Anda di halaman 1dari 30

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Teori Medis

1. Persalinan

a. Pengertian Persalinan

A. Teori Medis 1. Persalinan a. Pengertian Persalinan Persalinan normal adalah proses pengeluaran bayi dengan usia

Persalinan normal adalah proses pengeluaran bayi dengan usia

kehamilan cukup bulan, letak memanjang atau sejajar sumbu badan

ibu, presentasi belakang kepala, keseimbangan diameter kepala bayi

dan panggul ibu, serta dengan tenaga ibu sendiri. Hampir sebagian

besar persalinan merupakan persalinan normal, hanya sebagian saja

(12-15%) merupakan persalinan patologik (Saifuddin, 2009).

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan

melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa

bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba, 2010).

b. Tanda-tanda Persalinan

Menurut Sofian (2012), tanda dan gejala persalinan antara lain:

1) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.

2) Keluar lendir bercampur darah (blood show) yang lebih banyak

karena robekan-robekan kecil pada serviks.

3) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.

4) Pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.

6

7

c. Kala Persalinan

1)

Kala I

Kala pertama adalah dilatasi serviks untuk menyiapkan jalan

lahir bagi janin. Kala ini lebih lanjut dibagi lagi menjadi beberapa

fase berdasarkan tingkat dilatasi serviks. Fase laten normal adalah <

cm/jam pada multipara) (Norwitz, 2008). 2) Kala II
cm/jam pada multipara) (Norwitz, 2008).
2)
Kala II

20 jam pada nulipara dan < 14 jam pada multipara. Pada fase aktif,

serviks harus mengalami dilatasi >1,2 cm/jam pada nulipara (>1.5

Kala II dimulai ketika pembukaan serviks lengkap (10 cm)

dan berakhir dengan kelahiran bayi. Pada saat ini ibu merasa ingin

meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi dan merasakan

makin meningkatnya tekanan pada rectum dan vagina. Perineum

menonjol. Vulva-vagina dan spingter ani terlihat membuka serta

makin banyaknya pengeluaran lendir darah. Tanda pasti kala II

dapat dilakukan melalui pemeriksaan dalam dimana pembukaan

serviks telah lengkap atau terlihat bagian kepala bayi pada introitus

vagina (Wiknjosastro dkk, 2008).

3)

Kala III

Kala tiga adalah dilahirkannya plasenta dan selaput janin dan

biasanya berlangsung selama ≤ 10 menit. Dalam keadaan tidak

adanya perdarahan berlebihan, maka kala tiga dapat dibiarkan

8

berjalan dengan sendirinya tanpa intervensi sampai batas waktu 30

menit (Norwitz, 2008).

4)

Kala IV

Segera

setelah

kelahiran

plasenta,

sejumlah

perubahan

maternal

terjadi

pada

saat

stres

fisik

dan

emosional

akibat

2007). Pengertian Kehamilan postdate adalah suatu kehamilan
2007).
Pengertian
Kehamilan
postdate
adalah
suatu
kehamilan

persalinan dan kelahiran mereda dan ibu memasuki penyembuhan

pascapartum dan bonding (ikatan). Meskipun intrapartum sudah

selesai, istilah kala empat persalinan mengidentifikasi jam pertama

pascapartum ini perlu diamati dan dikaji dengan ketat (Varney,

2. Kehamilan Postdate

a.

yang

berakhir

antara 40 dan 42 minggu (Julie, et.al, 2010).

Berikut merupakan definisi menurut World Health Organization

(WHO) (2006). Terdapat perluasan penggunaan istilah-istilah ini yang

bergantian dalam komunitas medis, dalam penelitian dan buku-buku

pelajaran.

1)

Kehamilan postterm adalah suatu kehamilan yang berlangsung

pada atau melebihi 42 minggu atau 294 hari. Akhir-akhir ini istilah

ini digunakan untuk menunjukkan kehamilan yang berlangsung

melebihi 41 minggu.

9

2)

Kehamilan postdate adalah suatu kehamilan yang berlangsung

melebihi 40 minggu ditambah satu atau lebih hari (setiap waktu

yang melebihi tanggal perkiraan lahir)

3)

Prolonged pregnancy adalah semua kehamilan yang melebihi 42

b.

minggu, merupakan sinonim dari postterm.

definisi yang hampir sama yaitu kehamilan yang umur kehamilan ibu. Etiologi Menurut Saifuddin (2014), seperti
definisi
yang
hampir
sama
yaitu
kehamilan
yang
umur kehamilan ibu.
Etiologi
Menurut
Saifuddin
(2014),
seperti
halnya

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa antara

kehamilan postterm, postdate maupun prolonged pregnancy memiliki

melebihi

hari

perkiraan persalinan. Dapat disimpulkan pula bahwa pentatalaksanaan

yang diberikan untuk mengakhiri kehamilan ini sama tergantung dari

teori

bagaimana

terjadinya persalinan, sampai saat ini sebab terjadinya kehamilan

postdate belum jelas. Beberapa teori diajukan antara lain sebagai

berikut :

1)

Pengaruh progesteron

Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya

merupakan

kejadian

perubahan

endokrin

yang

penting

dalam

memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan

sensitivitas uterus terhadap oksitosin, sehingga beberapa penulis

menduga

bahwa

terjadinya

kehamilan

postdate

adalah

karena

masih berlangsungnya pengaruh progesteron.

