Anda di halaman 1dari 20

A.

JUDUL PRAKTIKUM
Pembuatan Simplisia dan Ekstrak
B. TUJUAN
a. Meningkatkan kemampuan dalam memilih sampel dari bahan
herbal dengan benar
b. Meningkatkan kemampuan dalam melakukan preparasi simplisia
bahan herbal
c. Memahami tentang beberapa cara pembuatan ekstrak dan dapat
melakukan pembuatan ekstrak dengan cara maserasi
C. HASIL PRAKTIKUM
1. Alat dan bahan praktikum
N Gambar Nama dan Fungsi
o
1. Pisau untuk mengubah bentuk bahan
menjadi ukuran yang lebih kecil atau tipis
dengan cara
pemotongan/pengupasan/pemecahan/peny
erutan
2. Sendok untuk mengaduk ekstrak.
Talenan sebagai alas atau landasan saat
proses pemotongan/perajangan
3. Mortir dan stemper untuk menghaluskan
dan menghomogenkan bahan obat
4. Loyang sebagai wadah saat proses
pemanasan dengan oven
5. Baskom untuk wadah bahan saat proses
pencucian
6. Blender untuk menghaluskan bahan
ekstrak

1
7. Botol kaca utnuk tempat ekstrak yang
sudah jadi

8. Timbangan untuk menimbang berat


rimpang

9. Timbangan untuk menimbang berat daun

10 Oven untuk mengeringkan bahan dengan


. suhu tertentu

11 Etanol sebagai pelarut cair


.

2
12 Rimpang laos sebagai bahan simplisia
.

13 Daun sirih sebagai bahan simplisia


.

14 Simpilisa salam sebagai bahan ekstrak


.

15 Kertas perkamen sebagai alas simplisia


. salam setelah diblender dan ssebelum
diletakkan dalam botol kaca

2. Metode kerja saat praktikum


a. Pembuatan simplisia dari rimpang laos

No. Gambar Keterangan


1. Bahan berupa rimpang laos
dikumpulkan. Kemudian sortasi
basah pada laos yaitu dengan
menghilangkan bagian yang tidak
layak maupun benda asing laiinya

3
2.. Timbang berang rimpang laos.
Hasilnya adalah 250 gram. Lalu
rimpang laos dicuci dengan air
mengalir hingga bersih dari kotoran.

3. Rimpang laos ditiriskan untuk


mengurangi kadar air

4. Perubahan bentuk bahan utnuk


simplisia yaitu laos dipotong menjadi
potongan yang lebih kecil dan tipis.

5. Laos yang sudah dipotong disusun


diatas loyang dengan rapi. Hingga
loyang penuh.

6. Kemudian loyang yang berisi


rimpamng laos dimasukkan ke dalam
oven dengan suhu 50oC. Tunggu
hingga kering dan menjadi simplisia.

4
2. Pembuatan simplisa dari daun
No. Gambar Keterangan
1. Daun sirih dikumpulkan. Kemudian
dilakukan sartasi basah yaitu dengan
memisahkan daung dengan
tangkainya sehingga hanya tersisa
daunya saja.

2. Kemudian daun sirih ditimbang


beratnya. Hasil penimbangan adalah
37,2 gram. Setelah itu, daun dicuci
hingga bersih dengan air mengalir

3. Lalu daun ditiriskan dengan lap agar


kadar air berkurang.

4. Setelah ditiriskan, daun disusun


diatas loyang dengan rapi hingga
loyang terisi penuh

5. Kemudian jemur daun dibawah


matahari hingga kadar airnya kurang
dari 3 %

5
3. pembuatan ekstrak dari simplisia daun salam
No. Gambar Keterangan
1. Masukkan simplisia salam kedalam
mortar. Kemudian haluskan
menggunakan distemper.

2. Lalu simplisia yang sudah hancur,


dimasukkan ke dalam blender untuk
proses penghalusan yang lebih
lanjut.

3. Simplisia halus dikeluarkan dari


blender, kemudian dituang diatas
pengayak.

