Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

“PENGARUH SUHU PADA REAKSI ENZIMATIK”

DISUSUN OLEH :

Kelompok 3 dan 4

KELAS FARMASI F

1. Oktavilany Tanti Rostania 201310410311113


2. Lusi Yana 201610410311006
3. Karunia Aldia 201610410311020
4. Aji Bayu 201610410311037
5. Muhammad Aspin Hadiyani 201610410311044
6. Bella Ayu Lucyta 201610410311163
7. Febby Rizkyani Istda 201610410311164
8. Ach. Huzeiry 201610410311172
9. Riski Lisya Nugraha 201610410311194
10. Intan Fudariastuti 201610410311197
11. Elsa Nursafrida M 201610410311210

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

Rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan

Laporan Praktikum Biokimia ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang

berjudul pengaruh suhu terhadap reaksi enzimatik. Kami menyadari bahwa

Laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua

pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan

laporan ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang

telah berperan serta dalam penyusunan Laporan akhir ini dari awal sampai akhir.

Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Malang,Maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

A.TUJUAN PRAKTIKUM .................................................................................... 1

B.DASAR TEORI ................................................................................................... 1

C. PRINSIP REAKSI BIOKIMIA .......................................................................... 6

D. ALAT DAN BAHAN ........................................................................................ 7

E. PROSEDUR KERJA .......................................................................................... 8

F. BAGAN ALIR .................................................................................................. 10

G. HASIL .............................................................................................................. 12

H. PEMBAHASAN .............................................................................................. 17

ii
PENGARUH SUHU TERHADAP REAKSI ENZIMATIK

A.TUJUAN PRAKTIKUM

Untuk mengetahui pengaruh perubahan suhu terhadap kinerja enzim yang

terkandung dalam saliva.

B.DASAR TEORI

Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk


transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia.
Dalam mahkluk hidup, reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu
senyawa protein yang disebut enzim. Enzim merupakan protein yang khusus
disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di
dalamnya. Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi,
mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya
tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono, 1994).
Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan
sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme.
Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi,
substansi tersebut tidak berubah. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya
dipengaruhi oleh lingkungan. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap
kerja enzim adalah pH. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika
medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi
(Gaman & Sherrington, 1994).
Sebagaimana protein pada umumnya, molekul enzim juga mempunyai
berbagai rupa kemungkinan struktur 3 dimensi. Di antara jenis – jenis strukur
tersebut, hanya satu saja yang mampu mendukung fungsi biologis dari enzim
sebagai biokatalis. Untuk memperoleh struktur yang tepat tersebut, diperlukan
suhu yang tepat, derajat keasaman atau pH yang sesuai pula. Jika kedua faktor
lingkungan ini tidak berada sebagaiman mestinya, struktur 3 dimensi yang

1
diperoleh tidak mendukung fungsi katalis dari protein enzim. Dikatakan, pada pH
dan suhu yang tidak sesuai tersebut, protein, dalam hal ini enzim, kehilangan sifat
dan kemampuan alamiahnya. Dalam istilah biokimia protein, enzim tersebut
dikatakan mengalami denaturasi (Sadikin, 2002).

Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan molekul zat-zat


yang bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan
terjadi karena enzim menurunkan energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan
mempermudah terjadinya reaksi. Sebagian besar enzim bekerja secara khas,
artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu
macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur
kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim α-amilasehanya dapat
digunakan pada perombakan pati menjadi glukosa (Gunam dkk, 2011).

Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan.


Akibatnya daya kerja enzim menurun. Pada suhu 45°C efek predominanya masih
memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik.
Tetapi lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan
menjelang suhu 55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman &
Sherrington, 1994). Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik
pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. Karena itu pada suhu
40oC, larutan tidak ada gumpalan, begitu juga pada suhu ruang, sedngkan pada
suhu 100oC masih ada gumpalan – gumpalan yang menunjukkan kalau enzim
rusak. Pada suhu ruang, enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak
optimum (Gaman & Sherrington, 1994).

Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim, namun enzim
tidak dapat bekerja. Dengan kenaikan suhu lingkungan, enzim mulai bekerja
sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu. Bila suhu
ditingkatkan terus, jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena
mengalami denaturasi. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada
suhu optimum. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar
37° C. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai ± 60° C,
karena terjadi denaturasi ( Hafiz Soewoto,2000) .

2
Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai +/-

60C. Ini disebabkan karena proses denaturasi enzim. Dalam beberapa keadaan,

jika pemanasan dihentikan oleh enzim, didinginkan kembali, aktivitasnya akan

pulih, hal ini disebabkan oleh karena proses denaturasi yang masih reversible. pH

dan zat – zat pelindung dapat mempengaruhi denaturasi pada pemanasan ini

(Mutiara Indah, 2004).

Hubungan antara aktivitas enzim dan suhu dapat dilihat pada gambar

berikut :

100
Suhu Optimum

% Maksimum
Aktivitas Enzim

Suhu 70

Sedangkan, pada suhu yang lebih rendah (sisi A pada gambar),

penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik ialah kurangnya gerak termodinamik,

yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat.

Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi, kompleks enzim –

substrat tidak terbentuk. Padahal kompleks ini sangat perlu untuk mengolah

substrat menjadi protein. Oleh karena itu, makin rendah suhu, gerak termodinamik

tersebut akan makin kurang. Pada daerah suhu yang lebih itnggi ( sisi B pada

gambar), gerak termodinamik akan lebih meningkat, sehingga benturan antar

3
molekul niscaya akan lebih sering. Akan tetapi, alih – alih meningkat laju reaksi

malahan manurun dengan cara yang kurang sebanding dengan nilai suhu dan nilai

optimum. Dalam peningkatan suhu ini, selain gerak termodinamik meningkat,

molekul protein enzim juga mengalami denaturasi (Sadikin, 2002).

Laju Rekasi

A B

t
Suhu Optimum

Pengaruh suhu terhadap laju reaksi enzimatik

Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu untuk enzim. Suhu optimal antara

350 C dan 400 C yaitu suhu tubuh pada suhu diatas dan dibawah optimalnya aktivitas

enzim dapat berkurang.

Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase.


Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati, glikogen,
dan polisakarida yang lain. Tumbuhan mengandung α dan ß amylase; hewan
memiliki hanya α amylase, dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada
manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Amilase memotong rantai
polisakarida yang panjang, menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Amilosa
merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000 molekul glukosa yang saling

4
berikatan membentuk rantai lurus. Dalam air, amilosa bereaksi dengan iodine
memberikan warna biru yang khas (Fox, 1991). Pada manusia, α amilase pada
ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam
makanan ke dalam bentuk aligosakarida, di mana dalam perubahan tersebut dapat
dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. Contohnya, α
amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7, bergantung pada ada atau
tidaknya ion halogen (Whittaker, 1994).

α amilase mempunyai beberapa sifat, antara lain :


a. Di dalam larutan pati, kehilangan daya viskositas yang lebih cepat.
b. Warna iodine akan lebih cepat hilang.
c. Proses produksi maltosa lebih lambat.
d. Tidak memproduksi glukosa.
e. Suhu tinggi konsentrasi α amylase akan mempercepat proses kerja dari
viskositas dan perubahan warna iodine (Whittaker, 1994).

Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan


penambahan asam atau basa. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai
percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz,
1992 ). Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di
dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan
kehilangan fungsi biologisnya ( Fox, 1991 ). Buffer dapat mempertahankan
kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar
enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno, 1995 ).

5
C. PRINSIP REAKSI BIOKIMIA

Gambar 1. Struktur Polimer Amilosa

Pati secara alami terdapat pada tumbuhan dan berfungsi untuk


penyimpanan energi dalam bentuk polimer glukosa. Pada perlakuan dengan
kondisi asam ataupun dengan bantuan enzim, pati dapat terhidrolisis menjadi
dextrin (campuran dari polisakarida dengan titik lebur rendah, tersusun atas 3 – 8
unit glukosa), maltose dan akhirnya D-glukosa. Keberadaan pati dalam makanan
dapat dideteksi dengan larutan I2.

