Anda di halaman 1dari 15

GEMELI

Definisi
Kehamilan ganda adalah kehamilan dimana fetus dalam kandungan lebih dari satu yang
biasanya disebabkan karena terjadi fertilisasi 1 ovum oleh 2 sperma yang disebut kembar
identik, atau fertilisasi 2 ovum oleh 2 sperma dalam waktu yang bersamaan yang disebut
kembar fraternal.1-3
Frekuensi
Menurut hukum Hellin, frekuensi antara kehamilan ganda dan tunggal adalah :
 Gemelli (2) = 1 : 89
 Triplet (3) = 1 : 892
 Kuadruplet (4) = 1 : 893
 Quintiplet = 1 : 894

Epidemiologi
Insiden kelahiran bayi kembar telah meningkat dalam 30 tahun terakhir . Pada tahun
2009 , terdapat 16 wanita per 1000 melahirkan, terjadi peingkatan dibandingkan pada tahun
1980 yaitu 10 per 1.000 insiden. Terjadinya peningkatan jumlah kelahiran bayi kembar
terutama karena meningkatnya penggunaan teknik reproduksi dibantu , termasuk fertilisasi in
vitro ( IVF ) . Sampai dengan 24 % dari prosedur IVF sukses menghasilkan kehamilan
kembar . 1
Beberapa kehamilan dikaitkan dengan risiko tinggi bagi ibu dan bayi . Wanita dengan
kehamilan kembar memiliki peningkatan risiko keguguran , anemia , gangguan hipertensi ,
perdarahan , persalinan operatif dan penyakit pascakelahiran . Secara umum, angka kematian
ibu terkait dengan kelahiran kembar adalah 2,5 kali lipat dibandingkan kelahiran tunggal . 1
Angka kematian janin secara keseluruhan dalam kehamilan kembar lebih tinggi
dibandingkan dengan kehamilan tunggal : pada tahun 2009 angka kematian janin adalah 12,3
per 1.000 kelahiran kembar dan 31,1 per 1.000 triplet dibandingkan dengan kehamilan
tunggal hanya 5 per 1.000 kelahiran. Risiko kelahiran prematur juga lebih tinggi pada
kehamilan multipel dibandingkan dengan kehamilan tunggal , terjadi pada 50% kehamilan
kembar ( 10 % kelahiran kembar terjadi sebelum 32 minggu kehamilan ) . Secara signifikan
lebih tinggi angka kelahiran prematur pada kehamilan kembar dan triplet. 1

Faktor Risiko4
 Ras
Frekuensi dari kelahiran multijanin sangat bervariasi diantara berbagai ras dan
kelompok etnis. Perbedaan yang mencolok dalam frekuensi bayi kembar ini mungkin
merupakan akibat dari variasi rasial kadar follicle-stimulating hormone (FSH)
(Nylander,1973)
 Hereditas
Sebagai penentu terjadinya kehamilan kembar, riwayat keluarga dari pihak ibu jauh
lebih penting daripada riwayat ayahnya.
 Usia dan paritas ibu
Angka pembentukan bayi kembar alami memuncak pada usia 37 tahun, ketika
stimulasi FSH maksimal meningkatkan angka pembentukan folikel.
 Faktor gizi
Nylander (1971) menunjukkan peningkatan derajat yang jelas dalam pembentukan
janin kembar setara dengan status gizi yang lebih tinggi yang tercermin pada ukuran
ibu. MacGilivray (1986) juga mendapatkan bahwa kembar dizigot lebih sering
dijumpai pada wanita besar dan tinggi dibanding wanita kecil.2
 Gonadotropin Hipofisis
Peningkatan frekuensitas dan angka kembar dizigot yang lebih tinggi pernah
dilaporkan pada wanita yang mengandung dalam 1 bulan setelah menghentikan
kontrasepsi oral, tetapi tidak selama bulan-bulan selanjutnya. Hal ini mungkin
disebabkan oleh pelepasan mendadak gonadotropin hipofisis dalam jumlah yang lebih
besar dibanding biasanya selama siklus spontan pertama setelah penghentian
kontrasepsi hormonal.1
 Terapi infertilitas
Induksi ovulasi dengan FSH plus gonadotropin korionik atau klomifen sitrat sangat
meningkatkan kemungkinan ovulasi multipel.

Jenis-jenis Janin Multipel


Tabel 1. Jenis multijanin berdasarkan twin pregnancy dan triplet pregnancy.

