Anda di halaman 1dari 42

Universitas Kristen Krida Wacana

Evaluasi Program Antenatal Care di Pusat Kesehatan Masyarakat


Kecamatan Medangasem Periode April 2017 sampai Maret 2018

Oleh :
Asnawati

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, Mei 2018
Universitas Kristen Krida Wacana

Evaluasi Program Antenatal Care di Pusat Kesehatan Masyarakat


Kecamatan Medangasem Periode April 2017 sampai Maret 2018

Oleh :
Asnawati
11.2016.067

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, Mei 2018
Evaluasi Program Antenatal Care di Pusat Kesehatan Masyarakat
Kecamatan Medangasem Periode April 2017 sampai Maret 2018

Lembar Persetujuan

Disetujui, Mei 2018

Dosen Pembimbing

(dr. Diana L. Tumilisar)

Dosen Penguji I Dosen Penguji II

(dr.Ernawaty Tamba) (dr. Melda)


Evaluasi Program Antenatal Care di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan
Medangasem Periode April 2017 sampai dengan Maret 2018
Asnawati*
*Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jakarta

Abstrak
Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah salah satu bagian dari unit pelayanan
kesehatan yang ada di Puskesmas yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
bayi, ibu hamil dan ibu nifas serta meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatam (bidan) baik didesa maupun di Puskesmas itu sendiri. Dewasa ini AKI dan AKB di
Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per
1.000 kelahiran hidup, AKN 19 per 1.000 kelahiran hidup, AKABA 44 per 1.000 kelahiran hidup.
Salah satu upaya untuk menekan AKI yaitu dengan meningkatkan Pelayanan Antenatal (Antenatal
Care). Materi yang dievaluasi berupa catatan bulanan data dasar penyehatan lingkungan dengan
membandingkan cakupan terhadap tolak ukur menggunakan pendekatan sistem. Hasil keluaran yang
diperoleh dari laporan puskesmas Medangasem tidak mencapai target yaitu cakupan K1 sebesar
79,55%, K4 sebesar 67,7%, dan deteksi ibu hamil resiko tinggi (43,61%). Dari masalah keluaran
diambil dua prioritas masalah yaitu cakupan kunjungan K4 dan deteksi dini ibu hamil resiko tinggi.
Masalah tersebut yaitu masih kurangnya system pencatatan dan pelaporan untuk masing-masing
program yaitu tidak terdapat PWS (Pemantauan Wilayah Setempat) yang tidak dibuat perbulan dan
perwilayah. Selain itu untuk deteksi resiko tinggi ibu hamil puskesmas Medangasem masih kurangnya
perencenaan dan tidak ada panduan penentuan deteksi resiko tinggi ibu hamil. Untuk menyelesaikan
masalah, meningkatkan system pencatatan dan pelaporan lebih baik lagi, membuat PWS per bulan
dan perwilayah cakupan desa puskesmas Medangasem, dan mengadakan perencanaan dan panduan
untuk deteksi resiko tinggi ibu hamil.
Kata kunci : Evaluasi program, pelayanan antenatal care, angka kematian ibu, Puskesmas
Medangasem
Antenatal Care Program Evaluation at Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan
Medangasem Period Mei 2017 sampa dengan April 2018

Asnawati*
*Medical Science Community Faculty of Kristen Krida Wacana University, Jakarta

Abstract
Services Maternal and Child Health (MCH) is one part of the health care units that exist in the
health center which aims to reduce morbidity and mortality of infants, pregnant women and
postpartum mothers and improve the coverage of delivery assistance by skilled kesehatam (midwife)
either in villages or Community Health Center. Today MMR and IMR in Indonesia is still high
compared to other ASEAN countries. According to data from Indonesia Demographic Health Survey
(IDHS) 2007, AKI 228 per 100,000 live births, IMR 34 per 1,000 live births, AKN 19 per 1,000 live
births, AKABA 44 per 1,000 live births. One effort to suppress AKI is to upgrade the Antenatal Care
(Antenatal Care). The material was evaluated in the form of monthly records basic data sanitation
coverage by comparing the benchmark using a systems approach. The output obtained from the
report Medangasem health centers that do not reach the target of coverage amounted to 79.55% K1,
K4 amounted to 67.7%, and amounted to 67,7% Fe3. Other coverage also does not hit the target with
a problem of, TT2 (25,61%), the detection of high risk pregnant women (34,93%) and referral of
high-risk pregnant women (43,61%). The output is taken from issue two priority issues, namely
coverage visit K4 and early detection of high risk pregnant mothers. The problem is still a lack of
recording and reporting system for each program that is not contained PWS (Local Regional
Monitoring) is not made monthly and per-region. In addition to the detection of high risk pregnant
women still lack planning Medangasem health centers and no determination of the guide detection of
high risk pregnant women. To resolve the problem, improve the system of recording and reporting
better yet, make PWS per month and per-region Medangasem coverage village health centers, and
conduct planning and guidelines for the detection of high risk pregnant women.

Key words: program evaluation, antenatal services, maternal mortality rate, puskesmas
Medangasem
Daftar Isi

