Anda di halaman 1dari 14

American Journal of Economics

p-ISSN: 2166-4951 e-ISSN: 2166-496X

2016; 6 (2): 96-106

doi: 10,5923 / j.economics.20160602.02

Pengaruh maqashid syariah menuju Mustahik Pemberdayaan dan


Kesejahteraan (Studi Penerima Zakat Produktif di Baznas Riau)

 Abstrak
 Referensi
 Full-Text PDF
 Teks lengkap HTML

E. Armas Pailis1, Umar Burhan2, Multifiah2, Khusnul Ashar2


1
Program Doktor Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, Indonesia
2
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, Indonesia

Copyright © 2016 Scientific & Penerbitan Akademik. Seluruh hak cipta.

Karya ini dilisensikan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi Internasional (CC BY).
http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/

Abstrak

Fenomena kemiskinan di Provinsi Riau yang mewakili suku Melayu dan diidentifikasi dengan
Islam telah meningkat dari 2011 hingga 2012. Ia telah meyakinkan penulis untuk menangkap
kesejahteraan di Provinsi ini melalui Paradigma Islam dengan menggunakan indikator maqasid
al-syariah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh maqasid al-syariah yang meliputi
beberapa faktor seperti pemahaman agama, diri peduli, pengetahuan, keluarga-peduli, kekayaan
dan pemberdayaan penerima produktif zakat (mustahik) dan pengaruh pemberdayaan
kesejahteraan mustahik . Jumlah sampel adalah 122 responden di Baznas Riau antaranya adalah
penerima zakat untuk modal usaha di bawah kerangka program pemberdayaan ekonomi. alat-alat
analisis adalah Structural Equation Model (SEM). Temuan penelitian mengungkapkan bahwa
agama pemahaman, pengetahuan, dan keluarga-caring memiliki pengaruh pada pemberdayaan
mustahik. Self-peduli dan kekayaan tidak mempengaruhi pemberdayaan mustahik. Selain itu,
pemberdayaan mustahik mempengaruhi individu booth dan kesejahteraan masyarakat. Agama
pemahaman, pengetahuan, dan keluarga-caring merupakan faktor penting yang menunjukkan
keberhasilan program pemberdayaan masyarakat. Self-peduli dan kekayaan merupakan faktor
penting, tetapi dalam penelitian ini, keduanya tidak berpengaruh karena ada kurang kemauan
untuk mengembangkan bisnis yang lebih besar dan kurangnya dana untuk pengembangan usaha
mustahik. Pengaruh syariah maqashid pada pemberdayaan mustahik zakat produktif dalam
Baznas Riau adalah 40,6%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Dalam konteks
teoritis, peneliti lain harus menggali lebih dalam tinjauan kesejahteraan berdasarkan indikator al-
syariah maqasid.

Kata kunci: Maqasid al-Syariah, The Pemberdayaan Produktif Zakat Mustahik, Kesejahteraan
Mustahik

Mengutip tulisan ini:E. Armas Pailis, Umar Burhan, Multifiah, Khusnul Ashar, Pengaruh
maqashid syariah menuju Mustahik Pemberdayaan dan Kesejahteraan (Studi Penerima Zakat
Produktif di Baznas Riau), American Journal of Economics, Vol. 6 No. 2, 2016, hlm. 96-106.
doi: 10,5923 / j.economics.20160602.02.

Pasal Garis Besar

1. Perkenalan
2. Metode Penelitian
3. Hasil Empiris
3.1. Analisis data
3.2. Diskusi tentang Hubungan Model Individu dan Kesejahteraan Masyarakat melalui
Pemberdayaan Mustahik dengan maqashid syariah di Baznas Riau
4. Kesimpulan

