Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM PENCEGAHAN

PENANGGULANGAN KEBAKARAN

INTEGRATED SYSTEM

KELOMPOK : 03
NAMA : Prima Erza Y T
NRP : 0516040109
KELAS : K3-4D

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era perkembangan teknologi sekarang ini akan


mempengaruhi kemajuan dibidang bangunan gedung. Salah satu aspek
penting dalam penyelenggaraan bangunan termasuk rumah dan gedung adalah
pengamanan terhadap bahaya kebakaran. Realisasi tindakan pengamanan ini
umumnya diwujudkan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan
kebakaran. Tindakan pengamanan ini dilakukan dengan penyediaan atau
pemasangan sarana pemadam kebakaran seperti alat pemadam api ringan
(APAR), Hidran, Springkler, detektor, Integrated System dan lain sebagainya.
Tetapi didalam kenyataannya masih banyak juga yang belum menerapkan
sistem pemadaman kebakaran, padahal kebanyakan juga sudah mengetahui
bahaya dari api kalau sudah menjadi besar atau menjadi kebakaran.
Meskipun tingkat kesadaran akan pentingnya sistem proteksi
kebakaran semakin meningkat, namun masih banyak dijumpai bangunan-
bangunan yang tidak dilindungi dengan sarana proteksi kebakaran, atau sarana
yang terpasang tidak memenuhi persyaratan atau sarana yang terpasang tidak
memenuhi persyaratan. Dari pengamatan kasus-kasus kebakaran selama ini,
Diketahui bahwa dari 1121 kasus kebakaran, 76,1 % terjadi di tempat kerja,
dari sejumlah kasus tersebut diketahui bahwa api terbuka penyebab paling
banyak pertama dengan jumlah kasus 415 kasus, penyebab paling banyak
kedua yaitu listrik dengan jumlah 297 kasus (Laboratorium Forensik Mabes
Polri tahun 2005 sampai 2010). Selain itu, diketahui bahwa listrik menjadi
penyebab paling banyak kedua setelah api terbuka dengan perbandingan 31 %
berbanding 34 % (Disnaker Propinsi Jawa Timur).
Dari data kasus kebakaran selama ini maka ada beberapa hal yang
harus diperhatikan, antara lain adalah bahwa sistem proteksi kebakaran
tidaklah cukup hanya dengan penyediaan alat pemadam api ringan (APAR)
atau hidran saja yang disebut sebagai sistem proteksi aktif. Diperlukan saran
proteksi lainnya yakni sprinkler dan Fire integrated system untuk mendukung
mobilitas APAR dan hidran sebagai sistem proteksi aktif. Oleh karena itu
berbagai langkah dan upaya penanggulangan bahaya kebakaran merupakan
hal yang penting diterapkan dan dilaksanakan guna mencegah terjadinya
bahaya kebakaran. Pada umumnya kebakaran terjadinya diawali dengan api
yang kecil. Bila sejak dini dapat diatasi/dipadamkan, maka kebakaran yang
dapat menimbulkan berbagai macam kerugian dapat dihindarkan, misalnya
dengan pemasangan Fire Integrated System pada gedung..
Pada praktikum ketujuh sistem penanggulangan dan pencegahan
kebakaran, praktikan akan membahas tentang cara penanggulangan kebakaran
menggunakan integrated system, yang nantinya diharapkan mahasiswa bisa
menerapkan ilmu dan pengalaman yang sudah didapatkan pada pelaksanaan
praktikum.

