Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

NUTRISI IBU HAMIL

DISUSUN OLEH
 Tarida Kristina Pasaribu  Fitriani
 Diah Puspitasari  Ilham
 Irawan Dwi Sentosa  Eristya Diana Sari
 Eva Muzdhalifah Assegaf  Dwi Saleha
 Hasan Adzahari  Syf Gusmiranti Pulmalasari
 Fitri Fadilah  Aswari Paldi
 Dian Pratam Putri  Muchlis Alatas
 Asih Annisa  Regina Herdiningtyas
 Agustina  Yahya Prananda
 Winarti  Daniel Ginting

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANUNGPURA
PONTIANAK
2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
NURTRISI IBU HAMIL

Topik : Penyuluhan tentang nutrisi ibu hamil

Sasaran : Pasien dan keluarga

Hari/Tanggal : Rabu/ 6 Februari 2018

Jam : 12.00 wib

Waktu : 30 menit

Tempat : Ruang nifas RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang

A. Latar Belakang Masalah


Seorang ibu hamil memiliki kebutuhan gizi khusus. Beberapa kebutuhan gizi ibu
hamil dapat ditutupi oleh makanan sehat yang seimbang. Selain pilihan makanan sehat,
pada saat kehamilan dibutuhkan vitamin. Idealnya adalah tiga bulan sebelum kehamilan.
Asupan gizi selama kehamilan harus mendapatkan perhatian lebih. Jangan karena
menginginkan sang janin sehat lalu ibu mengkonsumsi semuamacam makanan tanpa
memperdulikan nutrisi dalam kandungan makanantersebut. Kebutuhan gizi pada ibu hamil
tentunya akan meningkat apalagi saat memasuki kehamilan trisemester kedua, karena pada
saat ini pertumbuhan janin berlangsung pesat.
Sejak dahulu, makanan wanita hamil telah dianggap sangat penting, sebab orang
percaya bahwa makanan yang benar akan memberi dampak yang baik bagi janin. Tetapi
masih saja terdapat anggapan yang salah tentang kebutuhan makanan untuk ibu hamil,
misalnya ibu hamil tidak boleh makan yang banyak dengan tujuan agar bayinya tidak besar
dan mudah dilahirkan. Padahal pendapat tersebut tidak dapat dibenarkan. Ibu hamil masih
memperccayai hal tersebut, sehingga mereka mengurangi porsi makanan setiap harinya,
dan akibatnya kebutuhan nutrisi ibu hamil tersebut kurang terpenuhi. Masalah tersebut
menjadi salah satu penyebab banyaknya kasus perkembangan bayi yang tidak sempurna
dan berat badan bayi yang dilahirkan tidak sesuai dengan berat badan normal.
B. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga dapat
menginformasikan dan mengetahui tentang nutrisi apa saja yang dibutuhkan oleh
ibu hamil.
C. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga dapat
menjelaskan kembali:
1. Definisi nutrisi ibu hamil dan janin
2. Komponen nutrisi bagi ibu hamil dan janin
3. Pola makan yang benar bagi ibu hamil dan janin
4. Contoh menu sehari-hari bagi ibu hamil dan janin
5. Gangguan akibat kekurangan dan kelebihan nutrisi bagi ibu hamil
D. Strategi Pelaksanaan
Strategi yang digunakan dalam penyampaian penyuluhan ini berupa:
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. Draft Rencana Proses Pelaksanaan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1. 3 Menit Pembukaan :
 Memberi Salam  Menjawab Salam
 Menjelaskan tujuan Pembelajaran  Mendengarkan
 Menyebutkan materi/pokok bahasan dan
yang akan disampaikan memperhatikan

