Anda di halaman 1dari 9

PERATURAN

KEPALA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL

NOMOR 6 TAHUN 2014

TENTANG

TATA CARA KONSULTASI PENYUSUNAN PETA RENCANA TATA RUANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 7 ayat (2)


Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang
Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang, perlu menetapkan
Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial tentang
Tata Cara Konsultasi Penyusunan Peta Rencana Tata
Ruang;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang


Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang


Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5214);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang


Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 8, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5393);

4. Peraturan . . .
4. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2014 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011
tentang Informasi Geospasial (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 31, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5502);

5. Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2011 tentang


Badan Informasi Geospasial (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 144);

6. Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor


3 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Badan Informasi Geospasial, sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Kepala Badan Informasi
Geospasial Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan
Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor
3 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Badan Informasi Geospasial;

7. Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor


4 Tahun 2012 tentang Balai Pendidikan dan Pelatihan
Geospasial sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor
4 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Kepala
Badan Informasi Geospasial Nomor 4 Tahun 2012
tentang Balai Pendidikan dan Pelatihan Geospasial;

8. Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor


4 Tahun 2012 tentang Balai Pendidikan dan Pelatihan
Geospasial sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor
4 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Kepala
Badan Informasi Geospasial Nomor 4 Tahun 2012
tentang Balai Pendidikan dan Pelatihan Geospasial;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL


TENTANG TATA CARA KONSULTASI PENYUSUNAN PETA
RENCANA TATA RUANG.

BAB I . . .
BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Kepala ini yang dimaksud dengan:


1. Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan
yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek
atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas
permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem
koordinat tertentu.
2. Data Geospasial yang selanjutnya disingkat DG adalah
data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran,
dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan
manusia yang berada di bawah, pada, atau di atas
permukaan bumi.
3. Informasi Geospasial yang selanjutnya disingkat IG
adalah DG yang sudah diolah sehingga dapat digunakan
sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan,
pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan
yang berhubungan dengan ruang kebumian.
4. Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan
atau buatan manusia, yang berada di atas maupun di
bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu
bidang datar dengan skala tertentu.
5. Ketelitian Peta adalah ketepatan, kerincian dan
kelengkapan data, dan/atau informasi georeferensi dan
tematik, sehingga merupakan penggabungan dari sistem
referensi geometris, skala, akurasi, atau kerincian basis
data, format penyimpanan secara digital termasuk kode
unsur, penyajian kartografis mencakup simbol, warna,
arsiran dan notasi, serta kelengkapan muatan Peta.
6. Peta Dasar adalah sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi
Geospasial.
7. Peta Tematik adalah sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi
Geospasial.
8. Pemohon adalah kementerian/lembaga atau pemerintah
daerah.

9. Pejabat . . .
9. Pejabat Tinggi Madya adalah pejabat tinggi madya di
lingkungan Badan Informasi Geospasial yang membidangi
urusan pemetaan tata ruang.
10. Pejabat Tinggi Pratama adalah pejabat tinggi pratama di
lingkungan Badan Informasi Geospasial yang membidangi
urusan pemetaan tata ruang.
11. Badan Informasi Geospasial yang selanjutnya disingkat
BIG adalah lembaga pemerintah non kementerian yang
mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di
bidang IG.
12. Kepala adalah Kepala BIG.

Pasal 2

Peta Rencana Tata Ruang meliputi


a. Peta Rencana Struktur Ruang; dan
b. Peta Rencana Pola Ruang.

Pasal 3

Penyusunan Peta Rencana Tata Ruang wajib dikonsultasikan


kepada BIG.

Pasal 4

(1) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3


dilaksanakan oleh Tim Konsultasi Pemetaan Tata Ruang.
(2) Tim Konsultasi Pemetaan Tata Ruang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) bertugas:
a. melakukan asistensi dan supervisi kepada Pemohon
konsultasi;
b. melakukan verifikasi terhadap DG dan IG yang
digunakan oleh Pemohon dalam pemetaan tata ruang;
c. menerbitkan berita acara hasil asistensi dan supervisi
peta rencana tata ruang;
d. menyiapkan rancangan surat keterangan persetujuan
Peta Rencana Tata Ruang; dan
e. melaksanakan fungsi kesekretariatan terkait
pelaksanaan konsultasi.

Pasal 5 . . .
Pasal 5

Tim Konsultasi Pemetaan Tata Ruang sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 4 ditetapkan oleh Kepala.

