Anda di halaman 1dari 22

PERGERAKAN HERBISIDA DALAM TANAH

(Laporan Praktikum Herbisida dan Lingkungan)

Oleh

Kelompok 7

Dwi Saputra 1514121097


Rosa Nintania 1514121102
Ima Kurnia 1514121143
Muhammad Fajrin Najib 1514121172

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Herbisida bersifat racun terhadap gulma atau tumbuhan penganggu juga terhadap
tanaman. Herbisida yang diaplikasikan dengan dosis tinggi akan mematikan
seluruh bagian dari jenis tumbuhan. Pada dosis yang lebih rendah, herbisida akan
membunuh tumbuhan dan tidak merusak tumbuhan yang lainnya. Pencucian
adalah gerakan herbisida dengan air biasanya ke bawah, namun tidak selalu ke
bawah, yaitu ke strata tanah yang lebih dalam. Adsorpsi merupakan salah satu
proses yang terjadi pada aplikasi herbisida dalam tanah (Riadi, 2011).

Laju degradasi herbisida dalam tanah dipengaruhi oleh faktor tanah, iklim,
tumbuhan, serta sifat kimia herbisida. Sifat herbisida yang dicirikan dengan sifat
kimia herisida akan bervariasi dalam hal daya larut dalam air, adsorpsi tanah,
tekanan uap, dan kepekatan degradasi secara kimia dan mikroba. Dosis herbisida
juga merupakan hal yang menjadi faktor yang mempengaruhi laju degradasinya.
Laju degradasi herbisida proporsional dengan dosis yang diberikan. semakin
sedikit dosis herbisida yang diberikan akan semakin cepat terdekomposisi melalui
cahaya atau semakin cepat terdegradasi oleh mikrobia (Riadi, 2011).

Herbisida semakin meningkat setiap tahun seiring dengan usaha peningkatan


produksi pertanian. Kontak antara partikel tanah dan molekul herbisida dapat
terjadi dengan beberapa cara seperti pencucian, laju degradasi, dan adsorpsi
(Tjitrosoedirdjo et al, 1984). Dari penggunaannya secara terus-menerus
diasumsikan akan ada residu herbisida tersebut dalam tanah, sehingga kita perlu
mengetahui keberadaan herbisida tersebut dalam tanah agar selanjutnya dapat
memperkirakan penggunaan herbisida dilahan yang sama selanjutnya.
Dalam praktikum ini digunakan metode kolom tanah dan menggunakan pot untuk
mengukur tanggap organisme hidup dalam menentukan keberadaan atau
konsentrasi bahan kimia pada suatu contoh.

I.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah:


1. Mahasiswa dapat mengamati dan mengukur seberapa banyak herbisida yang
diaplikasikan pada permukaan tanah akan bergerak kebawah menuju lapisan
tanah yang lebih dalam.
2. Memahami perbedaan pola pergerakan karena perbedaan sifat dan jenis
herbisida serta perbedaan jenis tanah.
II. TINJAUN PUSTAKA

2.1 Herbisida

Herbisida merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan,


mematikan, atau menghambat pertumbuhan gulma tanpa mengganggu tanaman
pokok (Sukman, 2002). Sedangkan menurut Riadi (2011) herbisida merupakan
suatu bahan atau senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat
pertumbuhan atau mematikan tumbuhan Herbisida dapat mempengaruhi satu atau
lebih proses-proses (seperti pada proses pembelahan sel, perkembangan jaringan,
pembentukan klorofil, fotosintesis, respirasi, metabolisme nitrogen, aktivitas
enzim dan sebagainya) yang diperlukan tumbuhan untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya.

2.2 Bahan Aktif Glifosat

Glifosat adalah bahan aktif yang bersifat non-selektif, pasca tumbuh, sistemik,
organofosfat herbisida, diserap oleh dedaunan dengan translokasi cepat keseluruh
jaringan daun. Tersedia hanya sebagai produk aktif tunggal tetapi dari sejumlah
sumber yang berbeda. Dalam produk biasanya berbentuk garam dan secara umum
dalam artian cair, produk yang diformulasikan akan lebih bersifat toksik daripada
bahan aktif (The Herbicide Handbook,2003).

