Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

EFEK FOTOLISTRIK

TUGAS MATA KULIAH FISIKA KUANTUM

Nama Kelompok :

Aldi Setia Utama (1723022004)


Trimo Saputro (1723022011)
Dian Purnomo (1723022007)

MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN

UNIVERISTAS LAMPUNG

2018
EFEK FOTOLISTRIK

I. Tujuan Percobaan :

a. Mengetahui fenomena efek fotolistrik melalui aplikasi Phet-Simulation.


b. Mencari konstanta Planck melalui percobaan efek fotolistrik pada logam Natrium (Na)
dan membandingkannya dengan referensi.
c. Mencari fungsi kerja logam Natrium (Na) melalui percobaan efek fotolistrik dan
membandingkannya dengan referensi.

II. Alat dan Bahan


a. Seperangkat komputer/laptob
b. Java Runtime Environment
c. Softwafe simulasi efek fotolistrik

III. Tinjauan pustaka

Efek fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya elektron-elektron dari permukaan


logam (elektron foton) ketika logam tersebut disinari cahaya. Berikut adalah gambar
rangkaian skema eksperimen efek fotolistrik.

Gambar 1. Rangkaian eksperimen efek foto listrik.

Efek fotolistrik tidak dapat dijelaskan jika cahaya dipandang sebagai


gelombang. Menurut teori gelombang, dua sifat penting gelombang cahaya adalah
intensitas dan frekuensinya (panjang gelombang).
Ternyata teori gelombang cahaya gagal menerangkan beberapa sifat penting
pada efek fotolistrik, antara lain :
1. Teori gelombang menyatakan bahwa energi kinetik elektron foton harus
bertambah jika intensitas (jumlah foton) cahaya diperbesar. Namun kenyataannya,
besar energi kinetik maksimum elektron foto tidak bergantung pada intensitas
cahaya.
2. Teori gelombang menyatakan bahwa efek fotolistrik dapat terjadi pada setiap
frekuensi asalkan intensitasnya memenuhi. Hal ini bertentangan dengan kenyataan
bahwa setiap permukaan membutuhkan frekuensi minimum tertentu yang disebut
frekuensi ambang fo untuk dapat menghasilkan elektron foto.
3. Teori gelombang menyatakan bahwa dibutuhkan rentang waktu yang cukup lama
agar elektron berhasil mengumpulkan energi untuk keluar dari permukaan logam.
Namun ternyata elektron-elektron dapat terlepas dari permukaan logam hampir
tanpa selang waktu, yaitu kurang dari 10-9 sekon setelah penyinaran.
4. Teori gelombang tidak dapat menjelaskan mengapa energi kinetik maksimum
elektron foto bertambah jika frekuensi cahaya diperbesar.

Teori foton ternyata memberikan prediksi yang benar-benar berbeda. Menurut


teori ini, semua foton memiliki energi yang sama (hf ), sehingga menaikkan intensitas
cahaya berarti menambah jumlah foton, tetapi tidak menambah energi tiap foton
selama frekuensinya tetap. Menurut percobaan terhadap energi radiasi benda hitam,
Max Planck membuat hipotesis: "Radiasi hanya dipancarkan (atau diserap) dalam
bentuk satuan-satuan/kuantum energi disebut foton yang besarnya berbanding lurus
dengan frekuensi radiasi".

Energi total foton dirumuskan dengan:

𝑐
E = nhf = nh
𝜆

Dengan E adalah energi radiasi (joule), h adalah konstanta Planck, f adalah


frekuensi radiasi (Hz), λ adalah panjang gelombang radiasi (m), n adalah jumlah
foton.

