Anda di halaman 1dari 36

Case Report Setion

Hari/ tanggal:Rabu/ 6 Juni 2018

NASKAH PSIKIATRI
F20.0 Skizofrenia Paranoid

Nama Dokter Muda : Atika Shalhi P 2439 B


Marsya Rimadona P 2455 B

Nama Perseptor : dr. Heryezi Tahir, SpKJ

BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS ANDALAS/ SMF PSIKIATRI RSJ
Prof. HB. SAANIN PADANG
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang paling banyak terjadi, gejalanya ditandai

dengan adanya distorsi realita, disorganisasi kepribadian yang parah, serta ketidakmampuan

individu berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari. Sebuah survei yang dilakukan oleh

World Health Organization (WHO), peringkat skizofrenia berada di antara sepuluh penyakit

yang berkontribusi terhadap beban penyakit global. Skizofrenia adalah bentuk yang berat

dari penyakit mental yang memengaruhi sekitar 7 per 1000 dari populasi orang dewasa,

terutama pada kelompok usia 15 - 35 tahun. Pada tahun 2013 terdapat sekitar 450 juta orang

menderita gangguan neuropsikiatri, termasuk skizofrenia.1

Hasil dari data Riset Kesehatan Dasar atau (Riskesdas) pada tahun 2013 dan

dikombinasikan dengan data rutin dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), penduduk

Indonesia secara Nasional mengalami gangguan mental berat (Skizofrenia) sebanyak 0,17%

atau secara absolut penduduk Indonesia yang menderita gangguan jiwa sebanyak 400 ribu

jiwa..2

Skizofrenia paranoid adalah salah satu klasifikasi skizofrenia yang dapat

membahayakan diri pasien dan keluarga pasien, serta tetangga-tetangga pasien. Maka

skizofrenia ini perlu ditatalaksana dengan baik agar tidak menimbulkan bahaya bagi

siapapun terutama bagi pasien.2

Pasien pasien dengan skizofrenia paranoid juga harus mendapatkan dukungan moril dari

keluarga dan lingkungan sekitarnya sehingga pasien dapat menjalankan fungsinya sebagai

anggota keluarga dan fungsi di masyarakat.

Berdasarkan hal di atas, penulis ingin mengangkat judul CRS kami dengan judul

Skizofrenia paranoid.
BAB 2
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Definisi Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam

pikiran, emosi, dan perilaku, pikiran yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak saling

berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru, afek yang datar atau tidak

sesuai, dan berbagai gangguan aktifitas motorik yang bizzare (perilaku aneh). Pasien

skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kaliiamasuk ke dalam

kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi. Orang-orang yang menderita skizofrenia

umumnya mengalami beberapa gejala episode akut, diantara setiap episode mereka sering

mengalami gejala yang tidak terlalu parah namun tetap sangat mengganggu kehidupan

mereka. Komorbiditas dengan penyalahgunaan zat merupakan masalah utama bagi para

pasien skizofrenia, terjadi pada sekitar 50 persennya.3

Skizofrenia adalah jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara

proses berpikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala – gejala skizofrenia menjadi

2 kelompok:3

1. Gejala – gejala primer:

a. Gangguan proses berpikir

b. Gangguan emosi

c. Gangguan kemauan

d. Autisme

2. Gejala – gejala sekunder

a. waham

b. halusinasi

c. gejala katatonik atau gangguan psikomotor yang lain


2.2 Jenis-jenis Skizofrenia

Kraeplin membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita digolongkan ke dalam

salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Akan tetapi batas-batas

golongan-golongan ini tidak jelas, gejala-gejala dapat berganti-ganti atau mungkin seorang

penderita tidak dapat digolongkan ke dalam satu jenis.Pembagiannya adalah sebagai berikut:4

a. Skizofrenia paranoid

Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah usia 30 tahun.Permulaannya mungkin

subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat

digolongkan skizoid. Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak dan kurang

percaya pada orang lain.

b. Skizofrenia herbefrenik

Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau

antara 15 – 25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan

kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti

mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia

herbefrenik, waham dan halusinasinya banyak sekali.

c. Skizofrenia katatonik

Timbulnya pertama kali antara usia 15 sampai 30 tahun, dan biasanya akut serta sering

didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor

katatonik. Gejala yang penting adalah gejala psikomotor seperti:

1. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup, muka tanpa mimik, seperti topeng,

stupor penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang sangat lama, beberapa

hari, bahkan kadang-kadang beberapa bulan.

2. Bila diganti posisinya penderita menentang.

3. Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga terkumpul di dalam mulut dan

meleleh keluar, air seni dan feses ditahan.


4. Terdapat grimas dan katalepsi.

d. Skizofrenia simplex

Gejalanya sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis

simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir

biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali ditemukan.

e. Skizofrenia residual

Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu episode

psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang kearah gejala negatif yang lebih menonjol.

Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpukan afek,

pasif dan tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspresi nonverbal yang menurun,

serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.

2.3 Manifestasi Klinik Skizofrenia

Gejala-gejala yang dialami pasien skizofrenia mencakup gangguan dalam beberapa hal

penting pikiran, persepsi, dan perhatian. Rentang masalah orang-orang yang didiagnosis

menderita skizofrenia sangat luas, meskipun dalam satu waktu pasien umumnya mengalami

hanya beberapa dari masalah tersebut. 5

1. Dalam hal ini akan diuraikan beberapa simptom-simptom utama skizofrenia dalam

tiga kategori. Simptom positif, simptom negatif, dan simptom disorganisasi. 5

Simptom positif. Mencakup hal–hal yag berlebihan dan distorsi, seperti halusinasi

dan waham, simptom–simptom ini, sebagian terbesarnya, menjadi ciri episode akut

skizofrenia.

a) Delusi (waham), yaitu keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan

semacam itu merupakan simptom–simptom positif yang umum pada

skizofrenia.
b) Halusinasi, para pasien skizofrenia seringkali menuturkan bahwa dunia tampak

berbeda dalam satu atau lain cara atau bahkan tidak nyata bagi mereka. Dan

distorsi persepsi yang paling dramatis adalah halusinasi yaitu dimana

pengalaman indrawi tanpa adanya stimulasi dari lingkungan.

2. Simptom negatif.

Simptom–simptom negatif skizofrenia mencakup berbagai devisit behavioral, seperti

avolition, alogia, anhedonia, afek datar dan asosiolitas. Simptom–simptom ini

cenderung bertahan melampaui suatu episode akut dan memiliki afek parah terhadap

kehidupan para pasien skizofrenia.