Glifosat terdegradasi sangat cepat di sebagian matriks tanah. Ketika pemakaian


bahan glifosat, perawatan pada tanah harus dilakukan untuk meminimalkan efek
di daerah non-target, karena ketika herbisida disemprotkan akan ada yang
menguap/melayang diudara. Ketika digunakan dalam situasi tanah banyak air,
harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada baik dari dosis dan lain-lain
agar dampak yang merugikan dapat berkurang. Memiliki nilai LD50 = 5000 mg
kg-1 untuk tikus dan DT50 = ≤ 14 hari (The Herbicide Handbook,2003).
Cara kerja glifosat adalah menghambat kerja enzim 5-enolpyruvil-shikimate-3-
phosphate-sintase (EPSPS). Belakangan diketahui bahwa glifosat juga dapat
membunuh bakteri, karena sebagian besar dari bakteri mempunyai enzim EPSSPS
(Wiersema, Burns dan Hershberger, 1999 dalam Wardoyo, S, dkk, 2001).
Penggunaan herbisida glifosat terus meningkat sejak dikembangkannya program
budidaya pertanian olah tanah konservasi (OTK) di lahan kering tahun 1987,
sejalan dengan upaya peningkatan produksi pangan, serat dan bahan mentah hasil
pertanian lainnya. Penggunaan herbisida dilakukan secara terus-menerus dua kali
setiap menjelang musim tanam.

2.3 Bioassay

Bioassay telah dilaporkan dapat digunakan sebagai salah satu metode deteksi
herbisida paraquat dan glifosat dalam tanah dan air dengan cukup akurat seperti
dilaporkan oleh Sriyani (2007 dalam Sriyani dan Salam, 2008). Bioassay adalah
suatu metode yang mengukur tanggap suatu organisme hidup untuk menentukan
keberadaan atau konsentrasi bahan kimia pada suatu contoh.

Residu herbisida dalam tanah dan air dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan
kesehatan bagi manusia dan hewan serta dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman budidaya pada musim berikutnya, seperti telah dilaporkan oleh Foy et al.
(1996 dalam Sriyani dan Salam, 2008). Kurva standar adalah garis hubungan
antara pertumbuhan tanaman indikator sebagai tanggap terhadap jumlah herbisida
yang diaplikasikan. Pada tahap kedua telah dilakukan uji keakuratan metode
bioassay dalam mendeteksi jumlah herbisida dalam tanah dan air (Sriyani, 2007
dalam Sriyani dan Salam, 2008).

Kurva standar didapatkan dengan membuat regresi linier hubungan antara jumlah
herbisida sebagai aksis (x) dan pertumbuhan tanaman indikator (dalam %
terhadap kontrol) sebagai ordinat. (y). Dengan demikian didapatkan persamaan
garis y = a + bx (a adalah intersep dan b kemiringan/slope) dan nilai koefisien
determinasi (R2) dari hubungan linier tersebut. Semakin tinggi nilai R2 maka
semakin baik kurva tersebut menjelaskan hubungan antara jumlah/konsentrasi
herbisida dan pertumbuhan tanaman. Dalam penelitian ini, kurva regresi dengan
nilai R2>0.90 yang akan dipakai sebagai kurva standar dalam metode bioassay
untuk mendeteksi herbisida (Hollaway et al., 1999 dalam Sriyani dan Salam,
2008).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu pot plastik dan kolom
Sedangkan bahan yang digunakan yaitu tanah, pasir, benih mentimun, air, dan
herbisida Sidalaris 240 SL berbahan aktif glifosat.

