Anda di halaman 1dari 34

Laporan Kasus

Infertilitas primer e.c. adenomiosis uteri +


polipendometrium multiple + kista endometriosis bilateral

Oleh:

Fitri Aulia Dina, S.Ked 04054821719027


Febryana Ramadhani, S.Ked 04054821719030
Denara Eka Safitri, S.Ked 04054821719031
Fahmi Nur Suwandi, S.Ked 04054821719032
Hendri Fauzik, S.Ked 04011181320021
Nabilla Maharani Gumay, S.Ked 04054821719037
Esty Risa Mubarani, S.Ked 04054821719035
Pembimbing:

Dr. R. M. Aerul Cakra Alibasyah, Sp.OG (K)

BAGIAN/DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN
Pasangan infertil adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama
satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat
kontrasepsi tetapi belum hamil. Berdasarkan kejadiannya infertilitas dibagi
menjadi dua, yaitu infertilitas primer apabila istri belum pernah hamil walaupun
bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan,
sedangkan disebut sebagai infertilitas sekunder apabila istri pernah hamil, akan
tetapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan
dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan.
Infertilitas merupakan permasalahan global di bidang reproduksi
kesehatan yang sangat kompleks. Perlu penataan rasional dan terpadu. Data
menunjukkan bahwa pasangan infertil di Britain setiap tahun ada 25%, Swedia
10%. Prevalensi di dunia yang mengalami masalah fertilitas setiap tahun adalah 1
dari 7 pasangan. Pasangan infertil di Indonesia tahun 2009 adalah 50 juta
pasangan atau 15-20%. Penyebab utama infertilitas adalah, defek atau disfungsi
sperma (25-30%), kegagalan ovulasi (10-20%), kerusakan tuba akibat infeksi (10-
30%), dan infertilitas yang tidak diketahui sebabnya (15-25%). Penyebab lain
infertilitas adalah endometriosis (10-15%), kegagalan atau kurangnay frekuensi
koitus (3-4%), disfungsi atau defek mucus serviks (3-5%), abnormalitas uterus,
tuberkulosis genital, dan penyakit yang menyebabkan kelumpuhan. Infertilitas
tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Hasil penelitian
membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil,
istri 40-55%, keduanya 10%, dan idiopatik 10%
Endometriosis selama 30 tahun terakhir ini menunjukan angka kejadian
yang meningkat yaitu antara 5-15 % dapat ditemukan diantara semuaoperasi
pelvik. Endometriosis jarang didapatkan pada orang-orang Negro, dan lebih
sering didapatkan pada perempuan-perempuan dari golongan sosio-ekonomi yang
kuat, yang menarik perhatian adalah bahwa endometriosis lebih sering ditemukan
pada perempuan yang tidak kawin pada umur muda, dan yang tidak mempunyai

2
banyak anak karena fungsi ovarium secara siklis yang terus menerus tanpa
diselingi oleh kehamilan, memegang peranan dalam terjadinya endometriosis.
Penanganan endometriosis yang baik memerlukan diagnosis yang tepat.
Pengobatan secara hormonal masih merupakan pilihan utama dan beberapa
penelitimenyatakan bahwa gabungan pengobatan hormonal dengan tindakan
pembedahanmemberikan hasil yang lebih baik.

3
BAB II
STATUS PASIEN
I. IDENTIFIKASI
a. Nama : Ny. SBB
b. Umur : 33 tahun
c. Tanggal lahir : 21 April 84
d. Alamat : Desa Bukit Napuh, Kec. Bukit Sari, OKUT
e. Suku, Bangsa : Sumatera, Indonesia
f. Agama : Islam
g. Status/Pendidikan : SLTA
h. Pekerjaan : Pegawai Honorer
i. No. RM /MRS : 1028969/16 Oktober 2017

II. ANAMNESIS (Tanggal 16 Oktober 2017)


Keluhan Utama
Belum memiliki anak sejak 6 tahun yang lalu.

Riwayat Perjalanan Penyakit


Sejak ± 6 tahun SMRS Os mengeluh belum juga mengandung. Os
sudah menikah dan belum punya anak selama 6 tahun. Os mengakui
berhubungan intim dengan suaminya + 3 kali dalam seminggu. Os
mengeluh nyeri saat melakukan hubungan intim. Sejak remaja, Os mengaku
sering merasa nyeri saat menstruasi, namun tidak sampai menggangu
aktivitas. Nyeri biasanya di hari pertama menstruasi. Siklus haid teratur,
biasanya maju 3-4 hari. Tidak dijumpai adanya kelainan pada BAB dan
BAK. Os tidak memiliki riwayat infeksi. Os dan suami mengaku tidak
merokok. Kemudian Os berobat ke SpOG dan didiagnosis menderita kista
endometriosis. Os kemudian ke RSMH untuk pemeriksaan lebih lanjut dan
direncanakan operasi.

4
Riwayat Penyakit Dahulu
R/ darah tinggi (-)
R/ mengkonsumsi obat-obatan (-)
R/ kencing manis (-)
R/ keganasan (-)

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


R/ darah tinggi (-)
R/ kencing manis (-)
R/ keganasan (-)
R/ susah mengandung (-)

Status Sosial Ekonomi dan Gizi : sedang


Status Perkawinan : sudah menikah satu kali sejak
tahun 2011
Status Reproduksi : menarche usia 12 tahun, siklus haid
28 hari, teratur, lamanya 5-7 hari.
HPHT 10/09/2017 dan 5/10/2017
Status Persalinan : P0A0

III. PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 16 Oktober 2017)


PEMERIKSAAN FISIK UMUM
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB : 54 kg
TB : 160 cm
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 86x/ menit, isi/kualitas cukup, reguler
Respirasi : 18x/menit, reguler
Suhu : 36,6oC

5
PEMERIKSAAN KHUSUS
Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), edema
palpebra (-), pupil isokor 3mm, refleks cahaya
(+/+)
Hidung : sekret (-), perdarahan (-)
Mulut : Pucat (-), perdarahan di gusi (-), sianosis (-),
mukosa mulut dan bibir kering (-), fisura (-),
cheilitis (-)
Lidah : Atropi papil (-)
Faring/Tonsil : Dinding faring posterior hiperemis (-), tonsil T1-
T1, tonsil tidak hiperemis, detritus (-)
Kulit : CRT <2s
Leher
Inspeksi : JVP 5-2 mmH2O, pembesaran KGB (-)
Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Thorax
Inspeksi : simetris, retraksi intercostal, subkostal,
suprasternal (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Paru
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler (+), ronkhi (-), wheezing (-).
Jantung
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis tidak teraba, tidak ada thrill
Perkusi : Jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-).
Ekstremitas
Pucat (-), CRT <2, edema pretibial (-)

6
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
Pemeriksaan luar: datar, lemas, simetris, fundus uteri tidak teraba, massa (-),
nyeri tekan (-), TCB (-)
Pemeriksaan Dalam (Inspekulo): Portio tak livide, OUE tertutup, Fluor (+),
Fluksus (-), Sondase ±7 cm, Erosi (+), Laserasi (-), Polip (-)
Vaginal touche: portio kenyal, OUE tertutup, CUT sesuai normal, AP kanan
dan kiri lemas, CD tak menonjol.

