Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN HASIL DISKUSI

FOCUS GROUP DISCUSSION


SKENARIO 1
“Enteritis Hemoragika pada Anjing”

Disusun Oleh :
Nama : Mitha Dwi Maryani
NIM : 14/364480/KH/8050
Kelompok : 12

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
A. Judul skenario
Enteritis Hemoragika pada Anjing

B. Tujuan Pembelajaran
1. Mahasiswa mengetahui macam-macam penyakit infeksi gastrointestinal pada anjing
dan kucing beserta etiologi dan patogenesisnya
2. Mahasiswa memahami gejala klinis dan pemeriksaan laboratoris pendukung
diagnosa penyakit infeksi gastrointestinal pada anjing dan kucing
3. Mahasiswa mengetahui berbagai obat-obatan dan tatacara aplikasinya untuk penyakit
infeksi gastrointestinal pada anjing dan kucing
4. Mahasiswa mampu memahami penyakit infeksi gastrointestinal sesuai yang
diajarkan dalam MK. Ilmu Penyakit Organik Hewan Kecil
C. Skema Pembelajaran

FGD semester 8

Ilmu Bedah Ilmu Penyakit Ilmu Penyakit Infertilitas


Khusus & Unggas Organik Hewan dan
Radiologi sterilitas
Kecil
Veteriner

Sinergi dan Integrasi antar mata kuliah untuk membangun pemahaman secara lebih dalam dan
komprehensif untuk mencapai kompetensi

SKENARIO 1 :
memahami berbagai penyakit infeksi gastrointestinal pada anjing dan kucing beserta etiologi,
patogenesis, gejala klinis, pemeriksaan laboratorik pendukung diagnosa serta obat-obatan dan tatacara
aplikasinya pada hewan kecil secara terpadu dan holistik
D. Pembahasan
1. Toxocariasis
Toxocariasis adalah penyakit parasit internal yang disebabkan oleh cacing
ascarida dari genus Toxocara yang sering disebut dengan cacing gilig. Cacing gilig pada
anjing disebut Toxocara canissedangkan pada kucning dbut Toxocara cati. Penyakit ini
diketahui mempunyai kecenderungan zoonosis sangat tinggi, karena itu sangat perlu
diwaspadai.

Etiologi
Etiologi penyakit ini adalah cacing nematoda, roundworm (cacing gelang), yang
lazim disebut ascarida genus Toxocara yang menyerang pada kucing, secara spesifik
adalah Toxocara cati. SelainToxocara cati, dua species lainnya adalahToxascaris
leonina dan Toxocara canis yang lazimnya menyerang anjing atau jenis canidae liar
lainnya. Namun sering ditemukan telur Toxocara cati pada feses anjing, hal ini
dikarenakan telur yang masih belum pada tahap infeksius termakan oleh anjing dan
dikeluarkan melalui feses segera setelah termakan.

Patogenesis
Dalam usus, cacing dewasa mengambil nutrisi dari hospes definitifnya dengan
menyebabkan kelukaan dinding usus dan mengambil nutrisi dari sirkulasi. Berdasarkan
siklus hidupnya, larva menyebabkan penyakit dengan fase migrasi yang meninggalkan
lesi pada organ dan jaringan yang dilalui. Keparahannya bergantung kepada jumlah, baik
pada cacing dewasa maupun larva. Perjalanan larva lewat lambung, pada yang berat
menyebabkan distensi lambung, diikuti oleh muntah, dan mungkin disertai keluarnya
cacing yang belum dewasa didalam bahan yang dimuntahkan (vomitus).

