Anda di halaman 1dari 12

TUTORIAL KLINIK KULIT KELAMIN

LIKEN SIMPLEKS KRONIS

Dosen Pembimbing:

Dr. Fajar Waskita, Sp.KK (K), M.Kes

Disusun Oleh:

Try Putra Heny Cendekiawan (42170157)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT KELAMIN

RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA

PERIODE 20 NOVEMBER 2017 – 16 DESEMBER 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

YOGYAKARTA

2017
STATUS PASEIN

I. IDENTITAS PASEIN
Nama : Ibu SS
Usia : 75 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pensiunan
Kunjungan ke klinik : 04 Desember 2017

II. ANAMNESA
A. Keluhan utama :
Pergelangan kaki kiri terasa gatal dan suka digaruk oleh pasien sehingga
membengkak dan kulit menebal
B. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien mengeluh gatal selama 1 bulan terakhir pada kedua pergelangan kaki, gatal
dirasakan memberat saat malam hari dan membuat pasien kesulitan untuk tidur.
Pasien mengaku suka menggaruk bagian atau lesi yang gatal tersebut. Pasein
sudah lama mendapat pengobatan dari dokter spesialis kulit dan kelamin dengan
obat yang diminum serta salep racikan. Selama pengobatan pasien merasa ada
perbaikan dengan rasa gatal dan lesi yang mulai berkurang. Namun bila tidak
diberikan obat, gatal kembali muncul lagi dan pasein mengaku sering keluar kota
dan sulit untuk berkunjung kontrol kembali.
C. Riwayat penyakit dahulu :
Pasein memiliki riwayat hipertensi dan memiliki riwayat alergi terhadap makanan
seafood yang akan menimbulkan reaksi gatal. Untuk riwayat asma dan penyakit
metabolic lainnya disangkal pasien.
D. Riwayat penyakit keluarga :
Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan kulit yang sama, dan ada
riwayar hipertensi di keluarga pasien.
E. Gaya Hidup :
Pasein bekerja sehari-hari didalam rumah dan terkadang keluar kota untuk
menemui keluarganya. Pasein mengaku jarang terpapar zat kimia, sinar matahari
yang ekstrem, ataupun memakan makanan yang pasien duga dapat menimbulkan
rasa gatal. Untuk higienitas pasien dinilai cukup karena mandi 2 kali sehari serta
menggunakan perangkat mandi masing-masing dalam anggota keluarganya.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum : Baik
Kesadaran : compos mentis
Gizi : baik
Tekanan darah : tidak dilakukan pemeriksaan
Nadi dan RR : tidak dilakukan pemeriksaan
Kepala :
- Tidak ada ditemukan adanya ujud kelaianan kulit, semua DBN
Leher :
- Tidak ada ditemukan adanya ujud kelaianan kulit, semua DBN
Thorax :
- Tidak ada ditemukan adanya ujud kelaianan kulit, semua DBN
Ekstrimitas atas :
- Tidak ada ditemukan adanya ujud kelaianan kulit, semua DBN
Abdomen :
- Tidak ada ditemukan adanya ujud kelaianan kulit, semua DBN
Ekstrimitas bawah :
- Ditemukan adanya lesi atau ujud kelainan kulit pada ekstremitas bawah yang
sesuai dengan status lokalis
Status lokalis :
- Pada daerah pergelangan kaki terdapat plak yang eritem dengan likenifikasi,
berbentuk tidak teratur, batas tegas, lokalisasi lesi simetrik (mengenai kedua sisi
tubuh yang sama), dan terlihat tanda ekskoriasi.
IV. DIAGNOSA BANDING
1. Linken simpleks kronik
2. Dermatitis atopik disertai likenifikasi
3. Dermatitis numularis
4. Dermatitis kontak alergi kronik

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang namun dapat disarankan untuk dilakukan
pemeriksaan patch test untuk menyingkirkan diagnosa dermatitis, dan pemeriksaan
laboratrium serta histologi untuk mendukung atau menunjang penegakkan diagnosa.