7
IV. PEMERIKSAAN TAMBAHAN
PEMERIKSAAN USG

8
Hasil Pemeriksaan USG:
 Uterus Antefleksi,
 Endometrial Line 0,7 cm
 Tampak gambaran hiperekoik di dalam cavum uteri dengan
vaskularisasi (+) ukuran 0,93x0,84 cm kemungkinan suatu polip
endometrium multiple
 Tampak massa hiperekoik di corpus posterior ukuran 3,5x2,8 cm
batas tidak tegas kemungkinan suatu adenomiosis uteri
 Massa kistik hipoekoik batas tegas dengan echo internal di
dalamnya pada ovarium kanan ukuran 5,2x4,5 cm kemungkinan
suatu kista endometriosis dekstra
 Hepar dalam batas normal
 Kedua ginjal dalam batas normal
 Massa kistik, hipoekoik, batas tegas dengan echo interna di
dalamnya pada ovarium kiri ukuran 5,6x4,3 cm
Kesan : Adenomiosis uteri + polip endometrium multiple + kista endometriosis
bilateral + perlengketan genitalia interna

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Konvensional
Jenis Pemeriksaan Keterangan
Hasil Nilai normal
HEMATOLOGI
Hemoglobin (Hb) 13,7 g/dL 11,4-15,00 g/dL Normal
Eritrosit (RBC) 4,88 x 106/mm3 4,00-5,70x106/mm3 Normal
Leukosit (WBC) 10,00 x 103/mm3 4,73-10,89x 103/mm3 Normal
Hematokrit (Ht) 40% 35-45% Normal
Trombosit 284 x 103/L 189-436 x 103/L Normal
RDW-CV 14,00 % 11-15% Normal
Hitung jenis leukosit Normal

 Basofil 0% 0-1% Normal

9
 Eosinofil 2% 1-6% Normal

 Neutrofil 55% 50-70% Normal

 Limfosit 33% 20-40% Normal

 Monosit 10% 2-8% Meningkat


KIMIA KLINIK
HATI
Bilirubin Total 0,45 mg/dL 0,1-1,6 mg/dL Normal

Bilirubin Direk 0,16 mg/dL 0-0,2 mg/dL Normal

Bilirubin Indirek 0,29 mg/dL <0,8 mg/dL Normal

AST/SGOT 12 U/L 0-32 U/L Normal

ALT/SGPT 10 U/L 0-31 U/L Normal

Protein Total 7,6 g/dL 6,4-8,3 g/dL Normal

Albumin 4,1 g/dL 3,5-5,0 g/dL Normal

Globulin 3,5 g/dL 2,6-3,6 g/dL Normal

MET.KARBOHIDRAT
Glukosa Sewaktu 95 mg/dL <200 mg/dL Normal

LEMAK Normal

Kolesterol Total 163 mg/dL <200 mg/dL Normal

Kolesterol HDL 44 mg/dL >65 mg/dL Normal

Kolesterol LDL 108 mg/dL <100 mg/dL Normal

Trigliserida 89 mg/dL <150 mg/dL Normal

GINJAL
Ureum 19 mg/dL 16,6-48,5 mg/dL Normal

Asam Urat 4,9 mg/dL <5,7 mg/dL Normal

Kreatinin 0,7 mg/dL 0,50-0,90 mg/dL Normal

ELEKTROLIT
Kalsium (Ca) 9,3 mg/dL 8,8-10,2 mg/dL Normal

10
Natrium (Na) 144 mEq/L 135-155 mEq/L Normal

Kalium (K) 3,9 mEq/L 3,5-5,5 mEq/L Normal


96-106 mmol/L
Klorida (Cl) 110 mmol/L Meningkat
Nilai Kritis: <80 atau >120
IMUNOSEROLOGI
Penanda Tumor
79,67 U/mL 0-35 U/mL Meningkat
CA-125

V. DIAGNOSIS KERJA
Infertilitas primer e.c. adenomiosis uteri + polip endometrium multiple +
kista endometriosis bilateral.

VI. PROGNOSIS
Prognosis : dubia ad bonam

VII. TATALAKSANA (Planning / P)


a. TERAPI
Rencana Injeksi Tapros
Rencana Rongten Thoraks PA
Rencana laparoskopi kistektomi
Rencana analisa sperma setelah injeksi Tapros selesai
Rencana cek darah rutin, darah kimia

b. MONITORING
Observasi tanda vital dan nyeri

11
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi
Menurut WHO, infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan
pasangan suami-istri untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan
seksual teratur selama minimal satu tahun tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
Apabila istri belum pernah hamil sebelumnya, maka disebut infertilitas primer.
Jika terdapat riwayat hamil sebelumnya, terlepas dari hasilnya, disebut sebagai
infertilitas sekunder.
Istilah “subinfertilitas” merujuk pada kurangnya kemampuan suatu
pasangan untuk mendapatkan kehamilan utnuk etiologi yang dapat diatasi.
Pembahasan mengenai fertilitas melibatkan suami dan istri, bukan suami atau istri
saja.

