Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejak dahulu di dalam kehidupan, manusia tidak dapat dipisahkan dengan
panas. Pada jaman modern ini banyak fasilitas yang tercipta yang berhubungan
dengan panas, tetapi selain kegunaannya pada manusia tidak jarang pula terjadi efek
samping negatif, sehingga terjadi korban yang meninggal akibat luka bakar oleh panas
(Algozi, 2013).

Luka bakar berat adalah luka yang kompleks. Sejumlah fungsi organ tubuh
ikut terpengaruh. Luka bakar bisa mempengaruhi otot, tulang, saraf, dan pembuluh
darah. Sistem pernapasan dapat juga rusak, kemungkinan adanya penyumbatan udara,
gagal napas, dan henti napas. Karena luka bakar mengenai kulit, maka luka tersebut
dapat merusak keseimbangan cairan atau elektrolit normal tubuh, temperatur tubuh,
pengaturan suhu tubuh, fungsi sendi, dan penampilan fisik. Sebagai tambahan
terhadap kerusakan fisik yang disebabkan oleh luka bakar, pasien juga bisa menderita
permasalahan psikologis dan emosional yang dimulai sejak peristiwa terjadi dan bisa
bertahan atau berlangsung untuk jangka waktu yang lama (Algozi, 2013).

Diperkirakan terdapat 2,4 juta kasus luka bakar dalam setahun di Amerika
Serikat, sekitar 8.000-12.000 pasien dengan luka bakar meninggal dan sekitar 1 juta
pasien akan mengalami cacat substansial atau permanen yang diakibatkan oleh luka
bakar yang dialami. Penelitian yang menggunakan subjek penderita luka bakar rawat
inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada bulan Januari 1998
sampai Mei 2001 menyebutkan bahwa dari 156 penderita terdapat angka mortalitas
sebesar 27,6% dimana penderita terbanyak berusia 19 tahun dan laki-laki lebih
banyak daripada perempuan. Penyebab luka bakar tersering adalah terkena api
(55,1%) dan tempat kejadian luka bakar tersering adalah di rumah (72,4%) (Dewi,
2011)

Luka bakar merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak akibat kecelakaan


pada semua kelompok umur. Berdasarkan aspek medikolegal, seorang dokter harus
melakukan pemeriksaan terhadap korban yang mengalami luka bakar baik yang masih
hidup maupun yang telah mati. Indikasi untuk melakukan pembunuhan dengan
mempersulit identifikasi korban melalui luka bakar juga memiliki prevalensi yang
cukup tinggi (90%). Maka dari itu diperlukan suatu keahlian khusus untuk
membedakan apakah luka bakar terjadi saat masih hidup (antemortem) atau saat
sudah mati (postmortem) untuk menutupi penyebab kematian sebenarnya (Dewi,
2013).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan trauma termik?
2. Apakah yang dimaksud dengan derajat luka bakar?
3. Bagaimana cara menangani pasien meninggal dengan trauma termik?
4. Bagaimana cara menentukan derajat luka berdasar lokasi, dan waktu nya?
5. Bagaimana dasar hukum luka terhadap kepentingan forensik?

C. TUJUAN
a. Umum
Untuk mengetahui cara penanganan korban yang meninggal karena
trauma termik.

b. Khusus
1. Mengetahui definisi trauma termik
2. Mengetahui cara kejadian terjadinya luka bakar.
3. Mengetahui sebab kematian yang disebabkan oleh luka bakar.
4. Mengetahui derajat luka bakar.