Lembar Persetujuan i
Abstrak ii
Daftar Isi iv
Bab I Pendahuluan 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan 4
1.3.1 Tujuan umum 4
1.3.2 Tujuan khusus 4
1.4 Manfaat Penelitian 5
1.4.1 Manfaat Bagi Evaluator 5
1.4.2 Manfaat Bagi Perguruan Tinggi 5
1.4.3 Manfaat Bagi Puskesmas 5
1.4.4 Manfaat Bagi Masyarakat 5
1.5 Sasaran 6
Bab II Materi dan Metode 7
Bab III Kerangka Teoritis 8
3.1 Sistem 8
3.2 Tolok Ukur 9
Bab IV Penyajian Data 10
4.1 Sumber Data 10
4.2 Data umum 10
4.2.1 Data Geografis 10
4.2.2 Data Demografis 11
4.2.3 Fasilitas Kesehatan ………………………………………………………...... 11
4.3 Data khusus 12
4.3.1 Masukan 12
4.3.2 Proses 20
4.3.3 Keluaran 23
4.3.4 Lingkungan 26
4.3.5 Umpan Balik 27
4.3.6 Dampak 27
Bab V Pembahasan Masalah 28
Bab VI Perumusan Masalah 30
Bab VII Prioritas Masalah 31
Bab VIII Penyelesaian Masalah 32
Bab IX Penutup 36
9.1 Kesimpulan 36
9.2 Saran 37
Daftar Pustaka 38
Lampiran
BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Neonatus (AKN), Angka Kematian
Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator
status kesehatan masyarakat. Salah satu komitmen kesepakatan global (Millenium
Development Goals/MDGs, 2000) adalah menurunkan angka kematian ibu. Diharapkan
pada tahun 2015, Angka Kematian Ibu (AKI) menurun sebesar tiga perempatnya dalam
kurun waktu 1990-2015. Dengan dasar tersebut Indonesia mempunyai komitmen untuk
menurunkan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Saat ini Angka Kematian
Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi dibandingkan
dengan negara ASEAN lainnya.1-3
Upaya untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) telah dimulai
sejak akhir tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative, yang secara
konseptual diperkenalkan dengan strategi Making Pregnancy Safer (MPS) yang
dicanangkan pemerintah pada tahun 2000, dimana terdapat tiga pesan kunci Making
Pregnancy Safer (MPS) yaitu setiap persalinanan ditolong oleh tenaga kesehatan
terlatih, setiap komplikasi obsetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat,
setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap upaya pencegahan kehamilan yang
tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.1,3,4
Salah satu upaya untuk menekan angka kematian ibu dapat dilakukan melalui
peningkatan pelayanan kesehatan ibu hamil yang dikenal sebagai Antenatal Care
(ANC). Pelayanan Antenatal adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu-ibu hamil
oleh petugas kesehatan untuk memastikan kehamilannya sehat dan selamat sesuai
dengan standar Pelayanan Antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan
Kebidanan (SPK). Tujuan Antenatal Care (ANC) adalah ibu hamil agar dapat bersalin
dengan sehat dan memperoleh bayi yang sehat, mendeteksi dan mengantisipasi dini
kelainan kehamilan, dan deteksi serta antisipasi dini kelainan janin. Kementerian
Kesehatan menetapkan K1, K4, dan penanganan komplikasi sebagai indikator ANC
(Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Kemkes RI, 2012). Cakupan pemeriksaan kehamilan
atau Antenatal Care (ANC) di Indonesia (82%) menurut WHO 2011 masih tertinggal
berbanding negara-negara ASEAN yang lain seperti Korea Utara (95%), Sri Lanka
(93%) dan Maladewa (85%). Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2012 menyebutkan, Angka Kematian Ibu (AKI) melonjak drastis 359 per
100.000 kelahiran hidup. Sebelumnya Angka Kematian Ibu (AKI) dapat ditekan dari
390 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran
hidup pada tahun 2007.1-3
Pemeriksaan kehamilan sangat penting dilakukan oleh semua ibu hamil untuk
mengetahui pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Hampir seluruh ibu hamil di
Indonesia (95,4%) sudah melakukan pemeriksaan kehamilan (K1) dan frekuensi
kehamilan minimal 4 kali (K4) selama masa kehamilannya adalah (83,5%). Adapun
untuk cakupan pemeriksaan kehamilan pertama pada trimester pertama adalah (81,6%)
dan frekuensi ANC K4 (minimal 1 kali pada trimester pertama, minimal 1 kali pada
trimester kedua dan minimal 2 kali pada trimester 3) sebesar (70,4%). Tenaga yang
paling banyak memberikan pelayanan ANC adalah bidan (88%) dan tempat pelayanan
ANC paling banyak diberikan di praktek bidan (52,5%).1,2
Menurut Riskesdas 2013, kunjungan ibu hamil ke tenaga kesehatan di Indonesia
yaitu K1 (95,25%) dengan target (98%) dan K4 (86,70%) dengan target (93%). Secara
nasional, indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada tahun 2014
belum mencapai target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan di tahun
yang sama, yakni sebesar (95%). Selain itu data PWS KIA menunjukkan cakupan
deteksi dini ibu hamil dengan risiko tinggi tahun 2012 sebesar (19,01%) dengan target
nasional (20%), selain daripada kunjungan ibu hamil ke tenaga kesehatan, pemberian
tablet besi dan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) perlu diberikan perhatian selaras
dengan peningkatan kualitas pelayanan antenatal yang lain.5,6
Berdasarkan Laporan Tahunan tahun 2016 Puskesmas Kecamatan Medangasem
menunjukkan cakupan yang pada umumnya belum mencapai target antara lain adalah
besarnya cakupan kunjungan K1 sebesar (86%) dari target (99%), besarnya cakupan
kunjungan K4 sebesar (84%) dari target (98%), besarnya cakupan deteksi ibu hamil
dengan risiko tinggi oleh masyarakat sebesar (26,44%) dari target (100%). Berdasarkan
latar belakang diatas maka perlu dilakukan evaluasi untuk menilai tingkat keberhasilan
program.
1.2 Rumusan Masalah
1. Statistik kesehatan World Health Organization (WHO) tahun 2011, cakupan
pemeriksaan kehamilan atau pelayanan Antenatal Care (ANC) di Indonesia
(82%) masih tertinggal berbanding negara-negara ASEAN yang lain seperti
Korea Utara (95%) dan Sri Lanka (93%) dan Maladewa (85%).
2. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka
Kematian Ibu (AKI) melonjak dratis sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup
dimana belum sesuai dengan target MDGs.
3. Kunjungan ibu hamil ke tenaga kesehatan tahun 2013 menurut Riskesdas yaitu K1
(95,25%) dengan target (98%) dan K4 (86,70%) dengan target (93%).
4. Secara nasional indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada
tahun 2014 belum mencapai target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian
Kesehatan di tahun yang sama, yakni sebesar (95%).
5. Berdasarkan Laporan Tahunan tahun 2017 Puskesmas Kecamatan Medangasem
menunjukkan cakupan yang pada umumnya belum mencapai target antara lain
adalah Cakupan pemberian imunisasi tetanus TT2+ di Kecamatan Medangasem
pada tahun 2017 periode April 2017 sampai Maret 2018 hanya 38,85% dari target
90%, cakupan kunjungan K1 sebesar 80,02% dari target 100%, besarnya
kujungan K4 sebesar 78,50% dari target 100% dan cakupan pemberian tablet Fe
90 tablet sebesar Fe1= 87,87 % dan Fe3= 84,82% dari target 95%
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pelayanan antenatal di
UPTD Puskesmas Medangasem periode April 2017 sampai dengan Maret 2018
dengan pendekatan sistem.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Diketahuinya cakupan kunjungan ibu hamil pertama (K1) dan kunjungan
keempat (K4) di Puskesmas Kecamatan Medangasem, Kabupaten
Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018.
2. Diketahuinya cakupan pemberian imunisasi TT2+ di Puskesmas Kecamatan
Medangasem, Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan
Maret 2018.
3. Diketahuinya cakupan pemberian tablet zat besi, terutama Fe1 dan Fe3 di
Puskesmas Kecamatan Medangasem, Kabupaten Karawang periode April
2017 sampai dengan Maret 2018.
4. Diketahuinya cakupan deteksi bumil dengan resiko tinggi di Puskesmas
Kecamatan Medangasem, Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai
dengan Maret 2018.
5. Diketahuinya cakupan penanganan komplikasi obstetri yang ditanganin di
Puskesmas Kecamatan Medangasem, Kabupaten Karawang periode April
2017 sampai dengan Maret 2018.
6. Diketahuinya cakupan penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Medangasem,
Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018.
7. Diketahuinya cakupan kunjungan rumah di Puskesmas Kecamatan
Medangasem, Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan
Maret 2018.
8. Diketahuinya cakupan pencatatan dan pelaporan di Puskesmas Kecamatan
Medangasem, Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan
Maret 2018.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Evaluator
1. Menerapkan ilmu yang telah diperoleh saat kuliah mengenai evaluasi
program dengan pendekatan sistem.
2. Melatih serta mempersiapkan diri dalam mengevaluasi program, khususnya
program kesehatan.
3. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam mengambil langkah yang harus
dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, antara lain
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.
4. Mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang evaluasi Pelayanan
Antenatal Care di Puskesmas dalam lingkup wilayah kerjanya.

1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi


1. Mengamalkan Tri Darma Perguruan Tinggi.
2. Mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di
bidang kesehatan.
1.4.3 Bagi Puskesmas yang Dievaluasi
Dengan adanya masukan berupa hasil evaluasi dan saran sederhana yang
diusulkan, diharapkan dapat menjadi umpan balik positif bagi Puskesmas
Medangasem, Karawang dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas program
Pelayanan Antenatal Care, sehingga mutu dari pada pelayanan Puskesmas ini
menjadi lebih baik dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu hamil.

1.4.4 Bagi Masyarakat


Menjadi bahan informasi bagi masyarakat bahwa program Pelayanan
Antenatal Care memiliki peranan penting, selain untuk mengetahui masalah
kependudukan, juga untuk meningkatkan kesejahteraan ibu hamil dalam
masyarakat itu sendiri.