2. 15 Menit Pelaksanaan :
 Menjelaskan materi penyuluhan secara  Menyimak dan
berurutan dan teratur memperhatikan
Materi :
 Definisi nutrisi ibu hamil dan janin
 Komponen nutrisi bagi ibu hamil dan
janin
 Pola makan yang benar bagi ibu hamil
dan janin
 Contoh menu sehari-hari bagi ibu
hamil dan janin
 Gangguan akibat kekurangan dan
kelebihan nutrisi bagi ibu hamil
3. 10 Menit Evaluasi :  Bertanya,dan
 Meminta pasien dan keluarga menjawab
menjelaskan atau menyebutkan pertanyaan
kembali :
 Definisi nutrisi ibu hamil dan janin
 Komponen nutrisi bagi ibu hamil
dan janin
 Pola makan yang benar bagi ibu
hamil dan janin
 Contoh menu sehari-hari bagi ibu
hamil dan janin
 Gangguan akibat kekurangan dan
kelebihan nutrisi bagi ibu hamil
 Memberikan pujian atas keberhasilan
pasien dan keluarga menjelaskan
pertanyaan dan memperbaiki
kesalahan, serta menyimpulkan
4. 2 Menit Penutup :
 Mengucapkan terimakasih dan  Menjawab
mengucapkan salam salam

