Anda di halaman 1dari 116

Next

Back
PEDOMAN
PERSIAPAN UJI KOMPETENSI NASIONAL
P R O G R A M S T U D I D I P L O M A I I I K E P E R AWATA N

PANITIA UJIAN KOMPETENSI NASIONAL


MAHASISWA PENDIDIKAN KEPERAWATAN DAN PENDIDIKAN KEBIDANAN
DIREKTORAT JENDERAL PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN
KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
2018

i Next
TIM PENYUSUN OLEH:

1. ALI HAMZAH, SKp. MNS POLTEKKES KEMENKES BANDUNG


2. DINARTI, SKp. MAP POLTEKKES KEMENKES JAKAKTA I
3. YETI RESNAYATI, SKp. MKes POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III
4. SARI MULYATI, SKp. M.Kes AKPER PEMDA SERANG
5. YUNI ASTUTI, SKp. M.Kes AKPER SUMBER WARAS JAKARTA
6. RITANTI, SKp. M.Kep., Sp.Kep.Kom. AKPER PELNI JAKARTA
7. Ns. SUARSE DEWI, M.Kep, Sp.Kep.MB AKPER FATMAWATI JAKARTA
8. Ns. LILY HERLINA, SKp. M.Kep., Sp.Kep.Kom PRODI D. III KEPERAWATAN UMJ
9. Ns. LELA LARASATI, M.Kep., Sp.Kep.Mat AKPER RSPAD GATOT SOEBROTO

KONTRIBUTOR:

IMAM SUBIYANTO, SKP, NS, M.Kep., Sp, KMB


PRAMITA IRIANA, SKp, M.Biomed.
RIDWAN SETIAWAN SKp. M. Kes.
NIENIEK RITIANINGSIH M. Kep. Sp. KMB

EDITOR:

ALI HAMZAH, SKp. MNS


MASFURI, SKp, MN

Back ii
KATA PENGANTAR

Tenaga kesehatan adalah salah satu faktor terpenting dalam mendukung fungsi sistem pelayanan kes-
ehatan. Dibutuhkan tenaga kesehatan yang kompeten dan berdedikasi dalam jumlah dan sebaran yang baik
untuk dapat menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Peningkatan kualitas pendidikan tenaga kese-
hatan adalah salah satu langkah strategis untuk meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan berkualitas dan
memiliki kompetensi yang relevan untuk menjalankan sistem pelayanan kesehatan. Salah satu upaya untuk
mendorong percepatan peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan tenaga kesehatan adalah dengan
meningkatkan kendali mutu lulusan pendidikan. Uji kompetensi nasional adalah salah satu cara efektif untuk
meningkatkan proses pendidikan dan menajamakan pencapaian relefansi kompetensi sesuai dengan standar
kompetensi yang diperlukan masyarakat.

Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan, keterampilan, dan perilaku peserta didik
pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi bidang Kesehatan. 
Uji Kompetensi Na-
sional diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi bekerja sama dengan Organisasi Profesi. Penyelenggaraan
dilaksanakan oleh Panitia Penyelenggara yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan
Pendidikan Tinggi. Ujian ini ditujukan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang memenuhi standar
kompetensi kerja. 
Selain hal tersebut, Uji Kompetensi Nasional dapat dijadikan sebagai bagian dari penjami-
nan mutu pendidikan.

Berdasarkan pada UU Nomor 12 Tahun 2012 pasal 44 telah dijelaskan tentang kewenangan pemberian
sertifikat kompetensi, namun belum dijelaskan mekanisme proses sertifikasinya. Secara khusus telah terbit UU
No 36 tahun 2014 tentang tenaga Kesehatan dan UU No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, secara lebih
tegas mengamanatkan adanya uji kompetensi secara nasional. Sesuai dengan pasal 21 ayat (7) UU No. 36 ta-
hun 2014 atau pasal 16 ayat (7) UU No. 38 tahun 2014, tata cara pelaksanaan Uji Kompetensi diatur dengan
Peraturan Menteri , dalam hal ini adalah Kementerian 
Ristek dan DIkti.

Untuk memperjelas pelaksanaan Uji Kompetensi Nasional bagi para calon peserta, maka perlu disusun
buku ini. Diharapkan buku ini dapat dijadikan acuan bagi persiapan calon peserta memahami proses pendaft-
aran, persiapan menghadapi soal ujian, dan cara mengerjakan soalnya dengan lebih baik.

iii Next
DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul ................................................................................................................................... i
Tim Penyusun .................................................................................................................................... ii
Kata Pengantar ................................................................................................................................... iii
Daftar Isi ............................................................................................................................................ iv

BAB I : Pendaftaran Uji Kompetensi ............................................................................................ 5


BAB II : Cara Mengerjakan Soal Ujian Kompetensi ..................................................................... 6
BAB III : Kisi-kisi (Blueprint) Soal Ujian Kompetensi .................................................................. 8
BAB IV : Lingkup dan Isi Materi ..................................................................................................... 10
A. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan medikal bedah (KMB) .......................................... 10
B. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Maternitas ............................................................. 14
C. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Anak ...................................................................... 15
D. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Jiwa ....................................................................... 17
E. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Manajemen Keperawatan ...................................... 19
F. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Gawat Darurat (KGD) ............................................ 20
G. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Keluarga ................................................................ 22
H. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Gerontik ................................................................ 24
I. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Komunitas .............................................................. 26

BAB V : Latihan Soal Ujian Kompetensi Nasional D. III Keperawatan ......................................... 29


BAB VI : Kunci Jawaban, Pembahasan, dan Rujukan Latihan Soal Ujian Kompetensi
Nasional D. III Keperawatan............................................................................................. 61

Back iv
BAB I
PENDAFTARAN UJI KOMPETENSI

Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

C
alon peserta didaftarkan secara kolektif oleh nempuh 4 semester atau minimal 80 SKS.
program studi calon peserta. Mekanisme
4. Jumlah SKS yang telah diselesaikan untuk Pro-
pemberitahuan dari program studi kepada
gram Profesi Ners adalah 2 semester atau mini-
para calon peserta (lulusan) bermacam-macam ter-
mal 25 SKS dengan kurikulum 2008 atau minimal
gantung pengelola program studi. Informasi menge-
36 SKS dengan kurikulum KBK 2010. Syarat ini
nai persyaratan, waktu dan biaya pendaftaran dapat
ditambahkan dengan sudah lulus sarjana keper-
didapat di laman www.ukperawat.ristekdikti.go.id.
awatan (S.Kep) yang dibuktikan dengan IPK sar-
Seluruh persyaratan peserta harus dipenuhi, jika ada
jananya (S.Kep).
salah satu dari persyaratan tersebut tidak dipenuhi,
proses pendaftaran tidak dapat dilakukan. 5. Mahasiswa harus terdaftar di Pangkalan Data Per-
guruan Tinggi atauPDDikti (https://forlap.ristek-
Berikut ini adalah ketentuan pendaftaran pe-
dikti.go.id).
serta uji kompetensi nasional secara daring (online):
6. Mahasiswa dari program studi atau institusi yang
1. Peserta Uji Kompetensi:
sedang dalam proses pembinaan oleh Kemristek-
a. Mahasiswa yang telah menyelesaikan pro- dikti, tidak diperkenankan mengikuti Uji Kompe-
gram pendidikan dari institusi pendidikan tensi Nasional. Status boleh tidaknya mahasiswa
yang memiliki izin operasional program tersebut diberitahukan kepada Panitia oleh Ko-
studi dari Dirjen Dikti yang masih berlaku. pertis bagi PTS dan oleh Direktorat Penjaminan
Yang dimaksud dengan menyelesaikan pro- Mutu bagi PTN.
gram pendidikan ialah sudah menyelesaikan
seluruh proses pembelajaran baik di kelas,
laboratorium dan klinik-komunitas namun
belum menerima ijazah saat didaftarkan.
Tanda bukti yang diperlukan adalah surat
keterangan yudisium bagi yang belum wisu-
da atau Ijazah bagi yang telah di wisuda.

b. Mahasiswa program DIII Kebidanan, DIII


Keperawatan dan Profesi Ners yang lulus
sejak 1 Agustus 2013, sudah memiliki ijazah
namun belum lulus uji kompetensi (retaker).

2. Jumlah SKS yang telah diselesaikan untuk Pro-


gram Diploma III Keperawatan program regular 6
semester atau telah menempuh minimal 110 SKS
dengan kurikulum tahun 2006 atau 108 SKS den-
gan kurikulum 2014. Untuk program khusus telah
menempuh 4 semester atau minimal 96 SKS.

3. Jumlah SKS yang telah diselesaikan untuk Pro-


gram Diploma III Kebidanan program regular 6
semester atau telah menempuh minimal 110 SKS
dengan kurikulum 2002 atau 96-110 SKS dengan
kurikulum 2011. Untuk program khusus telah me-
Back 5
BAB II
CARA MENGERJAKAN
SOAL UJI KOMPETENSI

Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

D
alam menghadapi ujian, peserta harus tetap mencari pilihan Kunci Jawaban yang paling tepat.
tenang, fokus dan percaya diri. Awali den-
6. Yang perlu diingat, semua pilihan tidak ada yang
gan do’a sebelum mengerjakan soal. Jangan
salah. Yang ada hanya rentang dari kurang tepat
berpikir apa yang tidak bisa, tapi pikirkan bahwa:
hingga sangat tepat, atau rentang baik dan sangat
Saya bisa. Berikut ini adalah beberapa cara praktis
baik. Pengecoh dibuat berdasarkan kenyataan
atau tips mengerjakan soal uji kompetensi nasional.
lapangan. Ketepatan pilihan Kunci Jawaban san-
1. Prioritaskan jawab soal yang mudah, jangan ter- gat dipengaruhi oleh pemahaman teori dan kata
paku pada soal yang sulit. Namun pada akhir kunci.
waktu ujian, pastikan semua soal dijawab dengan
7. Perhatikan kata-kata kunci dalam pertanyaan,
menggunakan logika umum. Kunci Jawaban be-
seperti diagnosa prioritas atau prioritas diagnosa,
nar nilai positive 1 dan tidak ada nilai negative
prioritas tindakan, tindakan terpenting atau tinda-
(pengurangan) untuk Kunci Jawaban yang salah,
kan prioritas. Bentuk lain bisa berupa kata-kata
maka isi semua Kunci Jawaban soal.
seperti tindakan pertama, tindakan awal, tindakan
2. Baca dengan cepat setiap kata. Kecepatan memb- segera, segera, awalnya, pertama, atau prioritas.
aca ideal untuk ujian nasional adalah 300 kata per Kata-kata kunci ini adalah modal untuk fokus
menit. Lebih cepat lebih baik. Baca setiap kata dan memilih Kunci Jawaban yang semua tampak be-
buatlah analisa dan keputusan hanya berdasarkan nar.
data dan pertanyaan yang tertulis saja.
8. Bacalah setiap pilihan Kunci Jawaban yang ter-
3. Waktu rata-rata yang digunakan untuk menjawab sedia sebelum menjawab. Eliminasi atau abaikan
soal adalah 60 detik. Perhatikan waktu yang tersi- pilihan Kunci Jawaban yang salah atau tidak
sa untuk memilih soal yang bisa dikerjakan den- mungkin. Fokuskan logika pada Kunci Jawaban
gan baik. Secara umum 60 detik dinggap waktu yang mungkin berdasarkan pada kata penting da-
yang cukup untuk mengerjakan satu soal. Jangan lam vignet dan kata kunci pertanyaan. Bila tidak
tergesa-gesa, fokus pada soal. yakin, baca ulang pertanyaan sebelum memutus-
kan pilihan.
4. Pahami struktur soal. Struktur soal terdiri atas:
vignet atau kasus dilanjutkan dengan pertanyaan 9. Dasar pilihan Kunci Jawaban disesuaikan dengan
dan diakhiri dengan 5 pilihan Kunci Jawaban (a, keadaan atau setting kasus dalam vignet.
b, c, d, e). Dalam soal uji kompetensi nasional, ha-
a. Prinsip umum adalah sesuai dengan teori
nya disediakan hanya 1 PILIHAN Kunci Jawaban
keperawatan (bio-psiko-sosial-spriritual) dari
benar. Berbeda dengan soal pada umumnya, da-
klien yang digambarkan dalam vignet. Prinsip
lam pilihan Kunci Jawaban TIDAK ADA semua
ini bergantung juga pada banyak hal, misaln-
Kunci Jawaban benar atau bukan salah satu Kunci
ya setting pelayanan.
Jawaban diatas.
b. Bila setting atau lokasi kejadian kasus berupa
5. Perhatikan vignette yang biasanya berisi kasus
kegawatdaruratan, maka cara umum memilih
klinis. Perhatikan 3 hal penting: keluhan uta-
prioritas berdasarkan masalah ABC (airway,
ma yang ditampilkan, data klinis yang disajikan
breathing, circulation). Perkecualian pendeka-
dan tempat pelayanan yang terjadi dalam vignet
tan ABC untuk algoritma Bantuan Hidup
tersebut. Kemampuan menghubunkan 3 hal pent-
Dasar yang CAB, berdasarkan katagori triase
ing tersebut dapat membantu mengarahkan untuk
yang berlaku (merah, kuning, atau hijau) atau
mengelimininasi Kunci Jawaban yang salah dan
masalah ethik keperawatan.
Back 6
Program Studi DIII Keperawatan

c. Bila kejadian kasus dalam vignet di ruang Bacalah Rujukan yang dimiliki untuk memahami
rawat atau non gawat darurat, hirarki kebutu- topik atau sumber rujukan lain seperti yang ter-
han Maslow (fisiologis, rasa aman, kasih say- dapat dalam buku ini.
ang hingga aktualisasi diri) dapat dijadikan
11. Pada setiap sub bidang ilmu, contohnya keper-
acuan memilih Kunci Jawaban yang benar.
awatan gawat darurat terdapat contoh soal. Kerja-
Dalam memilih kebutuhan fisiologis (berlaku
kanlah soal tersebut dengan tips nomor 2-9 diatas
juga dalam setting gawat darurat) juga ter-
tanpa melihat pembahasan soal dan kunci Kunci
dapat prioritas yang harus ditetapkan.
Jawaban.
1) Prioritas utama atau terpenting. Mis-
12. Pahami pembahasan. Jika belum mengerti, baca
alnya adalah diagnosa, maka pilihlah
kembali Rujukan yang disarankan. Jika Rujukan
yang paling penting, paling men-
sudah memahami namun Kunci Jawaban belum
gancam kehidupan. Intervensi juga
sesluai dengan kunci, baca kembali tips no 3-9
merupakan yang paling penting, ber-
diatas.
dampak besar dan atau bisa mencegah
masalah lain muncul.

2) Prioritas waktu. Misalnya adalah tin-


dakan, maka pilihlah sesuai dengan
kata kunci yang terdapat dalam per-
tanyaan. Jika ditanyakan prioritas
pertama, maka carilah Kunci Jawaban
yang menunjukan bahwa tindakan
tersebut harus dilakukan pertama kali
sebelum tindakan lain, bahkan yang
tindakan terpenting lain memerlukan
tindakan tersebut dilakukan terlebih
dahulu. Namun jika pertanyaan ber-
fokus pada tindakan utama, maka pili-
hlah hal terpenting yang harus dilaku-
kan sesuai kebutuhan kasus dalam
vignet.

d. Kasus komunitas, manajemen, etik dan hu-


kum atau pengembangan profesionalisme
tidak dapat menggunakan pendekatan ka-
sus klinis gawat darurat dan ruang rawat.
Pendekatan logika umum dapat digunakan
jika logika secara teoritis tidak dikuasai.

10. Selanjutnya, diperlukan pengetahuan kisi kisi


atau proporsi soal di bab III dan lingkup dan
materi sub bidang keilmuan di bab IV. Bacalah
materi hingga selesai dari topik, sub topik dan
elemen hingga mengerti dan benar-benar paham.

7 Next
Back
BAB III
KISI-KISI (BLUEPRINT)
SOAL UJI KOMPETENSI NASIONAL

Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

K
isi kisi soal atau Blueprint adalah kerang- 3 Keperawatan Anak 8-14%
ka dasar yang merupakan pedoman yang di 4 Keperawatan Jiwa 8-14%
gunakan untuk merancang pengembangan 5 Keperawatan Keluarga 8-14%
soal uji kompetensi nasional. Soal ujian dibuat sesuai 6 Keperawatan Gerontik 3-9%
blueprint agar dapat menjamin asuhan keperawatan 7 Manajemen Keperawatan 3-9%
yang diberikan aman dan efektifserta menggambar- 8 Keperawatan Gawat Darurat 3-9%
kan karakterutamaperawat (DIII atau Ners) sesuai 9 Keperawatan Komunitas 3-9%
dengan standar kompetensi kerja yang diharapkan. Tabel 1 diatas menjelaskan tentang proporsi
Kurikulum pendidikan biasanya mengacu standar soal dari sub bidang keilmuan keperawatan. Dalam
kompetensi kerja untuk lulusan dalam proses pendi- tabel diatas tidak disebutkan sub keilmuan lain yang
dikanya. Blueprint terdiri dari 7 (tujuh) tinjauan pe- diajarkan selama kuliah. Proporsi diatas sejalan den-
nilaian yaitu area kompetensi; domain kompetensi; gan rerata jumlah jam dalam kurikulum dan sesuai
bidang keilmuan; proseskeperawatan;upayakeseha- dengan asumsi kebutuhan pemenuhan kompetensi
tan;kebutuhan dasar manusia dan sistem tubuh (tabel standar kerja yang diperlukan dalam praktik yang
blueprint lengkap terlampir). Ketujuh tinjauan men- aman dan efektif sebagai perawat. Selain proporsi di-
cadi acuan dalam meramu dan membuat kasus atau atas, terdapat proporsi berdasarkan kebutuhan dasar
vignet soal aplikatif sesuai dengan situasi praktik atau manusia pada mayoritas sub bidang keilmuan seperti
kasus klien dan pertanyaan serta pilihan Kunci Jawa- dijelaskan dalam tabel.
banya. Pada buku ini akan dijelaskan hal umum yang
Tabel 2. Proporsi Soal Berdasarkan Kebutuhan
perlu diketahui sebagai bahan acuan belajar calon pe-
Dasar Manusia
serta uji kompetensi nasional.
No Kebutuhan Dasar Prosentase
Diagram 1. Proporsi Jumlah Soal Tinjauan I 1 Oksigenasi 10-14%
(Kerangka Kompetensi)
2 Cairan dan elektrolit 10-14%
3 Nutrisi 10-14%
4 Aman dan nyaman 10-14%
5 Eliminasi 7-11%
6 Aktivitas dan istirahat 7-11%
7 Psikososial 7-11%
8 Komunikasi 7-11%
9 Belajar 3-7%
10 Seksual 3-7%
11 Nilai dan keyakinan 3-7%

Bagaimana memaknai tabel 1 dan tabel 2


Diagram diatas menjelaskan bahwa proporsi
diatas? Berikut ini adalah contoh penjelasan Keper-
terbesar soal adalah asuhan dan manajemen asuhan
awatan Medikal Bedah (KMB) yang dapat digunakan
keperawatan. Pada pendidikan DIII lebih fokus pada
untuk menjelaskan sub bidang keilmuan yang lain ke-
asuhan keperawatan.
cuali manajemen dan komunitas. Pada KMB memili-
Tabel 1. Proporsi Distribusi Soal Berdasarkan Sub
ki proporsi 25-37%, akan terdapat soal terkait dengan
Bidang Keilmuan
pemenuhan kebutuhan dasar oksigenasi sebanyak
No Keilmuan Persentase 10-14%. Jika diasumsikan bahwa soal Keperawatan
1 Keperawatan Medikal Bedah 25-37% Medikal Bedah sebanyak 50 (28%) soal akan terdapat
2 Keperawatan Maternitas 8-14% soal oksigenasi sebanyak 5-7 soal. Dari 5-7 soal di-
atas, topik apa saja yang berpotensi diujikan dapat
Back 8
Program Studi DIII Keperawatan

dilihat dalam tabel Lingkup dan Materi Sub Bidang


Keilmuan.

Selain tiga tinjauan yang telah dijelaskan di-


atas, ada 4 tinjauan lain yang akan diintegrasikan
dalam soal. Tinjauan tersebut adalah tingkatan pen-
getahuan (kognitive, prosedural, afektif), proses
keperawatan (pengkajian – evaluasi), upaya keseha-
tan (promotive, preventive, kurative dan rehabilita-
tive), dan sistem tubuh dan kesehatan (kardiovaskular
dan lain sebagainya). Untuk itu, pastikan memiliki
pemahaman lengkap dari setiap lingkup materi dari
sub bidang keilmuan .

9 Next
Back
BAB IV
LINGKUP DAN ISI MATERI

Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

L
ingkup dan isi materi akan dipaparkan menurut A.2. Asuhan keperawatan pada pasen dengan
bidang keahlian keperawatan dengan urutan gangguan sistem jantung, pembuluh darah dan
sebagai berikut: Bidang Keperawatan Medikal
sistem limfatik
Bedah (KMB), keperawatan maternitas, keperawatan
anak, keperawatan Jiwa, manajemen keperawatan, No Sub Topik Element Rujukan

keperawatan gawat darurat, keperawatan keluarga, 1) Fokus pengkajian: Arif Muttaqin (2009). Asuhan
a) Faktor resiko (dapat Keperawatan Gangguan
keperawatan gerontik, dan keperawatan komunitas. diubah dan tidak dapat Sistem Kardiovaskuler,

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada penjelasan diubah)


b) Keluhan spesifik
Jakarta, PT. Salemba
Medika.
dibawah ini: Asuhan keperawatan pada
c) Tanda dan gejala
d) komplikasi hipertensi Doengoes, Moorhouse,
1
pasen hipertensi 2)  Prinsip penanganan per- Geissler, alih Bahasa: I

A. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Medikal awatan hipertensi


a) Prevensi primer,
Made Kariasa dam Ni
Made Sumarwati, (2000).
b) Prevensi sekunder Rencana Asuhan Keper-
Bedah c) Prevensi tersier. awatan Pedoman untuk
3) Indikator/Evaluasi keberhasi- Perencanaan dan Pendo-
A.1 Asuhan keperawatan pada pasen dengan lan perawatan pasen hipertensi kumentasian Perawatan
Pasien, Jakarta, EGC.
1) Fokus pengkajian:
gangguan sistem pernafasan a) Riwayat kesehatan
Palmer Anna and William
b) Keluhan spesifik pasen
Bryan, (2007). Simple
PJK
No Sub Topik Element Rujukan Guide: Tekanan darah
c) Tanda dan gejala pasen
Tinggi, Jakarta, Penerbit
1)     Fokus pengkajian: Arif Muttaqin (2008). PJK
Erlangga.
a)      Cara penularan Asuhan d) Pemeriksaan lab dan
b)      tanda dan gejala Keperawatan diagnostik spesifik: Enzim
Muhammad Ardiansyah
spesifik. Gangguan Sistem Asuhan keperawatan pada jantung dan EKG
(2012). Medikal Bedah
c)      Hasil pemeriksaan Pernafasan, 2 pasen penyakit jantung koroner 2) Prioritas masalah keperawatan
untuk Mahasiswa, Yogya-
laboratorium dan Jakarta, PT. Sa- (PJK) pada pasen PJK
karta, Diva Press.
thoraks photo lemba Medika. 3) Perencanaan pasien PJK
2)     Perencanaan keperawatan 4) Prosedur tindakan spesifik
Reny Yuli Aspirani, (2016).
Asuhan keperawatan pada pasen TBC Abdul Wahid, Imam dalam perawatan PJK:
1 Asuhan Keperawatan
pasen TBC 3)   Prinsip tindakan keperawatan Suprapto, (2013). a) Penanganan nyeri dada
Pada Gangguan Sistem
pada pasen TBC: Asuhan Keper- b) Pemberian oksigen
Kardiovaskuler: aplikasi
a)  Latihan batuk efektif awatan Pada c) Pemberian obat jantung
NIC dan NOC, Jakarta,
b) Peningkatan status nutrisi Gangguan Sistem d) Pengaturan aktifitas/
CV. Trans Info Media.
c)  Pemberian oksigen Respirasi,Jakarta, olahraga
d) Pencegahan penularan CV. Trans Info
1) Fokus pengkajian: Suzanne C. Smeltzer & Brenda
e) Pemberian OAT Media.
a) Faktor resiko (dapat G. Bare, alih Bahasa:
4)   Evaluasi keberhasilan pengo-
diubah dan tidak dapat Agung Waluyo, dkk.
batan TBC Doengoes, Moorhouse,
diubah) (2002). Buku Ajar Keper-
Geissler, alih
1)   Fokus pengkajian: b) Keluhan spesifik awatan Medikal Bedah
Bahasa: I Made
a) Riwayat kesehatan c) Tanda dan gejala gagal Brunner & Suddarth,
Kariasa dam Ni
b) Keluhan spesifik pasen jantung edisi 8, Jakarta, EGC.
Made Sumar-
asthma 2)    Prioritas masalah keper-
wati, (2000).
c) Tanda dan gejala pasen awatan pada pasen gagal jantung Susan C. Smeltzer alih Bahasa:
Rencana Asuhan keperawatan pada
asthma 3 3)    Prinsip penanganan per- Devi Yulianti dan Amelia
Asuhan pasen gagal jantung
awatan gagal jantung Kimin. (2015). Keper-
Asuhan keperawatan pada 2) Prioritas masalah keperawatan Keperawatan
2 a) Pembatasan cairan. awatan Medikal Bedah
pasen asthma pada pasen asthma Pedoman untuk
b) Pengaturan diet Brunner & Suddarth,
Perencanaan dan
3)   Prosedur tindakan spesifik c) Pembatasan aktifitas edisi 12, Jakarta, EGC.
Pendokumenta-
dalam perawatan asthma: d) Pemenuhan oksigen
sian Perawatan
a) Nebulizer e)  Pemberian obat
Pasien, Jakarta,
b) Pemberian oksigen 4)    Indikator/Evaluasi keber-
EGC.
c) Pendidikan kesehatan: hasilan perawatan pasen gagal
pencegahan kambuh jantung
Muhammad Ardian
1)   Prioritas masalah keperawatan syah (2012). Me-
pada pasen hemopneumothoraks dikal Bedah un- A.3. Asuhan keperawatan pada pasen dengan
tuk Mahasiswa,
gangguan sistem pencernaan dan hepatobilier
2)   Prinsip perawatan pasen hemo-
Yogyakarta, Diva
pneumothorak:
Press.
a) Pengaturan posisi
b) Pemberian oksigen No Sub Topik Element Rujukan
Suzanne C. Smeltzer
c) Perawatan WSD
& Brenda
G. Bare, alih
Bahasa: Agung
Waluyo, dkk.
(2002). Buku Diyono dan Sri Mulyanti,
Ajar Keper- (2013). Keperawatan
awatan Medikal Medikal Bedah:
1)    Fokus pengkajian:
Bedah Brunner sistem pencernaan,
a) Faktor resiko
& Suddarth, edisi edisi 1, Jakarta, Ken-
b) Tanda dan gejala
Asuhan keperawatan pada 8, Jakarta, EGC. cana Prenada Media
3 spesifik dehidrasi
pasen hemopneu-mothorak Group.
2) Prioritas masalah keper-
Susan C. Smeltzer alih
awatan pasen gastroenteritis
Bahasa: Devi Doengoes, Moorhouse,
3)   Indikator/Evaluasi keberhasilan Asuhan keperawatan pada 3) Perencanaan keperawatan
Yulianti dan 1 Geissler, alih Bahasa:
perawatan pasen hemopneumo- pasen gastroentritis pada pasen gastroenteritis
Amelia Kimin. I Made Kariasa dam
thorak 4) Prinsip penanganan dan
(2015). Keper- Ni Made Sumarwati,
perawatan gastroenteritis:
awatan Medikal (2000). Rencana
a) Rehidrasi cairan.
Bedah Brunner Asuhan Keperawatan
b) Pengaturan nutrisi
& Suddarth, edisi Pedoman untuk
c) Observasi intake
12, Jakarta, EGC. Perencanaan dan
output.
Pendokumentasian
Perawatan Pasien,
Jakarta, EGC.

Back 10
Program Studi DIII Keperawatan

1) Fokus pengkajian: Fransisca B. Batticaca 1) Fokus pengkajian: Kozier, Erb, Berman and
a) Faktor penyebab (2008). Asuhan Keper- a) Faktor penyebab Snyder, Alih Bahasa:
b) Tanda dan gejala awatan Pada Klien b) Tanda dan gejala Esty Wahyuningsih,
spesifik typhoid dengan Gangguan spesifik typhoid dkk. (2011). Buku
2) Prioritas masalah keper- Sistem Metabolisme,- 2) Prioritas masalah keper- Ajar Fundamental
awatan pasen typhoid Jakarta, PT. Salemba awatan pasen typhoid Keperawatan: konsep,
Asuhan keperawatan pada Asuhan keperawatan pada
3) Prinsip penanganan dan Medika 3) Prinsip penanganan dan Proses dan Praktik,
2 pasen typhus abdominalis/ 2 pasen typhus abdominalis/
perawatan typhoid: perawatan typhoid: edisi 7, volume 2.
demam thypoid demam thypoid
a) Penurunan suhu tubuh: Kozier, Erb, Berman and a) Penurunan suhu tubuh: Jakarta, EGC
kompres. Snyder, Alih Bahasa: kompres.
b) Pengaturan cairan Esty Wahyuningsih, b) Pengaturan cairan Muhammad Ardiansyah
c) Pemenuhan nutrisi dkk. (2011). Buku c) Pemenuhan nutrisi (2012). Medikal Be-
khususnya lewat NGT Ajar Fundamental khususnya lewat NGT dah untuk Mahasiswa,
d) Pembatasan aktivitas Keperawatan: konsep, d) Pembatasan aktivitas Yogyakarta, Diva
Proses dan Praktik, Press.
1) Fokus pengkajian: 1)    Fokus pengkajian:
edisi 7, volume 2.
a) Keluhan spesifik a) Keluhan spesifik
Jakarta, EGC Perry, Peterson, Potter.
b) Tanda dan gejala b) Tanda dan gejala
(2005). Buku Saku
appendicitis appendicitis
Muhammad Ardiansyah Keterampilan dan
Asuhan keperawatan pada 2) Prioritas masalah keper- Asuhan keperawatan pada 2) Prioritas masalah keper-
3 (2012). Medikal Be- 3 Prosedur Dasar,
pasen appendicitis awatan pasen appendicitis pasen appendicitis awatan pasen appendicitis
dah untuk Mahasiswa, Jakarta EGC.
3) Fokus perawatan appen- 3) Fokus perawatan
Yogyakarta, Diva
dicitis: appendicitis:
Press. Rudi Haryono (2012).
a) Penanganan nyeri a) Penanganan nyeri
Keperawatan Medikal
b) Perawatan luka b) Perawatan luka
Perry, Peterson, Potter. Bedah Sistem Per-
(2005). Buku Saku 1) Pengkajian pasen hepatitis: cernaan, Yogyakarta,
Keterampilan dan a) Cara penularan Gosyen Publishing.
Prosedur Dasar, b) Keluhan spesifik
1) Pengkajian pasen hepatitis: Jakarta EGC. c) Tanda dan gejala Smeltzer &Bare, alih
a) Cara penularan spesifik Bahasa: Agung
b) Keluhan spesifik Rudi Haryono (2012). 2) Fokus perawatan hepatitis: Waluyo, dkk. (2002).
Asuhan keperawatan pada
c) Tanda dan gejala Keperawatan Medikal 4 a) Pengaturan diet Buku Ajar Keper-
pasen hepatitis
spesifik Bedah Sistem Per- b) Pembatasan aktifitas awatan Medikal Bedah
2) Fokus perawatan hepatitis: cernaan, Yogyakarta, c) Pencegahan penularan Brunner & Suddarth,
Asuhan keperawatan pada
4 a) Pengaturan diet Gosyen Publishing. dan komplikasi edisi 8, Jakarta, EGC.
pasen hepatitis
b) Pembatasan aktifitas 3)    Indikator/Evaluasi
c) Pencegahan penularan Smeltzer &Bare, alih keberhasilan perawatan pasen
dan komplikasi Bahasa: Agung hepatitis
3)    Indikator/Evaluasi Waluyo, dkk.
keberhasilan perawatan pasen
hepatitis
(2002). Buku Ajar
Keperawatan Medikal
A.5. Asuhan keperawatan pada pasen dengan
gangguan sistem penginderaan
Bedah Brunner &
Suddarth, edisi 8,
Jakarta, EGC.
No Sub Topik Element Rujukan
A.4. Asuhan keperawatan pada pasen dengan 1)    Fokus pengkajian: Anas Tamsuri (2012). Klien
a) Penyebab Gangguan Mata dan
gangguan sistem persyarafan dan perilaku b) Tanda dan gejala Penglihatan, Jakarta,
spesifik EGC.
No Sub Topik Element Rujukan c) Cara menentukan visus
Asuhan keperawatan pada 2) Prioritas masalah keper- Doengoes, Moorhouse,
1
pasen katarak awatan pasen katarak Geissler, alih Bahasa:
3) Fokus perawatan pasen I Made Kariasa dam
dengan katarak: Ni Made Sumarwati,
a) Pre operasi (2000). Rencana
b) Post operasi Asuhan Keperawatan
c) Pencegahan injury Pedoman untuk
Perencanaan dan
Pendokumentasian
Perawatan Pasien,
Diyono dan Sri Mulyanti, Jakarta, EGC.
(2013). Keperawatan
Medikal Bedah: sistem Indriana N. Istiqomah
pencernaan, edisi 1, (2001). Asuhan
Jakarta, Kencana Pre- Keperawatan Ganggu-
nada Media Group. 1) Fokus pengkajian: an Pada Mata, Jakarta,
1) Fokus pengkajian: a) Penyebab EGC.
a) Faktor resiko Doengoes, Moorhouse, b) Tanda dan gejala
b) Tanda dan gejala Geissler, alih Bahasa: spesifik Rospa Heltharia, Sri
spesifik dehidrasi I Made Kariasa dam c) Komplikasi Mulyani (2002). Klien
2) Prioritas masalah keper- Ni Made Sumarwati, Asuhan keperawatan pada 2) Prioritas masalah keper- Keperawatan Ganggu-
awatan pasen gastroenteritis (2000). Rencana 2 pasen otitis media akut/ awatan pasen OMA/OMK an THT, Jakarta, Trans
Asuhan keperawatan pada 3) Perencanaan keperawatan Asuhan Keperawatan kronik 3) Fokus perawatan pasen Info Media
1
pasen gastroentritis pada pasen gastroenteritis Pedoman untuk dengan OMA/OMK:
4) Prinsip penanganan dan Perencanaan dan a) Penanganan nyeri Suzanne C. Smeltzer
perawatan gastroenteritis: Pendokumentasian b) Pemberian obat-obatan & Brenda G. Bare,
a) Rehidrasi cairan. Perawatan Pasien, c) Pencegahan kom- alih Bahasa: Agung
b) Pengaturan nutrisi Jakarta, EGC. plikasi Waluyo, dkk.
c) Observasi intake (2002). Buku Ajar
output. Fransisca B. Batticaca Keperawatan Medikal
(2008). Asuhan Keper- Bedah Brunner &
awatan Pada Klien Suddarth, edisi 8,
dengan Gangguan Jakarta, EGC.
Sistem Metabolisme,-
Jakarta, PT. Salemba
Medika

A.6. Asuhan keperawatan pada pasen dengan


gangguan sistem endokrin dan metabolism

11 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

No Sub Topik Element Rujukan A.8. Asuhan keperawatan pada pasen dengan
1) Fokus pengkajian:
a) Tanda dan gejala
Arif Muttaqin (2011). Asu
han Keperawatan
gangguan sistem ginjal dan saluran perkemihan
spesifik DM Gangguan Sistem
b) Komplikasi DM Endokrin, Jakarta, PT. No Sub Topik Element Rujukan
c) Pemeriksaan lab Salemba Medika.
1) Fokus pengkajian: Arif Muttaqin (2008). Asu
spesifik: darah
a) Faktor resiko/penye- han Keperawatan
2) Prioritas masalah keper- Doengoes, Moorhouse,
bab BSK Gangguan Sistem
awatan pasen DM Geissler, alih Bahasa:
b) Tanda dan gejala Perkemihan (p.202
3) Perencanaan keperawatan I Made Kariasa dam
spesifik BSK - 208) Jakarta, PT.
Asuhan keperawatan pada pasen DM Ni Made Sumarwati,
1 c) Pemeriksaan lab: urine Salemba Medika.
pasen Diabetes mellitus 4) Lima pilar perawatan pasen (2000). Rencana
d) Pemeriksaan diagnos-
dengan DM: Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan pada tik: rontgen dan USG Doengoes, Moorhouse,
a) Monitoring gula darah Pedoman untuk
1 pasen batu saluran kemih 2) Prioritas masalah keper- Geissler, alih Bahasa:
b) Pengaturan diet Perencanaan dan
(BSK) awatan pasen BSK I Made Kariasa dam
c) Pengaturan aktifitas Pendokumentasian
3) Fokus perawatan pasen Ni Made Sumarwati,
d) Pemberian obat-obatan Perawatan Pasien,
dengan batu saluran kemih: (2000). Rencana
(oral dan injeksi) Jakarta, EGC.
a) Penanganan nyeri Asuhan Keperawatan
e) Pendidikan kesehatan
b) Pemasangan dan Pedoman untuk
5) Indikator/Evaluasi keberhasi- Nabyl R.A. (2012). Panduan
perawatan catheter Perencanaan dan
lan perawatan pasen DM Hidup Sehat: mence-
c) Perawatan luka Pendokumentasian
gah dan mengobati
d) Pendidikan kesehatan Perawatan Pasien,
Diabetes Mellitus,
Jakarta, EGC.
Yogyakarta, Aulia 1) Fokus pengkajian:
Publishing a) Tanda dan gejala
Muhammad Ardiansyah
1) Fokus pengkajian: spesifik BPH
(2012). Medikal Be-
a) Tanda dan gejala Rumahorbo H. (1999). b) Komplikasi
dah untuk Mahasiswa,
spesifik Goiter Asuhan Keperawatan 2) Prioritas masalah keper-
Yogyakarta, Diva
b) Pemeriksaan lab Gangguan Sistem awatan pasen BPH
Press.
spesifik: T.3 dan T.4 Endokrin, Jakarta, 2 Asuhan keperawatan BPH 3) Perencanaan perawatan
Asuhan keperawatan pada EGC. pasen BPH
2 2) Prioritas masalah keper- Nursalam (2006). Asuhan
pasen Goiter 4) Fokus perawatan pasen
awatan pasen Goiter Keperawatan pada
3) Perencanaan keperawatan Suzanne C. Smeltzer dengan BPH:
Pasen dengan
pasen Goiter & Brenda G. Bare, a) Perawatan catheter
Gangguan Sistem
4) Indikator/Evaluasi keberhasi- alih Bahasa: Agung b) Irigasi dan spooling
Perkemihan (p.65
lan perawatan pasen Goiter Waluyo, dkk. (2002). c) Bladder training
– 67), Jakarta, PT.
Buku Ajar Keper-
1) Prioritas masalah keper- Salemba Medika.
awatan Medikal Bedah
awatan pasen glomerulonefritis.
Brunner & Suddarth,
2) Fokus perawatan pasen Suzanne C. Smeltzer
edisi 8, Jakarta, EGC.
Asuhan keperawatan pada dengan glomerulonefritis: & Brenda G. Bare,
3 pasen ISK atas: glomeru- a) Pembatasan cairan alih Bahasa: Agung
A.7. Asuhan keperawatan pada pasien dengan lonefritis b) Pengaturan nutrisi Waluyo, dkk.
3) Indikator/Evaluasi (2002). Buku Ajar
gangguan sistem muskulo-skeletal keberhasilan perawatan pasen
glomerulonefritis.
Keperawatan Medikal
Bedah Brunner &
Suddarth, edisi 8,
No Sub Topik Element Rujukan 1) Fokus pengkajian:
Jakarta, EGC.
a) Faktor penyebab gagal
1) Fokus pengkajian: Abdul Wahid (2013). Asu ginjal
a) Tanda dan gejala han Keperawatan den- Susan C. Smeltzer alih
b) Tanda dan gejala
spesifik fraktur gan Gangguan Sistem Bahasa: Devi Yulianti
spesifik gagal ginjal
b) Jenis-jenis fraktur muskuloskeletal (p.1 dan Amelia Kimin.
c) Pemeriksaan lab
c) Pemeriksaan diagnos- – 58), Jakarta, Trans (2015). Keperawatan
spesifik: darah
tik spesifik: rontgen Info Media. Medikal Bedah Brun-
2) Prioritas masalah keper-
2) Prioritas masalah keper- ner & Suddarth, edisi
awatan pasen gagal ginjal
awatan pasen fraktur Arif Muttaqin (2008). Asu 12, Jakarta, EGC.
Asuhan keperawatan pada 3) Perencanaan perawatan
Asuhan keperawatan pada 3) Perencanaan keperawatan han Keperawatan 4
1 pasen gagal ginjal pasen gagal ginjal
pasen fraktur pasen fraktur Gangguan Sistem 4) Fokus perawatan pasen
4) Fokus perawatan pasen muskuloskeletal (p.68 dengan gagal ginjal:
dengan fraktur: – 97), Jakarta, EGC. a) Pembatasan cairan
a) Latihan/mobilisasi b) Pengaturan diet
b) Perawatan traksi Doengoes, Moorhouse, c) Pemberian obat-obatan
c)  Penggunaan alat bantu Geissler, alih Bahasa: d) Pendidikan kesehatan
jalan I Made Kariasa dam 5) Indikator/evaluasi keber-
5) Indikator/Evaluasi keberhasi- Ni Made Sumarwati, hasilan perawatan pasen gagal
lan perawatan pasen fraktur (2000). Rencana ginjal
Asuhan Keperawatan
1) Fokus pengkajian:
Pedoman untuk
a) Riwayat kebiasaan
b) Tanda dan gejala spesi-
Perencanaan dan A.9. Asuhan keperawatan pada pasen dengan
Pendokumentasian
fik rheumatoid arthritis
c) Pemeriksaan lab
Perawatan Pasien, gangguan sistem integumen
Jakarta, EGC.
spesifik: darah
2) Prioritas masalah keper-
Asuhan keperawatan pada Suratun, Heryati, Santa Ma
2 awatan pasen rheumatoid No Sub Topik Element Rujukan
pasen rheumatoid arthritis nurung, Een Raenah,
arthritis
(2008). Asuhan
3) Fokus perawatan pasen
Keperawatan dengan
dengan rheumatoid arthritis:
Gangguan Sistem mu-
a) Penanganan nyeri
skuloskeletal (p.195 –
b) Latihan/mobilisasi
204), Jakarta, EGC.
c) Pengaturan diet Arif Muttaqin, Kumala Sari
d) Pemberian obat-obatan (2011). Asuhan
Suzanne C. Smeltzer Keperawatan Ganggu-
& Brenda G. Bare, an Sistem integumen,
alih Bahasa: Agung Jakarta, PT. Salemba
1) Prioritas masalah keper- Waluyo, dkk. (2002). 1) Fokus pengkajian: Medika.
Asuhan keperawatan pada
Buku Ajar Keper- 1 a) Klasifikasi luka bakar
awatan pasen osteoporosis pasen luka bakar
awatan Medikal Bedah b) Menentukan luas luka bakar Christanti Effendi (1999).
2) Perencanaan keperawatan Perawatan Pasen Luka
pasen osteoporosis Brunner & Suddarth,
Asuhan keperawatan pada Bakar, Jakarta, PT.
3 3) Fokus perawatan pasen edisi 8, Jakarta, EGC.
osteoporosis Salemba Medika
dengan osteoporosis:
a) Penanganan nyeri
b) Latihan/mobilisasi
c) Pengaturan diet

Back 12
Program Studi DIII Keperawatan

2) Prioritas masalah keper- menit dan suhu tubuh 38,1 oC. Manakah mas-
awatan pasen luka bakar
3) Fokus perawatan pasen
dengan luka bakar:
Doengoes, Moorhouse,
Geissler, alih Bahasa: alah keperawatan yang paling utama pada kasus
a) Penanganan nyeri I Made Kariasa dam
b) Rehidrasi cairan Ni Made Sumarwati, di atas?
c) Perawatan luka (2000). Rencana
d) Pencegahan infeksi
4) Indikator/evaluasi keberhasi-
Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk a. pola nafas tidak efektip
lan perawatan pasen luka bakar Perencanaan dan

2 Asuhan keperawatan pada 1) Fokus pengkajian:


Pendokumentasian b. jalan nafas tidak efektip
Perawatan Pasien,
pasen dermatitis a) Penyebab spesifik
b) Tanda/gejala spesifik
Jakarta, EGC.
c. gangguan perfusi jaringan.
c) Test allergi/reaksi Susan C. Smeltzer alih
hipersensitive
2) Prioritas masalah keper-
Bahasa: Devi Yulianti d. gangguan keseimbangan suhu tubuh:
dan Amelia Kimin.
awatan pasen dermatitis
3) Fokus perawatan pasen
(2015). Keperawatan
Medikal Bedah Brun- hiperthermi
dengan luka dermatitis: ner & Suddarth, edisi
a) Transfusi darah
b) Pemberian nutrisi dan
12, Jakarta, EGC. e. gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari
obat-obatan
kebutuhan
A.10. Asuhan keperawatan pada pasen dengan
gangguan sistem darah dan kekebalan tubuh Kunci Jawaban: B.