1.5 Sasaran
Semua ibu hamil yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Medangasem,
Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018.
Bab II
Materi dan Metode

2.1 Materi
Materi yang dievaluasi dalam program cakupan ibu hamil K4 lebih ke Pelayanan
Antenatal (ANC) berdasarkan Laporan Bulanan KIA dan Pemantauan Wilayah
Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) di UPTD Puskesmas Medangasem,
Kabupaten Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018 yang terdiri dari :

1. Kunjungan ibu hamil K1 dan K4.


2. Pemberian tablet zat besi Fe1 dan Fe3 kepada ibu hamil.
3. Pemberian imunisasi TT kepada ibu hamil.
4. Penyuluhan perorangan dan kelompok.
5. Deteksi risiko ibu hamil oleh tenaga kesehatan dan masyarakat.
6. Penanganan komplikasi obstetri yang ditanganin
7. Rujukan kasus risiko tinggi ibu hamil.
8. Kunjungan rumah ibu hamil.
9. Pencatatan dan pelaporan.

2.2 Metode
Dengan cara mengukur cakupan kunjungan ibu hamil K4, Program Kesehatan Ibu
Hamil (Antenatal Care) di Puskesmas Kecamatan Medangasem, periode April 2017
sampai dengan Maret 2018.
Dengan cara membandingkan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (Antenatal Care)
terhadap tolok ukur yang sudah ditetapkan dengan menggunakan metode pendekatan
sistem, yang disajikan secara tekstular dan tabular.
Bab III
Kerangka Teoritis

3.1 Kerangka Teoritis

5
Lingkungan

1 2 3 6

Masukan Proses Keluaran Dampak

4
Umpan balik

Gambar 3.1. Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja yang diterapkan pada
waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Sistem terbentuk dari elemen yang
saling berhubungan dan mempengaruhi. Gambar di atas menerangkan sistem dengan
definisi menurut Ryans adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling berhubungan
oleh suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam
upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan. Elemen tersebut, yaitu:
1. Masukan (input), adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam
sistem, dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut, dan terdiri
dari unsur berikut yang merupakan variabel dalam melaksanakan Evaluasi
Program Antenatal Care yaitu:
- Tenaga (man)
- Dana (money)
- Sarana (material)
- Metode (methods)
2. Proses (process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem
yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan,
yang terdiri dari unsur berikut merupakan variabel dalam melaksanakan Evaluasi
Program Antenatal Care yaitu:
- Perencanaan (planning)
- Organisasi (organization)
- Pelaksanaan (actuating)
- Pengawasan (controlling)
3. Keluaran (output) adalah elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya proses
dalam sistem.
4. Umpan balik (feedback) adalah elemen yang merupakan keluaran dari sistem dan
sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
5. Lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola sistem
tapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.
6. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.

3.2 Variabel dan Tolok Ukur


Tolok ukur terdiri daripada variabel-variabel : masukan, proses, keluaran,
lingkungan, umpan balik dan dampak yang digunakan sebagai pembanding atau target
yang harus dicapai dalam program Pelayanan Antenatal Care. (Lampiran I)
Bab IV
Penyajian Data

4.1 Sumber Data


Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari :
1. Data Monografi Kecamatan Medangasem, Kabupaten Karawang tahun 2017.
2. Laporan Bulanan KIA (LB3) Puskesmas Kecamatan Medangasem, Kabupaten
Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018.
3. Laporan Bulanan PWS (Pemantauan Wilayah Setempat) KIA Puskesmas
Medangasem, Kabupaten Karawang April 2017 sampai dengan Maret 2018.
4. Laporan Bulanan Imunisasi Puskesmas Kecamatan Medangasem, Kabupaten
Karawang periode April 2017 sampai dengan Maret 2018.
4.2 Data Umum
4.2.1 Data Wilayah Geografi
1. Lokasi Puskesmas
Lokasi gedung UPTD Puskesmas Medangasem terletak di Jalan Raya
Medangasem, Desa Medangasem, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten
Karawang.
2. Luas wilayah kerja
Luas wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Medangasem Kecamatan
Jayakerta 1.713 Ha. Untuk jelasnya dapat dilihat luas wilayah per desa,
sebagai berikut :

Ciptamarga : 476 Ha
Medangasem : 505 Ha
Kampungsawah : 732 Ha
Desa yang paling luas adalah Desa Kampung Sawah yaitu 732 Ha,
sedangkan desa yang paling kecil wilayahnya yaitu Desa Ciptamarga
dengan luas 476 Ha. secara administratif wilayah kerja Puskesmas
Medangasem mempunyai batas-batas wilayah :

Sebelah Utara : Kecamatan Medangasem


Sebelah Selatan : Kecamatan Rengasdengklok
Sebelah Barat : Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi
Sebelah Timur : Wilayah Kerja Puskesmas Jayakerta
3. Wilayah Administratif
Secara administratif wilayah UPTD Puskesmas DTP Medangasem
mempunyai wilayah kerja 3 (tiga) desa, terdiri dari 13 dusun, 13 RW dan 57
RT. Ketiga desa tersebut adalah Desa Medangasem, Desa Ciptamarga dan
Kampungsawah dengan jarak Desa terjauh 3 Km dari Puskesmas dengan
waktu tempuh 15 menit dengan roda 2 dan 30 menit dengan roda 4. Berikut
nama-nama desa yaitu :
- Desa Medangasem jarak dari Puskesmas 1 Km, dapat dicapai semua
jenis kendaraan.
- Desa Ciptamarga jarak dari Puskesmas 2 Km, dapat dicapai semua
jenis kendaraan.
- Desa Kampungsawah jarak dari Puskesmas 3 Km, dapat dicapai
semua jenis kendaraan.
4.2.2 Data Demografis
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Medangasem pada Tahun 2017
adalah 34.832 jiwa dan meliputi 14.227 Kepala Keluarga.
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Medangasem, antara lain :
- Desa Medangasem yaitu 10.354 jiwa dengan jumlah KK 5.476.
- Desa Ciptamarga yaitu 9.507 jiwa dengan jumlah KK 3.260
- Desa Kampung sawah yaitu 14.971 jiwa dengan jumlah KK 5.491
Tingkat Pendidikan penduduk di wiayah kerja UPTD Puskesmas Medangasem
sebagian besar yaitu sekolah dasar sebanyak 35,54% tidak sekolah 35,37%.
4.2.3 Data Fasilitas Kesehatan
- 1 Gedung Puskesmas
- 24 Posyandu
- 1 Ruang Laboratorium
- 1 Balai Pengobatan 24 jam
- 1 Praktik Dokter Gigi
- 11 Praktek Bidan
- 2 Praktik Dokter Umum
4.3 Data Khusus
4.3.1 Masukan
A. Tenaga
- Dokter Umum : 2 orang
- Bidan : 11 orang
- Penanggung Jawab Program : 1 orang
- Kader Posyandu : 5 orang/posyandu (120 orang/24
posyandu)

B. Dana
- Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)
- Anggaran Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)

