Anda di halaman 1dari 23

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting

dalam kehidupan dan perkembangan suatu spesies. Pertumbuhan dan

perkembangan berlangsung secara terus-menerus sepanjang daur hidup,

bergantung pada tersedianya meristem, hasil asimilasi, hormon dan substansi

pertumbuhan lainnya, serta lingkungan yang mendukung (Zulkifli, 2012).

Pola pertumbuhan tanaman digambarkan dengan kurva sigmoid. Kurva

sigmoid merupakan kurva pertumbuhan pada fase vegetatif sampai titik tertentu

akibat pertambahan sel tanaman dan kemudian melambat. Periode awal dengan

laju pertumbuhan eksponensial yang pendek. Laju pertumbuhan yang linier diikuti

oleh fase yang lajunya menuru (Perwtasari et al., 2012).

Setiap bagian tubuh makhluk hidup pasti menjadi tempat daerah

pertumbuhan dan perkembangan, termasuk pada tumbuhan bahkan hingga pada

unit terkecil penyusun suatu makhluk hidup. Karena pada bagian inilah

pertumbuhan terjadi sehingga menambah volume serta ukuran tubuh dari suatu

makhluk hidup (Suparmuji, 2013).

Jagung (Zea mays L.) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis

rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat

kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan

terntenu. Batang jagung terdiri atas buku dan ruas (Akil dan Dahlan, 2009).

Kacang Kedelai (Glycine max L. merr) merupakan salah satu jenis

kacang- kacangan yang sering dibudayakan di Indonesia. Sistem perakaran

kedelai terdiri atas 2 macam, yaitu akar tunggang dan sekunder yang tumbuh dari

akar tunggang (Sumarji, 2013).


2

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui pola

pertumbuhan dan perkembangan tanaman Jagung (Zea mays L.) dan Kacang

Kedelai (Glycine max L. Merr)

Kegunaan Penulisan

Sebagai salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di

Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi Agroteknologi Fakultas

Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai sumber informasi bagi

pihak – pihak yang membutuhkan.


3

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Sistimatika tanaman jagung adalah sebagai berikut;

Kingdom: Plantae; Divisi: Spermatophyta; Kelas: Monocotyledone;

Ordo: Graminae; Famili: Graminaceae; Genus: Zea; Species: Zea mays L.

(Deputi Menegristek, 2000).

Perakaran tanaman jagung terdiri dari 4 macam akar, yaitu akar utama,

akar cabang, akar lateral, dan akar rambut. Sistem perakaran tersebut berfungsi

sebagai alat untuk mengisap air serta garam-garam mineral yang terdapat dalam

tanah, mengeluarkan zat organik serta senyawa yang tidak diperlukan dan alat

pernapasan (Sihotang, 2010).

Batang tanaman ini tingginya terbungkus pelepah daun yang berselang

seling yang berasal dari setiap buku. Buku batang mudah dilihat. Pelepah daun

terbentuk pada buku dan membungkus rapat-rapat panjang batang utama, sering

melingkupi hingga buku berikutnya (Harahap,2007).

Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang, pelepah

dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun.

Permukaan daun ada yang licin dan ada pula yang berambut.

(Sihotang, 2010).

Biji jagung merupakan jenis serealia dengan ukuran biji terbesar dengan

berat rata-rata 250-300 mg. biji jagung memiliki bentuk tipis dan bulat melebar

yang merupakan hasil pembentukan dari pertumbuhan biji jagung. Biji jagung

diklasifikasikan sebagai kariopsis. Hal ini disebabkan biji jagung memiliki

struktur embrio yang sempurna (Tambunan, 2013).


4

Buah jagung tersusun dari tongkol, biji dan daun pembungkus. Biji jagung

mempunyai bentuk, warna dan kandungan endosperm bervariasi tergantung

jenisnya. Umumnya buah jagung tersusun dalam barisan yang melekat secara

lurus atau berkelok- kelok (Sihotang, 2010).

Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah dalam satu

tanaman (monoecious). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa

karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas.

Bunga betina tersusun dalam tongkol yang tumbuh diantara batang dan pelepah

daun (Tambunan, 2013)

Syarat Tumbuh

Iklim

Suhu yang dikehendaki tanaman jagung adaah antara 21oC-30oC. Akan

tetapi, untuk pertumbuhan yang baik bagi tanaman jagung khusunya jagung

hibrida, suhu optimum adalah 23oC-27oC. Suhu yang terlalu tinggi dan

kelembaban yang rendah dapat mengganggu peroses persarian (Sihotang, 2010).

