Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

KIMIA LINGKUNGAN
PRODUKSI BIODIESEL DARI LIMBAH IKAN UNTUK PENGEMBANGAN
ENERGI BERSIH BERKELANJUTAN

DOSEN PENGAMPU : Drs. THAMRIN AZIS, M.Si.

KELOMPOK IV:

ANDI ISAR ALIAKBAR R. (F1C1 15 004)


BAHRIL (F1C1 15 012)
HABRIN KIFLI HS. (F1C1 15 034)
MUH. AKSAN DERMAWAN (F1C1 15 036)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat serta hidayah-
Nya, makalah sederhana ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.

Makalah sederhana ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia
Lingkungan, semester enam yang dibimbing oleh Bapak Dr. Tamrin M.Si Program
Studi S1 Kimia, Jurusan Kimia, Fakultas Mipa, Universitas Halu Oleo. Selain itu,
makalah ini juga bermanfaat bagi kami dimana dengan adanya makalah sederhana ini
kami dapat mengembangkan dan melatih kemampuan menulis kami, dapat juga
mengetahui lebih dalam tentang Bio Diesel serta pengaruhnya dalam lingkungan.

Makalah sederhana ini diselesaikan masih jauh dari sempurna dengan


keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis, maka penulis menerima kritik
dan saran dari pembaca untuk perbaikan penulisan Makalah berikutnya.

Kendari, 11 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i

DAFTAR ISI .............................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 3
1.3 Tujuan ................................................................................................... 3
1.4 Manfaat ................................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Biodiesel............................................................................. 4


2.2 Karakteristik minyak ikan dan hasil tangkapan samping.................... 4
2.3 Bahan dan metode................................................................................ 7
2.4 Hasil dan Pembahasan..................................................... .. 8
2.5 Keunggulan dan kelemahan penggunaan Biodiesel............................ 9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 11


3.2 Saran .................................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dunia pada batas krisis energi akibat menipisnya bahan bakar fosil.
Maka diperlukan Energi yang memacu perkembangan yaitu sumber bahan bakar
murah terbarukan dan berkelanjutan (Yahyaee et al.,2013). Saat ini, biodiesel
dianggap sebagai generasi berikutnya bahan bakar terbarukan dan berkelanjutan
yang dihasilkan dari tanaman atau lipid hewan (Jaiswal dan Pandey, 2014).
Sumber daya non-edible dapat memberikan alternative sebagai sumber yang dapat
bersaing (Karmakar et al., 2010). India adalah produsen terbesar ke-2 ikan di dunia
berkontribusi 5,43% dari produksi ikan global karena garis pantai laut terpanjang
dari 8118 kilometer. Industri pengolahan pasar ikan dan ikan menghasilkan jumlah
besar limbah, ikan dibuang sekitar 1/3 bagian seperti kepala, jeroan, ekor, kulit,
hati, mata, sirip dll, yang dianggap sebagai kerugian. Minyak ikan diekstrak dari
bagian buangan dari ikan laut yang melimpah, potensi sumber yang murah dari
biodiesel (Patil et al., 2013).
Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah menguji energi
gelombang mikro; metode non-konvensional pemanas untuk ekstraksi dan
transesterifikasi lipid dari berbagai bahan baku (Shakinaz et al., 2010). Penerapan
iradiasi microwave menawarkan hasil yang cepat, rute mudah untuk meningkatkan
laju reaksi, untuk sintesis lemak asam metil ester (James) dengan mengurangi
waktu dan pemanfaatan pelarut, menggunakan katalisis homogen atau heterogen
baik dalam batch atau sistem kontinyu (Hernando et al., 2007). Hal ini dapat
menggabungkan untuk melakukan reaksi ekstraktif transesterifikasi satu langkah
yang melibatkan rasio yang tepat dari lipid, pelarut dan katalis untuk produksi
biodiesel (Sharma et al., 2014). Dalam studi ini, buangan limbah ikan kemudian
dimanfaatkan sebagai bahan baku murah untuk produksi biodiesel. Metode