1. Perkenalan

Indonesia merupakan negara dengan jumlah terbesar dari penduduk Moeslim di dunia dan
memiliki potensi zakat yang besar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa potensi zakat di
Indonesia mencapai Rp 100 juta seperti dilansir Bank Pembangunan Islam dan akan lebih minim
bila dibandingkan dengan hasil Baznas dan FEM IPB tahun 2011 yang menyatakan potensi zakat
di Indonesia telah mencapai 217 juta Rp. (IMZ, 2011). Zakat menjadi sumber potensial bagi
masyarakat Moeslim dalam hal dana dan manajemen aset dan dapat didistribusikan ke
masyarakat non-Moeslim, khususnya di Indonesia.
Model pengelolaan dana zakat bekerja oleh pemerintah dan masyarakat. Hal ini dilakukan
melalui proses manajemen dengan amil zakat, Di mana amil zakat mengumpulkan zakat dari
donor zakat (muzakki) dan memberikan kepada penerima (mustahik). Pemberdayaan
dimaksudkan melalui program pemberdayaan yang dijalankan oleh manajer zakat (amil),
mustahik bisa menerima membantu dalam bentuk modal untuk usaha atau investasi. Dalam
tujuan, itu efisien dan efektif berguna untuk mustahik yang menerima membantu dan dalam
kesempatan lain akan memberikan imbalan sebagai muzakki a.
Menurut Sabiq, (2008), zakat merupakan pilar Islam yang harus ditaati oleh Moeslims sejak awal
Islam di Mekah, sayangnya pada waktu itu tidak ada batasan untuk jumlah aset dan bagian
kepemilikan yang akan digunakan sebagai zakat. Setelah tahun kedua Hijrah, Nabi Muhammad
membuat penjelasan suatu jenis harta yang digunakan sebagai zakat diikuti oleh nishab dan
masing-masing persentase. Hal ini dapat mudah untuk memahami cara islam dalam hal modal
(maal ra'sul) melalui belajar dan memahami zakat. Simpan properti dan membekukan tanpa
diinvestasikan atau dikelola adalah tindakan yang salah. Tindakan yang benar adalah untuk
memberdayakan, berinvestasi dan mengelola aset dengan baik. Zakat dapat menjadi sistem yang
mendorong iklim investasi, aset akan mengurangi terus dengan menghabiskan bagian dari zakat
mereka jika aset tersebut tidak diinvestasikan (Ghozali, Abdul Malik,
zakatadalah sistem yang mampu membuat ibukota selalu berputar dan bergerak, sebagai kontrol
sosial untuk memenuhi orang miskin atau poeple yang membutuhkan modal untuk usaha. Ini
adalah bukti bahwa zakat tidak hanya digunakan dalam konsumtif tetapi juga dapat digunakan
sebagai modal bagi masyarakat miskin yang membutuhkan modal untuk usaha.
Potensi sumber dana untuk pemberdayaan masyarakat dari dana zakat. Data tahun 2013
menunjukkan koleksi dan distribusi telah meningkat 3026860103 atau 24,60%. Jumlah yang
signifikan dari distribusi yang terjadi pada tahun 2013 dengan peningkatan sebesar Rp.
1664490000 atau 120,99%.
Fenomena paradoks terjadi ketika tren koleksi meningkat, namun tren distribusi adalah ke bawah
atau sebaliknya. Fenomena ini terjadi pada tahun 2011 dan 2012. Dimana pada tahun 2011 tren
pada jumlah akumulasi adalah ke bawah, sekitar 1.826.070.545 Rp atau 1,63%, sementara di sisi
distribusi terjadi tren kenaikan sekitar Rp 1.265.923.000 atau 13,67%. Kemudian fenomena
sebaliknya terjadi pada tahun 2012 di mana akumulasi peningkatan sebesar Rp 2429209000 atau
33,03%, sedangkan di sisi distribusi mengalami penurunan sebesar Rp 753.180.000 atau 40,50%.
Dalam pengembangan distribusi zakat di Baznas Riau dari 2007-2013, alokasi distribusi
berdasarkan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial di mana besar pertama distribusi alokasi
untuk sektor ekonomi mencapai Rp 6.171.997.825 atau persentase 83,73% di bentuk modal
membantu baik usaha produktif menghasilkan barang atau jasa. Alokasi terbesar kedua dari
sektor sosial, sekitar 937.543.000 Rp atau 12,72% dalam bentuk program bantuan konsumstif,
bencana dan keperluan lainnya yang tidak termasuk dalam kategori tertentu. Hal ini dapat dilihat
dengan jelas pada tabel di bawah ini.
Pemberdayaan Keuangan Publik sebagai sistem kesejahteraan di Indonesia adalah peran lembaga
yang di masa depan yang harus mengeksplorasi modus kreatif dalam memobilisasi, organinizing
dan memfasilitasi dalam rangka meningkatkan akuntabilitas publik dan mendorong inisiatif
kelahiran kesejahteraan masyarakat. Kerangka kerja ini membutuhkan sistem kesejahteraan bagi
Indonesia yang terdiri dari Lembaga Keuangan Publik Islam yang memiliki karakter nasional
dan transparan dan akuntabel. (Yananti, 2008).
Menurut Maheran (2014), 5 elemen kebutuhan manusia berdasarkan syariah maqashid sangat
kuat mempengaruhi efektivitas distribusi zakat. Ini menyimpulkan semua kebutuhan manusia
dalam perspektif maqasid al-Syariah adalah agama, pengetahuan, fisik-diri, keluarga dan
kekayaan pengaruh positif terhadap efektivitas distribusi zakat. Kesejahteraan Konseptual
dengan 5 indikator berdasarkan syariah maqashid adalah pemahaman agama, pertahanan diri,
pengetahuan, pertahanan keluarga dan properti merupakan prasyarat keberhasilan zakat sebagai
hukum Islam yang mengangkat kesejahteraan orang dari kemiskinan untuk kehidupan yang lebih
sejahtera. Pemberdayaan melalui program zakat dan masalah faktual di lapangan, khususnya di
Provinsi Riau, pada perspektif peneliti diasumsikan sebagai kesenjangan penelitian yang sangat
penting dan mendesak untuk mencari solusi dalam studi lebih lanjut.
Berdasarkan fenomena kemiskinan di provinsi Riau dengan meningkatnya jumlah kemiskinan
selama periode 2011 - 2012 peneliti akhirnya prompt untuk menangkap kemakmuran ekonomi
Islam dengan menggunakan syariah maqashid sebagai indikator untuk Provinsi Riau sebagai
daerah Melayu identik dengan Islam. Seberapa jauh program-program pemberdayaan ekonomi
melalui Baznas Riau mampu memberdayakan dalam konteks syariah maqashid. Para peneliti
memutuskan program pemberdayaan ekonomi melalui dana zakat di Lembaga Zakat Nasional
(Baznas Riau) sebagai objek studi dan recieveras unit analisis dengan fokus penelitian pada dua
isu utama, yaitu: 1) Menganalisis faktor-faktor syariah maqashid (pemahaman keagamaan,
menjaga diri, pengetahuan, menjaga keluarga dan harta) yang mempengaruhi pemberdayaan
penerima produktif;
Tabel 1. Pengembangan Distribusi Zakat Baznas 2007-2013 di Riau