Gambar 1. Tipe multijanin berdasarkan sel ovum.


1. Kehamilan kembar monozigot
Kehamilan kembar yang terjadi dari satu telur disebut kembar monozigotik atau disebut
juga identik, homolog, atau uniovuler. Kira – kira sepertiga kehamilan kembar adalah
monozigotik. Kehamilan ini terjadi 1 dari 250 kehamilan.3 Jenis kehamilan kedua anak sama,
rupanya sama, atau bayangan cermin; mata, kuping, gigi, rambut, kulit, dan ukuran
antropologik pun sama. Sidik jari dan telapak tangan sama, atau terbalik satu terhadap yang
lainnya. Satu bayi kembar mungkin kidal dan yang lainnya biasa karena lokasi daerah
motorik di korteks serebri pada kedua bayi itu berlawanan. Kira – kira satu pertiga kehamilan
kembar monozigotik mempunyai 2 amnion, 2 korion, dan 2 plasenta. Kadang – kadang 2
plasenta tersebut menjadi satu. Keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik.
Dua pertiga mempunyai 1 plasenta, 1 korion, dan 1 atau 2 amnion. Pada kehamilan kembar
monoamniotik, kematian bayi sangat tinggi karena lilitan tali pusat.4

Gambar 2. jenis-jenis kembar monozigot

Mekanisme pembentukan yang mendasari terjadinya kembar monozigot masih belum


dipahami sepenuhnya. Trauma ringan pada blastoista sewaktu prosuder tekhnologi reprodiksi
dibantu (assisted reproductive technology, ART) dapat menyebabkan peningkatan insiden
pembentukan kembar monozigot. 1,5

Hasil akhir proses pembentukan kembar monozigot bergantung pada kapan pemisahan
terjadi, seperti yang dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini; 1,2,4,5
a. Jika terjadi dalam 72 jam pertama setelah pembuahan, akan berkembang dua mudigah, dua
amnion dan dua korion dan kehamilan akan bersifat diamnion dan dikorion. Mungkin
terdapat dua plasenta yang terpisah atau satu plasenta.
b. Jika pemisahan terjadi antara hari keempat dan kedelapan, akan berkembang dua mudigah,
masing – masing di kantong amnion yang berbeda, dan satu korion sehingga terbentuk
kehamilan kembar diamnion monokorion.
c. Jika amnion telah terbentuk, yang terjadi sekitar 8 hari setelah pembuahan, pemisahan akan
menghasilkan dua mudigah dalam satu kantong amnion atau kehamilan kembar monoamnion
monokorion.
d. Jika pemisahan terjadi lebih belakangan lagi, yaitu setelah terbentuk diskus embrio,
pemisahan berlangsung tidak sempurna dan terbentuk kembar siam.

Gambar 3. Segmentasi pada Monozigotik


Gambar 4. Plasenta dan selaput janin kembar monozigot

2. Kehamilan Kembar Dizigot


Kira – kira dua pertiga kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur, disebut
juga heterolog, binovuler, atau fraternal. Jenis kelamin sama atau berbeda, mereka berbeda
seperti anak – anak lain dalam keluarga. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta, 2 korion,
dan 2 amnion. Kadang – kadang 2 plasenta menjadi satu.

Gambar 5. Plasenta dan selaput janin kembar dizigotik


3. Superfekundasi dan Superfetasi2
Pada superfetasi, di antara pembuahan terdapat selang waktu selama atau lebih lama
daripada satu siklus haid. Superfetasi memerlukan ovulasi dan pembuahan ketika kehamilan
telah terjadi, yang secara teoritis dimungkinkan selama rongga uterus belum lenyap oleh fusi
desidua kapsularis ke desidua parietalis.
Superfekundasi merujuk kepada pembuahan dua ovum dalam satu siklus haid tetapi
bukan pada koitus yang sama, dan tidak harus oleh sperma dari pria yang sama.

