Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN

LIQUID DAN SEMI SOLID

“FRESH MINT MOUTHASH ANTISEPTIC (Obat Kumur Ekstrak Buah


Mengkudu) Berkhasiat Sebagai Anti Jamur”

Oleh :

Meja 5 - Kelompok E

1. Bagas Lukut Rama E. A. (10115098)


2. Anggi Magita Purbayanti (10115099)
3. Mega Ayu Wijayanti (10115103)
4. Haneda Firdaus Rohadi (10115104)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

KEDIRI

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmat dan karunia-Nya maka laporan praktikum sediaan solida dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terimakasih yang sebesar


besarnya kepada dosen pembimbing yang telah membimbing kami serta teman-
teman yang telah membantu dalam pembuatan laporan akhir ini. Semoga Allah
SWT memberikan balasan yang berlipat ganda dan pahala yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian laporan ini dan semoga
kita tetap dalam lindungan-Nya.

Kami menyadari bahwa laporan resmi ini masih terdapat banyak


kekurangan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak guna perbaikan laporan resmi ini. Akhir kata
penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan
khususnya dibidang farmasi.

Kediri, 19 Februari 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR ........................................................................... ii

DAFTAR ISI .......................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................ 1


B. Rumusan Masalah ....................................................................... 2
C. Tujuan ......................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Sediaan Obat kumur ...................................................... 3


B. Tipe Obat Kumur ........................................................................ 3
C. Komposisi Obat Kumur .............................................................. 3
D. Tinjauan Bahan ........................................................................... 4
E. Evaluasi ....................................................................................... 7

BAB III METODE PENELITIAN

A. Bentuk Sediaan yang Dipilih ...................................................... 8


B. Alat .............................................................................................. 8
C. Bahan........................................................................................... 8
D. Formulasi .................................................................................... 8
E. Penimbangan Bahan .................................................................... 9
F. Prosedur Kerja ............................................................................. 12

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN

A. Hasil Evaluasi.............................................................................. 11
B. Pembahasan ................................................................................. 11

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................. 14
B. Saran ............................................................................................ 14

iii
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 15

LAMPIRAN

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mulut adalah salah satu bagian tubuh yang cukup vital karena
diperlukan untuk aktivitas keseharian seperti untuk bicara, makan, dan
minum. Jika mulut terserang penyakit, maka kegiatan lainpun menjadi
terganggu. Masalah mulut yang sering muncul adalah bau mulut, sariawan,
dan infeksi mulut. Selain itu, ditemukan pula masalah mulut lainnya yang
lebih kompleks, yaitu mulut kering, radang gusi, dan kanker mulut.
Mengkudu (Morinda citrifolia linn) merupakan tanaman daerah tropis
yang sejak ribuan tahun dimanfaatkan manusia untuk mengobati berbagai
penyakit. Mengkudu sudah diakui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) sebagai tanaman obat. Mengkudu termasuk dalam tujuh komoditi
unggulan dalam pengembangan jangka pendek (5 tahun), selain temulawak,
kunyit, jati belanda, sambiloto, daun salam, dan cabe jawa.
Bagian tanaman mengkudu yang paling banyak dimanfaatkan adalah
buahnya, sedangkan sediaannya yang paling popular adalah dalam bentuk jus.
Penelitian sebelumnya manyatakan bahwa buah mengukudu mengandung
saponin, flavonoid, minyak atsiri dan alkaloid yang dapat digunakan sebagai
bahan kosmetik, perawatan kulit dan rambut. Adapun efek farmakologis yang
telah terbukti yaitu imunomodulasi, reparasi dan peremajaan sel,
vasoproteksi, antioksidan, hepatoproteksi, antibiotik dan anti jamur.

