Anda di halaman 1dari 10

PERNIKAHAN USIA DINI DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN

REPRODUKSI

BIMA ELSA PAULINA SITINJAK

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jembrana

PENDAHULUAN

Pernikahan usia dini terjadi baik di daerah pedesaan maupun perkotaan di

Indonesia serta meliputi berbagai strata ekonomi dengan beragam latar belakang.

Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang

pernikahan anak, namun ironisnya, praktik pernikahan usia dini masih

berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak

asasi kelompok usia muda yang terabaikan. Implementasi Undang-Undang pun

seringkali tidak efektif ketika berhadapan dengan adat istiadat serta tradisi yang

mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat. Disisi lain, alasan ekonomi,

harapan mencapai keamanan sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan

banyak orangtua mendorong anaknya untuk menikah di usia muda.

Implikasi secara umum yang akan dihadapi adalah wanita dan anak yang

akan menanggung risiko dalam berbagai aspek, berkaitan dengan pernikahan yang

tidak diinginkan, hubungan seksual yang dipaksakan, kehamilan di usia yang

sangat muda, serta juga meningkatnya risiko penularan infeksi HIV dan penyakit

menular seksual lainnya serta kanker leher rahim. Kesemuanya merupakan

1
konsekuensi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan tentunya merupakan

hambatan dalam mencapai sebuah keluarga yang sejahtera.

Pernikahan dini salah satunya diakibatkan karena seks pra nikah (seks

bebas) untuk memenuhi saling ketertarikan satu sama lain atau pun karena adanya

ajakan dari lingkungan sama hal nya dengan pemakaian NAPZA karena ajakan

dari lingkungan atau keinginan dari pelaku atau pengguna, ini merupakan cakupan

dari TRIAD KRR yang harus kita hindari.

Dari sisi demografi kependudukan, pernikahan usia dini ini menyebabkan

pertambahan penduduk yang makin cepat tetapi menghasilkan kualitas yang

rendah menjadi salah satu alasan pentingnya untuk melakukan pendewasaan usia

perkawinan.

Definisi

Menurut The International Planned Parenthood Federation (IPPF) dalam

Ending child marriage From choice, a world of possibilities A guide for global

policy action, pernikahan anak yang dikenal juga dengan pernikahan usia dini

didefinisikan sebagai pernikahan yang terjadi sebelum anak mencapai usia 18

tahun, sebelum anak matang secara fisik, fisiologis, dan psikologis untuk

bertanggung jawab terhadap pernikahan dan anak yang dihasilkan dari

pernikahan tersebut.

Sedangkan menurut Dlori (2005), disebutkan pernikahan dini merupakan

sebuah perkawinan dibawah umur yang target persiapannya belum dikatakan

maksimal persiapan fisik, persiapan mental, juga persiapan materi. Dengan

2
demikian inilah maka pernikahan dini bisa dikatakan sebagai pernikahan yang

terburu-buru, sebab segalanya belum dipersiapkan secara matang. Pernikahan

dini merupakan perkawinan di bawah umur yang target persiapannya belum

dikatakan maksimal baik dari segi persiapan fisik, persiapan mental juga

persiapan materi.

Pemerintah pada akhir 2006 mencetuskan program Pendewasaan Usia

Perkawinan (PUP) yang mengupayakan untuk meningkatkan usia pada

perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan

yaitu 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria sehingga kuantitas dan kualitas

penduduk yang dihasilkan benar – benar terjaga.

Faktor-faktor yang mendorong pernikahan usia dini

Saat ini problematika yang terjadi pada para remaja adalah banyaknya

remaja yang ingin membina rumah tangga dengan melakukan pernikahan dini

terutama karena pergaulan bebas yang berakibat kehamilan diluar nikah.

Menurut Alfiyah (2010), ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya

perkawinan usia muda yang sering dijumpai dilingkungan masyarakat kita yaitu :

a) Ekonomi, perkawinan usia muda terjadi karena adanya keluarga yang hidup

digaris kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak

wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.

b) Pendidikan, dimana rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan

orang tua, anak dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan

mengawinkan anaknya yang masih dibawah umur.

3
c) Faktor Orang Tua, dimana orang tua khawatir kena aib karena anak

perempuannya berpacaran dengan laki-laki yang sangat lengket sehingga

segera mengawinkan anaknya.

d) Media Massa, gencarnya ekspose seks dimedia massa menyebabkan remaja

modern kian permisif terhadap seks.

e) Faktor Adat, perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut

anaknya dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan.

f) Keluarga Cerai (Broken Home), banyak anak-anak korban perceraian

terpaksa menikah secara dini karena berbagai alasan, misalnya: tekanan

ekonomi, untuk meringankan beban orang tua tunggal, membantu orang tua,

mendapatkan pekerjaan, meningkatkan taraf hidup.

