Anda di halaman 1dari 105

PEMERIKSAAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA DAN ALKOHOL

SECARA KUALITATIF

A. Persiapan Sampel

1. Sampel berbentuk serbuk atau tablet


Satu tablet sampel (50 mg serbuk) larutkan dalam 10 mL metanol, bila
perlu saring.

2. Sampel Ganja
Tanaman ganja (Cannabis plant, Cannabis herba)
± 400 mg cuplikan yang telah diserbuk haluskan, masukkan ke dalam
Erlenmeyer bertutup, tambah 10 ml petroleum eter atau toluen, dan kocok
selama 1 jam, kemudian saring. Bila perlu tambahkan lagi pelarut hingga
diperoleh volume 10 ml
Damar ganja (Cannabis resin)
± 100 mg damar ganja dalam mortir, gerus dengan ± 2 ml toluen sampai
terbentuk pasta. Dengan bantuan 8 ml toluen masukkan ke dalam
Erlenmeyer bertutup, kocok selama 1 jam dan saring.
Hasis (Hasis oil, Cannabis oil)
± 50 mg hasis larutkan dalam 10 ml toluen.

3. Sampel cuplikan berbentuk cairan


Ambil minimal 10 mL cairan, tanpa penambahan zat lain.

4. Spesimen darah/serum/plasma
Persiapan spesimen dengan cara ekstraksi adalah sebagai berikut :

a. Prinsip
Pemisahan/isolasi spesimen dengan pelarut organik pada pH tertentu
dari zat-zat yang mengganggu berdasarkan dengan kelarutannya.
Hasil ekstraksi disaring dan dikeringkan sehingga didapat residu yang
dapat dianalisis.

b. Peralatan
1) Vortex mixer
2) Shaker
3) Sentrifus
4) Tapered tube
5) Corong pisah
6) Corong
7) Batang pengaduk
8) Penangas air
9) Sonikator

60
c. Reagen
1) Pelarut organik (CHCl3)
2) Natrium sulfat anhidrat
3) Natrium hidroksida
4) Asam sulfat pekat
5) Buffer fosfat
6) Amonia
7) Natrium bikarbonat (NaHCO3)

d. Cara kerja
1) Ke dalam 4 mL spesimen tambahkan 2 mL buffer fosfat (pH 7,4)
dan 40 mL kloroform (CHCl3) kocok, kemudian tambahkan
2g Na2SO4 anhidrat kocok kembali untuk menghasilkan masa yang
padat.
2) Tuangkan CHCl3 melalui saringan.
3) Ekstraksi kembali masa padat tersebut dalam 20 mL CHCl3
campur kedua hasil ekstraksi fraksi CHCl3.
4) Simpan masa padat yang ada.
5) Apabila terdapat salisilat, fraksi CHCl3 (fraksi A) ekstraksi dengan
NaHCO3 untuk menghilangkan salisilat yang dapat menghambat
penentuan selanjutnya.
6) Pada fraksi CHCl3 tambahkan 8 mL NaOH 0,45 M (setara dengan
2 kali volume spesimen yang diambil).
7) Kocok selama 2 menit kemudian sentrifus. Larutan NaOH
kemungkinan mengandung barbiturat dan senyawa asam lemah
lainnya (fraksi B).
8) Cuci fraksi CHCl3 dengan sedikit air, buang air cucian, keringkan
fraksi CHCl3 dengan Na2SO4 anhidrat, uapkan sampai kering.
Residu kemungkingan mengandung obat-obat netral dan
beberapa obat yang bersifat basa (fraksi C) seperti
klordiazepoksid, diazepam dan nitrazepam.
9) Apabila spesimen masih ada, basakan dengan larutan ammonia,
lalu ekstraksi 2 kali, masing-masing dengan 10 mL CHCl3
kemudian keringkan dengan Na2SO4 anhidrat. Uapkan larutan
sampai kering.
Residu kemungkingan mengandung obat golongan basa
(fraksi D).
10) Jika tidak tersedia sisa spesimen awal maka fraksi C yang telah
diperiksa larutkan dengan CHCl3 dan ekstraksi dengan H2SO4
0,5 M.
Tambahkan ekstrak ke masa padat H2SO4 pada butir 3 di atas.
Basakan dengan larutan ammonia, ekstraksi 2 kali dengan 10 mL
CHCl3.
Keringkan dengan Na2SO4 anhidrat, kemudian uapkan sampai
kering.

61
Residu kemungkinan mengandung obat golongan basa
(fraksi D).

Ekstraksi tersebut di atas dapat dilihat pada skema IV.I di bawah ini :

Skema IV.1
Ekstraksi Darah/Serum/Plasma

Spesimen

Spesimen (pH 7,4)

Ekstraksi dengan CHCl3

CHCl3 (bila ada salisilat (Fraksi A)


Ekstraksi dengan NaHCO3

Ekstraksi Masa padat Basakan dengan


Ekstraksi dengan NaOH Dengan Sulfat ammonia
H2SO4 0,5 M Ekstraksi dengan
CHCl3

Fraksi NaOH Fraksi CHCl3 Fraksi CHCl3


Asam lemah Obat netral Obat Gol Basa
(Fraksi B) (Fraksi C) (fraksi D)

62
5. Ekstraksi urin/cairan lambung

b. Prinsip
Pemisahan/isolasi spesimen dengan pelarut organik pada pH tertentu
dari zat-zat yang mengganggu berdasarkan kelarutannya. Hasil
ekstraksi disaring dan dikeringkan sehingga didapat residu yang dapat
dianalisis.

c. Peralatan
1) Vortex mixer
2) Shaker
3) Sentrifus
4) Tapered tube
5) Corong pisah
6) Corong
7) Batang Pengaduk
8) Penangas air
9) Sonikator

d. Reagen
1) Pelarut organik (Eter)
2) Natrium sulfat anhidrat
3) Natrium hidroksida
4) Asam sulfat pekat
5) Asam tartrat atau asam fosfat
6) Amonium sulfat
7) Kloroforom (CHCl3)

e. Cara Kerja
1) Tambah 10 mL urin dengan asam fosfat atau asam tartrat untuk
membuat pH = 3
2) Ekstraksi 2 kali, masing-masing dengan 30 mL eter, campur hasil
ekstraksi.
3) Cuci dengan 5 mL air dan tambahkan air cucian ke dalam
spesimen
4) Simpan fraksi air untuk ekstraksi selanjutnya
5) Fraksi eter di atas ekstraksikan dengan 5 mL larutan natrium
bikarbonat jenuh
6) Fraksi eter ekstraksi kembali dengan 5 mL NaOH 0,45 N dan
simpan sebagian hasil ekstraksi untuk pemeriksaan barbiturat dan
beberapa substansi asam lemah lainnya, misalnya klordiazepoksid
(Fraksi B)
Sebagian lain dari fraksi eter di atas dicuci kembali dengan air,
saring hasil cucian dan tambahkan dengan Na2SO4 anhidrat,
uapkan sampai kering.

63
Residu kemungkinan mengandung obat-obat netral (Fraksi C)
7) Fraksi air pada butir 3) tambah dengan amonia untuk membuat
pH = 8
8) Ekstraksi sebanyak 2 kali masing-masing dengan 10 mL CHCl3
9) Cuci campuran ekstrak fraksi CHCl3 dengan air, kemudian saring
dan tambahkan dengan sedikit asam tartrat untuk menghindari
hilangnya zat-zat yang mudah menguap.
10) Uapkan sampai kering, residu kemungkinan mengandung antara
lain golongan benzodiazepin : klordiazepoksid, diazepam,
nitrazepam (Fraksi D).
Untuk ekstraksi cairan lambung dilakukan seperti ekstraksi
pada urin dengan tambahan cara kerja spesimen yang akan
diekstraksikan sebagai berikut :
Tambahkan ke dalam spesimen ammonium sulfat (padat
berlebihan) bersama-sama dengan beberapa tetes asam fosfat
10 %, panaskan, kocok dan saring.
Fitrat dilakukan seperti cara kerja di atas

Ekstraksi di atas dapat dilihat pada skema IV.2 di bawah ini :


Skema IV.2
Ekstraksi Cairan Lambung
Spesimen (pH 3)

Ekstraksi dengan eter

Fraksi eter Fraksi air (pH 8)

Bikarbonat Ekstraksi dengan Ekstraksi dengan


As. Kuat Na. Bikarbonat CHCl3
(Fraksi A)

Fraksi eter diekstraksi Fraksi CHcl3


Dengan NaOH

Fraksi NaOH (Fraksi D)

NaOH Eter netral


Asam lemah (Fraksi C)
(Fraksi B)
64
Isi dari Fraksi A, B, C dan D dapat dilihat pada table IV.1 di bawah ini :

Tabel IV.1
Isi dari Fraksi A, B, C dan D

Fraksi A Fraksi B Fraksi C Fraksi D

Salisilat Barbiturat Kabromal Amitriptilin


Kloropropamid Klodiazepoksid Amfetamin
Glutimid Etklorvynol
Parasetamol Etinamet Klordiazepoksid
Fenil Butazon Glutetimid Klorpromazin
Fenitoin Meprobamat Kodein
Metakualon Desipramin
Nitrazepam Dekstroproposifen
Parasetamol Diazepam
Penazon Ergot Alkaloid
Flurazepam
Imipramin
Isokarboksazid
Metakualon
Metilamfetamin
Morfin
Nitrazepam
Notrifilin
Orfenadrine
Fenezlin
Fenmetrazin
Fentemin
Kuinin
Bromazepam

Keterangan. :
Nama obat yang hurufnya dicetak tebal yang dibahas dalam buku ini.

B. Pemeriksaan Skrining

Pemeriksaan pendahuluan (Screening Test) adalah pemeriksaan


laboratorium sebagai upaya penyaring untuk mengetahui ada/tidaknya dan
jenis obat yang menimbulkan efek toksis atau efek gangguan kesehatan.
Pemeriksaan pendahuluan (ScreeningTest) dapat dilakukan dengan
Card/Strip Test (untuk spesimen urin) dan Reaksi Warna (untuk sampel
sediaan farmasi).

65
Penafsiran hasil
Analisis kualitatif dari sampel biologik akan memberikan informasi apakah
subyek yang bersangkutan menggunakan obat terlarang atau tidak. Adanya
metabolit menunjukkan bahwa zat/obat tersebut telah dikonsumsi dan
termetabolisme dalam badan.

Pemeriksaan skrining positif berarti suatu obat/metabolitnya terdapat dalam


urin sebanyak/lebih banyak dari batas deteksi alat. Pengeluaran dari badan
dan konsentrasinya dalam urin bergantung pada faktor-faktor sebagai
berikut : cara pemakaian, lama dan seringnya penggunaan, fungsi organ,
kecepatan metabolisme obat, kondisi fisik dari subyek, umur, jenis kelamin,
waktu pengambilan sampel, pengenceran dll.

1. Tes Immunoassay (Card/Strip Test)

a. Prinsip
Adanya zat tertentu dalam urin ditentukan secara Rapid Immunoassay
(antigen-antibodi)

b. Alat
Pipet

c. Reagen
Card/Strip Test

d. Cara kerja
Siapkan Card/Strip Test untuk pemeriksaan masing-masing obat
1) Card Test
a) Teteskan 3 tetes spesimen urin pada lubang spesimen yang
terdapat dalam masing-masing card test
b) Tunggu beberapa saat sesuai dengan petunjuk manual
2) Strip Test
a) Celupkan strip test ke dalam urin sampai batas yang ditentukan
b) Tunggu beberapa saat sesuai dengan petunjuk manual

e. Pembacaan hasil
1) Card Test
a) Hasil - (negatif) bila tampak 2 garis pada huruf C dan T
b) Hasil + (positif) bila tampak 1 garis pada huruf C
c) Atau sesuai petunjuk manualnya
2) Strip Test
a) Hasil - (negatif) bila tampak 2 garis pada huruf C dan T
b) Hasil + (positif) bila tampak 1 garis pada huruf C
c) Atau sesuai petunjuk manualnya

66
Pemilihan metode, peralatan serta reagen untuk skrining haruslah yang
mempunyai batas deteksi sama atau lebih rendah dari batas deteksi/ cut off
yang direkomendasikan pada Tabel IV.2 di bawah ini :

Tabel IV.2
Batas Deteksi Pemeriksaan Skrining

Jenis / golongan zat Batas deteksi (ng/mL)

Kanabis 50
Kokain 300
Opiat 300
Metadon 300
Amfetamin 1000
Benzodiazepin 200
Methaqualone 300
Propoksifen 300
Barbiturat 200
Fensiklidin 25

Menurut UK Laboratory Guidelines for Legally Defensible Workplace Drug


Testing dan SAMHSA (Substance Abuse and Mental Health Services
Administration) dari Amerika Serikat.

• Pemeriksaan skrining yang memberikan hasil negatif tidak


dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi.
• Bila hasil pemeriksaan Card/Strip Test Positif belum menjamin
+ (positif) untuk spesimen yang diperiksa, pemeriksaan harus
dilanjutkan dengan pemeriksaan Konfirmasi.
• Untuk pemeriksaan penyidikan/penegakan hukum, pemeriksaan
konfirmasi yang diakui adalah yang menggunakan metoda
GCMS/HPLC.
• Untuk menjaga mutu pemeriksaan setiap 10 kali pemeriksaan
spesimen urin lakukan pemeriksaan minimal terdapat 1 kontrol
urin positif dari jenis zat yang diperiksa dan kontrol negatif
(blanko urin).

67
2. Reaksi warna

Pemeriksaan pendahuluan (Screening Test) dengan Reaksi Warna dapat


dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut :
Untuk Golongan Narkotika dan Psikotropika
a. Metode Marquis
b. Metode Mecke
c. Metode Frohde
d. Metode Simon
e. Metode Bratton Marshall
f. Metoda Liebermann
g. Metode Fast Blue B
h. Tes Duquenois
Untuk pemeriksaan alkohol
a. Kalium bikromat
b. Mikrodifusi
c. Metanol
d. Aseton

Pemeriksaan hanya untuk mengarahkan kemungkinan jenis zat yang


terdapat dalam sampel, sehingga hasilnya harus dilanjutkan dengan tes
konfirmasi karena zat selain Narkoba juga mempunyai kemungkinan
memberikan hasil yang sama (false positif).

Untuk golongan benzodiazepin reaksi warna tidak dianjurkan untuk


dipakai karena jenis zat dalam golongan ini yang sangat beragam,
pemeriksaan skrining yang dianjurkan adalah Kromatografi Lapis Tipis
(KLT). Zat yang digunakan untuk pereaksi harus dijaga mutunya untuk
menjamin bahwa zat yang digunakan tidak mengalami dekomposisi, yang
dapat merubah warnanya dan mengacaukan hasil pemeriksaan.

a. Metode Marquis

1) Prinsip
Pembentukan senyawa berwarna antara zat yang diperiksa dengan
formaldehid dalam suasana asam sulfat pekat

2) Alat
a) Pipet tetes
b) Pipet
c) Vortex mixer
d) Sentrifus

68
3) Reagen
a) Pereaksi Marquis
8-10 tetes formaldehid 40 % diteteskan ke dalam 10 mL asam
sulfat pekat
b) Eter
c) Natrium hidroksida (NaOH) 4 N
d) Etanol 95 %

4) Cara Kerja
Untuk pemeriksaan urin
a) Masukkan 3 mL urin ke dalam tabung sentrifus
b) Tambahkan NaOH 4 N sampai pH 9-10
c) Ekstraksi dengan 5 mL eter, masukkan dalam vortex mixer dan
sentrifus
d) Ekstrak eter pisahkan dan uapkan sampai kering
e) Residu larutkan dalam 1 mL etanol 95 % (secukupnya),
keringkan lagi
f) Tambahkan 1 tetes larutan pereaksi
Untuk pemeriksaan sampel obat/makanan
Letakkan 1-2 mg sampel bubuk/1-2 tetes bila berbentuk cairan ke
dalam lekukan plat tetes, tambahkan pereaksi, tak lebih dari 3
tetes.

5) Pembacaan Hasil

Tabel IV.3
Hasil Tes Warna Metode Marquis

Zat kimia Marquis Mecke Frohde

Heroin ungu (purple violet) hijau tua unguÆabu-abu/ungu


Morphine ungu (purple violet) hijau tua unguÆabu-abu/ungu
Codeine ungu (purple violet) hijau/biru Biru/hijau
6 acetylmorphine ungu (purple violet) hijau tua Kuning/hijau
Acetylcodeine ungu (purple violet) hijau tua Ungu, warna memucat
Papaverine tidak berwarna biru tua Hijau muda
Noscapine kuning terang hijau/biru Merah cherry
Diazepam jingga
Nitrazepam, kuning (setelah
Bromazepam, didiamkan
Lorazepam dan semalam
Klordiazepoksid
Amphetamin dan oranyeÆcoklat untuk membedakan amfetamin dan
metamfetamin metamfetamin gunakan pereaksi Simon.

69
b. Metode Mecke

1) Prinsip
Pembentukan senyawa berwarna antara zat yang diperiksa dengan
asam selenius dalam suasana asam sulfat pekat

2) Alat
a) Pipet tetes
b) Pipet
c) Vortex mixer (untuk urin)
d) Sentrifus(untuk urin)

3) Reagen
a) Pereaksi Mecke : 0,25 gram asam selenius larutkan dalam
25 mL asam sulfat pekat panas
b) Eter (untuk urin)
c) Natrium hidroksida (NaOH) 4 N (untuk urin)
d) Etanol 95 % (untuk urin).

4) Cara kerja
Lihat Metode Marquis

5) Pembacaan Hasil
Lihat Metode Marquis

c. Metode Frohde

1) Prinsip
Pembentukan senyawa berwarna antara zat yang diperiksa dengan
asam molibdat/natrium molibdat dalam suasana asam sulfat pekat

2) Alat
a) Pipet tetes
b) Pipet
c) Vortex mixer (untuk urin)
d) Sentrifus(untuk urin)

70
3) Reagen
a) Pereaksi Frohde :
1,0 gram asam molibdat/natrium molibdat larutkan dalam
100 mL asam sulfat pekat panas, larutan akhir haruslah tak
berwarna
b) Eter (untuk urin)
c) Natrium hidroksida (NaOH) 4 N (untuk urin)
d) Etanol 95 % (untuk urin).

4) Cara Kerja
Lihat Metode Marquis

5) Pembacaan Hasil
Lihat Metode Marquis
Tabel IV.4
Hasil Tes Warna Reagen Frohde

Warna Senyawa
Kuning Hidrokodon, petidin
Biru kekuningan Oksikodon HCL
Oranye Difenhidramin, flurazepam, promazin
Hijau Trifluoperazine, triflupromazine,
klorfentermin, kodein, meskalin,
oksikodon, feniltoloxamin
Hijau kekuningan LSD
Biru Pentazocin
Merah Amfetamin, klorpromazin HCl
Meah keabuan Propoksifen HCl
Merah keunguan Alimemazine, diasetilmorfin,
promethazin, propilhexadrin, asam
salisilat, tetrasiklin, thioridazine
Coklat Efedrin, meskalin
Coklat kemerahan Doxepin HCl
Hitam kecoklatan Opium
Hitam kehijauan MDMA HCl

d) Metode Simon

1) Prinsip
Pembentukan senyawa berwarna antara zat yang diperiksa dengan
Reagen Simon dalam suasana basa

71
2) Alat
a) Pipet tetes
b) Pipet
c) Vortex mixer (untuk urin)
d) Sentrifus (untuk urin)

3) Reagen
a) Pelarut I = 20 % larutan sodium karbonat akuos
Pelarut II = 50 % larutan asetaldehida etanolik
Pelarut III = 1 % larutan sodium nitroprusida akuos
b) Eter (untuk urin)
c) Natrium hidroksida (NaOH) 4 N (untuk urin)
d) Etanol 95 % (untuk urin).

4) Cara Kerja
1) Untuk pemeriksaan urin lakukan dulu seperti pada metode
Marquis, langkah a-e
2) Letakkan sejumlah kecil sampel pada
lekukan plat tetes dan campurkan dengan larutan I satu tetes,
lalu tambahkan 2 tetes larutan II, kemudian tambahkan
beberapa tetes larutan III memberikan warna biru untuk
metamfetamin dan amin sekunder lain. Amfetamin dan amin
primer lain memberikan warna merah muda perlahan sampai
merah cherry. Tes ini dapat membedakan amfetamin dan
metamfetamin.

5) Pembacaan Hasil
Hasil akhir memberikan warna biru untuk metamfetamin dan amin
sekunder lain. Amfetamin dan amin primer lain memberikan warna
merah muda perlahan sampai merah cherry. Tes ini dapat
membedakan amfetamin dan metamfetamin. Namun beberapa zat
tambahan dapat memberikan negatif palsu.

72
Tabel IV. 5
Reaksi Warna Untuk Derivat Amfetamin

Senyawa Marquis Simon

Amfetamin Oranye cerahÆcoklat Coklat/NR


PMA NRÆhijau terang Merah muda terang*
DMA HijauÆhijau tua Merah muda suram*
DOB Hijau kekuninganÆhijau Merah muda terang*
DOET Coklat kekuningan Merah muda terang*
STP Kuning Merah muda terang*
MDA Hitam Merah muda terang*
TMA Merah oranye Merah muda terang*
MMDA Ungu Merah muda terang*
MDMA Hitam Biru tua
Metamfetamin Oranye/coklat merah Biru tua

NR = no reaction/tidak bereaksi
* = warna reagen, dianggap negatif

e. Metode Bratton Marshall

1) Prinsip
Pembentukan senyawa berwarna violet dengan natrium nitrit dan
asam sulfamat dalam suasana asam

2) Alat.
a) Tabung reaksi
b) Pipet tetes

3) Reagen
a) Asam sulfat (H2SO4) 10 %
b) Natrium nitrit (NaNO2) 0,1 % harus dibuat baru
c) Asam sulfamat 0,5 %
d) N-1 naftilendiamin dihidroklorid 0,1 %

73
4) Cara Kerja
a) Ke dalam tabung reaksi masukkan 4 mL urin
b) Tambahkan 1 tetes H2SO4 10 % dan 1 tetes natrium nitrit 0,1 %
c) Biarkan selama 0,5 menit
d) Tambahkan 1 tetes larutan asam sulfamat 0,5 % dan biarkan
0,5 menit
e) Teteskan larutan N-1 naftilendiamin dihidroklorid 0,1 %

5) Pembacaan Hasil

Apabila terbentuk warna violet secara perlahan-lahan diduga


spesimen mengandung Nitrazepam, sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut (Konfirmasi Test).

f. Metode Liebermann

1) Prinsip
Sampel yang diperiksa setelah diekstraksi dengan eter pada pH 3-4
(HCl 2 N), bereaksi dengan NaNO2 dalam suasana H2SO4 pekat
membentuk senyawa berwarna. Tes dilakukan untuk memberi
warna jelas pada fenol.