2. Metode Penelitian

Kegiatan penelitian dengan target adalah rumah tangga miskin individu sebagai penerima
produktif yang didistribusikan oleh Zakat Badan Amil Nasional Provinsi Riau (Baznas Riau).
Populasi penelitian ini adalah mustahik rumah tangga miskin yang menerima zakat produktif dari
Baznas Riau di lokasi penelitian. Jika seorang Muslim individu mustahik zakat produktif adalah
kepala keluarga atau rumah tangga perwakilan / keluarga, kemudian mendekati total populasi
rumah tangga miskin di lokasi penerima produktif yang dipilih berjumlah 612 orang. Sampel
akan dipilih dari penerima produktif populasi mustahik dan kemudian ditentukan oleh
proporsional random sampling dengan jumlah sampel (n) dan itu diambil dengan ukuran 122
atau 20% dari seluruh penduduk (Arikunto, 2006).
Penelitian ini menggunakan alat analisis Structural Equation Modeling atau SEM. SEM dapat
digambarkan sebagai analisis yang menggabungkan analisis faktor pendekatan (analisis faktor),
model struktural (model struktural), dan analisis jalur (path analysis). Di samping, SEM dapat
dilakukan menggunakan tiga jenis kegiatan secara bersamaan, yang memeriksa validitas dan
reliabilitas instrumen (analisis faktor konfirmatori), menganalisis hubungan antara variabel
(analisis jalur) dan model yang cocok untuk prediksi (analisis model struktural ). (Sugiyono,
2013). Analisis hubungan dan pengaruh dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur.
analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan antara variabel untuk mendeteksi
efek langsung dan tidak langsung dari satu set variabel independen (eksogen) terhadap variabel
dependen (endogen). Analisis teknik ini akan digunakan untuk menguji jumlah kontribusi yang
ditunjukkan oleh koefisien jalur untuk setiap diagram jalur dari pengaruh kausal pada variabel
X1, X2, X3, X4 dan X5 di Y serta efek Y ke Z , korelasi dan analisis regresi yang merupakan
dasar untuk perhitungan model persamaan struktur (SEM).
Meja 2. Variabel laten dan Indikator / Dimensi
Variabel struktural seluruh dalam persamaan adalah variabel laten yang diukur dengan dimensi
dan variabel agar digunakan untuk mengukur Likert skala 1 - 7. Hal ini diilustrasikan pada
gambar di bawah.
Gambar 1. SEM Model Ilustrasi

Gambar 2. SEM Analisis Model

Penelitian ini dilakukan di Provinsi Riau di 12 kabupaten / kota yang mendistribusikan zakat
produktif yang terdiri dari Pekanbaru, Dumai, Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Pelalawan,
Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti.
The Lokasi penelitian dapat dilihat pada peta di bawah ini.
Gambar 3. Penelitian Peta Lokasi

3. Hasil Empiris

3.1. Analisis data

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan individu dan masyarakat melalui pemberdayaan


mustahik dengan peran zakat dapat diketahui dengan model persamaan struktural (structural
equation model / SEM). Dasar model ini menggunakan teori dampak zakat menurut Yusuf
Qardawi sebagai dasar dan teori pemberdayaan oleh Edi Suharto menggunakan peran zakat
sebagai tujuan zakat syariah, yang jika kita ingin mengetahui tujuan dari Syariah / Islam hukum
(fiqh zakat) maka harus menggunakan ilmu Ushul fiqh berdasarkan teori maqashid syariah
(pemahaman agama, menjaga diri, pengetahuan, menjaga keluarga dan harta). Menurut
penelitian sebelumnya telah ditunjukkan untuk mempengaruhi kesejahteraan dalam mengurangi
masalah kemiskinan.
Data dari hasil survei yang digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dijelaskan dalam Bab
3. Pengolahan dan analisis SEM dengan versi software AMOS 21. Menurut Ghozali dan Fuad
(2005), metode yang tepat digunakan untuk kuesioner melalui skala ordinal adalah maksimum
metode estimasi kemungkinan. Model mengikuti fit pada gambar 5:17 sebagai berikut:
Gambar 4. Model Faktor Fit dari Maqasid Syariah yang Pengaruh pada
Individu Dan Masyarakat Kesejahteraan oleh Pemberdayaan Mustahik
produktif zakat (Sumber: AMOS olahan data survei pada 2014)
Berdasarkan tes model kesesuaian (model fit), diketahui bahwa model penelitian marjinal fit
karena tidak semua sesuai pengujian indeks berdasarkan aturan praktis yang diperlukan. mean,
model dapat diuji secara empiris variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Ringkasan hasil
tes tercantum dalam tabel di bawah.
Tabel 3. Goodness of Fit Index Uji

