Anda di halaman 1dari 43

PETA KONSEP

OPTIKA
GEOMETRI

mempelajari

Pemantulan Pembiasan
Cahaya Cahaya

Contohnya pada Contohnya pada

Cermin Lensa Prisma

Dapat dibangun Dapat dibangun Dapat dibangun


menjadi menjadi menjadi

Alat Optik

Contohnya

Kamera Lup Mikroskop Teropong


2. 1.Materi Optika Geometris

Di dalam fisika terdapat ilmu yang mempelajari tentang cahaya yaitu

Optika. Optika dibagi menjadi dua yaitu optika geometris dan optika fisis. Optika

geometris mempelajari tentang pemantulan dan pembiasan sedangkan optika fisis

mempelajari tentang polarisasi, interferensi, dan difraksi cahaya (Kanginan, 2007:

151).

Di dalam Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP) mata pelajaran

Fisika SMA, optika geometris diajarkan untuk SMA kelas X semester 2. Pokok

bahasan ini dibagi ke dalam beberapa sub pokok bahasan yaitu pemantulan

cahaya, pembiasan cahaya dan alat-alat optik

2.6.1. Pemantulan Cahaya

Salah satu sifat cahaya adalah cahaya dapat dipantulkan. Cahaya akan

dipantulkan lebih sempurna jika mengenai permukaan yang mengkilap seperti

cermin atau logam berwarna perak.

2.6.1.1. Jenis dan Hukum Pemantulan

a. Pemantulan Baur dan Teratur

Pemantulan cahaya dibagi menjadi dua yaitu pemantulan teratur dan

pemantulan baur. Perbedaan ini terjadi berdasarkan permukaan bidang yang

terkena cahaya. Pemantulan teratur terjadi saat cahaya mengenai permukaan yang

mulus, misalnya cermin. Pemantulan baur terjadi saat cahaya mengenai

permukaan yang kasar, misalnya tembok, tanah dan aspal.


Sinar datang Sinar pantul

(a) (b)
Gambar 2.11. (a) pemantulan baur. (b) pemantulan teratur

b. Hukum Pemantulan

Hukum pemantulan adalah sebagai berikut:

1) Sinar datang, sinar pantul, dan garis normal berpotongan pada satu titik

dan terletak pada satu bidang datar.

2) Sudut datang (i) sama dengan sudut pantul (r) (Kanginan, 2007: 153)

i=r

Garis Normal Sinar


Sinar
Datang Pantul

Sudut Sudut
Datang Pantul

i r

Gambar 2.12. Pemantulan cahaya pada cermin datar


2.6.1.2. Pemantulan pada Cermin Datar

a. Sifat-sifat Bayangan pada Cermin Datar

Gambar 2.13. Bayangan pada cermin datar

Empat sifat bayangan pada cermin datar:

1) Maya

2) Sama besar dengan aslinya

3) Tegak dan berlawanan arah (terbalik untuk bagian horizontalnya) terhadap

benda.

4) Jarak benda ke cermin sama dengan jarak bayangan dari cermin.

b. Melukis Pembentukan Bayangan pada Cermin Datar

Gambar 2.14. Melukiskan bayangan pada cermin datar


Untuk menggambarkan bayangan pada cermin datar, gambarkan dulu sinar

datang yang mendatar seperti pada gambar 2.14 yaitu dari titik P menuju ke

titik Q. Kemudian cahaya akan dipantulkan kembali, gambarkan titik putus-

putus untuk perpanjangan sinar pantul yang berada di cermin. Gambarkan lagi

sinar datang secara diagonal yaitu dari titik P menuju titik Q. Sinar ini

dipantulkan dengan sudut yang sama besar dengan sudut datang, lukiskan

garis putus-putus untuk perpanjangan sinar pantulnya. Pada gambar besar PQ

sama dengan PʹQ, begitu juga PR = PʹR.

2.6.1.3. Pemantulan pada Cermin Lengkung

Cermin lengkung banyak digunakan oleh astronom pada alat-alat yang

digunakan untuk mengamati bintang. Cermin lengkung (cermin cekung) berfungsi

sebagai pengumpul cahaya redup dari bintang-bintang. Ada dua jenis cermin

lengkung yaitu cermin silinder dan cermin bola. Cermin yang dipelajari adalah

cermin lengkung yang berbentuk bola.

Gambar 2.15. Cermin bola

Hukum pemantulan juga berlaku pada cermin lengkung. Pada cermin

lengkung, garis normal adalah garis yang menghubungkan titik pusat


kelengkungan cermin dan titik jatuh sinar. Misalnya pada gambar sinar k

mengenai cermin cekung di titik B, maka garis normalnya adalah MB dan sudut

datangnya ∠KMB = α. Sesuai dengan hukum pemantulan maka sudut pantulnya

yaitu, ∠MBC = α, dan sinar pantulnya adalah sinar BC. Sinar kedua mengenai

titik D, maka garis normalnya adalah MD dan sudut datangnya ∠KDM =β

kemudian cahaya dipantulkan sebesar sudut ∠MDC = β.

Gambar 2.16. Pembentukan bayangan pada cermin cekung

Contoh lainnya pada cermin cembung, misalnya sinar K mengenai cermin

cembung seperti pada gambar. Sinar dari titik k mengenai titik B. Maka garis

normalnya adalah BM. Sudut datang sama dengan sudut pantulnya.

Gambar 2.17. Pembentukan bayangan pada cermin cembung


2.6.1.4. Pemantulan pada Cermin Cekung

a. Bagian-bagian cermin cekung

Cermin cekung adalah cermin yang memiliki kemampuan untuk

mengumpulkan sinar. Dalam menggambarkan pembentukan bayangan pada

cermin cekung, harus diketahui dulu bagian-bagian dari cermin cekung.

Gambar 2.18 Cermin Cekung

Keterangan:

M = titik pusat kelengkungan

O = titik pusat bidang cermin

F = titik api utama (fokus utama) cermin

Jarak MO disebut juga jari-jari kelengkungan cermin (diberi lambang R)

dan jarak FO adalah jarak fokus (diberi lambang f). Fokus pada cermin cembung

berada di depan cermin sehingga bernilai positif. Besarnya MO = 2FO atau bisa

ditulis (Handayani dan Damari, 2009: 120)


1
f = 2𝑅
Pada cermin cekung digunakan juga pembagian ruang-ruang. Pembagian

ini bertujuan agar mempermudah dalam melukiskan pembentukan bayangan.

