Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sistem reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak.
Terdiri dari ovarium, uterus dan bagian alat kelamin lainnya. Reproduksi atau
perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal (fisiologi). Reproduksi secara
fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu
manusia berhenti, manusia tersebut masih dapat bertahan hidup, sebagai contoh
manusia yang dilakukan tubektomi pada organ reproduksinya atau mencapai
menopause tidak akan mati. Pada umumnya reproduksi baru dapat berlangsung
setelah manusia tersebut mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini
diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh
manusia.
Reproduksi juga merupakan bagian dari proses tubuh yang bertanggung jawab
terhadap kelangsungan suatu generasi. Untuk kehidupan makhluk hidup reproduksi
tidak bersifat vital artinya tanpa adanya proses reproduksi makhluk hidup tidak mati.
Akan tetapi bila makhluk tidup tidak dapat bereproduksi maka kelangsungan generasi
makhluk hidup tersebut terancam dan punah, karena tidak dapat dihasilkan keturunan
(anak) yang merupakan sarana untuk melanjutkan generasi.
.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud fisiologi sistem reproduksi manusia ?
2. Apa sajakah fungsi dari organ-organ reproduksi manusia ?
3. Bagaimana fisiologi sistem reproduksi pada manusia?
C. Tujuan
Sejalan dengan rumusan di atas, makalah ini disusun untuk mengetahui dan
mendeskripsikan:
1. Pengertian fisiologi sistem reproduksi manusia.
2. Untuk mengetahui fungsi-fungsi dari organ reproduksi pada manusia.
3. Untuk mengetahui fisiologi sistem reproduksi manusia secara keseluruhan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Fisiologi Sistem Reproduksi


Fisiologi berasal dari bahasa latin, yaitu “Fisiologi” Fisis (Phisys) = alam atau
cara kerja, Logos (logi) = ilmu pengetahuan. Jadi fisiologi adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang bagaimana alat tubuh itu bekerja.
Sistem reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam
organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak. Sistem reproduksi pada suatu
organisme berbeda antara jantan dan betina. Sistem reproduksi pada perempuan
berpusat di ovarium.
Anatomi Fisiologi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan,
namun khusus pada makalah ini kami lebih menitik beratkan untuk membahas fungsi-
fungsi dari sistem reproduksi pada manusia.
Jadi fisiologi sistem reproduksi merupakan ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam organisme
yang dipergunakan untuk berkembang biak.

B. Organ-organ Reproduksi dan Peranan pada Manusia


1. Organ Reproduksi Pria
Organ reproduksi pria terdiri organ luar dan organ dalam. Organ reproduksi
luar pria terdiri dari penis dan skrotum. Organ reproduksi dalam pria terdiri atas
testis, saluran pengeluaran dan kelenjar asesoris.
a. Organ Reproduksi Luar
1) Penis
Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons. Dua rongga yang
terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga
lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum
yang membungkus uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil
yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-
ujung saraf perasa.
Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah
sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).

2
Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan sisa metabolisme
berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi.
2) Skrotum
Skrotum (kantung pelir) merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis.
Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara
skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat
dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum
sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat
serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang
disebut otot kremaster. Otot ini bertindak sebagai pengatur suhu lingkungan
testis agar kondisinya stabil. Proses pembentukan sperma (spermatogenesis)
membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat lebih rendah daripada
suhu tubuh.
b. Organ Reproduksi Dalam Pria
Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar
asesoris.
1) Testis
Testis disebut juga gonad jantan. Alat ini jumlahnya sepasang, bentuknya
bulat telur. Testis tersimpan di dalam suatu kantong yang disebut skrotum.
Kantong ini terletak di luar rongga perut.
Fungsi testis adalah sebagai alat untuk memproduksi sel- sel sperma dan juga
memproduksi hormon kelamin jantan yang disebut testoteron. Di dalam testis
banyak terdapat pembuluh- pembuluh halus disebut tubulus seminiferus
2) Saluran Pengeluaran
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis,
vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.
a) Epididimis(tempat pematangan sperma)
Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang
keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan
kiri. Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma
sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens
b) Vas deferens (saluran sperma dari testis ke kantong sperma)
Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran
lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas

3
deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di
dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat
jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani
(vesikula seminalis).
c) Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan
kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan
sperma agar masuk ke dalam uretra.
d) Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis.
Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen
dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.
e) Vesikula seminalis (tempat penampungan sperma)
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan
kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding
vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber
makanan bagi sperma.
Vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60 % total volume semen.
Cairan tersebut mengandung mukus, gula fruktosa (yang menyediakan
sebagian besar energi yang digunakan oleh sperma), enzim pengkoagulasi,
asam askorbat, dan prostaglandin.
f) Kelenjar prostat (penghasil cairan basa untuk melindungi sperma)
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah
kantung kemih. Kelenjar prostat adalah kelenjar pensekresi terbesar.
Cairan prostat bersifat encer dan seperti susu, mengandung enzim
antikoagulan, sitrat (nutrient bagi sperma), sedikit asam, kolesterol, garam
dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.
g) Kelenjar bulbouretra / cowper (penghasil lendir untuk melumasi saluran
sperma)
Kelenjar bulbouretralis adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak
disepanjang uretra, dibawah prostat. Kelenjar Cowper (kelenjar
bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra.
Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).
Menghasilkan getah yang dialirkan ke uretra. Getah yang dihasilkan