F. Media Penyuluhan
Media Penyuluhan yang digunakan:
1. Materi SAP
2. Leaflet
3. Laptop
4. Layar
5. Proyektor
G. Metode Evaluasi
1. Metode Evaluasi : Tanya jawab
2. Jenis Evaluasi : Lisan
H. Kriteria Evaluasi
1. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan dan memahami definisi nutrisi ibu hamil dan
janin
2. Pasien dan keluarga mengetahui dan memahami komponen nutrisi bagi ibu hamil dan
janin
3. Pasien dan keluarga memahami dan mengetahui pola makan yang benar bagi ibu hamil
dan janin
4. Pasien dan keluarga mengetahui contoh menu sehari-hari bagi ibu hamil dan janin
5. Pasien dan keluarga mahami dan mengetahui gangguan akibat kekurangan dan
kelebihan nutrisi bagi ibu hamil
I. Materi
1. Definisi nutrisi ibu hamil dan janin
2. Komponen nutrisi bagi ibu hamil dan janin
3. Pola makan yang benar bagi ibu hamil dan janin
4. Contoh menu sehari-hari bagi ibu hamil dan janin
5. Gangguan akibat kekurangan dan kelebihan nutrisi bagi ibu hamil
J. Materi
1. Definisi Nutrisi Bagi Ibu Dan Janin
Nutrisi adalah suatu proses masuknya zat makanan yang kemudian oleh tubuh
akan diolah dan diproses dengan tujuan untuk menghasilkan energi dan nantinya akan
digunakan dalam melakukan aktivitas oleh tubuh (Alimul, A.A, 2006). Nutrisi sendiri
didalamnya mengandung zat yang disebut zat gizi zat –zat tersebut yang nantinya akan
berhubungan dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan dalam memproses
di dalam tubuh manusia dan pada akhirnya akan dilakukan proses eliminasi berupa zat
sisa yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Nutrisi juga dapat dikatakan sebagai suatu ilmu
yang memepelajari mengenai makanan, zat-zat gizi dan zat lain yang terkandung
didalamnya, baik aksi reaksi, dan keseimbangan dengan kesehatan dan penyakit
(Tarwoto & Wartonah, 2006).
Bagi ibu hamil nutrisi sangat berpengaruh pada proses kehamilan karena apabila
asupan nutrisi selama proses kehamilan baik dan tercukupi maka kehamilan akan
berjalan dengan normal dan janin yang dilahirkan juga akan sehat. Oleh karena itu zat
gizi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan selama masa kehamilan karena
faktor gizi sangat berperan terhadap status kesehatan ibu untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin.
Dalam ( Mitayani & Sartika 2010), zat gizi pada fase kehamilan merupakan
suatu zat-zat yang terkandung dalam suatu makanan atau menu makanan yang memiliki
kandungan semua zat gizi yang diperlukan oleh ibu hamil dan janin setiap harinya serta
memiliki kandungan zat gizi dengan takaran batas wajar sesuai yang dibutuhkan dan
tentunya tidak berlebihan. Oleh karena itu sangat penting pemenuhan kebutuhan gizi
bagi ibu dan janin untuk proses pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
kandungan yang nantinya akan berpengaruh pada proses pembentukan organ-organ
janin.
2. Komponen Nutrisi Bagi Ibu Hamil Dan Janin
Nutrisi diperlukan dalam jumlah besar pada ibu hamil daripada yang dibutuhkan
orang dewasa normal. Laju metabolik basal (Basal Metabolic Rate / BMRI) meningkat
20% selama masa hamil. Peningkatan ini sudah termasuk dalam pemakaina jaringan
sintesis. Beberapa komponen nutrisi yang diperlukan ibu hamil antara lain.
a. Energi
Seorang ibu selama masa kehamilannya membutuhkan energi yang cukup
tinggi jika dibadingkan dengan masa sebelum hamil ini yang membuat