10

2)

Teori oksitosin

Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan

postdate memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara

fisiologis

memegang

peranan

penting

dalam

menimbulkan

persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil

yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu

faktor penyebab kehamilan postdate. 3) Teori kortisol/ACTH janin untuk dimulainya persalinan adalah janin, akan
faktor penyebab kehamilan postdate.
3)
Teori kortisol/ACTH janin
untuk
dimulainya
persalinan
adalah
janin,
akan
mempengaruhi
plasenta
sehingga
berkurang
dan
memperbesar
sekresi

produksi

estrogen,

Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “pemberi tanda”

diduga

akibat

peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin

progesteron

selanjutnya

berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada

cacat bawaan janin seperti anencephalus, hipoplasia adrenal janin

dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan

kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan

dapat berlangsung lewat waktu.

4)

Syaraf uterus

Tekanan

pada

ganglion

servikalis

dari

Pleksus

Frankenhauser

akan

membangkitkan

kontraksi

uterus.

Pada

keadaaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada

kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi

11

kesemuanya

diduga

sebagai

penyebab

terjadinya

kehamilan

postdate.

5)

Herediter

Seorang ibu yang mengalami kehamilan postdate mempunyai

c.

kecenderungan untuk melahirkan lewat waktu pada kehamilan

Cunningham,

berikutnya. Morgen (1999) seperti dikutip postdate saat melahirkan anak perempuan, kemungkinan anak
berikutnya.
Morgen
(1999)
seperti
dikutip
postdate
saat
melahirkan
anak
perempuan,
kemungkinan
anak
perempuannya
akan
postdate.
Patofisiologi

menyatakan bahwa bilamana seorang ibu mengalami kehamilan

maka

besar

kehamilan

mengalami

Serviks yang akan mengalami persalinan normal secara bertahap

akan melunak, menipis, mudah berdilatasi, dan bergerak ke arah

anterior mendekati waktu persalinan. Serviks pada wanita multipara

lebih cepat matang dibandingkan nulipara, dan pemahaman mengenai

paritas penting dalam menentukan saat yang tepat untuk melakukan

pemeriksaan serviks pada kehamilan lanjut (Varney, 2007).

Kehamilan

lewat

waktu

yang

disebabkan

karena

faktor

hormonal, kurangnya produksi oksitosin akan menghambat kontraksi

otot uterus secara alami dan adekuat, sehingga mengurangi respons

serviks untuk menipis dan membuka. Akibatnya kehamilan bertahan

lebih lama dan tidak ada kecenderungan untuk persalinan pervaginam

(Varney, 2007).

12

d.

kehamilan aterm (normal) Postterm (patologis) progesteron turun, oksitosin naik progesteron tidak turun, oksitosin
kehamilan
aterm (normal)
Postterm (patologis)
progesteron turun,
oksitosin naik
progesteron tidak
turun, oksitosin tidak
naik
terjadi kontraksi
uterus
tidak ada kontraksi
uterus
penipisan dan
pembukaan serviks
tidak ada penipisan
dan pembukaan
persalinan
pervaginam
tidak ada tanda-tanda
persalinan
Gambar 2.1 Bagan Patofisiologi Kehamilan Postdate
Sumber: Varney (2007)
Faktor predisposisi

Seseorang ibu yang mengalami kehamilan postdate mempunyai

kecenderungan

untuk

melahirkan

lewat

waktu

pada

kehamilan

berikutnya

(Saifuddin,

2014).

Sebuah

kecenderungan

genetik

kehamilan postdate telah didemonstrasikan. Seorang wanita yang lahir

lewat waktu memiliki 49 % peningkatan risiko melahirkan anak

melampaui usia kehamilan 42 minggu, risikonya adalah 23% jika ayah

dari anak tersebut lahir lewat waktu sedangkan anencephaly janin dan

kekurangan surfaktan plasenta adalah penyebab langka kehamilan

yang melebihi taksiran persalinan (Wang, et.al, 2014).

13

e.

Faktor Risiko

Faktor risiko yang diketahui untuk kehamilan postdate adalah

kehamilan postdate sebelumnya, nuliparitas, usia ibu yang lebih tua

dari 30 tahun, dan obesitas (Wang, et al, 2014). Dibandingkan dengan

f.

wanita berat badan normal, risiko dari kehamilan postdate pada wanita

Keluhan Subjektif
Keluhan Subjektif

dengan obesitas hampir dua kali lipatnya. Risiko sectio caesarea

maupun induksi persalinan pada kehamilan ini, meningkat bersama

dengan umur ibu dan BMI serta lebih dari dua kali lipatnya pada

wanita berumur ≥35 tahun. Risiko lima kali lipat terlihat pada wanita

primigravida. Dengan kata lain, nuliparitas, peningkatan umur ibu dan

obesitas merupakan faktor risiko terkuat untuk kehamilan postdate dan

sectio caesarea maupun induksi persalinan (Roos, et.al, 2010).

Keluhan subjektif yang sering dikeluhkan ibu antara lain ibu

merasa cemas bilamana kehamilan terus berlangsung melewati taksiran

persalinan (Saifuddin, 2014).

g.

Tanda Klinis / Laboratoris

Menurut Saifuddin (2014), kehamilan dapat dinyatakan sebagai

kehamilan lewat waktu bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil

pemeriksaan sebagai berikut.

1) Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif.

2) Telah

lewat

doppler.

32

minggu

sejak

DJJ

pertama

terdengar

dengan

14

3) Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali.

4) Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan

stetoskop leannec.

Tanda klinis / laboratoris untuk kehamilan postdate, antara lain

sebagai berikut.

1) menit (Nugroho, 2012). 2) menjadi: a) Stadium I : kulit kehilangan verniks mengelupas.
1)
menit (Nugroho, 2012).
2)
menjadi:
a) Stadium I
:
kulit
kehilangan
verniks
mengelupas.

Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang

jarang, yaitu secara subjektif kurang dari 7 kali/20 menit atau

secara obyektif dengan kardiotopografi kurang dari 10 kali/20

Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi

kaseosa

dan

terjadi

maserasi sehingga kulit kering, rapuh, dan mudah

b) Stadium II

: seperti stadium I disertai pewarnaan mekonium

c) Stadium III

(kehijauan) di kulit.

: seperti stadium I disertai pewarnaan kekuningan

pada kuku, kulit, dan tali pusat (Nugroho, 2012).

h.

Prognosis

Kematian janin pada kehamilan postdate meningkat; apabila

pada kehamilan normal (37-41 minggu) angka kematiannya 1,1% pada

kehamilan 43 minggu, angka kematian bayi menjadi 3,3% dan pada

kehamilan 44 minggu menjadi 6,6%. Pada beberapa kasus, fungsi

15

plasenta tetap baik meskipun usia kehamilan mencapai di atas 42

minggu, sehingga anak menjadi besar (>4000 gram) dan mempersulit

persalinan. Morbiditas ibu meningkat karena kejadian partus buatan

dan

sectio

caesarea

meningkat

(Martaadisubrata,

2013).

Berikut

merupakan komplikasi yang terjadi pada kehamilan postdate.

1) Perubahan pada plasenta pada plasenta adalah sebagai berikut. a) Terjadi peningkatan penimbunan kalsium,
1)
Perubahan pada plasenta
pada plasenta adalah sebagai berikut.
a) Terjadi
peningkatan
penimbunan
kalsium,
menyebabkan
gawat
janin
dan
bahkan
intrauterin
yang
dapat
meningkat
sampai
Timbunan
kalsium
plasenta
meningkat

Menurut Fadlun (2011) disfungsi plasenta merupakan faktor

penyebab terjadinya komplikasi pada kehamilan kehamilan lewat

waktu dan meningkatnya risiko pada janin. Perubahan yang terjadi

hal

ini

dapat

janin

lipat.

dengan

kematian

2-4

kali

sesuai

progresivitas

degenerasi

plasenta,

namun

beberapa

vili

mungkin mengalami degenerasi tanpa mengalami kalsifikasi.

b) Selaput vaskulosinsisial menjadi tambah tebal dan jumlahnya

berkurang,

keadaan

ini

transport dari plasenta.

dapat

menurunkan

mekanisme

c) Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti edema,

timbunan fibrinoid, fibrosis, thrombosis intervili, dan infark

vili.

16

d)

Perubahan

biokimia,

adanya

insufisiensi

plasenta

menyebabkan

protein

plasenta

dan

kadar

DNA

(deoxyribonucleid

Acid)

dibawah

normal,

sedangkan

konsentrasi

RNA

(Ribonucleid

Acid)

meningkat.

Transport

kalsium tidak terganggu, aliran natrium, kalium, dan glukosa

seperti asam amino, lemak, dan gama pertumbuhan janin intrauterin . 2) Pengaruh pada janin terhadap
seperti
asam
amino,
lemak,
dan
gama
pertumbuhan janin intrauterin .
2)
Pengaruh pada janin
terhadap janin sampai saat ini antara lain:
a) Berat janin

menurun. Pengangkutan bahan dengan berat molekul tinggi

biasanya

globulin

mengalami gangguan sehingga dapat mengakibatkan gangguan

Menurut Saifuddin (2014), pengaruh kehamilan postdate

Bila terjadi perubahan anatomi yang besar pada plasenta,

maka terjadi penurunan berat janin. Sesudah umur kehamilan

36 minggu, grafik rata-rata pertumbuhan janin mendatar dan

tampak adanya penurunan sesudah 42 minggu. Namun, sering

kali pula plasenta masih dapat berfungsi dengan baik sehingga

berat janin bertambah terus sesuai dengan bertambahnya umur

kehamilan.

b) Sindrom postmaturitas

Dapat dikenali pada neonatus melalui beberapa tanda

seperti, gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput

17

seperti kertas (hilangnya lemak sub kutan), kuku tangan dan

kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks

kaseosa dan lanugo, maserasi kulit terutama daerah lipat paha

dan genital luar, warna coklat kehijauan atau kekuningan pada

kulit dan tali pusat, serta muka tampak menderita dan rambut

neonatus

dari

kepala banyak atau tebal. Tidak seluruh dengan fungsi plasenta. c) Gawat janin atau kematian perinatal
kepala
banyak
atau
tebal.
Tidak
seluruh
dengan fungsi plasenta.
c) Gawat
janin
atau
kematian
perinatal
umumnya
disebabkan
karena
makrosomia
menyebabkan
terjadinya
distosia
pada
insufisiensi
plasenta
dapat
berakibat

kehamilan postdate menunjukkan postmaturitas, tergantung

menunjukkan

angka

meningkat sebagian besar terjadi intrapartum. Keadaan ini

yang

dapat

serta

janin

persalinan

pertumbuhan

terhambat, oligohidramnion (terjadi kompresi tali pusat, keluar

mekonium yang kental), hipoksia janin, aspirasi mekonium

oleh janin, serta cacat bawaan, terutama akibat hipoplasia

adrenal dan anensefalus.

