Anda di halaman 1dari 31

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Menurut Undang – Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2014 tentang
kesehatan jiwa, Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang
secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan
diri sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu
memberikan kontribusi untuk komunitasnya.1
Menurut American Psychiatric Association, mental illness atau gangguan kesehatan
jiwa merupakan sebuah kondisi medis yang meliputi perubahan cara berpikir, emosi, dan
perilaku, atau kombinasi keduanya. Kondisi ini cukup banyak ditemukan, di Amerika, satu
dari lima orang dewasa pernah mengalami bentuk gangguan kesehatan jiwa, dan satu dari dua
puluh empat orang memiliki gangguan kesehatan jiwa yang serius. Gangguan kesehatan jiwa
dapat terjadi pada siapapun tanpa melihat jenis kelamin, pendapatan, atau ras, dan 75% kasus
dimulai ketika berusia 24 tahun. Menurut data WHO tahun 2016, terdapat sekitar 35 juta
orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5
juta terkena dimensia.2
WHO memperkirakan 83 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa,
dan dengan perbandingan jumlah perempuan dan laki-laki sebesar 33,2 : 21,7. WHO juga
menyebutkan gangguan kesehatan jiwa merupakan salah satu penyebab tersering terjadinya
disabilitas di seluruh dunia.3 Gangguan kesehatan jiwa dapat meningkatkan angka mortalitas,
dan menurunkan angka kesejahteraan berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk
menjalani pengobatan.3
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, prevalensi gangguan
jiwa berat pada penduduk Indonesia 1,7 per mil. Prevalensi ganggunan mental emosional
yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas
mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan
prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau
sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.4 Gangguan jiwa berat merupakan gangguan yang
mengganggu aktivitas, contohnya adalah psikosis atau skizofrenia. Gangguan jiwa berat
terbanyak di DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah.4 Proporsi. RT
yang pernah memasung anggota rumah tangga ganggung jiwa berat sebanyak 14,3%, dan
terbanyak terdapat pada penduduk yang tinggal di perdesaan yaitu sebesar 18,2%.4

1
Menurut laporan RISKESDAS Jawa Barat, prevalensi gangguan jiwa berat di
Provinsi Jawa Barat adalah sebesar 2,2%.5 Jumlah pasien gangguan jiwa ringan hingga berat
meningkat dari 296.943 menjadi 465.975 orang.5,6 Sebagian masyarakat memperlakukan
anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa dengan pemasungan, padahal sesungguhnya
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah menggalangkan program ‘Indonesia Bebas
Pasung’.7
Gangguan jiwa dalam pandangan masyarakat masih identik dengan “gila” (psikotik)
sementara kelompok gangguan jiwa lain seperti ansietas, depresi dan gangguan jiwa yang
tampil dalam bentuk berbagai keluhan fisik kurang dikenal. Kelompok gangguan jiwa inilah
yang banyak ditemukan di masyarakat. Mereka ini akan datang ke pelayanan kesehatan
umum dengan keluhan fisiknya, sehingga petugas kesehatan sering kali terfokus pada
keluhan fisik, melakukan berbagai pemeriksaan dan memberikan berbagai jenis obat untuk
mengatasinya. Masalah kesehatan jiwa yang melatarbelakangi keluhan fisik tersebut sering
kali terabaikan, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif.8

1.2 Rumusan Masalah


 Kasus gangguan kesehatan jiwa merupakan kondisi yang cukup banyak ditemukan,
dengan jumlah kurang lebih 83 juta kasus di seluruh dunia.
 Gangguan kesehatan jiwa dapat meningkatkan angka mortalitas dan menurunkan angka
kesejahteraan.
 Data RISKESDAS Jawa Barat, prevalensi gangguan jiwa berat di Provinsi Jawa Barat
adalah sebesar 2,2%. Jumlah pasien gangguan jiwa ringan hingga berat meningkat dari
296.943 menjadi 465.975 orang.
 Masalah kesehatan jiwa yang melatarbelakangi keluhan fisik sering kali terabaikan,
sehingga pengobatan menjadi tidak efektif.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui masalah, penyebab masalah dan penyelesaian masalah yang terdapat pada
program upaya kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek, Kabupaten Karawang periode April
2017 sampai dengan Maret 2018 melalui pendekatan sistem.

2
1.3.2 Tujuan Khusus
 Diketahuinya cakupan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek
Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018.
 Diketahuinya cakupan penanganan pasien yang terdeteksi gangguan kesehatan jiwa di
Puskesmas Cikampek Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret
2018.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Evaluator
 Menerapkan ilmu pengetahuan mengenai program puskesmas yang telah diperoleh
selama duduk dibangku kuliah.
 Melatih serta mempersiapkan diri dalam mengevaluasi suatu program puskesmas
melalui pendekatan sistem.
 Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam mengevaluasi program
puskesmas.
 Membina bakat terutama dalam bidang manager yang diperlukan sebagai modal untuk
menjadi dokter puskesmas nantinya.

1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi


 Mewujudkan UKRIDA sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang
kesehatan masyarakat.
 Mewujudkan UKRIDA sebagai universitas yang menghasilkan dokter yang
berkualitas dan memiliki kepedulian terhadap kesehatan masyarakat luas.

1.4.3 Bagi Puskesmas Cikampek


 Mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan program upaya
kesehatan jiwa disertai dengan usulan atau saran sebagai pemecahan masalah.
 Memberikan masukan dalam meningkatkan kerjasama dan membina peran serta
masyarakat dalam melaksanakan program upaya kesehatan jiwa secara optimal.
 Membantu kemandirian puskesmas dalam upaya lebih mengaktifkan program upaya
kesehatan jiwa sehingga dapat memenuhi target cakupan program yang bersangkutan.