1
iradiasi konvensional dan microwave ekstraksi lipid dipelajari untuk efisiensi.
Lipid yang diekstrak dari limbah ikan yang digunakan untuk transesterifikasi
mikrowave dengan adanya katalis KOH dan methanol sebagai pendekatan konversi
hijau.
Biodiesel dapat dihasilkan dari minyak ikan yang kaya akan kandungan asam
lemak tak jenuh majemuk (PUFA). Asam eicosapentaenoic (EPA) dan
docosahexanoic (DHA) adalah dua komponen terpenting pada omega-3 yang
termasuk ke dalam golongan asam lemak tak jenuh majemuk. Minyak ikan memiliki
rantai karbon yang lebih panjang dibandingkan dengan minyak tumbuhan pada
umumnya, terutama asam palmitat, asam oleat, asam linoleat, dan asam linolenat
(Reyes 2006). Biodiesel dengan angka setana yang lebih besar ini kemungkinan dapat
meningkatkan kinerja dari mesin diesel dan dapat mengurangi polusi udara (Cherng-
Yuan 2006). Melihat kondisi dunia sekarang ini yang sedang mengalami pemanasan
global, pengembangan produksi biodiesel sangatlah penting. Selain dapat mengurangi
polusi udara, pengembangan produksi biodiesel dari ikan tangkapan hasil samping
juga dapat mencegah kehilangan nilai jual ikan terhadap hasil tangkapan samping.

2
Gambar persediaan dan kebutuhan pemakaian minyak bumi
Ini mendorong diperlukannya alternative untuk menghemat penggunaan minyak bumi

2. Rumusan Masalah

A. Apa yang dimaksud biodiesel ?

B. Bagaimana karakteristik minyak ikan dan hasil tangkapan samping?

C. Bagaimana bahan dan metode pembuatan biodisel dari limbah ikan?

D. Bagaimana hasil dan pembahasan pembuatan biodisel dari limbah ikan ?

E. Apa keunggulan dan kelemahan penggunaan Biodiesel?

3. Tujuan

A. Untuk mengetahui pengertian Biodiesel.

B. Untuk mengetahui karakteristik minyak ikan dan hasil tangkapan samping

C. Untuk mengetahui dan metode pembuatan biodisel dari limbah ikan.

D. Untuk mengetahui hasil dan pembahasan pembuatan biodisel dari limbah ikan.

E. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan penggunaan Biodiesel.

4. Manfaat

A. Mampu mengetahui pengertian Biodiesel.

B. Mampu mengetahui karakteristik minyak ikan dan hasil tangkapan samping.

C. Mampu mengetahui dan metode pembuatan biodisel dari limbah ikan.

D. Mampu mengetahui hasil dan pembahasan pembuatan biodisel dari limbah ikan.

E. Mampu mengetahui keunggulan dan kelemahan penggunaan Biodiesel.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Biodiesel


Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester
dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari
mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak
hewan. Biodiesel disebut juga sebagai bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari
bahan baku yang terbarukan, selain dari bahan baku minyak bumi. Sebuah proses dari
transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak dasar menjadi ester yang
diinginkan dan membuang asam lemak bebas. Setelah melewati proses ini, tidak
seperti minyak sayur langsung, biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip
dengan diesel (solar) dari minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam banyak
kasus. Namun, dia lebih sering digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum,
meningkatkan bahan bakar diesel petrol murni ultra rendah belerang yang rendah
pelumas.
Biodiesel adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat seperti
minyak diesel atau solar. Sebelum biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar,
biodiesel ini harus diproses lagi untuk menurunkan kekentalannya. Selain itu tangki
bensin juga harus dilakukan perubahan agar biodiesel ini dapat berfungsi dengan baik
sebagai bahan bakar pada kendaraan tersebut. Namun jika kendaraan sudah bermesin
diesel, maka bahan bakar biodiesel ini sudah dapat langsung digunakan. Secara
sederhana biodiesel didefinisikan sebagai bentuk bahan bakar diesel yang
menyebabkan lebih sedikit kerusakan lingkungan dibandingkan bahan bakar diesel
standar. Biodiesel biasanya dibuat dari minyak nabati melalui proses kimia yang
disebut transesterifikasi.

2.2 Karakteristik minyak ikan dan hasil tangkapan samping

4
Hasil tangkapan samping merupakan hasil tangkap yang diperoleh dari
tangkapan ikan tetapi bukan sebagai tujuan tangkapan utama. Kementerian Kelautan
dan Perikanan menyebutkan dari sekitar lima juta ton total produksi ikan tangkap di
Indonesia, sekitar 7 persennya adalah tangkapan sampingan (Muliartha 2010).
Pemanfaatan tangkapan sampingan kurang berkembang di Indonesia. Tangkapan
samping di Indonesia diolah secara sederhana, sehingga memiliki nilai jual yang
rendah. Selain itu, kualitas ikan yang sudah tidak baik dibuang begitu
saja.Pembuangan hasil tangkapan samping menimbulkan limbah perikanan yang akan
memberi dampak pada lingkungan sekitar. Hal ini dapat diatasi dengan penanganan
yang tepat dan dapat dimanfaatkan sebagai sebuah produk yang memiliki nilai jual
yang tinggi.