kebanyakan wanita hamil memiliki nafsu makan yang tinggi atau kadang nafsu
makannya meningkat drastis dari sebelum hamil. Energi ini nantinya akan
digunakan untuk pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, pembentukan
pembuluh darah dan jaringan yang baru ( Almatsir, 2009).
Selain hal tersebut kebutuhan lemak dan tambahan kalori dibutuhkan
sebagai cadangan lemak serta nantinya untuk proses metabolisme jarngan baru.
Menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 2008 ibu hamil
memerlukan sekitar 80.000 tambhan kalori dalam proses kehamilannya. Serta
penambahan 300 kkal/ hari untuk ibu hamil yang ada dalam fase kehamilan
trimester ketiga. Dengan demikian dalam perharinya asupan energi ibu hamil
trimester ketiga dapat mencapai 2300 kkal/ hari. Energi bisa didapatkan dari
mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak dalam jumlah
yang cukup.
b. Lemak
Sebagian besar dari 500 g lemak tubuh janin ditimbun antara minggu 35-
40 kehamilan. Pada stadium awal kehamilan tidak ada lemak yang ditimbun
kecuali lipid esensial dan fosfolipid untuk pertumbuhan susunan saraf pusat (SSP)
dan dinding sel saraf. sampai pertengahan kehamilan hanya sekitar 0,5% lemak
dalamtubuh janin, setelah itu jumlahnya meningkat, mencapai 7,8% pada minggu
ke-34 dan 16% sebelum lahir. Pada bulan terakhir kehamilan sekitar 14 g lemak
per hari ditimbun. Transport asam lemak melalui plasenta sekitar 40% dari lemak
ibu, sisanya disintesa oleh janin (Soetjaningsih, 2009).
Baik lemak maupun protein meningkat dengan cepat pada 3 bulan terakhir
kehamilan bersamaan dengan meningkatnya BB janin. Sebagian besar lemak
ditimbun pada daerah subkutan, oleh karena itu pada bayi aterm 80% jaringan
lemak tubuh terdapat pada jaringan subkutan. Kebutuhan lemak bisa didapatkan
dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat lemak yang cukup baik
seperti kacang-kacangan, biji-bijian lemak dan minyak (Soetjaningsih, 2009).
c. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh mengingat
sebagian besar energi yang kita hasilkan kebanyakan dari adanya asupan
karbohidrat dalam tubuh. Karbohidrat menjadi sangat penting bagi ibu hamil yang
harus memenuhi energi yang cukup tinggi yang berhubungan dengan energi yang
dikeluarkannya dan janin. Pada proses kehamilan janin mempunyai sekitar 9 g
karbohidrat pada minggu ke 33 kehamilan, dan pada waktu lahir meningkat
menjadi 34 g. Konsentrasi glikogen pada hati dan otot-otot skelet meningkat pada
akhir kehamilan. Sumber makanan yang banyak emiliki kandungan karbohidrat
yang tinggi diantaranya seperti padi-padian, umbi-umbian dan gula murni
(Soetjaningsih, 2009).
d. Protein
Pada keadaan hamil terjadi peningkatan kebutuhan protein yang
disebabkan oleh peningkatan volume darah dan pertumbuhan jaringan baru (
Aritonang, 2010). Jumlah protein yang diperlukan dan harus tersedia sampai akhir
masa kehamilan yaitu sekitar 925 gr yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta,
serta janin. Widyakarya Pangan dan Gizi Tahun 2008 menganjurkan penambahan
sebanyak 17 gram untuk kehamilan pada trimester ketiga atau dalam satu harinya
kebutuhan protein untuk ibu hamil yaitu sebanyak 67-100 gr. Bahan makanan
hewani merupakan sumber proein yang baik dalam hal jumlah maupun
kualitasnya seperti telur, susu, daging unggas dan kerang. Selain protein yang
berasal dari hewani protein juga dijumpai dalam makanan nabati seperti tempe,