3
1.4.4 Bagi Masyarakat
 Meningkatkan pembinaan peran serta masyarakat dalam kegiatan upaya kesehatan
jiwa di wilayah kerja Puskesmas Cikampek, Kabupaten Karawang.
 Meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pentingnya kegiatan upaya kesehatan
jiwa di wilayah kerja Puskesmas Cikampek, Kabupaten Karawang.
 Meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Cikampek, Kabupaten Karawang.
 Menurunkan dan mempertahankan prevalensi angka kejadian gangguan jiwa pada
masyarakat.

1.5 Sasaran
Semua masyarakat yang belum terdeteksi gangguan jiwa dan masyarakat yang sudah
terdeteksi gangguan jiwa namun belum mendapatkan penanganan yang tepat di wilayah kerja
Puskesmas Cikampek, Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018.

4
Bab II
Materi dan Metode

2.1. Materi
Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari laporan hasil kegiatan bulanan
puskesmas mengenai program upaya kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek, Kabupaten
Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018, yang berisi kegiatan sebagai
berikut:
1. Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa
2. Penanganan pasien terdeteksi gangguan jiwa

2.2. Metode
Evaluasi program ini dilaksanakan dengan pengumpulan data, pengolahan data, dan
analisis data sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan pelaksanaan program
upaya kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek periode April 2017 sampai dengan Maret 2018
dengan cara membandingkan cakupan hasil program terhadap tolak ukur yang telah
ditetapkan dan menemukan penyebab masalah dengan menggunakan pendekatan sistem.

5
Bab III
Kerangka Teori

Gambar 1. Bagan sistem7

3.1. Bagan Sistem


Bagan di atas menerangkan sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling
dihubungkan dengan suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan
organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan. Bagian atau elemen
tersebut dapat dikelompokkan dalam lima unsur, yaitu:7
1. Masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan
dibutuhkan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut, terdiri dari tenaga (man), dana
(money), sarana (material), metode (method).
2. Proses (process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang ada di dalam sistem dan
berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Terdiri dari
unsur perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating),
dan pemantauan (controlling).
3. Keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem.
4. Lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem
tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem, terdiri dari lingkungan fisik dan non
fisik.
5. Umpan balik (feed back) adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran
dari sistem dan sekaligus sebagai masukan dari sistem tersebut, berupa rapat bulanan.

6
6. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran dari suatu sistem.

3.2. Tolok Ukur


Tolak ukur merupakan nilai acuan atau standar yang telah ditetapkan dan digunakan
sebagai target yang harus dicapai pada tiap-tiap variabel sistem, yang meliputi masukan,
proses, keluaran, lingkungan dan umpan balik pada program upaya kesehatan jiwa seperti
yang tertera pada lampiran.

7
Bab IV
Penyajian Data

4.1. Sumber Data


Sumber data yang digunakan untuk evaluasi program ini berasal dari data sekunder
berupa:
a) Data geografis dari data Puskesmas Cikampek Kabupaten Karawang tahun 2017
b) Data demografis dari data Puskesmas Cikampek Kabupaten Karawang tahun 2017
c) Data laporan bulanan program upaya kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek Kabupaten
Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018, yang terdiri dari:
i. Data penemuan penderita baru gangguan kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek,
Kabupaten Karawang.
ii. Data pelayanan pemeriksaan dan pengobatan pasien yang terdeteksi mengalami
gangguan kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek, Kabupaten Karawang.

4.2. Data Umum


4.2.1 Data Geografis
a. Lokasi
Puskesmas Cikampek terletak di Jalan A. Yani No. 50, Cikampek, Kabupaten
Karawang, Jawa Barat
b. Wilayah Kerja
Batas wilayah kerja Puskesmas Cikampek:
 Sebelah Utara : Wilayah kerja Kecamatan Tirtamulya
 Sebelah Selatan : Wilayah kerja Kecamatan Kota Baru
 Sebelah Barat : Wilayah kerja Kabupaten Purwakarta
 Sebelah Timur : Wilayah kerja Kecamatan Purwasari
c. Wilayah Administrasi
Luas wilayah Kecamatan Cikampek 4.146 Ha yang sebagian besar merupakan
dataran rendah dan bersifat agraris. Puskesmas Cikampek memiliki wilayah kerja 10
desa, dengan jarak lokasi Puskesmas Cikampek dengan Sarana lain :
a. Pusat Kota / Kabupaten : 25 KM
b. Fasilitas Umum
- Rumah Sakit

8
 RSUD Karawang : 27KM
 Rs Swasta : 2 KM
 Rs Bersalin : 1,5 KM
- Sekolah
 SD : 500 M
 SMP : 750 M
 SMA : 1.500 M
- PT : 1,5 KM
- Kawasan Perdagangan : 1,5 KM
- Tempat Ibadah : 300 M
- Pemukiman Penduduk : 10 M
- Kawasan Industri : 2 KM
- Desa(Paling Jauh) : 13 KM
- Desa(Paling Dekat) : 1 KM
d. Geologi
Secara geografis Puskesmas Cikampek termasuk daerah dataran rendah.
e. Iklim
Sesuai dengan bentuk morfologinya Cikampek merupakan dataran rendah
dengan temperatur udara rata-rata 27-29 ºC.