3.2. Etiologi
Penyebab utama infertilitas adalah,
1. Defek atau disfungsi sperma (25-30%)
2. Kegagalan ovulasi (10-20%)
3. Kerusakan tuba akibat infeksi (10-30%)
4. Infertilitas yang tidak diketahui sebabnya (15-25%)
Penyebab lain infertilitas adalah,
1. Endometriosis (10-15%)
2. Kegagalan atau kurangnay frekuensi koitus (3-4%)
3. Disfungsi atau defek mucus serviks (3-5%)
4. Abnormalitas uterus
5. Tuberkulosis genital
6. Penyakit yang menyebabkan kelumpuhan

12
3.3 Pemeriksaan pada Pasangan Infertil
Langkah pemeriksaan pasangan infertil dirancang dengan urutan seperti dibawah
ini:
a. Anamnesis
Pada pengumpulan data dengan anamnesis akan diketahui tentang keharmonisan
hubungan keluarga, lamanya perkawinan, hubungan seksual yang dilakukan, dll.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umum untuk pasangan infertil meliputi pemeriksaan tekanan
darah, nadi, suhu tubuh, dan pernapasan. Juga dilakukan foto toraks pada kedua
pihak
c. Pemeriksaan laboratorium
Dilakukan pemeriksaan laboratorium dasar secara rutin (darah, urine lengkap,
fungsi hepar dan ginjal, gula darah). Pemeriksaan laboratorium khusus terhadap
suami meliputi pemeriksaan dan analisis sperma. Untuk pemeriksaan ini
diperlukan syarat yaitu tidak boleh berhubungan seks selama 3-5 hari, ditampung
dalam gelas, modifikasi dengan bersenggama memakai kondom yang telah dicuci
bersih, dan bahan yang ditampung harus mencapai laboratorium dalam waktu ½
sampai 1 jam, pemeriksaan setelah ejakulasi dalam waktu 2 jam di laboratorium.
Jumlah spermatozoa diharapkan minimal 20juta/ml. Pemeriksaan sperma untuk
mengetahui jumlah, volume, viskositas, bau, fruktosa, kemampuan menggumpal
dan mencair kembali.
d. Pemeriksaan Terhadap Ovulasi
Pemeriksaan ini dilakukan untuk membuktikan ovulasi (pelepasan telur).
Tindakan ini dilakukan dengan anggapan bahwa pada pemeriksaan dalam tidak
dijumpai kelainan alat kelamin wanita. Untuk membuktikan terjadi ovulasi
(pelepasan telur), dilakukan pemeriksaan suhu basal badan. Progesteron yang
dikeluarkan oleh korpus luteum dapat meningkatkan suhu basal badan, yang
diukur segera setelah bangun tidur. Dengan terjadinya ovulasi, suhu basal badan
rendah atau meningkat menjadi bifasik. Waktu perubahan tersebut dianggap

13
terjadi ovulasi, sehingga harus dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks
dengan kemungkinan hamil yang besar.
e. Pemeriksaan Terhadap Saluran Telur
Saluran telur (tuba fallopi) mempunyai fungsi yang sangat vital dalam proses
kehamilan yaitu tempat saluran spermatozoa dan ovum, tempat terjadinya
konsepsi (pertemuan sel telur dan spermatozoa), tempat tumbuh dan
berkembangnya hasil konsepsi, tempat saluran hasil konsepsi menuju rahim untuk
dapat bernidasi (menanamkan diri).
Gangguan fungsi saluran telur menyebabkan infertilitas, gangguan perjalanan
hasil konsepsi menimbulkan kehamilan di luar kandungan (ektopik) utuh atau
terganggu (pecah). Gangguan saluran tuba dapat ditandai dengan keluarnya cairan
tersebut kembali ke liang senggama.
f. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan khusus yang dilakukan untuk dapat menetapkan kelainan pada
pasangan infertil meliputi hal berikut :
g. Histeroskopi
Pemeriksaan histeroskopi adalah pemeriksaan dengan memasukkan alat optik ke
dalam rahim untuk mendapatkan keterangan tentang mulut saluran telur dalam
rahim (normal, edema, tersumbat oleh kelainan dalam rahim), lapisan dalam
rahim (situasi umum lapisan dalam rahim karena pengaruh hormon, polip atau
mioma dalam rahim) dan keterangan lain yang diperlukan.
h. Laparoskopi
Pemeriksaan laparoskopi adalah pemeriksaan dengan memasukkan alat optik ke
dalam ruang abdomen (perut), untuk mendapatkan keterangan tentang keadaan
indung telur yang meliputi ukuran dan situasi permukaannya, adanya Graaf
folikel, korpus luteum atau korpus albikans, abnormalitas bentuk, keadaan tuba
fallopi (yang meliputi kelainan anatomi atau terdapat perlekatan); keadaan
peritoneum rahim, dan sekitarnya (kemungkinan endometritis dan bekas infeksi).
Pengambilan cairan pada peritoneum untuk pemeriksaan sitologi pewarnaan dan
pembiakan.

14
i. Ultrasonografi
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sangat penting pada pasangan infertil terutama
ultrasonografi vaginal yang bertujuan mendapatkan gambaran yang lebih jelas
tentang anatomi alat kelamin bagian dalam, mengikuti tumbuh kembang folikel de
Graaf yang matang, sebagai penuntun aspirasi (pengambilan) telur (ovum) pada
folikel Graaf untuk pembiakan bayi tabung. Ultrasonografi vaginal dilakukan
pada sekitar waktu ovulasi dan didahului dengan pemberian pengobatan dengan
klimofen sitrat atau obat perangsang indung telur lainnya.
j. Uji pasca-senggama
Pemeriksaan uji pasca-senggama dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan
tembus spermatozoa dalam lendir serviks. Pasangan dianjurkan melakukan
hubungan seks di rumah dan setelah 2 jam datang ke rumah sakit untuk
pemeriksaan. Lendir serviks diambil dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan
jumlah spermatozoa yang dijumpai dalam lendir tersebut. Pemeriksaan ini
dilakukan sekitar perkiraan masa ovulasi yaitu hari ke 12, 13, dan 14, dengan
perhitungan menstruasi hari pertama dianggap ke-1. Namun hasilnya masih belum
mendapat kesepakatan para ahli.
k. Pemeriksaan hormonal
Setelah semua pemeriksaan dilakukan, apabila belum dapat dipastikan penyebab
infertilitas dapat dilakukan pemeriksaan hormonal untuk mengetahui hubungan
aksis hipotalamus, hipofise, dan ovarium. Hormon yang diperiksa adalah
gonadotropin (folicle stimulation hormon (FSH) & hormon luteinisasi (LH)) dan
hormon (esterogen, progesteron, dan prolaktin). Pemeriksaan hormonal ini dapat
menetapkan kemungkinan infertilitas dari kegagalannya melepaskan telur
(ovulasi). Semua pemeriksaan harus selesai dalam waktu 3 siklus menstruasi,
sehingga rencana pengobatan dapat dilakukan. Oleh karena itu pasangan
infertilitas diharapkan mengikuti rancangan pemeriksaan sehingga kepastian
penyebabnya dapat ditegakkan sebagai titik awal pengobatan selanjutnya.