3.2 Cara Kerja

Metodologi praktikum yang dilakukan yaitu :

1. Disiapkan tanah kering udara dan pasir


2. Diisi subkolom dengan media pasir dan tanah sampai penuh, namun bagian
bawahnya dilapisi dengan kertas merang sedangkan bagian atas dibiarkan
terbuka.
3. Dilembabkan subkolom sampai kapasitas lapang dengan cara direndam
kedalam ember yang berisi air.
4. Disusun subkolom menjadi satu kolom, kemudian diberi tanda bagian yang
ada di atas, tengah, dan bawah.
5. Diaplikasikan herbisida yang telah ditentukan.
6. Dibiarkan kolom dalam posisi tegak selama seminggu.
7. Dilakukan penyiraman pada tiap kolom
8. Satu minggu setelah aplikasi kolom dibongkar kemudian ditanam benih
tanaman indicator.
9. Diletakkan subkolom yang telah ditanami diruang perumbuhan.
10. Dilakukan penyiraman pada kolom yang berisi tanaman indicator.
11. Dilakukan pemanenan tanaman indikator pada 7 HST
12. Dilakukan pengamatan dan pengukuran yaitu panjang tajuk, panjang akar, dan
bobot basah tanaman indicator

Pembuatan kurvas standar untuk bioassay:

1. Disiapkan 20 pot yaitu 10 pot berisi tanah kering udara dan 10 pot berisi pasir
2. Disiapkan seri larutan herbisida untuk uji bioassay.
3. Pada masing-masing pot dicampurkan sejumlah herbisida dengan konsentrasi
0 ppm, 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1,0 ppm dan 10 ppm..
4. Masing-masing herbisida diulang 2 kali.
5. Ditanam tanaman indikator sebanyak 3 tanaman.
6. Diletakan pot pada ruang pertumbuhan.
7. Dilakukan penyiraman pada pot.
8. Dilakukan pemanenan pada tanaman indicator pada 7 HST.
9. Dilakukan pengamatan dan pengukuran yaitu panjang tajuk, panjang akar, dan
bobot basah tanaman indikator.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Berikut data pengamatan yang telah diperoleh:

Tabel 1.1 Panjang Tajuk Pada Pot Media Tanah


Panjang Tajuk (cm)
No Kurva Standar
Ulangan 1 Ulangan 2 Ʃ Rerata

1 0 PPM 6,05 6,3 12,35 6,175


2 0.01 PPM 6,45 6 12,45 6,225
3 0.1 PPM 6,05 6,6 12,65 6,325
4 1.0 PPM 4,9 5,75 10,65 5,325
5 10 PPM 5,5 5,85 11,35 5,675

Tabel 1.2 Panjang Akar Pada Pot Media Pasir


Panjang Akar (cm)
No Kurva Standar
Ulangan 1 Ulangan 2 Ʃ Rerata

1 0 PPM 5,7 4,3 10 5


2 0.01 PPM 3,8 6,95 10,75 5,375
3 0.1 PPM 5,25 0 5,25 2,625
4 1.0 PPM 6,05 7,6 13,65 6,825
5 10 PPM 8 3,75 11,75 5,875
Tabel 1.3 Panjang Tajuk Pada Kolom Media Tanah
No Kurva Standar Panjang Tajuk (cm)

1 Kolom Atas (1-10 cm) 4,65


2 Kolom Tengah (11-20 cm) 4,25
3 Kolom Bawah (21-30 cm) 4,3

Tabel 1.4 Panjang Tajuk Pada Kolom Media Pasir


No Kurva Standar Panjang Tajuk (cm)