Amilum dan iodium membentuk kompleks berwarna biru tua. Hidrolisis


amilum oleh ptyalin secara berturut – turut akan membentuk kompleks warna
yang berbeda – beda warnanya.

Amilodekstrin dengan Iodium  membentuk warna biru


Eritrodekstrin dengan Iodium  membentuk warna merah

Aktrodekstrin dan Maltosa tidak membentuk kompleks berwarna dengan iodium.

Ptialin

Amilum  Aminodekstrin  Eritrodekstrin  Akrodekstrin  Maltosa


+Iodium (biru tua) (merah) (tidak berwarna)

6
D. ALAT DAN BAHAN

Alat :
1. Bejana erlenmeyer
2. Pipet volumetric
3. Buret
4. Tabung reaksi ( 5 buah )
5. Stop watch

Bahan :
1. Larutan enzim “E” , dibuat dengan mengencerkan saliva 1 ml dalam 10 ml air
suling
2. Larutan NaCl 0,9 %
3. Larutan dapar ( buffer ) dengan ph ± 6,5
4. Larutan substrat “S” ( larutan amilum solani 2 % )
5. Larutan KI-I2
6. Larutan HCl 0,05 N

7
E. PROSEDUR KERJA

1. Masing-masing kelompok anggota kelompok belakang melakukan


percobaan pada satu suhu tertemntu ( 00, 270, 400, dan 700 ) sesuai
dengan yang ditentukan oleh pemimpin praktikum.
2. Siapkan 5 tabung reaksi bersih, beri masing-masing tanda 0’, 5’, 10’,
15’, 20’.
3. Siapkan Erlenmeyer dan pipet volumetric
4. Ambil berturut-turut 15 ml dapar dengan pH 6,5 dan 6 ml larutan “S”,
dan 6 ml larutan NaCl 0,9% dan masukkan ke dalam Erlenmeyer.
Goyangkan Erlenmeyer beberapa kali dengan gerakan memutar agar
isinya tercampur rata.
5. Rendam Erlenmeyer di dalam air waterbath yang sesuai dengan suhu
yang dipilih oleh pemimpin praktikum untuk kelompok anda. (untuk
suhu 270 C, letakkan saja Erlenmeyer pada meja praktikum anda).
Jangan mengeluarkan Erlenmeyer dari waterbath ( kecuali percobaan
pada suhu 270 C ) selama percobaan, untuk menghindari perubahan
suhu.
6. Isilah masing-masing tabung reaksi yang tersedia dengan 10 ml larutan
HCl 0,05 N
7. Ambil dengan pipet 1 ml campuran larutan dari labu Erlenmeyer dan
masukan ke dalam tabung reaksi bertanda 0’, campurlah isinya dengan
beberapa kali membalikkan tabung yang disumbat ibujari tangan.
8. Siapkan stopwatch.
9. Ambil dengan pipet 1 ml enzim dan tambahkan ke dalam campuran
larutan yang berada di dalam Erlenmeyer. Jalankan stopwatch tepat
pada saat enzim dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Goyangkan
Erlenmeyer beberapa detik dengan gerakan memutar agar enzim
tercampur rata di dalam larutan. Setelah itu Erlenmeyer jangan
digoyangkan lagi ( diamkan diatas meja )

8
10. Kira-kira setengah menit menjelang menit ke 5 ambillah dengan pipet
1 ml larutan dari Erlenmeyer, dan tepat pada menit ke 5 masukkan
cairan dari dalam pipet ke tabung reaksi bertanda 5’, campurlah isinya
dengan beberapa kali membalikkan tabung yang disumbat ibu jari
tangan.
11. Lakukan kembali prosedur seperti tahap 10 sekitar menit ke-10, 15, 20
memasukkan cairan dari dalam pipet ke dalam tabung reaksi bertanda
10’, 15’, 20’, dan mencampurnya dengan membalikkan tabung.
12. Setelah semua selesai, tambahkan 1 ml larutan KI-I2 dari buret ke
dalam masing-masing tabung reaksi. Campur merata dengan
membalikkan beberapa kali tabung reaksi yang disumbat ibujari
tangan.
13. Kira-kira 5 menit setelah penambahan KI-I2, bacalah absorbance
larutan yang ada dalam masing-masing tabung reaksi.
14. Dari nilai absorbance yang terbaca, hitunglah persen substrat yang
tercerna pada menit ke-0, 5, 10, 15, 20 dengan rumus :

