b. Pada sumur gali sedalam 3 meter dari permukaan tanah dibuat
kedap air, yaitu dilengkapi dengan cincin dan bibir sumur
c. Penampungan air hujan pelindung air, sumur artesis atau terminal
air atau perpipaan/kran atau sumur gali terjaga kebersihannya dan
dipelihara rutin.

2. Penggunaan Jamban
Pembuangan tinja manusia yang terinfeksi yang dilaksanakan
secara tidak layak tanpa memenuhi persyaratan sanitasi dapat
menyebabkan terjadinya pencemaran tanah dan sumber-sumber
penyediaan air. Disamping itu, juga akan dapat memberi kesempatan

10
bagi lalat-lalat dari species tertentu untuk bertelur, bersarang, makan
bahan tersebut, serta membawa infeksi, menarik hewan ternak, tikus
serta serangga lain yang dapat menyebarkan tinja dan kadang-kadang
menimbulkan bau yang tidak dapat ditolerir.
Atas dasar hal tersebut, maka perlu dilakukan penanganan
pembungan tinja yang memenuhi persyaratan sanitasi. Tujuan
dilakukannya pembuangan tinja secara saniter adalah untuk
menampung serta mengisolir tinja sedemikian rupa sehingga dapat
tercegah terjadinya hubungan langsung maupun tidak langsung antara
tinja dengan manusia, dan dapat dicegah terjadinya penularan faecal
borne diseases dari penderita kepada orang yang sehat, maupun
pencemaran lingkungan pada umumnya.
Adapun persyaratan sarana pembuangan tinja yang baik dan memenuhi
syarat kesehatan adalah :

a. Tidak terjadi kontaminasi pada tanah permukaan.


b. Tidak terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin masuk ke
mata air atau sumur.
c. Tidak terjadi kontaminasi pada air permukaan.
d. Excreta tidak dapat dijangkau oleh lalat atau kuman.
e. Tidak terjadi penanganan Excreta segar. Apabila tidak dapat
dihindarkan, harus ditekan seminimal mungkin.
f. Harus bebas dari bau serta kondisi yang tidak sedap.
g. Metode yang digunakan harus sederhana serta murah dalam
pembangunan dan penyelenggaraannya.

3. Sarana Pembuangan Sampah


Pembuangan sampah adalah kegiatan menyingkirkan sampah
dengan metode tertentu dengan tujuan agar sampah tidak lagi
mengganggu kesehatan lingkungan atau kesehatan masyarakat. Ada
dua istilah yang harus dibedakan dalam lingkup pembuangan sampah

11
solid waste (pembuangan sampah saja) dan final disposal
(pembuangan akhir).
Pembuangan sampah yang berada di tingkat pemukiman yang perlu
diperhatikan adalah :
a. Penyimpanan setempat (onsite storage)
Penyimpanan sampah setempat harus menjamin tidak
bersarangnya tikus, lalat dan binatang pengganggu lainnya serta
tidak menimbulkan bau. Oleh karena itu persyaratan kontainer
sampah harus mendapatkan perhatian.
b. Pengumpulan sampah
Terjaminnya kebersihan lingkungan pemukiman dari sampah
juga tergantung pada pengumpulan sampah yang diselenggarakan
oleh pihak pemerintah atau oleh pengurus kampung atau pihak
pengelola apabila dikelola oleh suatu real estate misalnya.
Keberlanjutan dan keteraturan pengambilan sampah ke tempat
pengumpulan merupakan jaminan bagi kebersihan lingkungan
pemukiman.
Sampah terutama yang mudah membusuk (garbage) merupakan
sumber makanan lalat dan tikus. Lalat merupakan salah satu vektor
penyakit terutama penyakit saluran pencernaan seperti Thypus
abdominalis, Cholera. Diare dan Dysentri.

4. Pembuangan Air Limbah


Air limbah adalah air yang tidak bersih mengandung berbagai zat
yang bersifat membahayakan kehidupan manusia ataupun hewan, dan
lazimnya karena hasil perbuatan manusia. sumber air limbah yang
lazim dikenal adalah :
a. Berasal dari rumah tangga misalnya air, dari kamar mandi, dapur.
b. Berasal dari perusahaan misalnya dari hotel, restoran, kolam
renang

12
c. Berasal dari industri seperti dari pabrik baja, pabrik tinta dan
pabrik cat berasal dari sumber lainnya seperti air tinja yang
tercampur air comberan, dan lain sebagainya.