4.2.2 Data Demografis


4.2.2.1 Jumlah Penduduk di Kecamatan Cikampek tahun 2017
Tabel 1. Data jumlah penduduk di Kecamatan Cikampek tahun 2017

Jumlah Tingkat
Rumah Kepadatan
No. Nama Desa Luas (km2) Jumlah
Tangga Penduduk/km2
Penduduk
1 Cikampek Kota 0,97 1.736 7.374 7.602
2 Cikampek Barat 1,94 4.868 21.772 11.223
3 Cikampek Timur 1,12 2.597 10.586 9.452
4 Cikampek Selatan 1,22 2.700 11.359 9.311
5 Cikampek Pusaka 3,74 1.163 4.502 1.204
6 Kamojing 9,27 1.116 3.915 422
7 Dauwan Timur 2,93 3.198 12.654 4.319

9
8 Dauwan Tengah 3,22 4.811 20.574 6.389
9 Dauwan Barat 3,64 3.263 13.779 3.785
10 Kalihurip 18,33 1.276 4.900 267
Kecamatan 46,38 26.728 111.415 5.397
(Sumber: Data Demografi wilayah kerja Puskesmas Cikampek Tahun 2017)
4.2.2.2 Data Kepercayaan
Puskesmas Cikampek merupakan Puskesmas perkotaan dengan penduduk yang cukup
padat, angka urbanisasi yang relatif tinggi, serta tingkat pemeluk agama atau kepercayaan
yang cukup beragam, seperti grafik berikut:
 Jumlah penduduk pemeluk agama islam : 95,7%

 Jumlah penduduk pemeluk agama kristen-katolik : 2,26%

 Jumlah penduduk pemeluk agama budha : 1,54%

 Jumlah penduduk pemeluk agama hindu : 0,50%

Meskipun pemeluk agama dan kepercayaan di wilayah Kecamatan


Cikampek cukup beragam, namun islam tetap dominan atau menjadi agama
mayoritas .

4.2.2.3 Data Mata Pencaharian


Dari segi mata pencaharian, pengrajin industri kecil tercatat dalam jumlah yang cukup
signifikan dibanding dengan beberapa jenis mata pencaharian lainnya. Selengkapnya
distribusi penduduk berdasarkan mata pencaharian adalah sebagai berikut:

 Pemilik Tanah : 3.530 orang


 Penggarap Tanah : 3.050 orang
 Buruh Tani : 5.200 orang
 Pengrajin Industri Kecil : 24.060 orang
 Buruh Industri : 11.794 orang
 Pedagang : 25.790 orang
 Buruh Angkut : 3.470 orang
 Peternak : 7.270 orang
 PNS : 273 orang
 TNI : 120 orang

10
4.2.2.4 Tingkat Pendidikan
Penduduk Kecamatan Cikampek yang berijazah SMA atau yang sederajat menduduki
jumlah terbanyak di antara yang lainnya seperti yang ditunjukkan dalam data berikut ini:

 Tidak Tamat SD : 0,20 %

 Tamat SD : 12,74 %

 Tamat SMP : 25,81 %

 Tamat SMA : 57,19 %

 Sarjana : 4,06 %

4.2.3 Data Fasilitas Kesehatan


Jenis fasilitas pelayanan kesehatan yang ada pada wilayah kerja Puskesmas Pedes,
antara lain:
- Puskesmas : 1 buah
- Posyandu : 93 buah
- Apotik : 17 buah
- Optical : 6 buah
- BP. Swasta : 6 buah
- Klinik 24 jam : 4 buah
- Rumah Sakit Swasta : 3 buah
- Rumah Bersalin : 1 buah
- Praktek Dokter Swasta : 9 buah
- Praktek Dokter Spesialis : 5 buah
- Praktek drg. Swasta : 2 buah
- Praktek Bidan Swasta : 28 buah
- Pengobatan Tradisional : 29 buah
- Posyandu Madya : 56 buah
- Posyandu Purnama : 12 buah
- Posyandu Mandiri : 24 buah
- Desa Siaga Aktif : 10 buah
- Desa Siaga Aktif Madya : 1 buah
- Pos UKK : 1 buah
- Pos Bindu : 5 buah

11
- Pusling : 1 buah
(Sumber: Data PKP Puskesmas Cikampek Tahun 2017)
4.2.4 Sarana Tenaga Puskesmas
 Kepala Puskesmas : 1 Orang / PNS
 Kasubag Tata usaha : 1 Orang / PNS
 Dokter umum : 3 Orang / PNS
 Dokter gigi : 1 Orang / PNS
 Bidan puskesmas : 4 Orang / PNS
 Bidan desa : 15 Orang / 3 PNS /12 PTT
 Bidan PONED : 10 Orang/2PNS/4PTT/4 SUKWAN
 Perawat : 11 Orang/ 7 PNS/ 4 SUKWAN
 Perawat Gigi : 1 Orang /PNS
 Asisten apoteker : 1 Orang/PNS
 Tenaga Kesling : 1 Orang/PNS
 Tenaga Gizi : 1 Orang/ PNS
 Tenaga Radiografer : 1 Orang/ PNS
 Tenaga Analis : 1 Orang/ PNS
 Tenaga Non Medis : 6 Orang / 4 PNS/2 SUKWAN
 Sopir : 1 Orang/ SUKWAN
 Petugas keamanan : 2 Orang/ SUKWAN
 Petugas kebersihan : 2 Orang/ SUKWAN

4.3. Data Khusus


4.3.1. Masukan (input)
a) Tenaga (man)

 Kepala Puskesmas : 1 orang


 Koordinator Program Upaya Kesehatan Jiwa : 1 orang
 Dokter umum : 3 orang
 Dokter gigi : 1 orang
 Petugas laboratorium : 1 orang
 Petugas Pendaftaraan : 2 orang
 Petugas Farmasi : 2 orang

