Anda di halaman 1dari 72

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ekonomi Moneter merupakan salah satu instrumen penting dalam perekonomian
modern, dalam perekonomian modern terdapat dua kebijakan perekonomian yang dijadikan
instrumen oleh pemerintah dalam menstabilkan perekonomian suatu negara, yang pertama
adalah kebijakan Fiskal, yaitu kebijakan yang diambil pemerintah untuk membelanjakan
pendapatannya dalam merealisasi tujuan-tujuan ekonomi. Yang kedua adalah kebijakan
moneter.Kebijakan moneter adalah langkah pemerintah untuk mengatur penawaran uang dan
tingkat bunga. Pada tulisan ini saya sebagai penulis, akan mencoba menyajikan konsep-
konsep dasar ekonomi moneter konvensional dan ekonomi moneter islam.
Dewasa ini sudah banyak buku yang memberikan informasi kepada pembaca tentang
mempelajari ilmu ekonomi regional dengan tujuannya masing-masing.Setiap buku
menyuguhkan hal-hal yang bermanfaat dengan penggunaan bahasanya masing-masing yang
menarik.Setiap teori yang ada tidak dapat dibandingkan salah atau benarnya, mana yang lebih
baik atau lebih buruk dan sebagainya.namum yang pasti setiap informasi berguna bagi
pembaca. Dalam tulisan ini kami sebagai penulis mengambil dua sumber buku yang berbeda
yaitu “TheEconomics of Money, Bankingand Financial Markets Ekonomi Uang, Perbankan
dan Pasar Keuangan Edisi 8” sebagai buku utama karangan Frederic S Mishkin dan“Ekonomi
Moneter Buku I& II (Nopirin, Ph.d)” sebagai buku pembanding. Dimana dalam tulisan ini
penulis akan mengevaluasi kedua buku tersebut, bukan berarti mencari benar atau salah
melainkan menjelaskan kualitas masing-masing buku baik dari segi keunggulan dan
kelemahannya.
Kami memilih buku “The Economics of Money, Banking, and Financial Markets
Ekonomi Uang, Perbankan dan Pasar Keuangan Edisi 8”oleh Frederic S Mishkin sebagai
buku utama karena buku ini merupakan buku panduan mata kuliah ekonomi moneter. Buku
ini terdiri dari 13 bab yaitu:
 Bab I : Pendahuluan
 Bab II : Gambaran Umum Sistem Keuangan
 Bab III : Apa Itu Uang?
 Bab IV : Memahami Suku Bunga
 Bab V : Perilaku Suku Bunga

1
 Bab VI : Struktur Resiko dan Struktur Jangka Waktu Suku Bunga
 Bab VII : Pasar Modal , Teori Pengharapan Rasional dan Hipotesis Pasar
Efisien
 Bab VIII : Analisis Ekonomi Struktur Keuangan
 Bab IX : Perbankan dan Manajemen Lembaga Keuangan
 Bab X : Industri Perbankan, Struktur dan Persaingan
 Bab XI : Analisis Ekonomi Regulasi Perbankan
 Bab XII : Struktur Bank Sentral dan Federal Reserve System
 Bab XIII : Penciptaan Simpanan Berganda dan Proses Uang Beredar
Kami memilih buku “Ekonomi Moneter Buku I& II” oleh Nopirin, Ph.d sebagai buku
pembanding untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan Ekonomi Moneter di lingkungan
Universitas Negeri Medan (Unimed) maupun di universitas-universitas lainnya.Buku ini
terdiri dari Sembilan Belas (19) Bab yaitu:
 Bab I : Pendahuluan
 Bab II : Peranan Lembaga – Lembaga Keuangan
 Bab III : Bank Umum
 Bab IV : Bank Sentral
 Bab V : Teori Moneter Klasik
 Bab VI : Teori Keynes
 Bab VII : Permintaan Akan Uang
 Bab VIII : Jumlah Uang Beredar
 Bab IX : Dasar – Dasar Teori Tingkat Bunga
 Bab X : Permintaan dan Penawaran Agregat
 Bab XI : Inflasi
 Bab XII : Kebijaksanaan Moneter
 Bab XIII : Persamaan dan Perbedaan Pendapat Antara Keynesian dan Monetarist
 Bab XIV : Kebijaksanaan Fiskal
 Bab XV : Teori Portfolio
 Bab XVI : Teori Investasi
 Bab XVII : Ekonomi Sisi Penawaran (Supply Side Economic)
 Bab XVIII : Pasar Valuta Asing
 Bab XIX : Neraca Pembayaran Internasional

2
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari critical books report ini antara lain:
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Moneter
2. Untuk mengetahui kualitas (keunggulan dan kelemahan) dari kedua buku
3. Untuk mengetahui perbedaan lingkup pembahasan dari kedua buku
4. Untuk mengetahui kedalaman dan keluasan materi yang disajikan masing-masing
penulis dalam setiap bab di dalam buku
5. Untuk mengetahui sasaran pembaca oleh penulis dari kedua buku

1.3 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari critical books report ini antara lain:
1. Sebagai sarana penambah wawasan dan pengetahuan penulis dan pembaca khususnya
dalam materi Ekonomi Moneter
2. Sebagai upaya melatih berpikir kritis dalam mengkritik, menganalisis, dan menilai
sebuah buku bagi penulis
3. Sebagai informasi tambahan bagi pembaca mengenai kualitas buku yang di kritik.

3
BAB II
ISI BUKU
2.1. Buku Utama
2.1.1. Identitas Buku
a. Judul Buku : Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan
( The Economics of Money, Banking and Financial Market)
b. Penulis : Frederic S. Mishkin
c. Penerjemah : Lana Soelisaningsih dan Beta Yulianita G
d. Penerbit : Salemba Empat
e. Tahun terbit : 2008
f. Kota Terbit : Jakarta Selatan
g. Jumlah halaman : 485 halaman
h. ISBN : 978-979-691-500-1

2.1.2. Ringkasan Buku Utama


BAB I : MENGAPA MEMPELAJARI UANG, PERBANKAN, DAN PASAR
KEUANGAN

Uang
Adalah faktor utama dari inflasi, siklus usaha, dan suku bunga. Karena variabel-
variabel ekonomi itu begitu penting dalam perekonomian yang sehat, maka sangat perlu
memahami apa yang dimaksud dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal agar stabilitas
perekonomian suatu negara dapat terjaga.
Perbankan
Adalah menyalurkan dana dari orang yang tidak menggunakannya secara produktif
kepada orang yang dapat menggunakannya secara produktif, sehingga memainkan peranan
penting dalam meningkatkan efisiensi perekonomian
Pasar keuangan
Pasar keuangan berfungsi dengan baik merupakan faktor kunci dalam menghasilkan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan kinerja pasar keuangan yang buruk merupakan salah
satu alasan mengapa banyak negara di dunia masih tetap miskin. Kegiatan dalam pasar
keuangan secara langsung juga mempengaruhi kesejahteraan msyarakat, perilaku usaha, dan

4
konsumennya serta siklus perekonomian. Aktivasi dalam pasar keuangan mempunyai dampak
langsung pada kekayaan individu, perilaku usaha, dan efisiensi perekonomian

BAB II : GAMBARAN UMUM SISTEM KEUANGAN


- Fungsi dasar pasar keuangan adalah untuk menyalurkan dana dari penabung yang memiliki
kelebihan dana kepada pembelanja yang memiliki keterbatasan dana. Pasar keuangan dapat
melakukan hal ini melalui pendanaan langsung, dimana peminjam meminjam dana secara
langsung dari pemberi pinjaman dengan menjual sekuritas mereka, atau melalui pendanaan
tidak langsung.
- Pasar keuangan dapat diklasifikasikan sebagai pasar utang atau ekuitas, pasar primer dan
sekunder, bursa saham dan bursa paralel (over-the-counter), serta pasar uang dan pasar
modal
- Instrumen pasar uang utama (instrumen utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun)
adalah U.S. Treasury bills, sertifikat deposito yang dapat dinegoisasi (negotiable bank
certificates of deposit), surat berharga komersial (commercial paper), akseptasi bank
(bankers acceptnces), perjanjian emmbeli kembali (repurchase agreement), dan federal
(federal funds), dan Eurodollar.
- Satu tren penting pada tahun-tahun ini adalah pertumbuhan internasionalisasi pasar
keuagan. Eurobonds, yangdidenominasi dalam mata uang selain negera tempat menjual
obligasi tersebut, kini merupakan sekuritas yang paling dominan di pasar obligasi
internasional dan telah melampaui obligasi-obligasi perusahaan AS sebafgai sumber dana
baru.
- Perantara keuanan utama terbagi dalam tiga kategori: (a) bank-bank komersial, asosiasi
simpan-pinjam, bank tabungan bersama, dan koperasi perkreditan; (b) lembaga tabungan
berdasarkan kontrak-perusahaan asuransi jiwa, perusahaan asuransi kebakaran dan
kecelakaan, dan dana pensiun; dan (c) perantara investasi-perusahaan pembiayaan, reksa
dana, dan reksa dana pasar uang.

BAB III : APA ITU UANG?


- Bagi ekonom, kata uang mempunyai arti yang berbeda engan pendapatan atau kekayaan.
Uang adalah segala sesuatu yang secara umum dapat diterima sebagai pembayaran atas
barang dan jasa atau pembayaran utang.
- Uang memiliki tigas fungsi utama; sebagai alat tukar, sebagai alat hitung, dan sebagai alat
penyimpan nilai. Uang sebagai alat tukar dapat mengatasi masalah pertemuan dua

5
kebutuhan secara kebetulan (double coincidence of wants) yang muncul pada
perekeonomian barter, sehingga dapat menurunkan biaya transaksi serta mendorong
spesialisasi dan pembagian kerja.
- Sistem pembayaran telah berkebang dari waktu ke waktu. Sampai beberapa ratus tahun
yang lalu, hampir semua sistem pembayaran pada sebagian besar masyarakat primitif
utamanya menggunakan logam bernilai tinggi. Penemuan uang kertas menurunkan biaya
perpindhan uang.
- federal reserve system telah mendefinisikan dua jenis pengukuran uang beredar, yautu M1
dan M2. Kedua pengukuran tersebut tidak setara dan tidak selalu bergerak searah, sehingga
penggunaan keduanya oleh pengambil kebijakan tidak dapat saling menggantikan.
- Masalah lain dalam pengukuran uang adalah data tidak selamanya akurat seperti yang kita
harapkan. Revisi data yang besar dapat terjadi; hal ini menunjukkan bahwa data uang yang
diumumkan di awal tidak dapat menjadi petunjuk pergerakan uang beredar yang dapat
diandalkan dalam jangka pendek (katakanlah, bulanan), walaupun data tersebut lebih
akurat dalam periode yang lebih panjang, seperti satu tahun

BAB IV : MEMAHAMI SUKU BUNGA


Suku bunga merupakan salah satu variabel yang paling banyak diamati dalam
perekonomian. hampir setiap hari pergerakannya dilaporkan di surat kabar. Hal ini
disebabkan oleh suku bunga langsung yang memengaruhi kehidupan kita dan mempunyai
konsekuensi penting bagi kesehatan perekonomian. suku bunga memengaruhi keputusan
pribadi, seperti memutuskan untuk dikonsumsi atau ditabung, akan membeli rumah atau tidak
atau memutuskan membeli obligasi atau menaruh dana dalam tabungan. Suku bunga juga
memengaruhi keputusan ekonomi usaha (bisnis) dan rumah tangga, seperti memutuskan
menggunakan dananya untuk berinvestasi dalam bentuk peralatan baru untuk pabrik atau
untuk disimpan di bank.
Mengukur Suku Bunga
Instrumen utang yang berbeda mempunyai arus pembayaran kas yang sangat berbeda
kepada pemiliknya dikenal sebagai arus kas (cash flow) dengan jangka waktu yang sangat
berbeda. Oleh karena itu, sebelum melihat bagaimana suku bunga diukur, terlebih dahulu kita
perlu memahami bagaimana cara membandingkan nilai daru satu jenis instrumen utang
dengan instrumen utang lainnya. Untuk melakukan ini, kita menggunakan konsep nilai
sekarang (present value).

6
Konsep nilai sekarang atau nilai diskonto sekarang didasarkan pada pengertian umum
bahwa uang satu dolar yang dibayarkan kepada Anda satu tahun dari sekarang akan lebih
berkurang nilainya daripada uang satu dolar yang dibayarkan kepada Anda sekarang. Konsep
nilai sekarang sangat berguna, karena konsep tersebut memungkinkan kita untuk memikirkan
nilai hari ini dari suatu instrumen pasar utang pada suatu suku bunga yang sederhana, i, hanya
dengan menjunlah nilai sekarang dari semua pembayaran di masa depan yang diterima secara
individu. Informasi ini memungkinkan kita untuk membandingkan nilai dari dua instrumen
atau lebih dengan waktu yang sangat berbeda pembayarannya.
Dalam pengertian jangka waktu pembayaran arus kas, terdapat empat jenis instrumen
pasar kredit, yaitu:
 Pinjaman sederhana (simple loan), dimana pemberi pinjaman memberikan kepada
peminjam sejumlah dana yang harus dibayarkan kembali kepada pemberi pinjaman pada
saat jatuh tempo dengan tambahan pembayaran untuk bunga. Banyak instrumen pasar
uang merupakan jenis ini. Misalnya pinjaman komersial untuk usaha.\
 Pinjaman dengan pembayaran yang tetap (fixed payment loan). Yang juga disebut dengan
istilah pinjaman yang diamortisasi penuh (full amortized loan), dimana pemberi pinjaman
memberikan kepada peminjam sejumlah dana yang harus dibayarkan kembali secara
berkala (misalnya bulanan) dalam jumlah yang sama kepada pemberi pinjaman, terdiri
atas pokok pinjaman dan suku bunga untuk sejumlah periode.
 Obligasi kupon (coupon bond) membayar kepada pemilik obligasi sejumlah suku bunga
yang tetap (pembayaran kupon) setiap tahun sampai dengan tanggal jatuh tempo, yaitu
ketika sejumlah akhir dana tertentu nilai nominal atau nilai par dilunasi.
 Obligasi diskonto (discount bond) disebut juga obligasi tanpa kupon (zero coupon bond)
dibeli pada harga lebih rendah dari nilai nominalnya (pada harga diskonto), dan nilai
nominalnya dibayarkan kembali pada tanggal jatuh tempo. Obligasi diskonto tidak
melakukan pembayaran bunga, tetapi hanya membayarkan nilai nominalnya.
Yield to Maturity
Dari beberapa cara umum untuk menghitung suku bunga, hal yang terpenting adalah
memahami yield to maturity yaitu suku bunga yang menyamakan nilai sekarang dari
pembayaran arus kas yang diterima dari suatu instrumen utang dengan nilai hari ini. Oleh
karena konsep di balik perhitungan yield to maturity memberikan arti ekonomi yang baik,
para ekonom menganggapnya sebagai ukuran yang paling akurat untuk suku bunga.

7
Yield to maturity yaitu ukuran yang paling akurat mencerminkan suku bunga adalah
suku bunga yang sama dengan nilai sekarang dari pembayaran di masa depan dari suatu
instrumen utang dengan nilainya hari ini. Aplikasi dari prinsip ini menunjukkan bahwa harga
obligasi dan suku bunga berhubungan negatif. Ketika suku bunga meningkat, harga obligasi
turun dan sebaliknya.
Dua ukuran yang kurang akurat dari suku bunga pada umumnya digunakan untuk
mencatat suku bunga atas obligasi kupon dan obligasi diskonto. Current yield yang sama
dengan pembayaran kupon dibagi dengan harga obligasi kupon merupakan ukuran yield to
maturity yang kurang akurat jatuh tempo obligasi yang lebih pendek. Yield berbasis diskonto
(disebut juga yield diskonto) mengurangikan yield to maturity obligasi diskonto dan
pengurangsajian ini memperburuk jarak dari jatuh tempo sekuritas diskonto. Meskipun
ukuran-ukuran ini merupakan petunjuk yang menyesatkan terhadap ukuran suku bunga,
perubahannya selalu menandakan perubahan yang searah untuk yield to maturity.
Imbal hasila tas suatu sekuritas yang menjelaskan kepada Anda seberapa kaya Anda
dengan memiliki sekuritas ini selama periode waktu tertentu, dapat sangat berbeda dari suku
bunga yang diukur dengan yield to maturity. Harga obligasi jangka panjang mempunyai
sangat berfluktuasi ketika tingkat bunga berubah dan karenanya mengandung risiko suku
bunga. Hasil keuntungan dan kerugian modal dapat cukup besar, yang melatarbelakangi
mengapa obligasi jangka panjang tidak dianggap sebagai aset yang aman dengan imbal hasil
yang pasti.

BAB V : PERILAKU SUKU BUNGA


• Teori tentang permintaan aset memberikan pengetahuan kepada kita bahwa jumlah aset
yang di minta (a) berhubungan positif kepada kekayaan, (b) berhubungan positif dengan
perkiraan imbal hasil atas aset relatif terhadap aset alternatif, (c) berhubungan negatif
dengan resiko aset relatif terhadap aset alternatif, dan (d) berhubungan positif dengan
likuiditas aset relatif terhadap aset alternatif.
• Analisis penawaran dan permintaan untuk obligasi memberikan satu teori mengenai
bagaimana suku bunga ketika ada perubahan permintaan karena perubahan pendapat (atau
kekayaan), perkiraan imbal hasil, resiko, dan likuiditas, atau ketika ada perubahan
penawaran karena perubahan peluang investasi yang menarik, biaya peminjaman riil, atas
anggaran pemerintah.
• Satu teori alternatif mengenai bagaimana suku bunga ditentukan juga diberikan oleh
kerangka kerja preferensi likuiditas, yang menganalisis penawaran dan permintaan untuk

8
uang. Teori ini menunjukkan bahwa suku bunga akan berubah ketika terdapat perubahan
permintaan untuk uang karena perubahan pendapatan atau tingkatan harga atau ketika
terdapat perubahan penawaran uang.
• Terdapat empat kemungkinan dampak dari peningkatan penawaran uang pada suku bunga:
dampak likuiditas, dampak pendapatan, dampak tingkat harga, dan dampak perkiraan
inflasi. Dampak likuiditas bahwa peningkatan pertumbuhan penawaran uang akan
mendorong penurunan suku bunga; dampak lainnya bekerja dengan arah yang berlawanan.
Bukti empiris menunjukkan bahwa dampak pendapatan, dampak tingkat harga, dan
dampak inflasi mendominasi dampak likuiditas sehingga meningkatkan penawaran uang
mendorong suku bunga lebih tinggi-bukan menurunkan suku bunga.