15
Endometriosis
Endometriosis pertama kali diidentifikasi pada pertengahan abad 19 (Von
Rockitansky, 1860). Endomentriosis sering didapatkan pada peritoneum pelvis,
tetapi juga sering didapatkan pada ovarium, septum rektovaginalis, ureter, tetapi
jarang pada vesika urinaria, pericardium, dan pleura. Endometriosis merupakan
penyakit yang pertumbuhannya tergantung pada hormone estrogen. Insidensi
endometriosis sulit dikuantifikasi oleh karena sering gejalanya asimptomatis dan
pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakan diagnosis sensitifitasnya rendah.
Perempuan dengan edometriosis bisa tanpa gejala, subfertil, atau menderita rasa
sakit pada daerah pelvis terutama waktu menstruasi. Pada perempuan
endometriosis yang asimtomatis prevalensinya sekitar 2-22% tergantung pada
populasinya. Oleh karena beraitan dengan infertilitas dan rasa sakit di rongga
pelvis, prevalensinya bisa meningkat 20-50%.
1. Definisi
Endometriosis adalah jaringan ektopik (tidak pada permukaan dalam
uterus) yang memiliki susunan kelenjar atau stroma endometrium atau kedua-
duanya dengan atau tanpa makrofag yang berisi hemosiderin dan fungsinya mirip
dengan endometrium karena berhubungan dengan haid dan bersifat jinak, tetapi
dapat menyebar ke organ-organ dan susunan lainnya.
Endometriosis merupakan suatu keadaan dimana jaringan endometrium
yang masih berfungsi terdapat baik diluar endometrium kavum uteri maupun di
miometrium (otot rahim). Bila jaringan endometrium tersebut berimplantasi di
dalam miometrium disebut endometriosis interna atau adenomiosis, sedangkan
jaringan endometrium yang berimplantasi di luar kavum uteri disebut
endometriosis eksterna atau endometriosis sejati. Pembagian ini sekarang sudah
tidak dianut lagi karena baik secara patologik, klinik ataupun etiologik
adenomiosis dan endometriosis berbeda.
2. Patofisiologi
Pertumbuhan endometrium menembus membrane basalis. Pada
pemeriksaan histologis, sebagian menunjukkan pertumbuhan endometrium
menyambung ke dalam fokus adenomiosis, sebagian ada di dalam myometrium

16
dan sebagian lagi ada yang tidak tampak adanya hubungan antara permukaan
endometrium dengan focus adenomiosis. Hal ini mungkin disebabkan oleh
hubungan ini terputus oleh adanya fibrosis. Seiring dengan berkembangnya
adenomiosis, uterus membesar secara difus dan terjadi hipertrofi otot polos.
Kadang elemen kelenjar berada dalam lingkup tumor otot polos yang menyerupai
mioma. Kondisi ini disebut sebagai adenomioma. Fundus uteri merupakan tempat
yang paling umum dari adenomiosis. Pola mikroskopik dijumpai adanya pulau-
pulau endometrium yang tersebat dalam myometrium. Endometrium ektopik
dapat memperlihatkan adanya perubahan seiring dengan adanya siklus haid,
umumnya jaringan ini bereaksi dengan estrogen tapi tidak dengan progesterone.
Penyebab adenomiosis sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Emungkinan
disebabkan adanya erupsi dari membrane basalis dan disebabkan oleh trauma
berulang, persalinan berulang, operasi sesar ataupun kuretase.

17
3. Patogenesis
Sampai saat ini belum ada yang dapat menerangkan secara pasti penyebab
terjadinya endometriosis. Namun demikian beberapa ahli mencoba menerangkan
kejadian endometriosis, antara lain :
3.1 Teori implantasi dan regurgitasi (John A. Sampson)
Endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi)
melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Sudah dibuktikan bahwa dalam darah haid
ditemukan sel-sel endometrium yang masih hidup. Sel-sel yang masih hidup ini
kemudian dapat mengadakan implantasi di pelvis. Teori ini paling banyak
penganutnya, tetapi teori ini belum dapat menerangkan kasus endometriosis di
luar pelvis.
3.2 Teori metaplasia (Rober Meyer)
Endometriosis terjadi karena rangsangan pada sel-sel epitel yang berasal
dari selom yang dapat mempertahankan hidupnya di dalam pelvis. Rangsangan ini
akan menyebabkan metaplasi dari sel-sel epitel itu, sehingga terbentuk jaringan
endometrium. Secara endokrinologis, epitel germinativum dari ovarium,
endometrium dan peritoneum berasal dari epitel selom yang sama. Teori Robert
Meyer akhir-akhir ini semakin banyak ditentang. Disamping itu masih terbuka
kemungkinan timbulnya endometroisis dengan jalan penyebaran melalui darah
atau limfe, dan dengan implantasi langsung dari endometrium saat operasi.
3.3 Teori penyebaran secara limfogen (Halban)
Teori ini dikemukakan atas dasar jaringan endometrium menyebar melalui
saluran limfatik yang mendrainase rahim, dan kemudian diangkut ke berbagai
tempat pelvis dimana jaringan tersebut tumbuh secara ektopik. Jaringan
endometrium ditemukan dalam limfatik pelvis pada sampai 20% dari penderita
endometriosis.
3.4 Teori imunologik
Banyak peneliti berpendapat bahwa endometriosis adalah suatu penyakit
autoimun karena memiliki kriteria cenderung lebih banyak pada perempuan,
bersifat familiar, menimbulkan gejala klinik, melibatkan multiorgan, dan
menunjukkan aktivitas sel B-poliklonal. Di samping itu telah dikemukakan bahwa

18
danazol yang semula dipakai untuk pengobatan endometriosis yang disangka
bekerja secara hormonal, sekarang ternyata telah dipakai untuk mengobati
penyakit autoimun atas dasar bahwa danazol menurunkan tempat ikatan IgG pada
monosit, sehingga mempengaruhi aktivitas fagositik.