Gambar 1. Ikan hasil tangkapan samping


Sumber:www.duke.edu/web/nicholas/bio217/durkee-eyler-franken/nontarget.html

Ikan memiliki kandungan lemak yang berbeda setiap jenisnya. Lemak ikan dapat
diolah menjadi minyak ikan. minyak ikan yang diperoleh dari ikan hasil tangkap
samping dapat dijadikan sebagai bahan bakar atau yang dikenal dengan nama
biodiesel.

5
Minyak ikan adalah salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak kaya
manfaat itu, karena mengandung sekitar 25% asam lemak jenuh dan 75% asam lemak
tidak jenuh. Asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid/PUFA ) di
dalamnya akan membantu proses tumbuh-kembang otak (kecerdasan), serta
perkembangan indera penglihatan dan sistem kekebalan tubuh bayi dan balita. Ada 2
jenis PUFA yang sangat terkenal, yakni DHA dan EPA, dimana gabungan
konfigurasi atom karbon keduanya dikenal sebagai omega-3. Jenis ikan laut yang
“kaya” kandungan omega-3 antara lain salmon, tuna (khususnya tuna sirip biru, tuna
sirip kuning, dan albacore), sardin, herring , makerel, dan kerang-kerangan
(Klaypradit 2009).

Gambar 2. Minyak ikan


Sumber: Hoffman 2010

Minyak ikan juga mengandung vitamin A dan D, dua jenis vitamin yang larut
dalam lemak dalam jumlah tinggi. Manfaat vitamin A membantu proses
perkembangan mata, sementara vitamin D untuk proses pertumbuhan dan
pembentukan tulang yang kuat. Kadar kedua vitamin ini dalam tubuh ikan akan
meningkat sejalan dengan bertambah umurnya. Umumnya, kadar vitamin A dalam
minyak ikan berkisar antara 1.000–1.000.000 SI (Standar Internasional) per gram,
sementara vitamin D sekitar 50–30.000 SI per gram (Sahena 2010). Pemanfaatan

6
minyak ikan di dalam industri pangan dengan tujuan untuk pengganti fungsi minyak
nabati/lemak hewani dan memperkaya nilai gizi makanan dalam rangka mendapatkan
makanan sehat. Minyak ikan dapat menurunkan kandungan very low density
lipoprotein (VLDL) dalam darah ayam jantan, dan manfaat lainnya adalah asam
lemak omega-3 dalam minyak ikan akan dimetabolisme menghasilkan eikosanoid
seperti prostaglandin yang berfungsi mengurangi terjadinya peradangan(Marshall el
al., 1994).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas minyak adalah kandungan air,
kandungan kotoran, kandungan asam lemak bebas, warna dan bilangan peroksida.
Faktor lainnya adalah titik cair, kandungan gliserida, plastisitas, kejernihan
kandungan logam berat dan bilangan penyabunan. Terjadinya reaksi oksidasi
mengakibatkan ketengikan pada lemak atau minyak. Hal ini mempengaruhi oleh
faktor-faktor yang dapat mempercepat reaksi seperti cahaya, panas, peroksida lemak
atau hidroperoksida, logam-logam berat seperti Cu, Fe, Co, dan Mn (Winarno 2004).
Dari minyak ikan ini dapat diproduksi biodiesel.

2.3 Bahan dan metode


Pengumpulan limbah ikan dan bahan kimia yang dibuang dari air tawar ataupun
ikan laut seperti jeroan, kulit, paru-paru, ekor, sisik dll, dikumpulkan secara terpisah
dari pasar ikan, limbah Ikan dibuang dan dikeringkan di bawah pemanas udara surya
di 55-60oC dan digiling menjadi bentuk bubuk. Ekstraksi lipid dilakukan dengan
pelarut konvensional dan dibantu dengan metode microwave. Pada metode pelarut
konvensional, kloroform, metanol dan air suling (1: 2: 0,8) dicampur dengan
biomassa selama 24 jam (Bligh dan Dyer, 1959). Ekstraksi lipid mikrowave
dilakukan selama 10 menit pada suhu 80oC. Pelarut yang mengandung lipid disaring
melalui kertas saring Whatman no. 1 dan lipid lapisan dipisahkan dengan
menggunakan corong pisah dan pelarut diuapkan dengan evaporator berputar.
Kandungan lemak kasar dihitung dalam % berat sel kering untuk efisiensi ekstraksi.
Microwave-dibantu reaksi transesterifikasi tertutup sistem pemanasan