BAB VI : STRUKTUR RISIKO DAN STRUKTUR SUKU BUNGA


Obligasi dengan jatuh tempo yang berbeda akan memiliki suku bunga yang berbeda
karena tiga faktor: risiko gagal bayar, likuiditas dan pertimbangan-pertimbangan pajak.
Semakin tinggi risiko gagal bayar suatu obligasi,maka semakin tinggi suku bunganya
terhadap obligasi lain;semakin besar likuiditas suatu obligasi,maka semakin rendah suku
bunganya;dan obligasi dengan status bebas pajak akan memiliki suku bunga yang lebih
rendah daripada yang sebaliknya. Hubungan antara suku bunga obligasi dengan jatuh tempo
yang sama yang muncul karena ketiga faktor ini dikenal sebagai struktur risiko suku bunga.
Empat teori mengenai struktur jangka waktu memberikan penjelasan bagaimana suku
bunga obligasi dengan jangka waktu jatuh tempo yang berbeda berhubungan.teori ekspektasi
memandang suku bunga jangka panjang sebagai penyamaan rata-rata suku bunga jangka
pendek dimasa depan yang diharapkan terjadi selama umur obligasi. Sebaliknya,teori
segmentasi pasar memperlakukan penentuan suku bunga untuk setiap jangka waktu jatuh
tempo obligasi sebagai hasil dari penawaran dan permintaan hanya dipasar itu. Tidak satu dari
kedua teori ini dengan sendirinya dapat menjelaskan fakta bahwa suku bunga obligasi dengan
jatuh tempo yang berbeda bergerak bersama sepanjang waktu dan bahwa kurva imbal hasi
biasanya berkemiringan keatas.
Teori premi likuiditas dan teori habitat preferen menggabungkan sifat-sifat dari dua
teori lainnya, agar dapat menjelaskan fakta-fakta yang baru saja disebutkan. Teori premi
likuiditas dan teori habitat preferen memandang suku bunga jangka panjang sebagai
penyamaan rata-rata suku bunga jangka pendek dimasa depan yang diharapkan terjadi selama
umur obligasi ditambah premi likuiditas. Teori-teori ini memungkinkan kita untuk
menyimpulkan ekspektasi pasar mengenai pergerakan suku bunga jangka pendek dimasa

9
mendatang diharapkan meningkat, kurva yang berkemiringan keatas yang tidak curam
menunjukkan bahwa suku bunga jangka pendek diharapkan tetap sama, kurva mendatar
menunjukkan bahwa suku bunga jangka pendek diharapkan sedikit menurun,dan kurva imbal
hasil yang terbalik menunjukkan bahwa suku bunga jangka pendek diharapkan turun tajam
dimasa mendatang.

BAB VII : PASAR MODAL, TEORI PENGHARAPAN RASIONAL DAN HYPOTESIS


PASAR EFISIEN
1. Saham dinilai sebagai nilai sekarang dari dividen masa depan. Sayangnya, kita tidak tahu
persis apa dividen ini akan Ketidakpastian ini memperkenalkan banyak kesalahan pada
penilaian proses. Model pertumbuhan Gordon disederhanakan Metode perhitungan nilai
saham yang tergantung asumsi bahwa dividen tumbuh di a tingkat konstan selamanya
Mengingat ketidakpastian kami Dividen masa depan, asumsi ini sering terjadi terbaik yang
bisa kita lakukan.
2. Interaksi antar trader di pasaran adalah apa sebenarnya menetapkan harga pada hari-hari
dasar. Pedagang bahwa nilai keamanan yang paling (baik karena kurang ketidakpastian
tentang arus kas atau karena lebih besar perkiraan arus kas) akan bersedia membayar
paling banyak. Saat informasi baru dilepaskan, investor akan merevisi perkiraan mereka
tentang nilai sebenarnya dari keamanan dan kemauan baik membeli atau menjualnya
tergantung bagaimana pasar harga dibandingkan dengan perkiraan valuasinya. Karena
Perubahan kecil dalam perkiraan tingkat pertumbuhan atau kebutuhan Hasil kembali dalam
perubahan harga yang besar, tidak mengherankan bahwa pasar sering bergejolak.
3. Hipotesis pasar yang efisien menyatakan bahwa saat ini harga keamanan akan sepenuhnya
mencerminkan semua informasi yang tersedia, Karena di pasar yang efisien, semua tidak
dieksploitasi peluang keuntungan dieliminasi Eliminasi dari peluang keuntungan yang
belum dieksploitasi, diperlukan untuk Pasar keuangan menjadi efisien, tidak memerlukan
itu semua pelaku pasar mendapat informasi dengan baik.
4. Hipotesis pasar yang efisien menunjukkan bahwa tip panas, penasihat investasi
menerbitkan rekomendasi, dan analisis teknis tidak dapat membantu seorang investor
mengungguli pasar. Resep untuk investor adalah untuk mengejar beli beli saham
pembelian strategi dan tahan mereka dalam jangka waktu yang lama. Empiris bukti
umumnya mendukung implikasi ini hipotesis pasar yang efisien di pasar saham.
5. Kecelakaan pasar saham pada tahun 1987 dan jatuhnya teknologi 2000 telah meyakinkan
banyak ekonom keuangan itu versi yang lebih kuat dari hipotesis pasar yang efisien, yang

10
menyatakan bahwa harga aset mencerminkan fundamental sejati (intrinsik) nilai sekuritas,
tidak benar. Kurang jelas bahwa pasar saham crash menunjukkan hal itu versi lemah dari
hipotesis pasar yang efisien salah. Bahkan jika pasar saham digerakkan oleh faktor selain
fundamental, crash ini terjadi tidak jelas menunjukkan bahwa banyak yang mendasar
pelajaran dari hipotesis pasar yang efisien adalah tidak lebih lama berlaku, selama crash ini
tidak bisa sudah diprediksi
6. Bidang baru akuntansi perilaku menerapkan konsep. Dari ilmu sosial lainnya seperti
antropologi, sosiologi, dan khususnya psikologi untuk mengerti perilaku harga sekuritas.
Kehilangan keengganan, terlalu percaya diri, dan penularan sosial bisa terjadi jelaskan
mengapa volume perdagangan begitu tinggi, harga saham mendapatkan overvalued, dan
gelembung spekulatif terjadi.

BAB VIII : ANALISIS EKONOMI STRUKTUR KEUANGAN


Analisis ekonomi mengenai struktur keuangan menjelaskan bagaimana kinerja sektor
keuangan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan mengapa krisis keuangan terjadi dan
mempunyai konsekuensi sedemikian besar terhadap aktivitas perekonomian secara agregat.
Di dalam struktur keuangan AS terdapat beberapa fakta antara lain : pentingnya perantara
keuangan dan relatif tidak pentingnya pasar sekuritas untuk pendanaan perusahaan,
menunjukkan bahwa pasar keuangan merupakan satu di antara sektor dalam perekonomian
yang paling diregulasi, menyatakan bahwa hanya perusahaan – perusahaan mapan yang
mempunyai akses terhadap pasar sekuritas, menunjukkan bahwa jaminan merupakan hal
penting dari kontrak utang dan menunjukkan kontrak utang sebagai dokumen hukum yang
rumit yang menempatkan batasan – batasan substansial pada perilaku peminjaman.
Biaya transaksi menahan banyak penabung dan peminjam kecil dari keterlibatan
langsung dengan pasar keuangan. Perantara keuangan mengambil keuntungan dari skala
ekonomis dan lebih mampu untuk mengembangkan keahlian untuk menurunkan biaya
transaksi, dengan demikian memungkinkan penabung dan peminjam untuk mendapatkan
keuntungan dari keberadaan pasar keuangan.
Informasi asimetris menghasilkan dua masalah: adverse selection yang terjadi sebelum
transaksi dan moral hazard yang terjadi setelah transaksi. Adverse selection merujuk pada
fakta bahwa risiko kredit buruk adalah mereka yang kemungkinan besar paling banyak
mencari pinjaman, dan moral hazard merujuk pada risiko peminjam yang terlibat dalam
kegiatan yang tidak diinginkan dari sudut pandang pemberi pinjaman.

11
Adverse selection menghambat berfungsinya pasar keuangan secara efisien. Alat –
alat untuk membantu mengurangi masalah adverse selection meliputi produksi dan penjualan
informasi secara privat/swasta, regulasi pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan
informasi, intermediasi keuangan, serta jaminan dan kekayaan bersih. Masalah free-rider
terjadi ketika orang-orang yang tidak membayar untuk informasi mengambil keuntungan dari
informasi yang dibayar oleh orang lain. Masalah ini menjelaskan mengapa perantara
keuangan, khususnya bank, memainkan peranan yang lebih penting dalam pendanaan
kegiatan usaha daripada pasar sekuritas.
Moral hazard dalam kontrak ekuitas dikenal sebagai masalah prinsipal agen, karena
manger (agen) mempunyai insentif yang lebih sedikit untuk memaksimumkan keuntungan
dari pada para pemegan saham (prinsipal). Masalah prinsipal agen menjelaskan mengapa
kontrak utang lebih dominan di pasar keuangan dari pada kontrak ekuitas. Alat untuk
membantu mengurangi masalah prinsipal agen meliputi pemantauan, regulasi pemerintah
untuk meningkatkan ketersediaan informasi dan intermediasi keuangan. Alat untuk
mengurangi masalah moral hazard di kontrak utang meliuputi kekayaan besih, pemantauan
dan pelaksanaan kontrak restriktif, dan perantara keuangan.
Konflik kepentingan muncul ketika penyedia jasa keuangan atau para pekerjanya
melayani minat ganda dan mempunyai insentif untuk menyalahgunakan atau
menyembunyikan informasi yang diperlukan untuk berfungsinya pasar keuangan secara
efektif. Kita peduli tentang konflik kepentingan karena konflik kepentingan secara substansial
dapat mengurangi jumlah informasi yang dapat diandalkan di pasar keuangan, sehingga
mencegahnya dari menyalurkan dana kepada pihak – pihak dengan kesempatan investasi yang
produktif. Dua jenis kegiatan jasa keuangan yang berpotensi mengalami konflik kepentingan :
pertanggungan (underwriting) dan riset di bidang investasi perbankan, serta audit dan
konsultasi di firma – firma akuntan. Dua ukuran kebijakan utama yang diterapkan untuk
membahas mengenai konflik kepentingan : Undang – undang Sarbanes-Oxley Tahun 2002
dan global legal settlement Tahun 2002, yang muncul dari tuntutan hukum oleh New York
Attorney General terhadap sepuluh bank Investasi terbesar.
Krisis keuangan merupakan gangguan besar di pasar keuangan. Krisis keuangan
disebabkan oleh peningkatan masalah adverse selection dan moral hazart yang mencegah
pasar keuangan menyalurkan dana kepada orang – orang dengan kesempatan investasi
produktif, yang mengakibatkan kontraksi tajam dalam kegiatan ekonomi. Lima faktor yang
menyebabkan krisis keuangan adalah peningkatan suku bunga, penungkatan ketidakpastian,

12
dampak pasar aset terhadap neraca, masalah – masalah dalam sektor perbankan dan ketidak
seimbangan fiskal pemerintah.

BAB IX : PERBANKAN DAN MANAJEMEN LEMBAGA KEUANGAN


Lembaga keuangan adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk aset
keuangan atau tagihan (claims) dibandingkan aset nonfinancial atau aset riil. Lembaga
keuangan memberikan kredit kepada nasabah dan menanamkan dananya dalam surat-surat
berharga. Fungsi dan Peranan Lembaga Keuangan
Lembaga keuangan berfungsi:
• Melancarkan pertukaran produk (barang dan jasa) dengan menggunakan uang dan
instrumen kredit.
• Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan ke
masyarakat dalam bentuk pinjaman.
• Memberikan pengetahuan dan informasi,
Pengelompokkan lembaga keuangan
• Lembaga keuangan dikelompokkan menjadi dua, yaitu Lembaga Keuangan Bank (LKB)
dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).
• Perbedaan Lemabaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank adalah:
• Kewajiban finansial LKB dan LKBB yaitu pada liabilitas atau pasiva LKB berupa uang,
sedangkan liabilitas atau pasiva LKBB yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai uang.
• Kemampuan kedua lembaga keuangan dalam menciptakan kredit dan uang, yaitu LKB
mempunyai kemampuan menciptakan kredit, mengedarkan uang, dan menambah JUB
(melalui efek pengganda uang), sedangkan LKBB menyalurkan dana kepada masyarakat
melalui penyertaan modal atau membiayai investasi perusahaan.
• Persamaan LKB dan LKBB mempunyai kesamaan dalam hal:
• Melancarkan pertukaran produk dengan menggunakan uang dan instrumen kredit.
• Membantu menyalurkan dana penabung (masyarakat yang kelebihan dana) kepada
pengusaha (masyarakat yang memerlukan dana).
Fungsi Bank
Secara umum fungsi bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan
kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau sebagai financial intermediary. Secara
lebih spesifik bank dapat berfungsi sebagai agent of trust, agen of development, agen of
servies.

13
• Agent of trust
• Agent of development
• Agent of servies
Bank sentral adalah bank yang didirikan berdasarkan undang-undang nomor 13 tahun
1968 yang memiliki tugas untuk mengatur peredaran uang, mengatur pengarahan dana-dana,
mengatur perbankan, mengatur perkreditan, menjaga stabilitas mata uang, mengajukan
percetakan / penambahan mata uang rupiah dan lain sebagainya. Bank sentral hanya ada satu
sebagai pusat dari seluruh bank yang ada di Indonesia.
Bank umum adalah lembaga keuangan yang menawarkan berbagai layanan produk
dan jasa kepada masyarakat dengan fungsi seperti menghimpun dana secara langsung dari
masyarakat dalam berbagai bentuk, member kredit pinjaman kepada masyarakat yang
membutuhkan, jual beli valuta asing / valas, menjual jasa asuransi, jasa giro, jasa cek,
menerima penitipan barang berharga,dan lain sebagainya.
Bank perkreditan rakyat adalah bank penunjang yang memiliki keterbatasan wilayah
opoerasional dan dana yang dimiliki dengan layanan yang terbatas pula seperti memberikan
kredit pinjaman dengan jumlah yang terbatas, menerima simpanan masyarakat umum,
menyediakan pembiayaan dengan prinsip bagi hasil, penempatan dalam sertifikat bank
Indonesia, deposito berjangka, sertifikat, tabungan, dan lain sebagainya.

BAB X : INDUSTRI PERBANKAN STRUKTUR DAN PERSAINGAN


 Sejarah perbankan di AS telah meninggalkan kita dengan sistem perbankan ganda,
dengan bank komersial yang dibentuk oleh pemerintah Negara bagian dan federal.
Banyak badan yang mengatur bank komersial: The Office Of The Comptroller, The
Federal Reserve, FDIC, dan otoritas perbankan Negara bagian
 Perubahan lingkungan ekonomi akan mendorong lembaga keuangan untuk mencari
inovasi keuangan. Perubahan kondisi permintaan, khususnya peningkatan risiko suku
bunga, perubahan kondisi penawaran, khususnya perbaikan di bidang teknologi
informasi, dan keinginan untuk menghindari regulasi yang mahal telah menjadi kekuatan-
kekuatan yang mendorong di balik inovasi keuangan. Inovasi keuangan menyebabkan
bank-bank mengalami penurunan keunggulan biaya dalam memperoleh dana dan dalam
keunggulan pendapatan atas asset mereka. Penyempitan yang dihasilkan telah
menurunkan profabilitas usaha perbankan tradisional dan telah menyebabkan penurunan
kegiatan perbankan tradisional.

14
 Peraturan pembukaan cabang yang restriktif di Negara bagian dan undang-undang
McFadden, yang melarang pembukaan cabang di sepanjang batas Negara bagian,
mendorong sejumlah besar bank-bank komersial kecil. Jumlah bank komersial yang besar
di AS mencerminkan kurangnya persaingan di masa lalu, bukan adanya persaingan yang
kuat. Perusahaan induk bank dan ATM merupakan respon penting terhadap hambatan
pembukaan cabang yang melemahkan dampak batasan anti persaingan.
 Sejak pertengahan tahun 1980-an, konsolidasi bank telah terjadi pada tingkat yang cepat.
Fase pertama konsolidasi bank adalah hasil dari kegagalan bank dan mengurangi
efektivitas pembatasan pembukaan cabang. Fase kedua telah distimulasi oleh teknologi
informasi dan Undang-Undang Perbankan Antar Negara Bagian dab Efisiensi
Pembukaan cabang Riegle-Neal tahun 1994, yang mendirikan dasar bagi sistem
perbankan di AS. Setelah konsolidasi perbankan ditetapkan, kita kemungkinan besar
ditinggalkan oleh sistem perbankan dengan beberapa ribu bank. Sebagian besar ekonom
percaya bahwa manfaat dari konsolidasi bank dan perbankan di seluruh negeri akan
menjadi lebih penting daripada biayanya.
 Undang-undang Glass-Steahall memisahkan perbankan komersial dengan industry
sekuritas. Legalisasi pada tahun 1999 mencabut Undang-undang Glass-Stegall,
menghilangkan pemisah dari industri-industri ini.
 Regulasi dan struktur industry penyimpanan (asosiasi simpan pinjam, bank tabungan
bersama dan koperasi perkreditan) sejalan dengan regulasi dan struktur industry bank
komrsial.
 Dengan pertumbuhan perdagangan dunia yang cepat sejak tahun 1960. Perbankan
internasional telah tumbuh secara pesat. Bank-bank AS melakukan kegiatan perbankan
internasional dengan membuka cabang diluar negeri, mempunyai kepemilikan kendali
atas bank-bank asing, membentuk Edge Act Corporation, dan mengoperasikan fasilitas
perbankan internasional (IBF) yang terletak di AS. Bank- bank asing beroperasi di AS
dengan memiliki anak perusahaan bank Amerika atau dengan mengoperasikan cabang-
cabang atau kantor agen di AS.

BAB XI : ANALISIS EKONOMI REGULASI KEUANGAN


Regulasi keuangan yang diterapkan oleh pemerintah bertujuan untuk mengurangi
adanya asimetri informasi yang menimbulkan adverse selection. Seringkali konsumen
memiliki keterbatasan informasi mengenai bank-bank sebagai wadah menyimpan uang.
Untuk meminimalisir, pemerintah menerapkan berbagai

15
Ada 8 kategori dasar mengenai regulasi keuangan:
1. Keamanan Pemerintah (Government SafetyNet)
FDIC memiliki 2 metode dalam melakukan pembayaran simpanan, yaitu: Metode
payoff Dan Metode pembelian dan asumsi
2. Pembatasan kepemilikan aset dan modal
3. Penilaian Risiko Manajemen
4. Prompt Corrective Action (tindakan korektif yang cepat)
5. Chartering & Examination
6. Perlindungan konsumen
7. Persyaratan pengungkapan
8. Pembatasan kompetisi

BAB XII : BANK- BANK FEDERAL RESERVE


Feredal Reserve System Diciptakan pada tahun 1913 untuk mengurangi frekuensi
bank panic. Oleh karena itu pertentangan publik terhadap bank sentral dan sentralisasi
kekuasaan, Federal Reserve System diciptakan dengan banyak check and belance untuk
menyebar kekuasaan.
Struktur formal dari federal reserve system terdiri dari 12 bank federal reserve
regional, sekitar 2.000 bank komersial anggota, Dewan Gubernur Federal Reserve System,
komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dan komite penasehat pederal.

Perbedaan Antara Sistem Bank Sentral Eropa dengan Federal Reserve System
System bank sentral di Eropa mempunyai struktur yang serupa dengan Federal
Reserve System, dengan anggota masing- masing negara yang mempunyai bank sentaral
nasional dan dewan eksekutif Bank Sentral eropa yang berlokasi di Frenkfurt, Jerman.
Dewan pimpinan, yang terdiri atas enam anggota Badan Eksekutif ( termasuk presiden
bank sentral Eropa ) dan presiden bank sentral Nasional, membuat keputusan mengenai
kebijakan moneter.
Eurosystem, yang didirikan berdasarkan Maastrich Treaty, bahkan lebih independen
daripada federal reserve system karena peraturannya tidak bisa diubah oleh legalitas. Lebih
lanjur Eurosystem merupakan bank sentral yang paling independen di dunia.
Struktur Dan Independensi Bank Sentral Dan Bank Asing Lainnya
Terdapat kecenderungan yang mencolok terhadap peningkatan kebebbasan bank
sentral di seluruh dunia. Independensi yang semakin besar telah diberikan kepada bank sentral

16
– bank sental seperti Bank of England dan Bank of Japan dalam tahun – tahun terakhir ini,
juga kepada bank sentral lain di negara – negara lain seperti Selandia Baru dan Swadia.
Baik teori maupun pengalamannnya menunjukan bahwa bank sentar yang lebih
independensi menghasilkan kebijakan moneter yang lebih baik.
Teori perilaku birokrasi menyatakan bahwa suatu faktor yang mendorong perilaku
bank sentral merupakan upaya untuk meningkatkan kekuasaan dan prestasinya. Pandangan ini
menjelaskan banyak tindakan bank sentral, meskipun bank sentral mungkin juga bertindak
atas kepentingan publik.
Independensi Bank Sentral dan Kinerja Ekonomi Makro Di Seluruh Dunia
Kita telah melihat bahwa dukungan – dukungan kebebasan bank sentral menyakini
bahwa kinerja ekonomi makro akan leboh baik dengan membuat bank sentral menjadi lebih
bebas. Penelitian terbaru tampaknya mendukung pergerakan ini : Ketika bank sentral
diperingkat dari paling kecil tingkat kebebasannya hingga yang paling bebas, kinerja inflasi
ditemukan lebih baik bagi negara – negara dengan bank sentral yang independen. Meskipun
bank sentral yang lebih independen tampaknya membuat tingkat inflasi yang lebih rendaj, hal
ini tidak dicapai pada biaya kinerja ekonomi riil yang lebih buruk. Negara – negara dengan
bank sentral yang independen tidak lebih mempunyai tingkat pengangguran yang tinggi atau
fluktuasi output yang lebih besar daripada negra – negra dengan bank sentral yang kurang
independen.