E. STANDAR RUMAH SEHAT


Menurut Depkes RI (2002), ada beberapa prinsip standar rumah sehat.
Prinsip ini dapat dibedakan atas dua bagian :
1. Yang berkaitan dengan kebutuhan kesehatan, terdiri atas :
a. Perlindungan terhadap penyakit menular, melalui pengadaan air
minum, sistem sanitasi, pembuangan sampah, saluran air, kebersihan
personal dan domestik, penyiapan makanan yang aman dengan
struktur rumah yang aman dengan memberi perlindungan.
b. Perlindungan terhadap trauma/benturan, keracunan dan penyakit
kronis dengan memberikan perhatian pada struktur rumah, polusi
udara rumah, polusi udara dalam rumah, keamanan dari bahaya kimia
dan perhatian pada pnggunaan rumah sebagai tempat bekerja.
c. Stress psikologi dan sosial melalui ruang yang adekuat, mengurangi
privasi, nyaman, memberi rasa aman pada individu, keluarga dan
akses pada rekreasi dan sarana komunitas pada perlindungan terhadap
bunyi.
2. Berkaitan dengan kegiatan melindungi dan meningkatkan kesehatan terdiri
atas :
a. Informasi dan nasehat tentang rumah sehat dilakukan oleh petugas
kesehatan umumnya dan kelompok masyarakat melalui berbagai
saluran media dan kampanye.
b. Kebijakan sosial ekonomi yang berkaitan dengan perumahan harus
mendukung penggunaan tanah dan sumber daya perumahan untuk
memaksimalkan aspek fisik, mental dan sosial.
c. Pembangunan sosial ekonomi yang berkaitan dengan perumahan dan
hunian harus didasarkan pada proses perencanaan, formulasi dan
pelaksanaan kebijakan publik dan pemberian pelayanan dengan

13
kerjasama intersektoral dalam manajemn dan perencanaan
pembangunan, perencanaan perkotaan dan penggunaan tanah, standar
rumah, disain, dan konstruksi rumah, pengadaan pelayanan bagi
masyarakat dan monitoring serta analisis situasi secara terus menerus.
d. Pendidikan pada masyarakat profesional, petugas kesehatan,
perencanaan dan penentuan kebijakan akan pengadaan dan
penggunaan rumah sebagai sarana peningkatan kesehatan.
e. Keikutsertaan masyarakat dalam berbagai tingkat melalui kgiatan
mandiri diantara keluarga dan perkampungan.

Menurut Depkes RI (2002), indikator rumah yang dinilai adalah


komponen rumah yang terdiri dari : langit-langit, dinding,
lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu,
ventilasi, dapur dan pencahayaan dan aspek perilaku.
Aspek perilaku penghuni adalah pembukaan jendela kamar tidur,
pembukaan jendela ruang keluarga, pembersihan rumah dan halaman.

F. PERSYARATAN RUMAH SEHAT


Persyaratan rumah sehat yang tercantum dalam Residential Environment
dari WHO (1974) antara lain :
1. Harus dapat berlindung dari hujan, panas, dingin, dan berfungsi sebagai
tempat istrahat.
2. Mempunyai tenpat-tempat untuk tidur, memasak, mandi, mencuci, kakus
dan kamar mandi.
3. Dapat melindungi bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.
4. Bebas dari bahan bangunan berbahaya.
5. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi
penghuninya dari gempa, keruntuhan, dan penyakit menular.
6. Memberi rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi.

14
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan permukiman menurut
Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/ 1999
meliputi dua aspek yaitu :
1. Lingkungan perumahan yang terdiri dari lokasi, kualitas udara,
kebisingan dan getaran, kualitas tanah, kualitas air tanah, saranan dan
prasarana lingkungan, binatang penular penyakit dan penghijauan
2. Rumah tinggal yang terdiri dari bahan bangunan, komponen dan penataan
ruang rumah, pencahayaan, kualitas udara, ventilasi, binatang penular
(vektor) penyakit, air, sarana penyimpanan makanan, limbah, dan
kepadatan huniaan ruang tidur.

