Anda di halaman 1dari 2

Fungsi Bantuan Dokter di Bidang Forensik

Arti kata forensik berarti milik pengadilan/hukum.1 Ilmu-ilmu forensik meliputi semua ilmu pengetahuan yang
mempunyai kaitan dengan masalah kejahatan. Dalam rangka menemukan kebenaran yang hakiki dalam pemeriksaan
perkara pidana pada saat diketemukannya alat bukti
berupa tubuh manusia atau bagian dari tubuh manusia, maka diperlukan adanya penjelasan lebih lanjut tentang
keberadaan dari suatu alat bukti, benarkah bagian tubuh yang terpotong merupakan
bagian tubuh manusia, atau benarkah sesosok mayat yang tergantung mati karena bunuh diri? Benarkah kematian
mendadak disebabkan karena penyakit jantung?

Pada tingkat penyelidikan perkara


Pada tahap penyelidikan perkara bermanfaat untuk menentukan tentang ada atau tidaknya peristiwa pidana pada saat
diketemukannya tubuh manusia, misalnya seseorang dalam keadaan mati tergantung di atas pohon. Apakah kematian
disebabkan karena gantung diri ataukah dibunuh kemudian digantung? Untuk itu, pemeriksaan mayat diarahkan pada
tanda-tanda kematian karena gantung diri, antara lain pada pemeriksaan luar mayat diketemukan ada atau tidaknya
tanda-tanda asfiksia, mata menonjol, lidah menjulur karena adanya penekanan pada leher, keluarnya urine dan feses,
dan sebagainya. Kesimpulan pemeriksaan kedokteran forensik dapat dijadikan landasan bagi kepolisian untuk
melanjutkan atau menghentikan penyelidikan, apabila kematian korban dikarenakan mati gantung diri, maka
penyelidikan akan dihentikan, namun demikian apabila kematian korban dikarenakan pembunuhan maka penyelidikan
polisi akan dilanjutkan guna menemukan pelakunya;

Mengungkap proses tindak pidana dan akibatnya


Untuk mengungkapkan proses tindak pidana dan akibatnya, kebenaran cara-cara dan tanda-tanda yang terjadi dalam
suatu peristiwa pidana, Apabila dari pemeriksaan bedah mayat forensik ternyata diketemukan tulang leher korban
patah, sedangkan patahnya tulang leher dalam kasus kematian dikarenakan gantung diri tidak lazim terjadi. dari hasil
pemeriksaan bedah mayat forensic tidak diketemukan tanda-tanda mati gantung diri tetapi korban dibunuh dan
kemudian mayatnya digantung untuk menyamarkan terjadinya pembunuhan

Menemukan identitas korban dan pelaku


Apabila dari pemeriksaan bedah mayat forensic ternyata diketemukan tulang leher korban patah, dan patahnya tulang
leher diduga karena trauma benda tumpul yang menyerupai kunci pas, maka penyelidikan untuk menemukan
pelakunya akan diarahkan atau difokuskan pada orang yang pekerjaannya atau aktivitasnya menggunakan kunci pas.