No Sub Topik Element Rujukan


Pembahasan:
Arif Muttaqin (2009).
Asuhan Keperawatan Pada pasien asthma bronchiale terjadi spasme
Gangguan Sistem
1) Fokus pengkajian:
a) Penyebab spesifik
Kardiovaskuler,
Jakarta, PT. Salemba
pada daerah bronkhus akibat dari kontak dengan
b) Tanda dan gejala
spesifik
Medika.
bahan yang bersifat allergen. Brokhospasme dapat
c) Pemeriksaan lab Doengoes, Moorhouse,
Asuhan keperawatan pada
spesifik: darah Geissler, alih Bahasa: menyebabkan penyempitan jalan nafas atas dan pada
1 2) Prioritas masalah keper- I Made Kariasa dam
pasen anemia
awatan pasen anemia
3) Fokus perawatan pasen
Ni Made Sumarwati, akhir nya menimbulkan sesak nafas, wheezing dan
(2000). Rencana
dengan luka anemia:
a) Transfusi darah
Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk
peningkatan frekuensi nafas. Sehingga masalah uta-
b) Pemberian nutrisi dan
obat-obatan
Perencanaan dan
Pendokumentasian ma pada pasen tersebut adalah jalan nafas tidak efek-
Perawatan Pasien,
Jakarta, EGC. tip. Kata kunci pada vignete data adalah sesak nafas,
Nursalam, Ninuk Dian wheezing dan retraksi.
Kurniawati (2011).
Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Terinfeksi
HIV/AIDS, Jakarta,
PT. Salemba Medika. Rujukan :
1) Fokus pengkajian: Reny Yuli Aspirani, (2016). Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gang
a) Cara penularan Asuhan Keperawatan
b) Tanda dan gejala Pada Gangguan guan Sistem Pernafasan (p. 172 – 180), Jakarta,
spesifik Sistem Kardiovasku-
2) Prioritas masalah keper-
awatan pasen HIV/AIDS
ler: aplikasi NIC dan
NOC, Jakarta, CV.
PT. Salemba Medika.
3) Fokus perawatan pasen Trans Info Media.
Asuhan keperawatan pada
2 dengan HIV/AIDS:
pasen HIV/AIDS
a) Isolasi Setyoadi, Endang Triyanto
b) Pencegahan penularan (2012). Strategi Pe- Abdul Wahid, Imam Suprapto, (2013). Asuhan Keper
c) Perawatan psikososial layanan Keperawatan
d) Perlindungan diri bagi Penderita AIDS, awatan Pada Gangguan Sistem Respirasi (p. 61
perawat Yogyakarta, Graha
4) Indikator/Evaluasi keberhasi-
lan perawatan pasen HIV/AIDS
Ilmu.
– 82), Jakarta, CV. Trans Info Media.
Susan C. Smeltzer alih
Bahasa: Devi Yulianti
dan Amelia Kimin.
(2015). Keperawatan 2. Seorang perempuan usia 50 tahun dirawat di ru-
Medikal Bedah Brun-
ner & Suddarth, edisi ang penyakit dalam, dengan keluhan: bengkak
12, Jakarta, EGC.
pada ekstrimitas bawah. Pada pemeriksaan fisik
Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan Ru- didapatkan adanya distensi tekanan vena jugu-
jukan: laris, berat badan 78 Kg, tinggi badan 150 cm.
1. Seorang laki-laki usia 40 tahun dirawat di ruang Saat ini pasien akan diberikan obat digoksin se-
penyakit dalam, dengan keluhan: sesak nafas suai dengan program therapi. Apakah tindakan
setelah kontak dengan kucing. Pada pemeriksaan pertama yang harus dilakukan oleh perawat sebe-
tampak lemas, bunyi nafas terdengar wheezing, lum pemberian obat tersebut?
terlihat retraksi dada dan frekuensi nafas 32 kali/ a. catat intake output

13 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

b. mengukur tanda-tanda vital B. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Mater-


c. menimbang berat badan pasien nitas
d. mengatur posisi pasien: semi fowler B.1 Konsep keperawatan ibu hamil
e. memeriksa tingkat kesadaran pasien. No Sub Topik Element Rujukan

1) Adaptasi fisiologis Lowdermilk, D.L., Perry,


Asuhan keperawatan ibu
2) Menghitung taksiran S.E., Cashion, K.
1 persalinan, usia kehamilan Alih Bahasa: Felicia
Kunci Jawaban: B. hamil normal
dan taksiran BB janin. & Anesia. (2013).
3) Palpasi leopold Keperawatan
Maternitas Buku I. Ed
1) Adaptasi fisiologis
8. Jakarta: Salemba
2) Menghitung taksiran
Pembahasan: 2
Asuhan keperawatan ibu
hamil normal
persalinan, usia kehamilan
Medika.

dan taksiran BB janin.


Reeder, S.J., Martin, L.L.,
Pasien gagal jantung kanan mengalami 3) Palpasi leopold
Griffin, D.K. Alih
1) Adaptasi fisiologis Bahasa, Yati Afiyanti,
penurunan cardiac output, karena terjadi resistensi va- Asuhan keperawatan ibu
2) Menghitung taksiran et. al (2011). Keper-
3 persalinan, usia kehamilan awatan Maternitas:
hamil normal
skuler sehingga terjadi peningkatan tekanan hidrosta- dan taksiran BB janin.
3) Palpasi leopold
Kesehatan Wanita,
Bayi, & Keluarga

tik pada pembuluh darah kafiler, hal ini mendorong 1) Menentukan prioritas
Volume 1. Jakarta:
EGC.
masalah
terjadi nya ekstravasasi cairan dari intra vaskuler ke 4 gangguan preeklampsi dan 2) Intervensi keperawatan
Askep ibu hamil dengan
3) Pendidikan kesehatan
eklampsi, plasenta previa
ekstra vaskuler, sehingga terjadi edema ekstrimitas. 4) Program terapi
5) Pemeriksaan diagnostik

Penurunan cardiac output juga menyebabkan aliran


balik darah dari vena cava superior terhambat dan hal B.2. Konsep keperawatan intra natal
ini memicu terjadinya distensi vena jugularis. Salah No Sub Topik Element Rujukan

satu tindakan yang dilakukan oleh dokter adalah pem- Kennedy, B. B., Ruth, D.J.,
Martin, E.J. Alih
Bahasa, Esty Wa-
berian obat digoksin, yang memiliki efek terjadinya hyuningtias (2013)
Modul Manajemen

perubahan tekanan darah dan nadi, dengan demikian Intrapatum. Edisi 4.


Jakarta: EGC.

sebelum obat tersebut diberikan perawat harus men- Lowdermilk, D.L., Perry,
S.E., Cashion, K.

gukur/mengecek tanda vital dulu untuk mengantisipa- 1) Faktor yang mempengaruhi


Alih Bahasa: Felicia
& Anesia. (2013).
Asuhan keperawatan ibu persalinan Keperawatan
si dampak yang timbul dari pemberian obat tersebut. 1
intra natal 2) Observasi kemajuan
persalinan
Maternitas Buku I. Ed
8. Jakarta: Salemba
Medika.

Wilkinson, J.M., Ahern,


Rujukan: N.R. Alih bahasa,
Esty Wahyuningsih

Arif Muttaqin (2009). Asuhan Keperawatan Ganggu (2011). Buku Saku Di-
agnosis Keperawatan:
Diagnosis NANDA,
an Sistem Kardiovaskuler (p. 88 – 106), Jakarta, Intervensi NIC, Krite-
ria Hasil NOK Edisi

PT. Salemba Medika. 9. Jakarta: EGC

Reny Yuli Aspirani, (2016). Asuhan Keperawatan B.3. Konsep keperawatan ibu post partum
Pada Gangguan Sistem Kardiovaskuler: ap- No Sub Topik Element Rujukan

Kennedy, B. B., Ruth, D.J.,


likasi NIC dan NOC (p. 151 – 171), Jakarta, CV. Martin, E.J. Alih
Bahasa, Esty Wa-
Trans Info Media. hyuningtias (2013)
Modul Manajemen
Intrapatum. Edisi 4.
Jakarta: EGC.

Lowdermilk, D.L., Perry,


S.E., Cashion, K. Alih
Bahasa: Felicia &
Anesia. (2013). Keper-
1) Faktor yang mempengaruhi awatan Maternitas
Asuhan keperawatan ibu persalinan Buku I. Ed 8. Jakarta:
1
intra natal 2) Observasi kemajuan Salemba Medika.
persalinan
Wilkinson, J.M., Ahern,
N.R. Alih bahasa,
Esty Wahyuningsih
(2011). Buku Saku Di-
agnosis Keperawatan:
Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Krite-
ria Hasil NOK Edisi
9. Jakarta: EGC

Back 14
Program Studi DIII Keperawatan

B.4. Konsep keperawatan BBL unya adalah pada integumen, integumen pada abdo-
No Sub Topik Element Rujukan
men mengalami perubahan karena hormonal sehing-
Asuhan keperawatan bayi Mekanisme kehilangan panas
Lowdermilk, D.L., Perry, ga ibu harus diberikan edukasi perubahan yang terjadi
1 S.E., Cashion, K.
baru lahir (BBL) pada BBL
Alih Bahasa: Felicia
& Anesia. (2013).
selama hamil salah satunya integumen. Perubahan
Pemeriksaan fisik bayi
Keperawatan Ma-
ternitas Buku I. Ed
pada integumen akan berubah atau menghilang be-
2 Perawatan bayi baru lahir
baru lahir 8. Jakarta: Salemba
Medika. rangsur-angsur setelah persalinan.

B.5. Konsep perawatan perempuan


dengan masalah reproduksi Rujukan :
No Sub Topik Element Rujukan
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K. Alih Ba
1) Tumor dan keganasan pada hasa Felicia dan Anesia (2013). Keper-
sistem reproduksi (kanker

1
Asuhan keperawatan pada
perempuan dengan ganggu-
serviks, mioma uteri, kista
ovarium)
awatan Maternitas Buku I. Ed 8. (Bab 6),
an reproduksi 2) Penatalaksaan pada tumor
dan keganasan pada sistem
Rasjidi, I. (2008). Manual
Prakanker Serviks. Jakarta: Salemba Medika.
reproduksi Edisi pertama. Jakarta:
Sagung Seto
Tindakan keperawatan 3) Persiapan klien yang akan
2 pada perempuan dengan dilakukan pemeriksaan pap
gangguan reproduksi smear/IVA C. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Anak
C.1. Konsep Keperawatan anak sehat

No Sub Topik Element Rujukan

Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan 1) Parameter umum pertum


Dona L Wong , (2009) Buku
buhan
Ajar Keperawatan
Rujukan: ·  PB /TB
·  BB
Pediatrik Vol. 1,
Jakarta : EGC
·  LLA
·  Lingkar Kepala
1. Seorang ibu datang ke poliklinik kandungan un- 1 Konsep Tumbuh kembang
·  Lingkar Dada
Dwi Sulistyo Cahyaningish
, (2011) Pertumbuhan
2) Perkembangan
tuk memeriksakan kehamilannya yang menginjak · Motorik halus
Perkembangan Anak
dan Remaja , Jakarta
· Motorik kasar
:TIM,
usia 7 bulan, selain itu juga mengeluh kulit perut- · Perkembangan
psikososial
Nursalam,( 2005) Asuhan
nya terasa gatal, dan bergaris-garis serta tampak Keperawatan Bayi
1) Pemberian imunisasi dasar dan Anak , Jakarta :
tidak mulus lagi seperti sebelum hamil. Apakah · BCG Salemba Medika
Upaya peningkatan · Polio
2
intervensi utama yang diberikan untuk keluhan tumbuh kembang optimal · DPT
· Hepatits
Dona L Wong (2009), Buku
Ajar Keperawatan
Pediatrik Vol. 2,
yang dirasakan ibu tersebut ? · Campak / MR
Jakarta : EGC,

a. Mengajurkan ibu untuk tidak menggaruk


C.2. Konsep Keperawatan anak sakit
daerah yang gatal
b. Menjelaskan perubahan yang terjadi pada No Sub Topik Element Rujukan

integumen ibu hamil


c. Menganjurkan kepada ibu bahwa gatal pada
Dona L Wong , (2009) Buku
saat hamil sudah biasa Ajar Keperawatan
Pediatrik Vol. 1,
d. Menganjurkan kepada ibu untuk selalu 1) Stresor hospitalisasi
Jakarta : EGC

· Cemas akibat perp


menjaga kebersihan diri selama hamil isahan
Dwi Sulistyo Cahyaningish
, (2011) Pertumbuhan
· Kehilangan kendali
Perkembangan Anak
e. Menginformasikan kepada ibu untuk meng- · Cedera tubuh
· Nyeri
dan Remaja , Jakarta
:TIM,
hindari makanan yang dapat memicu gatal 1 Konsep Hospitalisasi 2) Manifestasi cemas akibat
perpisahan
Nursalam,( 2005) Asuhan
· Fase protes
Keperawatan Bayi
· Fase putus asa
dan Anak , Jakarta :
· Fase pelepasan /
Kunci Jawaban : B penyangkalan
Salemba Medika

· Fase penerimaan
Dona L Wong (2009), Buku
Ajar Keperawatan Pe-
diatrik Vol. 2, Jakarta
Pembahasan : : EGC,

Ibu hamil mengalami perubahan fisiologis salah sat-

15 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

1) Prinsip atraumatic Care. · Prosedur pemberian Nursalam,( 2005) Asuhan


· Cegah atau minimal terapi cairan parenteral Keperawatan Bayi
stressor fisik /infuse dan Anak , Jakarta :
· Cegah dan meminimal 2) Perencanaan anak dengan Salemba Medika
2 Atraumatic Care kan perpisahan anak dan GE
keluarga 3) Indikator keberhasilan anak Dona L Wong (2009), Buku
· Tingkatkan rasa dengan GE Ajar Keperawatan Pe-
pengendalian terhadap diatrik Vol. 2, Jakarta
2 Askep anak dengan typhus 1) Focus pengkajian anak
keperawatan anak : EGC,
abdominalis dengan Typhus abdominalis
2) Faktor predisposisi thyphus
abdominalis
· Finger
· Feces
· Fly
· Food
· Vomite
3) Focus penanganan anak
dengan typhus abdominalis
Pedoman umum saat · Pemberian kompres air
melakukan pemeriksaan fisik hangat
pada anak
1) Pemeriksaan TTV :
Tekanan darah, suhu, Nadi C.5. Askep anak dengan ganguan system saraf
dan Pernafasan
2) Pemeriksaan fisik head
3 Pemeriksaan Fisik No Sub Topik Element Rujukan
To toe
3) Pengkajian skala nyeri Dona L Wong , (2009) Buku
pada anak Ajar Keperawatan
· Skala penilaian nyeri Pediatrik Vol. 1,
wajah ( Faces ) Jakarta : EGC
· Skala numerik
· Skala perilau FLACC Dwi Sulistyo Cahyaningish
1) Focus penanganan anak
, (2011) Pertumbuhan
dengan kejang demam
Perkembangan Anak
· Edukasi orang tua
dan Remaja , Jakarta
tehnik penanganan
Askep anak dengan kejang :TIM,
1 kejang dirumah
demam
· Prosedur Pemberian
Nursalam,( 2005) Asuhan
obat anti kejang
Keperawatan Bayi
2) Indikator keberhasilan pen
dan Anak , Jakarta :
anganan anak dengan kejang
Salemba Medika

Dona L Wong (2009), Buku


Ajar Keperawatan Pe-
C.3. Askep anak dengan gangguan system diatrik Vol. 2, Jakarta
: EGC,
pernafasan
C.6. Askep anak dengan infeksi virus
No Sub Topik Element Rujukan

1 Askep anak dengan TB paru 1) Fokus pengkajian anak Dona L Wong , (2009) Buku
dengan TBC Ajar Keperawatan No Sub Topik Element Rujukan
· Prosedur tuberculin test Pediatrik Vol. 1,
1 Askep anak dengan DBD 1) Focus pengkajian anak Dona L Wong , (2009) Buku
/test PPD Jakarta : EGC
dengan DBD Ajar Keperawatan Pediatrik
2) Fokus penanganan anak
· Prosedur Rumpelit test Vol. 1, Jakarta : EGC
dengan TBC Dwi Sulistyo Cahyaningish
· Focus pemeriksaan lab
· Edukasi orang tua cara , (2011) Pertumbuhan
oratorium Dwi Sulistyo Cahyaningish
minum obat spesifik Perkembangan Anak
2) Klasifikasi DBD , (2011) Pertumbuhan
pada anak dan Remaja , Jakarta
· Derajat I Perkembangan Anak dan
· Terapi oksigen Terapi :TIM,
· Derajat II Remaja , Jakarta :TIM,
OAT
· Derajat III
3) Indikator keberhasilan pen- Nursalam,( 2005) Asuhan
· Derajat IV Nursalam,( 2005) Asuhan
anganan anak dengan TBC Keperawatan Bayi
3) Perencanaan anak dengan Keperawatan Bayi dan Anak
dan Anak , Jakarta :
2 Askep anak dengan bron- 1) Fokus penanganan anak DBD , Jakarta : Salemba Medika
Salemba Medika
chopneumonia dengan BP 4) Penanganan anak dengan
· Prosedur fisioterapi DBD Dona L Wong (2009), Buku
Dona L Wong (2009), Buku
dada pada anak · Terapi cairan anak Ajar Keperawatan Pediatrik
Ajar Keperawatan Pe-
· Pemberian terapi dengan DBD Vol. 2, Jakarta : EGC,
diatrik Vol. 2, Jakarta
oksigen dengan nasal · Pemantauan cairan
: EGC,
kanula
2 Askep anak dengan 1) Fokus pengkajian anak
· Indikator keberhasilan
Morbhili dengan morbhili .
anak dengan BP
· Stadium penyakit
morbhili
· Kataral /prodomal
C.4. Askep Anak dengan gangguan system · Erupsi
· Konvalensi
pencernaan 2) Pencegahan penyakit
morbhili
· Imunisasi pasif
No Sub Topik Element Rujukan · Imunisasi aktif

Dona L Wong , (2009) Buku 3 Askep anak dengan Difteri • Fokus pengkajian anak
Ajar Keperawatan dengan difteria
Pediatrik Vol. 1, • Tindakan keperawatan
1) Focus penanganan anak Jakarta : EGC anak dengan trache-
dengan GE. ostomy
· Kebutuhan cairan pada Dwi Sulistyo Cahyaningish
1 Askep anak dengan GE
bayi dan anak , (2011) Pertumbuhan
· Pemantauan hidrasi
pada bayi dan anak
Perkembangan Anak
dan Remaja , Jakarta
C.7. Askep anak dengan ganguan system
:TIM,
perkemihan

Back 16
Program Studi DIII Keperawatan

No Sub Topik Element Rujukan Bagaimanakan cara pemberian imunisasi diatas ?


1) Fokus pengkajian anak Dona L Wong , (2009) Buku
dengan SN Ajar Keperawatan
· Pengukuran lingkar Pediatrik Vol. 1, a. oral
perut Jakarta : EGC
· Pengukuran edema b. Intra vena
· Pemeriksaan lab spesifik Dwi Sulistyo Cahyaningish
pada SN , (2011) Pertumbuhan
Perkembangan Anak
c. Sub cutan
2) Focus penanganan anak
Askep anak dengan Sin-
dengan SN
dan Remaja , Jakarta
:TIM, d. Intra cutan
1 · Pemenuhan nutrisi anak
drom Nefrotik
dengan SN
· Pemantauan cairan
Nursalam,( 2005) Asuhan e. Intra muscular
Keperawatan Bayi
dan Anak , Jakarta :
Salemba Medika
3) Indikator keberhasilan pen
anganan anak dengan nepro- Dona L Wong (2009), Buku
Kunci Jawaban : D
tik syndroma Ajar Keperawatan Pe-
diatrik Vol. 2, Jakarta
: EGC,

C.8. Askep anak gangguan hematologic Pembahasan :

No Sub Topik Element Rujukan Immunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan


Dona L Wong , (2009) Buku
Ajar Keperawatan pada bayi dan anak dengan memasukan vaksin keda-
Pediatrik Vol. 1, Jakar-
ta : EGC lam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mence-
Dwi Sulistyo Cahyaningish
, (2011) Pertumbuhan
gah penyakit tertentu. Vaksin BCG adalah vaksin
1) Focus pengkajian anak
dengan anemia
Perkembangan Anak
dan Remaja , Jakarta
yang diberikan melalui suntikan dengan metode intra
2) Tindakan keperawatan anak
:TIM,
1 Askep anak anemia dengan anemia
· Terapi penambahan
dermal /Intra kutis ( IC ) .
Nursalam,( 2005) Asuhan
zat besi
Keperawatan Bayi
· Terapi transfusi darah
dan Anak , Jakarta :
Salemba Medika

Dona L Wong (2009), Buku


Rujukan :
Ajar Keperawatan
Pediatrik Vol. 2, Jakar-
ta : EGC, Azis Alimut (2012). Pengantar Ilmu Keperawatan

C.9. Askep bayi berisiko Anak, Jakarta : Salemba Medika,


No Sub Topik Element Rujukan

Focus pengkajian bayi dengan Dona L Wong , (2009) Buku


hyperbillirubin Ajar Keperawatan
1) Klasifikasi Hyperbillirubin Pediatrik Vol. 1, Jakar- D.Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Jiwa
· Fisiologis ta : EGC
Askep bayi dengan hyper-
· Patologis D.1. Asuhan keperawatan masalah Psikososial
1 2) Penanganan anak bayi Dwi Sulistyo Cahyaningish
bilirubin
hyperbillirubin , (2011) Pertumbuhan
· Prosedur pemberian Perkembangan Anak No Sub Topik Element Rujukan
foto terapi dan Remaja , Jakarta 1) Pengkajian: Data focus Stuart, Gail. 2006. Buku
· Kebersihan diri :TIM, Ansietas Saku Keperawatan
· Kebutuhan cairan 2) Tindakan keperawatan: Jiwa. Ed.5. h. 146-
Nursalam,( 2005) Asuhan a) Relaksasi: 150. Jakarta : EGC
Keperawatan Bayi b) Tarik nafas dalam
dan Anak , Jakarta : (TND), SDKI h 180 Jakarta:PPNI
Klasifikasi asfiksia Salemba Medika c) Mengajarkan relaksasi
1) Asfiksia ringan
2 Askep bayi dengan asfiksia otot Stuart, Gail. 2006. Buku
2) Asfiksia sedang Dona L Wong (2009), Buku 3) Evaluasi : Indikator keber Saku Keperawatan
3) Asfiksia berat Ajar Keperawatan Asuhan Keperawatan hasilan Jiwa. Ed.5. h. 162.
Pediatrik Vol. 2, Jakar- 1
pasien Ansietas a) Subyektif :Ungkapan Jakarta : EGC
ta : EGC, verbal mengatasi
ansietas melalui latihan SDKI halaman 180 (2016).
relaksasi. Jakarta:PPNI
b) Obyektif: dapat
memperagakan dan
Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan menggunakan latihan
relaksasi untuk menga-
Rujukan tasi ansietas.

1. Seorang bayi perempuan usia 3 bulan , datang


ke poliklinik anak untuk mendapatkan imunisasi
dasar, karena sampai saat ini bayi belum pernah 2
Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian Berduka : Data
focus
pasien Berduka
mendapatkannya disebabkan kesehatannya selalu
terganggu . Hasil pemeriksaan bayi sehat , atas an-
juran dokter bayi boleh diberikan imunisasi BCG .

17 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

a) Faktor-faktor yang Stuart, Gail. 2006. Buku


mempengaruhi reaksi Saku Keperawatan 1) Data focus Isolasi social
kehilangan, Tipe Ke- Jiwa. Ed.5. h. 162. 2) Tindakan perawatan :
hilangan, Jenis-jenis Jakarta : EGC a) Menyadari isolasi yang
Kehilangan, Rentang dialami
Respon kehilangan, Stuart, Gail. 2006. Buku b) Berinteraksi secara
Tanda dan Gejala Saku Keperawatan bertahap
b) Data : kondisi pikiran, Jiwa. Ed.5. h. 162. 3) Evaluasi: SDKI h 268 Jakarta:PPNI
perasaan, fisik, sosial, Jakarta : EGC a) Evaluasi kemampuan
dan spiritual sebelum/ Asuhan Keperawatan pasien pasien isolasi social Keliat, dkk. 2011. Keper
sesudah mengalami SDKI h 186 Jakarta:PPNI 2
dengan Isolasi sosial b) Memperagakan cara awatan Kesehatan
peristiwa kehilangan berkenalan dengan Jiwa Komunitas. h.
dan hubungan antara Stuart, Gail. 2006. Buku orang lain,dengan 144. Jakarta : EGC
kondisi saat ini dengan Saku Keperawatan perawat, keluarga,
peristiwa kehilangan Jiwa. Ed.5. h. 162. tetangga.
yang terjadi Jakarta : EGC c) Merasakan manfaat
2) Perencanaan tindakan latihan berinteraksi
Tujuan mampu: Memahami dalam mengatasi isolasi
hubungan antara kehilangan sosial
yang dialami dengan keadaan
dirinya, Mengidentifikasi
cara-cara mengatasi berduka
yang dialaminya Memanfaat-
kan faktor pendukung.
3) Tindakan Keperawatan:
a) Berdiskusi mengenai
kondisi Pasien saat
ini (kondisi pikiran,
perasaan, fisik, sosial,
dan spiritual sebelum/
1) Data focus Halusinasi
sesudah mengalami
2) Tindakan perawatan :
peristiwa kehilangan
a) Menyadari gangguan
dan hubungan antara
sensori persepsi ha-
kondisi saat ini dengan
lusinasi
peristiwa kehilangan
b) Melatih cara mengon
yang terjadi).
trol halusinasi
b) Berdiskusi cara menga
3) Tindakan perawatan :
tasi berduka yang di-
a) Membantu mengenal
alami
halusinasi
c) Cara verbal (mengung
b) Melatih mengont
kapkan perasaan)
rol halusinasi dengan
d) Cara fisik (memberi
menghardik
kesempatan aktivitas
c) Melatih mengontrol
fisik)
halusinasi dengan enam
e) Cara sosial (sharing
benar minum obat
melalui kelompok)
d) Melatih mengontrol
f) Cara spiritual (berdoa,
halusinasi dengan ber-
berserah
cakap-cakap
4)   Evaluasi
e) Melatih mengontrol ha
1) Data focus gangguan citra lusinasi dengan
tubuh melakukan aktifitas se-
2) Perencanaan hari-hari
3) Pelaksanaan 4) Evaluasi:Pasien mampu:
a) Meningkatkan citra a) Mengungkapkan isi ha
tubuh dengan cara : lusinasi yang diala-
b) Motivasi Pasien untuk minya SDKI h 190 Jakarta:PPNI
melakukan aktivitas b) ZMenjelaskan waktu
Asuhan Keperawatan
yang mengarah pada dan frekuensi halusinasi Keliat, dkk. 2011. Keper
3 pasien dengan
pembentukkan tubuh yang dialami. awatan Kesehatan Jiwa
Halusinasi
yang ideal c) Menjelaskan situasi Komunitas. h. 149. Jakarta
Asuhan Keperawatan pa-
3 c) Gunakan protese, yang mencetuskan ha- : EGC
sien Gangguan citra tubuh
wig,kosmetik, pakaian lusinasi
yang sesuai d) Menjelaskan perasaan
d) Motivasi pasien untuk nya ketika mengalami
melihat bagian yang halusinasi
hilang secara bertahap. e) Menerapkan 4 cara
e) Bantu pasien mengontrol halusinasi:
menyentuh bagian · Menghardik ha
tersebut. lusinasi
f) Lakukan interaksi · Mematuhi program
secara bertahap pengobatan
4)   Evaluasi · Bercakap dengan
orang lain di sekitarn-

D.2. Asuhan keperawatan masalah Gangguan ya bila timbul halusi-


nasi
f) Menyusun jadwal
Jiwa kegiatan dari bangun ti-
dur di pagi hari sampai
mau tidur pada malam
No Sub Topik Element Rujukan
hari selama 7 hari
dalam seminggu dan
1) Data focus HDR melaksanakan jadwal
2) Tindakan Perawatan : tersebut secara mandiri
a) Mengidentifikasi Ke g) Menilai manfaat cara
mampuan aspek positif mengontrol halusinasi
SDKI h 192 Jakarta:PPNI dalam mengendalikan
b) Menilai kemampuan
yang dapat digunakan hal=usinasi
Asuhan Keperawatan pasien Keliat, dkk. 2011. Keper-
1 c) Membantu menetap
HDR (Harga diri rendah) awatan Kesehatan Jiwa
kan/memilih kegiatan
Komunitas. h. 118. Jakarta:
sesuai kemampuan
EGC
d) Melatih kegiatan yang
sudah dipilih
e) Merencanakan kegiatan
yang telah dipilih

Back 18
Program Studi DIII Keperawatan

a. Data Fokus RPK d. Isolasi sosial


b. Tindakan perawatan
a) Mengontrol RPK se e. Halusinasi
cara Patuh minum obat
b) Fisik: TND,Tranfer
energy
c) Sosial/verbal:
Bicara yang baikAsertif Kunci Jawaban : D
(meminta, menolak,
mengungkap)
d) Spiritual
c. Evaluasi:
Evaluasi keberhasilan tinda-
kan keperawatan yang sudah
Pembahasan :
di lakukan untuk pasien gang-
guan sensori persepsi halusi-
nasi adalah sebagai berikut: Pilihan (D) adalah pilihan Kunci Jawaban yang tepat
a) Pasien mampu men SDKI h 312 Jakarta:PPNI

Asuhan Keperawatan pa-


genal halusinasi karena tanda dan gejala yang terdapat pada kasus di-
b) Menerapkan 4 cara Keliat, dkk. 2011. Keper
4. sien dengan Resiko Perilaku
kekerasan (RPK)
mengontrol halusinasi:
c) Menghardik halusinasi
awatan Kesehatan
Jiwa Komunitas. h.
atas tanda dan gejala isolasi sosial, pilihan (A.B, C,
d) Mematuhi program
pengobatan
182. Jakarta : EGC
dan E) tidak tepat untuk dengan data tersebut
e) Bercakap dengan orang
lain di sekitarnya bila
timbul halusinasi
f) Menyusun jadwal
kegiatan dari bangun
tidur di pagi hari
Rujukan:
sampai mau tidur pada
malam hari selama 7
hari dalam seminggu Keliat.B.A.dkk. (2011). Keperawatan Kesehatan
dan melaksanakan
jadwal tersebut secara Jiwa Komunitas, basic course., Jakarta: EGC
mandiri
g) Menilai manfaat cara
mengontrol halusinasi
dalam mengendalikan
halusinasi Stuart, Gail. 2003. Buku Saku Keperawatan Jiwa.
1) Data focus DPD:
a) Defisit Kebersihan
Jakarta: EGC
Diri : kebersihan diri,
berdandan / berhias,
b) Makan dan minun
secara mandiri, BAB
dan BAK tidak pada
SDKI h 240 Jakarta:PPNI
tempatnya dan tidak
membersihkan diri
Keliat, dkk. 2011. Keper
setelah BAB dan BAK
2) Tindakan Perawatan
awatan Kesehatan E. Lingkup dan Isi Materi Manajemen
Asuhan Keperawatan Jiwa Komunitas. h.
Defisit perawatan diri :
5 pasien dengan Defisit
perawatan diri
a) Melatih cara perawatan
221. Jakarta : EGC
Keperawatan
kebersihan diri
b) Melatih berdandan /
Keliat, dkk. 2011. Keper
awatan Kesehatan E.1. Konsep dasar manajemen Keperawatan
berhias
Jiwa Komunitas. h.
c) Melatih makan dan
233. Jakarta : EGC
minun secara mandiri No Sub Topik Element Rujukan
d) mengajarkan melaku
kan BAB dan BAK 1) Langkah-langkah peren Nursalam (2011), Mana
mandiri canaan jeman Keperawatan:-
3) Evaluasi Kemampuan Pasien a) Menentukan prioritas Jakarta. Salemba
Dalam Defisit Perawatan b) Menetapkan tujuan medika
Diri c) Menentukan kriteria
hasil Potter dan Perry (2010),
d) Menentukan rencana Fundamental of nurs-
Majemen asuhan keper-
Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan 1
awatan
tindakan
e) Perencanaan pulang
ing: Jakarta , EGC

Rujukan 2) Manfaat dokumentasi


keperawatan
a) Format /model doku
mentasi keperawatan:
1. Seorang perempuan usia 38 tahun dirawat di P.O.R
b) P.I.E
RSJ, sejak 6 hari yang lalu. Hasil pengkaji-
E.2. Fungsi Manajemen
an suka menyendiri dan jarang ngobrol dengan
No Sub Topik Element Rujukan
teman-temannya dengan alasan malas ngobrol.
Tampak lebih banyak tiduran, tidak mau melaku- Nursalam (2011), Ma
najeman Keperawatan:
Jakarta, Salemba
kan aktifitas diruangan. Apakah masalah keper- Klasifikasi tingkat ketergantun- Medika
gan pasien
awatan utama pada kasus tersebut? 1) Minimal care / Swanburg (1994),Kepemi
self care mpinan dan Mana-
1 Perencanaan
2) Partial care /interme jemen Keperawatan,
a. Resiko perilaku kekerasan diet care
3) Total care /Intensive
Jakarta, EGC

b. Defisit perawatan diri care Agus Kuntoro (2010),


Manajemen Keper-
awatan, Yogyakarta :
c. Harga diri rendah Mulia Medika

19 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Ratna Sitorus (2007). tasikan tindakan keperawatan berdasarkan kasus


Praktek keperawatan Profe-
sional. Jakarta: EGC diatas?
Nursalam (2011). Manaje
Model praktek keperawatan
professional
men Keperawatan: Jakarta :
Salemba Medika a. sebagai alat komunikasi antar perawat dan
1) Metode fungsional
2 Pengorganisasian 2) Metode Tim
3) Metode kasus
Marquis dan Huston (2010). tenaga kesehatan lain
Kepemimpinan dan Manaje-
4) Metode primer
5) Metode moduler
men Keperawatan. Jakarta: b. merupakan catatan otentik dari penerrapan
EGC

Agus kuntoro (2010),


manajemen askep
Manajemen Keperawatan.
Jogyakarta : Mulia Medika c. menerapkan sistem dokumentasi keper-
Prosedur timbang terima/
Nursalam (2002). Manaje-
men Keperawatan. Jakarta:
awatan dengan benar
3 Pelaksanaan
overan
1) Tujuan
Salemba Medika
d. salah satu bentuk kegiatan perencanaan
2) Prosedur Nursalam (2011). Manaje-
3) Pelaksanaan men Keperawatan. Jakarta: keperawatan
Salemba Medika

Nursalam (2011). Manaje- e. salah satu bentuk kegiatan keperawatan


men Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika
4 Pengawasan
1) Tujuan supervise
2) Cara supervise
Kunci Jawaban : A
Agus Kuntoro (2010), Ma-
najemen Keperawatan, Jog-
yakarta: Mulia Medika
Pembahasan:
E.3. Manajemen Konflik
Manfaat dokumentasi keperawatan adalah sebagai
No Sub Topik Element Rujukan

Gillies (2004), Nursing alat komunikasi perawat dan tenaga kesehatan lain-
Manajemen : A system

Strategi penyelesaian 1)     Negosiasi


approach, WB saunders nya, sebagai dokumentasi legal dan mempunyai nilai
1 Company , Philadelphia
konflik 2)     Kolaborasi
hukum, meningkatkan mutu peayanan keperawatan,
Nursalam (2011). Manaje-
men Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika
sebagai Rujukan pembelajaran dalam peningkatan
Swanburg (1994), Kepemi- ilmu keperawatan dan mempunyai nilai riset peneli-
mpinan dan Manajemen
1)     Intra personal Keperawatan, Jakarta tian dan pengembangan keperawatan.
2 Katagori konflik 2)     Interpersonal : EGC
3)     Inter group
Marquis dan Huston
(2010), Kepemimpinan dan
Manajemen Keperawatan,
Rujukan :
Jakarta : EGC

Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan


E.4. Mutu pelayanan keperawatan
No Sub Topik Element Rujukan (hal. 124), Jakarta : Salemba Medika
Indikator mutu pelayanan 1)     Keselamatan Pasien Nursalam (2011), Manaje-
keperawatan 2)     Perawatan Diri men Keperawatan, Jakarta ,
3)     Kepuasan pasien Salemba Medika
F. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan Gawat
1
4)     Kenyamanan
5)     Kecemasan
6)     Pengetahuan
Darurat
Kepuasan pelanggan Cara mengukur kepuasan pasien
1)    Tangible F.1. Kegawatan Kardiovaskuler
2)    Reliability
2
3)    Responsiveness No Sub Topik Element Rujukan
4)    Assurance
5)    Emphaty
1. Focus primary survey:
ABCD
Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan a). Karakteristik nyeri
pada MCI

Rujukan b). Factor risiko MCI


c). Mengkaji akumulasi
Pamela S.Kidd, Patty Ann
Sturt, Yulia Fultz (2011);
cairan dalam tubuh pedoman keperawatan
2.   Tindakan: Emergency; bab 5 penerbit
1. Sebagai perawat pelaksana di ruang bedah mem- a). Batasi aktivitas EGC
b). monitor
a. Akut MCI/IMA,
berikan perawatan luka pada pasien yang men- 1 b. Hipertensi
hemodinamik
c). tehnik relaksasi
BTCLS Ambulance 118
(2011) dan Hipgabi (2015)
c. Gagal jantung,
galami trauma. Setelah melakukan tindakan d). beri O2
e). Pemberian Anti
FKUI (2001)
Penatalaksanaan kedaru-
nyeri ratan bidang penyakitdalam
perawatan luka, perawat pelaksana tersebut men- f). rekaman EKG Susan B. Stillwell (2011);
g). pemeriksaan Lab Pedoman Keperawatan
dokumentasikan tindakan keperawatan di status enzym jantung kritis
h). Rontgen thorax
pasien. Apakah manfaat perawat mendokumen- i). Pemberian Lasix
j). Mengukur intake dan
output

Back 20
Program Studi DIII Keperawatan

No Sub Topik Element Rujukan


3.  Evaluasi indikator:
1.   Focus pengkajian: Paula K. (2009); Askep
a). Hemodinamik
a). skala dan lokasi nyeri Gawat Darurat bab v
stabil
abdomen, Susan B. Stillwell (2011);
b). nyeri berkurang,
b). mual muntah, Pedoman Keperawatan
c). keseimbangan
panas kritis hal 221
cairan
c). perdarahan
d). ketentuan boleh
saluran cerna.
pulang /rawat inap
d). Kesadaran :
dan apabila kritis
gelisah
dirujuk ke ICU
2.   Tindakan:
a). atasi nyeri,
a. Apendeksitis akut, b). pasang NGT

F.2. Kegawatan Pernafasan 1 b. kolik abdomen, perdarah


an saluran cerna
c). konsul ahli bedah,
d). hidrasi cairan
parenteral,
No Sub Topik Element Rujukan
e). cegah infeksi,
1.Fokus pengkajian : primary f). turunkan suhu
survey: tubuh/kompres
a). Airway dan 3. Evaluasi
b). breathing: look, a). nyeri teratasi
listen dan feel, b). perdarahan
kemampuan teratasi
bernapas,sianotis, c). pembedahan bila
tanda gagal nafas diperlukan dapat
c). Cirkulation terlaksana
d). disability/
defibrillation
Paula K. Skep. MA (2009);
2. Intervensi & implementasi:
a). bebaskan jalan
Askep Gawat Darurat
Susan B. Stillwell (2011);
F.6. Kegawatan perkemihan
napas, posisi
Pedoman Keperawatan
extensi, finger No Sub Topik Element Rujukan
a.      Gagal napas, kritis
swap
1 b.      obstruksi jalan napas, 1.    Fokus pengkajian: Paula K. (2009); Askep
b). suction
c.      status asmatikus Pamela S.Kidd, Patty Ann a). tanda tanda kolik, Gawat Darurat bab VI
c). pasang OPA
Sturt, Yulia Fultz (2011); b). lokasi kolik,durasi Musliha (2010);
d). pemberian Oksigen
pedoman keperawatan c). distensi kandung Keperawatan Gawat Daru-
kanul/ masker
Emergency; bab 5 penerbit kemih dan jumlah rat bab XIII
e). oksimetri,
EGC keluaran urine
f). kolaborasi intubasi, a.      Kolik batu ginjal,
2.   Tindakan
g). pemeriksaan lab 1 b.      retensi urine,
a). atasi kolik,
AGD c.      gagal ginjal akut
b). pasang kateter,
h). cito thorax foto
c). cek ureum kreatinin,
3. Evaluasi:indicator;
d). konsul urolog, HD
a) Ventilasi stabil,
3.   Evaluasi: distensi kandung
b) difusi baik,
kemih, kolik berkurang, rujuk
c) hemodinamik stabil
HD.
pasien pulang,
d) pasen kritis dirujuk
ke ICU

F.7. Kegawatan Kegawatan persyarafan


F.3. Kegawatan jantung dan paru/Cardiac Arrest No Sub Topik Element Rujukan

1.  Fokus pengkajian:


No Sub Topik Element Rujukan a). tanda tanda khas dari
1)     Fokus Pengkajian stroke,
2)     Primary survey: CABD b). GCS
Inisial assessment BTCLS Ambulance 118 c). Tingkat kesadaran
3)     Diagnosis cepat sirkulasi (2011) dan Hipgabi (2015) d). TIK meningkat
dan ventilasi Susan B. Stillwell (2011); 2.  Tindakan:
1 Resusitasi jantung Paru 4)     Intervensi & implementasi: Pedoman Keperawatan a). ukur GCS, Paula K. (2009); Askep
RJP (kompresi 30 : ventilasi 2x) kritis b). ukur TTV, Gawat Darurat
a. Stroke,
5)     Evaluasi setiap 2 menit Paula K. (2009); Askep 1 c). monitor Musliha (2010);
b. trauma kepala
sirkulasi dan ventilasi sampai Gawat Darurat peningkatan TIK Keperawatan Gawat Daru-
membaik atau meninggal RJP d). cegah injury. rat bab XVI
dihentikan. e). konsul neurology
3. Evaluasi:
a). Tingkat kesadaran,
b). hemodinamik,

F.4. Kegawatan cairan dan elektrolit c). kerusakan sensori,


d). kemampuan mobilisasi
dan bicara
No Sub Topik Element Rujukan

1 1) Fokus Pengkajian
2) Primary survey: CABD F.8. Kegawatan sistem endokrin
Inisial assessment
BTCLS Ambulance 118
3) Diagnosis cepat sirkulasi dan
(2011) dan Hipgabi (2015) No Sub Topik Element Rujukan
ventilasi
Susan B. Stillwell (2011);
4) Intervensi & implementasi: 1. Fokus pengkajian Paula K (2009); Askep
Resusitasi jantung Paru Pedoman Keperawatan
RJP (kompresi 30 : ventilasi a). tanda dan gejala khas Gawat Darurat bab VII
kritis
2x) ketoasidosis Susan B. Stillwell (2011);
Paula K. (2009); Askep
5) Evaluasi setiap 2 menit b). penurunan tingkat Pedoman Keperawatan
Gawat Darurat
sirkulasi dan ventilasi sampai kesadaran kritis hal 257
membaik atau meninggal RJP c). napas bau aseton,
dihentikan. d). pernafasan kussmaul
a. Ketoasidosis, e). tanda tanda hipo/
1 b. hypoglycemia, hiperglykemia
c. hyperglykemia 2.  Tindakan:
F.5. Kegawatan pencernaan a). Cek guladarah,
b). Cek aceton urine,
c). Cek AGD,
d). terapi insulin
e). observasi
hemodinamik.

