Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Forum Nuklir (JFN) Volume 10, Nomor 2, November 2016

PERANCANGAN REAKTOR BATCH UNTUK PEMISAHAN PERAK


DARI LARUTAN BEKAS PENCUCIAN FILM RADIOGRAFI
Salman Yasir Fakhry Putra, Noor Anis Kundari, Kris Tri Basuki

STTN-BATAN, Yogyakarta, Indonesia, sttn@batan.ac.id

ABSTRAK

PERANCANGAN REAKTOR BATCH UNTUK PEMISAHAN PERAK DARI LARUTAN BEKAS


PENCUCIAN FILM RADIOGRAFI. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kinetika proses pelarutan
dan desain reaktor batch. Fixer bekas menjadi masalah karena mengandung Ag yang termasuk logam berat
dan digolongkan sebagai limbah B3. Namun, logam Ag tersebut juga mempunyai nilai ekonomis karena
tergolong logam mulia. Oleh karena itu, dilakukan perancangan reaktor batch untuk mengurangi masalah
limbah di lingkungan. Metode untuk menentukan konstanta kinetika pada proses pelarutan adalah melarutkan
Ag2S dan HNO3, yang kemudian diaduk dan dipanaskan pada suhu 90°C konstan dengan memvariasikan
waktu pengadukan. Nilai konstanta kinetika proses pelarutan adalah 0,216/menit. Berdasarkan nilai konstanta
kinetika yang diperoleh, dapat dihitung rancangan reaktor batch pada proses pertukaran logam untuk
kapasitas 99 l/bulan, yakni D = 45 cm, H = 68 cm, t = 0,35 cm, dan P = 0,76 watt. Adapun rancangan reaktor
pada proses pelarutan adalah D = 44 cm, H = 66cm, t = 0,33 cm, dan P = 42,29 watt.

Kata kunci: reaktor batch, fixer, pelarutan, kinetika, perancangan

ABSTRACT

BATCH REACTOR DESIGN FOR SILVER RECOVERY FROM USED PHOTOGRAPHIC FIXER
SOLUTION. This study was conducted to determine the kinetics of dissolution process and batch reactor
design. Used photographic fixer solution contains silver which is considered hazardous materials. However,
silver is also a precious metal. In this work a batch reactor was designed to recover silver from used fixer
solution. The method for determining the kinetics constant of the dissolution process is by dissolving Ag 2S
and HNO3. The solution was stirred and heated at a constant temperature of 90°C by varying the stirring
time. The kinetics constant value was 0,216/min. Based on this constant value, batch reactor design for metal
exchange process of 99 l/month could be calculated as follows D = 45 cm, H = 68 cm, t = 0,35 cm, P = 0,76
watts, and for dissolution process D = 44 cm, H = 66 cm, t = 0,33 cm, P = 42,29 watts.

Keywords:batch reactor, fixer, dissolution, kinetics, design

membran cair emulsi (ELM), dan adsorbsi


PENDAHULUAN dengan kitin [1].
Reaksi pertukaran logam tunggal pada
Fixer bekas menjadi masalah karena pada fixer pemungutan perak dalam limbah larutan fixer
bekas terkandung logam Ag dan fixer bekas logam Mg menggeser logam Ag pada Ag2S2O3
tergolong limbah B3. Namun logam Ag yang dan membentuk Ag2S. Hal ini dikarenakan
terkandung pada fixer bekas juga mempunyai logam Mg lebih reaktif daripada logam Ag
nilai ekonomis karena tergolong logam mulia. sehingga terjadi reaksi redoks. Selanjutnya,
Berbagai teknologi digunakan untuk dilakukan reaksi pelarutan dengan cara
mendapatkan kembali Ag dari limbah larutan melarutkan Ag2S dengan HNO3 sehingga
fixer yang kebanyakan efektif pada batas membentuk AgNO3.
konsentrasi Ag tertentu. Perak dalam bentuk Penelitian ini dilakukan untuk merancang
kompleks anionik tiosulfat (Ag(S2O3)2)3- dapat reaktor batch yang mampu memulihkan perak
dipisahkan dari larutannya dengan cara dari limbah larutan fixer sehingga tidak
elektrolisis, pertukaran logam (metallic mencemari lingkungan. Selain itu, logam perak
replacement), pengendapan, penukar ion, juga mempunyai nilai ekonomis. Pemulihan
Salman Yasir Fakhry Putra dkk. 81
Jurnal Forum Nuklir (JFN) Volume 10, Nomor 2, November 2016