Pembagian ruangnya sebagai berikut: Ruang I berada di antara O dan F, ruang II

berada di antara F dan M, ruang III berada di antara M dan tak terhingga dan

ruang IV berada di belakang dari cermin cekung.

b. Tiga sinar istimewa pada cermin cekung

Dalam melukiskan pembentukan bayangan dibutuhkan bantuan dari sinar

istimewa, karena sinar istimewa memiliki sifat pemantulan yang mudah

dilukiskan. Berikut ketiga sinar istimewa tersebut.

1) Sinar datang sejajar sumbu utama cermin dipantulkan melalui titik fokus F.

2) Sinar datang melalui titik fokus dipantulkan sejajar sumbu utama.

3) Sinar datang melalui titik pusat kelengkungan M dipantulkan kembali ke titik

pusat lengkung tersebut.

c. Melukiskan pembentukan bayangan pada cermin cekung

Melukiskan pembentukan bayangan pada cermin cekung menggunakan

langkah-langkah berikut ini:

1) Lukis dua buah sinar istimewa

2) Sinar selalu datang dari bagian depan cermin dan dipantulkan kembali ke

bagian depan. Perpanjangan sinar di belakang cermin digambarkan sebagai

garis putus-putus.
3) Perpotongan kedua buah sinar merupakan letak bayangan. Jika bayangan

didapat dari perpotong perpanjangan sinar, maka bayangan yang dibentuk

adalah maya. Maya berarti bayangan terbentuk di belakang cermin dan tidak

bisa dilihat/ditangkap layar.

d. Pembentukan bayangan pada cermin cekung

Sifat bayangan pada cermin cekung

1) Bila benda berada antara titik O dan F (ruang I), maka bayangan yang

terbentuk berada di belakang cermin (ruang IV) dan bersifat maya, tegak,

diperbesar.

2) Bila benda berada di titik F, maka tidak terbentuk bayangan.

3) Bila benda berada di antara titik F dan M (ruang II), maka bayangan yang

terbentuk bersifat nyata, terbalik dan diperbesar serta berada di depan cermin

diantara titik M dan tak terhingga (ruang III).

4) Bila benda berada di titik M, maka bayangan yang terbentuk bersifat nyata,

terbalik dan sama besar serta sama-sama berada di titik M.

5) Bila benda berada di titik M dan tak terhingga (ruang III), maka bayangan

yang dibentuk bersifat nyata, terbalik dan diperkecil serta berada di antara titik

F dan M (ruang II).

2.6.1.5. Pemantulan pada Cermin Cembung

a. Bagian –bagian cermin cembung


Cermin cembung adalah cermin yang memiliki kemampuan untuk

menghamburkan sinar sinar. Cermin cembung memiliki fokus berada di belakang

cermin sehingga bernilai negatif. Dalam menggambarkan pembentukan bayangan

pada cermin cembung, harus diketahui dulu bagian-bagian dari cermin cembung.

Gambar 2.19. Cermin Cembung

Keterangan:

M = titik pusat kelengkungan

O = titik pusat bidang cermin

F = titik api utama (fokus utama) cermin

Pada cermin cekung digunakan juga pembagian ruang-ruang. Pembagian

ini bertujuan agar mempermudah dalam melukiskan pembentukan bayangan.

Pembagian ruangnya sebagai berikut: Ruang I berada di antara O dan F, ruang II

berada di antara F dan M, ruang III berada di antara M dan tak terhingga dan

ruang IV berada di depan cermin cembung.

b. Tiga sinar istimewa pada cermin cembung

Berikut tiga sinar istimewa pada cermin cembung :


1) Sinar datang sejajar sumbu utama cermin dipantulkan seakan-akan datang dari

titik fokus.

2) Sinar datang menuju titik fokus dipantulkan sejajar sumbu utama.

3) Sinar datang menuju pusat lengkung dipantulkan kembali seakan-akan dari

titik pusat lengkung.

c. Melukiskan pembentukan bayangan pada cermin cembung

Untuk melukiskan pembentukan bayangan pada cermin cembung hanya

diperlukan 2 buah sinar istimewa.

Gambar 2.20. Pembentukan bayangan pada cermin cembung

Bayangan yang dihasilkan cermin cembung selalu bersifat maya, tegak dan

diperkecil.

2.6.1.6. Perhitungan pada Cermin Cekung dan Cembung

Untuk melakukan perhitungan pada cermin cekung dan cembung

digunakan persamaan berikut ini (Handayani dan Damari, 2009: 121)

1 1 1
+ =
𝑠 𝑠′ 𝑓

Dengan :
f = jarak fokus (m)

s = jarak benda ke cermin (m)

s = jarak bayangan ke cermin (m)

Dalam menggunakan persamaan ini untuk melakukan perhitungan ada

perjanjian tanda yang harus diperhatikan:

1) Cermin cekung, R dan f bernilai positif

2) Cermin cembung, R dan f bernilai negatif

3) Bayangan nyata, sʹ positif

4) Bayangan maya, sʹ negatif

5) Benda nyata, s positif

6) Benda maya, s negatif

Perbesaran bayangan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan

(Kanginan, 2007: 159):

ℎ′ −𝑠′
𝑀= =
ℎ 𝑠

Dengan :

M = perbesaran

h = tinggi benda (m)

hʹ = tinggi bayangan (m)

Keterangan : Jika 0 < M <1, maka bayangan diperkecil

Jika M > 1 maka bayangan diperbesar


2.6.2. Pembiasan Cahaya

Pembiasan cahaya adalah peristiwa pembelokan cahaya ketika cahaya

mengenai bidang batas antara dua medium. Salah satu contoh pembiasan adalah

sendok yang terlihat patah di dalam gelas yang berisi air.

2.6.2.1. Konsep Dasar Pembiasan Cahaya

a. Hukum Snellius tentang Pembiasan

Pada tahun 1621 matematikawan asal Belanda, Willebrord Snellius (1580-

1626) menemukan hukum pembiasan, bunyinya sebagai berikut:

1) Hukum I Snellius: sinar datang, sinar bias dan garis normal terletak pada satu

bidang datar.