C. Sarana

- Medis
 TT Gynecology : 1 Buah
 Doppler : 1 Set
 Timbangan dewasa : 2 Buah
 Pita pengukur : 3 Buah
 Tensimeter : 1 Buah
 Stetoskop : 1 Buah
 USG dan monitor : 1 Set
 Tablet besi : Tersedia
 Vaksin TT dan alat suntik : Tersedia
 Alat dan bahan laboratorium:
 Mesin hitung hb
 Stick proteinuri
 Tes Pack Pregnancy strip β HCG
- Non Medis
 Ruang KIA : 1 Ruangan
 Ruang USG : 1 Ruangan
 Kursi Tunggu : 1 Buah
 TT Pemeriksaan : 2 Buah
 Lampu : 2 Buah
 Lemari Alat : 1 Buah
 Lemari Obat : 1 Buah
 Genset 4500 watt :0
 Meja Instrumen Stenlees : 3 Buah
D. Metode
Terdapat metode untuk :
1. Perawatan Kehamilan
- K1 adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan
yang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan
terpadu dan komprehensif sesuai standar. Kontak pertama harus
dilakukan sedini mungkin pada trimester pertama, sebaiknya
sebelum minggu ke-8 di suatu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu.
- K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan
tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, untuk
mendapatkan pelayanan terpadu dan komprehensif sesuai
standar (1-1-2) di suatu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. Kontak 4 kali dilakukan sebagai berikut : minimal satu
kali pada trimester I (0-12 minggu), minimal satu kali pada
trimester ke-2 (>12 – 24 minggu), dan minimal 2 kali pada
trimester ke-3 (>24 minggu sampai kelahiran). Kunjungan
antenatal bisa lebih dari 4 kali sesuai kebutuhan/indikasi dan
jika ada keluhan, penyakit atau gangguan kehamilan.
- Anamnesis
Pada kunjungan pertama, dikumpulkan informasi
mengenai ibu hamil yaitu menanyakan identitas, keluhan
yang sekarang dirasakan, riwayat haid, riwayat
perkawinan, riwayat kehamilan (HPHT, gerakan janin,
masalah atau tanda-tanda bahaya misalnya penglihatan
kabur, keluhan yang lazim pada kehamilan, penggunaan
obat, dan kekhawatiran yang dirasakan ibu hamil),
riwayat kehamilan yang lalu (berapa kali hamil,
perdarahan (kehamilan, persalinan, dan nifas), riwayat
persalinan, hipertensi, melahirkan janin dengan BB < 2,5
Kg atau > 4 Kg, riwayat keguguran, bayi yang dilahirkan,
riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat keluarga
(penyakit keturunan, anak kembar, penyakit menular, dll),
riwayat sosial ekonomi dan budaya (status perkawinan,
riwayat KB, dukungan keluarga pada kehamilan,
kebiasaan makan dan gizi, kebiasaan hidup sehat, dll),
kebiasaan kerja pasien setiap hari, dan tempat persalinan
yang diinginkan. Pada kunjungan berikutnya
dikumpulkan informasi mengenai kehamilan untuk
mendeteksi komplikasi dan melanjutkan pelayanan yang
diperlukan.
- Pemeriksaan 10T terdiri atas :
1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2) Ukur tekanan darah.
3) Nilai status Gizi (ukur lingkar lengan atas/LiLA)
4) Ukur tinggi fundus uteri.
5) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin
(DJJ).
6) Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan
imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan.
7) Pemberian tablet tambah darah (tablet besi 90 tablet).
8) Pemeriksaan laboratorium (rutin dan khusus).
9) Tatalaksana/penanganan kasus.
10) Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan
Kehamilan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta
KB pasca persalinan.
- Pemeriksaan fisik
a) Tinggi badan: Diukur tanpa alas kaki, satuan
centimeter. Pengukuran tinggi badan dilakukan pada
pertama kali kunjungan. Untuk menapis adanya
faktor risiko pada ibu hamil. Tinggi badan ibu hamil
< 145cm meningkatkan risiko untuk terjadinya CPD.
b) Berat badan: Ditimbang tanpa alas kaki dan pakaian
seringan mungkin, satuan kilogram. Penimbangan
pada setiap kali kunjungan untuk mendeteksi adanya
gangguan pertumbuhan janin. Penambanhan BB <
9kg selama kehamilan/kurang dari 1kg setiap
bulannya menunjukan adanya gangguan pertumbuhan
janin.
c) Tekanan darah: Menggunakan sfigmomanometer,
satuan mmHg. Pengukuran dilakukan setiap kali
kunjungan untuk mendeteksi adanya hipertensi
(tekanan darah ≥ 140/90 mmHg) pada kehamilan dan
preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah dan
atau tungkai bawah; dan atau proteinuria).
d) Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak
pertama oelh tenaga kesehatan di trimester 1 untuk
skrining ibu hamil berisiko Kurang Energi Kronis
(KEK) dimana LiLA < 23,5cm. Ibu hamil dengan
KEK dapat melahirkan bayi berat lahir rendah
(BBLR).
- Pemeriksaan Obstetri
a) Mengukur TFU: Menggunakan pita ukur, diukur dari
fundus ke simfisis dengan satuan sentimeter.
Dilakukan pada setiap kali kunjungan untuk
mendeteksi janin sesuai dengan umur kehamilan atau
tidak. Standar pengukuran setelah kehamilan 24
minggu.
b) Menentukan presentasi janin. Untuk menentukan
presentasi janin dilakukan palpasi atau pemeriksaan
Leopold (Leopold I – IV) yang dilakukan pada akhir
trimester II dan selanjutnya setiap kali kunjungan.
- Leopold I : Menentukan Tinggi Fundus Uteri
dengan palpasi setelah usia kehamilan 12 minggu
dan dengan pita pengukur (dari simfisis pubis
sampai dengan bagian janin yang ada di fundus
uteri) setelah usia kehamilan 22 minggu, dan
dengan perabaan untuk menentukan bagian janin
yang ada di fundus uteri.
- Leopold II : Meraba samping rahim dan
merasakan di sebelah mana teraba tahanan yang
lebih keras dan tahanan terus dari atas ke bawah,
untuk mengetahui letak punggung janin atau
bagian janin di dinding uterus.
- Leopold III : Meraba bagian bawah rahim
dengan satu tangan untuk mengetahui bagian
janin yang berada di bawah rahim.
- Leopold IV : Meraba bagian janin yang berada
di bagian bawah rahim dengan dua tangan dan
menentukan sampai di mana janin telah masuk
Pintu Atas Panggul.
c) Pemeriksaan Detak Jantung Janin (DJJ): pemeriksaan
auskultasi untuk menentukan denyut jantung janin
menggunakan Doppler. Denyut jantung janin normal
120-160 kali/menit. Bila ada kelainan denyut
mungkin dapat disebabkan oleh adanya kelainan
janin atau plasenta.
- Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil
adalah pemeriksaan rutin dan khusus. Pemeriksaan rutin
adalah pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan
pada setiap ibu hamil yaitu golongan darah, hemoglobin
darah dan pemeriksaan spesifik daerah endemis (malaria,
HIV, dll). Sementara pemeriksaan laboratorium khusus
adalah pemeriksaan laboratorium lain yang dilakukan atas
indikasi pada ibu hamil yang melakukan kunjungan
antenatal. Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat
antenatal tersebut meliputi: pemeriksaan golongan darah,
kadar Hb, pemeriksaan protein dalam urin, pemeriksaan
kadar gula darah, pemeriksaan tes sifilis, pemeriksaan
HIV, pemeriksaan BTA
 Hemoglobin : dengan mesin hitung Hb
 Protein urin : dengan stick protein urin
 Tes kehamilan : tes β HCG
- Pemberian tablet zat besi
Diberikan minimal sebanyak 90 tablet besi dan asam folat
selama kehamilan, yaitu 30 tablet (Fe1) pada kunjungan
pertama (K1), 30 tablet besi (Fe2) pada kunjungan kedua
(K2) dan 30 tablet besi (Fe3) pada kunjungan keempat
(K4). Untuk pencegahan anemia diberikan 1 tablet sehari,
sedangkan untuk pengobatan anemia diberikan 3 tablet
sehari.
- Pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT)
Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu
hamil harus mendpatkan imunisasi TT. Pada kontak
pertama ibu hamil diskrining status imunisasi TTnya.
Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, di sesuaikan
dengan status TT pada ibu saat ini. Ibu hamil minimal
meliliki status imunisasi T2 agar mendapatkan
perlindungan terhadap infeksi tetanus. Ibu hamil dengan
status imunisasi T5 (TT long life) tidak perlu diberikan
imunisasi TT lagi.
- Deteksi ibu hamil risiko tinggi : kegiatan yang
dilakukan untuk menemukan ibu hamil yang
mempunyai faktor risiko dan komplikasi kebidanan.
a. Faktor risiko pada ibu hamil antara lain :
- Primigravida < 20 tahun atau > 35 tahun
- Anak lebih dari 4
- Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang
< 2 tahun
- Kurang Energi Kronis (KEK) dengan lingkar
lengan atas (LILA) < 23,5 cm dan penambahan
berat badan < 9 kg selama masa kehamilan.
- Anemia dengan dari Hb < 11 g/dL.
- Tinggi badan < 145 cm, atau dengan kelainan
bentuk panggul dan tulang belakang.
- Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya
atau sebelum kehamilan ini.
- Sedang/pernah menderita penyakit kronis, antara
lain: TBC, kelainan jantung-ginjal-hati, psikosis,
kelainan endokrin, tumor dan keganasan.
- Riwayat kehamilan buruk: keguguran berulang,
KET, mola hidatidosa, KPD, bayi dengan cacat
kongenital.
- Riwayat persalinan dengan komplikasi:
persalinan dengan seksio sesarea, ekstraksi
vakum / forseps.
- Riwayat nifas dengan komplikasi: perdarahan
pasca persalinan, infeksi masa nifas, psikosis
post partum (post partum blues).
- Riwayat keluarga menderita penyakit kencing
manis, hipertensi dan riwayat cacat kongenital.d
- Kelainan jumlah janin: kehamilan ganda, janin
dampit, monster.
- Kelainan besar janin: pertumbuhan janin
terhambat, janin besar.
- Kelainan letak dan posisi janin: letak lintang,
sungsang pada usia kehamilan > 32 minggu.
b. Komplikasi pada ibu hamil
- Ketuban pecah dini
- Perdarahan pervaginam: keguguran, plasenta
previa, solusio plasenta.
- Hipertensi dalam kehamilan: tekanan darah
tinggi (sistolik > 140 mmHg, diastolik > 90
mmHg), dengan atau tanpa edema pre-tibial.
- Ancaman persalinan prematur.
- Infeksi berat dalam kehamilan: demam berdarah,
tifus abdominalis, sepsis.
2. Rujukan kasus risiko tinggi ibu hamil
Merupakan pelayanan kepada ibu hamil dengan komplikasi
kebidanan untuk mendapat penanganan definitif sesuai standar oleh
tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan.
Ibu hamil yang tidak dapat dilakukan di Puskesmas dirujuk ke rumah
sakit PONEK.
3. Penyuluhan kelompok dan perorangan
- Perorangan : Setiap kali kunjungan, dengan wawancara
- Kelompok :
- Kelas Ibu Hamil, 3 kali dalam 1 bulan di 1 desa, dengan
jarak 1 minggu pada tiap pertemuannya. Persiapan peserta
kelas ibu hamil, mengundang ibu hamil umur kehamilan
antara 4 sampai 36 minggu.
- Melakukan identifikasi/mendaftar semua ibu hamil yang
ada di wilayah kerja. Ini dimaksudkan untuk mengetahui
berapa jumlah ibu hamil dan umur kehamilannya
sehingga dapat menentukan jumlah peserta setiap kelas
ibu hamil dan berapa kelas yang akan dikembangkan
dalam kurun waktu tertentu misalnya, selama satu tahun.
- Mempersiapkan tempat dan sarana pelaksanaan kelas ibu
hamil, misalnya tempat di Puskesmas atau Polindes,
Kantor Desa/Balai Pertemuan, Posyandu atau di rumah
salah seorang warga masyarakat. Sarana belajar
menggunakan, tikar/karpet, bantal dan lain-lain jika
tersedia
- Siapkan tim pelaksana kelas ibu hamil yaitu siapa saja
fasilitatornya dan nara sumber jika diperlukan.
Mempersiapkan materi, alat bantu penyuluhan dan jadwal
pelaksanaan kelas ibu hamil serta mempelajari materi
yang akan disampaikan.
- Masing-masing dilakukan pencatatan dan pelaporan
berupa Notulen Pertemuan dan lembar Absensi peserta
Kelas Ibu Hamil. Kelas Ibu hamil dilakukan pretest,
penyuluhan menggunakan alat peraga, diskusi kelompok
dan senam hamil.
4. Kunjungan rumah ibu hamil
Mengunjungi rumah minimal 1x/bulan, untuk memeriksakan keadaan
kesehatan ibu hamil dan janinnya dengan menghitung DJJ (Denyut
Jantung Janin) terutama pada kasus ibu hamil dengan risiko tinggi
dan sedang serta memberikan nasihat-nasihat tentang menjaga
kehamilannya oleh bidan desa.
5. Pencatatan dan pelaporan : Menggunakan SP2TP.
 Pencatatan
o Register ibu hamil : buku register untuk mencatat setiap
ibu hamil yang diperiksa.
o Buku KIA : buku untuk memantau perkembangan
kesehatan ibu hamil setiap kali pemeriksaan kehamilan,
dipegang oleh ibu hamil.
o Kohort ibu hamil : buku pencatatan perkembangan
kesehatan ibu hamil.
o Pencatatan PWS KIA (Pemantauan Wilayah Setempat
Kesehatan Ibu dan Anak): Setiap bulannya, Puskesmas
melakukan pencatatan PWS KIA berdasarkan data
pencatatan di Puskesmas. Selain itu data sasaran juga
diperoleh dengan mengumpulkan data yang berasal dari
lintas program dan fasilitas pelayanan lain yang ada di
wilayah kerja.
 Pelaporan
o Laporan Bulanan KIA (LB3): merupakan formulir
pelaporan KIA untuk dilaporkan ke Suku Dinas
Kesehatan Kabupaten Karawang.
4.3.2 Proses
a. Perencanaan
Ada tertulis, lengkap dan terperinci mengenai :