Penelitian yang dilakukan oleh Jayaraman (2008) menunjukkan


bahwa ekstrak mengkudu memiliki efek anti jamur terhadap Candida
albicans, Tricophyton mentagrophytes, Penicillium sp., Rhizopus, Aspergilus
plavus, dll. Selain itu juga memiliki efek anti bakteri terhadap Pseudomonas
aeruginosa, Proteus morganii, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis dan
Escherichia coli, Salmonella sp. dan Shigella sp., dll. Kemudian dari hasil
penelitiannya yang lain menunjukkan bahwa mengkudu memiliki efek
reparasi, peremajaan sel, efek antioksidan, antibiotik dan anti jamur, juga
kandungan zat kimia yang mempunyai efek antifungi dan antibiotik, yaitu

1
scopoletin (mempunyai efek anti jamur), antrakuinon (digunakan untuk
melawan infeksi fungi dengan cara meningkatkan sistem imun), anti-tumor,
anti-tuberculosis, analgesic, dan xeronine (mengatasi infeksi jamur dan
meningkatkan imunitas tubuh).

Infeksi jamur pada rongga mulut yang paling sering terjadi disebabkan
oleh Candida sp. dan spesies Actinomycetes. Candida albicans adalah salah
satu spesies Candida yang merupakan organisme komersial dalam rongga
mulut, merupakan jamur dimorfik yaitu patogen oportunistik dan merupakan
flora normal di rongga mulut. Dilaporkan adanya Candida albicans sebanyak
5,7% dari 140 bayi umur 1 hari, 14,2% pada umur 7 hari dan sebanyak 82%
pada umur 4 minggu. Prevalensi tersebut selanjutnya menurun menjadi 50%
pada bayi umur 1 tahun. Candida albicans dapat menimbulkan kelainan atau
infeksi di dalam rongga mulut yang tampak dalam beberapa bentuk, yang
sering disebut sebagai moniliasis, kandidiasis, atau kandidosis.

Dari latar belakang di atas kami membuat sediaan berbentuk solutio


berupa obat kumur dari ekstrak mengkudu yang memiliki daya hambat
terhadap pertumbuhan Candida albicans dengan konsentrasi 10%.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana formulasi dalam pembuatan sediaan solutio berupa obat
kumur dari ekstrak mengkudu sebagai anti jamur ?
2. Bagaimana hasil uji yang dilakukan terhadap obat kumur ekstrak
mengkudu ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui formulasi dalam pembuatan sediaan solutio berupa
obat kumur dari ekstrak mengkudu sebagai anti jamur
2. Untuk mengetahui hasil uji dari obat kumur ekstrak mengkudu

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Sediaan Gargarisma


Obat kumur adalah sediaan yang digunakan untuk mencuci mulut,
tenggorokan dan gigi dengan maksud untuk membasmi mikroorganisme dan
menghilangkan bau mulut (Jas, 2007). Sediaan ini sebaiknya aman digunakan
setiap hari, tidak mendukung pertumbuhan bakteri, rasa sediaan dapat
diterima, sebaiknya larutan jernih dan berbusa untuk mendorong konsep
pembersihan mulut, dapat menyegarkan nafas serta meninggalkan rasa segar
di mulut setelah menggunakannya (Mitsui, 1997).
Menurut Farmakope Indonesia edisi III (1979), obat kumur
(gargarisma/gargle) adalah sediaan berupa larutan, umumnya pekat yang
harus diencerkan dahulu sebelum digunakan sebagai pencegahan atau
pengobatan infeksi tenggorokan.
B. Universitas Sumatera Utara Menurut Mitsui (1997) ada 3 tipe obat
kumur, yaitu:
a. Tipe langsung Tipe ini digunakan langsung tanpa ada perlakuan tertentu.
Sangat mudah digunakan dan banyak diaplikasikan.
b. Tipe konsentrat Pada tipe ini larutan dasar ditambahkan dengan sejumlah
air ketika akan digunakan.
c. Tipe bubuk Pada tipe ini, sediaan obat kumur berupa bubuk. Bubuk
dilarutkan dalam sejumlah air tertentu ketika ingin digunakan.
C. Komposisi Obat Kumur :
1. Bahan aktif Secara spesifik dipilih untuk kesehatan rongga mulut. Seperti
antimikroba, antiinflamasi.
2. Pelarut Biasanya air atau alkohol, digunakan untuk melarutkan bahan aktif,
bahan perasa atau bahan-bahan tambahan lain untuk memperlama masa
simpan.
3. Surfaktan. Surfaktan berfungsi sebagai agen pembusa dan membantu
pengangkatan plak dan memungkinkan pembersihan hingga ke sela-sela gigi.
Surfaktan juga digunakan untuk mencapai produk akhir yang jernih. Sebagai