Jagung dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi yang

memiliki ketinggian 1000 m atau lebih diatas permukaan tinggi. Umumnya

jagung yang di tanam di daerah dengan ketinggian kurang dari 800 m dpl akan

memberikan hasil yang tinggi. Jagung yang ditanam dengan ketinggian antara

800-1200 m dpl masih jug adapt berproduksi dengan baik (Harahap, 2007).

Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah

daerahdaerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang

basah. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 °LU hingga

0-40 °LS. Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan

curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase
5

pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air.

(Deputi Menegristek, 2000).

Tanah

Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman jagung harus mempunyai

kandungan hara yang cukup. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang

khusus, hampir berbagai macam tanah dapat diusahakan untuk pertanaman

jagung. Tanah yang gembur, subur, dan kaya akan humus dapat memberi hasil

yang baik. Drainase dan aerasi yang baik serta pengelolaan yang bagus akan

membantu keberhasilan usaha pertanaman jagung. Jenis tanah yang dapat

ditanami jagung adalah tanah andosol, tanah latosol, tanah grumosol, dan tanah

berpasir (Putra, 2011).

Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara

tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH

antara 5,6 - 7,5. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan

ketersediaan air dalam baik. Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 % dapat

ditanami jagung, karena disana kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat kecil.

Sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %

(Deputi Menegristek, 2000).

Botani Tanaman Kacang Kedelai (Glycine max L. Merill.).

Menurut Steenis (2003) klasifikasi tanaman kedelai adalah sebagai berikut

Kingdom : Plantae, Divisio : Spermatophyta, Class : Dicotyledoneae,

Ordo : Leguminales, Family : Poaceae, Genus : Glycine,

Spesies : Glycine max L. Merill.

Akar tanaman kedelai terdiri dari akar tunggang dan akar sekunder yang

tumbuh dari akar tunggang. Untuk memperluas permukaan kontaknya dalam


6

menyerap unsur hara, akar juga membentuk bulu akar yang merupakan

penonjolan dari sel-sel epidermis akar. Selain itu pula akar tanaman kedelai

mengeluarkan beberapa substansi khususnya triptofan yang menyebabkan

perkembangan bakteri dan mikroba lain di sekitar daerah perakaran membentuk

bintil akar (Adisarwanto, 2007).

Batang tanaman kedelai berasal dari poros embrio yang terdapat pada biji

masak. Jumlah buku pada kondisi normal berkisar15-30 buah, tipe pertumbuhan

indeterminate umumnya memiliki buku lebih banyak dibandingkan dengan tipe

pertumbuhan determinate. Jumlah buku pada batang tanaman dipengaruhi oleh

tipe tumbuh batang dan periode panjang penyinaran pada siang hari

(Adie dan Krisnawati, 2007).

Daun kedelai hampir seluruhnya trifoliat (menjari tiga) dan jarang sekali

mempunyai empat atau lima jari daun. Bentuk daun tanaman kedelai bervariasi,

yakni oval dan lanceolate, tetapi praktisnya, diistilahkan dengan berdaun lebar

(broad leaf) dan berdaun sempit (narrow leaf). Kedelai berdaun sempit lebih

banyak ditanami oleh petani dibandingkan tanaman kedelai berdaun lebar,

walaupun dari aspek penyerapan sinar matahari, tanaman kedelai berdaun lebar

menyerap sinar matahari lebih banyak daripada yang berdaun sempit.

(Adisarwanto, 2007).

Tanaman kedelai memiliki bunga sempurna (hermaphrodite), yakni pada

tiap kuntum bunga terdapat alat kelamin betina (Putik) dan kelamin jantan

(Benang Sari). Bunga pada tanaman kedelai muncul/tumbuh pada ketiak daun,

yakni setelah buku kedua, tetapi terkadang bunga dapat pula terbentuk pada

cabang tanaman yang mempunyai daun. (Ginting, 2003).

Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya

bunga pertama. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak tangkai daun
7

sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap kelompok. Ukuran dan bentuk

polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini

kemudian diikuti oleh perubahan warna polong (Irwan, 2006).