Jadi dapat dikatakan bahwa energi cahaya adalah terkuantisasi. Einstein


mengemukakan bahwa semua energi foton diberikan kepada elektron sehingga foton
lenyap. Karena elektron terikat oleh energi ikat tertentu logam, maka diperlukan kerja
minimum yang disebut fungsi kerja atau energi ambang Wo untuk melepaskan
elektron dari permukaan logam. Besarnya fungsi kerja Wo tergantung pada jenis
logam. Apabila frekuensi cahaya f sedemikian rupa sehingga hf ≤ Wo , maka elektron
tidak akan terlepas. Sedangkan, jika hf > Wo, maka elektron akan terlepas dari
permukaan logam dengan energi kinetik maksimum yang memenuhi persamaan :

EKm = hf −Wo

½ mv2 = hf − hf o

𝑐 𝑐
½ mv2 = h -ℎ
𝜆 𝜆0

Dengan h adalah konstanta Planck, f adalah frekuensi, m adalah massa, dan v


adalah kecepatan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa efek fotolistrik
dapat dijelaskan menurut teori foton sebagai berikut:
1. Kenaikan intensitas cahaya menyebabkan bertambahnya jumlah elektron yang
terlepas, tetapi karena energi elektron tidak berubah maka energi kinetik
maksimum elektron foto juga tidak berubah.
2. Kenaikan frekuensi cahaya akan meningkatkan energi kinetik elektron foto yang
memenuhi hubungan Ekm = hf −Wo
3. Jika frekuensi cahaya f lebih kecil dari frekuensi ambang fo, maka tidak ada
elektron yang terlepas dari permukaan logam, berapa pun besarnya intensitas
cahaya yang digunakan.
4. Elektron terlepas dari permukaan logam sesaat setelah penyinaran karena cahaya
bersifat partikel (paket energi) sehingga terjadi transfer energi spontan dari foton
ke elektron dengan interaksi satu-satu.
Hubungan antara panjang gelombang maksimum (λ) dengan tegangan pemicu
(Vo) adalah:
𝑐
E = hυ = h 𝜆= e Vo

Berikut digambarkan skema terjadinya efek fotolistrik.


Gambar 2. Skema Proses terjadinya efek foto listrik

A. Logam Natrium

Natrium atau biasa juga disebut dengan sodium merupakan salah satu unsur kimia.
Dengan simbol Na dan nomor atom 11 pada tabel periodik. Natrium adalah logam reaktif
yang lunak, keperakan, dan seperti lilin, yang termasuk ke logam alkali yang banyak
terdapat dalam senyawa alam (terutama halite). Sangat reaktif, apinya berwarna kuning,
beroksidasi dalam udara, dan bereaksi kuat dengan air, sehingga harus disimpan dalam
minyak.

Berikut adalah tabel fungi kerja untuk beberapa logam. Satuan fungsi kerja
biasanya dinyatakan dalam elektron volt (eV) yang besarnya setara dengan.1 eV = 1,6 x
10-19 Joule

Tabel Fungsi kerja fotolistrik beberapa logam

Logam Lambang Fungsi Kerja (eV)


Cesium Cs 1,9
Kalium K 2,2
Natrium Na 2,3
Lithium Li 2,5
Kalsium Ca 3,2
Seng Zn 4,31
Tembaga Cu 4,5
Perak Ag 4,7
Platina Pt 5,6
B. PHET (Physics Education Technology)

Physics Education Technology (PhET) adalah software (perangkat lunak) atau


program simulasi fisika yang mudah untuk dipelajari. Kita dapat mengamati, menghitung,
mengukur, menghubungkan ruang dan waktu, membuat hipotesis, merancang
eksperimen, mengendalikan variabel, membuat kesimpulan sementara, menerapkan,
mengkomunikasikan data dan mengajukan pertanyaan. Physics Education Technology
juga merupakan program aplikasi yang terdiri dari Java dan Flash yang saat ini sedang
dikembangkan dalam dunia pendidikan. Dalam perangkat lunak ini terdapat beberapa
simulasi fisika, diantaranya adalah motion, work, energy and power, heat and thermo,
electricity and circuits, light and radiation, quantum phenomena, serta match and tools,
yang digunakan sebagai media pembelajaran praktis, interaktif dan mencakup beberapa
konsep fisika. Simulasi yang digunakan dalam makalah ini adalah efek foto listrik dengan
bentuk programnya seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. Physics Education
Technology menyediakan fasilitas yang memungkinkan kita untuk melakukan percobaan
seperti eksperimen fisika sesungguhnya, juga menyediakan berbagai kemudahan dalam
melakukan eksperimen. Penggunaan PhET simulasi secara umum dapat mempermudah
pengajar, mahasiswa, dan pelajar khususnya tentang penjelasan materi efek foto listrik.