Dari tabel di atas diperoleh bahwa Chi-Square nilai count adalah 5261.108 dan nilai probabilitas
adalah 0,000. Nilai tabel Chi-Square dengan 815 derajat kebebasan dan alpha 5% adalah 882,5.
Chi-square nilai hitung lebih besar dari nilai tabel chi-Square (5261.108> 882,5) atau
probabilitas bahwa nilai yang lebih kecil dari alpha 5% (0.00 <0,050) menyatakan bahwa H0
ditolak karena sampel kovarians matriks yang berbeda dengan estimasi kovarians matriks atau
dapat dikatakan bahwa model yang digunakan adalah buruk atau marginal fit.
Nilai RMSEA dari 212 lebih besar dari 0,080; GFI dan AGFI nilai-nilai, berturut-turut di nilai
dengan 0,406 dan 0,342 lebih kecil dari 0,900 menunjukkan bahwa model yang digunakan
adalah model kurang bagus. Berdasarkan model dalam penelitian ini, pengaruh faktor syariah
maqashid untuk pemberdayaan dan dampaknya pada kesejahteraan adalah 40,6% dan sisanya
dipengaruhi oleh faktor lain. faktor syariah maqashid tidak sesuai dengan penerima produktif
zakat sehingga pengaruh pemberdayaan belum maksimal dan efeknya pada kesejahteraan masih
kurang. Berdasarkan teori syariah maqashid kesejahteraan individu melalui dana distribusi zakat
sebagai hukum ditugaskan Allah dengan memenuhi indikator faktor maqashid syariah dan ketika
pengaruhnya ada tujuan zakat telah dicapai,
Gambar 5. SEM Model faktor Hasil Maqasid Syariah yang Pengaruh untuk
Individu dan kesejahteraan masyarakat melalui Pemberdayaan Mustahik
Produktif Zakat (Sumber: AMOS olahan data survei pada 2014)
Perkiraan skalar (Kelompok nomor 1 - Model Default)
Perkiraan Kemungkinan Maksimum
Bobot regresi: (Kelompok nomor 1 - Model Default)
Bobot standar Regresi: (Kelompok nomor 1 - Model Default)

Varians: (Kelompok nomor 1 - Model Default)

Berdasarkan bobot regresi standar yang ada 3 (tiga) faktor dari maqashid syariah yang
mempengaruhi pemberdayaan produktif zakat produktif mustahik di Baznas Riau adalah faktor
pemahaman agama (X1) memiliki nilai 0,378, faktor pengetahuan (X3) memiliki nilai dari 0.690
dan faktor menjaga keluarga memiliki nilai -0,338, Sementara dua (2) faktor maqashid syariah
memiliki pengaruh kecil pada pemberdayaan mustahik produktif zakat Baznas Riau faktor
menjaga diri memiliki nilai -0039 dan harta faktor memiliki nilai -0,056. Maka dampak dari
pemberdayaan mustahik produktif zakat Baznas Riau pada kesejahteraan individu memiliki nilai
0.390 dan zakat dampak pemberdayaan mustahik produktif Baznas Riau untuk kesejahteraan
masyarakat memiliki nilai 0,550,

3.2. Diskusi tentang Hubungan Model Individu dan Kesejahteraan Masyarakat melalui
Pemberdayaan Mustahik dengan maqashid syariah di Baznas Riau