7
microwave (reaktor sintesis microwave - Anton Par Monowave 300) digunakan
untuk konversi dari lipid ikan mentah menjadi asam lemak metil ester (Gude et al,
2013.). Kondisi reaksi transerifikasi adalah 6 : 1 metanol untuk rasio lipid pada
65oC selama 10 menit. Pada 1,5 wt. Katalis KOH % dengan pengaduk
menggunakan magnet yang memungkinkan pengadukan terus menerus. Biodiesel
dipisahkan dari campuran gliserol dengan sentrifugasi selama 10 menit. pada 200
rpm dan mencuci, langkah yang digunakan dengan air panas untuk pemurnian.
Analisis biodiesel dan nilai kalor: Biodiesel dianalisis untuk metil ester asam lemak
konten dengan bantuan instrumen GC-MS (Model - Clarus 580) dan nilai kalor
diperkirakan oleh instrumen IKA500 Bom kalorimeter.

2.4 Hasil dan Pembahasan


Pada percobaan, limbah ikan laut dan air tawar dimanfaatkan sebagai
terbarukan, biaya sumber yang efektif untuk produksi biodiesel. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa konvensional pelarut ekstraksi lipid (Bligh dan Dyer
metode) dari limbah ikan air tawar dan ikan laut adalah 6,8% dan 12,6% dari
berat sel kering masing-masing. Sistem microwave pemanas untuk air tawar dan
ikan laut limbah lipid ekstraksi adalah 9,4% dan 18,2% masing-masing kira-kira
30-50% lebih efisien dibandingkan dengan metode konvensional dengan durasi
waktu kurang dan pemanfaatan pelarut. Terlepas dari ekstraksi lipid, reaksi
transesterifikasi mikrowave dengan adanya katalis KOH selama 10 menit. Pada
65oC menunjukkan hasil yang baik dalam konversi James sebagai metode bersih
dan hijau dengan efisiensi tinggi.
Analisis Figure.1.GC-MS dari biodiesel yang dihasilkan dari ikan lipid
limbah asam lemak metil ester analisis dengan GC-MS menunjukkan adanya
palmitoleat asam metil ester (C-16: 1), asam palmitat metil ester (C-16: 0), oleat
asam metil ester (C-18: 1) , asam stearat metil ester (C-18: 1) dan eicosapentaenoic
acid methyl ester (C-20: 5) dalam biodiesel ikan. Nilai kalor dari biodiesel ikan
37,270 MJ / Kg. Hasil pemanfaatan limbah ikan untuk biofuel dan nilai tambah

8
lainnya oleh produksi menggunakan dumping dan teknologi microwave
menunjukkan pengolahan yang sangat efisien.

2.5 Keunggulan dan kelemahan penggunaan Biodiesel


Semua produk pasti memiliki kelebihan dan juga diimbangi dengan
kekurangan. Begitu pula dengan biodiesel yang memiliki kelebihan dan kekurangan.
Berikut akan disebutkan kelebihan dan kekurangan dari penggunaan biodiesel itu
sendiri.

Kelebihan:
1. Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik
(free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global.
2. Cetane number lebih tinggi (>57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik
dibandingkan dengan minyak kasar.
3. Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai (biodegradable).
4. Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat
diperbaharui.
5. Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara
local.
6. Titik kilat tinggi, yakni temperatur tertinggi yang dapat menyebabkan uap
biodiesel dapat menyala. Sehingga, biodiesel lebih aman dari bahaya kebakaran.
7. Tidak mengandung belerang dan benzena yang mempunyai sifat karsinogen, serta
dapat diuraikan secara alami. Sehingga ramah lingkungan.
8. Dilihat dari segi pelumasan mesin, biodiesel lebih baik daripada solar sehingga
pemakaian biodiesel dapat memperpanjang umur pakai mesin.
9. Dapat dengan mudah dicampur dengan solar biasa dalam berbagai komposisi dan
tidak memerlukan modifikasi mesin apapun.
10. Dan masih banyak sebagainya.