Tugas Bantuan Dokter di Bidang Kedokteran Forensik


Tugas bantuan dokter pada bidang kedokteran forensic diatur dalam KUHAP Pasal 133 ayat (1), yang menyatakan:
dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang
diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada
ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya. Ketentuan Pasal 133 ayat (1) KUHAP tidak menentukan
pemeriksaan oleh dokter terhadap korban tindak pidana kesusilaan; sedangkan korban tindak pidana kesusilaan
khususnya perkosaan memerlukan pemeriksaan dokter. Dalam praktiknya tugas dokter dalam pemeriksaan kedokteran
forensik selengkapnya adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan korban hidup;
b. Pemeriksaan korban mati;
c. Pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP);
d. Penggalian mayat;
e. Penentuan umur korban dalam kasus tindak pidana kesusilaan; atau penentuan umur pelaku
untuk tindak pidana yang berhubungan dengan pelaku anak menurut UU No. 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak;
f. Pemeriksaan kejiwaan pelaku tindak pidana, berhubungan dengan penentuan kemampuan
bertanggungjawab dalam kasus tindak pidana oleh pelaku yang diduga terganggu jiwanya;
g. Pemeriksaan barang bukti lain berupa tubuh manusia atau bagian dari tubuh manusia.
Visum Et Repertum
Perkara Hukum yang Memerlukan Visum et Repertum
Visum et repertum tidak hanya diperlukan dalam pemeriksaan perkara pidana, tetapi pada pemeriksaan perkara perdata
untuk kasus-kasus tertentu. Perkara perdata yang memerlukan pembuatan visum et repertum, antara lain adalah untuk
perkara permohonan pengesahan perubahan/penyesuaian status kelamin, klaim atas asuransi, pembuktian status anak,
dan sebagainya. Penyebab pasti kematian seseorang dapat berhubungan baik dengan peristiwa di dalam hukum pidana,
maupun hukum perdata. Masalah kematian yang berhubungan dengan hukum perdata, misalnya pada klaim asuransi
atau penentuan ahli waris berhubungan dengan hak atas pembagian harta warisan. Kecurigaan tentang penyebab
kematian seseorang ditentukan oleh penyidik kepolisian melalui pemeriksaan kedokteran forensik, meskipun
peristiwanya berhubungan dengan hukum perdata; namun demikian, penyebab kematian seseorang juga merupakan
kejahatan terhadap nyawa yang berhubungan dengan hukum pidana.

Peristiwa Pidana yang Memerlukan Visum et Repertum


Peristiwa pidana yang memerlukan visum et repertum berhubungan dengan alat bukti berupa tubuh manusia, baik
dalam keadaan hidup maupun mati. Peristiwa pidana yang memerlukan visum et repertum, adalah sebagai berikut:
1. Berhubungan dengan ketentuan Pasal 44 KUHP, yaitu pelaku Tindak pidana yang diduga menderita gangguan jiwa
atau jiwanya cacat dalam tumbuh kembangnya;
2. Penentuan umur korban/pelaku tindak pidana:
a. berkaitan dengan korban tindak pidana terhadap anak, khususnya di bidang kesusilaan Ketentuan KUHP
yang berhubungan dengan anak sebagai korban tindak pidana di bidang kesusilaan dinyatakan masih berlaku
sepanjang tidak bertentangan dengan berlakunya UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
b. berkaitan dengan pelaku tindak pidana anak yang ditentukan dalam UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem
Peradilan Pidana Anak;
3. Kejahatan kesusilaan diatur dalam KUHP Pasal 284 sampai dengan 290, dan Pasal 292 sampai
dengan 294;
4. Kejahatan terhadap nyawa, yaitu KUHP Pasal 338 sampai dengan 348;
5. Penganiayaan, berkaitan dengan KUHP Pasal 351 sampai dengan 355;
6. Perbuatan alpa yang mengakibatkan kematian atau terlukanya orang lain, yaitu KUHP Pasal 359
dan 360; termasuk kecelakaan lalu lintas sebagaimana ditentukan di dalam UU No. 22 Th 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Peranan Dokter Dalam Pembuatan Visum et Repertum


Dokter berperan penting dalam menemukan kebenaran materiil sebagaimana dituju di dalam pemeriksaan perkara
pidana. KUHAP Pasal 133, 134, 135 dan 179 menentukan peranan dokter dalam pemeriksaan perkara pidana yaitu
sebagai berikut:
Pasal 133(1) keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya
Pasal 134 informed consent autopsy (DEAD)
Pasal 135 Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat (px dokter
Pasal 179 Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya
wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan

Ilmu Kedokteran Forensik (Interaksi dan Dependensi Hukum pada Ilmu Kedokteran) Dr. Y.A. Triana Ohoiwutun, S.H., M.H.