2) Hukum II Snellius: jika sinar datang dari medium kurang rapat ke medium

lebih rapat, maka sinar dibelokan mendekati garis normal. Jika sinar datang

dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat, maka sinar dibelokan

menjauhi garis normal (Kanginan, 2007: 166)

Gambar 2.22. Pembiasan cahaya. (a) cahaya datang dari medium kurang rapat ke

medium lebih rapat. (b) cahaya datang dari medium yang lebih rapat ke medium yang

kurang rapat.
b. Persamaan Snellius

Indeks bias merupakan ukuran kemampuan medium untuk membelokan

cahaya. Willebord Snellius mengungkapkan persamaan berikut mengenai indeks

bias (Kanginan, 2007: 167).

sin 𝜃𝑖
𝑛=
sin 𝜃𝑟

Dengan : n = indeks bias

𝜃𝑖 = sudut datang

𝜃𝑟 = sudut bias

c. Indeks Bias Relatif

Indeks bias relatif adalah indeks bias suatu medium relatif terhadap

medium lainnya. Secara umum untuk dua medium (medium 1 dan medium 2)

persamaan Snellius berbentuk seperti berikut ini (Kanginan, 2007: 168):

𝑛1 sin 𝜃1 = 𝑛2 sin 𝜃2

sin 𝜃1 𝑛2
= = 𝑛21
sin 𝜃2 𝑛1

Dengan :

n1 = indeks bias mutlak medium 1

n2 = indeks bias mutlak medium 2

𝜃1 = sudut datang dalam medium 1

𝜃𝑖 = sudut datang dalam medium 2

n21 = indeks bias medium 2 relatif terhadap medium 1


d. Hubungan Cepat Rambat dan panjang Gelombang Cahaya dengan

Indeks Bias

Cahaya dibiaskan karena adanya perbedaan kerapatan medium. Perbedaan

kerapatan ini juga menyebabkan adanya perbedaan cepat rambat dan panjang

gelombang cahaya di antara kedua medium. Secara matematis ditulis sebagai

berikut (Zaelani dkk, 2008: 270):

sin 𝑖 𝑣2 𝜆1 𝑛2
= = =
sin 𝑟 𝑣1 𝜆2 𝑛1

Dengan : i = sudut datang

r = sudut bias

v1= cepat rambat cahaya pada medium 1

v2= cepat rambat cahaya pada medium 2

λ1= panjang gelombang cahaya pada medium 1

λ2= panjang gelombang cahaya pada medium 1

Cepat rambat cahaya dalam medium apapun selalu lebih kecil daripada

cepat rambat cahaya di udara/vakum. Dengan kata lain cahaya mencapai cepat

rambat maksimum dalam vakum. Indeks bias mutlak (sering disebut indeks bias

saja) sebagai indeks bias medium relatif terhadap udara (n), dituliskan dalam

persamaan (Zaelani dkk, 2008: 270):

𝑐
𝑛=
𝑣

Dengan : n = indeks bias

c = cepat rambat cahaya di udara


v = cepat rambat cahaya dalam medium

e. Pemantulan Sempurna

Bila seberkas sinar datang dari medium lebih rapat ke medium kurang

rapat dengan sudut datang lebih besar dari sudut kritisnya, maka sinar-sinar itu

tidak akan dibiaskan, melainkan dipantulkan. Peristiwa ini dinamakan dengan

pemantulan sempurna.

Aʹ Bʹ

Udara r
air i Bʹʹ Cʹʹ
A ik
C D i > ik Dʹ

Gambar 2.23. Pemantulan sempurna

Pada gambar pemantulan sempurna ditunjukan oleh cahaya D. Ketika

cahaya melebihi dari sudut kritis, maka cahaya tidak lagi dibiaskan keluar

medium, tetapi dipentulkan kembali ke dalam medium. Sudut kritis adalah sudut

dimana sinar datang dari medium yang kurang rapat ke medium kurang rapat yang

menghasilkan sudut bias sebesar 90°. Persamaan sudut kritis adalah sebagai

berikut (Kanginan, 2007:174):


𝑛
sin 𝑖𝑘 = 𝑛2; dengan n2 < n1
1
Contoh penggunaan pemantulan sempurna adalah pada kabel serat optik

dan pada prisma yang ada pada alat optik, misalnya periskop dan kamera.

2.6.2.2. Pembiasan pada Kaca Plan Paralel

Jika seberkas cahaya datang dari medium dengan indeks bias n1 ke suatu

kaca plan paralel dengan indeks bias n2 dimana n2 > n1, maka sinar yang keluar

akan sejajar dengan sinar yang masuk. Pergeseran sinar keluar terhadap sinar

masuk dijelaskan pada gambar berikut ini:

Gambar 2.24. Pergeseran sinar pada kaca plan paralel

“t” adalah pergeseran sinar dan “d” adalah tebal kaca plan paralel.

Besarnya pergeseran dihitung menggunakan persamaan (Zaelani dkk, 2008: 273):

𝑑. sin(𝑖 − 𝑟)
𝑡=
cos 𝑟

2.6.2.3. Pembiasan Cahaya pada Prisma


Prisma adalah benda bening (transparan) yang terbuat dari bahan gelas

yang dibatasi oleh dua bidang permukaan yang membentuk sudut tertentu. Kedua

bidang tersebut dinamakan bidang pembias, dan sudut yang dibentuk oleh kedua

permukaan dinamakan sudut pembias (β). Jalannya sinar yang masuk pada sebuah

prisma ditunjukan pada gambar berikut:

δ
θ1 θ2 θ3 θ4

Gambar 2.25. Pembiasan pada prisma

θ1 adalah sudut datang pertama, θ2 dan θ3 adalah sudut bias di dalam

prisma, serta θ4 adalah sudut bias akhir. β adalah sudut pembias prisma. δ adalah

sudut deviasi.