Kesehatan reproduksi dan pernikahan usia dini

Pada era globalisasi, dengan berbagai kemajuan teknologi, pendapat

mengenai perkembangan ilmu usia perkawinan yang tercantum dalam UU

perkawinan tersebut merupakan harga minimal yang boleh dilakukan. Kesehatan

sendiri punya pendapat sendiri perihal reproduksi sehat dimana reproduksi sehat

pada wanita adalah antara umur 20-30 tahun.

Berdasarkan beberapa laporan, USAID dalam Preventing child

marriage: protecting girls health(2009), menyebutkan bahwa kehamilan pada

usia kurang dari 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu

maupun pada anak. Kehamilan di usia yang sangat muda ini ternyata berkorelasi

dengan angka kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan bahwa anak perempuan

4
berusia 10 – 14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun

bersalin dibandingkan kelompok usia 20 – 24 tahun, sementara risiko ini akan

meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun.

Secara fisik, misalnya Remaja itu belum kuat, tulang panggulnya masih

terlalu kecil sehingga bisa membahayakan proses persalinan. Selain itu

perempuan yang menikah dibawah umur 20 tahun beresiko terkena kanker leher

rahim. Pada usia remaja sel – sel leher rahim belum tumbuh dengan matang,

sehingga apabila terpapar oleh Human Papiloma Virus (HPV) maka pertumbuhan

sel akan menyimpang menjadi kanker (Burhani,2009).

Akibat pernikahan dini, para remaja saat hamil dan melahirkan akan

sangat mudah menderita anemia. Ketidaksiapan fisik juga terjadi pada remaja

yang melakukan pernikahan dini akan tetapi juga terjadi pada anak yang

dilahirkan. Dampak buruk tersebut berupa bayi lahir dengan berat badan rendah,

hal ini akan menjadikan bayi tersebut tumbuh menjadi anak yang tidak sehat,

tentunya ini juga akan berpengaruh pada kecerdasan buatan si anak dari segi

mental (Manuaba, 2001).

Mudanya usia saat melakukan hubungan seksual pertamakali juga

meningkatkan risiko penyakit menular seksual dan penularan infeksi HIV.

Banyak remaja yang menikah dini berhenti sekolah saat mereka terikat dalam

lembaga pernikahan, mereka seringkali tidak memahami dasar kesehatan

reproduksi, termasuk di dalamnya risiko terkena infeksi HIV. Infeksi HIV

terbesar didapatkan sebagai penularan langsung dari partner seks yang telah

5
terinfeksi sebelumnya. Pernikahan usia muda juga merupakan faktor risiko untuk

terjadinya karsinoma serviks.

Artinya apabila terjadi perkawinan diluar umur reproduksi sehat dapat

menghasilkan dampak pada pasangan suami istri tersebut. Dari perspektif

kesehatan, didapati bahwa pernikahan dan kehamilan pertama bagi istri yang

belum berumur 21 tahun menimbulkan risiko komplikasi medis yang

membahayakan ibu dan anak sebagai berikut:

1. Kondisi rahim belum berkembang optimal sehingga dapat mengakibatkan

resiko kesakitan dan kematian pada saat persalinan, nifas serta bayinya.

2. Neuritis depresi, Depresi berat atau neuritis depresi akibat pernikahan dini

ini, bisa terjadi pada kondisi kepribadian yang berbeda. Pada pribadi

introvert (tertutup) akan membuat si remaja menarik diri dari pergaulan,

menjadi pendiam, tidak mau bergaul, bahkan menjadi seorang yang

schizophrenia atau dalam bahasa awam yang dikenal orang adalah gila.

Sedang depresi berat pada pribadi ekstrovert (terbuka) sejak kecil dimana

remaja terdorong melakukan hal – hal aneh untuk melampiaskan amarahnya,

seperti, perang piring, anak dicekik dan sebagainya. Dengan kata lain, secara

psikologis kedua bentuk depresi sama-sama berbahaya.

3. Kemungkinan timbulnya resiko medik seperti Keguguran, Preeklamsia

Eklamsia, Fistula Vesikovaginal (merembesnya air seni ke vagina), Fistula

Retrovaginal, kanker leher rahim, timbulnya kesulitan persalinan, persalinan

prematur, Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).

6
4. Kemungkinan risiko yang lebih tinggi terhadap penularan penyakit menular

seksual dan infeksi HIV AIDS.