3)

Pengaruh pada ibu

a) Morbiditas / mortalitas ibu : dapat meningkat sebagai akibat

dari makrosomia janin dan tulang tengkorak menjadi lebih

keras

sehingga

menyebabkan

incoordinate

uterine

action,

terjadi

partus

distosia

persalinan,

lama,

meningkatkan

18

i.

b)

tindakan

obstetric

dan

persalinan

postpartum akibat bayi besar.

traumatis/perdarahan

Aspek emosi : ibu dan keluarga menjadi cemas bilamana

kehamilan

terus

(Saifuddin, 2014).

berlangsung melewati

taksiran

persalinan.

Penatalaksanaan Postdate dalam Persalinan Menurut Saifuddin (2014), sampai saat ini masih terdapat perbedaan
Penatalaksanaan Postdate dalam Persalinan
Menurut
Saifuddin
(2014),
sampai
saat
ini
masih
terdapat
perbedaan pendapat dalam pengelolaan kehamilan postdate. Beberapa
kontroversi dalam pengelolaan kehamilan ini, antara lain adalah :
1)
Apakah
sebaiknya
dilakukan
pengelolaan
secara
aktif
yaitu
dilakukan induksi setelah ditegakkan diagnosis ataukah sebaiknya
dilakukan pengelolaan secara ekspektatif atau menunggu.
2)
Bila dilakukan pengelolaan aktif, apakah kehamilan sebaiknya
diakhiri pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu.

Pengelolaan secara aktif yaitu dengan melakukan persalinan

anjuran pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu untuk memperkecil

risiko terhadap janin, sedangkan pengelolaan pasif atau ekspektatif

didasarkan pada pandangan bahwa persalinan anjuran yang dilakukan

semata-mata atas dasar postdate mempunyai risiko atau komplikasi

cukup besar terutama risiko persalinan operatif sehingga menganjurkan

untuk

dilakukan

pengawasan

secara

terus

menerus

terhadap

kesejahteraan janin, baik secara biofisik maupun biokimia sampai

19

persalinan berlangsung dengan sendirinya atau timbul indikasi untuk

mengakhiri kehamilannya (Saifuddin, 2014).

Penatalaksanaan postdate dalam persalinan antara lain adalah

sebagai berikut.

1)

Apabila

tidak

ada

tanda-tanda

insufisiensi

plasenta,

persalinan

spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat. Pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang
spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat.
Pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah
matang dapat dilakukan induksi persalinan. Cara objektif untuk
menilai kematangan serviks menggunakan sistem penilaian bishop.
Tabel 2.1 Sistem Penilaian Bishop
Sumber: Varney (2007)
Nilai
0
1
2
3
Komponen
0
1-2
3-4
>5
0-30
40-50
60-70
>80
-3
-2
-1/0
+1/+2

2)

Dilatasi (cm) Penipisan (%) Stasiun/penurunan kepala Konsistensi Posisi

Keras

Posterior

Sedang

Tengah

Lunak

Anterior

3)

Pada persalinan pervaginam diperhatikan bahwa partus lama sangat

merugikan

bayi.

Janin

postmatur

kadang-kadang

besar

dan

kemungkinan disproporsi sefalo pelvis serta distosia janin perlu

dipertimbangkan (Sofian, 2011).

 

4)

Pasien tidur miring sebelah kiri.

5)

Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin

 

6)

Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal.

 

20

8)

Segera

setelah

lahir,

bayi

harus

segera

diperiksa

terhadap

kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermia, dan polisitemi

(Saifuddin, 2009).

9)

Pemantauan

yang

baik

terhadap

ibu

(aktivitas

uterus)

dan

kesejahteraan janin.

penggunaan obat penenang atau persalinan. kegawatan janin. janin dengan cairan ketuban bercampur mekonium. ketat
penggunaan
obat
penenang
atau
persalinan.
kegawatan janin.
janin dengan cairan ketuban bercampur mekonium.
ketat
terhadap
neonatus
dengan
postmaturitas (Saifuddin, 2014).

13) Pengawasan

10) Hindari

analgetika

selama

11) Persiapan oksigen dan sectio caesarea bila sewaktu-waktu terjadi

12) Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan segera mengusap wajah

neonatus dan dilanjutkan resusitasi sesuai dengan prosedur pada

tanda-tanda

3. Induksi Persalinan

a.

Pengertian

Induksi persalinan adalah suatu upaya agar persalinan mulai

berlangsung sebelum atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan

jalan merangsang timbulnya his (Sofian, 2011).

Induksi

persalinan

menjelang

aterm

dalam

adalah

upaya

untuk

melahirkan

janin

keadaan

belum

terdapat

tanda-tanda

21

persalinan atau belum inpartu, dengan kemungkinan janin dapat hidup

di luar kandungan (umur di atas 28 minggu) (Manuaba, 2010).

b.

Indikasi

Menurut Nugroho (2012), indikasi untuk dilakukan induksi

persalinan antara lain sebagai berikut.