4. Gambaran Klinis
Aktivitas jaringan endometriosis sama halnya dengan endometrium yakni
sangat bergantung pada hormon. Aktivitas jaringan endometriosis akan terus
meningkat selama hormon masih ada dalam tubuh, setelah menopause gejala
endometriosis akan menghilang. Gejala-gejala yang dapat ditemukan pada
penyakit endomeriosis berupa :
1) Dismenorea adalah nyeri haid siklik merupakan gejala yang sering
dijumpai. Terjadi 1-3 hari sebelum haid dan dengan makin banyaknya
darah haid yang keluar keluhan dismenorea pun akan mereda. penyebab
dari dismenorea ini belum diketahui, tetapi diduga berhubungan dengan
adanya vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang endometriosis pada
waktu sebelum dan semasa haid.
2) Dispareunia merupakan gejala tersering dijumpai setelah dismenorea,
keluhan ini disebabkan adanya endometriosis di dalam kavum Douglasi.
3) Diskezia atau nyeri waktu defekasi terutama pada waktu haid, disebabkan
adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid.
4) Gangguan miksi dan hematuria bila terdapat endometriosis di kandung
kencing, tetapi gejala ini jarang terjadi.
5) Gangguan haid dan siklusnya dapat terjadi pada endometriosis apabila
kelainan pada ovarium demikian luasnya sehingga fungsi ovarium
terganggu.
6) Infertilitas juga merupakan suatu gejala endometriosis yang masih sulit
dimengerti. Tetapi faktor penting yang menyebabkan infertilitas pada
endometriosis ialah mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan
perlekatan jaringan disekitarnya.

19
Pada pemeriksaan ginekologik, khususnya pada pemeriksaan vagino-
rekto-abdominal, ditemukan pada endometriosis ringan benda-benda padat
sebesar butir beras sampai butir jagung di kavum Douglasi, dan pada ligamentum
sakrouterinum dengan uterus dalam retrofleksi dan terfiksasi. Ovarium mula-mula
dapat diraba sebagai tumor kecil, akan tetapi dapat membesar sampai sebesar
tinju.

5. Klasifikasi Endometriosis
5.1. Klasifikasi endometriosis menurut Acosta (1973)
1) Ringan
− Endometriosis menyebar tanpa perlekatan pada anterior atau
posterior kavum Douglasi atau permukaan ovarium atau
peritoneum pelvis.
2) Sedang
− Endometriosis pada satu atau kedua ovarium disertai parut dan
retraksi atau endometrioma kecil.
− Perlekatan minimal juga di sekitar ovarium yang mengalami
endometriosis.
− Endometriosis pada anterior atau posterior kavum Douglasi dengan
parut dan retraksi atau perlekatan, tanpa implantasi di kolon
sigmoid.
3) Berat
− Endometriosis pada satu atau dua ovarium, ukuran lebih dari 2 x 2
cm.
− Perlekatan satu atau dua ovarium atau tuba atau kavum Douglasi
karena endometriosis.
− Implantasi atau perlekatan usus dan/ atau traktus urinarius yang
nyata.

20
5.2 Klasifikasi Endometriosis berdasarkan ASRM

21
5.3 Klasifikasi endometriosis menurut Revisi American Fertility Society (1985)

6. Diagnosis
Diagnosis biasanya berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dipastikan
dengan pemeriksaan laparoskopi. Pada endometriosis yang ditemukan pada lokasi
seperti forniks vaginae posterior, perineum, parut laparotomi dan sebagainya,
biopsi dapat memberi kepastian mengenai diagnosis. Pemeriksaan laboratorium
pada endometriosis tidak memberi tanda yang khas, hanya apabila ada darah
dalam tinja atau air kencing pada waktu haid dapat menjadi petunjuk tentang
adanya endometriosis pada rektosigmoid atau kandung kencing.

22
Diagnosis banding endometriosis berdasarkan gejala, yakni :
1) Dismenorea : dismenorea primer, dismenorea sekunder yang disebabkan
antara lain adenomiosis, mioma, infeksi, dan stenosis servikalis.
2) Dispareunia : kurangnya lubrikasi,kelainan gastrointestinal (irritable
bowel syndrome), kongestif vaskular pelvik, dan sebagainya.
3) Infertilitas : anovulasi, defisiensi fase luteal, infeksi atau penyakit tuba.

7. Pencegahan
Kehamilan adalah cara pencegahan yang paling baik untuk endometriosis.
Gejala-gejala endometriosis memang berkurang atau hilang pada waktu dan
sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-sarang
endometriosis. Oleh sebab itu hendaknya perkawinan jangan ditunda terlalu lama,
dan sesudah perkawinan hendaknya diusahakan supaya mendapat anak-anak yang
diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sikap demikian itu tidak hanya
merupaka profilaksis yang baik terhadap endometriosis, melainkan menghindari
terjadinya infertilitas sesudah endometriosis timbul. Selain itu jangan melakukan
pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan pada waktu haid, karena dapat
menyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan ke rongga panggul.
8. Terapi Medis
Standar terapi medis pada pasien endometriosis meliputi : analgesik
(NSAID atau acetaminophen), pil kontrasepsi oral, agen androgenik (danazol
[Danocrine]), agen progestogen (medroksiprogesteron asetat [Provera]),
hormon pelepas-gonadotropin (GnRH) misalnya leuprolid [Lupron], goserelin
[Zoladex], triptorelin [Trelstar Depot], nafarelin [Synarel]), and
antiprogestogen (gestrinone).4

23
Dasar pengobatan hormonal endometriosis ialah bahwa pertumbuhan dan
fungsi jaringan endometriosis sama seperti jaringan endometrium yang normal,
dimana jaringan endometriosis juga dikontrol oleh hormon-hormon steroid. Data
laboratorium menunjukkan bahwa jaringan endometriosis mengandung reseptor
estrogen, progesteron dan androgen, yakni
estrogen merangsang pertumbuhan jaringan
endometriosis, androgen menyebabkan atrofi,
sedang progesteron masih diperdebatkan,
namun progesteron sintetik yang mengandung
efek androgenik tampaknya menghambat
pertumbuhan endometriosis.
Dari dasar tersebut, prinsip pertama
pengobatan hormonal endometriosis adalah
menciptakan lingkungan hormon rendah
estrogen dan asiklik, sehingga diharapkan
kadar estrogen yang rendah menyebabkan
atrofi jaringan endometriosis dan keadaan
yang asiklik mencegah terjadinya haid yang
berarti tidak terjadinya pelepasan jaringan
endometrium yang normal maupun