1. Perawatan kehamilan kunjungan ibu hamil K1 dan K4


Akan dilakukan oleh bidan setiap hari kerja dari senin sampai sabtu
pada pukul 08.00-14.00 WIB di poliklinik kebidanan dan kandungan
dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetrik dan
pemeriksaan laboratorium.
2. Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil
Akan dilakukan oleh bidan setiap hari kerja dari senin sampai sabtu
pada pukul 08.00-14.00 WIB. Pemberian tablet besi mulai diberikan
pada ibu hamil trimester I sebanyak 90 tablet yang diberikan dalam 3
tahap sesuai kunjungan ibu hamil pada bulan 1, 4 dan 7.
3. Pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT) pada ibu hamil
Akan dilakukan oleh bidan setiap hari kerja dari senin sampai sabtu
pada pukul 08.00-14.00 WIB. Ibu hamil yang belum pernah diberikan
imunisasi TT harus mendapatkan imunisasi paling sedikit 2 kali
suntikan selama kehamilannya, yaitu pertama pada saat K1 dan kedua
kali pada 4 minggu kemudian. Disuntikan secara subkutan dosis 0,5
cc pada lengan atas.
4. Deteksi dini risiko tinggi ibu hamil
Akan dilakukan oleh bidan setiap hari kerja dari senin sampai sabtu
pada pukul 08.00-14.00 WIB di dalam Puskesmas bersamaan saat
pemeriksaan 10 T pada saat kunjungan ibu hamil.
5. Rujukan kasus risiko tinggi ibu hamil
Rujukan ibu hamil risiko tinggi dilakukan oleh bidan setiap hari kerja
senin sampai sabtu pada pukul 08.00-14.00 WIB di poliklinik KIA
dengan merujuk golongan ibu hamil berisiko tinggi.
6. Penyuluhan perorangan dan kelompok
- Perorangan: Akan dilakukan oleh bidan kepada setiap bumil
yang melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan setiap hari
kerja dari senin sampai sabtu pada pukul 08.00-14.00 WIB.
- Kelompok: Merencanakan dan melaksanakan penyuluhan
kelompok (kelas ibu hamil) oleh bidan desa minimal 3 kali
sebulan dengan tempat dan waktu yang disepakati oleh bidan
dengan peserta kelas ibu hamil
7. Kunjungan rumah ibu hamil
Akan dilakukan minimal 1 bulan sekali oleh bidan desa dengan
sasaran ibu hamil risiko tinggi dan sedang untuk memeriksakan
keadaan kesehatan ibu hamil dan janinnya dengan pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan obsteri terutama pada kasus ibu hamil dengan risiko
tinggi dan sedang serta memberikan nasihat-nasihat tentang menjaga
kehamilannya.
8. Pencatatan dan pelaporan
- Pencatatan : akan dilakukan setiap hari kerja pada pukul 08.00-
14.00 WIB.
- Pelaporan : akan dilakukan setiap awal bulan