BAB XIII : PENCIPTAAN SIMPANAN BERGANDA DAN PROSES UANG


BEREDAR
1. Terdapat empat pemain dalam proses uang beredar yaitu bank sentral, bank komersial
(lembaga penyimpanan), deposan dan peminjam dari bank.
2. Empat komponen dalam neraca bank sentral yang penting dalam memahami proses uang
beredar. Dua komponen dalam kewajiban yaitu uang kartal yang beredar dan cadangan,
dimana keduanya secara bersamaan menciptakan uang primer, serta dua komponen aset,
surat utang pemerintah dan discount loans.
3. FederalReserve(Bank Sentral AS) mengendalikan uang primer melalui operasi pasar
terbuka dan pengembangan discount loans dan mempunyai kendali yang lebih baik
terhadap uang primer dibandingkan terhadap cadangan. Walaupun float dan Theasury
deposits with the Fed menyebabkan fluktuasi jangka pendek yang signifikan, sehingga
sulit mengontrol uang primer secara menyeluruh, keduanya tidak mencegah the Fed untuk
bisa mengendalikannya secara tepat.

17
4. Satu bank dapat memberikan pinjaman sampai sebesar kelebihan cadangannya, sehingga
menciptakan nilai yang sama dengan simpanannya. Sistem perbankan dapat menciptakan
ekspansi simpanan berganda, karena setiap bank memberikan pinjaman dan menciptakan
simpanan, cadangan menemukan caranya untuk sampai ke bank lain, yang
menggunakannya untuk memberikan pinjaman dan menciptakan simpanan tambahan.
Dalam model sederhana penciptaan simpanan berganda dimana bank tidak memegang
uang kartal, peningkatan berganda dalam rekening giro (pengganda simpanan sederhana)
sama dengan satu dibagi dengan rasio cadangan wajib.
5. Model sederhana penciptaan simpanan berganda mempunyai beberapa kelemahan.
Keputusan oleh deposan untuk meningkatkan uang kartal yang dipegang atau dari bank
untuk memegang kelebihan cadangan akan menghasilkan ekspansi simpanan yang lebih
kecil daripada yang diprediksi oleh model sederhana. Keempat pemain The Fed, bank
komersial, deposan dan peminjam dari bank penting dalam menentukan uang beredar.

18
2.2. Buku Pembanding
2.2.1. Identitas Buku
a. Judul Buku : Ekonomi MoneterBuku I& II
b. Penulis : Nopirin Ph.d
c. Editor : Nopirin Ph.d
d. Penerbit : BPFE Yogyakarta
e. Tahun Terbit : 1992 dan 2009
f. Kota Terbit : Yogyakarta
g. Jumlah Halaman : 254 halaman& 205 halaman
h. ISBN : 979-503-048-5

2.2.2. Ringkasan Buku Pembanding


BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Ruang Lingkup
Ekonomi moneter merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari tentang
sifat, fungsi dan pengaruh uang terhadap kegiatan ekonomi.Secara umum kegiatan ekonomi
dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mempengaruhi tingkat pengangguran produksi,
harga dan hubungan perdagangan/pembayaran internasional. Oleh karena itu, ekonomi
moneter mencakup/mempelajari beberapa hal diantaranya:
a. Peranan dan fungsi uang dalam perekonomian
b. Sistem moneter dan pengaruhnya terhadap jumlah uang beredar dan kreditStruktur
dan fungsi bank sentral
c. Pengaruh jumlah uang beredar dan kredit terhadap kegiatan ekonomi
d. Pembayaran serta sistem moneter internasional.
Alasan perlunya mempelajari ilmu ekonomi moneter
a. Dapat mengetahui secara mendalam tentang mekanisme penciptaan uang, tingkat
bunga, pasar uang, sistem dan kebijakan moneter, serta pembayaran internasional.
b. Dapat mengetahui serta menganalisa beberapa fenomena moneter dalam kaitannya
dengan efek kebijakan moneter terhadap kegiatan ekonomi.
c. Efek dari kebijaksanan moneter serta pendapatan perlu kita pahami dengan seksama
agar arah kebujaksanaan tersebur dapat sejalan dengan keinginan kita. Pemahaman
tersebut memerlukan pengetahuan tentang ekonomi moneter, khususnya tentang

19
kebijaksanaan tentang uang dan perbankan intuk mencapai tujuan pemangunan
ekonomi.
1.2.Peranan dan Fungsi Uang
Abraham H. Maslow dalam teori Motivasinya mengatakan bahwa kebutuhan manusia
yang paling mendasar adalah kebutuhan fisik. Kebutuhan fisik manusia tidak lain adalah
berupa barang dan jasa. Untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa tersebut, cara yang
paling mudah adalah dengan memiliki sesuatu yang disebut UANG. Karena uang adalah
sesuatu benda yang diterima dan digunakan secara umum sebagai alat untuk memudahkan
proses transaksi dalam memenuhi kebutuhan manusia berupa barang dan jasa. Sehingga
secara tidak langsung juga dapat dikatakan bahwa kebutuhan yang paling “mendasar” dalam
perekonomian dan kehidupan sosialnya adalah uang.Uang yang semula dimaksudkan
berfungsi sebagai alat tukar dan standar satuan nilai ternyata juga berdampak terhadap fokus
budaya manusia ketika uang diaplikasikan sebagai properti yang menentukan martabat
seseorang di tengah masyarakat. Dalam sejarahnya, peranan dan fungsi uang telah
berkembang secara pesat, tanpa mengenal batas, ras, bangsa dan negara sehingga uang telah
ikut memberikan andil yang penting dalam proses perkembangan peradaban manusia secara
global.
Sedangkan fungsi uang yaitu:
1. Fungsi Asli Sebagai alat tukar (medium of change).
Fungsi ini memisahkan antara keputusan menjual.Adanya uang sebagai alat tukat dapat
menghilangkan perlumya ada kesamaan keinginan sebelum terjadinya pertukaran.Kesamaan
leinginan harus ada lebih dahulu untuk terjadinya tukar menukar barang dan barang (barter).
Dengan uang orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang,
tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan
cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uanga
a. Sebagai satuan hitung (unit of account)/sebagai satuan pengukur nilai. Artinya nilai
suatu barang/jasa dapat diukur dan dibandingkan melalui uang. Misalnya di
Indonesia, uang yang dinamakan Rupiah mempinyai fungsi sebagai dasar
pengukuran Uang dipakai untuk menunjukkan nilai berbagai macam barang dan jasa
yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar
kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa.
b. Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
c. Sebagai penyimpan nilai (store of value). Dapat digunakan untuk mengalihkan daya
beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini

20
menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya,
maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di
masa mendatang.
2. Fungsi Turunan
a. Sebagai alat pembayaran
b. Untuk menentukan harga
c. Sebagai alat pembayaran hutang
d. Sebagai alat penimbun kekayaan
e. Sebagai alat pemindahan kekayaan (modal)
f. Sebagai alat untuk meningkatkan status social
1.3.Definisi Uang
Ada beberapa definisi uang menurut tingkat likuiditasnya yaitu:
a. M1 adalah uang kertas dan logam ditambah simpanan dalam bentuk rekening koran
(demand deposit).
b. M2 adalah M1 + tabungan + deposito berjangka (time deposit) pada bank-bank umum.
c. M3 adalah M2 + tabungan + deposito berjangka pada lembaga-lembaga tabungan
nonbank.
d. M1 adalah yamg paling likuid, sebab proses untuk menjadi uang kas sangar cepat dan
tanpa adanya kerugian nilai (artimya nilai nominal uang tetap) . sedangkan M2 hanya
mencakup deposito berjangka sehingga likuiditasnya rendah
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang
dapat diterima saecara umum. Alat tukar itu berupa benda apa saja yang dapat diterima oleh
setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa.
Sedangkan uang dalam ilmu ekonomi modern, didefinisikan beberapa ahli sebagai berikut:
a. AC Pigou; dalam bukunya The Veil of Money, yang dimaksud uang adalah alat tukar.
b. DH Robertson; dalam bukunya Money, ia mengatakan bahwa uang adalah sesuatu
yang bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang-barang.
c. RG Thomas; dalam bukunya Our Modern Banking, menjelaskan uang adalah sesuatu
yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian
barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran
utang.

21
1.4.Nilai Dari Uang
Nilai dari uang diukur melalui:
a. Kemampuam untuk menentukan harga pembelian dan penjualan barang dan jasa
(ongkos produksi dan distribusi barang dan jasa di tambah harga penawaran)
b. Nilai nominal yang tertera pada uang
c. Bahan pembuatan uang seperti jenis kertas atau logam.
d. Tingkat kesulitan pembuatan uang tersebut
Ada tiga metode untuk mengukur nilai uang yaitu;
a. Indeks biaya hidup
b. Indeks harga barang pedagangan besar
c. Indeks harga GNP Deflator
1.5. Klasifikasi Uang
Uang dapat di klasifikasikan atau beberapa dasar yang berbeda-beda sperti:
a. Sifat fisik dan bahan yang dipakai untuk membuat uang.
b. Yang mengeluarkan/ mengedarkan adalah pemerintah,bank sentral atau bank
komersial.
c. Hubungan antara nilai uang sebagai uang dengan nilai uang sebagai barang.
Berdasarkan tingkat likuiditasnya terbagi atas:
a. Full bodied money
b. Representative full bodied money
c. Credit money
Syarat-syarat Uang
a. Diterima secara umum (acceptability)
b. Memiliki nilai yang cenderung stabil (stability of value)
c. Ringan dan mudah dibawa (portability)
d. Tahan lama (durability)
e. Kualitasnya cenderung sama (uniformity)
f. Jumlahnya terbatas dan tidak mudah dipalsukan (scarcity)
g. Mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility)
1.6.Standar Moneter
Standar moneter terdiri dari 5 jenis sebagai berikut :
a. Standar kembar (Bimetallism)
b. Standar emas
c. Fiat Standar

22
d. Uang giral
e. Uang kuasi

BAB II : PERANAN LEMBAGA – LEMBAGA KEUANGAN


2.1 Jenis Lembaga Keuangan
Lembaga keuangan terdiri dari bank – bank umum serta lembaga keuangan non
bank.Bank umum adalah bank – bank yang kewajiban – kewajibannya terdiri dari saldo
rekening Koran. Bank umum meliputi bank – bank devisa, bank asing serta bank
pembangunan. Sedangkan lembaga – lembaga keuangan non bank terdiri dari lembaga –
lembaga yang bergerak dalam pasar modal atau dalam pengumpulan modal seperti bank –
bank dan lembaga tabungan, perusahaan asuransi, lembaga – lembaga penanaman modal,
lembaga pension dan sebagainya.
2.2 Peranan Lembaga Keuangan
Dengan adanya lembaga keuangan, keuntungan yang diperoleh antara lain :
a. Menawarkan berbagai jenis surat berharga
b. Memberikan pinjaman dalam jumlah yang besar serta dalam jangka waktu yang relatif
lama.
c. Memberikan jasa analisa investasi dan pasar yang sangat diperlukan dalam rangka
menanamkan pinjaman modalnya.
d. Membantu memobilisir dana masyarakat untuk menunjang ekonomi
2.3 Tingkat Bunga dan Harga Surat Berharga
Surat – surat berharga diperjualbelikan di pasar modal. Pembelian dilakukan oleh
pihak – pihak yang memiliki kelebihan dana/para penabung, sedangkan pihak – pihak yang
mengeluarkan/menjual adalah perusahaan yang membutuhkan dana untuk pembiayaan
investasinya. Surat – surat berharga merupakan suatu hak atas pembayaran sejumlah tertentu
uang di masa dating dan memberikan penghasilan berupa bunga/deviden kepada
pemegangnya. Harga yang terjadi dalam transaksi jual beli tidak semestinya sama dengan
harga yang dinyatakan dalam surat berharga. Perbedaannya merupakan penghasilan bagi
pembeli/pemegang berupa bunga yang biasanya dinyatakan dalam persen.

23
BAB III : BANK UMUM
3.1. Sifat Usaha
Bank umum adalah suatu lembaga keuangan yang tujuan utamanya adalah mencari
keuntungan.Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dan biaya. Secara sederhana
keuntungan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
Keuntungan = R(Q) – C(Q)
Dimana :
R(Q) = pendapatan
C(Q) = biaya
3.2. Dana Bank
Neraca perusahaan – perusahaan manufaktur, neraca suatu bank pun terdiri dari
Indentitas :Kekayaan/Assets = Utang/Liabilities + Modal Sendiri/Net Worth
Pada dasarnya sumber dana (liabilities) berasal dari giro (demand deposit), tabungan,
deposito berjangka (time deposits), pinjaman dari bank lain, pinjaman dari bank sentral dan
perubahan daripada modal sendiri.
Sedangkan penggunaan assets secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam: uang
kas, pinjaman yang diberikan, pembelian surat – surat berharga dan bentuk kekayaan yang
lain (misalnya tanah, bangunan, peralatan dan sebagainya.
3.3. Pengelolaan Bank Umum
A. Konsep Dasar Pengelolaan Bank Umum
Tujuan jangka panjang suatu bank umum adalah mencari laba. Dalam jangka pendek
harus selalu dijaga agar tidak terjadi kehabisan dana artinya setiap saat para nasabah hendak
mengambil depositonya, bank dapat memenuhi kewajibannya meskipun ada kemungkinan
menderita kerugian pada saat itu. Usaha untuk mengatasi masalah likuiditas ini, bank perlu
membedakan adanya 2 (dua) kelompok pos – pos (rekening) dalam neracanya. Satu kelompok
rekening yang memang bank tidak (kurang) bisa menguasai dan kelompok lain adalah
rekening – rekening yang bisa dikuasainya.
B. Prinsip - Prinsip Pengelolaan Bank Umum Dalam Jangka Pendek
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola bank dalam jangka pendek yakni
penentuan :
1. Tujuan jangka pendek
a. Memenuhi cadangan minimum
b. Pelayanan yang baik kepada pelanggan
c. Strategi dalam melakukan investasi

24
2. Cara mencapai tujuan
Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan di atas mungkin berbeda untuk setiap
bank, tergantung beberapa faktor diantaranya; falsafah dalam pengelolaan bank,
minimum biaya, faktor – faktor lain.
3.4. Pengaturan Bank Umum
Beberapa bentuk pengaturan bank – bank umum meliputi pengaturan tentang
pendirian bank, pembentukan cabang, penggabungan (merger), pengawasan kekayaan, utang
serta penentuan tingkat bunga.Kesemuanya ini ditujukan untuk keselamatan (baik bagi
pimpinan dan pemilik bank, maupun para langganan) serta efisiensi.Disamping itu, karena
bank umum perlu mengejar keuntungan, maka perlu diusahakan jangan sampai jumlah uang
beredar ditentukan atas dasar motof mencari keuntungan.
3.5. Hubungan Korespondensi
Suatu bank umum sering membuat pengaturan dengan bank umum lain (dalam atau
luar negeri) dalam bentuk deposito pada bank lain tersebut. Deposito ini dapat digunakan
untuk berbagai tujuan antara lain :
a. Memudahkan check clearing. Artinya suatu bank dapat minta bantuan bank
korespondensinya untuk membayar cek yang ditarik atas namanya atau menguangkan
cek (atas bank lain) dan dimasukkan dalam deposito pada bank korespondensi
tersebut.
b. Memudahkan melakukan pembayaran ke dalam dan luar negeri. Suatu bank dapat
meminta bantuan bank korespondensinya di luar negeri untuk melakukan pembayaran
dengan deposito yang ada di bank luar negeri tersebut.
c. Memudahkan melakukan transaksi – transaksi lain seperti membeli surat – surat
berharga atau member pinjaman dan sebagainya.
3.6. Penggabungan Bank/Merger
Beberapa alas an penggabungan bank – bank umum ini antara lain :
a. Dari segi bank yang menggabung, kenyataan bank tersebut hamper jatuh pailit, adanya
diseconomies of scale yang tercermin rendahnya rentabilitas, kesukuran dalam
membayar gaji karyawan dan pimpinan dari pendapatan bank dan rendahnya likuiditas
serta rendahnya kemungkinan untuk dapat menjual saham baru.
b. Segi bank yang menerima gabungan adalah adanya economies of scale sehingga
menekan ongkos. Disamping ini bank tersebut dapat mendapatkan langganan baru
serta memperbanyak distribusi lokasi bank.

25
3.7. Perbankan dan Lembaga Keuangan Lainnya di Indonesia
Bank – bank umum di Indonesia masih sebagian besar milik pemerintah. Hal ini dapat
dilihat dari jumlah bank, jumlah kantor serta besarnya kredit yang diberikan.Perkembangan
yang cukup dialami oleh bank – bank umum, baik karena ada pendirian cabang baru maupun
penggabungan (merger). Sedangkan bank umumasing pada akhir Maret 1983 jumlahya
rellatif tetap, yakni sebanyak 11 dengan jumlah kantor 20.
Lembaga keuangan nonbank pada dasarnya bertujuan untuk membantu permodalan
perusahaan, meningkatkan peranan pengusaha golongan ekonomi lemah dan mendorong
perkembangan pasar uang dan pasar modal. Sampai dengan akhir Maret 1983 jumlah lembaga
keuangan nonbank ini sebanyak 14 buah yang terdiri 9 jenis investasi, 3 jenis pembangunan, 1
jenis pembiayaan pemilikan perumahan dan 1 jenis lainnya.

BAB IV : BANK SENTRAL


4.1. Fungsi Bank Sentral
Bank Sentral pada dasarnya mempunyai tugas memelihara supaya system moneter itu
bekerja secara efisien sehingga dapat menjamin tercapainya tingkat pertumbuhan kredit/uang
beredar sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tanpa
mengakibatkan inflasi. Bank sentral bertanggung jawab atas dua hal yakni : Pertama,
perumusan serta pelaksanaan kebijakan moneter. Kedua, mengatur dan mengawasi serta
mengendalikan system moneter dalam kaitannya dengan tanggung jawab yang kedua ini,
bank sentral mempunyai tugas :
a. Memperlancar lalu lintas pembayaran sehingga dapat cepat dan efesien.
b. Sebagai pemegang kas pemerintah.
Bank sentral memegang peranan yang penting dalam membantu memperlancar
kegiatan keuangan (penerimaan dan pembayaran) pemerintah dengan cara :
 Menerima pembayaran pajak
 Membantu melakukan pembayaran pemerintah (dari pusat kepada pemerintah
daerah).
 Membantu penempatan serta pengedaran surat – surat berharga pemerintah.
c. Mengatur dan mengawasi kegiatan bank – bank umum.
d. Melakukan pengumpulan serta analisa data ekonomi Nasional dan Internasional.