Sebuah. Pengaruh Agama Memahami Factor pada Pemberdayaan Mustahik ini


Pengaruh faktor agama pemahaman untuk pemberdayaan penerima zakat produktif mustahik
yang memiliki pengaruh yang signifikan dari temuan penelitian. Pemahaman relegion dalam arti
pemahaman spiritual ibadah yang terkandung dalam activitied dari niat untuk Allah, sebelum
aktivitas kita harus berdoa dan sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah menjadi syarat
mutlak dari Moeslim baik.
pengaruh agama positif terhadap efektivitas distribusi zakat adalah menjadi temuan penelitian
lainnya (zakaria, 2014). pemahaman agama akan membimbing dan membawa orang Moeslim
dalam setiap kegiatan. Kesadaran bahwa setiap langkah selalu diawasi oleh Allah. Sementara itu,
menurut multifiah (2007), nilai-nilai agama memiliki pengaruh yang signifikan bagi
kesejahteraan rumah tangga miskin koko (RTMM). Penerapan nilai-nilai agama dalam keluarga
yang dimulai dengan kepala keluarga, itu akan menjadi model bagi anggota keluarganya. Ini
harus nilai-nilai agama menjadi sikap barometer dan tindakan yang dapat menghasilkan
produktivitas untuk bertahan hidup dalam kehidupan.
b. Pengaruh Menjaga Diri Faktor untuk pemberdayaan Mustahik ini
Variabel menjaga diri mereka sendiri belum berpengaruh terhadap pemberdayaan zakat produktif
mustahik. Ini memiliki variabel tidak berpengaruh menjaga diri mereka sendiri dapat dilihat dari
dimensi etika bisnis pemahaman, di mana mustahik yang menjadi pengusaha rata-rata belum
mengurus izin usaha dan atau mencari tahu tentang licensions / peraturan untuk mendirikan
sebuah bisnis, ini adalah terjadi karena usaha yang dijalankan mustahik dalam kategori mikro
yang tidak pernah kontak dengan lisensi yang dikeluarkan oleh pemerintah walaupun tingkat RT.
Sementara zakaria (2014), menyatakan temuan diri fisik memberikan pengaruh positif terhadap
efektivitas distribusi zakat. Ini temuan yang berbeda sangat penting untuk menjadi perhatian
lebih. Menjaga diri dalam arti menjaga kelangsungan bisnis menjadi masalah yang bukan
mustahik domain karena peraturan bisnis tidak kontak langsung dengan proses bisnis mustahik
dan tidak adanya persyaratan yang harus dipenuhi oleh mustahik untuk operasi bisnis serta
proses mendapatkan modal usaha. kasus ini akan menjadi masalah ketika bisnis mustahik mulai
tumbuh dan membutuhkan modal tambahan atau tempat izin usaha, hal ini akan menjadi kendala
bagi kelangsungan bisnis mustahik ini.
c. Pengaruh Pengetahuan Faktor untuk Pemberdayaan Mustahik ini
Pengetahuan melalui pelatihan dan bergaul dari mustahik telah berhasil memberdayakan
mustahik (noerwenda, 2013). Pengaruh dari efektivitas program rumah kue pelatihan untuk
meningkatkan kesejahteraan mustahik akan terpengaruh oleh presisi yang digunakan unsur-unsur
dalam kereta api, pencapaian tujuan variabel dan target pelatihan (pambudi, 2010). Pelatihan
dapat meningkatkan pengetahuan seseorang, penerapan metode pembelajaran diterapkan dalam
pelatihan lebih mudah bagi seseorang untuk meningkatkan pengetahuan mereka karena dapat
diterapkan segera setelah pelatihan.
Pengaruh pendidikan (beasiswa) untuk kesejahteraan Moeslim rumah tangga miskin secara
bersamaan dengan variabel lain yang mempengaruhi secara positif (multifiah, 2007). Dalam teori
modal manusia, penerapan investasi sumber daya manusia dapat dibuat dalam pendidikan dan
pelatihan, migrasi dan perbaikan gizi dan kesehatan (simanjuntak, 1985).
Temuan penelitian oleh 67% responden dari etnis Melayu, pengetahuan dalam hal semangat
kewirausahaan yang mempengaruhi pemberdayaan adalah bukti Melayu etnis bisa menjadi
merchant / pengusaha karena jenis pekerjaan ini tidak menjadi pilihan utama, pekerjaan utama
untuk Malyas etnis adalah menjadi petani tanaman perkebunan komoditas seperti karet, kelapa
dan kelapa sawit, dan nelayan di garis pantai pesisir dan DAS sungai-sungai utama di provinsi
Riau seperti sungai Siak, sungai Kampar, Rokan dan Indragiri River. Pergeseran dari kolom
untuk jenis pekerjaan yang diperlukan untuk memiliki pengetahuan khusus perdagangan mental,
teknik trading untuk perhitungan laba adalah tujuan dari pedagang. Orang Melayu tidak memiliki
budaya perdagangan yang telah dimiliki di generasi suku Minang yang menjadi pesaing dalam
urusan perdagangan di provinsi Riau.
d. Pengaruh Menjaga Keluarga Faktor untuk Pemberdayaan Mustahik
Menjaga variabel keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas distribusi
zakat (zakaria, 2014). Pentingnya menjaga keluarga dari perbuatan buruk dan kehormatan
keluarga. perilaku buruk dari keluarga dapat bersumber dari memberikan rezeki laknat untuk
anggota keluarga. Sebuah sumber rezeki dari menipu, mengurangi berat badan, dan perbuatan
buruk lainnya yang diketahui mempengaruhi kehidupan keluarga. harta berkah yang diperoleh
menjadi lebih penting daripada kuantitas aset yang diperoleh (Hafidhuddin, 2012). Blessing
dapat diukur dari tabungan yang bisa kita lakukan dan peningkatan aset yang kita miliki.
Keluarga yang terdiri dari istri dan anak-anak adalah modal manusia jika diberi pemberdayaan,
mereka semua akan menghasilkan produktivitas yang dapat membantu pendapatan keluarga.
Tugas dari kepala keluarga adalah untuk memenuhi anggota keluarga perlu dari aspek bentuk
fisik makanan, pakaian dan perumahan dan aspek spiritual seperti mengajar agama, memberikan