1 Kolom Atas (1-10 cm) 6


2 Kolom Tengah (11-20 cm) 4,25
3 Kolom Bawah (21-30 cm) 4,2

4.2 Pembahasan

Berdasarkan praktikumyang telah dilakukan terdapat 20 pot yang berisi media


tanah dan pasir masing-masing 10 pot, dan 6 kolom berisi media pasir dan tanah
yang masing-masing 3 kolom. Kolom dan pot ditanam 2 bibit timun sebagai
tanaman indikator. Pot yang diisi tanah, diperoleh nilai R² terbesar pada panjang
tajuk yaitu 0,492 pada konsentrasi 0,1 ppm menghasilkan panjang tajuk tertinggi
6,325 cm. Pada media pot yang diisi pasir diperoleh nilai R2 terbesar pada
panjang akar yaitu 0,490 pada konsentrasi 1 ppm menghasilkan panjang akar
tertinggi sebesar 6,825 cm.. Sedangkan pada kolom dengan media tanah, nilai R2
terbesar pada panjang tajuk 0,644 dengan kolom bagian atas panjang tajuk
tertinggi yaitu 4,65 cm. Kolom dengan media pasir nilai R2 terbesar pada panjang
tajuk yaitu 0,770 dengan kolom bagian atas panjang tajuk tertinggi yaitu 6 cm.
Data ini menunjukkan bahwa kolom atas dengan media pasir nilai R2 paling
tinggi, maka semakin baik kurva tersebut menjelaskan hubungan antara
konsentrasi herbisida dan pertumbuhan tanaman. Hal tersebut sesuai dengan
literatur Knuuttila dan Knuuttila (1985) yang menyatakan bahwa sifat glifosat
yaitu bersifat hidrasi, sifat hidrasi ini dapat menyebabkan terhambatnya aliran
glifosat dari lapisan 1 ke lapisan bawahnya pada konsentrasi yang semakin tinggi.
Pada konsentrasi rendah, glifosat lebih mudah terinfiltrasi, sedangkan pada
konsentrasi yang lebih tinggi, sebagian dari glifosat akan tertahan oleh pori-pori
tanah. Residu glifosat mudah terdegradasi oleh mikroorgaisme apabila glifosat
tidak terjerap oleh liat (Suwardji, 2001). Pemberian dosis yang semakin
meningkat mengakibatan glifosat yang tidak terjerap oleh liat juga semakin
meningkat, karena kemampuan liat untuk menjerap glifosat terbatas. Sehingga
degradasi glifosat oleh mikroorganisme meningkat.

Biossay adalah suatu metode yang mengukur tanggap suatu organisme atau untuk
menentukan keberadaan atau konsentrasi bahan kimia pada suatu contoh. Sriyani
(2007) menyatakan bahwa teknik bioassay dapat digunakan sebagai salah satu
metode deteksi herbisida glifosat dalam tanah dan air dengan cukup akurat.
Kurva standar adalah garis hubungan antara pertumbuhan tanaman indikator
sebagai tanggap terhadap jumlah herbisida yang diaplikasikan. Pada tahap kedua
telah dilakukan uji keakuratan metode bioassay dalam mendeteksi jumlah
herbisida dalam tanah dan air (Sriyani, 2007).

Manfaat pergerakan herbisida yaitu mengetahui herbisida yang apabila di


aplikasikan pada berbagai tumbuhan akan mematikan spesies tertentu (gulma) dan
relatif tidak mengganggu tanaman lain (tumbuhan yang dibudidayakan), dan
mengetahui herbisida yang diberikan lewat tanah atau daun yang dapat mematikan
hampir semua jenis tumbuhan.
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:

1. Hubungan terbaik antara konsentrasi dan pertumbuhan tanaman pada kolom


atas media pasir yang diperoleh nilai R2 0,770 pada panjang tajuk.
2. Pemberian dosis tinggi mengakibatan glifosat tidak terjerap oleh liat, dan
akan meningkatkan degradasi glifosat oleh mikroorganisme.
3. Glifosat bersifat hidrasi yang dapat menyebabkan terhambatnya aliran
glifosat dari lapisan 1 ke lapisan bawahnya pada konsentrasi yang semakin
tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

Knuuttila, P. And H. Knuuttila. 1985. Molecular and Crystaline Structure


Glyphosate. pp. 18-22. In. E. Grossbard and D. Atkinson. The herbicide
glyphosate. Butterwprths Co. London.

Riadi.2011. Mata Kuliah: Herbisida Dan Aplikasinya. Bahan Ajar 2011.


Universitas Hasanuddin. Makassar.

Sukmana, Yernelis. 2002. Gulma Dan Teknik Pengendaliannya. PT Raja


Grafindo Persada. Jakarta.

Suwardji. 2001. Penerapan Olah Tanah Konservasi dalam Mendukung


Agribisnis. Makalah Seminar Nasional Sehari OTK. Faperta
UPNVYogyakarta. 3 Juli 2001.

Sriyani, N. 2007. Keakuratan metode bioassay untuk mendeteksi herbisida


pascatumbuh paraquat dan glifosat dalam tanah dan air. J. Tanaman Trop.
10(1):11-20.

Sriyani dan Salam. 2008. Penggunaan Metode Bioassay untuk Mendeteksi


Pergerakan Herbisida Pascatumbuh Paraquat dan 2,4-D dalam Tanah. J.
Tanah Trop., Vol. 13, No. 3, 2008: 199-208 ISSN 0852-257X.