Pada usia remaja permasalahan lain yang dihadapi adalah rendahnya

pengetahuan tentang kesehatan reproduksi terutama tentang masa subur. Dan

remaja yang cenderung rentan terkena dampak kesehatan reproduksi adalah

remaja putus sekolah, remaja jalanan, remaja penyalah guna napza, remaja yang

mengalami kekerasan seksual, korban perkosaan dan pekerja seks komersial.

Melihat begitu banyaknya risiko pada pernikahan usia dini, maka

perkawinan di usia dewasa akan menjamin kesehatan reproduksi ideal bagi

wanita sehingga kematian ibu melahirkan dan risiko lainnya dapat dihindari.

Disisi lain, perkawinan di usia dewasa juga akan memberikan keuntungan dalam

hal kesiapan psikologis dan sosial ekonomi. Remaja akan mengalami masa

reproduksi lebih panjang, sehingga memungkinkan banyak peluang besar untuk

melahirkan dan mempunyai anak. Secara Nasional, tingkat laju pertumbuhan

penduduk sekitar 1,6% pertahun atau sekitar 3 – 4 juta bayi lahir setahunnya. Ini

menjadi angka yang sangat fantastis dan menyebabkan ledakan jumlah

penduduk.

Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP)

Pendewasaan usia perkawinan (PUP)adalah upaya untuk meningkatkan

usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat

perkawinan yaitu 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. PUP bukan

7
sekedar menunda sampai usia tertentu saja tetapi mengusahakan agar kehamilan

pertamapun terjadi pada usia yang cukup dewasa.

Tujuan PUP yaitu memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja

agar didalam merencanakan keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai

aspek berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental,

emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak

kelahiran.

Jadi, setelah mengamati tujuan PUP, maka dapat dikatakan bahwa

penangganan adanya dampak buruk pernikahan dini, yaitu dengan pendewasaan

usia kawin sehingga terbentuk keluarga sejahtera sebagai kebijakan pemerintah,

merupakan solusi baru yang lebih objektif yang dapat dijadikan sebagai langkah

awal untuk mengatasi maraknya pernikahan dini. Namun tentunya harus disertai

juga dengan program kerja dan strategi yang tepat dan melibatkan pemangku

kepentingan yang terkait serta peran serta masyarakat.

PENUTUP

Kesimpulan

1. Pernikahan dini merupakan perkawinan di bawah umur yang target

persiapannya belum dikatakan maksimal baik dari segi persiapan fisik,

persiapan mental juga persiapan materi.

2. Dari perspektif kesehatan, pernikahan usia dini banyak menimbulkan risiko

komplikasi medis yang membahayakan ibu dan anak.

8
3. Pendewasaan Usia Perkawinan sebagai kebijakan pemerintah merupakan

solusi baru yang lebih objektif yang dapat dijadikan sebagai langkah awal

untuk mengatasi maraknya pernikahan dini.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saran yang direkomendasikan adalah :

1. Diharapkan kepada remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan

menambahkan informasi tentang pernikahan usia dini.

2. Diharapkan adanya program kerja dan strategi yang tepat dan melibatkan

pemangku kepentingan yang terkait serta peran serta masyarakat

3. Diharapkan kepada tenaga kesehatan, tokoh masyarakat dan sektor – sektor

terkait sangat diharapkan berperan lebih aktif dalam memberikan penyuluhan

kesehatan kepada remaja yang dapat dilakukan memberitahu tentang dampak

yang timbul dari pernikahan dini.

9
DAFTAR PUSTAKA

Alfyah, (2010), Sebab-sebab Pernikahan Dini, Jakarta, EGC

Burhani,R,(2009), Nikah Usia Muda Penyebab Kanker Serviks,Jakarta : BKKBN

Dlori, (2005), Jeratan Nikah Dini, Wabah Pergaulan,Yogyakarta : Media Abadi

Manuaba, IBG., (2001), Kapita Selekta Pelaksanaan Rutin. Obstetri

Ginekologidan Keluarga Berencana, Ed. Lia Astika Sari, Jakarta : EGC

http://www.bkkbn.co.id, Kesiapan Kehamilan, Hindari KawinMuda Agar Hidup

Bahagia, di akses pada tanggal 30 Mei 2017.

http://www. ippf.org., IPPF. Ending child marriage: a guide for global policy

action. di akses pada tanggal 30 Mei 2017.

http://www. usaid.gov., USAID. Preventing child marriage: protecting girls

health. di akses pada tanggal 30 Mei 2017.

10