12
 Bidan : 29 orang

b) Dana (money)
 Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) : ada
c) Sarana (material)
 Medis
o Meja : ada
o Kursi : ada
o Tempat tidur : ada
o Stetoskop : ada
o Sphygnomanometer : ada
o Termometer : ada
o Timbangan : ada
o Spuit : ada
o Kapas alkohol : ada
o Obat
 Haloperidol : tersedia cukup
 Clorpromazin : tersedia cukup
 Diazepam : tersedia cukup
 Triheksilfenidil : tersedia cukup
 Non Medis
o Leaflet : tidak ada
o Poster : tidak ada
o Gedung Puskesmas
• Ruang Pendaftaran : 1 ruang
• Ruang Tunggu : 1 ruang
• Ruang Periksa : 3 ruang
• Kamar Obat : 1 ruang
o Buku pedoman kesehatan jiwa : tidak ada
o Kartu berobat pasien : ada
o Formulir pencatatan dan pelaporan : ada

13
d) Cara (method)
i. Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa
Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa adalah kegiatan pemeriksaan untuk
melihat adanya gejala awal gangguan kesehatan jiwa, dengan menggunakan metode
2 menit.6
Pasien datang ke pusat pelayanan kesehatan dasar, mendaftar ke loket, di sana

dicatat identitas pasien pada kartu berobat.
 Pasien dengan membawa kartu berobat

menuju kamar periksa, di sana pasien diterima oleh perawat yang akan melakukan
anamnesis dan pemeriksaan tanda- tanda vital. Dengan pemeriksaan metode 2 menit
ini dapat menentukan cakupan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa.
 Bila pasien datang dengan keluhan fisik murni, di kartu berobat pasien diberi
tanda F1
 Bila pasien datang dengan keluhan fisik disertai keluhan mental - emosional
diberi tanda F2 (fisik ganda) (komorbiditas)
 Bila datang dengan keluhan psikosomatik diberi tanda PS
 Bila dengan keluhan mental emosional diberi tanda ME.
Untuk keluhan PS, di samping hal-hal yang berkaitan dengan organ tubuh
mengenai sistem respiratorius, sistem kardiovaskuler, sistem muskuloskeletal, sistem
urogenital, sistem gastrointestinal, sistem dermatologi, sistem endokrinologi, sistem
serebrovaskuler, ditanyakan juga mengenai:
 Kesadaran seperti penurunan kesadaran, perubahan kesadaran.
 Daya ingat
 Kemampuan mengarahkan, memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan
perhatian
 Kejang: kejang umum, kejang fokal yang berulang
Khusus untuk keluhan ME ditanyakan hal-hal yang berkaitan dengan:
 Gejala psikotik seperti halusinasi, waham, inkoherensi, perilaku katatonik atau
perilaku kacau lainnya.
 Gejala ansietas seperti was-was, cemas, takut, panik.
 Gejala depresi seperti murung, sedih, tak bergairah, tak bersemangat.
 Gejala manik seperti gembira, semangat tinggi, tak kenal risiko, kebutuhan tidur
berkurang.

14
 Gejala retardasi mental seperti kecerdasan yang kurang, kurang bisa beradaptasi
dengan lingkungan.
 Gejala kejiwaan pada anak dan remaja seperti sulit berinteraksi sosial, hiperaktif,
kurang dapat memusatkan perhatian, gangguan tingkah laku, mengompol pada

usia 5 tahun atau lebih. 


Setelah itu diajukan pertanyaan:


 Apakah ada stressor organobiologik seperti penyakit-penyakit yang berkaitan
dengan SSP, termasuk penggunaan NAPZA.
 Apakah ada distres/penderitaan dari pihak pasien atau keluarga.
 Apakah ada gangguan fungsi pekerjaan/akademik, fungsi sosial dan fungsi

sehari-hari. 


Kemudian dibuatlah diagnosis yang merujuk pada ICD-10 (International


Classification of Diseases, 10th Revision) dari WHO tahun 1992.
ii. Penanganan pasien terdeteksi gangguan jiwa
Penanganan kasus gangguan kesehatan jiwa dalam bentuk psikofarmaka
adalah penanganan pasien yang sudah terdiagnosis gangguan jiwa mendapatkan
pengobatan sesuai dengan tingkatan diagnosa. Untuk gangguan berat langsung
dirujuk ke pelayanan sekunder.
Pemberian obat psikofarmaka, antipsikotik digunakan untuk mengatasi gejala
psikotik (misalnya gaduh, gelisah, sulit tidur, halusinasi, waham, proses pikir kacau).
Pasien psikotik yang agresif, mengancam, cendrung merusak dirinya atau orang lain
(biasanya pasien skizofrenia, maniakal, atau penyalahgunaan NAPZA)
membutuhkan terapi yang efektif, aman dan mempunyai efek yang cepat (segera).
Antipsikotik oral yang ada di Indonesia ada 2 golongan yaitu antipsikotik tipikal dan
antipsikotik atipikal.6
iii. Rujukan penderita gangguan jiwa
Rujukan adalah upaya pelimpahan tanggung jawab timbal balik dari tingkat
pelayanan dasar kepada tingkat pelayanan rujukan atau sebaliknya, sehingga
gangguan jiwa memperoleh pelayanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan.6
Pada kasus yang berat (yang membahayakan pasien atau orang lain) yang
membutuhkan perawatan di rumah sakit, dapat dirujuk ke sarana pelayanan rawat-
inap. Begitu juga pasien yang sudah diberikan terapi secara optimal namun belum
ada kemajuan, atau pasien yang membutuhkan terapi yang lebih mendalam
15
(psikoterapi) dapat dirujuk kepada dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) atau
psikolog.6
Ada 3 tiga aspek dalam pelaksanaan proses rujukan. Ketiga aspek tersebut
harus memenuhi kriteria sebagai berikut:6
 Aspek unit yang merujuk:
 Penderita dirujuk karena tidak dapat diatasi setempat
 Pemeriksaan terhadap penderita memerlukan pemeriksaan penunjang medis
yang lebih lengkap
 Penderita setelah diobati memerlukan pengobatan/ perawatan di unit
pelayanan yang lebih mampu/ lengkap
 Unit penerima rujukan:
 Mempunyai sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
 Tata cara pelaksanaan rujukan:
 Pelaksanaan rujukan meliputi alur rujukan dan tata cara administrasi rujukan.
 Dalam hal administrasi rujukan, unit pengirim mencatat dalam register

rujukan, membuat surat rujukan dan memberikan penjelasan yang
 diperlukan

yang berkaitan dengan kasus yang dirujuk.