Adapun persyaratan kesehatan lingkungan sehat menurut Keputusan Menteri


Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/ 1999 sebagai berikut :
1. Lokasi
a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran
sungai, aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah
gempa, dan sebagainya
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA)
sampah atau bekas tambang
c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran
seperti alur pendaratan penerbangan.
2. Kualitas udara
a. Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari
gangguan gas beracun dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan
sebagai berikut :
1) Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi
2) Gas SO2 maksimum 0,10 ppm
3) Debu maksimum 350 mm3 /m2 per hari.
3. Kebisingan dan getaran
a. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A;
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik.

15
4. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
a. Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
b. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
c. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
d. Kandungan Benzopyrene maksimum 1 mg/kg
5. Prasarana dan sarana lingkungan
a. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan
konstruksi yang aman dari kecelakaan
b. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan
vektor penyakit
c. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan
tidak mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan
pejalan kaki dan penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar
pengaman, lampu penerangan, jalan tidak menyilaukan mata
d. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air yang
memenuhi persyaratan kesehatan
e. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus
memenuhi persyaratan kesehatan
f. Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi
syarat kesehatan
g. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi,
tempat kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian, dan lain
sebagainya
h. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya
i. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi
kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan keracunan.
6. Vektor penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.

16
7. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan
pelindung dan juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian
alam.

17
BAB II

TARGET DAN LUARAN

A. TARGET
Target akhir yang ingin di capai dari pelaksanaan penilaian Rumah Sehat ini
adalah mendapatkan data dari penilaian Rumah Sehat yang dilakukan di
Kelurahan Gusung Kecamatan Ujung Tanah sehingga dapat diketahui apakah
rumah tersebut memenuhi kriteria Rumah Sehat atau tidak memenuhi. Target
akhir tersebut dapat dicapai melalui beberapa target khusus, yaitu:
1. Survey Rumah Sehat untuk mengetahui apakah sesuai kriteria rumah yang
sehat atau tidak.
2. Melakukan pengolahan data yang telah di dapat dari survey Rumah sehat
dari data mentah menjadi data sesungguhnya sehingga sapat diketahui
kriteria Rumah Sehat.

B. LUARAN
1. Dapat memperkenalkan ke masyarakat bahwa Perumahan Sehat
merupakan aspek penting dalam peningkatan derajat kesehatan
masyarakat.
2. Dapat menciptakan inovasi baru kepada masyarakat terkait dengan rumah
sehat di Kelurahan Gusung Kecamatan Ujung Tanah, Poetere.
3. Masyarakat di Kelurahan Gusung Kecamatan Ujung Tanah sudah
menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat dalam tatanan rumah tangga.
4. Masyarakat di Kelurahan Gusung Kecamatan Ujung Tanah sudah dapat
mengetahui tentang komponen rumah sehat.

18
BAB III

METODE PELAKSANAAN

A. GAMBARAN UMUM

Kelurahan Gusung merupakan kelurahan yang berada pada pesisir


Pelabuhan Paotere. Pelabuhan ini terletak di bagian utara Kota Makassar dan
memegang peranan penting sejarah bahari dari Kota Makassar pada abad ke-
14.
Kelurahan Gusung terletak pada kecamatan Ujung Tanah berukuran 18 ha
dan berbatasan langsung dengan:
a) Sebelah Utara : Selat Makassar
b) Sebelah Selatan : Kelurahan Pattingalong
c) Sebelah Timur : Kelurahan Cambaya
d) Sebelah Barat : Kelurahan Totaya
Kelurahan Gusung memiliki komposisi penduduk sebesar 1658 jiwa laki-laki
dan 1672 jiwa.

B. JENIS KEGIATAN

Jenis kegiatan ini adalah suatu kegiatan survei sanitasi kawasan perkotaan
dengan menggunakan metode penilaian rumah sehat.

C. WAKTU DAN LOKASI


a) Hari/tanggal : Kamis, 03 Mei 2018
b) Pukul : 10.00 WITA - selesai
c) Tempat : RT II, III dan IV di Kelurahan Gusung
Kecamatan Ujung Tanah Poetere Kota
Makassar

19
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Data ini merupakan data primer diperoleh berdasarkan hasil pengamatan


langsung dan hasil wawancara di lokasi dengan menggunakan instrumen
penilaian rumah sehat.