Sudut deviasi adalah sudut yang dibentuk oleh perpanjangan cahaya yang

masuk ke prisma dengan cahaya yang meninggalkannya. Pada setiap deviasi

berlaku (Zaelani dkk, 2008: 274)

θ1 + θ3 = β dan θ1 + θ4 = δ + β

Deviasi minimum dicapai jikasudut datang pertama sama dengan sudut

bias akhir, yaitu θ1 = θ4. Sehingga pada deviasi minimum berlaku:

θ1 = θ4 → 2θ1 = 2θ4 = δm + β
θ2 = θ3 → 2θ2 = 2θ3 = β

Jika indeks bias prisma np dan indeks bias medium nm, berlaku (Zaelani

dkk, 2008: 275)

1 𝑛𝑝 1
sin (𝛽 + 𝛿𝑚 ) = . sin 𝛽
2 𝑛𝑚 2

Jika β ≤ 10°, maka

𝑛𝑝
𝛿𝑚𝑖𝑛 = [ − 1] . 𝛽
𝑛𝑚

2.6.2.4. Pembiasan pada Lensa

Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh dua bidang lengkung atau

satu bidang lengkung dan satu bidang datar. Dua bidang lengkung tersebut dapat

berbentuk silindris maupun bola. Lensa silindris akan memusatkan cahaya dari

sumber cahaya menjadi suatu garis. Lensa bola akan memusatkan cahaya

membentuk suatu titik. Pada materi ini lensa yang dimaksut adalah lensa bola

(lensa sferik) yang tipis. Berdasarkan kelengkungannya lensa dibedakan menjadi

dua jenis, yaitu lensa cembung dan lensa cekung.

a. Lensa cembung atau lensa konveks, yang meliputi

1) Lensa cembung rangkap atau lensa bikonveks

2) Lensa cembung datar atau lensa plankonveks, dan

3) Lensa cembung-cekung atau lensa konkaf-konveks.


Gambar 2.26. Jenis lensa cembung

b. Lensa cekung atau lensa konkaf, yang meliputi

1) Lensa cekung rangkap atau lensa bikonkaf

2) Lensa cekung datar atau lensa plankonkaf, dan

3) Lensa cekung-cembung atau lensa konveks-konkaf

Gambar. 2.27. Jenis-jenis lensa cekung

2.6.2.5. Pembiasan pada Lensa Cembung

Pada lensa, sinar dapat datang dari dua arah sehingga pada lensa terdapat

dua titik fokus (diberi lambang F1 dan F2). Titik fokus F1 dimana sinar datang

disebut fokus aktif, sedangkan titik fokus F2 disebut fokus pasif. Jarak dari titik

pusat optik O ke titik F1 sama dengan jarak titik pusat optik ke titik F2, dan

disebut sebagai jarak fokus (f). Jarak fokus pada lensa cembung bernilai positif

sehingga disebut juga lensa positif.


a. Sinar-sinar istimewa pada Lensa Cembung

1) Sinar datang yang sejajar sumbu utama lensa dibelokan melalui titik fokus.

2) Sinar datang yang melalui titik fokus dibiaskan sejajar dengan sumbu

utama lensa.

3) Sinar datang yang melalui pusat optik tidak dibiaskan tetapi diteruskan.

Gambar 2.28. Sinar istimewa pada lensa cembung

b. Melukiskan pembentukan bayangan pada lensa cembung

Lensa cembung bersifat konvergen, yaitu bersifat mengumpulkan sinar.

Untuk melukiskan bayangan pada lensa cembung berikut langkah-langkahnya:

1) Lukis dua buah sinar istimewa (umumnya sinar istimewa nomor 1 dan

nomor 3). Dibutuhkan minimal dua sinar istimewa untuk melukiskan

bayangan.

2) Sinar selalu datang dari depan lensa dan dibiaskan ke belakang lensa.

3) Perpotongan sinar merupakan letak bayangan. Jika perpotongan terletak

di depan dan didapat dari perpanjangan sinar bias maka bayangan yang

terjadi adalah maya dan dilukiskan dengan garis putus-putus.


c. Pembentukan bayangan pada lensa cembung

1) Jika benda berada pada titik O dan F (ruang I), maka bayangan maya,

tegak diperbesar dan letaknyasepihak dengan lensa (berada di ruang IV).

2) Bila benda berada di titik F, maka tidak terbentuk bayangan.

3) Bila benda berada antara titik F dan 2F (ruang II), maka bayangannya

nyata, terbalik, diperbesar dan berada di ruang III.

4) Bila benda berada di 2F maka bayangan, nyata terbalik, sama besar.

5) Bila benda berada antara titik 2F dan tak hingga (ruang III) maka

bayangan nyata, terbalik, diperkecil dan berada di ruang II.

2.6.2.6. Pembiasan pada Lensa Cekung

Lensa cekung bersifat menyebarkan sinar. Pada lensa cekung fokus aktif

(F1) berada di depan lensa sehingga fokus aktif F1 adalah fokus maya. Oleh karena

itu, jarak fokus lensa cekung bertanda negatif dan lensa cekung juga disebut lensa

negatif.

a. Sinar-sinar istimewa pada lensa cekung

1) Sinar datang yang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan seolah-olah berasal

dari titik fokus.

2) Sinar datang yang seolah menuju titik fokus dibiaskan sejajar sumbu

utama lensa.

3) Sinar datang yang melalui pusat optik lensa tidak dibiaskan tetapi

diteruskan.
Gambar 2.29. Sinar istimewa pada lensa cekung

b. Melukiskan Pembentukan Bayangan pada Lensa Cekung

Untuk melukiskan pembentukan bayangan pada lensa cekung digunakan

minimal dua sinar istimewa. Pada gambar digunakan sinar istimewa nomor 1 dan

3.

Gambar 2.30. Pembentukan bayangan pada lensa cekung

Tampak terlihat bahwa untuk benda yang diletakan di depan lensa

bayangan yang terbentuk selalu memiliki sifat maya, tegak dan diperkecil serta

terletak di antara O dan F1. Semakin dekat jarak benda dengan lensa maka makin

besar bayangan yang dibentuk.


