Anda di halaman 1dari 29

TUGAS METODE PERENCANAAN BENDUNG

MENURUT SNI 03 – 2041 – 1991


Disusun :

Nama : WAHYUDIN A.MUTALIB


Npm : 121052220115091

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA
(UMMU) TERNATE
2018

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Penjelasan Bendung

Sungai mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan manusia. Salah


satunya adalah sebagai sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan irigasi, penyediaan air minum, kebutuhan industri dan lain lain.
Kebutuhan air bagi kepentingan manusia semakin meningkat sehingga perlu
dilakukan penelitian atau penyelidikan masalah ketersediaan air sungai dan
kebutuhan area di sekelilingnya, agar pemanfaatan dapat digunakan secara efektif
dan efisien, maka dibuatlah dengan pembangunan sebuah bendung.

Bendung (Bangunan Sadap) atau Weir (Diversion Structure) merupakan


bangunan (komplek bangunan) melintasi sungai yang berfungsi mempertinggi
elevasi air sungai dan membelokkan air agar dapat mengalir ke saluran dan masuk
ke sawah untuk keperluan irigasi.

Definisi bendung menurut ARS Group, 1982, Analisa Upah dan Bahan
BOW (Burgerlijke Openbare Werken),Bandungadalah bangunan air (beserta
kelengkapannya) yang dibangun melintang sungai atau pada sudetan untuk
meninggikan taraf muka air sehingga dapat dialirkan secara gravitasi ke tempat
yang membutuhkannya.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia/SNI 03-2401-1991 tentang


Pedoman Perencanaan Hidrologi Dan Hidraulik Untuk Bangunan Di Sungai
adalah bangunan ini dapat didesain dan dibangunan sebagai bangunan tetap,
bendung gerak, atau kombinasinya, dan harus dapat berfungsi untuk
mengendalikan aliran dan angkutan muatan di sungai sedemikian sehingga
dengan menaikkan muka airnya, air dapat dimanfaatkan secara efisien sesuai
dengan kebutuhannya.

2
1.1.1. Fungsi Bendung :

- Untuk kebutuhan irigasi


- Untuk kebutuhan air minum
- Sebagai pembangkit energi
- Pembagi atau pengendali banjir
- Dan sebagai pembilas pada berbagai keadaan debit sungai.

1.1.2. Ada 3 Macam Bendung :

a. Bendung Saringan Bawah

Bendung saringan bawah pada umumnya dibangunan di daerah hulu di mana


lokasi ini banyak mengangkut batuan besar dan permukaan air sungai relatif
tinggi. Sehingga dibuat bendung yang renah.

Bendung ini dilengkapi dengan pasir terbuka, di atasnya diberi kisi-kisi


penyaring dari baja untuk mencegah masuknya batuan ke dalam parit.

Bendung Saringan Bawah dapat dipertimbangkan jika :

- Kemiringan sungai relatif besar, biasanya di pegunungan.


- Butir sedimen sedang kecil dan konsentrasi sedimen sangat tinggi.
- Mengandung bongkahan batu.
- Debit pengambilan jauh lebih kecildari debit sungai.
- Tidak cocok untuk sungai yang fluktuasi bahan angkutannya besar.
Misalnya di daerah gunung berapi muda.
- Dasar sungai yang rawan gerusan memerlukan fondasi yang cukup dalam.
- Bendung harus dirancang seksama agar aman terhadap rembesan.
- Konstruksi saringan hendaknya sederhana, tahan benturan batu, mudah
dibersihkan jika tersumbat.
- Bangunan harus dilengkapi dengan kantong lumpur/pengelak sedimen
yang cocok dengan kapasitas tampung memadai dan kecepatan aliran
cukup untuk membilas partikel. Satu di depan pintu pengambilan dan satu
di awal saluran primer.

3
- Harus dibuat pelimpah yang cocok di saluran primer untuk menjaga jika
terjadi kelebihan air.

Untuk keperluan pengurasan diperlukan :

- Debit air dan kemiringan yang memadai.


- Sedimen halus akan masuk ke saluran, yang kasar akan loncat dan
melewati bangunan.
- Sebagian krakal dan krikil ada yang terjepit pada jeruji.
- Konsentrasi seimen yang tinggi akan menyebabkan penumpukan material
di hilir bendung dan mengganggu fungsi bendung.

Lebar bendung : sama dengan lebar rata-rata sungai pada bankfull discharge.
Biasanya B = 120% Bs ( lebar sungai pada banjir tahunan ).

Be = B-2 (n Kp + Ka ) H1

Be: lebar efektif, B: lebar mercu, n : jumlah pilar, Kp: koefisien konstraksi
pilar, Ka: koefisisen konstrasi pangkal bendung, H1: tinggi energi.

1. Bendung Ambang/Mercu Tetap

Berfungsi untuk menaikkan permukaan air sungai agar air sungai dapat
dialirkan ke daerah irigasi. Dan untuk menaikkan permukaan air sungai diatur
dengan ambang tetap atau permanen.Umumnya mercu bendung berbentuk bulat
atau Ogee. Kedua bentuk ini cocok untuk beton atau pasangan batu kali.

Mercu berbentuk Ogee adalah berbentuk lengkung memakai persamaan


matematis, sedikit rumit dilaksanakan, tetapi memberikan sifat hiraulis yang baik,
bentuk gemuk dan kekar, menambah stabilitas.