Gejala Klinis
Gejala klinis dapat mencakup pembesaran abdomen, kegagalan pertumbuhan,
muntah dan diare. Infeksi dalam jumlah sedikit dapat menghasilkan jumlah telur yang
sedikit pula dalam feses.
Hewan yang mengalami infestasi cacing yang berat dapat menunjukkan gejala
kekurusan, bulu kusam, perbesaran perut (pot-belly), juga gangguan usus yang antara
lain ditandai dengan sakit perut (kolik). Obstruksi usus baik parsial maupun total, dan
dalam keadaan ekstrim terjadi perforasi usus hingga tampak gejala peritonitis. Pada
beberapa kasus bisa menunjukkan anemia, muntah, diare atau konstipasi. Pada kasus
yang sangat berat tapi jarang terjadi, bisa terdapat obstruksi usus. Gejala batuk dapat
teramati sebagai akibat adanya migrasi melalaui sistema respirasi.
Diagnosa
Untuk diagnose dilakukan pemeriksaan tinja, dapat juga diikuti pemeriksaan
patologi anatomi dan klinik. Diagnosa cacingan kadang-kadang tidak selalu didasarkan
ditemukannya telur atau larva cacing didalam pemeriksaan tinja, baik secara visual, natif,
metode apung atau pemeriksaan endapan. Riwayat cattery tempat penderita tumbuh
sering dapat digunakan sebagai pengan dalam penentuan diagnosis antara lain batuk,
pilek, anoreksia, kadang-kadang diare, perut membesar dan menggantung, dan bahkan
konvulsi merupakan petunjuk kuat dalam menentukan diagnosa. Diagnosa pascamati
penting untuk menegakkan diagnosis. Cacing Toxocara yang belum dewasa dapat
ditemukan didalam mukosa usus. Untuk hewan dewasa diagnosisnya lebih mudah.
Pengobatan
Obat yang umum dipakai dan efektifitasnya, aplikasi per oral: piperazine salts, Pyrantel
pamoat/praziquantel, Milbemycin, Selamectin.
Pencegahan
Pencegahannya dengan cara deworming secara teratur, higienitas pakan dan
lingkungan, dan kontrol terhadap populasi hospes intermedier dan paratenik.
Pemeriksaan feses harus dilakukan segera setelah anak kucing lepas masa sapih; 4 – 8
minggu setelah treatment berakhir; pemeriksaan reguler setahun sekali, dan sebelum
betina dikawinkan.
2. Ancylostomiasis
Ancylostoma atau disebut juga dengan cacing tambang (hookworm) merupakan
cacing penghisap darah yang dapat mengakibatkan pendarahan di usus sehingga terjadi
diare berdarah. Cacing ini dapat menginfeksi anjing, kucing dan rubah, untuk itu
waspadalah terhadap infeksi Ancylostoma spp. pada anjing dan
kucing. Ancylostoma terdiri atas tiga spesies yaitu: (a) Ancylostoma caninumyang dapat
menginfeksi anjing dan rubah; (b) Ancylostoma tubaeforme yang dapat menginfeksi
kucing; (c) Ancylostoma braziliense yang dapat menginfeksi anjing dan kucing.
Gejala klinis hewan terinfeksi Ancylostoma spp.
Hewan yang terinfeksi Ancylostoma akan menunjukkan gejala klinis berupa feses
berdarah yang menyebabkan melena, feses lembek dan bewarna gelap, anorexia,
emasiatio, anemia akut berupa normositik normokroik diikuti oleh anemia hipokromik
mikrositik yang ditandai dengan pucat pada selaput lendir mulut, mata dan vagina serta
kulit terutama daerah perut. Infeksi cacing Ancylostoma dalam usus halus dapat
menyebabkan beberapa perubahan patologi dan fungsi dari organ tersebut. Perubahan-
perubahan patologi dan fungsi tersebut meliputi anemia, radang usus ringan sampai
berat, hipoproteinemia, terjadinya gangguan penyerapan makanan dan terjadinya
penekanan terhadap respon imunitas.

Pengobatan terhadap infeksi Ancylostoma spp.


Pengobatan ancylotomiasis dapat diberikan secara oral diantaranya : diclorvos dengan
dosis 27-33 mg/kg (dewasa) dan untuk anak-anak 11 mg/kg, pyrantel pamoate dengan
dosis 5-25 mg/kg, mebendazole dengan dosis 22 mg/kg selama 5 hari dan fenbendazole
50 mg/kg/hari selama 3 hari.
3. Koksidiosis