Biji kedelai tidak sama tergantung kultivar, ada yang berbentuk bulat,

agak gepeng, atau bulat telur. Namun sebagian, besar biji kedelai berbentuk bulat

telur. Ukuran dan warna biji kedelai juga tidak sama, tetapi sebagian besar

berwarna kuning dengan ukuran biji kedelai yang dapat digolongkan dalam tiga

kelompok, yaitu biji kecil (< 10 g/100 biji), berbiji sedang ( 10 – 12 gram/100 biji,

dan berbiji besar (13 – 18 gram/100 biji) (Suprapto, 2001).

Syarat Tumbuh

Iklim

Kedelai dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas, ditempat-

tempat terbuka dan bercurah hujan 100 – 400 mm3 per bulan. Oleh karena itu,

kedelai kebanyakan ditanam didaerah yang terletak kurang dari 400 m di atas

permukaan laut dan jarang sekali ditanam di daerah yang terletak kurang dari 600

m di atas permukaan laut. Jadi tanaman kedelai akan tumbuh baik jika ditanam di

daerah beriklim kering (Rinaldi, 2009).

Tanaman kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis

dan subtropis. Sebagai barometer iklim yang cocok bagi kedelai adalah bila cocok

bagi tanaman jagung. Bahkan daya tahan kedelai lebih baik daripada jagung.

Iklim kering lebih disukai tanaman kedelai dibandingkan iklim lembab

(Prihatman, 2000).

Kedelai menghendaki air yang cukup pada masa pertumbuhannya,

terutama pada saat pengisian biji. Curah hujan yang optimal untuk budidaya
8

kedelai adalah 100-200 mm/bulan, sedangkan tanaman kedelai dapat tumbuh baik

di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100-400 mm/bulan (Herawati, 2009).

Tanah

Tanaman kedelai sebenarnya dapat tumbuh di semua jenis tanah, namun

demikian, untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan produktivitas yang optimal,

kedelai harus ditanam pada jenis tanah berstruktur lempung berpasir atau liat

berpasir (Irwan, 2006).

Toleransi keasaman tanah sebagai syarat tumbuh bagi kedelai adalah pH

5,8-7,0 tetapi pada pH 4,5 pun kedelai dapat tumbuh. Pada pH kurang dari 5,5

pertumbuhannya sangat terhambat karena keracunan Aluminium, sehingga

pertumbuhan bakteri bintil dan proses nitrifikasi (proses oksidasi amoniak

menjadi nitrit atau proses pembusukan) akan berjalan kurang baik

(Prihatman, 2000).

Pengembangan areal tanaman kedelai dapat dilakukan pada lahan

sawah, lahan kering (tegalan), lahan bukaan baru, dan lahan pasang surut yang

telah direklamasi. Kedelai memerlukan tanah yang memiliki aerasi dan drainase

air yang cukup baik. Kedelai tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah kering

berpasir serta tanah dangkal. Jenis tanah yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman

kedelai adalah alluvial, regosol, grumusol, latosol, dan andosol

(Arsyad et al., 2007).

Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan

Pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu proses bertambahnya ukuran atau

volume tubuh akibat bertambahnya sel-sel tubuh makhluk hidup, proses ini tidak

dapat dibalik atau dikembalikan serta dapat diukur dengan satuan pengukuran
9

tertentu dan dapat dinyatakan dengan suatu satuan karena bersifat kuantitatif.

(Suparmuji, 2013).

Pertumbuhan tanaman merupakan suatu hasil dari metabolisme sel – sel

hidup yang dapat diukur sebagai pertambahan bobot basah atau kering, isi,

panjang atau tinggi. Faktor iklim mempengaruhi pertumbuhan dan hasil seperti

Suhu, cahaya dan curah hujan mempengaruhi laju fotosintesis dan respirasi

sehingga berimplikasi pada pertumbuhan (Zulkifli, 2012).

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat balik

kedalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti

pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan

itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya

protoplasma, dan tingkat kerumitan (Siska, 2000).

Pertumbuhan suatu tanaman dengan serangkaian hasil dari pertumbuhan

sel-sel yang meristematik yang saling menyatu. Pada ujung batang atau akar

menjadi 3 daerah, yaitu daerah pembentukan sel, daerah pembesaran sel dan

daerah pendewasaan sel. Pertumbuhan dan perkembangan berlansung secara terus

menerus sepanjang daur hidup (Nasution dan Sri, 2010).

