Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan
sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang
tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima selain penguasaan terhadap ilmu
pengetahuan dan teknologi (Nursari, 2010). Gizi merupakan salah satu faktor penentu
untuk mencapai kesehatan yang prima dan optimal. Namun, masyarakat di Indonesia
masih menghadapi beberapa masalah gizi, salah satunya adalah anemia. Kejadian
anemia banyak terjadi terutama pada usia remaja baik kelompok pria maupun wanita
(Wibowo, 2013). Populasi remaja di Indonesia mencapai 20% dari total populasi
penduduk Indonesia. Menurut Permaesih dan Herman (2005), prevalensi anemia pada
remaja sebesar 25,5%, dijumpai pada remaja laki-laki 21% dan perempuan 30%. Selain
itu, survei yang dilakukan oleh Gross et al di Jakarta dan Yogyakarta melaporkan
prevalensi anemia pada remaja sebesar 21,1%.
Menurut Chapman & Hall, faktor penyebab terjadinya anemia adalah asupan zat
besi yang kurang. Anemia defisiensi besi adalah bentuk paling umum dari anemia,
terdapat 20% wanita, 50% wanita hamil dan 3% laki-laki tidak memiliki cukup zat besi
dalam tubuh mereka. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kejadian anemia antara lain
gaya hidup seperti merokok, minum minuman keras, kebiasaan sarapan pagi, sosial
ekonomi dan demografi, pendidikan, jenis kelamin, umur dan wilayah (ILSI, 2000).
Anemia dapat menyebabkan konsentrasi belajar menurun sehingga prestasi
belajar rendah dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Selain itu, dapat menurunkan
daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi (WHO, 2001). Anemia dapat
mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, akibat anemia sangat merugikan
untuk masa mendatang. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pencegahan dan
perbaikan yang cepat dan tepat untuk mengatasi hal tersebut. Upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) melalui pembentukan
outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri di sekolah.
Permasalahan gizi di Kabupaten Jombang salah satunya adalah anemia pada
remaja sekolah. Hasil pemantauan pada tahun 2013 menunjukkan bahwa masih terdapat
kasus anemia pada remaja sekolah. Berdasarkan hasil pemantauan beberapa sekolah
percontohan diperoleh kasus anemia yaitu MAN Jombang sebesar 31%, SMAN 2
Jombang 21%, SMPN 1 Jombang 23% dan MTSN Bakalan Rayung Ngusikan Jombang
29%. Upaya yang dilakukan Kabupaten Jombang untuk mengatasi masalah tersebut
adalah dengan melaksanakan program pembentukkan outlet Tablet Tambah Darah
(TTD) mandiri di sekolah ataupun pondok pesantren yang berada diwilayah tersebut.
Program tersebut telah dilaksanakan sejak tahun 2001. Selain itu, untuk mendukung
keberhasilan program setiap seminggu sekali dilakukan gerakan minum Tablet Tambah
Darah (TTD) bersama siswa-siswi yang dipantau langsung oleh pihak sekolah dan Dinas
Kesehatan Kabupaten Jombang (Dinkes Jombang, 2014).
Evaluasi adalah membandingkan antara hasil yang telah dicapai oleh suatu
program dengan tujuan yang direncanakan. Dalam menilai suatu evaluasi dapat
digunakan dengan pendekatan sistem. Pendekatan sistem dapat dilakukan untuk suatu
program kesehatan dimana penilaian secara komprehensif dapat dilakukan dengan
menilai input, proses, output, outcome dan impact. Melihat pengalaman dan
pengembangan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dalam penanggulangan
permasalahan gizi, berupa anemia pada remaja sekolah maka penulis tertarik untuk
melihat dan mengetahui evaluasi program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri di
Kabupaten Jombang Tahun 2014.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui evaluasi program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri di
Kabupaten Jombang Tahun 2014.
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui evaluasi input program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri
di Kabupaten Jombang Tahun 2014.
b) Mengetahui evaluasi proses program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri
di Kabupaten Jombang Tahun 2014.
c) Mengetahui evaluasi output program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri
di Kabupaten Jombang Tahun 2014.
d) Mengetahui evaluasi outcome program outlet Tablet Tambah Darah (TTD)
mandiri di Kabupaten Jombang Tahun 2014.
e) Mengetahui evaluasi impact program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri
di Kabupaten Jombang Tahun 2014.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Evaluasi Program Outlet Tablet Tambah Darah (TTD) Mandiri di Kabupaten