24
jaringan endometriosis. Kemudian prinsip kedua adalah menciptakan
lingkungan hormon tinggi androgen atau tinggi progestogen yang secara
langsung menyebabkan atrofi jaringan endometriosis. Di samping itu,
prinsip tinggi androgen atau tinggi progestogen juga menyebabkan keadaan
rendah estrogen yang asiklik karena gangguan pada pertumbuhan folikel.
9. Terapi Pembedahan
Endometriosis yang cukup berat (stadium III atau IV) dapat menyebabkan
kelainan anatomis pelvis, dimana hal tersebut sangat memungkinkan merusak
fertilitas (kesuburan) dengan cara mengganggu jangkauan oosit dan transportasi
sepanjang tuba fallopi. Keadaan ini umumnya diterapi dengan cara pembedahan.
Pada umumnya terapi pembedahan pada endometriosis bersifat bedah
konservatif yakni mengangkat saranng-sarang endometriosis dengan
mempertahankan fungsi reproduksi dengan cara meninggalkan uterus dan jaringan
ovarium yang masih sehat, dan perlekatan sedapat mungkin dilepaskan.
Pembedahan konservatif dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan yakni
laparotomi atau laparoskopi operatif. Pembedahan konservatif pada pasien usia
dua puluhan akhir dan awal empatpuluhan terutama bila fertilitas di masa
depan dikehendaki, maka endometriosis yang cukup luas diterapi dengan 1)
reseksi endometriomata; 2) melepaskan perlekatan tuba dengan atau tanpa
neurektomi presakral (untuk mengurangi dismenorea); 3) suspensi uterus
(melepaskan fiksasi retroversi fundus uteri dari kavum Douglasi akibat
perlekatan endometriotik); 4) menghilangkan apendiks dikarenakan tidak
jarang sarang-sarang endometriosis terdapat pada serosa apendiks.
Pembedahan radikal dilakukan pasien usia 40 tahun dengan menderita
endometriosis yang luas disertai banyak keluhan. Pilihan pembedahan radikal
histerektomi total, salpingo-ooforektomi bilateral dan pengangkatan sarang-sarang
endometriosis yang ditemukan.
Komplikasi tersering pembedahan adalah pecahnya kista, tidak dapat
terangkatnya seluruh dinding kista secara baik dan sempurna. Hal ini
mengakibatkan tingginya perlekatan pasca-pembedahan. Untuk mencegah
pecahnya kista, dianjurkan pengobatan terapi hormonal praoperatif selama

25
beberapa bulan. Cara lain untuk mencegah pecahnya kista dengan pungsi kista
per-laparaskopi yang kemudian dilanjutkan terapi hormonal selama 6 bulan, tetapi
cara ini masih belum banyak dilakukan dan masih diperdebatkan.

Polip Endometrium
Polip endometrium ditandai dengan adanya perdarahan abnormal per
vaginam, paling umum menometroragia atau perdarahan bercak ringan pasca
menopause. Polip terjadi dari umur 29-59 tahun dengan kejadian terbanyak
setelah umur 50 tahun. Insiden polip tanpa gejala pada wanita pasca menopause
kira-kira 10%.
Polip endometrium biasanya terjadi pada fundus dan dapat melekat dengan
adanya tangkai yang ramping (bertangkai) atau dasar yang lebar (tidak
bertangkai). Kadang-kadang polip prolaps melalui serviks. Secara makroskopis
polip endometrium tampak sebagai massa ovoid berukuran beberapa mill- meter
hingga beberapa sentimeter, licin seperti beludru berwarna merah hingga coklat.
Secara histologis, polip endometrium mempunyai inti stroma dengan jaringan
pembuluh darah yang jelas sena permukaan mukosa endometrium yang dapat
melapisi komponen glanduler. Polip di bagian distal dapat menunjukkan
perdarahan stroma, sel-sel radang, ulerasi dan dilatasi pembuluh darah dilatasi.
Kadang-kadang terjadi poliposis multipel. Varian lain yang jarang adalah
adenomioma bertangkai (dibedakan dengan adanya pita penjalin otot polos).

Polip Endometrium
Polip endometrium adalah massa atau jaringan lunak yang tumbuh pada
lapisan dinding bagian dalam edometrium dan menonjol ke dalam rongga

26
endometrium.Pertumbuhan sel-sel yang berlebih pada lapisan endometrium
(rahim) mengarah pada pembentukan polip.
Polip endometrium atau polip uterus adalah massa di lapisan dalam rahim.
Mereka mungkin memiliki basis datar besar (sesil) atau melekat pada rahim oleh
memanjang pedikel (pedunkulata). Polip pedunkulata lebih umum daripada yang
sessile. Mereka berbagai ukuran dari beberapa milimeter sampai beberapa
sentimeter. Jika pedunkulata, mereka bisa menonjol melalui leher rahim ke dalam
vagina. Pembuluh darah kecil mungkin hadir, terutama di polip besar.

1. Etiologi

Penyebab polip endometrium tidak diketahui secara pasti, namun faktor


hormonal berperan penting dalam timbulnya polip endometrium. Polip
endometrium terjadi karena:
· Adanya bagian endometrium yang sangat sensitif terhadap hormon estrogen
sehingga mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dan besar dibandingkan
bagian endometrium yang lain.
· Produksi hormon yang abnormal yaitu hormon estrogen yang tidak diimbangi
oleh hormon progesteron.

2. Patofisiologi
Polip endometrium sering didapati terutama dengan pemeriksaan
histeroskopi. Polip berasal antara lain dari
 Adenofibroma : biasanya terdiri dari epitel endometrium dengan stroma
yang sesuai dengan daur haid. Adenoma ini biasanya merupakan
penampilan hiperplasia endometrium, dengan konsistensi lunak dan
berwarna kemerah – merahan. Gangguan yang sering ditimbulkan adalah
metroragi sampai menometroragi, infertilitas. Mempunyai kecenderungan
kambuh kembali.
 Mioma submukusum : sarang mioma dapat tumbuh bertangkai dan keluar
dari uterus menjadi mioma yang dilahirkan. Tumor berkonsistensi kenyal
berwarna putih.