21 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

3. Evaluasi: e. EKG
a). tingkat kesadaran
b). gula darah
c). Perbaikan nafas
Kunci Jawaban: A
F.9. Kegawatan Muskuloskeletal
No Sub Topik Element Rujukan

1.   Fokus pengkajian Pembahasan:


a).tanda tanda fraktur,
tertutup dan terbuka,
b). perdarahan, tanda
Sesuai dengan data pada vignette diatas, prioritas
infeksi
c). Kemampuan tindakan pertama adalah a (berikan oksigen) karena:
mobilisasi.

a. Trauma Kecelakaan Lalu


2.Tindakan
Knell (2011); Asuhan
Keperawatan orthopedic
pemberian Oksigen, yang bertujuan untuk meningkat-
a). pembidaian,
Lintas atau jatuh.
b. trauma kepala,
b). pasang necolar,
Nurma (2010). kan supply oksigen ke sel sel otot jantung sehingga
c). rawat luka
1 c. trauma dada, Asuhan Keperawatan
d. trauma abdomen,
d). konsul ahli bedah
orthopedic
orthopedic dapat menurunkan rasa nyeri. Tindakan lain diberikan
e. trauma extremitas atas
dan bawah
e). pemeriksaan lab
f). persiapan CT Scan,
Paula K (2009); Askep setelah Oksigen terpasang.
Gawat Darurat bab VIII
MRI
g). pemberian toxoid /anti
tetanus
3. Evaluasi
a). perdarahan,
b). kemampuan gerak
Rujukan
c). Tanda infeksi.

Susan B. Stillwell (2011). Pedoman Keper


F.10. Kegawatan keracunan
awatan kritis hal 150
No Sub Topik Element Rujukan

1)   Fokus pengkajian jenis Ns. Paula Krisanti, Suratun (2017). Asuhan
keracunan:
a). makanan Keperawatan Gawat Darurat
b). obat
c). gas.
d). reaksi alergi.
e). tingkat kesadaran
f). pernapasan tidak
teratur sianotis.
G. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan
a.  Keracunan makanan BTCLS ambulance 118 dan
1
b.  keracunan obat
2.Tindakan:
a). pasang NGT bilas
Hipgabi (2011) Keluarga
lambung,
b). Pemberian O2 G.1. Asuhan keperawatan individu usia dewasa
nasal kanul, masker
c). Pasang infus dengan masalah kesehatan dalam konteks
3. Evaluasi;
a).Tingkat kesadaran,
b). Hemodinamik
keluarga
c). Perdarahan lambung
No Sub Topik Element Rujukan

1) Pengkajian keluarga tahap1


2) Pengkajian keluarga tahap
2 dengan fokus pada 5 tugas
keluarga dalam memelihara
Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan klien TBC Paru
3) Rumusan diagnosa pada
Rujukan individu TBC Paru
4) Perencanaan asuhan pada
individu TBC paru dan kelu-

1. Seorang laki laki berusia 40 tahun dibawa ke UGD arganya


5) Tidakan keperawatan
langsung pada individu TBC
dengan keluhan: nyeri dada karakteristik seperti suhan keperawatan individu paru di rumah
1 dengan masalah kesehatan 6) Mencakup tidakan keper
ditusuk, ditekan dan berpindah pindah, banyak TBC Paru di keluarga awatan yang bersifat promotif,
Riasmini, M. (2017).
preventif, kuratif.
keringat, pasien mempunyai riwayat MCI. Hasil 7) Tindakan mencakup :
Batuk efektif, pemeliharaan
Panduan Asuhan Keper-
awatan individu, keluarga,
kelompok, dan komunitas
pemeriksaan fisik; TD 90/60 mmHg, frekuensi lingkungan, tidakan mence-
gah penularan kepada anggota dengan modifikasi NAN-
keluarga lain. DA, ICNP,NOC dan NIC di
nadi 96x/menit, Suhu 38.0C frekuensi napas 26x/ 8) Pemberdayaan keluarga Puskesmas dan masyarakat,
dalam merawat individu TBC dan Jakarta, Penerbit UI
menit tidak teratur, pada anamnesa. Manakah tin- Paru di rumah
9) Evaluasi hasil asuhan
dakan pertama yang tepat untuk klien tersebut? keperawatan klien TBC Paru
di rumah.

1) Pengkajian keluarga tahap 1


a. berikan oksigen 2) Pengkajian keluarga tahap
2 dengan fokus pada 5 tugas

b. pasang infus Asuhan keperawatan


individu dengan masalah
keluarga dalam memelihara
klien Diabetes Melitus
2
kesehatan Diabetes Melitus 3) Rumusan diagnosa pada
c. cek CK/MB (DM) di keluarga individu DM
4) Perencanaan asuhan pada
d. anti nyeri individu DM dan keluarganya

Back 22
Program Studi DIII Keperawatan

5) Tidakan keperawatan 7) Tindakan keperawatan


langsung pada individu DM prioritas: Edukasi keluarga,
di rumah mencakup tidakan kebutuhan makanan/kalori
keperawatan yang bersifat anak , menu makanan anak,
promotif, preventif, kuratif. cara menarik anak agar mau
6) Tindakan mencakup : Penga makan, pemberian suplemen
wasan diet, Pemberian insulin, bagi anak
edukasi, senam kaki 8) Pemberdayaan keluarga da
7) Pemberdayaan keluarga lam merawat individu hiper-
dalam merawat individu DM tensi di rumah
di rumah melalui edukasi. 9) Evaluasi asuhan hasil keper
8) Evaluasi hasil asuhan awatan anak gizi kurang/bu-
keperawatan Diabetes Melitus ruk di rumah
di rumah
1) Pengkajian keluarga tahap1
1) Pengkajian keluarga tahap1 2) Pengkajian keluarga tahap
2) Pengkajian keluarga tahap 2 dengan fokus pada 5 tugas
2 dengan fokus pada 5 tugas keluarga dalam memelihara
keluarga dalam memelihara anak yang mengalami ISPA
klien hipertensi 3) Rumusan diagnosa pada
3) Rumusan diagnosa pada individu anak yang mengala-
individu hipertensi mi ISPA
4) Perencanaan asuhan pada 4) Perencanaan asuhan pada
individu hipertensi dan kel- individu anak dengan mas-
uarganya alah ISPA dan keluarganya
5) Tidakan keperawatan 5) Tidakan keperawatan
langsung pada pasen hiperten- langsung pada anak ISPA di
Asuhan keperawatan
si di rumah rumah
individu dengan masalah Asuhan keperawatan anak
3 6) Mencakup tiNdakan keper- 6) Mencakup tidakan keper
kesehatan hipertensi di 2 dengan masalah ISPA di
awatan yang bersifat promotif, awatan yang bersifat promotif,
keluarga keluarga
preventif, kuratif. preventif, kuratif.
7) Tindakan keperawatan 7) Tindakan keperawatan priori
prioritas: Edukasi keluarga, tas: Edukasi keluarga, fisio-
diet hipertensi, senam relak- therapi dada pada anak, pen-
sasi progresif, pengobatan gaturan posisi untk ventilasi
hipertensi maksimum, kompres pada
8) Pemberdayaan keluarga da anak, pemberian nutrisi yang
lam merawat individu hiper- mencukupi.
tensi di rumah 8) Pemberdayaan keluarga
9) Evaluasi hasil asuhan keper dalam merawat anak dengan
awatan klien hipertensi di masalah ISPA di rumah
rumah 9) Evaluasi asuhan hasil keper
awatan anak dengan masalah
1) Pengkajian keluarga tahap1
ISPA di rumah
2) Pengkajian keluarga tahap
2 dengan fokus pada 5 tugas 1) Pengkajian keluarga tahap1
keluarga dalam memelihara 2) Pengkajian keluarga tahap
klien post stroke 2 dengan fokus pada 5 tugas
3) Rumusan diagnosa pada keluarga dalam memelihara
pasen post stroke anak yang mengalami Diare
4) Perencanaan asuhan pada 3) Rumusan diagnosa pada
individu post stroke dan kel- individu anak yang mengala-
uarganya mi Diare
5) Tidakan keperawatan 4) Perencanaan asuhan pada
Asuhan keperawatan
langsung pada individu hiper- individu anak dengan masalah
individu dengan masalah
4 tensi di rumah Diare dan keluarganya
kesehatan post stroke di
6) Mencakup tidakan keper 5) Tidakan keperawatan
keluarga
awatan yang bersifat promotif, langsung pada anak Diare di
preventif, kuratif. Asuhan keperawatan anak rumah
3
7) Tindakan keperawatan pri dengan diare di keluarga 6) Mencakup tidakan keper
oritas: Edukasi keluarga, awatan yang bersifat promotif,
ROM pasif dan aktif, diet, preventif, kuratif.
mobilisasi. 7) Tindakan keperawatan
8) Pemberdayaan keluarga prioritas: Edukasi keluarga,
dalam merawat individu post pemenuhan kebutuhan cairan
stroke di rumah dan elektrolit (LGG), monitor-
9) Evaluasi hasil asuhan keper ing status hidrasi
awatan post stroke di rumah 8) Pemberdayaan keluarga
dalam merawat anak dengan
masalah Diare di rumah
G.2. Asuhan keperawatan individu usia anak 9) Evaluasi asuhan hasil keper
awatan anak dengan masalah

dalam konteks keluarga ISPA di rumah

No Sub Topik Element Rujukan


G.3. Asuhan keperawatan idividu usia remaja
dalam konteks keluarga
1) Pengkajian keluarga tahap1
2) Pengkajian keluarga tahap No Sub Topik Element Rujukan
2 dengan fokus pada 5 tugas
keluarga dalam memelihara
anak gizi buruk/kurang Riasmini, M. (2017). 1) Pengkajian keluarga tahap1
3) Rumusan diagnosa pada indi Panduan Asuhan Keper- 2) Pengkajian keluarga tahap
vidu anak Gizi kurang/buruk awatan individu, keluarga, 2 dengan fokus pada 5 tugas
Asuhan keperawatan anak Riasmini, M. (2017).
4)   Perencanaan asuhan pada kelompok, dan komunitas keluarga dalam memelihara
1 dengan masalah Gizi ku- Panduan Asuhan Keper-
individu anak gizi kurang/ dengan modifikasi NAN- anak yang menyalah gunakan
rang / buruk di keluarga awatan individu, keluarga,
buruk dan keluarganya DA, ICNP,NOC dan NIC di Asuhan keperawatan NAPZA
kelompok, dan komunitas
5) Tidakan keperawatan Puskesmas dan masyarakat, 1 remaja penyalahguna obat 3) Rumusan diagnosa pada
dengan modifikasi NAN-
langsung pada individu anak dan Jakarta, Penerbit UI (NAPZA) individu anak yang menyalah-
DA, ICNP,NOC dan NIC di
gizi kurang/buruk di rumah kangunakan NAPZA
Puskesmas dan masyarakat,
6) Mencakup tidakan keper 4) Perencanaan asuhan
dan Jakarta, Penerbit UI
awatan yang bersifat promotif, pada individu remaja yang
preventif, kuratif. menyalahgunakan NAPZA
dan keluarganya

23 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

5) Tidakan keperawatan makannya tersendiri agar tidak dipakai oleh


langsung pada individu rema-
ja penyalahgunaan NAPZA anaknya.
di rumah
6) Mencakup tidakan keper
awatan yang bersifat promo-
Kunci Jawaban : D
tif, preventif, kuratif.
7) Tindakan keperawatan priori
tas: Edukasi keluarga, rujukan
8) Pemberdayaan keluarga Pembahasan:
dalam merawat anak remaja
yang menyalahgunakan
NAPZA di rumah
9) Evaluasi asuhan hasil keper
Penularan penyakit TBC Paru terjadi utamanya
awatan anak dengan masalah
ISPA di rumah.
melalui media udara (airborne). Tindakan lain tidak
1) Pengkajian keluarga tahap1
2) Pengkajian keluarga tahap
efektif dan dapat menimbulkan masalah baru dalam
2 dengan fokus pada 5 tugas
keluarga dalam memelihara
keluarga apalagi dilakukan diawal. Imunisasi efektif
kesehatan reproduksi anak
remaja. hanya bagi dua anaknya, tetapi anggota keluarga lain
3) Rumusan diagnosa pada indi
vidu anak remaja yang tidak terlindungi. Tindakan awal yang tepat adalah
kurang memahami tentang
kesehatan reproduksi remaja.
4) Perencanaan asuhan pada
edukasi cara menghindarkan pencegahan, tindakan
individu remaja yang kurag
memahami dan menerapakan
ini merupakan payung dari tindakan lain.
kesehatan reproduksi remaja.
Asuhan Keperawatan 5) Tidakan keperawatan

2
remaja yang kurang me- langsung pada individu rema- Rujukan:
mahami tentang kesehatan ja penyalahgunaan NAPZA
reproduksi di rumah
6) Mencakup tidakan keper Sarwono, Ilmu Penyakit Dalam Kementerian
awatan yang bersifat promo-
tif, preventif.
7) Tindakan keperawatan Kesehatan RI (2012). Pedoman Nasional Pen-
prioritas: Edukasi keluarga
tentang pemeliharaan keseha-
tan reproduksi remaja
gendalian Tuberkulosis, Depkes RI : Jakarta
8) Pemberdayaan keluarga da
lam merawat anak remaja

H. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan


yang kurang memahami
kesehatan reproduksi remaja
di rumah
9) Evaluasi hasil asuhan asuhan Gerontik
keperawatan remaja.
H.1. Perubahan fisiologi dan psikologi lansia
Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan No Sub Topik Element Rujukan

Rujukan 1 a. sistem pencernaan Jaime L.stocklager, (2008).


b. sistem pernafasan Buku saku asuhan Keper-
c. sistem perkemihan, awatan Geriatric. edisi 2.

1. Seorang ibu berusia 28 tahun dengan TBC paru d. sistem kardiovaskuler,


e. sistem endokrin,
Jakarta: EGC.

f. sistem musculoscletal, Maryam, R.Siti.(2008).


sudah 1 bulan menjalani pengobatan di Puskes- g. sistem pendengaran
1) Proses perubahan Mengenal Usia Lanjut dan
dan penglihatan.
2) Keluhan/Tanda gejala Perawatannya. Jakarta :
mas. Dia tinggal bersama suami dan dua anak bal- 2 Etik legal terkait pemberian 3) Dampak perubahan Salemba Medika. Hal

asuhan keperawatan terkait


ita berusia 4 tahun dan 2 tahun yang imunisasinya topic:
Nasrullah,D. (2014). Etika
Dan Hukum keperawatan.
a. Beneficience
tidak lengkap. Kedua anaknya tampak sehat na- b. Maleficience
Jakarta: Trans Info Media.

c. Justice
mun agak kurus. Manakah dari tindakan keper- d. Veracity
e. otonomi

awatan awal yang paling tepat untuk mencegah


H.2. Asuhan keperawatan lansia dengan ganggu-
penularan dalam keluarga ?
an sistem perkemihan
a. Membawa anaknya ke Puskesmas untuk No Sub Topik Element Rujukan

1) Fokus Pengkajian: Jaime L.stocklager. (2008).


dilakukan test mantoux 2) FaKtor resiko, kemampuan edisi 2. Jakarta : EGC.
fungsional dan disfungsional
b. Mengisolasi 2 orang anak balitanya untuk berkemih, Perubahan perilaku, Martono, Hadi dan Kris-
Observasi lingkungan,data Pranarka.(2015). Buku Ajar
tidak kontak dengan ibu Z laboratorium.
3) Prioritas masalah keper
Boedhi-Darmojo Geriatri
(Ilmu Kesehatan Usia

c. Membawa 2 orang anak balitanya untuk Asuhan keperawatan pada


awatan pada lansia dengan in-
continensia urin
Lanjut). Edisi V. Bagian 2
hal 246-261, Jakarta : Balai
1 lansia dengan incontinensia 4) Perencanaan asuhan pada Penerbit FKUI..
mendapat imunisasi BCG di Puskesmas urin lansia dengan incontinensia
urin Riasmini, M (2017), Pan-
d. Mengajarkan Ibu Z cara-cara menghindari 5) Prinsip tindakan keperawatan duan Asuhan keperawatan :
langsung pada lansia dengan individu, Keluarga, Kelom-
penularan kuman TB incontinensia urin meliputi:
a) Meminimalisir faktor
pok, dan Komunitas dengan
modifikasi NANDA,

e. Mengajarkan ibu Z untuk memisahkan alat resiko


b) Modifikasi lingkungan
ICNP, NOC, dan NC. Di
Puskesmas dan Masyarakat.
Jakarta, Penerbit UI.

Back 24
Program Studi DIII Keperawatan

c) Batasi minum sore dan 9) Evaluasi hasil keperawatan


malam hari lansia dengan DM.
d) Latihan otot dasar
panggul (kegel exercise)
e) Evaluasi hasil keper H.6. Asuhan keperawatan lansia dengan ganggu-
awatan lansia dengan
incontinensia urin
an musculoskeletal
No Sub Topik Element Rujukan
H.3. Asuhan keperawatan lansia dengan ganggu- 1) Fokus Pengkajian Martono, Hadi dan Kris
2) Nyeri Sendi, Kekakuan Pranarka.(2015).Buku Ajar
an sistem kardiovaskuler sendi, Pembengkakan Sendi, Boedhi-Darmojo Geriatri
Perubahan gaya Jalan, Gang- (Ilmu Kesehatan Usia Lan-
guan Fungsi jut).Edisi V.Jakarta : Balai
No Sub Topik Element Rujukan
3) Faktor risiko. kelainan Penerbit FKUI. Bagian 3
1) Fokus Pengkajian Martono, Hadi dan Kris endokrin (misalnya diabetes hal 462-468.
2) Faktor resiko Pranarka.(2015). mellitus) dan kelainan primer
3) Keluhan spesifik Buku Ajar Boedhi-Darmojo sendi, riwayat arthritis, pola Riasmini, M (2017), Pan-
nutrisi peningkatan berat duan Asuhan keperawatan
4) Tanda gejala Geriatri (Ilmu Kesehatan
badan, pola aktivitas, pening- :individu, Keluarga, Kelom-
5) Komplikasi hipertensi Usia Lanjut). Edisi V. Jakar-
katan suhu tubuh, kecemasan. pok, dan Komunitas dengan
6) Prioritas masalah keper ta : Balai Penerbit FKUI. Askep lansia dengan Hasil laboratorium hematologi modifikasi NANDA,
awatan lansia dengan hiper- Bagian 3 hal 537 1
osteoarthritis 4) Prioritas masalah ICNP, NOC, dan NC. Di
tensi keperawatan lansia dengan Puskesmas dan Masyarakat.
7) Perencanaan asuhan pada Riasmini, M (2017), Pan- osteoarthritis Jakarta, Penerbit UI.
lansia dengan hipertensi duan Asuhan keperawatan : 5) Prinsip tindakan keperawatan
Asuhan keperawatan lansia 8) Prinsip tindakan keperawatan individu, Keluarga, Kelom- langsung pada lansia dengan
1 osteoarthritis:
dengan hipertensi pada lansia dengan hipertensi pok, dan Komunitas dengan
a) Kurangi pergerakan
meliputi: modifikasi NANDA,
sendi yang sakit
a) Edukasi klien pem ICNP, NOC, dan NC. Di
b) Kompres hangat/ dingin
batasan diet garam atau Puskesmas dan Masyarakat. c) Massage lembut
lemak, jangan gunakan Jakarta, Penerbit UI. d) ROM
garam pengganti. 6) Evaluasi hasil keperawatan
b) Tehnik relaksasi lansia dengan osteoarthritis
c) Olah raga
d) Kontrol tekanan darah
9) Evaluasi hasil keperawatan H.7. Asuhan keperawatan lansia gangguan pers-
lansia dengan hipertensi.
yarafan
H.4. Asuhan keperawatan lansia dengan ganggu- No Sub Topik Element Rujukan

an sistem kardiovaskuler 1) Fokus Pengkajian


2) Perubahan perilaku
3) fungsi kognitif
No Sub Topik Element Rujukan 4) Tanda gejala Martono, Hadi dan Kris
1) Fokus Pengkajian Martono, Hadi dan Kris 5) Pemeriksaan MMSE Pranarka.(2015).Buku Ajar
2) Faktor resiko Pranarka.(2015). 6) Prioritas masalah keper Boedhi-Darmojo Geriatri
3) Keluhan spesifik Buku Ajar Boedhi-Darmojo awatan demensia (Ilmu Kesehatan Usia Lan-
4) Tanda gejala Geriatri (Ilmu Kesehatan 7) Perencanaan asuhan jut).Edisi V.Jakarta : Balai
5) Komplikasi hipertensi Usia Lanjut). Edisi V. Jakar- keperawatan pada lansia Penerbit FKUI. Bagian 2
Asuhan keperawatan pada
6) Prioritas masalah keper ta : Balai Penerbit FKUI. 1 dengan demensia hal 218-225.
lansia dengan demensia
awatan lansia dengan hiper- Bagian 3 hal 537 8) Prinsif tindakan keperawatan
tensi langsung pada lansia dengan Jaime L.stocklager, (2008).
7) Perencanaan asuhan pada Riasmini, M (2017), Pan- demensia meliputi: Buku saku asuhan Keper-
lansia dengan hipertensi duan Asuhan keperawatan : a)  Latihan fisik awatan Geriatric. edisi 2.
Asuhan keperawatan lansia 8) Prinsip tindakan keperawatan individu, Keluarga, Kelom- b)  Pelihara life style Jakarta: EGC.
1 c)  Kembangkan hoby
dengan hipertensi pada lansia dengan hipertensi pok, dan Komunitas dengan
meliputi: modifikasi NANDA, d)  Terapi kognitif
a) Edukasi klien pem ICNP, NOC, dan NC. Di 9) Evaluasi hasil keperawatan
batasan diet garam atau Puskesmas dan Masyarakat. lansia dengan demensia.
lemak, jangan gunakan Jakarta, Penerbit UI.
garam pengganti.
b) Tehnik relaksasi
c) Olah raga
Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan
d) Kontrol tekanan darah
9) Evaluasi hasil keperawatan Rujukan
lansia dengan hipertensi.

1. Seorang Laki-laki berusia 65 tahun  tinggal di


H.5. Asuhan keperawatan lansia dengan ganggu-
panti. Hasil pengkajian  didapatkan data kadang
an sistem endokrin
sulit menahan BAK,  kadang  ngompol sebelum
No Sub Topik Element Rujukan
sampai kekamar mandi terutama pada malam hari.
1) Fokus Pengkajian
2) Faktor resiko
3) Keluhan spesifik
Martono, Hadi dan Kris Hasil pemeriksaan : TD:130/80 mmHg,  BB 65kg,
Pranarka.(2015).Buku Ajar
4) Tanda gejala
5) Komplikasi diabetes
Boedhi-Darmojo Geriatri TB 165 cm. Apakah tindakan pertama perawat un-
(Ilmu Kesehatan Usia
6) Prioritas masalah keper
awatan lansia dengan diabetes
Lanjut). Edisi V. Bagian 3
hal 4384 - 446. Jakarta :
tuk kasus tersebut ?
7) Perencanaan asuhan pada
Balai Penerbit FKUI.
lansia dengan diabetes melitus
Asuhan keperawatan lansia
1
dengan diabetes melitus
8) Prinsip tindakan keperawatan
langsung pada lansia` dengan
Riasmini, M (2017), Pan- a. Latihan otot pelvis
duan Asuhan keperawatan :
diabetes melitus meliputi:
5 pilar perawatan DM
individu, Keluarga, Kelom- b. Modifikasi lingkungan
pok, dan Komunitas dengan
a)  Monitor gula darah
b)  Olah raga
modifikasi NANDA,
ICNP, NOC, dan NC. Di
c. Kontrol ketahanan berkemih
c)  Diet
d)  Obat-obatan
Puskesmas dan Masyarakat.
Jakarta, Penerbit UI. d. Pertahanan keseimbangan cairan
e)  Pendidikan kesehatan
f)    Latihan senam kaki
e. Kurangi minum pada malam hari

25 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

I.2. Aplikasi asuhan keperawatan komunitas


Kunci Jawaban : E dengan pendekatan pada kelompok khusus

Pembahasan: No Sub Topik Element Rujukan

1) Pengkajian fokus pada Achyar komang ayu


Sistem perkemihan lansia mengalami penurunan kelompok usia balita dengan
masalah gizi kurang / buruk :
.H.(2014) Asuhan Keper-
awatan Komunitas . Jakarta.

yang akibat degeneratif korteks serebri menyebab- a) Study dokumentasi :


Data KMS, jumlah
EGC

balita, data SKDN Anderson, Elizabeth & Mc.


kan jumlah nefron berkurang, aliran darah ke ginjal b) Angket: pengetahuan, Farlane, Judith. (2011).
sikap dan perilaku ibu Community as partner: The-
menurun. Otot otot saluran perkemihan mengalami balita ory and practice in nursing,
c) Observasi lingkungan / (6th ed). Philadelphia:
hipertropi dan otot dasar panggul mengalami kelema- wienshield survey
d) Wawancara: Kader, ibu
Lippincottt Willims &
Wilkins.

han /relaksasi sulit menahan BAK, terjadi kontrak- balita, tokoh masyarakat
2) Diagnosa Kep.komunitas Efendy dan Ferry Makhfud-
fokus pada masalah balita li. (2009).Keperawatan kes-
si saat pengisian kandung kemih sehingga langsung gizi kurang / buruk ehatan komunitas teori dan
3) Strategi intervensi prakik dalam keperawatan.
berespon untuk berkemih. Untuk dapat meminimal- keperawatan komunitas : Jakartasalemba medika
a) Prevensi primer :
kan lansia ngompol malam hari maka langkah perta- - Pendidikan keper
awatan
Riasmini, M. (2017).
Panduan Asuhan Keper-

ma yang perlu dicoba adalah pembatasan minum ter- - Identifikasi faktor


resiko
awatan;individu, keluarga,
kelompok, dan komunitas
-  Intervensi professional dengan modifikasi NAN-
utama malam hari. Langkah yang lain diperhitungkan keperawatan DA, ICNP,NOC dan NIC di
Asuhan keperawatan b) Prevensi sekundair: Puskesmas dan masyarakat,
sesuai hasil pengkajian lengkap kemudian. 1
komunitas pada kelompok - Screning kesehatan Jakarta, Penerbit UI
usia balita dengan masalah usia balita gizi kurang
gizi kurang /buruk / buruk Herdman, T.Heather

Rujukan : - Identifikasifaktor
resiko
NANDA Diagnosis
Keperawatan: Definisi &
c) Prevensi tersier: Klasifikasi 2015-2017 EGC
Martono, Hadi dan Kris Pranarka (2015). Buku Ajar - Pendokumentasian Standar Diagnosis Keper-
- Pencatatan kasus / awatan Indonesia: Difinisi
Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia insiden dan indicator Diagnostik.
- Rujukan Tim Pokja SDKIDPP
Lanjut). Edisi V Hal 246 - 261. Jakarta : Balai Pe- 4) Fokus kegiatan keperawatan
komunitas Nasrulloh.D. (2014). Etika

nerbit FKUI. - Proses kelompok


- Pendidikan keperawatan
dan Hukum Keperawatan,-
Jakarta,Trans info media
- Intervensi professional
keperawatan Notoatmodjo, S.
- Kemitraan/kerjasama (2007). Promosi kesehatan

I. Lingkup dan Isi Materi Keperawatan


- Pemberdayaan & ilmu perilaku. Jakarta:
(empowerment) Rineka Cipta.
5) Evaluasi DPP PPNI (2017). Pedoman
Komunitas 6) Etik Legal terkait pemberian Perilaku sebagai Penjabaran
asuhan Keperawatan kelompok Kode Etik Keperawatan,
I.1. Konsep dasar keperawatan komunitas usia balita dengan gizi
a. Beneficience
Jakarta, DPP. PPNI.

b. Maleficience
c. Justice
No Sub Topik Element Rujukan d. Veracity
e. Otomi
Achyar, Komang ayu, H.
a. Filosofi keperawatan (2014). Asuhan Keper- a. Pengkajian fokus pada kelom Achyar komang
komunitas awatan Komunitas. Jakarta pok balita dengan masalah ayu.H.(2014) Asuhan
b. Paradigma keperawatan : EGC ISPA : Keperawatan Komunitas .
komunitas a. Study dokumentasi : Data Jakarta.EGC
c. Pengertian keperawatan Anderson, T.E., McFar- KMS,jumlah balita,data
komunitas: lane,J. (2007). Buku ajar SKDN Anderson, Elizabeth & Mc.
Konsep keperawatan d. Tujuan keperawatan keperawatan komunitas b. Angket : pengetahuan,sikap Farlane, Judith. (2011).
1
komunitas komunitas teori dan praktik Edisi 3. dan perilaku masyarakat Community as partner: The-
e. Sasaran keperawatan Jakarta: EGC c. Observasi lingkungan/ ory and practice in nursing,
komunitas wienshield survey (6th ed). Philadelphia:
f. Peran dan fungsi perawat Stanhope, M, & Lancast- d.  Wawancara: Kader, tokoh Lippincottt Willims &
keperawatan komunitas : er,J. (2000). Community masyarakat Wilkins.
g. Fokus kegiatan keperawatan and public health nursing. b. Diagnosa Kep.komunitas
komunitas The Mosby Tear Book: fokus pada masaah balita Efendy dan Ferry Makh-
St.Louis. ISPA fudli. (2009).Keperawatan
Asuhan keperawatan c. Strategi intervensi keper kesehatan komunitas teori
Anderson, T.E., McFar- komunitas pada kelompok
2 awatan komunitas : dan prakik dalam keper-
lane,J. (2007). Buku ajar usia anak sekolah dengan a) Prevensi primer : awatan.Jakarta.salemba
keperawatan komunitas masalah penyakit ISPA - Pendidikan keperawatan medika 2009
teori dan praktik: Edisi 3.
- Identifikasi faktor resiko
Jakarta: EGC
- Intervensi professional Riasmini, M. (2017).
keperawatan Panduan Asuhan Keper-
a. Pengertian Stanhope, M, & Lancast-
b) Prevensi sekundair: awatan;individu, keluarga,
b. Tujuan er,J. (2000). Community
-  Screniing kesehatan usia kelompok, dan komunitas
c. Fungsi and public health nursing.
balita gizi kurang / dengan modifikasi NAN-
2 Konsep PHC d. Tiga unsur PHC The Mosby Tear Book:
buruk , DA, ICNP,NOC dan NIC di
e. Prinsip PHC St.Louis. (10th ed). UK:
-  Identifikasi faktor resiko Puskesmas dan masyarakat,
f.  Posyandu
c) Prevensi tersier: Jakarta, Penerbit UI
g. Posbindu Wiley Blackwell
- pendokumentasian
Pedoman Umum Penge-
- pencatatan kasus/ insiden Herdman, T.Heather
lolaan Posyandu. (2011).
- rujukan NANDA Diagnosis
Jakarta: Departemen
Keperawatan: Definisi &
Kesehatan RI
Klasifikasi 2015-2017 EGC

Back 26
Program Studi DIII Keperawatan

d. Fokus kegiatan keperawatan Standar Diagnosis Keper- 1) Pengkajian fokus pada Achyar komang ayu.H.
komunitas: awatan Indonesia: Definisi kelompok anak remaja den- (2014) Asuhan Keper-
-  Proses kelompok dan indicator Diagnostik. gan masalah merokok: awatan Komunitas . Jakarta.
-  Pendidikan keperawatan Tim Pokja SDKIDPP a) Study dokumentasi : Data EGC
-  Intervensi professional Library of Conggress Cata- jumlah remaja di masing 2 Anderson, Elizabeth & Mc.
keperawatan loging in Publication wilayah, RT, RW. Farlane, Judith. (2011).
-  Kemitraan/kerjasama b) Angket : pengetahuan,per Community as partner: The-
-  Pemberdayaan (empow Data. (2013). Nursing ilaku sikap merokok ory and practice in nursing,
erment ) intervention classification c) Observasi lingkungan / (6th ed). Philadelphia:
e. Evaluasi (NIC). (5th ed). St.Louis: wienshield survey : Lippincottt Willims &
f. Etik Legal terkait pemberian Elsevier Mosby Karakteristik lingkungan Wilkins.
asuhan Keperawatan kelom- Library of Conggress Cata- ,kegiatan remaja . Efendy dan Ferry Makhfud-
pok usia balita dengan gizi loging in Publication d) Wawancara ; Kader, li.(2009).Keperawatan kese-
a. Beneficience petugas kesehatan, tokoh hatan komunitas teori dan
b. Maleficience Data. (2013). Nursing masyarakat prakik dalam keperawatan.
c. Justice outcome classification 2) Diagnosa Keperawatan Jakarta. Salemba medika
d. Otomi (NOC). (5th komunitas fokus pada Riasmini, M. (2017).
masalah anak remaja dengan Panduan Asuhan Keper-
Riasmini, M. (2017). perilaku merokok awatan individu, keluarga,
Panduan Asuhan Keper- 3) Strategi intervensi keper kelompok, dan komunitas
awatan;individu, keluarga, awatan komunitas: dengan modifikasi NAN-
kelompok, dan komunitas a) Prevensi primer : DA, ICNP,NOC dan NIC di
dengan modifikasi NAN- - Pendidikan keperawatan Puskesmas dan masyarakat,
DA, ICNP,NOC dan NIC di - Intervensi professional Jakarta, Penerbit UI
Puskesmas dan Asuhan keperawatan keperawatan Herdman, T.Heather
komunitas pada kelompok b) Prevensi sekundair: NANDA Diagnosis
Nasrulloh.D. (2014). Etika 4 usia remaja dengan masalah - Screniing kesehatan Keperawatan: Definisi &
dan Hukum Keperawatan, perilaku merokok pada remaja Klasifikasi 2015-2017 EGC
Jakarta, Trans info media remaja - Identifikasi faktor resiko Standar Diagnosis Keper-
Notoatmodjo, S. c) Prevensi tersier: awatan Indonesia: Definisi
(2007). Promosi kesehatan - pendokumentasian dan indicator Diagnostik.
& ilmu perilaku. Jakarta: - pencatatan kasus / Tim Pokja SDKIDPP
Rineka Cipta. insiden Library of Conggress
- rujukan Cataloging in Publication
4) Fokus kegiatan keperawatan Data. (2013). Nursing
Achyar komang ayu komunitas intervention classification
.H.(2014) Asuhan Keper- - Proses kelompok (NIC). (5th ed). St.Louis:
a. Pengkajian fokus pada
awatan Komunitas . Jakarta. - Pendidikan keperawatan Elsevier Mosby
kelompok dewasa dengan
EGC - Intervensi professional Library of Conggress Cata-
masalah DBD
1) Study dokumentasi : Data keperawatan loging in Publication Data.
Anderson, Elizabeth & Mc. - Kemitraan/ kerjasama (2013). Nursing outcome
jumlah penderita DBD di
Farlane, Judith. (2011). - Pemberdayaan (empow- classification (NOC).
masing 2 wilayah,RT,RW.
Community as partner: The- erment ) Riasmini, M. (2017).
2) Angket : pengetahuan ttg
ory and practice in nursing, 5) Evaluasi Panduan Asuhan Keper-
penyakit DBD, kemampuan
(6th ed). Philadelphia: 6) Etik Legal terkait pemberian awatan;individu keluarga,
mengenal secara dini ttg
Lippincottt Willims & asuhan Keperawatan kelom- kelompok, dan komunitas
tanda gejala DBD, kemam-
Wilkins. pok usia balita dengan gizi dengan modifikasi NAN-
puan penduduk pencega-
han, riwayat menderita a) Beneficience DA, ICNP,NOC dan NIC di
Efendy dan Ferry Makhfud- b) Maleficience Puskesmas dan
DBD, upaya 3 M plus
li. (2009).Keperawatan kes- c) Justice Notoatmodjo, S.
3) Observasi lingkungan /
ehatan komunitas teori dan d) Veracity (2007). Promosi kesehatan
wienshield survey : Karak-
prakik dalam keperawatan. e) Otomi & ilmu perilaku. Jakarta:
teristik lingkungan yang
Jakarta. Salemba medika Rineka Cipta
berisko DBD, kepadatan
jentik nyamuk, kegiatan 1) Pengkajian fokus pada Achyar komang ayu
Riasmini, M. (2017).
jumantik . kelompok lansia dengan .H.(2014) Asuhan Keper-
Panduan Asuhan Keper-
4) Wawancara: Kader, hipertensi awatan Komunitas . Jakarta.
awatan;individu, keluarga,
petugas kesehatan, tokoh a) Study dokumentasi : Data EGC
kelompok, dan komunitas
masyarakat KMS,jumlah balita,data
dengan modifikasi NAN-
b. Diagnosa Kep.komunitas SKDN Anderson, Elizabeth & Mc.
DA, ICNP,NOC dan NIC di
fokus pada masalah DBD b) Angket: pengetahuan,sikap Farlane, Judith. (2011).
Puskesmas dan masyarakat,
c. Strategi intervensi keper dan perilaku masyarakat Community as partner: The-
Jakarta, Penerbit UI
awatan komunitas : terkait dengan merokok ory and practice in nursing,
a) Prevensi primer : c) Observasi lingkungan / (6th ed). Philadelphia:
Herdman, T.Heather
Asuhan keperawatan komu- -  Pendidikan keperawatan wienshield survey Lippincottt Willims &
NANDA Diagnosis (Keper-
3. nitas pada masalah dewasa -  Intervensi professional d) Wawancara ; Kader, lansia, Wilkins.
awatan: Definisi &Klasifi-
penyakit DBD keperawatan tokoh masyarakat
kasi). 2015-2017 EGC
b) Prevensi sekundair: 2) Diagnosa Kep.komunitas Yogiantoro, M. 2014.
-  Screniing kesehatan fokus pada masalah lansia Pendekatan Klinis Hiper-
Library of Conggress Cata-
penyakit DBD dengan hipertensi tensi, dalam Siti, S., dkk,
loging in Publication
-  Identifikasi faktor resiko 3) Strategi intervensi keper Buku ajar ilmu penyakit
Data. (2013). Nursing
c) Prevensi tersier: awatan komunitas : dalam (hlm. 2259-2313).
intervention classification
-  Pendokumentasian a) Prevensi primer :
(NIC). (5th ed). St.Louis:
-  Pencatatan kasus / - Pendidikan keperawatan Riasmini, M. (2017).
Elsevier Mosby
insiden Asuhan keperawatan komu- - Intervensi professional Panduan Asuhan Keper-
-  Rujukan 5 nitas pada kelompok lansia keperawatan awatan;individu keluarga,
Library of Conggress Cata-
d. Fokus kegiatan keperawatan masalah hipertensi b) Prevensi sekundair: kelompok, dan komunitas
loging in Publication Data.
komunitas - Screening kesehatan dengan modifikasi NAN-
(2013). Nursing outcome
- Proses kelompok penyakit hipertensi DA, ICNP,NOC dan NIC di
classification (NOC). (5th)
- Pendidikan keperawatan - Identifikasi faktor resiko Puskesmas dan masyarakat,
- Intervensi professional c) Prevensi tersier: Jakarta: Penerbit UI
Riasmini, M. (2017).
keperawatan - pendokumentasian
Panduan Asuhan Keper-
- Kemitraan/kerjasama - pencatatan kasus / Herdman, T.Heather
awatan;individ, keluarga,
- Pemberdayaan (empow insiden NANDA Diagnosis
kelompok, dan komunitas
erment ) - rujukan Keperawatan: Definisi &
dengan modifikasi NAN-
e. Evaluasi 4) Fokus kegiatan keperawatan Klasifikasi 2015-2017 EGC
DA, ICNP,NOC dan NIC di
f. Etik Legal terkait pemberian komunitas
Puskesmas dan
asuhan Keperawatan kelom- - Proses kelompok Standar Diagnosis Keper-
Nasrulloh.D. (2014). Etika
pok usia balita dengan gizi : - Pendidikan keperawatan awatan Indonesia: Difinisi
dan Hukum Keperawatan,
a) Beneficience - Intervensi professional dan indicator Diagnostik.
Jakarta,Trans info media
b) Maleficience keperawatan Tim Pokja SDKIDPP
c) Justice - Kemitraan/ kerjasama
Notoatmodjo, S.
d) Veracity - Pemberdayaan (empow
(2007). Promosi kesehatan
e) Otonomi erment )
& ilmu perilaku. Jakarta:
Rineka Cipta.