Gambar 6. Superfekundasi

Pertumbuhan Janin
Berat badan janin pada kehamilan kembar lebih ringan daripada janin pada kehamilan
tunggal pada umur kehamilan yang sama. Sampai kehamilan 30 minggu kenaikan berat
badan janin kembar sama dengan janin kehamilan tunggal. Setelah itu, kenaikan berat badan
kecil, mungkin karena regangan yang berlebihan menyebabkan peredaran darah plasenta
mengurang. Berat badan satu janin pada kehamilan kembar rata – rata 1000 gram lebih ringan
daripada janin kehamilan tunggal. Berat badan bayi yang baru lahir umumnya pada
kehamilan kembar kurang dari 2500 gram, pada triplet kurang dari 2000 gram, dan untuk
kuadruplet kurang dari 1500 gram. Suatu faktor penting dalam hal ini adalah kecenderungan
terjadinya partus prematus. Selain itu, berat badan kedua janin pada kehamilan kembar tidak
sama, dapat berbeda antara 50 sampai 1000 gram. 2,4
Pada kehamilan dizigotik plasenta yang satu dapat berimplantasi lebih
menguntungkan, dipandang dari sudut tempat pada dinding uterus dan penyediaan darah,
daripada plasenta yang lain. Dengan demikian, pertumbuhan plasenta itu serta janinnya lebih
baik daripada plasenta yang lainserta janinnya. Demikian juga pada kehamilan kembar
monozigotik pembagian darah pada plasenta untuk kedua janin tidak sama, sehingga yang
satu kurang bertumbuh dibandingkan dengan yang lain. Pada kembar monozigotik tidak
jarang pembuluh darah dalam plasenta yang satu beranastomosis dengan pembuluh darah
untuk janin yang lain. Karena hal ini, setelah bayi pertama lahir dan tali pusat dipotong ujung
bagian tali pusat yang menuju ke plasenta harus diikat dengan teliti untuk menghindarkan
perdarahan berasal dari janin yang lain. 2,4
Pada kehamilan kembar monozigotik, bila terdapat peredaran darah yang tidak
seimbang karena anastomosis pembuluh darah, pada hamil muda dapat terjadi berbagai
anomaly. Jantung janin yang satu, karena peredaran darah yang lebih sempurna, menguasai
jantung serta system peredaran darah janin yang lain melalui pembuluh – pembuluh darah
yang beranastomosis, dengan akibat bahwa janin yang terakhir terganggu pertumbuhannya
dan menjadi suatu monstrum yang dinamakan akardiakus. 2,4
Akardiakus asefalus adalah monstrum yang hanya terdiri atas panggul dan ekstremitas
bawah. Akardiakus akornus adalah monstrum tanpa badan. Akardiakus amorfus adalah
monstrum tanpa bentuk yang terdiri atas jaringan ikat yang mengandung berbagai alat
rudimenter dan diliputi kulit. Bila tidak keseimbangan terjadi pada kehamilan yang lebih tua,
dapat terjadi sindroma trasnfusi fetal.2 Pada janin yang mendapat darah lebih banyak terdapat
hidramnion, polisitemia, edema dan pertumbuhan janin yang baik. Janin kedua kecil,
menderita anemia, dehidrasi, oligohidramnion dan mikokardia. 2,4
Pada kehamilan kembar dizigotik janin dapat juga mengalami kelainan. Kadang –
kadang satu janin meninggal dan yang lainnya tumbuh terus sampai matur. Janin yang mati
dapat diresorbsi sama sekali atau masih ditemukan dalam uterus. Dalam hal terakhir, cairan
amnion dapat diserap semua dan janin berubah menjadi gepeng (fetus papiraseus atau
kompresus). 2,4
Pada persalinan fetus papiraseus dapat mendahului janin yang normal, sehingga
menyebabkan kesukaran diagnosis, atau dapat tertinggal dalam uterus yang menyebabkan
infeksi dan perdarahan. Plasenta fetus papiraseus biasanya berwarna putih, keras, fibrotic dan
berbatas tegas.2

Diagnosis Janin Multipel


 Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Riwayat kembar pada wanita yang bersangkutan atau keluarganya, usia ibu yang lanjut,
paritas tinggi, dan ukuran ibu yang besar berkaitan secara lemah dengan gestasi multijanin.
Pemberian klomifen sitrat atau gonadotropin cenderung memberikan hasil kembar dizigotik.
Pada pemeriksaan fisik kehamilan dengan multijanin, ukuran uterus biasanya lebih besar
selama trimester kedua daripada yang diperkirakan. Secara umum, kembar sulit dipalpasi
bagian bagian janinnya sebelum trimester ketiga. Diagnosis kembar dapat ditegakkan dengan
palpasi uterus paling sering karena terdeteksinya dua kepala janin, umumnya di kuadran
uterus yang berbeda. Pada akhir trimester pertama kerja jantung janin dapat terdeteksi dengan
ultrasound Doppler. 2,4,6
Diagnosis kehamilan kembar 75% didapatkan dari penemuan fisik, tanda-tanda yang harus
diperhatikan pada kehamilan kembar adalah:
a. Uterus lebih besar (>4 cm) dibandingkan usia kehamilannya.
b. Penambahan berat badan ibu yang mencolok yang tidak disebabkan oleh edema atau
obesitas.
c. Polihidramnion
d. Ballotement lebih dari satu fetus
e. Banyak bagian kecil yang teraba
f. Uterus terdiri dari tiga bagian besar janin