27
 Polip plasenta : berasal dari plasenta yang tertinggal setelah partus maupun
abortus. Pemeriksaan histologi memperlihatkan vili korialis dalam
berbagai tingkat degenerasi yang dilapisi endometrium. Polip plasenta
menyebabkan uterus mengalami subinvolusi yang menimbulkan
perdarahan. Polip endometrium umumnya diangkat dengan cara kuretase.

Insiden tidak diketahui. Paling sering pada perempuan berumur 30-59


tahun. Kurang dari sepertiga memperlihatkan endometrium fungsional, bisa
memperlihatkan hiperpasia kistik bisa menonjol.

3. Tanda dan Gejala


 Perdarahan haid yang tidak teratur
 Perdarahan antara haid
 Perdarahan vagina setelah menopause
 Infertilitas
 Polip endometrium dapat berkembang pada wanita pre atau post
menopause. Wanita yang postmenopause mungkin hanya mengalami
perdarahan bercak.

4. Diagnosis
 USG Transversal
Sebuah perangkat yang ramping berbentuk tomgkat di tempatkan di vagina
yang akan menggambarkan endometrium penderita.
 Histereskopi
Sebuah alat kecil yang disertai dengan kamera bercahaya dimasukkan
melalui vagina dan serviks masuk ke dalam endometrium. Histereskopi
memungkinkan dokter melihat secara langsung bagian dalam endometrium
sekaligus mengangkat polip.

28
5. Pengobatan
 Kuretase
Tujuan dari kuret adalah mengangkat polip endometrium dengan cara
mengikis dinding bagian dalam endometrium, hal ini bertujuan untuk
mengumpulkan spesimen untuk pengujian laboratorium.
 Polip dapat diangkat dengan operasi menggunakan kuret dengan atau tanpa
histeroskopi.

Adenomiosis
Adenomyosis adalah satu keadaan dimana terdapat kelenjar dan stroma
endometrium yang masih berfungsi didalam miometrium. Sel-sel melakukan
infiltrasi otot miometrium berawal dari bagian basal. Bagian basal endometrium
relatif tidak sensitive terhadap rangsangan hormonal sehingga nodule adenomiotik
biasanya kecil dan berisi sedikit darah namun dapat merangsang reaksi stroma
jaringan. Lesi yang terjadi merangsang proliferasi miometrium sehingga
pertumbuhan tumor berjalan lambat. Secara klinis adenomiosis tidak dapat
dibedakan dengan mioma uteri intramural dan seringkali terdapat bersamaan.
Pertumbuhan adenomioma sangat perlahan, adenomiosis klinis cenderung untuk
terjadi pada akhir masa reproduksi.

Gambaran klinik
Uterus membesar secara menyeluruh. 1/3 pasien tidak menunjukkan
gejala. Sisanya dapat menunjukkan gejala: Rasa nyeri yang berlangsung secara
progresif, kadang-kadang berhubungan dengan haid. Pada kasus ini, nyeri
meningkat selama menstruasi dan mencapai puncak pada akhir masa haid. Pada
pemeriksaan bimanual teraba uterus membesar dan tegang , kadang-kadang dapat
dirasakan adanya adenomiomata yang sulit dibedakan dengan mioma uteri biasa.

29
BAB IV
ANALISIS KASUS
Penegakan diagnosis pada pasien ini dapat diketahui dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari hasil anamnesis didapatkan
bahwa Sejak ± 6 tahun SMRS Os mengeluh belum juga mengandung. Os sudah
menikah dan belum punya anak selama 6 tahun. Os mengakui berhubungan intim
dengan suaminya + 3 kali dalam seminggu. Os mengeluh nyeri saat melakukan
hubungan intim. Sejak remaja, Os mengaku sering merasa nyeri saat menstruasi,
namun tidak sampai menggangu aktivitas. Nyeri biasanya di hari pertama
menstruasi. Siklus haid teratur, biasanya maju 3-4 hari. Tidak dijumpai adanya
kelainan pada BAB dan BAK. Os tidak memiliki riwayat infeksi. Os dan suami
mengaku tidak merokok.
Berdasarkan hasil anamnesis tersebut, dapat diketahui bahwa Os mengalami
infertilitas dimana Os tetap tidak mendapatkan kehamilan meskipun sudah ada
upaya dengan melakukan hubungan seksual secara teratur (2-3 kali dalam
seminggu) sejak 6 tahun yang lalu. Pada kasus ini infertilitas dikategorikan
sebagai infertilitas primer karena Os belum pernah mengalami kehamilan
sebelumnya. Secara teori, jika tidak ada kelainan 84% perempuan akan
mengalami kehamilan dalam kurun waku satu tahun pertama pernikahan jika
mereka melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa menggunakan
kontrasepsi.
Os mengeluh nyeri saat melakukan hubungan intim. Belum diketahui pasti
bagaimana mekanisme terjadinya nyeri saat berhubungan intim (Dispareunia)
namun, ditunjukkan bahwa kejadian dispareuni lebih banyak terjadi pada pasien
dengan endometriosis. Nyeri saat berhubungan intim (Dispareunia) disebabkan
karena adanya perlengketan pada genitalia interna. Perlengketan ini disebabkan
karena adanya peradangan. Nyeri atau rasa tidak nyaman dapat dirasakan di
introitus vagina, akibat spasme otot-otot perivagina atau peradangan atau nyeri di
introitus.
Nyeri biasanya di hari pertama menstruasi. Siklus haid teratur, biasanya
maju 3-4 hari. Secara periodik, siklus mentruasi terjadi selama 28 hari dan masih