2) Alat
a) Tabung reaksi
b) Sentrifus
c) Waterbath
d) Pipet tetes
e) Pipet ukur

3) Reagen
a) HCl 2 N
b) Eter
c) Pereaksi Liebermann
d) 1g NaNO2 atau KNO2 dalam 10 mL H2SO4 pekat

4) Cara Kerja
a) Ke dalam tabung reaksi masukkan 2 mL urin kemudian
tambahkan HCl 2 N sampai pH 3-4
b) Ekstraksi dengan 5 mL eter selama 15 menit
c) Kemudian sentrifus selama 5 menit
d) Keringkan ekstrak di waterbath
e) Residu yang didapat tambahkan 2-3 tetes pereaksi Liebermann

74
5) Pembacaan Hasil
Contoh pada tabel berikut (lengkapnya baca Clarke’s Analysis of
Drugs and Poisons)

Warna Senyawa
MerahÆoranye Phenylmethylbarbituric acid
Coklat Haloperidol
Hitam Diamorfin/heroin

g. Metode Garam Fast Blue B (1)

1) Prinsip
Sampel diekstraksi dengan petroleum eter, kemudian direaksikan
dengan Garam Fast Blue B membentuk senyawa berwarna
2) Alat
a) Kertas saring
b) Spatel
c) Pipet tetes

3) Reagen
a) Reagen padat : Garam Fast Blue B (di-o-anisidinetetrazolium
klorida)
encerkan Garam Fast Blue B dengan natrium sulfat anhidrous
(1 :100)
b) Larutan I : Petroleum eter
Larutan II : Larutan cair dari natrium bikarbonat 10 % (w/w)

4) Cara Kerja
a) Lipat 2 kertas saring menjadi seperempat, buka sebagian untuk
membentuk corong
b) Letakkan sejumlah kecil bubuk tanaman kanabis atau resin atau
setetes kecil kanabis cair pada bagian tengah kertas sebelah
atas
c) Tambahkan 2 tetes larutan 1
d) Biarkan cairan sampai menembus kertas sebelah bawah
e) Pisahkan kedua kertas saring
f) Buang kertas bagian atas dan biarkan kertas bagian bawah
mengering
g) Tambahkan sejumlah kecil reagen padat pada kertas saring
bawah dan tambahkan 2 tetes larutan 2

75
5) Pembacaan Hasil
Warna noda merah keunguan pada bagian tengah kertas saring
menunjukkan adanya kanabis, warna ini adalah kombinasi
bermacam warna dari berbagai kanabinoid yang berbeda yang
adalah komponen mayor dari kanabis; THC=merah, CBN = ungu,
CBD = oranye.

Catatan :
1. Reagen padat berwarna putih/putih kekuningan saat baru
dibuat. Simpan reagen dalam kantong plastik pada tempat
kering dingin, dianjurkan di dalam freezer. Jika reagen
terdekomposisi, ia akan berubah warna menjadi keabuan dan
harus dibuang.
2. Fast Blue B bersifat potensial karsinogenik, dianjurkan
menggantinya dengan dye Fast blue B.
3. Untuk meningkatkan spesifisitas tes, sangatlah penting untuk
menggunakan materi yang diperiksa sesedikit mungkin, tak
lebih dari ujung korek api dan menggunakan 2 kertas saring.
Kertas saring sebelah atas yang dibuang sebelum terjadinya
warna, mencegah ekstraksi kembali dyes yang ada pada materi
tanaman sebelum mencapai kertas saring bawah dan
menghasilkan reaksi positif palsu.
4. Larutan 2 menghasilkan kondisi basa yang akan meningkatkan
intensitas reaksi warna antara kanabinoid dan garam Fast Blue
B.

g. Metode Garam Fast Blue B (2)

1) Prinsip
Sampel diekstraksi dengan kloroform, kemudian direaksikan
dengan Garam Fast Blue B membentuk senyawa berwarna
2) Alat
a) Tabung reaksi
b) Spatel
c) Pipet tetes
d) Pipet ukur

3) Reagen
a) Reagen padat : Garam Fast Blue B (di-o-anisidinetetrazolium
klorida)
Encerkan Garam Fast Blue B dengan natrium sulfat anhidrous
(2,5 :100)
b) Larutan I : Kloroform
Larutan II : Larutan natrium hidroksida cair 0,1 N

76
4) Cara Kerja
a) Letakkan sejumlah kecil zat yang akan diperiksa dalam tabung
reaksi
b) Tambahkan sedikit sekali reagen padat dan 1 mL larutan I
c) Kocok tabung selama 1 menit
d) Tambahkan 1 mL larutan II
e) Kocok tabung reaksi selama 2 menit
f) Tegakkan tabung rekasi selama 2 menit

5) Pembacaan Hasil
Warna, seperti pada metode I, pada lapisan cairan kloroform
bagian bawah menunjukkan hasil positif. Warna dari lapisan atas
diabaikan.
Catatan :
Perhatikan catatan di atas.

i. Tes Duquenois

1) Prinsip
Cuplikan bereaksi dengan asetaldehid/vanilin dalam suasana asam
sehingga terjadi perubahan warna yang larut dalam kloroform.

2) Alat
a) Tabung reaksi
b) Pipet tetes
c) Vorteks Mixer

3) Reagen
a) Larutan I: Lima tetes asetaldehida dan 0,4 g vanilin dilarutkan
dalam 20 mL etanol 95 %
b) Larutan II : Asam Hidroklorida pekat
c) Larutan III : Kloroform
Catatan
Larutan I harus disimpan dalam tempat gelap dan dingin, buang
bila ada perubahan warna menjadi kuning tua

4) Cara kerja
a) Masukkan sedikit zat yang akan diperiksa ke dalam tabung
reaksi
b) kocok dengan 2 mL larutan I selama 1 menit
c) tambahkan 2 mL larutan II, kocok campuran

77
d) Biarkan selama 10 menit, jika muncul warna, tambahkan 2 mL
larutan III.

5) Pembacaan Hasil
Jika lapisan bagian bawah (kloroform) menjadi berwarna ungu
violet, menunjukkan adanya produk kanabis.

j. Kalium Bikromat

1) Prinsip
Terbentuknya warna hijau hasil oksidasi antara etanol dalam
spesimen urin dengan kalium bikromat dalam suasana asam.

2) Alat
a) Kertas saring Whatman (Glass-Fibre filter paper)
b) Tabung reaksi
c) Penangas air

3) Reagen
a) Larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 2,5 %
b) Asam sulfat (H2SO4) 50 %

4) Cara Kerja
a) Masukkan 5 mL spesimen urin dalam tabung reaksi, lalu tutup
b) Pada kertas saring teteskan K2Cr2O7 tambahkan H2SO4
c) Masukkan kertas saring tersebut dibagian atas leher tabung
d) Sumbat mulut tabung dengan gabus dan panaskan pada
penangas air suhu 100° C selama 2 menit

5) Interpretasi Hasil
a) Perubahan warna dari kuning menjadi hijau menandakan
alkohol positif.
b) Etanol memberikan reaksi positif bila kadarnya lebih dari
40 mg %.

k. Mikrodifusi

1) Prinsip
Di dalam tempat yang kedap, alkohol dalam spesimen urin akan
menguap dan bereaksi dengan kalium bikromat dalam suasana
asam sehingga terjadi perubahan warna.

78
2) Alat
a) Cawan Conway
b) Pipet ukur

3) Reagen
Kalium bikromat
0,5 g Kalium bikromat dalam 100 ml asam sulfat 60 %

4) Cara Kerja
a) Tempatkan spesimen di bagian tepi cawan sampai tertutup
dasarnya
b) Tambahkan beberapa ml kalium bikromat di sekitar tempat
spesimen tersebut.
c) Tutup rapat cawan tersebut dan inkubasi pada suhu 37° C
selama 1 jam

5) Interpretasi Hasil
Warna kalium bikromat akan berubah dari kuning menjadi hijau
selanjutnya menjadi biru.

l. Metanol

1) Prinsip
Terbentuknya warna hijau hasil oksidasi antara etanol dengan
kalium bikromat dalam suasana asam.

3) Alat
a) Tabung reaksi
b) Pipet tetes

4) Reagen
a) Larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 2,5 % dalam asam sulfat
(H2SO4) 50 %
b) Asam kromotropat
c) Etanol

4) Cara Kerja
1) Ke dalam 1 ml urin, tambahkan 1 tetes K2Cr2O7 2,5 % dalam
(H2SO4) 50 %
2) Biarkan pada suhu kamar selama 5 menit
3) Tambahkan 1 tetes etanol dan beberapa mg asam kromotropat
4) Tambah H2SO4 sehingga timbul suatu lapisan pada dasar
tabung,

79
5) Interpretasi hasil
Warna ungu pada lapisan pemisah menunjukkan adanya metanol.
Catatan : formaldehid akan memberikan reaksi positif pada uji ini.

m. Aseton (spesimen darah, urin dan cairan tubuh lain)

1) Prinsip
Terbentuknya warna violet

2) Alat
Tabung reaksi

3) Reagen
Tablet acetest (ames Co) atau produk lain yang sejenis

4) Cara Kerja
Teteskan beberapa tetes darah dan urin pada tablet acetest
biarkan selama 1-10 menit

5) Interpretasi Hasil
Warna violet menandakan aseton positif, dengan sensitivitas reaksi
= 100 ppm

3. Uji kelarutan /Anion tes

Prinsip :
Menggunakan kelarutan dikombinasi dengan beberapa reaksi tertentu di
mana hasilnya ditentukan dengan adanya presipitat/endapan.

Tes anion dapat dilakukan untuk sampel opiat dengan pengecualian


opium mentah. Morfin biasa didapat dalam bentuk garam hidroklorida,
garam sulfat, basa bebas, terkadang garam tartrat. Heroin biasa terdapat
dalam bentuk basa bebas atau garam hidroklorida.

Basa
Basa Heroin larut dalam CCl4, tetapi garam heroin jenis lain tidak larut
sama sekali. Basa morfin tidak larut dalam air dan larut sedikit dalam
benzene dan kloroform.

Garam hidroklorida
Heroin hidroklorida larut dalam kloroform dan metilen klorida. Heroin
tartrat, heroin sitrat dan klorida anorganik tidak larut dengan pelarut
tersebut. Garam morfin pada dasarnya tidak larut dalam kloroform dan

80
benzene, basanya larut sebagian dalam kedua pelarut. Jika klorida larut
air di reaksikan dengan pelarut perak nitrat dan setelah endapan dicuci
dengan air, menjadi larut dalam larutan ammonia encer yang lalu dapat
diendapkan kembali dengan penambahan asam nitrit.

Garam Sulfat
Morfin sulfat larut dalam air. Ketika garam sulfar yang telah dicampur air
direaksikan dengan larutan barium klorida terbentuk endapan putih yang
tidak larut dalam HCl.

Garam Tartrat
Heroin tartrat tidak larut dalam metilen klorida atau kloroform tetapi larut
dalam metanol. Morfin tartrat larut dalam air sedangkan asam morfin
tartrat hanya sedikit larut dalam air. Perak nitrat akan membentuk
endapan putih ketika dicampur dengan larutan air bercampur asam
tartarik bebas atau garam tartrat. Endapan larut dalam asam nitrit. Merah
kongo akan memberikan hasil negatif dengan garam tartrat tetapi
membentuk warna biru bila terdapat asam bebas (merah kongo akan
memberikan hasil positif juga bila terdapat asam salisilat.)

Garam sitrat
Heroin sitrat tidak larut dalam metilen klotida atau kloroform tetapi larut
dalam metanol. Perak nitrat akan Perak nitrat akan membentuk endapan
putih ketika dicampur dengan larutan air bercampur asam sitrat bebas
atau garam sitrat. Endapan larut dalam asam nitrit. Asetik anhidrida dapat
digunakan untuk pemeriksaan sitrat dan asam sitrat bebas. Pemeriksaan
melibatkan penambahan 0,5 mL asetik anhidrida pada sedikit sampel
dalam tabung tes dan memanaskan tabung pada 80O C selama 10 menit.
Warna ungu akan terjadi bila terdapat garam sitrat dan asam sitrat bebas
bersama amin tertier, misalnya heroin.

4. Analysis Melting Point/titik lebur

Analisis ini digunakan untuk raw material dalam bentuk serbuk, tablet
maupun kristal yang telah dihomogenisasikan terlebih dahulu. Tes ini
dapat membantu mengarahkan jenis sampel tersebut. Berikut merupakan
data hasil melting poin beberapa senyawa yang tergolong narkotika dan
psikotropika.

81
Tabel IV.6
Titik Lebur (Melting Point)
Senyawa Yang Tergolong Narkotika Dan Psikotropika

Melting Point
No Nama Senyawa Rumus molekul Jenis
(OC)
Narkotika
1. Heroin C21H23NO5 Basa 170
Hidroklorida 229-233
2. Morfin C17H19NO3 Basa 254
Hidroklorida 200
Sulfat 250
3. Codein C18H21NO3 Basa 154-158
Hidroklorida 280
Sulfat 278
4. Cocain C17H21NO4 Hidroklorida 195
Psikotropika
1. Amfetamin C9H13N Basa 203-204 (d),
200-203 (d,l)
Sulfat Sulfat 300 (d), 280-
281 (d,l)
Fosfat 300 (d), 300
(d,l)
2. Metamfetamin C10H15N Basa 208-210 (d),
210 (l), 209-
210 (d,l)
Hidroklorida 170-175 (d),
170-171 (l),
131-135 (d,l)
3. MDMA C11H15NO2 Hidroklorida 147-148
(3,4-metilendioksi
metamfetamin)
4. MDA (3,4- C10H13NO2 Hidroklorida 183-185
metilendioksi
amfetamin)
5. MMDA (3-metoksi- Hidroklorida 190-191
4,5-metilendioksi
amfetamin
6. Diazepam C16H13C1N2O Basa 131-135
7. Alprazolam C17H13C1N4 Basa 228-228,5
8. Bromazepam C14H109BrN3O Basa 237-238,5
9. Flunitrazepam C16H12FN3O3 Basa 166-167
10. Flurazepam C21H23C1FN3O Basa 77-82
Dihidroklorida 212
11. Nimetazepam C16H13N3O3 Basa 156,5-157,5
12 Nitrazepam C15H11N3O3 Basa 224-226
13. Oksazepam C15H11C1N2O2 Basa 204-206
14. Allobarbital C10H12N2O3 Basa 171-173
15. Pentobarbital C11H18N2O3 Basa 127-133
16. Fenobarbital C12H12N2O3 Basa 174-178
17. Sekobarbital C12H18N2O3 Basa 100

82
*sumber: Recommended Methods for Testing Manual for Use By National
Narcotics Laboratories, United Nations 1989

5. Pemeriksaan fraksi-fraksi dengan metode pemeriksaan KLT

a. Prinsip
Residu hasil ekstraksi dielusi dengan eluen tertentu sehingga
terbentuk noda (spot) dengan warna khas yang akan dibandingkan
Rfnya berdasarkan perbandingan Rf spesimen terhadap Rf Standar.

b. Peralatan
1) Alat KLT
a) Plat KLT (20 x 20 cm, 10 x 10 cm, 10 x 5 cm)
b) Bejana Kromatografi
c) Pipa Kapiler, pipet mikro
d) Botol semprot sprayer
2) Oven
3) Lampu UV
4) pH meter
5) Sentrifus

c. Reagen
1) Eluen : dipilih salah satu dari berbagai campuran sistem eluen.
2) Larutan penampak noda : dipilih sesuai dengan hasil ekstrak dari
spesimennya.
Hasil ekstrak basa (spesimen darah/serum plasma) menggunakan
salah satu reagen di bawah ini :
a) Mandelin’s Reagen
Larutan 0,59 g amonium vanadat dalam 1,5 mL akuades dan
encerkan sampai 100 mL dengan H2SO4. Saring larutan dengan
glass wool
b) Larutan asam iodoplatinat
Larutkan 0,25 g reagen platina klorida dan 5 g kalium iodida
dalam 100 mL akuades, tambahkan 2 mL asam klorida. Campur
baik-baik.
Hasil ekstrak asam dan netral (spesimen urin/cairan lambung)
menggunakan salah satu reagen di bawah ini:
a) Merkuro nitrat
Ke dalam larutan merkuro nitrat tambah natrium bikarbonat
sampai busa berhenti dan endapan berwarna kuning.
Endapan akan berubah warna menjadi warna biscuitvii). Reagen
disiapkan harus dalam keadaan segar, kocok sebelum
digunakan dan simpan tidak boleh lebih dari 1 jam.
b) Merkuri klorida-diphenilkarbason
3) Larutan standar : pilih sesuai dengan obat yang akan dideteksi.

83
d. Cara kerja
1) Ekstrak basa
a) Ekstrak dari fraksi B, C, D larutkan masing-masing pada 100 µL
CHCl3. Buat larutan standar dari zat yang diduga. Kemudian
ambil 10 µL larutan standar dan 25 µL larutan spesimen,
totolkan dengan jarak 2 cm pada plat dengan menggunakan
pipet kapiler (dalam satu plat dapat ditotolkan beberapa
spesimen dan beberapa standar).
b) Plat setelah ditotolkan elusi dalam bejana menggunakan elusi
sistem A, B atau C.
- Sistem A : - Metanol 100
- Amonia pekat 1,5
- Sistem B : - Sikloheksan 75
- Toluen 15
- Dietilamin 10
- Sistem C : - kloroform 90
- Metanol 10
c) Keluarkan plat dari bejana elusi, kemudian plat dikeringkan
sebelum disemprot dengan larutan penampak noda
d) Plat dapat dikeringkan pada suhu kamar atau pada oven
dengan suhu 120° C selama 10 menit atau menggunakan udara
panas dari blower.
e) Plat disemprot dengan penampak noda yang sesuai dengan
table IV.7
f) Plat dikeringkan pada udara terbuka
2) Ekstrak asam dan netral
a) Ekstrak dari fraksi A, B, C larutkan masing-masing pada 100 µL
CHCl3. Buat larutan standar dari zat yang diduga. Kemudian
ambil 10 µL larutan standar dan 25 µL larutan spesimen,
totolkan dengan jarak 2 cm pada plat dengan menggunakan
pipet kapiler (dalam satu plat dapat ditotolkan beberapa
spesimen dan beberapa standar)
b) Plate setelah ditotolkan dielusi dalam bejana elusi
menggunakan elusi sistem D, E atau F.
- Sistem D : - Chloroform 4
- Aseton 1
- Sistem E : - Etil Asetat 85
- Metanol 10
- Amonia pekat 5
- Sistem F : Etil Asetat
c) Keluarkan plat dari bejana elusi, kemudian plat keringkan
semprot dengan larutan penampak noda.
d) Plat dapat dikeringkan pada suhu kamar/atau pada oven
dengan suhu 120° C selama 10 menit atau menggunakan udara
panas dari blower

84
e) Plat disemprot dengan penampak noda yang sesuai dengan
Tabel IV.8 .
f) Plat dikeringkan pada udara terbuka

Tabel IV.7
Data Hasil KLT Untuk Hasil Ekstrak Dalam Suasana Basa

Nilai Rf dengan
Noda yang timbul dengan penampak noda
eluen
Senyawa
Reagen
Larutan
A B C Mandelin UV (350 nm)
Iodaplatinates
Visible

Marprotiline 15 17 05 hijau
Protriptyline 19 17 07 Violet Pink
Desipramine 26 20 11 Violet Biru
Dihydrocodoine 26 08 13 Biru putih
Codeine 33 06 18 Biru

Nilai Rf dengan
Noda yang timbul dengan penampak noda
eluen
Senyawa Reagen
Larutan
A B C Mandelin UV (350 nm)
Iodaplatinates
Visible
Ortyptyline 34 27 16 Violet violet Kuning (tengah
berwarna violet)
Morphine 37 00 09 Biru - -
Promazine 44 41 30 Hijau - -
Chlorpheniramine 45 33 18 Violet - -
Imipramine 48 49 23 Violet biru kekuning-
kuningan
Methadone 48 61 20 pink (dikelilingi
warna abu-abu
Procyclidine 48 63 31 Violet
Thioridazine 48 43 30 Coklat (dikelilingi biru (dikelilingi quenches biru
warna biru) warna violet) (redup)
Chlorpromazine 49 49 35 violet (dikelilingi pink
warna biru)
Promethazine 50 37 35 violet (dikelilingi pink
warna biru)
Quinine 50 02 11 Violet biru (kuat)
Amitryptiline 51 55 32 Violet violet kuning (ditengah
berwarna violet)
Clomipramine 51 54 34 Violet biru quenches
Dothiepin 51 50 42 merah (dikelilingi putih biru (redup)
warna biru)
Doxepin 51 52 37 Violet abu-abu biru
(dikelilingi
warna orange)
Pethidine 52 37 34 Violet
Dibenzepin 54 20 35 Violet biru quenches
Nicotine 54 39 35 Coklat

85
Opipramol 54 06 22 Biru kuning Hijau
Diphenhydramine 55 45 33 Violet
Orphenadrine 55 48 33 Violet kuning biru
Chlorprothixene 56 51 51 Violet pink orange
Cycclizine 57 49 41 violet (dikelilingi
warna biru)
Mianserin 58 39 58 Biru violet quenches
Butriptyline 59 61 48 Pink abu-abu hijau
Trimipramine 59 62 54 Violet biru quenches
Carbamazepine 60 04 56 kuning hijau (teang)
(dikelilingi
warna biru)
Pentazocine 61 15 12 Violet abu-abu putih
Dextropropoxyphen 68 59 55 Violet abu-abu
e
Lignozaine* 70 35 73 Biru
Buclizine 75 61 93 Merah

* Lignocaine digunakan sebagai anastesi local pada kateter, spesimen urin bias terkontaminasi.

Tabel IV.8
Data Hasil KLT Untuk Hasil Ekstrak Dalam Suasana Asam dan Netral

Nilai Rf dengan Larutan Penampak Noda


eluen Sistem
Senyawa Merkuri klorid Merkuri nitrat
D E F diphenil spray
carbazone

Primadone 08 39 26 + +
Meprobamate* 09 60 34 - -
Parasetamol 15 45 34
Phenytoin 33 36 53 + +
Salicylamide 38 46 55
Barbitone 41 31 61 + +
Phenobarbitone 47 28 65 + +
Cyclobarbitone 50 35 64 + +
Butobarbiton 50 38 65 + +

Heptabarbitone 50 30 65 + +
Amylobarbitone 52 36 65 + +
Pentabarbitone 55 45 66 + +
Quinalbarbitone 56 44 68 + +
Glutethimide+ 63 78 62 + +
Methaqualone++ 63 - - - -
Phenylbutazone 78 66 68

86
6) Pembacaan hasil

• Bandingkan warna, bentuk noda (spot) dan nilai Rf hasil ekstrak


dengan Standar.
• Apabila dengan pemeriksaan fraksi metode KLT tersebut diatas,
ternyata belum dapat dipastikan adanya jenis obat yang
dicurigai maka dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi.