2.6.2.7. Rumus-rumus untuk Lensa Tipis

Rumus-rumus yang digunakan untuk cermin lengkung, yaitu (Kanginan

2007:180):

Rumus umum:

1 1 1
+ =
𝑠 𝑠′ 𝑓

Perbesaran linier:

ℎ′ −𝑠′
𝑀= =
ℎ 𝑠

Dengan: s = jarak benda (m)

sʹ = jarak bayangan (m)

f = jarak fokus (m)

M = perbesaran

h' = tinggi bayangan (m)

h = tinggi benda (m)

Dalam mempergunakan persamaan diatas ada perjanjian tanda yang harus

diperhatikan, yaitu:

s bertanda positif jika benda terletak di depan lensa (benda nyata)

s bertanda negatif jika benda terletak di belakang lensa (benda maya)

sʹ bertanda positid jika bayangan terletak di belakang lensa (bayangan nyata)

sʹ bertanda negatif jika bayangan terletak di depan lensa (bayangan maya)

f bertanda positif untuk lensa cembung atau konveks atau konvergen

f bertanda negatif untuk lensa cekung atau konkaf atau divergen

hʹ bertanda positif menyatakan bayangan tegak (maya)

hʹ bertanda negatif menyatakan bayangan terbalik (nyata)


M bertanda positif menyatakan bayangan tegak (maya)

M bertanda negatif menyatakan bayangan terbalik (nyata)

2.6.2.8. Kekuatan Lensa

Kekuatan lensa adalah kemampuan suatu lensa untuk mengumpulkan atau

menyebarkan berkas cahaya yang diterimanya. Kekuatan lensa berbanding

terbalik dengan jarak fokusnya. Secara matematis ditulis:

1
𝑃=
𝑓

Dengan : P = Kekuatan lensa (dioptri)

F = jarak fokus lensa (m)

2.6.2.9. Persamaan Pembuat Lensa

Besaran penting dalam lensa adalah jarak fokus. Untuk membuat jarak

fokus sesuai keinginan maka kelengkungan bidang depan dan belakang lensa

harus diatur. Hubungan ini dinyatakan dengan rumus:

1 𝑛2 1 1
= ( − 1) ( + )
𝑓 𝑛1 𝑅1 𝑅2

Dengan: n2 = indeks bias lensa

n1 = indeks bias medium

R1 dan R2 = kelengkungan bidang depan dan belakang lensa

Perjanjian tanda:

R1 atau R2 + untuk bidang cembung

R1 atau R2 ˗ untuk bidang cekung

R1 atau R2 ~ untuk bidang datar


2.6.3. Alat-alat Optik

2.6.3.1. Mata

Mata adalah salah satu organ penting pada tubuh manusia. Mata termasuk

sebagai alat optik. Mata termasuk alat optik karena memiliki komponen optik

yaitu lensa mata, dalam hal ini lensa mata adalah lensa cembung. Mata dapat

melihat suatu benda jika benda tersebut memantulkan atau memancarkan cahaya.

Tanpa ada cahaya mata tidak mampu melihat benda-benda di sekitarnya.

a. Bagian-bagian Mata dan Fungsinya

Mata memiliki bagian-bagian penting yang seperti pada gambar dibawah.

Gambar 2.31. Bagian-bagian mata

Fungsi-fungsi dari bagian mata tersebut adalah sebagai berikut:

1) Kornea mata, berfungsi melindungi bagian dalam mata.

2) Aqueous humor, berfungsi membiaskan cahaya ke dalam mata.

3) Pupil, sebagai lubang sebagai tempat masuknya cahaya ke dalam mata.

4) Iris, memberi warna mata dan mengatur besar kecilnya pupil.

5) Otot mata, mencembungkan dan memipihkan lensa mata.

6) Lensa mata, membentuk bayangan dari benda yang dilihat.

7) Vitreous humor, membiaskan cahaya yang datang dari lensa.


8) Retina, layar tempat bayangan terbentuk.

9) Bintik kuning, bagian dari retina yang paling peka terhadap rangasangan

dari luar.

10) Bintik buta, bagian dari retina yang tidak peka terhadap cahaya.

11) Skelera adalah bagian terluar bola mata yang berwarna putih buram yang

berfungsi melindungi bola mata.

12) Koroid terdiri dari lapisan pembuluh darah yang memelihara bagian

belakang mata.

13) Saraf mata, membawa pesan bayangan yang terbentuk ke otak.

Untuk mencapai retina pada mata, cahaya harus melewati 5 medium

(dengan indeks bias berbeda) terlebih dahulu yaitu, udara (n = 1,00), kornea (n =

1,38), aqueous humor (n = 1,33), lensa (rata-rata n = 1,40), dan vitreous humor (n

= 1,34). Pembiasan terbesar terjadi di batas udara dan kornea (kira-kira 70%)

karena di bagian inilah perbedaan indeks bias paling besar. Sedangkan di bagian

lain indeks bias medium memiliki selisih yang kecil. Presentase pembiasan pada

lensa sendiri sebesar 20-25% dari total pembiasan.

b. Daya Akomodasi

Walau lensa bukan penyumbang pembiasan paling besar, tetapi lensa

memiliki fungsi yang utama pada mata. Mata memiliki jarak bayangan yang tetap,

karena jarak antara lensa dan retina sebagai layar adalah tetap, sedangkan jarak

benda berbeda-beda. Mata memiliki kemampuan untuk memipihkan dan

mencembungkan lensa mata agar bayangan yang dibentuk jatuh di retina,

kemampuan ini disebut dengan daya akomodasi mata.


Gambar 2.32. Mata mencembungkan dan memipihkan lensa mata agar dapat

melihat benda dengan jelas.

c. Titik Jauh dan Titik Dekat

Mata memiliki batas-batas normal akomodasi. Mata normal berakomodasi

maksimum saat melihat benda pada jarak terdekat 25 cm, dan berakomodasi

minimum saat melihat benda jauh di tak hingga. Jika benda yang dilihat terlalu

dekat (kurang dari 25 cm) maka bayangan yang terlihat akan kabur/buram. Jarak

terdekat yang mampu diakomodasi mata disebut dengan titik dekat (Punctum

Proximum = PP) dan jarak terjauh yang dapat dilihat disebut titik jauh (Punctum

Remotum = PR). Mata normal memiliki titik dekat (PP) sebesar 25 cm dan titik

jauh (PR) tak hingga.

d. Cacat Mata

Mata normal (emetropi) normal memiliki titik dekat 25 cm dan titik jauh

tak berhingga. Artinya mata dapat melihat dengan jelas benda paling dekat adalah

25 cm dan paling jauh tak hingga tanpa bantuan kacamata. Mata tidak selamanya
normal, ada mata yang memiliki kelainan. Kelainan ini dapat disebabkan karena

penyakit keturunan (dibawa sejak lahir), usia, dan kebiasaan buruk seperti

membaca atau melihat objek terlalu dekat dan terlalu lama menatap layar monitor.

