Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Pengertian
Adenokarsinoma adalah kanker yang dimulai di sel yang melapisi organ-organ
internal tertentu dan yang memiliki properti mirip kelenjar. Adapun fungsi dari kelenjar
prostat yaitu menghasilkan seminal plasma yaitu cairan semen (atau air mani) yang
membawa sperma keluar dari tubuh saat seorang pria mengalami ejakulasi. Cairan itu
membantu sperma keluar dari tubuh sebagai bagian dari semen. Umumnya pada pria
tidak menyadari bahwa meskipun testicles (buah pelir) memproduksi sperma namun
berjumlah 1% saja dari total volume sperma. Sementara kelenjar prostat memproduksi
hamper seluruh volume yang diejakulasikan. Karena itu prostat sangat penting bagi pria
(Waluyo & Budhi, 2015)
Karsinoma prostat adalah suatu kanker ganas yang tumbuh di dalam kelenjar
prostat, tumbuh secara abnormal tak terkendali sehingga mendesak dan prostat, tumbuh
secara abnormal tak terkendali sehingga mendesak dan merusak jaringan sekitarnya dan
merupakan yang terbanyak diantara keganasan sistemeganasan sistem urogenitalia pada
pria. Tumor ini menyerang pasien yangberumur di atas 50 tahun, urogenitalia pada pria,
diantaranya 30% menyerang pria berusia 70-80 tahun dan 75% pada usia lebih dari 80
tahun. Kanker ini jarang menyerang pria berusia di bawah 45 tahun.

Kanker prostat adalah kanker yang paling umum pada pria (selain kanker kulit
nonmelanoma) dan merupakan penyebab kedua kematian yang paling umum akibat
kanker pada pria Amerika yang berusia lebih dari kanker pada pria Amerika yang berusia
lebih dari 55 tahun.
Kanker prostate adalah kanker yang paling prevalen secara keseluruhan
insidennya hampir dua kali lipat dari populasi umum dan angka kematian sekitar tiga kali
lebih tinggi. Ada 3 masalah kesehatan prostat, yaitu :
1. Pembesaran prostat atau dikenal dengan BPH (benign prostatic hyperplasia)
2. Prostatitis (inflamasi prostat)
3. Kanker prostat. Ini menyebabkan kematian kedua terbesar penyakit kanker
pada pria (yang pertama kanker paru)
B. Etiologi
Sampai saat ini penyebab dari kanker prostat belum diketahui, tetapi ada beberapa

faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker prostat, antara lain:

1. Usia diatas 65 tahun. Lebih dari 65% kejadian kanker prostat terdeteksi pada pria

berusia diatas 65 tahun.

2. Ras. Ras Afro Amerika memiliki risiko lebih tinggi daripada ras Kaukasia untuk

terkena kanker prostat. Sedangkan ras Asia yang tinggal di benua Asia memiliki

risiko paling rendah.

3. Riwayat keluarga/genetic. Seorang pria dengan anggota keluarga terdekatnya

terkena kanker prostat memiliki resiko terkena kanker prostat dua kali lebih besar

daripada yang tidak. Risiko ini akan meningkat bila anggota keluarganya tersebut

didiagnosa kanker prostat pada usia lebih muda (kurang dari 55 tahun).

4. Tempat tinggal. Bagi yang tinggal di Amerika risiko terkena kanker prostat adalah

17%, sedangkan yang tinggal di dataran Cina risiko sebesar 2%. Tetapi bila pria

Asia beralih kebudayaan barat, risikonya akan meningkat.Perubahan prostat

tertentu. Pria dengan prosta tic intraepithelial neoplasia (PIN)juga akan meningkat

risikonya terkena kanker prostat.

C. Manifestasi Klinik
Adapun gejala pada adenokarsino prostat yaitu :

1. Sering berkeinginan buang air kecil tapi merasa bahwa aliran urine tidak lancar,

padahal kandung kemih terasa penuh

2. Keinginan buang air kecil itu biasanya terjadi pada malam hari, berulang kali

sehingga tidur malam hari menjadi terganggu


3. Saat buang air kecil terasa pedih atau nyeri, kadang nyeri juga terjadi pada perut

bagian bawah disebabkan urin yang bertahan tidak keluar, atau karena infeksi.