 Unit penerima rujukan mencatat hasil pengobatan/ perawatan pada kartu
perawatan dan kartu catatan medik, mengembalikan kasus rujukan kepada unit
yang merujuk untuk kepentingan pembinaan/ pengawasan selanjutnya disertai
laporan umpan balik, dan bila diperlukan dapat merujuk lebih lanjut.

iv. Pencatatan dan pelaporan program upaya kesehatan jiwa


Pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas merupakan
suatu alat untuk memantau kegiatan pelayanan kesehatan jiwa, baik bagi kepentingan
pasien yang bersangkutan, maupun bagi petugas kesehatan yang melayani serta
pihak perencana dan penyusun kebijakan.6
Pencatatan adalah cara yang dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencatat
data yang penting mengenai pelayanan tersebut dan selanjutnya disimpan sebagai

arsip di Puskesmas.
 Terdapat 2 macam pencatatan dalam pelayanan kesehatan jiwa

di Puskesmas.6
a) Kartu rawat jalan: mencatat data mengenai pasien

16
b) Pencatatan harian rutin: mencatat data pasien yang dikumpulkan selama sehari.
Pelaporan adalah mekanisme yang digunakan oleh petugas kesehatan untuk
melaporkan kegiatan pelayanan yang dilakukannya kepada instansi yang lebih tinggi
(dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota).

4.3.2. Proses (process)


4.3.2.1. Perencanaan (planning)
1. Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa
Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa dilakukan dengan pemeriksaan metode 2
menit oleh perawat dan akan ditindaklanjuti oleh dokter yang bertugas di Balai
Pengobatan Umum pada hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 08.00 – 12.00 WIB.
2. Penanganan pasien terdeteksi gangguan jiwa
Penanganan psikofarmaka dilakukan oleh dokter yang bertugas di Balai Pengobatan
Umum (BPU) pada hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 08.00 – 12.00 WIB.
3. Rujukan penderita gangguan jiwa
Akan dilakukan rujukan bila ditemukan penderita ganguan jiwa berat ke Rumah
Sakit terdekat pada hari Senin sampai dengan Sabtu, pukul 08.00-12.00 WIB.
4. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara berjenjang dari puskesmas hingga ke
pusat setiap bulan.

17
4.3.2.2 Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian tertulis dalam melaksanakan program Upaya Kesehatan Lanjut
Usia di UPTD Puskesmas Cikampek, Karawang, tahun 2016.

KEPALA UPTD
dr. H. Deddy Ferry Rachmat, MKM.

Kelompok Jabatan Fungsional


Dr. Hadidjah
Ka. SUBAG TATA
Dr. Darwinshah Amril
USAHA
Dr. Mukminatur Rasyid
Tuti Susilowati, SE.
Drg. Neni Munijah

Pelayanan jaminan Kesehatan Pengendalian Farmasi dan Petugas Koordinator


kesehatan Keluarga dan penyakit dan Pengawasan Operasional Upaya
Promosi penyehatan Industri Puskesmas Kesehatan
Euis Ismayati
Kesehatan lingkungan Pembandutu dan Lanjut Usia
Nuhasanah BIDES
Enny Tasrini Ade Ruhyana
Hj.Neneng
Hj. Martinawati,
Yuniar, AMK
Am. Keb

Pelaksana
Kader

Gambar 2. Bagan struktur organisasi Puskesmas Cikampek Kabupaten Karawang

4.3.2.3 Pelaksanaan (actuating)


Pelaksanaan sesuai dengan rencana dan metode yang telah ditetapkan, dilaksanakan secara
berkala:
1. Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa

18
Deteksi dini gangguan kesehatan jiwa dengan pemeriksaan metode 2 menit oleh dokter
yang bertugas di Balai Pengobatan Umum pada hari Senin sampai dengan Sabtu pukul
08.00 – 12.00 WIB. Kurangnya pengetahuan dan stigma masyarakat akan gangguan
kesehatan jiwa menyebabkan keluarga pasien yang memiliki gangguan kesehatan jiwa
tidak membawa pasien berobat ke puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya.
2. Penanganan pasien terdeteksi gangguan jiwa
Dilakukan penanganan psikofarmaka dilakukan oleh dokter yang bertugas di Balai
Pengobatan Umum pada hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 08.00 – 12.00 WIB.
Selain itu, dilakukan juga home visit / kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan puskesmas
yang dirasa masih kurang maksimal dikarenakan kurangnya tenaga dan waktu
pelaksanaan. Beberapa kunjungan dilakukan setelah kegiatan BP di puskesmas sudah
selesai. Kurangnya panduan maupun SOP dalam pelaksanaan upaya kesehatan jiwa juga
menjadi salah satu faktor yang menyebabkan ketidak efektifan dalam upaya penanganan
pasien terdeteksi gangguan jiwa.
3. Rujukan penderita gangguan jiwa terlaksana
Terhadap kasus jiwa yang berat, sistem rujukan telah dilaksanakan sesuai dengan jenjang
sistem rujukan.
4. Pencatatan dan pelaporan program upaya kesehatan jiwa
Pencatatan dan pelaporan mengenai pasien yang baru terdeteksi maupun pasien yang
sudah mendapat penanganan dilakukan secara rutin setiap bulannya. Namun hal ini tidak
berjalan secara optimal karena kurangnya upaya deteksi dini gangguan kesehatan jiwa
dan pelaporan dari masyarakat yang masih tidak tersampaikan ke Puskesmas.