1) Faktor ibu tergantung derajat penyakit a) Preeklamsia berat/eklamsia yang tidak membaik dengan terapi
1)
Faktor ibu tergantung derajat penyakit
a) Preeklamsia
berat/eklamsia
yang
tidak
membaik
dengan
terapi obat-obatan
b) Diabetes mellitus
2)
Faktor janin
a)
Janin mati dalam kandungan (IUFD : Intra Uterine Fetal
Death)
b)
Pertumbuhan
janin
terhambat/PJT
(IUGR
:
Intra
Uterin
Growth Retardation)

c) Inkompatibilitas rhesus

3)

Keadaan kehamilan

a) Prolonged pregnancy (usia kehamilan ≥ 41 minggu)

b) Ketuban pecah dini (KPD), usia kehamilan ≥ 34 minggu)

c) Amnionitis atau khorioamnionitis

d) Solusio plasenta

e) Partus tak maju

22

c. Kontraindikasi Kontraindikasi induksi serupa dengan kontraindikasi untuk menghindarkan persalinan dan
c.
Kontraindikasi
Kontraindikasi
induksi
serupa
dengan
kontraindikasi
untuk
menghindarkan
persalinan
dan
pelahiran
spontan.
Faktor
janin
meliputi
makrosomia
yang
besar,
gestasi
janin
lebih
dari
satu,
hidrosefalus berat, malpresentasi, atau status janin yang meresahkan.
Beberapa
kontraindikasi
ibu
berkaitan
dengan
tipe
insisi
uterus
sebelumnya, anatomi panggul yang terdistorsi atau sempit, plasentasi
abnormal, dan kondisi seperti infeksi herpes genital aktif atau kanker
serviks (Cunningham, 2013).
d.
Persyaratan Induksi
Menurut Oxorn (2010), persyaratan induksi antara lain adalah
sebagai berikut.
1)
Presentasi
Presentasi harus kepala. Induksi persalinan tidak boleh

dilakukan bila ada letak lintang, presentasi majemuk dan sikap

ekstensi pada janin, dan hampir tidak boleh dilakukan kalau

bayinya presentasi bokong.

2)

Stadium kehamilan

Semakin kehamilannya mendekati masa aterm, semakin

mudah pelaksanaan induksi.

3)

Stasiun

Kepala janin harus sudah masuk panggul. Semakin rendah

kepala bayi, semakin mudah dan semakin aman prosedur tersebut.

23

4)

Kematangan serviks

Serviks harus sudah mendatar, panjangnya kurang dari 1,3

cm (0,5 inci), lunak, bisa dilebarkan dan sudah membuka untuk

dimasuki

sedikitnya satu

jari

tangan

dan

sebaiknya dua jari

tangan. Cincin ostium internum tidak boleh kaku. Keadaan yang

lebih menguntungkan adalah bilamana serviks berada dalam garis

pusat jalan lahir atau di sebelah anteriornya. Kalau serviks di

sebelah posterior, kondisi untuk induksi kurang menguntungkan.

5) Paritas sama paritas. 6) Maturitas janin Umumnya semakin kehamilan
5)
Paritas
sama paritas.
6)
Maturitas janin
Umumnya
semakin
kehamilan

mendekati

Induksi pada multipara jauh lebih mudah dan lebih aman

dari pada primigravida, angka keberhasilan meningkat bersama-

40

minggu,

semakin baik hasilnya bagi janin. Kalau kehamilan harus diakhiri

sebelum aterm, pengujian maturitas janin harus dilakukan untuk

menetapkan sejauh mungkin apakah janin akan dapat hidup di luar

 

kandungan.

e.

Metode Induksi

Salah satu metode yang paling umum dilakukan adalah metode

infus

oksitosin.

Menurut

teori

See-Saw”,

profesor

Scapo

dari

Universitas

Washington

menyatakan

bahwa prostaglandin

banyak

dijumpai dalam jaringan tubuh, progesteron mungkin menghalangi

24

kerja prostaglandin sehingga tidak terdapat kontraksi otot rahim,

oksitosin dianggap merangsang pengeluaran prostaglandin sehingga

terjadi kontraksi otot rahim. Pemberian prostaglandin langsung secara

langsung dapat meningkatkan kontraksi otot rahim. Prostaglandin

merupakan obat yang cukup mahal, sedangkan induksi persalinan

dengan oksitosin murah dan efektif (Manuaba 2010). oksitosin yang berbeda-beda untuk dipatuhi (Varney, 2007). Menurut
dengan oksitosin murah dan efektif (Manuaba 2010).
oksitosin yang berbeda-beda untuk dipatuhi (Varney, 2007).
Menurut
Manuaba
(2007),
metode
drip
oksitosin
dilakukan sebagai berikut.
1)
Sebaiknya dilakukan pada malam harinya ibu masuk rumah sakit
2)
Dapat diberikan laksan/ enema

Dosis, interval penambahan, dan lama pemberian masih banyak

diperdebatkan dan kemungkinan bervariasi menurut usia kehamilan,

paritas, dan skor serviks. Setiap klinik mempunyai protokol pemberian

dapat

3)

Dipasang infus dekstros 5% atau ringer laktat dengan 5 unit

oksitosin.

4)

Tetesan pertama antara 8 – 12 tetes per menit dengan perhitungan

setiap

tetesan

mengandung

0,0005

unit

sehingga

dengan

pemberian

12

tetes/menit

terdapat

oksitosin

sebanyak

0,006

unit/menit.