4
berupa lendir.sperma yang dihasilkan oleh testis, setelah bercampur
dengan getah- getah dari kelenjar kelamin akan membentuk suatu
komponen yang disebut semen. Pada saat terjadi perkawinan (kopulasi),
semen dipancarkan keluar melalui uretra.
c. Peranan dan Fungsi hormon pada Pria
Distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron, LH (Luteinizing
Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), estrogen dan hormon
pertumbuhan.
1) Testoteron
Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus
seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal
untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk
membentuk spermatosit sekunder.
Fungsi Hormon Testosteron :
a. Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan genitalia laki-laki
b. Bertanggung jawab atas pendistribusian rambut yang menjadi ciri khas
laki-laki.
c. Pembesaran laring dan pepanjangan serta penebalan pita suara sehingga
menghasilkan suara bernada rendah.
d. Meningkatkan ketebalan dan tekstur kulit serta mengakibatkan permukaan
kulit kulit menjadi lebih gelap dan lebih kasar.
e. Meningkatkan aktivitas kelenjar keringat dam kelenjar sebasea serta
terlibat dalam pembentukan jerawat.
f. Meningkatkan massa tulang dan otot.
g. Meningkatkan jumlah sel darah merah
h. Dan meningkatkan kapasitas pengikatan oksigen pada laki-laki.

2) LH(LuteinizingHormone)
LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi
sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron.
3) FSH (Follicle Stimulating Hormone)
FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi
menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid
menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi.

5
4) Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel
sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat
testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada
tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma.
5) Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme
testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan
awal pada spermatogenesis.

2. Organ Reproduksi Wanita


Organ reproduksi wanita terbagi atas organ genitalia eksterna dan organ genitalia
interna. Organ genitalia eksterna dan vagina adalah bagian untuk sanggama,
sedangkan organ genitalia interna adalah bagian untuk ovulasi, tempat pembuahan
sel telur, transportasi blastokis, implantasi, dan tumbuh kembang janin.
a. Genitalia Eksterna
Organ genitalia eksterna terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia minora,
klitoris, vestibulus vagina, himen (selaput dara), orifisium vagina,
bulbovestibularis (bulbus vaginalis), dan glandula vestibularis (bartolini).
1) Mons pubis/ mons veneri
Mons Veneris/ mons pubis Berfungsi untuk melindungi alat genetalia dari
masuknya kotoran selain itu untuk estetika.
2) LabiaMayora(bibirbesar)
Berfungsi untuk menutupi orga-organ genetalia di dalamnya dan
mengeluarkan cairan pelumas pada saat menerima rangsangan seksual.
3) LabiaMinora
Berfungsi untuk menutupi orga-organ genetalia di dalamnya serta
merupakan daerah erotik yang mengandung pembuluh darah dan syaraf.
4) Klitoris
Merupakan daerah erotik utama pada wanita yang akan membesar dan
mengeras apabila mendapatkan rangsangan seksual.

6
5) Vestibulum
Berfungsi untuk mengeluarkan cairan apabila ada rangsangan seksual yang
berguna untuk melumasi vagina pada saat bersenggama.
6) Hymen
Merupakan lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dari introitus
vagina, membentuk lubang sebesar ibu jari sehingga darah haid maupun
sekret dan cairan dari genetalia interrnal dapat mengalir keluar

b. Genitalian Interna
1) Vagina (Liang Kemaluan/Liang Senggama)
Vagina adalah saluran berbentuk tabung yang menghubungkan rahim ke
bagian luar tubuh wanita. Vagina merupakan alat reproduksi yang berada
di bagian paling luar seperti halnya penis pada pria. Vagina dapat
menghasilkan berbagai macam sekresi, seperti keringat, skene pada vulva,
cairan endometrial, oviductal, cervical mucus dam lain-lain. Sekresi pada
dinding vagina itu sendiri adalah sesuatu yang dapat meningkatkan gairah
seksual pada wanita.
Vagina merupakan suatu penghubung antara introitus vagina dan uterus.
Berfungsi sebagai saluran keluar untuk mengeluarkan darah waktu haid
dan sekret dari dalam uterus, alat untuk bersenggama dan jalan lahir bayi
waktu melahirkan.
2) Rahim/Uterus
Rahim atau yang biasa disebut dengan uterus merupakan alat reproduksi
wanita yang paling utama. Salah satu ujungnya adalah leher rahim
(serviks) dan ujung yang lainnya adalah tabung falopian (tuba fallopi).
Rahim berada di pelvis dan dorsal ke kandung kemih dan ventral ke
rectum. Rahim ditahan oleh beberapa ligament. Pada kondisi tidak hamil,
ukuran rahim hanyalah beberapa centimeter saja. Di dalam rahim banyak
terdapat otot. Lapisan permanen jaringan otot yang terdalam disebut
dengan endometrium.
Fungsi utama rahim adalah menerima pembuahan ovum yang tertanam ke
dalam endometrium dan dapat makanan dari pembuluh darah. Ovum yang
dibuahi menjadi embrio dan berkembang menjadi fetus. Setelah itu akan