4.3.2.4. Pengawasan (controlling)


 Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara berkala setiap bulan oleh pemegang
program upaya kesehatan jiwa.
 Lokakarya Mini Puskesmas yang dilakukan setiap awal bulan.

4.3.3. Keluaran (output)


4.3.3.1. Cakupan Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Jiwa
Tabel 2. Data cakupan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek Periode
April 2017 sampai dengan Maret 2018
Bulan Jumlah pasien

19
April 2017 7
Mei 2017 1
Juni 2017 3
Juli 2017 5
Agustus 2017 7
September 2017 6
Oktober 2017 36
November 2017 4
Desember 2017 7
Januari 2018 1
Februari 2018 1
Maret 2018 55
Total 133
Sumber : Data Laporan Bulanan Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Jiwa di Puskesmas
Cikampek periode April 2017 sampai dengan Maret 2018

Cakupan Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Jiwa di Puskesmas Cikampek Periode April
2017 sampai dengan Maret 2018 adalah:
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 𝑑𝑒𝑡𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑑𝑖𝑛𝑖 𝑔𝑎𝑛𝑔𝑔𝑢𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑗𝑖𝑤𝑎
Persentase: x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝐴𝑝𝑟𝑖𝑙 2017−𝑀𝑎𝑟𝑒𝑡 2018
133
= 34362 x 100% = 0,38%

 Target cakupan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa selama 1 tahun = 20%
20 %−0,38.%
 Besarnya masalah x 100% = 19,62%
20 %

4.3.3.2. Cakupan Penanganan Pasien Terdeteksi Gangguan Kesehatan Jiwa


Tabel 4. Data cakupan penanganan pasien terdeteksi gangguan kesehatan jiwa di Puskesmas
Cikampek Periode April 2017 sampai dengan Maret 2018
Bulan Jumlah pasien
April 2017 8
Mei 2017 2
Juni 2017 4
Juli 2017 14

20
Agustus 2017 5
September 2017 2
Oktober 2017 34
November 2017 12
Desember 2017 12
Januari 2018 16
Februari 2018 44
Maret 2018 59
Total 212
Sumber : Data Laporan Bulanan Penanganan Pasien Terdeteksi Gangguan Kesehatan Jiwa di
Puskesmas Cikampek periode April 2017 sampai dengan Maret 2018

Cakupan Penanganan Pasien Terdeteksi Gangguan Kesehatan Jiwa di Puskesmas Cikampek


Periode April 2017 sampai dengan Maret 2018 adalah:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑒𝑡𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑔𝑎𝑛𝑔𝑔𝑢𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑗𝑖𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛𝑖 𝑑𝑖 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠
= 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝐴𝑝𝑟𝑖𝑙 2017−𝑀𝑎𝑟𝑒𝑡 2018
x100%
212
= 34362 x 100 %

= 0,61%
 Target cakupan penanganan pasien terdeteksi gangguan kesehatan jiwa selama 1 tahun =
100%
100 %−0,61%
 Besarnya masalah x 100% = 99,39%
100 %

4.3.3.3. Rujukan Penderita Gangguan Jiwa


Semua pasien dengan gangguan jiwa yang berat telah dirujuk untuk mendapatkan
penanganan lebih lanjut. Sistem rujukan telah dilakukan sesuai dengan jenjang sistem
rujukan. Rujukan kembali dari rumah sakit ke puskesmas masih sangat kurang, seharusnya
rumah sakit melakukan rujukan kembali pasien yang sudah stabil ke puskesmas.
4.3.3.4. Pencatatan dan pelaporan.
Pencatatan dilaksanakan setiap hari kerja dan pelaporan dilaksanakan secara bulanan
oleh programer upaya kesehatan jiwa di Puskesmas.
4.3.4. Lingkungan (environment)
Lingkungan Fisik
 Lokasi : Tidak terdapat lokasi yang sulit dicapai
 Transportasi : Tersedia sarana transportasi

21
 Fasilitas kesehatan lain : Ada fasilitas kesehatan lain

Lingkungan Non-Fisik
 Pendidikan : Rata-rata pendidikan masyarakat rendah
 Budaya : Terdapat perbedaan persepsi masyarakat dan petugas
medis mengenai gangguan jiwa. Masyarakat menganggap orang dengan gangguan
jiwa hanya yang disebut “orang gila” saja. Masyarakat juga menganggap pasien
dengan gangguan jiwa tidak perlu melakukan pengobatan secara rutin. Orang dengan
gangguan jiwa dianggap akibat ulah “guna-guna/santet”.
4.3.5. Umpan Balik (feedback)
 Pencatatan dan pelaporan : adanya pencatatan dan pelaporan setiap bulan secara
lengkap mengenai program upaya kesehatan jiwa
 Rapat kerja dalam bentuk lokakarya mini : 1 bulan sekali
4.3.6. Dampak (impact)
 Langsung :
Menurunkan angka kejadian/kasus gangguan kesehatan jiwa terutama di Indonesia
demi meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat sebagai bagian dari derajat
kesehatan masyarakat.
 Tidak langsung :
a. Diharapkan hilangnya stigma dan diskriminasi di masyarakat yang masih
menganggap gangguan jiwa sebagai orang gila saja.
b. Diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat sebagai bagian
dari derajat kesehatan masyarakat.