20
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

1. Komponen Rumah

Tabel 4.1 Langit-Langit Rumah Responden


No Langit-langit Jumlah %

1 Tidak ada 16 13

2 Ada,kotor sulit dibersihkan 51 40


dan rawan kecelakaan
3 Ada, bersih dan tidak rawan 63 49
kecelakaan
Total 130 100

Tabel 4.2 dinding Rumah Responden


No Dinding Jumlah %

1 Bukan tembok (terbuat dari 8 7


anyaman bambu/ilalang
2 Semi permanen/setengah 59 46
tembok/pasangan bata atau
batu yang tidak di
plester/papan yang tidak
kedap air
3 Ada, bersih dan tidak rawan 53 41
kecelakaan
Total 130 100

21
Tabel 4.3 lantai Rumah Responden
No Lantai Jumlah %

1 Tanah 35 27

2 Papan/anyaman bambu dekat 13 10


dengan tanah/plesteran yang
retak dan berdebu
3 Diplester/ubin/keramik/papan 82 64
(rumah panggung)
Total 130 100

Tabel 4.4 Jendela Kamar Tidur Rumah Responden


No Jendela Kamar Tidur Jumlah %

1 Tidak ada 55 43

2 Ada 75 57

Total 130 100

Tabel 4.5 Jendela Ruang Keluarga Rumah Responden


No Jendela Ruang Keluarga Jumlah %

1 Tidak ada 57 44

2 Ada 73 56

Total 73 100

22
Tabel 4.6 Ventilasi Rumah Responden
No Ventilasi Jumlah %

1 Tidak ada 93 72

2 Ada, luas ventilasi permanen 24 24


< 10% dari luas lantai
3 Ada, luas ventilasi permanen 13 10
> 10% dari luas lantai
Total 130 100

Tabel 4.7 Lubang Asap Dapur Rumah Responden


No Lubang Asap Dapur Jumlah %

1 Tidak ada 106 82

2 Ada, luas ventilasi permanen 17 14


< 10% dari luas lantai dapur
3 Ada, luas ventilasi permanen 7 6
> 10% dari luas lantai dapur
(asap keluar dengan
sempurna) atau ada
exhauster fan ada peralatan
lain yang sejenis
Total 130 100

23
Tabel 4.8 Pencahayaan Rumah Responden
No Pencahayaan Jumlah %

1 Tidak terang, tidak dapat 14 10


digunakan untuk membaca
2 Kurang terang, sehingga 62 48
kurang jelas untuk membaca
3 Terang dan tidak silau, 54 42
sehingga dapat dipergunakan
untuk membaca dengan
normal
Total 116 100

2. Sarana Sanitasi

Tabel 4.9 Sarana Air Bersih Rumah Responden


No Sarana Air Bersih Jumlah %

1 Tidak ada 16 12

2 Ada, bukan milik sendiri dan 15 11


tidak memenuhi syarat
kesehatan
3 Ada, milik sendiri dan tidak 43 33
memenuhi syarat
4 Ada, bukan milik sendiri dan 36 28
memenuhi syarat
5 Ada, milik sendiri dan 50 38
memenuhi syarat
Total 130 100

24
Tabel 4.10 Sarana Air Bersih Rumah Responden
No Sarana Air Bersih Jumlah %

1 Tidak ada 3 2

2 Ada, bukan leher angsa, tidak 57 43


ada tutup, disalurkan ke
sungai/kolam
3 Ada, bukan leher angsa, dan 28 22
ditutup (leher angsa),
disalurkan ke sungai/kolam
4 Ada, bukan leher angsa ada 7 5
tutup, septik tank
5 Ada, leher angsa, septik tank 35 26

Total 130 100

Tabel 4.11 Sarana Pembuangan Air Limbah Rumah Responden


No Sarana Pembuangan Air Jumlah %
Limbah
1 Tidak ada, sehingga tergenang 32 24
tidak teratur di halaman rumah
2 Ada, siderapkan tetapi 8 6
mencemari sumber air (jarak
dengan sumber air <10m
3 Ada, dialirkan ke sekolah 80 61
terbuka
4 Ada, siderapkan tetapi 1 0,77
mencemari sumber air (jarak
dengan sumber air >10m
5 Ada, dialirkan ke sekolah 9 7

25
tertutup (saluran kota) untuk
diolah lebih lanjut
Total 130 100

Tabel 4.12 Sarana Pembuangan Sampah Rumah Responden


No Sarana Pembuangan Sampah Jumlah %

1 Tidak ada 44 33

2 Ada, tetapi tidak kedap air 27 21


dan tidak tertutup
3 Ada, kedap air dan tidak 31 23
tertutup
4 Ada, kedap air dan tertutup 28 22