BAB II
TATA CARA KONSULTASI

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 6

Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3


dilaksanakan melalui:
a. permohonan konsultasi;
b. pelaksanaan konsultasi; dan
c. penerbitan surat keterangan persetujuan Peta Rencana
Tata Ruang.

Bagian Kedua
Permohonan Konsultasi

Pasal 7

(1) Permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 6 huruf a diajukan Pemohon kepada Pejabat Tinggi
Pratama dengan tembusan Pejabat Tinggi Madya.
(2) Permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) disampaikan tertulis secara resmi, melalui:
a. faximili;
b. pos;
c. kurir; dan/atau
d. surat elektronik.

Pasal 8 . . .
Pasal 8

(1) Pejabat Tinggi Pratama memberikan jawaban terhadap


Permohonan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7.
(2) Jawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi
tentang persetujuan dan jadwal pelaksanaan konsultasi.
(3) Jawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan
paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak surat permohonan
diterima oleh Pejabat Tinggi Pratama sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yang dibuktikan dengan tanda
terima sesuai prosedur kearsipan yang berlaku.

Bagian Ketiga
Pelaksanaan Konsultasi

Pasal 9

Pelaksanaan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal


6 huruf b dilakukan melalui:
a. penyerahan data;
b. verifikasi;
c. penerbitan berita acara konsultasi; dan
d. perbaikan.

Pasal 10

Penyerahan data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf


a diserahkan Pemohon kepada Tim Konsultasi Pemetaan Tata
Ruang meliputi:
a. DG;
b. rancangan peraturan perundang-undangan; dan
c. data lain yang diminta oleh Tim Konsultasi Pemetaan Tata
Ruang.

Pasal 11 . . .
Pasal 11

Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b


dilaksanakan terhadap:
a. basisdata geospasial;
b. manajemen data digital;
c. Peta Dasar yang digunakan;
d. Peta Tematik yang digunakan;
e. data geospasial rencana tata ruang;
f. rancangan Peta Rencana Tata Ruang; dan
g. kesesuaian antara rancangan peraturan perundang-
undangan dengan Peta Rencana Tata Ruang.

Pasal 12

(1) Penerbitan berita acara konsultasi sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 9 huruf c dilaksanakan setiap
akhir dari proses verifikasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11.
(2) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memuat:
a. waktu dan tempat pelaksanaan verifikasi;
b. materi verifikasi;
c. rekomendasi perbaikan; dan
d. tanda tangan Tim Konsultasi Pemetaan Tata Ruang
dan Pemohon.

Pasal 13

(1) Perbaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf d


dilaksanakan berdasarkan berita acara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12.
(2) Perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh Pemohon.
(3) Hasil Perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dikonsultasikan kembali kepada Tim Konsultasi
Pemetaan Tata Ruang sesuai dengan pelaksanaan
konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.

Bagian Keempat . . .
Bagian Keempat
Penerbitan Surat Keterangan Persetujuan Peta Rencana Tata Ruang

Pasal 14

Penerbitan surat keterangan persetujuan Peta Rencana Tata


Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c
diterbitkan setelah seluruh tahapan konsultasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 dipenuhi.

Pasal 15

(1) Rancangan surat keterangan persetujuan Peta Rencana


Tata Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
disiapkan oleh Tim Konsultasi Pemetaan Tata Ruang.
(2) Surat keterangan persetujuan Peta Rencana Tata Ruang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditandatangani oleh
Pejabat Tinggi Pratama.
(3) BIG menyerahkan surat keterangan persetujuan Peta
Rencana Tata Ruang kepada Pemohon.

BAB III
LAIN-LAIN

Pasal 16

(1) Setelah penyerahan surat keterangan persetujuan Peta


Rencana Tata Ruang kepada Pemohon sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) dan setelah Peta
Rencana Tata Ruang disahkan, Pemohon wajib
menyerahkan kepada BIG berupa:
a. peta digital;
b. peta cetak; dan
c. dokumen peraturan daerah rencana tata ruang.
(2) Peta digital sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
berbentuk digital tertentu yang dapat diakses dengan
perangkat keras dan perangkat lunak tertentu.
(3) Peta cetak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
berbentuk lembaran dan album peta yang telah
diundangkan.

BAB IV . . .
BAB IV
PENUTUP

Pasal 17

Peraturan Kepala ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Cibinong
pada tanggal 6 Mei 2014

KEPALA
BADAN INFORMASI GEOSPASIAL,

ttd.

ASEP KARSIDI

Salinan sesuai dengan aslinya


Plt. Kepala Bagian Hukum,

ttd.

Sora Lokita