The Herbicide Handbook: Guidance on the use of herbicides on nature


conservation sites 2003.pdf

Tritrosoedirdjo, Soekisman. Utomo, Is Hidajat. Wiroatmodjo, Joedojono.


1984.Pengolahan Gulma Di Perkebunan. Gramedia. Jakarta.

Wardoyo,S. 2001. Distribusi Herbisida Glifosat Di Dalam Tanah Dan


Pengaruhnya Terhadap Ciri Tanah Serta Pertumbuhan Kedelai.
J.II.Pert.Indon.Vol.10(2).2001.
LAMPIRAN
Kelompok : 7 (Tujuh)
Bahan Aktif/Nama Dagang Herbisida : Glifosat/ Sidalaris
Media : Tanah
Tanaman Indikator : Timun
Tgl/HST : 11 Mei 2018

Panjang Tajuk (Cm)


Kurva
No Ulangan Ulangan
Standar Rerata
1 2 Ʃ

1 0 PPM 6,05 6,3 12,35 6,175

2 0.01 PPM 6,45 6 12,45 6,225

3 0.1 PPM 6,05 6,6 12,65 6,325

4 1.0 PPM 4,9 5,75 10,65 5,325

5 10 PPM 5,5 5,85 11,35 5,675

Panjang Akar (Cm)


Kurva
No Ulangan Ulangan
Standar Rerata
1 2 Ʃ

1 0 PPM 5,3 7,4 12,7 6,35

2 0.01 PPM 5,5 6,5 12 6

3 0.1 PPM 7,1 8,2 15,3 7,65

4 1.0 PPM 7,5 6,8 14,3 7,15

5 10 PPM 6,55 5 11,55 5,775

Kurva Bobot Basah (gr)


No
Standar Ulangan 1 Ulangan 2 Ʃ Rerata

1 0 PPM 0,53 0,54 1,07 0,535

2 0.01 PPM 0,52 0,7 1,22 0,61

3 0.1 PPM 0,66 0,67 1,33 0,665

4 1.0 PPM 0,6 0,51 1,11 0,555

5 10 PPM 0,6 0,56 1,16 0,58


Bahan Aktif/Nama Dagang Herbisida : Glifosat/ Sidalaris
Media : Pasir
Tanaman Indikator : Timun
Tgl/HST : 11 Mei 2018

Panjang Tajuk (Cm)


Kurva
No Ulangan Ulangan
Standar Rerata
1 2 Ʃ

1 0 PPM 5,65 4,4 10,05 5,025

2 0.01 PPM 4,1 4,85 8,95 4,475

3 0.1 PPM 4,2 0 4,2 2,1

4 1.0 PPM 4 5,65 9,65 4,825

5 10 PPM 4,55 3,75 8,3 4,15

Panjang Akar (Cm)


Kurva
No Ulangan Ulangan
Standar Rerata
1 2 Ʃ

1 0 PPM 5,7 4,3 10 5

2 0.01 PPM 3,8 6,95 10,75 5,375

3 0.1 PPM 5,25 0 5,25 2,625

4 1.0 PPM 6,05 7,6 13,65 6,825

5 10 PPM 8 3,75 11,75 5,875

Kurva Bobot Basah (gr)


No
Standar Ulangan 1 Ulangan 2 Ʃ Rerata

1 0 PPM 0,45 0,55 1 0,5

2 0.01 PPM 0,61 0,58 1,19 0,595

3 0.1 PPM 0,52 0 0,52 0,26

4 1.0 PPM 0,47 0,55 1,02 0,51

5 10 PPM 0,52 0,24 0,76 0,38


Panjang Tajuk TI pada Pot
Media Tanah
6.5
6.325

Panjang Tajuk (cm)


6.175 6.225 y = -0.19x + 6.515
6 R² = 0.4925
5.675 Panjang Tajuk
5.5
5.325
5 Linear (Panjang
Tajuk)
4.5
0 ppm 0,01 0,1 1 ppm 10
ppm ppm ppm

Panjang Akar TI pada Pot Media


Tanah
10
Panjang Akar (cm)