Jombang
Evaluasi program merupakan evaluasi terhadap kinerja program, sebagaimana
diketahui bahwa program dapat didefinisikan sebagai kumpulan kegiatan-kegiatan nyata,
sistematis dan terpadu yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa instansi pemerintah
ataupun dalam rangka kerjasama dengan masyarakat, atau yang merupakan partisipasi
aktif masyarakat, guna mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi
program merupakan hasil kumulatif dari berbagai kegiatan. Evaluasi dapat dilakukan
pada input, proses, output, outcome dan impact pada sebuah program (Kenzie, 2007).
Evaluasi Program gizi dilakukan untuk menilai kemajuan kegiatan dan hasil yang dicapai
dalam upaya peningkatan gizi masyarakat yang dilakukan oleh masing-masing wilayah/
daerah. Dalam buku panduan pengelolaan program perbaikan gizi kabupaten/kota, tujuan
dari evaluasi yaitu memperbaiki rancangan kebijakan, program dan proyek, menentukan
suatu bentuk kegiatan yang tepat, memperoleh masukan untuk digunakan didalam proses
perencanaan yang akan dating dan mengukur keberhasilan suatu program (Depkes RI,
2000). Berikut adalah evaluasi input, proses, output, outcome dan impact kebijakan
program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri di Kabupaten Jombang:
1. Evaluasi Input
Evaluasi input program menyediakan data untuk menentukan bagaimana
penggunaan sumber-sumber yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan program.
Evaluasi ini ditekankan pada bagaimana menggunakan sumber daya baik SDM,
sarana prasarana, finansial, maupun penggunaan strategi dalam pencapaian tujuan
program (Mahfudz, 2011).
Sumber yang sangat besar pengaruhnya dalam pelaksanaan program adalah
sumber daya manusia. Pembentukan program outlet Tablet Tambah Darah (TTD)
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Pelaksanaan outlet di setiap
sekolah dan pondok pesantren dilakukan oleh guru UKS dan kader remaja mahir gizi
di sekolah yang telah mendapatkan pelatihan dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Jombang.
Sarana dan prasarana dalam pelaksanaan program sudah sangat baik dengan
tersedianya outlet Tablet Tambah Darah (TTD) yang bergabung dengan ruangan
UKS dalam kondisi yang sehat dan bersih. Selain itu, outlet Tablet Tambah Darah
(TTD) juga disediakan di koperasi sekolah untuk memudahkan siswa-siswi dalam
proses pembelian tablet tersebut.
Sumber lainnya yang tidak kalah penting adalah sumber pendanaan. Bahkan
faktor pendanaan sering dikatakan sebagai faktor penentu keberhasilan suatu
program. Sumber pendanaan program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) berasal
dari pengajuan proposal ke Bapeda tentang penanggulangan anemia di Kabupaten
Jombang. Pengadaan Tablet Tambah Darah (TTD) mulai Tahun 1998 awalnya
mendapatkan bantuan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang sebanyak 500 tablet
kemudian sejak Tahun 2001 sekolah dan pondok pesantren secara mandiri
menyediakan Tablet Tambah Darah (TTD) dengan cara hasil penjualan tablet
digunakan untuk membeli sendiri Tablet Tambah Darah (TTD) di apotik.
Pembentukan program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) dilakukan oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Pelaksanaan outlet di setiap sekolah dan
pondok pesantren dilakukan oleh guru UKS dan kader remaja mahir gizi di sekolah
yang telah mendapatkan pelatihan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang.
Berdasarkan evaluasi input baik SDM, finansial, sarana dan prasarana serta
strategi dalam pelaksanaan program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) di
Kabupaten Jombang sudah berjalan dan dilaksanakan dengan sangat baik.
2. Evaluasi Proses
Menurut Donabedian (Zumroti, 2010), Evaluasi proses adalah evaluasi yang
dilakukan terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan, yang
berkaitan dengan penyediaan dan penerimaan pelayanan. Evaluasi proses dalam
program membahas tentang kegiatan apa yang dilakukan dalam program, hambatan-
hambatan yang dijumpai dan efektivitas dalam menyelesaikan kegiatan.
Kegiatan yang dilakukan adalah pembentukkan outlet TTD mandiri di
Kabupaten Jombang sebanyak 50 outlet di sekolah SLTP, dan SLTA dan 15 outlet di
pondok pesantren. Pengadaan Tablet Tambah Darah (TTD) mulai Tahun 1998
awalnya mendapatkan bantuan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang sebanyak
500 tablet kemudian sejak Tahun 2001 sekolah dan pondok pesantren secara mandiri
menyediakan Tablet Tambah Darah (TTD) dengan cara hasil penjualan tablet
digunakan untuk membeli sendiri Tablet Tambah Darah (TTD) di apotik.
Selain itu, untuk lebih meningkatkan keberhasilan program Dinas Kesehatan
Kabupaten Jombang juga melakukan sosialisasi Tablet Tambah Darah (TTD) dan
gerakan minum Tablet Tambah Darah (TTD) bersama siswa-siswi sekolah dan
pondok pesantren setiap seminggu sekali setiap hari Senin sesudah upacara atau hari
Jum’at setelah senam pagi. Kegiatan outlet Tablet Tambah Darah (TTD), sosialisasi,
dan minum bersama Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah dan pondok pesantren
Kabupaten Jombang dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 1. Kegiatan outlet Tablet Tambah Darah (TTD), sosialisasi,