2. Bendung Gerak

Berfungsi untuk meninggikan muka air sungai, sehingga air sungai dapat
dialirkan ke daerah irigasi.Untuk mengatur permukaan air sungai digunakan pintu
gerak (dapat dibuka dan ditutup). Bendung gerak cocok dibangun di sungai bagian

4
hilir, di daerah ini kemiringan sungai datar dan tebing sungai rendah. Pada saat
banjir pintu dibuka, sehingga air sungai tidak meluap ke tebing kanan dan kiri.

Bendung Gerak dapat dipertimbangkan jika :

- Kemiringan sungai kecil atau relatif datar.


- Daerah genangan luas dan harus dihindari.
- Debit banjir besar, kurang aman dilewatkan pada bendung tetap.
- Pondasi untuk pilar harus betul-betul kuat kalau tidak pintu terancam
macet.

1.1.3. Secara Fisik Bagian-Bagian Bendung Meliputi :

1. Tubuh Bendung

Pemilihan lokasi :

- Pilih bagian sungai lurus, tidak ada gerusan


- Pilih lembah yang sempit (biaya murah)
- Pondasi bendung kokoh
- Keperluan elevasi muka air
- Pelaksanaan mudah
- Ketersediaan bahan bangunan.
- Keperluan elevasi muka air tergantung luas sawah yang diairi. Semakin
naik ke hulu sawah terairi lebih luas, turun ke hilir luas areal sawah terairi
berkurang.

a. Bangunan Pengelak dan Peredam Energi

Dibangun melintang sungai atau tegak lurus aliran sungai. Berfungsi untuk
menaikkan permukaan air sungai, sehingga air sungai lebih tinggi dari daerah
yang akan diairi dan selanjutnya air sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi
dengan menggunakan saluran irigasi.

5
Berfungsi sebagai peredam energi air yang jatuh, sehingga sisa energi air di
hilir kolam olak menjadi minimal sehingga gerusan dasar sungai tidak
membahayakan.

Perencanaan kolam olak mengikuti standar yang ada sebenarnya sudah


memadai. Yang jadi masalah adalah kedalaman gerusan hilir bendung seberapa
jauh membahayakan. Bendung besar dan komplek perlu model, tapi untuk
bendung kecil dan sederhana tidak perlu dimodel. Apalagi untuk dasar sungai
yang mempunyai outcrop (batuan dasar sungai masif) tidak ragu lagi bahwa
gerusantidak ada, maka model tidak perlu.

b. Bangunan Pembilas/Penguras

Bagian ini terletak di depan pengambilan, sedikit ke hilir dan dilengkapi


dengan pintu penguras yang berfungsi untuk mengendapkan sedimen kasar agar
tidak masuk ke pengambilan dan secara berkala sedimen tersebut dibuang ke hilir
melalui pintu penguras.

Persyaratan umum kecepatan aliran di sekitar pintu pembilas adalah dirancang


sekurang-kurangnya sebesar 1,20 m/detik.

c. Ambang Pengambilan

Persyaratan umum (lokasi dan dimensi) :

- Lokasi dipilih pada bagian sungai yang tidak mudah terjadi sedimentasi,
biasanya di tikungan luar
- Dimensi dirancang dengan kecepatan aliran di dekat ambang tidak terlalu
cepat sehingga terlalu banyak sedimen yang masuk, namun juga tidak
terlalu lambat sehingga menyebabkan sedimentasi yang berlebihan di
depan ambang pengambilan.
- Persyaratan umum kecepatan aliran di atas ambang.
-

6
d. Pintu Pengambilan/Intake

Berfungsi untuk menyadap dan mengontrol air yang akan dialirkan ke saluran
irigasi melalui kantong lumpur. Bagian ini dilengkapi dengan pintu yang dapat
dibuka dan ditutup, sehingga besar kecilnya air yang disadap dapat dikontrol.
Persyaratan umum kecepatan aliran di sekitar pintu pengambilan adalah dirancang
antara 0,90 – 1,00 m/detik.

Bangunan Pengambilan dan Pembilas

Tata Letak :

- Pengambilan : untuk mengelakkan air agar masuk ke saluran irigasi.


Diletakkan dekat bendung dan pada tikungan luar.
- Pembilas: mengurangi benda terapung dan sedimen kasar masuk ke
saluran.
- Pengambilan air pada dua sisi, sebaiknya salah satu sisi lewat sipon pada
tubuh bendung.

e. Kantong Lumpur

Bagian ini terletak di belakang pintu pengambilan, berfungsi untuk


mengendapkan sedimen halus yang masuk malului pintu intake. Sedimen
halus/lumpur yang mengendap secara berkala dibuang melaului pintu pembilas,
dibuang atau digelontorkan kembali ke sungai.

Bangunan Pelengkap Lainnya :

f. Tanggul Banjir

Untuk mencegah terjadinya luapan banjir di hulu bendung dan dan


mengarahkan aliran banjir.Panjang dan elevasi. Kurva pengempangan digunakan
untuk menghitung panjang dan elevasi tanggul untuk banjir dengan periode ulang
berbeda. Untuk genangan dengan Q 100 tahun ditambah tinggi jagaan. Dan dicek
dengan Q 1000 tahun.

Hitung pakai “Standar Step Methode “, jika ada data kemiringan sungai,
potongan melintang dan faktor kekasaran sungai.Untuk perkiraan kasar, hitung

7
pakai rumus sederhana.Poros tanggul; Tanggul banjir sebaiknya jauh dari air
terendah. Tinggi jagaan: Elevasipuncak tanggul 0,25 m diatas elevasi pangkal
bendung untuk keamanan extra.