2.4 Pedoman Diagnostik

Berikut ini merupakan pedoman diagnostik untuk Skizofrenia berdasarkan PPDGJ-III :6

1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua

gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :

a. Thought echo : isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam

kepalanya(tidakkeras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun

kualitasnya berbeda; atau-Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang

asing dari luar masuk ke dalampikirannya(insertion) atau isi pikirannya

diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan- Thought

roadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau

umummengetahuinya.

b. Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan

tertentu dariluar; atau- Delusion of influence : waham tentang dirinya

dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dariluar; atau- Delusion of passivity :

waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadapsesuatukekuatan dari

luar.- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang

bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
c. Halusinasi auditorik:

- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku

pasien,

- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai

suara yang berbicara).

- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagi tubuh

d. Waham - waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajardan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan

agama atau politik tertentu, atau kekuatan dam kemampuan diatas manusia

biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, ataukomunikasi dengan

makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

e. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh

waham yangmengambang maupun setengah berbentuk tanpa kandungan

afektif yang jelas, ataupun disertaiide-ide berlebihan (over- valued ideas) yang

menetap, atau apabila terjadi setiap hari selamaberminggu-minggu atau

berbulan-bulan terus berulang.

f. Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation),

yang berakibatinkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau

neologisme;

g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh

tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;

h. Gejala-gejala "negatif", seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan

respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulansosial dan menurunnya kinerja


sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh

depresi atau medikasi neuroleptika;

- Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama

kurun waktu satu bulan atau lebih.

- Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu

keseluruhan (overallquality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku

pribadi (personal behaviour),bermanifestasi sebagai hilangnya minat,

hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendir

(self absorbed atitude), dan penarikan diri secara sosial.

Pedoman Diagnostik Skizofrenia Paranoid

Berikut ini merupakan pedoman diagnostik untuk Skizofrenia paranoid berdasarkan PPDGJ-

III :

- Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.

- Sebagai tambahan :

 Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;

a. Suara-suara halusinasi yang mengncam pasien atau memberi perintah, atau

halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),

mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing);

b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain

perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tapi jarang menonjol;

c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of

influence) atau passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang

beraneka ragam, adalah yang paling khas.

 Gangguan afetktif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara

relatif tidak nyata/ tidak menonjol.


2.5 Penatalaksanaan Skizofrenia

A. Farmakoterapi

Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik.

Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada

Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum

mendapatkan obat ataukombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien.

Contoh obat antipsikotik antara lain:5

1. Haldol (Haloperidol)

2. Mellaril (thioridazine)

3. Navane (thiothixene)

4. Prolixin (fluphenazine)

5. Stelazine (trifluoperazine)

6. Thorazine (chlorpromazine)

7. Trilafon (perphenazine)

B. Psikoterapi dan Psikoedukasi

C. ECT (Electroconvulsive therapy)


BAB 3
ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS
KETERANGAN PRIBADI PASIEN
Nama (inisial) : Tn. Y Panggilan: Y
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat & Tanggal Lahir/ Umur : Air Haji, 31 -8-1989
Nomor Rekam Medis : 03.53.76
Status Perkawinan : Lajang
Kewarganegaraan : Indonesia
Suku Bangsa : Minangkabau
Negeri Asal :Air Haji, Kab. Pesisir Selatan
Agama : Islam
Pendidikan : SMA N 1 Air Haji
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Alamat : Koto Panai, Air Haji, Kab. Pesisir Selatan

Nama, Status, No HP Keluarga : Nova (kakak) 082388205755


Terdekat di Padang
KETERANGAN DIRI ALLO/ INFORMAN
Nama (inisial) : Ny. N dan Ny. R
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 45 tahun/ 43 tahun
: Perawat RSUD Rasidin,
Pekerjaan Padang/ Ibu RT
Pendidikan : S1/ SMA
Alamat : Padang/ Jakarta
Hubungan dengan pasien : Kakak/ Kakak
Keakraban dengan pasien : Cukup Akrab
Kesan pemeriksa/dokter terhadap keterangan yang diberikannya :
(Dapat dipercaya/ kurang dapat dipercaya )

13
II. RIWAYAT PSIKIATRI
Keterangan/anamnesis di bawah ini diperoleh dari (lingkari angka di
bawah ini)
1. Autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 4 Juni 2018 di Bangsal
Flamboyan RS Jiwa HB Saanin, Padang
2. Alloanamnesis dengan Kakak kandung pasien pada tanggal 4 Juni 2018
melalui telepon

1. Pasien datang ke fasilitas kesehatan ini atas keinginan (lingkari pada


huruf yang sesuai)
a. Sendiri
b.Keluarga
c. Polisi
d. Jaksa/ Hakim
e. Dan lain-lain

2. Sebab Utama
Pasien gelisah, marah-marah, mengamuk dan melempar mobil kakak ipar
pasien dengan batu dan kayu karena kakak pasien terlambat mengantarkan
nasi.

3. Keluhan Utama (Chief Complaint)


Pasien tidak mengeluhkan apa-apa.

4. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang


Pasien dibawa ke IGD RS Jiwa Prof. HB Saanin Padang oleh keluarga
karena pasien gelisah, marah-marah, mengamuk dan melempar mobil kakak
ipar pasien dengan batu dan kayu karena kakak pasien terlambat mengantarkan
nasi. Menurut keterangan pasien,pasien menyadari bahwa benar pasien telah
merusak mobil kakak ipar pasein. Pasien menyatakan bahwa alasan dirinya
dibawa ke rumah sakit karena kejadian tersebut.
Menurut keterangan kakak pasien, sejak 1 bulan yang lalu pasien sudah
izin dari rumah untuk pergi ke Padang dengan menggunakan sepeda motor,
namun pasien menginap tidak di rumah keluarga, tapi di tempat temannya.
Sekitar 1 minggu kemudian, pasien baru menghubungi keluarganya karena
uang pasien sudah habis. Selanjutnya pasien diajak oleh kakaknya untuk
tinggal di pool Trans Padang karena kakak ipar dan kakak pasien bekerja dan
sekaligus tinggal disana.

Berdasarkan keterangan dari pasien, pasien pergi ke Padang karena


ingin bertemu dengan pacarnya yang tinggal di Padang. Tapi pasien tidak jadi
bertemu dengan pacarnya karena menurut pasien terdapat hambatan dari orang-
orang yang tidak dikenal pasien. Namun kakak pasien mengatakan bahwa
pacar pasien tersebut sudah menikah dengan orang lain, kakak pasien
sebelumnya tidak mengetahui tujuan pasien ke Padang tersebut. Berdasarkan
cerita dari keluarga, pernikahan pada mantan pacarnya tersebut membuat
pasien sedih dan tertekan.