D. MANFAAT
a. Teoritis
Menambah Pengetahuan tentang trauma termik
b. Praktis
Membantu peyidik dalam kasus kebakaran
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Luka bakar didefinisikan sebagai jaringan rusak yang disebabkan oleh panas.
Luka bakar biasanya terjadi karena sumber panas yang kering ”dry heat” dan sumber
panas yang basah “wet heat” (Dix, 2000)
B. PENYEBAB KEMATIAN
Penyebab kematian yang sering ditemukan menurut Dimaio (2001) pada korban
luka bakar antara lain:
1. Syok
Keadaan ini biasanya terjadi dalam 48 jam pertama, bisa berupa syok hipovolemia
akibat penurunan volume intravaskular atau berupa syok neurogenik akibat rasa
nyeri atau ketakutan
2. Asfiksia
Hal ini akibat inhalasi gas panas, asap, atau gas sisa pembakaran. Jika pada suatu
kasus, korban ditemukan di rumah yang sudah terbakar, maka luka bakar yang
terjadi bisa merupakan postmortem
3. Cedera dan kecelakaan
Hal ini bisa dialami sewaktu berusaha menghindari kebakaran dan mengakibatkan
cedera fatal.
C. CARA KEJADIAN
1. Kecelakaan
Kematian karena arus listrik atau electrical shock deaths sering terjadi pada
waktu musim hujan dan orang menutupi kebocoran kebocoran yang ada akan tetapi
dengan tidak disadari terpegang kabel beraliran listrik yang isolatornya tidak baik,
atau korban memegang atap seng yang bersentuhan dengan kabel listrik tadi.
Selain kematian karena arus listrik, luka bakar karena kecelakaan sering
terjadi karena terkena tumpahan air panas, ledakan gas elpiji karena kebocoran gas.
Pada pemukiman padat penduduk seperti rumah susun rawan terjadi kebakaran
yang masif, sehingga menghasilkan jumlah korban luka bakar yang cukup banyak.
2. Pembunuhan
Kemungkinan adanya anak peluru dalam tengkorak, patahnya tulang lidah
pada pencekikan, terberak, patahnya tulang lidah pada pencekikan, terbelahnya
jantung karena tusukan benda tajam, retaknya tengkorak yang disertai dengan
kerusakan jaringan otak dan perdarahan intrakranial akibat kekerasan benda
tumpul, demikian pula adanya racun-racun di dalam tubuh korban, yang bila
ditemukan pada korban, akan mengungkapkan sebab kematian yang sebenarnya
dan tentunya cara kematian, bukan lagi kecelakaan melainkan pembunuhan atau
bunuh diri (Simpson, 1997).
3. Bunuh Diri
Pada kasus bunuh diri, barang-barang di sekitar korban masih tampak pada
tempatnya yang sesuai (tidak berantakan) (Algozali, 2013)

A. DERAJAT LUKA BAKAR


Berdasarkan kedalamannya, luka bakar terbagai atas (Mosier, 2010) :
1. Luka bakar derajat I
Luka bakar derajat 1, juga
disebut luka bakar
superfisial. Pada luka bakar
derajat ini, hanya lapisan
terluar kulit, yaitu epidermis
yang mengalami kerusakan
akibat paparan panas/api.
Karakteristik luka berupa
kemerahan (eritema), terasa
nyeri, dan tidak terbentuk
blister.
2. Luka bakar derajat II
Luka bakar derajat II disebut
juga luka bakar dengan
ketebalan parsial (partial
thickness burn). Luka bakar
tipe ini melibatkan lapisan
dermis kulit. Kulit yang
terbakar akan berwarna
merah, jika luka bakar hanya
sampai lapisan pars papillare
dermis, atau berwarna putih
jika hingga lapisan pars
retikulare dermis. Luka bakar
ini bisa disertai blister dan
rasa nyeri.
3. Luka bakar derajat III
Luka bakar derajat III disebut
juga luka bakar dengan
ketebalan penuh (full
thickness burn). Luka bakar
ini merusak lapisan
epidermis, seluruh dermis,
hingga lapisan jaringan
adiposa/lemak di bawah kulit.
Selain itu, luka bakar derajat
III juga merusak saraf,
sehingga area yang terkena
bisa terasa keram hingga
anestesi. Tampilan dan
sensasi kulit berubah, kulit
bisa berwarna putih atau
perak.
4. Luka bakar derajat IV
Luka bakar derajat IV
merupakan jenis luka bakar
yang paling berat. Jenis ini
meliputi luka bakar seluruh
jaringan kulit hingga jaringan
otot dan tulang. Kulit yang
terkena berwana hitam (peng-
arangan). Terdapat keru-
sakan jaringan saraf sehingga
pasien tidak merasa nyeri.