Perkembangan

Perkembangan didefinisikan sebagai suatu proses menuju kedewasaan,

ketika fungsi-fungsi fisiologi organ-organ tubuh yang telah menjadi lebih

sempurna. Kemudian, pada proses ini tidak dapat dinyatakan dengan suatu ukuran

tertentu karena bersifat kualitatif sehingga tidak dapat diukur dengan satuan

pengukuran. Contoh dari proses ini adalah waktu siapnya suatu tumbuhan untuk

berbunga dan berbuah (Suparmuji, 2013).


10

Perkembangan adalah suatu proses menuju tercapainya kedewasaan, yang

tidak dapat dinyatakan dengan ukuran tetapi dinyatakan perubahan bentuk dan

tingkat kedewasaan. Dari pertumbuhan untuk menjadi perkembangan diikuti

dengan adanya proses diferensiasi untuk menuju pendewasaan (Simbolon, 1992).

Perkembangan dan pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam

dan luar dan penyesuaian diri antara genetic dan lingkungan. Faktor lingkungan

juga penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tidak hanya

lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan, tetapi juga banyak faktor seperti

cahaya, temperature, kelembaban dan faktor nutrisi memperngaruhi akhir

morfologi dari tanaman. Cahaya meliputi pada lekukan dari batang morfogenesis.

Temperature, kelembaban dan nutrisi mempunyai efek yang lebih halus, tetapi

juga mempengaruhi perubahan morfologi (Siska, 2000).

Faktor dalam yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada

tumbuhan adalah gen dan zat pengatur tumbuh. Pertumbuhan dan Perkembangan

Tumbuhan. Faktor gen Faktor penurunan sifat pada keturunan terkandung di

dalam gen. Informasi genetik pada gen mengendalikan terbentuknya sifat

penampakan secara fisik (fenotip) melalui interaksinya dengan faktor lingkungan.

(Rinaldi, 2009).

Kurva Sigmoid

Pola pertumbuhan tanaman digambarkan dengan kurva sigmoid. Kurva

sigmoid merupakan kurva pertumbuhan pada fase vegetatif sampai titik tertentu

akibat pertambahan sel tanaman dan kemudian melambat. Periode awal dengan

laju pertumbuhan eksponensial yang pendek, kemudian linier yang relative

panjang. Laju pertumbuhan yang linier diikuti oleh fase yang lajunya menurun

(Perwtasari et al., 2012).


11

Kurva pertumbuhan berbentuk-S (Sigmoid) yang ideal, yang dihasilkan

oleh banyak tumbuhan setahun dan beberapa bagian terbentuk dari tumbuhaN.

Kurva sigmoid menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dan waktu. Tiga

fase utama biasanya mudah dikenali, fase logaritmik, linier dan penuaan

(Salisbury dan Ross, 1995).

Kurva menunjukkan ukuran komulatif sebagai fungsi dari waktu .Tiga fase

utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan.

Pada fase logaritmik, ukuran bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu

ini berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian

meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme. Pada fase

linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Laju pertumbuhan yang

konstan ditunjukkan oleh kemiringan yang konstan pada bagian atas kurva tinggi

tanaman. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat

tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Yulia, 2011).

Pola pertumbuhan tegakan antara lain dapat dinyatakan dalam bentuk

kurva pertumbuhan yang merupakan hubungan fungsional antara sifat tertentu

tegakan , antara lain volume , tinggi, bidang dasar, biomassa dan diameter dengan

umur tegakan . Bentuk kurva pertumbuhan tegaan yang ideal akan mengikuti

bentuk ideal bagi pertumbuhan organisme ( termasuk tumbuh – tumbuhan ) , yaitu

berbentuk kurva sigmoid (Latifah, 2004).

Model pertumbuhan digunakan untuk mengetahui hubungan antara produk

pertumbuhan terhadap waktu. Suatu hasil pengamatan pertumbuhan tanaman yang

paling sering dijumpai adalah biomassa tanaman yang menunjukkan pertumbuhan

mengikuti bentuk S sering dengan pertambahan waktu yang dikenal dengan nama

model sigmoid (Ramadani et al., 2010).