7
menjadi gestates hingga kelahiran. Jika terjadi kehamilan rahim akan
didorong ke dalam perut sampai ke perluasannya
Uterus/rahim terdiri atas
 fundus uteriadalah bagian uterus proksimaldi situ kedua tuba
Falloppii masuk ke uterus. Pada kehamilan bagian ini mempunyai
fungsi utama sebagai tempat janin berkembang, rongga yang
terdapat di korpus uteri disebut kavum uteri (rongga rahim).
 korpus uteriadalah bagian uterus yang terbesar
 serviks uteri
Serviks uteri terdiri atas:
(1) pars vaginalis servisis uteri yang dinamakan porsio
(2) pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang
berada di atas vagina.
Secara histologik dari dalam ke luar, uterus terdiri atas (1) endometrium di
korpus uteri dan endoserviks di serviks uteri; (2) otot-otot polos; dan (3)
lapisan serosa, yakni peritoneum viserale. Endometrium terdiri atas epitel
kubik, kelenjar-kelenjar dan jaringan dengan banyak pembuluh darah
yang berkeluk-keluk, endometrium melapisi seluruh kavum uteri dan
mempunyai arti penting dalam siklus haid perempuan dalam masa
reproduksi.
Uterus diberi darah oleh arteria Uterina kiri dan kanan yang terdiri atas
ramus asendens dan ramus desendens.
Pembuluh darah ini berasal dari arteria Iliaka Interna (disebut juga arteria
Hipogastrika) yang melalui dasar ligamentum latum masuk ke dalam
uterus di daerah serviks kira-kira 1,5 cm di atas forniks lateralis vagina.
Pembuluh darah lain yang memberi pula darah ke uterus adalah arteria
Ovarika kiri dan kanan.
3) Tuba Fallopi
Tuba fallopi atau tabung falopi merupakan dua buah saluran halus yang
menghubungkan ovarium dengan rahim. Berfungsi sebagai saluran yang
membawa ovum yang dilepaskan ovarium ke dalam uterus. Saat sel telur
berkembang dalam ovarium, ia akan diselubungi folikel ovarium. Apabila
sel telur matang, maka folikel dan dinding ovarium akan runtuh dan

8
membuat sel telur berpindah memasuki tuba fallopi dan dilanjutkan ke
rahim dengan bantuan cilia.
4) Indung Telur (Ovarium)
Indung telur atau ovarium merupakan kelenjar kelamin yang dimiliki oleh
wanita. Terdapat dua ovarium dalam sistem reproduksi wanita. Ovarium
berfungsi memproduksi sel telur dan mengeluarkan hormon steroid dan
peptide seperti estrogen dan progesteron. Hormon estrogen dan
progesteron ini berperan dalam persiapan dinding rahim untuk implantasi
telur yang dibuahi. Hormon-hormon ini juga berperan memberikan sinyal
pada kelenjar hipotalamus dan pituari dalam mengatur siklus menstruasi.
Setelah sel telur diovulasikan maka akan masuk ke tuba fallopi dan
bergerak menuju rahim. Jika ada sperma yang masuk maka sel telur akan
melakukan implantasi pada dinding uterus dan berkembang menjadi proses
kehamilan.
5) Ligamentum
Berfungsi untuk mengikat atau menahan organ-organ reproduksi wanita
agar terfiksasi dengan baik pada tempatnya, tidak bergerak dan
berhubungan dengan organ sekitarnya.

c. Peran dan Fungsi Hormon pada Wanita


Berikuti ni adalah hormon yang dihasilkan oleh seorang wanita :
a. Hormon Estrogen. Hormon ini disekresi oleh sel-sel trache intra folikel
ovarium, korpus latum, dan plasenta.Sebagian kecil di hasilhan oleh
korteks adrenal.Estrogen mempermudah pertumbuhan folikel ovarium dan
meningkatkan tuba uterin, jumlah otot uterus, dan kadar protein kontraktil
uterus.
b. Hormon progesteron. Hormon progesteron dihasilkan oleh korpus luteum
dan plasenta. Hormon ini bertanggung jawab atas perubahan
endometriumdan perubahan siklik dalam serviks dan vagina.
c. Hormon Perangsang Folikel (FSH). Hormon fsh mulai ditemukan pada
gadis usia 11 tahun dan jumlahnya terus-menerus meningkat sampai
dewasa. FSH dibentuk oleh lobus anterior kelenjar hipofisis.
d. Hormon Lutein ( LH ). Hormon LH bekerja sama dengan FSH
menyebabkan terjadinya sekresi estrogen dari folikel de graaf.

9
e. Hormon Prolaktin. Hormon prolaktin ( luteotropin, LTH) ditemukan pada
wanita yang mengalami menstruasi, terbanyak pada urin wanita hamil,
masa laktasi dan menopous.
Fungsi hormon ini adalah untuk mempertahankan produksi progesteron
dari korpus luteum.

C. Fisiologi Sistem Reproduksi pada Manusia


A. Fisiologi Sistem Reproduksi pada Pria
1. Spermatogenesis
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis.
Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup
pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan diferensiasi
sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel
terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding
tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal
(jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis.
Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis
(lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis.
Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel
benih) yang disebutspermatogonia (spermatogonium = tunggal).
Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus
seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak
diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap
perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.
Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa atau
spermatogonium, sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel Sertoli berfungsi memberi
makan spermatozoa sedangkan sel Leydig yang terdapat di antara tubulus
seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron.
Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :
1) Spermatocytogenesis
Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan
menjadi spermatosit primer.