Berat ringannya luka bakar menurut Australian and New Zealand Burn
Assoiation (2013) adalah sebagai berikut:
1. Luka Bakar Ringan: luka bakar derajat I, luka bakar derajat II seluas <15%,
dan luka bakar derajat III seluas < 2%
2. Luka Bakar Sedang: luka bakar derajat II seluas 15-20% dan luka bakar derajat
III seluas 2-10%
3. Luka Bakar Berat: luka bakar derajat II seluas >20%, luka bakar derajat II
yang mengenai wajah, tangan, kaki, alat kelamin, atau persendian sekitar
ketiak, luka bakar derajat III seluas >10%, luka bakar akibat listrik dengan
tegangan >1000 volt, dan luka bakar dengan komplikasi patah tulang,
kerusakan luas jaringan lunak atau gangguan jalan napas

B. LUAS LUKA BAKAR (RULES OF NINE)


Pada orang dewasa “rumus 9” seperti berikut; luas kepala dan leher 9%,
tangan kanan 9%, tangan kiri 9%, dada dan perut 18%, punggung dan bokong 18%,
kaki kanan 18%, kaki kiri 18%, dan genital 1%. Rumus ini membantu untuk
memperkirakan luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa. (Bisono,
1997)
Pada bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala bayi
jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Karena perbedaan
tersebut “rumus 9” pada bayi seperti berikut; kepala dan leher 18%, tangan kanan 9%,
tangan kiri 9%, dada dan perut 18%, punggung 13%, bokong kanan 2,5%, bokong kiri
2,5%, kaki kanan 14%, kaki kiri 14%. Setiap penambahan umur 1 tahun, luas area
kepala dikurangi 1% dan jumlah yang sama ditambah pada setiap ekstremitas bawah
(kiri 0,5% & kanan 0,5%). Setelah usia 10 tahun digunakan persentase orang dewasa.
(MMN, 2015)
F. PEMERIKSAAN LUAR DAN PEMERIKSAAN DALAM PADA KORBAN
YANG MENINGGAL KARENA LUKA BAKAR

F.1. PEMERIKSAAN LUAR

1. Pakaian dari korban diambil dan diperiksa secara teliti untuk mencari terdapatnya
minyak tanah,bensin atau bahan lainnya yang mudah terbakar (Mosier, 2010).
2. Gambaran kulit bisa bervariasi, misalnya :
a. Putih. Pada luka bakar akibat panas radiasi.
b. Melepuh dan merah. Ukuran dan bentuknya bergantung pada ukuran benda
panas. Bentuk luka seperti ini adalah karena bersentuhan dengan benda
panas.
c. Luka merah terpanggang. Merupakan akibat bersentuhan dengan benda
panas dalam waktu yang cukup lama.
d. Kehitaman dan seperti tattoo. Merupakan luka akibat ledakan tambang
batubara. Biasanya ukuran luka sangat luas.
e. Hitam dan berjelaga pada beberapa bagian tubuh, yaitu luka bakar akibat
minyak tanah.
f. Kemerahan dan pembentukan vesikel pada kulit, yaitu akibat terkena uap
panas, misalnya dari air mendidih atau uap panas.
g. Luka basah dan kulit kehilangan sifat elastisnya, yaitu pada luka bakar
akibat uap yang sangat panas.
3. Sikap pugilistik.
Sikap ini mirip sikap defensive dan terdapat pada mayat yang lama terpapar
temperatur tinggi sehingga mayat menjadi kaku.
Kekakuan post-mortem pada otot-ototnya yang disebabkan oleh karena
terjadinya koagulasi protein-protein otot yang terkena panas. Pada keadaan ini
tidak terjadi rigor mortis dan keadaan ini berlangsung sampai proses pembusukan
terjadi. Pada tubuh yang terbakar akan terjadi fleksi pada siku, lutut, dan paha,
sehingga posisi korban menyerupai orang ang bertinju yang disebut Pugillistic
Attitude (Algozali, 2013)
Pada beberapa kasus temperatur yang sangat tinggi ini bisa mengakibatkan
keretakan dan celah sehingga sangat mirip dengan luka potong.
4. Lebam Mayat
Pada kematian akibat luka bakar, lebam mayat yang terjadi kadang-kadang
sukar dilihat. Bila masih ada sebagian tunuh yang tidak terbakar, maka lebam
mayat masih dapat ditemukan pada daerah tersebut (Algozali, 2013).
5. Penentuan jenis kelamin adalah berdasarkan :
a. Adanya uterus atau kelenjar prostat. Kedua jaringan tersebut lebih tahan
terhadap suhu tinggi dibandingkan jaringan tubuh lainnya.
b. Jika yang tertinggal hanya tulang kerangka, maka proses identifikasinya
berdasarkan ukuran dan bentuk tulang pelvis.