22
Bab V
Pembahasan

5.1. Pembahasan Masalah


5.1.1. Masalah Menurut Keluaran
Tabel 5. Masalah menurut keluaran
No. Variabel Tolok Ukur Pencapaian Besar Masalah
1. Cakupan deteksi dini gangguan 20 % 0,38% 19,62%
kesehatan jiwa
2 Cakupan penanganan pasien 100 % 0,61% 99,39%
terdeteksi gangguan jiwa

5.1.2. Masalah Menurut Masukan


Tabel 6. Masalah menurut masukan
No. Variabel Tolak Ukur Pencapaian Masalah
1. Petugas medis yang sudah dilatih Ada Belum (+)
deteksi dini gangguan kesehatan jiwa maksimal
2. Leaflet atau poster Ada Tidak ada (+)
3. Buku pedoman kesehatan jiwa Ada Tidak ada (+)
4. SOP upaya kesehatan jiwa Ada Tidak ada (+)

5.1.3. Masalah Menurut Proses


Tabel 7. Masalah menurut proses

No. Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masalah

1. Deteksi dini Pencatatan dan pelaporan Masih kurangnya (+)


gangguan pencatatan dan pelaporan
kesehatan jiwa pasien baru dengan
gangguan jiwa

2 Penanganan pasien Penanganan pasien berupa Kurang efektif karena (+)


terdeteksi psikofarmaka /psikoterapi jadwal kunjungan rumah
gangguan dan adanya kunjungan masih sedikit

23
kesehatan jiwa rumah/homecare

5.1.4 Masalah Menurut Lingkungan


Tabel 8. Masalah menurut lingkungan
No. Variabel Pencapaian Masalah

1. (+)
Kurangnya pencatatan dan pelaporan penderita gangguan
Fisik: fasilitas
jiwa dari luar puskesmas khususnya dari fasilitas kesehatan
kesehatan lain
lain, belum dilaporkan ke puskesmas tempat dimana
penderita tinggal.

2. Kurang, karena masih terdapat perbedaan persepsi (+)


masyarakat dan petugas medis mengenai gangguan jiwa.
Masyarakat menganggap orang dengan gangguan jiwa hanya
Non-fisik: Budaya yang disebut “orang gila” saja. Masyarakat juga menganggap
pasien dengan gangguan jiwa tidak perlu melakukan
pengobatan secara rutin. Orang dengan gangguan jiwa
dianggap akibat ulah “guna-guna/santet”.

24
Bab VI
Perumusan Masalah

6.1. Masalah Menurut Keluaran


a) Cakupan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa adalah 0,38% dengan besar masalah
19,62% dari target 20%
b) Cakupan penanganan pasien terdeteksi gangguan jiwa adalah 0,61% dengan besar
masalah 99,39% dari target 100%
6.2. Masalah dari Unsur Lain
6.2.1. Dari Masukan
6.2.1.1 Man
a) Hanya beberapa petugas medis yang sudah dilatih mengenai deteksi dini gangguan
kesehatan jiwa.
6.2.1.2 Material
a) Tidak tersedianya leaflet dan poster kesehatan jiwa.
6.2.1.3 Method
a) Masih kurangnya pelatihan metode deteksi dini gangguan jiwa (Metode 2 Menit).
6.2.2. Dari Proses
a) Pelaksanaan deteksi dini masih kurang karena pencatatan dan pelaporan pasien baru
dengan gangguan jiwa belum maksimal.
b) Penanganan pasien terdeteksi gangguan jiwa tidak berjalan efektif karena penjangkauan
penanganan melalui home visit/kunjungan rumah tidak berjalan secara rutin.
6.2.3. Dari Luar Sistem (Lingkungan)
a) Lingkungan Fisik
Kurangnya pencatatan dan pelaporan penderita gangguan jiwa dari luar puskesmas
khususnya dari fasilitas kesehatan lain, belum dilaporkan ke puskesmas tempat dimana
penderita tinggal.
b) Lingkungan non fisik
Terdapat perbedaan persepsi masyarakat dan petugas medis mengenai gangguan jiwa.
Masyarakat menganggap orang dengan gangguan jiwa hanya yang disebut “orang gila”

25
saja. Masyarakat juga menganggap pasien dengan gangguan jiwa tidak perlu melakukan
pengobatan secara rutin. Orang dengan gangguan jiwa dianggap akibat ulah “guna-
guna/santet”.

26
Bab VII
Prioritas Masalah

7.1 Masalah Menurut Keluaran


a) Cakupan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa adalah 0,38% dengan besar masalah
19,62%.
b) Cakupan penanganan pasien terdeteksi gangguan jiwa adalah 0,61% dengan besar
masalah 99,39% .
7.2 Prioritas Masalah
Kedua masalah tersebut merupakan prioritas masalah saat ini.
No Parameter A B
1 Besar masalah 4 5
2 Berat ringan akibat yang ditimbulkan 5 4
3 Keuntungan sosial karena terselesaikannya masalah 5 4
4 Teknologi yang tersedia dan dapat dipakai 4 5
5 Sumber daya yang tersedia untuk menyelesaikan masalah 4 5
Total 22 23