27 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

5) Evaluasi Library of Conggress Anderson, T.E., McFarlane,J. (2007). Buku ajar


6) Etik Legal terkait pemberian Cataloging in Publication
asuhan Keperawatan Data. (2013). Nursing keperawatan komunitas teori dan praktik. Edisi 3.
kelompok usia lansia dengan intervention classification
hipertensi
a) Beneficience
(NIC). (5th ed). St.Louis:
Elsevier Mosby
Jakarta: EGC
b) Maleficience
c) Justice Library of Conggress Cata-
d) Veracity loging in Publication Data.
e) Otonomi (2013). Nursing outcome
classification (NOC). (5th)

Riasmini, M. (2017).
Panduan Asuhan Keper-
awatan;individu keluarga,
kelompok, dan komunitas
dengan modifikasi NAN-
DA, ICNP,NOC dan NIC di
Puskesmas dan masyarakat,
Jakarta, Penerbit UI

Notoatmodjo, S.
(2007). Promosi kesehatan
& ilmu perilaku. Jakarta:
Rineka Cipta

Contoh Soal, Kunci Jawaban, Pembahasan dan


Rujukan

1. Hasil pengkajian terhadap sebuah Posbindu


ditemukan data sebanyak 54 % dari 70 lansia
mengalami Hipertensi, 53 % tidak menjalankan
pola hidup sehat , 25 % factor herediter. Selanjut-
nya perawat bersama-sama lansia akan melakukan
relaksasi nafas dalam untuk menurunkan ketegan-
gan sehingga diharapkan tekanan darahnya bisa
stabil. Manakah peran yang sedang dilakukan per-
awat dalam kegiatan tersebut ?

a. Educator
b. Advocate
c. collaborator
d. Role model
e. Care provider

Kunci Jawaban: E (care provider)

Pembahasan:

Care provider yaitu pemberi asuhan keperawatan, di-


mana dalam kasus diatas perawat memberikan asu-
han keperawatan dengan cara melatih relaksasi nafas
dalam kepada para lansia

Rujukan :

Achyar, Komang ayu, H. (2014). Asuhan Keper


awatan Komunitas. Hal. 41. Jakarta . EGC.

Back 28
Next
Back
BAB V
LATIHAN SOAL
UJIAN KOMPETENSI NASIONAL
D. III KEPERAWATAN

Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

A. Petunjuk Soal: 2. Seorang laki laki umur 32 tahun di rawat di


RS dengan keluhan sesak nafas setelah makan
1. Periksa kelengkapan dan kejelasan soal
seafood. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
2. Bacalah soal dengan cermat dan hati-hati bunyi nafas wheezing, bibir sianosis, retraksi
3. Mintalah penggantian lembar soal jika tidak interkostal, berkeringat dingin dan frekuensi
lengkap atau tidak jelas tulisannya. nafas 30 kali/menit.

Apakah posisi yang tepat untuk mengatasi


masalah oksigenasi pasen tersebut 
B. Petunjuk Pengisian Jawaban:
a. Sim kanan
1. Jawablah soal pada lembar jawaban yang
b. Terlentang
disediakan
c. Lithotomy
2. Gunakan pensil 2 B pada saat menjawab soal d. High fowler
e. Tredelenberg
3. Jawab pertanyaan soal dengan memberikan
tanda bulat hitam pada alternatif jawaban
yang tersedia 3. Seorang laki-laki berusia 45 tahun sudah
4. Jawab soal dengan jujur dan percaya diri. dirawat 4 hari diRS karena mengalami ben-
turan pada daerah dada. Hasil pemeriksaan
5. Jangan melihat kunci jawaban terlebih dahulu rontgen menunjukkan pasen mengalami
pada saat menjawab soal. hemothoraks. Saat ini pasien dipasang WSD
untuk mengeluarkan darah dari rongga pleu-
ra dan pada slang WSD tidak tampak adanya
Soal: sumbatan/aliran lancar

1. Seorang laki-laki berusia 40 tahun dirawat Apakah indikator utama dari perawatan pa-
di rumah sakit, dengan keluhan: sesak nafas sien tersebut?
disertai dengan batuk produktif sejak 3 bulan
yang lalu dan tidak nafsu makan. Pada pemer- a. menurunnya keluhan nyeri dada
iksaan fisik: pasen tampak lemas, badan ku- b. menurunnya sesak nafas yang dirasakan
rus, banyak berkeringat di malam hari, dahak c. tidak ada hambatan dalam pergerakan
kental berwarna kehijauan dan frekwensi per- otot dada
nafasan 28 kali/menit. d. tidak ada tanda-tanda infeksi pada daerah
luka WSD
Apakah prioritas tindakan keperawatan yang e. tidak adanya penambahan jumlah darah
harus dilakukan pada kasus di atas? dalam botol WSD

a. melatih batuk efektif


b. mengatur posisi semi fowler 4. Seorang laki-laki usia 40 dirawat di RS kare-
c. memberikan oksigen melalui nasal canule na mengeluh pusing dan nyeri kepala terus
d. memberikan nutrisi tinggi kalori dan ting- menerus. Pasen mengatakan sudah menderita
gi protein hipertensi sejak 5 tahun lalu dan orang tuan-
e. memberikan penkes tentang cara mence- ya juga meninggal karena hipertensi. Pasen
gah penularan. memiliki kebiasaan merokok, suka makan
makanan yang berlemak dan minum kopi ser-
Back 29
Program Studi DIII Keperawatan

ta kurang olah raga. 7. Seorang laki-laki usia 25 tahun dirawat di RS


dengan keluhan muntah dan BAB cair lebih
Manakah dari riwayat atau kebiasaan pasen
dari 15 kali sejak semalam. Pada pemeriksaan
tersebut yang merupakan faktor resiko hiper-
fisik tampak: turgor kulit menurun, mukosa
tensi yang tidak bisa dirubah?
bibir kering, kesadaran lethargis, tekanan da-
a. kebiasaan makan makanan berlemak rah 85/50 mmHg, dan frekuensi nadi 110 kali/
b. kebiasaan minum kopi menit teraba lemah.
c. kebiasaan merokok Apakah prioritas rencana keperawatan yang
d. kurang berolah raga perlu diberikan pada pasen tersebut?
e. riwayat herediter
a. lakukan pemberian cairan infus sesuai
dengan program medis.
5. Seorang wanita berusia 62 tahun dirawat di b. berikan minum oralit sebanyak 2 liter
ruang penyakit dalam karena mengalami nyeri c. observasi tingkat kesadaran pasen.
dada ketika sedang jalan-jalan pagi di seki- d. observasi tanda-tanda vital.
tar rumahnya. Nyeri menjalar dari dada kiri e. observasi intake output.
kemudian menyebar ke punggung dan dira-
sakan hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik
8. Seorang laki-laki usia 28 tahun dirawat di RS
diperoleh terdengar bunyi jantung tambahan
dengan keluhan demam selama 7 (tujuh) hari,
dan irama irreguler.
badan dirasakan lemah dan tidak ada nafsu
Apakah jenis pemeriksaan diagnostik yang makan. Hasil pemeriksaaan fisik ditemukan
diperlukan untuk memastikan penyebab kelu- suhu tubuh 38.5°C,  lidah, kulit, dan rambut
han pada pasen tersebut ? kotor. Hasil lab menunjukkan test widal (+) . 

a. pemeriksaan USG jantung Apakah prioritas intervensi yang harus dilaku-


b. pemeriksaan treadmill. kan pada pasen di atas?
c. pemeriksaan rontgen
a. berikan nutrisi dengan porsi kecil tapi ser-
d. pemeriksaan urine
ing
e. pemeriksaan EKG
b. lakukan kompres dingin pada daerah ke-
tiak.
6. Seorang perempuan, umur 60 tahun, dirawat c. bantu kebutuhan personal hygene pasen
di RS karena mengalami gagal jantung. Klien d. berikan minum air putih 2 liter per hari.
mengeluh:  kedua kaki bengkak, cepat lelah e. batasi aktifitas pasen
dan sesak nafas jika tidur terlentang.

Apakah masalah keperawatan utama pada 9. Seorang remaja umur 16 tahun, dirawat telah
pasen tersebut?  3 hari di rumah sakit dengan keluhan muntah
berdarah. Hasil pemeriksaan fisik:  keadaan
a. penurunan perfusi jaringan perifer umum lemah, konjungtiva pucat, sklera tidak
b. kelebihan volume cairan tubuh ikterik. Saat ini pasen sedang dipuasakan dan
c. penurunan curah jantung telah dilakukan pemasangan NGT. Perawat
d. gangguan istirahat tidur bermaksud memantau ketepatan posisi NGT
e. pola nafas tidak efektif tersebut.

30 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Apakah tindakan yang harus dilakukan oleh c. kulit dan sklera tidak ikterik
perawat ? d. berat badan pasen meningkat
e. hasil pemeriksaan Lab: HBSAg (-)
a. melakukan auskultasi udara yang dima-
sukan ke dalam NGT
b. mengukur panjang slang NGT yang akan 12. Seorang perempuan berusia45 tahun di rawat
dimasukan. di RSkarena mengeluh nyeri setelah BAK dis-
c. memberikan pelumas/jelly pada ujung ertai ada darah dan butiran batu dalam urine
NGT nya. Hasil pemeriksaan fisik tampak kandung
d. mengukur tanda-tanda vital kemih bengkak, warna urine kemerahan, jum-
e. mendengarkan bising usus lah urine out put 400 cc/24 jam, serta pasen
tampak gelisah dan berkeringat dingin.
10. Seorang laki-laki dirawat selama 5 hari di RS
Apakah prioritas tindakan keperawatan pada
karena menjalani operasi appendictomy. Klien
kasus tersebut?
mengeluh nyeri ringan. Pada pemeriksaan
fisik diperoleh terdapat luka operasi di daerah a. menenangkan kondisi pasen.
kwadran kanan bawah abdomen yang masih b. memenuhi rasa nyaman pasen.
basah. c. mengobservasi urine output pasen.
d. melakukan pemasangan folley catheter
Apakah prioritas tindakan keperawatan yang
e. Memberikan minum minimal 2 liter/hari
harus dilakukan pada kasus di atas?

a. mengatasi masalah nyeri dengan teknik


13. Seorang laki-laki berusia 55 tahun di rawat di
relaksasi
RSkarena baru 6 jam lalu menjalani operasi
b. melatih mobilisasi dan ambulasi dari tem-
pengangkatan batu kandung kemih. Pada saat
pat tidur.
dikaji klien mengeluh nyeri dan saat ini se-
c. mencegah infeksi pada dengan melaku-
dang menjalani pembersihan kandung kemih
kan perawatan luka.
dengan irigasi catheter, urine tampak berwar-
d. mencegah terjadinya kambuh dengan
na merah dan bercampur dengan bekuan da-
memberikan pendidikan kesehatan.
rah.
e. memenuhi kebutuhan ADL: dengan mem-
bantu kebutuhan personal hygene pasen Apakah prioritas tindakan keperawatan pada
kasus tersebut?

11. Seorang perempuan usia 18 tahun dirawat di a. mempertahankan kelancaran irigasi


RS karena mengeluh mual dan badan terasa le- catheter
mas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: kulit b. memenuhi kebutuhan sehari-hari pasen.
dan sklera ikterik, dan berat badan menurun, c. melakukan observasi tanda-tanda vital.
suhu tubuh 37,8 oC. Hasil pemeriksaan darah d. mengajarkan relaksasi atau distraksi
HBSAg (+). e. membatasi aktivitas pasen.

Apakah indikator utama keberhasilan pera-


14. Seorang laki-laki umur 65 tahun dirawat di RS
watan pada kasus di atas?
karena telah menjalani operasi pengangkatan
a. suhu tubuh normal prostat akibat BPH.  Pada pengkajian diper-
b. tidak terjadi penularan oleh data: pasen terpasang folley catheter su-
Back 31
Program Studi DIII Keperawatan

dah 2 minggu, warna urine kuning jernih dan a. intoleransi aktivitas


pada hari ini pasen direncanakan akan dilaku- b. pola nafas tidak efektip
kan pelepasan folley catheter. c. kelebihan volume cairan
d. penurunan perfusi jaringan
Apakah prioritas intervensi keperawatan pada
e. nutrisi kurang kebutuhan tubuh
pasen  tersebut?

a. berikan penjelasan tentang perawatan di


17. Seorang perempuan umur 63 tahun dirawat
rumah.
di RS karena menderita Gagal ginjal kronik.
b. anjurkan pasen untuk memperbanyak mi- Hasil pemeriksaan fisik diperoleh data: pasen
num. tampak sesak, bunyi nafas ronchi dan edema
anasarca. Urine output selama 24 jam adalah
c. larang pasen melakukan hubungan sexual
300 cc dan berat badan klien 50 Kg.
d. siapkan alat untuk pelepasan catheter.
Berapakah jumlah maksimal cairan yang
e. lakukan bladder training. diberikan kepada pasen tersebut selama 24
jam?

15. Seorang perempuan umur 55 tahun dirawat di a. 300 cc


ruang penyakit dalam akibat menderita glo- b. 500 cc
merulonefritis kronik. Berdasarkan hasil pe- c. 800 cc
meriksaan fisik diperoleh data: pasen tampak d. 1000 cc
sesak, anoreksia, mulut dan nafasnya tercium e. 1200 cc
bau ureum serta terdapat edema di seluruh tu-
buh. 18. Seorang laki-laki umur 60 tahun dirawat di
Apakah prioritas masalah keperawatan pada RS, karena menderita stroke infark. Pada
kasus di atas? pengkajian diperoleh data:tingkat kesadaran
stuporus, bunyi nafas terdengar ngorok, lemah
a. gangguan pertukaran gas O2 dan CO2 tubuh sebelah kanan, reflek menelan menurun
b. nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. dan terdapat parese pada otot wajah.
c. gangguan integritas kulit.
d. kelebihan volume cairan. Apakah masalah keperawatan utama pada
e. aktivitas intolerance. pasien tersebut?

a. bersihan jalan nafas tidak efektip.


16. Seorang perempuan umur 63 tahun dirawat di b. gangguan perfusi jaringan otak.
RS karena mengalami edema seluruh tubuh. c. kerusakan komunikasi verbal
Hasil pemeriksaan fisik diperoleh data: pasen  d. kerusakan mobilisasi tubuh
tampak sesak, conjungtiva pucat, mulut dan e. gangguan asupan nutrisi.
nafasnya tercium bau ureum serta urine out-
put 250 cc/24 jam. Hasil pemeriksaan dokter 19. Seorang laki-laki umur 56 tahun dirawat di
pasen mengalami gagal ginjal kronik. RS, karena menderita stroke perdarahan. Pada
pengkajian diperoleh data: tingkat kesada-
Apakah masalah keperawatan utama pada
ran coma, pupil mata anishokor, bunyi na-
pasen  tersebut?
fas terdengar ngorok, TD = 200/120 mmHg,

32 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

frekuensi nadi 112 kali/menit, frekuensi nafas a. E1 M2 V1


35 kali/menit dan suhu 38,3 oC. Sekarang anda b. E1 M2 V3
sedang memperbaiki posisi pasen. c. E2 M4 V2
d. E3 M4 V3
Apakah posisi yang paling tepat untuk pa-
e. E2 M5 V5
sien tersebut?

a. pasen diposisikan duduk 22. Seorang laki-laki umur 35 tahun dirawat di RS


b. terlentang datar tanpa bantal. karena mengalami trauma kepala. Pada saat
c. miring ke kiri/ke kanan setiap 2 jam. dikaji pasien hanya bisa membuka mata den-
d. kepala lebih rendah 15 – 30 derajat tubuh gan rangsang suara sambil tangannya berusa-
pasen. ha melokalisasi rangsang nyeri yang diberikan
e. kepala lebih tinggi 15 – 30 derajat dari dan pasien mengeluarkan suara yang membi-
tubuh pasen ngungkan. 

Berapakah nilai total GCS pasen tersebut?


20. Seorang wanita umur 35 tahun sudah 3 hari
dirawat di RS karena menderita meningitis a. 15
serosa, untuk memastikan penyakit tersebut b. 14
dokter akan melakukan pemeriksaan lumbal c. 13
punksi tapi klien gelisah, menangis dan me- d. 12
nolak tindakan. e. 11

Apakah tindakan pertama yang harus perawat


lakukan untuk menghadapi klien tersebut? 23. Seorang laki-laki usia 63 tahun dirawat di RS
a. lapor kepada dokter penanggung jawab karena mengeluh lemas, pusing disertai sering
untuk memberikan obat penenang. kencing dan haus. Pada pemeriksaan fisik di-
b. biarkan klien untuk mengekspresikan peroleh data kesadaran lethargis, badan tam-
keinginannya sampai klien tenang. pak kurus, kulit pruritus, TD 100/60 mmHg,
c. lakukan restrain supaya klien tidak geli- frekuensi nadi 68 kali/menit, frekuensi nafas
sah dan berhenti menangis. 18 kali/menit dan suhu tubuh 36,7 oC.
d. libatkan suami atau orang tua klien untuk
Manakah data spesifik yang menunjukkan
menenangkan nya.
pasen kemungkinan mengalami DM?
e. lakukan informed consent kepada pasen
a. Kulit pruritus dan badan kurus
b. Lethargis dan kulit pruritus
21. Seorang laki-laki umur 30 tahun dirawat di
c. Badan kurus dan lethargis
RS karena mengalami trauma kepala. Pada
d. Sering kencing dan haus
saat dikaji pasien hanya bisa membuka mata
e. Pusing dan lemas
dengan rangsang nyeri sambil tangannya be-
rusaha menghindari rangsang nyeri dan pa-
sien mengeluarkan suara yang tidak jelas atau 24. Seorang perempuan umur 56 tahun dirawat
mengerang.  di RS karena mengalami DM type II. Pasen
mengeluh lapar, haus, sering kencing dan
Berapakah komposisi nilai GCS pasen terse-
lemas. Pada pemeriksaan fisik diperoleh data:
but?
BB 40 Kg TB 166 cm, mukosa bibir kering
Back 33
Program Studi DIII Keperawatan

dan terdapat luka (gangraen) didaerah jari Apakah jenis pemeriksaan lab/diagnostik spe-
kaki. Pasen mendapatkan therapi insulin dan sifik yang diperlukan pada kasus di atas?
saat ini anda akan melakukan injeksi insulin
a. USG.
sesuai dengan program therapi.
b. urine lengkap
Apakah tindakan yang harus dilakukan per- c. darah lengkap
awat sebelum melakukan injeksi insulin? d. photo Rontgen
e. Kadar T3 dan T4
a. menghitung intake output
b. mengobservasi tanda-tanda vital
c. mengecek tingkat kesadaran pasen 27. Seorang laki-laki usia 49 tahun dirawat di RS.
d. memastikan makanan sudah siap berada Klien mengeluh sulit menggerakan tungkai
di meja pasen kanan setelah mengalami benturan. Pada pe-
e. memberikan pendidikan kesehatan ten- meriksaan sendi terdapat keterbatasan gerak
tang diet pada pasen DM. dan pada saat diminta tungkai nya digerakan:
pasen tidak dapat menahan gravitasi.

25. Seorang perempuan umur 65 tahun dirawat di Berapakah nilai kekuatan otot pasen tersebut?
RS karena ada gangraen/ulkus pada ibu jari
kaki nya. Pasen mengatakan sudah menderita a. 0
DM selama 7 tahun, tetapi tidak rutin kontrol/ b. 1
memeriksa gula darah, masih sering makan c. 2
melebihi ketentuan diet, dan jarang melaku- d. 3
kan olahraga. e. 4

Apakah indikator utama keberhasilan per-


awatan pada kasus di atas? 28. Seorang laki-laki usia 34 tahun sudah 14 hari
dirawat di RS setelah dilakukan operasi pe-
a. pasen melakukan olah raga secara teratur. masangan plat/pin pada tungkai bawah sebe-
b. luka gangraen di ibu jari kaki sembuh/ti- lah kanan akibat fraktur. Saat dikaji pasien
dak diamputasi. mengeluh nyeri ringan dan sudah diperbole-
c. pasen taat terhadap program diit yang ha- hkan latihan berjalan dengan menggunakan
rus dijalankannya kruk. Saat ini anda sedang melatih pasen
d. pasen melaksanakan kontrol gula darah menggunakan kruk.
secara rutin setiap bulan
e. adanya perubahan perilaku positip pasen Bagaimanakah posisi kaki pasen yang sakit
terkait dengan penyakit nya. saat berjalan dengan menggunakan kruk?

a. berada di belakang kruk


26. Seorang perempuan umur 46 tahun dirawat di b. maju sejajar dengan kruk
RS karena pada daerah leher bagian depann- c. diayun mengikuti arah kruk
ya mengalami pembengkakan dan menonjol d. menjadi tumpuan saat melangkah
kedepan sebesar bola tenis. Pasen mengeluh e. diberi tumpuan dengan menggunakan
nyeri saat menelan. Pada pemeriksaan fisik: kruk
mata tidak tampak menonjol dan tidak didapa-
tkan palpitasi atau berkeringat banyak.

34 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

29. Seorang perempuan, berumur 45 tahun, a. observasi intake output


dirawat di ruang perawatan orthopedi. Pa- b. lakukan rehidrasi cairan
sien mengeluh nyeri pada  lutut kiri. Pada pe- c. penuhi rasa nyaman pasen
meriksaan fisik ditemukan pembengkakan di d. observasi tanda-tanda vital
paha kanan dekat lutut. Tekanan darah 90/70 e. lakukan perawatan luka bakar
mmHg, Suhu 38 oC, frekuensi nadi 120 x/
menit. 32. Seorang perempuan usia 30 tahun berat badan
50 kg dirawat di RS karena menderita luka  ba-
Apakah masalah keperawatan prioritas pada
kar. Dari data pengkajian didapatkan adanya
pasien tersebut?
luka bakar grade II di dada 7 %, kedua lengan 
a. nyeri akut 4 % punggung 25 %. Pasen rencananya mau
b. kecemasan dilakukan pemasangan infuse RL  untuk men-
c. intoleransi aktivitas gatasi gangguan kebutuhan cairan.
d. takut akan kehilangan
Berapakah jumlah cairan yang harus diberi-
e. gangguan mobilitas fisik
kan kepada pasen selama 24 jam pertama? 

a. 3600 ml
30. Seorang Laki-laki usia 30 tahun dirawat di RS
b. 4800 ml
karena luka bakar. Perawat melakukan peng-
c. 6000 ml
kajian untuk menentukan derajat luka bakar
d. 7200 ml
tersebut dan diperoleh data yaitu: bagian yang
e. 8400 ml
terkena seluruh epidermis dan sebagian der-
mis, luka tampak pucat, kering, berlilin dan
tidak memutih serta nyeri saat ditekan. 33. Seorang laki-laki usia 35 tahun datang ke poli
kulit dengan keluhan kulitnya sudah lama
Apakah derajat luka bakar yang dialami pa-
mengalami gatal gatal di seluruh bagian kulit
sien tersebut?
nya. Pada saat pengkajian ditemukan adanya
a. derajat I dermatitis dengan krusta yang mulai menger-
b. derajat II-a ing.
c. derajat II-b
Apakah prioritas tindakan keperawatan untuk
d. derajat II-c
mengatasi krusta pada pasen diatas ?
e. derajat III
a. lakukan kompres basah terbuka
31. Seorang laki-laki 27 tahun dirawat 1 hari di RS b. lakukan kompres kering terbuka
karena menderita luka bakar. Pasen mengeluh c. lakukan kompres basah tertutup
nyeri berat dengan skala 8, pada pemeriksaan d. lakukan kompres basah tertutup
fisik didapatkan luka bakar derajat II dengan e. lakukan kompres hangat terbuka
luas 35 %. BB = 50 Kg, TD = 80/60 mmHg,
urine output 500 cc/24 jam, frekuensi nadi 96
34. Saat ini sebagai perawat, anda sedang mem-
kali/menit dan frekuensi nafas 26 kali/menit,
berikan transfusi darah pada pasien anemia.
suhu 37,1 oC.
Tiba-tiba pasien mengeluh pusing, menggigil
Apakah prioritas utama rencana keperawatan dan gatal-gatal pada seluruh badan.
untuk kasus di atas? Apakah tindakan pertama yang akan anda
Back 35
Program Studi DIII Keperawatan

lakukan ketika menghadapi kondisi tersebut? 37. Seorang laki-laki umur 65 tahun dirawat di
RS mata karena mengeluh penglihatan mata
a. mengukur tanda-tanda vital.
kanannya buram. Ketika saudara periksa visus
b. menghentikan transfusi darah.
diperoleh hasil bahwa pasen hanya bisa meli-
c. memberikan oksigen 2 liter/menit
hat cahaya.
d. melapor kepada dokter penanggung jawab
e. memberikan obat anti histamin sesuai ha- Berapakah nilai visus mata kanan pasen?
sil kolaborasi.
a. 6/6
b. 5/6
35. Anda sedang merawat pasen yang diduga c. 3/6
mengalami HIV (+). Saat ini pasen merasa d. 1/6
khawatir sekali dengan penyakitnya karena e. 1/~
merasa semua orang menjauhinya. Dari data
fisik ditemukan adanya erosi pada mukosa
mulut, bercak hitam pada bibir  dan makula 38. Seorang perempuan umur 60 tahun dirawat
hiperpigmentosa pada seluruh tubuh. setelah menjalani operasi katarak pada mata
kiri nya. Pada saat diperiksa tampak mata kiri
Apakah prioritas intervensi keperawatan pada
tertutup verban, pasen kelihatan bingung dan
kasus di atas?
bertanya apa yang harus dilakukan setelah op-
a. lakukan perawatan luka erasi, serta khawatir mata nya tetap tidak bisa
melihat.
b. tingkatkan imunitas pasen
Apakah prioritas tindakan yang harus dilaku-
c. cegah terjadinya penularan
kan perawat pada kasus tersebut?
d. berikan rasa nyaman kepada pasen
a. memonitor tanda-tanda vital pasen
e. berikan dukungan emosi pada pasen b. mengganti verband mata kiri pasen.
c. menganjurkan pasen untuk istirahat
d. memberikan penjelasan tentang per-
36. Seorang laki-laki usia 25 tahun dirawat di RS awatan post operasi
karena menderita HIV (+)/AIDS akibat peng- e. melaporkan kondisi pasen kepada dokter
gunaan narkoba melalui jarum suntik. Dari yang mengoperasinya
data fisik ditemukan adanya erosi dan bercak
hitam pada mukosa mulut dan genital, diare,
kesadaran lethargis dan badan tampak kurus. 39. Seorang laki-laki umur 18 tahun datang ke
Poliklinik THT mengeluh pendengaran nya
Apakah indikator evaluasi keperawatan pada
menurun. Anda melakukan test garpu tala
kasus di atas?
dengan menggetarkan garpu tala dan mele-
a. pasen sembuh dari penyakit nya takan tangkainya pada tulang mastoid dan
b. pasen berhenti menggunakan narkoba. setelah tidak terasa getarannya segera dipin-
c. tidak terjadi penularan pada orang lain. dahkan ke depan telinga, pasen masih bisa
d. tanda dan gejala yang ada pada pasen hi- mendengar jelas getaran tersebut.
lang.
Apakah interpretasi hasil dari test garpu tala
e. pasen tabah dan memiliki harapan yang
tersebut:
realistis.

36 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

a. Weber (-) pada tanggal 12 Maret 2017 merupakan awal


b. Weber (+) menstruasi dan merupakan menstruasi terakh-
c. Rhinne (-) irnya. Ibu ingin mengetahui  apakah dirinya
d. Rhinne (+) hamil atau tidak.
e. Scwabach (+)
Apakah yang akan anda lakukan pada ibu
tersebut?
40. Seorang perempuan umur 20 tahun datang ke
a. Melakukan pemeriksaan kehamilan
Poliklinik THT mengeluh nyeri telinga dan
melalui pemeriksaan USG
pendengaran nya menurun, setelah berenang
b. Menganjurkan ibu untuk memeriksakan
di sungai. Pada pemeriksaan fisik dari lubang
kehamilan melalui sampel darah
telinga keluar cairan kuning dan bau, daun tel-
c. Memintanya untuk melakukan pemerik-
inga tampak bengkak dan kemerahan. Pasen
sakan kehamilan melalui sample urin
bertanya kenapa ini bisa terjadi dan malu den-
d. Menyarankan melakukan screening terh-
gan telinga nya.
adap kemungkinan adanya  gangguan re-
Apakah prioritas masalah pada kasus di atas? produksi
e. Menyampaikan kepada ibu menunggu 1
a. cemas
bulan lagi untuk melihat tanda dan gejala
b. nyeri akut
lainnya muncul
c. kurang pengetahuan
d. gangguan pendengaran
e. gambaran diri menurun 43. Seorang ibu datang ke poli kandungan untuk
memeriksakan kehamilannya. Ibu menga-
41. Seorang ibu hamil 28 minggu dilakukan pal- takan usia kehamilannya menginjak 7 bulan,
pasi leopold, kemudian ibu merasakan tidak mengeluh sulit BAB. Ibu mengatakan pola
nyaman pada perutnya. Saat dilakukan palpa- BAB sebelum hamil tidak ada masalah yaitu
si teraba kontraksi dan ibu dianjurkan untuk rutin setiap hari, tetapi saat ini BAB 3 atau
relaksasi dan nafas dalam. Selain itu menge- kadang 4 hari sekali. Ibu mengatakan cairan
luh terjadi perubahan pada wajahnya terutama yang ibu minum cukup sekitar 8 gelas sehari
pada pipi terdapat bercak kehitaman yang se- bahkan lebih.
makin gelap dan banyak.
Apakah masalah keperawatan yang utama un-
Apakah perubahan yang terjadi pada wajah tuk masalah ibu tersebut ?
ibu tersebut ?
a. Risiko konstipasi
a. Striae lividae b. Ketidakseimbangan cairan
b. Striae albican c. Risiko intake cairan tidak adekuat
c. Linea nigra d. Ketidaknyamanan pola BAB karena
d. Linea alba adanya haemorroid
e. Cloasma e. Defisiensi pengetahuan terkait perubahan
fisiologis sistem pencernaan

42. Seorang ibu pada tanggal 14 April 2017 datang


ke poliklinik mengaku terlambat menstrua- 44. Seorang ibu datang ke poli kandungan dengan
si selama 4 minggu. Ibu mengatakan bahwa keluhan mual dan muntah yang sering terjadi
Back 37
Program Studi DIII Keperawatan

terutama pagi hari disertai pusing. Dilakukan 47. Seorang ibu G2 P1 A0 hamil 27 minggu
pengkajian ibu mengatakan sudah sebulan ini datang ke Puskesmas datang untuk memer-
tidak haid. HPHT menurut ibu tanggal 18 Ok- iksakan kehamilannya, anak pertama berusia
tober 2017. 2,5 tahun. Ibu mengeluh kadang merasa pus-
ing sudah beberapa minggu ini, gerakan janin
Kapankah taksiran persalinan ibu tersebut ?
cukup aktif. Hasil pemeriksaan didapatkan
a. 25 Juli 2018 TFU 2 jari diatas pusat, DJJ 140 x/mnt, ede-
b. 26 Juli 2018 ma wajah tidak ada, edema pada pretibia, TD
c. 25 Juni 2018 140/95 mmHg.
d. 27 Juni 2018
Apakah pemeriksaan diagnostik tambahan
e. 14 Juni 2018
yang dapat dilakukan ?

a. Kimia darah
45. Seorang ibu G3P2A0 hamil 29 minggu datang
b. Protein Urin
ke Puskesmas. Dilakukan pengkajian dengan
c. Darah lengkap
tinggi fundus uteri (TFU) 28 cm, dan kepala
d. Berat jenis urin
berada di bawah spina ischiadika.
e. Gula darah sewaktu
Berapakah kira-kira usia kehamilannya saat
ini ?
48. Seorang perempuan dengan G2 P0 A1 ham-
a. 36 minggu il 28 mgg mengeluh keluar darah pervagina
b. 35 minggu tanpa ada rasa nyeri. TTV suhu 36,8°C, Nadi
c. 34 minggu 80 x/mnt, TD 120/70 mm Hg, RR 20 x/mnt.
d. 33 minggu Klien tampak gelisah memikirkan kondisi
e. 32 minggu kehamilannya. Hasil pemeriksaan dinyatakan
mengalami perdarahan antepartum.

46. Seorang ibu datang ke puskesmas G1 P0 Apakah yang perlu dikaji lebih lanjut tentang
A0 hamil 33 minggu, mengeluh mengalami perdarahan pada pasien tersebut ?
perdarahan saat bangun tidur namun tidak ada
a. Waktu perdarahan, riwayat abortus
nyeri. Saat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut
b. Riwayat menstruasi, riwayat abortus
dengan USG hasilnya menunjukan plasenta
c. Jumlah perdarahan, warna perdarahan
previa marginalis.
d. Waktu perdarahan, keluhan saat
Apakah tindakan yang sebaiknya tidak dilaku- menstruasi
kan pada ibu tersebut ? e. Warna perdarahan, keluhan menjelang
menstruasi
a. Observasi kontraksi
b. Pemeriksaan dalam
c. Palpasi manuver leopold 49. Seorang ibu 27 tahun, G2 P1 A0 hamil 38
d. Pemeriksaan tinggi fundus minggu, datang ke puskesmas pukul 16.00.
e. Mengukur Tanda-tanda vital Kemudian dilakukan pemeriksaan didapatkan
TFU 36 cm, ibu mengeluh sudah mulas-mu-
las namun belum teratur sejak 10 jam yang
lalu. Ibu mengatakan mules-mules 2-3x setiap

38 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

10 menit selama 20 detik, selain itu ibu juga didapatkan TD 120/78 mmHg, N 78 x/mnt, Sh
mengeluh sudah keluar lendir bercampur da- 36oC, RR 18 x/mnt, TB 143 cm, BB 53 kg,
rah. Saat dilakukan periksa dalam sudah ada TFU 30 cm, tafsiran berat janin 2700 gram.
pembukaan 2 cm, serviks tipis dan mendatar, Hasil pemeriksaan dalam pembukaan 2 cm.
ibu meringis.
Apakah faktor passager yang harus dikaji leb-
Apakah Diagnosa keperawatan utama pada ih lanjut pada persalinan pervaginam ?
kasus diatas ?
a. Ukuran janin
a. Cemas berhubungan dengan mulainya pe- b. Psikologis ibu
salinan c. Bentuk panggul
b. Nyeri berhubungan dengan peningkatan d. Karakteristik serviks
intensitas kontraksi e. Kekuatan kontraksi ibu
c. Risiko infeksi berhubungan dengan adan-
ya pembukaan serviks 52. Seorang ibu baru saja melahirkan bayi laki-la-
d. Defisit volume cairan berhubungan den- ki, saat ini sudah dua jam dilakukan observasi
gan peningkatan output cairan diruang pemulihan. Ibu merasakan darah kel-
e. Risiko ketidakseimbangan volume cairan uar cukup banyak dirasakan pembalut penuh,
berhubungan dengan pengeluaran per sudah ganti pembalut namun sekarang sudah
vaginam terasa keluar darah lagi dan BAK keluar se-
dikit. Hasil pengkajian TTV dalam batas nor-
mal, TFU teraba 3 jari diatas pusat, uterus ter-
50. Seorang ibu G1 P0 A0 hamil 40 minggu,
aba lunak dan agak ke kanan, kandung kemih
datang ke puskesmas pk 15.00. TFU 36 cm,
teraba keras.
merasakan mules-mules sudah sering sejak
5 jam yang lalu dan ada rasa seperti ingin Apakah intervensi prioritas yang dapat diberi-
mengejan. Setelah dilakukan observasi his kan untuk ibu tersebut?
didapatkan his 5x tiap 10 menit selama 48
a. Observasi tanda-tanda vital
detik. Klien juga mengatakan sudah ada yang
b. Melakukan massage pada uterus
keluar dari vagina yaitu lendir bercampur da-
c. Membantu ibu mengganti pembalut
rah banyak. Saat dilakukan periksa dalam,
d. Observasi kandung kemih dan lakukan
pembukaan lengkap, dan porsio tidak teraba.
kateterisasi
Berada pada kala berapakah ibu tersebut? e. Menjelaskan kepada ibu pentingnya
mengganti pembalut
a. Kala I
b. Kala II
c. Kala III 53. Seorang ibu post partum spontan hari ketujuh
d. Kala IV melakukan kunjungan ulang untuk memer-
e. Kala I fase aktif iksakan kondisinya setelah melahirkan. Ibu
tampak sering menguap dan tampak lelah. Ibu
51. Seorang ibu 28 tahun, G1 P0 A0 hamil 40 mengatakan kurang tidur dan kurang nafsu
minggu datang ke Puskesmas. Mengeluh makan, ibu mengatakan yang masak ibu mer-
mulas-mulas sejak Pk 18.00 dan sudah kelu- tuanya dengan menu yang diperbolehkan han-
ar lendir bercampur darah. Pemeriksaan fisik ya nasi dan sayur-sayuran, karena menurut ibu

Back 39
Program Studi DIII Keperawatan

mertuannya jika makan telur atau ikan akan menit, dan suhu 36,5oC.
membuat ASI tambah amis dan luka jahitan
Apakah intervensi keperawatan yang bisa
lama keringnya.
dilakukan untuk ibu tersebut ?
Apakah yang dapat anda lakukan terkait kasus
a. Menganjurkan ibu untuk relaksasi
tersebut ?
b. Melakukan massage pada daerah uterus
a. Menganjurkan ibu untuk tetap mengkon- c. Anjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi
sumsi yang disediakan oleh ibu mertua dini
b. Menjelaskan pentingnya nutrisi sumber d. Mengobservasi adanya tanda-tanda
hewani untuk ibu post partum perdarahan
c. Menjelaskan cara perawatan bayi dan e. Menghintung banyaknya darah yang kel-
meningkatkan produksi ASI uar pada pembalut
d. Menjelaskan cara mencukupi kebutuhan
tidur ibu menyusui
56. Seorang bayi perempuan lahir pada tanggal
e. Memberikan edukasi tentang cara per-
1 Oktober 2017, pukul 10.35. Bayi saat lahir
awatan payudara
menangis kuat, skor APGAR 8/9. Bayi telah
dilakukan IMD, kemudian ditimbang, diukur
54. Seorang ibu baru saja 2 hari melahirkan anak PB dan antropometri lainnya. Bayi menangis,
perempuan. Ibu mengatakan saat anaknya saat diraba ternyata popok dan bajunya basah.
menangis bingung sekali karena sudah diber-
Apakah jenis kehilangan panas badan yang di-
ikan ASI dan popoknya yang basah sudah di-
alami bayi tersebut?
ganti. Ibu mengatakan ini merupakan pengala-
man pertama mengurus bayi. a. Radiasi
b. Konveksi
Apakah intervensi keperawatan yang dapat
c. Konduksi
diberikan untuk ibu muda tersebut?
d. Evaporasi
a. Auskultasi suara peristaltik usus e. Rehabilitasi
b. Mengobservasi intake dan output cairan
bayi
57. Bayi laki-laki baru saja lahir spontan satu jam
c. Bisa diberikan susu formula jika masih
yang lalu, gerakan aktif, BB 2450 gram, PB 48
menangis
cm, RR 40 x/mnt dengan usia kehamilan 36
d. Memberikan informasi cara mengatasi
minggu. Hasil pemeriksaan fisik tidak ditemu-
bayi menangis
kan kelainan.
e. Memberikan informasi tentang perawatan
bayi baru lahir Apakah tindakan keperawatan yang dapat kita
lakukan selanjutnya ?