logam perak dilakukan dengan cara menggeser Ag yang terdapat dalam senyawa
melewatkan larutan fixer bekas cucian film kompleks Ag2S2O3. Pergeseran logam yang
radiografi pada logam Mg dalam reaktor. Pada terjadi dapat dilihat pada reaksi berikut.
saat terjadi kontak larutan fixer dengan logam,
Ag2S2O3 + Mg  Ag2S + MgS2O3 + SO3 (5)
akan terjadi reaksi pertukaran logam Mg
sehingga menghasilkan logam perak dan Berdasarkan Reaksi (5) dapat diamati
larutan MgS2O3. Selanjutnya, dilakukan proses bahwa logam Mg menggeser posisi Ag yang
pelarutan dengan menggunakan HNO3 menjadi atom inti dan berikatan dengan ligan
sehingga terbentuk AgNO3. S2O3- sehingga logam Mg menjadi atom inti
Perancangan alat yang sesuai untuk dan berikatan dengan ligan S2O3- menjadi
memaksimalkan pemungutan perak dari limbah MgS2O3. Ketika kompleks Ag2S2O3 melalui
larutan fixer adalah perancangan reaktor batch. proses pemungutan, kompleks akan terkonversi
Penentuan desain reaktor batch menggunakan menjadi Ag2S.
persamaan sebagai berikut [2].
Proses Pelarutan Menggunakan HNO3
𝑉 𝑑𝑁𝑎
𝐹𝑎0 − 𝐹𝑎 + 𝑟𝑎 ∫0 𝑑𝑉 = 𝑑𝑡
(1) Untuk mendapatkan perak murni, Ag2S
dilarutkan dengan asam nitrat (HNO3) sehingga
Karena pada batch Fa0 = Fa = 0, maka
reaksinya akan menjadi seperti berikut.
𝑉 𝑑𝑁𝑎
𝑟𝑎 ∫0 𝑑𝑉 = 𝑑𝑡
(2) 3Ag2S + 8HNO3  6AgNO3 + 2NO + 3S4H2O (6)
𝑑𝐶𝑎 Penentuan nilai konstanta kinetika (k)
𝑟𝑎 = 𝑑𝑡
= −𝑘𝐶𝑎𝑛 (3)
pada proses pelarutan dengan orde 1 yang
𝑉 𝑑𝑁𝑎
−𝑘𝐶𝑎𝑛 ∫0 𝑑𝑉 = 𝑑𝑡
(4) diperoleh dari percobaan di laboratorium
menggunakan persamaan sebagai berikut [2]:
Untuk merancang reaktor batch,
diperlukan persamaan kinetika. Pada 𝑙𝑛(1 − 𝑋) = −𝑘. 𝑡 (7)
pengolahan limbah fixer telah tersedia data Berdasarkan konstanta kinetika (k) dengan
kinetika pada proses pertukaran logam Mg [3], reaksi orde 2, dapat ditentukan persamaan
sementara dalam proses pelarutan belum sebagai berikut [2]:
tersedia. Oleh karena itu, dalam penelitian ini 1 1
akan ditentukan terlebih dulu persamaan 𝐶𝑎
− 𝐶𝑎 = −𝑘. 𝑡 (8)
0
kinetika pada proses pelarutan.
Hasil penelitian ini diharapkan bisa Ag larut dan membentuk ikatan senyawa
menentukan persamaan kinetika pada proses dengan NO menjadi AgNO3, kemudian
pelarutan dan perancangan reaktor batch untuk dimurnikan dengan reaksi pertukaran logam
pemisahan perak dari larutan bekas pencucian tunggal menggunakan logam tembaga (Cu)
film radiografi. sehingga didapatkan logam Ag murni. Reaksi
yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut:
LANDASAN TEORI 𝐴𝑔𝑁𝑂3 + 𝐶𝑢 → 𝐴𝑔 + 𝐶𝑢(𝑁𝑂3 )2 (9)
Proses Pertukaran Logam Mg Logam Ag mengendap dan dipisahkan
dengan Cu(NO3)2 sehingga didapatkan logam
Reaksi pertukaran logam tunggal adalah Ag murni yang siap untuk dilebur.
perubahan kimia yang terjadi ketika sebuah
unsur yang lebih reaktif menggantikan unsur Perhitungan Desain Reaktor Batch
yang kurang reaktif dari suatu senyawa.
Reaktor batch tidak memiliki aliran masuk
Reaktivitas logam dapat diketahui dari urutan maupun aliran keluar reaktan atau produk
pada deret volta. Pada deret volta, logam yang
ketika reaksi sedang berlangsung. Jadi, Fj0 =
berada di sebelah kiri hidrogen (H) tergolong Fj = 0; menghasilkan keseimbangan mol umum
logam yang reaktif, dan semakin ke kiri pada spesies j, yang dinyatakan dengan
semakin reaktif. Sebaliknya, logam yang
persamaan berikut [2]:
berada di sebelah kanan hidrogen adalah
𝑉 𝑑𝑁𝑗
logam-logam yang kurang reaktif dan semakin −𝑘𝐶𝑗 𝑛 ∫0 𝑑𝑉 = 𝑑𝑡
(10)
ke kanan semakin kurang reaktif. Pada reaksi
pertukaran logam tunggal yang terjadi pada Untuk sistem batch, di mana volume
proses pemungutan perak, logam Mg akan bervariasi ketika reaksi berjalan, volume