27
Bab VIII
Penyelesaian Masalah

1.1.Masalah Pertama
Cakupan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa sebesar 0,38% dengan target 20%
sehingga besar masalah 19,62%.
Penyebab masalah:
a) Belum dilatihnya beberapa tenaga medis dibidang kesehatan jiwa sehingga dalam
deteksi dini tidak berjalan dengan baik.
b) Tidak adanya poster tentang kesehatan jiwa sehingga informasi kesehatan jiwa yang
didapatkan masyarakat sangat kurang.
c) Tidak adanya tersedianya buku pedoman kesehatan jiwa.
d) Tidak adanya SOP dalam pelaksanaan upaya kesehatan jiwa diwilayah kerja
puskesmas sehingga program berjalan kurang maksimal.
e) Pelaksanaan deteksi dini dengan metode 2 menit kurang efektif. Sengkali hanya
mengobati keluhan pasien saja tanpa menggali lebih jauh mengenai penyakit
dasarnya.
f) Terdapatnya stigma di masyarakat yang masih menganggap gangguan jiwa sebagai
orang gila sehingga merasa malu untuk mencari pengobatan medis, adanya anggapan
bahwa gangguan jiwa dapat diobati oleh dukun atau alternatif lain.
Penyelesaian masalah:
a) Diadakan pelatihan petugas kesehatan mengenai upaya kesehatan jiwa sehingga dapat
melakukan deteksi dini terhadap gangguan kesehatan jiwa.
b) Membuat poster tentang kesehatan jiwa sehingga pengunjung puskesmas dapat
mengetahui informasi tentang kesehatan jiwa.
c) Mengajukan permohonan disediakannya satu buku pedoman kesehatan jiwa.
d) Membuat SOP dalam melaksanakan upaya kesehatan jiwa sehingga program yang
dilaksanakan sesuai dengan standar yang diinginkan.
e) Meningkatkan pencarian penderita secara aktif dengan kunjungan rumah.
f) Melakukan pelatihan kader untuk masyarakat untuk kesehatan jiwa.
g) Melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar mengetahui tentang gangguan jiwa
dan dapat mencari pengobatan ke puskesmas dengan kerja sama lintas program
bagian promkes untuk melakukan penyuluhan upaya kesehatan jiwa yang terjadwal
satu bulan sekali.

28
1.2.Masalah Kedua
Cakupan penanganan pasien terdeteksi gangguan jiwa sebesar 0,61% dengan target
100%, sehingga besar masalah 99,39%.
Penyebab masalah:
a) Tenaga medis kurang kompeten dalam penggunaan metode 2 menit, sehingga tidak
dapat mendiagnosa penyakit pasien dengan tepat.
b) Tidak adanya rujukan kembali ke puskesmas dari rumah sakit rujukan untuk pasien
dengan gangguan jiwa yang sudah stabil.
c) Tidak adanya SOP dalam pelaksanaan upaya kesehatan jiwa diwilayah kerja
puskesmas sehingga program berjalan kurang maksimal.
d) Masih adanya masyarakat yang tidak mau datang berobat ke puskesmas serta sulitnya
membawa pasien ke puskesmas.
Penyelesaian masalah:
a) Diadakan pelatihan mengenai diagnosa gangguan kejiwaan menggunakan metode 2
menit sehingga tenaga medis mampu mendiagnosa gangguan kejiwaan dengan tepat.
b) Menyarankan kepada rumah sakit rujukan untuk merujuk kembali pasien dengan
gangguan jiwa yang stabil dan memungkinkan untuk dilakukan terapi rutin di
puskesmas.
c) Membuat SOP dalam melaksanakan upaya kesehatan jiwa sehingga program yang
dilaksanakan sesuai dengan standar yang diinginkan.
d) Melakukan kunjungan rumah pada pasien yang tidak mau datang ke puskesmas atau
tidak bisa datang ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan.

29
Bab IX
Penutup

9.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil evaluasi program Upaya Kesehatan Jiwa di Puskesmas Kecamatan
Cikampek periode April 2017 sampai dengan Maret 2018 dengan cara pendekatan sistem,
dapat diambil kesimpulan bahwa program Upaya Kesehatan Jiwa belum berhasil sepenuhnya.
Hal ini dapat dilihat dari unsur keluaran yang belum seluruhnya mencapai target yang sudah
ditentukan, yaitu:
a) Cakupan deteksi dini gangguan kesehatan jiwa sebesar 0,38% dari tolok ukur 20%.
b) Cakupan penanganan pasien terdeteksi gangguan kesehatan jiwa sebesar 0,61% dengan
tolok ukur 100%.
9.2 Saran
Agar program upaya kesehatan jiwa di Puskesmas Cikampek pada periode yang akan
datang dapat berhasil dan berjalan dengan baik, maka Puskesmas sebaiknya memperbaiki
masalah yang ada dengan penyelesaian masalah sebagai berikut:
a) Melakukan pelatihan kepada petugas kesehatan yang berada di balai pengobatan agar
mengetahui metode 2 menit.
b) Membuat poster atau leaflet tantang upaya kesehatan jiwa.
c) Meningkatkan upaya penyuluhan kepada masyarakat mengenai deteksi dini kesehatan
jiwa.
d) Meningkatkan pencarian penderita secara aktif dengan kunjungan rumah secara rutin dan
terjadwal.
Melalui saran di atas diharapkan dapat membantu dalam keberhasilan program Upaya
kesehatan jiwa pada periode yang akan datang di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas
Cikampek, sehingga permasalahan yang timbul dapat teratasi.

30
Daftar Pustaka

1. Depkes RI. Buku pedoman pelayanan kesehatan jiwa komunitas. Direktorat bina
pelayanan kesehatan jiwa. 2009.
2. Depkes RI. Peran keluarga dukung kesehatan jiwa masyarakat.[cited 2018 Feb 15]
Available from: http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-
dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html
3. WHO. Prevalence of mental disorders. World Health Organization. 2012 [cited 2018 May
16]. Available from: http://www.euro.who.int/en/healthtopics/noncommunicable-
diseases/mental-health/data-and-statistics
4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta;
2013.
5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. Riset kesehatan dasar Provinsi Jawa
Barat. Jakarta; 2009.
6. Susanti R. Penderita gangguan jiwa di Jawa Barat. 2014 [cited 2018 May 16]. Available
from: http://pusdalisbang.jabarprov.go.id/pusdalisbang/infojabar-51.html
7. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Menuju masyarakat sehat yang mandiri dan
berkeadilan. Jakarta; 2011.
8. Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa. Panduan umum pemberdayaan masyarakat
dibidang kesehatan jiwa. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2005.

31

Anda mungkin juga menyukai