Anda di halaman 1dari 5

PERBANDINGAN KLASIFIKASI PENGGUNAAN TANAH

VERSI Jean Paul MALINGREAU & VERSI BPN-RI


oleh : Fahmi Charish MDW

1. Pendahuluan

Malingreau, ketika menyusun klasifikasi penggunaan lahan untuk Indonesia, adalah


seorang konsultan untuk Pusat Interpretasi Citra dan Survey Terintegrasi UGM-
Bakosurtanal di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Papernya mengenai klasifikasi
penggunaan lahan di Indonesia (A Proposed Land Cover / Land Use Classifiation
and Its Use With Remote Sensing Data I Indonesia) diterbitkan oleh The Indonesian
Journal of Geography pada Juni 1977. Selanjutnya klasifikasi menurut Malingreau
ini disebut saja ‘versi Malingreau’ untuk memudahkan penulisan.

Sementara itu Badan Pertanahan Nasional sebagai lembaga pemerintah Republik


Indonesia yang menangani permasalahan bidang pertanahan memandang perlu
diterbitkannya semacam panduan klasifikasi penggunaan lahan dalam sebuah
peraturan perundangan yang kemudian dikenal dengan Permenag/KBPN No.1 tahun
1997 (Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor
1 Tahun 1997 tentang : Pemetaan Penggunaan Tanah Perdesaan, Penggunaan Tanah
Perkotaan, Kemampuan Tanah dan Penggunaan Simbol / Warna Untuk Penyajian
Dalam Peta.). Permenag tersebut diundangkan pada tanggal 16 April 1997 pada masa
Ir. Soni Harsono sebagai Menteri Negara Agraia / Kepala BPN. Selanjutnya untuk
memudahkan penulisan disebut ’versi BPN’.

2. Definisi Land Use (Penggunaan Tanah) dan Land Cover (Penutup Tanah)

Malingreau mengutip Vinck 1975, menyebutkan bahwa yang dimaksud land use
adalah setiap bentuk intervensi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya….dari
sumberdaya alam dan sumberdaya buatan dimana secara bersama disebut ‘tanah’.
Lanc cover sendiri diartikan sebagai elemen alam yang bisa menyebabkan

Klasifikasi Penggunaan Tanah : Malingreau & BPN-RI -------------- halaman 1


dikerjakan oleh Fahmi Charish MDW, pada tangal 25 Juli 2007 jam 20.00 wib
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Penginderaan Jauh; Dr. Hartono, DEA,DESS.
karakteristik optis dari lahan mejadi bisa dikenali, terdiri atas : air, tanah dan vegetasi.
Sehingga segala macam pendekatan yang dilakukan untuk kegiatan identifikasi obyek
mesti mempertimbangkan ilmu pengetahuan yang berkernaan dengan karakter spasial
dan spektral dari obyek dimaksud.

Sementara menurut BPN, land use adalah wujud kegiatan menggunakan tanah baik
secara lingkungan buata maupun secara lingkungan alami. Sedangkan land cover
adalah tumbuhan atau bangunan yang secara nyata menutupi permukaan tanah. Di
lingkungan BPN juga dikenal istilah kemampuan tanah yakni penilaian
pengelompokan potensi unsur-unsur fisik wilayah bagi kegiatan penggunaan tanah.

3. Analisa Citra untuk Identifikasi Land Use dan Land Cover

Teknik identifikasi yang digunakan mesti secara cermat dilakukan untuk memperoleh
hasil identifikasi yang akurasinya bisa dipertanggungjawabkan. Terdapat 3 metode
identifikasi yang keberhasilannya sangat tergantung pada ketrampilan sumberdaya
manusia dan kehandalan alat yang digunakan :

1. interpretasi visual : didukung oleh alat bantu visual (viewer), alat ukur dan
alat transformasi
2. prosedur ekstraksi data otomatis
3. interaksi manusia dengan mesin

Yang berlaku di Indoensia adalah metode interpretasi citra secara visual, yang mana
berkaitan dengan data foto udara dan data penginderaan jauh maka dapat dibedakan
sebagai berikut :