D. Penatalaksanaan

1. Biopsi dengan jarum lewat perineal atau Transrektal

2. Biopsi dengan membuka jaringan kulit.

3. Cystoscopy

4. Pelvic CT Scan

5. Transrectal Ultrasonografi

6. Laboratorium :

 Alkali Phospatase

 PAP ( Prostatic Acid Phosphatase )

 Serum TAP ( Total Acid Phosphatase )

 Hb, leukosit, trombosit


BAB II

KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Pemeriksaan fisik

a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan.

 Faktor penyebab timbulnya kanker prostat

 Pemeliharaan kesehatan, pengobatan dan perawatan di rumah

b. Pola nutrisi dan metabolik

 Kebiasaan makanan yang dikonsumsi

 Nafsu makan menurun , mual , muntah

 Berat badan menurun

 Konjuctiva pucat / anemi

 Laboratorium HB < 10 mg %

 Lekosit : Ada kenaikan jika terdapat infeksi sistem perkemihan

 Ureum : > 30 – 40 mg %

 Creatinin : > normal

 Alkhali pospatase : > normal

 Albumin : < normal

 Globulin : < normal

c. Pola eliminasi .

 Urine menetes tak dapat memancar, tidak dapat mengosongkan kandung

kemih sampai habis

 Nokturia
 Dysuria

 Urine campur darah

 Peristaltik usus < 6 kali / menit

 Kandung kemih penuh dan keras

 Rectal touche teraba benjolan dan keras

 Warna urine kuning tua, coklat sampai ada darah, ada kuman bakteri

berjumlah sedikit

d. Pola aktifitas dan latihan.

 Riwayat pekerjaan

 Mengeluh lemas cepat lelah, tidak bergairah dalam’melaksanakan aktifitas

atau hobi.

 Peningkatan tekanan darah

 Tungkai udema

e. Pola tidur dan istirahat .

 Gangguan tidur karena nyeri di daerah peritoneal

 Kandung kemih penuh sering bak dimalam hari, yang tidak terlampiaskan

 Nyeri di daerah punggung

f. Pola persepsi kognitif dan sensorik

 Pengetahuan klien tentang penyakitnya

 Usaha untuk mengatasi rasa nyeri

g. Pola persepsi dan konsep diri

Mengeluh ada rasa tak berdaya, putus asa, depresi, menarik diri.

h. Pola peran dan hubungan dengan sesama


 Mengeluh tidak adekuatnya suport sistem

i. Pola reproduksi dan seksual

 Mengeluh menurunnya kemampuan berejakulasi, takut mengganggu

pasangannya dengan urine yang menetes.

 Adanya pembesaran prostat

j. Pola mekanisme koping dan toleransi

 Mengeluh putus asa

 Marah, menarik diri, denial

k. Pola sistem nilai atau kepercayaan

 Sakit kanker adalah kutukan

B. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut b.d agen cedera fisik

2. Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang diagnose dan tindakan pemeriksaan

dan prognosanya.

3. gangguan eliminasi urin b.d obstruksi anatomik

4. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif

5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan meningkatnya metabolisme

( proliferasi sel-sel kanker ), intake kurang adekuat .