tahu, serta kacang-kacagan dan biji-bijian ( Almatsir, 2009).
e. Vitamin dan Mineral
Bagi ibu hamil pertumbuhan janin yang normal menjadi suatu hal yang
penting. Pertumbuhan janin dalam kandungan memerlukan asupan vitamin dan
mineral yang baik dan cukup seperti vitamin C, asam folat, zat besi, dan zink.
Angka kecukupan vitamin dan mineral bagi ibu hamil menurut Widyakarya
Pangan dan Gizi Tahun 2008 untuk tambahan ibu hamil trimester ketiga adalah
vitamin A 300 RE, vitamin C 10 mg, tiamin 0,3 mg, riboflavin 0,3 mg, niasin 4
mg, asam folat 200 μg, vitamin B12 0,2 μg, kalsium 150 mg, magnesium 40 mg,
zat besi 13 mg, zink 10,2 mg serta iodin 50 μg ( Almatsier, 2009).
f. Zat Besi
Selama masa kehamilan zat besi merupakan zat yang sangat dibutuhkan
oleh tubuh karena nantinya zat besi akan digunakan untuk mensuplai pertumbuhan
janin dan juga plasenta yang nantinya akan meningkatkan jumlah sel darah merah
ibu. Zat besi diperlukan untuk pengembangan fetoplasenta dan untuk memperluas
massa sel darah merah ibu hamil. Selain itu zat besi juga bermanfaat untuk
mengurangi peningkatan resiko SGA keturunan dan bayi lahir prematur. Di
Negara maju seperti UK merekomendasikan takaran zat besi setiap harinya
sebesar 14,8 mg/ hari. Diperkirakan sebanyak 45 % wanita memiliki cadangan zat
besi yang rendah bahkan sebagian tidak ada sementara hanya 15-20 % wanita yang
memiliki kandungan zat besi seimbang selama proses kehamilan dan melalui
peambahan suplemen dan makanan ( Francesa et all, 2014).
g. Asam Folat
Asam folat adalah vitamin B yang larut dalam air dan memainkan peran
koenzimatic sentral dalam metabolisme karbon dan juga berperan dalam sintesis
DNA, RNA dan beberapa asam amino (Francesa et all, 2014). Asam folat berperan
dalam berbagai proses metabolik seperti metabolisme beberapa asam amino,
sintesis purin dan timidat sebagai senyawa penting dalam sintesis asam nukleat
(Aritonang, 2010). Asam folat juga nantinya akan dibutuhkan untuk proses
pembentukan sel darah merah dan sel darah putih dalam sum-sum tulang belakang
dan untuk pendewasaan. Apabila kekurangan asam folat nantinya akan
berpengaruh dengan malformasi janin seperti mengakibatkan bibir sumbing dan
malformasi jantung serta mengakibatkan kehamilan yang merugikan seperti
keguguran dan preklamsia. Berdasarkan Preventive Services US Task Force
(USPSTF) merekomendasikan suplementasi yang mengandung 0,4-0,8 mg asam
folat untuk semua wanita dimana pemberiannya 1 bulan sebelum dan selama 2-3
bulan pertama setelah konsepsi (Francesa et all, 2014).
Sekitar 24-60% wanita baik di negara berkembang maupun negara maju
rata-rata mengalami masalah kekurangan asam folat, hal ini dikarenakan makanan
yang mereka konsumsi setiap harinya tidak memiliki kandungan asam folat yang
tercukupi untuk memenuhi takaran kebutuhan asam folat selama proses
kehamilan. Kekurangan asam folat berkaitan dengan tingginya insiden komplikasi
kehamilan seperti aborsi spontan, toxemia, prematur, pendeknya usia kehamilan
dan pendarahan ( Aritonang, 2010).
Widyakarya Pangan dan Gizi tahun 2008 menganjurkan bahwa
penambahan asam folat sebanyak 200 μg untuk ibu hamil bisa didapatkan hanya
dengan rajin mengkonsumsi suplemen. Suplementasi sebaiknya diberikan dalam
28 hari setelah terjadi ovulasi atau 28 hari pertama usia kehamilan. Banyaknya