F.2 PEMERIKSAAN DALAM

1. Hematoma dalam kepala (pseudoepidural hematom) hampir selalu ada jika


tulang tengkorak terbakar. Hematoma ini lunak, berupa bekuan darah
berwarna coklat dan sangat rapuh serta tampak seperti sarang lebah.
2. Tulang tengkorak sering mengalami fraktur pada kematian akibat
kebakaran. Jaringan otak sangat menyusut walau bentuknya masih dapat
dikenali. Lapisan yang menutupi otak dan meanings mengalami kongesti.
3. Jika kematian akibat asfiksia, pada traktus respiratorius bisa ditemukan
partikel karbon. Seluruh traktus respiratorius bagian atas mengalami
kongesti dan dilapisi cairan mukus yang berbusa.
4. Inflamasi pleura bisa terjadi dan terdapat efusi ke dalam rongga pleura
5. Bilik jantung penuh berisi darah.
6. Lambung dan duodenum menunjukkan reaksi inflamasi. Setelah kematian,
pada duodenum mungkin terdapat tukak yang disebut tukak Curling
(Curling’s ulcer).
7. Pada hati terdapat perlemakan.
8. Pada ginjal terdapat pembengkakan (cloudy swelling), thrombosis kapiler,
bahkan mengalami infark.
9. Limpa dan kelenjar mengalami kongesti.

G. IDENTIFIKASI KORBAN
Identifikasi merupakan proses untuk mencari tahu, meneliti sesuatu hal yang
kabur, tidak jelas, atau tidak diketahui agar menjadi jelas identitas atau asal-usulnya.
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu
penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi melingkupi beberapa hal,
antara lain :
a. Pemeriksaan sidik jari
Metode ini dilakukan dengan cara membandingkan sidik jari pada jenazah
dengan data sidik jari antemortem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari
merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk
menentukan identitas seseorang. (Veneza, 2013)
b. Pemeriksaan gigi
Pemeriksaan gigi meliputi pencatatan gigi (odontogram) dan rahang yang
dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar X, dan
pencetakan gigi-rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk,
susunan, tambalan, protesa gigi, dan sebagainya. Seperti halnya sidik jari,
setiap individu memiliki susunan gigi yang khas sehingga dapat dilakukan
identifikasi dengan cara membandingkan data temuan dengan data
antemortem. (Veneza, 2013)
c. Pemeriksaan DNA
Identifikasi dengan pemeriksaan DNA merupakan upaya untuk
membandingkan profil DNA korban dengan DNA pembanding, sehingga
didapatkan hasil DNA yang cocok atau tidak cocok.(Syukriani, 2012)