b. Pengorganisasian
Kepala Puskesmas Medangasem

dr. Hj. Cucu Siti Manpalah, M. Kes

Koordinator KIA

Hj. Ika Rostika,SST

Pelaksana

Bidan, Perawat, Kader

Gambar 4.1. Struktur Organisasi Program Pelayanan Antenatal Puskesmas Kecamatan Medangasem, Kabupaten
Karawang
c. Pelaksanaan
1. Dilakukan perawatan kehamilan K1 dan K4 oleh bidan setiap
kunjungan ibu hamil pada hari kerja pada pukul 08.00-14.00 WIB di
poli KIA dan setiap diadakan Posyandu.
2. Dilakukan pemberian tablet zat besi oleh bidan setiap kunjungan ibu
hamil ke puskesmas Medangasem pukul 08.00-14.00 WIB dan
Posyandu kepada ibu yang hamil usia kehamilan 1 bulan, 4 bulan, dan
7 bulan. Setiap kali kunjungan akan diberikan 30 tablet Fe.
3. Dilakukan dan dilaksanakan pemberian imunisasi TT1 dan TT2 oleh
bidan puskesmas atau bidan desa pada bumil 1 kali seminggu setiap
kunjungan kehamilan pukul 08.00-14.00 WIB di Puskesmas
Medangasem atau Posyandu.

4. Dilaksanakannya pendeteksian dini risiko tinggi kehamilan pada ibu


hamil pada saat pemeriksaan 10T saat kunjungan ibu hamil yang
dilakukan bidan setiap hari kerja pukul 08.00-14.00 di Puskesmas
Medangasem atau posyandu.
5. Rujukan ibu hamil risiko tinggi dilakukan oleh bidan setiap hari kerja
pada pukul 08.00-14.00 di poliklinik KIA dan bidan jaga 24 jam
dengan merujuk golongan ibu hamil berisiko tinggi
6. Penyuluhan
- Perorangan : Setiap kali kunjungan (wawancara) hari
kerja pukul 08.00-14.00 WIB.
- Kelompok : Pelaksanaan kelas ibu hamil minimal 3x
dalam sebulan yang dilakukan bidan desa dengan waktu sesuai
kesepakatan dengan peserta kelas ibu hamil. Namun belum
rutin dilaksanakan dan tidak semua desa mendapat kelas ibu
hamil.
7. Kunjungan rumah ibu hamil
Belum rutin dilakukan kunjungan ibu hamil,selain itu data dan
pelaporan kunjungan tidak lengkap.
8. Pencatatan dan pelaporan
- Pencatatan: Dilakukan setiap hari kerja pada pkl 08.00-14.00
WIB. Namun beberapa data masih belum lengkap.
- Pelaporan: Dilakukan setiap awal bulan.

d. Pengawasan

1. Adanya rapat bulanan di Puskesmas Medangasem tentang hasil


pencapaian program ANC antara programmer dengan kepala
puskesmas dalam rapat mini lokakarya bulanan.
2. Adanya pelaporan secara berkala tentang kegiatan ANC ke tingkat
Kabupaten minimal 1 bulan sekali.
4.3.3 Keluaran
1. Cakupan kunjungan ibu hamil K1
Target K1 adalah 100%.
Jumlah kunjungan ibu hamil K1 = 1102 orang
Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun (April 2017 sampai dengan
Maret 2018) = 1377 orang
(Berdasarkan Target Puskesmas Medangasem)
Cakupan kunjungan ibu hamil K1
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾1
Di Puskesmas Medangasem = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 X 100
1102
= 𝑥 100
1377
= 80,02%
Kesimpulan : Cakupan kunjungan ibu hamil K1 belum mencapai target,
dengan besar masalah = 19,98%
Cakupan kunjungan ibu hamil K4
Jumlah kunjungan ibu hamil K4 = 1081 orang
Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun (April 2017 sampai dengan
Maret 2018) = 1377 orang
Target K4 adalah sebesar 100%
(Berdasarkan Target Puskesmas Medangasem)
Cakupan kunjungan ibu hamil K4
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾4
Di Puskesmas Medangasem = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 X 100
1081
= 𝑥 100
1377
= 78,50%
Kesimpulan : Cakupan kunjungan ibu hamil K4 belum mencapai target,
dengan besar masalah= 21,5%
2. Cakupan pemberian tablet zat besi Fe1 dan Fe3 pada ibu hamil
- Cakupan pemberian Fe1
Taget cakupan Fe1 adalah 95%.
Jumlah sasaran ibu hamil 1377 orang
Jumlah yang mendapat Fe1 (April 2017 sampai dengan Maret 2018) =
1210 orang ibu hamil
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝐹𝑒1
Di Puskesmas Medangasem = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑥 100
1210
= 1377 𝑥 100

= 87,87 %
Kesimpulan : Cakupan Fe1 belum mencapai target, dengan besar
masalah= 7,5%
- Cakupan pemberian Fe3
Target cakupan Fe3 adalah 95%.
Jumlah sasaran ibu hamil 1377 orang
Jumlah yang mendapat Fe1 (April 2017 sampai dengan Maret 2018) =
1168 orang ibu hamil
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝐹𝑒3
Di Puskesmas Medangasem = 𝑥 100
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
1168
= 1377 𝑥 100

= 84,82 %
Kesimpulan : Cakupan Fe3 belum mencapai target, dengan besar
masalah= 10,7%
3. Cakupan pemberian imunisasi TT2+ pada ibu hamil
Target cakupan TT2+ adalah 90%.
Jumlah sasaran ibu hamil 1377 orang.
Jumlah yang mendapat TT2+ (April 2017 sampai dengan Maret 2018) =
535 orang ibu hamil
Di Puskesmas Medangasem =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑖𝑚𝑢𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑇2+
𝑥 100
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
535
= 1377 𝑥 100

= 38,85 %
Kesimpulan : Cakupan pemberian Imunisasi TT2+ belum mencapai
target, dengan besar masalah= 56,83%
4. Cakupan penyuluhan
- Cakupan penyuluhan perorangan dilaksanakan setiap kali kunjungan
(100%)
- Cakupan penyuluhan kelompok tidak dapat dinilai karena tidak
didapatkan data.
5. Cakupan deteksi risiko ibu hamil
Target cakupan adalah 20%
Di Puskesmas Medangasem =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑟𝑒𝑠𝑡𝑖
𝑥 100
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
278
= 1377 𝑥 100
= 20,18 %
6. Cakupan penanganan komplikasi obstetri
Di Puskesmas Medangasem =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑟𝑒𝑠𝑡𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛𝑖
𝑥 100
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
184
= 185 𝑥 100

= 99,45 %
7. Cakupan rujukan kasus risiko tinggi ibu hamil
Di Puskesmas Medangasem =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑟𝑒𝑠𝑡𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛𝑖
𝑥 100
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑚𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
21
= 185 𝑥 100