26
4.2. Neraca Bank Sentral
Dalam kaitannya dengan perumusan serta pelaksanaan kebijaksanaan moneter perlu
dijelaskan terlebih dahulu bentuk umum dari neraca bank sentral yang merupakan
pencerminan dari kegiatannya. Secara singkat pos – pos/ rekening utama sebagai berikut :
1. Kekayaan
Pada prinsipnya kekayaan bank sentral dapat diperoleh dengan cara menciptakan
utang terhadap dirinya sendiri. Yang termasuk kekayaan ini meliputi:
a. Cadangan meliputi
 sertifikat emas,
 Special drawing right (SDR)
 Valuta asing.
b. Pinjaman yang diberikan (loans) terutama kepada bank umum.
Bank umum dapat memperoleh pinjaman ini melalui :
 Penjualan surat berharga masyarakat yang dimiliki bank umum tersebut
kepada bank sentral.
 Pinjaman langsung dengan jaminan surat janji membayar oleh bank umum.
c. Surat berharga
d. Kekayaan lain – lain berupa tanah, gedung atau peralatan – peralatan.
2. Utang
Utang terdiri dari :
a. Uang kertas bank
b. Deposito
c. Surplus
d. Lain – lain misalnya pengeluaran yang belum dibayar.
4.3. Alat/Instrumen Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah tidakan yang dilakukan oleh penguasa moneter ( biasanya
bank sentral) untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan kredit yang pada gilirannya
akan mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Tujuan kebijaksanaan moneter, terutama
untuk stabilitas ekonomi yang diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca
pembayaran internasional yang seimbang.Kalau kestabilan dalam kegiatan ekonomi
terganggu, maka kebijaksanaan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan
stabilisasi).

27
Pada dasarnya instrument/alat kebijaksanaan yang dipakai adalah :
 Politik pasar terbuka (open market).
 Politik cadangan minimum ( reserves requirements)
 Politik diskonto (discount policy)
 Margin requirement
 Moral suasion
4.4. Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral
Undang – undang yang mengatur Bank Indonesia adalah UU No. 13 Tahun 1968
dalam pasal 7, undang – undang ini disebutkan bahwa tugas pokok Bank Indonesia adalah
membantu pemerintah dalam hal :
a. Mengatur, menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah
b. Mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta memperluas kesempatan
kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat.
4.5. Usaha – Usaha Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral
Dalam rangka melaksanakan tugas sebagai Bank Sentral maka Bank Indonesia (Pasal
41 dan 43) yatiu :
a. Memindahkan uang, dan penarikan atas saldo kredit yang ada koresponden dilakukan
secara telegram atau dengan wesel tunjuk
b. Menerima dan membayarkan kembali uang dalam rekening Koran, menjalankan
perintah untuk pemindahan uang, menerima pembayaran dari tagihan atas kertas
berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antara pihak ketiga
c. Membeli dan menjual
 wesel yang diakseptasi oleh suatu bank dengan masa berlaku yang tidak lebih lama
dari kebiasaan dalam perdagangan.
 Kertas perbendaharaan atas beban Negara
 Surat hutang Negara atau surat hutang lainnya yang tercatat pada suatu bursa efek
yang resmi yang bunga dan pelunasannya dijamin oleh Negara.
d. Membeli dan menjual cek, surat – surat berharga, kertas dagang lainnya.
e. Member jaminan bank dengan tanggungan yang cukup.
f. Menyediakan tempat penyimpanan barang – barang berharga.

28
BAB V : TEORI MONETER KLASIK
5.1. Pendahuluan
Teori ekonomi moneter klasik adalah J.B. Say, Irving Fisher dan A Marshall. J.B.Say
terkenal karena hokum yang dikemukakannya bahwa penawaran akan selalu menciptakan
permintaan (supply creates its own demand). Artinya bahwa suatu perekonomian tidak akan
mengalami underemployment atau apa yang oleh Malthus dinamakan underconsumption.
Pengeluaran total masyarakat akan selalu dapat mencukupi untuk menunjang produksi pada
keadaan kesempatan kerja penuh (full employment).
5.2. Teori Klasik Tentang Tingkat Bunga
Tabungan menurut teori klasik adalah fungsi dari tingkat bunga.Makin tingkat bunga
makin pula keinginan masyarakat untuk menabung. Artinya, pada tingkat bunga yang lebih
tinggi masyarakat akan lebih terdorong untuk mengorbankan/mengurangi pengeluaran untuk
konsumsi guna menambah tabungan.
Tingkat bunga dalam keseimbangan (artinya tidak ada dorongan untuk naik atau
turun) akan tercapai apabila keinginan menabung masyarakat sama dengan keinginan
pengusaha untuk melakukan investasi.

Gambar 5.1
Teori Klasik Tentang Tinggkat Bunga
5.2 Teori Kuantitas Uang
Teori kuantitas uang terdiri dari :
a. Teori Irving Fisher
Teori ini mendasarkan diri pada falsafah hokum Say bahwa ekonomi akan selalu
berada dalam keadaan full employment. Secara sederhana, Irving Fisher merumuskan
teorinya dengan suatu persamaan : MV = PT
b. Cambridge/Marshall Equation
Marshall memandang persamaan persamaan Irving Fisher dengan sedikit berbeda.
Secara matematika sederhana, teori marshall dapat dituliskan sebagai berikut :
M = k x Py

29
BAB VI : TEORI TEORI KEYNES
6.1 Pendahuluan
Keynes menyatakan bahwa mekanisme pasar tidak dapat secara otomatis menjamin
adanya full employment dalam perekonomian.dia menyarankan adanya peranan/campur
tangan pemerintah dalam perekonomian (khusus investasi yang lebih besar). Ide campur
tangan pemerintah dalam bidang investasi ini terdapat dalam kumpulan kuliahnya pada
Universitas Oxford yang kemudian diterbitkan pada tahun 1926 dengan judul “The End of
Laissez Faire”.
6.2 Keseimbangan Pendapatan Nasional
Dalam bukunya The General Theory, Keynes menjelaskan faktor – faktor yang
menentukan pendapatan nasional akan selalu dalam keadaan full employment dimana
keinginan masyarakat untuk menabung sama dengan keinginan perusahaan untuk melakukan
investasi (dalam arti ex ante). Dalam kenyataannya (ex post) tabungan selalu sama dengan
merupakan syarat adanya keseimbangan dalam pendapatan nasional yang selalu dalam
keadaan full employment. Keynes membantah keadaan ini dan menyatakan bahwa
pendapatan nasional yang seimbang dapat terjadi pada keadaan kurang dari full employment.
6.3. Konsumsi dan Penentuan Pendapatan Nasional (GNP)
Keynes menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi (C) terutama tergantung dari
pendapatan (Y), makin tinggi pendapatan makin tinggi konsumsi.

C = a + bY
Koefisien b merupakan lereng garis tersebut, yang menunjukkan perubahan konsumsi
∆𝐶
per unit perubahan pendapatan yang biasanya dinamakan marginal prosensity ti consume
∆𝑌

dan besarnya kurang dari 1.


6.3 Perubahan Pendapatan Nasional
Keynes tidak memberikan jaminan bahwa Y equilibrium mesti dalam keadaan full
employment.Keadaan ini mungkin terjadi, tetapi hanya karena kebetulan saja, bukan secara
otomais.Alasannya, pengeluaran investasi sifatnya tidak stabil. Pengusaha akan memperkecil
pengeluaran investasinya manakala harapannya untuk dapat menjual outputnya kecil.
Akibatnya keinginan untuk melakukan investasi turun dan dengan sendirinya pendapatan
nasional juga turun.
6.4 Peranan Pemerintah
Apabila pengeluaran Investasi swasta tidak cukup mendorong kenaikan GNP (dengan
sendirinya juga tidak cukup menciptakan kesempatan kerja), maka pengeluaran pemerintah

30
dapat menggantikannya.Menambahkan pengeluaran pemerintah serta pajak, ke dalam model
di atas tidaklah sukar.Pengeluaran, sekarang meliputi pengeluaran konsumsi (C), Investasi (I)
dan pemerintah (G).
Y=C+I+G

6.5 Pasar Uang dan Tingkat Bunga


Keynes mempunyai pandangan yang berbeda.Tingkat bunga, katanya merupakan
suatu fenonema moneter. Artinya tingkat bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan
akan uang (ditentukan dalam pasar uang). Uang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi,
sepanjang uang ini mempengaruhi tingkat bunga. Perubahan tingkat bunga selanjutnya akan
mempengaruhi keinginan untuk mengadakan investasi dan dengan demikian akan
mempengaruhi GNP. Sedangkan menurut Kaum Klasik, uang hanyalah mempengaruhi harga
barang (teori kuantitas uang).
Uang menurut Keynes adalah merupakan salah satu bentuk kekayaan yang dipunyai
seorang (portfolio) seperti halnya kekayaan dalam bentuk tabungan di bank, saham atau surat
berharga lainnya. Keputusan masyarakat mengenai bentuk susunan/komponen daripada
kekayaan mereka, berapa besar dari kekayaan mereka akan diwujudkan dalam bentuk uang
kas, tabungan atau surat berharga akan menentukan tingginya tingkat bunga.
6.6 Kebijaksanaan Moneter
Tingkat bunga akan berubah apabila terdapat perubahan dalam permintaan dan
penawaran uang. Diasumsikan bahwa permintaan uang tidak berubah, untuk menganalisis
bagaimana pengaruh penawaran uang terhadap tingkat bunga dan kegiatan ekonomi (diukur
dengan GNP)
Gambar 6.8
Efek Perubahan Jumlah Uang Terhadap Tingkat Bunga

Tingkat Bunga
(%) Rp.5 T Rp.6 T Rp.7 T

r5 G

R6 E

r7 F

Liquidity Preference

0 J2 Jo J1 Jumlah Uang dan Permintaan Uang

31
1. Penambahan JUB sebanyak Rp. 1 T mengakibatkan JUB dari Rp.6 T menjadi Rp.7 T, dan
akhirnya suku bunga turun dari r6 menjadi r7, dan setrusnya
2. Pengaruh penambahan JUB terhadap GNP dapat dijelaskan dengan tingkat bunga.
Turunnya bunga mengakibatkan investasi naik, ceteris paribus, kurva investasi bergesar
naik dan GNP naik melalui proses multiplier (gambar 6.9)
Gambar 6.9
Liquidity Trap

Tingkat Bunga
(%) Rp.5 T Rp.6 T Rp.7 T

E
r5
F
r 6,7 Liquidity Preference

0 J2 Jo J1 Jumlah Uang dan Permintaan Uang

1. Pada tingkat bunga yang sangat rendah, masyarakat berkeyakinan akan terjadi kenaikan
hingga ke tingkat yang wajar di masa yang akan datang. Pada saat ini harga surat berharga
sangat tinggi sehingga meskipun terjadi kenaikan jumlah uang berdar, masyarakat
memilih menyimpan dalam bentuk uang kas. Inilah yang disebut sebagai ”Liquidity
Trap”, bagian yang horizontal dari kurva permintaan uang.
2. Pada keadaan ini, kebijakan moneter tidak efektif sama sekali, karena setiap penambahan
JUB tidak akan digunakan untuk membeli surat berharga, tetapi disimpan dalam bentuk
uang kas

32
Gambar 6.10
Kebijakana Moneter dan Lereng Kurva Permintaan Uang

Tingkat Bunga
(%) Rp.5 T Rp.6 T

r5
r 6, datar
r 6, tegak
Liquidity Preference Datar

Liquidity Preference Tegak

0 J2 Jo J1 Jumlah Uang dan Permintaan Uang

Berdasarkan gambar di atas, maka dapat dijelaskan ;


1. Semakin datar kurva permintaan uang, kebijaksanaan moneter makin tidak efektif,
karena perubahan tingkat bunga yang ditimbulkan kecil sehingga perubahn terhadap
GNP juga kecil
2. Penambahan JUB dari Rp 5 T ke Rp 6 T akan menurunkan tingkat bunga. Pada kurva
permintaan uang datar, penurunan tingkat bunga yang kecil saja mampu mendorong
jumlah yang diminta naik dengan presentasi yang lebih besar.
3. Efektifitas kebijakan moneter tidak hanya ditentukan oleh lereng kurva permintaan
uang, tetapi oleh elastisitas kurva pengeluaran investasi terhadap tingkat bunga.
Semakin elastis kurva investasi, penurunan tingkat bunga yang kecil saja akan
mendorong naiknya investasi yang cukup besar, sehingga GNP turut naik dengan
jumlah yang besar pula.
6.7 Permintaan Uang untuk Transaksi
Kenaikan GNP mendorong permintaan uang untuk transaksi naik, dengan JUB yang
tetap, maka tingkat bunga akan berubah.

33
Gambar 6.11
Kebijakan Moneter dan Lereng Kurva Permintaan Uang

Tingkat Bunga
(%) Rp.5 T Rp.6 T

r1

ro D
Liquidity Preference 1

Liquidity Preference o

Jumlah Uang dan Permintaan Uang

1. Kenaikan GNP mengakibatkan kurva LP0 bergerak ke LP1, apabila JUB tetap maka
bunga akan naik dari ro ke r1. Sebab pada saat itu mesyarakat mengalami kelebihan
permintaan uang kas sebesar D.
2. Untuk memenuhi kekurangan tersebut, usaha yang dilakukan adalah dengan menjual
surat berharga, sehingga sampai terjadi keseimbangan hingga r1

Model Keynes belum dapat menjelaskan tentang efek kebijakan (fiskal dan moneter)
terhadap tingkat bunga dan pendapatan nasional. Akhirnya ahli ekonomi A. Hansen dan J.
Hicks mengembangkan teori Keynes edngan suatu kurva yang disebut IS dan LM.

6.8 Analisis Kebijaksanaan


a. Kurva IS

Alat analisi ini disusun dari ekonomi Keynes yang berupa uatu keseimbangan dalam
pasar barang (sektor riil). Berdasarkan pada persamaan Y = C + I + G dan S + T = I + G,
maka proses penurunan kurva IS sebagai berikut ;

Penurunan Kurva IS Secara Matematis :


(1) C = a + b(Y-T)  S = -a + (-b)Y-bT : Fungsi Konsumsi dan Tabungan
(2) I = d – n(r) : Fungsi Investasi
(3) T = e + t(Y) : Fungsi Pajak
(4) G=Ğ : Pengeluaran Pemrintah tetap
(5) Y = C + I + Ğ atau S + T = I + G : Keadaan keseimbangan

34
Dengan cara memasukkan persamaan (1) sampai dengan (2) ke persamaan (5), maka
diperoleh persamaan berikut ;
Y=C+I+G
Y = a + b(Y – e – t(Y)) + d – n(r) = Ğ
Y = a + bY – bt(Y) - eb + d – n(r) = Ğ
(1 – b + bt)Y = a – eb + d – n(r) + Ğ

a  eb  d  G n
(6) Y   r  FUNGSI IS
1  b  bt  1  b  bt 
1. Fungsi IS menunjukkan berbagai kombinasi antara tingkat pendapatan (Y) dengan
tingkat bunga (r) dalam keadaan keseimbangan (S + T = I + G)
2. Hubungan Y dengan r negatif, karena pada tingkat bunga yang lebih tinggi inveatasi
akan turun, dan demikian pulasebaliknya.

Penurunan Kurva IS Secara Grafis :


Gambar 6.12.
Penurunan Kurva IS

P
ro
Q
r1 IS
(I+G)1 (I+G)0
Y
I+G Yo Y1

(S+T)o

Keseimbangan (S+T)1
S=f(Y, T)
S+T=I+G
S+T

Kuadran A: Pada tingkat pendapatan Yo diperoleh (S+T)o melalui fungsi Tabungan.


Pada keadaan keseimbangan (kuadran B) pada (S+T)o diperoleh (I+G)o. Tingkat bunga yang
sesuai untuk (I+G)o adalah ro pada kuadran C, sehingga diperoleh titik P (koordinat antara Y
dan r) di kuadran D. Dengan cara yang sama yang dimulai dari Y1, akhirnya diperoleh
koordinat kedia antara Y dan r, yaitu titi Q. Apabila titik P dan Q dihubungkan, maka
terbentuklah kurva IS

35
b. Kurva LM

Kurva LM menggambarkan adanya keseimbangan dalam pasar uang (permintaan uang


sama dengan JUB). Secara matematis dapat dijelakan dengan model sebagai berikut ;
(7) MD = f – h (R) + k (Y) : Liquidity Preference atau permintaan uang kas
(8) M = M* : Penawaran uang (tetap, ditentukan Bank Sentral)
(9) Md = M*
Dengan menyelesaikan persamaan (7) samapai (9), maka diperoleh persamaan sebagai
berikut:
M = f – h(r) + k(Y)

 f h
(10) Y   r  FUNGSI KURVA LM
k k

Kurva LM berbentuk positif, hal ini disebabkan karena pada tingkat pendapatan yang
lebih tinggi permintaan uang kas naik. Oleh karena itu, tingkat bunga juga harus naikuntuk
menurunkan permintaan uang kas anagr seimbang dengan JUB yang relatif tetap.Secara grafis
kurva LM dapat diturunkan dengan cara sebagai berikut :

Gambar 6.13Penurunan Kurva LM


r

L
r1 M
Q
ro P
MSp0 MSp1
Y
MSp Y Y
o 1

MTo

MT1
MT=f(Y)

MT

Pada kuadran A, dimulai pada titik Yo diperoleh permintaan uang kas untuk transaksi
MTo. Dari kuadran B diketahui besar permintaan uang kas untuk spekulasi sebesar Mspo,
yaitu selisih antara JUB dikurangi MT. Tingkat bunga yang sesuai untuk Mspo adalah r0
(kuadran C, sehingga dihasilkan koordinat antara Y dan r di titik P (kuadran D. Dengan cara

36
yang sama yang dimulai pada Y1, akhirnya diperoleh titik Q, dapabila P dan Q dihubungkan
terbentuklah kurva LM.

Kebijakan fiskal dalam hal ini tidak mempengaruhi lereng maupun pergeseran kurva
LM. Karena variabel G tidak terdapat dalam kurva LM, kebijakan moneter (misal
penambahan M) akan menggeser kurva LM ke kanan bawah.

6.10. Keseimbangan Pasar Barang dan Pasar Uang

Keseimbangan pendapatan (Y) dan tingkat bunga (r) haruslah memenuhi pula adanya
keseimbangan baik dalam pasar barang (S+T = I+G) maupun dalam pasar uang (Ms = Md).
Hal ini ditunjukkan dengan perpotongan antara kurva IS dengan LM.

Hanya pada titik E dapat diperoleh dengan menyelesaikan bersama persamaan (6) dan
(10), dan hasilnya sebagai berikut ;

1  nf n M 
(11) Y   a  be  d  G   
nk  h h 
1  b  bt 
h

(12) r 
1
h(1  b  bt )  nk
ka  kbe  kd  k G  f (1  b  be)  M (1  b  bt ) 
Gambar 6.14
Keseimbangan Pasar Uang dan Pasar Barang
r
I+G=S+T
Md < Ms LM
A C
Md = Ms
I+G<S+T
E

I+G=S+T
B Md > Ms
Md = Ms D
I+G>S+T IS

6.9 Efektivitas Kebijakan Moneter dan Fiskal

Efektivitas kebijakan moneter dan fiskal diukur dengan besarnya kenaikan pendapatan
sebagai akibat kebijaksanaan tersebut. Semakin besar kenaikan pendapatan sebagai akibat
misalnya kenaikan uang maka kebijakan moneter makin efektif.