55. Seorang ibu post partum 1,5 jam, usia 35 ta- a. Dimandikan
hun P3A0 saat ini mengeluh mules didaerah b. Pemberian oksigen
perut, kontraksi uterus teraba lemah, kandung c. Pemberian antibiotik
kemih kosong ibu sudah BAK ditempat tidur d. Dirawat dalam inkubator
dengan pispot. TD 110/60 mmHg, frekuensi e. Rawat gabung dengan ibunya
Nadi 82 x/menit, frekuensi pernafasan 18 x/
40 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

58. Seorang perempuan 49 tahun, sudah mempu- a. n + 9


nyai 2 orang anak, dinyatakan mengidap kank- 2
er serviks dari hasil pemeriksaan PAP smear. b. 2n + 8
Saat ini yang dirasakan adalah sedih karena c. 8n+2
dalam keluarga tidak ada yang terkena kanker. d. 3X5–7
e. 3 X BB lahir
Apakah penyebab terjadinya kanker serviks
pada perempuan ?
61. Seorang bayi laki-laki usia 1 bulan, Hasil
a. Virus HPV
pemeriksaan bayi dalam kondisi sehat untuk
b. Banyak pasangan
mendapatkan imunisasi BCG . Saudara segera
c. Menikah di usia dini
menyiapkan vaksin yang dibutuhkan untuk
d. Personal hygiene buruk
bayi tersebut.
e. Pakaian dalam yang lembab
Berapakah dosis yang akan diberikan pada
pemberian imunisasi diatas ?
59. Seorang perempuan 51 tahun, P5A2 datang
ke poli Ginekologi karena mengeluh perda- a. 1 cc
rahan padahal menurut klien sudah meno- b. 0,1 cc
pause 6 tahun yang lalu, daerah perut nyeri c. 0,5 cc
dan terasa membesar, pernah mengeluarkan d. 0,05 cc
darah setelah berhubungan, keputihan berbau e. 0,01 cc
sudah satu tahun terakhir, mempunyai riwayat
menggunakan kontrasepsi oral sekitar 20 ta-
62. Seorang anak perempuan usia 6 tahun
hun, orang tua meninggal 2 tahun yang lalu
dirawat hari ke 5 dengan DBD, berdasarkan
karena kanker serviks.
hasil pemeriksaan terakhir anak sudah diper-
Apakah pemeriksaan diagnostik yang tepat bolehkan esok hari. Untuk mengatasi kebosa-
untuk mengetahui kondisi diatas ? nan anak selama dirawat saudara memberi-
kan program bermain.
a. Biopsi
b. Kolposkopi Apakah jenis permainan yang tepat untuk
c. Pemeriksaan PAP smear anak tersebut ?
d. Pemeriksaan rontgen paru
a. bola bekel
e. Pemeriksaan laboratorium khususnya da-
b. kuda-kudaan
rah lengkap
c. boneka panda
d. alat masak-masakan
60. Seorang anak laki-laki usia 4 tahun, dibawa ke e. pensil dan buku gambar
posyandu oleh ibunya untuk mendeteksi tum-
buh kembang anak tersebut. Ibu sangat kuatir
63. Seorang bayi laki usia 5 bulan , untuk men-
karena menurut hasil pengamatannya anaknya
gatasi cemas akibat dampak hospitalisasi pada
tambah kurus.
anak saudara memberikan mainan .
Bagaimanakah rumus perkiraan BB untuk
Apakah jenis permainan yang tepat untuk bayi
anak tersebut ?
tersebut ?
Back 41
Program Studi DIII Keperawatan

a. Kotak mainan berwarna warni e. modifikasi lingkungan


b. Balon karet besar ber warna warni
c. Boneka beruang dengan mata kacing
66. Seorang anak laki-laki usia 12 tahun , dirawat
d. Mobil-mobilan dengan remote control
dengan DBD , menunjukkan reaksi terhadap
e. Truk kayu yang bisa didorong dan ditarik
hospitalisasi dimana saat pasien masuk ke ru-
ang perawatan saudara memperkenalkan diri
64. Seorang anak laki-laki usia 7 tahun, dirawat
namun anak tidak berespon, saat akan dilaku-
di rumah sakit untuk yang pertama kali den-
kan pengkajian anak tidak kooperatif , bahkan
gan keluhan batuk , panas sudah 3 hari. Un-
memalingkan mukanya ke tembok.
tuk mengetahui masalah keperawatan yang
dialami anak , saudara mengumpulkan data Apakah intervensi keperawatan psikososial
dengan melakukan pemeriksaan fisik anak. dan emosional yang dapat saudara berikan
pada kasus diatas ?
Apakah hal yang perlu diperhatikan saat
melakukan tindakan tersebut ? a. tingkatkan latihan fisik dan mobilitas
b. anjurkan keluarga untuk sering berkun-
a. lakukan prosedur traumatic terakhir
jung
b. tingkatkan kerjasama dengan distraksi
c. lakukan komunikasi dengan tingkatan
c. hindari gerakan yang kasar dan mengejut-
remaja
kan
d. bimbing remaja untuk mengembangkan
d. minta orang tua untuk melepas pakaian
sikap yang sehat
anaknya
e. beri kesempatan remaja untuk mengung-
e. tenangkan anak dengan sebotol air gula /
kapkan kecemasannya
makanan

67. Seorang anak perempuan usia 1,5 tahun ,


65. Seorang bayi laki-laki usia 9 bulan , dirawat
dirawat dengan keluhan batuk sudah lebih dari
dengan diare hasil pengkajian KU tampak
1 bulan , pada sore hari suhu tubuh meningkat
sakit sedang , suhu 38,5 0 C , Nadi 100 X/
, anak tidak nafsu makan , postur tubuh tam-
mnt , Frekuensi napas 30 X/mnt. Saat masuk
pak kurus . Untuk menegakkan diagnose anak
ke ruang perawatan bayi menangis terus dan
dilakukan test tuberculin .
tidak mau ditidurkan di atas tempat tidur . Un-
tuk memberikan perawatan atraumatic care , Apakah yang menandakan jika hasil test terse-
saudara meminta ibu pasien menemaninya but positif ?
saat anak ditidurkan .
a. daerah sekitar test berwarna merah den-
Apakah prinsip atraumatic yang diterapkan gan diameter > 10 mm
pada kondisi diatas ? b. terjadi pembengkakan dengan diameter
15 mm
a. meningkatkan kemampuan orang tua
c. terjadi penurunan suhu tubuh sampai 36
mengontrol keperawatan
0
C
b. menurunkan dan mencegah dampak perp-
d. adanya indurasi dengan diameter 10 mm
isahan dari keluarga
e. terjadi luka yang dalam dan nyeri
c. tidak melakuan kekerasan pada anak
d. mencegah atau mengurangi cedera

42 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

68. Seorang anak laki-laki usia 6 tahun dirawat 70. Seorang anak perempuan usia 3 tahun dirawat
dengan keluhan batuk , panas dan sesak na- dengan keluhan batuk, panas dan penurunan
pas. Berdasarkan pengkajian dan analisa data, BB. Berdasarkan anamnesa anak pernah
masalah keperawatan yang ditegakkan: tidak dirawat beberapa bulan yang lalu dengan ka-
efektif bersihan jalan nafas dengan interven- sus yang sama, mendapatkan terapi obat spesi-
si keperawatan saudara melakukan fisiotera- fik hanya ibu sering lupa memberikan kepada
pi dada, dengan salah satu tindakan saudara anaknya. Masalah keperawatan yang ditegak-
melakukan perkusi pada dada atau punggung kan : regimen terapeutik tidak efektif .
anak .
Apakah intervensi prioritas yang dilakukan
Bagaimanakah caranya melakukan tindakan untuk kasus diatas ?
tersebut diatas ?
a. ajarkan orang tua tentang program pen-
a. menggunakan alat khusus sehingga lokasi gobatan dan alasan menjalani pengobatan
dan pengeluaran slym lebih efektif dengan tuntas
b. tehnik pemukulan ritmik dilakukan den- b. beri pendidikan kesehatan cara penanga-
gan telapak tangan yang melekuk nan dan terapi yang harus diberikan pada
c. dilakukan setelah anak menghirup udara anaknya dirumah
yang dikeluarkan nebulizer c. identifikasi alternative pemberian layanan
d. melakukan pemukulan dengan posisi tel- yang dapat memberikan pengobatan anak
apak tangan terbuka lebar jika diperlukan
e. mengganjal bantal terlebih dahulu pada d. ajarkan orang tua untuk mendapatkan
area yang akan diperkusi obat pengganti disaat obat yang harus di-
minum anak sudah habis
e. informasikan kepada orang tua tempat
69. Seorang anak laki-laki usia 7 tahun dirawat
yang dapat dijangkau dengan mudah un-
dengan keluhan sesak nafas , hasil pengka-
tuk mendapatkan obat bagi anaknya
jian frekuensi napas 30 x/mnt tampak anak
menggunakan otot-otot bantu napas . Masalah
keperawatan yang ditegakkan: Perubahan 71. Seorang anak laki-laki usia 6 tahun dirawat
pola napas B/d dengan penurunan ekspansi dengan suspek TB paru . Untuk menegakkan
paru. Dari kondisi tersebut anak mendapatkan diagnose saudara ditugaskan untuk melaku-
terapi oksigen dengan nasal kanula . kan test tuberculin. Setelah saudara mengu-
nakan sarung tangan, menetukan lokasi test
Apakah hal prioritas yang perlu diperhatikan
dan desinfektan pada lokasi test dengan swap
saat prosedur tersebut berlangsung ?
alcohol 70 % , saudara memegang spuit den-
a. posisikan tidur anak senyaman mungkin gan tangan dominan .
b. pertahankan lingkungan agar tidak berisik
Apakah tindakan selanjutnya yang saudara
c. perhatikan botol humidifier jangan sam-
lakukan ?
pai kosong
d. pasang pengumuman dipintu kamar “ pa- a. Tusukan jarum kedalam lapisan kulit
sien perlu istirahat “ b. Anjurkan anak untuk menarik nafas
e. anjurkan orang tua agar segera melapor dalam
jika oksigen sudah habis

Back 43
Program Studi DIII Keperawatan

c. Anjurkan ibu untuk membantu 74. Seorang anak laki-laki usia 2,5 tahun , anak
memegangkan anaknya diawat dengan kejang demam yang pertama
d. Ganjal tangan yang akan ditusuk dengan kali . Selama 3 hari dirawat suhu tubuh anak
bantal agar tinggi tidak pernah meningkat hasil pemeriksaan ter-
e. Pegang spuit sehingga membentuk sudut akhir suhu 36,5 0C dan anak sudah diperbo-
10-15 0, dengan bevel keatas lehkan pulang , saudara memberikan edukasi
kepada orang tua cara penanganan kejang jika
terjadi berulang
72. Seorang anak perempuan usia 10 tahun ,
dirawat dengan GED, hasil pengkajian anak Apakah tindakan prioritas yang harus dilaku-
tampak sakit sedang , suhu tubuh 39 0 C , mu- kan orang tua sehubungan hal diatas ?
kosa mulut dan lidah kering .Masalah keper-
a. Memakaikan pakaian yang ringan
awatan prioritas yang ditegakkan perawat :
b. Biarkan kejang terjadi dan berakhir tanpa
Gangguan keseimbangan cairan tubuh . Salah
gangguan
satu intervensi keperawatan melakukan moni-
c. Mengamati dan mendokumentasikan ak-
tor intake output ketat /24 jam .
tivitas kejang
Bagaimanakah dokumentasi yang saudara d. Menyingkirkan semua objek yang berba-
buat, jika kesimpulan hasil monitor balance haya dekat anak
cairan negative ? e. Membaringkan anak pada satu sisi dan
tetap bersama anak
a. intake 950 cc output 875 cc
b. intake 1100 cc output 1100 cc
c. intake 1400 cc output 1250 cc 75. Seorang anak laki-laki usia 4 tahun dirawat
d. intake 1550 cc output 1450 cc hari ke-3 dengan kejang demam. Ku anak baik
e. intake 1600 cc output 1750 cc dan sudah diperbolehkan pulang. Prioritas
keperawatan yang ditegakkan perawat adalah
deficit pengetahuan berhubungan dengan per-
73. Seorang bayi perempuan usia 9 bulan, dirawat
awatan dirumah .
dengan diare sebanyak 6 kali , muntah se-
banyak 3 kali. Hasil pengkajian suhu 38 0 C, Apakah intervensi prioritas yang sesuai den-
mukosa bibir dan mulut kering, turgor kulit gan kasus tersebut ?
kurang elastis. Berdasarkana analisa data, ma-
a. Ajarkan orang tua cara minum obat ter-
salah keperawatan yang ditegakkan: ganggu-
masuk dosis dan efek sampingnya
an volume cairan : dehidrasi sedang dengan
b. Anjurkan agar meningkatkan asupan nu-
salah satu intervensi keperawatan memantau
trisi adekuat bagi anaknya
hidrasi secara akurat .
c. Pesankan untuk datang control kembali
Manakah tindakan keperawatan yang dimak- sesuai kebutuhan anak
sud dari tindakan diatas ? d. Ajarkan orang tua pentingnya memberi
istirahat yang adekuat
a. mengukur BB harian
e. Berikan surat istirahat sakit agar keseha-
b. mengkaji turgor kulit
tan anak optimal
c. memeriksa nilai elektrolit
d. mengobservasi tetesan infus
e. memantau asupan dan haluaran

44 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

76. Seorang perempuan usia 28 tahun, berkun- c. mengevaluasi respon persepsinya


jung ke poliklinik psikiatri. Hasil pengkajian d. mengidentifikasi suara yang didengar
didapatkan data gelisah, merasa tidak nya- klien
man, sulit tidur, bicara berlebihan dan cepat, e. membantu klien fokus pada stimulus ek-
saat interaksi tiba tiba blocking, tidak mampu sternal
menerima informasi yang diungkapkan oleh
perawat.
79. Seorang perempuan usia 25 tahun, dirawat
Apakah tindakan keperawatan yang prioritas di ruang psikiatri, hasil pemeriksaan fisik
diberikan pada kasus diatas? didapatkan : pasien memperlihatkan perilaku
mengkritik diri dan orang lain, produktifit-
a. mengajarkan distraksi
asnya menurun, pesimis menghadapi hidup,
b. mengkonsulkan ke Psikiater
mengeluh sakit kepala, merasa tidak mampu
c. membimbing tarik nafas dalam
dan merasa bersalah serta mudah tersinggung.
d. menemukan penyebab ansietas
e. memberikan suara musik yang tenang Apakah tindakan utama yang dapat dilakukan
pada kasus diatas?

77. Seorang laki-laki usia 20 tahun, dibawa ke a. Bantu klien dalam menilai kemampuan
klinik untuk konsultasi ke psikiater, informasi yang dapat digunakan
dari pengantar sejak dua tahun terakhir, men- b. Identifikasi kemampuan dan aspek positif
jadi sangat pendiam, banyak mengurung diri yang masih dimiliki klien
di kamar, menolak untuk berinteraksi, sering c. Pilih kegiatan-kegiatan klien yang sudah
komat kamit. dipilih sesuai kemampuan
d. Bantu klien dalam merencanakan kegia-
Apakah diagnosa keperawatan yang dapat
tan sesuai kemampuannya.
ditegakkan pada kasus diatas?
e. Bantu klien dalam menetapkan kegiatan
a. isolasi social sesuai dengan kemampuan
b. gangguan HDR
c. gangguan alam perasaan
80. Seorang wanita, usia 26 tahun, dibawa keluar-
d. perubahan mental organik
ganya ke Poli klinik jiwa karena sudah sem-
e. gangguan persepsi sensori
inggu tidak mau mandi, badan kotor dan bau,
tidak mau makan dan bila makan berantakan,
78. Seorang laki-laki usia 27 tahun, dirawat di BAB dan BAK sembarangan, pemeriksaan
ruangan psikiatri , hasil pengkajian didapat- fisik dalam batas normal.
kan : pasien duduk menyendiri, bicara sendiri,
Apakah strategi tindakan keperawatan perta-
tertawa sendiri. Obat psikotik sudah diberikan
ma yang saudara lakukan pada pasien terse-
sesuai program pengobatan. Perawat memutus
but?
halusinasi dengan cara bercakap-cakap.

Apakah tujuan tindakan yang diberikan pada a. Melatih pasien cara makan yang baik
kasus diatas? b. Melatih cara BAB dan BAK yang baik
c. Mengajak pasien mandi dan berdandan
a. meningkatkan konsentrasi d. Menjelaskan pentingnya perawatan ke-
b. mengisi kegiatan sehari hari. bersihan diri
Back 45
Program Studi DIII Keperawatan

e. Menjelaskan pentingnya keluarga dalam klien seperti ini sejak ia diceraikan oleh sua-
merawat diri pasien minya dan di PHK. Tanda-tanda vital dalam
batas normal, setelah pemeriksaan psikologis
dokter memberikan terapi lordomer dan diaz-
81. Seorang perempuan usia 35 tahun, dirawat di
epam injeksi.
ruang rawat Jiwa, hasil pengkajian didapat-
kan : ada riwayat amuk dirumah, mengatakan Apakah tujuan dari pemberian terapi medis
kalau marah merusak perabot rumah tangga, pada pasien tersebut?
sering memukul suami. Dalam percakapan
a. menenangkan pasien
dengan pasien perawat mengatakan ”Setelah
b. membuat pasien tertidur
ibu memukul suami dan merusak perabotan
c. mengendalikan emosi pasien
rumah tangga, apa yang ibu rasakan?”.
d. membuat pasien mengenal realita
Apakah tujuan komunikasi pada kasus diatas? e. memampukan pasien untuk bicara dengan
baik
a. melatih sikap asertif
b. mengevaluasi respon pasien.
c. mengeksplorasi perasaan pasien 84. Seorang perempuan usia 25 tahun, dirawat di
d. membina hubungan saling percaya ruangan psikiatri RS Jiwa, hasil pengkajian
e. mendiskusikan akibat tindakan yang didapatkan : pasien duduk menyendiri, bicara
dilakukan sendiri, tertawa sendiri . Obat psikotik sudah
diberikan sesuai program pengobatan. Sesuai
rencana hari ini akan dilaksanakan SP1.
82. Seorang perempuan, usia 38 tahun, datang ke
IGD psikiatri diantar oleh keluarganya. Hasil Apakah tujuan tindakan yang diberikan pada
pengkajian diketahui bahwa di rumah pasien kasus diatas?
marah-marah bicara kasar, merusak barang
dan mengancam, sudah 2 bulan sejak ia di- a. klien dapat memutus halusinasi dengan
ceraikan oleh suaminya. Tanda-tanda vital da- cara spirituali
lam batas normal, b. klien dapat memutus halusinasi dengan
cara menghardik
Apakah diagnosa keperawatan utama yang c. klien dapat memutus halusinasi dengan
dapat saudara tegakkan ? cara bercakap-cakap
d. klien dapat memutus halusinasi dengan
a. harga diri rendah kronis
cara minum obat teratur
b. harga diri rendah situasional
e. klien dapat memutus halusinasi dengan
c. perilaku kekerasan
cara terapi aktivitas kelompok.
d. risiko perilaku kekerasan
e. koping individu tidak efektif
85. Saudara sebagai perawat pelaksana di ruang
bedah yang diberi tugas oleh ketua tim untuk
83. Seorang perempuan, usia 38 tahun, datang ke
melaksanakan asuhan keperawatan terhadap 2
ruang IGD psikiatri diantar oleh keluarganya.
orang pasien yang mengalami kecelakaan lalu
Dari pengkajian diketahui bahwa di rumah pa-
lintas, kemudian saudara melakukan pengkaji-
sien marah-marah, merusak barang dan men-
an data dan menetapkan prioritas masalahnya.
gancam. Keluarga mengatakan sudah 2 bulan

46 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Apakah yang menjadi kriteria dalam menetap- a. menentukan tindakan keperawatan


kan prioritas masalah pada kasus diatas? b. menentukan tujuan keperawatan
c. menentukan prioritas masalah
a. disusun berdasarkan diagnose
d. menentukan kriteria hasil
keperawatan
e. menentukan rencana
b. prioritas masalah berdasarkan keinginan
pasien
c. diagnosa keperawatan dibuat sesuai 88. Sebagai seorang perawat pelaksana di ru-
dengan wewenang perawat ang syaraf saudara ditugaskan untuk mer-
d. status kesehatan dibandingkan dengan awat pasien dengan tingkat ketergantungan
norma utk menentukan kesenjangan partial care.
e. masalah yang mengancam kesehatan
Apakah tingkat ciri dari ketergantungan
seseorang merupakan prioritas kedua
partial care tersebut ?

a. hampir tidak memerlukan bantuan dalam


86. Kepala Ruangan Penyakit Syaraf memberikan
personal hygiene
pengarahan pada perawat pelaksana tentang
b. membutuhkan bantuan 1 orang untuk naik
penulisan dokumentasi keperawatan menggu-
turun tempat tidur
nakan model Problem Intervention Evalua-
c. mampu berpakaian , berdandan dengan
tion (P.I.E) .
sedikit bantuan perawat
Apakah yang harus dituliskan dalam kolom d. memerlukan observasi tanda – tanda vital
problem pada model dokumentasi tersebut di- setiap jam setiap harinya
atas ? e. memerlukan observasi tanda- tanda vital
setiap 8 jam setiap harinya
a. data subyektif, obyektif dan penunjang
b. hasil pengkajian keperawatan dan
masalahnya 89. Perawat “X” saat ini sedang bertugas di ruang
c. diagnosis keperawatan, tujuan dan Bedah dan merawat pasien dengan kategori
kriteria hasil Minimal care
d. identitas pasien, nomor register dan
Apakah kriteria pasien Minimal care ?
riwayat kesehatan
e. masalah keperawatan, rencana tindakan a. makan dibantu
dan implementasi b. bantuan eliminasi
c. bantuan kebersihan diri
d. observasi tanda vital setiap shift
87. Seorang perawat pelaksana di ruangan Anak
e. observasi tanda vital setiap 2 jam
ditugaskan oleh Ketua Tim untuk merawat
seorang pasien. Perawat tersebut melakukan
90. Saudara dinas di ruang perawatan penya-
pengkajian, data yang diperoleh suhu badan
kit dalam dimana kepala ruangan mem-
390C, tidak mau makan dan rewel.
berikan tugas kepada kepada seorang
Apakah langkah selanjutnya yang dilakukan perawat untuk merawat pasien sejak per-
oleh perawat pelaksana tersebut pada kasus tama masuk Rumah sakit sampai pulang.
diatas?

Back 47
Program Studi DIII Keperawatan

Apakah metode penugasan yang diterapkan pernah diderita kepada pasien yang menjadi
di ruang tersebut ? tanggung jawabnya.

a. tim Apakah yang menjadi tanggung jawab per-


b. kasus awat pelaksana pada kasus tersebut
c. primer
a. membuat perencanaan
d. modular
b. menyelenggarakan konferensi
e. fungsional
c. menilai tingkat kebutuhan pasien
d. kerjasama dengan anggota tim kesehatan
91. Saudara bertugas di ruang perawatan orthope- lainnya
dic, dengan metode penugasan memberikan e. memberikan asuhan keperawatan pada
asuhan keperawatan kepada sekelompok pa- pasien yang menjadi tanggung jawabnya
sien bersama perawat lain dipimpin oleh ketua
tim .

Apakah tanggung jawab yang dilaksanakan


94. Saudara sebagai perawat pelaksana bertugas
oleh ketua tim tersebut?
shift pagi di ruang penyakit dalam, tugas
a. melakukan tindakan saudara akan dilanjutkan oleh perawat yg ber-
b. mengikuti timbang terima tugas shift sore.
c. mendokumentasikan tindakan
Apakah yang menjadi tujuan dari timbang ter-
d. menyelenggarakan konference
ima dari perawat shift pagi ke shift sore?
e. merawat pasien dari masuk sampai pulang
a. timbang terima dilaksanakan setiap per-
gantian shift
92. Kepala ruangan penyakit dalam menerapkan
b. terdokumentasinya asuhan keperawatan
metode penugasan primer dan saudara ditu-
pasien
gaskan melaksanakan asuhan keperawatan
c. tersusunnya rencana kerja untuk dinas
yang sudah dibuat oleh perawat primer
berikutnya
Apakah peran saudara dalam metode penu- d. menyampaikan kondisi pasien yang kritis
gasan tersebut. e. kedua kelompok yang dinas sdh siap

a. perawat assosiet
b. ketua tim 95. Kepala ruangan penyakit saraf menugas-
c. anggota tim kan saudara dinas sore, saudara akan melak-
d. perawat primer sanakan timbang terima dengan perawat dinas
e. nursing aid malam yang akan bertugas berikutnya.

Apakah yang perlu disampaikan pada saat


93. Seorang perawat pelaksana di ruang penyakit timbang terima
dalam ditugaskan oleh ketua tim memberikan
a. intervensi kolaboratif dan Independensi
asuhan keperawatan terhadap 3 orang pasien,
b. tindakan keperawatan yang sudah dan be-
perawat pelaksana tersebut menanyakan kelu-
lum dilakukan
han yang dirasakan dan riwayat penyakit yang
c. diagnose medis tidak perlu cukup identi-

48 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

tas pasien Apakah strategi penyelesaian konflik yang


d. tindakan yang khusus langsung disam- paling tepat digunakan pada kasus tersebut ?
paikan didepan pasien
a. kompetisi
e. penyampaian pada saat timbang terima
b. akomodasi
dilakukan secara lengkap dan detail.
c. smoothing
d. menghindar
96. Saudara sebagai ketua tim memonitoring per- e. negoisiasi
awat pelaksana ketika melakukan perawatan
pasien luka bakar dan memberikan arahan
99. Ruangan A adalah ruang penyakit dalam yang
serta motivasi agar perawat pelaksana dapat
baru diresmikan di RS B semua peralatan
melakukan perawatan luka dengan benar.
baru, kepala ruangan dan semua perawatnya
Apakah kegiatan yang sedang dilakukan juga baru, pada situasi tersebut terjadi konflik
ketua tim tersebut ? antara kepala ruangan, ketua tim dan perawat
pelaksananya.
a. supervisi Tidak langsung
b. supervisi langsung Apakah konflik yang terjadi pada kasus terse-
c. investigasi but ?
d. kolaborasi
a. Intrapersonal
e. negosiasi
b. Interpersonal
c. Intergroup
97. Seorang perawat yang baru lulus ditugaskan d. Kompromi
di ruang bedah orthopedic, perawat tersebut e. Kolaborasi
merasa tidak cocok bertugas di ruang bedah
akan tetapi dia tidak berani untuk mengajukan
100. Seorang perawat di ruang perawatan bedah
pindah ruangan.
umum dalam memberikan asuhan keper-
Apakah jenis konflik yang terjadi pada per- awatan menunjukan kemampuannya menan-
awat tersebut? gani masalah pasien, memberikan informasi
dengan jelas tentang hal hal yang dilarang da-
a. Intrapersonal
lam perawatan dan tepat waktu dalam mem-
b. interpersonal
berikan pelayanan.
c. intergroup
d. horizontal Apakah dimensi mutu yang ditunjukan per-
e. vertikal awat tersebut ?

a. realibility
98. Kepala bidang keperawatan RS Z meren- b. assurance
canakan menambah jumlah tempat tidur di ru- c. tangibles
angan khusus gangguan kardio vaskuler akan d. emphathy
tetapi kepala ruangannya tidak setuju karena e. responsiveness
jumlah perawatnya kurang sehingga asuhan
keperawatannya tidak optimal.

Back 49
Program Studi DIII Keperawatan

101. Perawat D saat ini bertugas di ruang penyakit hatkan dengan berbaring di tempat tidur.
dalam RS X sebelum dan sesudah melakukan
Apakah evaluasi perawat selanjutnya pada
tindakan keperawatan maupun kontak dengan
pasien diatas?
pasien perawat D selalu mencuci tangan .
a. keluhan sakit kepala
Termasuk indicator pelayanan mutu keper-
b. tekanan Intra Kranial
awatan apakah yang dilakukan oleh perawat
c. penurunan tingkat kesadaran
D?
d. penurunan TD secara bertahap
a. keselamatan pasien e. observasi reaksi alergi
b. perawatan diri
c. Kenyamanan
104. Seorang perempuan berusia 56 tahun dibawa
d. Kepuasan pasien
ke UGD dengan keluhan kesulitan berna-
e. kecemasan
pas, frekuensi napas 28x/menit tidak teratur,
pasien punya riwayat asthma, hasil pemer-
102. Seorang perempuan berusia 56 tahun diba- iksaan fisik TD 120/70 mmHg, frekuensi nadi
wa ke UGD dengan keluhan cepat lelah dan 98x/menit. Diberikan oksigen 3 lt/menit, infus
napas terasa berat. Hasil pemeriksaan fisik pe- baru dipasang lancar, diberikan posisi semi
rut tampak membesar/ asites, edema extremi- fowler, Instruksi dokter segera berikan amino-
tas,, pasien sangat lemah pasien didiagnosis phylin drip, obat sudah tersedia.
gagal jantung kongestif, TD 100/70 mmHg, Apakah tindakan perawat selanjutnya pada
frekuensi nadi 93x/menit, frekuensi napas pasien tersebut ?
27x/menit tidak teratur.Pasien diberikan O2
3lt/menit, diberikan Lasix injeksi Intra Vena. a. obat dimasukkan kedalam cairan
Instruksi dokter balance cairan dimonitor se- b. hitung tetesan obat dengan tepat
cara intensif. c. observasi tanda tanda plebetis.
d. kaji pasien terhadap alergi obat
Apakah tindakan selanjutnya pada pasien di- e. observasi pola napas pasien
atas?

a. batasi minum oral 105. Seorang perempuan berusia 60 tahun dibawa


b. minimalkan cairan IV ke UGD dengan keluhan kesulitan bernapas,
c. pasang dower kateter akibat dahak/lendir yang kental sulit keluar,
d. ukur intake dan out put pasien ada riwayat pneumonia. Hasil pemerik-
e. auskultasi edema paru saan pasien tampak lemah, TD 110/70mmHg,
frekuensi nadi 98x/menit, frekuensi napas
29x/menit, ronchi (+). Instruksi dokter bersi-
103. Seorang laki laki berusia 51 tahun dibawa ke
hkan jalan napas, agar oksigen lancar masuk
UGD dengan keluhan pusing dan mata kunang
ke alveoli.
kunang. Hasil pemeriksaan fisik TD 200/100
mmHg, frekuensi nadi 102 x/menit, frekuen- Apakah tindakan perawat selanjutnya pada
si napas 28x permenit. Tiba tiba Pasien geli- pasien diatas?
sah, dr memberikan obat antihypertensi untuk
a. lakukan pengisapan lendir dan basahi
menurunkan 25% tekanan sistolik maupun di-
cairan
astolic dalam beberapa menit. Pasien diistira-

50 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

b. ajarkan batuk efektif secara intensif Kesadaran Compos mentis, TD100/60mmHg,


c. berikan banyak minum air hangat frekuensi nadi 80x/menit, frekuensi napas
d. bilas denganlarutanNa Cl 0,9% 20x/menit Suhu 370C, rencana konsul dokter
e. kolaborasi expectorant Orthopedi, sementara pasien immobilisasi
daerah fraktur.

106. Seorang perempuan berusia 34 tahun diba- Apakah tindakan mandiri perawat pada pa-
wa ke UGD karena ditemukan pingsan, ha- sien tersebut?
sil pengkajian CAB palpasi nadi carotis tidak a. pasang bidai daerah fraktur
teraba, TD 0/0 mmHg, mulut tampak siano- b. tinggikan kaki yang fraktur
tis dan luka, segera dilakukanResusi jantung c. observasi perdarahan
paru/ RJP. d. kaji intensitas nyeri
Apakah langkahpertama untuk mengatasi pa- e. kompres dingin
siendiatas ?
a. berikan rangsang kesadaran 109. Seorang prempuan berusia 31 tahun dibawa ke
b. kompresi 30x, ventilasi 2x UGD karena tertabrak motor, pasien menge-
c. lakukan bagging/ ambubag luh kaki kirinya luka sobek, nyeri dan tidak
d. rawat luka daerah mulut dapat diangkat, pasien ketakutan. Hasil pe-
e. berikan posisi mantap meriksaan rontgen fraktur tibia terbuka, luka
kotor dan perdarahan. Segera operasi pasang
external fixasi. TD 100/60, frekuensi nadi
107. Seorang perempuan berusia 41 tahun dibawa
85x/menit teratur, frekuensi napas 24x/menit,
ke UGD karena keringat dingin kesadaran
membutuhkan transfusi darah, kaki sudah di-
menurun setelah pulang dari olahraga malam,
pasang bidai.
pasien ada riwayat MCI. Pengkajian CAB
nadi carotis teraba kecil dan lambat, TD 60/0 Apakah tindakan perawat selanjutnya pada
mmHg, frekuensi napas 30x/menit dangkal, pasien diatas?
bibir tampak sianotis, rencana dilakukan RJP,
a. cek golongan darah
perawatharus mengatur posisi.
b. buat permintaan darah
Apakah tindakan pertama perawat pada pa- c. lakukan perawatan luka
sien diatas? d. berikan inform consent
a. siapkan alat bantuan jalan napas e. antar ke kamar operasi
b. posisi extensi head till, chin lift
c. berikan oksigen masker
110. Seorang laki laki berusia22 tahun dibawa
d. pasangmayo tube
ke UGD karena jatuh dengan leher terbentur
e. beri posisi mantap
benda tumpul, pasien tampak lemah kesaki-
tan daerah leher terutama ketika digerakkan
108. Seorang laki laki berusia 23 tahun dibawa TD 90/60mmHg, frekuensi nadi 92x/menit,
ke UGD RS, karena mengalami kecelakaan frekuensi napas 25x/menit, hasil rontgen pa-
lalulintas. Dilakukan pemeriksaan rontgen, sien dinyatakan fraktur cervical 3-4 harus im-
hasilnya fraktur tertutup tibia kanan, tampak mobilisasi.
bengkak dan krepitasi tidak dapat digerakkan.

Back 51
Program Studi DIII Keperawatan

Apakah tindakan yang tepat pada pasien c. lab analisa urine


diatas? d. cek fungsi hepar
e. darah lengkap
a. berikan posisi supine
b. pasang neckcollar
c. kompres dingin 113. Seorang laki laki berusia 51 tahun datang ke
d. ganjal 2 bantal UGD dengan keluhan nyeri uluhati, perut
e. tanpa bantal tampak membesar dan keras, mata kuning.
Hasil TTV;TD 110/70 mmHg, frekuensi nadi
92 x/menit, frekuensi napas 26x /menit, pasien
didiagnosis suspect sirhosis Hepatis. Tiba tiba
111. Seorang laki laki berusia 73 tahun, dibawa muntah darah kurang lebih 200 cc berwarna
ke UGD dengan keluhan tidak bisa kencing gelap dan banyak stolsel, perut masih tampak
sejak pagi hari, pasien gelisah. Hasil pemer- kembung dan mual, pasien sudah dipasang in-
iksaan fisik teraba distensi kandung kemih, fus asering 8 jam/kolf.
tekanan Darah : 130/70mmHg, frekuensi nadi
Apakah tindakan prioritas perawat pada pa-
88 x/menit, frekuensi napas 23 kali//menit,
sien diatas?
dilakukan colok dubur suspec BPH derajat III
yang membuat obstruksi urethra. a. Rencanakan transfusi darah segar
b. Pasang NGT bilas lambung
Apakah prioritas tindakan perawat pada pa- c. Kumur kumur air hangat
sien diatas? d. Monitor billirubun darah
a. pasang kateter kondom e. Cek lab: Hb, golongan darah
b. beri minum 3 liter/hari
c. pasang dowerKateter 114. Seorang laki laki berusia 20 tahun datang
d. kosul dbedah urolog ke UGD dengan keluhan nyeri perut kanan
e. kompres hangat bawah dan 2 x muntah. Hasil pemeriksaan
fisik TD 90/60 mmHg, frekuensi nadi 102 x/
menit, frekuensi napas 25 x/menit. Pasien di
112. Seorang laki-laki berusia 57 tahun dibawa
diagnosis appendeksitis akut, pasien gelisah
ke UGD dengan keluhanpusing dan mual,
karena nyeri. Instruksi dokter bedah umum
Keadaan umum lemah, kesadaran menurun.
segera harus dioperasi, namun pasien ketaku-
TD160/90 mmHg, frekuensi nadi 92 x/menit,
tan, perawat harus berperan sebagai Advoca-
tidak teratur, frekuensi napas 26x /menit ber-
tor.
bau ureum. Dari hasil anamnesis pasien se-
jak pagi belum BAK, kandung kemih tidak Apakah tindakan perawat selanjutnya pada
tegang. Pasien membutuhkan pemeriksaan pasien diatas?
laboratorium fungsi ginjal untuk menentukan
a. siapkan pasien untuk operasi
diagnosis medis.
b. berikan pasien inform consent
Apakah yang harus diberi tanda pada formulir c. hubungi dokter yang menangani
laboratorium tersebut? d. dampingi pasien sebelum operasi
a. cek ureum dan kreatinin e. sarankan keluarga untuk membujuk
b. enzyme jantung

52 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

115. Seorang laki laki berusia 37 tahun dibawa ke sianotis napas lambat dan dalam namun nadi
IGD karena kesadaran menurun, pasien mem- masih teraba pada pembuluh darah perifer.
punyai riwayat DM. Hasil pemeriksaan TD
Apakah tindakan perawatselanjutnya pada
100/60 mmHg, frekuensi napas 26 x/menit
pasien diatas?
tidak teratur, kaki tangan dingin, berkerin-
gat seluruh tubuh, frekuensi nadi 93 x/menit, a. Berikan oksigen masker 6 l/mt
gula darah 70 mg%, diberikan O2 6 liter/menit b. Ventilasi ambu bag O2; 10 liter
melalui masker, telah dipasang infus NaCl 0,9 c. Posisikan kepala jow trust
% 21 tetes /menit instruksi dokter berikan d. Lakukan primary survey
glucose 10 % IV . e. Pasang oksimetri

Apakah indikator utama evaluasi perawat


pada pasien setelah diberikan tindakan diatas? 118. Seorang laki laki berusia 31 tahun datang ke
UGD karena muntah muntah setelah men-
a. turgor kulit
coba bunuh diri dengan baygon. Pasien juga
b. tekanan darah
mengeluh nyeri kepala Hasil pemeriksaan
c. Tekanan darah
fisik: TD 100/60 mmHg, frekuensi nadi 91
d. tingkat kesadaran
x/menit, frekuensi napas 25 x/menit. Pasien
e. perabaan extremitas
tampak pucat lemah tak berdaya, kesadaran
menurun mulut berbusa.
116. Seorang prempuan berusia 42 tahun bawa ke
IGDdengankesadaran delirium, napas dangkal Apakah tindakan perawatselanjutnya pada pa-
berbau aseton. Pasien juga banyak keringat, sien diatas?
dari anamnesa ada riwayat DM sejak 3 tahun
a. Beri larutan norit
dan jarang kontrol. Hasil pemeriksaan fisik
b. Berikan minum banyak
TD 100/60 mmHg, frekuensi nadi 86x/menit,
c. Anjurkan kumur air hangat
frekuensi napas 27x /menit dangkal. Sudah
d. Pasang NGT bilas lambung
dipasang infus NaCl 0,9% dan Oksigen 3 l/
e. Pasang infus dan beri cairan IV
menit. Hasil lab gula darah sewaktu 300 gr %.

Apakah tindakan kolaborasi selanjutnya pada


119. Seorang perempuan berusia 32 tahun, dibawa
pasien diatas?
ke UGD karena kecelakaan mengalami ced-
a. cek aseton urin era kepala sedang. Tiba tiba pasien muntah
b. berikan insulin menyembur. Hasil pemeriksaan fisik TD
c. konsul diet DM 100/70 mmHg, frekuensi nadi 86 x/menit,
d. periksa lab elektrolit frekuensi napas 26x/menit, tingkat kesadaran
e. cek analisa gas darah apatis, mulut banyak muntahan.