12

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Praktikum

Adapun praktikum dilaksanakan pada 26 Febuari 2018 sampai dengan

selesai di lahan percobaan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi

Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada

ketinggian ± 25 m dpl.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih

Jagung (Zea mays L.) dan benih Kacang Kedelai (Glycine max L. Merill) sebagai

objek yang diteliti, tanah top soil sebagai media tanam berupa lapisan atas tanah

yang subur, pasir sebagai media tanam tambahan dalam penyusun media tanam

dan pupuk kompos sebagai campuran media tanam tambahan untuk menambah

unsur hara dengan rasio (top soil : kompos = 4:1) air untuk menyiram tanaman

Jagung dan Kacang Kedelai, plang untuk tanda per grup, tali plastik untuk

membuat batas lahan, stick es krim sebagai penanda titik nol parameter tinggi

tanaman.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul sebagai

alat untuk mengolah tanah, meteran sebagai alat untuk mengukur luas lahan,

gembor sebagai alat tempat air untuk menyiram tanaman, buku data sebagai alat

untuk tempat data dituliskan, pena sebagai alat untuk menulis data, penggaris

sebagai alat untuk mengukur tinggi tanaman, pacak untuk menandai batas

pengukuran tinggi tanaman.

Prosedur Praktikum

- Dibersihkan lahan dari gulma dan kotoran.


13

- Diisi media kedalam polybag yaitu campuran top soil kompos dengan

perbandingan 4:1

- Direndam benih jagung dan kacang Kedelai yang hendak ditanam dalam air

selama 15 menit.

- Dibersihkan lahan dari gulma dan disusun batu bata sebanyak 4 buah dengan 2

batu bata sebagai ganjalan setiap polybag.

- Dibuat 2 lubang pada setiap polybag.

- Ditanam benih yang sudah ditentukan pada polybag sebanyaj 2 benih tiap

polybag.

- Diamati jumlah daun (helai) dan tinggi tanaman (cm) tiap minggu.

- Dicatat dan digambar grafiknya.


14

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Data Kurva Sigmoid

Tanggal Tanam : 2 Maret 2018


Komoditi : Jagung (Zea mays L.)
Parameter : Tinggi Tanaman (cm)
Tanggal Pengamatan MST Sampel Rataan

I II

16 Maret 2017 2 26.3 38 32.15


23 Maret 2017 3 36 40 38
29 Maret 2017 4 51 62.5 56.75
6 April 2017 5 101.2 107.5 104.35
13 April 2017 6 154 144 149
20 April 2017 7 167 182 174.5
27 April 2017 8 202 217 209.5

Kurva Sigmoid Tinggi Tanaman Jagung

TINGGI TANAMAN
250
209.5
200 174.5
149
150
104.35
100 TINGGI TANAMAN
56.75
50 32.15 38

0
0 2 4 6 8 10

Tanggal Tanam : 2 Maret 2018

Komoditi : Jagung (Zea mays L.)

Parameter : Jumlah Daun


15

Tanggal Pengamatan MST Sampel Rataan


I II

16 Maret 2017 2 3 4 3.5


23 Maret 2017 3 2 2 2
29 Maret 2017 4 4 4 4
6 April 2017 5 6 5 5.5
13 April 2017 6 6 7 6.5
20 April 2017 7 8 11 9.5
27 April 2017 8 13 14 13.15

Kurva Jumlah Daun Tanaman Jagung

JUMLAH DAUN
14 13.15

12
9.5
10

8 6.5
5.5 JUMLAH DAUN
6
4
3.5
4
2
2

0
0 2 4 6 8 10

Tanggal Tanam : 2 Maret 2018

Komoditi : Kacang Kedelai (Vigna radiate L.)