Sebelumnya semenjak satu tahun terakhir keluarga mengeluhkan pasien


sering bermenung-menung, tidak mau mandi dan sering berbicara dan tertawa
sendiri. Pasien mengaku mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar oleh
orang lain dan melihat bayangan hitam bersayap. Pasien juga mengatakan ada
kekuatan yang mengendalikan dirinya, seperti ketika pasien dikontrol untuk
mengambil pring maka pasien langsung mengmbilnya, namun setelah sadar
pasien melepaskan piring tersebut.

Pasien merupakan seorang anak yang dimanja oleh orangtuanya dan


siswa yang berprestasi dibidang olahraga sewaktu masih duduk dibangku
SMA. Pasien sempat bekerja di YAMAHA, namun pasien berhenti bekerja
karena masalah gaji yang tidak sesuai. Setelah berhenti pasien memutuskan
untuk menolong kakak menjual makanan di balai yaitu di daerah Air Haji dekat
rumahnya.

Pasien merupakan anak yang pendiam, tertutup dan suka mengurung


diri di kamar. Pasien merupakan anak yang patuh dan penyayang kepada orang
tuanya. Pasien tidak pernah mengamuk ataupun marah- marah di rumah
sebelumnya.
5. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien sakit seperti ini sejak 1 tahun yang lalu. Pasien sudah pernah dirawat
sebelumnya yaitu 1 tahun yang lalu pada bulan Juni tahun 2017. Pasien pulang
dijemput oleh keluarga dan setelah pulang pasien hanya pernah kontrol 1 kali ke
poli RS Saanin, setelah itu pasien tidak mau minum obat lagi.
Pasien pertama kali sakit sekitar tahun 2017. Kakak pasien menyatakan pasien
mulai berubah sejak satu tahun yang lalu, pasien suka mengurung diri di kamar.
Pasien sering gelisah, berbicara sendiri, tertawa sendiri dan tidak mau mandi. Pasien
juga pernah pergi dari rumah dengan berjalan kaki selama satu jam tanpa tujuan yang
jelas. Namun setelah sadar pasien pulang lagi ke rumah. Pasien mengaku ada
kekuatan yang mengendalikan dirinya.
Pasien mengaku sering mendengar bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk
melakukan sesuatu, misalnya mengambil piring ataupun bisikan untuk melakukn
kegiatan sehari-hari. Pasien terakhir kali mendengar bisikan 1 hari yang lalu. Pasien
juga melihat adanya bayangan hitam yang memiliki sayap. Selain itu pasien
mencurigai orang lain mengetahui semua cerita hidupnya dan semua hal yang
menyangkut diri pasien, padahal pasien tidak pernah bercerita kepada orang lain
bahkan pasien mengatakan tidak mengenal mereka.

Menurut kakak pasien, pasien sangat dekat dengan almarhum ayahnya,


namun semenjak kematian ayahnya yaitu pada tahun 2003 pasien berubah menjadi
pemurung dan pendiam.

b. Riwayat Gangguan
Medis Tidak ada

c. Riwayat Penggunaan NAPZA


Pasien merupakan perokok berat, bisa menghabiskan 2 bungkus/ hari.
Selain itu pasien juga suka minum kopi 2 kali/ hari. Pasien pernah menggunakan
narkotika yaitu ganja dan sabu sejak masih duduk dibangku SMP hingga Maret
2017. Pasien mengatakan alasan memakai ganja karena pasien sangat jenuh dan
ingin berhuru-hara. Pasien memakai ganja dan sabu dengan cara serbukan ganja
dimasukan ke dalam kertas rokok dan digulung lalu dihisap seperti menghisap
rokok.
6. Riwayat keluarga
a) Identitas orang tua/ pengganti
IDENTITAS Orang tua/ Pengganti Keterangan
Bapak (meninggal) Ibu (hidup)
Kewarganegaraan Indonesia Indonesia
Suku bangsa Minangkabau Minangkabau
Agama Islam Islam

Pendidikan PGA SD
Pekerjaan Wiraswasta Ibu rumah tangga
Umur - (meninggal 15 tahun 68 tahun
yll)
Alamat -
Hubungan pasien* Akrab Akrab
Biasa Biasa
Kurang Kurang
Tak peduli Tak peduli
Dan lain-lain :- :-
Ket : * coret yang tidak perlu
b) Sifat/ Perilaku Orang tua kandung/ pengganti............. :
Bapak (Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya/ diragukan)
Pemalas ( - ), Pendiam ( - ), Pemarah ( - ), Mudah tersinggung ( - ), Tak suka
Bergaul ( - ), Banyak teman ( + ), Pemalu ( - ), Perokok berat ( - ), Penjudi (-),
Peminum ( - ), Pecemas ( - ), Penyedih ( - ), Perfeksionis (-), Dramatisasi ( - ),
Pencuriga ( - ), Pencemburu ( - ), Egois ( - ), Penakut ( - ), Tak bertanggung
jawab ( - ).

Ibu ( Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya/ diragukan )


Pemalas ( - ), Pendiam (+), Pemarah ( + ), Mudah tersinggung ( - ), Tak suka
Bergaul ( - ), Banyak teman ( - ), Pemalu ( - ), Perokok berat ( - ), Penjudi ( - ),
Peminum ( - ), Pecemas ( - ), Penyedih ( - ), Perfeksionis (-), Dramatisasi ( - ),
Pencuriga ( - ), Pencemburu ( - ), Egois ( - ), Penakut ( - ), Tak bertanggung
jawab ( - ).

c) Saudara
Pasien adalah anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Pasien memiliki 3
orang saudara perempuan dan 4 orang saudara laki-laki.

d) Urutan bersaudara dan cantumkan usianya dalam tanda kurung untuk pasien
sendiri lingkari nomornya.*

1. Lk/ Pr (45 tahun) : saudara kandung


2. Lk/ Pr (43 tahun) : saudara kandung
3. Lk/ Pr (40 tahun) : saudara kandung
4. Lk/ Pr (37 tahun) : saudara kandung
5. Lk/ Pr (33 tahun) : saudara kandung
6. Lk/ Pr (29 tahun) : saudara kandung
7. Lk/ Pr (28 tahun) : Pasien

8. LK/ Pr ( 27 Tahun) : saudara kand


e) Gambaran sikap/ perilaku masing-masing saudara pasien dan hubungan
pasien terhadap masing-masing saudara tersebut, hal yang dinyatakan serupa
dengan yang dinyatakan pada gambaran sikap/ perilaku pada orang tua.*
Saudara Gambaran sikap dan perilaku Kualitas hubungan
Ke dengan saudara (akrab/
biasa,/kurang/tak peduli)
1 Baik Biasa
2 Baik Biasa
3 Baik Biasa
4 Baik Biasa
5 Baik Biasa
6 Baik Biasa