Potongan melintang; Lebar puncak tanggul 3 m. Kalau dipakai jalan ditambah


seperlunya. Kemiringan hulu dan hilir diambil antara 1 : 2 s/d 1 :3,5 tergantung
jenis tanah. Tinggi tanggul > 5m sebaiknya stabilitasnya dicek dengan
perhitungan khusus. Bila fondasi tanggul lolos air (porous) disarankan dibuat cut
off (parit halang) 1/3 x H.

g. Krib Dan Bronjong (Matras Batu)

Krib berfungsi untuk mengarahkan aliran, melindungi tanggul maupun tebing


sungai terhadap penggerusan.Krip dibuat tegak lurus tanggul. Tinggi mercu krip
sama dengan bantaran. Kemiringan pelindung tanggul atau krip 1 : 2,5 – 3,5 di
bawah air, dan 1 : 1,5-2,5 yang di atas air. Kemiringan ujung krip 1 : 5-10.

Bronjong berfungsi untuk membentuk krib dan sebagai pelindung tebing dan
dasar sungai.Berbentuk bak dari jala kawat yang diisi batu. Ukuran biasanya
2x1x0,5 m. Tidak boleh dipakai untuk bagian bangunan permanen.
Keuntungannya batu sedang diikat dalam kawat memberi masa kuat dan
konstruksi flexible.

h. Saringan Baja/Trasrak

Berfungsi untuk mencegah masuknya batu-batu besar di depan pintu


pengambilan dan di depan pintu penguras.Sehingga operasional pintu
pengambilan dan penguras dapat berjalan normal setiap saat.

i. Rip Rap (Lapisan Batu Teratur)

Berfungsi untuk melindungi dasar sungai atau tebing di hilir. bendung Rip-rap
dipasang dari puncak bendungan sampai + 2 m di bawah permukaan air terendah
untuk operasi (MOL, Minimum Operation Level).

Tebal lapisan tergantung pada : kekuatan batu, tinggi bendungan, frekuensi


muka air dan tinggi perkiraan gelombang. Umumnya apabila menggunakan
tenaga manusia + 30 cm, menggunakan alat berat + 50 cm – 100 cm. Batu harus

8
keras, padat, awet, BJ ≈ 2,4 t/m3. Panjang lindungan 4 x R (R : dalam gerusan).
Tebal lapisan 2 ~ 3 x d40 . Nilai d40 tergantung kecepatan air.

j. Kantong Lumpur

Kapasitas memadai untuk sedimen yang masuk, mampu membilas, perlu


kemiringan tinggi. Pada saluran primer dibuat pelimpah. Meskipun sudah ada
bangunan pembilas di depan intake, biasanya masih ada butir halus partikel yang
masuk. Untuk mencegah masuk ke saluran diperlukan kantong lumpur. Prinsipnya
adalah memperbesar saluran sehingga kecepatan berkurang akibatnya sedimen
mengendap. Untuk menampung sedimen saluran diperdalam, dibilas tiap 1-2
minggu.

Biasanya panjang 200 m untuk sedimen kasar, sampai dengan 500 m untuk
sedimen halus. Tergantung pada topografi dan keperluan pembilasan.
Pertimbangan dalam memutuskan: (a) Ekonomis atau tidak, (b) Kemudahan
pekerjaan OP, (c) Perlu dibangun, kalau sedimen masuk ke saluran > 5%
kedalaman x panjang x lebar saluran primer dan sekunder (butiran< 0,06 – 0,07
mm).

 Dimensi kantong lumpur

Partikel pada titik awal A kecepatan endap w dan kecepatan air v akan
mengendap di titik C . Waktu yg diperlukan: t = H/w = L/v dimana v = Q/HB.
Menghasilkan LB = Q/w, dimana L: panjang kantong lumpur, B : lebar kantong
lumpur, Q : debit air, w:kecepatan endap di kantong lumpur. Agar tidak terjadi
meandering atau pulau endapan dibuat L/B > 8. Kalau topografi tidak
memungkinkan bisa dibagi-bagi ke arah memanjang dengan dinding pemisah
(devider wall).

 Volume tampungan

Volume kantong lumpur tergantung pada kandungan sedimen, volume air


yang lewat, dan jarak waktu pembilasan. Banyak nya sedimen yang lewat dapat
dihitung dengan cara: (a) Pengukuran langsung di lapangan, (b) Perhitungan
rumus yang cocok (Einstein-Brown, Meyer-Peter, Muller), (c) Atau memakai data

9
kantong lumpur yang ada di lokasi lain. Kedalaman ds = 1 m untuk jaringan kecil
(10 m3/dt ), 2,5 m untuk jaringan besar (100 m3/dt).

 Tata letak kantong lumpur

Tata letak terbaik kalau saluran pembilas lurus sebagai kelanjutan kantong
lumpur, saluran primer di sampingnya. Ambang saluran primer di atas tinggi
maksimum sedimen. Alternatif tata letak lain saluran primer searah kantong
lumpur, perlu dinding pengarah.

1.1.4. Pemilihan Lokasi Bendung :

- Menentukan lay out saluran primer dari bangunan bagi atau bagi sadap
pertama ke arah hulu.
- Mengebor dasar sungai di beberapa lokasi untuk memperoleh lokasi
dengan pondasi yangbaik dan kuat.
- Memberi detail pada lokasi yang dipilih (as bendung).
- Menentukan kebutuhan elevasi air di pintu pengambilan sama dengan
tinggi air normal di bendung.
- Lokasi bendung dipilih pada alur sungai yang lurus.