VI. DIAGNOSA
- Linken simpleks kronis

VII. TATSLAKSANA
R / Loratadine tab 10 mg no. X
S 1 dd tab 1 pc ( untuk gatal )

R / Asam Salisilat pulv 5%

Desoximetasone oint 0,25% tube 15 gr

Liquor Carbonis Detergent 3%

Vaselin oint 5 gr
m.f.l.a.Oint.da.in.pot. No. V

S 2 dd applic part dol ue (setelah mandi, selama 14 hari )

VIII. EDUKASI
1. Melakukan pengobatan secara menyeluruh, tekun, dan konsisten
2. Edukasi perjalanan penyakit bahwa jika lesi gatal – digaruk – maka akan
menyebabkan penebalan pada lesi. Sehingga pasien disarankan agar tidak terus
menerus manggaruk lesi saat gatal.
3. Hindari stres, jika perlu konsultasikan psikiatri.

IX. PROGNOSIS
- Prognosis ad vitam : bonam
- Prognosis ad functionam : bonam
- Prognosis ad sanationam : dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Liken simpleks kronis atau yang sering disebut juga dengan neurodermatitis sirkumkripta
adalah kelainan kulit berupa peradangan kronis, sangat gatal berbentuk sirkumskrip dengan tanda
berupa kulit tebal dan menonjol menyerupai kulit batang kayu akibat garukan dan gosokan yang
berulang-ulang.
Liken simpleks kronis bukan merupakan suatu proses primer. Sebaliknya, ketika
seseorang merasakan gatal/pruritus di area kulit tertentu (dengan atau tanpa patologi yang
mendasarinya) maka hal tersebut menyebabkan trauma mekanis sampai terjadinya likenifikasi.
Sehingga likenifikasi dapat diartikan sebagai pola yang terbentuk dari respon kutaneus akibat
garukan dan gosokan yang berulang dalam waktu yang cukup lama. Likenifikasi timbul secara
sekunder dan secara histologi memiliki karakteristik berupa akantosis dan hiperkeratosis, dan
secara klinis tampak berupa penebalan kulit, dengan peningkatan garis permukaan kulit pada
daerah yang terkena sehingga tampak seperti kulit batang kayu.

EPIDEMIOLOGI
 Frekuensi
Frekuensi yang tepat pada populasi umum tidak diketahui. Namun, dalam sebuah
penelitian didapatkan bahwa 12% pasien dengan lanjut usia yang memiliki kulit yang
gatal/pruritic skin mengalami liken simpleks kronis.
 Ras
Tidak dilaporkan adanya perbedaan pada frekuensi terjadinya liken simpleks kronis
terhadap ras. Dalam sebuah penelitian didapatkan bahwa liken simplek kronis lebih
sering terjadi pada orang Asia dan Afrika Amerika. Munculnya lesi pada kulit yang lebih
gelap kadang-kadang menunjukkan dominasi folikel. Perubahan pigmentaris sekunder
juga lebih parah pada individu dengan kulit lebih gelap.
 Jenis kelamin
Liken simpleks chronicus diamati lebih sering pada wanita daripada pada pria.
 Usia
Liken simpleks kronis terjadi sebagian besar pada usia dewasa pertengahan hingga akhir,
dengan prevalensi tertinggi pada orang berusia 30-50 tahun.