37
1. Kebijakan Moneter

Efektivitas kebijakan moneter ditentukan oleh ;


a. Lereng dan Kurva IS, yakni elastisitas investasi terhadap tingkat bunga. Makin datar
kurva IS (makin elastis I terhadap r) kebijakan moneter makin efektif. Sebab turunnya r
akibat penambahan JUB mengakibatkan naiknya I yang cukup besar. Sebaliknya makin
tegak kurva IS, maka elastisitas I terhadap r makin kecil dan kebijakan moneter makin
kurang efektif.
Gambar 6.15
Kebijakan Moneter Makin Efektif pada Kurva IS Datar
r
LM0
LM1

IS datar

IS tegak
Y
Y0 Y1 Y2

Misal dengan Kebijakan Moneter ekspansif (menambah JUB), LM0 bergeser ke LM1. efek
terhadap Y tergantung kurva IS-nya. Untuk IS datar, Y naik dari Y0 ke Y2, sedang untuk
IS tegak, kenaikan Y lebih kecil (Y0 ke Y1). Jadi makin datar kurva IS, kebijakan
moneter makin efektif.
b. Lereng Kurva LM. Yakni elastisita permintaan uang terhadap tingkat bunga. Makin datar
kurva LM (makin elastis), kebijkan moneter makin tidak efektif, dan sebaliknya.

38
Gambar 6.16
Kebijakan Moneter Makin Kurang Efektif pada LM datar
r LMT0 LMT1
LMD0
LMD1
A

IS

Y
Y0 Y1 Y2
Kebijakan moneter yang ekspansif menggerakan LM ke kanan. Perbedaannya adalah,
kurva LM yang tegak memiliki pengaruh yang jauh lebih besar (Y0-Y2) terhadap perubahan Y
dibandingkan dengan kurva LM yang datar (Y0-Y1), atau (Y0-Y2) > (Y0-Y1). Dengan
demikian makin datar LM, maka kebijakan moneter makin tidak efektif.
2. Kebijakan Fiskal
a. Lereng Kurva IS, Makin tegak kurva IS, kebijakan fiskal makin efektif, dan sebaliknya
Gambar 6.17Kebijakan Fiskal Makin Efektif pada IS Tegak
r IST0 IST1 LM

ISD1
ISD0

Y
Y0 Y1 Y2

Kebijakan fiskal (misal dengan menambah G), mengakibatkan seluruh kurva IS bergeser
ke kanan. Berdasarkan data di atas diketahui bahwa kebijakan Fiskal makin efektif pada
Kurva IS yang tegak.

39
b. Lereng Kurva LM, Makin datar kurv LM, kebijakan fiskal semakin efektif.
Gambar 6.18
Kebijakan Fiskal Makin Efektif pada LM Datar
r
LMT
LMD

IS0
IS1
Y
Y0 Y1 Y2

BAB VII : PERMINTAAN AKAN UANG


7.1 Teori Permintaan Uang Klasik
Dengan sederhana Irving Fisher merumuskan teori Kuantitas uang sebagai berikut :
MV = PT
M = Jumlah uang beredar
V = Perputaran uang dalam satu periode
P = Harga barang
T = Jumlah barang yang diperdagangkan
Beberapa versi teori ini adalah :
Dengan mengganti volume barang yang diperdagangkan (T) dengan output riil (O),
sehingga rumus teori kuantitas menjadi
MV = PO = Y
Y = PO = GNP nominal
V = Tingkat Perputaran pendapatan
Dengan menggunakan anggapan bahwa ekonomi selalu dalam keadaan kesempatan
kerja penuh/full employment (atas dasar hokum Say) maka besar T (dan juga dengan
sendirinya O) tetap tidak berubah.
Teori permintaan klasik “Cash Balance” yang dikemukakan oleh A. Marshall dai
Universitas Cambridge. andangan A. Marshall sama dengan teori klassik lainnya karena uang

40
akan cepat likuid. Menurut Cambridge permintaan uang akan dipengaruhi perilaku
masyarakat dalam memanfaatkan beberapa jenis kekayaan dan salah satunya uang
7.2 Teori Permintaan Uang Keynes
Keynes menerangkan mengapa seseorang memegang uang kas berdasarkan kegunaan
uang.Seperti kita ketahui, uang dapat berfungsi sebagai alat tukar (transaksi) dan penyimpan
kekayaan. Dalam teorinya tentang permintaan akan uang kas, Keynes membedakan antara
motif transaksi (dan berjaga-jaga) serta spekulasi. Seseorang memerlukan uang karena dia
akan melakukan transaksi dan untuk berjaga-jaga (kalau sakit, musibah dan sebagainya yang
pada akhirnyamerupakan kegiatan transaksi). Selain itu orang mau memegang uang karena
motif spekulasi. Dalam hal ini seseorang berusaha supaya hasil dari uang yang dipegang
maksimum, dengan cara mengkombinasikan uang yang dipegang dengan bentuk kekayaan
lainnya.

BAB VIII : JUMLAH UANG BEREDAR


8.1 Proses Sederhana
Guna mengetahui proses yang sederhana tentang penciptaan kredit (dus juga proses
perubahan jumlah uang beredar) maka perlu dilakukan penyederhanaan keadaan yang nyata
terjadi melalui penggunaan beberapa anggapan. Anggapan ini tentu saja tidak realistis.
Namun, apabila proses sedarhana ini sudah dipahami, dengan menanggalkan/mengubah
anggapan-anggapan tersebut bisa dipahami proses yang lebih kompleks tanpa kehilangan
jejak.Anggapan-anggapan itu adalah :
a. Cadangan minimum 10%
b. Masyarakat tidak akan mampu mengubah jumllah uang kas yang dipegang (tidak ada
“cash drain” dalam proses).
c. Semua kelebihan reserves dipinjamkan (loaned up).
d. Hanya ada satu macam deposito (semuanya giro/demand deposit).
8.2 Modifikasi Anggapan 2: Adanya Kebocoran Kas (Cash Drain)
Dalam hal ini digunakan anggapan bahwa apabila deposito berubah masyarakat akan
mengubah jumlah uang kas yang dipegang dengan proporsi (imbangan) tertentu, misalnya
untuk setiap Rp10,00 transaksi deposito, mereka akan memegang uang kas Rp5,00 lebih besar
dari semula. Secara formula, anggapan ini dapat diformulasikan sebagai berikut:
∆𝑪
K = ∆𝑫

41
dimana:
K = Proporsi uang kas
C = Uang kas yang dipegang.
D = Transaksi deposito.
Jadi, setiap bank yang memberikan pinjaman kepada nasabah sebesar kelebihan
cadangannya, oleh nasabah tersebut tidak semua didepositokan pada bank yang lain, tetapin
disimpan/ditahan dalam bentuk uang kas (merupakan “cash drain”).
8.3 Modifikasi Anggapan 3: Adanya Kelebihan Cadangan
Anggapan ketiga adalah tidak adanya kelebihan cadangan. Semua kelebihan ini oleh
Bank dipinjamkan semuanya. Adanya perubahan anggapan ini tidak mengubah proses
penciptaan uang seperti pada modifikasi anggapan kedua.
∆𝑬
X = ∆𝑫

di mana X adalah proporsi kelebihan cadangan yang ditahan terhadap deposito, dan E adalah
kelebihan cadangan yang ditahan.
Sekarang, tambahan deposito mula-mula berbentuk tiga, yakni tambahan deposito,
uang kas dan kelebihan cadangan.
B = RD + C + E ;
di mana :
E = D
E = XD
Dengan metode subtitusi diperoleh hasil:
B = RD + KD + XD
= D(R + K + X)
D = B
Persamaan ini menggambarkan proses penciptaan deposito. Perubahan jumlah uang
berdar dapat diperoleh dengan cara yang sama seperti modifikasi dua, yakni sebagai berikut:
M = D (1 + K)
M = B
8.4 Modifikasi Anggapan 4: Adanya Pembedaan Giro Dan Deposito Berjangka (Time
Doposit) Dan Adanya Sektor Pemerintah
Dengan adanya pembedaan antara giro dan deposito berjangkah. Maka cadangan
minimumnya juga dibedakan. Deposito berjangka cadangan minimum umumnya lebih

42
rendah. Demikian juga deposito dari pemerintah terkena cadangan minimum. Dengan adanya
ketiga jenis deposito ini maka formulasi yang semula bentuknya D = RS.
Dituliskan RS = R.D, menjadi RS =R(D + T +G ), di nama T adalah deposito
berjangka ( time deposito), dan G adalah deposito pemerintah pada bank umum.
Meskipun deposito berjangka tidak masuk dalam pengertian/ definisi uang, namun
karena sering bank sentral mengenakan cadangan minimum maka hal ini akan mempengaruhi
keinginan masyarakat untuk mempunyai deposito berjangka. Dari sini bisa diketahui berapa
perubahan jumlah uang sebagai akibat perubahan uang inti. Untuk masyarakat
mempengaruhi jumlah uang.
T = t D atau
T = T/D;
Dimana:
T = Deposito berjangka
t = proporsi deposito berjangka terhadap giro (demand deposito)

BAB IX : DASAR – DASAR TEORI TINGKAT BUNGA


9.1 Pengertian Dasar
Dalam kaitannya dengan tingkat harga, pertanyaan timbul ” apa peranan tingkat
bunga” seperti halnya harga kopi dan teh di atas tingkat bunga tidak lain adalah harga yang
terjadi di pasar uang dan modal. Jadi tingkat bunga juga mempunyai fungsi alokatip dalam
perekonomian, khususnya dalam penggunaan uang atau modal.
9.2 Fungsi Tingkat Bunga Dalam Perekonomian
Dua masalah pokok yang harus dipecahkan oleh setiap sistem ekonomi adalah,
pertama beberapa banyak faktor produksi yang harus digunakan atau dilokasikan untuk
menghasilkan beberapa barang yang bebeda pada waktu atau saat yang bersamaan. Misalnya,
kayu jati gelondongan itu dapat di buat untuk kayu gergajian, meja, kursi, almari atau pintu.
Dalam sistem ekonomi pasar, alokasi penggunaan kayu gelondongan tersebutdi tentukan oleh
harga meja, kursi, almari, pintu atau kayu gergaji. Kedua, adalah masalah alokasi penggunaan
faktor produksi untuk menghasilkan barang yang akan digunakan sekarang atau dikemudian
hari. Fungsi yang kedua adalah yang antara lain dilakukan oleh tingkat bunga, yakni alokasi
faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang di pakai sekarang dan dikemudian
hari.
Seluruh warga masyarakat mempunyai keharusan melakukan alokasi faktor produksi
untuk penggunaan sekarang dan nanti. Hanya metodenya yang berbeda antara satu Negara

43
dengan negara lain. Ada yang mendasarkan alokasi ini pada tradisi, terutama untuk
masyarakat yang belum maju, yakni dengan menyisihkan sebagian dari hasil yang diperoleh
sekarang untuk penggunaan di waktu yang akan datang. Seperti yang dilakukan di Rusia
alokasi ini lebih banyak di tentukan oleh pemerintah. Tetapi pada sistem ekonomi pasar
(seperti di Amerika Serikat), alokasi antara nanti dan sekarang adalah hasil interaksi
keputusan masing-masing individu.
9.3 Kurva Berbagai Kesempatan Melakukan Investasi (The Investment – Opportunity
Curve)
Untuk mengetahui sifat masalah ekonomi diatas, akan lebh mudah di pahami apabila
disajikan suatu contoh. Dengan contoh yang sederhana diharapkan prinsip-prinsip utama
masalah alokasi antarwaktu (sekarang dengan nanti) dapat dengan mudah dijelaskan.
Misalnya suatu masyarakat yang hidup di sekitar hutan kayu jati dan hanya ada satu jenis
barang yang dihasilkan, yakni kayu gergajian. Apabila masyarakat tersebut makin banyak
penebang kayu jati di hutan, tahun ini, maka makin sedikit kayu jati yang akan bisa ditebang
tahun yang akan bisa ditebang tahun yang akan datang. Namun, banyaknya kayu jadi
gergajian. Apabila masyarakat tersebut makin banyak menebang kayu jati di hutan, tahun ini,
maka makin sedikit kayu jati yang akan bisa ditebang tahun yang akan datang. Namun,
banyaknya kayu jadi gergajian yang dihasilkan sekarang dengan tahun yang akan datang tidak
satu banding satu. Artinya kalau tahun ini menghasilkan 10 kayu gergajian lebih banyak tidak
berarti tahun depan produksi kayu gergajian turun dengan 10 buah. Masalah yang dihadapi
masyarakat tersebut adalah penentuan jumlah pohon yang ditebang tahun ini dan tahun depan.
Dengan kata, masyarakat tersebut perlu menyelesaikan masalah alokasi alokasi antara jumlah
produksi tahun ini dengan tahun depan.
9.4 Pilihan Waktu
Ada beberapa cara untuk memecahkan masalah pilihan waktu ini, yakni melalui
tradisi, keputusan pemerintah serta pilihan individu.
Yang dimaksud dengan cara tradisi adalah masyarakat itu melakukan pilihan atas
dasar apa yang dipakai nenek moyangnya, tanpa adanya perubahan dan selalu berulang begitu
seterusnya. Dengan cara ini maka masyarakat tersebut akan memilih, misalnya pada titik C,
menebang secukupnya tahun ini guna memperoleh kayu gergajian sebanyak 10 buah tahun
depan. Cara ini terus tetap di pertahankan dari tahun ke tahun tanpa perubahan.
Pilihan yang didasarkan atas keputusan pemerintah secara sederhana dapat dijelaskan
dengan contoh sebagai berikut. Seandainya perintah ini dapat diibaratkan sebagai seorang
“raja” yang dapat menentukan berapa kayu gergajian yang dihasilkan tahun ini dan berapa

44
tahun depan yang berlaku bagi sekelompok masyarakat. Bagaiman caranya si raja ini
menentukan jumlah tersebut?

BAB X : PERMINTAAN DAN PENAWARAN AGREGAT


1. Permintaan Agregat
Variabel riil diperoleh dengan membagi variabel nominal dengan indeks
harga.Dengan demikian, konsumsi rill adalah konsumsi nominal dibagi dengan
indeks harga.Konsumsi riil menunjukkan berapa banyaknya barang (phisik) yang
dikonsumsikan dengan pengeluaran sejumlah uang tertentu. Kurva IS
menunjukkan berbagai kombinasi antara pendapatan dengan tingkat bunga dalam
mana pasar barang dalam keadaan keseimbangan tidak akan terpengaruh
meskipun anggapan harga stabil diubah.
2. Faktor yang Mempengaruhi Lereng Kurva Permintaan Agregat
Seperti halnya pada pergeseran kurva permintaan agregat, maka lereng kurva
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
 Elastisitas permintaan uang terhadap tingkat bunga
 Elastisitas permintaan uang terhadap pendapatan
 Elastisitas pengeluaran investasi terhadap tingkat bunga
 Besarnya multiplier.
Sehingga dapat disimpulkan sebagai berikut:
 Elastisitas permintaan uang terhadap tingkat bunga makin kecil
 Elastisitas investasi terhadap tingkat bunga makin besar
 Elastisitas permintaan uang terhadap pendapatan makin kecil
 Angka multiplier makin besar.
3. Penawaran Agregat
Analisa IS-LM dan permintaan agregat menggunakan anggapan bahwa produsen akan
selalu menyediakan output sesuai dengan apa yang diminta pada harga tertentu. Dengan
demikian, pada harga tertentu kita dapat menentukan besarnya output, tingkat bunga serta
permintaan uang.Apabila harga berubah, maka besaran tersebut juga berubah. Dengan
menghubungkan harga dengan output yang diminta dapatlah diperoleh kurva permintaan
agregat.
Namun untuk analisa inflasi tidaklah cukup hanya menganalisa efek perubahan harga
terhadap output tetapi juga haruslah dianalisa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya

45
perubahan harga. Kirva permintaan agregat belum cukup untuk emnganalisa harga.Karena
pada prinsipnya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran, maka analisa harga
haruslah dilengkapi dengan penawaran agregat.Kurva penawaran agregat diperoleh memalui
analisa fungsi produksi serta pasar tenaga kerja.
a. Fungsi Produksi
Untuk menghasilkan output, seorang pengusaha perlu mengkombinasikan penggunaan
faktor produksi seperti tenaga, modal, tanah, mesin serta peralatan lain. Cara dalam
mana faktor produksi ini dikombinasikan untuk menghasilkan output biasanya
dinyatakan dalam suatu hubungan yang disebut dengan fungsi produksi. Fungsi
produksi menggambarkan juga sampai seberapa jauh faktor produksi tersebut dapat
saling mengganti untuk menghasilkan sejumlah tertentu output.
b. Pasar Tenaga Kerja
Nilai tambahan output sebagai akibat tambahan satu unit tenaga kerja disebut dengan
nilai produk marginal (value of marginal product), yakni produk marginal dikalikan
dengan harga output (dengan anggapan pengusaha menghadapi pasar persaingan
sempurna). Pengusaha akan menambah tenaga kerja selama nilai produk marginal ini
masih lebih tinggi dari upah tenaga kerja yang dibayarkan. Penambahan tenaga kerja
akan berhenti manakala nilai produk marginal sama dengan upah. Secara formula
dapat dituliskan sebagai berikut:
MPL x P = W
dimana:
MPL = produk marginal tenaga kerja
P = harga output
W = upah tenaga kerja
c. Penawaran Agregat
Dengan menggabungkan analisa penawaran dan permintaan akan tenaga kerja
denganfungsi produksi dapatlah kemudian diturunkan/diperoleh kurva penawaran
agregat. Pada prinsipnya ada dua pendapat tentang penawaran agregat, yakni Klasik
dan Keynes.
Anggapan yang dipakai pada penawaran agregat versi klasik adalah: harga dan upah
bebas berubah, persaingan sempurna serta individu mempunyai informasi pasar yang
sempurna (complete information). Anggapan informasi yang sempurna
memungkinkan apa yang diperkirakan akan sesuai dengan kenyataan. Dengan

46
perkataan lain harga harapan (expexted price) sama dengan harga yang betul-betul
terhadi (Actual price), Pe = P.
Penawaran agregat versi Keynes yaitu Keynes membuat sutu model guna
menerangkan kemungkinan terjadinya keseimbangan ekonomi yang ditandai dengan
adanya pengangguran. Anggapan yang dipakai diantaranya adalah:
 Buruh tidak mempunyai informasi yang sempurna sehingga mereka tidak
mengetahui adanya alternatip kegiatan/pekerjaan lain serta reaksi mereka terhadap
perubahan upah relatip lambat.
 Tidak mudah terjadi penurunan upah (rigid wage). Hal ini timbul karena Keynes
berkeyakinan bahwa buruh akan menolak penurunan upah nominal meskipur
harga-harga relatip stabil dibandingkan dengan turunnya upah rill dikarenakan
kenaikan harga.