 Laboratorium
Nilai hematokrit dan hemoglobin dan jumlah sel darah merah menurun, berhubungan dengan
peningkatan volume darah. Anemia mikrositik hipokrom seringkali muncul pada kehamilan
kembar. Kebutuhan fetus terhadap besi (Fe) melebihi kemampuan maternal untuk mensuplai
Fe didapatkan pada trimester kedua. 6,7
Pada tes toleransi glukosa didapatkan gestasional DM dan gestasional hipoglikemi sering
ditemukan pada kehamilan kembar. Pada kehmilan kembar chorionic gonadotropin pada urin,
estriol dan pregnanendiol meningkat. Kehamilan kembar juga dapat didiagnosis dengan
pemeriksaan peningkatan serum alfa fetoprotein ibu walaupun pemeriksaan ini tidak dapat
berdiri sendiri. Tidak ada tes biokimia yang dapat membedakan kehamilan tunggal atau
kembar.2

 Sonografi2,4
Dengan pemeriksaan sonografi, kantong-kantong gestasi yang terpisah dini dapat
teridentifikasi pada kehamilan kembar. Kemudian masing-masing kepala janin seharusnya
terlihat dalam dua bidang vertikal sehingga tidak keliru disangka sebagai potongan melintang
badan janin sebagai kepala janin kedua. Dua kepala janin atau dua abdomen idealnya terlihat
dalam bidang gambar yang sama untuk menghindari pemindaian janin yang sama dan
menganggapnya janin kembar.
Menentukan jumlah janin dapat dilakukan mulai pada saat kantong gestasi terbentuk (usia
gestasi 4-5 minggu) . Kehamilan multiple, kita menentukannya bila ditemukan adanya
kantong kehamilan lebih dari satu , atau kita menemukan yolk sac yang lebih dari satu.
Apabila kita menemukan pada trimester I, harus dikonfirmasi lagi pada pemeriksaan
selanjutnya. Dalam memeriksa kehamilan multiple, kita harus dapat menentukan khorionitas
dan amnionitas, dimana hal ini akan berhubungan dengan adanya komplikasi pada saat
melahirkan. Amnionitas dapat dilihat dari jumlah amnionnya. Sedangkan khorionitas dapat
dilihat dari batas / sekat antara kedua amnion, apabila batasnya memiliki ketebalan >2mm
(sering disebut (lambda sign) maka kehamilan tersebut memiliki dua khorion, namun jika
kurang dari 2 mm, (sering disebut T sign), makan kehamilan tersebut memiliki satu khorion.

Gambar 7. Penampilan USG monokorionik (kiri) dan dichorionic (kanan) kehamilan


kembar pada 12 minggu kehamilan. Perhatikan bahwa, dalam kedua jenis, tampaknya
ada massa plasenta tunggal tetapi dalam jenis dichorionic terdapat perpanjangan dari
jaringan plasenta ke dasar intertwin membran , membentuk lambda sign.

 Pemeriksaan radiologis
Foto sinar-X abdomen ibu dapat membantu jika belum diketahui pasti jumlah janin pada
kehamilan dengan jumlah janin banyak. Namun, radiografi tidak bermanfaat dan dapat
menyebabkan kesalahan diagnosis jika terdapat hidramnion, obesitas, gerakan janin selama
pemotretan, atau waktu pajanan yang kurang sesuai. Selain itu tulang janin sebelum 18
minggu kurang radioopak sehingga mungkin tidak terlihat jelas.