10
Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan
reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini
mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang
menjadi spermatosit primer. Spermatogonia yang bersifat diploid (2n
atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran
epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogonia tipe A
membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian,
setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit
primer yang masih bersifat diploid
Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya
dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak,
yaitu spermatosit sekunder.
2) Tahapan Meiois
Spermatosit primer menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak
dan segera mengalami meiosis I menghasilkan spermatosit
sekunder yang n kromosom (haploid). Spermatosit sekunder kemudian
membelah lagi secara meiosis II membentuk empat buahspermatid yang
haploid juga.
Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang
lengkap terpisah, tapi masih berhubungan lewat suatu jembatan
(Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II
memiliki inti yang gelap.
3) Tahapan Spermiogenesis
Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4
fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan.
Hasil akhir berupa empat spermatozoa (sperma) masak. Ketika spermatid
dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel.
Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat
bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen
Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan
menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada
hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.

11
Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar
cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut
dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-
laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa.

2. Fisiologis Sistem Reproduksi Laki-laki Untuk Membuahi


Tindakan seks pria melibatkan 2 komponen :
 Ereksi atau mengerasnya penis yang normalnya lunak agar penis dapat
masuk ke dalam vagina
 Ejakulasi, atau penyemprotan kuat semen ke dalam uretra dan keluar
dari penis.
Selain komponen-komponen yang berkaitan erat dengan reproduksi ini,
siklus respons seks mencakup respons fisiologik yang lebih luas yang dapat
dibagi menjadi 4 fase :
 Fase eksitasi yang mencakup ereksi dan peningkatan perasaan
seksual
 Fase plato yang ditandai oleh intensifikasi respon-respon ini,
ditambah respon yang lebih menyeluruh misalnya peningkatan
kecepatan jantung, tekanan darah, pernapasan dan ketegangan otot
 Fase orgasme yang mencakup ejakulasi serta respon lain yang
menjadi puncak eksitasi seksual dan secara kolektif dialami sebagai
kenikmatan fisik yang intens
 Fase resolusi yaitu kembalinya genitalia dan sistem tubh ke keadaan
sebelum rangsangan.
1)Ereksi
Ereksi merupakan peristiwa neurofisiologis yang kompleks. Peristiwa
ini terjadi ketika darah dengan cepat mengalir kedalam penis dan
terperangkap di dalam rongga spongiosum.
Terdapat 3 sistem yang terlibat langsung dengan ereksi penis :
1) Corpus Cavernosum yang memiliki struktur menyerupai spons
(busa)
2) Persarafan otonom penis
3) Pasokan darah ke penis

12
Ereksi dicapai melalui pembengkakan penis oleh darah.Penis hampir
seluruhynya terdiri dari jaringan erektil yang dibentuk oleh 3 kolom
rongga-rongga vaskular mirip spons yang terdapat di sepanjang organ
ini.
Tanpa rangsangan seks, jaringan erektil hanya mengandung sedikit
darah karena arteriol yang mendarahi rongga-rongga vaskular ini
berkontraksi. Akibatnya penis tetap kecil dan lunak.Selama rangsangan
seks, arteriol-arteriol ini secara refleks melebar dan jaringan erektil
terisi oleh darah sehingga penis bertambah panjang dan besar serta
menjadi kaku. Vena-vena yang mengalirkan darah dari jaringan erektil
penis tertekan secara mekanis oleh pembengkakan dan ekspansi rongga
vaskular ini sehingga aliran keluar vena berkurang dan hal ini ikut
berkontribusi dalam penumpukan darah atau vasokongesti.
Di medula spinalis bagian bawah baru-baru ini ditemukan adanya pusat
pembentuk ereksi. Melalui pusat ini, stimulasi taktil pada glans akan
secara refleks memicu peningkatan aktivitas vasodilatasi parasimpatis
dan penurunan aktivitas vasokontriksi simpatis dan penurunan aktivitas
vasokontriksi simpatis ke arteriol-arteriol penis. Akibatnya adalah
vasodilatasi hebat dan cepat arteriol-arteriol tersebut dan ereksi.Selama
lengkung refleks spinal utuh maka ereksi tetap dapat terjadi bahkan
pada pria yang lumpuh akibat cedera medula spinalis yang lebih tinggi.

Mekanisme Ereksi

Mekanisme terjadinya ereksi merupakan rangkaian fisiologis dan biokimiawi


yang sangat kompleks melibatkan saraf dan hormon. Ereksi biasanya diawali oleh
adanya rangsangan atau stimulasi seksual yang berhubungan dengan gairah atau
libido.

Selanjutnya, rangsangan ini menyebabkan inisiasi syaraf atau pengiriman


sinyal ke penis.Sinyal dari otak tersebut menimbulkan pelepasan zat kimia yang
disebut nitrogen oksida di daerah dinding pembuluh darah penis. Zat ini akan
mengaktifkan enzim guanilat siklase yang kemudian akan menghidrolisis guanisin
trifosfat (GTP) menjadi siklik guanisin monofosfat (cGMP). Dengan suatu rangkaian

13
fisiologis tertentu, senyawa ini menyebabkan otot polos dalam pembuluh darah penis
menjadi rileks, sehingga menyebabkan terjadinya ereksi.