Dan berdasarkan SNI 03-2401-1991, Tata Cara Perencanaan Umum Bendung,


adalah standar ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam membuat
desain bendung agar memenuhi persyaratan hidraulik dan struktur serta
persyaratan pelaksanaan secara benar dan aman, sesuai dengan pola bangunan
berwawasan lingkungan sehingga diharapkan desain bendung dengan baik, aman
dan berfungsi semestinya, sesuai dengan kelembagaan dan pengaturan yang
terkait dengan mempertimbangkan faktor teknis perencanaan.

Data dan informasi mengenai data kebijakan perencanaan dan desain, data
pembuatan bendung, data morfologi sungai, data geologi teknik, data bahan
bangunan, data peralatan. Syarat keamanan antara lain keamanan
hidraulik,keamanan struktur, keamanan dalam operasional dan keamanan.
lingkungan yang berkaitan dengan gangguan angkutan muatan. Desain mengenai
bendung membahas antara lain tentang pra desain dasar mengenai persiapan

10
pekerjaan, penentuan lokasi bendung, tipe bendung beserta kelengkapannya dan
penentuan debit desain.

Pra desain hidraulik membahas tentang panjang dan tinggi mercu bendung,
mercu dan tubuh bendung, peredam energi, tembok sayap hilir, bangunan
pengambil, bangunan pembilas, bangunan pengarah arus, tanggul penutup dan
tanggul banjir, tembok pangkal bendung, saringan sampah dan batu bongkah,
lantai undik atau dinding tirai, bangunan penangkap sidemen. Desain struktur
meliputi desain struktur atas dan struktur bawah.

Fungsi kelengkapan bendung mencakup tubuh bendung merupakan ambang


tetap yang berfungsi menaikkan muka air, ambang bendung gerak berfungsi
sebagai perletakan pintu bendung gerak, peredam energi berfungsi untuk
meredam energi air agar tidak terjadi penggerusan setempat yang membahayakan
konstruksi, lantai undik berfungsi mengurangi bahaya rembesan dan erosi, tembok
pangkal berfungsi sebagai penahantanah, tembok sayap berfungsi sebagai
pengarah arus.

Syarat keamanan hidraulik bendung dan bangunan pelengkap meliputi antara


lain keamanan terhadap luapan, keamanan terhadap gerusan lokal, degradasi
sungai, keamanan terhadap agradasi dasar sungai, rembesan, perubahan arah
aliran dan tekanan air. Sedangkan syarat keamanan struktur meliputi kekuatan,
kestabilan, kimiawi dan biotis.

1.1.5. Operasi dan Pemeliharaan

Operasi adalah pengaturan bukaan pintu untuk penyediaan air. Pengaturan


air pada kondisi normal, kondisi banjir, dan kondisi kering.Kondisi normal adalah
aliran sungai normal, sedimen yang dibawa sedang. Penjediaan air dilakukan
sesuai rencana kebutuhan air irigasi dan keperluan lainnya. Air sungai masih bisa
mengalir ke hilir untuk keperluan lain dan keperluan lingkungan. Pada saat ini
pintu pengambilan dibuka penuh, pintu bilas atas dan bawah ditutup, agar air
depan pengambilan tenang sedimen mengendap. Pintu bilas bawah dibuka 1 jam
setiap hari untuk menguras endapan lumpur. Jika terdapat benda terapung depan

11
pintu bilas, pintu bilas atas diturunkan untuk menghanyutkan benda terapung.
Dalam keadaan ini biasanya kolam lumpur sudah penuh pada 5-10 hari
(tergantung perencanaan). Untuk ini dilakukan pengurasan lumpur secara
hidraulis, dengan prosedur sebagai berikut :

3. Pintu bilas atas dan bawah ditutup, pintu pengambilan dibuka, pintu ke
saluran irigasi ditutup, pintu penguras dibuka. Lama pengurasan
tergantung jumlah sedimen, besaran fraksi sedimen, besar debit dan
kemiringan kantong lumpur yang sudah dihitung dalam rencana dan model
test (biasanya 3-5 jam). Setelah selesai, air irigasi dialirkan kembali.

Operasi adalah pengaturan bukaan pintu untuk penyediaan air. Pengaturan air
pada kondisi normal, kondisi banjir, kondisi kering. Kondisi banjir: aliran sungai
besar, sedimen yang dibawa banyak. Penjediaan air untuk irigasi dan keperluan
lainnya dihentikan sementara, karena di sawah sudah kelebihan air, dan cenderung
membuang.

Pada saat ini pintu pengambilan ditutup penuh, pintu bilas atas dan bawah
ditutup, agar sedimen tidak masuk ke saluran irigasi dan sedimen dilewatkan atas
bendung. Pada saat air surut dimana kedalaman air diatas mercu antara 0.5 s/d 1 m
pintu pembilas dibuka untuk menguras lumpur. Setelah lumpur bersih dan air di
atas bendung antara 0-0.5 m, pintu pengambilan dibuka dan pintu bilas ditutup.
Air irigasi normal kembali. Pada beberapa bendung dimana debit banjir besar,
saluran pembilas dipakai untuk melewatkan air. Untuk itu pintu bilas dibuka saat
banjir. Kalau sungai membawa batang-batang pohon, kemungkinan bisa
menyangkut pada saluran pembilas yang sempit.