5)

Setiap 15 menit dilakukan penilaian, jika tidak terdapat his yang

adekuat,

jumlah

tetesan

ditambah

4

tetes,

sampai

maksimal

mencapai 40 tetes per menit atau 0,02 unit oksitosin/menit.

25

6)

Tetesan maksimal dipertahankan dalam 2 kali pemberian 500 cc

dekstros 5%.

7)

Jika sebelum tetesan ke-40, sudah timbul kontraksi otot rahim

yang adekuat, tetesan terakhir dipertahankan, sampai persalinan

berlangsung.

8) Dalam literatur dikemukakan juga, bahwa pemberian oksitosin maksimal setiap menit adalah sekitar 30-40 mIU
8)
Dalam literatur dikemukakan juga, bahwa pemberian oksitosin
maksimal setiap menit adalah sekitar 30-40 mIU atau tetesan
sebanyak 40 tetes per menit dengan oksitosin sebanyak 10 IU.
Komplikasi pada induksi persalinan dengan oksitosin antara lain
adalah sebagai berikut.
1)
Pecahnya vasa previa dengan tanda perdarahan dan diikuti fetal
distress, darah merah segar.
2)
Prolapsus bagian kecil janin terutama tali pusat.
3)
Gejala terjadinya ruptur uteri immenens atau ruptur uteri.

4)

Terjadinya fetal distress karena gangguan sirkulasi retro-plasenta

pada tetani uteri atau solusio plasenta (Manuaba 2007).

Oksitosin merupakan obat yang kuat yang dapat mengakibatkan

ruptur uteri yang berkaitan dengan cedera ibu dan janin ataupun

kematian. Namun dilaporkan saat ini ruptur uteri yang berkaitan

dengan pemakaian oksitosin jarang dijumpai bahkan pada wanita para,

kecuali bila terdapat jaringan parut di uterus (Cunningham, 2013).

Induksi persalinan untuk kehamilan antara 41 dan 42 minggu

kehamilan telah terbukti mengurangi tingkat sectio caesarea dengan

26

penurunan

kematian

perinatal

dan

morbiditas

bila

dibandingkan

dengan manajemen kehamilan (Delaney, M., Roggensack, A, 2008).

B. Teori Manajemen Kebidanan

1. Penerapan Tujuh Langkah Varney

Ketujuh langkah Langkah I : Pengumpulan Data Dasar Dalam pengumpulan data dasar ada dua tipe:
Ketujuh langkah
Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Dalam pengumpulan data dasar ada dua tipe:
1)
Data Subjektif
Data
subjektif
ini
berisi
biodata,
riwayat
kesehatan,
riwayat
kehamilan,
biopsikososiospiritual, dan pengetahuan klien.
a) Biodata atau identitas

ini mewakili seluruh lingkup kerja yang bersifat

perencanaan mandiri dan terdiri dari :

a.

riwayat

menstruasi,

dan

nifas,

persalinan,

Nama untuk mengetahui nama klien dan suami. Umur

untuk

mengetahui

faktor

risiko

kehamilan.

Agama

untuk

memberikan motivasi sesuai agama yang dianut. Suku/bangsa

untuk mengetahui faktor ras. Pendidikan untuk menyerasikan

dalam pemberian KIE. Pekerjaan untuk mengetahui tingkat

ekonomi. Alamat untuk mendapatkan gambaran tempat tinggal.

b) Keluhan Utama

Ditanyakan untuk mengetahui alasan utama klien datang,

apakah

untuk

memeriksakan

kehamilan

atau

untuk

27

memeriksakan keluhan lain. Biasanya keluhan utama pasien

dengan

postdate

adalah

belum

merasakan

tanda-tanda

persalinan

dan

kehamilannya

melebihi

tanggal

perkiraan

(Mufdlilah, 2009).

c) Riwayat Kebidanan

(1) Riwayat menstruasi: umur saat (HPL) (2) Riwayat kehamilan sekarang: meliputi penatalaksanaan dan terapi yang
(1) Riwayat
menstruasi:
umur
saat
(HPL)
(2) Riwayat
kehamilan
sekarang:
meliputi
penatalaksanaan dan terapi yang diberikan.

Menurut Varney (2007) yang perlu dikaji antara lain :

menarche,

frekuensi:

rentang jika tidak teratur, lama, jumlah darah yang keluar,

karakteristik darah yang keluar, hari pertama menstruasi

terakhir (HPMT) untuk menentukan hari perkiraan lahir

antenatal

care

(ANC) yaitu tempat dan frekuensi, keluhan, gerakan janin,

(3) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu: berapa

kali

hamil,

kehamilannya,

melahirkan,

berapa

umur

apakah

pernah

mengalami

dari

setiap

kehamilan

postdate atau tidak, bagaimana cara persalinannya, dimana

 

dan

ditolong

oleh

siapa,

apakah

ada

penyulit

dalam

persalinan terdahulu.

 

d)

Data Biopsikososiospiritual

 

Data psikologi perlu

dikaji

untuk

mengetahui

respon

ibu terhadap kehamilan lewat waktu yang ia alami, apakah ibu

28

mengeluh

cemas

terhadap

persalinan

dan

janin,

hubungan

sosial

antara

pasien

dalam

keluarga

perlu

dikaji

untuk

mengetahui

hubungan

dalam

keluarga

tersebut,

dukungan

keluarga akan meningkatkan rasa nyaman serta menumbuhkan

rasa percaya diri pada pasien.