8 Baik Biasa

Ket:
*) coret yang tidak perlu
**) diisi dengan tanda ( + ) atau ( - )

f) Orang lain yang tinggal di rumah pasien dengan gambaran sikap dan tingkah
laku dan bagaimana pasien dengan mereka.* TIDAK ADA
Ket:
untuk e) dan f) hanya diisi bila informan benar-benar mengetahuinya.

g) Apakah ada riwayat penyakit jiwa, kebiasaan-kebiasaan dan penyakit


fisik (yang ada kaitannya dengan gangguan jiwa) pada anggota keluarga
o.s :
Anggota Keluarga Penyakit Jiwa Kebiasaan-kebiasaan Penyakit Fisik

Bapak tidak ada tidak ada Jantung, Ginjal


Ibu tidak ada tidak ada tidak ada
Saudara tidak ada tidak ada tidak ada
Nenek tidak diketahui tidak diketahui tidak diketahui
Kakek tidak diketahui tidak diketahui tidak diketahui
Dan lain-lain tidak ada tidak ada tidak ada
Skema Pedegree

h. Riwayat Tempat tinggal yang pernah didiami pasien


No Rumah Tempat Tinggal Keadaan Rumah
1 Air Haji Tenang Cocok Nyaman

7. Gambaran seluruh faktor-faktor dan mental yang bersangkut paut dengan


perkembangan kejiwaan pasien selama masa sebelum sakit (premorbid)
yang meliputi :
a) Riwayat sewaktu dalam kandungan dan dilahirkan.
- Keadaan ibu sewaktu hamil (sebutkan penyakit-penyakit fisik dan
atau kondisi- kondisi mental yang diderita si ibu )
Kesehatan Fisik : tidak ada gangguan
Kesehatan Mental : tidak ada gangguan
- Keadaan melahirkan :
Aterm ( + ), partus spontan ( + ), partus tindakan ( - )
sebutkan jenis tindakannya
Pasien adalah anak yang direncanakan/ diinginkan
(ya/tidak)
Jenis kelamin anak sesuai harapan (ya/tidak)
b) Riwayat masa bayi dan kanak-kanak
Pertumbuhan Fisik : baik, biasa ,kurang *
Minum ASI : (+), sampai usia 2 tahun
Usia mulai bicara : tidak diketahui
Usia mulai jalan : tidak diketahui
Sukar makan (-), anoreksia nervosa (-), bulimia (-), pika (-),
gangguan hubungan ibu-anak (-), pola tidur baik ( + ), cemas
terhadap orang asing sesuai umum(-), cemas perpisahan (-), dan
lain-lain
c) Simtom-simtom sehubungan dengan problem perilaku yang dijumpai pada
masa kanak-kanak, misalnya: mengisap jari ( - ), ngompol ( - ), BAB di
tempat tidur (-), night teror (-), temper tantrum (-), gagap (-), tik (-),
masturbasi (-), mutisme selektif (-), dan lain-lain.
d) Toilet training
Umur : tidak diketahui
Sikap orang tua:(memaksa/menghargai/membiarkan/memberikan arahan)

Perasaan anak untuk toilet training ini: baik.

e) Kesehatan fisik masa kanak-kanak: demam tinggi disertai menggigau (-),


kejang-kejang (-), demam berlangsung lama (-), trauma kapitis disertai
hilangnya kesadaran (-), dan lain-lain.
f) Temperamen sewaktu anak-anak : pemalu (-), gelisah (-) overaktif (-),
menarik diri (-), suka bergaul (+), suka berolahraga (+), dan lain-lain.
g) Masa Sekolah
Perihal SD SMP SMA
Umur 6-12 th 13-15 th 16-18
Prestasi* Baik Baik Cukup Baik
(tinggal
kelas di
B kelas 2)
Sedang Sedang Sedang
Kurang Kurang Kurang
Aktifitas Sekolah* Baik Baik Baik
Sedang Sedang Sedang
Kurang Kurang Kurang
Sikap Terhadap Teman * Baik Baik Baik
Sedang Sedang Sedang
Kurang Kurang Kurang
Sikap Terhadap Guru Baik Baik Baik
Sedang Sedang Sedang
Kurang Kurang Kurang
Kemampuan Khusus (Bakat) ( - ) ( - ) Basket
Tingkah Laku Baik Baik Baik

h) Masa remaja: Fobia ( - ), masturbasi ( - ), ngompol ( - ), lari dari rumah (-),


kenakalan remaja (+), perokok berat (+), penggunaan obat terlarang (+),
peminum minuman keras (+), problem berat badan ( - ), anoreksia nervosa
(-), bulimia (-), perasaan depresi (-), rasa rendah diri ( - ), cemas ( - ),
gangguan tidur (+), sering sakit kepala ( - ), dan lain-lain.
Ket: * coret yang tidak perlu
** ( ) diisi (+) atau (-)

i) Riwayat Pekerjaan
Pasien bersekolah hingga tingkat SMA di SMA N 1 Air Haji Kab.
Pesisir Selatan. Konflik dalam pekerjaan : (-), konflik dengan atasan (-),
konflik dengan bawahan ( - ), konflik dengan kelompok (-).
Keadaan ekonomi*: baik, sedang, kurang (menurut pasien)
j) Percintaan, Perkawinan, Kehidupan Seksual dan Rumah Tangga
Pasien merupakan seorang lajang. Pasien belum pernah
menikah Hubungan seks sebelum menikah (-)
Riwayat pelecehan seksual
(-) Orientasi seksual
(normal)
k) Situasi sosial saat ini:
1. Tempat tinggal : rumah sendiri (-), rumah kontrak (-), rumah susun (-
), apartemen (-), rumah orang tua (+), serumah dengan mertua (-), di
asrama (-) dan lain-lain.
2. Polusi lingkungan : bising (-), kotor (-), bau (-), ramai (-) dan lain-
lain. Ket: * coret yang tidak perlu, ** ( ), diisi (+) atau (-)
ai : atas indikasi
l) Perihal anak-anak pasien
meliputi: Pasien belum memiliki
anak.
m) Ciri Kepribadian sebelumnya/ Gangguan kepribadian (untuk axis II)
Keterangan : ( ) beri tanda (+) atau (-)