Parameter : Tinggi Tanaman (cm)

Tanggal Pengamatan MST Sampel Rataan


I II

16 Maret 2017 2 0 14 7
23 Maret 2017 3 5 20 12.5
29 Maret 2017 4 13 26 19.5
6 April 2017 5 21 32 26.5
13 April 2017 6 28 42 35
20 April 2017 7 34 47 40.5
27 April 2017 8 40 52 46
16

Kurva Sigmoid Tinggi Tanaman Kacang Kedelai

TINGGI TANAMAN
50 46
45 40.5
40 35
35
30 26.5
25 19.5
TINGGI TANAMAN
20
12.5
15
7
10
5
0
0 2 4 6 8 10

Tanggal Tanam : 2 Maret 2018


Komoditi : Kacang Kedelai (Vigna radiate L.)
Parameter : Jumlah Daun
Tanggal Pengamatan MST Sampel Rataan
I II

16 Maret 2017 2 0 2 1
23 Maret 2017 3 2 3 2.5
29 Maret 2017 4 3 6 4.5
6 April 2017 5 6 11 8.5
13 April 2017 6 11 23 17
20 April 2017 7 15 40 27.5
27 April 2017 8 20 45 32.5

Kurva Sigmoid Jumlah Daun Kacang Kedelai

JUMLAH DAUN
35 32.5

30 27.5

25
20 17

15 JUMLAH DAUN
8.5
10
4.5
5 2.5
1
0
0 2 4 6 8 10
17

Pembahasan

Kurva sigmoid merupakan kurva pertumbuhan pada fase vegetatif sampai

titik tertentu akibat pertambahn sel tanaamn dan kemudian melambat. Periode

awal dengan laju pertumbuhan eksponensial yang pendek, kemudian linier yang

relative panjang. Hal ini sesuai dengan literatur (Perwtasari et al., 2012) yang

menyatakan bahwa pola pertumbuhan tanaman digambarkan dengan kurva

sigmoid.

Pertumbuhan tanaman merupakan suatu hasil dari metabolisme sel – sel

hidup yang dapat diukur sebagai pertambahan bobot basah atau kering, isi,

panjang atau tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur (Suparmuji, 2013) yang

menyatakan bahwa pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu proses bertambahnya

ukuran atau volume bentuk tubuh akibat bertambahnya sel-sel makhluk hidup.

Perkembangan adalah suatu proses menuju tercapainya kedewasaan, yang

tidak dapat dinyatakan dengan ukuran tetapi dinyatakan perubahan bentuk dan

tingkat kedewasaan. Perkembangan berjalan sejajar dengan pertumbuhan karena

sama-sama terjadi pertambahan volume juga jumlah sel dan bertambah

kompleksnya susunan sel. Hal ini sesuai dengan literatur (Simbolon, 1992) yang

menyatakan bahwa perkembangan adalah suatu proses menuju tercapainya

kedewasaan.

Kurva menunjukkan ukuran komulatif sebagai fungsi dari waktu .Tiga fase

utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Hal

ini sesuai dengan literatur (Yulia, 2011) yang menyatakan bahwa pada fase

logaritmik, ukuran bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu. Pada

fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Dan fase penuaan
18

dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai

kematangan dan mulai menua.

Pada hasil pengamatan pertumbuhan tanaman jagung didapatkan bahwa

tinggi tanaman jagung pada 2 mst adalah 32.15 cm , pada 3 mst adalah 38 cm,

pada 4 mst dalah 56.75 cm, pada 5 mst adalah 104.35 cm, pada 6 mst adalah 149

cm, pada 7 mst adalah 174,5 cm, pada 8 mst adalah 209,5 cm. Dari data tersebut

dapat dilihat bahwa tanaman jagung mengalami pertambahan tinggi dari minggu

pertama pertambahan tinggi terus terjadi. Hal ini terjadi karena tanaman jagung

terus melakukan pertumbuhan, yaitu melakukan pembelahan sel, pemanjangan sel

dan diferensiasi. Hal ini sesuai dengan literatur (Suparmuji, 2013) yang

menyatakan bahwa pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu proses bertambahnya

ukuran atau volume tubuh akibat bertambahnya sel-sel tubuh makhluk hidup.

Pada hasil pengamatan pertumbuhan tinggi tanaman Kacang Kedelai pada

2 mst sebesar 7 cm, pada 3 mst sebesar 12.5 cm, pada 4 mst sebesar 19.5 cm, pada

5 mst sebesar 26.5 cm, pada 6 mst sebesar 35 cm, pada 7 mst sebesar 40.5 cm,

pada 8 mst sebesar 46 cm. Berdasarkan data hasil pengamatan di atas terjadi

pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman kacang Kedelai. Hal ini sesuai

dengan literatur (Suparmuji, 2013) yang menyatakan bahwa perkembangan

didefinisikan sebagai suatu proses menuju kedewasaan, ketika fungsi-fungsi

fisiologi organ-organ tubuh yang telah menjadi lebih sempurna.

Faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah genetic, enzim,

hormone, seperti auksin, gyberelin, sitokinin dan lainnya. Faktor eksternal yang

mempengaruhi pertumbuhan adalah lingkungan, seperti unsure hara, suhu,

kelembaban dan cahaya. Hal ini sesuai dengan literatur (Siska, 2000) faktor dalam
19

yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan adalah gen,

zat pengatur tumbuh dan faktor luar adalah lingkungan.

Berdasarkan data hasil pengamatan jagung mengalami fase logaritmik

pada I mst sampai 4 mst yaitu dari tinggi tanaman 32.15 cm sampai 104.35

cm.Pada tanaman kacang Kedelai fase logaritmik terjadi 1 mst sampai 4 mst. Fase

ini menunjukkan adanya pertambahan ukuran dan seiring dengan jalannya waktu,

laju pertumbuhan lambat pada awalnya kemudian meningkat terus. Hal ini sesuai

dengan literatur (Yulia, 2011) yang menyatakan bahwa pada fase logaritmik,

ukuran bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu ini berarti bahwa laju

pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus.

Dari data hasil pengamatan tanaman jagung mengalami fase linier pada

minggu ke 5 sampai ke 7. Pada tanaman kacang Kedelai fase linier terjadi pada 5

mst sampai 6 mst. Pada fase ini pertumbuhan tanaman terjadi secara konstan dan

pertambahan tinggi dan daun tanaman tidak terlalu meningkat. Hal ini sesuai

dengan literatur (Yulia, 2011) yang menyatakan bahwa pada fase linier,

pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum

selama beberapa waktu lamanya.

Dari hasil pengamatan tanaman jagung akan mengalami fase penuaan

(asimptot) pada 8 mst. Pada tanaman kacang Kedelai mengalami fase penuaan

(asimptot) yaitu mulai dari 7 mst. Fase penuaan ini ditandai dengan laju

pertumbuhan yang menurun dari fase sebelumnya karena tumbuhan sudah

mencapai kematangan dan mulai menua. Hal ini sesuai dengan literature

(Perwtasari et al., 2012) yang menyataka bahwa kurva pertumbuhan pada fase

vegetative sampai titik tertentu akibat pertumbuhan sel tanaman dan kemudian

melambat.
20

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Kurva sigmoid merupakan kurva pertumbuhan pada fase vegetatif sampai

titik tertentu akibat pertambahn sel tanaamn dan kemudian melambat.

2. Pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu proses bertambahnya ukuran atau

volume bentuk tubuh akibat bertambahnya sel-sel makhluk hidup.

3. Perkembangan adalah suatu proses menuju tercapainya kedewasaan.

4. Kurva menunjukkan ukuran komulatif sebagai fungsi dari waktu dengan tiga

fase utama, yaitu fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan

5. Tanaman jagung mengalami pertumbuhan tinggi dan jumlah daun dari 2 mst

sebesar 32.5 cm dan jumlah daun 3.5 sampai 8 mst dengan tinggi tanaman

209.5 cm dan jumlah daun 13.5.

6. Tanaman kacang Kedelai mengalami pertumbuhan tinggi dan jumlah daun

dari 2 mst sebesar 7 cm dan jumlah daun 1 sampai 8 mst dengan tinggi

tanaman 46 cm dan jumlah daun 32.5.

7. Faktor internal adalah genetik, enzim, hormone dan faktor eksternal yang

mempengaruhi pertumbuhan adalah lingkungan, seperti unsure hara, suhu,

kelembaban dan cahaya.

8. Fase logaritmik pada tanaman jagung terjadi pada 2 mst sampai 4 mst dan

pada kacang Kedelai dari 2 mst sampai 4 mst.

9. Fase linier pada jagung terjadi dari 5 mst sampai 7 mst dan pada kacang

Kedelai pada 5 mst sampai 6 mst

10. Fase penuaan pada jagung terjadi mulai dari 8 mst dan pada kacang Kedelai

mulai terjadi dari 7 mst.


21

Saran.