87
C. Pemeriksaan Konfirmasi

Pemeriksaan konfirmasi adalah suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat


karena hasil yang dikeluarkan sudah definitif menunjukkan jenis zat narkotika
psikotropika yang terkandung di dalam sampel tersebut. Pemeriksaan
dilakukan apabila hasil pemeriksaan pendahuluan (screening test) memberi
hasil positif.

Batas Deteksi Pemeriksaan Konfirmasi

Jenis / golongan zat Jenis zat Batas deteksi (ng/mL)


Kanabis Delta-9- Asam THC 15
Kokain Benzoylecgonine 150
Opiat Kodein 300
Morfin 300
6-MAM (Heroin) 10
Dihydrokodein 300
Metadon Metadon 250
EDDP 250
Amfetamin Amfetamin 500
Metil Amfetamin 500
MDA,MDMA,MDEA 200
Benzodiazepin Oxazepam 100
7-Amino Nitrazepam 100
Temazepam 100
Nordiazepam 100
Methaqualone Methaqualone 300
Propoksifen Propoksifen 300
Nor propoksifen 300
Barbiturat Barbiturat 150
Fensiklidin Fensiklidin 25

Menurut UK Laboratory Guidelines for Legally Defensible Workplace Drug


Testing dan SAMHSA (Substance Abuse and Mental Health Services
Administration) dari Amerika Serikat.

88
1. Pemeriksaan ganja dalam cuplikan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

1) Prinsip
Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen
tertentu, sehingga terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda
discanning dengan spektrodensitometer, sehingga terbentuk
spektrum serapan sinar ultraviolet sebelum akhirnya noda pada
pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu. Rf spektrum
serapan sinar ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari
sampel dibandingkan terhadap baku pembanding.

2) Alat
a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :
- Pipet kapiler
- Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254 nm
dengan ketebalan 0,25 mm
- Tabung elusi (developing tank)
- Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Pelarut organik : toluen, petroleum eter, dietil eter, sikloheksan,
diisopropil eter, dietilamin.
b) Larutan Sampel
Tanaman ganja (Cannabis plant, Cannabis herba)
± 400 mg cuplikan yang telah diserbuk haluskan, masukkan ke
dalam Erlenmeyer bertutup, tambah 10 mLpetroleum eter atau
toluen, dan kocok selama 1 jam, kemudian saring. Bila perlu
tambahkan lagi pelarut hingga diperoleh volume 10 mL (A1)
Damar ganja (Cannabis resin)
± 100 mg damar ganja dalam mortir, gerus dengan ± 2 mL
toluen sampai terbentuk pasta. Dengan bantuan 8 mL toluen
masukkan ke dalam Erlenmeyer bertutup, kocok selama 1 jam
dan saring (A2).
Hasis (Hasis oil, Cannabis oil)
± 50 mg hasis larutkan dalam 10 mL toluen (A3).

c) Larutan Baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
- ∆9 tetrahidrokanabinol 0,5 mg/mL (B1)
- Kanabinol 0,5 mg/mL (B2)
- Kanabidiol 0,5 mg/mL (B3)

89
Alternatif lain : buat ekstrak dari tanaman ganja pembanding,
damar ganja pembanding atau hasis pembanding yang
disiapkan seperti larutan sampel.
d) Penampak noda Fast Blue B Penampak noda Fast Blue B
50 mg garam Fast Blue B kocok dalam 1 mL air, tambah 20 mL
metanol, kocok kembali sehingga semua garam larut.

4) Cara Kerja
Larutan A, B1, B2 dan B3 masing-masing ditotolkan pada pelat
secara terpisah dan dilakukan kromatografi lapis tipis dengan
kondisi sebagai berikut :
Fase diam : Silika gel GF 254
Fase gerak : 1. Toluen
2. Petroleum eter – dietil eter (80 : 20)
3. Sikloheksan–diisopropileter–dietilamin
(52 : 40 : 8)
Volume penotolan : 1. Larutan A dilakukan 2 kali penotolan
masing-masing 20 µl dan 50 µL
2. Larutan B1, B2 dan B3 masing-masing
10 µL
3. Apabila digunakan tanaman ganja
pembanding, damar ganja
pembanding atau hasis pembanding,
masing-masing totokan 20 µL
Jarak rambat : 15 cm
Penampak noda : 1. Sinar ultraviolet λ 254 nm, noda
berwarna ungu
2. Larutan garam Fast Blue B, noda
berwarna ungu kemerahan
Interpretasi Hasil :
Cuplikan mengandung ganja bila larutan A memberi harga Rf dan
warna noda yang sama dengan harga Rf dan warna noda larutan
B1, B2 dan atau B3.
Catatan :
Gunakan salah satu fasa gerak yang tercantum dalam metode,
fasa gerak yang lain gunakan sebagai konfirmasi.

b. Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi gas,
kemudian deteksi dengan detektor menghasilkan spektrum dengan

90
waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan dengan waktu
retensi baku pembanding

2) Alat
Kromatografi gas

3) Reagen
a) Pelarut toluen
b) Larutan sampel
Tanaman ganja (Cannabis plant, Cannabis herba)
± 400 mg cuplikan yang telah diserbukhaluskan, masukkan ke
dalam Erlenmeyer bertutup, tambah 10 mL petroleum eter atau
toluen, dan kocok selama 1 jam, kemudian saring. Bila perlu
tambahkan lagi pelarut hingga diperoleh volume 10 mL (A1)
Damar ganja (Cannabis resin)
± 100 mg damar ganja dalam mortir, gerus dengan ± 2 mL
toluen sampai terbentuk pasta. Dengan bantuan 8 mL toluen
masukkan ke dalam Erlenmeyer bertutup, kocok selama 1 jam
dan saring (A2).
Hasis (Hasis oil, Cannabis oil)
± 50 mg hasis larutkan dalam 10 mL toluen (A3)
c) Larutan baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
- ∧9 tetrahidrokanabinol 0,5 mg/mL (B1)
- Kanabinol 0,5 mg/mL (B2)
- Kanabidiol 0,5 mg/mL (B3)
Alternatif lain : buat ekstrak dari tanaman ganja pembanding,
damar ganja pembanding atau hasis pembanding yang
disiapkan seperti larutan sample

4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A1, A2, A3, B1, B2 dan B3 secara
terpisah ke dalam kromatografi gas dengan kondisi sebagai
berikut :
Kolom : Kaca, panjang 2 m, diameter dalam 2
mm, isi kolom 3 % OV-17 atau yang
sesuai, ukuran isi kolom 80/100, kolom
penyangga kromosorb.
Detektor : Ionisasi nyala (FID)
Suhu : Detektor 2800 C, injektor 2800 C, kolom
2400 C
Gas pembawa : Nitrogen
Laju aliran fase gerak : 40 - 60 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A, B1, B2 atau B3 masing-masing

91
1- 3 µL
Interpretasi hasil
Cuplikan mengandung ganja jika pada larutan A terdapat spektrum
dengan waktu retensi yang sama dengan waktu retensi larutan
baku (B1, B2 atau B3). Jika larutan A dicampur dengan larutan B1
atau B2 atau B3 dan diinjeksikan ke sistem kromatografi maka akan
terbentuk satu spektrum utama yang sama.

2. Pemeriksaan Heroin dalam cuplikan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

1) Prinsip :
Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen
tertentu, sehingga terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda
discanning dengan spektrodensitometer, sehingga terbentuk
spektrum serapan sinar ultraviolet sebelum akhirnya noda pada
pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu. Rf spektrum
serapan sinar ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari
sampel dibandingkan terhadap baku pembanding.

2) Alat
a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :
(1) Pipet kapiler
(2) Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254
nm dengan ketebalan 0,25 mm
(3) Tabung elusi (developing tank)
(4) Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Pelarut organik : metanol, amoniak, benzen, dioksan, asam
asetat.
b) Larutan Sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku
Buat larutan baku pembanding heroin dalam metanol dengan
konsentrasi 1 mg/mL (B)
d) Penampak noda iodoplatinat asam
0,25 g platina klorida dan 5 g kalium iodida larutkan dalam 100
mL air, kemudian tambah 5 mL asam klorida.
e) Penampak noda Dragendorff

92
(1) 2 g bismuth subnitrat campur dengan 25 mL asam asetat
dan 100 mL air.
(2) 40 g kalium iodida larutkan dalam 100 mL air.
10 mL larutan (1) dan 10 mL larutan (2) campur dengan 20 mL
asam asetat glasial dan 100 mL air.

4) Cara Kerja
Larutan A dan B masing-masing ditotolkan secara terpisah pada
pelat dan dilakukan kromatografi lapis tipis dengan kondisi sebagai
berikut :
Fase diam : Silika gel GF 254
Fase gerak : 1. Metanol : amoniak (100 : 1,5)
2. Amoniak – benzen – dioksan (50 : 40 : 5)
3. Asam asetat – metanol – air (30 : 60 : 10)
Volume penotolan : Larutan A dan B masing-masing 20 µL
Jarak rambat : 15 cm
Penampak noda : 1. Sinar ultraviolet λ 254 nm, noda berwarna
ungu
2. Larutan iodoplatinat asam, noda
berwarna ungu
3. Larutan Dragendorff, noda berwarna
jingga.
Konfirmasi :
Sebelum pelat disemprot dengan penampak noda, lakukan
pengukuran spektrum serapan ultra violet terhadap noda sampel
yang mempunyai harga Rf atau tinggi noda yang sama dengan
salah satu noda baku menggunakan alat spektrodensitometer.
Interpretasi Hasil :
Cuplikan mengandung heroin bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku heroin (B).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel sesuai dengan
spektrum serapan ultraviolet noda baku heroin serta panjang
gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku berimpit.
Catatan :
- Gunakan salah satu fasa gerak yang tercantum dalam metode,
fasa gerak yang lain gunakan sebagai konfirmasi.
- Sebagai penampak noda gunakan sinar ultra violet λ 254 nm
dan salah satu penyemprot, penyemprot yang lain dapat gunakan
untuk mempertegas hasil yang diperoleh.

93
b. Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi gas,
kemudian deteksi dengan detektor menghasilkan spektrum dengan
waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan dengan waktu
retensi baku pembanding

2) Alat
Kromatografi gas

3) Reagen
a) Metanol
b) Larutan sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku Larutan Baku
Baku pembanding heroin larutkan dalam metanol hingga
diperoleh kadar 1 mg/mL (B)

4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A dan B secara terpisah ke
dalam kromatografi gas dengan kondisi sebagai berikut :
Kolom : Kaca, panjang 2 m, diameter dalam
2 mm, isi kolom 5 % OV-1 atau yang
sesuai, ukuran isi kolom 80/100, kolom
penyangga kromosorb.
Detektor : Ionisasi nyala (FID)
Suhu : Detektor 2750 C, injektor 2750 C, kolom
2100 C
Gas pembawa : Nitrogen
Laju aliran fase gerak : 40 - 60 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A dan B masing-masing 1 µL

Interpretasi hasil
Cuplikan mengandung heroin bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku heroinin (B).
Jika larutan A dan B dicampur dan diinjeksikan ke sistem
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang
sama.

94
c. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT))

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi cair
kinerja tinggi, kemudian dideteksi dengan detektor menghasilkan
spektrum dengan waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan
dengan waktu retensi baku pembanding.

2) Alat
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

3) Reagen
a) Metanol
b) Ammonium asetat 0,045 M
c) Larutan sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)
d) Larutan Baku Larutan Baku
Baku pembanding heroin larutkan dalam metanol hingga
diperoleh kadar 1 mg/mL (B)

4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A dan B secara terpisah ke
dalam HPLC dengan kondisi sebagai berikut :
Kolom : C-18
Fasa gerak : Asetonitril – air – trietilamin
(60 : 40 : 0,1)
Detektor : Ultra violet λ 254 nm
Laju aliran fase gerak : 1,0 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A dan B masing-masing 20 µL
Interpretasi Hasil
Cuplikan mengandung heroin bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku heroin (B).
Jika larutan A dan B dicampur dan diinjeksikan ke sistem
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang sama

95
3. Pemeriksaan Kokain dalam cuplikan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

1) Prinsip
Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen
tertentu, sehingga terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda
discanning dengan spektrodensitometer, sehingga terbentuk
spektrum serapan sinar ultraviolet sebelum akhirnya noda pada
pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu. Rf spektrum
serapan sinar ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari
sampel dibandingkan terhadap baku pembanding.

2) Alat
a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :
(1) Pipet kapiler
(2) Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254
nm dengan ketebalan 0,25 mm
(3) Tabung elusi (developing tank)
(4) Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Pelarut organik : metanol, kloroform, aseton, sikoloheksan,
toluen, dietiamin.
b) Larutan Sampel
Satu dosis sampel (atau lebih kurang 50 mg cuplikan) larutkan
dalam 10 mL metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku
Buat larutan baku pembanding kokain hidroklorida dalam
metanol dengan konsentrasi 1 mg/mL (B).
d) Penampak noda iodoplatinat asam
0,25 g platina klorida dan 5 g kalium iodida larutkan dalam 100
mL air, kemudian tambah 5 mL asam klorida.
e) Penampak noda Dragendorff
(1) 2 g bismuth subnitrat campur dengan 25 mL asam asetat
dan 100 mL air.
(2) 40 g kalium iodida larutkan dalam 100 mL air.
10 mL larutan (1) dan 10 mL larutan (2) campur dengan 20
mL asam asetat glasial dan 100 mL air.

4) Cara Kerja
Larutan A dan B masing-masing ditotolkan pada pelat secara
terpisah dan dilakukan kromatografi lapis tipis dengan kondisi
sebagai berikut :

96
Fase diam : Silika gel GF 254
Fase gerak : 1. Metanol - amoniak (100 : 1,5)
2. Etil asetat - metanol – amoniak
(85 : 10 : 5)
3. Kloroform - metanol (9 : 1)
Volume penotolan : Larutan A dan B masing-masing 20 uL.
Jarak rambat : 15 cm
Penampak noda : 1. Sinar ultraviolet λ 254 nm, noda
berwarna ungu.
2. Larutan iodoplatinat asam, noda
berwarna ungu
3. Larutan Dragendorff, noda berwarna
jingga.
Konfirmasi :
Sebelum pelat disemprot dengan penampak noda, dilakukan
pengukuran spektrum serapan ultra violet terhadap noda sampel
yang mempunyai harga Rf atau tinggi noda yang sama dengan
salah satu noda baku menggunakan alat spektrodensitometer.
Interpretasi Hasil :
Cuplikan mengandung kokain bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku kokain (B1).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel sesuai dengan
spektrum serapan ultraviolet noda baku kokain serta panjang
gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku berimpit.
Catatan :
- Gunakan salah satu fasa gerak yang tercantum dalam metode,
fasa gerak yang lain gunakan sebagai konfirmasi.
- Sebagai penampak noda gunakan sinar ultra violet λ 254 nm dan
salah satu penyemprot, penyemprot yang lain dapat gunakan
untuk mempertegas hasil yang diperoleh. Kokain Hidroklorida
dalam cuplikan

b. Kromatografi Gas

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi gas,
kemudian deteksi dengan detektor menghasilkan spektrum dengan
waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan dengan waktu
retensi baku pembanding

2) Alat
Kromatografi gas

97
3) Reagen
a) Metanol
b) Larutan sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku
Baku pembanding kokain larutkan dalam metanol hingga
diperoleh kadar ± 1 mg/mL (B)

4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A dan B secara terpisah ke
dalam kromatografi gas dengan kondisi sebagai berikut :
Kolom : Kaca, panjang 2 m, diameter dalam 2
mm, isi kolom 5 % OV-1 atau yang
sesuai, ukuran isi kolom 80/100, kolom
penyangga kromosorb.
Detektor : Ionisasi nyala (FID)
Suhu : Detektor 2750 C, injektor 2750 C, kolom
2100 C
Gas pembawa : Nitrogen
Laju aliran fase gerak : 40 - 60 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A dan B masing-masing 1 µL
Interpretasi hasil
Cuplikan mengandung kokain bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku kokain (B).
Jika larutan A dan B dicampur dan diinjeksikan ke sistem
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang sama

c. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi cair
kinerja tinggi, kemudian dideteksi dengan detektor menghasilkan
spektrum dengan waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan
dengan waktu retensi baku pembanding.

2) Alat
Kromatografi cair kinerja tinggi

3) Reagen
a) Metanol
b) Ammonium Asetat 0,045 M
c) Larutan sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)

98
d) Larutan Baku Larutan Baku
Baku pembanding kokain larutkan dalam metanol hingga
diperoleh kadar ± 1 mg/mL (B)

4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A dan B secara terpisah ke
dalam kromatografi cair kinerja tinggi dengan kondisi sebagai
berikut :
Kolom : C-18
Fasa gerak : Ammonium Asetat 0,045 M –
metanol - asetonitril (80 : 10 : 10)
Detektor : Ultra violet λ 254 nm
Laju aliran fase gerak : 1,0 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A dan B masing-masing 20
µL
Interpretasi Hasil
Cuplikan mengandung kokain bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku kokain (B).
Jika larutan A dan B dicampur dan diinjeksikan ke sistem
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang sama

99
4. Amfetamin, Metamfetamin dan MDMA dalam cuplikan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


1) Prinsip
Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen
tertentu, sehingga terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda
discanning dengan spektrodensitometer, sehingga terbentuk
spektrum serapan sinar ultraviolet sebelum akhirnya noda pada
pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu. Rf spektrum
serapan sinar ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari
sampel dibandingkan terhadap baku pembanding
2) Alat
a) . Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari
- Pipet kapiler
- Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254 nm
dengan ketebalan 0,25 mm
- Tabung elusi (developing tank)
- Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Pelarut organik : metanol, etil asetat, amoniak
b) Penampak noda ninhidrin
0,5 g ninhidrin ditambahkan pada 10 mL asam klorida dan
diencerkan hingga 100 mL dengan aseton0,5 g ninhidrin
ditambahkan pada 10 mL asam klorida dan diencerkan hingga
100 mL dengan aseton
c) Penampak noda Fast Black K
- Larutan Fast Black K
1 g garam Fast Black K larutkan dalam 100 mL
- Larutan Natrium hidroksida 1 N
4 g NaOH larutkan dalam 100 mL air
d) Larutan sampel Larutan sampel
Satu dosis sampel (atau 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A).
e) Larutan baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
- Amfetamin 5 mg/mL (B1)
- Metamfetamin 5 mg/mL (B2)
- 3,4-Metilendioksimetamfetamin (MDMA) 5 mg/mL (B3)

100
4) Cara Kerja
Larutan A, B1, B2 dan B3 masing-masing ditotolkan pada pelat
secara terpisah dan dilakukan kromatografi lapis tipis dengan
kondisi sebagai berikut :
Fase diam : Silika gel GF 254
Fase gerak : 1. Metanol - amoniak (100 : 1,5)
2. Etil asetat - metanol - amoniak
(85 :10 : 5)
Volume penotolan : Larutan A dan B masing-masing 20 µL.
Jarak rambat : 15 cm
Penampak noda : 1. Sinar ultraviolet λ 254 nm, noda
berwarna ungu,
2. Penampak noda ninhidrin
- Angkat lempeng, diamkan sampai
kering
- Semprot dengan larutan penampak
noda
- Panaskan lempeng pada suhu 1200 C
selama 15 menit
Noda berwarna ungu
3. Penampak noda Fast Black K
- Angkat lempeng, diamkan sampai
kering
- Semprot dengan larutan Fast Black K
- Semprot dengan larutan Natrium
hidroksida 1 N
- Semprot dengan larutan Fast Black K
Noda berwarna ungu (amfetamin,
metamfetamin)
Noda berwarna jingga (MDMA)
Konfirmasi :
Sebelum pelat disemprot dengan penampak noda, dilakukan
pengukuran spektrum serapan ultra violet terhadap noda sampel
yang mempunyai harga Rf atau tinggi noda yang sama dengan
salah satu noda baku menggunakan alat spektrodensitometer.
Interpretasi Hasil :
Cuplikan mengandung amfetamin bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku amfetamin (B1).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku amfetamin serta

101
panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku
berimpit.
Cuplikan mengandung metamfetamin bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku metamfetamin (B2).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku metamfetamin
serta panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan
baku berimpit.
Cuplikan mengandung MDMA bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku MDMA (B3).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku MDMA serta
panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku
berimpit.
Catatan :
1) Gunakan salah satu fasa gerak yang tercantum dalam metode,
fasa gerak yang lain gunakan sebagai konfirmasi.
2) Sebagai penampak noda gunakan sinar ultra violet λ 254 nm
dan salah satu penyemprot, penyemprot yang lain dapat
gunakan untuk mempertegas hasil yang diperoleh

b. Kromatografi Gas

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi gas,
kemudian deteksi dengan detektor menghasilkan spektrum dengan
waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan dengan waktu
retensi baku pembanding

2) Alat
Kromatografi gas

3) Reagen
a) Metanol
b) Larutan sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
- Amfetamin 1 mg/mL (B1)
- Metamfetamin 1 mg/mL (B2)
- MDMA 1 mg/mL (B3)

102
4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A, B1, B2 dan B3 secara terpisah
ke dalam kromatografi gas dengan kondisi sebagai berikut :
Kolom : Kaca, panjang 2 m, diameter dalam
2 mm, isi kolom 5 % OV-1, ukuran isi
kolom 80-100, kolom penyangga
kromosorb.
Detektor : Ionisasi nyala (FID)
Suhu : Detektor 2550 C, injektor 2550 C, kolom
1800 C
Gas pembawa : Nitrogen
Laju aliran fase gerak : 40-60 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A, B1, B2 dan B3 masing-
masing 2 µL
Interpretasi Hasil :
- Cuplikan mengandung amfetamin bila larutan A memberikan
waktu retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku
amfetamin (B1). Jika larutan A dan B1 dicampur dan diinjeksikan
ke sistem kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama
yang sama.
- Cuplikan mengandung metamfetamin bila larutan A memberikan
waktu retensi yang sama dengan waktu retensi larutam baku
metamfetamin (B2). Jika larutan A dan B2 dicampur dan
diinjeksikan ke sistem kromatografi maka akan terbentuk satu
spektrum utama yang sama.
- Cuplikan mengandung MDMA bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutam baku MDMA
(B3). Jika larutan A dan B3 dicampur dan diinjeksikan ke sistem
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang
sama.

103
c. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi cair
kinerja tinggi, kemudian dideteksi dengan detektor menghasilkan
spektrum dengan waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan
dengan waktu retensi baku pembanding.