= 11,35 %
8. Cakupan kunjungan rumah ibu hamil tidak dapat dinilai karena tidak
didapatkan data
9. Catatan dan pelaporan kurang lengkap.
- Laporan yang disajikan merupakan laporan absolut kedatangan ibu
hamil ke semua prasarana kesehatan seperti posyandu, puskesmas,
bidan desa dan swasta namun tidak spesifik dalam menyatakan
tempat kunjungan.
- Tidak ada data mengenai penyuluhan kelompok
- Tidak ada data mengenai kunjungan rumah ibu hamil
4.3.4 Lingkungan
1. Fisik
a. Lokasi pelayanan kesehatan: pada wilayah kerja Puskesmas
Medangasem terdapat 24 Posyandu.
b. Transportasi: Terdapat kendaraan umum. Untuk desa-desa, perjalanan
harus di tempuh menggunakan kendaraan roda dua, baik kendaraan
pribadi ataupun umum.
c. Fasilitas kesehatan lain: tersedia praktik dokter dan bidan desa.
2. Non Fisik
a. Pendidikan: Mayoritas penduduk SD 35,54% Tidak Sekolah 35,77 %
b. Sosial ekonomi: Mayoritas mata pencaharian sebagai petani
c. Agama : mayoritas penduduk beragama Islam
4.3.5 Umpan balik
1. Adanya pencatatan dan pelaporan tiap bulan sebagai masukan dalam
perencanaan program ANC selanjutnya.
2. Adanya rapat kerja bulanan bersama Kepala Puskesmas satu bulan satu kali
yang mengevaluasi program yang telah dilaksanakan.
4.3.6 Dampak
1. Dampak langsung: Menurunkan Angka Kematian Ibu Bersalin dan Angka
Kematian Bayi
2. Dampak tidak langsung: Menurunkan Angka Kematian Ibu
Bab V
Pembahasan

No Variabel Tolok Cakupan Masalah


Ukur
I Keluaran
1. Cakupan K1 100% 80,02%  19,98
2. Cakupan K4 100% 78,50%  21,5
3. Cakupan Fe1 95% 87,87%  7,5
4. Cakupan Fe3 95% 84,82%  10,7
5. Cakupan TT2+ 90% 38,85%  56,83

II Proses
 Kunjungan rumah Dilakukan Tidak ada data -
 Penyuluhan Dilakukan Tidak ada data -
 Pencatatan dan Lengkap Tidak lengkap -
pelaporan

III Lingkungan
 Fisik
Lokasi Bukan Jarak puskesmas ke RS
hambatan Ada hambatan rujukan agak jauh (13 km)
 Non Fisik
1. Pendidikan Bukan Mayoritas penduduk
hambatan Ada hambatan berpendidikan rendah

2. Ekonomi Bukan Mayoritas penduduk


hambatan Ada hambatan berpendapatan rendah
Bab VI
Perumusan Masalah

6.1 Masalah menurut keluaran


a. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebesar 80,02% dari target 100%.
b. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebesar 78,50% dari target 100%.
c. Cakupan pemberian tablet besi Fe1 sebesar 87,87% dari target 95%.
d. Cakupan pemberian tablet besi Fe3 sebesar 84,82% dari target 95%.
e. Cakupan Imunisasi TT2+ sebesar 38,85%, dari target 90%.
6.2 Masalah menurut proses
a. Tidak didapatkan data tertulis mengenai kunjungan rumah.
b. Tidak ada data tertulis mengenai pelaksanaan penyuluhan kelompok.

6.3 Masalah menurut masukan


a. Agak jauhnya jarak tempuh dari Puskesmas ke rumah sakit rujukan sekitar 20 km
yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit.
b. Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Medangasem berpendidikan rendah.
c. Masih banyak masyarakat di Kecamatan Medangasem masih mempercayakan
asuhan kehamilan dan persalinan pada dukun bayi maupun paraji.
d. Mayoritas masyarakat di Kecamatan Medangasem status ekonominya rendah.
Bab VII
Prioritas Masalah

Masalah Menurut Keluaran


a. Cakupan kunjungan ibu hamil K1 sebesar 80,02% dari target 100%.
b. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebesar 78,50% dari target 100%.
c. Cakupan pemberian tablet besi Fe1 sebesar 87,87% dari target 95%.
d. Cakupan pemberian tablet besi Fe3 sebesar 84,82% dari target 95%.
e. Cakupan Imunisasi TT2+ sebesar 38,85%, dari target 90%.
No Parameter Masalah
A B C d E
1. Besar masalah 3 3 1 1 5
2. Akibat yang ditimbulkan 4 4 3 3 5
3. Keuntungan sosial yang diperoleh 3 4 3 3 4
4. Teknologi yang tersedia 5 5 5 5 5
5. Sumber daya yang tersedia 4 5 5 5 5
Jumlah 19 21 17 17 24
Tabel 2: Prioritas masalah
Keterangan: 5 : Sangat penting 2 : Kurang penting
4 : Penting 1 : Sangat kurang penting
3 : Cukup penting/sedang

Yang menjadi prioritas masalah adalah :


1. Cakupan Imunisasi TT2 sebesar 38,85%, dari target 90%.
2. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebesar 78,50% dari target 100%.
Bab VIII
Penyelesaian Masalah
Masalah
1. Cakupan Imunisasi TT2 yang mempunyai besar masalah 56,83%

Penyebab Masalah:
a. Input
- Metode: Adanya perbedaan metode dalam penghitungan cakupan
imunisasi TT. Metode menghitung tolok ukur imunisasi Tetanus Bumil
hanya cakupan TT1 dan TT2 saja. Sedangkan pada pelaksanaan imunisasi
TT dilakukan dengan metode skrining status imunisasi ibu hamil adalah
berdasarkan status imunisasi ibu yang didapatkan dari Kantor Urusan
Agama (KUA) atau laporan imunisasi saat menikah. Metode yang
digunakanan seperti yang tertera pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak
sejalan dengan Pedoman Teknis Imunisasi Puskesmas 2005 (lampiran VI).
Imunisasi TT yang diberikan hanya untuk ibu dengan status imunisasi
tidak lengkap, sehingga bila status imunisasi tetanus ibu sudah lengkap
tidak diberikan imunisasi TT lagi.
- Material: imunisasi TT sempat kosong 3 bulan.