Presentase substrat yang dicerna pada menit t = (presentase substrat


semula) – (presentase substrat yang tersisa pada menit t)

𝐴𝑇𝑡
Jadi : presentase substrat yang dicerna pada menit t = 100% - 𝐴𝑇0 x

100%
Keterangan: ATt = absorbsance larutan pada menit ke t
AT0 = absorbance larutan pada menit ke 0

15. Runutlah nilai presentase substrat yang dicerna pada ordinat grafik
yang menghubungkannya dengan lama berlangsungnya reaksi (T) pada
absisnya. Kurva yang terbentuk disebut progress curve.
16. Bandingkan kinerja enzim pada berbagai suhu di atas dan buatlah
analisis mengapa demikian.

9
F. BAGAN ALIR

Siapkan 5 tabung reaksi bersih, beri masing-masing tanda

Siapkan Erlenmeyer dan pipet columetric

Ambil berturut-turut 15 ml dapar dengan pH 6,5 dan 6,0 ml larutan “S”,

6 ml larutan NaCl 0,9 % dan masukkan Erlenmeyer

Rendam Erlenmeyer di waterbath yang suhunya telah ditentuakan ( kecuali

suhu 270 C ) . Jangan mengeluarkan Erlenmeyer dari waterbath untuk

menghindari perubahan suhu

Isi masing-masing tabung reaksi dengan 10 ml larutan HCl 0,5 N

Ambil dengan pipet 1,0 ml campuran larutan dari Erlenmeyer dan masukkan

Dalam tabung reaksi yang bertanda 0’, campur ad homogen.

Ambil dengan pipet 1,0 ml enzim dan tambahkan ke dalam campuran

Larutan yang berada di Erlenmeyer. Jalankan stopwatch.

Setengah menit menjelang menit ke-5, ambil dengan pipet 1 ml larutan

Dari Erlenmeyer. Pada menit ke-5 masukan cairan dari dalam pipet ke

Tabung reaksi bertanda 5’. Campur ad homogen.

Ulangi proses tersebut sampai menit ke 20

10
Setelah semua selesai tambahkan 1 ml larutan KI-I2 ke masing-masing

Tabung reaksi. Campur ad homogen.

Periksa di spektrofotometer

11
G. HASIL

Waktu Suhu 0C Suhu Ruang (27 C) Suhu 40C Suhu 70C
0 Menit 2.515 1.922 1.8062 2.2900
5 Menit 2.515 1.563 1.5850 2.3948
10 Menit 2.451 0.472 0.4730 2.3948
15 Menit 2.451 0.103 0.3403 2.3451
20 Menit 2.422 0.007 0.3293 2.3693

𝐴𝑡1
Rumus = Persentase substrat yang dicerna pada menit t = 100% - [𝐴𝑡0 × 100%]