Jadi saat proses ereksi, aliran darah mulai mengisi rongga-rongga bagian penis yang
disebut korpora kavernosa. Ereksi puncak terjadi ketika rongga-rongga ini sudah terisi
penuh dengan darah.

Mekanisme ereksi terdiri dari beberapa fase. Tahapan ini dimulai dari fase permulaan
dalam keadaan masih lemas (flasid), fase pengisian darah, fase tumesensi
(pembesaran), fase ereksi (tegak), hingga fase rigid (tegak dan keras).

Setelah itu penis kemudian sampai pada fase detumensensi (pelemasan kembali).
Untuk fase pelemasan penis ini, kata Nugroho, tubuh juga menghasilkan senyawa
penghantar lain yang disebut PDE5.

Enzim inilah yang menyebabkan cGMP pecah sehingga mengurangi aliran darah ke
daerah penis.
Begitu rumitnya mekanisme yang menyebabkan proses ereksi ini, kelebihan atau
kekurangan suatu zat ataupun fungsi suatu organ dapat menyebabkan seorang pria
mengalami disfungsi ereksi atau impotensi.

Para ahli telah menciptakan PDE5-inhibitor yang menghalangi pemecahan cGMP


oleh enzim PDE5. PDE5-inhibitor seperti sildenafil atau Viagra adalah jenis obat
yang diklaim dapat mempertahankan ereksi yang terjadi.

Sildenafil akan menghambat atau menghancurkan enzim PDE5 yang merusak cGMP.
sehingga memungkinkan pria penderita DE untuk mencapai dan mempertahankan
ereksi.

2) Ejakulasi
Respon ejakulasi keseluruhan terjadi dalam 2 fase : emisi dan ekspulsi

1. Emisi

14
Pertama, impuls simpatis menyebabkan rangkaian kontraksi otot polos di
prostat, saluran reproduksi dan vesikuloseminalis.Aktivitas kontraktil ini
mengalirkan cairan prostat, kemudian sperma dan akhirnya cairan vesikula
seminalis (secara kolektif disebut semen) ke dalam uretra.Fase refleks
ejakulasi ini disebut emisi.

2. Ekspulsi
Kedua, pengisian uretra oleh semen memicu impuls saraf yang mengaktifkan
serangkaian otot rangka di pangkal penis. Kontraksi ritmik otot-otot ini terjadi
pada interval 0,8 detik dan peningkatan tekanan di dalam penis, memaksa
semen keluar melalui uretra ke eksterior.

3. Orgasme
Kontraksi ritmik yang terjadi selama ekspulsi semen disertai oleh denyut
ritmik involunter otot-otot panggul dan memuncaki intensitas respon tubuh
keseluruhan yang naik selama fase-fase sebelumnya.Respon panggul dan
sistemik yang memuncaki tindakan seks ini berkaitan dengan rasa nikmat
intens yang ditandai oleh perasaan lepas atau puas, suatu pengalaman yang
dikenal sebagai orgasme.

4. Resolusi
Selama fase resolusi setelah orgasme, impuls vasokonstriktor memperlambat
aliran darah ke dalam penis, menyebabkan ereksi mereda.Kemudian terjadi
relaksasi dalam, sering disertai rasa lelah.Tonus otot kembali ke normal
sementara sistem kardiovaskular dan pernapasan kembali ketingkat sebelum
rangsangan.Setelah terjadi ejakulasi timbul periode refrakter temporer dengan
durasi bervariasi sebelum rangsangan seks memicu kembali ereksi.

3) Transpor Sperma ke Tuba Uterina


Setelah diendapkan di vagina saat ejakulasi sperma harus berjalan
melewati kanalis servikalis, lalu uterus dan kemudian sampai ke sel telur di
sepertiga atas tuba uterina. Sperma pertama tiba di tuba uterina setengan jam
setelah ejakulasi. Sperma bermigrasi naik melewati kanalis servikalis dengan
kemampuannya sendiri.

15
Setelah sperma masuk ke uterus, kontraksi miometrium mengaduk-
aduk sperma seperti mesin cuci dengan cepat menyebabkan sperma tersebar ke
seluruh rongga uterus.Ketika mencapai tuba uterina.Sperma terdorong ke
tempat pembuahan di ujung atas tuba uterina yang mengarah ke atas.
Riset-riset baru menunjukkan bahwa ketika sperma mencapai ampula, ovum
bukan merupakan mitra pasif dalam konsepsi. Sel telur matang mengeluarkan
alurin, suatu bahan kimia yang menarik sperma dan meyebabkan sperma
bergerak menuju gamet wanita yang telah menunggu.Para ilmuwan juga baru-
baru ini menemukan adanya reseptor sperma yang mendeteksi dan berespon
terhadap kemoatraktan yang dikeluarkan oleh ovum.

Yang menarik, reseptor ini, yang dinamai hOR17-4 adalah reseptor


olfaktorius (RO), serupa dengan yang ditemukan di hidung untuk persepsi
bau.Menurut anggapan yang sekarang dianut pengaktifan reseptor hOR17-4
pada pengikatan dengan alurin (sinyal lainnya) dari sel telur memicu suatu
jalur pembawa pesan kedua di sperma yang menyebabkan pelepasan Ca2+
intrasel. Ca2+ ini selanjutnya mengaktifkan pergeseran mikrotubulus yang
menyebakan gerakan ekor dan berenangya sperma menuju arah sinyal
kimiawi.