Total 130 100

Tabel 4.13 Perilaku Membuka Jendela Kamar Tidur Rumah


Responden
No Membuka Jendela Kamar Jumlah %

1 Tidak pernah dibuka 8 6

2 Kadang-kadang 67 51

3 Setiap hari dibuka 35 26

Total 130 100

26
Tabel 4.14 Jendela Ruang Keluarga Rumah Responden
No Membuka Jendela Ruang Jumlah %
Keluarga
1 Tidak pernah dibuka 36 27

2 Kadang-kadang 39 30

3 Setiap hari dibuka 55 42

Total 130 100

Tabel 4.15 Perilaku Membersihkan Rumah dan Halaman Responden


No Membersihkan Rumah dan Jumlah %
Halaman
1 Tidak pernah dibuka 3 2

2 Kadang-kadang 35 26

3 Setiap hari 92 70

Total 130 100

27
Tabel 4.16 Perilaku Membuang Tinja Bayi dan Balita Ke Jamban
Responden
No Membuang Tinja Bayi dan Jumlah %
Balita Ke Jamban
1 Dibuang ke sungai/kebun/kolam 41 32
sembarangan
2 Kadang-kadang ke jamban 20 15

3 Setiap hari dibuang ke jamban 21 16

Total 130 100

Tabel 4.17 Perilaku Membuang Sampah pada Tempat Sampah


Responden
No Membuang Tinja Bayi dan Jumlah %
Balita Ke Jamban
1 Dibuang ke sungai/kebun/kolam 19 14
sembarangan
2 Kadang-kadang ke jamban 12 10

3 Setiap hari dibuang ke tempat 99 76


sampah
Total 130 100

B. PEMBAHASAN

1. Umum
Berdasarkan hasil survei penilaian rumah sehat yang dilakukan di
Kelurahan Gusung, Kecamatan Ujung Tanah, Poetere dari 130 jumlah KK
hanya dua KK yang memenuhi syarat,selebihnya tidak memenuhi kriteria

28
standar rumah sehat dengan komponen rumah yang dinilai terdiri dari
komponen rumah, sarana sanitasi dan prilaku penghuni. Tidak
memenuhinya kriteria rumah sehat disebabkan karena secara umum
masyarakat terkendala masalah faktor ekonomi selain itu kurangnya
pemahaman tentang rumah sehat, sarana sanitasi juga dipengaruhi oleh
faktor kebiasaan yang di anggap sepele utamanya dari segi sarana
kepemilikan jamban dan sarana tempat sampah, dari hasil survey yang
dilakukan sebagian besar warga menjadikan kanal sebagai tempat
pembuangan, untuk sarana air bersih masihbanyak warga yang
mempunya sumur bor atau PDAM sendiri, tetapi lebih sebagian besar
ada tetapi bukan milik sendiri.
Untuk prilaku penghuni dalam kriteria ini sebagian besar masih
belum rutin tiap hari atau kadang-kadang misalnya membuka jendela
kamar tidur, dari survei yang dilakukan ada mengatakan bahwa kebiasaan
membuka jendela kamar tersebut di lakukan jika di inginkan atau ada
kemauan tanpa memikirkan dari segi kesehatan jika jendela tida di buka.
kondisi pengap di dalam ruangan sehingga kenyamanan dapat terganggu.
Warga sekitar jika membuang air limbah langsung ke selokan/ kanal
terbuka, dan Sebagian warga membuang tinja di tempat penampungan
khusus tinja dan membuang ke kanal, dan masih ada beberapa rumah
yang belum memiliki septiktank

2. Khusus

a. Langit-langit Rumah
Berdasarkan survei yang dilakukan di Kelurahan Gusung
Kecamatan ujung Tanah, Poetere disurvei dari segi langit-langit
rumah tidak memiliki langit-langit 16 KK dengan persentasi 13 %,
ada, langit-langit,kotor,sulit dibersihkan dan rawan kecelakaaan 51 KK
dengan persentasi 40 %, dan Ada,basah,bersih dan tidak rawan