82 Perancangan Reaktor Batch ...


Jurnal Forum Nuklir (JFN) Volume 10, Nomor 2, November 2016

biasanya dapat dinyatakan sebagai fungsi Untuk merancang pengaduk pada bejana
waktu atau konversi, baik untuk reaktor atau tangki, ada banyak pilihan untuk jenis dan
adiabatik atau isotermal. Karena itu, variabel lokasi impeller, ukuran bejana atau tangki,
persamaan diferensial dapat dipisahkan dalam jumlah dan ukuran baffle, dan sebagainya.
salah satu cara berikut [2]. Maka, perancangan unit pengaduk beserta
𝑑𝑋 impeller akan ditunjukan pada Gambar 1.
𝑉𝑑𝑡 = 𝑁𝐴0 −𝑟 (11)
𝐴

atau
𝑑𝑋
𝑑𝑡 = 𝑁𝐴0 (12)
−𝑟𝐴 𝑉

Namun, untuk reaktor batch pada


umumnya volume tidak ditentukan sebelumnya
sebagai fungsi waktu. Maka, waktu t yang
diperlukan untuk mencapai konversi X adalah
[2] :
𝑋(𝑡) 𝑑𝑋
𝑡 = 𝑁𝐴0 ∫0 −𝑟𝐴 𝑉
(13)

Dengan mengikuti reaksi di bawah ini [4]:


Gambar 1. Desain Pengaduk Jenis Turbulen [6]
𝐴 + ⋯ → 𝑣𝐶 𝐶 + ⋯ 𝑣𝑁 𝑁 (14) 𝐷𝑎 1
𝐷
=3 (21)
Reaksi dalam reaktor batch dengan
volume V secara terus-menerus, untuk 𝐻
𝐷
=1 (22)
menentukan tingkat produksi, harus
memperhitungkan waktu reaksi (t dalam 𝐽 1
= (23)
Persamaan 13) dan down-time (td) antara 𝐷 12
batch. Total waktu per batch atau waktu siklus 𝐸 1
𝐷
=3 (24)
adalah [4].
𝑊 1
𝑡𝑐 = 𝑡 + 𝑡𝑑 (15) 𝐷𝑎
=5 (25)

Volume reaktor (V) terkait dengan NA0, 𝐿 1


= (26)
melalui persamaan keadaan (1) atau (9), harus 𝐷𝑎 4
ditentukan atau dianggap sebagai parameter Unit pengaduk membutuhkan sejumlah
[4]: daya. Dalam tangki baffled dengan bilangan
(𝑡+𝑡𝑑 )Pr(𝐶) reynolds mendekati 10.000, jumlah daya
𝑉= 𝑣𝐶 𝐶𝐴0 .𝑋𝐴
(16) independen dari bilangan reynolds dan
viskositas bukan faktor. Dalam rentang ini,
Penentuan dimensi reaktor batch
aliran sepenuhnya turbulen [6].
dilakukan dengan asumsi bahwa reaktor batch
berbentuk silinder dan dengan mengikuti 𝑁𝑝 = 𝐾𝑇 (27)
persamaan berikut [5]:
Ini akan menjadi
1
𝑉= 4
𝜋𝐷2 𝐻 (17) 𝐾𝑇 𝑛3 𝐷𝑎 5 𝜌
𝑃= (28)
𝑔𝑐
Rasio antara diameter dan tinggi reaktor
batch ditunjukkan pada persamaan berikut [5]: Dalam sistem pengadukan, kecepatan
𝐻 pengadukan sangat mempengaruhi efisiensi
𝐷
= 1,5 (18) laju reaksi. Berdasarkan Persamaan (28),
kecepatan pengadukan juga dipengaruhi oleh
𝐻 = 1,5𝐷 (19)
WELH (Water Equivalent Liquid Height) [7].
Dengan mensubstitusi Persamaan (18) ke 2
𝑊𝐸𝐿𝐻 𝑛.𝐷
(19), maka diperoleh persamaan berikut: 2.𝐷𝑎
= ( 600𝑎 ) (29)
3 4 𝑉 dengan
𝐷 = √1,5 [𝜋] (20)