ETIOLOGI
Dermatitis atopik menghasilkan probabilitas yang lebih tinggi untuk mengembangkan
liken simpleks kronis. Gigitan serangga, bekas luka (misalnya traumatis, postherpetic/herpes
zoster), xerosis, dan eksim asteatotik merupakan faktor yang umumnya juga mencetuskan
terjadinya liken simplek kronis. Sebuah studi tahun 2014 menunjukkan peningkatan prevalensi
liken simpleks kronis pada pasien dengan gangguan kecemasan dan gangguan obsesif-kompulsif,
selain itu sebuah studi tahun 2015 menunjukkan bahwa pasien dengan liken simpleks kronis
meningkatkan terjadinya depresi klinis dibandingkan dengan pasien tanpa kondisi liken simpleks
kronis.
Secara umum, penyebabnya tidak diketahui namun pemicu pembentukan penyakit ini
meliputi tekanan psikologis, masalah lingkungan internal seperti panas, berkeringat, serta kulit
kering. Liken simpleks kronis sering berlanjut sebagai siklus gatal-garuk, bahkan ketika pemicu
lingkungan lingkungan dihilangkan dan penyakit yang mendasarinya diobati.

PATOFISOLOGI
Liken simpleks kronis ditemukan pada kulit di daerah yang mudah dijangkau untuk
tergaruk. Adanya kondisi yang sangat gatal memprovokasi keadaan menggosok/menggaruk yang
akhirnya menimbulkan lesi klinis, namun patofisiologi yang mendasari tidak diketahui secara
jelas. Beberapa jenis kulit lebih rentan terhadap likenifikasi, misalnya kulit yang cenderung
dalam kondisi ekzema (misalnya dermatitis atopik, diatesis atopik).
Sebuah hubungan yang mungkin terjadi adalah adalah adanya hubungan antara sistem
saraf pusat dan perifer dengan produksi sel inflamasi terhadap persepsi gatal dan perubahan yang
terjadi pada liken simpleks kronis. Ketegangan emosional, seperti pada pasien dengan
kecemasan, depresi, atau gangguan obsesif-kompulsif, memainkan peran kunci dalam
mendorong sensasi pruritus yang menyebabkan garukan. Kemungkinan interaksi antara lesi
primer, faktor psikis, dan intensitas pruritus secara penuh mempengaruhi tingkat dan tingkat
keparahan liken simpleks kronis.
Sebuah studi kecil yang meneliti liken simpleks kronis dan penggunaan P-
phenylenediamine (PPD) yang terkandung dalam pewarna rambut menunjukkan peningkatan
gejala klinis yang sesuai secara klinis setelah penghentian paparan PPD, sehingga memberikan
dasar untuk peran sensitisasi dan dermatitis kontak dalam etiologi liken simpleks kronis.

MANIFESTASI KLINIS
Liken simpleks kronik berupa likenifikasi, papul, skuama, dan hiperpigmentasi. Lesi awal
memberikan gambaran seperti kulit normal, pada umumnya berwarna coklat. Pada lesi yang
sudah lama, kulit menebal dan mengalami hiperpigmentasi. Awalnya lesi berupa eritema dan
edema atau kelompok papul, kemudian karena garukan berulang, bagian tengah menebal, kering,
berskuama serta pinggirnya mengalami hiperpigmentasi. Bentuk umumnya lonjong, mulai dari
lentikular sampai plakat. Lesi berbatas tegas. Secara klinis, selain likenifikasi, bentuknya dapat
pula berupa papula yang besar yang disebut Prurigo nodularis. Lesi yang sudah lama akan
mengalami hiperpigmentasi dan ditengahnya akan mengalami hipopigmentasi. Selain itu, liken
simpleks kronis ditandai oleh adanya satu atau lebih gambaran eritematus, skuama, dan plak
likenifikasi dengan ekskoriasi di atasnya.
Biasanya lesi seperti dijumpai pada satu tempat, tetapi kadang-kadang dapat terjadi pada
beberapa tempat. Tempat predileksinya biasanya adalah tempat yang mudah dicapai dengan
tangan, seperti bagian belakang dan samping leher, pergelangan tangan, pergelangan kaki depan,
lengan bawah bagian ekstensor dekat siku, paha bagian atas, tungkai bagian lateral, dorsum
pedis, skrotum, vulva, kepala. Bila dijumpai pada kepala, teruatama pada wanita, biasanya
dermatitis ini berbentuk psoriasis.
Keluhan berupa rasa gatal, terutama jika terdapat stress emosional. Rasa gatal
digambarkan lebih buruk saat pasien dalam keadaan diam dan membaik saat pasien dalam
keadaan aktif atau melakukan aktivitas. Prutitus/rasa gatal biasanya bersifat intermitten,
garukan/gosokan yang dilakukan hanya untuk memberikan bantuan sementara.
DIAGNOSA BANDING
 Dermatitis atopik disertai likenifikasi
 Dermatitis numularis
 Dermatitis kontak alergi kronik