dan minum bersama Tablet Tambah Darah (TTD)

Hambatan yang dijumpai membahas tentang apa saja yang menjadi kendala
dalam pelaksanaan program outlet Tablet Tambah Darah (TTD). Hambatan yang
dijumpai dalam pelaksaan program adalah beberapa sekolah tidak aktif dalam
penyelenggaraan tablet secara mandiri. Ketika stok Tablet Tambah Darah (TTD)
habis, baik di UKS maupun di koperasi sekolah tidak segera melakukan pembelian
tablet di apotik.
Penilaian terakhir dalam evaluasi proses adalah efektivitas menyelesaikan
kegiatan. Penilaian ini terkait dengan bagaimana cara kerja sumber daya di dalam
pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan program. Untuk itu, dalam pelaksanaan
kegiatan agar bisa berjalan efektif maka pelaksanaannya harus dengan koordinasi
yang baik. Pelaksanaan program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) melibatkan
siswa-siswi dan pihak sekolah secara langsung. Petugas pelaksana outlet langsung
melibatkan pihak sekolah seperti guru UKS dan kader remaja mahir gizi. Selain itu
pelaksanaan sosialisasi dan gerakan minum bersama Tablet Tambah Darah (TTD)
sepenunhya diawasi oleh pihak sekolah dan mendapat respon yang baik dari siswa-
siswi sehingga semua kegiatan program dapat berjalan secara efektif.
Berdasarkan evaluasi proses, kegiatan dan efektifitas program outlet Tablet
Tambah Darah (TTD) di Kabupaten Jombang sudah dilaksanakan dengan baik
namun masih terdapat hambatan yaitu beberapa sekolah yang tidak aktif dalam
penyelenggaraan tablet secara mandiri. Oleh karena itu, pelaksanaan program harus
dilakukan monitoring secara terus-menerus untuk memastikan berjalannya program.
3. Evaluasi Output
Evaluasi output digunakan untuk menggambarkan pencapaian program selama
dilaksanakan. Ketercapaian tersebut dapat dilihat dengan menggunakan dua penilaian
yaitu hal yang dilakukan setelah program berjalan dan hasil yang dicapai (Mahfudz,
2011).
Ketika suatu program sudah dapat dilaksanakan, maka langkah selanjutnya
adalah menentukan apa yang akan dilakukan setelah program berjalan adalah dengan
melakukan monitoring dan evaluasi. Monitoring program outlet Tablet Tambah
Darah (TTD) dilakukan oleh Puskesmas di daerah setempat dengan cara memantau
langsung sediaan Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah ataupun pesantren. Cara
lain yang dilakukan adalah dengan menghubungi guru UKS atau kader remaja mahir
gizi via telepon untuk mengetahui sediaan tablet. Selain itu, setiap pembelian tablet
dicatat dalam buku register untuk mengetahui jumlah tablet yang terjual. Evaluasi
dilakukan dengan cara skrining siswa-siswi yang mengalami anemia setiap setahun
sekali. Monitoring dan evaluasi tersebut rutin dilakukan sebagai upaya untuk terus
memperbaiki pelaksanaan program.
Pencapaian suatu program dapat dilihat dari hasil yang telah dicapai. Cakupan
outlet Tablet Tambah Darah (TTD), dan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD)
melalui outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri di sekolah dan pondok pesantren
Kabupaten Jombang Tahun 2014 adalah sebagai berikut:

Cakupan Outlet TTD Mandiri di Cakupan Outlet TTD Mandiri di


Sekolah Pondok Pesantren

20 5
Aktif Aktif
30 10
Tidak Aktif Tidak Akti

Diagram 1. Cakupan Outlet TTD Mandiri di Diagram 2. Cakupan Outlet TTD Mandiri di
Sekolah Kabupaten Jombang Tahun 2014 Ponpes Kabupaten Jombang Tahun 2014
Peningkatan Cakupan Pemberian
TTD Melalui Pengembangan Outlet
TTD Mandiri
6
Sekolah

22
Pondok
pesantren

Diagram 3. Peningkatan Cakupan Pemberian TTD Melalui Pengembangan Outlet


TTD Mandiri Kabupaten Jombang Tahun 2014

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang Tahun 2014, sebagian


besar sekolah masih aktif melaksanakan program outlet Tablet Tambah Darah (TTD)
mandiri yaitu terdapat 30 sekolah dan 10 pondok pesantren. Selain itu, terdapat
peningkatan cakupan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) melalui
pengembangan outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri pada 22 sekolah dan 6
pondok pesantren.
4. Evaluasi Outcome
Evaluasi outcome merupakan kondisi yang menunjukkan telah tercapainya
maksud dan tujuan dari kegiatan-kegiatan yang telah selesai dilaksanakan atau
kondisi yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah
(Nurcholis, 2009).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang Tahun 2014, program
outlet Tablet Tambah Darah (TTD) mandiri telah berhasil menurunkan kasus anemia
pada remaja sekolah di Kabupaten Jombang. Keberhasilan penurunan kasus anemia
tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Prevalensi Anemia Pada Remaja di Sekolah Percontohan
Outlet Tablet Tambah Darah (TTD) Mandiri Kabupaten Jombang
No Sekolah Tahun 2013 Tahun 2014
1 MAN Jombang 31% 10%
2 SMAN 2 Jombang 21% 15%
3 SMPN 1 Jombang 23% 11%
4 MTSN Bakalan Rayung Ngusikan Jombang 29% 7%

Pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa program outlet Tablet Tambah Darah (TTD)
mandiri terbukti berhasil mengurangi prevalensi anemia pada remaja siswa-siswi
sekolah di Kabupaten Jombang. Hasil survey pada beberapa sekolah percontohan
menunjukkan penurunan prevalensi anemia pada tahun 2014 dari satu tahun
sebelumnya. Perubahan prevalensi anemia tertinggi pada MTSN Bakalan Rayung
Ngusikan Jombang yaitu 22% dan terendah SMAN 2 Jombang sebesar 6%.
Anemia adalah suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari
normal, berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, dan kehamilan. Sebagian besar
anemia disebabkan oleh kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial (zat besi, asam
folat, B12) yang digunakan dalam pembentukan sel-sel darah merah (Masrizal, 2007
dalam Wahyuningsih dkk, 2014). Faktor utama penyebab anemia adalah asupan zat
besi yang kurang. Sekitar dua per tiga zat besi dalam tubuh terdapat dalam sel darah
merah hemoglobin (Permaesih dan Herman, 2005). Upaya yang harus dilakukan
untuk meningkatkan kandungan besi heme dari diet dan bioavailabilitas besi non-
heme adalah dengan mempromosikan makanan lokal yang terjangkau kaya zat besi
dan promotor penyerapan zat besi (vitamin C dan daging, unggas dan ikan) (Alaofe
et all., 2007 )
Anemia merupakan masalah gizi yang paling umum di seluruh dunia, terutama
disebabkan karena defisiensi besi. Kekurangan zat besi tidak terbatas pada remaja
status sosial ekonomi pedesaan yang rendah tetapi menunjukkan peningkatan
prevalensi di masyarakat yang makmur dan berkembang. Prevalensi anemia remaja
27% di negara-negara berkembang dan 6% di negara maju (Suryani dkk, 2015).
Anemia zat besi memiliki efek luas pada kesehatan, kesejahteraan dan produktivitas
penderitanya (Lynch, 2005). Anemia defisiensi besi dikaitkan dengan gangguan
perkembangan pada anak-anak, efek buruk pada kinerja kognitif dan fisik pada
remaja dan dewasa, dan malnutrisi pada ibu hamil yang akan berdampak pada bayi
yang dilahirkan (Pasricha, 2012). Pencegahan anemia besi dapat dilakukan dengan
meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan, suplementasi besi (tablet tambah
darah), fortifikasi besi, dan pendidikan gizi (M.J. Gibney, 2008). Di Indonesia,
terdapat empat kelompok sasaran diidentifikasi untuk intervensi mengurangi
kekurangan zat besi, salah satunya adalah remaja. Strategi yang memadai tidak hanya
memerlukan tindakan preventif tetapi juga kuratif. Tindakan pencegahan harus
diberikan prioritas lebih sehingga tindakan kuratif dapat dikurangi. Oleh karena
serangkaian tindakan harus dilaksanakan tidak hanya membutuhkan dukungan dari
pemerintah tetapi semua bagian dari masyarakat (Kosen dkk, 1998).
Pembentukan outlet Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan salah satu upaya
yang efektif untuk meningkatkan cakupan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)
pada remaja di sekolah dalam rangka menurunkan kasus anemia. Fikawati dkk
(2004) merekomendasikan untuk pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) diminum
dengan pengawasan baik oleh guru atau petugas kesehatan di sekolah. Hal ini dapat
menjadi pengaruh sosial dari orang lain yang signifikan bagi remaja untuk memiliki
niat yang termasuk didalamnya terdapat jaringan dukungan sosial yang membentuk
norma subjektif dan adanya lembaga pendidikan serta pengaruh orang yang dianggap
penting seperti guru akan menimbulkan sikap positif.
5. Evaluasi Impact
Dampak/impacts: akibat dari hasil pelaksanaan kegiatan/program terhadap
masyarakat dan lingkungannya secara politik, ekonomi, social dan ekologis yang
dapat diketahui dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah
dilaksanakannya suatu kegiatan/program atau dengan membandingkan kondisi
“dengan” (with) dan “tanpa” (without) kegiatan/program (Nurcholis, 2009).
Pengaruh program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) terbukti dapat
menurunkan prevalensi pada remaja sekolah di Kabupaten Jombang. Prestasi lainnya
yang diperoleh Kabupaten Jombang adalah mendapatkan Rekor MURI pada tahun
2012 minum tablet tambah darah bersama siswa siswi sebanyak 3150 siswa
seKabupaten Jombang.

Gambar 2. Rekor MURI Minum TTD bersama Siswa Siswi SeKabupaten Jombang
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Program outlet Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan salah satu program untuk
menurunkan prevalensi anemia pada remaja siswa-siswi di Kabupaten Jombang.
Program tersebut telah berhasil menurunkan prevalensi anemia yang digambarkan dari
beberapa sekolah percontohan. Selain itu program tersebut mampu meningkatkan
pengetahuan siswa-siswi mengenai faktor penyebab, dampak dan cara mengatasi anemia.
Keberhasilan program yang dilakukan oleh Dinas Kabupaten Jombang merupakan
perwujudan dari kerjasama yang baik antar lintas sektor seperti Dinas Kesehatan, Dinas
Pendidikan, pihak sekolah dan partisipasi siswa-siswi di sekolah dan pondok pesantren
Kabupaten Jombang.
B. Saran
Pelaksanaan outlet Tablet Tambah Darah (TTD) harus terus dilakukan monitoring
oleh Puskesmas secara rutin untuk memastikan berjalnnya program. Selain itu,
hendaknya disediakan tempat khusus outlet Tablet Tambah Darah (TTD) dan dilakukan
pengrekrutan tenaga ahli gizi untuk langsung memantau pelaksanaan program. Ahli gizi
juga dapat berfungsi sebagai konselor bagi siswa-siswi untuk menanyakan langsung
gejala terkait anemia untuk lebih meningkatkan keberhasilan program.
DAFTAR PUSTAKA