kandungan suplemen asam folat yang dibutuhkan yaitu sebesar 280, 660 dan 470
μg per hari dimana masing-masing dari itu dibutuhkan dalam trimester I, II dan III
(Arisman, 2008). Beberapa jenis makanan yang banyak mengandung asam folat
anatara lain ragi, hati, brokoli, sayuran hijau, kacang-kacangan, ikan, daging, jeruk
dan telur.
h. Kalsium
Ibu hamil dan janin yang dikandung sangat membutuhkan zat kalsium
untuk menunjang pertumbuhan tulang dan gigi serta persendian janin. Selain itu
kalsium juga digunakan untuk membantu pembuluh darah berkontraksi dan
berdilatasi. Perkembangan janin membutuhkan sekitar 30 g kalsium selama masa
kehamilan, terutama pada trimester terakhir. Jumlah ini akan sangat mudah
dipindahkan dari tubuh ibu yang menyimpan cadangan kalsium ke janin untuk
memenuhi kebutuhan kalsium janin (Francesa et all, 2014). Jika seandainya
kebutuhan kalsium tidak tercukupi melalui asupan nutrisi berupa makanan yang
masuk kedalam tubuh ibu maka, kalsium yang dibutuhkan janin akan diambil dari
cadangan kalsium yang tertimbun di tulang ibu hal ini nantinya akan berakibat
tulang ibu menjadi kropos atau bisa terjadi osteoporosis ( Sophia, 2009).
Widyakarya Pangan dan Gizi 2008 menganjurkan penambahan sebesar
150 mg kalsium untuk ibu hamil pada trimester ketiga. Dengan demikian
kebutuhan kalsium yang seharusnya dipenuhi oleh ibu hamil ialah sebesar 950 mg/
hari. Makanan yang menjadi sumber kalsium diantaranya ikan teri, udang, sayuran
hijau da berbagai olahan susu seperti keju dan yogurt. Kekurangan kalsium selama
hamil akan menyebabkan tekanan darah ibu akan meningkat. Dengan demikian
suplemen kalsium diberikan kepada ibu hamil ditujukan untuk mengurangi resiko
penyakit hipertensi ibu hamil, namun hal ini sebenarnya tidak efektif untuk wanita
yang sehat dimana asupan kalsium dasarnya telah memadai sehingga WHO
merekomendasikan suplemen yang memiliki kandungan sekitar 1,5 sampai 2 g/
hari takaran ini bisa digunakan untuk ibu hamil dengan tingkat kalsium yang
rendah dan untuk pencegahan preklamsia. Akan tetapi pemberian suplemen
kalsium tidak menjamin meurunkan kelahiran prematur spontan ataupun
keguguran (Francesa et all, 2014).
3. Pola Makan yang Benar Bagi Ibu Hamil
Kesehatan ibu hamil tergantung dari pola makannya sehari-hari yang dapat
ditentukan oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi terkait dengan
kandungan nutrisi dari bahan makanan tersebut. Pola makan adalah suatu cara ataupun
usaha yang dilakukan terkait dengan pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan
maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau
membantu kesembuhan suatu penyakit. Menurut Margaret Mead yang dikutip oleh
Almatsier (2009), pola makan atau food patern adalah suatu cara seseorang dalam
memanfaatkan pangan yang tersedia sebagai reaksi terhadap tekanan sosio-ekonomi
yang dialaminya dan dihubungkan dengan kebiasaan makan.
Sedangkan menurut Husada (2009) menyebutkan bahwa pengertian pola makan
pada dasarnya mendekati dengan definisi diet jika dikaitkan dengan ilmu gizi. Diet
diartikan sebagai suatu pengaturan jumalh dan jenis makanan yang dimakan agar
seseorang tetap sehat dan bugar. Dalam mencapai pola makan sehat tersebut tidak
terlepas dari intake gizi yang sebenarnya merupakan proses organisme penggunaan
makanan yang dikonsumsi melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal organ serta menghasilakn energi.