4. Simplisia disortasi dengan cara


diayak untuk mendapatkan ukuran
serbuk yang seragam. Proses
pengayakn dilakukan diatas kertas
perkamen.

6
5. Simplisia hasil ayakan dipindahkan
ke kertas perkamen lain untuk peoses
penimbangan. Hasil berat simplisia
adalah 5,01 gram.

6. Simplisa yang sudah ditimbang


dimasukkan ke dalam botol kaca
untuk proses ekstraksi.

7
7. Ambil cairan penyari untuk
ekstraksi. Cairan yang digunakan
adalah etanol sebanayak 40 ml.

8
8. Kemudian tuang cairan penyari
kedalam botol kaca yang berisi
simplisia.

10. Aduk campuran simplisia dan etanol


hingga rata.

11. Lalu setelah proses pengadukkan,


tutup botol dengan rapat. Pemberian
etanol juga dilakukan pada dua hari
berikutnya, hingga simplisia menjadi
ekstrak yang sesungguhnya.

D. PEMBAHASAN
1. Pengertian simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipakai sebagai obat
yang belum mengalami proses pengolahan apapun juga atau baru
9
mengalami proses setengah jadi, seperti pengeringan (Prasetyo,
2013).
2. Macam-macam simplisia beserta contohnya
Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia hewani,
dan simplisia pelikan atau mineral. Simplisia nabati adalah
simplisia berupa tanaman utuh, bagian tanaman, atau eksudat
tanaman. Eksudat tanamn adalah isi sel yang secara spontan keluar
dari tanaman atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya.
Bisa pula disebut zat-zat nabati lainnya dengan cara tertentu
dipisahkan dari tanamannya (Maryani, 2011). Sumber simplisia
nabati sampai saat ini berupa tumbuhan liar dan tanaman budidaya.
Dengan demikian, contoh simplisia nabati yaitu rimpang
temulawak, rimpang kunyit, rimpang kencur dan sebagainya
(Afifah, 2010).

(Paramawati, 2016) (Afifah, 2010)


Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh,
bagian hewan, atau zat-zat yang bergunakan yang dihasilkan oleh
hewan dan belum berupa zat kimia murni (). Contoh dari simplisia
hewani adalah madu (Mel depuratum) yang dihasilkan dari lebah
madu (Apis mellifera) (Suranto, 2004). Selain madu, simplisia
hewan lainnya adalah minyak ikan (Oleum iecoris asselli) yang
berasal dari ikan laut dingin dan mengandung asam lemak omega 3
(Tjay, 2007). Ada pula Adaps lanae yang merupakan lemak bulu
domba, mengandung kholesterol kadar tinggi dalam bentuk ester
dan alkohol, sehingga dapat mengabsorbsi air (Purwatiningrum
dkk., 2015)

10
(Suranto, 2004) (sumber: Blogspot)

(sumber: Blogspot)
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa
bahan pelikan atau mineral yang belum atau telah diolah dengan
cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni, contohnya
serbuk seng dan serbuk tembaga (Maryani, 2011).

(sumber: Blogspot)
3. Nama latin bagian tanaman dalam penyebutan simplisia
No. Nama latin Bagian tumbuhan
1. Radix Akar
2. Rhizome Rimpang
3. Tubera Umbi
4. Flos Bunga
5. Fructus Buah
6. Semen Biji
7. Lignum Kayu
8. Caulis Batang
9. Folia Daun
10. Herba Seluruh tanaman
(Gunawan, 2004)