29
kecelakaaan 63 KK dengan persentasi 49 % dari 130 KK yang telah di
survei.
Berdasarkan yang tercantum dalam Kepmenkes Nomor
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan
Perumahan. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan
kecelakaan. Langit-langit di Kelurahan Gususng, Kecamatan Ujung
Tanah RT II,III,IV masih kebanyakan yang tidak memenuhi kriteria.
Dari hasil survei bahwa kebanyakan di sebabkan karena faktor
ekonomi kurang dan pengetahuan tentang bahaya akibat langit-langit
rumah yang tidak memenuhi kriteria rumah sehat.

b. Dinding Rumah
Berdasarkan survei yang dilakukan di Kelurahan Gusung
Kecamatan ujung Tanah, Poetere yang disurvei dinding rumah
kebanyakan bukan tembok(terbuat dari anyaman bambu/ilalang) 10
KK dengan persentasi 8 %, Semi permanen/setengah tembok/pasangan
bata atau batu yang tidak diplaster/papan yang tidak kedap air 59 KK
dengan persentasi 46 %,dan Permanen (tembok/ pasang batu bata yang
tidak diplaster)papan kedap air 53 KK dengan persentasi 41 % dari
130 KK yang telah di survei.
Dengan kondisi rumah warga tersebut dapat menyebabkan
udara kotor dan vektor langsung masuk ke dalam rumah sehingga
penghuni rentan terhadap penyakit. Selain itu kondisi dinding yang
terbuat dari bambu dapat menyebabkan sinar matahari dapat langung
menembus kedalam rumah sehingga suhu udara di dalam ruangan
menjadi tinggi dan menimbulkan ketidaknyaman. Hal ini disesbabkan
oleh factor ekonomi dan akses mendapatkan kayu yang lebih mudah di
dapatkan.

c. Lantai Rumah

30
Berdasarkan survei yang dilakukan di Kelurahan Gusung
Kecamatan ujung Tanah, Poetere disurvei lantai rumah masih ada
yang beralaskan tanah 35 KK dengan persentasi 27 %, Papan/anyaman
bambu dekat dengan tanah/plasteran yang retrak dan berdebu 13 KK
dengan persentasi 10 %, dan Diplaster/ubin/keramik/papan (rumah
panggung) 82 KK dengan persentasi 64 % dari 130 KK yang telah di
survei.
Dilihat dari kondisi kondisi rumah warga tersebut
sebenarnya telah memenuhi syarat dari segi lantai namun masih ada
beberapa rumah yang lantainya belum diplaster, sedang berdasarkan
persyaratan rumah sehat yaitu memiliki lantai yang kedap air dan
bersih sehingga tidak terjadi penularan penyakit dari lantai rumah.
Apabila lantai rumah tidak kedap air dan tidak bersih sangat mudah
terjadi penularan penyakit.

d. Jendela Kamar Tidur


Berdasarkan survei yang dilakukan di Kelurahan Gusung
Kecamatan ujung Tanah, Poetere yang disurvei yang tidak memiliki
jendela 55 KK dengan persentasi 43 % dan yang memiliki 75 KK
dengan persentasi 57 % dari 130 KK yang telah di survei.
Hasil persentase data diatas dimana jumlah rumah yang tidak
memiliki jendela dikategorikan tidak memenuhi syarat karena dapat
memberi dampak negatif bagi para penghuninya, baik itu dampak
fisiologi, psikis dan fisiknya. Jendela mempunyai peranan yang sangat
penting karena mampu mempengaruhi suhu dan kelembaban kamar
tidur dan tingkat kenyamanan penghuni di dalam kamar.

e. Jendela Ruang Keluarga


Berdasarkan survei yang dilakukan di Kelurahan Gusung
Kecamatan ujung Tanah, Poetere yang disurvei yang tidak memiliki
jendela ruang keluarga 57 KK dengan persentasi 44 % dan yang

31
memiliki 73 KK dengan persentasi 56 % dari 130 KK yang telah di
survei.
Dari data tersebut sebagian besar warga telah memiliki jendela
ruang keluarga, meskipun sebagian besar perilaku penghuni
masyarakat masih banyak yang jarang membuka jendela ruang
keluarga. Jendela ruang keluarga juga mempunyai peranan
yang penting, di karenakan ruang keluarga merupakan ruang yang
sering ditempati berkumpul bersama-sama dengan keluarga sehingga
menuntut kondisi yang nyaman dan santai, jika jendela ruang kelurga
tidak ada, maka akan tercipta kondisi pengap di dalam ruangan
tersebut sehingga kenyamanan dapat terganggu.