1. penngamatan pada obyek yang telah teridentifikasi melalui bentuk, warna,


tekstur, pola, dll

Klasifikasi Penggunaan Tanah : Malingreau & BPN-RI -------------- halaman 2


dikerjakan oleh Fahmi Charish MDW, pada tangal 25 Juli 2007 jam 20.00 wib
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Penginderaan Jauh; Dr. Hartono, DEA,DESS.
2. pengamatan terhadap obyek yang hampir serupa citranya namun masih terlalu
abstrak untuk dapat diidentifikasikan secara jelas, sehingga memerlukan
kunci-kunci fotogrametri atau analisa karakteristik spektral yang telah lebih
dulu ditetapkan
3. interpretasi terintegrasi, yang mana analis tidak hanya berkonsentrasi pada
sebagian karakter citra namun juga mempelajari elemen-elemen yang
berkaitan dengan lingkungan sekitar data tersebut.

4. Klasifikasi Land Use dan Land Cover

Malingreau mendasarkan klasifikasinya berdasar land cover yakni mejadi 4 induk


klasifikasi : air (water), tanah (soil) dan vegetasi serta dengan menambahkan item
sumberdaya buatan manusia : wilayah yang telah terbangun dan pemukiman
(settlement and built-up area). Untuk item air terdiri dari : kolam, danau, reservoir,
kolam, tambak, sungai, saluran air, dll. Vegetasi terdiri dari : sawah, tegalan/kebun,
perkebunan, pekarangan, ladang, hutan, semak, rawa, dll. Soil terdiri dari ; laha
kritis, wilayah panatai, aliran lahar, dll. Lain-lain : kota, kampung, jaringan
komunikasi, pelabuhan udara, dll. (lebih lengkap lihat lampiran).

Malingreau mengakui bahwa tidak pernah ada klasifikasi yang sungguh-sungguh


secara komplet memenuhi tuntutan semua level, profesi dan organisasi yang beragam
dalam suatu kurun waktu yang panjang. Karena masing-masing pihak memiliki
tujuannya sendiri-sendiri, sehingga akan sangat sulit untuk menyusun suatu
klasifikasi yang sedemikian rupa yang memenuhi setiap tujuan yang berbeda-beda
itu. Oleh sebab itu Malingreau secara sederhana melakukan klasifikasinya
berdasarkan karakteristik land cover (yang mana BPN memiliki definisi yang berbeda
mengenai land cover ini) dengan harapan klasifikasi sederhana ini memiliki sifat
fleksibel dan terbuka sehingga dapat mengakomodasi penambahan-penambahan pada
masa mendatang dan oleh berbagai keperluan.

Klasifikasi Penggunaan Tanah : Malingreau & BPN-RI -------------- halaman 3


dikerjakan oleh Fahmi Charish MDW, pada tangal 25 Juli 2007 jam 20.00 wib
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Penginderaan Jauh; Dr. Hartono, DEA,DESS.
Sementara itu BPN membedakannya menjadi dua bagian yakni klasifikasi
penggunaan tanah perkotaan dan klasifikasi penggunaan tanah perdesaan. Untuk
perdesaan dengan skala peta 1:50.000 dan 1:25.000 terdiri dari 12 item :
perkampungan, industri, pertambangan, persawahan, pertanian tanah kering semusim,
kebun, perkebunan, padang, hutan, perairan darat, tanah terbuka, lain-lain trdiri dari
jalan, saluran, bendungan, ketinggian, batas administrasi. Sedangkan untuk
perkotaan dengan skala 1:20.000, 1:10.000, 1:5.000 dan 1:2.500 terdiri dari 9 item :
tanah perumahan, tanah perusahaan, tanah industri/pergudangan, tanah jasa, tanah
tidak ada bangunan, taman, perairan, jalan dan batas administrasi. (lebih lengkap lihat
lampiran).