4) Fertilisasi
Untuk membuahi sebuah ovum, sebuah sperma mula-mula harus
melewati korona radiata dan zona pelusida yang mengelilingi sel telur.Enzim-
enzim akrosom, yang terpajan ketika membran akrosom pecah setelah
berkontak dengan korona radiata, memungkinkan sperma membuat saluran
menembus sawar-sawar protektif ini.
Sperma dapat menembus zona pelusida hanya setelah berikatan dengan
reseptor spesifik di permukaan lapisan ini.Fertilin, suatu protein yang terdapat
di membran plasma sperma, berikatan dengan integrin sel telur.
Kepala sperma yang menyatu tersebut secara perlahan tertarik ke dalam
sitoplasma ovum oleh suatu kerucut yang tumbuh dan membungkusnya. Ekor
sperma sering lenyap dalam proses ini, tetapi kepala membawa informasi
genetik yang penting. Bukti-bukti terakhir menunjukkan bahwa sperma

16
mengeluarkan nitrat oksida setelah berhasil masuk seluruhnya ke dalam
sitoplasma sel telur.

Nitrat oksida ini mendorong pelepasan Ca2+ yang tersimpan di dalam


sel telur.Pelepasan Ca2+ intrasel ini memicu pembelahan meitotik akhir oosit
sekunder. Dalam satu jam, nukleus sperma dan sel telur menyatu, berkat
adanya suatu kompleks molekul yang diberikan oleh sperma yang
memungkinkan kromosom pria dan wanita menyatu.

3. Pengaturan Sekresi Gonadotropin pada Pria


Mekanisme neuroendokrin yang mengatur fungsi testis pada dasarnya
serupa dengan mekanisme yang mengatur fungsi ovarium. GnRH hipotalamus
yang disekresi ke dalam sistem portal hipofisis menstimulasi sintesis dan
pelepasan gonadotropin FSH dan LH.
FSH dan LH mengatur aktivitas spermatogenesis dan endokrin testis.
Pria pasca pubertas terus menerus mengalami gametogenesis dan produksi
testosteron sementara pada wanita masa pasca pubertas mengalami periode
yang siklis. Tidak adanya periode siklis pada pria disebabkan oleh karena
androgen tidak menggunakan mekanisme umpan balik positif pada pelepasan
gonadotropin.Testosteron adalah pengatur utama sekresi LH pada pria.

B. Fisiologi Sistem Reproduksi pada Wanita


1. Pubertas dan Proses Terjadinya Menstruasi
Masa pubertas wanita adalah masa mulainya produktivitas artinya mulai dapat
melanjutkan keturunan. Masa produktifitas ini berlangsung kira-kira selama 30tahun.
Umumnya wanita yang tidak hamil setiap bulannya secara teratur akan mengeluarkan
darah dari alat kandungannya yang di sebut menstruasi (haid). Umumnya siklus
menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari).

Sikuls menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus ovarium
(indung telur) dan siklus uterus (rahim). Siklus indung telur terbagi lagi menjadi 2
bagian, yaitu siklus folikular dan siklus luteal, sedangkan siklus uterus dibagi menjadi
masa proliferasi (pertumbuhan) dan masa sekresi.

17
Perubahan di dalam rahim merupakan respon terhadap perubahan hormonal.
Rahim terdiri dari 3 lapisan yaitu perimetrium (lapisan terluar rahim), miometrium
(lapisan otot rehim, terletak di bagian tengah), dan endometrium (lapisan terdalam
rahim). Endometrium adalah lapisan yangn berperan di dalam siklus menstruasi. 2/3
bagian endometrium disebut desidua fungsionalis yang terdiri dari kelenjar, dan 1/3
bagian terdalamnya disebut sebagai desidua basalis.

Adapun siklus Menstruasi adalah sbb :


Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel
primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada saat tersebut sel oosit primer akan
membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi
folikel de Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang
merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang
perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi,
selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis
menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel de Graaf yang masak untuk
mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi
disebut fase estrus.
Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi
badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron
yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah
untuk mempersiapkan datangnya embrio, periode ini disebut fase luteal, selain itu
progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus
luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga
pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan
selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28.
Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi.
Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan
terjadilan proses oogenesis kembali. Siklus mentruasi ini melibatkan kompleks
hipotalamus-hipofisis-ovarium.

Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:

1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan


hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH.