9
Kekurangan:
1. Memberikan emisi oksida nitrogen lebih lanjut (emisi Nitrogen oksida dari
campuran biodiesel mungkin bisa dikurangi dengan pencampuran dengan minyak
tanah atau Fischer-Tropsch diesel).
2. Transportasi & penyimpanan biodiesel memerlukan manajemen khusus.
3. Biodiesel karena sifatnya, tidak dapat diangkut dalam pipa. Ini harus diangkut
dengan truk atau kereta api, yang meningkatkan biaya.
4. Biodiesel kurang cocok untuk digunakan dalam suhu rendah, dari petrodiesel.
Pada suhu rendah, bahan bakar diesel membentuk kristal lilin, yang dapat
menyumbat saluran bahan bakar dan filter dalam sistem bahan bakar kendaraan.
Kendaraan berjalan pada campuran biodiesel karena itu mungkin menunjukkan
masalah drivability lebih kurang suhu musim dingin yang parah daripada
kendaraan berjalan pada minyak solar.
5. Properti pelarut biodiesel juga dapat menyebabkan bahan bakar lainnya-sistem
masalah. Biodiesel mungkin tidak kompatibel dengan segel yang digunakan
dalam sistem bahan bakar kendaraan yang lebih tua dan mesin, memerlukan
penggantian bagian-bagian jika campuran biodiesel digunakan.

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Biodiesel merupakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, karena
sisa pembakaran mesin yang menggunakan biodiesel menghasilkan emisi gas
buang, asap dan partikel yang lebih rendah daripada solar. Perkembangan
biodiesel di Indonesia sudah cukup diupayakan bahkan sudah ada peraturan
perundang-undangan. Hanya saja memerlukan kerjasama antara pemerintah dan
masyarakat untuk menjadikan biodiesel sebagai bahan bakar pengganti solar
dengan memaksimalkan kelebihan dan meminimalisir kekurangan. Banyak bahan
yang bisa digunakan untuk biodiesel, diantaranya yaitu tanaman jarak pagar,
minyak jelantah, dan lain sebagainya.

2. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah ikan sebagai biaya


bahan baku rendah adalah pilihan yang lebih baik untuk produksi biofuel dan
juga sebagai suplemen kesehatan.
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah ikan laut mengandung lebih
lipid dibandingkan dengan limbah ikan air tawar. Ekstraksi microwave lipid
hampir 30-50% lebih efisien dibandingkan dengan konvensional.
4. Microwave dibantu transesterifikasi lipid menunjukkan metode bersih dalam
hal energi dan pemanfaatan pelarut dengan mengurangi waktu dan laju reaksi
efisien.
5. Analisis GC-MS menunjukkan adanya metil ester asam palmitoleat, asam
palmitat, asam oleat, asam stearat dan asam ecosapentaenoic yang
merupakan komponen penting dari biodiesel.

3.2 Saran
Untuk mengurangi angka ketergantungan masyarakat terhadap sumber
energi yang berasal dari sumber daya alam tidak dapat diperbarui, maka alangkah
baiknya bila pemerintah mendukung serta memproduksi sumber energi biodiesel
sehingga dapat berguna bagi masyarakat luas. Masyarakat juga harus mendukung
program ini untuk memperoleh manfaat yang maksimal. Selain itu penggunaan
biodiesel juga bisa menyelamatkan lingkungan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Syamtori, Stanley. 2008. Biodiesel di Indonesia. Online Tersedia: http://dest-


online.com/blog_stanley/2008/03/02/biodiesel-di-indonesia/ [24 April
2015]

Bligh, EG, Dyer, WJ, Sebuah metode cepat total ekstraksi lipid dan pemurnian,
Kanada, Journal of Biochemistry dan Fisiologi, 37, 1959,37: 911-917.
Fan, X, Burton, R, Austic, G, Pembuatan dan karakterisasi biodiesel yang
dihasilkan dari minyak ikan, Kimia dan Teknologi bahan bakar dan
minyak, 46, 2010, 287-293.
Gude, VG, Patil, P, Guerra, EM, Deng, S, Nirmalakhandan, N, potensi energi
Microwave untuk produksi biodiesel, Proses Kimia Berkelanjutan, 1,
2013, 1-31.
Hernando, J, Leton, P, Matia, MP, Novella, JL, Builla, JA, Biodiesel dan sintesis
FAME dibantu oleh oven microwave: proses batch yang homogen dan
aliran, Bahan Bakar, 86, 2007, 1641-1644.
Jaiswal, KK dan Pandey, H, generasi berikutnya terbarukan dan berkelanjutan
mikro-bahan bakar dari Chlorella pyrenoidosa, International Journal of
Penelitian Ilmiah Terbaru, 5, 2014, 767-769.
Karmakar, A, Karmakar, S, Mukherjee, S, Sifat tanaman dan hewan bahan baku
berbagai untuk produksi biodiesel, Bioresource Technology, 101, 2010,
7201-7210.

12