C. Rencana/ Intervensi Keperawatan

1. Nyeri akut b.d agen cedera fisik

RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosis Keperawatan: Definisi:
Nyeri akut Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan
jaringan aktual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan (international
Association for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas
ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi
Batasan kerakteristik Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)
1. Bukti nyeri dengan 1. Kontrol nyeri Manjemen lingkungan:kenyamanan
menggunakan standar daftar 2. Tingkat nyeri 1. Ciptakan lingkungan yang tenang dan
periksa nyeri untuk pasien 3. Kepuasan klien: manajemen mendukung
yang tidak dapat nyeri 2. Sesuaikan suhu lingkungan yang
mengungkapkannya (mis., 4. Nyeri:respon psikologis nyaman untuk pasien
Neonatal Infant Pain tambahan 3. Sesuaikan pencahaan ruangan untuk
Assessment Checklist for 5. Nyeri: efek yang menggangggu membantu klien dalam beraktivitas
Senior with Limited abiity tu 6. Integritas kulit dan membran 4. Fasilitasi tindakan kebersihan untuk
Communicate) mukkosa kenyamanan individu.
2. Diaforesis 7. Perfusi jaringan 5. berikan edukasi kepada keluarga terkait
3. Dilatasi pupil 8. Penyembuhan luka:primer manajemen penyakit
4. Ekspresi wajah nyeri 9. Penyembuhan luka : sekunder
(misalkan wajah kurang Setelah dilakukan intervensi selama 4x24 Pengaturan posisi
bercahaya, tampak kacau, jam nyeri berkurang atau teratasi dengan 1. Berikan posisi yang tidak menyebabkan
kriteria hasil: nyeri bertambah
gerakan mata berpencar
klien dapat 2. Tinggikan kepala tempat tidur
atau tetap pada satu fokus,
1. mengenali kapan terjadi nyeri 3. Posisikan pasien ntuk meningkatkan
meringis)
2. mengenali faktor penyebab nyeri drainase urin
5. Fokus menyempit ( misalkan
3. melaporkan nyeri terkontrol 4. Meminimalisir gesekan dan cedera
persepsi waktu, proses
4. melaporkan jika mengalami nyeri ketikan memposisikan atau
berpikir, interaksi dengan
5. mengambil tindakan untuk mengurangi membalikkan tubuh pasien
orang dan lingkungan)
nyeri 5. Jangan berikan posisi yang dapat
6. Fokus pada diri sendiri
6. melakukan manajemen nyeri sesuai menyebabkan penekananpada luka.
7. Keluhan tentang intensitas
dengan keyakinan budaya
menggunakan standar skala
7. mengatasi gangguan hubungan Terapi relaksasi
nyeri, (mis, skala Wong- 1. minta klien untuk rileks
interpersonal
Baker FACES, skala analog 2. gambarkan rasionalisasi dan manfaat
8. menikmati hidup
visual, skala penilaian relaksasi serta jenis relaksasi yang
9. mengatasi kekhawatiran terkait
numerik) tersebut. (....)
toleransi nyeri
8. Keluhan tentang 3. ajarkan teknik relaksasi napas dalam
10. mengatasi kekhawatiran membebani
karakteristik nyeri dengan 4. Ciptakan lingkungan yang tenang
orang lain
menggunakan standar
11. mengatasi ketakutan terhadap nyeri 5. Berikan waktu yang tidak terganggu
instrumen nyeri ( mis.,
yang tidak bisa ditahan
McGill Pain Questionnaire, Pemijatan
Brief Pain Inventory) 12. Mengatasi ketakutan terhadap
1. Kaji keinginan klien untuk dilakukan
prosedur dan alat
9. Laporan tentang perilaku pemijatan
nyeri/perubahan aktivitas 13. mengatasi rasa marah terhdapat
2. Cuci tangan dengan air hangat
(mis., anggota keluarga, dampak nyeri yang menyebabkan
3. Gunakan lotion, minyak hangat, bedak
pemberi asuhan) ketidakmampuan
kering
10. Megekspresikan perilaku 14. lesi pada kulit dan membran mukosa
4. Pijat secara terus-menerus, halus,
(mis., gelisah, merengek, berkurang
usapan yang panjang, meremas, atau
menangis, waspada) 15. suhu dalam batas normal (36-37,5 C)
getakan di telapak kaki
11. Perilaku distraksi 16. kulit wajah tidak pucat
5. Sesuaikan area pemijatan, teknik dan
12. Perubahan pada parameter 17. peradangan pada luka berkurang
tekanan sesuai persepsi kenyamanan
fisiologis (mis., tekanan 18. menunjukkan terjadi pembentukan
pasien.
darah, frekuensi jantung, bekas luka
6. Dorong klien melakukan nafas dalam
frekuensi pernapasan, 19. terdapat jaringan granulasi
dan rileks selama pemijatan.
saturasi oksigen, dan end- 20. eritema disekitar luka
tidal karbon dioksida [CO2]) Terapi musik
1. Pertimbangkan minat klien terhadap
13. Perubahan posisi untuk musik
menghindari nyeri 2. Identifikasi musik yang disukai
14. Perubahan selera makan 3. Menginformasikan individu mengenai
15. Putus asa tujuan
16. Sikap melindungi area nyeri 4. Pilih musik yang disukai klien
17. Sikap tubuh melindungi 5. Bantu klien untuk menentukan posisi
18. Agen cedera biologis (mis., nyaman
infeksi, iskemia, neoplasma) 6. Paastikan volume musikadekuat dan
19. Agen cedera fisik ( mis., tidak terlalu keras
abses, amputasi, luka bakar, 7. Hindari stimuli musik setelah cedera
terpotong, mengangkat kepala
berat, prosedur bedah,
trauma, olah raga belebihan) Tindakan kolaborasi:
20. Agen cedera kimiawi (mis., Terapi oksigen
1. Bersihkan mulut, hidung dan sekresi
luka bakar, kapsaisin,
2. Batasi kegiatan (merokok)
metilen klorida, agen
3. Pertahankan kepatenan jalan napas
mustard)
4. Siapkan peralatan oksigen dan berikan
21. Faktor yang berhurbungan
melalui sitem humidifier
22. Ancaman kematian
5. Berikan oksigen tambahan sesuai
23. ancaman pada status terkini
instruksi
24. hereditas
6. Monitoring aliran oksigen
25. hubungan interpersonal
7. Pantau adanya tanda-tanda keracunan
26. kebutuhan yang tidak
oksigen
dipenuhi
8. Monitor kerusakan kulit terhadap
27. konflik nilai
gesekan perangkat oksigen.
28. konflik tentang tujuan hidup
9. Konsultasi dengan tenaga kesehatan
29. krisis maturasi
lain mengenai penggunaan oksigen
30. krisis situasi
tambahas
31. pajanan pada toksin
32. penularan interpersonal
Pemberian obat
33. penyalahgunaan zat 1. Kaji adanya riwayat alergi terhadap
34. perbahan besar (mis., status obat tertentu
ekonomi, lingkungan, status 2. Pastikan mengikuti prinsip 6 benar
kesehatan, fungsi peran, pemberian obat
status peran) 3. Cek tanggal kadaluarsa obat
35. riwayat keluarga tentang 4. Monitor respon klien
ansietas
36. stresor