3
surfaktan dapat digunakan sodium lauril sulfat, Tween 80 (Mitsui,1997).
Universitas Sumatera Utara Selain bahan tersebut, menurut Jas (2007) obat
kumur juga mengandung zat tambahan lain berupa korigensia (saporis,
odoris, koloris) untuk memperbaiki rasa, aroma maupun warna. Obat kumur
harus memiliki rasa dan aroma yang dapat diterima dan memiliki sensasi rasa
yang menyegarkan mulut. Sebagai bahan korigensia yang umum dipakai
adalah peppermint oil, mentol, spearmint oil, sakarin.
Mengkudu (Morinda citrifolia) merupakan salah satu tanaman obat
yang dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit di
antaranya kanker, infeksi, artritis, diabetes, asma, hipertensi, dan luka. Bagian
buah dan daun mengkudu memiliki kemampuan sebagai antioksidan alami.
Aktivitas antioksidan memiliki hubungan yang linier positif dengan
kandungan fenol di dalam ekstrak buah mengkudu. Senyawaan fenol
terutama asam fenolat dan flavonoid merupakan antioksidan alami di dalam
buah, sayur, dan tanaman lain.

D. Tinjauan Bahan
1. Buah Mengkudu

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionata

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Urticales

4
Famili : Rubiaceae

Genus : Morinda

Spesies : Morinda citrifolia

Ciri dari tanaman mengkudu mudah sekali untuk dikenali karena


tanaman ini dapat tumbuh liar dimana saja, seperti di pekarangan rumah,
pinggir jalan, di taman, dan di pot. Kelopak bunga tumbuh menjadi buah
yang bulat atau lonjong seperti telur ayam. Permukaan buah terbagi
dalam sel-sel polygonal (bersegi banyak) yang berbintik-bintik atau
berkutil. Bakal buah pada ujungnya berkelompak dan berwarna hijau
kekuningan. Buah berwarna hijau ketika masih muda, dan menjadi putih
kekuningan menjelang buahnya masak, dan setelah benar-benar matang
menjadi putih transparan dan lunak. Daging buah tersusun atas buah-
buah batu yang berbentuk piramida atau berbentuk memanjang segitiga
dan berwarna coklat kemerahan (Djauhariya, 2003).

2. Gliserol

Gliserol ialah suatu trihidroksi alkohol yang terdiri atas 3 atom karbon.
Jadi tiap atom karbon mempunyai gugus –OH. Satu molekul gliserol dapat
mengikat satu, dua, tiga molekul asam lemak dalam bentuk ester, yang disebut
monogliserida, digliserida dan trigliserida.

Sifat fisik dari gliserol :

-Merupakan cairan tidak berwarna

- Tidak berbau

- Cairan kental dengan rasa yang manis

- Densitas 1,261

- Titik lebur 18,2°C

- Titik didih 290 °C Gliserol juga digunakan sebagai penghalus pada krim cukur,
sabun, dalam obat batuk dan syrup atau untuk pelembab (Hart, 1983).

5
3. Menthol

Mentol merupakan padatan kristal berwarna putih yang memiliki bau khas.
Mentol dapat disintesis dari tanaman mentol (Mentha arvensis L) dengan cara
diekstraksi, namun kesediaan bahan tanaman mentol yang tidak mencukupi maka
diperlukan proses sintesis dari bahan lain. Mentol dapat disintesis dari sitronelal,
sitronelal oleh pengaruh asam dapat diubah menjadi isolulegol dan bila isopulegol
dihidrogenasi dapat diperoleh mentol. Mentol digunakan secara luas baik dalam
bidang obat-obatan, maupun sebagai bahan yang dicampurkan dalam makanan,
minuman, pasta gigi dan sebagainya (Sastrohamidjojo, 2004).

