Anda di halaman 1dari 23

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH

TOPIK :
KEPEMIMPINAN SPIRITUAL TERHADAP REFORMASI BIROKRASI (PROGRAM
PENGUATAN PENGAWASAN)

JUDUL :
PEMBERDAYAAN PROPHETIC LEADERSHIP GUNA MENINGKATKAN
KEDISIPLINAN PERSONEL SATUAN SABHARA POLRES SEMARANG DALAM
RANGKA TERWUJUDNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jenderal Polisi Drs. M. Tito Karnavian, Ph.D pada saat setelah diangkat
menjadi Kapolri mengeluarkan kebijakan berupa commander wish yang
merupakan arahan dan petunjuk kepada seluruh anggota Polri. Commander
wish tersebut digulirkan dalam rangka untuk meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap Polri. Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
kepercayaan masyarakat seperti yang disampaikan dalam commander wish
tersebut yaitu peningkatan kinerja, perbaikan kultur dan manajemen media.

Sebagai salah satu kesatuan operasional dasar (KOD), Polres Semarang


juga mempunyai tugas dan kewajiban untuk melaksanakan commander wish
Kapolri tersebut. Upaya untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terus
dilakukan oleh Polres Semarang, antara lain dengan melakukan perbaikan
pelayanan, peningkatan kinerja serta perbaikan kultur personel melalui program
revolusi mental. Namun pada kenyataannya upaya tersebut belum dapat
2

sepenuhnya meningkatkan kepercayaan masyarakat. Khususnya dalam upaya


perbaikan kultur personel. Hal itu dapat terlihat dari tingkat kedisiplinan personel
dalam pelaksanaan tugas.

Tingkat kedisiplinan yang masih belum optimal tersebut juga terlihat pada
personel Satuan Sabhara. Sepanjang tahun 2016 sampai dengan awal 2017,
masih banyak terdapat personel Satuan Sabhara yang melakukan pelanggaran,
baik pelanggaran disiplin, kode etik, maupun pidana. Dari pelanggaran-
pelanggaran yang dilakukan tersebut, sebagian besar sudah dilakukan sidang
namun masih beberapa yang masih dalam proses penyidikan.

Upaya untuk dapat meningkatkan kedisiplinan personel Polres Semarang


telah banyak dilakukan. Antara lain dengan melakukan pembinaan mental dan
karakter melalui program pelatihan revolusi mental. Namun, upaya tersebut
belum dapat sepenuhnya meningkatkan kedisiplinan sesuai yang diharapkan,
sehingga perlu dilakukan upaya lain. Upaya yang dapat dilakukan adalah
dengan mengoptimalkan kepemimpinan spiritual yang salah satunya dengan
memberdayakan konsep kepemimpinan para nabi (prophetic leadership).

B. Pokok Permasalahan
Dari uraian latar belakang tersebut di atas maka pokok permasalahan
dalam tulisan ini yaitu “Bagaimana memberdayakan prophetic leadership
guna meningkatkan kedisiplinan personel Satuan Sabhara Polres
Semarang dalam rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat?’’

C. Pokok-pokok Persoalan
Berdasarkan uraian pokok permasalahan di atas, pokok-pokok persoalan
yang akan dibahas dalam naskah ini adalah :

1. Bagaimana faktor instrinsik motivasi personel Satuan Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya)?
3

2. Bagaimana faktor ekstrinsik motivasi personel Satuan Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya)?

D. Ruang Lingkup
Penulisan naskah ini dibatasi pada upaya pemberdayaan prophetic
leadership personel Satuan Sabhara Polres Semarang, dengan meningkatkan
motivasi berdasarkan faktor-faktor instrinsik dan ekstrinsik, dalam penerapan
sifat shidiq dan amanah sesuai dengan sifat Nabi Muhammad SAW, guna
meningkatkan kedisiplinan.

E. Maksud dan Tujuan


1. Maksud

Maksud dari penulisan naskah ini adalah untuk memberikan gambaran


tentang upaya meningkatkan kedisiplinan personel Satuan Sabhara Polres
Semarang melalui pemberdayaan prophetic leadership dalam rangka
terwujudnya kepercayaan masyarakat.

2. Tujuan

Tujuan dari penulisan naskah ini adalah untuk memberikan sumbangan


pikiran yang bersifat konseptual strategis kepada pimpinan khususnya Polres
Semarang dalam upaya memberdayakan prophetic leadership guna
meningkatkan kedisiplinan Personel Satuan Sabhara.