11
4. Tahapan memperoleh simplisia
a. Pengumpulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dalam simplisia berbeda-beda,
antara lain tergantung pada bagian tanaman yang
digunakan, umtu tanaman atau bagian tanaman saat panen,
waktu panen, dan lingkungan tempat tumbuh (Maryani,
2011).
b. Sortasi basah
Kegiatan sortasi perlu dilakukan untuk membuang
bahan lain yang tidak berguna atau berbahaya. Misalnya
rumput, kotoran binatang, bahan-bahan yang busuk, dan
benda lain yang bisa mempengaruhi kualitas simplisia
(Maryani,2011).
c. Pencucian
Agar bahan baku bersih dan bebas dari tanah atau
kotoran yang melekat, harus dilakukan pencucian.
Pencucian dapat menggunakan air PDAM, air sumur, atau
air sumber yang bersih. Bahan simplisia yang mengandung
zat yang mudah larut dalam air sebaiknya dicuci sesingkat
mungkin (Maryani, 2011).
d. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami
proses perajangan. Perajangan bahan simplisia dilakukan
untuk mempermudah pengeringan, pengepakan, dan
penggilingan. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau
atau mesin pemotong khusus, sehingga diperoleh irisan
tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki atau
seragam (Maryani, 2011).
e. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah mendapatkan simplisia
yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam
waktu yang lama. Mengurangi kadar airndan menghentikan
reaksi enzimatik bisa mencegah penurunan mutu atau
kerusakan simplisia (Maryani, 2011).
Pengeringan dilakukan dengan menggunakan sinar
matahari atau menggunakan alat pengering. Hal-hal yang
perlu diperhatikan selama proses pengeringan adalah suhu
pengeringan, kelembapan udara, aliran udara, waktu
pengeringan dan luas permukaan bahan (Maryani,2011).

12
f. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan merupakan tahap akhir
pembuatan simplisia. Tujuan sortasi adalah untuk
memisahkan benda-benda asing, seperti bagian-bagian
tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran
lain yang masih ada da tertinggal. Proses ini dilakukan
sebelum simplisia dibungkus atau dikemas dan disimpan
(Maryani, 2011)
g. Pengepakan dan penyimpanan
Tujuan pengepakan dan penyimpanan adalah untuk
melindungi agar simplisia tidak rusak atau berubah
mutunya karena beberapa faktor, baik dari dalam maupun
dari luar, seperti cahaya, oksigen, reaksi kimia intern,
dehidrasi, penyerapan air, kotoran, atau serangga. Jika
penyimpanan perlu dilakukan, sebaiknya simplisia
disimpan di tempat yang kering, tidak lembap, dan
terhindar dari sinar matahari langsung (Maryani, 2011)
h. Pemeriksaan mutu
Secara umum, simplisia harus memenuhi
persyaratan kadar air yang tepat, tidak berjamur, tidak
mengandung lendir, tidak berubah warna dan berubah bau,
serta tidak terserang serangga (Maryani, 2011)
5. Pengertian ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair yang dibuat
dengan cara mengambil sari simplisia menurut cara yang tepat dan
di luar pengaruh sinar matahari langsung (Sudewo, 2009).
6. Metode yang digunakan untuk ekstraki simplisia
a. Maserasi, yakni ,erendam bahan di dalam pelarut. Cara ini
sangat sederhana, tetapi membutuhkan waktu yang sangat
lama. Proses ekstraksi dengan cara ini hasilnya kurang
sempurna (Afifah, 2010).
b. Digesti, yakni ekstraksi dengan cara maserasi yang
dikombinasikan dengan pemanasan. Cara ini tidak cocok
untuk bahan aktif yang tidak tahan panas (Afifah, 2010).
c. Perkolasi, yakni ekstraksi dengan cara mengalirkan pelarut
melalui serbuk simplisia. Cara ini membutuhkan waktu
sangat lama (Afifah, 2010).
d. Sokletasi, yakni cara ekstraksi yang digunakan di
laboratorium. Cara ini tidak cocok untuk bahan aktif yang
tidak tahan panas (Afifah, 2010).