2) Alat
Kromatografi cair kinerja tinggi

3) Reagen
a) Pelarut metanol
b) Larutan Sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
- Amfetamin 1 mg/mL (B1)
- Metamfetamin 1 mg/mL (B2)
- MDMA 1 mg/mL (B3)

4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A, B1, B2 dan B3 secara terpisah
ke dalam kromatografi cair kinerja tinggi dengan kondisi sebagai
berikut :
Kolom : C-18
Fasa gerak : Asetonitril - amonium asetat 1 % -
dietilamin 2,5 % (40 : 45 : 15)
Detektor : Ultra violet λ 254 nm
Laju aliran fase gerak : 1,0 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A, B1, B2 dan B3 masing-
masing 20 µL
Interpretasi Hasil
- Cuplikan mengandung amfetamin bila larutan A memberikan
waktu retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku
amfetamin (B1). Jika larutan A dan B1 dicampur dan diinjeksikan
ke sistem kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama
yang sama.
- Cuplikan mengandung metamfetamin bila larutan A memberikan
waktu retensi yang sama dengan waktu retensi larutam baku
metamfetamin (B2). Jika larutan A dan B2 dicampur dan

104
diinjeksikan ke sistem kromatografi maka akan terbentuk satu
spektrum utama yang sama.
- Cuplikan mengandung MDMA bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutam baku MDMA
(B3). Jika larutan A dan B3 dicampur dan diinjeksikan ke sistem
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang
sama.

5. Barbital dan Fenobarbital dalam cuplikan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

1) Prinsip
Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen
tertentu, sehingga terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda
discanning dengan spektrodensitometer, sehingga terbentuk
spektrum serapan sinar ultraviolet sebelum akhirnya noda pada
pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu. Rf spektrum
serapan sinar ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari
sampel dibandingkan terhadap baku pembanding.

2) Alat
a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :
(1) Pipet kapiler
a. Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254
nm dengan ketebalan 0,25 mm
b. Tabung elusi (developing tank)
(4) Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Pelarut organik : metanol, etil asetat, amoniak, kloroform, aseton,
isopropanol, uap amoniak.
b) Larutan Sampel
Satu dosis sampel (atau lebih kurang 50 mg cuplikan) larutkan
dalam 10 mL metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
(1) Barbital 1 mg/mL (B1)
(2) Fenobarbital 1 mg/mL (B2)

105
4) Cara Kerja
Totolkan masing-masing larutan A, B1, dan B2 pada pelat secara
terpisah dan lakukan kromatografi lapis tipis dengan kondisi
sebagai berikut :
Fase diam : Silika gel GF 254
Fase gerak : 1. Etil asetat - metanol - amoniak
(85 : 10 : 5)
2. Kloroform - aseton (80 : 20)
3. Kloroform - isopropanol - amonium
hidroklorida (50 : 50 : 10)
Volume penotolan : Larutan A, B1 dan B2 masing-masing
20 µL.
Jarak rambat : 15 cm
Penampak noda : Sinar ultraviolet λ 254 nm, noda berwarna
ungu, kemudian lempeng diuapi dengan
uap amonia dan diamati lagi dibawah Sinar
ultraviolet λ 254 nm.
Konfirmasi :
Sebelum pelat disemprot dengan penampak noda, dilakukan
pengukuran spektrum serapan ultra violet terhadap noda sampel
yang mempunyai harga Rf atau tinggi noda yang sama dengan
salah satu noda baku menggunakan alat spektrodensitometer.
Interpretasi Hasil :
Cuplikan mengandung barbital bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku barbital (B1).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku barbital serta
panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku
berimpit.
Cuplikan mengandung fenobarbital bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku fenobarbital (B2).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku fenobarbital serta
panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku
berimpit.
Catatan :
b) Gunakan salah satu fasa gerak yang tercantum dalam metode,
fasa gerak yang lain gunakan sebagai konfirmasi.

106
c) Sebagai penampak noda gunakan sinar ultra violet 254 nm dan
salah satu penyemprot, penyemprot yang lain dapat gunakan
untuk mempertegas hasil yang diperoleh

b. Kromatografi Gas

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi gas,
kemudian deteksi dengan detektor menghasilkan spektrum dengan
waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan dengan waktu
retensi baku pembanding

2) Alat
Kromatografi gas

3) Reagen
a) Metanol
b) Larutan sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku Larutan Baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
(1) Barbital 1 mg/mL (B1)
(2) Fenobarbital 1 mg/mL (B2)

4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A, B1 dan B2 secara terpisah ke
dalam kromatografi gas dengan kondisi sebagai berikut :
Kolom : Kaca, panjang 2 m, diameter dalam
2 mm, isi kolom 3 % OV-17, ukuran isi
kolom 80/100, kolom penyangga
kromosorb.
Detektor : Ionisasi nyala (FID)
Suhu : Detektor 2750 C, injektor 2750 C, kolom
2000 C
Gas pembawa : Nitrogen
Laju aliran fase gerak : 40-60 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A, B1 dan B2 masing-masing
2 -3 µL
Interpretasi hasil
- Cuplikan mengandung barbital bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku barbital
(B1). Jika larutan A dan B1 dicampur dan diinjeksikan ke sistem

107
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang
sama.
- Cuplikan mengandung fenobarbital bila larutan A memberikan
waktu retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku
fenobarbital (B2). Jika larutan A dan B2 dicampur dan diinjeksikan
ke sistem kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama
yang sama.

c. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

1) Prinsip
Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi cair
kinerja tinggi, kemudian dideteksi dengan detektor menghasilkan
spektrum dengan waktu retensi tertentu yang dapat dibandingkan
dengan waktu retensi baku pembanding.

2) Alat
Kromatografi cair kinerja tinggi

3) Reagen
a) Pelarut metanol
b) Larutan NaH2PO4 0,1 M
11,998 g natrium dihidrogen fosfat larutkan dalam 1 liter air
c) Larutan Sampel
Satu dosis sampel (± 50 mg cuplikan) larutkan dalam 10 mL
metanol, bila perlu saring (A)
d) Larutan Baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
- Barbital 1 mg/mL (B1)
- Fenobarbital 1 mg/mL (B2)

4) Cara Kerja
Suntikkan masing-masing larutan A, B1 dan B2 secara terpisah ke
dalam kromatografi cair kinerja tinggi dengan kondisi sebagai
berikut :
Kolom : C-18
Fasa gerak : Larutan NaH2PO4 0,1 M - metanol
(60 : 40)
Detektor : Ultra violet λ 254 nm
Laju aliran fase gerak : 1,0 mL/menit
Volume penyuntikkan : Larutan A, B1 dan B2 masing-masing
20 µL

108
Interpretasi Hasil
- Cuplikan mengandung barbital bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku barbital
(B1). Jika larutan A dan B1 dicampur dan diinjeksikan ke sistem
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang
sama.
- Cuplikan mengandung barbital bila larutan A memberikan waktu
retensi yang sama dengan waktu retensi larutan baku fenobarbital
(B2). Jika larutan A dan B2 dicampur dan diinjeksikan ke sistem
kromatografi maka akan terbentuk satu spektrum utama yang
sama.

6. Turunan Benzodiazepin dalam Cuplikan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

1) Prinsip
Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen
tertentu, sehingga terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda
discanning dengan spektrodensitometer, sehingga terbentuk
spektrum serapan sinar ultraviolet sebelum akhirnya noda pada
pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu. Rf spektrum
serapan sinar ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari
sampel dibandingkan terhadap baku pembanding.

2) Alat
a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :
(1) Pipet kapiler
(2) Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254 nm
dengan ketebalan 0,25 mm
(3) Tabung elusi (developing tank)
(4) Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Pelarut organik : metanol, kloroform, aseton, sikoloheksan,
toluen, dietiamin.
b) Larutan Sampel
Satu dosis sampel (atau lebih kurang 50 mg cuplikan) larutkan
dalam 10 mL metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
- Diazepam 1 mg/mL (B1)
- Flunitrazepam 1 mg/mL (B2)

109
- Nitrazepam 1 mg/mL (B3)
- Bromazepam 1 mg/mL (B4)
d) Larutan asam sulfat 2 N
5,5 mL asam sulfat pekat encerkan dengan air hingga 100 mL
e) Penampak noda Dragendorff
(0) 2 g bismuth subnitrat campur dengan 25 mL asam asetat
dan 100 mL air.
(1) 40 g kalium iodida larutkan dalam 100 mL air.
10 mL larutan (0) dan 10 mL larutan (1) campur dengan 20 mL
asam asetat glasial dan 100 mL air.

4) Cara Kerja
Larutan A, B1, B2, B3 dan B4 masing-masing ditotolkan pada pelat
secara terpisah dan dilakukan kromatografi lapis tipis dengan
kondisi sebagai berikut :
Fase diam : Silika gel GF 254
Fase gerak : 1. Kloroform-metanol (90 : 10)
2. Kloroform-aseton (80 : 20)
3. Sikloheksan-toluen-dietilamin
(75 : 15 : 10)
Volume penotolan : Larutan A, B1, B2, B3 dan B4 masing-
masing 20 µl.
Jarak rambat : 15 cm
Penampak noda : 1. Sinar ultraviolet λ 254 nm, noda
berwarna ungu.
2. Larutan asam sulfat 2 N, panaskan
lempeng pada suhu 800 C salama
5 menit, kemudian amati di bawah
sinar ultraviolet λ 366 nm, noda
berfluoresensi biru.
3. Larutan Dragendorff, noda berwarna
jingga.
Konfirmasi :
Sebelum pelat disemprot dengan penampak noda, dilakukan
pengukuran spektrum serapan ultra violet terhadap noda sampel
yang mempunyai harga Rf atau tinggi noda yang sama dengan
salah satu noda baku menggunakan alat spektrodensitometer.
Interpretasi Hasil :
Cuplikan mengandung diazepam bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku diazepam (B1).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel sesuai dengan
spektrum serapan ultraviolet noda baku diazepam serta panjang
gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku berimpit.

110
Cuplikan mengandung flunitrazepam bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku flunitrazepam (B2).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku flunitrazepam
serta panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan
baku berimpit.
Cuplikan mengandung nitrazepam bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku nitrazepam (B3).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku nitrazepam serta
panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku
berimpit.
Cuplikan mengandung bromazepam bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku bromazepam (B4).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku bromazepam
serta panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan
baku berimpit.
Catatan :
1. Gunakan salah satu fasa gerak yang tercantum dalam metode,
fasa gerak yang lain gunakan sebagai konfirmasi.
2. Sebagai penampak noda gunakan sinar ultra violet λ 254 nm
dan salah satu penyemprot, penyemprot yang lain dapat
gunakan untuk mempertegas hasil yang diperoleh

7. Narkotika yang digunakan dalam pengobatan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

1) Prinsip
Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen
tertentu, sehingga terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda
discanning dengan spektrodensitometer, sehingga terbentuk
spektrum serapan sinar ultraviolet sebelum akhirnya noda pada
pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu. Rf spektrum
serapan sinar ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari
sampel dibandingkan terhadap baku pembanding.

2) Alat
a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :
(1) Pipet kapiler

111
(2) Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254
nm dengan ketebalan 0,25 mm
(3) Tabung elusi (developing tank)
(4) Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Pelarut organik : metanol, amoniak, etil asetat, kloroform,
dietiamin, sikloheksan.
b) Larutan Sampel
Satu dosis sampel (atau lebih kurang 50 mg cuplikan) larutkan
dalam 10 mL metanol, bila perlu saring (A)
c) Larutan Baku
Buat masing-masing larutan baku pembanding dalam metanol
sebagai berikut :
- Morfin 1 mg/mL (B1)
- Kodein 1 mg/mL (B2)
- Petidin 1 mg/mL (B3)
d) Larutan kalium iodoplatinat asam
0,25 g platina klorida dan 5 g kalium iodida larutkan dalam
100 mL air, kemudian tambah 5 mL asam klorida
f) Penampak noda Dragendorff
(1) 2 g bismuth subnitrat campur dengan 25 mL asam asetat
dan 100 mL air.
(2) 40 g kalium iodida larutkan dalam 100 mL air.
10 mL larutan (1) dan 10 mL larutan (2) campur dengan 20 mL
asam asetat glasial dan 100 mL air.

4) Cara Kerja
Larutan A, B1, B2 dan B3 masing-masing ditotolkan pada pelat
secara terpisah dan dilakukan kromatografi lapis tipis dengan
kondisi sebagai berikut :
Fase diam : Silika gel GF 254
Fase gerak : 1. Etilasetat : Metanol : Amoniak
(85 : 10 : 5)
2. Kloroform : Metanol (90 : 10)
3. Sikloheksan : Kloroform : Dietilamin
(50 : 40 : 10)
4. Dua dimensi:
a. Etilasetat - Metanol – Amoniak
(85 : 10 : 5)
b. Sikloheksan : Kloroform :
Dietilamin (50 : 40 : 10)
Volume penotolan : Larutan A, B1, B2, dan B3 masing-masing
20 µL

112
Jarak rambat : 15 cm
Penampak noda : 1. Sinar ultraviolet λ 254 nm, noda
berwarna ungu
2. Larutan iodoplatinat asam, noda
berwarna ungu (morfin, kodein), coklat
tua (petidin)
3. Larutan Dragendorff, noda berwarna
jingga.
Konfirmasi
Sebelum pelat disemprot dengan penampak noda, dilakukan
pengukuran spektrum serapan ultra violet terhadap noda sampel
yang mempunyai harga Rf atau tinggi noda yang sama dengan
salah satu noda baku menggunakan alat spektrodensitometer.
Interpretasi Hasil
Cuplikan mengandung morfin bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku morfin (B1).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel sesuai dengan
spektrum serapan ultraviolet noda baku morfin serta panjang
gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku berimpit.
Cuplikan mengandung kodein bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku kodein (B2).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku kodein serta
panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku
berimpit.
Cuplikan mengandung petidin bila :
- Larutan A memberi harga Rf dan warna noda yang sama dengan
harga Rf dan warna noda larutan baku petidin (B3).
- Profil spektrum serapan ultraviolet noda sampel bersesuaian
dengan spektrum serapan ultraviolet noda baku petidin serta
panjang gelombang serapan maksimum noda sampel dan baku
berimpit.
Catatan :
- Gunakan salah satu fasa gerak yang tercantum dalam metode,
fasa gerak yang lain gunakan sebagai konfirmasi.
- Sebagai penampak noda gunakan sinar ultra violet λ 254 nm dan
salah satu penyemprot, penyemprot yang lain dapat gunakan
untuk mempertegas hasil yang diperoleh.

113
8. Morfin dan derivatnya dalam spesimen manusia

a. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

1) Prinsip
Residu hasil ekstraksi yang dielusi dengan eluen tertentu kemudian
ditetapkan secara KLT sehingga terbentuk noda yang berwarna
khas.

2) Alat

a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :


(1) Pipet kapiler
(2) Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254 nm
dengan ketebalan 0,25 mm
(3) Tabung elusi (developing tank)
(4) Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Lapisan Tipis Silika gel G
b) Eluen, pilih salah satu :
A : - Toluen 45
- Aseton 45
- Etanol 7
- Amonia pekat 3
B : - Etil Asetat 85
- Metanol 10
- Amonia pekat 5
c) Larutan penampak noda, pilih salah satu :
(1) Reagen Dragendorf
Larutan A : Campur 2 g Bismuth subnitrat (bismuth
oksinitrat), 25 mL asam asetat glasial atau
pekat dan 100 mL akuades.
Larutan B : Larutkan 40 g Kl dalam 100 mL akuades.
Campur 10 mL larutan A dan 10 mL larutan B. Tambahkan
20 mL asam asetat glasial dan 100 mL akuades.
(2) Reagen Kalium Iodoplatinat yang diasamkan
Larutan 0,25 g Platinat Klorida dan 5 g Kl dalam akuades
sampai 100 mL, tambahkan 2 mL HCl pekat.
(3) Reagen Fluoresensi
(a) Buffer AMP
Tambahkan 105 mg 2–amino 2–metil 1,3 propandiol ke
dalam 18,8 HCl pekat dan encerkan dengan air sampai
1000 mL (pH = 9,3 ± 0,2)
(b) Larutan Kalium Ferri Sianida

114
Larutkan 58 mg Kalium Ferri Sianida dalam 100 mL
akuades. Simpan dalam lemari es, siapkan larutan baru
setiap 1 minggu.
d) Larutan Standar Morfin, Kodein 1 mg/mL dalam methanol dalam
bentuk garam atau basanya.

4) Cara Kerja

a) Hidrolisa
Hidrolisa dapat dilakukan dengan salah satu cara di bawah ini :
- Hidrolisa dengan asam
Dalam tabung bertutup volume 50 mL, masukkan 10 mL urin
tambahkan 1 mL HCl pekat campur hingga homogen. Buka
tutupnya, inkubasi didalam penangas air pada suhu 100° C
selama 60 menit.
Dinginkan, kemudian dilanjutkan dengan ekstraksi.
- Hidrolisa enzimatik
Spesimen urin (5-10 mL) atur pH sampai 7 dengan
penambahan asam asetat apabila bereaksi basa.
Kemudian tambahkan 0,1 mL buffer asetat (pH 5,5) dan 0,02
mL enzim b glukoronidase (75 unit/mL) per mL urin.
Inkubasi selama 24 jam pada suhu 37° C atau selama 1 jam
pada suhu 55° C. Suhu tidak boleh lebih dari 55° C untuk
mencegah denaturasi enzim. Kemudian dilanjutkan dengan
ekstraksi
Hidrolisa asam dan hidrolisa enzimatik merubah MAM menjadi
morfin melalui proses deasetilisasi.

b) Ekstraksi

Prinsip ekstraksi
Spesimen sebelum diekstraksi dihidrolisa terlebih dahulu,
kemudian diekstraksi dengan pelarut organik pada pH 8,5 – 9,
hasil ekstraksi disaring dan dikeringkan sehingga didapat residu
yang dapat dianalisa secara kualitatif dengan alat KLT dan
kuantitatif dengan alat KG.

c) Pemeriksaan Kromatografi Lapisan Tipis


- pH urin diatur pada 8,5 – 9 dengan penambahan ammonia
campur dalam vortex mixer. Ekstraksi dengan salah satu
pelarut organik yaitu, kloroform-isopropanol (9:1 v/v),
diklorometan-isopropanol (9:1 v/v), etil asetat, yang
volumenya 2 kali volume urin.
Ekstraksi dilakukan dengan pelarut organik 2 kali, tiap kali
dengan 10 mL.

115
- Biarkan lapisan air memisah sempurna dari lapisan pelarut
organik kumpulkan lapisan organik.
- Apabila terjadi emulsi, saring dengan kertas saring silikon
untuk menyaring ekstrak. Pecahkan emulsi dengan sonikator.
- Supaya ekstrak dalam keadaan bening/bersih, ekstraksi
kembali larutan organik dengan 6 mL HCl 0,5 M.
- Tampung lapisan organik, pH lapisan air diatur pada 8,5-9,
kemudian diekstraksi kembali dengan salah satu pelarut di
atas.
- Pisahkan lapisan organik, jadikan satu dengan lapisan organik
sebelumnya, saring larutan melalui sedikit Na2SO4 kering, cuci
saringan dengan 5 mL fase organik.
- Pekatkan larutan sampai 1-2 mL dan uapkan pelarut di bawah
gas nitrogen atau dengan penangas air pada suhu tidak lebih
dari 55 °C sampai kering.
Pemekatan dengan rotary evaporator atau Kuderna Danish
Konsentrator.
Untuk pemeriksaan dengan Kromatografi gas pemekatan
disarankan dengan KD Konsentrator.

- Untuk pemeriksaan KLT atau analisa KG larutkan kembali


residu dalam 0,1 mL atau methanol-kloroform (9 : 1), apabila
spesimen cepat kering, larutkan kembali dengan methanol
atau methanol-kloroform 1-2 mL.
-
5) Pembacaan Hasil

Bandingkan nilai Rf ekstrak dengan Rf standar.

Rf x 100 (Values)

Noda yang timbul dengan penampak noda

Senyawa UV Iodoplatinat Dragendorf


Morfin Fluoresensi Biru-Purple Orange dengan latar
belakang kuning

116
b. Metode Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Residu hasil ekstraksi yang dilanjutkan dengan derivatisasi
dilarutkan dengan pelarut kloroform methanol disuntikkan ke dalam
kromatografi gas dengan kondisi tertentu sehingga diketahui waktu
retensi (R), luas area dan puncak kromatogram yang dihasilkan.

2) Peralatan
a) Derivatisasi
(1) Tapered tube (tabung runcing berskala) 10 mL
(2) Labu ukur 10 mL
b) Kromatografi Gas

3) Reagen
a) Larutan standar kalibrasi
Buat larutan induk morfin, Nalorfin dengan kadar 1 mg/mL
dalam methanol.
Dari larutan induk tersebut buat larutan standar kalibrasi dalam
akuades dengan konsentrasi antara 0-10 mg/mL morfin dan 5
mg/mL Nalorfin.
Nalorfin digunakan sebagai standar internal.
b) Derivatisasi
(1) BSA (N, O-bistrimetil silil asetamin)
(2) MSTFA (N, metil N-trimetilsilil trifluro asetamid)
(3) HMDS (Heksan metil disilasan)
(4) TMCS (Trimetil Klorosilan)
(5) Piridin
(6) PFTA (Penta Fluoro Propionat Anhidrat)
(7) Etil asetat
c) Kromatografi Gas
(1) Gas nitrogen
(2) Kolom

4) Cara Kerja

a) Ekstraksi (Lihat Ekstraksi pada Metoda KLT)


Hasil ekstraksi kemudian diderivatisasi dengan cara sebagai
berikut :
Derivatisasi spesimen ada 2 pilihan
(1) Sililasi
(a) Ekstrak urin diuapkan sampai kering dengan uap
nitrogen.