f. Ventilasi
Berdasarkan survei yang dilakukan di Kelurahan Gusung
Kecamatan ujung Tanah, Poetere yang disurvei yang tidak
memiliki ventilasi 93 KK dengan persentasi 72% ,Ada, luas ventilasi
permanen< 10% dari luas lantai 24 KK dengan persentasi 19 %
dan Ada, luas ventilasi permanen> 10% dari luas lantai 13 KK dengan
persentasi 10 % dari 130 KK yang telah di survei.
Dari data tersebut masih banyak rumah masyarakat yang tidak
memiliki ventilasi , dari hasil observasi masyarakat tidak memiliki
ventilasi di akibatkan karena kondisi rumah warga yang saling
berdempetan samping dan belakang. Ventilasi yang baik adalah
ventilasi yang berukuran > 10% dari luas lantai, ventilasi bertujuan
memberikan memperlancar sirkulasi udara dalam ruangan dengan
memberikan udara segar dari luar, sehingga suhu dalam ruangan dapat
memenuhi syarat 22-24 ⁰C dan kelembaban 60 %.

g. Lubang Asap Dapur


Berdasarkan survei yang dilakukan dilakukan di Kelurahan
Gusung Kecamatan ujung Tanah, Poetere yang disurvei yang tidak

32
memiliki lubang asap dapur 106 KK dengan persentasi 82 % , Ada,
luas ventilasi permanen< 10% dari luas lantai dapur 17 KK dengan
persentasi 14 % dan Ada, luas ventilasi permanen> 10% dari luas
lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhausifan ada
peralatan lain yang sejenis 7 KK dengan persentasi 6 % dari 130 KK
yang telah di survei.
Rumah yang tidak memiliki lubang asap dapur dapat
menimbulkan resiko kesehatan terutama pada saat memasak ketika
berada di dapur (proses masak memasak terjadi) asap hasil
pembakaran yang menggumpal di dalam ruangan akan menyebabkan
sesak napas karena rumah tersebut tidak memilki lubang asap dapur.

h. Pencahayaan Ruangan Rumah


Berdasarkan survei yang dilakukan di Kelurahan Gusung
Kecamatan ujung Tanah, Poetere yang disurvei pencahayaan
rumah tidak terang, tidak dapat dipergunakan untuk membaca 14 KK
dengan persentasi 11 %Kurang terang, sehingga kurang jelas untuk
membaca dengan normal 62 KK dengan persentasi 48 % dan terang
dan tidak silau sehingga dapat digunakan untuk membaca dengan
normal 54 KK dengan persentasi 42 % dari 130 KK yang telah di
survei.
Dari hasil survey yang dilakukan di rumah warga pencahayaan
yang tidak memenuhi syarat, hal tersebut disebabkan karena kurangnya
pengetahuan warga tentang dampak buruk dari kondisi perumahan
yang tidak memiliki pencahayaan yang tidak baik.
Cahaya yang cukup untuk penerangan ruang di dalam rumah
merupakan kebutuhan kesehatan manusia. Agar ruangan dalam rumah
mendapatkan cahaya yang cukup, maka letak jendela dan lebarnya
harus diperhatikan.luas jendela untuk penerangan ini sedikitnya 20 %
luas lantai ruangan. Untuk pencahayaan buatan biasanya setiap rumah
memerlukan 50-100 lux.