H. PERBANDINGAN LUKA BAKAR ANTE-MORTEM DAN POST-MORTEM


Pemeriksaan forensik dapat dilakukan untuk mengetahui bahwa apakah
jenazah yang meninggal pada peristiwa kebakaran meninggal akibat luka bakar atau
sudah meninggal sebelum terjadinya luka bakar. Pada korban yang masih hidup saat
terbakar akan ditemukan adanya gelembung yang terbentuk, adanya jelaga pada
saluran pernafasan, serta saturasi karbon monoksida (CO) dalam darah korban > 10%.
Pada korban yang keracunan CO, jika tubuh korban tidak terbakar seluruhnya, akan
terbentuk lebam mayat berwarna merah terang (cherry red). Pada tubuh manusia yang
telah mati sebelum dibakar, bila dibakar tidak akan berwarna kemerahan oleh reaksi
intravital. Tubuh mayat akan tampak keras dan kekuningan.
Gelembung yang terdapat akan berisi cairan yang mengandung sedikit albumin
yang memberikan sedikit kekeruhan bila dipanaskan, serta sangat sedikit atau tidak
ditemukan sel polimorfonuklear (PMN).
Ada tiga poin utama untuk membedakan luka bakar antemortem dan
postmortem, yaitu batas kemerahan, vesikasi, dan proses perbaikan. Pada kasus luka
bakar antemortem, terdapat eritema yang disebabkan oleh distensi kapiler yang
sifatnya sementara, menghilang akibat tekanan saat masih hidup, kemudian memudar
setelah mati. Namun, garis merah ini bisa saja tidak ada pada orang yang sangat
lemah kondisinya, yang meninggal segera setelah syok karena luka bakar tersebut.
Vesikasi yang timbul akibat luka bakar antemortem mengandung cairan serosa
yang berisi albuin, klorida, sedikit PMN, memiliki daerah yang berwarna kemerahan,
dan dasarnya inflamasi dengan papilla yang meninggi. Kulit yang mengelilingi
vesikasi tersebut berwarna merah cerah atau berwarna tembaga. Hal ini merupakan
ciri khas yang membedakan vesikasi sejati dengan vesikasi palsu yang timbul setelah
mati. Vesikasi palsu hanya mengandung udara dan biasanya juga mengandung serum
yang jumlahnya sedikit, berisi albumin, namun tidak ada klorida. (Dewi, 2013)
Proses perbaikan, seperti tanda-tanda inflamasi, pembentukan jaringan
granulasi, pus, dan pengelupasan, menunjukkan bahwa luka bakar tersebut terjadi saat
korban masih hidup. Luka bakar yang disebabkan setelah mati menunjukkan tidak ada
reaksi vital dan memiliki tampakan dull white dengan membukanya kelenjar pada
kulit yang berwarna abu-abu. Organ internal terpanggang dan menimbulkan bau yang
khas.(Dewi, 2013)
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Luka bakar didefinisikan sebagai jaringan rusak yang disebabkan oleh


panas. Luka bakar biasanya terjadi karena sumber panas yang kering ”dry heat”
dan sumber panas yang basah “wet heat”. Kematian pada luka bakar disebabkan
karena syok, asfiksia, cedera dan kecelakaan. Sementara itu luka bakar dapat
terjadi dengan cara bunuh diri, pembunuhan, atau terjadi karena adanya
kecelakaan yang dapat menyebabkan kontak panas dengan tubuh. Derajat luka
bakar sendiri dibagi menurut kedalaman dan berat ringannya. Derajat luka bakar
menurut kedalamannya terdiri dari luka bakar derajat I-IV. Sedangkan derajat
luka bakar menurut berat ringannya terdiri dari luka bakar ringan, sedang, dan
berat. Untuk menentukan luas luka bakar, digunakan rumus Rules of Nine, yang
terdiri dari luas kepala dan leher 9%, tangan kanan 9%, tangan kiri 9%, dada dan
perut 18%, punggung dan bokong 18%, kaki kanan 18%, kaki kiri 18%, dan
genital 1%. Rumus ini membantu untuk memperkirakan luasnya permukaan
tubuh yang terbakar pada orang dewasa.
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA

Algozi, A. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Surabaya: Fakultas Kedokteran


Universitas Wijaya Kusuma Surabaya;2013. h. 71
Bisono, P. 1997. Luka, Trauma, Syok dan Bencana. Hlm 81-91. Pada: Buku Ajar Ilmu
Bedah. Syamsuhidajat R. and W.D. Jong. Jakarta: EGC.
Dewi D, Sanarto, Taqiyah B. Pengaruh frekuensi perawatan luka bakar derajat II dengan
madu nectar flora terhadap lama penyembuhan luka. Malang: Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya; 2011.
Dewi YRS. Luka bakar: konsep umum dan investigasi berbasis klinis luka antemortem dan
postmortem. Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana; 2013.
Dimaio Vincent, Dimaio Dominic. Fire Deaths. Forensic Pathology second edition. Florida :
CRC Press ; 2001
Dix Jay.Chapter 10 : Thermal Injury. Color Atlas of Forensic Pathology. New York: CRC
Press LLC ; 2000. P.116.
Mosier Michael, Gibran Nicole. Management of the patient with termal injuries. ACS
Surgery. New york : Decter Intellectual properties ; 2010.
Simpson CK. Injury due to heat, cold and electricity. In: Knight B, editor. Simpson's Forensic
Medicine. 11 ed. New York: Oxford University Press Inc.; 1997. p.143
Surgery Medical Mini Notes: 2015. p 124-132.
Syukriani Y. DNA Forensik. Bandung: Sagung Seto; 2012. h. 10.
Veneza ADA. Fungsi sidik jari dalam mengidentifikasi korban dan pelaku tindak pidana.
Makassar: Universitas Hassanuddin; 2013.