2. gangguan eliminasi urin b.d obstruksi anatomik

STANDAR RENCANA/ INTERVENSI KEPERAWATAN

DiagnosaKeperawatan: Definisi Nanda International: Disfungsi eliminasi urine.


Gangguan Eliminasi Urine
Komponen Diagnosis Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)
Etiologi : Aktivitas Keperawatan

Batasan Karakteristik : Setelah diberikan intervensi  Monitor eliminasi urine termasuk frekuensi,
keperawatan selama … klien akan konsistensi, bau, volume dan warna
 Anyang-anyangan menunjukkan Eliminasi Urine tidak  Catat waktu eliminasi urine terakhir
 Disuria terganggu, yang dibuktikan oleh  Pantau tanda dan gejala retensi urine
 Dorongan berkemih indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5:  Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi
 Inkontinensia gangguan ekstrem, berat, sedang, terhadap terjadinya episode inkontinensia
 Nokturia ringan, atau tidak ada gangguan ):  Dapatkan specimen urine pancaran
 Retensi Urine tengah, bagian tengah dengan tepat pada
 Sering berkemih  Pola eliminasi
tanda pertama dari kembalinya tanda dan
 Bau urine
gejala infeksi
 Jumlah urine
 Bantu pasien untuk mengembangkan
Faktor-faktor yang berhubungan:  Kejernihan urine rutinitas eliminasi dengan tepat
 Intake cairan  Catat waktu berkemih pertama setelah
 Gangguan sensori motorik
 Mengosongkan kantong kemih prosedur dengan tepat
 Infeksi saluran kemih sepenuhnya
 Obstruksi anatomik  Mengenali keinginan berkemih
 Penyebab multiple Penyuluhan untuk Pasien

 Ajarkan pasien mengenai tanda dan gejala


infeksi saluran kemih
 Anjurkan pasien/ keluarga untuk mencatat
out put urine, yang sesuai
 Instruksikan untuk segera merespon
keinginan mendesak untuk berkemih
 Anjurkan pasien untuk mengosongkan
kandung kemih sebelum (pelaksanaan )
prosedur yang relevan
 Anjurkan Pasien untuk memantau tanda-
tanda dan gejala infeksi saluran kemih