BAB XI : INFLASI
1. Pengertian Dasar
Yang dimaksud dengan inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang-
barang secara terus menerus. Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu
naik dengan persentase yang sama. Mungkin dapat terjadi kenaikan tersebut tidaklah
bersamaan.Yang penting terdapat kenaikan harga umum barang secara terus-menerus selama
suatu periode tertentu.Kenaikan yang terjadi hanya sekali saja bukanlah merupakan inflasi.
Kenaikan harga ini diukur dengan menggunakan index harga. Beberapa indeks harga yang
sering digunakan untuk mengukur inflasi antara lain :
- Indeks biaya hidup
- Indeks harga perdagangan besar
- GNP deflator
Indeks biaya hidup mengukur biaya/pengeluaran untuk membeli sejumlah barang dan
jasa yang dibeli oleh rumah tangga untuk keperluan hidup.Indeks perdagangan besar
menitikberatkan pada sejumlah barang pada tingkat perdagangan besar.GNP deflator
diperoleh dengan membagi GNP nominal (atas dasar harga berlaku) dengan GNP rill (atas
dasar harga konstan.
𝐆𝐍𝐏 𝐍𝐨𝐦𝐢𝐧𝐚𝐥
𝐆𝐍𝐏 𝐝𝐞𝐟𝐥𝐚𝐭𝐨𝐫 = 𝐱 𝟏𝟎𝟎
𝐆𝐍𝐏 𝐑𝐢𝐥𝐥

47
2. Jenis Inflasi Menurut Sifatnya
Atas dasar besarnya laju inflasi, dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yakni: Inflasi
merayap (creeping Inflation), yaitu inflasi yang besarnya kurang dari 10% pertahun. Inflasi
menengah (galloping inflation) ditandai dengan kenaikan harga cukup besar (biasanya double
digit atau bahkan triple digit).Inflasi tinggi (hyper inflation), merupakan inflasi yang paling
parah akibatnya.Harga-hagra naik sampai 5 atau 6 kali.
3. Jenis Inflasi Menurut Sebabnya
Menurut teori kuantitas sebab utama timbulnya inflasi adalah kelebihan permintaan yang
disebabkan karena penambahan jumlah uang beredar.
a. Demand Pull Inflation.
Inflasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (agregate demand),
sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir
mendekati kesempatan kerja penuh. Dalam keadaan hampir kesempatan kerja penuh,
kenaikan permintaan total disamping menaikkan harga dapat juga menaikkan hasil
produksi. Apabila kesempatan kerja penuh telah dicapai; penambahan permintaan
selanjutnya hanyalah akan menaikkan harga saja. Apabila kanaikan permintaan ini
menyebabkan keseimbangan GNP berada di atas/melebihi GNP pada kesempatan
kerja penuh makan akan terdapat adanya “inflationary gap”. Inflationary gap inilah
yang dapat menimbulkan inflasi.
b. Cost Push Inflation.
Ditandai dengan kenaikan harga serta turunnya produksi.Jadi, inflasi yang dibarengi
dengan resesi. Keadaan ini timbul biasanya dimulai dengan adanya penurunan dalam
penawaran total sebagai akibat kenaikan biaya produksi.
4. Efek Inflasi
Inflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan, alokasi faktor produksi serta produk
nasional. Efek terhadap distribusi pendapatan diantaranya yaitu :
a. Efek terhadap distribusi pendapatan (Equity Effect)
c. Efek terhadap efisiensi (Efficiency Effects)
b. Efek terhadap output (Output Effects)

5. Cara Mencegah Inflasi


a. Kebijakan Moneter
Sasaran kebijakan moneter dicapai melalui pengaturan jumlah uang beredar (M).Salah
satu komponen jumlah uang adalah uang giral.Bank sentral dapat mengatur uang giral

48
ini melalui penetapan cadangan minimum.Untuk menekan laju inflasi cadangan
minimun dinaikkan sehingga jumlah uang menjadi lebih kecil
b. Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintah serrta
perpajakan yang secara langsung dapat mempengaruhi permintaan total dan dengan
demikian akan mempengaruhi harga. Inflasi dapat dicegah melalui penurunan
permintaan total. Kebijakan fiskal yang berupa pengurangan pengeluaran pemerintah
serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaan total, sehingga inflasi dapat
ditekan.
c. Kebijakan yang berkaitan dengan Output
Kenaikan Output dapat memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output ini dapat
dicapai misalnya dengan kebijaksanaan penurunan bea masuk sehingga impor barang
cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang didalam negeri cenderung
menurunkan harga.
d. Kebijakan Penentuan Harga dan Indexing
Ini dilakukan dengan penentuam ceiling harga, serta mendasarkan pada indeks harga
tertentu untuk gaji ataupun upah (dengan demikian gaji/upah secara riil tetap).Kalau
indeks harga naik maka gaji/upah juga dinaikan.

BAB XII : KEBIJAKSANAAN MONETER


Kebijaksanaan moneter merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
kegiatan ekonomi. Banyak faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi
namun faktor-faktor ini di luar kontrol pemerintah. Tetapi kebihaksanaan moneter merupkan
faktor yang dapat dikontrol oleh pemerintah sehingga dengan demikian dapat dipakai untuk
mencapai sasaran pembangunan ekonomi.
1. Mekanisme Transmisi Kebijaksanaan Moneter
Ada beberapa jalur dalam mana perubahan jumlah uang mempengaruhi ekonomi
(biasanya kegiatan ekonomi diukur dengan pengeluaran total masyarakat) diantaranya:
a. Jalur Biaya Modal
Dalam ekonomi Keynes, tingkat bunga merupakan penghubung utama antara sektor
moneter dengan sektor riil. Perubahan jumlah uang misalnya, akan mempengaruhi
tingkat bunga. Perubahan tingkat bunga akan mempengaruhi investasi atau bahkan
mungkin juga konsumsi.

49
b. Jalur Kekayaan
Pengaruh perubahan jumlah uang terhadap pendapat nasional dapat juga melalui jalur
kekayaan. Pengertian kekayaan yang biasanya meliputi:
- Kekayaan yang berupa phisik (rumah, tanah dan sebagainya)
- Surat berharga
- Uang tunai
Perubahan nilai uang kas riil baik disebabkan oleh karena turunnya harga ataupun
naiknya jumlah uang akan mempengaruhi tingkat konsumsi.
c. Jalur Harga Relatip
Teori portofolio merupakan dasar yang rasional mengapa seseorang memengang
sesuatu (beberapa) kekayaan tertentu termasuk uang. Beberapa anggapan teori ini
antara lain:
- Setiap orang akan selalu berusahan utnuk menyamakan pendapatan marginal dan
masing-masing bentuk kekayaan dalam portfolio.
- Bertambahnya salah satu bentuk kekayaan akan menurunkan harga bentuk
kekayaan tersebut relatip terhadap bentuk kekayaan yang lain.
- Individu tersebut akan menukarkan bentuk kekayaan yang harganya turun tersebut
dengan bentuk kekayaan lain yang harganya lebih tinggi.
- Proses pertukaran tersebut sampai pendapatan marginal dari masing-masing bentuk
kekayaan sama besar.

Perubahan harga relatip sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses


penyesuaian susunan portofolio seseorang. Kenaikan jumlah uang akan dapat menaikkan
pendapat.

2. Tenggang Waktu (LAG) Efek dari Kebijaksanaan Moneter


Kebijaksanaan moneter untuk tujuan stabilisasi ekonomi tergantung pada, pertama
kuat/tidaknya hubungan antara perubahan kebijaksanaan moneter dengan kegiatan ekonomi
dan kedua jangka waktu antara perubahan kebijaksanaan moneter dengan efeknya terhadap
kegiatan ekonomi. Outside/impact lag adalah waktu antara perubahan dalam instrumen
kebijaksanaan moneter (t2) dengan efek dari kebijaksanaan moneter tersebut dalam kegiatan
ekonomi. Lag ini mengukur lamanya waktu dalam mentransfer perubahan kebijaksanaan
moneter dengan efeknya terhadap kegiatan ekonomi (t3).

50
Masalah lag ini sangat penting terutama dalam kaintannya dengan kebijaksanaan
moneter. Karena adanya tenggang waktu (lag) inilah yang sering kebijaksanaan moneter yang
ditujukan untuk stabilisasi kegiatan ekonomi malah berakhir dengan ketidakstabilan.
3. Kebijaksanaan Moneter dalam Keadaan Ketidakpastian
Para pengambil keputusan biasanya tidak mempunyai pengetahuan yang sempurna
tentang keadaan ekonomi serta kesulitan dalam melakukan peramalam secara teliti
dikarenakan beberapa faktor yang sukar diduga sebelumnya, seperti misalnya: pemogokan,
perang atau krisis moneter. Dengan demikian, Pencapaian target kebijaksanaan sulut secara
tepat diperoleh, mungkin efek sampingan harus diterima.Seperti misalnya, harus menderita
tingkat inflasi yang lebih tinggi untuk beberapa bulan, supaya target pertumbuhan tercapai.
Strategi penguasa moneter adalah memilih instrumen kebijaksanaan moneter (menentukan
tingkat bunga atau jumlah uang beredar) yang memberikan “policy error” (penyimpangan dari
target) paling kecil.Kalau semuanya serba pasti, kedua instrumen itu tidak ada bedanya, sama-
sama bisa mencapai target yang diinginkan).
4. Crowding Out
Crowding out biasanya menunjukkan efek kebijaksanaan fiskal terhadap kegiatan
ekonomi.Apabila penambahan pengeluaran pemerintah (investasi pemerintah), apakah itu
dibiayai dengan penarikan pajak ataupun dengan pengeluaran obligasi, tidak dapat
mendorong kegiatan ekonomi/efeknya terhadap kegiatan ekonomi nol, maka diaktakan bahwa
telah terjadi crowding out pengeluaran investasi swasta oleh investasi pemerintah.Kenaikan
investasi pemerintah diimbangi dengan penurunan investasi swasta.
5. Implimentasi Kebijaksanaan Moneter
Indikator kebijaksanaan moneter adalah variabel ekonomi yang memberikan informasi
tentang gerakan.perubahan dalam sektor riil apakah sudah bergerak ke arah sasaran yang
diinginkan atau belum.Dengan melihat indikator ini dapat diperkirakan apakah arah
kebijaksanaan moneter itu sejalan/menuju kesasaran yang ingin dicapai atau tidak.Kalau
tidak, penguasa moneter dapat mengubah instrumen kebijaksanaan moneter. Dengan
demikian indikator ini memberikan informasi apakah sasarannya akan tercapai atau tidak.
Biasanya variabel moneter yang dipakai sebagai indikator adalah tingkat bunga dan jumlah
uang yang beredar.

51
BAB XIII : PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDAPAT ANTARA KEYNESIAN
DAN MONETARIST
1. Persamaannya
Pada permulaannya, perbedaan antara keduanya terletak pada peranan uang dan
kebijaksanaan moneter terhadap kegiatan ekonomi.Monetarist berpendapat bahwa jumlah
uang merupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi kegiatan ekonomi.Pada mulanya
Keynes tidak sependapat, namun mereka kemudian dapat menerima arti pentingnya jumlah
uang serta kebijaksanaan moneter dalam perekonomian.Hanya saja peranan pemerintah lebih
besar dibanding dengan kebijaksanaan moneter Bank Sentral.
Dalam hal mekanisme transmisi, antara kedua keompok ini telah ada kesepakatan terutama
mengenai teori portofolio. Proses transmisi kebijaksanaan moneter merupakan proses
penyesuaian portfolio individu yang kemudian dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi.
2. Perbedaannya
Beberapa perbedaan yang penting antara Keynesian dengan Monetarist antara lain:
a. Sektor Swasta

Monetaris cenderung berpendapat bahwa sektor swasta relatif stabil. Alasannya,


bahwa pengeluaran sektor swasta ini didasarkan pada teori pendapatan permanen, sehingga
pengeliaran konsumsi akan relatip stabil. Pengeluran konsumsi merupakan komponen
pengetahuan yang paling besar dan hanya berubah secara perlahan yakni dalam rangka
individu menyesuaikan konsumsi dengan perkiraan pendapatan permanen dalam jangka
panjang.

Sebaliknya Keynesia berpendapat bahwa sektor swasta ini pada dasarnya tidak
stabil.Pergeseran sikap dan perkiraan dari pengusaha dan konsumen menyebabkan timbulnya
ketidakpastian yang harus diambil kebijaksanaan moneter atau fiskal untuk
menstabilkan.Disamping itu, ketidakstabilan sektor swasta ini juga disebabkan oleh harga
yang tidak flexibel.
b. Kebijaksanaan Moneter dan Fiskal
Menurut Monetarist, pengaruh kebijaksanaan moneter bterhadap permintaan agregat
itu langsung. Artinya tambahan uang kas itu tidak dibelikan surat berharga sehingga
menyebabkan harga surat berharga naik (atau tingkat bunga turun) yang kemudian akan
mendorong investasi, tetapi langsung dibelikan barang(substitusi antara uang dan barang).
Sedangkan Keynesian berpendapat bahwa pengaruh kenaikan jumlah yang terhadap
kegiatan ekonomi itu tidak langsung, tetapi melalui beberapa jalur.Salah satu jalur adalah

52
tingkat bunga. Kebijakan moneter yang ekspansip akan menyebabkan penurunan tingkat
bunga sehingga dapat mendorong investasi naik.
Kebijakan fiskal menurut Monetarist akan menimbulkan apa yang disebut “Crowding
out”. Artinya, kenaikan pengeluran pemerintah akan mendorong tingkat bunga naik, sehingga
akan mencekik investasi swasta. Hasilnya permintaan agregate tidak berubah, sebab kenaikan
pengeluran pemerintah diimbangi dengan turunnya investasi swasta.
Keynesian berpendapat, cara pembiayaan apapun efek dari kebijaksanaan fiskal tetap
akan ekspansip. Pembiayaan dengan pencetakan uang lebih efektip dibanding dengan
penjualan obligasi, dan yang paling keciul efeknya adalah dengan kenaikan pajak.
c. Inflasi
Monetarist berpendapat bahwa inflasi merupakan phenomena moneter.Artinya, inflasi
selalu timbul sebagai akibat bertambahnya jumlah uang. Kenaikan permintaan agregate akan
mengakibatkan kenaikan harga. Faktor utama dari permintaan agregate naik adalah kenaikan
jumlah uang.Dengan demikian monetarist menyalahkan Bank Sentral sebagai biang keladi
terjadinya inflasi.Inflasi timbul sebagai akibat tambahnya jumlah uang.
Keynesian berpendapat bahwa kenaikan permintaan agregate tidak saja berasal dari
Bank Sentral, tetapi juga dari kenaikan pengeluaran investasi oleh pengusaha dan pemerintah
maupun pengeluaran konsumsi.Dalam hal ini terjadinya inflasi Keynesian lebih menyalahkan
pemerintah karena pengeluaran yang melebihi penerimaan.
d. Tingkat Bunga
Menurut Keynes, penambahan jumlah uang akan menurunkan tingkat bunga.
Turunnya tingkat bunga sebagai akibat kelebihan likuiditas jauh lebih besar dari kenaikan
tingkat bunga sebagai akibat kenaikan pendapatan sehingga hasil akhirnya tingkat bunga lebih
rendah dari tingkat awal (i1 < i0).
Sebaliknya monetarist berpendapat bahwa tingkat bunga akhirnya akan lebih tinggi
dari tingkat awal. Alasannya, pengaruh kenaikan pendapatan terhadap kenaikan tingkat bunga
lebih besar dari penurunan tingkat bunga sebagai akibat dari adanya kelebihan likuiditas.
e. Jumlah Uang Beredar
Keynesian tidak memandang bahwa jumlah uang merupakan faktor eksogen seperti
halnya Monetarist.Monetarist menganggap bahwa perubahan jumlah uang tidak terpengaruh
kegiatan ekonomi. Dengan kata lain jumlah uang merupakan faktor eksogen. Keynesia
sebaliknya, menganggap bahwa jumlah yang sangat dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi.
Guna melihat pengaruh kegiatan ekonomi terhadap jumlah uang, dapat digunakan dengan
rumusan jumlah uang sebagai berikut:

53
𝟏+𝐤
Δ M = 𝐫 (𝟏+𝐭+𝐠)𝐤 𝜟𝐌𝐁

ΔM = tambahan jumlah uang beredar


Δ MB = tambahan uang inti
k = proporsi uang kerta terhadap giro
t = proporsi deposito berjangka terhadap giro
g = proporsi deposito pemerintah terhadap giro
f. Indikator Kebijaksanaan Moneter
Indikator ini memberikan informasi tentang sifat serta arah kebijaksanaan moneter,
apakah merupakan kebijaksanaan yang kontraktip atau ekspansip serta apakah sudah
mengarah pada sasaran atau belum. Keynesian berbeda di dalam mengginterpretasi variabel
indikator, semata-mata berdasarkan pandangannya tentang mekanisme transmisi
kebijaksanaan moneter.Monetaris lebih menekankan pada mekanisme trasmisi langsung,
yakni adanya hubungan langsung antara jumlah uang beredar dengan kegiatan ekonomi
dengan menganggap adanya kestabilan dalam permintaan uang.
g. Model Ekonometri
Sebagai refleksi pandangan Keynesian tentang mekanisme transmisi tidak langsung,
maka dalam menyusun model ekonometri dengan memeprgunakan persamaan yang cukup
besar.Sebaliknya, monetarist lebih menekankan pada model yang kecil, merupakan refleksi
pandangan mereka tentang mekanisme tranmisi yang langsung.
h. Kebijakan Stabilisasi
Keynesian lebih menekankan kebijaksanaan stabilisasi (moneter dan fiskal) yang
sifatnya discreationary.Artinya, kebijaksanaan moneter dan fisjal harus diubah-ubah sesuai
dengan keadaan perekonomian dan sifatnya contracyclical. Menurut Monetaris tidak perulu
dilakukan kebijaksanaan stabilisasi yang sifatnya discretiaonary (aktip) itu mereka menolak
kebijaksanaan fiskal sebab dapat menimbulkan apa yang disebut crowding out.

BAB XIV : KEBIJAKSANAAN FISKAL


1. Indikator Kebijaksanaan Fiskal
Kebijaksanaan fiskal terdiri dari perubahan pengeluaran pemerintah atau perpajakan
dengan tujuan untuk mempengaruhi besar serta susunan permintaan agregat (khususnya
permintaan swasta).Indikator yang biasa dipakai (meskipun kadangkala menyesatkan) untuk
kebijaksanaan fiskal ini adalah budget defisit, yakni selisih antara pengeluaran pemerintah

54
(dan juga pembayaran transfer) dengan penerimaan (terutama dari pajak). Secara formula
dapat dirumuskan sebagai berikut:
Def = G – t Y + R
dimana:
g = pengeluaran pemerintah
t = tarip pajak
Y = pendapatan nasional
R = pengeluaran untuk transfer
Namun demikian, perumusan yang sederhana ini kurang/tidak tepat.Defisit ini bukan
merupakan indikator yang tepat (bagus) bagi kebijaksanaan fiskal.Hal ini disebabkan pertama,
penerimaan pajak dan transfer tergantung dari pendapatan. Oleh karena itu semua faktor yang
mempengaruhi pendapatan tertentu akan mempengaruhi defisit. Dengan demikian defisit ini
tidak lagi merupakan variabel eksogen, sehingga kurang tepat dipakai sebagai indikator
kebijaksanaan fiskal, karena besarnya defisit sukar dikontrol/dikendalikan oleh pemerintah
(merupakan variabel endogen).
Pemerintah dapat mempengaruhi defisit dengan merubah G, t atau R, tetapi ini semua
bukan merupakan satu-satunya faktor, misalkan iklim investasi yang kurang baik sehingga
para investor enggan melakukan investasi, akibatnya akan menurunkan pendapatan (Y).
Turunnya pendapatan akan mengurangi penerimaan pajak sehingga defisit pemerintah
dapat membesar meskipun tidak adaperubahan G, t ataupun R. Oleh karena itu apabila kita
mengukur kebijaksanaan fiskal itu dengan besarnya defisit anggaran pemerintah
kemungkinan besar keliru.
Faktor kedua yang mempengaruhi defisit anggaran pemerintah ini adalah
kebijaksanaan moneter yang ekspansif cenderung menaikkan pendapatan, sehingga kontraktip
cenderung menurunkan pendapatan. Pada akhirnya kedua-keduanya akan mempengaruhi
penerimaan pajak, dengan demikian juga akan mempengaruhi defisit anggaran belanja. Oleh
karena itu kita akan keliru apabila menggunakan defisit anggaran belanja untuk mengukur
kebijaksanaan fiskal pemerintah.
2. Defisit pada Keadaan Full Emplyment (The Full Employment Defisit)
Full employment defisit adalah defisit anggaran belanja yang harus ditanggung oleh
pemerintah apabila hendak mencapai keadaan ekonomi pada kesempatan kerja penuh. Secara
ringkas dapat dirumuskan sebagai berikut:
FED = G – t Y FE + R