13
e. Maserasi dengan pengadukan. Cara ini meupakan cara yang
paling representatif dari cara lainnya. Ektraksi dengan cara
ini dapat mempercepat waktu yang dibutuhkan menjadi 6-
24 jam (Afifah, 2010).
f. Infundasi adalah ekstraksi dengan cara perebusan, dimana
pelarutnya adalah air pada temperature 96-98 °C selama 14-
20 menit (Afifah, 2010).
g. Refluks merupakan ekstraksi dengan pelarut yang
dilakukan pada titik didih pelarut tersebut, selama waktu
tertentu dan sejumlah palarut tertentu tertentu dengan
adanya pendinginan balik (kondensor). Umumnya
dilakukan tiga kali sampai lima kali pengulangan proses
pada residu pertama agar proses ekstraksinya sempurna
(Afifah, 2010).
7. Parameter pengukuran (standardisasi) kualitas ekstrak
a. Parameter non spesifik
 Penetapan kadar air
Penertapan kadar air dilakukan untuk memberikan
batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan
air. Nilai maksimal yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi. Kadar air yang dipersyaratkan
yaitu < 10% (Zainab dkk., 2016).
 Penetapan kadar abu
Penetapan kadar abu dan abu tidak larut asam
bertujuan untuk memberikan gambaran kandungan mineral
internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai
terbentuknya ekstrak dan untuk mengontrol jumlah
pencermaran benda-benda anorganik (Zainab dkk., 2016).
 Penetapan kadar cemaran logam
Penetapan ini bertujuan untuk memberikan jaminan
bahwa ekstrak tidak mengandung logam berat melebihi
nilai yang ditetapkan, karena berbahaya untuk kesehatan
(Zainab dkk., 2016).
 Penetapan kadar cemaran mikroba
Penetapan kadar cemaran mikroba meliputi uji
angka lempeng total dan identifikasi mikroba patogen. Uji
angka lempeng total merupakan metode kuantitaif yang
digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba pada suatu
sampel (Zainab dkk., 2016).
 Susut pengeringan

14
Susut pengeringan bertujuan untuk memberikan
batasan maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang
hilang pada proses pengeringan (Rivai dkk., 2014).
b. Parameter spesifik
 Karakteristik spesifik ekstrak
Ekstrak yang diperoleh memiliki identitas yang
mendeskripsikan tata nama dan senyawa identitas ekstrak.
Deskripsi tata nama tanaman meliputi nama ekstrak, nama
latin tanaman (sistematika botani), bagian tanaman yang
digunakan dan nama tanaman Indonesia (Rivai dkk., 2014).
 Organoleptik
Ekstrak yang diperoleh diuji secara organoleptik,
menggunakan pengamatan panca indera untuk
mendeskripsikan bentuk, warna, rasa dan bau dari ekstrak
(Rivai dkk., 2014).
 Kadar senyawa yang larut dalam air
Sebanyak 4 g ekstrak dimaserasi selama 24 jam
dengan 100 ml air kloroforom LP menggunakan labu
bersumbat sambil dikocok selama 6 jam pertama dan
dibiarkan selama 18 jam kemudian disaring. Sejumlah 20
ml filtrat dituang ke dalam cawan penguap yang telah
ditara, kemudian diuapkan pada penangas air hingga
kering. Residu dipanaskan pada suhu 105⁰ C, dioven
selama 1 jam, kemudian dimasukan kedalam desikator dan
dibiarkan selama 10 menit, kemudian ditimbang. Ulangi
perlakuan sampai didapatkan bobot yang konstan. Kadar
dalam persen senyawa yang larut dalam air dihitung
terhadap bobot ekstrak awal (Rivai dkk., 2014).
 Kadar senyawa yang larut dalam etanol
Sebanyak 5 g ekstrak dimaserasi selama 24 jam
dengan 100 ml etanol 95 % menggunakan labu bersumbat
sambil dikocok selama 6 jam pertama dan dibiarkan selama
18 jam, kemudian disaring cepat untuk menghindari
penguapan etanol. Sejumlah 20 ml filtrat dituang ke dalam
cawan penguap yang telah ditara kemudian diuapkan pada
penangas air hingga kering.
Residu dipanaskan pada suhu 105⁰ C di oven hingga bobot
tetap. Kemudian dimasukkan kedalam desikator dan
didibiarkan selama 10 menit, lalu ditimbang. Ulangi
perlakuan sampai didapatkan bobot yang konstan. Kadar