Salman Yasir Fakhry Putra dkk. 83


Jurnal Forum Nuklir (JFN) Volume 10, Nomor 2, November 2016

𝜌𝐹𝑙𝑢𝑖𝑑𝑎 magnetic stirrer, termometer, neraca analitik,


𝑊𝐸𝐿𝐻 = 𝐻. (30)
𝜌𝐴𝑖𝑟 kertas saring Whatman 42, oven, stopwatch,
Ketebalan reaktor batch dapat ditentukan AAS, dan peralatan-peralatan kaca lainnya.
berdasarkan persamaan sebagai berikut [8]: Prosedur Penelitian
𝑃𝐷𝑒𝑠𝑖𝑔𝑛 = (1 − 1,2). 𝑃𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖 (31) Pengendapan Ag2S dari Ag2S2O3 dengan
𝑃.𝑅 Menggunakan Logam Mg
𝑡𝑠 = 𝑓.𝐸−0,6𝑃
+𝐶 (32)
Proses pengendapan Ag2S dilakukan dengan
Tutup reaktor sangat bermacam-macam, mereaksikan limbah larutan fixer dari rumah
namun tutup yang sering dijumpai di reaktor sakit dengan logam magnesium. Mula-mula
kimia berjenis flanged and shallow dishead. diambil limbah larutan fixer sebanyak 500 ml
dan ditempatkan dalam gelas beker 500 ml.
Kemudian ditimbang logam magnesium
seberat 1 gram. Logam magnesium selanjutnya
dimasukkan ke dalam limbah larutan fixer dan
diaduk menggunakan pengaduk magnet.
Endapan hasil reaksi disaring menggunakan
kertas saring Whatman 42, lalu dikeringkan
menggunakan oven sampai berat konstan.
Penentuan Nilai Konstanta Kinetika (k)
Pelarutan Ag2S Menggunakan HNO3
Nilai konstanta kinetika (k) pada proses
pelarutan ditentukan dengan melarutkan Ag2S
Gambar 2. Flanged and Shallow Dishead Reactor menggunakan HNO3 dengan konsentrasi yang
[8]. sesuai perhitungan stoikiometri dan dipanaskan
Penentuan tebal penutup mengikuti pada suhu konstan 90°C. Endapan dan filtrat
persamaan berikut [8]: hasil reaksi dipisahkan menggunakan kertas
saring Whatman 42. Langkah tersebut diulangi
𝑃.𝑅.𝑤
𝑡ℎ = +𝐶 (33) dengan melakukan variasi waktu pengadukan.
2.𝑓.𝐸−0,2𝑃
Hasil pelarutan yang berupa filtrat kemudian
sehingga dianalisis menggunakan spektrometri serapan
Tinggi penutup = th + b + sf (34) atom.
Perancangan dan Desain Reaktor Batch
METODOLOGI PENELITIAN Prosedur perancangan dan desain reaktor batch
Bahan dan Alat Penelitian adalah langkah pertama membuat diagram alir
proses. Langkah berikutnya adalah menghitung
Bahan Penelitian neraca massa proses. Setelah menghitung
Bahan yang digunakan dalam perancangan neraca massa dengan kapasitas yang telah
reaktor batch untuk pemisahan perak dari ditentukan, kemudian menentukan spesifikasi
limbah bekas film radiografi adalah limbah alat yang digunakan (pompa, pipa, jenis bahan
fixer yang berasal dari rumah sakit wilayah yang digunakan untuk reaktor, dan lain-lain).
Yogyakarta, dengan konsentrasi 57,51 g/l. Langkah selanjutnya adalah menghitung waktu
Bahan-bahan lainnya diperoleh dari pengadukan dalam reaktor, lalu menghitung
Laboratorium Kimia Dasar STTN-BATAN volume beserta dimensi keseluruhan reaktor
Yogyakarta, yakni akuades, logam magnesium batch.
berbentuk pita dengan lebar 0,5 cm dan
panjang 100 cm, dan asam nitrat dengan HASIL DAN PEMBAHASAN
konsentrasi 65% dan massa jenis 1,62 kg/l.
Penentuan Nilai Konstanta Kinetika Reaksi
Alat Penelitian (k) Pelarutan Ag2S Menggunakan HNO3
Dalam perancangan reaktor batch untuk Pada penelitian ini dilakukan pengamatan laju
pemisahan perak dari limbah bekas film reaksi pada proses pelarutan Ag2S dan HNO3
radiografi digunakan alat-alat: hot plate,

84 Perancangan Reaktor Batch ...


Jurnal Forum Nuklir (JFN) Volume 10, Nomor 2, November 2016

dengan kondisi pengamatan di laboraturium 0


dan perhitungan sesuai stoikiometri. Endapan 0 50 100
Ag2S dilarutkan dengan HNO3 sehingga -1 y = 0.0261x - 5.3725
membentuk AgNO3, dengan suhu tetap dijaga -2 R² = 0.6533
konstan sebesar 90° Celcius. Untuk

ln(1-X)
menentukan kinetika pada proses pelarutan -3
maka dilakukan variasi waktu pengadukan,
-4
yaitu 15, 20, 35 50, 70, dan 80 menit. Setelah
dilakukan variasi tersebut, diperoleh -5
konsentrasi hasil spektrometri serapan atom
seperti ditunjukkan pada Tabel 1. -6
t
Tabel 1. Hasil Spektrometri Serapan Atom