18
2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus
untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH

3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk


mengeluarkan prolaktin

Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:

1. Masa menstruasi. Yaitu yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu
endometrium (selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan hormon-
hormon ovarium berada dalam kadar paling rendah

2. Masa proliferasi. Yaitu dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah
menstruasi berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari
desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase
ini endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi
pelepasan sel telur dari indung telur (disebut ovulasi)

3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Hormon
progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium untuk
membuat kondisi rahim siap untuk implantasi (perlekatan janin ke rahim)

2. Fisiologi Kehamilan pada Wanita


Selama 3-4 jam pertama setelah pembuahan, zigot tetap berada di dalam
ampula, karena penyempitan antara ampula dan saluran tuba uterina, sisanya
menghambat pergerakan lebih lanjut zigot menuju uterus. Namun, selama tahap ini
zigot tidak tinggal diam. Zigot cepat mengalami sejumlah pembelahan sel mitotik
untuk membentuk suatu bola pedar sel-sel yang disebut morula.
Sekitar 3-4 hari setelah ovulasi, progesteron diproduksi dalam jumlah
memadai untuk melemaskan kontriksi tuba uterina sehingga morula dapat dengan
cepat terdorong ke dalam uterus oleh kontraksi peristaltik tuba uterina dan aktivitas
silia. Penundaan sementara mudigah yang baru terbentuk masuk ke dalam uterus
untuk menunjang mudigah sampai implantasi berlangsung. Jika tuba terlalu cepat di
uterus morula akan mati.

19
Pada saat endometrium siap menerima implantasi (sekitar seminggu setelah
ovulasi), morula telah turun ke uterus dan terus berproliferasi dan berdiferensiasi
menjadi blastokista.
Blastokista adalah suatu bola berongga berlapis tunggal dan terdiri dari sekitar
50 sel mengelilingi sebuah rongga berisi cairan, dengan suatu massa padat sel-sel
berkelompok di satu sisi. Massa padat ini, yang dikenal sebagai massa sel dalam,
berkembang menjadi mudigah/ janin itu sendiri. Blastokista sisanya tidak membentuk
janin tetapi memiliki peran suportif selama kehidupan intrauteri.
Lapisan tipis paling luar. Trofoblas, melaksanakan implantasi dan kemudian
berkembang menjadi plasenta bagian janin.
Implantasi dimulai ketika, setelah berkontak dengan endometrium. Sel-sel
trofoblastik yang menutupi massa sel dalam mengeluarkan enzim-enzim pencernaan
protein. Enzim-enzim ini mencerna sel-sel endometrium dan membentuk jalan
sehingga genjol-genjol sel trofoblas mirip jari dapat menembus dalam endometrium.
Melalui efek kanibalistiknya, trofoblas melakukan fungsi ganda (1) menyelesaikan
implantasi dengan membuat lubang di endometrium untuk blastokista dan (2)
menyediakan bahan mentah dan bahan bakar metabolik untuk mudigah yang sedang
berkembang sewaktu tonjolan-tonjolan trofoblastik menguraikan jaringan
endometrium kaya nutrien.
Jaringan endometrium mengalami modifikasi sedemikian rupa di tempat
implantasi disebut desidua. Ke dalam jaringan desidua inilah blastokista terbenam.
Lapisan trofoblas terus mencerna sel-sel desidua sekitar, menghasilkan energi untuk
mudigah sampai plasenta terbentuk.
Untuk mempertahankan pertumbuhan mudigah/janin selama kehidupan
intrauterinnya, segera terbentuk plasenta, suatu organ khusus pertukaran antara darah
ibu dan janin.
Hari ke-12, mudigah telah terbenam di dalam desidua. Pada saat itu lapisan
trofoblas telah memiliki ketebalan 2 lapisan sel dan disebut korion. Seiring dengan
terus berkembangnya dan dihasilkannya enzim-enzim oleh korion, terbentuk
anyaman-anyaman rongga-rongga yang ektensif di dalam desidua.
Korion yang meluas menggerus dinding kapiler desidua, menyebabkan darah
itu bocor dari kapiler dan mengisi rongga-rongga ini. Darah dicegah membeku oleh
suatu antikoagulan yang dihasilkan korion. Segera mudigah yang sedang tumbuh ini
mengirim kapiler ke dalam tonjolan korion untuk membentuk vilus plasenta.

20
Setiap vilus plasenta berisi kapiler mudigah (kemudian janin) yang dikelilingi
oleh suatu lapisan tipis jaringan korion, yang memisahkan darah mudigah/ janin dari
darah ibu di ruang antara vilus. Semua pertukaran antara kedua aliran darah
berlangsung menembus sawar yang sangat tipis ini. Keseluruhan sistem struktur ibu
(desidua) dan janin (korion) yang saling terkait ini membentuk plasenta.
Sepanjang gestasi, darah janin secara terus-menerus mengalir antara virus
plasenta dan sistem sirkulasi janin melalui arteri umbilikalis dan vena umbilikalis,
yang terbungkus di dalam korda umbilikalis (tali pusat), suatu penghubung antara
janin dan plasenta.
Sementara itu, selama waktu implantasi dan awal perkembangan plasenta,
massa sel dalam membentuk rongga amnion berisi cairan di antara korion dan bagian
massa sel dalam yang ditakdirkan menjadi janin. Lapisan epitel yang membungkus
rongga amnion disebut kantung amnion atau amnion. Seiring dengan
perkembangannya, kantong amnion akhirnya menyatu dengan korion membentuk
suatu membran kombinasi yang mengelilingi mudigah/ Janin. Cairan rongga amnion,
cairan amnion (cairan ketuban), yang komposisinya serupa dengan CES (Cairan
Ekstra Seluler) normal, mengelilingi dan menjadi bantahan bagi janin sepanjang
kehamilan.