 Pemeriksaan biokimia
Belum ada pemeriksaan biokimia yang dapat diandalkan untuk mengidentifikasi janin
multipel. Kadar gonadotropin korion manusia dalam plasma dan di urin, secara rata-rata,
lebih tinggi daripada yang ditemukan pada janin tunggal. 6,7

Diagnosis Banding
1. Polihidramnion. Polihidramnion dapat menyertai kehamilan kembar, kadang – kadang
kelainan hanya terdapat pada satu kantong amnion, dan yang lainnya oligohidramnion.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat menentukan apakah pada polihidramnion ada kehamilan
kembar atau tidak
2. Mola Hidatidosa
3. Tumor abdomen dalam kehamialan,: mioma uteri, tumor ovarium

Penatalaksanaan Antepartum Kehamilan Kembar2


Untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas perinatal pada kehamilan dengan penyulit
kembar, penting diperhatikan bahwa :
1. Pelahiran neonatus yang terlalu kurang bulan dicegah.
2. Hambatan pertumbuhan janin diidentifikasi dan janin yang terkena dilahirkan sebelum
sekarat.
3. Trauma janin selama persalinan dan pelahiran harus dihindari.
4. Tersedia perawatan neonatus intensif.

 Diet

Kebutuhan akan kalori, protein, mineral, vitamin, dan asam lemak esensial pada wanita
dengan janin multipel jelas lebih tinggi. Konsumsi kalori perlu ditingkatkan lagi sebanyak
300 kkal/hari. Dianjurkan suplementasi dengan besi 60 sampai 100 mg/hari disertai asam
folat 1 mg/hari.
 Surveilans Antepartum

Pemeriksaan sonografis serial biasanya dilakukan sepanjang trimester ketiga untuk memantau
peryumbuhan janin. Penilaian volume cairan amnion juga penting. Pengukuran volume
cairan amnion dapat dilakukan dengan indeks cairan amnion (amniotic fluid index, AFI).
Seperti pada janin tunggal, kantong vertikal terdalam di masing-masing kuadran diukur,
tanpa memandang lokasi membran penyekat. AFI ,8 cm di bawah persentil ke-5 atau >24 cm
di atas persentik ke 95 dianggap abnormal untuk usia gestasi 28 sampai 40 minggu. Jika AFI
keseluruhannya abnormal maka perlu ditentukan kantong mana yang terlibat dan seberapa
parah kelainanya secara kuantitatif.
 Pencegahan Persalinan Kurang Bulan

Persalinan kurang bulan sering terjadi pada kehamilan multijanin dan dapat mempersulit 50
persen kehamilan kembar, 75 persen triplet, dan 90 persen kuadraplet. Beberapa teknik telah
digunakan untuk memperlama gestasi multijanin.
 Tirah baring
Untuk mengurangi persalinan kurang bulan pada wanita dengan janin multipel telah
dianjurkan pembatasan aktivitas fisik, pulang kerja lebih dini, kunjungan ke petugas
kesehatan dan pemeriksaan sonografik yang lebih sering.
 Kortikosteroid untuk pematangan paru
 Terapi Tokolitik
 Terapi progesteron
 Cerlage serviks

Letak dan Presentasi Janin


Pada umumnya janin kembar tidak besar dan cairan amnion lebih banyak daripada
biasa, sehingga sering terjadi perubahan presentasi posisi dan janin. Demikian pula letak
janin kedua dapat berubah setelah kelahiran bayi pertama, misalnya dari letak lintang menjadi
letak sungsang. Berbagai kombinasi letak serta presentasi dapat terjadi. Yang paling sering
ditemukan ialah kedua janin dalam letak memanjang dengan presentasi kepala, kemudian
menyusul presentasi kepala dan bokong, keduanya presentasi bokong, presentasi kepala dan
bahu, presentasi bokong dan bahu, dan yang paling jarang keduanya presentasi bahu.1,2
Gambar 8. macam-macam letak dan presentasi janin gemeli

Proses Persalinan
Penyulit persalinan dan pelahiran kebih sering ditemukan pada janin multipel dibanding
pada janin tunggal. Penyulit-penyulit tersebut antara lain persalinan kurang bulan, disfungsi
kontraksi uterus, kelainan presentasi, prolapsus tali pusat, pemisahan kurang bulan plasenta
dan perdarahan pascapartum dini.
Rekomendasi untuk penanganan intrapartum mencakup2 :
1. Sepanjang persalinan, ibu harus dijaga oleh dokter/bidan yang terlatih. Dilakukan
pemantauan elelktronik eksternal yang terus menerus. Jika selaput ketuban telah pecah dan
serviks membuka maka biasanya dilakukan evaluasi simultan janin yang terbawah dengan
monitor internal dan janin lainnya dengan monitor eksternal.
2. Tersedianya produk darah untuk transfusi.
3. Pemasangan sistem infus yang mampu menyalurkan cairan secara cepat. Tanpa perdarahan
pasien diberikan larutan ringer laktat atau dekstrosa dengan kecepatan 60-125 mL/jam
4. Tersedianya dokter kandungan yang terampil dalam identifikasi bagian-bagian janin
intrauterus dan dalam manipulasi janin intrauterus.
5. Mesin sonografi yang siap digunakan untuk membantu mengevaluasi posisi dan status janin
yang tersisa setelah janin pertama lahir.
6. Adanya petugas anestesia berpengalaman yang siap dipanggil seandainya diperlukan bedah
caesar.