15
dalam persen senyawa yang larut dalam etanol dihitung
terhadap bobot ekstrak awal (Rivai dkk., 2014).
 Penetapan kadar minyak atsiri dalam sampel Piper betle L.
Timbang seksama sejumlah bahan yang
diperkirakan mengandung 0,3 ml minyak atsiri, masukkaan
kedalam labu alas bulat 1 L, tambahkan 200 sampai 300 ml
air suling, hubungkan labu dengan pendingin dan buret
berskala. untuk minyak atsiri dengan bobot jenis lebih kecil
dari 1, tambahkan 0,2 ml toluen atau xilen kedalam buret.
Panaskan dengan tangas udara, sehingga penyulingan
berlangsung lambat tetapi teratur. Setelah penyulingan
selesai, biarkan selama tidak kurang dari 15 menit, catat
volume minyak atsiri pada buret. Kadar minyak atsiri
dihitung dalam % v/b (Rivai dkk., 2014).
 Pemeriksaan minyak atsiri secara kromatografi gas
Alat kromatografi gas dilengkapi dengan detektor
ionisasi nyala dan kolom kaca 1,8 m X 4 mm berisi fase
diam S3 dengan ukuran partikel 100 mesh. Gunakan
nitrogen P atau helium P sebagai gas pembawa. Sebelum
digunakan kondisikan kolom semalam pada suhu 235º C
alirkan gas pembawa dengan laju aliran lambat. Atur aliran
gas pembawa dan suhu (± 120º C) sehingga baku internal
asetonitril tereluasi dalam waktu 5 menit sampai 10 menit
(Rivai dkk., 2014).
8. Pembahasan
Praktikum acara kedua mengenai pembuatan simplisia dan
ekstrak. Bahan alam yang digunakan yaitu rimpang laos, daun
sirih, dan simplisia daun salam. Pertama, pembuatan simplisia
dengan bahan dasar rimpang laos. Seperti yang telah dijelaskan
oleh Maryani (2011) bahwa langkah awal pembuatan simplisia
adalah pengumpulan bahan. Sumber bahan didapatkan melalui
pembelian di pasar tradisional. Kemudian rimpang laos disortasi
basah dengan mencabuti bagian yang tidak berguna, sebagaimana
tujuan dari sortasi itu sendiri yaitu membuang bagian bahan yang
tidak digunakan atau berbahaya (Maryani, 2011).
Setelah itu menurut Budiman (2013), rimpang dicuci
dengan air bersih kemudian dipotong melintang kira-kira
sepanjang 5 cm sampai 6 cm. Kemudian dibelah dengan ketebalan
antara 1,5 cm sampai 3 cm. Selanjutnya dikeringkan dipanas
matahari dan ditimbang. Sedangkan saat praktikum setelah

16
disortasi basah, dilakukan penimbangan berat rimpang laos dengan
hasilnya adalah 250 gram. Setelah ditimbang, rimpang dicuci
dengan air bersih yang mengalir dan ditiriskan dengan cara di
usapkan pada kain bersih. Kemudian rimpang laos dipotong
dengan posisi yang tidak pasti (melintang atau membujur) dan
ketebalan yang hanya diperkirakan tebal dan tipisnya untuk
percepatan proses pengeringan. Proses pengeringan dilakukan
dengan dua cara yaitu mengunakan oven dengan suhu 50oc sampai
rimpang laos kering dan pengeringan dengan sinar matahari.
Setelah pengeringan dapat dilakukan sortasi kering untuk
memastikan tidak adanya benda asing yabg tertinggal. Jika hal itu
sudah dilakukan maka simplisia dan dibungkus dan disimpan.
Perbedaan dengan literatur terdapat pada posisi pemotongan,
ketebalan potongan dan waktu penimbangan bahan (literatur
dilakukan diakhir proses, sedangkan saat praktukum diawal proses
pembuatan simplisia).
Kedua, pembuatan simplisia dari daun sirih. Langkah-
langkahnya sama seperti pada pembuatan simplisia dari rimpang
laos yaitu pengumpulan bahan yaitu dari pasar tradisional.
Kemudian sortasi basah, penimbangan berat dan hasilnya adalah
37,2 gram. Setelah itu daun sirih dicuci bersih dan ditiriskan, lalu
daun sirih dikeringkan dengan sinar matahari selama kurang lebih
tiga hari. Kemudian simplisia daun sirih dapan dibungkus dan
disimpan.