Sebaiknya praktikan melakukan perawatan pada tanaman dengan lebih

baik lagi, sehingga didapatkan tanaman yang tumbuh dan berkembangg secara

maksimal. Dan diharapkan pula agar praktikan dapat lebih teliti lagi dalam

melakukan pengambilan data agar tidak terjadi kesalahan.


22

DAFTAR PUSTAKA

Adie, J. H. dan Krisnawati, 2007. Bercocok Tanam Jagung.Azka Press, Jakarta.

Adisarwanto, I. 2007. Budidaya dan Analisis Usaha Tani Kedelai, Kacang


Hijau, Kacang Panjang. Absolut, Yogyakarta.

Akil,M. dan H.A Dahlan. 2009. Budidaya Jagung dan Diseminasi Teknologi.
Balai Penelitian Tanaman Serelia Maros.

Arsyad, D.M. dan H. Sembiring, 2007. Pengembangan Tanaman Kacang-


Kacangan Di Nusa Tenggara Barat, Balai Penelitian Tanaman Kacang-
Kacangan Dan Umbi-Umbian, Nusa Tenggara Barat.

Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu


Pengetahuan dan Teknologi.2000.Jagung.Jakarta: Kantor Deputi
Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu dan
Teknologi.

Ginting, S. 2008. Pengaruh Kelebihan Air Terhadap Pertumbuhan Dan


Produksi Tanaman. Sekolah Pasca Sarjana, USU, Medan.

Harahap,H. 2007.Pola Pertumbuhan dan Produksi Jagung(Zea mays L.) Pada


Musim Kering Terhadap Perbedaan Waktu Tanam.Medan:Universitas
Sumatera Utara.

Herawati, S. 2009. Prosea, Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 1, Kacang-


Kacangan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Irwan, M. S., 2002.Budidaya jagung dan Diseminasi Teknologi. Balai Penelitian


Tanaman Serelia, Maros.

Latifah, S. 2004. Tinajuan Konseptual Model Pertumbuhan dan Hasil Tegakan


Hutan. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Nasution, A.H. dan Sri Endah. 2010. Kurva Sigmoid. Universitas Sumatera Utara.
Medan.

Perwtasari, B., M. Tripatmasari dan C. Wasonowati. 2012. Pengaruh Media


Tanam dan Nutrisi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakchoi
dengan Sistem Hidroponik. Universitas negeri Malaysia. Malaysia.

Prihatman, R. R. 1997. Usaha Tani Jagung. Penerbit Kanisius. Jogjakarta


23

Putra,A.S. 2011. Evaluasi Varietas Kacang Kedelai (Vigna radiata (L.)


Wilczek) Untuk Kecambah (Tauge). Universitas Sumatera utara.Medan.

Ramadani, B. W., N. Wayan dan Loekito. 2010. Penerapan Schnute Growth pada
Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.). Universitas Brawijaya.
Malang.

Rinaldi. 2009. Pola Pertumbuhan Tanaman Pangan Holtikultur. Universitas


Andalas. Padang.

Salisbury, F.B. dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.

Sihotang, B. P. 2010. Respons Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung


Manis (Zea mays Saccharata Sturt) Terhadap Pemberian Limbah Kopi Dan
Tepung Darah Sapi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Simbolon, H. 1992. Biologi SMA. Erlangga. Jakarta.

Siska. 2000. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Universitas Bengkulu.


Bengkulu.

Steenis, J.A, R. G., 2003.Plant Science. Mc-Grow Hill BookCompany, Ltd., USA

Sumarji.2013. Teknik Budidaya Tanaman Kacang Kedelai (Vigna radiata (L)


Wilczek). Universitas Islam Kediri. Kediri.

Suparmuji. 2013. Insight Pertumbuhan dan Perkembangan. Diktat Pembelajaran.


Nunukan Selatan.

Suprapto, H., 2001. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta

Tambunan,A.S.2013. Efisiensi Pemupukan Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi


Tanaman Jagung (Zea mays L.) Pada Tanah Andisol Dan Ultisol.Medan:
Universitas Sumatera Utara.

Yulia. 2011. Kurva Sigmoid. Universitas Tanjung Pura. Pontianak.

Zulkifli, T. 2012. Respon Pertumbuhan dan Produksi Kacang Tanah Terhadap


Pemberian Kompos Jerami. Universitas Sumatera Utara. Medan.