1.2 Tujuan
1. Mampu mengaplikasikan teori pemadaman kebakaran.
2. Mampu memahami proses integrated system.
1.3 Manfaat
1. Manfaat subyektif
Sebagai syarat untuk mendapatkan nilai dari praktikum
penggulungan selang hydrant di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
2. Manfaat objektif
Sebagai penambahan wawasan tentang bagaimana proses
pemadaman menggunakan integrated system.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Definisi
Instalasi pemadam api automatic integrated system adalah instalasi
pemadam kebakaran yang bekerja secara otomatis, yang diaktifkan oleh panel
kontrol yang didesain menjadi satu kesatuan. (Modul sppk PPNS : 2009).
Bagian dari integrated system yaitu sistem deteksi, sistem alarm, dan sistem
pemadaman otomatis.
2.2 Metode-metode
Terdapat 2 jenis metode pada integrated system yaitu :
a) Total flooding system
Merupakan metode dimana sistem yang didesain bekerja serentak
memancarkan media pemadam melalui seluruh pemancar kedalam
ruangan dengan konsentrasi tertentu.
b) Local protection system
Sistem pemadam yang didesain dengan mengarahkan pancaran
pada objek yang dilindungi.
2.3 Jenis-jenis
Jenis dari intergrated system tergantung dari media pemadam yang
dipancarkan antara lain air, busa, CO2 ataupun dry chemical.
2.4 Bagian-bagian
Bagian dari intergreated system terdapat beberapa sistem yang mendukung
yaitu :
a) Sistem tanda bahaya kebakaran
Merupakan komponen dan sub–sub komponen yang dirangkai
untuk suatu tujuan memberi peringatan secara dini baik kepada penghuni
maupun kepada petugas, bila di suatu bagian tertentu terjadi kebakaran
atau setidaknya-tidaknya adanya indikasi kebakaran. Sistem tanda bahaya
(alarm) terbagi menjadi :
i. Sistem alarm kota
Sistem alarm kebakaran kota adalah suatu cara atau alat
komunikasi dari penduduk kepada Dinas Kebakaran Kota untuk
menginformasikan tentang adanya bahaya kebakaran guna
mendapatkan pertolongan pemadaman. Sistem Tanda Bahaya
Kebakaran seperti ini pada kebanyakan kota di Indonesia mengunakan
pesawat telepon dgn nomor panggail 113. Terdapat 2 sistem alarm
kebakaran Kota yaitu :
I. Sistem lokal
Alarm kebakaran sistem lokal mengunakan titik panggil
(Box circuits) yang di pasang di beberapa tempat tertentu di dalam
wilayah kota. Box tersebut dilengkapi dengan saklar berupa tombol
tekan, tombol tarik.
II. Sistem sentral
Alarm kebakaran kota system sentral pada hakikatnya
memiliki komponen yang sama dengan sistem lokal hanya
perbedaannya terletak pada prinsip kerjanya saja. Prinsip kerja
yaitu Apabila terjadi kebakaran penduduk yang ingin mendapatkan
pertolongan pemadam kebakaran, setelah mengaktifkan box
circuits maka panel kontrol yang ada di markas Dinas kebakaran
Pusat menunjukkan lokasi dimana terjadi kebakaran. Dengan
Demikian Pos pemadam Kebakaran yang terdekat dengan kejadian
kebakaran dapat di hubungi melalui pesawat komunikasi lain.
ii. Sistem alarm gedung
Sistem alarm kebakaran gedung adalah suatu alat untuk
memberikan peringatan dini kepada penghuni gedung atau petugas
yang di tunjuk, tentang adanya kejadian atau indikasi kebakaran di
suatu bagian gedung. Komponen dari sistem alarm gedung yaitu
I. Manual Call box (titik panggil manual)
Adalah kotak yang berfungsi sebagai penghubung antara kabel dari
penyedia layanan telepon (dalam hal ini adalah PT. Telkom) dan
kabel ITC (Indoor Telephone Cable) yang mengarah ke MDF (Main
Distribution Frame).
II. Alat pengindera kebakaran (fire detector)
Fire detector juga berhubungan dengan sistem alarm pada
intergrated system. Bila detektor mendeteksi, maka otomatis alarm
hidup dengan sendirinya.
III. Bunyi
Bunyi yang dihasilkan dari alarm dapat berasal dari :
A. Bel
Bel merupakan alarm yang akan berdering jika terjadi
kebakaran. Dapat digerakkan secara manual atau dikoneksi
dengan sistem deteksi kebakaran. Suara bel agak terbatas,
sehingga sesuai ditempatkan dalam ruangan terbatas seperti
kantor.

Gambar 2.1 Fire bell alarm


B. Sirine
Fungsinya sama dengan bel, tapi jenis suara yang
dikeluarkan berupa sirine pada umumnya. Ada yang digerakkan
secara manual atau otomatis. Sirine mengeluarkan suara yang
lebih keras sehingga sesuai digunakan di tempat kerja yang luas
seperti pabrik

Gambar 2.2 Fire sirne alarm


C. Horn
Merupakan suara yang cukup keras namun lebih rendah
dibanding sirine.

Gambar 2.3 Fire horn alarm


D. Pengeras suara (Publik address)
Dalam suatu bangunan yang luas dimana penghuni tidak
dapat mengetahui keadaan darurat secara cepat, perlu dipasang
jaringan pengeras suara yang dilengkapi dengan penguatnya
(Pre-amplifier) sebagai pengganti sistem bel dan horn. Sistem
ini memungkinkan digunakannya komunikasi searah kepada
penghuni agar mereka mengetahui cara dan sarana untuk
evakuasi.