3. Fisiologi Laktasi

Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara


rangsangan mekanik, saraf, dan bermacam-macam hormone. Pengaturan hormon
terhadap pengeluaran ASI, dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu :

A. Pembentukan Kelenjar Payu dara dan Produksi Asi (Prolaktin)

Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan


berakhir ketika mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon
esterogen dan progesteron yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan
hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.

Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum
keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen
dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca
persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua

21
reflek yang berperan, yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul
akibat perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi.

 Refleks Prolaktin

Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat


kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas prolaktin
dihambat oleh estrogen dan progesteron yang masih tinggi. Pasca persalinan,
yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum maka
estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang
puting susu dan kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris yang
berfungsi sebagai reseptor mekanik.

Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis


hipotalamus dan akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi
prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi
prolaktin.

Faktor pemacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga


keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk
membuat air susu.

Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah
melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada
peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu
tetap berlangsung.

Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal
pada minggu ke 2 – 3. Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan
meningkat dalam keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi,
operasi dan rangsangan puting susu

 Refleks Aliran (Let Down Reflek)

Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan


yang berasal dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise)

22
yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini
menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi.

Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari
alveoli dan masuk ke sistem duktus dan selanjutnya mengalir melalui duktus
lactiferus masuk ke mulut bayi.

Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi,


mendengarkan suara bayi, mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi.
Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan
bingung/ pikiran kacau, takut dan cemas

B. Mekanisme meyusui
Bayi yang sehat mempunyai 3 refleksi intrinsik, yang diperlukan untuk
berhasilnya menyusui seperti :

1. Refleks menangkap/mencari (rooting refleks)


2. Refleks menghisap
3. Refleks menelan
a. Refleks Menangkap/mencari (Rooting Refleks)
Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah
sentuhan. Bibir bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan
membuka mulut dan berusaha menangkap puting susu.

b. Refleks Menghisap (Sucking Refleks)


Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar
puting mencapai palatum, maka sebagian besar areola masuk ke dalam mulut
bayi. Dengan deikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan
antara gusi, lidah dan palatum sehingga ASI keluar.

c. Refleks Menelan (Swallowing Refleks)

23
Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan
menelannya.

C. Pengeluaran ASI (Oksitosin)

Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan


menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria
posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel
miopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk dalam
pembuluh ampula.

Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh reseptor
yang terletak pada duktus. Bila duktus melebar, maka secara reflektoris
oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis.

Mekanisme oksitoksin :

 Tekanan dari belakang : Tekanan gluboli yang baru terbentuk di dalam


sel akan mendorong gluboli tersebut ke dalam tubuli laktiverus dan
isapan bayi akan memacu sekresi air susu lebih banyak.
 Refleks neurohormon : Gerakan menghisap bayi akan menghasilkan
rangsangan saraf yang terdapat didalam glandula pituitaria poterior.
Akibat langsung dari refleks ini adalah dikeluarkannya oksitoksin dari
hipofisis posterior. Disekitar alveoli akan berkontraksi mendorong air
susu masuk kedalam vasalaktifer. Dengan demikian lebih banyak air
susu mengalir kedalam ampula. Refleks ini dapat di hambat dengan
adanya rasa sakit, misalnya jahita pada perineum. Sekresi oksitoksin
juga akan menyebabkan otot uterus berkontraksi dan membantu
involusi uterus selama puerperium (nifas).
4. Menopous
Menopous terjadi pada usia 45-50 tahun. Dimana siklus seksual menjadi tidak
teratur, ovulasi tiak terjadi sama sekali. Siklus berhenti dan hormon kelamin
wanita menghilang dengan cepat sampai hormon tidak ada, yang disebut
sebagai menopous.

24
Penyebabnya adalah matinya ovarium ( burning out). Sepanjang kehidupan
seksual seorang wanita, kira-kira 400 folikel hormon tumbuh dan
berpoliferasi, beratus-ratus ribu ovum berdegenerasi. Pada usia 45 tahun hanya
tinggal beberapa folikel yang di rangsang oleh FSH dan LH. Produksi estrogen
berkurang sewaktu jumlah folikel hormon mencapai nol. Produksi estrogen
menurun di bawah nilai kritis, estrogen tidak lagi menghambat produksi FSH
dan LH dan tidak menimbulkan siklus ovulasi.

Pada saat menopous produksi estrogen menjadi kosong yang menyebabkan


terjadinya perubahan fisiologis yang bermakna pada fungsi tubuh, ditandai
dengan :

A. Rasa panas kemerahan kulit yang ekstrem


B. Sensasi psikis dari dispnea
C. Rasa letih, gelisah, dan ansietas (rasa cemas yang berlebihan)
D. Kadang-kadang keadaan psikotik (gangguan kepribadaian)
E. Penurunan kekuatan tulang seluruh tubuh.

25
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Jadi sistem reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak.
terdiri dari ovarium, uterus dan bagian alat kelamin lainnya.Reproduksi juga
merupakan bagian dari proses tubuh yang bertanggung jawab terhadap
kelangsungan suatu generasi. Untuk kehidupan makhluk hidup reproduksi tidak
bersifat vital artinya tanpa adanya proses reproduksi makhluk hidup tidak mati.

B. Kritikdan Saran
Makalah ini jauh dari kesempurnaan. Dengan dibuatnya makalah ini
diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan pembaca. Selanjutnya
pembuat makalah mengharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan
makalah ini untuk kedepannya.

26
27
28
29