30
dianggap normal apabila siklus terjadi lebih 7 hari atau kurang dari 7 hari. Os
mengaku merasa nyeri saat menstruasi. Endometriosis dianggap sebagai proses
inflamasi pelvis sehingga menghasilkan respon inflamasi. Konsentrasi TNF akan
menstimulasi ekpresi prostaglandin sinthase II yang akan meningkatkan produksi
PGE II dan PGF II. IL-1,6,8 juga meningkat di cairan peritoneal, selain itu IL-1
juga menstimulasi proliferasi fibroblas yang menyebabkan fibrosis dan
perlengketan pada endometriosis. Selain itu NGF (Nerve Growth Factor) juga
meningkat sehingga kepadatan nosiseptor bertambah, peningkatan neuron
sensorik dan ekspresi substans-P yang merupakan neuropeptida yang terlibat
dalam modulasi nyeri. Perempuan dengan endometriosis bisa tanpa gejala,
subfertil, atau menderita rasa sakit pada daerah pelvis terutama saat menstruasi
(dismenorea), dan menoragia. Pada perempuan endometriosis yang asimtomatis
risiko endometriosis sekitar 2-22%. Jika dijumpai adanya infertilitas dan
dismenorea, prevalensi dapat mencapai 20-50%.
BAB dan BAK tidak ada keluhan menunjukkan kemungkinan endometriosis
tidak tumbuh di sekitar kavum douglas dan ligamentum sakrouterina
(menyebabkan dispareunia). Endometriosis kemungkinan juga tidak tumbuh
dalam dinding retro sigmoid yang menyebabkan diskezia dan hematoskezia pada
saat siklus haid.
Os tidak memiliki riwayat infeksi. Infeksi pada vagina dapat meningkatkan
keasaman vagina yang akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang
akan menghambat transportasi sperma ke vagina.
Os dan suami mengaku tidak merokok. Paparan nikotin akan menyebabkan
disfungsi endotel dan menginduksi terjadinya inflamasi pada pembuluh darah
sehingga akan menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah, hal ini akan
menyebabkan fungsi dari pembuluh darah terganggu salah satunya pembuluh
darah pada uterus. Untuk saat ini belum didapatkan mekanisme pasti bagaimana
rokok dapat mempengaruhi kejadian endometriosis, namun pada beberapa
penelitian angka kejadian endometriosis lebih tinggi dibandingan dengan yang
tidak merokok. Pada Os diketahui bahwa tidak ada kelainan pada siklus

31
menstruasi. Pada dasarnya endometriosis sulit diprediksi karena sering gejalanya
asimptomatis.
Os tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, dan penyakit keganasan.
Secara umum, Insulin resisten adalah keadaan metabolik dimana jaringan target
menjadi kurang responsif terhadap sirkulasi insulin, yang mengakibatkan
peningkatan glukosa darah dan insulin yang beredar. Insulin telah terbukti
memiliki efek mitogenik pada sejumlah sel, termasuk sel endometrium. Studi
praklinis yang dilakukan menunjukkan bahwa hiperinsulinemia dan insulin
resisten yang terkait dengan obesitas dapat menyebabkan proliferasi endometrium.
Faktor risiko terjadinya endometriosis yang ditemukan pada Os adalah
nullipara dan usia reproduktif. Endometriosis paling sering ditemukan pada
perempuan usia reproduktif karena pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon
estrogen yang meningkat pada usia reproduktif. Kejadian endometriosis pada
wanita nullipara juga lebih sering ditemui, diduga berkaitan dengan sifat sekresi
estrogen pada wanita nullipara yang merupakan murni estrogen yang dihasilkan
oleh ovarium yang semuanya digunakan untuk proliferasi jaringan uterus.
Pemeriksaan USG merupakan gold standard untuk kasus endometriosis.

A. Tatalaksana
Pada pasien ini tatalaksana berupa observasi tanda vital dan nyeri serta
rencana Laparoskopi kistektomi. Pasien diberikan injeksi tapros yang merupakan
analog GnRH yang berfungsi untuk memblokade esterogen sehingga suplai nutrisi
dan vaskularisasi jaringan endometriosis yang bersifat estrogenik menurun. Kista
tidak hilang dengan injeksi tapros namun, akan menjadi inaktif. Laparoskopi
kistektomi dipilih karena mempertimbangkan usia Os karena laparoskopi biasanya
diperuntukan usia dua puluhan akhir dan awal empat puluhan terutama bila
fertilitas di masa depan dikehendaki. Pembedahan radikal dilakukan pada pasien
usia 40 tahun yang menderita endometriosis luas disertai banyak keluhan.

32
B. Prognosis
Prognosis pada pasien ini dubia ad bonam. Endometriosis sangat jarang
menjadi ganas namun endometriosis sulit disembuhkan kecuali perempuan sudah
menopause. Angka kesembuhan 10-20% per tahun setelah diberikan penanganan
bedah konservatif.

33
DAFTAR PUSTAKA

Czuczwar, P., S. Wozniak, P. Szkodziak, E. Wozniakowska, M. Paszkowski, W.


Wrona, P. Milart, T. Paszkowki, M. Popajewski. 2014. Predicting the
results of uterine artery embolization : correlation between initial
intramural fibroid volume and percentage volume decrease. Prz
Menopauzalny. 13(4): 247–252. (http://www.termedia.pl/Journal/-
4/Streszczenie-23465
Decherney, Alan.H; Goodwin, T.Murphy. 2007. Current Diagnosis and Therapy,
10th Edition. Mc Graw Hill Medical Publishing. New York.
Hadibroto Budi R, 2005, Mioma Uteri. Dalam: Majalah Kedokteran Nusantara
Volume 38, No. 3, September 2005: 255-260.
Hoffman, B.L., J.I. Schaffer, L.M. Halvorson, J.O. Schorge, K.D. Bradshaw, dan
F.G. Cunningham. 2012. William Gynecology. Mc. Graw-Hill: New York.
Joedosaputro MS. 2007. Tumor jinak alat genital. Dalam: Sarwono
Prawiroharjo,edisi kedua. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka.
Jakarta: 338-345.
Kumar, P., N. Malhotra. 2008. Jeffcoate’s Principles o Gynaecology 7th Edition.
Jaypee Brothers Medical Publishers : India.
Ling, Frank.W, et al. 2001. Obstetrics and Gynecology: Principles for Practice.
Mc Graw Medical Publishing, New York.
Parker, W.H. 2007. Etiology, Symptomatology and Diagnosis of Uterine
Myomas. Fertility And Sterility. 87:725-736
(http://www.sart.org/uploadedFiles/ASRM_Content/News_and_Publicatio
ns/Selected_Articles_from_Fertility_and_Sterility/myoma_etiology.pdf
Prawirohardjo, S., Wiknjosastro, H., Sumapraja, S. Ilmu kandungan. Edisi 2.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono; 2008.
Wiknjosastro, H., A.B. Saifuddin, dan T. Rachimhadhi. 2011. Ilmu Kebidanan
Edisi ke-3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta.

34