117
(b) Residu yang terbentuk diderivatisasi dengan 20 mL N,O-
bistrimetil sililasetamid (BSA) dalam vial tertutup dengan
pemanasan 85° C selama 15 menit (BSA dapat diganti
dengan campuran reagen silisasi dan piridin = 1:1 v/v 0.
Campuran tersebut disuntikkan ke dalam kromatografi
gas. Jika dipakai detector NPD, reagen sililasi seperti
N-metil-N-trimetilsilil trifluoroasetamid (MSTFA) atau
campuran heksa metildisilasan (HMDS), trimetil
klorosilan (TMCS) dan piridin. Hasil derivatisasi diuapkan
sampai kering dan dilarutkan kembali ke dalam 50 µL
toluen
(c) Derivatisasi harus dipersiapkan segera sebelum
dianalisa, karena reagen derivatisasi silil tidak stabil,
1-2 µL larutan standar kalibrasi dan hasil derivatisasi
diinjeksi ke dalam injector.
(2) Asilasi
(a) Tambahkan 50 mL Penta Fluoropropionik Anhidrat
(PFPA) ke dalam hasil ekstraksi urin, panaskan
campuran tersebut selama 30 menit pada 65°C didalam
tabung tertutup.
(b) Uapkan kelebihan reagen PFPA dengan uang nitrogen.
(c) Larutkan residu dengan 50 µL Etil Asetat.
(d) Derivatisasi stabil dalam reagen selama beberapa bulan
dan setelah penguapan reagen, stabil dalam waktu 24
jam, 1-2 µL larutan standar kalibrasi dan hasil derivatisasi
diinjeksikan ke dalam injector.
b) Pemeriksaan Kromatografi Gas
Kondisinya sebagai berikut :
- Detektor : FID atau NPD
- Kolom : Packed column *) 2 m x 2-4 mm ID
- Dimetil silikon (SE 30, OV-1)
- Fenil metil silikon, 50 % Fenil (OV-17)
- Suhu : Oven 230° C
Injektor 275° C
Detektor 275° C
- Gas : Nitrogen dengan kecepatan alir 70 mL/mnt
*) Capillary Column yang sesuai (Lihat lampiran 5)

5) Pembacaan Hasil

Bandingkan rekaman hasil pemeriksaan dengan standar.

118
c. Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (KG-SM)

1). Prinsip :
Metabolit senyawa opiat dalam bentuk glukoronida di pecah/ hidrolisis
dengan enzim β-glukuronida (H. Pomatia) dengan cara inkubasi 55º C
selama 2 jam menjadi senyawa opiat bebas yang kemudian dilanjutkan
ditarik dengan cara ekstrkasi padat-cair dengan teknik SPE (solid
phase extraction) dan mengubahnya menjadi senyawa yang mudah
menguap (diderivatisasi) agar segera menjadi fasa gas pada waktu
diinjeksikan ke GC-MS dan untuk menaikkan sesitivitas atau
memperbaiki resolusi (KNNAP, 1979).

2). Alat :
a) Tabung Reaksi dengan tutup ulir 15 ml
b) Transferpet 1 – 10 ul, 20 –200 ul dan 0,5 – 5,0 ml
c) Inkubator/penangas air
d) Vortex/minishaker
e) Kolom SPE C18
f) Pipet pasteur
g) Pipet pasteur
h) Tabung tutup asah
i) Turbo Vap LV
j) Gas Nitrogen
k) Sentifuse
l) Bath incubator
m) pH meter
n) Vial GC
m) GC/MSD

3). Reagen
Semua bahan kimia harus pro-analisa
a). Larutan stok Morfin, Kodein, 6-Monoasetilmorfin (6-MAM)
masing-masing 1000 ppm dari Cerilliant, larutan Morfin,
Kodein, 6-MAM masing-masing 100 ppm dan 10 ppm
b). Larutan standar internal (ISTD) Nalorfin 1000 ppm,100 ppm
dan 10 ppm
c). Larutan bufer asetat 2 M pH 5
d). Enzim β-glukoronidase (H. Pomatia)
e). Larutan KOH 1 M
f). Resin C-18 (Sep-Pak) dari Waters
g). Larutan bufer asetat 0.1 M
h). Metanol
i). Aquabides
j). Etil asetat

119
k). Larutan penderivat BSTFA-TMCS [bis(trimetilsilil)trifluoro
asetamida-trimetilklorosilan (99 :1)]

4). Cara Kerja


a) Siapkan tabung reaksi berlabel masing-masing berisi 2 ml
blanko akuades, 2 ml blanko urin, 2 ml larutan standar
campuran dalam urine, dan 2 ml sampel urin
b) Ke dalam masing-masing tabung reaksi tambahkan berturut-
turut 100 µl larutan ISTD Nalorfin 10 ppm, 100 µl bufer asetat
2 M pH 5, 25 µl enzim β-glukoronidase (H. Pomatia)
c) Vortex sebentar, lalu inkubasi selama 2 jam pada suhu 55º C. d).
Dinginkan sebentar lalu tambahkan 80 µl KOH 1 M.
e) Siapkan kolom resin C18 , cuci dengan 2 ml Metanol dan 2 ml
aquabides
f) Lewatkan sampel ke dalam kolom dengan menggunakan pipet
pasteur.
g) Cuci kolom dengan 2 ml aquabides dan 1 ml bufer asetat 0.1
M.
h) Elusi kolom dengan etil asetat (4 x 1 ml) dan tampung cairan
dalam tabung reaksi tutup asah.
i) Uapkan sampai kering cairan etil asetat dengan aliran gas
nitrogen dalam alat turbo vap pada suhu 35º C.
j) Tambahkan 50 µl larutan BSTFA-TMCS (99:1)
h) Inkubasi kering dengan alat thermoline pada suhu 60ºC
selama 20 menit.
i) Masukkan hasil ke dalam vial lalu tutup
j) Siap diinjeksikan ke GC-MS

5). Kondisi Alat Kromatografi Gas Spektrometri Massa

Metode : Scan
Kolom : Kolom kapiler, panjang 17 meter diameter 0,25
mm; film thickness 0,11 µm
Suhu injektor : 280º C
Suhu Detektor : 300º C
Suhu Oven : T0 : 140º C, dengan kenaikan 15º C /menit
T1 : 260º C, dengan kenaikan 20º C /menit
T2 : 310º C, hold time 1 menit
Gas Pembawa : Helium
Laju Gas : 1.0 mL/menit, laju konstan
Volume Injeksi : 2 µl
Waktu Retensi : 6-MAM: 9.30 menit
Morfin: 8.98 menit
Kodein: 8.67 menit
ISTD Nalorfin: 9.63 menit
Run Time : 16 menit

120
Tabel IV.12
Ion Base Peak Dan Ion Lainnya Untuk 6MAM, Morphine, Codeine Dan
ISTD Setelah Diderivatisasi BSTFA-TMCS

Senyawa Ion base peak Ion 2 Ion 3


6-MAM-TMS 399 340 287
Morfin-TMS 429 236 178
Kodein-TMS 371 234 196
Nalorfin-TMS 455 414 -

Penafsiran hasil
Kadar opiat dalam tubuh seseorang dan dalam urin ditentukan oleh
metabolisme obat, kondisi fisik subyek, asupan cairan dan cara
masuknya obat ke dalam tubuh. Biasanya opiat dapat dideteksi dalam
urin sampai 3 hari.
Karena jalur metabolik yang sama, heroin, opium, kodein dan morfin
sendiri dapat merupakan sumber adanya morfin dan M-3-G dalam urin.
Sumber lain dapat berasal dari Etil morfin, folkodin, dan nikomorfin.
Sehingga keberadaan morfin dalam urin tidak bisa mengindikasikan
jenis opiate yang dikonsumsi. Dalam hal analisis tidak dapat
mengidentikasi sumber morfin, maka perlu dilakukan analisis
komponen induk (parent compound) atau pola metabolit utama yang
diekskresikan dalam urin misal MAM dapat mengarahkan pada heroin.
Dalam hal kodein, telah disepakati bahwa jika rasio kadar total kodein
dibandingkan dengan total morfin kurang dari 0,5 dan kadar total
morfin dalam urin lebih besar dari 200 ng/mL, kodein dapat
disingkirkan sebagai sumber morfin yang ada dalam urin.

121
9. Kokain dalam spesimen manusia

a. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

1) Prinsip
Residu hasil ekstraksi dielusi dengan eluen tertentu, kemudian
ditetapkan secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) sehingga
terbentuk noda yang berwarna khas.

2) Alat
a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :
(1) Pipet kapiler
(2) Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254 nm
dengan ketebalan 0,25 mm
(3) Tabung elusi (developing tank)
(4) Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen
a) Lapisan tipis Silica Gel G
b) Eluen, dipilih salah satu :
A : - Metanol 100 mL
- Ammonia pekat 1,5 mL
B : - Kloroform 50 mL
- Metanol 50 mL
c) Larutan Penampak Noda, dipilih salah satu :
(1) Reagen Dragendorf
Larutan A :
Campur 2 g Bismut subnitrat (Bismut Oksinitrat), 25 ml asam
asetat glacial atau pekat 100 mL air.
Larutan B :
Larutan 40 g Kl dalam 100 mL air.
Campur 10 mL larutan A dan 10 mL larutan B + 20 mL asam
asetat glacial + 100 mL akuades
(2) Reagen Kalium Iodoplatinat yang diasamkan.
Larutan 0,25 g platinat klorida dan 5 g Kl dalam akuades
sampai 100 mL tambahkan 2 mL HCl pekat.
(3) Asam sulfat pekat 1 mL ditambahkan perlahan-lahan pada
10 mL larutan ferri klorida (5 % w/v) dan campurkan.
d) Larutan Standar.
Larutan standar 1 mg/mL BE (Benzoylecgonin), kokain base
dan Ecgonin metil ester dalam methanol.

122
4) Cara Kerja

Ekstraksi

Prinsip
Kokain diekstraksi dengan pelarut organik dalam suasana basa
pada pH 8-9,5. Spesimen diatur pH sampai 9 (8-9,5) dengan buffer
yang tepat. Hasil ekstraksi diuapkan, residu siap untuk
pemeriksaan dengan alat KLT dan alat KG.
a) Membuat larutan buffer
Buffer borax (pH 9-9,6)
19,07 natrium tetraborat (Na2B4Or10H2O) dalam 1 liter air.
Buffer Ammonia (pH 9,5)
10,7 g ammonium klorida dilarutkan dalam 40 mL larutan
ammonia 5 M tambahkan akuades sampai 1 L.
b) Spesimen urin sebanyak 20 mL diatur pH-nya sampai 9
(8-9,5) dengan buffer.
c) Dengan pelarut ekstraksi diklorometan - isopropanol (85 : 5 v/v)
sebanyak 40 mL atau kloroform isopropanol (50 : 50 v/v) dua
kali, tiap kali dengan larutan ekstrasi 20 mL
Diamkan lapisan memisah, lapisan air (atas) dan lapisan
ekstrak orgnik (bawah).
Apabila terjadi emulsi gunakan kertas saring silikon.
d) Tampung ekstarak organik saring melalui kertas saring yang
berisi sedikit natrium sulfat kering
e) Saringan cuci dengan pelarut ekstraksi 5 mL, hasil ekstraksi
diuapkan sampai kering dengan pompa vakum atau uap
nitrogen.
Ekstrak siap dipakai untuk penetapan secara Kromatografi
Lapisan Tipis (KLT) dan Kromatografi Gas (KG)

Kromatografi Lapisan Tipis


- Ekstrak urin yang sudah dikeringkan dilarutkan dalam 50 µL
methanol.
- Totolkan 5-10 µL larutan satdar dan hasil ekstraksi pada plate
dengan jarak 2 cm, kemudian elusi dalam Tabung elusi dengan
salah satu larutan eluen.
- Keluarkan plate dari Tabung elusi kemudian keringkan.
- Pengeringan dapat dilakukan pada suhu kamar atau dalam oven
pada suhu 120º C selama 10 menit atau dengan menggunakan
udara panas dari blower.
- Plate yang telah kering disemprotkan dengan larutan penampak
noda, kemudian diamati dengan lampu UV.

123
Pembacaan Hasil
Bandingkan nilai Rf ekstrak dengan Rf standar.
Rf x 100

Noda yang timbul dengan penampak noda

Senyawa UV Iodoplatinat Dragendorff


Kokain Hitam Ungu Orange
Benzoylecgonine Hitam Negatif Orange
Eme Negatif Biru Orange
Penafsiran hasil pemeriksaan :
a) Waktu deteksi
Obat dalam bentuk aslinya dapat terdeteksi dalam urin sampai
24 jam dan metabolit benzoylecgonine dan ecgonine methyl
ester sampai 48 jam. Pada pemakai kronik waktu deteksi dapat
lebih lama sampai 5 hari atau lebih. Dari pemeriksaan kokain
dalam urin tidak dapat ditentukan jumlah kokain yang
dikonsumsi, waktu selang sejak konsumsi terakhir.
b) Perhatian
Ecgonine methyl ester dibentuk melalui aksi enzim
pseudokolinesterase sehingga bila ada kelainan dengan
aktivitas enzim ini, pola ekskresi metabolit akan berubah.
Benzoylecgonine dapat terdeteksi dalam urin pada konsumsi
teh kokain sedangkan anhydroecgonine methyl ester dapat
terdeteksi setelah merokok kokain basa bebas (crack).
c) Analisis dan penafsiran hasil dalam spesimen manusia lain
Konsentrasi plasma kokain biasanya kurang dari 0,5 µg/mL
sedangkan benzoylecgonine 0,1 µg/mL, pada kasus overdosis,
kadar kokain dalam darah 1-20 µg/mL dan benzoylecgonine 1-
10 µg/mL.
Kokain dan metabolitnya menunjukkan stabilitas yang buruk
dengan hidrolisis. Sampel darah dan plasma harus disimpan
dalam tabung yang mengandung sodium fluorida dan pH dibuat
pH 5 dengan asam asetik (10 %, v/v), setelah itu dapat
disimpan di kulkas pada 4º C atau dibekukan untuk beberapa
bulan.
Sampel rambut dan air liur dari pengguna kokain ditemukan
mengandung kokain, untuk kadar dalam rambut belum ada
ketentuan sedangkan untuk kadar dalam air liur ditemukan
berkorelasi dengan kadar dalam plasma.

124
b. Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Residu hasil ekstraksi yang dilanjutkan dengan derivatisasi
dilarutkan dengan pelarut kloroform, methanol disuntikkan ke dalam
kromatografi gas dengan kondisi tertentu sehingga dapat diketahui
waktu retensi (Rt), luas area dan puncak kromatografi yang
dihasilkan.

2) Alat
a) Vortex mixer
b) Heating block
c) Pipet kapiler
d) Kromatografi gas

3) Reagen
a) Pentafluoropropionik anhidrida (PFPA)
b) Pentafluoro-propanol (PFPOL)
c) Etil asetat
d) Larutan Standar Kalibrasi
Pembuatan larutan kalibrasi :
Buat larutan induk 1 mg/mL dari kokain, BE dan ecgonine metil
ester dari internal standar dalam methanol.
Siapkan larutan standar urin dari larutan induk yang
mengandung kokain 0-5 µg/mL, BE dan ecgonine metil ester
0-25 µg/mL internal standar = 25 µg/mL
Larutan standar kalibrasi dilaksanakan cara kerjasama dengan
spesimen.
e) Gas Nitrogen

4) Cara Kerja
Ekstraksi (lihat ekstraksi Metoda KLT)
Derivatisasi
a) Tambahkan 50 µL PFPA dan 25 µL PFPOL ke dalam ekstrak
kering hasil ekstraksi. Kocok di atas vortex mixer dan panaskan
diatas heating block pada suhu 90º C selama 15 menit.
b) Biarkan tabung sampai dingin dan uapkan ekstrak spesimen
sampai kering pada suhu 48º C dengan aliran gas nitrogen,
kemudian larutkan residu dalam 25 µL etil asetat
Injeksikan 1-2 µL larutan standar kalibrasi dan hasil derivatisasi
ke dalam injektor.
c) Derivat PFPA stabil dalam reagen 1 bulan dan 24 jam setelah
reagen diuapkan

d) Kromatografi Gas (KG)

125
Kondisinya sebagai berikut :
- Detektor : NPD atau FID
- Kolom : Packed coloum*)
- dimetil silikon (SE-30, OV-1)
- fenil metil silikon 50 % fenil (OV-17)
- Suhu : Oven : 220º C
Injektor : 220º C
Detektor : 300º C
- Gas : Notrogen dengan kecepatan alir 30 mL/menit
Hidrogen dengan kecepatan alir 30 mL/menit
*) Cappilary Column yang sesuai (lihat lampiran 5)

Pembacaan Hasil
Bandingkan rekaman hasil pemeriksaan dengan standar.

c. Metoda Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (KG-SM)

Hasil derivatisasi untuk pemeriksaan secara kromatografi gas dapat


dilanjutkan dengan menginjeksikan 1-2 µL larutan standar kalibrasi
dan hasil derivatisasi ke dalam injektor Kromatografi Gas-
Spektrometri Massa (KG-SM).

Penafsiran hasil pemeriksaan :


a) Waktu deteksi
Obat dalam bentuk aslinya dapat terdeteksi dalam urin sampai
24 jam dan metabolit benzoylecgonine dan ecgonine methyl
ester sampai 48 jam. Pada pemakai kronik waktu deteksi dapat
lebih lama sampai 5 hari atau lebih. Dari pemeriksaan kokain
dalam urin tidak dapat ditentukan jumlah kokain yang
dikonsumsi, waktu selang sejak konsumsi terakhir.
b) Perhatian
Ecgonine methyl ester dibentuk melalui aksi enzim
pseudokolinesterase sehingga bila ada kelainan dengan
aktivitas enzim ini, pola ekskresi metabolit akan berubah.
Benzoylecgonine dapat terdeteksi dalam urin pada konsumsi
teh kokain sedangkan anhydroecgonine methyl ester dapat
terdeteksi setelah merokok kokain basa bebas (crack).
c) Analisis dan penafsiran hasil dalam spesimen manusia lain
Konsentrasi plasma kokain biasanya kurang dari 0,5 µg/mL
sedangkan benzoylecgonine 0,1 µg/mL, pada kasus overdosis,
kadar kokain dalam darah 1-20 µg/mL dan benzoylecgonine 1-
10 µg/mL.
Kokain dan metabolitnya menunjukkan stabilitas yang buruk
dengan hidrolisis. Sampel darah dan plasma harus disimpan
dalam tabung yang mengandung sodium fluorida dan pH dibuat

126
pH 5 dengan asam asetik (10 %, v/v), setelah itu dapat
disimpan di kulkas pada 4º C atau dibekukan untuk beberapa
bulan.
Sampel rambut dan air liur dari pengguna kokain ditemukan
mengandung kokain, untuk kadar dalam rambut belum ada
ketentuan sedangkan untuk kadar dalam air liur ditemukan
berkorelasi dengan kadar dalam plasma.

10. Kanabis dalam spesimen manusia

a. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

1) Prinsip
Residu hasil hidrolisa yang dilanjutkan dengan ekstraksi yang
dielusi dengan pelarut tertentu akan membentuk noda yang
berwarna khas.

2) Alat
a) Peralatan kromatografi lapis tipis (KLT) terdiri dari :
(1)Pipet kapiler
(2) Plat KLT dilapisi silika gel berfluoresensi pada λ 254 nm
dengan ketebalan 0,25 mm
(3) Tabung elusi (developing tank)
(4) Lampu UV λ 254 nm
b) Spektrofotodensitometer

3) Reagen

a) Lapisan tipis silica gel G


b) Eluen, dipilih salah satu :
A : - Etil asetat 12
- Metanol 5
- Amonia pekat 1
- Akuades 0,5
B : - Kloroform 70
- Metanol 30
- Amonia pekat 2
c) Larutan penampak noda harus dibuat baru
0,1% larutan Fast Blue B Salt dalam air, apabila dalam air tidak
timbul warna dapat ditambahkan NaOH encer.
d) Larutan standar
Larutan 9-carboxy-THC 1 mg/mL dalam methanol
e) Gas Nitrogen

127
4) Cara Kerja
Persiapan spesimen
(1) Hidrolisa
Hidrolisa alkali.
Pipet 10 mL urin ke dalam tabung gelas bertutup, untuk
pemeriksaan dengan KG ditambah standar internal.
Tambahkan 2 mL kalium hidroksida 10 N, tutup tabung dan
inkubasi pada 50º C selama 20 menit dengan sekali-kali diaduk.
Lanjutkan dengan ekstraksi.
(2) Ekstraksi
Prinsip
9 karboxy THC dari urin yang telah dihidrolisa diekstraksi dalam
suasana asam. Hasil ekstraksi diuapkan pada suhu 35º-40º C.
Residu siap untuk pemeriksaan dengan KLT dan KG.
Cara ekstraksi ada 2 :
(1). Gair–cair
- Spesimen hasil hidrolisa setelah didinginkan, pindahkan ke
dalam corong pisah, pH diatur sampai 2 HCl 2 N atau
H2SO4 2 N
- Tambahkan 15 mL Sikloheksan-etil asetat (7 : 1, v/v)
- Ekstraksi dengan mengocok selama 10 menit
- Pindahkan lapisan organik, saring melalui natrium sulfat
kering ke dalam tapered tube, cuci saringan dengan 5 mL
pelarut (sikloheksan-etil asetat)
- Uapkan sampai kering pada temperatur kamar dengan
aliran udara atau gas nitrogen, larutkan kembali residu
dalam 0,2 mL methanol atau asetonitril-methanol (3:1, v/v)
dengan pengocokan atau sonikator.
(2) Solid-phase (SPE)
(a) Kolom SPE yang sesuai dicuci dengan mengalirkan
pelan-pelan masing-masing 3 mL methanol, akuades,
methanol dan air.
(b) Plastic syring body 10 mL dipasangkan pada kolong
digunakan sebagai reservoir
Gunakan vakum dengan kecepatan rendah untuk
menaikkan kecepatan aliran.
Urin yang sudah dihidrolisa (2 mL) masukkan ke dalam
kolom, cuci dengan 10 mL HCl 0,1 N dan 25 mL larutan
asam fosfat 0,5 M dalam asetonitril 10 %.
(c) Elusi 9-carboxy-THC dengan 1 mL aseton
(d) Uapkan larutan dibawah aliran gas nitrogen, larutkan
kembali dengan 0,1 mL methanol.

(3) Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

128
(a) Totolkan 5-10 µL larutan standar dan hasil ekstraksi pada
plate dengan jarak 2 em, kemudian elusi dalam Tabung
elusi dengan salah satu larutan eluen.
(b) Keluarkan plate dari Tabung elusi, kemudian plate
dikeringkan sebelum disemprotkan dengan penampak
noda.
(c) Pengeringan dapat dilakukan pada suhu kamar atau
dalam oven pada suhu 120º C selama 10 menit atau
dengan menggunakan udara panas dari blower.
(d) Plate yang telah kering disemprot dengan larutan
penampak noda kemudian amati dibawah lampu UV.

Pembacaan Hasil
Bandingkan nilai Rf ekstrak dengan Rf standar.
Rf x 100

b. Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Residu hasil ekstraksi yang dilanjutkan dengan derivatisasi
dilarutkan dengan pelarut kloroform methanol disuntikkan ke dalam
kromatografi gas dengan kondisi tertentu sehingga dapat diketahui
waktu retensi (Rt) luas area dan puncak kromatografi yang
dihasilkan.