Ketiga, pembuatan ekstrak dari simplisia daun salam.


Bahan berupa simplisia telah disediakan dilaboratorium. Ekstraksi
menggunakan metode maserasi, seperti yang dijelaskan literatur
bahwa metode ini adalah metode paling sederhana namun
membutuhkan waktu yang lama. Langkah awal pembuatan ekstrak
adalah memecah atau menghancurkan daun menjadi bagian yang
lebih kecil menggunakan mortar dan distemper. Kemudian
simplisia dipindahkan keblender untuk proses penghalusan menjadi
serbuk. Setelah itu serbuk diayak dan dimasukkan kedalam botol
kaca. Serbuk tersebut ditambahkan dengan etanol sebanyak 40 ml,
diaduk dan ditutup. Biarkan selam 24 jam. Hari berikutnya
ditambhakna lagi sengan etanol dengan jumlah dan perlakukan
yang sama. Hal tersebut dilakukan selama tiga hari hingga daun
salam menjadi ekstrak yang sesungguhnya dan kental. Sedangkan
menurut Studiawan (2005) Daun tersebut dikeringkan dengan cara
diangin-anginkan, kemudian dihaluskan dan diayak sampai
17
diperoleh serbuk kering. Serbuk kering daun salam sebanyak 2 kg
dimaserasi dengan etanol 96% selama 24 jam, kemudi an disaring,
lalu residu dimaserasi lagi. Pekerjaan tersebut diulang, sehingga
secara keseluru han maserasi dilakukan selama 4 kali 24 jam.
Ekstrak cair yang diperoleh diuapkan dengan penurunan tekanan
memakai alat rotavapor sampai diperoleh ekstrak kering dan
ditimbang.

Kemudian standardisasi pada rimpang laos, daun sirih dan


daun salam. Pertama, parameter spesifik dan non spesifik pada
rimpang laos atau lengkuas. Parameter spesifik terdiri dari identitas
senyawa, organoleptik, dan senyawa terlarut dalam pelarut tertentu.
Identitas senyawa, rimpang lengkuas memiliki nama latin yaitu
Alpinia galanga dan karena bagian tanaman yang digunakan adalah
rimpang maka namanya menjadi Alpinia galanga rhizome.
Kemudian organoleptis menunjukkan bahwa ekstrak lengkuas
tampak berbentuk gel cokelat, bau khas lengkuas, tekstur kental
dan creamy (Taurina, 2013)

Kedua, parameter spesifik dan non spesifik daun sirih


(Piper betle L.). Pengamatan secara makroskopik daun tunggal,
warna coklat kehijauan sampai coklat, helaiaan daun berbentuk
bundar telur sampai lonjong, ujung meruncing, pangkal berbentuk
jantung atau agak bundar berlekuk sedikit, pinggir daun rata agak
menggulung kebawah, panjang 5 cm sampai 18,5 cm, lebar 3 cm
sampai 12 cm dan permukaan atas ratak, licin agak mengkilat. Uji
mikroskopik pada serbuk daun sirih terdapat kurtikula, epidermis
atas, hipodermis, sel minyak, palisade, epidermis bawah, rambut
kelenjer, rambut penutup, berkas pembuluh, parenkim, saluran
sizogen, kolekin, stomata dan mesofil (Rivai dkk., 2014).

Kadar air yang terkandung didalam sampel <10%. Proses


pengeringan simplisia bertujuan untuk menurunkan kadar air yang
terkandung sehingga simplisia tersebut tidak mudah ditumbuhi
kapang dan jamur sehingga dapat digunakan pada jangka waktu
yang lama. Susut pengeringan juga bertujuan untuk memberikan
batasan maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang
pada proses pengeringan (Rivai dkk., 2014).

Selain itu, kadar abu total tidak lebih dari 14 % dan kadar
abu tidak larut asam tidak lebih dari 7 %. Kadar sari larut etanol
dan kadar sari larut air simplisia daun sirih hijau tidak kurang dari

18
4,5 %, kadar sari larut air tidak kurang dari 14 % (Rivai dkk.,
2014).