 Pada Suhu 0  C

2.515
Waktu 0  100%  [2.515 × 100%] = 0 %

2.515
Waktu 5  100%  [2.515 × 100%] = 0 %

2.451
Waktu 10  100%  [2.515 × 100%] = 2.54 %

2.451
Waktu 15  100%  [2.515 × 100%] = 2.54 %

2.422
Waktu 20  100%  [2.515 × 100%] = 3.70 %

 Pada Suhu 27  C

1.922
Waktu 0  100%  [1.922 × 100%] = 0 %

1.563
Waktu 5  100%  [1.922 × 100%] = 18.68 %

0.472
Waktu 10  100%  [1.922 × 100%] = 75.44 %

0.103
Waktu 15  100%  [1.922 × 100%] = 94.64 %

0.007
Waktu 20  100%  [1.922 × 100%] = 99.64 %

12
 Pada Suhu 40  C

1.8062
Waktu 0  100%  [1.8062 × 100%] = 0 %

1.5850
Waktu 5  100%  [1.8062 × 100%] = 12.25 %

0.4730
Waktu 10  100%  [1.8062 × 100%] = 73.81 %

0.3403
Waktu 15  100%  [1.8062 × 100%] = 81.16 %

0.3293
Waktu 20  100%  [1.8062 × 100%] = 81.77%

 Pada Suhu 70  C

2.2900
Waktu 0  100%  [2.2900 × 100%] = 0 %

2.3948
Waktu 5  100%  [2.2900 × 100%] = 4.58 %

2.3948
Waktu 10  100%  [ × 100%] = 4.58 %
2.2900

2.3451
Waktu 15  100%  [2.2900 × 100%] = 2.41 %

2.3693
Waktu 20  100%  [2.2900 × 100%] = 3.46 %

13
Grafik pada Suhu 0°C , 27°C , 40°C, dan 70  C

 Grafik pada suhu 0 °C

Grafik Persentase Substrat Tercerna Pada Suhu 0° C


4% 3.70%
Persentase Substrat Tercerna

3%
2.54% 2.54%

2%

1%

0% 0%
0%
0' 5' 10' 15' 20'
Waktu

 Grafik pada suhu 27 °C

Grafik Persentase Substrat Tercerna Pada Suhu 27° C


99.64%
100% 94.64%
Persentase Substrat Tercerna

90%
75.44%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
19%
20%
10% 0%
0%
0' 5' 10' 15' 20'
Waktu

14
 Grafik pada suhu 40°C

Grafik Persentase Substrat Tercerna Pada Suhu 40° C


90% 81.16% 81.77%
Persentase Substrat Tercerna
80% 73.81%

70%
60%
50%
40%
30%
20% 12%
10%
0%
0%
0' 5' 10' 15' 20'
Waktu

 Grafik pada suhu 70° C

0% WAKTU
PERSENTASE SUBSTRAT TERCERNA

0%
0' 5' 10' 15' 20'
-2.41%
-3.46%
-5% -4.58%

-10% Grafik Persentase Substrat Tercerna


Pada Suhu 40° C

15
Grafik pada Suhu Campuran

95%
Persentase Substrat Tercerna
85%
75%
65%
55%
45%
35%
25%
15%
5%
-5%
0' 5' 10' 15' 20'
Suhu 0° C 0% 0% 2.54% 2.54% 3.70%
Suhu 27° C 0% 18.68% 75.44% 94.64% 99.64%
Suhu 40° C 0% 12.25% 73.81% 81.16% 81.77%
Suhu 70° C 0% -4.58% -4.58% -2.41% -3.46%
Waktu

16
H. PEMBAHASAN

Kecepatan reaksi kimia termasuk reaksi enzimatik dipengaruhi oleh suhu

lingkungan. Pada umumnya, semakin tinggi suhu, maka kecepatan reaksi semakin

meningkat. Enzim adalah senyawa yang tersusun atas protein. Protein akan

mengalami perubahan bentuk atau denaturasi pada suhu yang tinggi, sehingga

pada suhu yang tinggi reaksi enzimatik tidak dapat berjalan dengan baik.

Pada praktikum ini, kami melakukan praktikum suhu pada reaksi

enzimatik yang terbagi atas beberapa kelompok dengan suhu yang berbeda –

beda. Pada suhu 0º C, dilakukan oleh kelompok I (gabungan dari kelompok 1 dan

2). Pada suhu ruang / 27º C, dilakukan oleh kelompok II (gabungan kelompok 3

dan 4). Pada suhu 40ºC, dilakukan oleh kelompok III (gabungan kelompok 5 dan

6). Pada suhu 70ºC, dilakukan oleh kelompok IV (gabungan dari kelompok 7 dan

8).

Setelah suhu dibagi kepada setiap kelompok, siapkan lima buah tabung

reaksi bersih dan beri tanda pada setiap tabung dengan tanda 0’, 5’, 10’, 15’dan

20’.Disiapkan erlenmeyer dan diisi dengan 15 ml dapar dengan Ph 6.5, 8 ml

larutan substrat “S” (amilum solani 2%) dan 6 ml laruan NaCl 0.9%, lalu labu

erlenmeyer di goyang – goyang kan ad homogen. Dikarenakan kelompok kami

mendapatkan suhu ruang (27ºC), labu erlenmeyer didiamkan saja diatas meja

selama beberapa menit, tidak perlu menggunakan waterbath dan termometer.