Pengaturan air : kondisi normal, kondisi banjir, kondisi kering. Kondisi


kering: aliran sungai kecil, sedimen yang dibawa sedikit. Penjediaan air untuk
irigasi dan keperluan lainnya dipenuhi tetapi cenderung kurang. Air sungai jangan
disadap 100%, karena di hilir bendung biasanya ada penyadapan untuk keperluan
lain dan atau untuk menjaga lingkungan. Pada saat ini pintu pengambilan dibuka
penuh, pintu bilas atas atau bawah dibuka sebagian, agar air tetap mengalir
sebagian ke hilir bendung.

12
Karena air sungai cenderung bersih maka kandungan sedimen sedikit, maka
frekuensi pengurasan lumpurdapat lebih lama dibanding saat air normal. Cara
pengurasan seperti saat air normal, cuma karena air sungai dan selisih tinggi
minim, air sungai ditampung dulu beberapa jam didepan bendung dengan
menutup pintu pengambilan dan pembilas. Pada saat elevasi air naik sampai
mercu bendung, pembilasan dimulai. Pada saat ini pengecekan terhadap saluran
pembilas bawah dilakukan untuk mengetahui apakah ada sumbatan batu. Kalau
ada inilah saatnya untuk mengatasinya, karena air sungai kecil.

Pemeliharaan adalah kegiatan untuk menjaga agar bangunan berfungsi seperti


sediakala. Jenis pemeliharaan: Rutin, berkala, darurat, permanen.

1. Pemeliharaan Rutin adalah kegiatan secara rutin dilakukan, misalnya


babat rumput sekitar bendung, menutup retakan tembok, perbaikan
kecil batu kosong, pengambilan benda terapung depan pintu bilas,
pengurasan sedimen pada saluran bawah 1 jam/hari
2. Pemeliharaan Berkala adalah kegiatan dilakukan secara berkala,
misalnya pengecatan pintu, pemberian stenfet (greesing), pembersihan
sedimen pada kantong lumpur, pengecatan bangunan pelindung,
pembersihan sedimen dan batu menyumbat pada saluran pembilas,
perbaikan bronjong dan pasangan batu kosong, perbaikan pintu macet.
3. Pemeliharaan Darurat adalah perbaikan darurat agar bendung dapat
segera berfungsi. Hal ini terjadi karena bencana alam atau kelalaian
manusia. Perbaikan ini dilakukan dengan harapan nanti ada dana untuk
penyempurnaan berupa perbaikan permanen.
4. Pemeliharaan Permanen adalah kegiatan perbaikan sebagai
peningkatan perbaikan darurat maupun perbaikan akibat bencana dan
kelalaian manusia, sehingga perbaikannya menjadi permanen,
misalnya tanggul penutup longsor, sayap bendung patah, stang pintu
bengkok, gerusan dalam di bawah bendung, kerusakan pada kolam
olak, pelindung talud runtuh, penurunan tubuh bendung.

13
1.2. Teori Stabilitas Bendung

Dalam perencanaan Bendung harus memenuhi persyaratan stabilitas


sehingga bendung akan stabil dan dapat berfungsi lama. Tinjauan stabilitas
meliputi :

1.2.1 Stabilitas Terhadap Geser

Bendung harus mampu menahan gaya horizontal akibat tekanan air dan
sediment, sehingga bendung akan tetap pada posisinya, tidak bergeser.

S = f x SV > 1,2

SH

Dimana :

S = Stabilitas geser (lebih besar 1,2 aman terhadap geser)

f = Koefisien gesekan tanah pondasi

SV = Totalgayavertical

SH = Totalgayahorisontal

1.2.2. Stabilitas Terhadap Guling

Bendung harus mampu menahan gaya horizontal sehingga bendung tidak


roboh atau mengguling.

S = SMV > 1,2

SMH

Dimana :

S = Stabilitas guling (lebih besar 1,2 aman terhadap guling)

SMV = Total momen akibatgayavertical

14
SMH = Total mamen akibatgayahorizontal

1.2.3. Stabilitas Terhadap Eksentrisitas

Bendung harus memenuhi keseimbangan struktur atau stabil terhadap


eksentrisitas.

e = B _ Mr < B/6

2 SV

Dimana :

e = Eksentrisitas

B = Lebar dasar bendung

Mr = (MV – MH)

MV = Momen akibatgayavertica

MH = Momen akibatgayahorizontal

1.2.4. Stabilitas Terhadap Daya Dukung Pondasi

Bendung harus aman terhadap penurunan, oleh karena itu daya dukung
tanah pondasi harus mampu menahan berat bendung dan beban lain akibat banjir.

s = SV x (1 ± 6.e)

B B

s Maksimum = SV x (1 + 6.e) < q ijin

B B

s Minimum = SV x (1 – 6.e) > 0

B B

15
Dimana :

s = Tegangan tanah pondasi

SV = Totalgayavertical

B = Lebar dasar bendung

e = Eksentrisitas

Q ijin = Daya dukung yang diijinkan

16
BAB II

BENDUNGAN

2.1 Pengertian Bendungan

Bendungan (dam) adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju


air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga
digunakan untuk mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Gambar 3.1. Topologi Bendungan

2.1.2 Bagian-bagian bendungan

Bendungan terdiri dari beberapa komponen, yaitu :

a. Badan bendungan (body of dams)