sumber hidup halal dan memotivasi anggota keluarga untuk serius di masing-masing peran untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan dan layak dibandingkan dengan
kehidupan sekarang.
e. Pengaruh Harta Factor Pemberdayaan Mustahik ini
Faktor harta berpengaruh tidak signifikan terhadap pemberdayaan mustahik ini. Hal ini
menyebabkan dari pemahaman dimensi persyaratan jual beli menurut transaksi syariah tidak
dipahami dengan baik oleh mustahik dan juga pemahaman untuk membersihkan aset dengan
infaq di kekurangan menyatakan tidak menjadi kebiasaan yang sebenarnya masih dianjurkan
agama. Ada pengaruh 10% dari bantuan modal usaha dalam meningkatkan mustahik pendapatan
dan sisanya 90% dipengaruhi oleh pendapatan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dana zakat
produktif menjadi modal mustahik usaha tidak hanya sumber pendapatan mustahik ini. (Sartika,
M, 2010).
Bantuan dana zakat produktif untuk mustahik memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
perubahan modal mustahik (Sucipto 2009, Aji, 2011, Zaelani, 2013). Sementara dalam penelitian
lain, variabel harta berpengaruh signifikan terhadap efektivitas distribusi zakat (zakaria, 2014).
Modal simultan memberikan pengaruh yang signifikan bagi rumah tangga kesejahteraan miskin
(RTMM) (multifiah, 2007)
Sementara itu Hasibuan dan Dumairy (2013) berdasarkan metode OLS, uji f dilakukan dan
menunjukkan bahwa modal variabel, peran manajer dan mentoring tidak berpengaruh signifikan
terhadap pemberdayaan.
bantuan modal kecil yang telah diberikan tidak dapat menghapus mustahik dari kemiskinan, itu
dikeluhkan oleh mustahik. Amil lembaga beralasan bahwa antrian mustahik untuk mendapatkan
dukungan modal dari program pemberdayaan adalah untuk banyak, sehingga harus disesuaikan
dengan kemampuan dan kesadaran yang rendah muzakki memberikan zakat melalui lembaga
amil yang berdampak pada akumulasi kecil zakat dan juga tidak sesuai dengan potensi yang ada .
f. Pengaruh Pemberdayaan Mustahik untuk Kesejahteraan Individu
pemberdayaan mustahik yang produktif dampak yang signifikan zakat pada kesejahteraan
individu, dimensi membantu orang yang membutuhkan, membantu orang dalam kesulitan dan
bahagia untuk memberi makan orang lain. Salah satu tanda orang yang makmur dapat dan
mampu untuk berbagi atau membantu orang lain terutama dalam kondisi sulit.
Menurut Ahmed (2013), sedangkan kebijakan makro-ekonomi memiliki peran penting dalam
mengurangi kemiskinan, kemiskinan tidak dapat dihilangkan tanpa penggunaan zakat dengan
cara yang efektif. Ada kondisi tertentu di mana zakat membuat dampak untuk mengurangi
kemiskinan dengan syarat pertama, zakat harus dilengkapi dengan kebijakan makro-ekonomi
yang kuat yang mendorong pertumbuhan dan mendistribusikan pendapatan untuk mengurangi
kemiskinan kedua, zakat dikumpulkan dan didistribusikan, dampak kemiskinan akan menjadi
signifikan ketika persentase lebih besar dari zakat digunakan untuk menjadi sektor produktif.
Dampak zakat bagi si penerima harus dibebaskan dari keharusan, Islam menginginkan manusia
untuk hidup dalam kondisi baik, bersenang-senang dalam hidup bebas, merasa senang karena
kebutuhannya terpenuhi, pemenuhan kebutuhan material sebagai salah satu kehidupan penting
untuk menyadari kehidupan kebahagiaan. Ada empat tanda-tanda bahwa kebahagiaan manusia,
pertama adalah istri solehah ini, luas rumah, tetangga yang baik dan kendaraan yang baik.
Idealnya, pemerintah mengambil dan mendistribusikan zakat di Indonesia. Lembaga Amil
(Baznas) menjadi lembaga sentral untuk mengelola zakat, pembuatan badan mustahik merasa
hati yang besar, kepalanya tegak dan kemuliaan sempurna karena ia mengambil hak-hak yang
telah jelas baginya (Qardhawi, 2012).
g. Pengaruh Pemberdayaan Mustahik untuk Kesejahteraan Masyarakat
Ada dampak yang signifikan dari pemberdayaan mustahik pada kesejahteraan masyarakat,
dimensi kebutuhan material, biologi, pikiran dan hubungan manusia. Target dari zakat dari sisi
sosial ada keraguan mengenai mustahik zakat sebagai tanggung jawab sosial yang lebih luas, itu
lebih luas dari jaminan sosial atau asuransi yang dikenal di Barat hanya dalam lingkup yang
sempit seperti keamanan kerja, membantu kelompok orang di antaranya adalah lemah atau
miskin. Sementara Islam diperkenalkan zakat sebagai tanggung jawab sosial yang lebih luas
termasuk material dan aspek spiritual dari kehidupan seperti jaminan moral, pendidikan, politik,
jaminan pertahanan, keamanan ekonomi, jaminan jaminan kemanusiaan, budaya dan terakhir
dari jaminan sosial.
Dampak zakat dari sisi ekonomi dengan melarang mengumpulkan kekayaan, sehingga kekayaan
akan berputar, diinvestasikan, kerja sektor riil, roda ekonomi bergerak, dan peningkatan
produktivitas. Zakat sebagai cambuk yang bisa membawa harta untuk membuat bisnis,
memberikan untuk amal dan dikembangkan agar tidak memakan waktu.
Menjunjung tinggi semangat masyarakat untuk menegakkan akhlak mulia diikuti dan
dilaksanakan oleh umat Islam serta menjaga semangat dan nilai-nilai dengan kepribadian. Islam
menjunjung tiga prinsip dasar, ada pertama, kemerdekaan penuh bagi setiap individu, kedua,
mengangkat pribadi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan dalam menyerahkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, baik mental maupun materi atau menolak sesuatu yang buruk yang
dikhawatirkan akan terjadi dan yang ketiga, menjaga iman dan pendidikan untuk memurnikan
sifat dasar manusia (Qardhawi, 2012).
4. Kesimpulan