Kepribadian Gambaran Klinis


Skizoid Emosi dingin ( + ), tidak acuh pada orang lain ( - ), perasaan hangat
atau lembut pada orang lain ( + ) , peduli terhadap pujian maupun
kecaman ( - ), kurang teman (-), pemalu ( + ),sering melamun (
+), kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual ( - ), suka
aktivitas yang dilakukan sendiri
(+)
Paranoid Merasa akan ditipu atau dirugikan ( - ), kewaspadaan berlebihan (-),
sikap berjaga-jaga atau menutup-nutupi ( + ), tidak mau menerima
kritik ( - ), meragukan kesetiaan orang lain ( - ), secara intensif
mencari-cari kesalahan dan bukti tentang prasangkanya ( - ),
perhatian yang berlebihan terhadap motif-motif yang tersembunyi ( -
),cemburu patologik ( - ), hipersensifitas ( - ), keterbatasan
kehidupan afektif ( + ).
Skizotipal Pikiran gaib ( + ), ideas of reference (- ), isolasi sosial ( - ), ilusi
berulang (- ), pembicaraan yang ganjil ( - ), bila bertatap muka
dengan orang lain tampak dingin atau tidak acuh ( - ).
Siklotimik Ambisi berlebihan ( - ), optimis berlebihan ( - ), aktivitas seksual
yang berlebihan tanpa menghiraukan akibat yang merugikan ( - ),
melibatkan dirinya secara berlebihan dalam aktivitas yang
menyenangkan tanpa menghiraukan kemungkinan yang merugikan
dirinya ( - ), melucu berlebihan ( - ), kurangnya kebutuhan tidur ( + ),
pesimis (- ), putus asa (- ), insomnia ( - ), hipersomnia ( - ), kurang
bersemangat (+ ), rasa rendah diri (- ), penurunan aktivitas ( + ),
mudah merasa sedih dan menangis ( - ), dan lain-lain.
Histrionik Dramatisasi (- ), selalu berusaha menarik perhatian bagi dirinya (- ),
mendambakan ransangan aktivitas yang menggairahkan ( - ), bereaksi
berlebihan terhadap hal-hal sepele (- ), egosentris ( - ), suka menuntut
( - ), dependen ( - ), dan lain-lain.
Narsisistik Merasa bangga berlebihan terhadap kehebatan dirinya ( - ),
preokupasi dengan fantasi tentang sukses, kekuasaan dan kecantikan
( - ), ekshibisionisme ( - ), membutuhkan perhatian dan pujian yang
terus menerus ( - ), hubungan interpersonal yang eksploitatif (- ),
merasa marah, malu, terhina dan rendah diri bila dikritik (- ) dan lain-
lain.
Dissosial Tidak peduli dengan perasaan orang lain( - ), sikap yang amat tidak
bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus ( - ), Tidak
mampu mengalami rasa bersalah dan menarik Manfaat Dari

pengalaman ( - ), tidak peduli pada norma-norma, peraturan dan


kewajiban sosial ( - ), tidak mampu memelihara suatu hubungan agar
berlangsung lama ( - ), iritabilitas ( - ), agresivitas ( - ), impulsif (-
), sering berbohong ( - ), sangat cendrung menyalahkan orang lain
atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang
membuat pasien konflik dengan masyarakat ( - )
Ambang Pola hubungan interpersonal yang mendalam dan tidak stabil ( - ),
kurangnya pengendalian terhadap kemarahan ( - ), gangguan
identitas ( - ), afek yang tidak mantap ( - ) tidak tahan untuk berada
sendirian ( - ), tindakan mencederai diri sendiri ( - ), rasa bosan
kronik ( - ), dan lain-lain
Menghindar Perasaan tegang dan takut yang pervasif ( - ), merasa dirinya tidak
mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain ( - ),
kengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin
disukai (-), preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolkan
dalam situasi social (-), menghindari aktivitas sosial atau pkerjaan
yang banyak melibatkan kontak interpersonal karena takut dikritik,
tidak didukung atau ditolak.
Anankastik Perasaan ragu-ragu yang hati-hati yang berlebihan ( - ), preokupasi
pada hal-hal yang rinci (details), peraturan, daftar, urutan, organisasi
dan jadwal ( - ), perfeksionisme ( - ), ketelitian yang berlebihan ( - ),
kaku da keras kepala ( - ), pengabdian yang berlebihan terhadap
pekerjaan sehingga menyampingkan kesenangan dan nilai-nilai
hubungan interpersonal ( - ), pemaksaan yang berlebihan agar orang
lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu ( - ), keterpakuan
yang berlebihan pada kebiasaan sosial ( - ) dan lain-lain.
Dependen Mengalami kesuitan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa
nasehat dan masukan dari orang lain (-), membutuhkan orang lain
untuk mengambil tanggung jawab pada banyak hal dalam hidupnya
(-), perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena

24
ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus diri
sendiri (-), takut ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya(-)
8. Stresor psikososial (axis IV)
Pertunangan ( - ), perkawinan ( - ), perceraian ( - ), kawin paksa ( - ), kawin lari ( -
), kawin terpaksa ( - ), kawin gantung ( - ), pasangan (+), kematian orangtua (+),
problem punya anak ( - ), anak sakit ( - ), persoalan dengan anak ( - ), persoalan
dengan orang tua (-), persoalan dengan mertua ( - ), masalah dengan teman dekat (
- ), masalah dengan atasan/ bawahan ( - ), mulai pertama kali bekerja ( - ), masuk
sekolah ( - ), pindah kerja ( - ), persiapan masuk pensiun ( - ), pensiun ( - ),
berhenti bekerja ( - ), masalah di sekolah ( - ), masalah jabatan/ kenaikan pangkat (
- ), pindah rumah ( - ), pindah ke kota lain ( - ), transmigrasi (-), pencurian ( - ),
perampokan ( - ), ancaman ( - ), keadaan ekonomi yang kurang ( + ), memiliki
hutang ( - ), usaha bangkrut ( - ), masalah warisan ( - ), mengalami tuntutan hukum
( -), masuk penjara ( - ), memasuki masa pubertas( - ), memasuki usia dewasa ( - ),
menopause ( - ), mencapai usia 50 tahun ( - ), menderita penyakit fisik yang parah
( - ), kecelakaan ( - ), pembedahan ( - ), abortus ( - ), hubungan yang buruk antar
orang tua ( -), terdapatnya gangguan fisik atau mental dalam keluarga ( - ),cara
pendidikan anak yang berbeda oleh kedua orang tua atau kakek nenek ( - ), sikap
orang tau yang acuh tak acuh pada anak ( - ), sikap orang tua yang kasar atau keras
terhadap anak( - ), campur tangan atau perhatian yang lebih dari orang tua
terhadap anak ( - ), orang tua yang jarang berada di rumah ( - ), terdapat istri lain (
- ), sikap atau kontrol yang tidak konsisten ( - ), kontrol yang tidak cukup ( + ),
kurang stimulasi kognitif dan sosial ( - ), bencana alam ( - ), amukan masa ( - ),
diskriminasi sosial ( - ), perkosaan ( - ), tugas militer ( - ), kehamilan ( - ),
melahirkan di luar perkawinan ( - ), dan lain-lain.