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratrium
Tingkat serum IgE yang meningkat dapat mendukung diagnosis dermatitis atopik yang
mendasari liken simpleks kronik. Lakukan pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH untuk
menyingkirkan tinea kruris atau kandidiasis pada pasien dengan liken simpleks kronik
genital.
2. Patch Test
Patch test membantu menyingkirkan dermatitis kontak alergi sebagai dermatosis primer
yang mendasarinya (misalnya dermatitis kontak alergi terhadap nikel dengan liken
simpleks kronik) atau sebagai faktor kronik (misalnya dermatitis kontak alergi karena
kortikosteroid topikal harus diobati sebagai liken simpleks kronik).
3. Pemeriksaan Histologi
Pemeriksaan histologis menunjukkan hiperkeratosis, akantosis, spongiosis, dan
parakeratosis di epidermis. Penebalan epidermis dari semua lapisan ditandai dengan
pemanjangan rete ridges dan pseudoepitheliomatous hyperplasia.
TERAPI
1. Pasien disarankan agar tidak terus menerus menggaruk lesi saat gatal, serta mungkin
perlu dilakukan konsultasi dengan psikiatri.
2. Prinsip pengobatan yaitu mengupayakan agar penderita tidak terus menggaruk karena
gatal, dengan pemberian:
a. Antipruritus: antihistamin dengan efek sedatif, seperti hidroksisin 10-50 mg setiap 4
jam, difenhidramin 25-50 mg setiap 4-6 jam (maksimal 300 mg/hari), atau
klorfeniramin maleat (CTM) 4 mg setiap 4-6 jam (maksimal 24 mg/hari).
b. Glukokortikoid topikal, antara lain: betametason dipropionat salep/krim 0,05% 1-3
kali sehari, metilprednisolon aseponat salep/krim 0,1% 1-2 kali sehari, atau
mometason furoat salep/krim 0,1% 1 kali sehari. Glukokortikoid dapat dikombinasi
dengan tar untuk efek antiinflamasi.
 Antipruritis :
Antihistamin dapat mengurangi gatal dengan memblokir efek pelepasan histamin secara
endogen. Gatal yang berkurang, pasien merasa tenang/sedatif sehingga merangsang untuk
tidur. Hal ini juga dapat memperbaiki kualitas tidur pasien. Antihistamin dengan efek
sedatif, seperti difenhidramin 25-50 mg setiap 4-6 jam (maksimal 300 mg/hari) dan
klorfeniramin maleat (CTM) 4 mg setiap 4-6 jam (maksimal 24 mg/hari). Contoh
antihistamin generasi lain yang adalah loratadin 10 mg setiap 24 jam atau 5 mg setiap 12
jam dan cetrizine 10 mg setiap 24 jam atau 5 mg setiap 12 jam.
 Glukokortikoid topikal :
Steroid topikal merupakan terapi pilihan karena dapat mengurangi inflamasi dan gatal
sekaligus mengurangi hiperkeratosis. Karena lesi bersifat kronis, pengobatan biasanya
dilakukan dalam jangka panjang. Pada lesi yang besar dan aktif, steroid potensi sedang
dapat digunakan untuk mengobati inflamasi yang akut. Steroid topikal potensi sedang
tidak dianjurkan untuk kulit tipis seperti bagian vulva, skrotum, aksila, wajah. Steroid
topikal potensi tinggi dapat digunakan selama 3 minggu pada kulit yang tebal.
Glukokortikoid topikal antara lain : betametason dipropionat 0,05% salep/krim 1-3x/hari,
metilprednisolon aseponat 0,1% salep/krim 1-2x/hari, atau mometason furoat 0,1%
salep/krim 1x/hari. Glukokortikoid dapat dikombinasikan dengan tar, untuk efek
antiinflamasi.
 Keratolitik :
Asam salisilat topikal dapat diberikan untuk membantu memberi efek keratolitik pada
konsentrasi 0,5-5%. Selain itu asam salisilat juga berguna sebagai anti-pruritus dan anti-
inflamasi.