F. Metode dan Pendekatan


1. Metode

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif analisis yaitu
menggambarkan tentang uraian masalah, penjabaran alternatif solusi, dan
pemilihan strategi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan.
4

2. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam


naskah ini adalah studi kepustakaan dengan menggali beberapa teori dan
konsep sebagai pedoman dalam mengupas permasalahan dan menguraikan
solusi yang sesuai.

G. Tata Urut
Bab I Pendahuluan

Bab II Landasan Pemikiran

Bab III Kondisi Faktual

Bab IV Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Bab V Kondisi Ideal

Bab VI Pemecahan Masalah

Bab VII Penutup

H. Pengertian-Pengertian
1. Pemberdayaan adalah usaha memaksimalkan kegiatan sehingga
mewujudkan keuntungan yang diinginkan atau dikehendaki.

2. Meningkatkan adalah menaikkan (tingkat, derajat, dan sebagainya),


mempertinggi, memperhebat (produksi dan sebagainya)

3. Disiplin adalah ketaatan atau kepatuhan kepada peraturan.

4. Kepercayaan masyarakat adalah suatu kondisi yang menggambarkan


adanya harapan dan keyakinan masyarakat terhadap sesuatu yang
dianggap baik dan benar.
5

BAB II
LANDASAN PEMIKIRAN

A. Teori Prophetic Leadership

Bachtiar Firdaus (2016, xv) menyatakan bahwa kepemimpinan profetik


(leadership prophetic) adalah “kepemimpinan yang membebaskan
penghambaan kepada manusia hanya kepada Allah semata”. Gaya
kepemimpinan profetik tidak lepas dari nilai kepemimpinan yang ada pada Nabi
Muhammad SAW. Sifat kepemimpinan Rasulullah SAW yang terkenal adalah
shidiq (benar/integritas), amanah (dapat dipercaya), fathanah (cerdas dan
bijaksana), dan tablig (menyampaikan). Teori ini digunakan untuk merumuskan
pokok-pokok persoalan namun hanya dibatasi pada dua sifat kepemimpinan
Rasulullah yaitu shidiq dan amanah.

B. Teori Motivasi

Menurut Robbins (1996, hal 198), motivasi adalah ”kesediaan untuk


mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi ke arah tujuan organisasi, yang
dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi sesuatu kebutuhan
individual”. Ada beberapa teori motivasi yang disampaikan para ahli, salah
satunya adalah Teori Motivasi-Higiens atau teori dua faktor oleh Frederick
Herzberg. Menurut Herzberg dalam Robbins (1996, hal 201), “faktor- faktor yang
menghantar ke kepuasan kerja terpisah dan terbedakan dari faktor-faktor yang
menghantar ke ketidakpuasan kerja. Faktor-faktor instrinsik (motivator)
dihubungkan dengan kepuasan kerja, dan faktor-faktor ekstrinsik (higiens)
dikaitkan dengan ketidakpuasan kerja”. Teori Motivator-Higiens (Dua Faktor) ini
digunakan untuk menganalisis pokok-pokok persoalan yang dibahas dalam
naskah ini.
6

C. Konsep Analisis SWOT

Menurut Rangkuti (2009, hlm 1-5) analisis SWOT adalah “identifikasi


berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan”.
Analisis ini didasarkan pada logika yang memaksimalkan kekuatan (strengths)
dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Analisis ini sangat relevan untuk
digunakan dalam menganalisa kekuatan dan kelemahan organisasi dalam
upaya untuk mengetahui hakekat ancaman dan peluang dalam upaya pimpinan
menentukan langkah pengambilan keputusan.

Konsep analisis SWOT digunakan untuk menganalisa faktor-faktor yang


mempengaruhi kondisi faktual terkait dengan pokok persoalan yang ada, baik
dari sisi internal maupun eksternal organisasi, yang akan dijabarkan dalam bab
IV tulisan ini.