Penelitian ini menjelaskan tentang syariah maqashid sebagai indikator kesejahteraan melalui
pemberdayaan zakat produktif mustahik di Baznas Riau. Oleh karena itu, hasil penelitian ini
dapat diberikan saran sebagai berikut:
1. Regard keterbatasan penelitian ini, disarankan dalam studi lanjutan, researhcer dapat
menggunakan seluruh amil Badan menjadi respondends dan terbuka untuk semua mustahik,
tidak terbatas pada zakat produktif.
2. Mengingat Badan Amil (Baznas Riau) menjadi pusat pengelolaan zakat di Provinsi Riau pada
program pemberdayaan ekonomi dengan lebih menekankan pada pemahaman aspek agama,
aspek pengetahuan dan aspek keluarga yang terbukti berpengaruh terhadap pemberdayaan dan
kesejahteraan mustahik ini.
3. Baznas Riau dalam proses seleksi penerima produktif dapat menyaring mustahik yang
memiliki pola pikir kewirausahaan dan benar-benar perlu modal ventura, maka dapat mengikuti
pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mengelola bisnis dan dilakukan bantuan untuk
memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dan kemandirian dalam mengembangkan bisnis.
Kekurangan modal usaha yang disalurkan dan tidak ada satu tindak lanjut dari program untuk
mendapatkan tambahan modal serta kurangnya pemahaman bisnis, terutama dalam hal menjaga
kelangsungan bisnis di masa depan yang harus menjadi perhatian serius bagi ultimate dari
mustahik menjadi muzakki dapat direalisasikan.
4. Pemberdayaan masyarakat houshold miskin melalui zakat produktif bagi kebutuhan
kesejahteraan individu untuk ditingkatkan, terutama untuk jaminan sosial dari lembaga
pemerintah yang secara langsung berdampak pada individu rumah tangga miskin.