Aktivitas Kolaboratif

 Rujuk ke dokter jika tanda dan gejala


infeksi Saluran kemih terjadi
 Masukkan suppositoria uretra,dengan tepat
 Batasi cairan, sesuai kebutuhan

Aktivitas Lain
 Ajarkan pasien untuk minum 8 gelas per
hari pada saat makan, diantara jam makan
dan sore hari
3. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif

STANDAR RENCANA/ INTERVENSI KEPERAWATAN

DiagnosaKeperawatan:
Kekurangan volume cairan
Komponen Diagnosis Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)

Etiologi :  Manajemen perdarahan


a. Monitor dan catat nilai hemoglobin
Batasan karakteristik : Tujuan : dan hematokrit pasien.
b. Berikan produk penggantian darah.
a. Haus. Setelah dilakukan tindakan c. Lindungi pasien dari trauma yang
b. Kelemahan. keperawatan ...x24 jam, kebutuhan dapat menyebabkan perdarahan.
c. Kulit kering. cairan pasien menjadi adekuat dengan d. Instruksikan pasien untuk
d. Membran mukosa kering. meningkatkan makanan yang kaya
kriteri hasil :
e. Peningkatan frekuensi nadi. akan vitamin K.
f. Peningkatan hematokrit.  Manajemen hipovolemi
NOC :
g. Peningkatan konsentrasi a. Monitor adanya tanda – tanda
urin. dehidrasi.
 Keseimbangan cairan
h. Peningkatan suhu tubuh. b. Monitor adanya sumber – sumber
a. TTV dalam batas normal.
i. Penurunan berat badan tiba kehilangan cairan.
b. Turgor kulit normal.
– tiba. c. Jaga kepatenan IV.
c. Keseimbangan intake dan
j. Penurunan haluaran urin.  Manajemen cairan/elektrolit
output dalam 24 jam.
k. Penurunan pengisian vena. a. Monitor TTV.
d. Membran mukosa lembab.
l. Penurunan tekanan darah. b. Berikan serat yang diresepkan untuk
 Eliminasi urin
m. Penurunan tekanan nadi. pasien dengan selang makan untuk
a. Pola eliminasi tidak
n. Penurunan turgor kulit. mengurangi kehilangan cairan dan
terganggu.
o. Perubahan status mental. elektrolit melalui diare,
b. Karakteristik urin normal
p. Penurunan volume nadi. c. Pastikan bahwa larutan IV yang
(jumlah, warna, kejernihan).
q. Penurunan turgor lidah. mengandung elektrolit diberikan
 Keparahan kehilangan darah
dengan aliran yang konstan.
a. Tidak terdapat hematuria.
d. Monitor hasil laboratorium yang
b. Kulit dan membran mukosa
Faktor yang berhubungan : relevan dengan keseimbangan cairan
pucat.
(hematokrit, BUN, albumin, dll).
c. Hb dan Hematokrit dalam
a. Kegagalan mekanisme  Manajemen elektrolit : hiponatremia
batas normal.
regulasi. a. Monitor nilai natrium pasien.
 Eliminasi usus
Kehilangan cairan aktif. b. Monitor manifestasi gastrointestinal
a. Pola eliminasi tidak terganggu.
akibat hiponatremia (mukosa kering,
b. Kontrol gerakan usus normal.
hiposalivasi, anoreksia, mual dan
c. Suara bising usus normal.
muntah, kram abdomen dan diare).
 Keparahan hiponatremia
c. Monitor fungsi ginjal.
a. Tidak ada penurunan berat
d. Batasi asupan cairan sebagai
jenis urin.
penanganan pertama paling aman
b. Tidak ada anoreksia, mual
pada hiponatremia.
dan muntah.
e. Monitor cairan parenteral untuk
c. Tidak terdapat kram otot,
mengetahui apakah berisi kandungan
pusing, kejang dan edema.
natrium.
 Status nutrisi : asupan
 Perawatan selang : gastrointestinal
makanan & cairan
a. Monitor adanya sensasi kenyang,
Intake makanan dan cairan melalui
mual dan muntah.
oral maupun parenteral tetap b. Monitor bising usus.
adekuat. Monitor status cairan dan elektrolit.