4. Etanol

Etanol atau etil alkohol (C2H5OH) merupakan bahan kimia organik yang
mengandung oksigen yang paling eksotik karena kombinasi sifat-sifat uniknya
yang dapat digunakan sebagai pelarut, germisida, minuman, bahan anti beku,
bahan bakar, bahan depressant dan khususnya karena kemampuannya sebagai
bahan kimia intermediet untuk menghasilkan bahan kimia yang lain. Etanol
merupakan nama IUPAC dari bahan kimia ini. Selain itu, nama etil alkohol juga
lazim digunakan. Nama alkohol nama umum yang berasal dari bahasa arab dan
merupakan gabungan dari dua kata yaitu al dan kohl yang didefinisikan sebagai
debu lembut yang digunakan oleh wanita Asia untuk menggelapkan alis mata.
Etanol merupakan senyawa penyusun minuman beralkohol. Sebagai minuman
beralkohol, etanol telah dikenal sejak dahulu oleh raja-raja Mesir. Sebagai bukti
adalah fakta tentang Nabi Nuh yang dipercaya telah berkebun anggur yang dapat
difermentasi menjadi minuman beralkohol (Kirk, 1951).

5. Aquadest (Ditjen POM, 1995)


a. Rumus empiris : H2O
b. Berat molekul : 18,02
c. Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau
d. pH : antara 5,0 dan 7,0

6
E. Evaluasi

Evaluasi sediaan yang dilakukan adalah evaluasi organoleptis,


evaluasi pH, evaluasi daya sebar, evaluasi homogenitas, dan evaluasi
aseptabilitas.

Evaluasi yang pertama adalah uji organoleptis. Uji organoleptis


menggunakan panca indera yang meliputi bau, warna, tekstur dan bentuk
sediaan yang dibuat. Konsistensi pelaksanaanya menggunakan subjek
responden (dengan kriteria tertentu) dengan menerapkan kriteria pengujian,
menghitung persentase masing-masing kriteria yang diperoleh dan
pengambilan keputusan dengan analisa statistic.

Evaluasi kedua adalah uji pH. Uji pH menggunakan pH ukur untuk


mengetahui pH pada sediaan, dengan cara mengambil 500 mg sediaan dan
ditambah dengan 5 ml aquadest kemudian diaduk. Masukkan alat pengukur
pH ke dalam campuran sediaan tersebut dan lihat pH yang terbentuk.

Evaluasi ketiga adalah uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan


untuk mengetaui homogenitas dan sediaan yang ditaruh pada kertas perkamen
lalu diratakan. Diamati permukaan kertas perkamen, apakah masih ada
butiran partikel atau tidak.

Evaluasi keempat adalah uji sedimentasi. Uji sedimentasi dilakukan


untuk mendapatkan nilai derajat flokulasi. Volume sedimentasi (F) adalah
perbandingan dari volume endapan yang terjadi (Vu) terhadap volume awal
dari suspense sebelum mengendap (V0) setelah suspensi didiamkan.

7
BAB III
METODOLOGI

A. Bentuk Sediaan yang Dipilih


Sediaan solutio yang dipilih berupa obat kumur, karena penggunaan
obat kumur sangat efektif untuk menjangkau tempat yang sulit dibersihkan
dengan sikat gigi, sehingga akan memudahkan penggunaan ekstrak buah
mengkudu yang berkhasiat sebagai anti jamur.

B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain mortir dan
stamper, timbangan analitik, cawan, sendok tanduk, kertas perkamen, pH
meter, piknometer, gelas ukur, kertas saring, corong, dan beaker glass.

C. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain ekstrak
kental Morinda citrifolia, gliserin, mentol, etanol 70%, dan aquadest.