D. Teori Manajemen Strategis

Pearce dan Robinson (2011, hlm 11) mengemukakan bahwa manajemen


strategis adalah “sekumpulan keputusan dan tindakan yang menghasilkan
perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang
dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran perusahaan”. Teori manajemen
strategis akan digunakan untuk menjabarkan upaya pemecahan masalah yang
dituangkan dalam bab VI tulisan ini.
7

BAB III
KONDISI FAKTUAL

Satuan Samapta Bhayangkara (Sat Sabhara) Polres Semarang merupakan


unsur pelaksana tugas pokok fungsi Sabhara pada tingkat Polres yang berada di
bawah Kapolres. Tugas pokoknya adalah melaksanakan kegiatan yang bersifat
preventif dan reprsesif terbatas. Tugas preventif Sabhara antara lain melakukan
pengaturan, penjagan, pengawalan, patroli, pengendalian massa, pengamanan
terhadap kegiatan masyarakat, dan pembinaan bantuan satwa. Sedangkan tugas
represif terbatas yaitu melaksanakan penindakan terhadap tindak pidana ringan.

Pada tahun 2016 sampai dengan 2017 awal, terdapat 15 (kima belas) personel
Satuan Sabhara yang melakukan pelanggaran baik disiplin, kode etik maupun
pidana. Dari jumlah tersebut 11 (sebelas) orang diantaranya sudah dilaksanakan
sidang disiplin atau kode etik, sedangkan sisanya masih dalam proses penyidikan.
Dengan melihat hal tersebut, maka kondisi faktual tentang personel Sabhara Polres
Semarang dapat digambarkan sebagai berikut.

A. Kondisi faktual faktor instrinsik motivasi personel Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya)

Aspek instrinsik untuk meningkatkan motivasi personel Satuan Sabhara


Polres Semarang dalam penerapan sifat shidiq dan amanah masih rendah. Hal
tersebut terlihat dari masih belum adanya kesadaran tentang pentingnya
integritas dalam pelaksanaan tugas, cukup memahami makna dan pentingnya
kejujuran, belum mengimplementasikan nilai-nilai keteladan serta belum adanya
konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Selain itu belum adanya kesadaran
untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik serta masih
adanya penyalahgunaan dan penyimpangan dalam pelaksanaan tugas.
8

B. Kondisi faktual faktor ekstrinsik motivasi personel Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya)

Aspek ekstrinsik untuk meningkatkan motivasi personel Satuan Sabhara


Polres Semarang dalam penerapan sifat shidiq dan amanah masih cenderung
belum optimal. Budaya sebagian masyarakat yang masih hedonis serta belum
adanya pengakuan dari masyarakat tentang prestasi yang dilakukan. Selain itu
sistem reward dan punishment sudah dilaksanakan, namun belum adanya
konsistensi dari pimpinan, serta belum adanya keteladanan yang dapat
dijadikan contoh oleh personel.

C. Implikasi rendahnya motivasi Personel Sabhara Polres Semarang dalam


penerapan sifat shidiq dan amanah terhadap meningkatkan kedisiplinan
dan terwujudnya kepercayaan masyarakat
1. Pelaksanaan tugas dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan
pelayanan kepada masyarakat tidak dapat berjalan dengan baik.

2. Tidak adanya keinginan untuk mematuhi dan mentaati peraturan dan nilai-
nilai yang berlaku.

3. Terjadinya pelanggaran baik pelanggaran disiplin, kode etik maupun


pidana.

4. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri.


9

BAB IV

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Perkembangan lingkungan strategis yang terjadi pada aspek internal dan


eksternal Polres Semarang berpengaruh pada motivasi personel Sabhara Polres
Semarang dalam kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan. Hal ini berimplikasi
pada terjadinya tindakan pelanggaran disiplin, kode etik atau tindak pidana. Dalam
upaya mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri, prophetic leadership
memegang peranan yang sangat penting.

Mempertimbangkan kajian lingkungan strategis tersebut maka dengan


menerapkan teori analisis SWOT maka pada bab ini penulis akan menguraikan
faktor-faktor yang mempengaruhi dengan menjabarkannya ke dalam faktor internal
berupa kekuatan dan kelemahan, serta faktor eksternal berupa peluang dan
ancaman.

A. Faktor Internal

1. Kekuatan

a. Adanya komitmen yang tinggi dari pimpinan tentang upaya untuk


meningkatkan kedisiplinan personel Satuan Sabhara melalui prophetic
leadership.

b. Tingkat pemahaman dan pengetahuan personel Satuan Sabhara tentang


pentingnya menerapkan prophetic leadership khususnya sifat shidiq dan
amanah dalam meningkatkan kedisiplinan sudah cukup tinggi.

c. Terjalinnya hubungan yang baik antar personal, baik antara atasan dengan
bawahan, maupun antar sesama rekan kerja.

d. Penerapan sistem reward and punishment terhadap kinerja personel


sudah dilaksanakan cukup baik.

e. Tingkat kesejahteraan personel yang sudah cukup baik.


10

2. Kelemahan

a. Masih kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan pada


masing-masing level terhadap pelaksanaan tugas oleh personel Sabhara.

b. Kesadaran yang masih kurang baik pimpinan maupun personel Sabhara


untuk meningkatkan motivasi dalam bentuk prophetic leadership guna
meningkatkan kedisiplinan.

c. Gaya hidup pimpinan maupun personel Sabhara yang belum


mencerminkan kesederhanaan dan masih bersifat hedonis.

d. Ketegasan dan konsistensi pimpinan untuk meningkatkan kedisiplinan


dengan meningkatkan motivasi personel dalam bentuk prophetic
leadership masih cukup kurang.

e. Masih kurangnya nilai-nilai keteladanan yang ditampilkan baik oleh


pimpinan maupun personel dalam setiap pelaksanaan tugas.

B. Faktor Eksternal

1. Peluang

a. Tingginya harapan dan tuntutan masyarakat terkait dengan pelaksanaan


tugas kepolisian yang bersih dan bebas dari budaya koruptif.

b. Adanya kebijakan pemerintah untuk merubah mind set dan culture set
aparatur negara melalui pembinaan karakter dengan program revolusi
mental.

c. Adanya dukungan dan partisipasi masyarakat agar Personel Polri dapat


menunjukkan kedisiplinan dengan meneladani sifat-sifat nabi serta
program revolusi mental yang dilaksanakan oleh Polres.

d. Adanya kerja sama dengan Pemerintah Daerah, tokoh masyarakat, tokoh


agama dan stakeholder lain dalam bentuk pembinaan mental dan karakter
serta program pembinaan dan pembinaan motovasi.
11

e. Perkembangan yang sangat pesat dalam bidang teknologi dan informasi.

2. Ancaman

a. Tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang peraturan


perundang-undangan, SOP, dan aturan-aturan lain yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugas dan pelayanan kepolisian masih cukup rendah.

b. Peran media massa yang masih belum mendukung pelaksanaan tugas


kepolisian.

c. Masih rendahnya pengakuan baik dari pemerintah daerah maupun


masyarakat terhadap prestasi yang telah dibuat oleh personel kepolisian.

d. Masih adanya budaya negatif di masyarakat seperti ingin mendapatkan


pelayanan yang lebih cepat dengan cara membayar, serta adanya
ketakutan masyarakat untuk melaporkan tindakan negatif yang dilakukan
oleh personel Polri.

e. Masih adanya stigma negatif dari masyarakat terhadap kepolisian terkait


dengan budaya Polri yang masih menampilkan arogansi dan tindakan
koruptif.
12

BAB V

KONDISI IDEAL

Pemberdayaan prophetic leadership guna meningkatkan kedisiplinan Personel


Satuan Sabhara Polres Semarang akan dapat terwujud dengan baik apabila masing-
masing personel memiliki motivasi. Motivasi tersebut diwujudkan dalam sikap dan
perbuatan yang tergambar dalam kegiatan sehari-sehari. Kondisi ideal motivasi
personel tersebut diuraikan dalam pembahasan di bawah ini.

A. Kondisi ideal faktor instrinsik motivasi personel Sabhara Polres Semarang


dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat dipercaya)

Aspek instrinsik untuk meningkatkan motivasi personel Satuan Sabhara


Polres Semarang dalam penerapan sifat shidiq dan amanah sudah tinggi. Hal
tersebut terlihat dari adanya kesadaran tentang pentingnya integritas dalam
pelaksanaan tugas, memahami dengan baik makna dan pentingnya kejujuran,
mengimplementasikan nilai-nilai keteladan serta adanya konsistensi antara
ucapan dan perbuatan. Selain itu adanya kesadaran untuk melaksanakan tugas
yang diberikan kepadanya dengan baik serta tidak adanya penyalahgunaan dan
penyimpangan dalam pelaksanaan tugas.

B. Kondisi ideal faktor ekstrinsik motivasi personel Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya)

Aspek ekstrinsik untuk meningkatkan motivasi personel Satuan Sabhara


Polres Semarang dalam penerapan sifat shidiq dan amanah dapat terlaksana
dengan optimal. Budaya sebagian masyarakat sudah tidak menampilkan sikap
hedonis serta adanya pengakuan dan apresiasi dari masyarakat tentang
prestasi yang dilakukan. Selain itu sistem reward dan punishment semakin
dilaksanakan secara konsisten dan proporsional, adanya konsistensi dan
13

ketegasan dari pimpinan, serta adanya keteladanan yang dapat dijadikan


contoh oleh personel.

C. Kontribusi tingginya motivasi Personel Satuan Sabhara Polres Semarang


dalam penerapan sifat shidiq dan amanah terhadap peningkatan
kedisiplinan dan kepercayaan masyarakat
1. Pelaksanaan tugas dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan
pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik.

2. Adanya keinginan yang kuat untuk mematuhi dan mentaati peraturan dan
nilai-nilai yang berlaku.

3. Tidak terjadinya pelanggaran baik pelanggaran disiplin, kode etik maupun


pidana.

4. Terwujudnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri.


14

BAB VI

PEMECAHAN MASALAH

Berdasarkan analisis kondisi faktual dan faktor-faktor yang mempengaruhinya,


serta kondisi ideal yang diharapkan, maka upaya pemecahan masalah terkait
pemberdayaan prophetic leadership personel Sabhara Polres Semarang guna
meningkatkan kedisiplinan dalam rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat,
dilakukan melalui perumusan (formulasi) visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan,
strategi, dan action plan sebagai berikut :

A. Visi

Terwujudnya kepercayaan masyarakat dengan meningkatkan kedisiplinan


personel Satuan Sabhara Polres Semarang melalui pemberdayaan prophetic
leadership.

B. Misi

1. Meningkatkan faktor instrinsik motivasi personel Satuan Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya).

2. Meningkatkan faktor ekstrinsik motivasi personel Satuan Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat sdhidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya).

C. Tujuan

1. Tercapainya peningkatan faktor intrinsik motivasi personel Satuan Sabhara


Polres Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah
(dapat dipercaya).
15

2. Tercapainya peningkatan faktor ekstrinsik motivasi personel Satuan


Sabhara Polres Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan
amanah (dapat dipercaya).

D. Sasaran

1. Meningkatkan faktor instrinsik motivasi personel Satuan Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya).

2. Meningkatkan faktor ekstrinsik motivasi personel Satuan Sabhara Polres


Semarang dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat
dipercaya).

E. Kebijakan

Memberdayakan prophetic leadership melalui peningkatkan motivasi baik


instrinsik maupun ekstrinsik dalam penerapan sifat shidiq dan amanah guna
meningkatkan kedisiplinan personel Satuan Sabhara Polres Semarang
sehingga kepercayaan masyarakat dapat terwujud.

F. Strategi

Melalui perhitungan faktor-faktor kondisi internal yang terdiri dari faktor


kekuatan dan kelemahan serta kondisi eksternal yang terdiri dari faktor peluang
dan ancaman melalui IFAS dan EFAS, maka diperoleh hasil bahwa organisasi
Polres Semarang terkait dengan pemberdayaan prophetic leadership guna
meningkatkan kedisiplinan Personel Satuan Sabhara Polres Semarang berada
pada posisi kuadran III. Berdasarkan hal tersebut, maka grand strategi yang
akan digunakan dalam pemecahan masalah adalah strategi W-O, yaitu
meminimalkan kelemahan dengan memanfaatkan peluang (turn around). Posisi
16

organisasi dan grand strategi yang akan digunakan dalam pemecahan masalah
tersebut digambarkan pada matriks grand strategi sebagai berikut.

MATRIKS GRAND STRATEGI


O
9
III I
(TURN-AROUND) 8 (AGRESIF)

6
W (4,87;5,18) S

1 2 3 4 5 6 7 8
4

3
(DEFENSIF) (DIVERSIFIKASI)
2
IV II
1
T

G. Implementasi Strategi (Action Plan)

1. Strategi Jangka Pendek (6 bulan)

a. Menananamkan nilai-nilai keteladanan baik kepada unsur pimpinan


maupun anggota dalam perilaku dan pelaksanaan tugas sehari-hari :

1) Wakapolres didukung Kabag Sumda mencanangkan zona integritas


di lingkungan Polres dan Polsek;

2) Kabag Sumda menyusun perencanaan dan pelaksanaan pelatihan


revolusi mental kepada seluruh personel;
17

3) Kabag Sumda membuat dan memasang spanduk, banner atau


jargon-jargon tentang nilai-nilai keteladanan di lingkungan Polres dan
Polsek.

b. Membangun kesadaran tentang pentingnya menerapkan prophetic


leadership guna meningkatkan kedisiplinan, yaitu :

1) Kabag Sumda didukung oleh Kasat Sabhara memberikan sosialisasi


tentang konsep prophetic leadership kepada personel Satuan
Sabhara;

2) Kabag Sumda didukung Kasat Sabhara melaksanakan pembinaan


mental kerohanian secara rutin kepada seluruh personel khususnya
Personel Satuan Sabhara.

3) Kabag Sumda didukung Kasat Sabhara dan Kasi Propam


melaksanakan pembinaan kepada Personel Sabhara yang
melakukan pelanggaran baik yag sudah divonis dalam sidang
maupun yang masih dalam proses penyidikan.

c. Meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas baik dari internal


maupun eksternal, dengan langkah :

1) Kabag Ops, Kasi Propam dan Kasi Was menyusun rencana dan
kegiatan pengawasan kegiatan yang di laksanakan oleh personel
khususnya Satuan Sabhara baik di lingkungan Polres maupun
Polsek;

2) Kasi Propam melaksanakan kegiatan operasi Gaktibplin secara rutin


baik bersifat terjadwal maupun insidentil.

3) Kabag Ops dan Kasat Binmas mensosialisasikan jalur-jalur


komunikasi yang digunakan sebagai sarana komunikasi masyarakat
untuk memberikan pengaduan tentang kegiatan yang dilakukan oleh
personel;
18

d. Membangun stigma positif masyarakat terhadap Polri dan tugas-tugas


Polri, yaitu :

1) Kabag Ops menyusun MOU dengan pemerintah daerah dan lembaga


media tentang dukungan pelaksanaan kegiatan sosialisasi-sosialisasi
kepada masyarakat;

2) Kasat Binmas mengintesifkan kegiatan-kegiatan preemtif seperti


penyuluhan dan penerangan kepada masyarakat tentang tugas-tugas
Polri, kegiatan sambang desa, Jumat keliling dan pembinaan
komunitas baik yang dilakukan oleh Sat Binmas maupun dengan
memberdayakan Bhabinkamtibmas;

3) Kabag Ops didukung Kasat Sabhara, Kasat Reskrim, dan Kasat


Lantas mempublikasikan melalui media tentang tugas-tugas
kepolisian yang dilaksanakan serta prestasi-prestasi dan terobosan
kreatif yang telah dicapai.

e. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang


peraturan perundang-undangan, SOP dan aturan lain terkait dengan
tugas-tugas kepolisian, yaitu :

1) Kasat Binmas melaksanakan sosialisasi dan penerangan kepada


masyarakat tentang aturan dan SOP terkait dengan pelaksanaan
tugas kepolisian dengan memberdayakan dukungan dari pemda,
tokoh masyarakat dan tokoh agama;

2) Kasat Binmas menyusun kerjasama dengan media seperti radio


untuk memberikan penerangan serta sebagai sarana komunikasi
antara Polri dan masyarakat.

2. Strategi Jangka Sedang (12 bulan)

a. Mewujudkan penegakkan aturan yang konsisten dan tegas secara


proporsional, yaitu :
19

1) Wakapolres, Kabag Ops dan Kasi Propam mengiventarisir kasus-


kasus pelanggaran yang dilakukan personel namun belum dilakukan
tindakan hukum;

2) Kasi Propam segera menyelesaikan kasus-kasus yang ditangani


yang dilakukan oleh Personel baik yang sudah dalam tahap
penyidikan maupun masih dalam tahap penyelidikan;

3) Wakapolres dan Kasi Propam menyusun SOP penanganan perkara


pelanggaran anggota dengan menitikberatkan pada kecepatan
penyelesaian perkara;

4) Wakapolres, Kabag Ops dan Kasi Propam menyusun dan


membangun sistem pelaporan dan pengaduan masyarakat dengan
memberdayakan dukungan dari Pemda dan masyarakat.