Koksidiosis pada anjing dapat dialami oleh kucing dengan mudah, begitu pula
sebaliknya. Penyakit ini disebabkan oleh koksidia. Dua genus dari parasit ini yang
sering ditemukan/menginfeksi anjing dan kucing adalah Eimeria dan Isospora. Parasit
yang termasuk dalam genus Isospora memang dapat menyerang anjing dan kucing
secara bergantian atau bersama-sama sedangkan genus Eimeria spp walaupun
terkadang ditemukan namun tidak bersifat parasitik pada anjing ataupun kucing.
Kebanyakan koksidia merupakan parasit intraseluler dari alat pencernaan, tetapi
beberapa terdapat pada tempat lain seperti hati dan ginjal. Setiap jenis koksidia terdapat
pada lokasi yang khas dan terdapat dalam saluran pencernaan dari induk semang tipe
yang khas pula. Lokasi mereka dalam sel induk semang juga khas.
Gejala klinis hewan yang menderita koksidiosis antara lain adalah diare yang
terkadang bercampur darah, kekurusan, dihidrasi dan gejala lain yang menyertai
gangguan penyerapan nutrisi seperti kerontokan rambut atau rambut kusam dan
kelemahan umum. Faktor predisposisi yang berpengaruh antara lain adalah stress,
jumlah hewan terinfeksi yang terdapat pada daerah sekitar dan kurangnya kebersihan
lingkungan.
Deferensial diagnosis dari koksidiosis adalah enteritis karena infeksi virus atau
parasit intestinal lainnya.
Pencegahan dan Pengendalian
Kebersihan merupakan tindakan paling penting untuk mencegah infeksi parasit
pada anjing dan kucing. Tinja harus dibuang dari jalan-jalan, kandang dan halaman
untuk latihan anjing tiap-tiap hari secara teratur. Bila mungkin semua itu harus berlantai
beton. Kandang dan sebagainya harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap-tiap bagian
terkena sinar matahari langsung meskipun hanya sebentar, karena sinar matahari akan
membunuh telur, larva, atau ookista bila semua itu tidak tertutup oleh debu, tinja atau
tumbuh-tumbuhan pelindung. Pakan dan minum dicegah terkontaminasi dari tinja.
Hewan tidak diberikan pakan yang mentah dan dicegah agar tidak berburu tikus atau
hewan kecil lainnya yang dapat bertindak sebagai jalan masuknya infeksi. Lakukan
pengendalian terhadap insekta sebagai vektor penyakit. Jalan-jalan yang dilewati hewan
dapat diberi uap atau udara panas secara merata, biasanya diperlukan waktu 1-1,3 jam
untuk menghapushamakan 10 meter persegi dengan semprotan udara panas 225°C
sampai 250°C. Zat-zat kimia juga dapat dipergunakan untuk menghancurkan larva dan
telur, tetapi tidak dianjurkan.
Terapi
Meskipun hasilnya kurang memuaskan sediaan sulfa gabungan dapat dicoba.
Obat ormetoprim sulfadimetoxin dengan dosis 27,5 mg/kg, diberikan per os, sekali
sehari. Tribrisen dengan dosis 15 - 30 mg/kg, diberikan per os, 2 kali sehari. Tortrazuril,
dosis 7 mg/kg, diberikan 2-5 hari. Dosis obat-obat tersebut berlaku untuk anjing dan
kucing. Obat sulfa yang memiliki spektrum terbatas dalam membunuh berbagai stadia
koksidia sebaiknya diberikan dalam waktu 10-12 hari.
Terapi pada kucing mungkin kurang diperlukan karena kemampuan kucing dalam
mengeliminasi infeksi secara spontan (self curing). Pemberian albendazole dapat juga
dilakukan untuk terapi pengobatan terhadap Isospora dengan dosis 25 mg/kg secara per
oral dua kali sehari selama dua hari berturut-turut.