7.65 7.15 y = 6.585


Panjang Akar
6.35 6 5.775 R² = 0
5
Linear (Panjang
Akar)
0
0 0.01 0.1 1 10

Bobot Basah TI pada Pot Media


Tanah
0.7
0.665
0.61
Bobot Basah (gram)

0.6
0.535 0.555 0.58
y = 0.0035x + 0.5785
0.5 R² = 0.0118
Bobot Basah
0.4
0.3
Linear (Bobot
0.2
Basah)
0.1
0
0 0.01 0.1 1 10
Panjang Tajuk TI pada Pot Media
Pasir
6

Panjang Tajuk (cm) 5 5.025


4.475
4.825 y = -0.14x + 4.955
4 4.2 4.15
R² =Panjang
0.3332 Tajuk
3
2 Linear (Panjang
1 Tajuk)
0
0 0.01 0.1 1 10

Panjang Akar TI pada Pot Media


Pasir
8
6.825
Panjang Akar (cm)

6 y = 0.32x + 4.705
5.875
5.375 5.25 R² =Panjang
0.4904 Akar
5
4
Linear (Panjang
2 Akar)

0
0 0.01 0.1 1 10

Bobot Basah TI pada Pot Media


Pasir
0.7
0.6 0.595
Bobot Basah (gram)

0.5 0.5 0.52 0.51 y = -0.0325x + 0.5985


R² = 0.4416
Bobot Basah
0.4 0.38
0.3
Linear (Bobot
0.2 Basah)
0.1
0
0 0.01 0.1 1 10
Panjang Tajuk TI pada Kolom
Media Tanah
4.8 y = -0.175x + 4.75
Panjang Tajuk (cm) 4.6 4.65 R² = 0.6447
4.4 Panjang Tajuk (Cm)
4.25 4.3
4.2
Linear (Panjang
4
Tajuk (Cm))
Kolom Atas Kolom Kolom
(1-10 cm) Tengah (11- Bawah (21-
20 cm) 30 cm)

Panjang Akar TI pada Kolom


Media Tanah
5
4.7 4.55
Panjang Akar (cm)

4 3.85 y = 0.35x + 3.6667


R² = 0.5951
3
Panjang Akar (Cm)
2
1 Linear (Panjang
Akar (Cm))
0
Kolom Atas Kolom Kolom
(1-10 cm) Tengah (11- Bawah (21-
20 cm) 30 cm)

Bobot basah TI pada Kolom


Media Tanah
0.9
0.8 0.78
Bobot Basah (gram)

0.7
0.66 y = 0.065x + 0.5267
0.6 R² = 0.2703
0.5 0.53
Bobot basah (gr)
0.4
0.3
0.2 Linear (Bobot basah
0.1 (gr))
0
Kolom Atas Kolom Kolom
(1-10 cm) Tengah (11- Bawah (21-
20 cm) 30 cm)
Panjang Tajuk TI pada Kolom
Media Pasir
7
Panjang Tajuk (cm) 6 6 y = -0.9x + 6.6167
5 R² = 0.7708
4 4.25 4.2
Panjang Tajuk (Cm)
3
2
1 Linear (Panjang
0 Tajuk (Cm))
Kolom Atas Kolom Kolom
(1-10 cm) Tengah (11- Bawah (21-
20 cm) 30 cm)

Panjang Akar TI pada Kolom


Media Pasir
7 y = -0.8x + 6.0667
6 R² = 0.4773
lPanjang Akar (cm)

5.75
5
4 4.15
3.5 Panjang Akar (Cm)
3
2
Linear (Panjang Akar
1
(Cm))
0
Kolom Atas Kolom Kolom
(1-10 cm) Tengah (11- Bawah (21-
20 cm) 30 cm)

Bobot Basah TI pada Kolom Media


Pasir
0.7
0.6 0.6
0.57
Bobot Basah (gram)

0.5 y = 0.015x + 0.4633


R² = 0.0088
0.4
Bobot basah (Gr)
0.3 0.31
0.2 Linear (Bobot basah
0.1 (Gr))
0
Kolom Atas Kolom Kolom
(1-10 cm) Tengah (11- Bawah (21-
20 cm) 30 cm)
\