Ketiga parameter spesifik dan non spesifik pada daun salam


yang terdiri dari identitas ekstrak, organoleptis dan kadar senyawa
terlarut dalam pelarut tertentu. Identitas ekstrak terbagi atas nama
ekstrak yaitu ekstrak daun salam, nama latin tumbuhan adalah
Syzygium polyanthum, bagian tumbuhan yang digunakan adalah
daun atau folia dan nama Indonesia tumbuhan adalah daun salam
(Taurina, 2013).
Organoleptis daun salam tampak bentuk ekstrak kering,
warna hitam kecokelatan, bau aromatis lemah dan terasa pahit.
Untuk penentuan kadar senyawa terlatut dalam pelarut tertentu
harus dihitung dengan rumus khusu yang memerlukan hasil
pengukuran (Taurina, 2013).

E. KESIMPULAN
a. Simplisia terbagi atas simplisia nabati, hewani dan mineral atau
pelikan.
b. Metode ekstraksi terdiri dari maserasi, sokletasi, perkolasi, refluks
dan sebagainya.
c. Metode pembuatan simplisia terdiri dari pengumpulan bahan,
sortasi basah, pencucian, penirisan, pengeringan, sortasi kering,
pengepakan dan penyimpanan.
d. Standardisasi kulaitas ekstrak terdiri atas parameter spesifik dan
non spesifik.

F. DAFTAR PUSTAKA
Afifah, E. 2010. Khasiat dan Manfaat Temulawak, Rimpang Penyembuh
Aneka Penyakit. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Anonim. 2016. http://www.alodokter.com/manfaat-minyak-ikan-dalam-
mengurangi-risiko-penyakit. Diakses 22 Oktober 2017.
Anonim. 2015. https://dir.indiamart.com/impcat/lanolin.html?biz=10.
Diakses 22 Oktober 2017
Anonim. 2017. http://fransiskashinta90.blogspot.co.id/2017/02/definisi-
dan-jenis-jenis-simplisia.html. Diakses 22 Oktober 2017.
Budiman, A., Mufrod, dan Shabur, T. 2013. Pengaruh Variasi Basis Salep
Minyak Lengkuas (Alpina galnga (L.) swartz.) Terhadap Sifat
Fisik Salep dan Aktivitas Anti Jamur. Jurnal Pharmacy, Vol. 10
No. 02.

19
Gunawan, D. dan S. Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid
1. Jakarta: Penebar Swadaya.
Maryani, H., dan Suharmiati. 2011. Khasiat dan Manfaat Daun Dewa dan
Sambung Nyawa. Jakarta: AgroMedia Pustaka
Paramawati, R., dan Retno, H. D. 2016. Khasiat Ajaib Daun Avokad.
Jakarta: Penerbit Swadaya.
Purwatiningrum, H., Nurcahyo, H., dan Riyanta, A. B. 2015. Pengaruh
Konsentrasi Basis Adeps lanae Terhadap Sifat Fisik Krim
Rebusan Meniran (Phylanthus urinaria, Linn). ejournal
politektegal, Vol. 4, No. 2.
Rivai, H., Namda, P. E., dan Fadhilah, H. 2014. Pembuatan dan
Karakterisasi Ekstrak Kering Daun Sirih Hijau (Piper betle L.).
Jurnal Farmasi Higea, Vol. 6, No. 2.
Sudewo, B. 2009. Buku Pintar Hidup Sehat Cara Mas Dewo. Tangerang:
AgroMedia Pustaka.
Suranto, A. 2004. Khasiat dan Manfaat Madu Herbal. Tangerang:
AgroMedika Pustaka
Tjay, T. H., dan Rahardja, K. 2007. Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek
Sampingnya. Jakarta: Elex Media Komputindo
Zainab, Gunanti, F., Witasari, H. A., Edityaningrum, C. A., Mustofa, dan
Murrukmihadi, M. 2016. Penetapan Parameter Standarisasi Non
Spesifik Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa
bilimbi L.). Prosiding Rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan
Ikatan Apoteker Indonesia. E-ISSN: 2542-0474.

G. LAMPIRAN

20