Gambar 2.4 Pubic address


Untuk membunyikan alarm terdapat 2 cara yaitu dengan
menggunakan titik panggil manual dan detektor. Titik panggil manual
deilakukan dengan memecahkan kaca dan sedikit menekan emergency
break glass, lalu media pemadam akan keluar dengan sendirinya.
Sedangkan detektor secara otomatis dapat membunyikan dan
mengeluarkan media pemadam apabila detektor tersebut mendeteksi
potensi bahaya.

Gambar 2.5 Emergency break glass


Menurut output dari alarm, terdapat 2 jenis alarm yaitu :
a) Alarm suara
Tanda bahaya yang dikeluarkan sistem dengan output berupa suara
baik suara bel, sirine atau horn.
b) Alarm cahaya
Tanda bahaya yang dikeluarkan sistem dengan output berupa cahaya
dengan alat bantu lampu sirine (hanya lampu bukan suara)
c) Panel kontrol
Merupakan panel yang berfungsi untuk mengontrol bekerjanya
sistem tanda bahaya kebakaran serta menerima dan menunjukan adanya
isyarat kebakaran pada suatu daerah atau satu titik detektor. Kontrol
pemadam akan mengaktifkan alarm 1 dan panel pemadam. Panel
pemadam berfungsi sebagai mengaktifkan alarm 2 dan mengaktifkan
katup pemadam setelah mengalami penundaan waktu tertentu.
Gambar 2.6 fire alarm panel control

d) Storage system
Berfungsi sebagai tempat penyimpanan media pemadam. Untuk
storage, biasanya berisi CO2, dry chemical,atau busa. Sedangkan storage
seperti bak penampung digunakan untuk sistem sprinkler.

Gambar 2.6 Storage system menggunakan tabung


e) Sistem pemancar
Untuk integrated system menggunakan air, umumnya menggunakan
sprinkler untuk sistem pemancar air.
i. Integrated system menggunakan sprinkler
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
26/PRT/M/2008, sprinkler adalah alat pemancar air untuk pemadam
kebakaran yang mempunyai tudung berbentuk deflector pada ujung
mulut pancarnya, sehingga air dapat memancar ke semua arah secara
merata. Menurut PERDA No.3 tahun 1992, sprinkler otomatis adalah
suatu sistem pemancar air yang bekerja secara otomatis jika temperatys
ruangan mencapau suhu tertentu. Komponen-komponen :
I. Komponen persediaan air
Merupakan tempat penampungan air untuk sprinkler otomatis.
II. Komponen Pemompaan
Pada dasarnya, komponen pemompaan pada sprinkler sama dengan
pemompaan sistem hidran yang terdiri dari pompa listrik, pompa
diesel dan pompa jockey.
III. Komponen pemipaan
Pemipaan mulai dari gate valve untuk pipa catu dalam ruang
pompa sampai dengan pemipaan pada pipa-pipa cabang dimana
terdapat alarm control valve.
ii. Intergrated system pada media pemadam CO2.
Untuk sistem pemancaran, Intergrated system pada media
pemadam CO2 menggunakan discharge nozzle, fungsi yaitu sebagai
sarana distribusi gas dari storage system kedalam ruangan yang
diproteksi. Sederhananya, perangkat ini fungsinya sama seperti kran,
namun discharge nozzle selalu tetap dalam posisi terbuka dan umumnya
varian putarannya adalah 180° dan 360°.