Pola makan merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh ibu
hamil pada umumnya, hal ini akan mempengaruhi janin di dalam kandungan (Devi,
2010). Oleh karena itu ibu hamil seharusnya memiliki pola makan yang baik dan
tentunya harus memenuhi sumber karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan
mineral demi tercapainya kesehatan ibu dan janin. Sejalan dengan hal tersebut Husada
(2009) menyatakan bahwa salah satu pedoman pola makan sehat harus makanan triguna
yaitu :
a. Memiliki kandungan zat tenaga seperti beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar,
roti dan mie yang mengandung karbohidrat serta minyak dan lemak yang
mengadung lemak.
b. Memiliki kandungan zat pembangun yang berguna untuk pertumbuhan dan
mengganti jaringan yang rusak. Bahan makanan sumber zat pembangun yang
berasal dari hewan tenunya memiliki protein hewani seperti telur, ikan, ayam,
daging, kerang, udang, kepiting, susu serta hasil olahannya. Sedangkan jenis
makanan yang mengandung protein nabati berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti
kacang tanah, kacang merah, kacang ijo, kacang kedelai dan hasil olahannya seperti
tempe dan tahu.
c. Mengandung zat pengatur yang berguna untuk mengatur semua fungsi tubuh dan
melindungi tubuh dari beberapa penyakit. Bahan makanan yang termasuk zat
pengatur seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung berbagai
macam vitamin dan mineral.
Untuk mendapatkan pengaruh yang baik dari pengaturan pola makan, ibu hamil
sebaiknya memperhatikan prinsip ibu hamil yaitu harus memilih makanan yang
bermutu dalam artian memiliki nilan kandungan gizi yang baik serta susunan menu
makanan yang dikonsumsi harus diperhatikan dan seimbang. Ibu hamil disarankan
untuk mengkonsumsi makanan yang bervariasi setiap hari, minimal mengandung buah
dan sayur, karbohidrat kompleks, protein, lemak dan dilengkapi dengan kombinasi
makanan produk susu.
Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan ibu hamil terkait pola makan
(Kemenkes RI, 2011):
a. Makan lebih banyak dari sebelum hamil agar penambahan berat badan sesuai
dengan umur kehamilan.
b. Bagi ibu yang terlalu gemuk, kurangi porsi makanan sumber energi dari lemak dan
karbohidrat.
c. Bila ibu terlalu kurus tambahkan porsi makanan sumber energi dan protein.
d. Usahakan konsumsi makanan dengan porsi kecil tapi sering.
e. Untuk menghindari penimbunan cairan/edema perhatikan penggunaan garam
dalam makanan dan minuman agar tidak berlebihan.
4. Contoh Menu Sehari Bagi Ibu Hamil
Menu makanan bagi ibu hamil sangat penting terkait denagn asupan nutrisi ibu
hamil dan janin dengan mengkonsumsi beberapa jenis makanan yang harus
dikombinasi dan diatur setiap harinya. Untuk mempermudah dalam melakukan
pengaturan jam makan bagi ibu hamil beserta dengan contoh makanan yang dikonsumsi
agar lebih bervariasi setiap harinya bisa menggunakan tabel atau catatan menu
makanan.
Contoh Menu Makanan Ibu Hamil Dalam Sehari (Kemenkes RI, 2011):
a. Pagi : Nasi, Ayam goreng bumbu lengkuas, pepes tahu, oseng-oseng jagung muda
ditambah wortel dan susu. Jam 10.00 pagi ditambah selingan bubur kacang hijau.
b. Siang : Nasi, sop sayuran, ikan baldo, keripik tempe dan buah jeruk. Jam 16.00
ditambah selingan selada buah.
c. Malam : Nasi,telur balado, perkedel tahu, tumis tauge ditambah baso dan buah
pisang.