Sambil menunggu, ke lima tabung reaksi diisi dengan 10 ml larutan HCl 0.05 N.

Pada tabung 0’, tambahkan 1.0 ml campuran larutan erlenmeyer, lalu

campur ad homogen, dan sisihkan. Fungsi dari larutan HCl adalah sebagai

17
inaktivator enzim, karena HCl dapat menghentikan proses reaksi biokimia,

penyebabnya adalah enzim pada Ph asam sudah terinaktivasi. Tabung ke 0’

disisihkan dan disiapkan stopwatch.

Larutan campuran erlenmeyer ditambahkan 1.0 ml enzim, goyang goyang

ad homogen dan diamkan. Waktu dihitung saat enzim sudah mengenai larutan

campuran dalam erlenmeyer. Ketika waktu sudah menunjukkan sesuai dengan

tanda yang ada pada tabung, yaitu 5’, 10’, 15’, dan 20’, tambahkan 1 ml larutan

campuran baru dan goyang ad homogen. Setelah semua tabung sudah selesai

direaksikan, hal terakhir yang ditambahkan adalah larutan KI – I2 yang berfungsi

sebagai indikator adanya amilum dengan memberikan perubahan warna biru pekat

/ ungu. Larutan reaksi selesai dibuat, hal selanjutnya yang dilakukan adalah

membuat larutan blanko. Disiapkan labu erlenmeyer, ditambahi dengan 15 ml

larutan dapar dengan Ph 6.5, 10 ml HCl 0.05 N dan 6 ml larutan NaCl 0.9%. NaCl

berfungsi sebagai aktivator. Jika aktivator melekat dengan enzim, maka sisi

aktifenzim dapat menerima substrat, sehingga produk yang dihasilkan banyak.

Tetapi, jika inhibitor yang melekat dengan enzim, maka sisi aktif tidak dapat

menerima substrat, sehingga produk yang dihasilkan sedikit.

Hasil dari nilai absorbansi digunakan untuk menentukan kadar substrat

yang dicerna pada menit ke 0’ ; 5’ ; 10’ ; 15’ ; 20’. Pada suhu 0ºC, didapatkan

hasil pada menit ke-0 adalah sebesar 0%. Pada menit ke-5 sebesar 0%. Pada menit

ke-10 sebesar 2.54%. pada menit ke-15 adlah 2.54% dan pada menit ke-20

didapatkan hasil sebesar 3.70%. Kadar persen substrat tercerna yang tertinggi

hanyalah 3.70%. dikarenakan pada suhu rendah, aktivitas enzim menurun karena

substrat dan enzim saling diam, karena tidak memiliki energi sehingga tidak

18
terjadi reaksi kinetik. Pada suhu yang lebih rendah. penyebab kurangnya laju

reaksi enzimatik ialah kurangnya gerak termodinamik, yang menyebabkan

kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat. Jika kontak antara

kedua jenis molekul itu tidak terjadi, kompleks enzim – substrat tidak terbentuk.

Padahal kompleks ini sangat perlu untuk mengolah substrat menjadi protein. Oleh

karena itu, makin rendah suhu, gerak termodinamik tersebut akan makin kurang

(Sadikin, 2002).

Pada kelompok kami, dengan suhu 27ºC, yaitu suhu ruang, didapatkan

hasil pada menit ke-0 adalah 0%. Pada menit ke-5 sebesar 18.68%. Pada menit ke-

10 didapatkan sebesar 75.44%. Pada menit ke-15 sebesar 94.64%. Pada menit ke-

20 adalah 99.64%. Dapat dilihat bahwa persentase kadar substrat yang tercerna

hampir mendekati 100%, yaitu sebesar 99.64%. Hal ini berarti enzim sudah

mencapai suhu optimalnya.