2) Alat
(1) Derivatisasi
- Tabung runcing berskala 10 mL
- Vortex mixer
(2) Kromatografi gas

3) Reagen
a) Larutan standar internal
Siapkan larutan induk kanabinol 1 mg/mL dalam etanol absolut
1 mL larutan induk masukkan dalam labu takar 200 mL dan
tambahkan etanol absolut sampai tanda.
(1 mL larutan standar internal = 5 µ kanabinol)
b) Derivatisasi, dipilih salah satu :
(1) N,O - bis - trimethylsilyl - trifluoroacetamide (BSTFA) dan
trimethyl clorosilane (TMCS)
(2) Campuran tetra metil ammonium hidroksi (TMAH)
(a) dimetril sulfoxid (DMS)
(b) metil iodida
(c) HCl
c) Gas nitrogen

129
4) Cara Kerja
a) Ekstraksi (lihat ekstraksi Metoda KLT)
Hasil ekstraksi kemudian diderivatisasi dengan cara sebagai
berikut :
(1) Ekstrak urin dalam tabung diuapkan sampai kering dibawah
aliran gas nitrogen, ditambah 50 µL BSTFA dan TMCS,
campur dengan menggunakan vortex mixer dan dipanaskan
pada suhu 60º C selama 10 menit.
(2) Residu yang didapat dilarutkan dengan 50µL dengan pelarut
organik
(3) Residu kering ditambah 70 µL 10 % TMAH-dimetil-sulfoksida
(1 ; 20 v/v), setalah 2 menit tambah 5 µL metil iodida.
(4) Setalah 10 menit tambah 200 µL 0,1 N HCl ekstraksi dengan
2 mL iso oktan.
(a) Lapisan iso oktan yang terpisah diuapkan dengan alran
gas nitrogen.
(b) Residu dilarutkan kembali dengan 50 µL pelarut organik
(c) Ambil 1-2 µL diinjeksikan ke dalam injektor
b) Kromatografi Gas
- Detector : FID
- Kolom : *) Packed Coloum 2 m x 2 mm ID
- 3 % dimetil silikon()OV-1)
- 3 % fenilmetil silikon 50 % fenil (V-17)
- Gas : Nitrogen/Helium dengan kecepatan alir 30mL/
mnt
- Suhu : Injektor 210º C
Oven 255º C
Detektor 275º C
*) Cappilary Coloum yang sesuai (Lihat lampiran 5)

Pembacaan Hasil

Bandingkan rekaman hasil pemeriksaan dengan standar.

c. Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (KG-SM)

1). Prinsip
Metabolit senyawa kannabis dalam bentuk glukoronida-11-nor-
delta-9 tetrahidrokannabinol-9karboksilat (9-Karboksi THC-Gluc) di
pecah/hidrolisis dalam suasana basa dengan cara inkubasi
temperatur kamar selama 30 menit menjadi senyawa 9-karboksi
THC bebas yang kemudian dilanjutkan dengan cara ekstraksi
alkilasi untuk mempermudah penguapan senyawa bersifat asam
melalui proses derivatisasi metil iodida dalam suasana basa,

130
sehingga membentuk fasa yang akan mengikat THA+ .Senyawa
yang terbentuk diekstraksi dengan Toluen dan selanjutnya
kelebihan THA+ diabsorpsi oleh resin XAD 7 dan selanjutnya
turunan metil bersifat lebih polar ditampung untuk pemeriksaan GC-
MS yang sebelumnya diuapkan dan dilarutkan dalam etil asetat

2). Alat
a) Tabung reaksi dengan tutup ulir 12.5 ml
b) Transferpet 1 – 10 ul, 20 –200 ul dan 0,5 – 5,0 ml,
c) Rotary Shaker
d) Vortex/minishaker
e) Kolom Resin XAD 7
f) Pipet pasteur
g) Turbo Vap LV
h) Gas Nitrogen
i) Sentifus
j) Vial GC
k) GC/MSD

3). Reagen
Semua bahan kimia harus pro-analisa
a). Larutan induk
11-nor-delta-9tetrahidrokannabinol-9karboksilat 10 µg /mL,
larutan induk Internal Standard Mefruside 100 µg /mL
b). Enzim β-glukoronidase (H. Pomatia) dari SIGMA,
c). Larutan NaOH 1 M,
d). Larutan Tetraheksilammonium hidrogen sulfat 0.2 M dari
Aldrich
e). Toluen
f). Metil Iodida
g). Kolom Resin XAD 7 dari Supelco
h). Metanol
i). Etil Asetat

4). Cara Kerja


a). Siapkan tabung reaksi berlabel masing-masing berisi 2 mL
blanko akuades, 2 ml blanko urin, 2 ml larutan standar spike 10
µL 11-nor-delta-9tetrahidrokannabinol-9karboksilat 10 µg /mL
dan 2 mL sampel urin (duplo)
b). Tambahkan pada setiap tabung reaksi
(1) 20 µL larutan Mefruside 100 µg/mL sebagai ISTD
(2) 50 µL Natrium Hidroksida. 6 M, tunggu selama 30 menit
untuk hidrolisa
(3) 100 µL Tetraheksilammonium hidrogen sulfat 0.2 M
(4) 5.0 mL Toluen

131
(5) 100 µL Metil Iodida
(6) Tutup tabung reaksi dengan benar dan pastikan tidak
bocor dan kocok pada rotary shaker selama 1 jam
(7) Sentifus selama 5 menit
(8) Siapkan kolom resin, cuci masing-masing dengan 2 x
1 ml metanol dan toluen
(9) Pindahkan fasa organik dari tabung reaksi tersebut
dengan pipet pasteur ke dalam 2.5 – 3 cm kolom resin
XAD-7 kolom resin sambil dikumpulkan eluat ke dalam
tabung reaksi berlabel. Setelah selesai XAD-7 resin
diregenerasi dengan 2 x 2 ml metanol.
(10) Uapkan lapisan toluen sampai kering menggunakan
peralatan Turbovap 40º C yang dialiri gas Nitrogen
selama 10 menit pada 15 psi
(11) Larutkan residu yang telah kering dengan 100 µL etil
asetat
(12) Pindahkan larutan tersebut ke dalam vial GC yang
berlabel dengan penomoran dan siap untuk diinjeksikan
ke GC-MSD

5). Kondisi Alat Kromatografi Gas Spektrometri Massa

Metode : Scan
Kolom : Kolom Ultra 2 dari Hewlett Packard, panjang 17
meter diameter 0,25 mm; film thickness 0,11
µm
Suhu injektor : 280º C
Suhu Detektor 300º C
Suhu Oven : T0 : 80º C, dengan kenaikan 30º C /menit
T1 : 210º C, dengan kenaikan 5º C /menit
T2 : 250º C, dengan kenaikan 40º C /menit
T3 : 300º C, hold time 1 menit
Gas Pembawa ; Helium, Split, Pressure : 18.74 psi
Laju Gas : 1.4 mL/mnt, laju konstan
Volume Injeksi : 4 µl
Waktu Retensi : 9-karboksi THC, 13.39 menit
ISTD Mefruside, 17.menit
Run Time 15 menit

Tabel IV.11
Ion Base Peak Dan Ion Lainnya Untuk 9 Karboksi THC Dan ISTD
Setelah Diderivatisasi

Senyawa Ion base peak Ion 2 Ion 3


9karboksi-THC-CH3 313 357 372
Mefruside 85

132
Penafsiran hasil pemeriksaan
Waktu deteksi :
Waktu metabolit dapat terdeteksi dalam urin bergantung pada
metode immunoassay dan batas deteksi. Biasanya pengguna akut
(kurang dari 2 kali seminggu) dapat terdeteksi dalam 1-3 hari dalam
urin ketika menggunakan metode dengan batas deteksi di atas 100
ng/mL (atau kurang), untuk pengguna kronis waktu deteksinya lebih
lama, dapat lebih dari 1 minggu.

Inhalasi positif :
Perokok pasif marijuana dapat terdeteksi melalui urin bila
menggunakan metode dengan batas deteksi 20 ng/mL, tetapi hal
ini jarang terjadi. Bila didapat kadar lebih dari 100 ng/mL,
kemungkinan perokok pasif dapat disingkirkan.
Variasi kadar :
Kadar obat dalam urin dapat berubah 10 kali lipat dalam beberapa
jam bergantung pada asupan cairan. Sehingga harus berhati-hati
menafsirkan kadar THC yang bervariasi di sekitar batas deteksi,
hasil yang negatif kemudian diikuti hasil positif belum tentu berarti
adanya penambahan konsumsi marijuana.

133
11. Amfetamin Dan Metamfetamin dalam spesimen manusia

a. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

1) Prinsip
Residu hasil ekstraksi yang dielusi dengan eluen tertentu sehingga
terbentuk noda dengan warna yang khas.

2) Alat
a) Alat KLT
• Plat KLT (20 x 20 cm, 10 x 10 cm, 10 x 5 cm)
• Tabung elusi
• Pipa kapiler
• Botol semprot
b) Oven
c) Lampu UV

3) Reagen
a) Lapisan Tipis Silica Gel G (lihat lampiran 4)
b) Eluen, pilih salah satu :
A : - Metanol 100 mL
- Amonia pekat 1,5 mL
B : - Etil Asetat 85 mL
- Metanol 10 mL
- Amonia pekat 5 mL
c) Larutan penampak noda, pilih salah satu :
(1) Fast Back K Salt :
Larutan A : Fast Back K Salt 1 % dalam air.
Larutan B : Natrium hidroksida 1 M.
(2) Ninhidrin
Siapkan larutan ninhidrin 10 % dalam etanol
(3) Reagen Fluoreskamin
Siapkan larutan 10 mg fluoreskamin dalam 50 ml aseton
(4) Simons :
Larutan A : Natrium karbonat encer 20 %
Larutan B : Natrium nitroprusid encer 1 %
d) Larutan Standar
Larutan standar amfetamin dan metamfetamin :
Siapkan larutan standar dalam metanol mengandung masing-
masing 5 mg/mL.

134
4) Cara Kerja

a) Ekstraksi

Prinsip
Amfetamin dan metamfetamin yang terdapat dalam urin
diekstraksi dengan pelarut organik sehingga terbentuk residu,
yang dapat dianalisis secara kualitatif dengan alat KLT atau
kuantitatif dengan alat KG.

Cara Ekstraksi
- Masukkan 2 mL urin spesimen ke dalam tabung sentrifus 50
mL dan 0,25 mL larutan standar (larutan 2 metil feniletilamin :
8 µg/mL).
- Tambahkan 2 mL NaOH 1 M, air suling 5 mL dan diklorometan
20 mL dan kocok. Tabung ditutup, kocok sentrifus dengan
kecepatan rendah selama 5 menit, lapisan atas dibuang.
- Tambahkan 2 mL asam sulfat 0,15 M, tabung ditutup, kocok
dan sentrifus.
Lapisan sir sebelah atas dipindahkan ke dalam tabung
sentrifus 15 mL tambahkan 1 mL natrium hidroksida 1 M dan
2,5 mL 1-klorobutan atau diklorometan.
Tutup tabung vortex dengan berat dan disentrifus lapisan
organik pindah ke dalam tabung yang bersih, tambahkan
50 µL larutan metanolic asam klorida (9 : 1 v/v).
- Residu siap diperiksa dengan alat KLT atau alat KG.
Ekstrak diuapkan dengan vakum sampai kering.

b) Pemeriksaan Kromatografi Lapisan Tipis


- Hasil ekstraksi yang telah dikeringkan dilarutkan kembali
dengan metanol.
- Totolkan 5-10 µL larutan standard an hasil ekstraksi pada plat
dengan jarak 2 cm, kemudian elusi dalam tabung elusi
dengan salah satu larutan eluen.
- Keluarkan plat dari tabung elusi, kemudian sebelum disemprot
dengan larutan penampak noda.
- Pengeringan pada suhu kamar atau di dalam oven pada suhu
120°C selama 10 menit atau dengan menggunakan udara
panas dari blower.
- Plat yang telah kering disemprot dengan larutan penampak
noda, kemudian diamati dengan lampu UV.
- Penampak noda :
(1) Fast Black K Salt
- Semprot plat dengan larutan A dan amati warna noda,
untuk amin sekunder misalnya metamfetamin akan

135
segera menghasilkan noda. Semprot dengan larutan B
sedikit berlebih, akan menghasilkan warna noda untuk
amin primer misanya amfetamin.
- Keringkan plat pada udarang kering dan semprot sekali
lagi dengan larutan A, supaya menghasilkan noda yang
lebih intensif
- Warna bervariasi dari ungu untuk amfetamin sampai
merah muda untuk metamfetamin.
- Batas deteksi untuk amfetamin dan metamfetamin adalah
0,05-0,1 µg.
(2) Reagen Ninhidrin
- Semprot dengan reagen ninhidrin
- Plat keringkan dalam oven pada suhu 120º C sekurang-
kurangnya 15 menit.
- Noda warna ungu atau merah muda akan dihasilkan oleh
amfetamin dan noda dengan warna lebih kuat oleh
metamfetamin.
(3) Reagan Fluoreskamin
- Samprot dengan reagen fluoreskamin.
- Plat keringkan dengan udara panas dari blower.
- Amati plat di bawah sinar UV pada panjang gelombang
365 nm.
- Amfetamin memberikan noda warna kuning
berfluoresensi.
- Batas deteksi amfetamin dan amin primer lainnya adalah
10 µg.
- Metamfetamin tidak terdeteksi.
(4) Reagen Simons
- Semprot plat dengan larutan A, kemudian semprot lagi
dengan larutan B.
- Masukkan plat dalam tabung elusi yang kosong dan
beker gelas kecil yang berisi asetaldehid ke dalam
tabung elusi yang kosong, tutup tabung elusi.
- Uap asetildehid menyebabkan metamfetamin
memberikan noda yang berwarna biru.
- Deteksi minimum untuk metamfetamin dalam urin
± 0,1 µg/mL.
- Amfetamin dan amin primer lainnya memberikan noda
warna merah muda sampai merah dan reaksi kurang
sensitif.

Pembacaan Hasil
Bandingkan nilai Rf ekstrak dengan Rf Standar.
Rf x 100

136
b. Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Derivatisasi hasil ekstraksi dilarutkan dengan etil asetat dan pelarut
tertentu sesuai dengan metodanya, diinjeksikan ke dalam injektor
dengan kondisi tertentu, sehingga dapat ditentukan waktu retensi
(Rt), luas area dan puncak kromatogram yang dihasilkan.

2) Peralatan
a) Derivatisasi
- Tabung sentrifus berskala
- Labu ukur 10 mL
b) Kromatografi Gas

3) Reagen
a) Larutan standar kalibrasi
Dibuat dari larutan induk amfetamin, metamfetamin dan larutan
standar internal dengan kadar 1 mg/mL dalam etanol. Larutan
standar kalibrasi dibuat dari larutan induk dalam urin dengan
konsentrasi antara 0-5 µg/mL dan standar internal konsentrasi
5 µg/mL.
b) Derivatisasi ada tiga pilihan, dipilih salah satu :
(1) Larutan HFBA :
- 50 µL HFBA ditambahkan ke dalam residu kering.
- Tabung ditutup, kocok dengan vortex mixer dan diinkubasi
pada suhu 75º C selama 20 menit.
- Buka tutup tabung dan keringkan dengan udara atau
nitrogen pada suhu 30º C, kemudian larutkan dalam 50 µL
etil asetat.
- Volume zat yang diinjeksikan dalam injektor 1-2 µL.
(2) Larutan TFAA :
- Tambahkan 50 µL TFAA dan 100 µL etil asetat ke dalam
ekstrak urin kering dalam tabung.
- Tabung dikocok dan diinkubasi pada suhu 60º C selama
20 menit.
- Campuran ini diuapkan hati-hati dengan mengalirkan gas
nitrogen sampai volume akhir 50 µL pada suhu kamar.
- Injeksikan 1-2 µL ke dalam injektor.

(3) MTBSTFA :
- Tambahkan 150 µL MTBSTFA dan 100 µL asetonitril ke
dalam ekstrak urin kering dalam tabung.

137
- Tutup tabung dan panaskan pada suhu 90º C selama 10
menit dan biarkan pada suhu kamar selama 2 jam atau
lebih.
Tambahkan 500 µL asetonitril pada tabung tersebut di
atas.
Injeksikan 1-2 µL kedalam injektor.

4) Cara Kerja
a) Ekstraksi (Lihat Ekstraksi pada Metoda KLT)
b) Pemeriksaan Kromatografi Gas
(1) Kondisi Kromatografi Gas tanpa derivatisasi
- Detektor : FID, NPD, ECD
- Kolom : Packed column *) (2 m x 3-4 mm I.D)
- dimetil silikon (OV-1, SE-30)
- metal fenil silikon (OV-17)
- Suhu : Injektor : 250 - 280º C
Oven : 90 - 280º C
Detektor : 280 - 300º C
- Gas : Nitrogen dengan kecepatan alir 30 mL/mnt
*) Capillary Column yang sesuai (Lihat lampiran 5)
(2) Kondisi Kromatografi Gas dengan derivatisasi :
- Detektor : FIO, NPO, ECO atau MS dengan ionisasi El-
Kolom dan suhu seperti pada metoda tanpa
derivatisasi.

Pembacaan Hasil

Bandingkan rekaman hasil pemeriksaan dengan standar.

c. Metoda Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (KG-SM)

1). Prinsip
Ekstraksi sederhana terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa
ke dalam pelarut organik, dari urin yang dibasakan pada pH 13 dan
dijenuhkan dengan natrium sulfat anhidrat. Hasil ekstraksi kemudian
dianalisis dengan GC-NPD. Identifikasi dilanjutkan dengan
menggunakan GC-MSD yang sebelumnya di derivatisasi dengan
MBTFA.

2). Alat
a) Tabung Reaksi dengan tutup ulir 12.5 ml
b) Transferpet 1 – 10 µl, 20 –200 ul dan 0,5 – 5,0 ml,
c) Rotary Shaker

138
d) Vortex/minishaker
e) Pipet pasteur
f) Turbo Vap LV
g) Gas Nitrogen
h) Sentifus
i) Dry bath incubator
j) Vial GC
k) GC/MSD/NPD

3). Reagen
Semua bahan kimia harus pro-analisa
a) Larutan stok amfetamin, metamfetamin, MDMA (metilendioksi-
metamfetamin), MDA (metilendioksi-amfetamin) masing-masing
100 ppm dari Cerilliant dalam metanol
b) Larutan ISTD Difenilamin (DPA) 1000 ppm dalam metanol.
c) Larutan KOH 6 M
d) TBME (tert butil metil eter),
e) Natrium sulfat anhidrat
f) Asetonitril
g) TMCS ( trimetilklorosilan)
h) MBTFA (N-metil-bis trifluoroasetamida)

4). Cara Kerja


a) Siapkan tabung reaksi berlabel masing-masing berisi 5 ml blanko
akuades, 5 ml blanko urin, 5 ml larutan standar campuran dalam
urin dengan kadar akhir 1 ppm , dan 5 ml sampel urin

b) Tambahkan setiap tabung reaksi


(1) 10 µL larutan ISTD diphenilamin (DPA) 1000 ppm
(2) 0.5 ml KOH 6 M
(3) 2.5 ml TBME (tert butil metil eter),
(4) 2 g natrium sulfat anhidrat sambil di vortex
(5) Tutup tabung reaksi dengan rapat
(6) Kocok di rotary mixer selama 20 menit
(7) Sentifus selama 10 menit
(8) Pindahkan fasa organik 200 µL ke dalam vial berinsert dan
tutup
(9) Siap di injekkan ke GC-NPD
(10) Jika suspek gol amphetamine lanjutkan, sisa fasa organik
dengan penambahan 5 µL TMCS uapkan ad kering dengan
aliran gas Nitrogen kemudian tambahkan 50 µL Acetonitril,
vortex 1 menit secara perlahan kemudian tambahkan 25 µL
MBTFA, vortex perlahan 1 menit, incubasi 70° C selama 10
menit, pindahkan ke vial berinsert, tutup siap injek ke GC-
MSD.

139
5). Kondisi Alat Kromatografi Gas Spektrometri Massa
a). Alat Kromatografi Gas Nitrogen Phospourus Detector
Metode : StimNPD
Kolom : Kolom HP 5 , panjang 15 meter diameter
0,25 mm; film thickness 0,11 µm
Suhu injektor : 280° C
Suhu Detektor 300° C
Suhu Oven : T0 : 100° C, hold time 1 menit dengan
kenaikan 15° C/menit
T1 : 195° C, dengan kenaikan 30° C/menit
T2 : 300° C, hold time 4 menit
Gas Pembawa ; Helium, N2, Compressed air
Laju Gas : 1.2 mL/mnt, laju konstan
Volume Injeksi : 5 µl
Waktu Retensi : Amfetamin, 2.35 menit
Metamfetamin, 3.2 menit
MDA, 5.6 menit
MDMA, 5.9 menit
ISTD DPA, 6.5 menit
Run Time 14.8 menit
b).Alat Kromatografi Gas Spektrometri Massa (HP 6890-5973)
Metode : Scan
Kolom : Kolom Ultra1, panjang 17 meter diameter
0,25 mm; film thickness 0,11 µm
Suhu injektor : 280o C
Suhu Detektor 300° C
Suhu Oven : T0 : 80° C, hold time 1 menit dengan
kenaikan 15° C/menit
T1 : 250° C, hold time 2 menit dengan
kenaikan 30° C/menit
T2 : 280° C, hold time 1 menit
Gas Pembawa ; Helium, Split, Pressure : 18.74 psi
Laju Gas : 1.4 mL/mnt, laju konstan
Volume Injeksi : 4 µl
Waktu Retensi : Amfetamin, 4.98 menit
Metamftamin, 5.90 menit
MDA, 7.79 menit
MDMA, 8.65 menit
ISTD DPA, 7.63 menit
Run Time 16.33 menit

140
Tabel IV.13
Ion Base Peak Dan Ion Lainnya Amphetamine,
Methamphetamine, MDA, MDMA dan ISTD Setelah
Diderivatisasi
Senyawa Ion base peak Ion 2 Ion 3
Amphetamine-TFA 140 118 91
Methamphetamine-TFA 154 118 110
MDA-TFA 162 135 275
MDMA-TFA 154 162 135
ISTD DPA 169

Penafsiran hasil
Setelah konsumsi MDA, kadar dalam plasma dan urin dari bentuk
asli zat dilaporkan kurang dari 0,4 dan 10 µg/mL secara berturutan.
Untuk PMA kadar plasma dan urin kurang dari 0,2 dan 5 µg/mL,
berturutan.
Pada kasus kecanduan kadar MDA dalam plasma adalah 5-25
µg/mL, sedangkan dalam urin adalah 50-150 µg/mL. Untuk PMA
kadarnya adalah 0,3-2 µg/mL dalam plasma dan 5-200 µg/mL
dalam urin.
Pada suatu penelitian menggunakan 1,5 mg/kg berat badan
MDMA, kadar plasma maksimum yaitu 0,33 µg/mL, kadar dalam
urin 1,4, 14 dan 23 µg/mL ditemukan setelah 1,5,10 dan 22 jam
secara berturutan. Kematian terjadi pada kadar MDA sejumlah 2,3-
26 µg/mL dalam darah dan 46-175 µg/mL dalam urin, sedangkan
untuk MDMA kadar yang menyebabkan kematian ditemukan 0,9-2
µg/mL dalam darah, untuk PMA kadar yang ditemukan 0,3-1,9
µg/mL dalam darah dan 6,0-175 µg/mL dalam urin.
Bentuk asli amfetamin telah terdeteksi dalam urin sampai 29 jam
setelah satu kali konsumsi 5 mg afhetamin. Metamfetamin dalam
bentuk asli juga terdeteksi sampai 23 jam setelah satu kali
konsumsi. Analisis amfetamine yang positif biasanya berarti
penggunaan amfetamin atau Metamfetamin dalam waktu 24-48
jam.
Beberapa hal yang harus diperhatikan. (1) beberapa zat
dekongestan dan zat anorektik/pengurang nafsu makan yang
mengandung efedrin dan fenilpropanolamin dapat mengakibatkan
hasil positif amfetamin menggunakan tes EMIT dan RIA. (2)
beberapa obat resep dokter seperti benzphetamine, fenfluramine,
mephertamine, phenmetrazine dan phentermine dapat
mengakibatkan hasil positif dengan tes immunoassay, (3) beberapa
obat mempunyai metabolit berupa metamfetamin atau amfetamin.