55
dimana :
YFE = pendapatan pada keadaan full employment
Karena FED menggunakan nilai hipotesis penerimaan pemerintah pada keadaan full
employment maka besar kecilnya nilai ini tidak tergantung pada permintaan yang nyata
(actual demand). Dengan demikian penambahan FED tergantung perubahan t, G dan R
sehingga dapat dipakai sebagai indikator kebijaksanaan fiskal.
Dalam sistem pajak yang progresip, apabila terjadi inflasi penerimaan pajak naik dan
FED turun meskipun tidak ada perubahan kebijaksanaan fiskal. Kedua karena penerimaan
pajak sangat tergantung pada tingkat produksi, maka pertumbuhan ekonomi akan menaikkan
YFE sehingga akan mengurangi FED. Ketiga, bahwa pajak pengeluaran pemerintah serta
transfer mempunya multiplier yang berbeda-beda, sehingga mengurangi kegiatan ekonomi
melalui kebijakan fiskal, meskipun FED tidak berubah.Yang penting dalam memilih indikator
ini adalah bahwa indikator tersebut harus sejalan dengan kebijaksaan fiskal.Artinya, indikator
harus menunjukkan kenaikan apabila kebijaksanaan fiskal sifatnya ekspansip, dan
menunjukkan penurunan kebijaksanaan fiskal sifatnya kontraktip.
3. Defisit dan Cara Pembiayaannya
Seperti halnya rumah tangga, pemerintah juga melakukan pembelian barang dan jasa
dari penerimaan yang diperoleh dari pajak. Apabila pengeluaran melebihi penerimaan, maka
kelebihan pengeluaran ini harus ditutup dengan suatu dana. Dana ini dapat diperoleh melalui
penjualan surat berharga (obligasi) kepada: bank sentral, masyarakat ataupun orang asing.
Pengaruh berbagai cara pembiayaan defisit terhadap perekonomian dapat dijelaskan
dengan menggunakan model permintaan dan penawaran agregate dengan sedikit modifikasi,
yakni dengan memasukkan surat berharga pemerintah. Surat berharga pemerintah, seperti
halnya surat berharga perusahaan, merupakan salah satu bentuk kekayaan. Perubahan dalam
nilai surat berharga pemerintah berarti perubahan dalam nilai kekayaan masyarakat yang akan
menyebabkan perubahan dalam pengeluaran konsumsi. Oleh karena itu kenaikan dalam
jumlah surat berharga pemerintah yang dikeluarkan, akan tercermin pada pergeseran ke kanan
atas kurva permintaan agregat (sepertu halnya penambahan jumlah uang beredar). Dengan
modifikasi ini kemudian dapat dianalisa efek dari berbagai cara pembiayaan defisit anggaran
belanja pemerintah.
4. Built-in Stabilizer
Built-in stabilizer adalah salah satu komponen dalam anggaran belanja pemerintah
yang secara otomatis terpengaruh oleh perubahan pendapatan sehingga akan mempengaruhi
anggaran belanja. Karena pengaruh yang sifatnya otomatis inilah yang menyebabkan

56
perubahan pendapatan tidak sebesar seandainya tidak ada pengaruh otomatis
tersebut.Misalnya perpajakan (dari sisi penerimaan) yang sifatnya progresip.
Apabila pendapatan nasional naik anggaran belanja juga naik dikarenakan penerimaan
pajak naik. Kenaikan anggaran belanja akan membantu menstabilkan perekonomian, karena
penerimaan pajak yang makin tinggi berarti penurunan pendapatan individu. Penurunan
pendapata individu akan berakibat penurunan pengeluaran konsumsi, sehingga dapat
mencegah kemungkinan terjadinya inflasi. Ekonomi dapat lebih stabil.Sebaliknya pada masa
resesi, penerimaan pajak turun lebih besar sehingga pendapatan individu naik.Pengeluaran
konsumsi cenderung naik, yang dapat mengurangi resesi.
5. Anggaran Pendapatan dan Belanja Indonesia
Pemerintah Indonesia semenjak dicanangkannya Repelita I sampai dengan Repelita IV
selalu mengikuti prinsip anggaran belanja berimbang (balances budget) yang
dinamis.Berimbang berarti adanya keseimbangan antara penerimaan (termasuk penerimaan
dari luar negeri) dengan pengeluaran.Sasaran yang ingin dicapai adalah pembangunan
nasional yang ditujukan untuk meningkarkan taraf hidup, kecerdasan dan ksehahteraan
seluruh rakyat, serta diarahkan guna mencipatakan landasan yang kokoh bagi tahap
pembangunan selanjutnya.

BAB XV : TEORI PORTFOLIO


Pemilihan bentuk/jenis kekayaan berarti memilih kombinasi berbagai bentuk (jenis
kekayaan).Bentuk/jenis kekayaan dibedakan berdasar atas resiko yang terkandung serta
jangka waktu pengembalian.Atas dasar resioko bentuk/jenis kekayaan dibedakan antara
resikonya besar seperti obligasi, saham serta yang resikonya kecil (lebih aman) seperti uang
tunai.Biasanya bentuk kekayaan yang lebih aman (resikonya kecil), keuntungan yang
diharapkan juga kecil.Sebaliknya, bentuk kekayaan yang resikonya besar, keuntungan yang
diharapkan juga besar.
Dalam analisa portfolio ini biasanya digunakan anggapan bahwa individu itu “risk
averse”.Artinya mereka mau menanggung resiko yang lebih tinggi apabila didorong dengan
kemungkinan memeproleh keuntungan yang lebih besar.
1. Resiko
Dunia ini penuh dengan ketidakpastian.Peminjam uang, karena sesuatu hal yang tidak
bisa diduga, tidak dapat melunasi hutangnya.Satu pabrik tekstil, yang meminjam uang untuk
meminjam uang untuk membiayai produksinya misalnya karena pasar lesu tidak dapat
menjual hasil produksinya sehingga tidak dapat memenuhi janji pembayaran hutang dan atau

57
bunga pinjaman.Kebangkrutan perusahaan ini menyebabkan pemberi pinjaman tidak
memperoleh pendapat seperti yang diharapkan.Bagi pemberi pinjaman ini merupakan resiko.
2. Pemilihan Portfolio
Prinsip dasar pemilihan portfolio dapat dijelaskan dengan menggunakan contoh
sebagai berikut. Ada dua macam surat berharga, A dan B. Surat berharga jenis A akan
memberikan pendapatan 16% pada waktu keadaan ekonomi baik, dan 2% pada waktu
keadaan ekonomi lesu. Dengan demikian pendapatan yang diharapkan sebesar 9%.Surat
berharga jenis B memberikan pendapatan sebesar 2% dalam keadaan ekonomi baik,
sebaliknya dalam keadaan ekonomi buruk malah memberikan pendapatan lebih besar,
misalnya 12%.Pendapatan yang diharapkan sebesar 5%.Jenis B ini sifatnya countercyclical.
Masalah dalam pemilihan portfolio adalah membeli kedua jenis surat berharga atau
hanya salah satu. Membagi uang pembelian separoh untuk membeli jenis A dan separoh jenis
B akan memberikan pendapatan sebesar 7% baik dalam keadaan ekonomi baik maupun
buruk. Dengan demikian tidak timbul ketidakpastian.
Tindakan di atas (membeli kedua-duanya) lebih baik dibandingkan dengan membeli
jenis B saja, sebab jenis B hanya memberikan pendapatan yang diharapkan sebesar 5%.
Seorang risk averter akan memilih membeli kedua-duanya. Kalau dibandingkan dengan
membeli jenis A, kita tidak dapat menentukan mana yang lebih baik, sebab jenis A meskipun
resikonya lebih tinggi tetapi pendapatan yang diharapkan juga lebih tinggi. Penentuan mana
yang akan dipilih tergantung pola preferensi individu yang sifatnya risk averse.
Implikasi yang dapat diambil adalah pertama, ketidakpastian tentang pendapatan yang
akan diperoleh dari masing-masing jenis surat berharga buka dengan sendirinya sebagai
ukuran besarnya resiko, tetapi yang penting adalah total resiko dari keseluruhan surat
berharga yang dimiliki. Kedua, total/keseluruhan resiko ini sangat ditentukan oleh saling
berhubungan antara variabilitas pendapatan masing-masing surat berharga yang secara
statistik biasa diukur dengan covariance dari pendapatan.
3. Permintaan Akan Suatu Bentuk Kekayaan Tertentu
Tiga sifat utama yang erat hubungannya dengan permintaan akan suatu bentuk
kekayaan, yakni: resiko (risk), pendapatan (return) dan proteksi terhadap inflasi. Suatu bentuk
kekayaan yang memberikan pendapatan nominal secara tetap, makan pendapatan riilnya akan
berbanding terbalik dengan laju inflasi. Makin tinggi laju inflasi, makin rendah pendapatan
riil yang diterimanya. Bentuk kekayaan lain memberikan pendapatan nominal yang naik
dengan makin tingginya inflasi sehingga pendapatan riilnya relatip tetap. Bentuk kekayaan
demikian ini independen/tidak terpengaruh oleh inflasi.

58
Secara sistematis dapat dituliskan sebagai berikut:
W = ∑Ti=1 Pi Ai
dimana:
W = nilai total kekayaan
Pi = harga bentuk kekayaan jenis i
Ai = jumlah/banyaknya bentuk kekayaan jenis i
4. Obligasi Pemerintah
Obligasi adalah perjanjian hutang antara peminjam (yang mengeluarkan obligasi)
dengan pemberi pinjaman (pemegang obligasi) dalam mana peminjam berjanji akan
membayar kepada pemberi pinjaman sejumlah yang tertentu pada suatu saat di masa yang
akan datang. Obligasi ini dapat diperjual belikan sebelum jangka waktu habis.
Pada waktu obligasi dikeluarkan tingkat bunga efektip sama dengan kupun. Misalkan
C adalah besrnya kupon yang dibayarkan, P adalah harga (nominal) obligasi pada waktu
dikeluarkan, maka tingkat bunga pada permulaan (pendapatan yang diterima oleh pembeli
pertama) adalah C/P.
Tingkat bunga efektip (rb), mungkin sama atau mungkin berbeda dengan pendapatan
dari kupon. Hal ini tergantung dari harga obligasi ditambah kenaikan nilai (capital gains).
Secara formula dapat dituliskan sebagai berikut:
𝒄
rb = 𝑷𝒃 + 𝝅𝒃

dimana:
rb = tingkat bunga efektip
Pb = harga obligasi lama
πb = perubahan harga obligasi
5. Obligasi dan Saham Swasta
Perusahaan swasta dapat memperoleh dana investasinya diantaranya melalui
pengeluaran obligasi dan saham seperti halnya obligasi pemerintah, obligasi swasapun
merupakan penyajian untuk membayar sejumlah tertentu bunga tatap setiap tahun serta
pembayaran kembali pokok hutang kepada pemegang obligasi pada suatu saat yang telah
ditentukan di kemudian hari. Sedangkan saham memberikan sebagian dari keuntungan kepada
pemilik saham. Pendapatan dari obligasi swasta pada prinsipnya sama dengan obligasi
pemerintah, yakni terdiri dari kupon ditambah perubahan harga.

59
6. Masalah Crowding Out
Apabila obligasi pemerintah dan swasta itu dapat saling mengganti (substitute), maka
pengeluaran obligasi baru oleh pemerintah (untuk menutup defisit anggaran, misalnya) akan
menggeser obligasi swasta (crowding out).
7. Kekayaan yang Berupa Barang Phisik
Kekayaan jenis ini dapat berupa rumah, perhiasan ataupun barang-barang hasil
kesenian.Pendapatan yang diperoleh dari kekayaan yang berupa rumah adalah sewa
perubahan harga dari rumah yang diperkirakan. Secara formula dapat dituliskan sebagai
berikut:
𝐬𝐞𝐰𝐚
rh= − 𝛔 + 𝛑𝐡𝐞
𝐏𝐡

dimana:
rh = pendapatan (rate of return)
Ph = harga rumah
σ = penyusutan
πhe = perubahan harga yang diperkirakan
8. Kebijaksanaan Moneter dan Pasar Uang
Efek kebijaksanaan moneter yang ekspansip dengan politik pasar terbuka akan
menaikkan jumlah uang beredar sebesar nilai surat berharga dikalikan dengan angka pelipat
uang. Tingkat bunga obligasi pemerintah akan turun. Kebijaksanaan moneter di dalam jangka
pangjang akan menaikkan jumlah modal, tidak menambah investasi. Kenaikan investasi
sifatnya hanyalah dalam jangka pendek, merupakan proses penyesuaian perekonomian
terhadap perubahaan permintaan akan modal. Dengan perkataan lain, dalam jangka pendek
akan menaikkan pembentukan modal sedangkan dalam jangka pangjang menambah intensitas
modal (yang diharapkan dapat pula menaikkan produktivitas atau kapasitas produksi).

BAB XVI : TEORI INVESTASI


Teori tentang ivestasi pada umumnya hendak mejelaskan faktor-fator (variabel) yang
mempengaruhi investasi. Beberapa faktor yang diduga kuat pengaruhnya terhadap investasi
ini antara lain: tingkat bunga, penyusutan, kebijaksanaan perpajakan, serta perkiraan
(expectation) tentang penjualan serta kebijaksanaan ekonomi. Mempertimbangka ekspektasi
ke dalam penentuan investasi merupakan pandangan (teori) yang relatip baru.

60
1. Investasi tetap pada Perusahaan (Business Fixed Investment)
Oleh karena investasi diartikan sebagai perubahan capital stock, maka teori tentang
investasi haruslah dimulai dengan konsep jumlah (stock) kapital yang diinginkan (desired
capital stock), yang biasa diberi simbol K*.
Dalam menentukan berapa besar besar capital stock yang diinginkan seorang
pengusaha harus mempertimbangkan nilai produk marginal (value of marginal product)
dengan biaya modal (user costs of capital). Nilai produk marginal (VMP) adalah kenaikan
nilai output yang diperoleh karena penambahan satu unit input. Dalam pasar persaingan
sempurna, VMP ini sama dengan harga output. Selama VMP masih lebih besar daripada
biaya toal maka pengusaha akan menambah kapitalnya apabila VMP sama dengan biaya total.
Marginal Efficiency of Capital (MEC)
MEC menggambarkan tingkat pendapatan (rate of return) dai investasi baru yang
diharapkan akan dilakukan.
𝑹 𝐉
C = (𝟏+𝒓)𝒏 + (𝟏+𝒓)𝒏

dimana:
J = nilai residu mesin
2. Jumlah Modal yang Diinginkan (Desired Capital Stock)
Jumlah kapital yang diinginkan tergantung daripada biaya modal serta produk yang
diharapkan akan diprodusir. Untuk sesuatu jumlah tertentu output, makin rendah biaya modal
akan makin tinggi keinginan melakukan investasi.
Biaya Modal (Costs of Capital)
Salah satu komponen biaya modal yang utama adalah tingkat bunga.Tingkat bunga ini
merupakan biaya alternatip dari penggunaan modal.Yang paling penting bagi pengusaha
bukanlah tingkat bunga dalam arti nominal tetapi dalam arti riil, yakni tingkat bunga nominal
dikurangi dengan inflasi. Secara formula dapat dituliskan sebagai berikut:
rriil = rnom – π
dimana:
π = tingkat inflasi
Jumlah modal yang diinginkan tergantung pada jumlah produk yang ingin diprodusir
dan biaya modal. Secara umum hubunga ini dapat dituliskan sebagai berikut : *)
K* = f (Bm. Y)

61
Dimana :
K* = jumlah modal yang diingikan
Bm = biaya modal
Y = jumlah produk
3. Penyesuaian terhadap Jumlah Modal yang Diinginkan
Melakukan investasi (mulai perencanaan sampai dengan pelaksanaan) biasanya
memakan waktu yang relatip lama.Pengusaha merencanakan untuk mempuyai modal pada
satu waktu tertentu sedemikian rupa sehingga sebagian dari perbedaan antara modal yang
diinginkan dengan modal waktu sebelumya dipenuhi. Formulanya sebagai berikut:
Kt = Kt-1 + ᵪ (K* - Kt-1)
dimana :
Kt = jumlah modal pada waktu t
Kt-1 = jumlah modal pada waktu t-1
ᵪ = koefisien peyesuaian
4. Prinsip Akselerasi (Acceleration Principles)
Prinsip akselerasi mengatakan bahwa tingkat/besarnya investasi porporsinil terhadap
perubahan dari output (GNP). Secara sederhana prinsip akselerasi ini dapat dijelaskan sebagai
berikut.Menurut J.M. Clark bahwa pengusaha menginginkan suatu hubungan tertentu
(proporsi tertentu) dari modal yang diinginkan dengan hasil produksi (output).
Kt = a Yt
dimana:
a = perbandingan/rasio antara modal dengan output yang diinginkan
K = jumlah modal yang diingikan
5. Investasi Perumahan
Perumahan merupakan salah satu bentuk kekayaan yang umurnya panjang. Oleh
karena itu permintaan akan perumahan merupakan bagian dari penentuan jenis bentuk
kekayaan yang ingin dimiliki seseorang, (teori portfolio). Permintaan akan perumahan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: besarnya kekayaan, pendapatan dari bentuk
kekayaan lain serta pendapatan dari pemilikan rumah. Diformulasikan sebagai berikut:
𝐬𝐞𝐰𝐚
rh = − 𝐝 + 𝛑𝐜
𝐏𝐡

dimana:
rh = pendapatan
d = penyusutan

62
πc = kenaikan harga rumah yang diharapkan
Ph = harga rumah
Salah satu faktor yang mempengaruhi permintaan akan perumahan adalah tingkat
bunga. Kenaikan tingkat bunga akan menggeser kurva permintaan akan perumahan ke kiri
bawah (misalnya dari D1 ke D0). Harga rumah yang ada (yang lama) turun menjadi Ph0
sehingga pembangunan rumah baru turun dari I1 menjadi I0.
Sehingga kenaikan bunga akan menurunkan pembangunan rumah baru (investasi
dalam perumahan). Pengaruh tingkat bunga terhadap pembangunan rumah baru dapat melalui
jumlah kredit yang tersedia. Kenaikan tingkat bunga cenderung menurunkan kredit yang
tersedia untuk pembangunan perumahan sehingga jumlah rumah baru yang dibangun
cenderung turun.