Alaofe, Zee, O'brien. 2007. Dietary Iron And Iron Deficiency Anemia Among Adolescent
Girls From Benin. Review Epidemiologic, vol. 55, issue 3, hlm. 1–9.
Chapman & Hall. 1995. British Nutrition Foundation. Iron. Nutritional and physiological
Significance.
Departemen Kesehatan, RI. 2000. Buku Panduan Pengelolaan Program Perbaikan Gizi
Kabupaten/Kota. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Dinkes Kabupaten Jombang. 2014. Upaya Daerah dalam Penaggulangan Anemia. Jombang:
Seksi Gizi.
Fikawati. S, Syafiq. A, Nurjuaida. S. 2004. Pengaruh Suplementasi Zat Besi Satu dan Dua
Kali Per Minggu terhadap Kadar Hemoglobin pada Siswi yang Menderita Anemia.
Universa Medicina Vol.24 No.4.
Gross R, Angeles-Agdeppa I, Schultink W, Dillon D, Sastroamidjojo S. 1997. Daily Versus
Weekly Iron Suplementation: Programmatic And Economic Implications For
Indonesia. Food and Nutrition Bulletin; 18: 64-9.
ILSI Press. 2000. ILSI Europe. Healthy, lifestyle: Nutrition and Physical Activity.
Kenzie, JM. 2007. Kesehatan Masyarakat Suatu Pengantar. Jakarta: EGC.
Kosen, S., Kodyat, B., Muhilal., Karyadi, D., Gross, Rainer. 1998. Suggested Actions For
Iron Deficiency Control In Indonesia. Nutrition research, vol. 18, issue 12, hlm.
1965-1971.
Lynch, S. 2005. The Impact Of Iron Fortification On Nutritional Anemia. Best Practice &
Research Clinical Haematology, vol. 18, issue 2, hlm. 333–346.
Mahfudz, A. 2011. Evaluasi Program Perbaikan Gizi Masyarakat Kabupaten Jepara.
Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Michael J. Gibney dkk. 2008, Gizi Kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC.
Nurcholis, H. 2009. Perencanaan Partisipasif Pemerintah Daerah. Jakarta: PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Nursari, D. 2010. Gambaran Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di SMPN 18 Kota Bogor
tahun 2009. Jakarta: Universitas Negeri Syarif Hidayatullah.
Pasricha, SR. 2012. Should We Screen For Iron Deficiency Anaemia? A Review Of The
Evidence And Recent Recommendations. Pathology, vol. 44, Issue 2, hlm. 139–147.
Permaesih, dan Herman, S. 2005. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anemia pada Remaja.
Bul. Penel. Kesehatan, vol. 33, no. 4, ,2005: 162-171.
Suryani , D., Hafiani, R., Junita. R. 2015. Analisis Pola Makan Dan Anemia Gizi Besi Pada
Remaja Putri Kota Bengkulu. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, vol. 10, no. 1,
hal. 11-18.
WHO. 2001. lron Deficiency Anemia Assessment, Prevention and Control. A guide for
Programe Managcr.
Wibowo, C. 2013. Hubungan Antara Status Gizi dengan Anemia pada Remaja Putri di
Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 3 Semarang. Semarang: Universitas
Muhammadiyah Semarang.
Wahyuningsih, U., Khomsan, A., Ekawidyani, KR. 2014. Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan
Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga
Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang. Jurnal Gizi Dan Pangan, vol. 9, no. 1, hlm.
23—28.
Zumroti, 2010. Gambaran Evaluasi Program Perbaikan Gizi Dinas Kesehatan Kota
Tangerang Selatan Tahun 2009.