Apakah langkah perawat selanjutnya pada pa-


117. Seorang laki laki berusia 51 tahun datang ke sien tersebut?
UGD RS karena mengeluh pusing dan mata a. Lakukan suction
kunang kunang setelah terpapar asap mobil da- b. kepala dimiringkan
lam garasi. Hasil pemeriksaan fisik TD 100/60 c. pasang oroparingeal tube
mmHg, frekuensi nadi 92 x/menit, frekuensi d. kaji kemampuan bernapas
napas 29x /menit. Tiba tiba Pasien pingsan, e. miringkan pasien dengan log rool
Back 53
Program Studi DIII Keperawatan

120. Seorang laki laki berusia 51 tahun datang ke Apakah tindakan kolaborasi perawatpada
UGD RS karena mengeluh pusing dan mata pasien diatas?
kunang kunang, tangan kiri tidak dapat dig-
a. pasang infusberikan cairan parenteral/re-
erakkan, kesulitan bicara. Hasil pemeriksaan
hidrasi
fisik TD 180/100 mmHg, frekuensi nadi 92
b. berikan minumlarutan elektrolit
x/menit, frekuensi napas 27x/menit. Tiba tiba
c. monitor TTV secara intensif
Pasien tidak sadar, perawat harus memastikan
d. lakukan pemeriksaan AGD
jalan napas tidak terjadi sumbatan.
e. cek elektrolit darah
Apakah tindakan perawatpada pasien diatas?

a. Pasang oroparingeal tube 123. Perawat C sedang melakukan pengkajian ter-


b. Posisikan kepala extensi hadap keluarga Bapak L yang baru saja didi-
c. Lakukan head till chin left agnosa Tuberkulosis Paru.
d. Posisikan kepala jow trust
Manakah pertanyaan yang paling tepat diaju-
e. Pasang naso tracheal tube
kan kepada keluarga untuk menggali kemam-
puan keluarga mengambil keputusan untuk
121. Seorang laki laki berusia 51tahun datang ke penanganan TBC?
UGD karena muntah muntah cairan , menge-
luh pusing dan mata kunang kunang. Hasil a. “Apakah bapak/ibu merasakan keadaan
pemeriksaan fisik kulit kering, bibir pecah TBC Paru pada bapak sebagai masalah
pecah TD 80/50 mmHg, frekuensi nadi 102 x/ ?”; Apakah bapak/ibu sudah mengetahui
menit, frekuensi napas 27x /menit. Tiba tiba sifat penyakit TBC jika tidak dilakukan
pasien gelisah, Instruksi dokter berikan cairan pengobatan dan perawatan dengan baik ?”
intravena 3 jam /kolf, infus sudah dipasang b. “Apakah bapak/ibu tahu apa itu penyakit
dengan tetesan cepat. TBC Paru ?”; “Apakah bapak/ibu tahu
penyebab TBC ?”; Apakah bapak dan ibu
Apakah yang harus dievaluasi perawatsegera tahu tanda dan gejala penyakit TBC?”
pada pasien diatas? c. “Apakah bapak/ibu sudah berupaya
a. Frekuensi muntah membuat rumah menjadi terang tersinari
b. Turgor kulit oleh matahari?”; Apakah ada anggota kel-
c. Produksi urine uarga lain yang menderita TBC Paru?”
d. Kekuatan otot d. “Apakah bapak tahu bahwa pengobatan
e. Denyut nadi perifir TBC harus 6 bulan ?” Bagaimana lang-
kah langkah mencegah penularan TBC
Paru ?”
122. Seorang laki laki berusia 35 tahun datang e. “Apakah bapak/ ibu tahu di mana saja pen-
ke UGD RS karena diare sampai 10x da- gobatan TBC dapat dilakukan?”; “Apa-
lam sehari dan mata cekung, kulit kering. kah bapak dan ibu sudah tahu bagaimana
Hasil pemeriksaan fisik TD 70/50 mmHg, cara minum obat anti TBC?”
frekuensi nadi 100 x/menit, frekuensi na-
pas 26x /menit. Tiba tiba pasien lemas-
mengeluh tidak berdaya pasien syok. 124. Perawat A mengunjungi rumah keluarga Ba-
pak B di RT 01 RW 09. Ibu B (49 tahun)

54 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

terdiagnosa menderita penyakit Diabetes e. dudukkan ibu V, berikan air putih


Melitus sejak 2 bulan yang lalu dengan ka- hangat dan berikan makanan yang
dar gula darah 250 mg/dl pada pemeriksaan mengandung karbohidrat tinggi.
laboratorium terakhir 1 minggu yang lalu.
Keluhannya saat ini adalah kaki sering kes- 126. Seorang laki-laki berusia 60 tahun, tinggal
emutan dan terasa kebas/ baal, sering kenc- bersama keluarga. Hasil pengkajian ditemu-
ing terutama malam hari. Klien terbiasa tidak kan nyeri dan bengkak pada daerah persen-
pakai alas kaki saat beraktifitas sehari-hari. dian, cepat lelah, senang makan kacang ka-
cangan. Hasil pemeriksaan fisik TD:130/80
Apakah prioritas masalah dignosa keper- mmHg, BB 65kg, TB 160 cm, asam urat 10
awatan yang dapat dirumuskan oleh perawat mg%. klien menolak untuk dilakukan tinda-
A pada kasus diatas? kan keperawatan pemberian kompres hangat.

a. Kurang pengetahuan Apakah prinsip etik yang harus perawat ter-


b. Gangguan rasa nyaman apkan terhadap kasus diatas?
c. Risiko terjadi injury
a. justice
d. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
b. veracity
e. Perfusi perifer tidak efektif 

c. otonomy
d. beneficience
e. malbeneficience
125. Perawat melakukan kunjungan rumah Ibu V
dengan Diabetes Melitus. Ibu V mencerita-
kan bahwa 2 hari yang lalu dia pingsan dipagi 127. Seorang Laki-laki berusia 69 tahun, tinggal
hari setelah dari kamar mandi. Sebelum ping- bersama istri. Hasil pengkajian  didapatkan
san dia merasa pusing, lemas, tiba2 pengliha- data tidak dapat menahan BAK, sering ngom-
tan gelap dan jatuh pingsan. Keluarga panik pol sebelum sampai kekamar mandi terutama
kemudian membawa Ibu V ke Puskesmas dan pada malam hari, merasa dirinya sudah tidak
dinyatakan mengalami hipoglikemia. berguna lagi karena sering dimarahi istri.  Ha-
sil pemeriksaan: TD:130/80 mmHg,  BB 65kg,
Apakah tindakan yang tepat diajarkan jika
TB 165 cm.
kejadian tersebut berulang?
Apakah masalah utama pada kasus tersebut ?
a. berikan teh manis hangat segera ketika
merasa lemas, pusing dan penglihatan a. Cemas
mulai berkunang kunang. b. Isolasi social
b. baringkan di tempat terbuka yang sirku- c. Koping tidak efektif
lasinya baik agar kebutuhan oksigen ter- d. Gangguan pola eliminasi
penuhi e. Gangguan gambaran diri
c. berikan makanan tinggi karbohidrat sebe-
lum tidur malam agar tidak kekurangan
zat gula dipagi hari 128. Seorang perempuan  berusia 60 tahun, tinggal
d. d. berikan makanan yang mengandung bersama keluarga.Hasil pengkajian didapat-
kalori tinggi ketika merasa penglihatan kan keluhan pusing, tengkuk sakit, kelemahan
nya gelap dan kepala pusing

Back 55
Program Studi DIII Keperawatan

pada tangan, dan kaki kanan,  sulit berjalan,  c. Batasi kebiasaan makan
BB 45 kg, TB 150 cm. d. Berikan pendidikan kesehatan
e. Anjurkan pemeriksaan kesehatan
Manakah data  di atas yang perlu dilengkapi
untuk menegakkan masalah keperawatan ka-
sus diatas  ? 131. Seorang perempuan, usia 62 tahun, tinggal di
panti werda. Hasil pengkajian didapatkan pa-
a. Suhu akral
sien mengeluh lemas. Hasil pemeriksaan fisik
b. Tekanan darah
didapatkan data: kulit kering, banyak bekas
c. Integritas kulit
luka garuk pada lengan dan kaki, hasil pe-
d. Kemampuan aktifitas
meriksaan GDS: 220 gr/dl
e. Perubahan struktur tubuh
Apakah data utama yang perlu di kaji lebih
lengkap pada kasus di atas?
129. Seorang perempuan, berusia 60 tahun, ting-
gal di rumah bersama dengan adiknya yang a. Pola makan
tidak menikah. Hasil pengkajian didapatkan b. Perilaku hygiene
data: keluhan pusing, nyeri tengkuk, ekspre- c. Faktor keturunan
si wajah tegang. TD: 170/90mmHg Nadi d. Lamanya keluhan
90 x/menit suhu: 37C, pernafasan 20 x/mnt, e. Lingkungan tempat tinggal
tampak pasien mengurut tengkuk.

Manakah tindakan keperawatan mandiri uta- 132. Seorang perempuan berusia 63 tahun, tinggal
ma yang dilakukan perawat pada kasus dia- di panti werda. Hasil pengkajian didapatkan
tas? data pasien terlihat mengusap – usap lutut
sebelah kanannya, persendian kaki terasa
a. Melakukan tehnik relaksasi
kaku dan nyeri bila digerakan, bengkak pada
b. Memberikan kompres hangat
daerah lutut, sholat dengan posisi duduk dan
c. Memberikan tehnik pengalihan
kaki diluruskan, ekspresi wajah meringis.
d. Mengukur tekanan darah tiap 2 jam
TD:130/80 mmHg, suhu: 36C, pernafasan 18
e. Memonitor irama dan denyut jantung
x/mnt, nadi:76x/mnt

Manakah tindakan keperawatan utama pada


130. Seorang laki-laki berusia 63 tahun, Hasil
kasus diatas?
pengkajian didapatkan data mudah lelah,
sering kencing, banyak makan dan makanan a. Melatih ROM
ringan, klien sering haus. penglihatan kabur b. Membatasi aktivitas
TD:140/80 mmHg, BB 70kg, TB 160 cm, c. Mengajarkan tata cara sholat
GDS 210 mg/dl. Masalah keperawatan Resiko d. Mengajarkan tehnik relaksasi
ketidakstabilan kadar glukosa darah. e. Memberikan kompres air hangat

Apakah rencana tindakan keperawatan yang


prioritas akan di buat untuk mengatasi mas- 133. Seorang laki-laki usia 60 tahun, tinggal
alah tersebut diatas? bersama anaknya. Hasil pengkajian klien
mengeluh lutut terasa kaku dan nyeri untuk
a. Anjurkan olah raga
di gerakkan, sulit tidur. Hasil pemeriksaan
b. Berikan diet diabetes
56 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

TD:130/80 mmHg, BB 70 kg, TB 155 cm, d. Interview


Perawat telah melakukan range of motion e. Angket
(ROM) pada sendi lutut

Apakah kriteria hasil yang diharapkan dari 136. Seorang perawat komunitas melakukan ke-
tindakan keperawatan di atas? giatan posyandu balita sistim lima meja yang
meliputi : (1) Balita didaftar dalam formulir
a. nyeri berkurang
pencatatan balita, (2) Penimbangan anak dan
b. sendi tidak kaku
balita dan mencatat hasil penimbangan pada
c. aktifitas mandiri
secarik kertas yang terselip di KMS. (3) Me-
d. rasa nyaman terpenuhi
mindahkan hasil penimbangan anak dari se-
e. kebutuhan tidur terpenuhi
carik kertas ke KMS nya

Apakah langkah selanjutnya dalamkegiatan


134. Seorang laki-laki usia 65 tahun, tinggal di panti
posyandu tersebut diatas ?
werda. Hasil pengkajian perawat didapatkan
data klien kesulitan dalam orientasi waktu, a. ambil KMS baru, kolomnya diisi secara
tempat dan orang, mengeluh sulit tidur, ser- lengkap, nama anak dicatat pada secarik
ing lupa meletakan barang. Hasil pemeriksaan kertas
MMSE skor 20 point. b. mintalah KMS anak, perhatikan umur dan
hasil penimbangan pada bulan ini.
Apakah masalah keperawatan utama pada
c. ibu dan anaknya dipersilakan menuju pe-
kasus tersebut ?
meriksaan dan pengobatan balita sakit
a. Resiko cidera d. pelayanan kesehatan imunisasi ,pemberi-
b. Gangguan pola tidur an oralit serta pemberian vitamin A
c. Gangguan proses fikir e. penyuluhan untuk semua orang tua balita.
d. Gangguan komunikasi 137. Seorang perawat sedang melakukan pembi-
e. Gangguan interaksi social naan posyandu di suatu wilayah, dalam men-
jalankan tugasnya selalu memberitahukan
tentang maksud dan tujuannya, dalam hal ini
135. Seorang perawat melakukan kegiatan penga- perawat menyadari bahwa setiap orang ber-
kajian keperawatan disebuah RW dengan cara hak untuk mendapatkan penjelasan dan ber-
berkeliling wilayah binaan dan melakukan hak pula untuk menolak .
wawancara dengan tokoh masyarakat,tokoh
Apakah aspek legal etik yang sedang dijalank-
agama , kader kesehatan dengan tujuan untuk
an perawat ditas ?
memperoleh gambaran tentang kondisi dan
situasi suatu wilayah a. Respect for autonomi
b. Non-Maleficence
Apakah metode pengkajian yang dilakukan
c. Confidentiality.
oleh perawat diatas ?
d. Beneficience.
a. Analisa data sekunder e. Justice.
b. Observasi terstruktur
c. Windshield survey
138. Seorang perawat komunitas sedang melaku-
kan intervensi pembinaan pada kelompok
Back 57
Program Studi DIII Keperawatan

ibu balita dengan gizi kurang , dalam melak- balita, 34% perilaku kurang baik tentang pen-
sanakan tugasnya selalu memberikan yang yakit infeksi dan 44% kunjungan posyandu
terbaik, melindungi hak-hak klien , membuat balita rendah.
rasa nyaman pada balita serta berkolaborasi
Apakah masalah keperawatan komunitas uta-
dengan tim kesehatan lainnya.
ma pada kasus diatas ?
Apakah aspek legal etik yang dijalankan oleh
a. Koping ibu balita tidak efektif
perawat diatas ?
b. Pola pemberian nutrisi yang tidak ekeftif
a. Confidentiality. c. Perilaku pencarian pelayanan kesehatan
b. Non-malefisience tidak efektif
c. Respect for autonomi. d. Resiko peningkatan penyakit infeksi
d. Beneficience (do good). (ispa, diare dan tbc)
e. Veracity (Truthfullness & honesty) e. Defisiensi pengetahuan dan ketrampilan
tentang kesehatan balita

139. Saat Perawat mengunjungi suatu posyandu


ditemukan hasil penimbangan balita menun- 141. Seorang perawat sedang mengkaji sebuah
jukkan 35% balita berada di pita kuning pada RW dan didapatkan data : 25% dari 60 anak
KMS. Hasil wawancara pada ibu balita mem- usia sekolah mengeluh sering batuk pilek.
peroleh data bahwa balita mereka pada umum- Dari data kunjungan pasien di puskesmas
nya susah makan, dan lebih sering jajan. Ibu terbayak adalah penyakit ISPA. Selanjutn-
tidak menyediakan makanan khusus bagi bal- ya perawat akan melakukan tindakan untuk
ita dan tidak paham dengan variasi makanan memastikan masalah kesehatan dari keluhan
balita. yang dilaporkan dengan melakukan Skrining
kesehatan dan Identifikasi resiko
Apakah intervensi yang paling utama diberi-
kan oleh Perawat? Apakah nama level pencegahan yang dilaku-
kan perawat diatas?
a. Lakukan rujukan ke Puskesmas
b. Berikan penyuluhan tentang gizi balita a. Pencegahan Primer
c. Berikan penyuluhan tentang pertumbu- b. PencegahanTersier
han balita c. PencegahanSekunder
d. Berikan penyuluhan cara mengolah d. Pemberdayaan (empowerment)
makanan yang baik e. Intervensi professional keperawatan
e. Berikan penyuluhan tentang pertumbu-
han dan perkembangan balita
142. Hasil pengkajian di sebuah RW didapatkan
data masalah kesehatan remaja yaitu. 41
140. Hasil survey kesehatan disebuah kelurahan %remaja kurang pengetahuan tentang baha-
didapatkan data : Dari 100 responden 54% ya merokok, 29 % remaja gemar nongkrong
(54 anak) menderita ISPA, 12% (12 anak) di pinggir jalan. Hasil wawancara terhadap 10
imunisasi tidak lengkap dan 2 % menderita remaja, 6 orang mengatakan merokok kare-
TBC (2 anak) Dari 100 responden 34% peng- na pengaruh teman sebaya dan 4 orang untuk
etahuan tentang Gizi balita rendah dan 39% pergaulan.
perilaku kurang baik dalam pemenuhan gizi

58 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Apakah strategi penanganan utama untuk 145. Hasil pengkajian pada suatu Kelurahan
membentuk perilaku sehat pada kasus diatas ? ditemukan masalah keperawatan komunitas
didapatkan data Sebagian besar partisipan
a. Kemitraan
beranggapan DBD disebabkan oleh gigitan
b. Binasuasana
nyamuk, tetapi tidak tahu karakteristik jentik
c. Pemberdayaan
nyamuknya , 42% rumah tangga positif jentik.
d. Proses Kelompok
18% warga menyatakan yang paling efektif
e. Pendidikan kesehatan
untuk mencegah DBD adalah dilakukan fog-
ging atau menabur bubuk abate. Perawat me-
143. Hasil pengkajian terhadap remaja disebuah lakukan kampanye tentang penyakit DBD.
SMP didapatkan data 37% dari 120 siswa
Apakah strategi intervensi yang dilakukan
kelas 1 dan 2 mempunyai kebiasaan mero-
oleh perawat ?
kok, 15 orang sering membolos , 10 orang
tidak masuk karena sakit dan 7 orang berat a. Keluarga binaan
badan menurun drastis. Selanjutnya perawat b. Proses kelompok
akan melakukan tindakan pemerisaan fisik c. pendidikan kesehatan
untuk memastikan deteksi dini terhadap mas- d. Penyebaran informasi
alah kesehatan pada seluruh siswa tsb . e. Pemberdayaan masyarakat

Apakah nama level pencegahan yang dilaku-


kan perawat diatas ? 146. Hasil pengkajian perawat di suatu RW
ditemukan data : 34 % penduduk usia pro-
a. Primer
duktip merasakan keluhan seperti pusing , le-
b. Sekunder
her kaku dan 50% diantaranya masih memiliki
c. Tersier
kebiasaan hampir setiap hari mengkonsum-
d. Promotif
si ikan asin , tidak ada pantangan terhadap
e. Perventif
makanan serta jarang olah raga.

Apakah masalah keperawatan utama pada ka-


144. Seorang perawat melakukan pendataan kel-
sus diatas ?
uarga pada suatu RW dan didapatkan ata
lingkungan padat padat penduduk.Kegiatan a. Kesiapan untuk meningkatkan
PSN melalui gerakan 4 M dilakukan jika ter- pengetahuan
jadi kasus DBD. Angka bebas jentik di rumah b. Ketidakefektifian pemeliharaan kesehatan
tangga sebesar 58%, Kasus DBD hampir mer- c. Ketidakefektifan manajemen kesehatan
ata di setiap RT dengan rata-rata 2-3 kasus. d. Defisiensi pengetahuan masyarakat
e. Perilaku kesehatan berisiko
Apakah tindakan yang utama dilakukan per-
awat yang dilakukan pada kasus tersebut ?
147. Hasil pengkajian perawat di suatu RW didapa-
a. Rujukan
tkan 12 dari 30 lansia menderita hipertensi.
b. Skrining kesehatan
Berdasarkan hasil wawancara, lansia menga-
c. Manajemen perilaku
takan sudah mengetahui tentang penyakitnya,
d. Pencatatan insidensi kasus
tetapi sulit untuk mematuhi perawatan nya.
e. Proteksi resiko lingkungan.
Selanjutnya perawat bermaksud memberikan
Back 59
Program Studi DIII Keperawatan

informasi tentang perawatan penyakit hiper-


tensi dengan metode diskusi.

Apakah nama level pencegahan yang dilaku-


kan oleh perawat diatas?

a. prevensi primer
b. prevensi tersier
c. proses kelompok
d. tindakan mandiri
e. prevensi sekunder

60 Next
Back
BAB VI
KUNCI JAWABAN, PEMBAHASAN
DAN RUJUKAN LATIHAN SOAL
UJIAN KOMPETENSI NASIONAL
D. III KEPERAWATAN

Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

1. Kunci Jawaban: C 2. Kunci Jawaban: D

Pembahasan: Pembahasan:

Pasen dengan TBC paru mengalami peradan- Pada pasen asthma bronchiale terjadi spasme
gan pada lapisan parenkhim paru akibat in- pada daerah bronkhus akibat dari kontak
feksi bakteri Mikobacterium tuberculosa yang dengan bahan yang bersifat allergen. Brok-
terbawa melalui droplet. Akibat dari proses hospasme dapat menyebabkan penyempitan
infeksi tersebut terjadi pembentukan produksi jalan nafas atas dan pada akhir nya menimbul-
dahak/sputum yang kental berwarna kehijau- kan sesak nafas, wheezing dan peningkatan
an karena bercampur dengan bakteri tersebut frekuensi nafas. Salah satu intervensi keper-
atau berwarna kemerahan karena bercampur awatan yang harus diberikan adalah pemberian
dengan bercak darah (hemaptoe). Produksi posisi tidur yang tepat yaitu posisi high fowler
sputum ini merangsang timbulnya batuk yang untuk meningkatkan oksigenasi melalui kapa-
terus menerus, sehingga terjadilah sesak na- sitas pengembangan rongga dada yang maksi-
fas dan juga dapat menurunkan nafsu makan mal sehingga sesak nafas berkurang.
pasen sehingga berat badan akan menurun (tu-
Rujukan
buh menjadi kurus). Prioritas kebutuhan pada
kasus sesuai dengan vignette adalah pemenu- Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
han kebutuhan oksigen yang diberikan dengan Gangguan Sistem Pernafasan (p. 172 –
aliran rendah melalui nasal canule. 180), Jakarta, PT. Salemba Medika.

Rujukan: Abdul Wahid, Imam Suprapto, (2013). Asu-


Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan han Keperawatan Pada Gangguan
Gangguan Sistem Pernafasan (p. 72 – Sistem Respirasi (p. 61 – 82), Jakarta,
98), Jakarta, PT. Salemba Medika. CV. Trans Info Media.

Abdul Wahid, Imam Suprapto, (2013). Asuhan Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
Keperawatan Pada Gangguan Sistem Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
Respirasi (p. 155 – 184), Jakarta, CV. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Trans Info Media. Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I 3 (p.155 – 163), Jakarta, EGC.
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen- Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
3 (p.155 – 163), Jakarta, EGC. Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1
(p.584 – 591), Jakarta, EGC.
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah 3. Kunci Jawaban: E
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1
(p.584 – 591), Jakarta, EGC. Pembahasan:

Pasen dengan trauma/benturan pada daerah

Back 61
Program Studi DIII Keperawatan

dada seringkali mengalami kerusakan jaringan Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
internal di daerah dada termasuk kerusakan Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
dari pembuluh darah dan timbullah perdarah- Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
an dari daerah sekitar pleura sehingga darah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1
tersebut akan terkumpul di rongga pleura seh- (p.671 – 673), Jakarta, EGC.
ingga terjadilah hemothoraks dan nyeri dada.
Adanya hemothoraks akan meningkatkan
tekanan udara dalam rongga pleura sehingga 4. Kunci Jawaban: E
pengembangan paru-paru dapat tertekan dan
Pembahasan:
menurun sehingga timbul sesak nafas. Untuk
menurunkan tekanan dalam rongga pleura Hipertensi dapat dipicu oleh 2 faktor resiko,
tersebut maka dipasang WSD agar pengem- yaitu faktor resiko yang tidak dapat dirubah
bangan paru-paru kembali optimal dan sesak dan faktor resiko yang dapat dirubah. Fak-
berkurang. Indikator utama dari keefektipan/ tor resiko yang tidak dirubah, yaitu: usia, je-
keberhasilan setelah 3 hari pemasangan WSD nis kelamin, herediter (riwayat orang tua),
adalah tidak ada nya lagi penambahan dari dan ras serta kepribadian type A. Sedangkan
jumlah darah yang tertampung dalam botol faktor yang dapat dirubah yaitu lebih banyak
WSD, hal ini menunjukkan bahwa darah yang dari faktor perilaku, yaitu: kebiasaan mero-
terkumpul dalam rongga pleura sudah tidak kok, makan makanan tinggi lemak dan tinggi
ada, sehingga tekanan dalam paru-paru sudah garam, minum minuman beralkohol, minum
berkurang dan paru-paru dapat berkembang kopi, kurang olah raga dan stress.
kembali dengan optimal. Dengan demikian
Dengan demikian menurut vignette maka
sesuai dengan vignette di atas indikator utama
Kunci Jawaban yang tepat untuk soal di atas
keberhasilan pada pasen yang dipasang WSD
adalah option E.
adalah tidak adanya penambahan jumlah dar-
ah dalam botol WSD. Rujukan:
Rujukan Arif Muttaqin (2009). Asuhan Keperawatan
Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Kardiovaskuler (p.
Gangguan Sistem Pernafasan (p. 150 – 112 – 120), Jakarta, PT. Salemba Me-
152), Jakarta, PT. Salemba Medika. dika.

Abdul Wahid, Imam Suprapto, (2013). Asuhan Palmer Anna and William Bryan, (2007). Sim-
Keperawatan Pada Gangguan Sistem ple Guide: Tekanan darah Tinggi (p: 14
Respirasi (p. 155 – 184), Jakarta, CV. – 16), Jakarta, Penerbit Erlangga.
Trans Info Media.
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen- (p.896 – 908), Jakarta, EGC.
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
3 (p.195 – 201), Jakarta, EGC.

62 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

5. Kunci Jawaban: E Gangguan Sistem Kardiovaskuler (p. 88


– 106), Jakarta, PT. Salemba Medika.
Pembahasan:
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa:
Pasen yang mengalami serangan angina pec-
I Made Kariasa dam Ni Made Sumar-
toris umumnya mengalami nyeri dada yang
wati, (2000). Rencana Asuhan Keper-
menjalar dari dada kiri terus ke punggung, in-
awatan Pedoman untuk Perencanaan
tensitas nya makin berat seperti ditimpa beban
dan Pendokumentasian Perawatan Pa-
berat disertai dengan sesak nafas dan tidak hil-
sien, edisi 3 (p.52 – 64), Jakarta, EGC.
ang dengan diistirahatkan. Untuk memastikan
nya perlu pemeriksaan diagnostik yaitu EKG. Reny Yuli Aspirani, (2016). Asuhan Keper-
awatan Pada Gangguan Sistem Kardio-
Rujukan: vaskuler: aplikasi NIC dan NOC (p. 151
Arif Muttaqin (2009). Asuhan Keperawatan – 171), Jakarta, CV. Trans Info Media.
Gangguan Sistem Kardiovaskuler (p. 67 Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
– 73), Jakarta, PT. Salemba Medika. Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Reny Yuli Aspirani, (2016). Asuhan Keper- Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
awatan Pada Gangguan Sistem Kardio- Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
vaskuler: aplikasi NIC dan NOC (p. 108 (p.805 – 813), Jakarta, EGC.
– 127), Jakarta, CV. Trans Info Media.

Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih 7. Kunci Jawaban: A


Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Pembahasan:
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
Pasen gastroenteritis mengalami peradan-
(p.776 – 782), Jakarta, EGC.
gan pada usus halus dan colon nya sehingga
meningkatkan peristaltik usus dan menurunk-
an proses reabsorbsi air dan elektrolit teruta-
6. Kunci Jawaban: C
ma natrium akibatnya pasen akan kekurangan
Pembahasan: cairan (dehidrasi). Pada vignette soal tersebut,
pasen tampak sudah mengalami dehidrasi be-
Pasen gagal jantung mengalami penurunan
rat dan mengarah pad kondisi pre syok. Untuk
curah jantung, akibat dari ketidakmampuan
itu prioritas tindakan keperawatan sesuai den-
jantung memompa darah ke seluruh tubuh,
gan kasus tersebut adalah pemberian cairan
sehingga suplay ke jaringan menurun timbu-
melalui infus sebagai upaya rehidrasi cairan
lah sesak nafas dan mudah lelah. Penurunan
dan elektrolit agar syok hipovolemik dapat
curah jantung juga menyebabkan peningkatan
dicegah.
tekanan hidrostatik pada pembuluh darah kaf-
iler, hal ini mendorong terjadi nya ekstravasa- Rujukan:
si cairan dari intra vaskuler ke ekstra vaskuler,
Rudi Haryono (2012). Keperawatan Medikal
sehingga terjadi edema pada ekstrimitas.
Bedah Sistem Percernaan (p.75 – 81), Yo-
Rujukan: gyakarta, Gosyen Publishing.

Arif Muttaqin (2009). Asuhan Keperawatan

Back 63
Program Studi DIII Keperawatan

8. Kunci Jawaban: B Rujukan:

Pembahasan: Kozier, Erb, Berman and Snyder, Alih Bahasa:


Esty Wahyuningsih, dkk. (2011). Buku
Typhus abdominalis merupakan peradangan
Ajar Fundamental Keperawatan: kon-
pada usus halus yang disebabkan oleh infeksi
sep, Proses dan Praktik, edisi 7, volume
bakteri Salmonella typhosa, Paratyphi A, B,
2 (p.786 – 790). Jakarta, EGC.
C. Akibat dari proses infeksi ini akan terja-
di peningkatan suhu tubuh diikuti penurunan Perry, Peterson, Potter. (2005). Buku Saku Ket-
nafsu makan, bibir kering, lidah kotor dan erampilan dan Prosedur Dasar (p.286 -
seluruh tubuh juga kotor. Peningkatan suhu 292), Jakarta EGC.
tubuh (hyperthermi pada pasen typhus sangat
khas terjadi pada sore dan malam hari dan akan
turun pada pagi dan siang hari. Pada vignete 10. Kunci Jawaban : C
terdapat data kunci yaitu keluhan demam dan
suhu tubuh 38.5°C. Untuk itu problem utama Pembahasan:
pada pasen typhus adalah gangguan keseim- Pasen post apendictomy hari ke lima den-
bangan suhu tubuh: hiperthermi, sehingga gan kondisi nyeri terasa ringan menunjukkan
prioritas intervensi yang harus dilaksanakan pasen sudah bisa beradaptasi dengan kondisi
adalah lakukan kompres dingin pada daerah nyeri nya. Tetapi dengan keadaan luka yang
ketiak (Kunci Jawaban B). masih basah maka fokus/prioritas tindakan
Rujukan: keperawatan adalah mencegah terjadinya in-
feksi pada luka dengan melakukan perawatan
Rudi Haryono (2012). Keperawatan Medikal luka yang steril.
Bedah Sistem Percernaan (p.65 – 71), Yo-
gyakarta, Gosyen Publishing. Rujukan:

Rudi Haryono (2012). Keperawatan Medikal


Bedah Sistem Percernaan (p.127 – 134),
9. Kunci Jawaban: A Yogyakarta, Gosyen Publishing.

Pembahasan: Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa:


I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwa-
Pada pasen yang terpasang NGT dalam waktu
ti, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan
lama, sebelum memberi makan, minum dan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendo-
memasukan obat perlu dipastikan ketepatan
kumentasian Perawatan Pasien, edisi 3
posisi NGT tersebut apakah masih tepat atau
(p.508 – 512), Jakarta, EGC.
sudah bergeser/berubah. Tindakan pertama
yang perlu dilakukan perawat untuk memas-
tikan ketepatan posisi NGT tersebut adalah
11. Kunci Jawaban: D
dengan mendengarkan suara udara yang dima-
sukan kira-kira 10 – 15 cc ke dalam lambung Pembahasan:
melalui NGT. Jika terdengar suara dari lam-
Pada pasen hepatitis biasa nya keluhan yang
bung berarti NGT masih tepat posisi mya di
sering dirasakan adalah mual, tidak nafsu
dalam lambung tapi jika sebaliknya berarti po-
makan dan lemas. Hal ini disebabkan karena
sisi nya sudah bergeser dan harus diperbaiki.
64 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

kegagalan hati dalam melakukan metabolisme Rujukan:


lemak dan karbohidrat, akibatnya akan terja-
Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
di penurunan berat badan. Untuk itu indikator
Gangguan Sistem Perkemihan (p.202 -
keberhasilan dari perawatan pasen hepatitis
208) Jakarta, PT. Salemba Medika.
adalah menurunnya mual, meningkatnya naf-
su makan dan akhirnya terjadi peningkatan Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
status nutrisi pasen yang salah satunya ditand- Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
ai dengan peningkatan berat badan pasen. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
Rujukan: dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Rudi Haryono (2012). Keperawatan Medikal 3 (p.686 – 694), Jakarta, EGC.
Bedah Sistem Percernaan (p. 91 – 99), Nursalam (2006). Asuhan Keperawatan pada
Yogyakarta, Gosyen Publishing. Pasen dengan Gangguan Sistem Perke-
mihan (p.65 – 67), Jakarta, PT. Salemba
Fransisca B. Batticaca (2008). Asuhan Keper-
Medika.
awatan Pada Klien dengan Gangguan
Sistem Metabolisme, (p.57 - 68) Jakar- Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
ta, PT. Salemba Medika Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan (p.1461 – 1467), Jakarta, EGC.
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
3 (p.534 – 543), Jakarta, EGC. 13. Kunci Jawaban: A

Pembahasan:

12. Kunci Jawaban: D Pasen dengan batu kandung kemih dapat men-
galami obstruksi saluran kemih sehingga perlu
Pembahasan: dilakukan operasi pengangkatan batu dan ini
Pasen dengan batu kandung kemih dapat men- dapat memicu terjadinya perdarahan di dalam
galami iritasi kandung kemih, perdarahan kandung. Pada hari pertama post operasi urine
dan menyumbat pengeluaran urine, sehingga masih kemerahan karena bercampur dengan
kandung kemih akan teraba penuh dan pasen bekuan darah (stool cell) yang terbawa dari
akan merasa kesakitan, gelisah serta berke- proses pembersihan kandung kemih, sehingga
ringat dingin karena menahan nyeri. Terkait prioritas tindakan perawat sesuai dengan ka-
dengan kondisi sesuai dengan vignette maka sus diatas adalah mempertahankan kelancaran
prioritas tindakan keperawatan adalah me- irigasi agar tidak terjadi sumbatan pada pen-
menuhi pengeluaran urine nya dengan cara galiran urine melalui catheter.
pemasangan catheter karena tanpa pema- Rujukan:
sangan catheter maka akan beresiko terjadi
nya penyumbatan kembali pengaliran urine. Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
Gangguan Sistem Perkemihan (p.202 -
208) Jakarta, PT. Salemba Medika.

Back 65
Program Studi DIII Keperawatan

Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I (2000). Rencana Asuhan Keperawatan


Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen- 3 (p.671 – 685), Jakarta, EGC.
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Nursalam (2006). Asuhan Keperawatan pada
3 (p.686 – 694), Jakarta, EGC.
Pasen dengan Gangguan Sistem Perke-
Nursalam (2006). Asuhan Keperawatan pada mihan (p.65 – 67), Jakarta, PT. Salemba
Pasen dengan Gangguan Sistem Perke- Medika.
mihan (p.65 – 67), Jakarta, PT. Salemba
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Medika.
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (p.1625 – 1632), Jakarta, EGC.
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
(p.1461 – 1467), Jakarta, EGC.
15. Kunci Jawaban: D

Pembahasan:
14. Kunci Jawaban: E
Pada glomerulonefritis terjadi peningkatan
Pembahasan:
permeabilitas membran filtrasi glomerulus,
Pasen post operasi pengangkatan prostat bi- terjadi hypoalbuminemia dan penurunan
asanya dilakukan pemasangan folley cathe- tekanan osmotik koloid plasma sehingga ter-
ter dalam waktu yang cukup lama untuk me- jadi ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke
menuhi kebutuhan BAK nya dan mencegah insterstitial sehingga timbul edema di berb-
terjadi nya obstruksi urine oleh bekuan darah agai bagian tubuh, yaitu edema paru-paru
pasca operasi. Tetapi pemasangan folley cath- dan edema di seluruh tubuh. Kemudian akan
eter dalam waktu lama dapat menyebabkan terjadinya penurunan urine output, sehingga
menurunnya refleks BAK dari otot kandung ureum dan kreatinin akan meningkat dalam
kemih dan hilangnya kontrol spingter urethra darah. Oleh karena itu masalah utama keper-
eksterna dalam pengeluaran urine (inkonti- awatan pada kasus di atas adalah kelebihan
nensia urine), sehingga sebelum dilakukan volume cairan (Kunci Jawaban D).
pelepasan folley catheter pasen prioritas inter-
Rujukan:
vensi keperawatan adalah pasen harus dilatih
melakukan baldder training untuk mencegah Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
terjadinya inkontinensia urine tersebut. Gangguan Sistem Perkemihan (p.202 -
208) Jakarta, PT. Salemba Medika.
Rujukan:
Nursalam (2006). Asuhan Keperawatan pada
Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
Pasen dengan Gangguan Sistem Perke-
Gangguan Sistem Perkemihan (p.202 -
mihan (p.65 – 67), Jakarta, PT. Salemba
208) Jakarta, PT. Salemba Medika.
Medika.
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,

66 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih 17. Kunci Jawaban : C


Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Pembahasan:
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 Pada pasen gagal ginjal kronik mengingat se-
(p.1438 – 1441), Jakarta, EGC. cara kondisi patofisiologi ginjal mengalami
ketidakmampuan/kegagalan dalam melak-
sanakan fungsi eksresi dan non eksresi nya,
16. Kunci Jawaban: C maka akan timbul berbagai masalah secara
sistemik terutama pada kelebihan volume
Pembahasan:
cairan. Untuk itu perlu pembatasan dalam
Pada pasen gagal ginjal kronik mengingat se- pemberian cairan, yaitu dengan menggunakan
cara kondisi patofisiologi ginjal mengalami rumus sebagai berikut: Jumlah intake = jum-
ketidakmampuan/kegagalan dalam melak- lah output + IWL
sanakan salah satu fungsi eksresi yaitu mem-
Dengan rumus tersebut maka dapat diketa-
bentuk dan membuang urine, maka akan tim-
hui jumlah cairan yang harus diberikan sesuai
bul berbagai masalah secara sistemik terutama
dengan vignette adalah: urine output 300 cc +
pada kelebihan volume cairan. Kemudian
IWL.
akan terjadinya penurunan urine output, se-
hingga ureum dan kreatinin akan meningkat IWL nya adalah 10 cc x BB 50 Kg (karena
dalam darah. Oleh karena itu masalah utama suhu tubuh dalam rentang rentang normal,
keperawatan pada kasus di atas adalah kelebi- yaitu 36,5 oC sehingga tidak perlu ada penam-
han volume cairan (Kunci Jawaban C). bahan).

Rujukan: Sehingga jumlah cairan maksimal yang boleh


diberikan adalah: 300 + 500 = 800 cc
Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
Gangguan Sistem Perkemihan (p.202 - Rujukan:
208) Jakarta, PT. Salemba Medika.
Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Gangguan Sistem Perkemihan (p.202 -
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, 208) Jakarta, PT. Salemba Medika.
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan
3 (p.626 – 638), Jakarta, EGC.
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
Nursalam (2006). Asuhan Keperawatan pada dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Pasen dengan Gangguan Sistem Perke- 3 (p.626 – 638), Jakarta, EGC.
mihan (p.65 – 67), Jakarta, PT. Salemba
Nursalam (2006). Asuhan Keperawatan pada
Medika.
Pasen dengan Gangguan Sistem Perke-
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih mihan (p.65 – 67), Jakarta, PT. Salemba
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Medika.
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
(p.1443 – 1456), Jakarta, EGC.
Back 67
Program Studi DIII Keperawatan

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
(p.1443 – 1456), Jakarta, EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3
(p.2131 – 2144), Jakarta, EGC.
18. Kunci Jawaban: B

Pembahasan:
19. Kunci Jawaban: E
Pasen stroke infark mengalami penurunan
Pembahasan:
suplai darah ke otak akibat adanya penyum-
batan trombus atau embolus sehingga menye- Pasen stroke perdarahan mengalami pecah
babkan hipoksia jaringan otak, dan kerusakan/ pembuluh darah ke otak akibat tekanan darah
menurun nya fungsi neuron pada bagian yang tinggi, darah akan merembes masuk ke
wilayah otak tertentu. Hal ini dimanifesta- jaringan otak, sehingga terjadilah edema otak
sikan dengan penurunan kesadaran (stupo- dan timbullah peningkatan tekanan intra kra-
rus), kehilangan fungsi motorik dan wicara. nial. Salah satu intervensi keperawatan yang
Penurunan kesadaran dapat menyebabkan dilakukan adalah memberikan posisi yang te-
hilangnya kontrol terhadap pergerakan lidah pat, yaitu dengan memposisikan kepala lebih
dan pengeluaran saliva sehingga pasen akan tinggi 15 – 30 derajat dari tubuh pasen. Hal ini
mengalami sumbatan jalan nafas atas yang dilakukan untuk memperlancar venous return
dimanifestasikan dengan bunyi nafas ngorok. dari vena jugularis sehingga tidak menambah
Semua tanda dan gejala tersebut disebabkan berat edema otak, kemudian pada saat yang
karena kerusakan fungsi neuron di otak akibat sama tidak memperberat beban jantung dalam
dari kurang/tidak adanya suplai darah ke otak. memompa darah ke daerah otak.
Dengan demikian masalah utama pada pasen
Rujukan:
stroke infark adalah gangguan perfusi jaringan
otak. Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan
Gangguan Sistem persyarafan (p.234 –
Rujukan:
264), Jakarta, PT. Salemba Medika.
Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
Gangguan Sistem persyarafan (p.234 –
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
264), Jakarta, PT. Salemba Medika.
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan 3 (p.290 – 308), Jakarta, EGC.
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
Fransisca B. Batticaca (2008). Asuhan Keper-
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
awatan Gangguan Sistem persyarafan,
3 (p.290 – 308), Jakarta, EGC.
(p.55 - 66) Jakarta, PT. Salemba Me-
Fransisca B. Batticaca (2008). Asuhan Keper- dika
awatan Gangguan Sistem persyarafan,
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
(p.55 - 66) Jakarta, PT. Salemba Me-
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
dika
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah

68 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3 21. Kunci Jawaban: C


(p.2131 – 2144), Jakarta, EGC.

22. Kunci Jawaban: D

20. Kunci Jawaban: E Pembahasan soal no. 21 dan 22 di atas:


Pembahasan: Pasen dengan trauma kepala seringkali men-
Meningitis adalah infeksi pada selaput pem- galami penurunan kesadaran. Untuk menilai
bungkus otak (meningen) yang disebabkan tingkat kesadaran dapat menggunakan GCS
oleh karena adanya infeksi mikroorganisme atau glasgow coma scale. Pada GCS ada 3
yang terbawa secara hematogen ke dalam parameter yang dinilai yaitu respon membu-
meningen. Infeksi ini menyebabkan peubahan ka mata atau Eyes opened (E),respon motor-
dari cairan otak (liquor cerebro spinalis/LCS) ik (M) dan respon verbal (V). Cara penilaian
yang mengalir pada ruang sub arachnoid. Un- GCS:
tuk itu diperlukan pemeriksaan LCS ini dengan
cara lumbal punksi. Sebelum tindakan lumpal No Jenis pemeriksaan Nilai Respon

punksi pasen terlebih dahulu harus diberikan Eye opened (mata)

a. spontan 4 Mata terbuka secara spontan


informed consent agar pasen tersebut mema- b. rangsangan suara 3 Mata terbuka terhadap perintah verbal
1
hami maksud dan tujuan prosedur ini sehingga c. rangsangan nyeri 2 Mata terbuka terhadap rangsangan nyeri

d. tidak ada 1 Tidak membuka mata terhadap rangsangan


pasen bisa kooperatif dan tenang. apapun

Respon verbal

Rujukan: a. orientasi baik 5 Orientasi baik dan mampu berbicara

b. bingung 4 Disorientasi dan bingung

Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan 2 c. mengucapkan kata” yang tidak tepat 3 Mengulang kata-kata yang tidak tepat secara
acak

Gangguan Sistem persyarafan (p.234 – d. mengucapkan kata-kata yang


tidak jelas
2 Mengerang atau merintih

264), Jakarta, PT. Salemba Medika. e. tidak ada 1 Tidak ada respon

Respon motorik

Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I a. mematuhi perintah 6 Dapat bergerak  mengikuti perintah

b. melokalisasi 5 Dapat melokalisasi nyeri  (gerakan terarah


Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, dan bertujuan ke arah rangsang nyeri)

c. menarik 4 Fleksi  atau menarik saat di rangsang nyeri


(2000). Rencana Asuhan Keperawatan 3 contoh: menarik tangan saat kuku di tekan

Pedoman untuk Perencanaan dan Pen- d. fleksi abnormal 3 Membentuk posisi dekortikasi. Contoh: fleksi
pergelangan tangan

dokumentasian Perawatan Pasien, edisi e. ekstensi abnormal 2 Membentuk posisi deserebrasi.contoh :


ekstensi pergelangan tangan

3 (p.308 – 318), Jakarta, EGC. f. tidak ada 1 Tidak ada respon, saat di rangsang apapun.