BAB XVII:EKONOMI SISI PENAWARAN (SUPPLY SIDE ECONOMICS)


Supply side economics adalah analisa efek daripada kebijaksanaan pemerintah
terhadap output (potensial) di dalam perekonomian. Ide dasarnya adalah hubungan antara
kebijaksanaan dengan jumlah output (supply). Ide ini sangat berbeda dengan ekonomi
Keynes, yang lebih menitikberakan pada sisi permintaan. Pengertian output menurut mereka
adalah kapasitas output bukan output riil sebab ingin membedakan antara efek terhadap
permintaan dan penawaran dari kebijaksanaan pemerintah (moneter atau fiskal).
Banyak kebijaksanaan pemerintah, misalnya penurunan pajak atau ekspansi moneter,
akan menaikkan output. Tetapi kenaikan output ini dikarenakan kenaikan permintaan bukan
penawaran. Kebijaksanaan tersebut akan menggeser kurva permintaan agregat ke kanan atas
sehingga output naik. Kenaikan output ini buka efek penawaran, tetapi sebagai akibat
ekspansi permintaan. Ekonomi sisi penawaran lebih menekankan efek kebijaksanaan terhadap
kurva penawaran agregat jangka panjang.
1. Pajak dan Penawaran Agregat
Jika masyarakat percaya bahwa penurunan pajak akan mendorong produksi, maka
pada tingkat pengeluaran pemerintah tertentu, defisit anggaran belanja negara akan makin
kecil. Tidak akan terjadi kenaikan jumlah uang beredar, serta inflasi. Kurva permintaan
agregat bergeser ke kanan atas dan penawaran agregat bergeser ke kanan bawah. Apabila
masyarakat percaya bahwa penurunan pajak tidak akan mendorong produksi maka defisit
anggaran belanja dapat membengkak. Jumlah uang beredar serta tingkat inflasi dapat
meningkat.Hal ini mungkin disebabkan juga oleh banyaknya kegiatan ekonomi yang tidak
dilaporkan sebagai akibat inflasi sehingga seseorang dapat berada pada kelompok pendapatan

63
yang lebih tinggi.Kurva permintaan agregate bergeser ke kanan atas, demikian juga kurva
penawaran jangka pendek bergeser ke kanan bawah. Kurva penawaran agregat jangka
panjang dapat bergeser ke kiri atau ke kanan atau tidak bergeser sama sekali.
Hasil neto dari penurunan pajak sangat tergantung pada perkiraan dari individu
terhadap efek penawaran. Penganut ekonomi sisi penawaran berpendapat bahwa efek dari
penurunan pajak tidak akan memperbesar defisit anggaran belanja negara dan dengan
demikian tidak mempengaruhi perkiraan individu tentang tingkat inflasi.
2. Efek Kebijaksanaan Pemerintah terhadap Penawaran
Efek penawaran dibagi ke dalam tiga jenis, yakni: efek yang menaikkan modal, tenaga
kerja serta produktivitas.
a. Efek Pengaturan Pemerintah terhadap Penawaran
Pemerintah dalam banyak hal mengatur kegiatan dunia usaha.Ahli ekonomi
berpendapat bahwa pengaturan pemerintah sering mengakibatkan turunnya
produktivitas dan menaikkan ongkos.Akibatnya jumlah barang yang dihasilkan
turun.Sebaliknya, deregulasi dapat menaikkan produktivitas yang mungkin dapat
memperbesar pembentukan modal.Akibatya produksi dapat meningkat.
b. Efek Pajak terhadap Penawaran Tenaga Kerja
Kenaikan pajak pendapatan dapat mengurangi dorongan untuk bekerja, sehingga
dengan demikian dapat menurunkan penawaran tenaga kerja.Sebaliknya, penurunan
pajak penghasilan dapat mempunyai dua akibat, pertama menaikkan pendapatan dan
dengan demikian dapat menggairahkan kerja.Kedua, tambahan pendapatan mungkin
menyebabkan para buruh lebih menyukai menganggur daripada bekerja.
c. Efek Kebijaksanaan Pemerintah terhadap Pembentukan Modal
Keinginan pengusaha untuk melakukan investasi sangat sensitif terhadap kebijaksanaan
moneter dan fiskal. Apabila Bank Sentral melakukan kebijaksanaan moneter yang
restriktip, tingkat bunga naik sehingga menekan pembentukan modal.

BAB XVIII:PASAR VALUTA ASING


Apabila sesuatu barang ditukar dengan barang lain, tentu didalamnya terdapat
perbandingan nilai tukar antara keduanya. Nilai tukar itu sebenarnya merupakan semacam
harga di dalam pertukaran tersebut. Demikian pula pertukaran antara dua mata uang yang
berbeda, maka akan terdapat perbandingan nilai/harga antara kedua mata uang tersebut.
Perbandingan nilai inilah yang sering disebut dengan kurs (exchange rate).
Perbedaan tingkat kurs ini timbul karena beberapa hal:

64
a. Perbedaan antara kurs beli dan jual oleh para pedagan valuta asing/bank. Kurs beli
adalah kurs yang dipakai apabila para pedagang valuta asing/bank membeli valuta asing
dan kurs jual apabila mereka menjual. Selisih kurs tersebut merupakan keuntungan bagi
para pedagang.
b. Perbedaan kurs yang diakibatkan oleh perbedaan dalam waktu pembayaraannya. Kurs
TT (telegraphic transfer) lebih tinggi daripada kurs MT (mail transfer) sebab perintah
pembayaran dengan menggunakan telegram bagi bank merupakan penyerahan valuta
asing dengan segera/lebih cepat dibandingkan dengan penyerahan melalui surat.
c. Perbedaan dalam tingkat keamanan dalam penerimaan hak pembayaran. Sering terjadi
bahwa penerimaan hak pembayaran yang berasal dari bank asing yang sudah terkenal
(bonafide) kursnya lebih tinggi daripada yang belum terkenal.
1. Fungsi Pasar Valuta Asing
Pasar valuta asing mempunyai beberapa fungsi pokok dalam membantu kelancaran
lalu-lintas pembayaran Internasional, yaitu:
a. Mempermudah penukaran valuta asing serta pemindahan dana dari satu negara ke
negara lain.
b. Karena sering terdapat transaksi Internasional yang tidak perlu segera diselesaikan
pembayaran dan atau penyerahan barangnya, maka pasar valuta asing memberikan
kemudahan untuk dilaksanakannya perjanjian/kontrak jual beli dengan kredit.
c. Memungkinkan dilakukannya hedging.
2. Spekulasi
Spekulasi adalah tindakan untuk mengambil risiko karena harapan dan terjadinya
perubahan harga. Seorang spekulator valuta asing dapat mengambil posisi jangka pendek
(short position) apabila dia menjual valuta asing di pasar jangka (tanpa pasa waktu itu
berutang valuta asing sejumlah yang sama), dengan harapan bahwa dia dapat membeli dengan
kurs spot yang lebih murah pada saat penyerahan valuta asing untuk kontraknya di pasar
jangka.
3. Sistem Kurs Valuta Asing
Sifat dari kurs valuta asing tergantung dari sifat pasar. Apabila transaksi jual-beli
valuta asing dapat dilakukan secara bebas di pasar, makan kurs valuta asing akan berubah-
ubah sesuai dengan perubahan permintaan dan penawaran.
a. Sistem kurs yang berubah-ubah
Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor yang
mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing.Faktor tersebut yaitu pendapatan,

65
harga dan tingkat bunga.Faktor-faktor non ekonomi yang dapat mempengaruhi perubahan
kurs, seperti faktor politis dan psikologi.
b. Sistem kurs yang stabil
Sistem kurs bebas menimbulkan adanya tindakan spekulasi sebagai akibat ketidaktentuan
di dalam kurs valuta asing. Oleh karena itu banyak negara yang kemudian menjalankan
suatu kebijaksanaan untuk menstabilkan kurs.
c. Pengawasan devisa
Dalam sistem ini pemerintah memonopoli seluruh transaksi valuta asing. Tujuannya
adalah untuk mencegah adanya aliran modal keluar dan melindungi pengaruh depresi dari
negara lain, terutama dalam hal negara tersebut menghadapi keterbatasan cadangan valuta
asing dibanding dengan permintaannya. Menghadapi jumlah valuta asing yang relatif
lebih sedikit dibandingkan dengan permintaannya, pemerintah perlu mengadakan alokasi
di dalam penggunaannya, yakni untuk tujuan-tujuan yang sesuai dengan program
pemerintah.Alokasi biasanya dilakukan dengan menggunakan lisensi impor.
4. Teori Purchasing Power Parity (PP)
Teori ini dikemukakan oleh ahli ekonomi dari Swedia, bernama Gustav Bassel. Dasar
teorinya bahwa, perbandingan nilai satu mata uang dengan mata uang lain ditentukan oleh
tenaga beli uang tersebut di masing-masing negara. Kurs PP yang didasarkan pada perubahan
harga sering disebut kurs PP dalam arti relatif.
5. Pasar Euro Dollar
Euro Dollar adalah deposito bank yang dinyatakan dengan dollar Amerika Serikat
pada bank-bank di luar Amerika Serikat.Dua sifat pokok euro dollar adalah pertama
merupakan kewajiban jangka pendek untuk membayar dollar dan kedua adalah kewajiban
dari bank-bank di luar Amerika.Dengan adanya euro dollar maka transaksi pembayaran
internasional dapat dilakukan dengan efisien serta dalam waktu yang relatif singkat. Kerugian
yang timbul adalah karena euro dollar ini dapat bertambah melalui proses yang sama seperti
penciptaan uang di dalam sistem perbankan dalam negeri, maka dapat mengurangi kekuasaan
penguasa moneter utnuk mengambil kebijaksanaan. Kerugian lain, euro dollar dapat
menambah ketidakstabilan dalam lalu lintas pembayaran internasional.

BAB XIX : NERACA PEMBAYARAN INTERNASIONAL


Neraca pembayaran suatu negara adalah catatan yang sistematis tentang transaksi
ekonomi internasional antara penduduk negara itu dengan penduduk negara lain dalam jangka
waktu tertentu. Tujuan utama adalah untuk memberikan informasi kepada penguasa

66
pemerintah tentang posisi keuangan dalam hubungan ekonomi dengan negara lain serta
membantu di dalam pengambilan kebijaksanaan moneter, fiskal, perdagangan dan
pembayaran internasional.
1. Transaksi Barang dan Jasa
Transaksi ini meliputi ekspor maupun impor barang-barang dan jasa, disebut pula
transaksi yang sedang berjalan.Ekspor barang meliputi barang-barang yang bisa dilihat secara
fisik, seperti minyak, kayu, tembakau, timah.Ekspor jasa seperti penjualan jasa-jasa angkutan,
turisme dan asuransi.Dalam transaksi jasa ini termasuk juga pendapatan dari investasi kapital
di luar negeri.
Impor barang-barang meliputi misalnya: barang-barang konsumsi, bahan mentah
untuk industri dan kapital; sedang impor jasa meliputi pembelian jasa-jasa dari penduduk
negara lain. Termasuk dalam impor jasa adalah pembayaran pendapatan (bunga, dividen atau
keuntungan) untuk modal yang ditanam di dalam negeri oleh penduduk negara lain.
Persamaan penghasilan nasional sebagai berikut:
Y= C+I+G+X–M
dimana :
Y = untuk penghasilan nasional
C = untuk pengeluaran konsumsi
I = untuk pengeluaran investasi (swasta)
G = untuk pengeluaran pemerintah, dan
(X-M) = untuk neraca perdagangan (netto)
2. Transaksi Modal
Yang termasuk transaksi modal adalah :
a. Transaksi modal jangka pendek, meliputi:
 Kredit untuk perdagangan dari negara lain atau kredit perdagangan yang
diberikan kepada penduduk negara lain.
 Deposito bank di luar negeri atau deposito bank di dalam negeri milik penduduk
negara lain.
 Pembelian surat berharga luar negeri jangka pendek atau penjualan surat berharga
dalam negeri jangka pendek kepada penduduk negara lain.
b. Transaksi modal jangka panjang, meliputi:
 Investasi langsung di luar negeri atau investasi asing dalam negeri.

67
 Pembelian surat-surat berharga jangka pangjang milik penduduk negara lain atau
pembelian surat-surat berharga jangka panjang dalam negeri oleh penduduk
asing.
 Pinjaman jangka panjang yang diberikan kepada penduduk dengara lain atau
pinjaman jangka panjang yang diterima dari penduduk negara lain.
3. Transaksi Satu Arah
Transaksi satu arah adalah transaksi yang tidak menimbulkan kewajiban untuk
melakukan pembayaran, misalnya hadiah dan bantuan. Apabila suatu negara memberi hadiah
atau bantuan kepada negara lain, maka ini merupakan transaksi debet. Sebaliknya, apabila
suatu negara menerima bantuan atau hadiah negara lain merupakan transaksi kredit.
4. Selisih Perhitungan
Rekening ini merupakan rekening penyeimbang apabila nilai transaksi-transaksi kredit
tidak persis sama dengan nilai transaksi-transaksi debet. Dengan adanya rekening selisih
perhitungan ini, maka jumlah total nilai sebelah kredit dan debet dari suatu neraca
pembayaran Internasional akan selalu sama (balance)
5. Lalu Lintas Moneter
Transaksi ini sering disebut accomodating sebab merupakan transaksi yang timbul
sebagai akibat dari adanya transaksi lain. Transaksi lain ini sering disebut dengan autonomous
sebab transaksi ini timbul dengan sendirinya, tanpa dipengaruhi transaksi lain.Termasuk
dalam transaksi autonomous adalah transaksi-transaksi yang sedang berjalan, transaksi kapital
serta transaksi satu arah.
6. Beberapa Pengertian Balance dalam suatu Neraca Pembayaran
Konsep balance dalam neraca pembayaran mempunyai arti yang berbeda-beda. Pada
dasarnya ada empat pengertian balance.
a. Basic balance
Basic balance terdiri dari balance dalam transaksi yang sedang berjalan.
c. Balance transaksi autonomous
Balance ini terdiri dari basic balabce ditambah dengan aliran modal jangka pendek.
d. Liquidity balance
Konsep liquidity balance ini dikembangkan di Amerika Serikat untuk mengukur posisi
neraca pembayarannya.
e. Balance transaksi pemerintah jangka pendek
Neraca pembayaran terdiri dari penjumlahan basic balance, selisih yang
diperhitungkan dan rekening modal jangka pendek.

68
7. Masalah dalam Analisis Neraca Pembayaran
Keempat konsep balance sangat membantu di dalam analisis suatu neraca
pembayaran. Namun sangat sukar untuk menentukan konsep balance yang mana yang paling
relevan, misalnya untuk pengambilan keputusan bagi pemerintah, analisis trend suatu
perekonomian atau membuat perkiraan tentang arah perkembangan ekonomi. Setiap konsep
balance menunjukkan aspek yang berbeda. Tujuan analisis neraca pembayaran sangat
berbeda-beda dan perbedaan ini menentukan pola analisisnya.
8. Neraca Pembayaran Internasional, Neraca Perdagangan Internasional dan Neraca
Harta Kekayaan dan Utang-Piutang
Berbeda dengan neraca pembayaran internasional, neraca perdagangan internasional
hanyalah mencatat transaksi ekspor dan impor barang dan jasa.Sedangkan neraca harta
kekayaan dan utang piutang adalah suatu ikhtisar tentang seluruh harta kekayaan dan utang
piutang dari penduduk suatu negara di negara lain, serta harta kekayaan dan utang piutang
milik penduduk negara lain tersebut.Karena dicatat adalah keadaan harta kekayaan dan utang
piutang bukan suatu transaksi maka sebagai dasar pencatatannya adalah waktu.

69
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Keunggulan dan Kelemahan Buku The Economics of Money, Banking and Financial
Markets Ekonomi Uang, Perbankan dan Pasar Keuangan Edisi 8 (Frederic S
Mishkin)
3.1.1 Keunggulan Buku
Keunggulan yang terdapat di dalam buku karangan The Economics of Money, Banking
and Financial Markets Ekonomi Uang, Perbankan dan Pasar Keuangan Edisi 8 (Frederic S
Mishkin) antara lain:
3.1.2 Kelemahan Buku
Kelemahan yang terdapat di dalam buku karangan The Economics of Money, Banking
and Financial Markets Ekonomi Uang, Perbankan dan Pasar Keuangan Edisi 8 (Frederic S
Mishkin) antara lain:

3.2 Keunggulan dan Kelemahan Buku Ekonomi Moneter Buku I (Frederic S Mishkin)
& II (Nopirin, Ph.d)
3.2.1 Keunggulan Buku
Keunggulan yang terdapat di dalam buku karangan Ekonomi Moneter Buku I & II
(Nopirin, Ph.d) antara lain :
1. Buku ini mencakup pembahasan yang luas dengan materi yang mendalam terkait
dengan teori-teori ekonomi moneter terkait dalam perekonomian.
2. Dalam menjelaskan teori-teori ekonomi moneter di Indonesia, penulis menjelaskan
masing-masing teori dalam sub-bab tersendiri. Dengan adanya pembagian ini memberi
kemudahan pemahaman kepada para pembaca. Pembaca dapat memahami teori yang
satu dengan yang lainnya dengan lebih mudah, pembaca dapat memahami perbedaan
antar teori dengan mudah karena penulis menyajikan satu teori ekonomi moneter
dengan penjabaran yang terstuktur sampai tuntas baru masuk kepada materi ekonomi
moneter yang lainnya.
3. Dalam penyajian setiap bab dalam buku ini, senantiasa diawali dengan garis besar
landasan teoritis yang terkait dengan topik bab tersebut. Pola penyajian materi seperti
ini akan sangat membantu pembaca memperoleh info awal mengenai inti atau fokus
pembahasan dari setiap bab dalam buku.

70
4. Dalam setiap topik, penulis menyertakan kurva sebagai pelengkap sehingga dapat
menambah wawasan bagi pembaca (Terdapat di Bab V s/d Bab XVII)
5. Struktur penulisan buku ini sangat baik dan rapi. Baik dari penggunaan huruf kapital
dan cetak tebal pada setiap judul bab dan sub bab – sub bab yang dapat memudahkan
pembaca untuk membaca bab-bab tertentu. Selain itu, penulis menerapkan teknik
penulisan ‘cetak tebal’ untuk beberapa kata atau kalimat yang dianggap penting
6. Penulis berusaha menelaah setiap topik atau pembahasan secara mendalam yang
didukung dengan penyajian rumus-rumus yang relevan, lengkap serta mutakhir terkait
perekonomian, perkembangan dan pertumbuhan dalam teori perekonomian.
7. Dalam buku ini, pada beberapa uraian topik tertentu penulis menyertakan contoh-contoh
soal terkait materi yang di bahas. Hal ini sangat penting bagi pembaca agar lebih
memahami.
8. Adapun sasaran pembaca buku ini adalah dosen maupun mahasiswa ekonomi serta
orang awam yang berminat untuk mempelajari ekonomi moneter, namun tetap harus
ada bimbingan orang yang telah memahami terlebih dahulu. Penulis menerbitkan buku
ini dengan maksud dan harapan bahwa materi yang disajikan akan memadai dalam
pengajaran dan mempelajari ekonomi moneter.
9. Dalam buku ini, dilampirkan beberapa lampiran tentang Undang – Undang Perbankan,
Bank Sentral, Neraca Bank (Terdapat di halaman 189 s/d 253).

3.2.2 Kelemahan Buku


Kelemahan yang terdapat di dalam buku Ekonomi Moneter Buku I & II (Nopirin,
Ph.d) antara lain :
1. Gaya penulisan pada buku ini sangat baik, namun ada beberapa bab yang penulisannya
sulit dimengerti oleh para pembaca. (Terdapat setiap sub bab)
2. Ada beberapa pembahasan yang sulit untuk di pahami baik teorinya maupun rumus-
rumus ekonomi moneter tersebut. (Hal ini dapat dilihat pada bab6 dan 8).
3. Pada penulisan istilah asing seharusnya dibuat tulisan miring (Italic)
4. Dalam mempelajari semua topik yang ada dalam buku ini, harus ada bimbingan dari
Dosen bagi para mahasiswa. Agar mahasiswa lebih mudah dan cepat memahami rumus-
rumus dalam ekonomi moneter khususnya ekonomi moneter (Terdapat di bab 5 s/d bab
18)
5. Buku ini tidak dilengkapi dengan soal-soal latihan pada akhir setiap bab (Hal ini dapat
dilihat pada Bab V s/d Bab XVII.

71
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari kelemahan dan kelebihan masing-masing buku di atas disimpulkan bahwa
masing-masing buku memiliki keunggulan dan kelemahan.Setiap buku memiliki daya tarik
tersendiri untuk menarik minat pembaca.Secara keseluruhan kedua buku ini merupakan buku
yang sangat bagus dan bermanfaat untuk dimiliki dan dijadikan sebagai referensi dalam
memahami dan menambah pengetahuan tentang ekonomi moneter.Buku ini layak digunakan
oleh para analisa ekonomi maupun mahasiswa yang ingin mengembangkan wawasan
ekonominya.

4.2. Saran

Saran untuk penulis agar terus memperluas secara mendalam mengenai isi buku, serta
memperbaiki kelemahan yang ada untuk membuat buku tersebut mendekati sempurna.Saran
bagi reviewer agar tetap belajar untuk menambah pengetahuan bagaimana cara mengkritik
buku dengan baik dan benar guna sebagai wawasan dalam membuatcritical book berikutnya.

72