EDUKASI
1. Memberitahu pasien dan keluarga mengenai kondisi pasien dan penanganannya.
2. Liken simpleks kronik memburuk atau membaik tergantung kemampuan pasien untuk
berhenti menggaruk. Dokter dapat membahas bersama pasien cara mengubah kebiasaan
menggaruk.

KOMPLIKASI
Pasien dengan liken simpleks kronik biasanya memiliki tingkat diabetes melitus yang
lebih tinggi, hiperlipidemia, hipertensi, penyakit arteri koroner, penyakit vaskular perifer,
penyakit paru obstruktif kronik, dan penyakit ginjal kronis.
Dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa penderita liken simpleks kronik cenderung
mengalami disfungsi ereksi dibandingkan dengan pasien kontrol yang disesuaikan dengan usia.
Dokter harus menyadari hubungan antara liken simpleks kronik dan disfungsi ereksi dan
memberi saran atau mengatur konsultasi seksual tepat waktu. Liken simpleks kronik juga dapat
menjadi infeksi sekunder setelah ekskoriasi.

PROGNOSIS
Lesi dapat sembuh total, pruritus bisa membaik, tapi beberapa jaringan parut dan
perubahan warna pigmen ringan akan tetap ada setelah pengobatan berhasil. Pasien dapat
kambuh lagi jika terdapat stresor psikis atau bagian kulit yang lesi sebelumnya terpapar oleh
alergen, panas yang ekstrem, lembab, atau iritasi kulit. Pada pasien yang tidak melakukan
pengobatan rutin dan tidak berhenti menggaruk, lesi tidak akan membaik.
Liken simpleks kronik tidak menyebabkan kematian. Morbiditas yang paling sering
disebabkan oleh lesi tersebut berupa gangguan tidur yang dapat mempengaruhi fungsi motor dan
mental.
DAFTAR PUSTAKA

1. Berth-Jones J. Eczema, lichenification, prurigo and erythroderma. In: Burns T,


Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rook's textbook of thdermatology. 8 ed.
United Kingdom:
2. Djuanda, A. Hamzah, M. Aisah, S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 5th Ed.
Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2007. Hal 284.
3. Faqih DM, Mahesa P, Trisna DV. Panduan Praktik Klinis Dokter: Pelayanan Kesehatan
Primer. Edisi 1. Bakti Husada & IDI. 2013. Hal 426-428.
4. Lotti T, Buggiani G, Prignano F. Prurigo nodularis and lichen simplex chronicus.
Dermatol Ther. 2008 Jan-Feb. 21(1):42-6. [Medline].
5. Liao YH, Lin CC, Tsai PP, Shen WC, Sung FC, Kao CH. Increased risk of lichen
simplex chronicus in people with anxiety disorder: a nationwide population-based
retrospective cohort study. Br J Dermatol. 2014 Apr. 170 (4):890-4. [Medline].
6. Wolff K, Johnson RA, Saavedra AP. Fitzpatrick’s color atlas and synopsis of clinical
dermatology. Edisi 7. 2013. McGrau-Hill Education. Page 39-40.