4. Canine Parvovirus

Penyakit muntaber pada anjing disebabkan oleh virus canine parvovirus (CPV).
Virus ini termasuk dalam famili Parvoviridae. Diameter virus CPV berkisar 20 nm,
termasuk virus single stranded DNA, dan virionnya berbentuk partikel ikosahedral serta
tidak beramplop, dan perkembang-biakan virus ini sangat tergantung pada sel inang yang
sedang aktif membelah. Dalam gradien CsCl, CPV mempunyai kepadatan gradien 1,43
g/ml. CPV terdiri dari 3 protein virus yaitu VP1, VP2, dan VP3 dengan berat molekul
82.500 sampai 63.500.
SIFAT VIRUS
Virus canine parvovirus (CPV) sangat stabil pada pH 3 hingga 9 dan pada suhu
60°C selama 60 menit. Karena virus ini tidak beramplop maka virus ini sangat tahan
terhadap pelarut lemak, tetapi virus CPV menjadi inaktif dalam formalin 1%, beta-
propiolakton, hidroksilamin, larutan hipoklorit 3%, dan sinar ultra violet
Hingga saat ini CPV ditularkan secara alami melalui kontak langsung dengan
anjing yang terinfeksi CPV, atau makanan yang telah terkontaminasi virus CPV. Virus
CPV dapat diekresi-kan melalui feses, air seni, air liur dan kemungkinan melalui muntah.
Virus CPV pada feses dapat terdeteksi selama 10–14 hari. Transmisi penularan CPV
dapat terjadi melalui makanan, piring, tempat tidur dan kandang yang telah
terkontaminasi virus CPV. Penularan secara vertikal diduga dapatterjadi pada anjing
yang sedang bunting
Kasus CPV lebih banyak terjadi pada hewan muda. Hal ini disebabkan karena sel
yang sedang membelah umumnya terdapat pada hewan yang muda. Derajat keparahan
manifestasi klinis infeksi CPV sangat tergantung pada umur anjing yang terinfeksi.
Demikian pula dengan tipe CPV yang ditimbulkan.
Makin muda umur anjing yang terinfeksi makin parah klinis yang dihasilkan.
Anjing berumur 3–4 minggu, sel miosit pada jantung sedang aktif berkembang sehingga
apabila pada umur tersebut anak anjing tersebut terinfeksi virus CPV, umumnya
menyerang jantung yang berakibat kematian mendadak anjing tersebut yang disebabkan
oleh miokarditis, sehingga tipe yang ditimbulkan umumnya tipe miokarditis. Sedangkan
apabila infeksi CPV terjadi pada umur yang lebih tua derajat pembelahan sel miosit
mulai menurun tetapi derajat pembelahan sel mitotik pada kripta usus meningkat,
terutama pada umur lebih dari 6 minggu, sehingga akibat infeksi ini diare dan muntah
lebih banyak terlihat dibanding gangguan jantung dan tipe ini sering disebut tipe enteritis
Gejala klinis
Secara PA, kelainan banyak ditemukan pada jejenum dan ileum. Bagian usus ini
membengkak, terjadi pembendungan dan perdarahan. Lumen usus menyempit, dan
permukaan selaput lendir usus berisi cairan sereus granular hingga mukus kental
berwarna kuning hingga kecoklatan, Limfoglandula mesentericus.
Secara histopatologi, terlihat adanya degenerasi dan nekrosis sel epitel usus yang sangat
parah dan ditandai dengan atropi dan hilangnya vili dan kripta usus. Pada vili usus
terlihat ada pembendungan, atropi dan badan inklusi yang bersifat eosinofilik. Nekrosis
sel juga terjadi pada jaringan limfoid, limfoglandula, limpa dan timus. Pada sumsum
tulang belakang, terjadi nekrosis pada mieloid dan erythoid blast.
Pencegahan infeksi CPV dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi, dan hal
ini telah terbukti merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah endemik CPV di
banyak negara. Meskipun demikian di Indonesia, kegagalan vaksinasi CPV masih sering
terjadi. kegagalan vaksinasi dapat mencapai 20%, sehingga diperlukan vaksinasi ulang.
Hal ini menyebabkan biaya perawatan seekor anjing meningkat. Untuk itu perlu dikaji,
mengapa vaksinasi CPV perlu dilakukan beberapa kali, dan kapan waktu yang tepat