9. Pernah suicide ( -). Tidak pernah ada keinginan bunuh diri.

10. Riwayat pelanggaran hukum


Tidak pernah ada riwayat pelanggaran hokum

11. Riwayat agama


Pasien beragama Islam, pendidikan terakhir SMA.

12. Persepsi Dan Harapan Keluarga


Keluarga dapat memahami kondisi pasien dan berharap pasien untuk
sembuh dan dapat kembali beraktivitas normal.

13. Persepsi Dan Harapan Pasien


Pasien tidak menyadari penyakit jiwa yang dialaminya, pasien berharap
dapat segera pulang.

GRAFIK PERJALANAN PENYAKIT

2018
2017

Paien dibawa ke RSJ Pasien dibawa ke RSJ


HB Saanin karena HB Saanin karena pasien
pasien gelisah,bicara gelisah, marah-marah,
sendiri, tidak mau bicra dan tertawa sendiri
mandi. serta tidak mau mandi

26
III. STATUS INTERNUS
Keadaan Umum : sakit sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi : teraba, kuat angkat, teratur, frekuensi 82x/menit
Nafas : pernapasan toracoabdominal, simetris kiri dan
kanan, frekuensi 20x/menit
Suhu : 36,8 C
Tinggi Badan : 170 cm
Berat Badan :63 kg
Status Gizi : baik
Sistem Kardiovaskuler : Bunyi Jantung Reguler, murmur (-), gallop (-)
Sistem Respiratorik : Suara Nafas Vesikuler, Rhonki (-), Wheezing (-)
Kelainan Khusus : tidak ditemukan

IV. STATUS NEUROLOGIKUS


GCS : E4M5V6
Tanda ransangan Meningeal : tidak ada
Tanda-tanda efek samping piramidal :
Tremor tangan :tidak ada
Akatisia :tidak ada
Bradikinesia :tidak ada
Cara berjalan :normal
Keseimbangan :baik
Rigiditas :tidak ada
Kekuatan motorik :baik
Sensorik :baik
Refleks :fisiologis (+/+), refleks patologis (-/-)
V. STATUS MENTAL(Pemeriksaan tanggal 4 Juni 2018)
A. Keadaan Umum
1. Kesadaran/ sensorium : composmentis (+), somnolen (-), stupor (-),
kesadaran berkabut (-), konfusi (-), koma (-), delirium (-), kesadaran
berubah (-), dan lain-lain

2. Penampilan
Sikap tubuh: biasa ( + ), diam (-), aneh (-), sikap tegang (-), kaku (-),
gelisah (-), kelihatan seperti tua (-), kelihatan seperti muda (-), berpakaian
sesuai gender (+).
Cara berpakaian : rapi (-), biasa (+), tak menentu (-),sesuai dengan
situasi(+),kotor ( -), kesan (dapat mengurus diri)*
Kesehatan fisik: sehat (+), pucat (-), lemas (-), apatis (-), telapak tangan
basah (-), dahi berkeringat (-), mata terbelalak (-).
3. Kontak psikis
dapat dilakukan (+), tidak dapat dilakukan (-), wajar (+), kurang wajar (-
), sebentar (-), lama ( - ).
4. Sikap
Kooperatif ( + ), penuh perhatian ( - ), berterus terang (-), menggoda ( - ),
bermusuhan ( - ), suka main-main ( - ), berusaha supaya disayangi ( - ),
selalu menghindar ( - ), berhati-hati ( - ), dependen (- ), infantil ( - ), curiga
( - ), pasif ( - ), dan lain-lain.
5. Tingkah laku dan aktifitas psikomotor
Cara berjalan : biasa ( + ), sempoyongan ( - ), kaku (-), dan lain-lain
Ekhopraksia ( - ), katalepsi ( - ), luapan katatonik ( - ), stupor katatonik (
1. ), rigiditas katatonik ( - ),posturing katatonik ( - ),cerea flexibilitas (
- ), negativisme ( - ), katapleksi ( - ), stereotipik ( - ), mannerisme ( - ),
otomatisme ( - ), otomatisme perintah ( - ), mutisme ( - ), agitasi
psikomotor ( - ), hiperaktivitas/ hiperkinesis ( - ), tik ( - ), somnabulisme (
2. ), akathisia ( - ), kompulsi( - ), ataksia, hipoaktivitas ( - ), mimikri ( - ),
agresi ( - ), acting out ( - ), abulia ( - ), tremor ( - ), ataksia ( - ), chorea (
), distonia ( - ), bradikinesia ( + ), rigiditas otot ( - ), diskinesia ( - ),
convulsi ( - ), seizure ( - ), piromania ( - ), vagabondage ( - ).
Ket : ( ) diisi (+) atau (-)
A. Verbalisasi dan cara berbicara
Arus pembicaraan* : biasa , cepat , lambat
Produktivitas pembicaraan* : biasa, sedikit, banyak
Perbendaharaan* : biasa ,sedikit, banyak
,
Nada pembicaraan* : Biasa menurun , meninggi
Volume pembicaraan* : biasa, menurun, meninggi
Isi pembicaraan* : sesuai / tidak sesuai
Penekanan pada pembicaraan* : ada / tidak
Spontanitas pembicaraan * : spontan/ tidak
Logorrhea ( - ), poverty of speech ( - ), diprosodi ( - ), disatria ( - ), gagap (
- ), afasia ( - ), bicara kacau ( - ).

C. Emosi
Hidup emosi*: stabilitas (stabil), pengendalian (adekuat/tidak adekuat),
dalam/dangkal, skala differensiasi ( sempit/luas), arus emosi (biasa).