Waktu Konsentrasi (Ca) (ppm) Gambar 3. Hubungan konversi dengan waktu


(menit) pengadukan.
15 2,1098 Hasil penelitian menunjukkan bahwa
20 2,0641
35 1,0959 untuk proses pelarutan diperoleh nilai
50 2,6999 konstanta kinetika sebesar 0,0261/menit
70 4,9978 dengan R2 sebesar 0,6533.
80 13,1715
Untuk menentukan nilai konstanta kinetika
pada reaksi orde 2, akan ditunjukkan pada
Berdasarkan hasil spektrometri serapan
Gambar 4 berikut ini.
atom dihitung konversi yang terjadi selama
proses pelarutan dalam variasi waktu. 0.1
Perhitungan konversi ini ditunjukkan pada
0.08 y = -0.0007x + 0.0756
Tabel 2.
R² = 0.4587
1/Ca-1/Ca0

Tabel 2. Perhitungan Konversi 0.06

Waktu (menit) Konversi (X) 0.04


15 0,989451
20 0,989680 0.02
35 0,994521
50 0,986501 0
70 0,975011
0 20 40 60 80 100
80 0,934143
t
Gambar 4. Hubungan Konsentrasi terhadap Waktu
Dari Tabel 2 dapat dibuat grafik hubungan Reaksi Orde 2
antara konversi dan waktu, untuk menentukan
konstanta kinetika. Untuk reaksi order 1, grafik Jika dibandingkan hasil antara reaksi orde
hubungan antara konversi dan waktu 1 dan orde 2 maka hasil yang lebih baik
pengadukan ditunjukkan dalam Gambar 3. terdapat pada orde 1 karena nilai R2 pada orde
Gambar 4 menunjukkan bahwa untuk 1 lebih besar dibandingkan dengan nilai R2
reaksi orde 2, diperoleh nilai konstanta kinetika pada orde 2. Oleh karena itu, perancangan dan
sebesar 0,0007/C.s dengan Nilai R2 sebesar desain reaktor batch akan menggunakan nilai
0,4587. konstanta kinetika pada reaksi orde 1.

Salman Yasir Fakhry Putra dkk. 85


Jurnal Forum Nuklir (JFN) Volume 10, Nomor 2, November 2016

PERANCANGAN REAKTOR BATCH


Diagram Alir Proses

Gambar 5. Diagram Alir Proses Reaksi Pertukaran Logam dan Pelarutan


Berdasarkan Gambar 5, limbah fixer Pada proses tersebut merupakan proses
dipompa menggunakan pompa sentrifugal pelarutan menggunakan HNO3 sebagai pelarut.
kemudian masuk ke reaktor untuk proses Selanjutnya, HNO3 melarutkan Ag2S dan
pertukaran logam menggunakan magnesium. membentuk AgNO3 yang sesuai dengan reaksi
Proses pertukaran logam terjadi dan pada Persamaan (6).
membentuk Ag2S dan Mg2S2O3 sebagai hasil
Desain Reaktor Batch Proses Pertukaran
reaksi yang sesuai dengan reaksi pada
Persamaan (5). Setelah proses pertukaran Logam
logam berlangsung, selanjutnya hasil proses
dipompa dan masuk reaktor selanjutnya.