Cacat mata ada beberapa jenis yaitu: rabun dekat (hipermetropi), rabun jauh

(miopi), mata tua (presbiopi), astigmatisma dan katarak. Keadaan mata yang

tidak normal dapat dibantu dengan kacamata yaitu untuk cacat mata hipermetropi,

miopi, presbiopi dan astigmatisma. Daya kacamata yang dibutuhkan ditentukan

dengan persamaan berikut (Handayani dan Damari, 2009:130):

100 100
𝑃= +
𝑆 𝑆ʹ

Dengan P = Kekuatan lensa (dioptri)

S = Jarak benda yang diharapkan untuk dilihat (cm)

Sʹ = Jarak benda yang dapat dilihat dengan jelas (PP atau PR)

bernilai negatif (cm)

1) Rabun dekat (hipermetropi)

Hipermetropi adalah rabun dekat adalah cacat mata yang mengakibatkan

mata tidak bisa melihat benda-benda dekat dengan jelas, tetapi bisa melihat

benda-benda jauh dengan jelas. Titik dekat mata lebih besar dari 25 cm (PP > 25

cm) dan titik dekat pada jarak tak terhingga (PR = ~).
Gambar 2.33. Rabun dekat dibantu dengan lensa cembung agar melihat

lebih jelas.

Bayangan yang dibentuk oleh mata akan jatuh di belakang retina.

Sehingga diperlukan bantuan kacamata agar bayangan jatuh tepat di retina. Cacat

mata ini dapat diatasi dengan menggunakan kacamata lensa positif atau lensa

cembung. Rumus untuk menghitung daya kacamata yang digunakan jika S = PP

normal = 25 cm, menggunakan persamaan berikut ini:

100 100
𝑃= +
25 𝑃𝑃

100
𝑃 = 4−
𝑃𝑃

2) Rabun jauh (miopi)

Miopi atau rabun jauh, adalah keadaan dimana mata dapat melihat benda-

benda yang dekat tapi tidak bisa melihat dengan jelas benda yang jauh. Titik dekat

mata sebesar 25 cm (PP = 25 cm) dan titik jauh kurang dari tak terhingga
(PR < ~). Cacat mata ini dapat diatasi dengan kacamata lensa negatif atau lensa

cekung.

Gambar 2.34. Mata rabun jauh dibantu dengan kacamata lensa cekung agar dapat

melihat dengan jelas.

Jika titik jauh mata penderita rabun jauh adalah PR, maka kekuatan lensa

cekung yang diperlukan untuk mengatasi cacat ini adalah:

100 100
𝑃= −
~ 𝑃𝑅
100
𝑃=−
𝑃𝑅

3) Mata tua (presbiopi)

Penderita mata tua atau presbiopi tidak dapat mengakomodasikan matanya

secara benar, karena otot-otot mata sudah tidak mampu mencembungkan dan

memipihkan lensa mata. Mata tua tidak mampu melihat benda jauh dan dekat

secara jelas (PP > 25 cm dan PR < ~).

4) Astigmatisma
Cacat mata astigmatisma disebabkan oleh kornea mata yang tidak

berbentuk sferik (bola) melainkan melengkung pada satu bidang daripada bidang

lainnya (bidang silinder). Akibatnya benda difokuskan menjadi garis pendek.

Cacat mata ini dapat diatasi dengan kacamata silindris.

5) Katarak

Cacat mata juga dapat disebabkan oleh penyakit, salah satunya katarak.

Pada mata orang yang sudah tua suatu waktu akan mengalami pembentukan

katarak pada lensa mata yang akan membuat mata menjadi buram secara parsial

ataupun total. Untuk mengatasi katarak dilakukan operasi lensa mata.

2.6.3.2. Kamera

Pola kerja kamera mirip dengan mata. Jika pada mata, jarak bayangan

adalah tetap (jarak lensa ke retina) dan pemfokusan dilakukan dengan mengubah-

ubah jarak fokus lensa mata sesuai dengan jarak benda yang diamati, maka pada

kamera, jarak fokus lensa tetap. Pemfokusan dilakukan dengan mengubah jarak

bayangan sesuai dengan jarak benda yang difoto. Jarak bayangan adalah jarak

antara film/sensor kamera dengan lensa, yang diatur dengan cara menggerakan

lensa kamera.
Gambar 2.32. Kamera dan bagian-bagiannya

Seperti halnya mata, bayangan yang dibentuk oleh kamera adalah nyata,

terbalik dan diperkecil. Jika pada mata retina berfungsi sebagai penangkap layar,

maka pada kamera digunakan film sebagai penangkap bayangan. Jika pada mata

intensitas cahaya diatur oleh iris, maka pada kamera cahaya yang masuk diatur

oleh celah diafragma (aperture). Diafragma berfungsi sebagai pengatur besar

kecilnya aperture.

2.6.3.3. Lup

Lup atau yang sering disebut juga kaca pembesar merupakan alat optik

yang berupa lensa cembung dengan tangkai. Alat ini digunakan untuk melihat

benda-benda kecil, biasanya berupa tulisan-tulisan kecil maupun komponen-

komponen kecil. Untuk memanfaatkan lensa cembung sebagai lup, maka benda

diletakan di ruang I lensa (antara 0> s < f) sehingga bayangan yang dihasilkan

adalah maya, tegak dan diperbesar.

Pada lup penggunaan lup dapat ditentukan perbesaran bayangannya.