1. Afek
Afek appropriate/ serasi(-), afek inappropriate/ tidak serasi( - ), afek
tumpul ( - ), afek yang terbatas ( - ), afek datar ( -),afek yang labil ( - ).
2. Mood
mood eutimik (+), mood disforik ( - ), mood yang meluap-luap (expansive
mood) ( - ), mood yang iritabel ( - ), mood yang labil (swing
mood) ( - ), mood meninggi (elevated mood/ hipertim) ( - ), euforia ( - ),
ectasy ( - ), mood depresi (hipotim) ( - ) , anhedonia ( - ), duka cita ( - ),
aleksitimia ( - ), elasi (-), hipomania ( - ), mania ( - ), melankolia (- ), La
belle indifference ( - ), tidak ada harapan ( - ).
3. Emosi lainnya

Ansietas ( - ), free floating-anxiety ( - ), ketakutan ( - ), agitasi ( - ), tension


(ketegangan) ( -), panik ( - ), apati ( -), ambivalensi ( - ), abreaksional (-),
rasa malu ( - ), rasa berdosa/ bersalah( - ), kontrol impuls ( - )
4. Gangguan fisiologis yang berhubungan dengan mood
Anoreksia ( - ), hiperfagia ( - ), insomnia (+), hipersomnia ( -), variasi
diurnal ( - ), penurunan libido ( - ), konstispasi ( - ), fatigue ( - ), pica (-),
pseudocyesis ( - ), bulimia ( - ).
Keterangan : *)Coret yang tidak perlu, ( ) diisi (+) atau (-)

D. Pikiran/ Proses Pikir (Thinking)


Kecepatan proses pikir (biasa/cepat /lambat)
Mutu proses pikir (jelas/tajam)

1. Gangguan Umum dalam Bentuk Pikiran


Gangguan mental ( - ), psikosis (+), tes realitas ( terganggu/ tidak ),
gangguan pikiran formal ( - ), berpikir tidak logis (-), pikiran autistik ( - ),
dereisme ( - ), berpikir magis ( - ), proses berpikir primer ( - ).

2. Gangguan Spesifik dalam Bentuk Pikiran


Neologisme ( - ), word salad ( - ), sirkumstansialitas ( - ), tangensialitas ( -
), inkohenrensia ( - ), perseverasi ( - ), verbigerasi ( - ), ekolalia ( - ),
kondensasi ( - ), jawaban yang tidak relevan ( - ), pengenduran asosiasi ( -
), derailment ( - ), flight of ideas ( - ),clang association ( - ), blocking ( - ),
glossolalia ( - ).

3. Gangguan Spesifik dalam Isi Pikiran


Kemiskinan isi pikiran ( + ), Gagasan yang berlebihan (-)
Delusi/ waham
waham bizarre (-), waham tersistematisasi ( - ), waham yang sejalan
dengan mood ( - ), waham yang tidak sejalan dengan mood ( - ), waham
nihilistik ( - ), waham kemiskinan (- ), waham somatik ( -), waham
persekutorik ( -), waham kebesaran (-), waham referensi ( - ), thought of
withdrawal ( - ), thought of broadcasting ( + ), thought of insertion ( - ),
thought of control ( + ), Waham cemburu/ waham ketidaksetiaan ( - ),
waham menyalahkan diri sendiri ( - ), erotomania ( - ), pseudologia
fantastika ( - ), waham agama (-).
Idea of reference
Preokupasi pikiran ( - ), egomania ( - ), hipokondria ( - ), obsesi ( - ),
kompulsi ( - ), koprolalia ( - ), hipokondria ( - ), obsesi ( - ), koprolalia ( - ),
fobia ( - )Ulat noesis ( - ), unio mystica ( - ).

E. Persepsi
Halusinasi
Non patologis: Halusinasi hipnagogik ( - ), halusinasi hipnopompik ( - ),
Halusinasi auditorik ( + ), halusinasi visual ( + ), halusinasi olfaktorik (
-), halusinasi gustatorik ( - ), halusinasi taktil ( - ), halusinasi somatik ( - ),
halusinasi liliput ( - ), halusinasi sejalan dengan mood ( - ), halusinasi
yang tidak sejalan dengan mood ( - ), halusinosis ( - ), sinestesia ( - ),
halusinasi perintah (command halusination), trailing phenomenon ( - ).
Ilusi ( - )
Depersonalisasi ( - ), derealisasi ( - )

F. Mimpi dan Fantasi


Mimpi : -
Fantasi : -
Keterangan : *)Coret yang tidak perlu, ( ) diisi (+) atau (-)

G. Fungsi kognitif dan fungsi intelektual


1. Orientasi waktu (baik/ terganggu), orientasi tempat (baik/ terganggu),
orientasi personal (baik/ terganggu), orientasi situasi (baik/ terganggu).
2. Atensi (perhatian) ( + ),distractibilty ( - ), inatensi selektif ( - ),
hipervigilance ( - ), dan lain-lain
3. Konsentrasi (baik/terganggu), kalkulasi (baik/terganggu)
4. Memori (daya ingat) : gangguan memori jangka lama/ remote ( - ),
gangguan memori jangka menengah/ recent past ( - ), gangguan memori
jangka pendek/ baru saja/ recent (-),amnesia (-), konfabulasi (-),
paramnesia ( - ).
5. Luas pengetahuan umum: baik/ terganggu
6. Pikiran konkrit : baik/ terganggu
7. Pikiran abstrak : baik/ terganggu
8. Kemunduran intelek : (Ada/tidak), Retardasi mental (-), demensia ( - ),
pseudodemensia ( - ).

H. Dicriminative Insight*
Derajat I (penyangkalan)
Derajat II (ambigu)
Derajat III (sadar, melemparkan kesalahan kepada orang/ hal
lain) Derajat IV ( sadar, tidak mengetahui penyebab)
Derajat V (tilikan intelektual)
Derajat VI (tilikan emosional sesungguhnya)

I. Discriminative Judgement :
Judgment tes : tidak terganggu
Judgment sosial : tidak terganggu

VI. Pemeriksaan Laboratorium dan diagnostik khusus lainnya


Rutin
o Hb : 12,2
o Ht : 24,9
o Leukosit : 7.100
o Trombosit : 163.000

VII. Diagnosis Multiaksial

Axis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid


Axis II : Tidak ada diagnosis
Axis III : Tidak ada diagnosis
Axis IV : Psikososial dan lingkungan lain
Axis V : GAF 20-11 bahaya mencederai diri/ orang lain.

VIII. Diagnosis Banding Axis I


- Skizofrenia YTT
- Skizoafektif tipe depresi

IX. Daftar Masalah


Organobiologik
Pasien tidak pernah mengalami trauma kepala atau riwayat kejang
sebelumnya
Psikologis
Pasien biasa dimanja oleh orangtuanya.
Lingkungan dan psikososial
Pasien bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya.