Gambar 6. Reaktor Batch Proses Pertukaran Logam

86 Perancangan Reaktor Batch ...


Jurnal Forum Nuklir (JFN) Volume 10, Nomor 2, November 2016

Desain Reaktor Batch Proses Pelarutan

Gambar 7. Reaktor Batch Proses Pelarutan

KESIMPULAN SARAN
Berdasarkan data yang diperoleh dari
1. Hasil perancangan ini diharapkan dapat
spektrometri serapan atom (AAS), konstanta
dilanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu
kinetika reaksi pada proses pelarutan adalah
rancang bangun alat dan dapat digunakan
0,0261/menit untuk reaksi orde 1 dan
pada fasilitas pengolahan film radiografi.
0,0007/C.menit untuk reaksi orde 2.
2. Perlu dilakukan penelitian lagi yang terkait
Dimensi reaktor batch untuk proses reaksi
dengan perancangan reaktor dan pemilihan
pertukaran logam dan pelarutan dapat dihitung.
bahan agar lebih efisien dan optimal.
Hasil perhitungan dimensi yang diperoleh
3. Pada proses pelarutan perlu dilakukan
adalah sebagai berikut.
penelitian lebih lanjut dikarenakan variasi
a. Reaktor batch proses reaksi pertukaran
waktu yang dilakukan hanya sampai
logam:
maksimal 80 menit sehingga kinetika yang
Volume = 0,1287 m3
diperoleh masih kurang optimal.
Diameter = 0,45m
Tinggi = 0,68 m
DAFTAR PUSTAKA
Tebal shell = 0,0035 m
Tebal head = 0,0033 m 1. Songkroah, C., C. Nakbanpote, and P.
Tinggi head = 0,0942 m Thiravetyan, 2003. “Recovery of Silver-
Daya yang dikonsumsi = 0,76 watt Thiosulphate Complexes with Chitin” in:
Kecepatan pengadukan = 16,35 rpm Process Biochemistry Journal, 39, 1553-
b. Reaktor batch proses pelarutan: 1559.
Volume = 0,101 m3 2. Fogler, H. Scot, 2004. Solutions Manual
Diameter = 0,44 m for Elements of Chemical Reaction
Tinggi = 0,66 m Engineering. Third Edition. Ann Arbor:
Tebal shell = 0,0036 m The University of Michigan.
Tebal head = 0,0033 m 3. Perkasa, P.D.C, 2015. Pemungutan Perak
Tinggi head = 0,0072 m dari Larutan Fixer Pencuci Film
Daya yang dikonsumsi = 42,29 watt Radiografi Berbasis Reaksi Pertukaran
Kecepatan pengadukan = 20,28 rpm Logam. STTN-BATAN Yogyakarta.
4. Missen, R.W., C.A. Mims, B.A. Savilley,
1999. Introduction to Chemical Reaction

Salman Yasir Fakhry Putra dkk. 87


Jurnal Forum Nuklir (JFN) Volume 10, Nomor 2, November 2016

Engineering and Kinetics. United State of Metode Reduksi Kimiawi.” Penelitian


America: John Willey and Sons, Inc. Dosen Muda. Semarang: UNDIP.
5. Silla, Harry, 2003. Chemical Process 10. Sardjono, I.D., Prayitno, H. Poernomo, W.
Engineering Design and Economics. New Yuwono, 2006. Pemakaian Metode
Jersey, USA: Stevens Institute of Adsorpsi Gelembung untuk Pemungutan
Technology Hoboken. Kembali Unsur Ag dari Air Limbah
6. McCabe, W.L., C.J. Smith, P. Harriott, Cucian Film Fotothoraks. Yogyakarta:
1993. Unit Operations of Chemical Pusat Teknologi Akselerator dan Proses
Engineering. USA: McGraw-Hill, Inc. Bahan-BATAN.
7. Rase, H.F., 1977. Chemical Reactor 11. Kuswati, Hari, D. Handoyo, I. Kohar,
Design for Process Plants. 2 Volumes, 2010. Perolehan Kembali Logam Perak
(Willeys). dari Limbah Cair Pencucian Film Studio
8. Brownell, L.E. and E.H. Young, 1979. Dibanding Film X-Ray dengan
Process Equipment Design. New York: Menggunakan Metode SN Flake.
John Willey and Sons, Inc. Surabaya: Universitas Surabaya.
9. Suryati, Linda, 2003. “Pengambilan
Kembali Perak Buangan Berdasarkan

88 Perancangan Reaktor Batch ...