Anda di halaman 1dari 3

Sikola

“Lebih baik menyalakan lilin kecil,


Daripada terus-terusan mengutuki kegelapan.”
-Anies Baswedan-

Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu akses menuju masyarakat merdeka, masyarkat yang
merdeka dalam berbagai aspek. Ketika penyelenggaraan pendidikan tersebut dapat diakses
dengan adil dan merata oleh seluruh golongan masyarakat maka terrcapai pulalah masyarakat
merdeka yang dicita-citakan, sebaliknya jika pendidikan tersebut tidak dapat diakses dengan
adil dan merata oleh masyarakat yang terjadi adalah masyarakat yang terdiskriminasi. Akses
terhadap pendidkan tersebut meliputi ketersediaan layanan pendidikan dengan biaya yang
murah, ketersedian sarana dan prasarana memadai pendukung pendidikan, serta ketersediaan
tenaga pendukung keberlangsungan proses pendidikan.

Program wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah boleh dikatakan secara
perlahan ikut mendorong kemudahan masyarakat mengakases pendidikan termaksud dalam
hal pembiayaan, namun dibalik hal tersebut kesan pendidikan merupakan barang mahal
masih membentuk pola pikir bahkan disertai pola bertindak masyarakat pedesaan, paradigma
berpikir dan bertindak dari masyarakat ini terbentuk karena fokus pemerintah dalam
mensukseskan program wajib belajar 12 tahun hanya pada hal-hal yang menjadi tanggung
jawab langsung pihak sekolah, sedangkan untuk faktor pendukung diluar sekolah terabaikan
dari perhatian pemerintah, sebagai contoh, pemerintah mengratiskan semua biaya
administrasi masuk dan biaya selama mengikuti pendidikan wajib belajar sementara untuk
biaya peserta didik untuk memperoleh buku cetak/paket masih kurang seksi untuk menarik
perhatian pemerintah, atau biaya untuk memperoleh berbagai jenis seragam sekolah yang
diwajibkan dimiliki oleh peserta belajar. Hal-hal diluar tanggung jawab langsung pihak
sekolah seperti contoh diatas akan semakin terasa memberatkan para orang tua / wali peserta
belajar pada kelas-kelas sosial menengah kebawah.

- Kaitkan akses dengan ketersediaan sapras


- Masukan data mengenai kondisi pendidikan di Moa
- Kaitkan dengan pendidikan alternatif sebagai tawaran solusi
Wilayah Kerja

Desa Moa merupakan desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten
Sigi yang di bagian selatannya berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Poso.
Perjalanan kurang lebih 2 jam dengan menggunakan sepeda motor dari pusat pemerintahan
Kecamtan Kulawi Selatan akan mengantarkan kita ke desa ini. Desa Moa merupakan desa di
Kecamatan Kulawi Selatan dengan letak dan kondisi akses yang tergolong susah,
keterbatasan akses inilah yang oleh Pemerintah Kabupaten Sigi dan sebagian orang dijadikan
alasan “terbelakangnya” tingkat pendidikannya.

Untuk bidang pendidikan, terdapat satu Sekolah Dasar Negeri yang merupakan hasil
transformasi Sekolah Swasta (Yayasan Bala Keselamatan), dengan lokasi bangunan terletak
di tengah-tengah wilayah pemukiman. Bangunan yang kontruksinya sebagian besar dari
kayu, terdiri dari 4 ruangan yang 3 ruangannya digunakan sebagai ruang kelas dan 1 ruangan
lainnya digunakan untuk ruangan kerja guru. Kegiatan belajar mengajar

Konsep Pendidikan Sikola

Secara garis besar konsep Sikola ada dua bagian yakni, pendidikan keaksaraan dan
pendidikan keterampilan.

Pendidikan keaksaraan, pendidikan keaksaraan ini merupakan model belajar yang ditawarkan
sebagai solusi bagi kurangnya waktu belajar yang didapatkan oleh perserta belajar di sekolah
formal yang ada dan juga konsep ini ditawarkan bagi yang sama sekali belum menikmati
pendidikan keaksaraan. Seperti model kegiatan belajar keaksaraan lazimnya materi belajar
yang diajarkan adalah membaca, menulis dan berhitung (calistung), output capaian yang
diharapkan pada bagian ini adalah menurunkan angka buta aksara di desa Moa (cantumkan
data mengenai tingkat buta aksara di kulawi selatan khususnya Moa).

Pendidikan Keterampilan, pada bagian ini ditawarkan konsep pendidikan keterampilan yang
disesuaikan dengan sumber daya setempat, peserta belajar pada bagian ini tidak dibatasi umur
maupun kelas-kelas, yang diharapkan melalui proses ini dapat meningkatkan keterampilan
masyarakat sehingga terdapat sumber-sumber penghasilan tambahan di masyarakat.

Dinamika proses belajar dijalankan dengan prinsip “setiap tempat adalah sekolah dan setiap
orang adalah guru”, yang sederhananya bermakna tidak ada seorang yang jauh lebih tahu
dibanding yang lainnya dan proses belajar tidak selamanya terjadi dalam ruangan dengan
sekat-sekat pembatas. Dinamika belajar seperti ini