IV. Prosedur Percobaan


1. Pastikan komputer sudah terinstal Java Runtime Enviroment
2. Hidupkan sofware simulasi efek fotolistrik pada komputer/laptob yang sudah
diunduh.
3. Kemudian operasikan program simulasi efek fotolistrik phet hingga muncul tampilan
seperti pada gambar dibawah ini.
4. Tentukan logam yang ingin diamati.
5. Klik kemudian geserlah panjang gelombang yang inginkan dengan intensitas 50%
6. Ubahlah potensial stopnya dengan menggeser hingga mendaptkan nilai arus o,ooo
7. Ulangi langkah 5 dan 6 untuk 10 kali percobaan
8. Buat grafik antara potensial stop dengan freuensi cahaya.
Gambar. 1. Tampilan Sofware Simulasi PHET

V. Data hasil pengamatan dan pembahasaan


Tabel.1. hasil pengamatan melalui software PhET

Berdasarkan percobaan Phet Simulation dapat diamati bahwa efek fotolistrik


adalah munculnya arus listrik atau lepasnya elektron yang bermuatan negatif dari
permukaan sebuah logam akibat permukaan logam tersebut disinari dengan berkas
cahaya yang mempunyai panjang gelombang. Keunikan efek fotolistrik adalah hanya
muncul ketika cahaya yang menerpa memiliki frekuensi di atas nilai ambang tertentu.
Di bawah nilai ambang tersebut, tidak ada elektron yang terpancar keluar, tidak peduli
seberapa banyak cahaya yang menerpa benda.
Pada percobaan ini praktikan melakukan 12 kali percobaan dengan logam
Sodim yang intensitas cahayanya 50%. Percobaan ini dilakukan mengganti nilai
panjang gelombang (λ), lalu mengambil data kuat arus (I) dan potensial henti (Vo)
Setelah memperoleh data praktikan melakukan perhitungan frekuensi dan
energy kinetik dengan menggunakan persamaan di bawah ini:
Frekuensi
𝑐
𝑓= Dengan c = 3 x 108 m
𝜆

Energi Kinetik
Ek = eV, Dengan e = 1.602 x 10−19 C

Setelah dilakukan perhitungan yang ada di lampiran dan hasilnya yang tertera
pada tabel hasil pengamatan. Dari hasil frekuensi dan energy kinetik dibuat grafik lalu
di cari gradienya. Grafiknya seperti gambar di bawah ini:

Dari grafik di atas didapatkan y = 7.10-34 x – 4.10-19. Maka konstanta plancknya


adalah h = 7.10-34 Js. Hampir mendekati nilai konstanta planck pada referensi yaitu h
= 6, 26.10-34 Js.
Setelah memperoleh nilai konstanta planck, maka cari nilai fungsi kerja dari logam
natrium dengan menggunakan persamaan ini:
𝑊𝑜 = ℎ. 𝑓𝑜
Dimana konstanta plancknya h = 7 𝑥 10−34 J.s dan nilai fo = 5,69 x 1014 Hz. Maka
𝑊𝑜 = (7 𝑥 10−34 ). (5,69 𝑥 1014 )
𝑊𝑜 = 39,83 𝑥 10−20
𝑊𝑜 = 2,48 𝑒𝑉
Jadi nilai fungsi kerja yang diperoleh melalui percobaan yaitu 𝑊𝑜 = 2,48 𝑒𝑉 hampir
mendekati nilai referensi yaitu 𝑊𝑜 = 2,3 𝑒𝑉

VI. Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:


1. Fenomena Efek Fotolistrik melalui Phet-Simulation yaitu munculnya arus listrik
atau lepasnya elektron yang bermuatan negatif dari permukaan sebuah logam
akibat permukaan logam tersebut disinari dengan berkas cahaya yang mempunyai
panjang gelombang atau frekuensi tertentu.
2. Berdasarkan percobaan efek fotolistrik Konstanta Planck pada logam

Natrium yaitu 7 x 10-34 Js, Hal ini hampir mendekati referensi yaitu 6.626 x 10-34
3. Berdasarkan percobaan efek fotolistrik, fungsi kerja logam Natrium yaitu 2.48 Ev.
Hal ini sesuai dengan referensi yaitu 2.3 Ev.