Gambar 2.8 Discharge nozzle


f) Sistem pendeteksi
Detektor yang digunakan pada integrate system, menurut NFPA 72
detektor dapat digolongkan beberapa jenis yaitu :
i. Detektor asap
detektor ini berfngsi untuk mendeteksi partikel-partikel asap, baik yang
nampak, maupun yang tidak nampak. Ada beberapa jenis detektor asap
sesuai dengan cara kerja, antara lain:
I. Ionisation System, yaitu detektor akan bekerja apabila
partikel asap memasuki suatu bagian detektor yang di dalamnya
sedang terjadi proses ionisasi udara. Prinsipnya adalah
berkurangnya arus ionisasi oleh asap pada konsentrasi tertentu.
Detektor ini lebih responsif terhadap partikel asap yang tidak
nyata (kurang dari 1 mikron) yang dihasilkan oleh api dengan
nyala terang dan berasap tipis.
II. Fotoelectric system, yaitu detektor akan bekerja apabila
partikel asap memasuki bagian detektor yang di dalamnya sedang
terjadi proses penyinaran pada suatu sensor. Prinsipnya adalah
berkurangnya cahaya oleh asap pada konsentrasi tertentu. Detektor
ini lebih sensitif untuk jenis asap yang nyata (lebih dari 1 mikron)
yang dihasilkan oleh api membara dengan jumlah asap yang
banyak.
ii. Detektor panas
Alat ini bekerja berdasarkan pengaruh panas, yaitu ddengan
pendeteksian suhu tinggi atau kenaikan suhu abnormal. Berdasarkan
temperatur yang diukur detektor panas terbagi atas 3 jenis yaitu:
I. Fixed temperatur detector, detektor bekerja apabila temperatur naik
mencapai suatu batas tertentu.
II. Rate of rise detector, detektor bekerja bila kenaikan suhu dengan
cepat dalam waktu yang singkat
III. Combination of fixed temperatur detector and rae of rise detector,
detektor bekerja berdasarkan kecepatana naiknya temperatur dan
batas temperatur maksimum yang ditetapkan.
iii. Detektor nyala api
Api mengeluarkan radiasi sinar inframerah dan ultraviolet,
keberadaan sinar ini dapat dideteksi oleh sensor yang terpasang dalam
detector. Sesuai dengan fungsinya, detector ini terbagi atas beberapa
jenis yaitu :
I. Detektor inframerah (Infrared Detector)
II. Detektor UV (Ultra Violet Detector)
III. Detektor foto elektrik (Photo Electric Detector)

2.5 Proses kerja

PEMANCAR

GAMBAR 2.9 Intergrated system


Sistem ini bekerja bila salah satu detektor asap teraktifkan oleh adanya
asap pada api. Suatu isyarat elektris akan diterimaoleh panel indikator
kebakaran, yang akan memberikan tanda bahaya secara visual dengan
menyalaya lampu merah yang berkedip-kedip, disertai bunyi, dan dalam waktu
bersamaan membunyikan bel, menyalakan lampu indikator, mengaktifkan
katuo selenoid pada kotak pilot untuk mengaktifkan katup-katup secara
otomatis pada tabung CO2, gas dari tabung CO2 memenuhi ruangan dengan
konsentrasi 34% dari volume ruangan. Dengan volume tersebut cukup untuk
menurunkan kadar oksigen dalam ruangan tersebut dibawah 15%, sehingga
tidak cukup untuk menunjang kebakaran, dan dengan demikian api akan adam.
BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

1. Satu set intergrated system


2. Sumber api
3.2 Prosedur Kerja

Start

Detektor API
Corong
Penyemprot

Sirine
Kran Pemilih
BELL Panel Lampu Bahaya
Alarm

Switch Tekanan Unit Tabung


Panel CO2 CO2

Starter Solenoid

Gambar 3.1 Sistematika penyalaan komponenintegrated sistem

Sistem ini bekerja apabila salah satu detektor teraktifkan oleh adanya
asap atau api. Suatu isyarat elektris akan diterima oleh panel indicator
kebakaran, yang akan memberikan tanda bahaya secara visual dengan
menyalanya lampu merah yang berkedip – kedip, disertai bunyi buzzer,
dan dalam waktu bersamaan membunyikan lonceng, menyalakan lampu
indicator, mengaktifkan katup solenoid pada kotak pilot untuk mengaktifkan
katup – katup secara otomatis pada tabung gas CO2, gas dari tabung CO2
dialirkan melalui pipa ke corong pemancar, dengan demikian gas CO2
membanjiri ruangan dengan konsentrasi 34% dari volume ruangan.
Dengan volume tersebut cukup untuk menurunkan kadar oksigen (O2)
dalam ruangan tersebut dibawah 15%, sehingga tidak cukup untuk
menunjang kebakaran, dan dengan demikian api akan padam.
DAFTAR PUSTAKA

Handoko.2009.Buku Petunjuk Praktek. Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya-


ITS

Kementrian Kesehatan RI. 2012.Pedoman teknis Prasarana Rumah Sakit Sistem


Proteksi Kebakaran Aktif.
http://p2k.pemkomedan.go.id/img_perundangan/9314.-Pedoman-Sistem-
Proteksi-Kebakaran-Aktif-Pada-Bangunan-RS.pdf (Diakses tanggal 20
Mei 2017)