Berbeda dengan Malingreau, nampaknya BPN sangat spesifik dan detil dalam
mendesain klasifikasinya. Hal ini dapat dilihat dari detilnya unsur-unsur yang dicakup
dalam klasifikasi ini samppai dengan sub-subitem, perhatikan kode nomornya, contoh
: 1.1.3. mewakili Tanah Perumahan-Perumahan Teratur-Kepadatan Rendah. Sehingga
untuk internal BPN klasifikasi ini sangat cocok, sedangkan untuk kalangan eksternal
nampaknya sebaliknya, realitanya beberapa instansi yang membuat peta
menggunakan klasifikasi dan penyimbolan sendiri.

BPN juga mengenal klasifikasi kemampuan tanah yang terbagi dalam 10 item :
lereng, kedalaman efektif tanah, tekstur tanah, drainase, erosi, faktor pembatas, unsur
penunjang dalam pemetaan, pusat pemerintahan, jalan, dan saluran/irigasi. Dengan
informasi kemampuan tanah maka kegiatan perencanaan dan pengambilan kebijakan,
terutama yang menyangkut masalah pertanian yang masih menjadi mata pencaharian
pokok rakyat Indonesia, akan lebih baik hasilnya.

5. Kesimpulan

Rentang waktu yang lama antara pembuatan klasifikasi versi Malingreau dan versi
BPN yang sekitar 20 tahun menjadi alasan utama mengapa klasifkasi Malingreau jauh

Klasifikasi Penggunaan Tanah : Malingreau & BPN-RI -------------- halaman 4


dikerjakan oleh Fahmi Charish MDW, pada tangal 25 Juli 2007 jam 20.00 wib
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Penginderaan Jauh; Dr. Hartono, DEA,DESS.
lebih sederhana dan terkesan sudah tidak mampu lagi mengakomodasi keadaan masa
kini, sementara versi BPN nampak lebih mampu dan detil dalam menampung realitas
masa kini dari objek di atas permukaan bumi. Namun harap diingat pepatah small is
beauty, karakter sederhana dimiliki versi malingreau yang berarti fleksibilitas dan
terbuka menyebabkan klasifikasi Malingreau masih cukup relevan dalam jangka
waktu yang lebih lama.

Sementara itu di sisi lain, apabila kalsifikasi penggunaan tanah versi BPN, yang
dimaksud sebagai standarisasi kegiatan pemetaan di Indonesia, bisa diaplikasikan
secara sempurna maka informasi yang dihasilkan lebih detil dan lebih luas untuk
berbagai macam penggunaan tanah yang telah sedemikian beragamnya akhir-akhir
ini.

Fahmi Charish MDW


Land Office of Semarang Regency
Jl. Gatot Subroto No.18 Ungaran
Student at Master of Geomatics Engineering
UGM Jogjakarta

Daftar bacaan :

Anonim, Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 1 Tahun 1997 tentang
“Pemetaan Penggunaan Tanah Perdesaan, Penggunaan Tanah Perkotaan,
Kemampuan Tanah dan Penggunaan Simbol /Warna untuk Penyajian Dalam Peta.
Anonim, Klasifikasi Penggunaan Tanah Perdesaan. Lampiran 1 No. 4 Permenag / KBPN
No.1 Tahun 1997
Anonim, Klasifikasi Penggunaan Tanah Perkotaan. Lampiran 2 No. 4 Permenag / KBPN
No.1 Tahun 1997
Anonim, Klasifikasi Kemampuan Tanah. Lampiran 3 No. 4 Permenag / KBPN No.1 Tahun
1997
Malingreau, JP. A Proposed Land Cover / Land Use Classifiation and Its Use With Remote
Sensing Data I Indonesia. The Indonesian Journal of Geography Vol. 7 No.33 June
1997 page 5-27

Klasifikasi Penggunaan Tanah : Malingreau & BPN-RI -------------- halaman 5


dikerjakan oleh Fahmi Charish MDW, pada tangal 25 Juli 2007 jam 20.00 wib
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Penginderaan Jauh; Dr. Hartono, DEA,DESS.