Kala I diperlakukan seperti biasa bila bayi I letaknya memanjang. Karena sebagian besar
persalinan kembar bersalin prematur, maka pemakaian sedativa perlu dibatasi. Episiotomi
mediolateral dikerjakan untuk memperpendek kala II dan megurangi tekanan pada kepala
bayi.
Setelah bayi I lahir, segera dilakukan pemeriksaan luar dan vaginal untuk mengetahui
letak dan keadaan janin II. Bila janin dalam letak memanjang, selaput ketuban dipecahkan
dan air ketuban dialirkan perlahan-lahan untuk menghindarkan prolaps funikuli. Ibu
dianjurkan meneran atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus uteri, agar bagian bawah
janin masuk dalam panggul. Janin II turun dengan cepat sampai ke dasar panggul dan lahir
spontan karena jalan lahir telah dilalui bayi I.
Bila janin II dalam letak lintang, denyut jantung janin tidak teratur, terjadi prolaps
funikuli, solusio plasenta, atau persalinan spontan tidak terjadi dalam 15 menit, maka janin
perlu dilahirkan dengan tindakan obstetrik karena risiko akan meningkat dengan
meningkatnya waktu. Dalam hal letak lintang dicoba untuk mengadakan versi luar dan bila
tidak berhasil, maka segera dilakukan versi-ekstraksi tanpa narkosis. Pada janin dalam letak
memanjang dapat dilakukan ekstraksi cunam pada letak kepala dan ekstraksi kaki pada letak
sungsang. Seksio sesaria pada kehamilan kembar dilakukan atas indikasi janin I dalam letak
lintang, prolaps funikuli, dan plasenta previa.
Masuknya dua bagian besar II janin dalam panggul sangat luas. Kesulitan ini dapat diatasi
dengan mendorong kepala atau bokong yang belum masuk benar dalam rongga panggul ke
atas untuk memungkinkan janin yang lain lahir lebih dulu.
Kesulitan lain yang mungkin terjadi ialah interlocking, dalam hal ini janin I dalam letak
sungsang dan janin II dalam presentasi kepala. Setelah bokong lahir, dagu janin I tersangkut
pada leher dan dagu janin II. Bila keadaan ini tidak dapat dilepaskan, dilakukanlah dekapitasi
atau seksio sesaria menurut keadaan janin.
Segera setelah bayi II lahir, ibu disuntik oksitosin 10 IU, dan tinggi fundus uteri diawasi.
Bila tampak tanda-tanda plasenta lepas, maka plasenta dilahirkan dan diberi 0,2 mg
methergin i.v. Kala IV diawasi secara cermat dan cukup lama, agar perdarahan post partum
dapat diketahui dini dan penanggulangannya dilakukan segera.
 Interval Kelahiran
Tenggang waktu antara lahirnya bayi I dan bayi II antara 5 sampai 15 menit, dengan
waktu rata-rata 11 menit. Kelahiran bayi II kurang dari 5 menit setelah bayi I lahir, dengan
tindakan yang cepat ini dapat menimbulkan trauma persalinan pada bayi. Kelahiran bayi II
lebih dari 30 menit dapat menimbulkan insufisiensi uteroplasental, karena berkurangnya
volume uterus dan juga dapat terjadi solusio plasenta sebelum bayi II dilahirkan.

Komplikasi (1,5)
Pada Ibu :
 Anemia
 Hipertensi
 Partus prematurus
 Atonia uteri dan Perdarahan pasca persalinan

Pada Janin :
 Prematuritas
 Hyalin Membran Disease (HMD)
 Asfiksia saat kelahiran atau depresi napas perinatal
Prognosis7,8
 Prognosis lebih buruk dibandingkan persalinan pada presentasi belakang kepala.

 Prognosa lebih buruk oleh karena:


o Perkiraan besar anak sulit ditentukan sehingga sulit diantisipasi terjadinya peristiwa
“after coming head”.
o Kemungkinan ruptura perinei totalis lebih sering terjadi.