Perbesarannya sering digunakan perbesaran sudut (anguler). Persamaannya

memenuhi(Handayani dan Damari, 2009: 131):

𝛽
𝑀=
𝛼

Dengan: M = perbesaran anguler

β = sudut penglihatan setelah ada lup

α = sudut penglihatan awal


1. Perbesaran Lup untuk Akomodasi Mata

Berikut ini tiga kasus perbesaran lup, yaitu perbesaran angular lup ketika:

a. Mata berakomodasi pada jarak x

Untuk mata berakomodasi pada jarak x digunakan rumus berikut ini

(Kanginan, 2007:197):

𝑠𝑛 𝑠𝑛
𝑀𝑎 = | + |
𝑓 𝑥

Dengan: M = perbesaran anguler

sn = jarak baca normal/ titik dekat mata

f = jarak fokus

x = jarak benda

b. Mata berakomodasi maksimum

Agar mata berakomodasi maksimum maka bayangan harus terletak di titik

dekat mata. Dengan demikian x = sn, dan dengan memasukan nilai ke persamaan

diatas diperoleh (Kanginan, 2007:197) :

𝑠𝑛 𝑠𝑛
𝑀𝑎 = | + |
𝑓 𝑠𝑛

𝑠𝑛
𝑀𝑎 = | + 1|
𝑓

Gambar 2.30. (a) mata berakomodasi. (b) mata tak berakomodasi


c. Mata tidak berakomodasi

Agar mata tidak cepat lelah saat mengamati benda dengan menggunakan lup

maka lup digunakan dengan mata tidak berakomodasi. Caranya adalah dengan

menempatkan benda pada fokus lensa sehingga sinar-sinar yang mengenai mata adalah

sejajar. Untuk menghitung perbesaran angulernya digunakan persamaan berikut ini

(Kanginan, 2007:198):

𝑠𝑛
𝑀𝑎 = | |
𝑓

2.6.3.4. Mikroskop

Mikroskop merupakan alat optik yang digunakan untuk melihat benda-

benda yang sangat kecil, misalnya bakteri, sel-sel hewan atau tumbuhan dan

benda kecil lainnya. Mikroskop tersusun atas dua lensa positif. Lensa yang dekat

dengan mata dinamakan lensa okuler dan lensa yang berada di depan objek adalah

lensa objektif.

Benda ditempatkan di ruang kedua (antara F dan 2F) lensa objektif

sehingga bersifat nyata, terbalik dan diperbesar. Kemudian bayangan diteruskan

pada lensa okuler. Bayangan yang dihasilkan lensa okuler ini adalah maya, tegak

diperbesar. Bayangan akhir mikroskop adalah maya terbalik diperbesar.

Perbesaran total mikroskop merupakan hasil perkalian perbesaran kedua

lensanya. Untuk perbesaran lensa objektif digunakan rumus berikut ini (Kanginan,

2007:199):

ℎ′𝑜𝑏 𝑠′𝑜𝑏
𝑀𝑜𝑏 = | |=| |
ℎ𝑜𝑏 𝑠𝑜𝑏
Dan untuk perbesaran lensa okulernya digunakan persamaan berikut untuk mata

berakomodasi maksimum (Kanginan, 2007: 200):

𝑠𝑛
𝑀𝑜𝑘 = | + 1|
𝑓𝑜𝑘

Dan untuk mata tak berakomodasi:

𝑠𝑛
𝑀𝑜𝑘 = | |
𝑓𝑜𝑘

Perbesaran total mikroskop (M) adalah hasil kali antara perbesaran objektif dan

okuler (kanginan, 2007:200):

𝑀 = 𝑀𝑜𝑏 × 𝑀𝑜𝑘

Panjang mikroskop adalah jarak lensa objektif dengan lensa okuler, dapat dihitung

dengan menggunakan persamaan berikut ini (Zaelani dkk, 2008:296):

𝑑 = 𝑠′𝑜𝑏 + 𝑠𝑜𝑘 ,

Untuk mata tak berakomodasi panjang mikroskop:

𝑑 = 𝑠′𝑜𝑏 + 𝑓𝑜𝑘

Dengan: M = Perbesaran total mikroskop

Mob = Perbesaran lensa objektif

Mok = Perbesaran lensa okuler

fok = fokus lensa okuler

fob = fokus lensa objektif

hʹob = tinggi bayangan hasil pembiasan lensa objektif

hob = tinggi bend di depan lensa objektif

sob = jarak benda di depan lensa objektif

sʹob = jarak bayangan hasil pembiasan lensa objektif


sok = jarak benda hasil pembiasan lensa objektif terhadap lensa okuler

sʹok = jarak bayangan hasil pembiasan lensa okuler

sn = titik dekat mata

2.6.3.5. Teropong

Teropong adalah benda yang digunakan untuk melihat benda yang sangat

jauh agar tampak lebih dekat dan jelas. Ada dua jenis utama teropong yaitu

teropong bias dan teropong pantul. Teropong bias adalah teropong yang terdiri

atas beberapa lensa, sedangkan teropong pantul adalah teropong yang terdiri atas

cermin dan lensa. Teropong bias antara lain yaitu teropong bintang, teropong

bumi, teropong prisma atau binokuler, dan teropong panggung atau teropong

Galileo.

a. Teropong bintang

Teropong bintang digunakan untuk melihat benda-benda langit di angkasa

luar. Teropong bintang terdiri dari dua lensa cembung yang menjadi lensa objektif

dan lensa okulernya. Jarak fokus lensa objektif (fob) lebih panjang daripada jarak

fokus lensa okuler (fok). Lensa objektif akan membentuk bayangan dari cahaya

yang dipancarkan benda yang jauh, kemudian bayangan tersebut jatuh pada titik

fokus objektif dan menjadi bayangan bagi lensa okuler. Jika titik fokus objektif

dan okuler berimpitan maka bayangan yang terbentuk akan berada di tempat tak

hingga sehingga mata tidak berakomodasi. Untuk mengamati benda angkasa

biasanya diamati dengan mata tidak berakomodasi agar tidak lelah, karena

mengamati benda angkasa membutuhkan waktu yang lama.


Gambar 2.33. Skema pembentukan bayangan pada teropong bintang

Jarak antara kedua lensa saat mata tak berakomodasi adalah (Zaelani dkk,

2008:301):

d = fob + fok

Untuk menghitung perbesaran sudut teropong digunakan persamaan

berikut ini (Zaelani dkk, 2008: 300):

𝑠′𝑜𝑏
𝑀=| |
𝑠𝑜𝑘

Untuk mata tak berakomodasi, sʹob = fob dan sok = fok. Dengan demikian

perbesaran teropong bintang juga dapat dihitung menggunakan persamaan berikut

ini:

𝑓𝑜𝑏
𝑀=| |
𝑓𝑜𝑘

Untuk mata yang berakomodasi maka bayangan yang dibentuk oleh lensa

objektif akan jatuh diantara titik fokus lensa okuler dan lensa okuler, sehingga

bayangan yang terbentuk bersifat maya, terbalik, diperbesar. Panjang teropong

bintang menjadi jumlah jarak fokus lensa objektif ditambah jarak benda untuk

lensa okuler atau ditulis juga (Zaelani dkk, 2008:301):

d = fob + sok
Karena sʹob = fob dan sʹok = sn maka untuk perbesarannya dihitung menggunakan

rumus :

𝑓𝑜𝑏
𝑀=| |
𝑠𝑜𝑘

atau

𝑓𝑜𝑏 𝑠𝑛 + 𝑓𝑜𝑘
𝑀 = | .( )|
𝑓𝑜𝑘 𝑠𝑛

b. Teropong bumi

Pada teropong bintang bayangan akhirnya adalah nyata, terbalik,

diperbesar, ini tidak menjadi masalah karena yang diamati adalah benda langit

yang tidak menjadi masalah jika terbalik. Berbeda jika yang diamati adalah benda

di bumi, bayangan yang dihasilkan harus tegak, sehingga pada teropong bumi ada

satu lensa lagi yang berfungsi sebagai pembalik disebut sebagai lensa pembalik.