33
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Kondisi langit- langit di Kelurahan Gusung Kecamatan ujung Tanah,
Poetere disurvei lantai rumah masih ada yang beralaskan tanah 35 KK
dengan persentasi 27 %, Papan/anyaman bambu dekat dengan
tanah/plasteran yang retrak dan berdebu 13 KK dengan persentasi 10
%, dan Diplaster/ubin/keramik/papan (rumah panggung) 82 KK dengan
persentasi 64 % dari 130 KK yang telah di survei.
2. Kondisi dinding rumah di Kelurahan Gusung Kecamatan ujung Tanah,
Poetere yang disurvei dinding rumah kebanyakan bukan tembok(terbuat
dari anyaman bambu/ilalang) 10 KK dengan persentasi 8 %, Semi
permanen/setengah tembok/pasangan bata atau batu yang tidak
diplaster/papan yang tidak kedap air 59 KK dengan persentasi 46
%,dan Permanen (tembok/ pasang batu bata yang tidak diplaster)papan
kedap air 53 KK dengan persentasi 41 % dari 130 KK yang telah di
survei.
3. Kondisi lantai rumah di Kelurahan Gusung Kecamatan ujung Tanah,
Poetere disurvei lantai rumah masih ada yang beralaskan tanah 35 KK
dengan persentasi 27 %, Papan/anyaman bambu dekat dengan
tanah/plasteran yang retrak dan berdebu 13 KK dengan persentasi 10
%, dan Diplaster/ubin/keramik/papan (rumah panggung) 82 KK dengan
persentasi 64 % dari 130 KK yang telah di survei.
4. Kondisi jendela kamar Berdasarkan survei yang dilakukan di Kelurahan
Gusung Kecamatan ujung Tanah, Poetere yang disurvei yang tidak
memiliki jendela 55 KK dengan persentasi 43 % dan yang memiliki 75
KK dengan persentasi 57 % dari 130 KK yang telah di survei.
5. Kondisi jendela kamar di Kelurahan Gusung Kecamatan ujung Tanah,
Poetere yang disurvei yang tidak memiliki jendela ruang keluarga 57 KK

34
dengan persentasi 44 % dan yang memiliki 73 KK dengan persentasi 56
% dari 130 KK yang telah di survei.
6. Kondisi ventilasidi Kelurahan Gusung Kecamatan ujung Tanah, Poetere
yang disurvei yang tidak memiliki ventilasi 93 KK dengan persentasi
72% ,Ada, luas ventilasi permanen< 10% dari luas lantai 24 KK dengan
persentasi 19 % dan Ada, luas ventilasi permanen> 10% dari luas
lantai 13 KK dengan persentasi 10 % dari 130 KK yang telah di survei.
7. Kondisi lubang asap dapur di Kelurahan Gusung Kecamatan ujung
Tanah, Poetere yang disurvei yang tidak memiliki lubang asap dapur 106
KK dengan persentasi 82 % , Ada, luas ventilasi permanen< 10% dari
luas lantai dapur 17 KK dengan persentasi 14 % dan Ada, luas ventilasi
permanen> 10% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna)
atau ada exhausifan ada peralatan lain yang sejenis 7 KK dengan
persentasi 6 % dari 130 KK yang telah di survei.
8. Kondisi pencahayaan di Kelurahan Gusung Kecamatan ujung Tanah,
Poetere yang disurvei pencahayaan rumah tidak terang, tidak dapat
dipergunakan untuk membaca 14 KK dengan persentasi 11 %Kurang
terang, sehingga kurang jelas untuk membaca dengan normal 62 KK
dengan persentasi 48 % dan terang dan tidak silau sehingga dapat
digunakan untuk membaca dengan normal 54 KK dengan persentasi 42
% dari 130 KK yang telah di survei.

B. SARAN
1. Kepada Masyarakat
Agar senantiasa menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta
memperhatikan kondisi lingkungan sekita
2. Agar pemerintah memperhatikan lingkungan dan membuat program
yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan demi meningktakan
derajat kesehatan masyarakat

35
DAFTAR PUSTAKA

Budiman Chandra.2007. Pengantar Kesehatan Lingkugan. Jakarta:EGC Budiman


Chandra.2007. Pengantar Kesehatan Lingkugan. Jakarta:EGC

Depkes RI – Ditjen PPM dan PL (2002) Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat.

Entjang, Indan. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung; PT. Citra Aditya
Bakti.

Heru, Adi. 1995. Kader Kesehatan Masyarakat. Jakarta; EGC

Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 ttg Persyaratan Kesehatan


Perumahan.

Mahfoedz, Irham.2008, Menjaga Kesehatan Rumah Dari Berbagai Penyakit.


Jogyakarta.

Munif Arifin, 2009. Rumah Sehat dan Lingkunganya. diakses dari


environmentalsanitation.wordpress.com, (diakses 15 Mei 2018).

Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar.


Jakarta: Rineka Cipta.http://lovalend.wordpress.com/(diakses 15 Mei
2018).
LAMPIRAN
FOTO KEGIATAN
PETA LOKASI KELURAHAN GUSUNG, KECAMATAN UJUNG TANAH, POETERE