Adalah tubuh bendungan yang berfungsi sebagai penghalang air. Bendungan


umumnya memiliki tujuan untuk menahan air, sedangkan struktur lain seperti
pintu air atau tanggul digunakan untuk mengelola atau mencegah aliran air ke
dalam daerah tanah yang spesifik. Kekuatan air memberikan listrik yang disimpan

17
dalam pompa air dan ini dimanfaatkan untuk menyediakan listrik bagi jutaan
konsumen.

b. Pondasi (foundation)

Adalah bagian dari bendungan yang berfungsi untuk menjaga kokohnya


bendungan.

c. Pintu air (gates)

Digunakan untuk mengatur, membuka dan menutup aliran air di saluran baik
yang terbuka maupun tertutup. Bagian yang penting dari pintu air adalah :

1. Daun pintu (gate leaf)

Adalah bagian dari pintu air yang menahan tekanan air dan dapat digerakkan
untuk membuka , mengatur dan menutup aliran air.

2. Rangka pengatur arah gerakan (guide frame)

Adalah alur dari baja atau besi yang dipasang masuk ke dalam beton yang
digunakan untuk menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai dengan yang
direncanakan.

3. Angker (anchorage)

Adalah baja atau besi yang ditanam di dalam beton dan digunakan untuk
menahan rangka pengatur arah gerakan agar dapat memindahkan muatan dari
pintu air ke dalam konstruksi beton.

4. Hoist

Adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air agar dapat dibuka dan ditutup
dengan mudah.

d. Bangunan pelimpah (spill way)

Adalah bangunan beserta intalasinya untuk mengalirkan air banjir yang masuk
ke dalam waduk agar tidak membahayakan keamanan bendungan. Bagian-bagian
penting daribangunan pelimpah :

18
1. Saluran pengarah dan pengatur aliran (controle structures)

Digunakan untuk mengarahkan dan mengatur aliran air agar kecepatan


alirannya kecil tetapi debit airnya besar.

2. Saluran pengangkut debit air (saluran peluncur, chute, discharge carrier,


flood way)

Makin tinggi bendungan, makin besar perbedaan antara permukaan air


tertinggi di dalam waduk dengan permukaan air sungai di sebelah hilir
bendungan. Apabila kemiringan saluran pengangkut debit air dibuat kecil, maka
ukurannya akan sangat panjang dan berakibat bangunan menjadi mahal. Oleh
karena itu, kemiringannya terpaksa dibuat besar, dengan sendirinya disesuaikan
dengan keadaan topografi setempat.

3. Bangunan peredam energy (energy dissipator)

Digunakan untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi energi air


agar tidak merusak tebing, jembatan, jalan, bangunan dan instalasi lain di sebelah
hilir bangunan pelimpah.

e. Kanal (canal)

Digunakan untuk menampung limpahan air ketika curah hujan tinggi.

f. Reservoir

Digunakan untuk menampung/menerima limpahan air dari bendungan.

g. Stilling basin

Memiliki fungsi yang sama dengan energy dissipater.

h. Katup (kelep, valves)

Fungsinya sama dengan pintu air biasa, hanya dapat menahan tekanan yang
lebih tinggi (pipa air, pipa pesat dan terowongan tekan). Merupakan alat untuk
membuka, mengatur dan menutup aliran air dengan cara memutar, menggerakkan
kea rah melintang atau memenjang di dalam saluran airnya.

19
i. Drainage gallery

Digunakan sebagai alat pembangkit listrik pada bendungan.

3.3.Tipe Bendungan

Bendungan juga dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :

a. Berdasarkan ukuran
1. Bendungan besar (large dams)

Menurut ICOLD definisi dari bendungan adalah :

Bendungan yang tingginya lebih dari 15m, diukur dari bagian terbawah
pondasi sampai ke puncak bendungan. Bendungan yang tingginya antara 10m dan
15m dapat pula disebut dengan bendungan besar asal memenuhi salah satu atau
lebih kriteria sebagai berikut :

- Panjang puncak bendungan tidak kurang dari 500m.


- Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang dari 1 juta m³.
- Debit banjir maksimal yang diperhitungkan tidak kurang dari 2000
m³/detik.
- Bendungan menghadapi kesulitan - kesulitan khusus pada pondasinya (had
specially ifficult foundation problems).
- Bendungan di desain tidak seperti biasanya (unusual design).

2. Bendungan kecil (small dams, weir, bendung)

Semua bendungan yang tidak memenuhi syarat sebagai bendungan besar di sebut
bendungan kecil.

b. Berdasarkan tujuan pembangunannya

1. Bendungan dengan tujuan tunggal (single purpose dams)

20
Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu tujuan saja.

2. Bendungan serbaguna (multipurpose dams)

Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi beberapa tujuan.

c. Berdasarkan penggunaannya

1. Bendungan untuk membuat waduk (storage dams)

Adalah bendungan yang dibangun untuk membentuk waduk guna menyimpan


air pada waktu kelebihan agar dapat dipakai pada waktu diperlukan.

2. Bendungan penangkap/pembelok air (diversion dams)

Adalah bendungan yang dibangun agar permukaan airnya lebih tinggi


sehingga dapat mengalir masuk kedalam saluran air atau terowongan air.