Jumlah skor GCS minimal: 3 dan maksimal: 15


Fransisca B. Batticaca (2008). Asuhan Keper-
awatan Gangguan Sistem persyarafan, Rujukan:
(p.55 - 66) Jakarta, PT. Salemba Me-
Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan
dika
Gangguan Sistem persyarafan (p.65 – 66),
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Jakarta, PT. Salemba Medika.
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Lumbantobing, S.M (2012), Neurologi klinik:
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Pemeriksaan fisik dan mental (p: 8 – 10),
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3
Jakarta, FKUI.
(p.2175 – 2176), Jakarta, EGC.

Back 69
Program Studi DIII Keperawatan

23. Kunci Jawaban: D serta rasa lemas dan luka yang sulit sembuh
(gangraen). Untuk mengatasi masalah terse-
Pembahasan:
but tim dokter biasanya memberikan injeksi
Pada DM terjadi hyperglikemia, terjadi osmotik insulin, dengan tujuan untuk menurunkan ka-
diuresis sehingga dapat menimbulkan banyak dar glukosa darah setelah pasen mendapatkan
kencing (poliuria) dan konsekwensinya men- intake makanan, untuk itu sebelum member-
dorong keinginan minum/merasa haus (polidip- ikan injeksi insulin harus dipastikan terlebih
si). dahulu bahwa makanan sudah tersedia berada
di meja pasen agar rentang waktu penyuntikan
Rujukan:
insulin dengan jam makan pasen tepat.
Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan
Rujukan:
Gangguan Sistem Endokrin, Jakarta, PT.
Salemba Medika. Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan
Gangguan Sistem Endokrin, Jakarta, PT.
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
Salemba Medika.
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen- Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi (2000). Rencana Asuhan Keperawatan
3 (p.726 – 742), Jakarta, EGC. Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Rumahorbo H. (1999). Asuhan Keperawatan
3 (p.726 – 742), Jakarta, EGC.
Gangguan Sistem Endokrin (p.100 –
109), Jakarta, EGC. Rumahorbo H. (1999). Asuhan Keperawatan
Gangguan Sistem Endokrin (p.100 –
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
109), Jakarta, EGC.
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
(p.1220 – 1263), Jakarta, EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
(p.1220 – 1263), Jakarta, EGC.
24. Kunci Jawaban: D

Pembahasan: 25. Kunci Jawaban: E


Pada Diabetes mellitus terjadi kekurangan/ Pembahasan:
penurunan produksi hormon insulin oleh sel
betha pulau langerhans di pankreas, sehingga Penyakit DM berkaitan dengan perilaku seseo-
terjadi kegagalan dalam menurunkan kadar rang, apalagi pasen yang sudah 7 tahun men-
glukkosa darah dan akibat nya terjadi hyper- derita DM maka hal terpenting dari penatal-
glikemi. Hyperglikemi akan menimbulkan aksanaan DM adalah perubahan perilaku nya,
dampak pada berbagai sistem tubuh dan di- baik dalam makan (diet), kontrol gula darah,
manifestasikan dengan rasa lapar (polifagi), olah raga, dan dalam memakan obat oral DM,
haus (polidipsi) dan banyak kencing (poliuria) sehingga apabila sudah ada kesadaran dan

70 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

terjadi perubahan perilaku positip dari pasen Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
tersebut, maka penyakit DM yang diderita nya Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
bisa dikendalikan dan terkontrol dengan baik. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
Rujukan:
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I 3 (p.726 – 742), Jakarta, EGC.
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen- Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
3 (p.726 – 742), Jakarta, EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
Nabyl R.A. (2012). Panduan Hidup Sehat:
(p.1297 – 1313), Jakarta, EGC.
mencegah dan mengobati Diabetes Mel-
litus, Yogyakarta, Aulia Publishing.

Rumahorbo H. (2014). Mencegah Diabetes 27. Kunci Jawaban: C


Mellitus dengan Perubahan Gaya Hid-
Pembahasan:
up (p.39 – 41), Bogor, In Media
Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
dengan menggunakan pengujian otot secara
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
manual ( manual muscle testing/ MMT ). Pe-
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
meriksaan ini ditujukan untuk mengetahui
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
kemampuan mengontraksikan kelompok otot
(p.1220 – 1263), Jakarta, EGC.
secara volunter.  Pemeriksaan kekuatan otot
menggunakan MMT akan membantu penega-
kan diagnosis klinis, penentuan jenis terapi,
26. Kunci Jawaban: E
jenis alat bantu yang diperlukan, dan prog-
Pembahasan: nosis. Penegakan diagnosis dimungkinkan
oleh beberapa penyakit tertentu yang hanya
Pada kasus di atas tampak nya pasen mengala- menyerang otot tertentu pula.
mi Goiter/struma nodosa/pembesaran kelenjar
gondok, yang mungkin disebabkan oleh adan- Kriteria hasil pemeriksaan MMT adalah:
ya peningkatan kerja tiroid (hiperthiroidsm),
• Normal (5) mampu bergerak dengan luas
meskipun pada pada hasil pengkajian tidak
gerak sendi penuh, melawan gravitasi, dan
tampak, sehingga untuk memastikan jenis
melawan tahanan maksimal.
gangguan nya maka pemeriksaan lab/diagnor-
tik yang diperlukan adalah: pemeriksaan ka- • Good (4) mampu bergerak dengan luas
dar T.3 dan T.4 gerak sendi penuh, melawan gravitasi, dan
melawan tahanan sedang (moderat).
Rujukan:
• Fair (3) mampu bergerak dengan luas ger-
Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan
ak sendi penuh dan melawan gravitasi tan-
Gangguan Sistem Endokrin, Jakarta, PT.
pa tahanan.
Salemba Medika.

Back 71
Program Studi DIII Keperawatan

• Poor (2) mampu bergerak dengan luas ger- sep, proses dan praktik. Edisi 7, volume
ak sendi penuh tanpa melawan gravitasi. 2 (p. 649 -653). Jakarta, EGC.

• Trace (1) tidak ada gerakan sendi, tetapi Suratun, Heryati, Santa Manurung, Een Rae-
kontraksi otot dapat dipalpasi nah, (2008). Asuhan Keperawatan den-
gan Gangguan Sistem muskuloskeletal
• Zero (0) kontraksi otot tidak terdeteksi (p.195 – 204), Jakarta, EGC.
dengan palpasi

Rujukan:
29. Kunci Jawaban: A
Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
Pembahasan:
Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.57
– 58), Jakarta, EGC. Pada kasus arthritis terjadi proses peradangan
pada sendi dan respon dari proses infeksi ada-
lah nyeri pada persendian terutama sendi yang
28. Kunci Jawaban: E. sering dipakai bergerak, misal nya sendi lu-
tut, apalagi sendi lutut merupakan sendi yang
Pembahasan:
menopang tubuh kita, sehingga rasa nyeri
Pada pasen fraktur yang telah di operasi pe- akan terus dirasakan.
masangan plat maka kaki tersebut harus
Rujukan:
diimmobilisasi dulu dan ketika berjalan tidak
boleh diberikan beban berlebihan atau keti- Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan
ka berjalan harus diberikan tumpuan dengan Gangguan Sistem muskuloskeletal
menggunakan kruk tersebut, sehingga beban (p.334 – 347), Jakarta, EGC.
tubuh pasen tidak langsung bertumpu pada
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
kaki tersebut atau dialihkan kepada kruk. Hal
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
ini dimaksudkan agar kaki yang baru dioper-
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
asi tidak harus menahan beban tubuh secara
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2
keseluruhan karena sedang dalam proses
(p.2344 – 2346), Jakarta, EGC.
penyembuhan tulang , dengan demikian pros-
es penyembuhan tulang nya dapat berjalan
baik dan sempurna.
30. Kunci Jawaban : B
Rujukan:
Pembahasan:
Abdul Wahid (2013). Asuhan Keperawatan
Derajat luka bakar ditentukan berdasarkan
dengan Gangguan Sistem muskuloskele-
kedalaman kerusakan jaringan yang diakibat-
tal (p.1 – 58), Jakarta, Trans Info Media.
kan oleh trauma panas. Hal ini sangat tergan-
Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan tung pada intensitas panas dan lamanya panas
Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.68 mengenai tubuh serta proses rambatan panas
– 97), Jakarta, EGC. pada jaringan tubuh. Berikut klasifikasi luka
bakar berdasarkan grade luka bakar :
Kozier, Erb, Berman and Snyder, Alih Bahasa:
Esti Wahyuningsih, dkk. (2011). Buku 1. Luka bakar grade I (superficial burn)Ker-
Ajar Fundamental Keperawatan: kon- usakan jaringan terbatas pada kulit lapisan

72 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

epidermis, secara klinis kulit tampak mer-


ah, kering dan terasa sakit.
Berdasarkan data vignette maka Kunci Jawa-
ban yang tepat untuk kasus di atas adalah: B

Rujukan:

Arif Muttaqin, Kumala Sari (2011). Asuhan


Keperawatan Gangguan Sistem integu-
men (p.200 – 227), Jakarta, PT. Salem-
ba Medika.

2. Luka bakar grade IIa (superficial par- Christanti Effendi (1999). Perawatan Pasen
tial-thickness burn)Kerusakan jaringan Luka Bakar (p.1 – 46), Jakarta, PT.
mengenai sebagian dermis, folikel rambut Salemba Medika
dan kelenjar keringat tetap utuh, secara
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
klinis kulit tampak merah/kuning, basah
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
dengan bula, dan terasa sakit.
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
3 (p.809 – 825), Jakarta, EGC.

Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih


Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3
(p.1912 – 1958), Jakarta, EGC.
3. Luka bakar grade IIb (deep partial-thickness
burn). Kerusakan jaringan mengenai sebagian
dermis dan folikel rambut, hanya kelenjar ke- 31. Kunci Jawaban: B.
ringat yang tetap utuh, secara klinis kulit tam- Pembahasan:
pak merah/kuning, basah dengan bula, dan
terasa sakit. Pada luka bakar terjadi peningkatan perme-
abilitas kapiler yang mendorong keluarn-
4. Luka bakar grade III (full thickness burn). Ker- ya plasma dan protein ke jaringan, sehingga
usakan jaringan mengenai seluruh lapisan der- akan terjadinya edema (bullae) dan kehilan-
mis, secara klinisi kulit tampak putih, coklat, gan banyak cairan intravaskuler. Kehilangan
hingga hitam, kering, dan tidak sakit karena cairan juga disebabkan karena evaporasi yang
ujung – ujung saraf juga mengalami kerusakan. meningkat 4 – 15 kali evaporasi pada kulit
normal. Peningkatan metabolisme juga dapat
menyebabkan kehilangan cairan melalui
sistem pernafasan. Selain itu fungsi jantung
juga dapat terpengaruh oleh luka bakar dia-
taranya penurunan kardiak output, yang dise-
babkan karena kehilangan cairan plasma. Pen-

Back 73
Program Studi DIII Keperawatan

ingkatan permeabilitas kapiler menyebabkan Menurut Rumus Baxter untuk rehidrasi cairan
plasma pindah ke ruang interstisial. Dalam akibat luka bakar adalah: BB x % luka bakar
48 jam pertama setelah kejadian, perubahan x 4 cc, dari kasus diketahui BB pasen = 50 Kg
cairan menyebabkan hypovolemia dan jika ti- dan prosentase luka bakar adalah 36 % hasil
dak di tanggulangi dapat menyebabkan pasien dari penjumlahan dada 7 % + kedua lengan 4
jatuh pada shock hypovolemia, penurunan % + punggung 25 %
urine output dan tanda-tanda vital.
Sehingga dengan menggunakan rumus terse-
Dengan demikian prioritas utama rencana but diperoleh: 50 x 36 x 4 cc = 7200 cc
keperawatan sesuai dengan vignette ada-
Rujukan:
lah melakukan segera rehidrasi cairan un-
tuk mencegah kematian dengan cepat akibat Arif Muttaqin, Kumala Sari (2011). Asuhan
kekurangan cairan. Keperawatan Gangguan Sistem integu-
men (p.200 – 227), Jakarta, PT. Salem-
Rujukan:
ba Medika.
Arif Muttaqin, Kumala Sari (2011). Asuhan
Christanti Effendi (1999). Perawatan Pasen
Keperawatan Gangguan Sistem integu-
Luka Bakar (p.36 – 46), Jakarta, PT.
men (p.200 – 216), Jakarta, PT. Salem-
Salemba Medika.
ba Medika.
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
Christanti Effendi (1999). Perawatan Pasen
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
Luka Bakar (p.1 – 46), Jakarta, PT.
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Salemba Medika
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, 3 (p.809 – 825), Jakarta, EGC.
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
3 (p.809 – 825), Jakarta, EGC.
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3
Rospa Hetharia, (2009). Asuhan Keperawatan (p.1912 – 1958), Jakarta, EGC.
Gangguan Sistem Integumen (p. 54 –
90). Jakarta. Trans Info Media
33. Kunci Jawaban: A
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Pembahasan:
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Pada dermatitis terjadi peradangan pada kulit
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3
yang dipicu oleh adanya kontak dengan yang
(p.1912 – 1958), Jakarta, EGC.
bersifat allergen. Manifestasi klinik yang mun-
cul antara lain: gatal-gatal pada kulit, bruntus
kemerahan, krusta, dll. Adanya krusta menim-
bulkan ketidaknyamanan dan menghambat
32. Kunci Jawaban: D perbaikan pada kulit sehingga perlu dibersi-
Pembahasan: hkan dan dirawat dengan baik. Proses pem-

74 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

bersihan krusta pada kulit dilakukan dengan Berdasarkan vignette soal di atas sebenar nya
kompress basah terbuka untuk memudahkan pasen masih diduga menderita HIV (+) teta-
dan mempercepat lepasnya krusta dari kulit. pi pasen sudah merasa dijauhi teman-teman
nya sehingga intervensi yang sesuai dengan
Rujukan:
keluhan di atas adalah memberikan dukungan
Arif Muttaqin, Kumala Sari (2011). Asuhan emosi pada pasen supaya pasen tenang, tidak
Keperawatan Gangguan Sistem integu- depresi dan mau mengikuti program pengo-
men (p.200 – 227), Jakarta, PT. Salem- batan, sehingga merasa aman dan nyaman ser-
ba Medika. ta tidak menulari orang lain.

Rospa Hetharia, (2009). Asuhan Keperawatan Rujukan:


Gangguan Sistem Integumen (p. 54 – Nursalam, Ninuk Dian Kurniawati (2011).
90). Jakarta. Trans Info Media Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ter-
infeksi HIV/AIDS (p.14 – 34), Jakarta,
PT. Salemba Medika.
34. Kunci Jawaban: B
Setyoadi, Endang Triyanto (2012). Strategi
Pembahasan: Pelayanan Keperawatan bagi Penderi-
Pasen anemia mengalami kekurangan kadar ta AIDS (p. 63 – 81). Yogyakarta, Grha
hemoglobin dalam darah nya akibat berbagai Ilmu.
penyebab. Untuk mengatasi nya dilakukan Arif Muttaqin, Kumala Sari (2011). Asuhan
pemberian transfusi darah. Ketika seseorang Keperawatan Gangguan Sistem integu-
yang sedang ditransfusi menunjukkan tanda men (p.200 – 227), Jakarta, PT. Salem-
dan gejala pusing, menggigil, dan gata-ga- ba Medika.
tal, hal ini menunjukkan bahwa pasen terse-
Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I
but mengalami allergi sehingga langkah per-
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati,
tama yang harus dilakukan perawat adalah
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan
menghentikan dulu transfusi darah nyauntuk
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen-
mencegah reaksi allergi yang lebih berat.
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi
Rujukan: 3 (p.826 – 835), Jakarta, EGC.

Arif Muttaqin (2009). Asuhan Keperawatan Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
Gangguan Sistem Kardiovaskuler (p. 88 Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
– 106), Jakarta, PT. Salemba Medika. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3
Reny Yuli Aspirani, (2016). Asuhan Keper-
(p.1714 – 1752), Jakarta, EGC.
awatan Pada Gangguan Sistem Kardio-
vaskuler: aplikasi NIC dan NOC (p. 151
– 171), Jakarta, CV. Trans Info Media.
36. Kunci Jawaban: E

Pembahasan:
35. Kunci Jawaban: E
Berdasarkan vignette soal di atas kondisi
Pembahasan: pasen sudah dalam keadaan terminal, dalam
keadaan seperti itu pasen memerlukan per-
Back 75
Program Studi DIII Keperawatan

awatan palliative, lebih butuh dukungan psi- Anas Tamsuri (2012). Klien Gangguan Mata
kologis dan spiritual agar pasen dapat tabah, dan Penglihatan (p.53 – 70), Jakarta,
bisa mengambil hikmah dari kehidupan yang EGC.
sudah dijalani dan memiliki harapan yang re-
Indriana N. Istiqomah (2001). Asuhan Keper-
alistis terhadap kesembuhan penyakit nya.
awatan Gangguan Pada Mata (p.19 –
Rujukan: 39), Jakarta, EGC.

Nursalam, Ninuk Dian Kurniawati (2011).


Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ter-
38. Kunci Jawaban: D
infeksi HIV/AIDS (p.14 – 34), Jakarta,
PT. Salemba Medika. Pembahasan:

Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Pada pasen post operasi katarak ada beberapa
Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, hal yang harus dihindari agar tidak menim-
(2000). Rencana Asuhan Keperawatan bulkan komplikasi yaitu: peningkatan tekanan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pen- bola mata, infeksi dan ablatio retina. Melihat
dokumentasian Perawatan Pasien, edisi vignette pada kasus di atas, pasen tampak nya
3 (p.826 – 835), Jakarta, EGC. belum tahu tentang perawatan post operasi
Setyoadi, Endang Triyanto (2012). Strategi katarak sehingga tampak bingung dan banyak
Pelayanan Keperawatan bagi Penderi- bertanya.
ta AIDS (p. 63 – 81). Yogyakarta, Grha Rujukan:
Ilmu.
Anas Tamsuri (2012). Klien Gangguan Mata
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih
dan Penglihatan (p.53 – 70), Jakarta,
Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002).
EGC.
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3 Indriana N. Istiqomah (2001). Asuhan Keper-
(p.1714 – 1752), Jakarta, EGC awatan Gangguan Pada Mata (p.19 –
39), Jakarta, EGC.

37. Kunci Jawaban : E


39. Kunci Jawaban: D
Pembahasan:
Pembahasan:
Pasen katarak keluhan umum nya adalah
Untuk memeriksa ketajaman pendengaran
penurunan ketajaman penglihatan (visus). Un-
salah satu nya dapat dilakukan dengan test uji
tuk memeriksanya dilakukan test snellen chart,
garpu. Secara singkat test garpu tala adalah se-
jika dengan snellen chart tidak bisa dinilai
bagai berikut :
maka menggunakan gerakan tangan dan atau
menggunakan rangsangan cahaya (penlight). 1. Uji Rinne :
Interpretasi dari hasil pemeriksaan visus jika
pasen hanya bisa melihat cahaya maka nilai a. Garpu tala divibrasikan
nyaadalah 1/~. b. Pangkal garpu tala diletakkan pada mas-
toid pasien
Rujukan: c. Pindahkan garpu tala ke depan ke depan

76 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

telinga, jika pasien sudah tak merasa ge- sien dalam keadaan normal.
taran pada mastoid
Rujukan:
d. Catat hasil test :
(+) jika setelah dipindahkan klien Rospa Heltharia, Sri Mulyani (2002). Klien
masih mendengar bunyi garpu Keperawatan Gangguan THT (p.29 – 34),
tala. Jakarta, Trans Info Media.

(–) jika setelah dipindahkan klien tidak


mendengar bunyi.
40. Kunci Jawaban: B
2. Uji Weber :
Pembahasan:
a. Garpu tala divibrasikan
Pada OMA terjadi proses peradangan yang
b. Pangkal garpu tala diletakkan pada garis
menghasilkan pus berupa cairan kental dan
simetris kepala (biasanya di dahi, gigi
bau pada lubang telinga tengah (meatus akus-
seri, atau ubun-ubun).
tikus eksterna) sehingga akan menghalangi
c. Tanyakan pasien merasakan getaran
konduksi suara, akibatnya pendengaran pasen
lebih keras yang sebelah mana
menurun. Respon peradangan/infeksi telin-
d. Catat hasil test :
ga yang paling dirasakan menganggu adalah
1) Lateralisasi ke kanan, jika kanan
nyeri akut pada daerah lubang telinga.
lebih merasakan getaran
Rujukan:
2) Lateralisasi ke kiri, jika kiri lebih
merasakan getaran. Rospa Heltharia, Sri Mulyani (2002). Klien
Keperawatan Gangguan THT (p.43 –
3. Uji Schwabach : 70), Jakarta, Trans Info Media.
a. Garpu tala divibrasikan
b. Pangkal garpu tala diletakkan pada
mastoid pasien sampai pasien tidak 41. Kunci Jawaban : E
mendengar
Pembahasan :
c. Pindahkan pangkal garpu tala pada mas-
toid pemeriksa Melanocyte Stimulating Hormone (MSH)
d. Catat hasil test : yang akan mengakibatkan terjadinya peruba-
1)     Memendek, jika pemeriksa masih han pada kulit terutama deposit pigmen dan
mendengar hiperpigmentasi.Chloasma (melasma) sering
dikenal dengan topeng kehamilan karena me-
2)     Jika pemeriksa juga tak menden-
nimbulkan pigmentasi kulit muka terutama di
gar, lakukan test balik (uji pemer-
sekitar pipi. Melasma berkaitan dengan peru-
iksa dulu, kemudian pasien).
bahan hormonal karena muncul pada sebagian
• Jika pemeriksa sudah tak dengar, besar ibu pada masa hamil. Bila setelah per-
tapi pasien masih dengar à test salinan perubahan warna kulit pada ibu hamil
Schwabach memanjang. terutama pada wajah yang akan hilang.

• Jika pemeriksa sudah tak dengar Rujukan :


dan pasien juga tak dengar à pa-
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.
Back 77
Program Studi DIII Keperawatan

Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013). Wilkinson, J.M., Ahern, N.R. Alih bahasa,
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8. Esty Wahyuningsih (2011). Buku Saku
(Bab 6). Jakarta: Salemba Medika. Diagnosis Keperawatan: Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil
NOC Edisi 9. Jakarta: EGC
42. Kunci Jawaban : C
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.
Pembahasan : Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013).
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8.
Setelah implantasi atau perlekatan hasil kon- (Bab 6). Jakarta: Salemba Medika.
sepsi di dinding rahim, kadar hCG (Human
Chorionic Gonadotropin) meningkat, hCG
dapat dideteksi dalam urin ibu sekitar waktu
44. Kunci Jawaban : A
pertama tidak terjadi menstruasi atau 2 ming-
gu setelah ovulasi dan konsepsi selain itu tidak Pembahasan :
membutuhkan waktu lama dan biaya murah.
Menghitung TP (taksiran persalinan) menggu-
Rujukan : nakan rumus Neagle dengan cara (HPHT + 7
hari) (Bulan – 3) (Tahun + 1). sehingga (18 +
Reeder, S.J., Martin, L.L., Griffin, D.K. Alih
7) (10 – 3) (2017 + 1) = 25 Juli 2018. Maka TP
Bahasa, Yati Afiyanti, et. al (2011). Keper-
adalah 25 Juli 2018.
awatan Maternitas Kesehatan Wanita,
Bayi, & Keluarga Volume 1. (Bab 15), Rujukan :
Jakarta: EGC.
Kennedy, B.B., Ruth, D.J., Martin, E.J. Alih
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K. Bahasa, Esty Wahyuningtias (2013).
Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013). Modul Manajemen Intrapartum, Modul
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8. 4. Edisi 4. Jakarta: EGC.
(Bab 6), Jakarta: Salemba Medika.

45. Kunci Jawaban : E


43. Kunci Jawaban : A
Pembahasan :
Pembahasan :
Rumus McDonald :
Perubahan susah bab pada ibu hamil terutama
TFU (cm) x 2/7 = usia kehamilan dalam bulan
usia kehamilan menginjak 6 bulan sampai den-
gan 9 bulan karena adanya kenaikkan kadar TFU (cm) x 8/7 = usia kehamilan dalam
hormon progesteron sehingga menyebabkan minggu
relaksasi yang menyebabkan lambatnya gera-
kan peristaltik dan penyerapan makanan pada Sehingga : TFU 28 cm x 8/7 = 32 minggu
usus. Pada kasus ibu mengalami tanda adanya Rujukan :
penurunan frekuensi yang normal pada BAB
yaitu setiap 3 sampai 4 hari. Reeder, S.J., Martin, L.L., Griffin, D.K. Alih
Bahasa: Yati Afiyanti, et.al (2011). Keper-
Rujukan : awatan Maternitas Kesehatan Wanita,

78 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Bayi, & Keluarga, Volume 1. (Bab 17). 48. Kunci Jawaban : C


Jakarta: EGC.
Pembahasan :

Pengkajian yang dapat ditemukan pada


46. Kunci Jawaban : B plasenta previa adalah mengalami perdarahan,
perdarahan pada akhir trimester II atau trimes-
Pembahasan :
ter III, warna perdarahan, jumlah perdarahan.
Pemeriksaan dalam dilakukan untuk menilai
Rujukan :
pembukaan, penipisan serviks, penurunan ba-
gian terbawah janin, ketuban, keadaan pang- Reeder, S.J., Martin, L.L., Griffin, D.K. Alih
gul, serta kelainan jalan lahir. Pemeriksaan Bahasa: Yati Afiyanti, et.al (2011). Keper-
dalam merupakan kontraindikasi pada kasus awatan Maternitas Kesehatan Wanita,
plasenta previa, pemeriksaan dalam dapat Bayi, & Keluarga, Volume 1. (Bab 31).
menstimulasi perdarahan lebih banyak. Jakarta: EGC.

Rujukan :

Reeder, S.J., Martin, L.L., Griffin, D.K. Alih 49. Kunci Jawaban : B
Bahasa: Yati Afiyanti, et.al (2011). Keper-
Pembahasan :
awatan Maternitas Kesehatan Wanita,
Bayi, & Keluarga, Volume 1. (Bab 31). Nyeri persalinan dialami karena dilatasi ser-
Jakarta: EGC. viks dan segmen bawah uterus, ibu mengeluh
nyeri, tampak meringis kesakitan, dan ibu be-
rada pada kala I yaitu mulainya his/kontraksi
47. Kunci Jawaban : B sampai pembukaan lengkap.

Pembahasan : Rujukan :

Pre eklampsi ringan umumnya gejala yang Wilkinson, J.M., Ahern, N.R. Alih bahasa,
timbul adalah pertambahan berat badan yang Esty Wahyuningsih (2011). Buku Saku
berlebih, adanya edema, hipertensi (kenaikan Diagnosis Keperawatan: Diagnosis
sistolik 30 mmHg atau lebih, diastolik 15 NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil
mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum NOC Edisi 9. Jakarta: EGC
hamil pada kehamilan 20 mg atau lebih), pro-
Kennedy, B. B., Ruth, D.J., Martin, E.J. Alih
tein urin secara kuantitatif 0,3 gr/lt dalam 24
Bahasa: Esty Wahyuningtias (2013).
jam atau secara kualitatif positif 2.
Modul Manajemen Intrapatum. (Modul
Rujukan : 1). Edisi 4. Jakarta: EGC.

Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.


Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013).
50. Kunci Jawaban : B
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8.
(Bab 21). Jakarta: Salemba Medika. Pembahasan :

Kala II adalah tahapan persalinan dari pembu-


kaan lengkap sampai dengan bayi lahir.
Back 79
Program Studi DIII Keperawatan

Rujukan : (Bab 9 dan 13). Jakarta: Salemba Medika.

Kennedy, B. B., Ruth, D.J., Martin, E.J. Alih


Bahasa: Esty Wahyuningtias (2013).
53. Kunci Jawaban : B
Modul Manajemen Intrapatum. (Modul
1). Edisi 4. Jakarta: EGC. Pembahasan :

Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K. Ibu post partum sangat membutuhkan nutrisi
Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013). seimbang untuk pemulihan kondisi kesehatan
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8. ibu post partum, persepsi yang salah terkait
(Bab 9). Jakarta: Salemba Medika. nutrisi yang dibutuhkan sangat mungkin ter-
jadi.

51. Kunci Jawaban : A Rujukan :

Pembahasan : Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.


Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013).
Faktor passager yang mempengaruhi persali- Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8.
nan adalah ukuran janin terutama kepala janin, (Bab 14). Jakarta: Salemba Medika.
sikap janin yang mendeskrepsikan hubungan
antara kepala, bahu dan tungkai. letak janin Reeder, S.J., Martin, L.L., Griffin, D.K. Alih
yang menunjukan hubungan antara aksis pan- Bahasa: Yati Afiyanti, et.al (2011). Keper-
jang janin terhadap aksis panjang ibu, presen- awatan Maternitas Kesehatan Wanita,
tasi janin, posisi janin. Bayi, & Keluarga, Volume 1. (Bab 27).
Jakarta: EGC.
Rujukan :

Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.


Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013). 54. Kunci Jawaban : E
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8. Pembahasan :
(Bab 9). Jakarta: Salemba Medika.
Memberikan informasi tentang perawatan
bayi baru lahir merupakan intervensi keper-
52. Kunci Jawaban : D awatan yang tepat untuk mengatasi kurang
pengetahuan pada ibu yang baru pertama kali
Pembahasan : melahirkan.

Perdarahan yang berlebih dapat terjadi kare- Rujukan :


na distensi kandung kemih yang mendorong
uterus keatas dan samping sehingga mence- Reeder, S.J., Martin, L.L., Griffin, D.K. Alih
gah kontraksi uterus. Bahasa: Yati Afiyanti, et.al (2011). Keper-
awatan Maternitas Kesehatan Wanita,
Rujukan : Bayi, & Keluarga, Volume 1. (Bab 27).
Jakarta: EGC.
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.
Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013).
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8.

80 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

55. Kunci Jawaban : B memiliki efek positif dan memberikan keun-


tungan fisiologis.
Pembahasan :
Rujukan :
Tindakan massage pada uterus dapat merang-
sang kontraksi uterus dengan cara melakukan Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.
massage ringan pada uterus. Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013).
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8.
Rujukan :
(Bab 17). Jakarta: Salemba Medika.
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.
Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013).
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8. 58. Kunci Jawaban : A
(Bab 14). Jakarta: Salemba Medika.
Pembahasan :

Virus HPV merupakan penyebab utama kank-


56. Kunci Jawaban : D er serviks pada perempuan terutama HPV tipe
16 dan 18.
Pembahasan :
Rujukan :
Kehilangan panas pada bayi karena evapora-
si yaitu ketika permukaan yang basah terkena Rasjidi, I. (2008). Manual Pra kanker Serviks.
udara, konveksi terjadi ketika panas dipindah- Edisi pertama. Jakarta: Sagung Seto
kan keudara sekitar bayi (pintu/jendela yang
terbuka, AC), konduksi terjadi ketika bayi
bersentuhan langsung dengan benda-benda 59. Kunci Jawaban : C
padat yang lebih dingin dari kulit bayi (tim-
bangan, yang dingin, stetoskop), rehabilitasi Pembahasan :
diberikan pada keadaan seseorang yang me- Pemeriksaan PAP smear sangat dianjur-
merlukan tindakan khusus untuk mencapai kan bagi perempuan yang telah secara aktif
kemampuan fisik yang maksimal. melakukan hubungan seksual, yang merupa-
Rujukan : kan tes yang dapat memeriksa keadaan sel-sel
serviks dan vagina.
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K.
Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013). Rujukan :
Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8. Rasjidi, I. (2008). Manual Prakanker Serviks.
(Bab 16). Jakarta: Salemba Medika. Edisi pertama. Jakarta: Sagung Seto

57. Kunci Jawaban : E 60. Kunci Jawaban : B


Pembahasan : Pembahasan :
Kontak awal sedini mungkin antara ibu dan Rumus perkiraan Berat badan ( Kg )
bayi baru lahir penting dalam membentuk
hubungan atau ikatan dimasa depan selain itu Berat badan bayi baru lahir : 2,5 Kg – 3,5 Kg

Back 81
Program Studi DIII Keperawatan

Berat badan < 1 tahun : Usia ( bulan ) + 9 tersebut , sedangkan bola bekel dapat dimain-
kan pada anak usia sekolah dengan kemam-
2
puan motorik halus yang lebih baik lagi.
Berat badan 1 tahun : 3 X BB lahir
Rujukan :
Berat badan 2-6 tahun : 2n + 8
Mary E Muscari (2005). Panduan Belajar :
Berat badan 6-12 tahun: n x 7 – 5 Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC

Rujukan : 63. Kunci Jawaban : A

Kholid Rosyidi (2013). Prosedur Praktek Pembahasan :


Keperawatan, Jilid 1, Jakarta : TIM
Kotak mainan warna warni memfasilitasi
perkembangan motorik halus pada bayi usia
4-6 bulan . balon karet gas merupakan kontra
61. Kunci Jawaban : D indikasi diberikan kepada bayi karena berba-
Pembahasan : haya dapat mengaspirasi balon tersebut. Mata
boneka beruang terbuat dari kacing , jika terle-
Frekuensi pemberian imunisasi BCG 1 kali pas dapat teraspirasi sehingga mainan ini juga
dan waktu pemberian pada umur 0-11 bulan tidak aman bagi bayi. Bayi usia 5 bulan terlalu
dengan cara pemberian Intra Cutan dengan kecil untuk mendapatkan mainan mobil mobi-
dosis 0,05 ml untuk bayi dan 0,1 cc pada usia lan dengan remote control dan truk kayu yang
anak yang sebaiknya diberikan pada deltoid ditarik
kanan .
Rujukan :
Rujukan :
Mary E Muscari (2005). Panduan Belajar :
Azis Alimut (2012). Pengantar Ilmu Keper- Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC
awatan Anak, Jakarta : Salemba Medika

Vivian Nanny (2010). Asuhan Neonatus,


bayi dan anak balita, Jakarta : Salemba 64. Kunci Jawaban : A
Medika Pembahasan :

Jika prosedur traumatic /tindakan yang me-


62. Kunci Jawaban : E nimbulkan anak tidak nyaman /nyeri dilaku-
kan awal tindakan , hal ini akan menimbulkan
Pembahasan : trauma pada anak , sehingga untuk pemerik-
saan berikutnya anak akan menolak.
Pensil dan buku gambar yang diberikan ke-
pada anak dapat memfasiliatsi perkembangan Rujukan :
motorik halus bagi anak usia pra sekolah .
Sedangkan mainan alat masak-masakan, dan Mary E Muscari (2005). Panduan Belajar :
kuda-kudaan harus dipersiapkan tempat khu- Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC
sus agar anak dapat menggunakan permainan

82 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

65. Kunci Jawaban : B Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC

Pembahasan :

Saat anak masuk dan dirawat dirumah sakit 67. Kunci Kunci Jawaban : D
hal ini akan menyebabkan kecemasan dan
Pembahasan :
stress fisik dan psikologis baik bagi anak dan
keluarganya .Asuhan atraumatic adalah se- Mantoux test /test tuberculin adalah test yang
bagai asuhan terapeutik yang meminimalkan digunakan untuk mendeteksi berkemban-
atau menghilangkan distress psikologis dan gnya mycobacterium tuberculosa . test ini
fisik yang dialami oleh anak dan keluargan- merupakan pemeriksaan diagnostic dengan
ya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyuntikkan Purified Protein derivate ( PPD
menurunkan dan mencegah dampak perpisa- ) secara intra dermal. Hasil maksimal akan
han anak dari keluarganya dengan memberi teramati setelah 48-72 jam . Indurasi dengan
kesempatan orang tua menemani saat anak diameter 10 mm atau lebih menandakan hasil
dirawat. positif.

Rujukan : Rujukan :

Terri Kyle & Susan Carman (2015). Buku Ajar Asmadi (2009). Konsep dan Aplikasi Kebutu-
Pediatrik Vol 1 , Jakarta : EGC han Dasar Klien, Jakarta : Salemba Me-
dika

66. Kunci Jawaban : E


68. Kunci Jawaban : B
Pembahasan :
Pembahasan.
Perhatian remaja yang di hospitalisasi ber-
fokus pada : perubahan citra tubuh , berpisah Dengan tehnik perkusi tangan melekuk lokasi
dengan teman sebaya, penyakit sebagai huku- pukulan lebih focus /tepat dan tindakan ini ti-
man, dan kebebesannya menjadi terbatas. Se- dak mengakibatkan anak kesakitan seperti jika
hubungan hal tersebut seringkali reaksi hospi- kita melakukan perkusi dengan telapak tangan
talisasi pada anak remaja menjadi kehilangan terbuka . Pemukulan ritmik pada dinding dada
kendali yang berhubungan dengan kehilangan dan punggung , tujuannya melepaskan lender
identitas , kemungkin menyebabkan remaja atau sekret-sekret yang menempel pada dind-
berespon dengan penolakan, tidak mau ker- ing pernafasan dan memudahkan mengalir ke
jasama marah atau frustasi. Dengan memberi tenggorokan. Hal ini lebih memudahkan anak
kesempatan remaja untuk mengungkapkan mengeluarkan lendirnya .
kecemasannya , sehingga perawat dapat me-
nentukan dengan tepat pendekatan yang harus Rujukan .
dilakukan dalam mengatasi reaksi hospitalisa- Kholid Rosyidi (2013). Prosedur praktik
si remaja tersebut. Keperawatan jilid.1, Jakarta : TIM
Rujukan :

Mary E Muscari (2005). Panduan Belajar :

Back 83
Program Studi DIII Keperawatan

69. Kunci Jawaban : C Asmadi (2009). Konsep dan Aplikasi Kebutu-


han Dasar Klien, Jakarta : Salemba Me-
Pembahasan .
dika
Botol humidifier berisikan aquabides yang
berfungsi untuk melembabkan oksigen saat
dialirkan ke system bernafasan, hal ini dapat 72. Kunci Jawaban : E
mencegah terjadinya iritasi akibat aliran oksi-
Pembahasan.
gen yang memiliki sifat kering . Oleh karena
itu selama prosedur pemberian oksigen botol Pengukuran intake dan output cairan mer-
humidifier harus terisi aquabidest sesuai den- upakan suatu tindakan yang dilakukan untuk
gan batasan atas maupun bawah yang tertera mengukur jumlah cairan yang masuk kedalam
pada botol tersebut. tubuh ( intake ) dan jumlah cairan yang keluar
dari tubuh ( output ) . Aspek yang dikaji pada
Rujukan .
intake adalah : Jumlah air yang diminum /hari
Kholid Rosyidi (2013). Prosedur praktik , air yang terkandung dalam makanan, air me-
Keperawatan jilid.1, Jakarta : TIM tabolisme dan air tambahan lain seperti infuse.
Sedangkan output ; aspek yang dinilai jumlah
urine yang keluar /hari , jumlah feces dan jum-
70. Kunci Jawaban : A lah IWL. Jika jumlah intake sama dengan out-
put dikatakan balance ( seimbang ) , jika jum-
Pembahasan
lah intake lebih besar dari output : positif dan
Pendidikan dan penguatan yang diberikan ke- jika intake lebih kecil dari output /output lebih
pada orang tua tentang progam pengobatan besar dari intake maka dikatakan negative.
dan risiko bila pengobatan dihentikan akan
Rujukan:
meningkatkan kepatuhan dan menurunkan
resiko kegagalan akibat deficit pengetahuan. Asmadi (2009). Konsep dan Aplikasi Kebutu-
han Dasar Klien, Jakarta : Salemba Me-
Rujukan :
dika
Kathleen Morgan Speer (2008). Rencana Asu-
han Keperawatan Pediatrik Edisi 3, Ja-
karta : EGC 73. Kunci Jawaban : A

Pembahasan :

71. Kunci Jawaban : E Bayi dan anak-anak yang lebih kecil akan
mengalami kehilangan cairan yang tidak tam-
Pembahasan :
pak. Mengukur BB harian adalah cara yang
Jika sudut penusukan lebih dari 10-15 0, maka paling akurat untuk mengukur peningkatan
penyuntikan akan terlalu dalam. Melakukan atau kehilangan cairan pada anak. Memantau
penyuntikan dengan bevel menghadap keatas asupan dan haluran, memeriksa nilai elektrolit
akan meudahkan penusukan jarum . , mengkaji turgor kulit merupakan intervensi
penting, namun tidak dapat mengukur atau
Rujukan : menghitung kehilangan cairan yang tidak ta-

84 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

mak. Sedangkan pengukuran lingkar perut dan 76. Kunci Jawaban : C


lengan atas lebih tepat digunakan untuk meng-
Pembahasan :
etahui status nutrisi bayi /anak.
Sesuai dengan vignete di atas ada kata kun-
Rujukan :
ci yaitu saat interaksi tiba tiba pasen blocking
Mary E Muscari (2005). Panduan Belajar : maka pilihan Kunci Jawaban yang tepat ada-
Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC lah C (membimbing tarik nafas dalam) kare-
na teknik relaksasi maupun tarik napas dalam
menjadi salah satu hal penting untuk menga-
74. Kunci Jawaban : E tasi kecemasan, dan bisa dilaksanakan segera
tanpa mempersiapkan alat media atau waktu
Pembahasan: khusus.
Prioritas dalam menangani anak kejang adalah Rujukan:
menjamin keamanan dan perlindungan dari
cedera. Dengan posisi anak ditidurkan mir- Stuart, Gail. (2006). Buku Saku Keperawatan
ing dan dapat mencegah anak dari aspirasi Jiwa. Jakarta : EGC
cairan /sisa makanan yang dapat masuk keda-
Smelltzer & Bare. (2002). Modul Keper-
lam paru-paru saat kejang . Dengan ditemani
awatan Jiwa. Jakarta : EGC
orang tua saat anak mendapat serangan kejang,
orang tua dapat mengobservasi dan mendoku-
mentasikan kejadian kejang tersebut sehingga
77. Kunci Jawaban: A
dapat dilaporkan kepada dokter sebagai data
yang dibutuhkan untuk menentukan terapi. Pembahasan :

Rujukan : Sesuai dengan vignete di atas ada kata kun-


ci yaitu: menjadi sangat pendiam, banyak
Mary E Muscari (2005). Panduan Belajar :
mengurung diri di kamar, maka pilihan Kun-
Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC
ci Jawaban yang tepat yaitua (isolasi social),
karena beberapa tanda dan gejala yang ter-
dapat pada kasus diatas mencakupgejala dan
75. Kunci Jawaban : A
tanda mayor diagnosis dengan isolasi sosial.
Pembahasan: Data sering komat kamit tidak menjadi dom-
inan.
Pemahaman tentang pentingnya pengobatan
yang konsisten dapat meningkatkan kepatu- Rujukan :
han minum obat. Mengetahui efek samping
PPNI (2017). Standar Diagnosis Keper-
potensial dapat mengarahkan orang tua untuk
awatan Indonesia, hal 268. Edisi I.
meminta bantuan medis jika diperlukan.
Jakarta : DPP- PPNI
Rujukan :

Cathyl Morgan Speer (2008). Rencana Asu-


78. Kunci Jawaban : E
han Keperawatan Pediatrik (hal: 93), Ja-
karta : EGC Pembahasan :

Back 85
Program Studi DIII Keperawatan

Sesuai dengan vignete di atas ada kata kunci lu tentang pentingnya perawatan kebersihan
yaitu , bicara sendiri, tertawa sendiri, maka pi- diri.
lihan Kunci Jawaban yang tepat yaitue kare-
Rujukan:
na tindakan pemberian obat psikotik dan cara
bercakap-cakap dapat memutuskan halusinasi Stuart, G.W. (2013). Buku Saku Keperawatan
serta mengontrol halusinasi pasien. Jiwa Edisi 5. Jakarta : EGC

Rujukan : Keliat, dkk. (2011). Keperawatan Kesehatan


Jiwa Komunitas, Basic course., modul
Townsend, Mary. (2003). Buku Saku Pedoman
13. Jakarta : EGC
Obat Dalam Keperawatan Psikiatri. Ja-
karta : EGC

Keliat, dkk. (2011). Keperawatan Kesehatan 81. Kunci Jawaban : E


Jiwa Komunitas modul 9, Jakarta : EGC
Pembahasan :

Sesuai dengan vignete di atas ada kata kun-


79. Kunci Jawaban: B ci dalam percakapan dengan pasien perawat
mengatakan ”Setelah ibu memukul suami dan
Pembahasan :
merusak perabotan rumah tangga, apa yang
Sesuai dengan vignete di atas ada kata kunci ibu rasakan?”.pilihan e karena Kunci Jawa-
yaitu perilaku mengkritik diri dan orang lain, ban yang tepat karena dengan cara mendi-
produktifitasnya menurun, pesimis mengha- skusikan bersama pasien akibat perilakunya
dapi hidup, pilihan a karena tindakan utama dapat membuat pasien mengetahui kerugian
yang dilakukan perawat pada kasus di atas yang ia dapatkan dan pasien mau belajar cara
yaitu mengidentifikasi kemampuan dan aspek lain yang lebih baik untuk mengungkapkan
positif yang masih dimiliki klien. kemarahan tanpa menimbulkan kerugian.