Pengaturan Takaran Makanan Sehari Untuk Ibu hamil (Kemenkes RI, 2011):

5. Gangguan Akibat Kekurangan Dan Kelebihan Nutrisi


a. Dampak kekurangan gizi selama kehamilan terhadap janin dan proses persalinan
Malnutrisi dan kehamilan malnutrisi didefinisikan sebagai kurangnya
asupan nutrisi yang cukup, yang dibutuhkan untuk fungsi tubuh yang normal.
Kekurangan asupan nutrisi selama kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan
janin, bisa menghambat pertumbuhan janin dan menyebabkan kelainan janin.
1) Kekurangan nutrisi saat kehamilan akan meningkatkan resiko terjadinya
keguguran, cacat bawaan, asfiksia, berat badan bayi lahir rendah (BBLR),
bayi lahir meninggal, bahkan kematian dalam kandungan (Manuaba, Ide BG,
2008).
2) Kekurangan nutrisi saat hamil juga bisa menyebabkan ibu mengalami anemia
karena ibu kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi.
Anemia pada ibu hamil ini bisa mengakibatkan abortus (keguguran), mudah
terjadi infeksi, persalinan prematuritas, ancaman dekompensasi kordis (Hb <
6 gr %), pendarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD), terhambatnya
pertumbuhan janin, dan BBLR (berat bayi lahir rendah). Bahaya anemia pada
saat persalinan yaitu, gangguan kekuatan mengejan (Manuaba, Ide BG, 2008).
3) Efek umum dari kurang asupan gizi selama kehamilan adalah sistem
kekebalan tubuh yang rendah, sehingga resiko terkena penyakit lebih besar.
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat menyebabkan persalinan yang sulit,
membutuhkan waktu lama, tidak tepat waktu (prematur), dan bisa
menyebabkan pendarahan saat persalinan (Manuaba, Ide BG, 2008).
4) Kekurangan energi dan protein (KEP)
KEP mengakibatkan ukuran plasenta kecil dan kurangnya suplai zat-zat
makanan ke janin., sehingga resiko berat badan bayi lahir rendah (BBLR)
meningkat. Akibat lain KEP adalah kerusakan struktur SSP terutama tahap
pertama pertumbuhan otak (hiperplasia) yang terjadi selama dalam
kandungan. Dikatakan bahwa masa rawan pertumbuhan sel saraf adalah 3
bulan pertama kehamilan sampai sekitar 2 tahun setelah lahir. Kekurangan
gizi pada masa dini perkembangan otak akan menghentikan sintesis protein
dan DNA. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya pertumbuhan otak,
sehingga lebih sedikit sel-sel otak yang berukuran normal. Dampaknya akan
terlihat pada struktur dn fungsi otak pada masa kehidupan mendatang,
sehingga berpengaruh pada intelektual anak (Soetjiningsih, 2009)
b. Dampak kelebihan gizi selama kehamilan
Ada beberapa akibat yang ditimbulkan ketika seorang ibu hamil
mengalami obesitas. Secara garis besar, akibat-akibat tersebut dikelompokkan
menjadi 2 bagian, akibat jangka pendek dan akibat jangka panjang. Akibat jangka
pendek obesitas selama kehamilan yaitu aborsi spontan, keguguran berulang,
anomali kongenital seperti tabung saraf dan cacat jantung, pre-eklampsia, diabetes
gestasional, kelahiran prematur dan lahir mati. Risiko diabetes mellitus
gestasional meningkatkan dua kali lipat untuk wanita kelebihan berat badan dan
delapan kali lipat untuk wanita gemuk. Pada periode peripartum, ada peningkatan
prevalensi operasi caesar, diinduksi tenaga kerja, menerima oksitosin,
perkembangan lebih lambat melalui tenaga kerja dan komplikasi operasi caesar
seperti infeksi luka dan kehilangan darah yang berlebihan (Sarmiento Olga l et all,
2012).
Selain hal tersebut apabila ibu hamil kelebihan asupan nutrisi maka
biasanya akan menyebabkan penambahan berat badan yang kemudian dalam
jangka panjang mengakibatkan ibu hamil bisa terserang penyakit diabetes melitus
tipe II, obesitas dan kemudian hari bisa menyebabkan darah tinggi. Bayi yang
terlahir dari ibu yang memiliki kelebihan berat badan dan obesitas lebih mungkin
untuk menderita makrosomia janin dan distosia bahu (Sarmiento Olga l et all,
2012)
K. Daftar Pustaka
1. Alimul, A. A (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika
2. Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Diuduh dari http://www.goodreads.com/book/show/11095785-prinsipdasar-ilmu-gizi
Diakses tanggal 3 Februari 2018 pukul 13.30 WIB
3. Arisman. (2008). Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Buku Kedokteran
EGC: Jakarta
4. Aritonang, E. (2010). Kebutuhan Gizi Ibu Hamil. Bogor: IPB Press.
5. Devi, Nirmala. (2010). Nutrition and Food Gizi untuk Keluarga. Jakarta: PT Kompas
Media Nusantara.
6. Francesca P, Arianna L & Iree C. (2014). Multiple Micronutrient Needs in Pregnancy
in Industrialized Countries. Meeting Nutrition Needs in the First 1,000 Days of Life.
Diunduh dari
http://eresources.perpusnas.go.id:2071/docview/1622121412/fulltextPDF/B6AB8366
23C24A3APQ/3?accountid=25704 Diakses tanggal 3 Februari 2018 pukul 10.30 WIB
7. Husada. (2009). Gizi Untuk Ibu hamil. Buku Kedokteran EGC: Jakarta
8. Kemenkes RI. (2016). Info Datin Situasi Gizi. Depkes RI. Diunduh dari
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin-
gizi-2016.pdf Diakses tanggal 3 Februari 2018 pukul 10.55 WIB.
9. Kemenkes RI. (2010). Makanan Sehat Ibu Hamil. Depkes RI. Jakarta Diuduh dari
http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2013/08/Brosur-MakananSehat-Ibu-
Hamil.pdf Diakses tanggal 3 Februari 2018 pukul 12.30 WIB.
10. LIPI. (2008). Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. Diunduh dari
http://www.bappenas.go.id/files/4913/5078/6556/ranpg-.pdf Diakses tanggal 4
Februari 2018 pukul 12.45 WIB.
11. Manuaba, Ida BG. (2008). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC