Anda di halaman 1dari 19

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Ruang Lingkup Sanitasi Lingkungan


2.2.Sanitasi Dasar
2.2.1.Penyediaan Air Bersih
2.2.2. Pembuangan Kotoran Manusia
2.2.3. Pembuangan Air Limbah
2.2.4.Pengelolaan Sampah

2.3. Pengetahuan
2.1.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yakni: indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.5

2.1.2 Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang mencakup dalam dominan kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk
kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)sesuatu yang spesifik
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang
tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,
menyatakan, dan sebagainya.6

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar obyek yang
diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi secara benar.6

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau
situasi yang lalu.6
4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau suatu obyek kedalam
komponen-komponen, tapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya
satu sama lain.6

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-
bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada.6

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan pada suatu kriteria
yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.6

2.1.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan diantaranya sebagai berikut :


1) Pendidikan

Tingkat pendidikan menentukan pola pikir dan wawasan seseorang. Semakintinggi


pendidikan seseorang maka diharapkan stok modal semakin meningkat.Pendidikan memiliki
peranan yang penting dalam kualitas. Lewatpendidikan manusia dianggap akan memperoleh
pengetahuan.7

2) Media massa/ informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun nonformal dapat
memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan
atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media
massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai
sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah,
dan lain lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.
Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-
pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru
mengenai sesuatu hal memberi landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan
terhadap hal tersebut.7
3) Sosial budaya dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah
yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah
pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan
menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga
status social ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.7
4) Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik,
biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke
dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya
interaksi timbale balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap
individu.7

5) Usia

Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin
bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga
pengetahuan yang diperoleh semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih banyak
melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu
orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.
Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hampir
tidak ada penurunan pada usia ini.7

2.4. Sikap

2.2.1 Definisi Sikap

Sikap merupakan suatu respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak
senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya). Sikap merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak.5

2.2.2 Komponen Pokok Sikap

Sikap mempunyai tiga komponen pokok, yaitu :


1) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3) Kecenderungan untuk bertindak
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh. Sikap yang utuh
ditentukan oleh pengetahuan, pikiran , keyakinan, dan emosi.5
2.2.3 Tingkatan Sikap

Sikap mempunyai tingkatan-tingkatan, yaitu :


1) Menerima yaitu menerima stimulus yang diberikan (objek)
2) Menanggapi/ merespon yaitu memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan
atau objek yang dihadapi.
3) Menghargai yaitu memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus, membahasnya
dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi orang lain.
4) Bertanggung jawab yaitu bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya.

2.2.4. Pengukuran Sikap

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.


Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan tentang stimulus atau objek yang bersangkutan. Pertanyaan secara langsung juga
dapat dilakukan dengan cara memberikan pendapat dengan menggunakan kata “setuju” atau
“tidak setuju” terhadap pernyataan terhadap objek tertentu.6

2.5. Perilaku

2.1.1. Defenisi Perilaku Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan
atau lingkungan (Depdiknas, 2005). Dari pandangan biologis perilaku merupakan suatu
kegiatan atau aktifitas organisme yang bersangkutan. Robert Kwick (1974), menyatakan
bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan
bahkan dapat dipelajari. (dikutip dari Notoatmodjo, 2003). Skinner (1938) merumuskan
bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus/ rangsangan dari
luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya organisme. Dan kemudian
organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut “S-O-R” atau stimulus-
organisme-respon. 2.1.2. Klasifikasi perilaku Menurut Skinner (1938), dilihat dari bentuk
respon terhadap stimulus maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu: a). Perilaku
tertutup Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup. Respon
atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan,
kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut dan belum
dapat diamati secara jelas.
b). Perilaku terbuka Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek
yang dengan mudah dapat diamati atau dengan mudah dipelajari. Menurut Notoatmodjo
(1993) bentuk operasional dari perilaku dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis yaitu: 1.
Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari
luar. 2. Perilaku dalam bentuk sikap yaitu tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan
dari luar. Dalam hal ini lingkungan berperan dalam membentuk perilaku manusia yang ada di
dalamnya. Sementara itu lingkungan terdiri dari, lingkungan pertama adalah lingkungan alam
yang bersifat fisik dan akan mencetak perilaku manusia sesuai dengan sifat dan keadaaan
alam tersebut. Sedangkan lingkungan yang kedua adalah lingkungan sosial budaya yang
bersifat non fisik tetapi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembentukan perilaku
manusia. 3. Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, yakni berupa perbuatan atau
action terhadap situasi atau rangsangan dari luar. Klasifikasi perilaku yang berhubungan
dengan kesehatan (health related behaviour) menurut Becker (1979, dikutip dari
Notoatmodjo, 2003) sebagai berikut: 1. Perilaku kesehatan, yaitu tindakan seseorang dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

2. Perilaku sakit, yakni segala tindakan seseorang yang merasa sakit untuk merasakan dan
mengenal keadaan kesehatannya termasuk juga pengetahuan individu untuk mengidentifikasi
penyakit, serta usaha mencegah penyakit tersebut. 3. Perilaku peran sakit, yakni segala
tindakan seseorang yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. 2.1.3. Faktor-faktor
yang berperan dalam pembentukan perilaku Menurut Notoatmodjo (1993) faktor-faktor yang
berperan dalam pembentukan perilaku dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu: 1. Faktor
internal Faktor yang berada dalam diri individu itu sendiri yaitu berupa kecerdasan, persepsi,
motivasi, minat, emosi dan sebagainya untuk mengolah pengaruh-pengaruh dari luar.
Motivasi merupakan penggerak perilaku, hubungan antara kedua konstruksi ini cukup
kompleks, antara lain dapat dilihat sebagai berikut: a. Motivasi yang sama dapat saja
menggerakkan perilaku yang berbeda demikian pula perilaku yang sama dapat saja diarahkan
oleh motivasi yang berbeda. b. Motivasi mengarahkan perilaku pada tujuan tertentu. c.
Penguatan positif/ positive reinforcement menyebabkan satu perilaku tertentu cenderung
untuk diulang kembali. d. Kekuatan perilaku dapat melemah akibat dari perbuatan itu bersifat
tidak menyenangkan.
2. Faktor eksternal Faktor-faktor yang berada diluar individu yang bersangkutan yang
meliputi objek, orang, kelompok dan hasil-hasil kebudayaan yang disajikan sasaran dalam
mewujudkan bentuk perilakunya. Konsep umum yang digunakan untuk mendiagnosis
perilaku adalah konsep dari Lawrence Green (1980), dalam Notoatmodjo (2003) menurut
Lawrence Green perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yakni : 1. Faktor predisposisi
(predisposing faktor). Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat
terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial
ekonomi dfan sebagainya. 2. Faktor pemungkin (enabling faktor) Faktor-faktor ini mencakup
ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. 3. Faktor penguat
(reinforcing faktor) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat,
tokoh agama dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan, suami dalam memberikan
dukungannya kepada ibu primipara dalam merawat bayi baru lahir. 2.1.4. Domain Perilaku
Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Bloom
(1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku dalam tiga domain yaitu terdiri
dari domain kognitif, domain afektif dan domain psikomotor. Dalam perkembangan
selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk pengukuran hasil maka ketiga domain ini
diukur dari pengetahuan, sikap dan tindakan (Dikutip dari Notoatmodjo, 1993). Tetapi dalam
penelitian ini peneliti hanya meneliti domain kognitif dan domain psikomotor
2.6. STBM
2.6.1. Sejarah STBM
STBM merupakan adopsi dari keberhasilan pembangunan sanitasi total

dengan menerapkan model CLTS (Community Led Total Sanitation). Pendekatan

CLTS sendiri diperkenalkan oleh Kamal Kar dari India pada tahun 2004. Di tahun

yang sama, Pemerintah Indonesia melakukan studi banding ke India dan

Bangladesh. Penerapannya dimulai pertengahan tahun 2005, ketika pemerintah

meluncurkan penggunaan metode ini di 6 desa yang terletak di 6 provinsi. Pada

Juni 2006, Departemen Kesehatan mendeklarasikan pendekatan CLTS sebagai

strategi nasional untuk program Sanitasi (Percik, 2008).

Pada September 2006, program WSLIC ( Water and Sanitation for Low

Income Communities) memutuskan untuk menerapkan pendekatan CLTS sebagai

pengganti pendekatan dana bergulir di seluruh lokasi program (36 kabupaten).

Pada saat yang sama, beberapa LSM mulai mengadopsi pendekatan ini. Mulai

Januari sampai Mei 2007, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Bank Dunia

merancang proyek PAMSIMAS di 115 kabupaten. Program ini mengadopsi

pendekatan CLTS dalam rancangannya (Percik, 2008).


Bulan Juli 2007 menjadi periode yang sangat penting bagi perkembangan

CLTS di Indonesia, karena pemerintah bekerja sama dengan Bank Dunia mulai

mengimplementasikan sebuah proyek yang mengadopsi pendekatan sanitasi total


bernama Total Sanitation and Sanitation Marketing (TSSM) atau Sanitasi Total dan

pemasaran sanitasi (SToPS), dan pada tahun 2008 diluncurkannya sanitasi total berbasis

masyarakat (STBM) sebagai strategi nasional (Kepmenkes RI No.

852/MENKES/SK/IX/2008).

STBM yang tertuang dalam kepmenkes tersebut menekankan pada

perubahan prilaku masyarakat untuk membangunan sarana sanitasi dasar dengan

melalui upaya sanitasi meliputi tidak BAB sembarangan, mencuci tangan pakai

sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah dengan

benar mengelola limbah air rumah tangga dengan aman nasional. Ciri utama dari

pendekatan ini adalah tidak adanya subsidi terhadap infrastruktur (jamban

keluarga), dan tidak menetapkan jamban yang nantinya akan dibangun oleh

masyarakat. Pada dasarnya program STBM ini adalah “pemberdayaan” dan “tidak

membicarakan masalah subsidi”. Artinya, masyarakat yang dijadikan “guru”

dengan tidak memberikan subsidi sama sekali (Kepmenkes RI No.852/

MENKES/SK/IX/2008).

2.6.2. Definisi

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disingkat STBM

adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui

pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. (Permenkes RI No. 03 Tahun

2014 Tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).

Program STBM memiliki indikator outcome dan indikator output.

Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit.

berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Sedangkan indikator output STBM adalah sebagai berikut :


a. Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar

sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di

sembarang tempat (Open Defecation Free).

b. Setiap rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan

yang aman di rumah tangga.

c. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas

(seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia

fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang

mencuci tangan dengan benar.

d. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.

e. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.

Untuk mencapai outcome tersebut, STBM memiliki 6 (enam) strategi

nasional yang pada bulan September 2008 telah dikukuhkan melalui Kepmenkes

No.852/Menkes/SK/IX/2008. Dengan demikian, strategi ini menjadi acuan bagi

petugas kesehatan dan instansi yang terkait dalam penyusunan perencanaan,

pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait dengan sanitasi total berbasis

masyarakat. Pada tahun 2014, naungan hukum pelaksanaan STBM diperkuat

dengan dikeluarkannya PERMENKES Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi

Total Berbasis Masyarakat. Dengan demikian, secara otomatis Kepmenkes

No.852/Menkes/SK/IX/2008 telah tidak berlaku lagi sejak terbitnya Permenkes

Nomor 3 tahun 2014 (PERMENKES Nomor 3 Tahun 2014).


2.6.3.Tujuan
Penyelenggaraan STBM bertujuan untuk mewujudkan perilaku

masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. (Permenkes RI No.03

tahun 2014).

2.6.4. Lima Pilar STBM

Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan lima

pilar akan mempermudah upaya meningkatkan akses sanitasi masyarakat yang

lebih baik serta mengubah dan mempertahankan keberlanjutan budaya hidup

bersih dan sehat. Pelaksanaan STBM dalam jangka panjang dapat menurunkan

angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh sanitasi yang kurang baik,

dan dapat mendorong tewujudnya masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan

(Permenkes RI No.03 tahun 2014).

Pilar STBM terdiri atas perilaku:

a. Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS)

Suatu kondisi ketika setiap individu dalam suatu komunitas tidak lagi

melakukan perilaku buang air besar sembarangan yang berpotensi

menyebarkan penyakit dengan dapat mengakses jamban.


b. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

Perilaku cuci tangan dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun.

c. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT)

Masyarakat melakukan kegiatan mengelola air minum dan makanan di rumah

tangga untuk memperbaiki dan menjaga kualitas air dari sumber air yang akan

digunakan untuk air minum, serta untuk menerapkan prinsip hygiene sanitasi

pangan dalam proses pengelolaan makanan di rumah tangga.

d. Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PSRT)

Masyarakat dapat melakukan kegiatan pengolahan sampah di rumah tangga

dengan mengedepankan prinsip 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse

(memakai ulang), dan Recycle (mendaur ulang)

e. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga (PLCRT)

Masyarakat melakukan kegiatan pengolahan limbah cair di rumah tangga yang

berasal dari sisa kegiatan mencuci, kamar mandi dan dapur yang memenuhi

standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan yang

mampu memutusan mata rantai penularan penyakit serta mengurangi

pencemaran terhadap lingkungan. ( Kemenkes RI, 2014)

2.6.5. Prinsip-prinsip STBM

Sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dalam pelaksanaanya program

ini mempunyai beberapa prinsip utama, yaitu :


1. Tidak adanya subsidi yang diberikan kepada masyarakat, tidak terkecuali

untuk kelompok miskin untuk penyediaan fasilitas sanitasi dasar.

2. Meningkatkan ketersediaan sarana sanitasi yang sesuai dengan

kemampuandan kebutuhan masyarakat sasaran.

3. Menciptakan prilaku masyarakat yang higienis dan saniter untuk mendukung

terciptanya sanitasi total.

4. Masyarakat sebagai pemimpin dan seluruh masyarakat terlibat dalam analisa

permasalahan, perencanaan, pelaksanaan serta pemanfaatan dan

pemeliharaan.

5. Melibatkan masyarakat dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi

(Permenkes RI No.03 tahun 2014).

2.6.6. Metode STBM

Implementasi STBM di masyarakat pada intinya adalah pemicuan setelah

sebelumnya dilakukan analisa partisipatif oleh masyarakat itu sendiri (Permenkes

RI No.03 tahun 2014).

Untuk memfasilitasi masyarakat dalam menganalisa kondisinya, ada

beberapa metode yang dapat diterapkan dalam kegiatan STBM, seperti :

1. Pemetaan

Bertujuan untuk mengetahui / melihat peta wilayah BAB masyarakat serta

sebagai alat monitoring (pasca triggering, setelah ada mobilisasi masyarakat).

Alat yang diperlukan :

1. Tanah lapang atau halaman.


2. Bubuk putih untuk membuat batas desa.

3. Potongan-potongan kertas untuk menggambarkan rumah penduduk.

4. Bubuk kuning untuk menggambarkan kotoran.

5. Kapur tulis berwarna untuk garis akses penduduk terhadap sarana

sanitasi.

Proses yang dilakukan :

1. Mengajak masyarakaat untuk membuat outline desa/ dusun/ kampung, seperti

batas desa/ dusun/ kampung, jalan, sungai dan lain-lain.

2. Siapkan potongan kertas dan minta masyarakat untuk mengambilnya,

menuliskan nama kepala keluarga masing-masing dan menempatkannya

sebagai rumah, kemudian peserta berdiri di atas kertas tersebut.

3. Minta mereka untuk menyebutkan tempat BABnya masing-masing. Jika

seseorang BAB di luar rumahnya baik itu di tempat terbuka maupun

numpang di tetangga, tunjukkan tempatnya dan tandai dengan bubuk kuning.

Beri tanda dari masing-masing KK ke tempat BABnya.

4. Tanyakan dimana tempat melakukan BAB dalam kondisi darurat seperti pada

malam hari, saat hujan atau saat sakit perut.

2. Transect Walk

Bertujuan untuk melihat dan mengetahui tempat yang paling sering

dijadikan tempat BAB. Dengan mengajak masyarakat berjalan dan berdiskusi di

tempat tersebut, diharapkan masyarakat akan merasa jijik dan bagi orang yang

biasa BAB di tempat tersebut diharapkan akan terpicu rasa malunya. Proses yang

dilakukan :
1. Mengajak masyarakat untuk mengunjungi lokasi yaang sering dijadikan tempat

BAB (didasarkan pada hasil pemetaan).

2. Lakukan analisa patisipatif di tempat tersebut.

3. Menanyakan siapa saja yang sering BAB di tempat tersebut atau siapa yang

BAB di tempat tersebut pada hari itu.

4. Menanyakan kepada masyarakat, apakah mereka senang dengan keadaan

seperti itu.

3. Alur Kontaminasi (Oral Fecal)

Bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran

manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya. Alat yang diperlukan :

1. Gambar tinja dan gambar mulut

2. Potongan-potongan kertas

3. Spidol

Proses yang dilakukan :

1. Menanyakan kepada masyarakat apakah mereka yakin bahwa tinja bisa masuk

ke dalam mulut?

2. Menanyakan bagaimana tinja bisa ”dimakan oleh manusia?” Melalui apa saja?

Minta masyarakat untuk menggambarkan atau menuliskan hal-hal yang

menjadi perantara tinja sampai ke mulut.

4. Simulasi air yang telah terkontaminasi


Bertujuan untuk mengetahui sejauh mana persepsi masyarakat terhadap air

yang biasa mereka gunakan sehari-hari.

Alat yang diperlukan :

1. Ember yang diisi air (air mentah/sungai atau air masak/ air minum)

2. Polutan air/ tinja

Proses yang dilakukan :

1. Ambil satu ember air sungai dan minta salah seorang untuk menggunakan air

tersebut untuk cuci muka, kumur-kumur dan lainnya.

2. Bubuhkan sedikit tinja ke dalam ember yang sama, kenudia minta salah

seorang peserta untuk melakukan hal yang sama sebelum ember tersebut

diberikan tinja.

3. Tunggu reaksinya. Jika peserta menolak melakukannya, tanyakan alasannya?

Apa bedanya dengan kebiasaan masayarakat yang sudah terjadi selama ini.

Apa yang akan dilakukan kemudian hari?

5. Diskusi Kelompok (Focus Group Discussion)

Bersama-sama dengan masyarakat melihat kondisi yang ada dan

menganalisanya sehingga diharapkan dengan sendirinya masyarakat dapat

merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan.

Pembahasannya meliputi:

a. FGD untuk memicu rasa malu dan hal-hal yang bersifat pribadi
1. Menanyakan berapa banyak perempuan yang biasa melakukan BAB

di tempat terbuka dan alasan mengapa mereka melakukannya.

2. Menanyakan bagaimana perasaan mereka jika BAB di tempat terbuka

dapat dilihat oleh orang lain.

3. Tanyakan bagaimana perasaan para laki-laki, ketika istri, anaknya atau

ibunya BAB di tempat terbuka dan dilihat oleh orang lain.

b. FGD untuk memicu rasa jijik dan takut sakit

1. Mengajak masyarakat untuk menghitung kembali jumlah tinja di

kampungnya dan kemana perginya tinja tersebut.

2. Mengajak untuk melihat kembali peta, dan kemudian taanyakan

rumah mana saja pernah terkena diare, dan berapa biaya yang

dikeluarkan untuk berobat, menanyakan apakah ada anggota keluarga

yang meninggal karena diare?

c. FGD untuk memicu hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan

1. Lakukan dengan mengutip hadits atau pendapat alim ulama yaang

relevan dengan larangan atau dampak buruk dari melakukan BAB

sembarangan.

d. FGD menyangkut kemiskinan

FGD ini biasanya berlangsung ketika masyaarakat ssudah terpicu

dan ingin berubah, namun terhambat dengan tidak adanya uang untuk

membangun jamban. Apabila masyarakat mengatakan bahwa membangun

jamban itu perlu dana besar, maka harus diberikan solusi dengan

memberikan alternatif dengan menawarkan bentuk jamban yang paling

sederhana.
Metode yang dilakukan ini bertujuan untuk memicu masyarakat untuk

memperbaiki sarana sanitasi, dengan adanya pemicuan ini target utama dapat

tercapai yaitu: merubah perilaku sanitasi dari masyarakat yang masih melakukan

kebiasaan BAB di sembarang tempat. Faktor-faktor yang harus dipicu beserta

metode yang digunakan dalam kegiatan STBM untuk menumbuhkan perubahan

perilaku sanitasi dalam suatu komunitas (Permenkes RI No.03 tahun 2014).

Tabel 2.1. Faktor-Faktor Yang Harus Dipicu dan Metode Yang Digunakan
Dalam Kegiatan STBM

Hal – hal yang harus Alat yang digunakan

dipicu

Rasa jijik 1 Transect walk

2 Demo air yang mengandung tinja, untuk digunakan

cuci muka, kumur-kumur, sikat gigi, cuci piring, cuci

pakaian, cuci makanan / beras, wudlu, dll

Rasa malu 1 Transect walk (meng-explore pelaku open defecation)

2 FGD (terutama untuk perempuan)

Takut sakit FGD

1 Perhitungan jumlah tinja

2 Pemetaan rumah warga yang terkena diare dengan

didukung data puskesmas

3 Alur kontaminasi

Aspek agama Mengutip hadits atau pendapat-pendapat para ahli agama

yang relevan dengan perilaku manusia yang dilarang

karena merugikan manusia itu sendiri.

Privacy FGD (terutama dengan perempuan)

Kemiskinan Membandingkan kondisi di desa/dusun yang

bersangkutan dengan masyarakat “termiskin” seperti di


Bangladesh atau India.

Sumber : Permenkes RI Nomor 03 Tahun


2014
2.7. Kerangka Teori
2.8. Kerangka Konsep