3. Bendungan untuk memperlamabat jalannya air (detension dams)

Adalah bendungan yang dibangun untuk memperlamabat aliran air sehingga


dapat mencegah terjadinya banjir besar. Masih dapat dibagi lagi menjadi 2, yaitu :

- Untuk menyimpan air sementara dan dialirkan ke dalam saluran air bagian
hilir.
- Untuk menyimpan air selama mungkin agar dapat meresap di daerah
sekitarnya.

d. Berdasarkan konstruksinya

1. Bendungan urugan (fill dams, embankment dams)

Menurut ICOLD definisinya adalah bendungan yang dibangun dari hasil


penggalian bahan (material) tanpa tambahan bahan lain yang bersifat campuran
secara kimia, jadi betul-betul bahan pembentuk bendungan asli. Bendungan ini
masih dapat dibagi menjadi :

21
- Bendungan urugan serbasama (homogeneous dams)

Adalah bendungan urugan yang lapisannya sama.

- Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dams, rockfill dams)

Adalah bendungan urugan yang terdiri atas beberapa lapisan , yaitu lapisan
kedap air (water tight layer), lapisan batu (rock zones, shell), lapisan batu teratur
(rip-rap) dan lapisan pengering (filter zones).

- Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (impermeable


face rockfill dams, dekced rockfill dams)

Adalah bendungan urugan batu berlapis-lapis yang lapisan kedap airnya


diletakkan di sebelah hulu bendungan. Lapisan kedap air yang biasa digunakan
adalah aspal dan beton bertulang.

2. Bendungan beton (concrete dams)

Adalah bendungan yang dibuat dari konstruksi beton baik dengan tulangan
maupun tidak. Ini masih dapat dibagi lagi menjadi :

- Bendungan beton berdasar berat sendiri (concrete gravity dams)

Adalah bendungan beton yang didesain untuk menahan beban dan gaya yang
bekerja padanya hanya dengan berat sendiri saja.

- Bendungan beton dengan penyangga (concerete butress dams)

Adalah bendungan beton yang mempunyai penyangga untuk menyalurkan


gaya-gaya yang bekerja padanya. Banyak dipakai apabila sungainya sangat lebar
sedangkan keadaan geologiya baik.

- Bendungan beton berbentuk lengkung (beton berbentuk busur atau


concerete arch dams)

Adalah bendungan beton yang di desain untuk menyalurkan gaya-gaya yang


bekerja padaya lewat abutmen kiri dan abutmen kanan bendungan.

22
- Bendungan beton kombinasi (combination concerete dams, mixed type
concerete dams)

Adalah merupakan kombinasi anatara lebih dari satu tipe bendungan.

3. Bendungan lainnya

Biasanya hanya untuk bendungan kecil misalnya : bendungan kayu (timber


dams), bendungan besi (steel dams), bendungan pasangan bata (brick dams),
bendungan pasangan batu (masonry dams).

e. Berdasarkan fungsinya

1. Bendungan pengelak pendahuluan (primary cofferdam, dike)

Adalah bendungan yang pertama-tama dibangun di sungai pada waktu debit


air rendah agar lokasi rencana bendungan pengelak menjadi kering yang
memungkinkan pembangunannya secara teknis.

2. Bendungan pengelak (cofferdam)

Adalah bendungan yang dibangun sesudah selesainya bendungan pengelak


pendahuluan sehingga lokasi rencana bendungan utama menjadi kering yang
memungkinkan pembangunannya secara teknis.

3. Bendungan utama (main dam)

Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu atau lebih tujuan
tertentu.

4. Bendungan sisi ( high level dam )

Adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan sisi kanan bendungan
utama yang tinggi puncaknya juga sama. Ini dipakai untuk membuat proyek
seoptimal-optimalnya, artinya dengan menambah tinggi pada bendungan utama
diperoleh hasil yang sebesar-besarnya biarpun harus menaikkan sebelah sisi kiri
dan atau sisi kanan.

5. Bendungan di tempat rendah (saddle dam)

23
Adalah bendungan yang terletak di tepi waduk yang jauh dari bendungan
utama yang dibangun untuk mencegah keluarnya air dari waduk sehingga air
waduk tidak mengalir ke daerah sekitarnya.

6. Tanggul ( dyke, levee)

Adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan atau kanan bendungan
utama dan di tempat yang jauh dari bendungan utama yang tinngi maksimalnya
hanya 5 m dengan panjang puncaknya maksimal 5 kali tingginya.

7. Bendungan limbah industri (industrial waste dam)

Adalah bendungan yang terdiri atas timbunan secara bertahap untuk menahan
limbah yang berasal dari industri.

8. Bendungan pertambangan (mine tailing dam, tailing dam)

Adalah bendungan yang terdiri atas timbunan secara bertahap untuk menahan
hasil galian pertambangan dan bahan pembuatnya pun berasal dari hasil galian
pertambangan juga.

f. Berdasarkan jalannya air

1. Bendungan untuk dilewati air (overflow dams)

Adalah bendungan yang dibangun untuk untuk dilewati air misalnya pada
bangunan pelimpah (spillway).

2. Bendungan untuk menahan air (non overflow dams)

Adalah bendungan yang sama sekali tidak boleh di lewati air.

Kedua tipe ini biasanya dibangun berbatasan dan dibuat dari beton, pasangan
batu atau pasangan bata.

Beberapa bendungan dapat kita temukan di bebrbagai wilayah Indonesia.