untuk melakukan vaksinasi sehingga respon imunitas yang dihasilkan dapat benar-benar
melindungi anjing tersebut dari infeksi CPV. Untuk mendapatkan gambaran status imun,
diperlukan perangkat diagnosis yang cepat, mudah dan murah untuk mengevaluasi
vaksinasi yang dilakukan.
Hingga saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 4 jenis vaksin CPV komersial
impor yang telah beredar, baik vaksin aktif (modified live vaccine) maupun inaktif.
Akhir-akhir ini telah dikembangkan vaksin rekombinan CPV yang juga dapat
memberikan respon imun yang maximum, tetapi tidakdapat tumbuh pada sel mamalia,
sehingga kemungkinan terjadinya mutasi diantara CPV dapat dihindarkan. Pada kucing
pemberian vaksin CPV pernah dipakai untuk mencegah kasus Feline Panleucopenia
(FPL) karena terdapat persamaan antigenik dan reaksi imunologinya. Virus CPV
diketahui cukup resisten terhadap desinfektan, sehingga pemberian desinfektan seperti
lisol atau karbol tidak banyak membantu mencegah infeksi CPV.
Penelitian membuktikan bahwa fumigasi dengan formalin atau pemberian sodium
hipoklorit sebagai desinfektan untuk mendesinfeksi kandang dan alat makan lainnya
sangat dianjurkan. Pengobatan secara simptomatik dapat diberikan terutama pemberian
cairan elektrolit akibat muntah dan diare, disamping pemberian diuretik dan stimulan
jantung apabila terlihat adanya miokarditis.
IMUNITAS
Penelitian membuktikan bahwa maternal antibodi dan antibodi yang dibentuk
akibat infeksi alam sangat berperan melindungi anjing dari infeksi CPV. Antibodi yang
terdapat pada hewan yang sembuh dari CPV, ternyata memberikan titer antibodi yang
tinggi dan bertahan sampai 16 bulan setelah infeksi. Berlainan dengan titer yang tinggi
akibat vaksinasi, tidak menjamin dapat melindungi anjing terhadap infeksi CPV
selanjutnyakarena titerantibodi akan menurun, tergantung pada umur berapaanjing
tersebut divaksinasi. Umumnya vaksinasi anak anjing yang dilakukan pada umur
dibawah 3 bulan, akan mendapat vaksinasi ulang 1 bulan setelah vaksinasi pertama.
Respon imun secara humoral pada anjing dicapai pada 5 hari PI dan antibodi
tertinggi dicapai 7–10 hari setelah infeksi. Apabila anjing tersebut sembuh, titer antibodi
yang tinggi dapat bertahan sampai lebih dari 1 tahun level proteksi antibodi terhadap
CPV pada titer lebih dari 80 pada uji HI. Adanya antibodi IgA pada usus maka
pembentukan imunitas lokal terhadap CPV akan menjadi penting dalam menimbulkan
proteksi terhadap infeksi CPV
Respon imun yang baik setelah vaksinasi adalah 1 minggu dan mencapai puncak
setelah 3 minggu. Namun pada kenyataannya di Indonesia, respon imun tersebut baru
dapat terjadi lebih dari 1 minggu dengan menggunakan vaksin komersial. Akhir-akhir ini
telah dikembangkan vaksin Parvovirus yang dikombinasikan dengan agen virus dan
bakteri lainnya seperti distemper, leptospira, rabies dan hepatitis yang merupakan vaksin
multivalen inaktif dari vaksin Parvovirus secara komersial. Pemberian vaksin parvovirus
multivalen ini ternyata tidak memberikan titer antibodi yang sama tinggi dengan
pemberian vaksin inaktif parvovirus monovalen. Hal ini dapat disebabkan karena
komponen lainnya selain virus parvovirus yang terdapat dalam vaksi multivalen dapat
menekan respon imun terhadap virus parvovirus, sehingga titer yang dihasilkan vaksin
multivalen lebih rendah dari vaksin monovalen. Hasil ini ditunjang oleh penelitian yang
menyatakan bahwa persentase jumlah anak anjing yang mengalami serokonversi lebih
banyak terjadi pada anak anjing yang divaksinasi dengan vaksin Parvovirus monovalen
dibanding dengan vaksin multivalen.
Bahkan efek kemoterapi pada pengobatan penyakit tumor pada anjing tidak