Referensi

[1] Al-Qur'an & terjemahan. 2005. Departemen Agama RI. Penerbit PT. Syaamil Cipta Media,
Bandung.
[2] Anand Dan Kanbur. 1993. Dalam Bambang Subagio dkk, 2001. Kemiskinan di Indonesia
Dalam Perspektif Ekonomi, Sebuah Kajian Permodalan. Penelitian Jurnal, http; kertas
//www.hayati-ipb.com/users/rudyct/grp 01 / kel6012. htm.
[3] Arifin, 2011. Zakat, Infak, Sedekah. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
[4] Asmawi. 2012. Memahami concept maslahah sebagai inti maqasid al-syariah. makalah
dipresentasikan PADA Acara lokakarya tafsir asnaf zakat kontemporer, institut manajemen
zakat, ciputat, 9 agustus 2012.
[5] Atia, Mona. 2011. Islam Pendekatan untuk Pembangunan: Sebuah studi kasus Zakat,
Sadaqa dan Qurd al Hassan di Kontemporer Mesir. 8 th Konferensi Internasional tentang
Ekonomi Islam dan Keuangan. Pusat Ekonomi dan Keuangan Islam, Qatar Fakultas Studi
Islam, Qatar Foundation.
[6] Beik, IS 2008. Analisis tentang Peran Zakat dalam Kemiskinan: Dompet Dhuafa Republika
Studi Kasus. Makalah Dipresentasikan PADA Konferensi Internasional IDB di
Bangladesh, Februari 2009.
[7] Chapra, M Umer 2001. Masa Depan Ekonomi: Sebuah Perspektif Islam. Islam Foundation,
UK. Amdiar Amir. dkk (penterjemah). 2001 Shari'ahli Ekonomi dan Lembaga Perbankan.
Jakarta.
[8] Djamil, F. 2004. Pendekatan maqashid Al-Syariah Terhadap Pendayagunaan Zakat. Di
hearts: Abidin, Editor. Reinterpretasi Pendayagunaan ZIS Menuju Efektivitas Pemanfaatan
Zakat, Infak, Sedekah. Jakarta: Piramedia.
[9] Ghozali, Abdul Malik. 2009. Tahadduts bin ni'mah hearts zakat, majalah Gontor, edisi
Oktober.
[10] Hafidhuddin, Didin. 2002. Zakat Dalam Perekonomian Modern. Gema Insani Press.
Jakarta.
[11] Indahsari, Kurniyati. 2013. Perilaku Pengambilan Keputusan individu muslim hearts
menunaikan ziswa through Lembaga Amil (Studi di Kabupaten Bangkalan - Madura).
Disertasi Doktor. Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Brawijaya, Malang.
[12] Ismail, AG Dan Possumah. 2013. Model Teoritis untuk Lembaga Keuangan Mikro Islam
Zakat Berbasis dalam Mengurangi Kemiskinan. Internasional Jurnal Penelitian Keuangan
dan Ekonomi. ISSN 1450-2887 Edisi 103 Januari 2013.
[13] Kahfi, Monzer. 1979. Ekonomi Islam .. analitis Fungsi dari Sistem Ekonomi Islam.
Plainfield, In: Asosiasi Muslim Studies dari Amerika Serikat dan Kanada. Machnun Husein
(penterjemah). 1996. Ekonomi Islam. Pustaka Pelajar Offset. Yogyakarta.
[14] Kamali, MH (2008). Maqasid al-syari'ah dibuat sederhana. The International Institute of
Advanced Studi Islam (IAIS), Malaysia.
[15] Kara, Muslimin, 2012. Pemikiran Al-Syatibi TENTANG Maslahah Dan Implementasinya
hearts Pengembangan Ekonomi Syariah. aset Jurnal vol 2 no 2 Tahun 2012.
[16] Karim, Adiwarman. 2002. Ekonomi Mikro Islami. The International Institute of Islamic
Thought Indonesia. Jakarta.
[17] Kholiq, Abdul 2012. Pendayagunaan zakat, infak Dan sedekah untuk review
Pemberdayaan Ekonomi 'masyarakat Miskin di Kota Semarang. Jurnal Riptek Vol. 6, No.I,
Tahun 2012, Hal .: 39 - 47.
[18] Laporan Baznas Riau, 2013. Laporan Tahunan Baznas Riau Tahun 2013. Pekanbaru, Riau.
[19] Mannan, Muhammad Abdul. 1970. Ekonomi Islam: Teori dan Praktek. Houder dan
Stoughton Ltd Nastangin (penterjemah). 1993. Ekonomi Islam: Teori dan Praktek. PT
Dana Bhakti Wakaf. Yogyakarta.
[20] Mubyarto, 1982. Zakat Dan Mengurangi Kemiskinan. Seminar Nasional Pengelolaan 15
Nopember 1982, Dan Pendayagunaan Zakat. Infaq Dan Shadaqah. Jakarta.
[21] Multifiah. 2007. Peran “ZIS” Terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga Miskin (Studi
Penanggulangan Kemiskinan through Bantuan Modal, Pendidikan dan Kesehatan di
Daerah Malang). Disertasi Doktor. Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Brawijaya, Malang.
[22] Nasution, et al. 2008. Indonesia Zakat dan Development Report 2009. IMZ, Depok: CID.
[23] Pemerintah Republik Indonesia. 1999. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang
Pengelolaan Zakat.
[24] Pemerintah Republik Indonesia. 2011. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 TENTANG
Pengelolaan Zakat.
[25] Pindyck, RS Dan DL Rubinfeld. 1983. Model ekonometrik dan Prakiraan Ekonomi. Edisi
kedua. Jepang: McGraw-Hill Book Company.
[26] Prijono, OS Dan Pranarka, AMW 1996. Pemberdayaan: KONSEP, Kebijakan Dan
Implementasi. Jakarta. CSIS.
[27] Qardhawi, Yusuf. 1973. FiqhZakat. Terjemahan, Salman Harun, Didin Hafidhuddin,
Hasanuddin. Hukum Zakat, Studi Komparatif Mengenai Status den Filsafat Zakat
Berdasarkan Qur'an Dan Hadits. Edisi kesepuluh. 2012. Penerbit Litera Antar Nusa Dan
Penerbit Mizan. Jakarta.
[28] Qardhawi, Yusuf. 2007. Fiqih maqashid Syariah: moderasi Islam ANTARA Aliran tekstual
Dan Aliran liberal. Terjemahan, Arif Munandar Riswanto. Pustaka Alkautsar. Jakarta.
[29] Raimi, L, 2013. Penanggulangan Kemiskinan Krisis di Mayoritas Bangsa Muslim
(MMNs): Model Iman Berbasis (FBM) sebagai Opsi Kebijakan Alternatif. Canggih Jurnal
Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan. Vol. 1 (001), pp. 001-012, November 2013.
[30] Riza, Risyanti, Roesmidi. 2006. Pemberdayaan Masyarakat. Sumedang Alqaprint
Jatinangor.
[31] Sabiq, Sayyid. 2008. Syarah Fiqh Sunnah jilid 3. Gema Insani. Jakarta.
[32] Sartika, M. 2008. Pengaruh Pendayagunaan Zakat Produktif Terhadap Pemberdayaan
Mustahiq PADA LAZ Yayasan Solo Peduli Surakarta. Jurnal Ekonomi Islam La_Riba, 2
(1): 75-89.
[33] Wibowo, Arif. 2012. maqashid Asy Syariah: The Ultimate Tujuan Syariah. ekonomi
Artikel Islam.
[34] Yumna, Aimatul Dan Clarke Matthew. 2011. Mengintegrasikan amal zakat dan Islam
dengan inisiatif keuangan mikro di tujuan pengentasan kemiskinan di Indonesia. 8 th
Konferensi Internasional tentang Ekonomi Islam dan Keuangan Pusat Ekonomi dan
Keuangan Islam, Qatar Fakultas Studi Islam, Qatar Foundation.
[35] Yunanti, Rahmani Timorita. 2008. Peran Lembaga Keuangan Publik Islam. Jurnal Millah
Vol. VII, No 1, Agustus.
[36] Yunus, Muhammad, 2007. Bank Kaum Miskin. Penerjemah, Irfan Nasution, Marjin Kiri,
Depok.
[37] Zakaria, Maheran, 2014. Pengaruh Kebutuhan Manusia dalam Perspektif Maqasid al-
Syari'ah pada Zakat Distribusi Efektivitas. Asian Social Science. Vol. 10, No.3.
Rumah|Tentang kami|Syarat dan ketentuan|Kebijakan pribadi|Masukan|sitemap|Hubungi kami
Copyright © 2016 Scientific & Academic Publishing Co-undang.