141
Sehingga kadang perlu dilakukan pemeriksaan zat induk bila ada
keraguan apakah subyek mengkonsumsi amfetamin/metamfetamin.

12. Derivat Amfetamin dalam sisa bahan makanan, minuman, obat

a. Spektrofotometri
Metoda ini digunakan untuk pemeriksaan derivat amfetamin dalam
sediaan tunggal dan dosis tinggi yang terdapat dalam sisa bahan
makanan, minuman, obat yang diduga menyebabkan keracunan.

1) Prinsip
3,4 methylene dioxyamphetamin (MDA) diekstraksi dari sampel
dengan pelarut kloroform dan kemudian dilarutkan dalam asam
sulfuric 0,1 M diukur pada spektrofotometer pada 340-220 nm
secara kuantitatif.

2) Peralatan
a) Corong pisah 250 mL
b) Tabung sentrifus & sentrifus
c) Spektrofotometer & pencatat
d) Kertas saring

3) Reagen
a) NaOH 20 % (20 g/dl)
Larutan 20 g NaOH dalam air. Larutkan dalam 100 mL air.
b) NaOH 2 % (2 g/dl)
Larutan 2 % NaOH dalam air. Larutkan dalam 100 mL air.
c) Kloroform
d) Asam Sulfat 0,1 M
- 2,8 mL asam sulfat pekat masukkan ke dalam 100 mL secara
perlahan-lahan.
- Dinginkan dan larutkan ke dalam air sampai 1 L.

4) Cara Kerja
- Ke dalam corong pisah 250 mL, masukkan 10 mL spesimen
(darah, urin, cairan lambung dan larutan standar darah MDA)
dengan larutan NaOH 20 %.
- Ekstrak 2 kali dengan 100 mL klorofom (CHCl3) selama 5 menit.
- Cuci lapisan campuran HCCl3 dengan 10 mL NaOH 2 %,
kemudian dengan 20 mL air. Pisahkan lapisan air.
- Saring dengan kertas saring lapisan CHCl3. Ke dalam corong
pisah 250 mL yang lain tambahkan 5 mL 0,1 N Asam Sulfat dan
ekstraksi selama 5 menit.
- Pisahkan lapisan asam sulfat dan sentrifus.

142
- Tempatkan 3 mL ekstrak Asam Sulfat dalam kuvet dan 0,1 N
Asam Sulfat dalam cell standart.
- Catat absorban pada panjang gelombang 340 – 220 nm.
Absorsikan pada 285 nm dan 234 nm.
- Ukur absorban pada panjang gelombang 285 nm.

b. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

1) Prinsip
Residu hasil ekstraksi dielusi dengan eluen tertentu, kemudian
ditetapkan secara KLT sehingga terbentuk noda yang berwarna
khas.

2) Peralatan
a) Alat KLT
- Plat KLT (20 x 20 cm, 10 X 10 cm, 10 x 5 cm)
- Tabung elusi
- Pipet kapiler
- Botol semprot
b) Oven
c) Lampu UV

3) Reagen :
a) Lapisan tipis Silica Gel. G (Lihat Lampiran 4)
b) Eluen, pilih salah satu
A : - Metanol 100 mL
- Amonia pekat 1,5 mL
B : - Etil Asetat 85 mL
- Metanol 10 mL
- Amonia pekat 5 mL
c) Larutan penampak noda, pilih salah satu :
(1) Fast Back K Salt :
Larutan A : Fast Back K Salt 1 % dalam air.
Larutan B : Natrium hidroksida 1 M.
(2) Ninhidrin
Siapkan larutan ninhidrin 10 % dalam etanol
(3) Fluoreskamin (fluram)
Siapkan larutan 10 mg fluoreskamin dalam 50 ml aseton
d) Larutan Standar
Larutan standar derivat Amfetamin (MDMA, MDA, PMA dan
lain-lain).
Siapkan larutan standar dalam metanol mengandung masing-
masing 1 mg/mL.
e) Solid Phase Extraction (SPE)

143
4) Cara kerja :
a) Ekstraksi
Prinsip
Derivat amfetamin yang terdapat dalam urin diekstraksi dengan
pelarut organik sehingga terbentuk residu, yang dapat dianalisa
secara kualitatif dengan alat KLT atau secara kuantitatif dengan
alat KG.
Cara ekstraksi
- 2 mL urin dengan internal standar (0,25 mL 8 µg/mL larutan
standar internal dicampur dengan buffer phospat 0,1 M pH).
- pH dibuat 5 – 7 dengan 0,1 M NaOH atau 0,1 M HCL jika
perlu.
- Solid phase Extraction (SPE) cartridges volume 5 mL
dijernihkan dengan 2 mL metanol dan 2 mL 0,1 M Buffer
phospat pH 6.
- Spesimen urin dialirkan melalui cartridges dengan perlahan-
lahan dalam waktu sekurang-kurangnya 2 menit.
- Cartridges dicuci dengan 1 mL asam asetat 1 M dan
kemudian keringkan dengan cara disedot dengan vakum
selama 5 menit.
- Cartriges dicuci kembali dengan metanol 6 mL kemdian
keringkan lagi selama 5 menit.
- Analit yang terdapat dalam SPE dielusi dengan 2 mL etil
asetat yang mengandung 2 % amonia pekat yang dibuat baru.
- Eluat diuapkan secara hati-hati dengan uap nitrogen pada
temperatur kurang dari 40º C. Hasil ekstraksi siap untuk
dilakukan penetapan dengan alat KLT dan KG.

b) Kromatografi Lapisan Tipis

- Hasil ekstraksi yang telah dikeringkan dilarutkan kembali


dengan metanol 50 µL.
- Totolkan 5-10 µL larutan standar dan hasil ekstraksi pada plat
dengan jarak 2 cm, kemudian elusi dalam tabung elusi dengan
salah satu larutan eluen.
- Keluarkan plat dari tabung elusi, kemudian plat dikeringkan
sebelum disemprotkan dengan penampak noda.
- Pengeringan pada suhu kamar atau didalam oven pada suhu
120º C selama 10 menit atau dengan menggunakan udara
panas dari blower.
- Plat yang telah kering disemprot dengan larutan penampak
noda, kemudian setelah kering diamati dengan lampu UV.

144
c) Penampak noda :
(1) Fast Black K Salt
- Semprot plat dengan larutan A dan amati warna noda,
untuk amin sekunder misalnya metamfetamin akan segera
menghasilkan noda.
Semprot dengan larutan B sedikit berlebih, akan
menghasilkan warna noda untuk amin primer misanya
amfetamin.
- Keringkan plat pada udara kering dan semprot sekali lagi
dengan larutan A, supaya menghasilkan noda yang lebih
intensif
- Warna bervariasi dari ungu untuk amfetamin sampai
merah muda untuk amin sekunder misalnya
metamfetamin.
- Batas deteksi untuk Derivat amfetamin adalah 0, 5 µg.
(2) Reagen Ninhidrin
- Semprot dengan reagen ninhidrin
- Plat keringkan dalam oven pada suhu 120º C sekurang-
kurangnya 15 menit.
- Noda warna ungu atau merah muda akan dihasilkan oleh
metamfetamin dan noda dengan warna lebih kuat oleh
metamfetamin.
(3) Reagen Fluoreskamin
- Samprot dengan reagen fluoreskamin.
- Plat keringkan dengan udara panas dari blower.
- Amati plat di bawah sinar UV pada panjang gelombang
365 nm.
- Amfetamin memberikan noda warna kuning berfluoresensi.
- Batas deteksi amfetamin dan amin primer lainnya adalah
+ 10 µL.

Pembacaan hasil
Bandingkan nilai Rf ekstrak dengan Rf standar

c. Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip

Derivitisasi hasil ekstraksi dilarutkan dengan etil asetat dan pelarut


tertentu sesuai dengan metodanya. Injeksikan ke dalam injektor
dengan kondisi tertentu, sehingga dapat ditentukan waktu retensi
(Rt) luas area dan puncak kromatogram yang dihasilkan.

2) Peralatan
a) Tabung sentrifus berskala
b) Labu ukur 10 mL

145
3) Reagen
a) Larutan standar kalibrasi
Dibuat dari larutan induk derifat amfetamin (MDMA, MDA, PMA
dll) dan standar internal dengan kadar 1 mg/mL dalam etanol.
Larutan standar kalibrasi dibuat dari larutan induk dalam urin
dengan konsentrasi antara 0 – 5 µg/mL dan standar internal
5 µg/mL.
b) Derivatisasi spesimen dapat memakai salah satu dari 3 larutan
dibawah ini :
(1) Larutan HFBA :
- HFBA (50 µL) ditambahkan ke dalam residu kering.
- Tabung ditutup campur dengan vortex dan inkubasi
pada 75º C selama 20 menit.
- Buka tutup tabung tersebut keringkan isinya dengan
gas nitrogen pada suhu 30º C.
- Residu dilarutkan dalam 50 µL etil asetat suntikkan 1-2
µL kedalam injektor.
(2) Larutan KOH
- 50 µL Kalium hidroksida 0,5 M ditambah ke dalam
residu kering kemudian tambahkan 500 µL toluen.
- Campur dan sentrifus sehingga terpisah 2 lapisan
(lapisan organik dan lapisan air), lapisan organik
dipindahkan ke tabung yang bersih dan tambah 5 µL
larutan HFBA
- Larutan dikocok, tambahkan segera 500 µL natrium
bicarbonat 10 % v/v smbil dikocok terus menerus.
- Tabung disentrifus ambil 1 µL lapisan atas (toluen)
disuntikkan ke dalam injektor.
(3) Larutan TFAA :
- 100 µL etil asetat dan 50 µL larutan TFAA ditambahkan
ke dalam residu kering.
- Tabung dikocok dan diinkubasi pada suhu 60º C
selama 20 menit.
- Campuran tersebut diuapkan segera hati-hati sampai
50 µL, 1 – 2 µL disuntikkan ke dalam injektor.

4) Cara Kerja
a) Ekstraksi (Lihat Ekstraksi Metoda KLT)

b) Kromatografi Gas
(1) Kondisi Kromatografi Gas dengan derivitisasi sebagai
berikut :
- Detektor : FID, NPD, ECD
- Kolom : Packed Column *) (2 m x 3-4 mm I.D)

146
- dimetil silikon (OV-1, SE-30) atau
- metal penil silikon (DB-1, OV-17)
- Gas : Nitrogen dengan kecepatan alir 30 mL menit
- Suhu : Injektor : 250 – 280º C
Oven : 90 – 280º C
Detektor : 280 – 300º C
(2) Kondisi Kromatografi Gas tanpa derivatisasi sebagai
berikut :
- Detektor : FID, NPD
- Kolom : Packed Column *) (2 m x 3-4 mm I.D)
- dimetil silikon (OV-1, SE-30) atau
- metal penil silikon (DB-1, OV-17)
- Gas : Nitrogen dengan kecepatan alir 30 mL
menit
- Suhu : Injektor : 250 – 280º C
Oven : 90 – 280º C
Detektor : 280 – 300º C
*) Capilary column pilih yang sesuai (lihat lampiran 5)

Pembacaan hasil :

Bandingkan rekaman hasil pemeriksaan dengan standar.

147
13. Barbiturat dalam sisa bahan makanan, minuman dan obat

a. Spektrofotometri
Metoda ini digunakan untuk pemeriksaan Barbiturat dalam sediaan
tunggal dan mempunyai dosis tinggi yang terdapat pada sisa bahan
makanan, minuman, obat yang diduga menimbulkan keracunan.

1) Prinsip
Golongan obat barbiturat diekstraksi dari spesimen dengan pelarut
organik, residu yang didapat dilarutkan dengan akuades dalam
suasana basa diukur dengan spektrofotometer pada 240 nm secara
kualitatif dan tambahkan asam bila diukur dengan spektrofotometer
pada λ 200-400 nm secara kuantitatif.

2) Alat
a) Spektrofotometer & pencatat
b) Cairan pemisan
c) Kertas saring
d) Labu ukur 10 mL

3) Reagen
a) Larutan bufer borat pH = 8,4 :
Campurkan 22,4 g dinatrium tetraborat dengan 70 mL larutan
asam hidroklorida dalam akuades (1 mol/L), kemudian encerkan
hingga 2 L dengan akuades.
b) Larutan asam hidroklorida dalam akuades (2 mol/L).
Larutan asam sulfat pekat (kerapatan relatif 1,83).
c) Larutan amonium hidroksida pekat (kerapatan relatif 0,88).
d) Campuran natrium sulfat/karbon aktif :
Tambahkan 100 mg karbon aktif kepada 100 g natrium sulfat
anhidrat, kemudian campurkan hingga homogen dan panaskan
dalam cawan evaporasi pada 100º C selama 8 jam. Biarkan
dingin dan simpan dalam botol yang tertutup rapat.

Standar :
Satu seri larutan yang masing-masing mengandung 5, 10, 25 dan
50 mg/L Barbital dalam plasma blanko yang dibuat dengan
mengencerkan larutan standar natrium barbital dalam air (1,12 g/L),
yang setara dengan asam dietilbarbiturat dengan konsentrasi
1,00 g/L

148
4) Cara Kerja

b) Tambahkan 5 mL spesimen , 2 mL larutan asam hidroklorida


dalam akuades (2 mol/L) dan 60 mL dietileter (dengan hati-hati)
ke dalam corong pisah kapasitas 250 mL.
c) Basahi tutup corong pisah dengan akuades, tutup corong pisah
dan goyang perlahan-lahan selama 2 menit.
d) Biarkan larutan dalam corong pisah selama 5 menit dan
kemudian fasa bawah (fasa air) dibuang dengan membuka kran
corong pisah.
e) Tambahkan ekstrak dietileter ke dalam 10 mL larutan buffer
borat dalam corong pisah kedua dan kocok selama 1 menit.
f) Biarkan larutan dalam corong pisah selama 5 menit dan
kemudian fasa bawah (fasa air) dibuang lagi dengan membuka
kran corong pisah.
g) Cuci dinding dalam corong pisah dengan 5 mL akuades, biarkan
larutan dalam corong pisah selama 5 menit dan kemudian fasa
air dibuang lagi dengan membuka kran corong pisah.
h) Tambahkan 4 g campuran natrium sulfat karbon ke dalam
ekstrak dietileter dalam corong pisah. Kocok isi corong pisah
agar terdispersi dan saring. Setelah disaring, tampung ekstrak
dietileter dalam erlenmeyer kapasitas 150 mL.
i) Tambahkan lebihn lanjut 20 mL dietileter ke dalam corong
pisah, kocok dan tambahkan ke dalam ekstrak dietileter dalam
Erlenmeyer dengan bantuan corong fitrasi.
j) Uapkan ekstrak dietileter hingga kering dalam penangas air
pada 40°C dibawah atmosfer udara tekan atau gas nitrogen.
k) Tambahkan 5,0 mL akuades ke dalam ekstrak kering dalam
Erlenmeyer, goyang perlahan-lahan dan biarkan selama
5 menit.
l) Saring dengan kertas saring larutan dalam erlenmeyer dan
tampung filtrat dalam tabung reaksi ukuran 12,5 cm.
m) Periksa titik nol spektrofotometer pada 240 nm menggunakan
akuades baik pada posisi spesimen maupun pada posisi
referensi. Gunakan sel/kuvet kuarsa ukuran 1 x 1 x 4 em
n) Tambahkan 4 mL filtrat dari tabung reaksi ke dalam set yang
bersih dan tambahkan 50 µL larutan amonium hidroksida pekat
dan aduk dengan pengaduk plastik. Pastikan bahwa pH larutan
kira-kira 10.
o) Ukur segera absobansi pada 240 nm dengan akuades sebagai
blanko.
p) Apabila perlu, encerkan secara akurat larutan ekstrak dengan
akuades sehingga absorbansi terbaca pada kisaran yang baik
dan catat faktor pengenceran yang digunakan. Apabila
pengukuran dilakukan dengan spektrofotometer yang
dilengkapai fasilitas skanning, skan pada 200-450 nm

149
q) Ulangi pengukuran atau skanning setelah 5 menit.
r) Tambahkan 0,1 mL asam sulfat pekat ke dalam sel, aduk
menggunakan pengaduk plastik dan pastikan bahwa pH larutan
di sekitar 2 ( menggunakan kertas indikator universal).
s) Ulangi pembacaan (249 nm) atau skan (200-450nm)

Pembacaan Hasil
Sejumlah senyawa dapat mengganggu analisis ini. Glutetimida akan
terhidrolisis engan cepat pada keadaan alkalis, sehingga absorbansi
pada 240 nm akan turun secara signifikan setelah 5 menit pada pH =
11 (langkah 15 di atas) apabila senyawa ini ada. Adanya senyawa lain,
seperti metaqualon (misalnya dikloralfenazon) dapat diatasi dengan
memperhatikan spectra pada daerah 200-450 nm. Penambahan 0,1
mL larutan natrium hidroksida ke dalam ekstrak amoniakal (langkah 14
di atas) menghasilkan pergeseran spectra lanjut yang karakteristik
yang dapat dimanfaatkan dalam analisis kualitatif.

Sensitivitas :
Barbiturat 2 mg/L

b. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

1) Prinsip
Barbiturat diekstraksi dari spesimen biologis dengan pelarut
organik, kemudian diuapkan hingga diperoleh residu. Selanjutnya
residu dianalisa dengan KLT.

2) Peralatan
a) Alat KLT
- Lempeng KLT silika gel GF 254 ( 20 x 20 cm, 10 x 10 cm, 10 x
5 cm)
- Tabung elusi
- Pipa kapiler
- Botol semprot
b) Oven
c) Lampu UV

3) Reagen
Semua bahan kimia harus reagen pro-analisa.
a) Asam klorida (HCl) 6 N
Larutkan 50,0 mL asam klorida pekat dalam 100 mL akuades.
b) Diisopropil eter

150
c) Kalium permanganat (KMnO4) 100 mg/100mL. Larutkan 0,1g
kalium permanganat dalam air dan encerkan hingga 100 mL.
d) Merkuri sulfat (HgSO4) 2 g/100 mL, campurkan 10,0 mL asam
sulfat pekat sambil digoyang.
Biarkan larutan dingin kemudian encerkan hingga 250 mL
dengan akuades.
e) Difenil karbason (OPC) 10 mg/100 mL.
Larutkan 10 mg OPC dalam 100 mL kloroform. Simpan dalam
botol gelap.
f) Penampak noda
(1) Kalium permanganat (KMnO4)
(2) Merkuri sulfat (HgSO4)
(3) Difenil karbason (DPC)

4) Cara Kerja

a) Ekstraksi

Prinsip
Golongan obat barbiturat diekstraksi dengan pelarut organik dan
ditambah dengan basa kuat sehingga terbentuk lapisan alkali,
yang dapat dianalisa secara kualitatif dengan alat KLT dan
secara kuantitatif dengan alat KG.

Cara Ekstraksi :
(1) Pipet 3,0 mL spesimen (darah, serum, plasma, urin dan isi
lambung ke dalam tabung gelas 60 mL atau corong pisah
100 mL. Untuk blanko campur 3,0 mL larutan standar
barbiturat dan 3,0 mL akuades.
(2) Atur pH untuk semua spesimen sampai 6,5
(3) Tambahkan 50,0 mL kloroform pada setiap spesimen dan
kocok selama 3 menit.
(4) Buang lapisan air dari semua spesimen kecuali whole blood
dan saring. Jika menggunakan whole blood, lapisan
kloroform sebaiknya dipisahkan dengan hati-hati. Saring
setiap ekstrak kloroform yang terdapat pada butir (3)
menggunakan kertas saring E&D # 615.
(5) Kocok lapisan kloroform dari semua spesimen kecuali whole
blood dengan 5 mL buffer fosfat pH 7. Biarkan lapisan
memisah dan buang lapisan air.
(6) Masukkan 40,0 mL lapisan kloroform (yang telah dicuci) ke
dalam botol gelas ukuran 60 mL.
(7) Tambahkan 5,0 mL NaOH 0,45 N dan kocok campuran
selama 1 menit. Tambahkan 10,0 mL NaOH 0,45 N ke
dalam ekstrak larutan standar.

151
(8) Pipet lapisan alkali ke dalam tabung dan sentrifus (lapisan
kloroform dapat disaring atau dapat juga disimpan untuk
menentukan adanya kemungkinan terdapatnya obat netral).

b) Kromatografi Lapisan Tipis

(1) Kumpulkan lapisan alkali yang bening dari sentrifus pada


metoda ekstraksi, masukkan ke dalam botol gelas yang
bertutup 60 mL dan asamkan larutan ini dengan asam
klorida 6 N, tambahkan 10,0 mL kloroform dan kocok selama
3 menit.
(2) Pisahkan lapisan air kemudian saring lapisan organik ke
dalam cawan penguap dan uapkan sampai menjadi residu
(kerjakan di dalam lemari asam).
(3) Larutkan residu dalam 0,2 mL kloroform dan totolkan pada
lempeng kaca KLT. Setiap lempeng harus ditotolkan larutan
standar barbiturat yang sesuai (atau diphenilhydantoin).
(4) Lempeng kaca KLT dielusi dengan diisopropil eter.
(5) Keringkan lempeng kaca KLT tersebut pada suhu kamar.
(6) Semprot lempeng dengan kalium permanganat, merkuri
sulfat dan difenil karbason.
Catat hasil setelah penyemprotan.