2) Data Objektif yang kurang dan tidak adanya his. a) Pemeriksaan Umum b) Pemeriksaan Khusus
2)
Data Objektif
yang kurang dan tidak adanya his.
a) Pemeriksaan Umum
b) Pemeriksaan Khusus (Fisik)
Pengkajian
lainnya
adalah

pemeriksaan

Pada kasus kehamilan postdate ditemukan gerakan janin

Dilakukan untuk mengetahui keadaan umum, kesadaran,

tinggi badan, berat badan, pengukuran vital sign yang meliputi

tekanan darah, suhu, nadi dan respirasi (Varney, 2007).

fisik,

yang

bertujuan untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan bayinya,

serta tingkat kenyamanan fisik ibu bersalin. Hasil yang didapat

dari pemeriksaan fisik dan anamnesis dianalisis untuk membuat

keputusan klinis, menegakkan diagnosis, dan mengembangkan

rencana asuhan atau perawatan yang paling sesuai dengan

kondisi ibu (Sondakh, 2013). Jenis pemeriksaan khusus pada

kehamilan postdate meliputi :

29

(1) Palpasi

Pada

pasien

hamil

postdate

dilakukan

palpasi

abdomen meliputi pemeriksaan Leopold dan kontraksi

Leopold I

:

diraba

berapakah

tinggi fundus uterus

dan

bagian

apakah

yang

terdapat

di

fundus. Leopold II : menentukan batas samping uterus, diraba bagian-bagian yang berada disebelah kanan dan
fundus.
Leopold II
: menentukan batas samping uterus, diraba
bagian-bagian yang berada disebelah kanan
dan kiri untuk menentukan letak punggung
dan bagian kecil janin.
Leopold III
: menentukan bagian terbawah janin.
Leopold IV
: meraba seberapa dalam bagian bawah janin
sudah masuk pintu atas panggul.
Kontraksi
:
menghitung jumlah, lama dan intensitas

his dalam waktu tertentu.

(2) Auskultasi

Pada kasus postdate, denyut jantung janin akan

terdengar teratur apabila kondisi janin baik atau tidak

teratur jika terjadi gawat janin saat pemeriksaan secara

auskultasi dengan doppler atau leanec (Sofian, 2011).

3)

Data Penunjang

Ketetapan

usia

gestasi

sebaiknya

pemeriksaan

ultrasonografi

(USG)

pada

mengacu

pada

hasil

trimester

pertama.

30

Kesalahan perhitungan dengan rumus Naegele dapat mencapai

20%. Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial terutama sejak

trimester

pertama,

hampir

dapat

dipastikan

usia

kehamilan.

Pemeriksaan sesaat setelah kehamilan trimester III dapat dipakai

b.

untuk

menentukan

berat

janin,

keadaan

air

ketuban,

ataupun

keadaan plasenta yang sering berkaitan dengan postdate, tetapi sukar untuk memastikan usia (Saifuddin, 2014).
keadaan
plasenta
yang
sering
berkaitan
dengan
postdate,
tetapi
sukar
untuk
memastikan
usia
(Saifuddin, 2014).
Langkah II: Interpretasi Data Dasar
dengan postdate.

kehamilan

kehamilan

Diagnosa kebidanan pada pasien bersalin dengan postdate:

Ny.X GxPxAx umur x tahun, hamil x minggu, janin tunggal, hidup

intrauterin, letak janin memanjang, punggung kanan/kiri, presentasi

kepala, bagian terbawah masuk x bagian, belum dalam persalinan

Masalah

yang

mungkin

timbul

pada

ibu

bersalin

dengan

postdate adalah cemas karena kecemasan terhadap kehamilan yang

dialaminya, keadaan janinnya dan tentang proses persalinan yang akan

dihadapinya (Fadlun, 2011).

Kebutuhan dalam menghadapi rasa cemas pada ibu bersalin

dengan postdate adalah memberikan konseling mengenai rasa cemas

sebagai cara untuk mengatasi rasa takut dan memberikan dukungan

emosional (Varney, 2007).

31 c. Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa Potensial dan Mengantisipasi Penanganannya Pada kasus ibu bersalin
31
c.
Langkah III
:
Mengidentifikasi
Diagnosa
Potensial
dan
Mengantisipasi Penanganannya
Pada kasus ibu bersalin dengan induksi atas indikasi kehamilan
postdate diagnosa potensialnya adalah:
1) Pada ibu
: partus lama, ruptur uteri, distosia, perdarahan
postpartum
2) Pada janin
: Intra Uterin Fetal Death (IUFD), gawat janin,
distosia bahu.
Antisipasi
penanganannya
adalah
dengan
mengobservasi
kemajuan persalinan, his, DJJ, gerak janin (Sofian, 2012).
d.
Langkah IV : Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera
Pada
langkah
ini
bidan
menetapakan
kebutuhan
terhadap
tindakan segera, melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain
berdasarkan
kondisi
klien.
Tindakan
langsung
pada
ibu
dengan
kehamilan postdate adalah kolaborasi dengan dokter Sp.OG dalam
pemberian terapi (induksi) dan mempercepat persalinan dengan sectio
caesarea apabila induksi gagal, terjadi gawat janin, atau partus lama
(Sofian, 2012).
e.
Langkah V: Menyusun Rencana Asuhan yang Menyeluruh

Rencana asuhan pada ibu bersalin dengan induksi atas indikasi

postdate antara lain:

1)

Beritahu hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga.