Pada suhu 40ºC, didapatkan hasil pada menit ke-0 sebesar 0%. Pada menit

ke-5 didapat sebesar 12.25%. pada menit ke-10 sebesar 73.81 %. Pada menit ke-

15 sebesar 81.16% dan pada menit ke-20 didapatkan hasil sebesar 81.77%. Dapat

dilihat bahwa persentase kadar substrat yang tercerna hanya 81.77%. Rentang

persentase yang didapatkan dengan persentase suhu 27ºC tidak terlalu jauh. )

karena pada suhu optimum rekasi berlangsung paling cepat. Bila suhu dinaikkan

terus, maka jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami

denaturasi.

Pada suhu terakhir yaitu suhu 70ºC, didapatkan hasil pada menit ke-0

sebesar 0%. Pada menit ke-5 sebesar -4.58%. Pada menit ke-10 sebesar 4.58%.

19
Pada menit ke-15 didapatkan hasil sebesar -2.41% dan pada suhu ke-20,

didapatkan hasil – 3.46%. Dapat dilihat bahwa kadar yang didapatkan justru

negatif. Hal ini bisa terjadi karena enzim sudah terdenaturasi.

Hasil praktikum yang didapat pada praktikum pengaruh suhu sudah

mendekati dengan dasar teori, yaitu Suhu rendah yang mendekati titik beku

biasanya tidak merusak enzim. Pada suhu dimana enzim masih aktif, kenaikan

suhu sebanyak 10C, menyebabkan keaktifan menjadi dua kali lebih besar (Q10 =

2). Pada suhu optimum (27ºC), persentasi reaksi berlangsung palng cepat sebesar

(99.64%). Bila suhu dinaikkan terus, maka jumlah enzim yang aktif akan

berkurang karena mengalami denaturasi.

Suhu tinggi  Energi kinetik dari substrat dan enzim semakin banyak 

Terbentuk kompleks enzim dan substrat  Semakin banyak menghasilkan produk

(semakin baik). Tetapi, karena enzim terusun atas molekul protein, jiki suhu

terlalu tinggi, maka enzim akan mengalami denaturasi dan dapat menyebabkan

enzim rusak.

I. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil paktikum yang dilakukan, maka dapat disimpulkan

bahwa enzim mencapai suhu optimalnya pada suhu ruang (27ºC). Pada suhu

rendah (0ºC), enzim tidak bekerja atau aktivitas enzim menurun dikarenakan

enzim tidak memiliki energi, Substrat dan enzim saling diam, tidak bertumbukan,

sehingga tidak terjadi energi kinetik. Pada suhu tinggi (70ºC), enzim mengalami

denaturasi sehingga menyebabkan enzim rusak dan tidak dapat bekerja.

20
J. DAFTAR PUSTAKA

1. Gaman, P.M & K.B. Sherrington. (1994). Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan,
Nutrisi dan Mikrobiologi. Universitas Gadjah Mada press. Yogyakarta.

2. Gunam, Ida Bagus Wayan, dkk. 2011, Pengaruh Perlakuan Delignifikasi


Dengan Larutan NaOH dan Konsentrasi Substrat Jerami Padi Terhadap produksi
Enzim Selulase Dari Aspergillus niger NRRLA-II264 (online), Jurnal
Biologi XIV (1), halaman 55-61, http://ojs.unud.ac.id/index.php/BIO/artic
le/download/596/411, diakses pada tanggal 1 Juni 208, pada pukul 22.00 WIB.

3. Indah, Mutiara. 2004. Enzim. Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera


Utara.

4. Martoharsono, S. (1994). Biokimia jilid 1. Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta.

5. Sadikin, M. 2002. Biokimia enzim. Jakarta: Widya medika

6. Soewoto, Hafiz, dkk. 2000. Biokimia Eksperimen Laboratorium.Jakarta: Widya


Medika.

7. Whittaker, J.R. 1994. Principles of Enzymology for The Food Sciences. Second
Edition. New York : Marcek Dekker Inc.

8. Winarno, F.G. 1995. Enzim Pangan. Jakarta: PT. Gramedia Utama.

21