X. Penatalaksanaan
A. Farmakoterapi
Inj. Lodomer 5 mg (i.m)
Risperidon 2 x 1 mg (p.o)
Lorazepam 1 x 1 mg (p.o)

- B. Non F.armakoterapi Psikoterapi


Kepada pasien:
Psikoterapi suportif
Memberikan dukungan, kehangatan, empati, dan optimistik
kepada pasien, membantu pasien mengendalikan emosinya.
Psikoedukasi
Membantu pasien untuk mengetahui lebih banyak mengenai
gangguan yang dideritanya, diharapkan pasien mempunyai
kemampuan yang semakin efektif untuk mengenali gejala,
mencegah munculnya gejala dan segera mendapatkan
pertolongan. Menjelaskan kepada pasien untuk menyadari
bahwa obat merupakan kebutuhan bagi dirinya agar sembuh.

Kepada keluarga:
Psikoedukasi
Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif, informatif,
dan edukatif tentang penyakit pasien (penyebab, gejala,
hubungan antara gejala dan perilaku, perjalanan penyakit, serta
prognosis). Pada akhirnya, diharapkan keluarga bisa
mendukung proses penyembuhan dan mencegah kekambuhan.
Serta menjelaskan bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit
yang membutuhkan pengobatan yang lama dan berkelanjutan.
Terapi
Memberi penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada
pasien (kegunaan obat terhadap gejala pasien dan efek
samping yang mungkin timbul pada pengobatan). Selain itu,
juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum obat
secara teratur.
XIII. PROGNOSIS

Prognosis Baik
Kriteria Penilaian
Awitan lambat -
Onset akut -
Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan premorbid baik +
Gejala gangguan mood (terutama depresif) +
Menikah -
Riwayat keluarga dengan gangguan mood -
Sistem pendukung baik +
Gejala positif +

Prognosis Buruk
Kriteria Penilaian
Awitan muda +
Onset insidius -
Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan premorbid -
Buruk
Perilaku autistik, menarik diri +
Lajang, cerai, atau menjanda/duda +
Riwayat keluarga dengan skizofrenia -
Sistem pendukung buruk -
Gejala negative +
Tanda dan gejala neurologis -
Riwayat trauma perinatal -
Tanpa remisi dalam 3 tahun -
Berulang kali relaps -
Riwayat melakukan tindakan penyerangan +

Quo et vitam : Bonam

Quo et fungsionam : Dubia et bonam

Quo et sanationam : Dubia et bonam


BAB 4
DISKUSI

Pasien seorang laki-laki berusia 25 tahun. Pasien dikenal mengalami gannguan

jiwa yaitu pada tahun 2013 padasaat pasien berusia 21 tahun.Kejadian ini mendukung teori

yang mengatakan bahwa secara epidemiologi, laki-laki mempunyai onset skizofrenia yang

lebih awal daripada wanita, dimana rata-rata rawatan pada pria skizofrenik terjadi sebelum

usia 25 tahun.3

Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, dimana ditemukan

gejala klinis yang mengarah pada skizofrenia paranoid sesuai dengan pedoman diagnostik

berdasarkan PPDGJ III. Pada pasien saat ini ditemukan gejala skizofrenia berupa thought

broadcasting, delution of control dan halusinasi.

Thought broadcasting pada pasien ditegakan karena pasien yakin orang lain

mengetahui semua tentang diri dan kehidupan pasien, padahal pasien tidak mengenal orang

lain tersebut. Delution of control dirasakan pasien ketika pasien melakukan kegiatan sehari-

hari seperti mengambil piring, berjalan dll, pasien menyadari bahwa dirinya dikendalikan oleh

suatu kekuatan tertentu. Halusinasi auditorik dirasakan pasien hingga kemaren, pasien

mengatakan bahwa suara-suara tersebut menyuruh pasien untuk melakukan kegiatan tertentu.

Halusinasi visual dirasakan pasien terakhir satu minggu yang lalu yaitu bayangan hitam yang

memiliki sayap.

Pada pasien diberikan, Lodomer 5 mg injeksi, Risperidone 2 x 2 mg, Lorazepam


1 x 1 mg. Risperidon merupakan antipsikosis atipikal generasi kedua dan juga merupakan
mood stabilizer. Risperidone bekerja dengan ; menghambat reseptor dopamine,
mengurangi gejala positif psikosis dan stabilisasi gejala afektif. Dosis yang biasa
diberikan 2-8 mg/hari. Lorazepam merupakan golongan benzodiazepin. Lorazepam
bekerja dengan; 1. berikatan dengan reseptor benzodiazepin pada ligan GABA-A yang
merupakan gerbang kompleks saluran klorida; 2. meningkatkan efek inhibitor GABA; 3.
menghambat aktivitas neuronal di amigdala yang bermanfaat untuk gangguan anxietas.
Dosis yang biasa diberikan adalah 2-6 mg/hari.

Terapi non farmakologis memegang peranan yang juga penting pada pasien ini. Jenis

terapi non farmakologis yang bisa dilakukan terhadap pasien ini adalah psikoterapi suportif,

psikoedukasi saat kondisi sudah mulai stabil dan bisa berkomunikasi. Psikoterapi suportif

bertujuan untuk memperlihatkan minat dokter pada pasien, memberikan perhatian, dukungan,

dan optimis. Dalam psikoterapi suportif, terapis menunjukkan penerimaan terhadap kasus

dengan cara menunjukkan perilaku yang hangat, ramah namun tetap berwibawa. Tujuannya

adalah agar pasien merasa aman, diterima dan dilindungi. Serta dokter juga dapat memberikan

masukan-masukan yangpositif terhadap pasien apabila pasien mengalami halusinasi dan

wahamnya. Sehigga pasien dapat memiliki upaya pertahanna diri apabila waham dan

halusinasi tersebut muncul lagi dikemudian harinya. Dukungan keluarga sangat diperlukan

dalam proses terapi pada pasien ini. Keluarga pasien memberikan support kepada pasien

dengan memberikan motivasi motivasi agar pasien patuh minum obat dan dapat beraktivitas

seperti biasa.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Elvira, Sylvia D dan Hadisukanto, Gitayanti. (2010). Buku Ajar Psikiatri.


Jakarta:Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2013.
3. Kaplan, Sadock, Grebb. (2010) Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri
Klinis Jilid Dua. Jakarta: Binarupa Aksara.
4. Maramis, Willy dan Maramis, Albert A. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi
2. Jakarta: Airlangga University.
5. Larson, Molly K., Walker, Elaine F., and Compton, Michael T. 2010. Early
Signs,Diagnosis And Therapeutics Of The Prodromal Phase Of Schizophrenia And
Related Psychotic Disorders. Volume 10, Issue 8, pages 1347-1359.
6. Hendarsyah F. (2016). Diagnosis dan Tatalaksana Skizofrenia Paranoid dengan
Gejala-Gejala Positif dan Negatif. J Medula Unila; 4 (3): 57-62.