Masing- masing bendungan memiliki luas atau besar yang berbeda- beda.Salah
satu nya adalag Bendungan Sigura-gura. Bendungan terbesar yang menempati
posisi ketiga ini berada di Sumatera Utara atau tepatnya di radius 23,3 kilometer
dari Danau Toba. Bendungan Sigura- gura ini mempunyai fungsi untuk untuk

24
menjamin ketersediaannya volume air dan juga besarnya energi air yag
dibutuhkan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air di daerah tersebut dan juga
daerah yang berada di sekitarnya. Pembangkit listrik yang dihasilkan dari
bendungan ini dinamakan sebagai PLTA Sigura-gura.

Mulai dibangun pada bulan Mei 1978 dan selesai bulan Desember 1981,
Bendungan Sigura-gura berjenis struktur Beton Gravity dengan pajang maksimal
176m, lebar 9,5m, tinggi bendungan 46 meter dari dasar Sungai Asahan, dengan
volume 6.140.000 m3. Bendungan yang dibangun oleh Aldo palijama ini
digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik untuk Pabrik Aluminium
(INALUM).. Bendungan Sigura-gura ini mampu menghasilkan daya sebesar 1868
GWH setiap tahunnya.

Listrik yang dibangkitkan di Stasiun Pembangkit Listrik Sigura-gura


selanjutnya dialirkan ke Kuala Tanjung. Sebelum dialirkan ke Kuala Tanjung,
arus listrik diatur di Rumah Pengendali. Pengendalian ini dilaksanakan dengan
bantuan komputer di rumah pengendali PLTA Sigura-Gura, dengan sistem kendali
jarak jauh. Rumah pengendali dipersiapkan untuk mengendalikan pengoperasian
semua PLTA yang akan dibangun di sepanjang Sungai Asahan.

Stasiun Pembangkit Listrik Sigura-Gura dibangun 200 m dibawah permukaan


tanah, terdiri dari dua ruangan besar, yaitu ruang pembangkit listrik dan ruang
transformator utama. Dengan 4 perangkat pembangkit tenaga listrik (turbin).

Bendungan Sigura-Gura juga memiliki danau yang sangat indah dan masih
sepi dari wisatawan.Bendungan Sigura-Gura memiliki danau yang cukup luas.
Airnya tenang dan berwarna hijau toska. Uniknya, di sekeliling danau bendungan
ini kita dapat melihat lebih dari lima air terjun yang aliran airnya mengalir
langsung ke dalam danau.

Beberapa air terjun tersebut cukup tinggi dan terlihat indah, meski saya hanya
dapat memandang dari kejauhan. Dari beberapa air terjun yang mengelilingi
Danau Bendungan Sigura-Gura tersebut, hanya satu air terjun yang bisa
dikunjungi dan dibuka untuk umum, yaitu Air Terjun Simanimbo. Aliran sungai
di sekitar air terjun Sigura – gura sering dan rutin digunakan sebagai lokasi arung

25
jeram. Bahkan juga pernah diadakan kompetisi arum jeram tingkat nasional dan
internasional karena alirannya yang sangat deras.

PLTA Sigura-gura memiliki 4 generator yang tersusun secara vertical prancis


dan yang dialiri oleh air melalui terowongan air yang memiliki panjang 200m dari
permukaan bumi dan tiap generator ini menghasilkan 11KV dan kemudian di
transmisikan maka tegangan yang dihasilkan oleh PLTA sigura-gura mencapai
275KV, panjang Saluran Transmisi 120 Km direntangkan oleh menara sebanyak
271 menara, yang dimana sebagian dari tegangan ini akan disupply ke PT Inalum
yang berada di Kuala Tanjung sebagi sumber energi listrik untuk peleburan
Aluminium dan aluminium ini akan di kirim ke Jepang untuk diproduksi.

Selain sebagi penyuplai tenaga listrik ke pabrik alumunium, PLTD Sigura-


gura juga menyuplai tenaga listrik ke masyarakat. Jika dilihat dari hasil
pencapaian yang telah dicapai oleh PLTD Sigura-gura, danau Toba masih
memiliki potensi sebagai pembangkit listrik yang belum diketahui oleh
pemerintah.

PLTA sigura gura berada 200 m di dalam perut bumi dengan 4 unit generator
dan total kapasitas tetap dari keempat generator tersebut adalah 203 MW dan
merupakan PLTA bawah tanah pertama di Indonesia Bendungan Penadah Air
Siguragura (Siguragura Intake Dam) yang terletak di Simorea dan berfungsi
sebagai sumber air yang stabil untuk stasiun pembangkit listrik Siguragura. Air
yang ditampung di bendungan ini dipergunakan di Stasiun pembangkit listrik
Siguragura (Siguragura Power Station).

26
27
28
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Bendungan (dam) adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air
menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga
digunakan untuk mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air.

 Menurut ICOLD definisi dari bendungan adalah :

Bendungan yang tingginya lebih dari 15m, diukur dari bagian terbawah
pondasi sampai ke puncak bendungan. Bendungan yang tingginya antara 10m dan
15m dapat pula disebut dengan bendungan besar asal memenuhi salah satu atau
lebih kriteria sebagai berikut :

- Panjang puncak bendungan tidak kurang dari 500m.


- Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang dari 1 juta m³.
- Debit banjir maksimal yang diperhitungkan tidak kurang dari 2000
m³/detik.
- Bendungan menghadapi kesulitan - kesulitan khusus pada pondasinya (had
specially ifficult foundation problems).
- Bendungan di desain tidak seperti biasanya (unusual design).

29