b. Proses
- Pengorganisasian: Tidak adanya petugas untuk memonitor kegiatan TT.
- Pelaksanaan: Kurangnya penyuluhan tentang imunisasi TT dan penyakit
tetanus neonatorum kepada ibu hamil, sehingga pengetahuan ibu mengenai
manfaat imunisasi TT dan dampaknya masih kurang.
- Pengawasan : Kurang lengkapnya pencatatan dan pelaporan yang baik dari
Puskesmas serta fasilitas kesehatan yang lain sehingga mungkin masih ada
data yang tidak tercatat dan terlapor untuk cakupan imunisasi TT seluruh
ibu hamil.
c. Lingkungan
- Tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja yang rata-rata rendah
sehingga mengakibatkan kurangnya pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu
hamil terhadap pencegahan terjadinya risiko Tetanus Neonatorum.
Penyelesaian Masalah:
a. Perbaikan cara penulisan pencatatan dan pelaporan status imunisasi TT ibu
hamil. Bila berdasarkan KUA atau laporan imunisasi saat menikah telah
lengkap maka ibu hamil dimasukkan dalam cakupan imunisasi TT yang sudah
lengkap.
b. Meningkatkan promosi kesehatan tentang imunisasi tetanus dan bahaya pada
janin yaitu risiko Tetanus Neonatorum bila ibu tidak memiliki kekebalan
terhadap penyakit Tetanus. Penyuluhan dilakukan baik secara perorangan saat
melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan, maupun penyuluhan kelompok
yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan ibu hamil dengan isi dan metode
penyuluhan disesuaikan dengan pendidikan dan tingkat ekonomi ibu. Dengan
harapan, untuk meningkatkan pengetahuan sehingga memotivasi ibu hamil
dalam bersikap dan berperilaku, sehingga mau diimunisasi TT secara lengkap.
c. Memilih dan menugaskan seorang petugas kesehatan Puskesmas sebagai
pengawas yang bertugas untuk mengawasi kegiatan penyuluhan dan
pembuatan laporan dan pencacatan cakupan imunisasi TT ibu hamil, minimal
sekali dalam seminggu. Dan pada awal bulan, hasil pengawasan/ penilaian
serta laporan bulanan cakupan TT bulan sebelumnya dikumpulkan dan dibawa
ke Puskesmas untuk dimasukkan dalam laporan bulanan bidan desa dan
dievaluasi. Bidan ini bertugas untuk Dengan demikian, diharapkan pencatatan
dan pelaporan program TT dapat terlaksana dengan baik dan lengkap.
2. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 yang mempunyai besar masalah 21.5%
Penyebab Masalah:
a. Proses
- Pengorganisasian : Tidak adanya petugas penyuluhan kelompok mengenai
pentingnya K1 - K 4
- Pelaksanaan: Masih kurangnya penyuluhan kelompok tentang manfaat
kunjungan minimal 4 kali
- Pengawasan : Kurang lengkapnya pencatatan dan pelaporan
b. Lingkungan :
- Rendahnya pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil terhadap kunjungan
terhadap tenaga kesehatan sehubungan dengan rendahnya tingkat
pendidikan dan ekonomi masyarakat.

Penyelesaian Masalah:
a. Pengorganisasian para kader dan bidan desa untuk melakukan kunjungan
rumah dan mendata ibu hamil yang belum melakukan kunjungan kehamilan K4
serta membujuk ibu hamil tersebut untuk segera datang ke pelayanan
kesehatan seperti bidan desa, puskesmas, atau klinik bersalin untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan.
b. Meningkatkan promosi kesehatan mengenai pemeriksaan kehamilan ke
pelayanan kesehatan dengan penyuluhan perorangan dan penyuluhan
kelompok yang isi dan metode penyuluhan disesuaikan dengan tingkat
ekonomi dan pendidikan ibu.
c. Menjalin kerja sama dengan klinik-klinik bersalin lainnya untuk melengkapi
pencatatan dan pelaporan. Dapat dilakukan dengan cara pengorganisasian kader
kesehatan untuk “menjemput” data pencatatan dan pelaporan yang ada di
tempat pelayanan kesehatan tersebut.
Bab IX
Penutup

1.1 Kesimpulan
Dari hasil evaluasi program pelayanan antenatal dengan cara pendekatan sistem
dapat diambil kesimpulan bahwa program pelayanan antenatal care di UPTD
Puskesmas Medangasem, Kabupaten Karawang pada periode April 2017 sampai Maret
2018, sebagian besar belum mencapai target. Ditemukan beberapa kekurangan yang
menjadi masalah, yaitu:
a. Cakupan kunjungan ibu hamil K1 sebesar 80,02% dari target 100%.
b. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebesar 78,50% dari target 100%.
c. Cakupan pemberian tablet besi Fe1 sebesar 87,87% dari target 95%.
d. Cakupan pemberian tablet besi Fe3 sebesar 84,82% dari target 95%.
e. Cakupan Imunisasi TT2+ sebesar 38,85%, dari target 90 %
Dengan prioritas masalah :
1. Cakupan Imunisasi TT2+ sebesar 38,85%, dari target 90%.
2. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebesar 78,50% dari target 100%

1.2 Saran

Saran untuk Puskesmas :


1. Cakupan Imunisasi TT2 yang mempunyai besar masalah 56,83%
a. Perbaikan cara penulisan pencatatan dan pelaporan mengikuti metode skrining
status imunisasi tetanus ibu berdasarkan KUA atau laporan imunisasi saat
menikah.
b. Meningkatkan promosi kesehatan tentang imunisasi tetanus dan bahaya bagi
janin bila tidak diimunisasi (risiko tetanus neonatorum) kepada ibu hamil
dengan penyuluhan perorangan dan penyuluhan kelompok yang isi dan
metode penyuluhan disesuaikan dengan tingkat ekonomi dan pendidikan ibu.
c. Menugaskan petugas kesehatan untuk mengawasi jalannya penyuluhan dan
kegiatan pencatatan dan pelaporan bidan desa mengenai program imunisasi
TT tiap minggunya. Hasil pengawasan dan hasil Laporan Bulanan cakupan
imunisasi TT bulan sebelumnya tersebut dikumpulkan untuk dicatat dan
dievaluasi di Puskesmas setiap awal bulan.
2. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 yang mempunyai besar masalah 21,5%

a. Pengorganisasian para kader dan bidan desa untuk melakukan kunjungan


rumah dan mendata ibu hamil yang belum melakukan kunjungan kehamilan K4
serta membujuk ibu hamil tersebut untuk segera datang ke puskesmas atau
klinik bersalin untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.
b. Meningkatkan promosi kesehatan mengenai kunjungan ibu hamil dengan
penyuluhan perorangan dan penyuluhan kelompok.
c. Menjalin kerja sama dengan klinik-klinik bersalin lainnya untuk melengkapi
pencatatan dan pelaporan. Dapat dilakukan dengan cara pengorganisasian
kader kesehatan untuk “menjemput” data pencatatan dan pelaporan yang ada di
tempat pelayanan kesehatan tersebut.

Saran untuk masyarakat :


1. Diharapkan lebih memanfaatkan Pelayanan Kesehatan khususnya Pelayanan
Antenatal yang ada di Puskesmas Kecamatan Medangasem Karawang.
2. Berperan aktif mengikuti kegiatan dan penyuluhan-penyuluhan yang diadakan
Puskesmas agar dapat meningkatkan pengetahuan, sehingga timbul sikap dan
perilaku yang lebih baik dalam meningkatkan derajat kesehatan.
3. Untuk ibu hamil diharapkan melakukan kunjungan Pemeriksaan Kehamilan di
pelayanan kesehatan yang memiliki latar belakang medis dan kebidanan.
Mempercayakan pemantauan kehamilan dan rencana persalinan ke tenaga medis
agar dapat mengidentifikasi adanya kelainan maupun komplikasi pada
kehamilan sedini mungkin sehingga dapat dicegah atau ditangani semaksimal
mungkin untuk kesehatan ibu dan janin. Sering bertanya dan berkonsultasi
tentang kehamilan ke tenaga kesehatan.

Melalui saran di atas diharapkan agar dapat membantu berjalannya program


Pelayanan Antenatal pada periode yang akan datang sehingga dapat mencapai
keberhasilan.
Daftar Pustaka

1. Profil data kesehatan indonesia tahun 2014. Jakarta : Kementerian Kesehatan


Republik Indonesia.h.85-100
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. 2013.
3. Pedoman pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA).
Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 2009; 1-25.
4. Pelayanan antenatal. Pedoman Pelayanan Antenatal. 2012. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta: 2012.h.1-30.
5. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik. Pedoman Pelayanan Antenatal. Depkes RI
Jakarta, 2007
6. Kesehatan Ibu dan Anak. Pedoman Kerja Puskesmas. Edisi II. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI 1991; C1-29
7. Data Kesehatan Kabupaten Karawang. Di unduh dari :
http://www.karawangkab.go.id/informasi-umum/data-hasil-pembangunan/kesehatan.htm