Kurniawan.2014.Gambaran Manajemen dan Sistem Proteksi Kebakaran Di


gedung Fakultas Kedoteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas
Islam Negeri Jakarta Tahun 2014.
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25569/1/ARIF
%20KURNIAWAN%20-%20fkik.pdf (Diakses tanggal 20 Mei 2017)

Universitas Sumatra Utara. Tanpa tahun. BAB II Tinjauan Pustaka.


repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/56124/4/Chapter%20II.pdf
(Diakses tanggal 20 Mei 2017)

Sari.2016. EVALUASI PENERAPAN SARANA PROTEKSI AKTIF


PENCEGAHAN KEBAKARAN DI HOTEL GRAHA AGUNG
SEMARANG TAHUN 2015.
http://lib.unnes.ac.id/23333/1/6411411148.pdf (Diakses tanggal 20 Mei
2017)
TUGAS PENDAHULUAN

Soal :

Jelaskan masing-masing komponen pada dasar teori (1),(2), dan (3). Berapa
dB(A) alarm dan pada tiap jarak berapa TPM harus dipasang.

Jawaban :

1. Detektor
adalah alat yang dirancang untuk mendeteksi adanya kebakaran dan
mengawali suatu tindakan, ada beberapa macam detector yaitu:
a. Smoke Detektor
Adalah suatu sistem pengindera asap dari suatu sumber api yang
memiliki potensi kebakaran.
 Ionisasi detektor : suatu jenis detektor yang memiliki ruang
ionisasi, ruang yang berisi udara diantara dua elektroda. Apabila
terdapat asap, Partikel alpa akan melewati ruang ionisasi dan
menghasilkan arus listrik kecil dan konstan diantara elektroda.
partikel asap akan masuk ke ruang ionisasi, kemudian menyerap
partikel alpa sehingga akan mengganggu arus listrik dan
mengaktifkan alarm
 Optikal detekor : adalah sensor cahaya yang tersebar atau dalam
istilahnya nephelometer. Komponen utama pada tipe smoke
detector ini adalah:
- Sumber cahaya
- Lensa untuk memfokuskan cahaya menjadi sinar
yangdiproyeksikan
- sensor pada sudut balok sebagai sensor cahaya

Tanpa adanya asap atau smoke, cahaya akan melewati tepat


didepan sensor pada garis lurus. Ketika asap masuk ke ruang optik
melewati cahaya, beberapa cahaya akan tersebar karena adanya
partikel asap. penyebaran cahaya yang seharusnya tegak lurus
menyebabkan alarm aktif

a. Radiation Detektor : suatu alat pengindera sinar radiasi


 IR detektor adalah detektor yang dapat mendeteksi sinar inframerah
yang terpacar dari suatu benda.
 UV detektor adalah detektor pengindera sinar uv.
b. Heat Detektor
merupakan detektor pengindera panas dari sumber api

2. Alarm
Suatu alat yang diaktifkan oleh data yang diterima dari detektor. Alarm
kebakaran ada berbagai macam antara lain :
a. Bel, merupakan alarm yang akan bordering jika terjadi
kebarakan, dapat difungsikan secara manual atau dikoneksi
dengan sistem deteksi kebarakarn. Suara bel agak terbatas,
sehingga sesuai ditempatkan dalam ruangan terbatas seperti
kantor.
b. Sirine, fungsi sama denga bel, naum jenis suara yang
dikeluarkan berupa sirine. Sirine mengeluarkan suara yang
lebih keras sehingga sesuai di gunakan di tempat kerja yang
luas seperti pabrik.
c. Horn, horn juga berupa suara yang cukup keras namun lebih
rendah dibanding sirine
d. Pengeras suara, dalam suatu bangunan yang luas dimana
penghuni tidak dapat mengetahui keadaan darurat secara
cepat, perlu dipasang jaringan pengeras suara yang dilengkapi
dengan penguatnya (pre-amplifier).

Besar dBA alarm disesuaikan dengan kebutuhan. Berikut adalah beberapa


type dan spesifikasi dari alarm :
3. Manual Call Box ( TPM/Titik Panggil Manual ) Adalah alat yang
dioperasikan secara manual untuk memberikan isyarat adanya kebakaran.
Titik panggil manual dapat berupa :
a. Titik panggil manual yang dioperasikan dengan luas
b. Titik panggil manual yang dioperasikan dengan tombol tekan

Menurut NFPA 72, TPM diletakkan pada lintasan jalur keluar dengan
tinggi 1,4 dari lantai dan jarak TPM tidak boleh lebih dari 30 m dari
semua bagian bangunan.