berpengaruh terhadap titer antibodi yang dihasilkan akibat vaksinasi. Dari data tersebut
dapat diterapkan dalam praktek sehari-hari bahwa pemberian vaksin multivalen terutama
pada vaksinasi primer tidak dianjurkan, dengan temuan di lapang yang menunjukkan
bahwa kegagalan vaksinasi terjadi pada pemberian vaksin yang multivalen sebagai
vaksinasi primer.
Kegagalan vaksinasi CPV pada anjing dapat disebabkan oleh beberapa hal
diantaranya waktu vaksinasi yang tidak tepat, atau tidak cukupnya antibodi yang
dihasilkan untuk melindungi anjing dari serangan CPV. antibodi akan diturunkan dari
induk ke bayi anjing melalui plasenta dan kolustrum yang mengandung sekitar 90%
antibodi CPV bawaan (maternal antibodi). Setelah bayi anjing menyusui, bayi anjing
mempunyai titer antibodi CPV sekitar 50% darititer induknya pada uji HI, dan akan
menurun sesuai dengan waktu paruhnya yaitu 9,7 hari. Apabila titer antibodi dengan HI
pada bayi anjing lebih dari 80, maka bayi anjing itu akan terlindungi dari infeksi CPV.
Pada saat ini vaksinasi CPV pada anjing tersebut tidak diperlukan, karena apabila
anjing tersebut divaksin ulang, maka titer antibodi akan menurun. Penelitian
membuktikan bahwa semua antibodi CPV yang titernya lebih dari 10 pada uji HI akan
terganggu/terhambat bila diberi vaksin baik vaksin aktif maupun vaksin inaktif dengan
CPV atau FPL. Untuk itu perlu diketahui dengan pasti kapan waktu yang tepat untuk
melakukan vaksinasi primer dan ulangan sehingga kegagalan vaksinasi dapat diperkecil.
Hasil pengamatan di lapang, menunjukkan bahwa vaksinasi CPV primer dimulai
antara umur 6–8 minggu dan pengulangan dilakukan 4 minggu setelah vaksin primer.
Maternal antibodi mulai menurun dengan titer kurang dari 40, pada umur 8 minggu,
sehingga pemberian vaksin umur 8 minggu diharapkan tidak efektif bahkan dapat
mengganggu respon imun vaksinasi yang diberikan. Namun apabila infeksi CPV telah
terjadi sebelum umur 8 minggu, dimana titer antibodi telah dibawah 80, maka
kemungkinan klinis CPV terjadi sangat besar. Apakah pemberian vaksinasi primer pada
umur tersebut sudah tepat untuk anjing-anjing di Indonesia, kiranya perlu dilakukan
evaluasi lebih lanjut.
Beberapa peneliti mengajurkan penggunaan vaksin dengan titer tinggi 107
TCID50/mL (50% dosis infektif kultur jaringan). Tapi satu penelitiian mengungkapkan
vaksinasi dengan vaksin CPV-2b modified-live dengan titer 104,5 TCID50/dosis cukup
efektif untuk mengatasi MDA.
Canine parvovirus sebagai agen enteritis hemoragik pada anjing. Wabah infeksi
CPV dilaporkan terjadi pada tahun 1978 dibanyak bagian dunia. Penyakit ini sangat
menular, sangat penting untuk mengendalikan penyakit ini dengan vaksinasi dengan
vaksin hidup atau hidup. Antibodi yang diturunkan secara maternal memainkan peran
peninyg dalam melindungi anak anjing pada periode awal kehidupan dan MDA juga
menggangu keberhasilan vaksinasi. Vaksin CPV yang tidak aktif tidak begitu berhasil
mencegah CPV sub klinis, namun sangat aman. Sedangkan vaksin CPV hidup yang di
modifikasi efektif bahkan dengan antibodi maternal.
E. Kesimpulan
1. Penyakit yang menyerang gastrointestinal dapat disebabkan oleh
bakteri, virus, parasit atau protozoa
2. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri, parasit atau protozoa dapat
diterapi dengan obat seperti antibiotik, antihelmintes atau antiprotozoa
3. Penyakit yang disebabkan oleh virus dapat diatasi dengan vaksinasi

F. Daftar Pustaka
Glover, S. 2012. Canine parvovirus type 2b vaccine protects puppies with
maternal antibodies to cpv. Intern J Appl Res Vet Med, vol. 10. No.3.
Sendow, I. 2003. Canine parvovirus pada anjing, wartazoa vol. 13. No. 2