32

3)

Observasi DJJ (denyut jantung janin) dan his tiap 30 menit atau

apabila ada indikasi.

4)

Observasi pengeluaran pervaginam.

5)

Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks dan

f.

kemajuan persalinan.

6) Berikan asupan nutrisi. 7) persalinan. 8) 9) Anjurkan ibu tidur miring ke kiri. 10)
6)
Berikan asupan nutrisi.
7)
persalinan.
8)
9)
Anjurkan ibu tidur miring ke kiri.
10) Berikan KIE dan support mental.
Aman

Lakukan informed consent dengan keluarga untuk tindakan induksi

Kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk pemberian induksi atau

tindakan SC apabila induksi gagal, gawat janin atau partus lama.

Langkah VI : Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan

Penatalaksanaan

asuhan

ibu

bersalin

dengan

induksi

atas

indikasi postdate dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dibuat

dan menerapkan prinsip-prinsip Asuhan Sayang Ibu dan Bayi seperti

memberikan

support

mental

pada

ibu,

mengijinkan

keluarga

mendampingi

ibu

selama

persalinan,

mempersilakan

ibu

memilih

sendiri posisi bersalin senyaman mungkin, rawat gabung antara ibu

dan bayi, serta mengajarkan ibu cara pemberian ASI yang benar pada

bayi.

g. Langkah VII : Evaluasi

33

Hasil evaluasi yang diharapkan pada ibu bersalin dengan induksi

atas

indikasi

postdate

adalah

terjadi

kemajuan

persalinan,

proses

persalinan berjalan dengan lancar, ibu serta bayi sehat dan selamat.

2. Follow Up Data Perkembangan Kondisi Pasien

Tujuh pemikiran penatalaksanaan kebidanan sebagai kehamilan postdate, antara lain:
Tujuh
pemikiran
penatalaksanaan
kebidanan
sebagai
kehamilan postdate, antara lain:

Langkah Varney disarikan menjadi 4 langkah yaitu SOAP

(Subjektif, Objektif, Analisis, Penatalaksanaan). SOAP disarikan dari

perkembangan

proses

catatan kemajuan keadaan klien.

a. S : Subjektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien

melalui anamnesa sebagai langkah I Varney, meliputi identitas, keluhan

utama, riwayat kebidanan, serta data psikososial. Data subjektif untuk

1)

Belum

merasakan

tanda-tanda

persalinan

dan

kehamilannya

melebihi tanggal perkiraan (Mufdlilah, 2009).

 

2)

Ibu

dan

keluarga

menjadi

cemas

bilamana

kehamilan

terus

berlangsung melewati taksiran persalinan (Fadlun, 2011).

b. O : Objektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan klien, hasil

laboratorium,

dan

tes

diagnostik

berupa

pemeriksaan

USG

yang

dirumuskan

dalam

data

fokus

untuk

mendukung

asuhan

sebagai

34

langkah I Varney. Data objektif untuk pasien bersalin dengan postdate,

c.

antara lain:

1)

Hamil postdate bisa didapatkan berat badan yang bertambah dan

ada pula yang mengalami penurunan berat badan

(Nugroho,

2012).

2) (Nugroho, 2012). A : Analisis GxPxAx umur x tahun, hamil x minggu, janin kepala,
2)
(Nugroho, 2012).
A : Analisis
GxPxAx umur x tahun, hamil x minggu, janin
kepala,
bagian
terbawah
masuk x
bagian,
inpartu

Pergerakan janin, pada kasus postdate ditemukan gerak janin yang

jarang, secara subyektif kurang dari 7 kali / 20 menit atau secara

obyektif dengan kardiotopografi kurang dari 10 kali / 20 menit

Analisis kebidanan pada pasien bersalin dengan postdate: Ny.X

hidup

tunggal,

intrauterin, letak memanjang, punggung kanan/kiri, presentasi belakang

dengan

kala x

postdate.

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan

interpretasi

data subjektif dan objektif dalam identifikasi kasus ibu bersalin dengan

induksi atas indikasi postdate:

1. Diagnosa/masalah : pada ibu dapat terjadi partus lama, perdarahan,

ruptur uteri, sedangkan pada bayi mungkin terjadi IUFD, gawat

janin maupun distosia bahu.

2. Antisipasi

diagnosa/masalah

persalinan, his, DJJ.

dengan

mengobservasi

kemajuan

 

35

3.

Perlunya

tindakan

segera

oleh

bidan

atau

dokter,

konsultasi/kolaborasi untuk pemberian induksi dan atau

rujukan

sebagai langkah 2, 3, dan 4 Varney.

d. P : Penatalaksanaan

Menggambarkan

pendokumentasian dari perencanaan, tindakan

berdasarkan analisis sebagai langkah 5, 6, dan 7 Varney. (KepMenKes RI No : 938/MENKES/SK/VII/2007)
berdasarkan analisis sebagai langkah 5, 6, dan 7 Varney.
(KepMenKes RI No : 938/MENKES/SK/VII/2007)

implementasi dan evaluasi pada kasus ibu bersalin dengan postdate