Dengan disisipkannya lensa pembalik maka teropong menjadi bertambah

panjang. Pada gambar terlihat teropong bertambah sebanyak 4fp. Jadi panjang

teropong dapat dihitung menggunakan persamaan (Kanginan, 2007:206):

𝑑 = 𝑓𝑜𝑏 + 4𝑓𝑝 + 𝑓𝑜𝑘

Benda yang diamati teropong bumi dianggap cukup jauh sehingga sinar

yang datang kepada lensa objektif sejajar. Sinar ini membentuk bayangan terbalik

I1 tepat di titik fokus objektif fob. Bayangan terbalik I1 jatuh tepat di 2Fp lensa

pembalik, sehingga lensa pembalik menghasilkan bayangan I2 yang sama besar

dan terbalik terhadap I1. Untuk mata tidak berakomodasi I2 harus diletakan di titik
fokus lensa okuler Fok. Hasil akhir dari pembiasan pada lensa okuler adalah

bayangan yang bersifat maya tegak dan diperbesar.

Gambar 2.34. Pembentukan bayangan pada teropong bumi saat mata tak
berakomodasi

Untuk mata tak berakomodasi perbesaran teropong bumi dihitung dengan

persamaan (Zaelani dkk, 2009:303)

𝑓𝑜𝑏
𝑀=
𝑓𝑜𝑘

Untuk mata yang berakomodasi masimum bayangan yang dibentuk oleh

lensa pembalik berada di antara titik fokus (fok) dan titik pusat optik lensa okuler.

Bayangan yang dibentuk maya tegak diperbesar.

Gambar 2.35. Pembentukan bayangan pada teropong bumi dengan mata


berakomodasi maksimum
Panjang teropong saat mata berakomodasi maksimum dihitung

menggunakan persamaan berikut ini (Zaelani dkk, 2009:303):

𝑑 = 𝑠 ′ 𝑜𝑏 + 4𝑓𝑝 + 𝑠𝑜𝑘

Untuk perbesaran teropong bumi saat mata berakomodasi maksimum dapat

dihitung dengan persamaan:

𝑓𝑜𝑏 𝑠𝑛 + 𝑓𝑜𝑘
𝑀=| |=| |
𝑓𝑜𝑘 𝑠𝑛

c. Teropong prisma atau binokuler

Teropong prisma memiliki cara kerja yang hampir mirip dengan teropong

bumi, yang membedakannya hanyalah pada teropong bumi digunakan lensa

cembung sebagai pembalik bayangan, sedangkan pada teropong prisma digunakan

dua prisma siku-siku sebagai pembalik bayangan.

Diagram teropong prisma di tunjukan pada gambar 2.36 di bawah. Tiap

setengah teropong terdiri dari satu lensa objektif, satu lensa okuler dan 2 prisma

siku-siku sama kaki yang yang dilekatkan satu sama lain pada sudut siku-sikunya.

Gambar 2.36. Diagram teropong prisma atau teropong binokuler


d. Teropong panggung atau teropong Galileo

Pada teropong bumi digunakan lensa pembalik agar bayangan yang

dihasilkan tegak, hal itu membuat ukuran teropong bumi menjadi panjang. Pada

teropong panggung digunakan lensa cembung sebagai objektif dan lensa cekung

sebagai lensa okuler, sehingga ukurannya lebih pendek jika dibandingkan dengan

teropong bumi. Susunan lensa teropong panggung ditemukan oleh Galileo

sehingga dinamakan juga teropong Galileo.

Gambar 2.37. Pembentukan bayangan pada teropong panggung

Diagram sinar teropong ditunjukan pada gambar diatas. Sinar-sinar sejajar

yang datang ke lensa objektif membentuk bayangan X, tepat di titik fokus

objektif. Bayangan X merupakan benda maya bagi lensa okuler. Supaya mata

tidak berakomodasi maka benda maya harus berada tepat di titik fokus lensa

okuler. Akhirnya sinar-sinar yang dibiaskan lensa okuler akan menghasilkan

bayangan tegak di titik tak berhingga. Sehingga untuk mata tak berakomodasi

lensa objektif jarak benda di tak terhingga (sob = ~) dan bayangan hasil lensa

objektif terbentuk di titik fokus (sʹob = fob). Benda untuk lensa okuler berada di
titik fokus sehingga (sok = fok) dan lensa okuler menghasilkan bayangan di titik tak

hingga (sʹok = ~).

Perbesaran sudut teropong panggung untuk mata tak berakomodasi dapat

dihitung menggunakan persamaan berikut ini (Widodo, 2009:86):

𝑓𝑜𝑏
𝑀=
𝑓𝑜𝑘
Panjang teropong dihitung menggunakan persamaan berikut ini:

𝑑 = 𝑓𝑜𝑏 + 𝑓𝑜𝑘
Untuk mata berakomodasi maksimum maka bayangan hasil lensa objektif

akan jatuh diantara fokus okuler dan 2 kali fokus okuler (fok < sok < 2fok) dan

besarnya jarak bayangan yang dihasilkan adalah sebesar negatif jarak dekat mata

(sʹok = -sn). Perbesaran bayangan dihitung menggunakan persamaan berikut

(Widodo, 2009:86):

𝑓𝑜𝑏
𝑀=
𝑠𝑜𝑘
Panjang teropong dihitung menggunakan persamaan berikut ini:

𝑑 = 𝑓𝑜𝑏 + 𝑠𝑜𝑘