D. Formulasi
No. Bahan Fungsi Rentang Formulasi
Ekstrak kental Zat aktif
1 - 10%
Morinda citrifolia (antioksidan)
2 Gliserin Pengawet < 20% 18%
Perawatan obat
3 Mentol 0,1-2,0% 1%
kumur
4 Etanol 70% Pelarut ekstrak - 15%
5 Aquadest Palarut - ad 100

8
E. Penimbangan Bahan
10
1. Ekstrak kental Morinda citrifolia = 100 𝑥 100 g = 10 g
18
2. Gliserin = 100 𝑥 100 g = 18 g
1
3. Mentol = 100 𝑥 100 g = 1 g
15
4. Etanol 70% = 100 𝑥 100 g = 15 g
56
5. Aquadest = 100 𝑥 100 𝑔 = 56 𝑔

Pengenceran etanol 70% :


V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 96% = 15 mL x 70%
V1 = 10,94 mL
Jadi, volume aquadest yang dibutuhkan = 15 mL – 10,94 mL = 4,06 mL

F. Prosedur Kerja
1. Ekstraksi simplisia buah mengkudu

100 g serbuk simplisia buah mengkudu direndam dalam 1 L etanol


70% selama 3 hari

Maserat dipisahkan menggunakan kain flanel

Semua maserat dikumpulkan

Dipekatkan di atas waterbath hingga diperoleh ekstrak kental

9
2. Pembuatan sediaan obat kumur

Menyiapkan alat

Menimbang ekstrak kental 10 g, gliserin 18 g, mentol 1 g, serta


mengukur etanol 70% 15 g, dan aquadest 56 mL

Pembuatan etanol 70% :

- Mengisi labu takar dengan aquadest 4,06 mL


- Menambahkan etanol 96% 10,94 mL secara perlahan
- Menggooyangkan labu sampai larutan homogen

Mendispersikan ekstrak kental ke dalam etanol 70% hingga


homogen

Memasukkan mentol dan gliserin dan diaduk hingga homogen

Menambahkan aquadest hingga volume 100 mL dan diaduk


hingga homogen

Menyaring sediaan hingga jernih

Evaluasi sediaan

Uji Uji pH Uji brat jenis


organoleptis
10
BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN

A. Hasil Evaluasi
1. Uji Organoleptis

Bentuk : Liquid (gargarisma)

Warna : Coklat

Bau : Berbau khas

Rasa : Dingin

2. pH : 6,06

3. Uji Berat Jenis : 1,0224


M2 (Berat piknometer dengan sediaan) : 80,21 mL
M1 (Berat piknometer kosong) : 29,09 mL
V (Volume yang tertera pada piknometer) : 50 mL

B. Pembahasan
Pada praktikum pembuatan sediaan solutio dipilih formulasi:
R/ Esktrak Buah Mengkudu 10%
Gliserin 18%
Mentol 1%
Etanol 70% 15%
Aquadest ad 100 ml

Pada praktikum kali ini dibuat sediaan liquida solutio berupa


gargarisma. Solutio adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia
terlarut (FI ed III halaman 32). Gargarisma atau obat kumur adalah sediaan
berupa larutan, umumnya dalam pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum

11
digunakan, digunakan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi pada mulut
atau tenggorokan. Tujuan utama penggunaan obat kumur adalah dimaksudkan
agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir
sepanjang tenggorokan, dan tidak dimaksudkan agar obat itu menjadi
pelindung selaput lendir. Karena itu, obat berupa minyak yang memerlukan
zat pensuspensi dan obat yang bersifat lendir tidak sesuai untuk dijadikan
obat kumur.
Sediaan solutio memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi antara
lain aman dalam pneggunaannya, homogen, zat aktif harus terlarut sempurna
dan stabil dalam medium, tidak boleh ada partikel yang mengapung atau
mengendap pada sistem larutan. Adapun beberapa syarat yang harus dipenuhi
oleh obat kumur antara lain dapat membasmi kuman yang menyebabkan
gangguan kesehatan gigi dan mulut, tidak menyebabkan iritasi, tidak
mengubah indera perasa, tidak mengganggu keseimbangan flora mulut, tidak
meningkatkan resistensi mikroba, tidak menimbulkan noda pada gigi. Obat
kumur diberi penandaan penggunaan seperti “Petunjuk pengenceran sebelum
digunakan” dan “Hanya untuk kumur,tidak ditelan”.
Zat aktif yang digunakan dalam pembuatan solutio kelompok kami
yaitu Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda Citrofilia), dimana simplisia ini
berfungsi sebagai zat aktif yang memiliki khasiat sebagai anti jamur terhadap
Candida albicans. Adapun zat tambahan didalam formulasi yaitu gliserin,
mentol, etanol 70%, dan aquadest.
Langkah-langkah yang dilakukan yaitu merendam serbuk simplisia
100 gram dalam etanol 70% selama 3 hari dengan sesekali dilakukan
pengadukan, lalu disaring menggunakan kain flanel, esktrak cair yang didapat
kemudian dipekatkan di atas waterbath dengan derajat suhu yang sesuai
sehingga didapat ekstrak kental. Langkah selanjutnya yaitu pembuatan
sediaan solutio (gargarisma). Langkah pertama yaitu penimbangan ekstrak
buah mengkudu 10 g, gliserin 18 g, mentol 1 g, etanol 70% 15 g, dan
mengukur aquadest 56 mL. Ekstrak buah mengkudu ditambah dengan etanol
70%, aduk sampai homogen. Selanjutnya masukkan mentol dan gliserin, aduk

12
sampai homogen. Masukkan aquadest sampai volume 100 ml. Diamkan
selama 10 menit, saring sediaan, lalu masukkan ke dalam wadah.
Uji evaluasi mutu fisik emulsi yang bertujuan untuk mengetahui
kestabilan sediaan, diantaranya uji organoleptis, uji pH, dan uji berat jenis.
Berdasarkan uji organoleptis didapatkan bentuk sediaan cair solution
(gargarisma), berwarna coklat, berbau khas, rasa dingin. Berdasarkan uji pH
didapatkan pH 6,06. Hasil uji pH tersebut tidak sesuai dengan pH mulut yaitu
6,5-7,5. Berdasarkan uji berat jenis didapatkan hasil 1,0224.

13
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada prakikum kali ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pemilihan
sediaan berupa solution (gargarisma) dikarenakan Ektrak Buah Mengkudu
memiliki khasiat sebagai anti jamur dan dengan dilakukan beberapa uji
evaluasi mutu fisik yang telah dilakukan yaitu pada uji organoleptis
dihasilkan bentuk liquida (gargarisma), warna coklat, bau khas, rasa dingin.
Pada uji pH dihasilkan pH 6,06 yang tidak masuk ke dalam kategori pH
mulut. Pada uji berat jenis menghasilkan berat jenis sebesar 1,0224.

B. Saran

Sebaiknya praktikan lebih hati-hati dan memahami langkah kerja


dalam pembuatan sediaan gel sehingga hasil sesuai dengan yang diinginkan
dan memenuhi persyaratan dari uji-uji yang dilakukan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.


Jakarta: Korpri Sub Unit Dirjen POM.

Djauhariya, Endjo. 2003. Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Tanaman Obat


Potensial. Balai

Hart,Suminar. 1983. Kimia Organik Edisi Ke Enam.Erlangga. Jakarta

Mitsui, Takeo. (1997). New Cosmetic science. Amsterdam: Elsveir Science. Hal.
3, 13, 121, dan 386.Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.
Pengembangan Teknologi TRO. 15(1) : 1-16.

Sastrohamidjojo, H. 2004. Kimia Minyak Atsiri.Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press.

15
LAMPIRAN

A. Formulasi Sediaan
1. Formulasi Jurnal

2. Formulasi yang Dibuat


3. Jurnal mengkudu sebagai anti jamur
B. Evaluasi Sediaan

Uji pH

Uji Homogenitas
C. Kemasan