Rujukan : Rujukan:

Keliat, dkk. (2011). Keperawatan Kesehatan Keliat.B.A.dkk. (2011). Keperawatan Kese-


Jiwa Komunitas, Basic course., modul 7. hatan Jiwa Komunitas, modul 11 Jakarta
Jakarta : EGC : EGC

80. Kunci Jawaban: D 82. Kunci Jawaban : C

Pembahasan : Pembahasan :

Sesuai dengan vignete di atas ada kata kunci Sesuai dengan vignete di atas ada kata kunci
yaitu karena sudah seminggu tidak mau man- di rumah pasien marah-marah, merusak ba-
di, badan kotor dan bau, tidak mau makan dan rang dan mengancam, sudah 2 bulan sejak ia
bila makan berantakan, BAB dan BAK sem- diceraikan oleh suaminya,pilihan cperilaku
barangan,.pilihan d karena Kunci Jawaban kekerasan karena sudah sesuai dengan tanda
yang paling tepat karena pada pasien defisit gejala mayor Peilaku Kekerasan
perawatan diri harus dijelaskan terlebih dahu-

86 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Rujukan: karta: EGC

PPNI (2017). Standar Diagnosis Keper- Yosep, I & Sutini, T. (2014). Buku Ajar Keper-
awatan Indonesia, hal 288. Edis I. Jakar- awatan Jiwa. Bandung : PT Refika Adi-
ta : DPP- PPNI tama

Keliat, dkk. (2011). Keperawatan Kesehatan 85. Kunci Jawaban : E


Jiwa Komunitas. Jakarta : EGC
Pembahasan
Stuart, G.W. (2013). Buku Saku Keperawatan
Kriteria prioritas masalah adalah : Masalah
Jiwa, Edisi 5. Jakarta : EGC
yang mengancam kehidupan merupakan pri-
oritas utama, masalah yang mengancam kese-
hatan merupakan prioritas kedua dan masalah
83. Kunci Jawaban: A
yang mempengaruhi perilaku merupakan pri-
Pembahasan : oritas ketiga.

Pilihan ( B, C, D dan E) kurang tepat kare- Rujukan :


na salah satu indikasi dari terapi lordomer
Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan
dan diazepam injeksi yaitu memberikan efek
(hal. 125 ), Jakarta : Salemba Medika
penenang sehingga Kunci Jawaban yang pal-
ing adalah pilihan (A)

Rujukan: 86. Kunci Jawaban : C

Stuart, Gail. (2003). Buku Saku Keperawatan Pembahasan:


Jiwa. Jakarta: EGC
Problem diisi diagnose keperawatan, tujuan,
Adi Djuanda, S.K. (2009). MIMS. Jakarta : dan kriteria hasil
PT Info Master
Rujukan :

Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan


84. Kunci Jawaban: B
(hal. 121 ), Jakarta : Salemba Medika
Pembahasan :

Kunci Jawaban yang paling tepat adalah (B)


87. Kunci Jawaban : C
karena SP 1 dalam halusinasi yaitu dengan
cara menghardik sedangkan pilihan (A) sp 4 Pembahasan
risiko perilaku kekerasan, pilihan (C) sp 3 ha-
Menentukan prioritas masalah merupakan
lusinasi, pilihan (D) sp 2 halusinasi dan risiko
langkah selanjutnya setelah pengkajian data
perilaku kekerasan sedangkan pilihan (E) sp 3
dan menetapkan diagnosis keperawatan dan
isolasi sosial.
merupakan bagian dari perencanaan asuhan
Rujukan: keperawatan

Keliat.B.A.dkk. (2011). Keperawatan Kese- Rujukan :


hatan Jiwa Komunitas, basic course., Ja-

Back 87
Program Studi DIII Keperawatan

Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan 90. Kunci Jawaban : C


(hal. 125 ), Jakarta : Salemba Medika
Pembahasan :

Metode Primer adalah: dimana satu orang per-


88. Kunci Jawaban : B awat bertanggung jawab penuh selama 24 jam
terhadap asuhan keperawatan pasien mulai
Pembahasan :
dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit.
Yang dimaksud dengan kategori partial care Mendorong praktik kemandirian perawat, ada
adalah: kejelasan antara pembuat rencana asuhan dan
pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan
• dibantu dalam kebersihan diri, adanya keterkaitan kuat dan terus menerus an-
makan-minum dan Ambulasi tara pasien dan perawat yang digunakan untuk
• Observasi tanda vital dalam 4 jam merencanakan, melakukan, dan koordinasi asu-
han keperawatan selama pasien dirawat.
• Pengobatan lebih dari satu kali
Rujukan :
• pakai kateter foley
Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan
• Dipasang infus, intake out put dicatat (hal. 174 - 175 ), Jakarta : Salemba Medika

• Pengobatan perlu prosedur.

Rujukan : 91. Kunci Jawaban : D

Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan Pembahasan :


(hal. 181 ), Jakarta : Salemba Me-
dika Tanggung jawab ketua Tim adalah :

• Membuat perencanaan

89. Kunci Jawaban : D • Membuat penugasan, supervise dan Evalu-


asi
Pembahasan:
• Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan
Kategori minimal care (perawatan mandiri ) dapat menilai tingkat kebutuhan pasien
kriterianya adalah dapat melaksanakan aktifitas
sendiri akan tetapi perlu diawasi ketika melaku- • Mengembangkan kemampuan anggota
kan ambulasi dan perlu diobservasi setiap shift • Menyelenggarakan conference
dan persiapan prosedur
Rujukan :
Rujukan :
Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan
Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan (hal. 172), Jakarta : Salemba Medika
(hal. 146 ), Jakarta : Salemba Medika

92. Kunci Jawaban : A

Pembahasan

88 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Perawat Assosiet adalah perawat yang melak- Hal yang harus disampaikan oleh perawat di-
sanakan asuhan keperawatan yang sdh dib- nas sore pada saat timbang terima ke perawat
uat perencanaannnya oleh perawat primer dinas malam, yang akan bertugas adalah:
dan melaporkan asuhan keperawatan yang sdh
• Identitas pasien dan Diagnosa medis
dilaksanakannya.
• Masalah ke;perawatan yang kemungk-
Rujukan :
inan masalah
Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan
• Tindakan keperawatan yang sudah dan
(hal. 148), Jakarta : Salemba Medika
belum dilaksanakan

• Intervensi kolaboratif dan Dependensi


93. Kunci Jawaban : E
• Rencana umum dan persiapan yang
Pembahasan perlu dilakukan dalam kegiatan selan-
jutnya, misalnya: operasi, pemeriksaan
Tanggung jawab anggota tim adalah Member-
laboratorium dan pemerisaaan penun-
ikan asuhan keperawatan pada pasien yang
jang lainnya.
menjadi tanggung jawabnya, Kerjasama den-
gan anggota tim dan antar tim dan memberi- Rujukan :
kan laporan.
Nursalam (2011). Manajemen Keperawatan,
Rujukan : (hal L 43), Jakarta : Salemba Medika

Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan


(hal. 134 ), Jakarta : Salemba Medika
96. Kunci Jawaban : B

Pembahasan :
94. Kunci Jawaban : C
Supervisi Langsung yaitu supervisi dilaku-
Pembahasan kan secara langsung pada kegiatan yang
sedang berlangsung, yaitu supervisor dapat
Tujuan timbang terima adalah : Menyam-
terlibat dalam kegiatan, umpan balik, dan
paikan kondisi atau keadaan secara umum
perbaikan
pasien/ klien, Menyampaikan hal- hal penting
yang perlu ditindak lanjuti oleh dinas berikut- Rujukan :
nya, dan Tersusunnya rencana kerja untuk di-
Nursalam (2011). Manajemen keperawatan,
nas berikutnya.
(hal.70), Jakarta : Salemba
Rujukan : medika

Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan


(hal. 175 ), Jakarta : Salemba Medika
97. Kunci Jawaban : A

Pembahasan:
95. Kunci Jawaban : b
Konflik intrapersonal adalah konflik yang
Pembahasan terjadi pada Individu itu sendiri. Keadaan ini
Back 89
Program Studi DIII Keperawatan

merupakan masalah internal untuk mengklar- 100. Kunci Jawaban : A


ifikasi nilai dan keinginan dari konflik yg ter-
Pembahasan :
jadi.
Realibility atau kehandalan adalah perawat
Rujukan:
mampu menangani masalah perawatan
Nursalam (2011). Manajemen keperawatan, dengan tepat dan professional, memberikan
(hal. 119), Jakarta : Salemba medika informasi tentang fasilitas yang tersedia, cara
penggunaannya dan tata tertib yang berlaku
di RS, ketepatan waktu tiba di ruangan ketika
98. Kunci Jawaban : E dibutuhkan.

Pembahasan: Rujukan:

Negosiasi merupakan suatu strategi penyele- Nursalam (2011). Manajemen keperawatan,


saian konflik dimana semua yang terlibat konf- (hal. 331), Jakarta : Salemba medika
lik saling menyadari dan sepakat pada keigi-
nan bersama . Penyelesaian strategi ini sering
disebut lose – lose situation. Kedua pihak 101. Kunci Jawaban : A
yang terlibat saling menyerah dan menyepa-
Pembahasan
kati hal yang telah dibuat. Di dalam manaje-
men keperawatan strategi ini sering digunakan Cuci tangan sebelum dan setelah melakukan
oleh middle dan top manajer keperawatan. tindakan keperawatan maupun kontak den-
gan pasien merupakan universal precaution
Rujukan:
untuk mencegah infeksi nosokomial, infeksi
Nursalam (2011). Manajemen keperawatan, nosokomial merupakan salah satu aspek da-
(hal. 120 – 121), Jakarta : Salemba me- lam keselamatan pasien
dika
Rujukan:

Nursalam (2011). Manajemen keperawatan,


99. Kunci Jawaban : B (hal. 318), Jakarta : Salemba medika

Pembahasan:

Konflik interpersonal adalah konflik yang ter- 102. Kunci Jawaban: C


jadi antara dua orang atau lebih dimana nilai, Pembahasan:
tujuan, dan keyakinan berbeda.
Kunci Jawaban yang benar adalah C (pasang
Rujukan: dower kateter), karena bertujuan untuk moni-
toring output urin efek dari pemberian Lasix ,
Nursalam (2011). Manajemen keperawatan,
menurunkan akumulasi cairan interstisiil.
(hal. 119 – 122), Jakarta : Salemba me-
dika Rujukan

Susan B. Stillwell (2011). Pedoman Keper-


awatan kritis hal 193

90 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

103. Kunci Jawaban: D 106. Kunci Jawaban: B

Pembahasan: Pembahasan:

Kunci Jawaban d merupakan Kunci Jawaban Pasien yang mengalami Cardiac Arrest yang
yang benar, karena Evaluasi TD menurun ditandai dengan tidak teraba palpasi nadi pada
secara bertahap sebagai indicator efektivitas arteri besar seperti nadi carotis, femoral, artinya
obat hipertensi. jantung sudah tidak bekerja dan tidak ada hem-
busan napas paru juga tidak bekerja. Bila jan-
Rujukan
tung sudah tudak mampu memompakan darah
Susan B. Stillwell (2011); Pedoman Keper- maka seluruh organ mengalami keriusakan bah-
awatan kritis hal. 201 kan kematian karena itu harus segera dilakukan
kompresi agar jantung dapat terangsang untuk
FK UI (2001). Penatalaksanaan Kedaruratan
berkontraksi yang diikuti dengan ventilasi agar
Penyakit Dalam Hal. 70
paru expansi sehingga terjadi inspirasi. Kesi-
mpulan Kunci Jawaban adalah: b, yaitu laku-
kan kompresi 30x/menit disertai ventilasi 2x/
104. Kunci Jawaban: A
menituntuk merangsang jantungberkontraksi
Pembahasan: sehingga compliance paru terangsang untuk
bernapas.
Kunci Jawaban A karena karena obat vasodi-
lator harus diberikan sesegera mungkin. Rujukan

Rujukan BTCLS ambulance 118 dan Hipgabi (2011)


bab IV hal 33
Musliha (2010). Keperawatan Gawat Daru-
rat bab XI Pamela S, Kidd, Patty Ann ( 2011). Pedoman
Keperawatan Emergency

105. Kunci Jawaban: A


107. Kunci Jawaban: B
Pembahasan:
Pembahasan:
Alasan Kunci Jawaban c (lakukan pengisa-
pan lendir dan basahi cairan) karenadengan Alasan Kunci Jawaban nya a adalah karena
pengisapan lendir/dahak dan dibasahi cairan, melakukan posisi extensi head till,chin lift mer-
maka lendir/dahak yang kental akan mudah upakan langkah paling pertama untuk membe-
dikeluarkan sehingga pasen tidak sesak dan baskan jalan napas pasen.
tidak mengalami kesulitan bernafas.
Rujukan:
Rujukan BTCLS ambulance 118 dan Hipgabi (2011)
Susan B. Stillwell (2011). Pedoman Keper- bab IV hal 33
awatan kritis hal.109
Pamela S, Kidd, Patty Ann ( 2011). Pedoman
Musliha (2010). Keperawatan Gawat Daru- Keperawatan Emergency
rat bab XI

Back 91
Program Studi DIII Keperawatan

108. Kunci Jawaban: A Alasan Kunci Jawaban nya b, adalah kare-


na pemasangan collar neck bertujuan untuk
Pembahasan:
segera mengimmobilisasikan daerah cervical
Alasan Kunci Jawaban nya b adalah karena agar dislokasi tulang cervical dapat dicegah.
dengan pemasangan bidai pada daerah fraktur
Rujukan:
maka daerah yang fraktur tersebut akan di im-
mobilisasikansehingga dapat mencegah terjad- Knell (2011)Asuhan Keperawatan Orthopedi
inya dislokasi. Berdasarkan manajemen fraktur
Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011). Pedoman
adalah setelah mengenal tanda dan gejala serta
keperawatan Emergency hal 385
lokasi maka segera immobilisasi dengan pem-
bidaian agar tidak terjadi dislokasi Paula krisanty et all (2009). Asuhan Keper-
Rujukan: awatan Gawat Darurat bab VIII hal 145

Pamela S, Kidd, Patty Ann (2011). Pedoman


keperawatan Emergency hal 385
111. Kunci Jawaban: C
Paula krisanty et all (2009). Asuhan Keper-
Pembahasan;
awatan Gawat Darurat bab VIII hal 145
Pasien dengan BPH problem utamanya adalah
mengalami obstrusi haluaran urin, sehinhgga
109. Kunci Jawaban: A Kunci Jawaban yang benar sesuai dengan ka-
sus di atas yaitu pasang dower kateter untuk
Pembahasan: mengeluarkan urine.
Kunci Jawaban yang benar adalah:a (cek Rujukan
golongan darah) karena pada fraktur tulang
panjang akan terjadi perdarahan lebih banyak PaulaKrisanty (2009) Askep Gawat Darurat
dari tulang yang lain saat dilakukan tinda- Bab VI hal 127
kan operasi dan,untuk mencegah kehilangan Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011). Pedoman
banyak darah harus dipersiapkan darah untuk keperawatan Emergency
transfusi.

Rujukan:
112. Kunci Jawaban: A
FKUI (2001) Penatalaksanaan kedaruratan
penyakit Dalam Pembahasan

Kunci Jawaban yang benar adalaha (cek ure-


BTCLS (2012) Ambulan 118 dan Hipgabi
um dan kreatinin) karena: karena dari keluhan
(2016)
dan tanda yang ditemukan pada pasien maka
Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011) Pedoman membutuhkan ureum dan kreatinin untuk
Keperawatan Emergency mengetahui fungsi ginjal.

Rujukan

110. Kunci Jawaban: B (pasang collar neck) Paula Krisanty (2009) Askep Gawat Darurat
Bab VI hal 459
Pembahasan:

92 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011). Pedoman rus dievaluasi responnya, dengan prioritas in-
keperawatan Emergency dikator evaluasinya adalah tingkat kesadaran
karena jika keadaan gula darah pasien mem-
baik maka suplay glukosa ke otak akan opti-
113. Kunci Jawaban: B mal, sehingga pasen akan meningkat tingkat
kesadaran nya.
Pembahasan:
Rujukan
Jadi Kunci Jawaban yang menjadi prioritas
adalah B karena dengan pemasangan NGT Paula Krisanty (2009) Askep Gawat Darurat
maka bilas lambung dapat segera dilakukan Bab VI hal 459
akibat banyak stolsel untuk mengeluarkan
Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011). Pedoman
bekuan darah dalam lambung yang menum-
keperawatan Emergency
puk jika dibiarkan berakibat distensi lambung
mengganggu pernapasan dan dapat mening-
katkan amoniak yang toksik dalam tubuh.
116. Kunci Jawaban: B.
Rujukan
Pembahasan:
Susan B.Stillwell (2011). Pedoman Keper-
awatan Kritis hal 242 Pasien DM dengan gula darah tinggi harus
segera diberikan insulin untuk mencegah ker-
Pamela S, Kidd, Patty Ann ( 2011). Pedoman usakan sel lebih lanjut oleh karena nya option
keperawatan Emergency bmerupakan Kunci Jawaban utama nya.

Rujukan

114. Kunci Jawaban: D Paula Krisanty (2009) Askep Gawat Darurat


Bab VI hal 459
Pembahasan;
Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011). Pedoman
Alasan kunci Kunci Jawabannya D (sebagai
keperawatan Emergency
advocator) karena pasien membutuhkan sup-
port dari orang orang sekelilingnya diberikan
penjelasan efek jika tidak operasi.
117. Kunci Jawaban: B
Rujukan
Pembahasan;
Susan B.Stillwell (2011). Pedoman Keper-
awatan Kritis hal 242 Pasien mengalami keracunan CO2 yang kel-
uar dari knalpot mobil dalam garasi tertutup
Pamela S, Kidd, Patty Ann ( 2011). pedoman sehingga mengalami gangguan ventilasi.
keperawatan Emergency Tindakannya adalah lakukan ventilasi oksigen
dosis tinggi dengan ambubag. Jadi pilihan
Kunci Jawaban adalah b (ventilasi dengan
115. Kunci Jawaban: D ambubag O.2 10 liter.
Pembahasan: Rujukan
Pasien DM yang diberikan glucose 10% ha-

Back 93
Program Studi DIII Keperawatan

BTCLS (2012) Ambulan 118 dan Hipgabi Pemasangan oroparingeal tube dapat mence-
(2016) gah lidah jatuh kebelakang sehingga tidak ter-
jadi sumbatan jalan napas pasien yang men-
Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011) pedoman
galami tanda tanda stroke dengan kesadaran
keperawatan Emergency
menurun.
118. Kunci Jawaban: D Rujukan
Pembahasan: Buku BTCLS 118 ( 2011) dan BTCLS Hipga-
Pasien yang keracunan hidro karbon harus bi (2015)
hati hati karena dapat terjadi pneumonia be-
Paula Krisanty (2009). Askep Gawat Darurat
rat karena itu sangat membutuhkan tindakan
Bab VI hal 127
cepat. Tindakan yang tepat pada kasus di atas
adalah Baygon yang masuk kedalam lambung
harus segera dikeluarkan agar tidakterjadi
121. Kunci Jawaban: E
komplikasisehingga Kunci Jawabannya Pas-
ang NGT bilas lambung Pembahasan:

Rujukan Pada kasus di atas Denyut nadi perifir men-


jadi prioritas utama karena untuk mengetahui
BTCLS (2012) Ambulan 118 dan Hipgabi
adanya perbaikan pasien setelah diberikan in-
(2016)
fus dengan cepat.
Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011) pedoman
Rujukan
keperawatan Emergency
BTCLS (2012) Ambulan 118 dan Hipgabi
(2016)
119. Kunci Jawaban: E
Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011). Pedoman
Pembahasan; keperawatan Emergency

Pada cedera kepala untuk mengeluarkan Paula Krisanty (2009). Askep Gawat Darurat
muntahan harus dengan cara memiringkan Bab XI hal 197
bersamaan dengan badan pasien /log rool un-
tuk mencegah terjadinya cedera servikal.
122. Kunci Jawaban: A
Rujukan
Pembahasan:
BTCLS (2012) Ambulan 118 dan Hipgabi
(2016) Sesuai dengan vignette kasus di atas, maka pe-
masangan infus atau pemberian cairan paren-
Pamela S, Kidd, Patty Ann( 2011) pedoman
teral/rehidrasi menjadi prioritas karena pasien
keperawatan Emergency
kekurangan cairan untuk mengimbangi cairan
yang keluar lewat diare.

120. Kunci Jawaban: A Rujukan

Pembahasan; Buku BTCLS 118 ( 2011) dan BTCLS Hipga-


bi (2015)

94 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Pamela S, Kidd, Patty Ann ( 2011). Pedoman luka yang kemudian sulit sembuh. Diagnosa
keperawatan Emergency hal 758 lain masih kurang data pendukung.

Paula Krisanty (2009). Askep Gawat Darurat Rujukan:


Bab XI hal 197
Riasmini, M. (2017). Panduan Asuhan Keper-
awatan;individu, keluarga, kelompok,
dan komunitas dengan modifikasi NAN-
123. Kunci Jawaban : A
DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas
Pembahasan: dan masyarakat, dan Jakarta, Penerbit UI

Pengkajian yang dilakukan perawat C adalah


pengkajian tahap ke 2 yang bertujuan mengkaji
125. Kunci Jawaban : A
5 tugas keluarga dalam memelihara kesehatan
anggotanya. Tugas tersebut adalah: 1. Kemam- Pembahasan:
puan mengenal masalah TBC paru; 2. Kemam-
Klien hipoglikemi yang masih sadar sebaiknya
puan mengambil keputusan yang tepat untuk
diberikan larutan gula atau glokosa yang mudah
menangani TBC ; 3. Kemampuan merawat TBC
diserap untuk membantu mengembalikan level
paru di rumah; 4. Kemampuan memodifika-
gula darahnya. Membaringkan ditempat terbu-
si lingkungan untuk menunjang penyembuhan
ka jika klien sudah pinsan karena kekurangan
penyakit TBC dan 5 Kemampuan menggunakan
udara. makan tinggi kalori malam hari tidak
fasilitas pelayanan kesehatan untuk pengobatan
spesifik jenis dan waktunya
TBC. Untuk menggali setiap kemampuan tsb
masing masing memiliki teknik bertanya yang Rujukan:
spesifik.
Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-
Untuk menggali kemampuan mengambil kepu- awatan;individu, keluarga, kelompok, dan
tusan pertanyaaan diarahkan kepada: Sejauh komunitas dengan modifikasi NANDA, IC-
mana keluarga mampu memahami sifat dan NP,NOC dan NIC di Puskesmas dan mas-
luasnya masalah; Apakah keadaan dirasakan yarakat, dan Jakarta, Penerbit UI
sebagai masalah; Apakah keluarga mengetahui
fasiltas pelayanan untuk memecahkan masalah.

Rujukan: 126. Kunci Jawaban : C

Bailon, Maglaya : Family Health Nursing Pembahasan :

Setiap individu memiliki kekuatan membuat


keputusan sendiri . memilih dan memiliki
124. Kunci Jawaban : C berbagai keputusan atau pilihan yang dihargai.
Prinsip ini adalah bentuk respek terhadap ses-
Pembahasan:
eorang , tidak memaksa dan bertindak secara
Rasa kebas dan mati rasa adalah tanda adanya rasional. Perawat menghargai hak hak pasien
komplikasi mikro angiopati dan neuropati yang dalam membuat keputusan tentang perawatan
mengenai pembuluh darah perifer dan syaraf dirinya.
tepi. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya
Rujukan:
Back 95
Program Studi DIII Keperawatan

Nasrullah,D. (2014). Etika Dan Hukum keper- Relaksasi merupakan kebebasan mental dan
awatan. Jakarta :Trans Info Media. fisik dari ketegangan dan stress, karena dapat
mengubah 2 persepsi kognitif dan motivasi
afektif pasien. Teknik relaksasi membuat pasien
dapat mengontrol diri ketika terjadi rasa tidak
127. Kunci Jawaban : C
nyaman atau nyeri, stress fisik dan emosi pada
Pembahasan : nyeri

Lansia akan mengalami perubahan psikoso-


sial hal ini disebabkan respon kehilangan yang
Rujukan:
dapat menimbulkan pikiran negatif dapat
terjadi depresi. Kondisi ini ditunjang dari de- Riasmini, M (2017), Hal 57, Panduan Asuhan
fisiensinya neurotransmitter, nonepineprin, se- keperawatan : individu, Keluarga, Kelom-
rotenin, dopamin, acetyholine. Sehingga lansia pok, dan Komunitas dengan modifikasi
sering merasa rendah diri, perasaan bersalah NANDA, ICNP, NOC, dan NC. Di Puskes-
dan tak berarti, ansietas, mudah tersinggung. mas dan Masyarakat. Jakarta, Penerbit UI.
Rujukan :

Jaime L.stocklager.(2008). Buku saku asuhan


130. Kunci Kunci Jawaban : B
Keperawatan Geriatric.edisi 2. Jakarta:
EGC. Hal 90-91. Pembahasan :

Seiring dengan bertambahnya usia, sel sel tu-


buh menjadi lebih resisten terhadap insulin, sel
128. Kunci Jawaban : B
beta pangkreas berkurang melepaskan insulin,
Pembahasan: hal ini mengurangi kemampuan lansia untuk
memetabolisme glukosa, kekurangan insulin
Lansia mengalami penurunan fungsi pada sys- menghambat kemampuan tubuh untuk mengak-
tem kardiovskuler, menyebabkan menurunn- ses nutrient yang penting untuk bahan bakar dan
ya kekuatan kontraktil ventrikel, menurunn- simpanan. Kegemukan dapat menghambat ke-
ya kardiak output, menimbulkan peningkatan mampuan tubuh untuk metabolisme,dapat ter-
tekanan darah, sehingga perlu dilakukan pen- jadi hiperglikemia sehingga perlu anjuran diet
gukuran tekanan darah untuk memastikan adan- diabetes
ya penyakit hipertensi
Rujukan:
Rujukan :
Riasmini, M (2017), Hal 57, Panduan Asuhan
Jaime L.stocklager.2008. Buku saku asuhan keperawatan :individu, Keluarga, Kelom-
Keperawatan Geriatric.edisi 2. Jakarta: pok, dan Komunitas dengan modifikasi
EGC.Hal 208-212. NANDA, ICNP, NOC, dan NC. Di Puskes-
mas dan Masyarakat. Jakarta, Penerbit UI.

129. Kunci Jawaban : A Jaime L.stocklager.(2008).Hal 92-98, Buku


saku asuhan Keperawatan Geriatric.edisi 2.
Pembahasan Jakarta: EGC.

96 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

UI.

131. Kunci Jawaban: B Martono, Hadi dan Kris Pranarka. (2015).


Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri
Pembahasan : (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).Edisi V.Ja-
karta : Balai Penerbit FKUI. Bagian 3 hal
Diabetes mellitus pada populasi lansia dapat
462-468.
menimbulkan komplikasi makrovaskuler dan
mikrovaskuler. Salah satu komplikasi kronis
yang umum pada kulit lansia adalah dermopaty
diabetic yang diakibatkan karena hyperglikemi.
Hyperglikemi merusak resistensi lansia terha- 133. Kunci Kunci Jawaban : B
dap infeksi karena kandungan glukosa epider-
mis dan urine mendorong pertumbuhan bakteri. Pembahasan :
Hal ini membuat lansia rentan terhadap infeksi
ROM dapat meningkatkan atau mempertah-
kulit, maka pada lansia dengan diabetes perlu
ankan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina
dikaji perilaku hyegenis nya.
umum.Latihan yang tidak adekuat dapat me-
Rujukan: nimbulkan kakakuan sendi.

Riasmini, M (2017), Panduan Asuhan keper- Rujukan :


awatan :individu, Keluarga, Kelompok,
dan Komunitas dengan modifikasi NANDA, Martono, Hadi dan Kris Pranarka.2015.Buku
ICNP, NOC, dan NC. Di Puskesmas dan Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu Kes-
Masyarakat. Jakarta, Penerbit UI. Hal 52 ehatan Usia Lanjut).Edisi V.Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. Hal 462-468
Jaime L.stocklager.(2008). Buku saku asuhan
Keperawatan Geriatric.edisi 2. Jakarta:
EGC. Hal 92 - 98.
134. Kunci Jawaban: C

Pembahasan:
132. Kunci Jawaban : E
Keluhan kesulitan orientasi waktu, tempat dan
Pembahasan: orang, lupa meletakan barang danskor nilai
MMSE dibawah normal (24 - 30) mengindi-
Pemberian kompres hangat dapat memberi-
kasikan adanya penurunan atau gangguan kog-
kan efek vasodilatasi. vasodilatasi membantu
nitif/ proses fikir.
pengeluaran endorfin dan dapat menghambat
impuls-impuls nyeri. Rujukan:

Rujukan Jaime L.stocklager.(2008). Buku saku asuhan


Keperawatan Geriatric.edisi 2. Jakarta:
Riasmini, M (2017), Hal 61, Panduan Asuhan
EGC. Hal 88-89.
keperawatan :individu, Keluarga, Kelom-
pok, dan Komunitas dengan modifikasi
NANDA, ICNP, NOC, dan NC. Di Pusk-
135. Kunci Jawaban : (C) Windshield survey
esmas dan Masyarakat. Jakarta, Penerbit

Back 97
Program Studi DIII Keperawatan

Pembahasan : hasil penimbangan pada bulan ini.

Metode pengkajian keperawatan komunitas Rujukan :


antara lain : Windshield survey,Observasi ter- Depkes RI (2011). Pedoman Umum Penge-
struktur , FGD, Interview dan angket. Wind- lolaan Posyandu. Jakarta: Departemen
shield survey adalah Metode pengkajian keper- Kesehatan RI
awatan komunitas dengan cara berkeliling
melakukan pemeriksaan masyarakat dengan
berkelilingwilayah binaan dan melakukan waw-
137. Kunci Jawaban : A
ancara dengan tokoh masyarakat,tokoh agama,
kader kesehatan dengan tujuan untuk memper- Pembahasan:
oleh gambaran tentang kondisi dan situasi suatu
Perawat harus menghargaidan meng-
wilayah disebut Windshield survey
hormati hak pasien untuk mendapat-
Rujukan : kan penjelasan dan memilih treatment
terbaik untuk dirinya (inform consent)
Achyar, Komang ayu, H. (2014). Asuhan
Rujukan :
Keperawatan Komunitas. Hal. 21
Nasrulloh.D. (2014). Etika dan Hukum Keper-
Jakarta. EGC
awatan, Jakarta, Trans info media

DPP PPNI (2017). Pedoman Perilaku sebagai


Penjabaran Kode Etik Keperawatan, Ja-
136. Kunci Jawaban: B
karta, DPP. PPNI.
Pembahasan :

Karena Kegiatan posyandu sistem 5 meja ha-


138. Kunci Jawaban: D (Beneficience).
rus dilaksanakan secara berurutan melaui lang-
kah – langkah sebagai berikut : Pembahasan:

Meja I : Pendaftaran. Perawat mempunyai kewajiban untuk melaku-


kan tindakan keperawatan untuk keamanan
Meja II : Penimbangan bayi dan anak balita.
,keselamatan,memberikan rasa nyaman, tidak
Meja III : Pengisian KMS. membahayakan pasien.

Meja IV : Penyuluhan perorangan Rujukan :

Meja V :Pelayanan oleh tenaga profesional Nasrulloh.D. (2014). Etika dan Hukum Keper-
awatan, Jakarta, Trans info media
meliputi pelayanan KIA, KB,
DPP PPNI (2017). Pedoman Perilaku sebagai
Imunisasi dan pengobatan, serta pelayanan
Penjabaran Kode Etik Keperawatan, Ja-
lain sesuai dengan kebutuhan. Kegiatan meja
karta, DPP PPNI.
III ( Pengisian KMS). Adalah mintalah KMS
anak, Memindahkan/mencatat hasil penim- 139. Kunci Kunci Jawaban: b
bangan anak dari secarik kertas ke KMS dan
Pembahasan :
selanjutnya harus memperhatikan umur dan

98 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Kata kuncinya adalah balita berada di pita Rujukan :


kuning pada KMS. Hasil wawancara pada ibu
Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-
balita memperoleh data bahwa balita mereka
awatan;individu, keluarga, kelompok,
pada umumnya susah makan, dan lebih sering
dan komunitas dengan modifikasi NAN-
jajan. Ibu tidak menyediakan makanan khu-
DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas
sus bagi balita dan tidak paham dengan variasi
dan masyarakat, Hal.Jakarta, Penerbit UI
makanan balita sehingga Kunci Jawaban yang
tepat yaitu berikan penyuluhan tentang gizi 141. Kunci Kunci Jawaban: c
balita
Pembahasan :

Strategi intervesi keperawatan komunitas pada


Rujukan : kelompok anak usia sekolah dengan ISPAmeli-
puti :
Library of Conggress Cataloging in Publica-
tion Data. (2013). Nursing intervention a. Prevensi Primer :Pendidikan Keseha-
classification (NIC). (5thed). Hal. 103 tan, Teaching: Group
St.Louis: Elsevier Mosby b. Prevensi Sekunder : Skrining kesehatan
dan Identifikasi resiko
Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-
c. Prevensi Tersier :Dukungan terhadap
awatan;individu, keluarga, kelompok,
caregiver dan keluarga
dan komunitas dengan modifikasi NAN-
Konsultasi, Dokumentasi, Pencatatan insiden-
DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas
si kasus, Rujukan Program pengembangan,
dan masyarakat, Hal. 128 .Jakarta, Pen-
Perkembangan kesehatan komunitas Bimbin-
erbit UI
gan terhadap system kesehatan (Health system
guidance)

140. Kunci Kunci Jawaban: D Rujukan :

Pembahasan: Library of Conggress Cataloging in Publica-


tion Data. (2013). Nursing intervention
Kata kuncinya adalah (54 anak) menderita
classification (NIC). (5thed). St.Louis: El-
ISPA, 12% (12 anak) imunisasi tidak lengkap
sevier Mosby
dan 2 % menderita TBC (2 anak) pengetahuan
tentang Gizi balita rendah dan perilaku ku- Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-
rang baik dalam pemenuhan gizi balita, per- awatan;individu, keluarga, kelompok,
ilaku kurang baik tentang penyakit infeksi dan komunitas dengan modifikasi NAN-
dan kunjungan posyandu balita rendah data DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas
ini mendukung masalah Resiko peningkatan dan masyarakat, Jakarta, Penerbit UI
penyakit infeksi (ispa, diare dan tbc) Pilihan
(a, b,c dan E) kurang tepat karena tanda dan
gejala pada kasus di atas tidak menunjukkan 142. Kunci Jawaban: D
pada Pola pemberian nutrisi yang tidak ekef-
Pembahasan:
tif, Perilaku pencarian pelayanan kesehatan
balita tidak efektif, Kurangnya pengetahuan Fokus kegiatan keperawatan komunitas terdiri
dan ketrampilan ibu tentang kesehatan balita dari :
Back 99
Program Studi DIII Keperawatan

1. Proses kelompok

2. Pendidikan keperawatan 144. Kunci Jawaban: C

3. Intervensi professionalkeperawatan Pembahasan :

4. Kemitraan/kerjasama Pada kasus DBD diatas terjadi karena masa-


yarat tidak menjalankan perilaku hidup bersih
5. Pemberdayaan (empowerment)
dan sehat seperti : gerakan PSN dilakukan bila
sudah terjadi kasus, angka jentik nyamuk tinggi
karena jarang mengurs bak kamar mandi, dan
Rujukan :
tempat penamungan air .
Library of Conggress Cataloging in Publica-
Rujukan :
tion Data. (2013). Nursing intervention
classification (NIC). (5thed). St.Louis: El- Library of Conggress Cataloging in Publication
sevier Mosby Data. (2013). Nursing intervention classi-
fication (NIC). (5thed). St.Louis: Elsevier
Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-
Mosby
awatan;individu, keluarga, kelompok,
dan komunitas dengan modifikasi NAN- Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-
DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas awatan;individu, keluarga, kelompok, dan
dan masyarakat, Hal. 112. Jakarta, Pen- komunitas dengan modifikasi NANDA, IC-
erbit UI NP,NOC dan NIC di Puskesmas dan mas-
yarakat, Hal. 131. Jakarta, Penerbit UI

143. Kunci Jawaban: B


145. Kunci Jawaban : D
Pembahasan :
Pembahasan:
Salah satu bentuPrevensi Sekunderuntuk men-
gatasi masalah kesehatan merokok pada kelom- strategi intervensi yang dilakukan oleh pe-
pok usia remaja yaitu Skrining kesehatan rema- rawat komunitas untuk mengatasi masalah
ja dan Identifikasi resiko. DBD salah satunya Penyebaran informasi
melalui kampanye tentang penyakit DBD .
Rujukan :
Rujukan :
Library of Conggress Cataloging in Publica-
tion Data. (2013). Nursing intervention Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-
classification (NIC). (5thed). St.Louis: El- awatan;individu, keluarga, kelompok,
sevier Mosby dan komunitas dengan modifikasi NAN-
DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas
Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-
dan masyarakat, Hal. 131 Jakarta, Pen-
awatan;individu, keluarga, kelompok,
erbit UI
dan komunitas dengan modifikasi NAN-
DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas
dan masyarakat, Hal. 108. Jakarta, Pe-
146. Kunci Jawaban: E (Perilaku kesehatan ber-
nerbit UI

100 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

isiko) Rujukan:

Pembahasan: Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-


awatan;individu, keluarga, kelompok,
Karena sudah ditemukan data – data yang
dan komunitas dengan modifikasi NAN-
menunjang keluhan seperti pusing , leher
DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas
kaku dan memiliki kebiasaan hampir setiap
dan masyarakat, Hal . 7 dan 135,Jakarta,
hari mengkonsumsi ikan asin , tidak ada pan-
Penerbit UI
tangan terhadap makanan serta jarang olah
raga. Dan pilihan (a, b,c dan d) kurang te-
pat karena tanda dan gejala pada kasus di
atas tidak menunjukkan pada Kesiapan untuk
meningkatkan pengetahuan, Ketidakefektipan
pemeliharaan kesehatan, Ketidakefektifan
manajemen kesehatan dan Defisiensi penge-
tahuan masyarakat

Rujukan :

Library of Conggress Cataloging in Publica-


tion Data. (2013). Nursing intervention
classification (NIC). (5thed). St.Louis: El-
sevier Mosby

Riasmini, M. (2017).Panduan Asuhan Keper-


awatan;individu, keluarga, kelompok,
dan komunitas dengan modifikasi NAN-
DA, ICNP,NOC dan NIC di Puskesmas
dan masyarakat, Hal . 57 dan Jakarta,
Penerbit UI

147. Kunci Jawaban: A

Pembahasan:

Prevensi primer adalah suatu tindakan keper-


awatan yang ditujukan kepada individu, kel-
uarga, kelompok dan masyarakat dan bentuk
tindakan keperawatan yang dapat dilakukan
pada kelompok lansia dengan hipertensi ada-
lah promosi kesehatan, perlindungan spesi-
fik, memelihara kesehatan/mengatasi kondisi
yang tidak sehat dan mencegah penyakit serta
dampak penyakitnya yang lebih lanjut.

Back 101
Program Studi DIII Keperawatan

102 Next
Pedoman Persiapan Uji Komptensi Nasional

Back 103