Pembacaan Hasil

Bandingkan nilai Rf ekstrak dan warna yang timbul dengan standar.


Reaksi warna setelah penyemprotan

Jenis Barbiaturat Nilai Rf KMnO4 HgSO4 DPC


Amobarbital 0.78 - Abu-abu Violet
Butabarbital 0.72 - Abu-abu Violet
Heksobarbital 0.62 Kuning Abu-abu Violet
Pentobarbital 0.80 - Abu-abu Violet
Fenobarbital 0,62 - Abu-abu Violet
Sekobarbital 0,87 Kuning Abu-abu Violet

c. Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Barbiturat diekstraksi dari spesimen biologis dengan pelarut organik
kemudian diuapkan sehingga diperoleh residu,selanjutnya dianalisa
dengan kromatografi gas.

152
2) Peralatan
Alat kromatografi gas. Kondisi Kromatografi Gas :
a) Detektor : FID
b) Kolom : Apiezon *) L 10%
c) Suhu : 210º C
d) Gas : Nitrogen dengan kecepatan alir 50 mL/menit
*) Cappilary Column yang sesuai

3) Reagen
a) Larutan standar golongan barbiturat
b) Gas Nitrogen

4) Cara Kerja
a) Ekstraksi (lihat ekstraksi metoda KLT)
b) Pemeriksaan Kromatografi Gas
- Bahan untuk kromatografi gas berasal dari ekstraksi spesimen
- Larutkan residu hasil ekstraksi tersebut dalam 50 µL metanol
dan injeksikan ke dalam alat kromatografi gas.
- Buat larutan standar barbiturat dalam 1 µL larutan tersebut ke
dalam alat kromatografi gas.

Pembacaan Hasil
Bandingkan rekaman hasil pemeriksaan dengan standar.
Waktu retensi relatif
Jenis Barbiaturat Kolom Apiezon L 10%
Suhu 210º C
Barbital 1,0
Allobarbital 1,47
Butabarbital 1,84
Amylobarbital 2,14

14. Benzodiazepin dalam Spesimen Manusia

a. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

1) Prinsip
Hasil ekstraksi dielusi dengan eluen tertentu, sehingga terbentuk
noda dengan warna yang khas.
Nilai Rf dari noda gugus fungsional yang didapat setelah
penyemprotan atau di bawah sinar lampu UV dapat mendeteksi
dan mengidentifikasi berbagai jenis golongan benzodiazepin.

153
2) Peralatan
Alat KLT :
a) Pipet kapiler
b) Lempeng KLT dilapisi silika gel dengan ketebalan 0,25 mm
c) Tabung elusi (Developing tank)
d) Lampu UV

3) Reagen
a) Etanol 70 %
b) Campuran aseton : toluen : CHCl3 = 25 : 40 : 40.
Campur 25 mL aseton, 40 mL toluen dan 40 mL CHCl3
c) Larutan baku benzodiazepin untuk ditotolkan dengan kadar 1
mg/mL.
Larutkan 10 mg masing-masing bahan baku obat dalam etanol,
encerkan dengan etanol sampai 10 mL
d) Reagen penampak noda iodoplatina atau dragendorf.
(1) Reagen Iodoplatinat
Larutkan 0,25 mL reagen platinat klorida dan 5 g kalium
iodida dalam 100 mL akuades, tambahkan 2 mL asam
klorida, campur sampai homogen.
(2) Reagen Dragendorf
Larutan A : Campur 2 g bismut subnitrat dan 25 mL asam
asetat glasial atau pekat dan 100 mL akuades.
Larutan B : Larutkan 40 g kalium iodida dalam akuades.
Campur 10 mL larutan A dan 10 mL larutan B, tambahkan
20 mL asam asetat glasial dan 100 akuades.

4) Cara Kerja
a) Ekstraksi
Prinsip
Golongan obat Benzodiazepin yang terdapat dalam spesimen
diekstraksi dengan pelarut organik sehingga terbentuk residu
yang dapat dianalisa secara KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dan
KG (Kromatografi Gas)
Cara Ekstraksi :
(1) Tambahkan 5-20 mL spesimen (darah, plasma, urin atau 10
g hati yang sudah dihomogenkan dengan 10 mL akuades)
ke dalam corong pisah yang telah berisi 100 mL dietil eter.
Tambahkan 5 mL buffer fosfat pH 7 pada spesimen.
(2) Kocok kuat-kuat selama 3 menit dan sentrifus, bila perlu
untuk memecah emulsi.

154
(3) Buang lapisan air bagian bawah dan saring lapisan eter
melalui kertas saring whatman # 1.
(4) Tambahkan 5 mL H2SO4 0,2 N dan kocok kuat-kuat selama
3 menit untuk mengekstraksi kelebihan obat yang bersifat
basa (lihat tabel 3 di bawah ini)
(5) Pindahkan lapisan asam, masukkan ke dalam corong pisah
lain, pisahkan lapisan dietil eter.
Tambahkan 1 mL NaOH jenuh dan 25 mL CHCl3 ke dalam
ekstrak asam. Kocok kuat-kuat dan saring CHCl3 melalui
kertas whatman # 1 ke dalam beker dan uapkan dengan
pemanasan dan udara.
Biarkan sampai kering pada suhu kamar dengan
pengeringan udara atau nitrogen dengan hati-hati untuk
mencegah pemecahan atau penguapan obat.
(6) Tambahkan 5 mL HCl 2 N ke dalam lapisan dietil eter
(butir 5) dan ekstraksi dengan mengocok campuran.
Pindahkan lapisan asam, masukkan ke dalam corong pisah
lain sisihkan dietil eter.
Tambahkan dengan hati-hati 1 mL NaOH jenuh dan
tambahkan 25 mL CHCl3 ke dalam ekstrak asam.
Kocok kuat-kuat dan saring CHCl3 melalui kertas saring
whatman # 1 ke dalam beker. Uapkan seperti butir 5) diatas.
(7) Tambahkan 5 mL NaOH 0.45 N ke dalam lapisan dietil eter,
kocok kuat-kuat selama 1 menit. Ambil dan buang lapisan
air, saring dan uapkan dietil eter (penguapan seperti pada
lapisan eter butir 5).
(8) Tambahkan dengan teliti 200 µL CHCl3 ke dalam setiap
beker glass (butir 5), 6), 7) dan aduk untuk memperoleh hasil
ekstraksi benzodiazepin.
Tabel IV.9
Distribusi Dari Benzodiazepin
Eter Asam Klorida Asam Sulfat
Akuades
(Netral) (weaker bases) (stronger bases)
Klorazepat 7 68 25
Klordiazepoksid 1 15 84
Demoksepam Most
Desmetilklorida
Zepoksid-asam
Oksazepam 39 60 1
Diazepam 5 85 10
Desoksidemoksepam Most
Nitrazepam 0 90 10
Medazepam 1 13 86
Flurazepam 0 0 99
Klonazepam 69 31 0
Umum Kafein Beberapa Kafein Nikotin
Interfering Lemak Methakualon Putrescines
Bahan Subtances Quinine

155
Keterangan
* Persentase dari masing-masing obat yang ditemukan pada beberapa traksi hasil dari
ekstraksi benzodiazepin dalam spesimen dengan Buter pH 7, pelarut yang dipakai dietil
eter.

Pemeriksaan Kromatografi Lapisan Tipis

a) Totolkan 3 noda hasil ekstraksi benzodiazepin (4.a.8) pada


lempeng kaca KLT yang sama, totolkan pula larutan standar obat.
Tempatkan lempeng kaca KLT yang telah ditotol pada tabung elusi
yang berisi campuran aseton : Toluen : Kloroform. Salah satu sisi
dalam tabung elusi diberi kertas untuk meratakan kecepatan elusi.
b) Setelah eluen sampai tanda, angkat lempeng kaca KLT yang telah
dielusi, keringkan pada suhu kamar atau dibantu dengan
menyemprotkan udara dingin. Kemudian lihat dibawah lampu UV
pada λ 254 nm.
Bandingkan noda yang didapat dari ekstrak spesimen dengan
larutan standar obat yang diketahui. Lihat tabel 4 dibawah ini.
c) Jika terdapat noda berwarna gelap dari serapan yang kuat, sesuai
dengan benzodiazepin dan atau metabolitnya, yang terdeteksi pada
lempeng kaca KLT, semprot lempeng kaca KLT dengan reagen
penampak noda.
Reaksi positip adalah noda coklat keungu-unguan (asam
iodoplatinat) atau jingga (dragendorf). Apabila obat dan metabolit
diketemukan pada spesimen biologi, kemungkinan identifikasi
dapat lebih meyakinkan.
d) Apabila tidak ada noda atau hanya terlihat noda lemah, uji yang
lebih sensitif dapat dilakukan dengan merendam lempeng kaca
sampai basah dengan H2SO42N (sampai jenuh), biarkan
penguapan dengan pengeringan (tidak lebih dari 5 menit) dalam
lemari asam dan amati di dalam ruangan gelap atau dalam kotak
dengan lampu UV pada λ 254 nm.
Reaksi positip untuk benzodiazepin dan metabolitnya adalah warna
kuning - hijau atau noda putih yang berfluoresensi. Obat yang
mendapat perlakuan seperti ini tidak dapat dikonfirmasikan dengan
scanning UV. Hasil kerokan noda pada metoda KLT ini dapat
diteruskan untuk pengujian secara spektrofotometri.

156
Sensitivitas
Deteksi dengan metoda KLT ini adalah 1-2 µg. Tetapi dengan
kadar total 3 µg (3 mL dalam cell 5 cm) akan memberikan spektrum
UV yang lebih jelas untuk semua uji benzodiazepin.

b. Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Golongan benzodiazepin diekstraksi dari spesimen biologis dengan
pelarut organik kemudian diuapkan sehingga diperoleh residu,
selanjutnya dianalisa dengan Kromatografi gas.

2) Alat
Kondisi Kromatografi Gas :
a) Detektor : FID
b) Kolom : Packed Column *)
2,5% SE- 30 atau 2,5% OV- 17
c) Suhu : 180º C - 225º C
d) Gas : Nitrogen dengan kecepatan alir 50 mL/menit
*) Cappilary Column yang sesuai

3) Reagen
a) Larutan standar golongan benzodiazepin
b) Gas Nitrogen

4) Cara Kerja

a) Ekstraksi (lihat ekstraksi metoda KLT)

b) Pemeriksaan Kromatografi Gas


(1) Bahan untuk kromatografi gas adalah residu hasil ekstraksi
diatas. Larutkan residu hasil ekstraksi tersebut dalam 50 µL
metanol dan injeksikan ke dalam alat kromatografi gas.
(2) Buat larutan standar golongan benzodiazepin dalam
1 µg/mL metanol dan injeksikan 1 µg/mL larutan tersebut
kedalam alat kromatografi gas.

157
Pembacaan Hasil

Bandingkan rekaman hasil pemeriksaan dengan standar.

Waktu retensi relatif

KOLOM
JENIS SE – 30 OV – 17
BENZODIAZEPIN 180º C 225º C 180º C 225º C
Diazepam - 1,16 9,5 -
Klordiazepoksid - 1,46 - 2,9
Nitrazepam - 2,9 - 4,6

C. Metoda Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (KG-SM)

Hasil derivatisasi untuk pemeriksaan secara kromatografi gas dapat


dilanjutkan dengan menginjeksikan 1-2 µL larutan standar/metabolit dan
hasil derivatisasi ke dalam injektor Kromatografi Gas-Spektrometri
Massa (KG-SM).

Cara lain untuk pemeriksaan konfirmasi benzodiazepin sama seperti


prosedur pemeriksaan Kanabis dalam spesimen manusia tapi tidak perlu
diinkubasi/hidrolisa. Reagensia maupun kondisi alat sama hanya
menggunakan larutan standar kalibrasi standar benzodiazepin bebas
dan metabolitnya sebagai pembanding dan internal standard larutan
Mefruside 1 µg/mL. Konsentrasi larutan standar untuk kurva kalibrasi
disesuaikan dengan cut off level konfirmasi untuk GC/MS.

158
15. Pemeriksaan Alkohol dalam spesimen manusia

a. Metoda Kromatografi Gas (KG)

1) Prinsip
Pengambilan udara yang mengandung alkohol dalam botol bertutup
perforasi yang dipanaskan dalam penangas air dengan menggunakan
disposable syringe dan kemudian udara yang terisap diinjeksikan ke
dalam kromatografi gas.

2) Alat
• Alat kromatografi gas yang dilengkapi oleh detector FID (Flame
Ionisation Detector)
• Kolom Porapak Q (mesh 80-100)
• Disposable syringe

3) Reagen
Kondisi Kromatografi Gas :
• Kolom : Porapak Q (mesh 80-100)
• Suhu kolom : 160°C
• Gas pembawa : Nitrogen
• Aliran gas : 50 ml / menit
• Detektor : FID (Flame Ionisation Detector)

4) Cara Kerja
a. Masukkan 0,5 ml sampel ke dalam botol hijau Mc Cartney 5 ml yang
mempunyai tutup perforasi. Tutup botol dengan kuat, tempatkan dalam
penangas air selama 5 menit pada suhu 37°C (untuk membuat zat
tersebut dengan titik didih yang rendah) atau 56°C (untuk membuat zat
tersebut dengan titik didih yang lebih tinggi)
b. Tanpa pendinginan, pindahkan 1 ml udara di atas sampel
menggunakan 1 ml disposable tuberlin syringe
c. Sampel udaranya kemudian diinjeksikan ke dalam kromatografi gas.

5) Interpretasi Hasil
Bandingkan waktu retensi sampel terhadap standar etanol

Waktu retensi relatif*

Porapak Q (mesh 80-100)


160°C Obat
0,22 Metanol
0,44 Etanol

159
Keterangan : *Waktu retensi diukur dari injection point.

b. Metoda Spektrofotometri/Metoda Dubowski

1) Prinsip
Spesimen atau hasil destilasi uap jaringan di destilasi secara langsung
dalam larutan asam tungstat untuk mengendapkan protein. Cairan dari
destilat dicampur dengan sejumlah tertentu larutan standar kalium
dikromat dalam larutan asam sulfat sehingga mencapai keasaman 15 N
dan dioksidasi pada suhu 100°C. Residu ini diukur dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 450 nm dan konsentrasi
alkohol pada spesimen dihitung dari kurva kalibrasi atau table yang
disiapkan dari larutan yang diketahui kadar alkoholnya.

2) Alat
• Peralatan destilasi uap dari Dubowski dan Shupe (Sciensifiglass
apparatus)
• Penangas air elektrik pada suhu 100°C atau pada suhu yang
konstan pada 100°C dengan cairan yang mudah larut (cairan UCON
50-HB-280X)
• Spektrofotometer (450 nm)
• Pipet
• Labu ukur yang bertutup gelas

3) Reagen
• Reagen pengoksidasi : 0.0214 N kalium dikromat
1.0500 g K2Cr2O7 dalam 1 liter dari 50% volume asam sulfat.
1 ml dari reagen setara dengan 0.247 mg etil alkohol
• Larutan Natrium tungstat 10% w/v
• Asam sulfat 2/3 N
• Larutan Asam tartrat 10% w/v

4) Cara Kerja

Spesimen darah, urin, saliva, cairan serebrospinal, destilasi


jaringan

a) Masukkan spesimen dan reagen ke dalam labu destilasi 125 ml.


Sedangkan untuk spesimen darah digunakan tabung 250 ml,
masukkan 10 ml akuades (untuk analisa darah 20 ml), 2 ml spesimen
(1 ml spesimen dapat dianalisa dengan mengumpulkan hasil destilat
dalam labu ukur 5 ml dilanjutkan dengan langkah c hingga e), 5 ml
asam sulfat 2/3 N dan 5 ml natrium tungstat 10%. Campur isi labu
dengan memutar labu dan pasang pada alat destilasi. Destilasi

160
dimulai ketika darah sudah terkoagulasi sempurna dan berubah
menjadi warna coklat gelap.
b) Destilasi pelan-pelan di dalam labu ukur bertutup gelas 10 ml, hingga
volume kurang dari 10 ml selama 8-10 menit, menggunakan
mikroburner dengan api 2.5-4 cm, volume diatur sampai garis tanda
10 ml dengan akuades, tutup dan campur dengan baik.
c) Ke dalam tabung kultur gelas borosilikat bertutup ulir dari teflon,
masukkan 1 ml destilat dan 5 ml reagen pengoksidasi, campur
dengan pemutaran yang kuat. Segera tutup tabung dan panaskan
selama 8 menit dalam penangas air elektrik 100°C, masukkan
tabung di atas level cairan.
d) Dinginkan tabung pada suhu kamar (25°C atau kurang), di bawah air
mengalir atau dalam icebath, campur dengan memutar dan
pindahkan cairan ke dalam kuvet. Baca pada spektrofotometer
dengan panjang gelombang 450 nm, setelah alat dipasang pada
100% transmitant dengan kuvet yang berisi akuades.
e) Konsentrasi alkohol dalam sampel (%w/v) diketahui dengan table
kalibrasi atau kurva yang disiapkan dari beberapa seri spesimen
yang kadar alkoholnya telah diketahui.

Spesimen jaringan.

a) Cairkan dengan cepat 10 g bekuan jaringan dengan ice cold waring


diblender. Timbang segera 2 g dari spesimen yang telah cair dengan
ketelitian 0.01 g dan pindahkan secara kuantitatif ke dalam labu
destilasi 250 ml, dengan 30 ml larutan asam tartrat 10%. Tambahkan
2-3 tetes cairan antifoam atau 0.1 g senyawa paraffin dengan titik
lebur yang rendah. Campur dengan memutar dan pasangkan tabung
pada peralatan destilasi.

b) Destilasi dengan kecepatan uap yang benar dari generator yang


mengandung akuades. Kumpulkan destilat kira-kira 20-30 ml dalam
tabung destilat 125 ml dalam 8-10 menit

c) Ke dalam destilasi tersebut tambahkan 5 ml asam sulfat dan 5 ml


natrium tungstat 10%, campur dengan memutar labu. Pasangkan
pada alat destilasi dan lanjutkan seperti untuk cairan tubuh (butir b-d
seperti cara kerja spesimen darah, urin, saliva di atas)

d) Konsentrasi alkohol pada jaringan, dihitung seperti butir (e) cara


kerja spesimen darah, urin, saliva di atas, dari table kalibrasi yang
sama.

161
Khusus

a. Bagian terpisah dari spesimen yang didestilasi dari larutan asam


tungstat ke dalam tabung destilat 125 ml, tambahkan 10 ml merkuri
klorida jenuh dan 10 ml suspensi kalsium hidroksida. Campuran ini
didestilasi kembali dan analisis selanjutnya seperti cara kerja
spesimen darah, urin, saliva.

b. Untuk menentukan submikro dan ultramikro yang terbawa dalam


darah segar dan urin pada metode difusi cawan Conway. Untuk
analisa submikro, 0,01 ml darah atau urin ditempatkan pada bagian
luar dari cincin chamber dari cawan conway, dan 1,00 ml kalium
karbonat untuk memudahkan pelepasan alkohol, 2,50 ml kalium
dikromat, reagen oksidasi ditempatkan di tepi cawan Conway.
Untuk analisa ultramikro, 0,02 ml sampel ditempatkan diluar cincin
chamber dari cawan conway yang berdiameter 44 mm, bersamaan
dengan 0,50 ml reagen oksidasi kalium dikromat di tepi cawan
conway.

162
DAFTAR PUSTAKA

1. Clinical and Laboratory Standards Institute. 2002. Gas Chromatography/Mass


Spectrometry (GC/MS) Confirmation of Drugs, approved Guideline, Vol. 22.
Number 22. Diakses dari URL : www.nccls.org.
2. Departemen Kesehatan RI, Direktorat Laboratorium Kesehatan. 2002.
Pedoman Pemeriksaan Barbiturat, Benzodiazepin dan Alkohol Dalam
Spesimen Manusia Dengan Metode KLT, KG dan Spektrofotometer. Jakarta.
3. Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik.
2004.Pedoman Pemeriksaan Laboratorium Toksikologi Obat. Jakarta.
4. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Direktorat Jenderal
Kesehatan Masyarakat. 2001.Buku Pedoman Praktis Mengenai
Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Adiktif Lainnya (NAPZA). Jakarta.
5. Department of Health and Human Services, Substance Abuse and Mental
Health Services Administration. 2004. The Mandatory Guidelines for Federal
Workplace Drug Testing Programs. Diakses dari URL :
www.drugfreeworkplace.gov.
6. Moffat, A.C. et al. (ed.) 1986. Edisi 2. Clarke’s Isolation and Identification of
Drugs. The Pharmaceutical Press. London.
7. Moffat, A.C. et al. (ed.) 2004. Edisi 3.Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons.
Vo.1 dan 2.The Pharmaceutical Press. London.
8. Regional Laboratory for Toxicology.2007. Drugs of Abuse Guidelines. Diakses
dari URL : www. Toxlab.co.uk.
9. United Nations. Division of Narcotic Drugs. Recommended Methods for Testing
Amphetamine and Methamphetamine. New York. 1987.
10. Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika
11. Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika
12. United Nations. Division of Narcotic Drugs. 1998. Recommended Methods for
Testing Barbiturate Under International Control. New York.
13. United Nations. Division of Narcotic Drugs. Recommended Methods for Testing
Benzodiazepine Derivatives Under International Control. New York. 1988.
14. United Nations. Division of Narcotic Drugs. 1987. Recommended Methods for
Testing Cannabis. New York.
15. United Nations. Division of Narcotic Drugs. 1986. Recommended Methods for
Testing Heroin. New York.
16. United Nations International (Drugs Control Programme). 1995. Recommended
Methods for The Detection and Assay of Heroin, Cannabinoids, Cocaine,
Amphetamine, Methamphetamine and Ring – Substituted Amphetamine
Derivatives in Biological Specimens. New York.
17. United Nations. Division of Narcotic Drugs. 1987. Recommended Methods for
Testing Illicit Ring-Subtituted Amphetamine Derivatives. New York.
18. United Nations. Division of Narcotic Drugs. 1988. Recommended Methods for
Testing Opium, Morphine and Heroin. New York.
19. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org/
wiki/amphetamine/
20. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org
/wiki/barbiturate/
21. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org/
wiki/benzodiazepine/
22. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org/
wiki/buprenorphine/
23. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org/
wiki/cannabinoids/
24. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org/
wiki/cocaine/
25. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org/
wiki/heroin/.
26. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org/
wiki/methadone/
27. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org
/wiki/methamphetamine/
28. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL : http://en.wikipedia.org/
wiki/methylenedioxymethamphetamine/
29. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL :
http://en.wikipedia.org/wiki/morphine/
30. Wikipedia. The Free Encyclopedia. Di akses di URL :
http://en.wikipedia.org/wiki/nitrazepam/

Anda mungkin juga menyukai