b. Memberdayakan dukungan dan partisipasi masyarakat dalam menerapkan


prophetic leadership melalui kegiatan yang dapat meningkatan personel
dalam pelaksanaan tugas kepolisian, yaitu :

1) Kabag Sumda dan Kasat Binmas melaksanakan kerjasama dengan


pemerintah daerah, unsur masyarakat dan stakeholder lain guna
melaksanakan pembinaan mental dan karakter personel;

2) Wakapolres dan Kabag Ops menyusun komitmen bersama dengan


Pemerintah Daerah guna memberikan apresiasi terhadap prestasi-
prestasi tugas yang dilakukan oleh personel.

c. Mengembangkan budaya masyarakat yang bersifat positif, yaitu :

1) Wakapolres, Kabag Ops dan Kasat Binmas bekerjasama dengan


Pemda menyusun konsep acara dalam rangka mengembangkan
budaya masyarakat yang bersifat positif;

2) Kabag Ops dan para Kasat mengembangkan kegiatan yang bersifat


positif dengan pelibatan unsur masyarakat dan komunitas.
20

3. Strategi Jangka Panjang (2 tahun)

a. Memberdayakan harapan dan dukungan masyarakat terhadap penerapan


kepemimpinan profetik (prophetic leadership) di lingkungan Polres, yaitu:

1) Wakapolres dan Kabag Ops menginventarisir kebutuhan-kebutuhan


baik sarana dan prasarana serta anggaran untuk mendukung
kegiatan pemberdayaan prophetic leadership;

2) Wakapolres didukung para Kabag dan Kasat mengembangkan


kerjasama dengan pemerintah daerah dan unsur masyarakat guna
mendukung pelaksanaan prophetic leadership dalam pelaksanaan
kegiatan dan tugas-tugas kepolisian.

b. Memberdayakan komitmen yang tinggi dari pimpinan, yaitu :

1) Wakapolres, para Kabag, Kasat dan Kapolsek melakukan upaya


pemberdayaan prophetic leadership di seluruh satuan kerja Polres
dan Polsek;

2) Wakapolres, para Kabag, Kasat dan Kapolsek melaksanakan


kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan motivasi personel
sehingga dapat mendukung pelaksanaan konsep prophetic
leadership di setiap satuan kerja.
21

BAB VII

PENUTUP

A. Simpulan

Peningkatan kedisiplinan personel Satuan Sabhara Polres Semarang


dapat dilakukan dengan pemberdayaan prophetic leadership yaitu
kepemimpinan yang bersumber dari nilai-nilai kepemimpinan Nabi Muhammad
SAW. Nilai kepemimpinan tersebut antara lain adalah sifat shidiq
(integritas/kejujuran) dan amanah (dapat dipercaya). Berdasarkan pembahasan
pokok permasalahan dan analisis pokok-pokok persoalan serta faktor-faktor
yang mempengaruhi terkait dengan pemberdayaan prophetic leadership guna
meningkatkan kedisiplinan personel Satuan Sabhara Polres Semarang dalam
rangka terwujudnya kepercayaan masyarakat, maka dapat ditarik simpulan yaitu
:

1. Faktor instrinsik motivasi personel Satuan Sabhara Polres Semarang


dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat dipercaya)
masih sangat rendah. Upaya untuk meningkatkan motivasi tersebut
dengan menerapkan strategi antara lain dengan meningkatkan
pengetahuan dan pemahaman yang positif tentang sifat shidiq dan
amanah, menanamkan nilai-nilai keteladanan, kejujuran dan kesadaran
terhadap seluruh personel tentang pentingnya memberdayakan prophetic
leadership dalam pelaksanaan tugas.

2. Faktor ekstrinsik motivasi personel Satuan Sabhara Polres Semarang


dalam penerapan sifat shidiq (integritas) dan amanah (dapat dipercaya)
juga masih rendah. Strategi yang dapat dilakukan guna meningkatkan
faktor motivasi tersebut antara lain dengan mewujudkan konsistensi dan
ketegasan baik dari pimpinan maupun dari anggota terhadap aturan dan
norma-norma yang berlaku. Selain itu juga harus dilakukan pengawasan
yang intensif sehingga upaya-upaya untuk melakukan pelanggaran tidak
22

terjadi serta melakukan pemberdayaan dukungan dan partisipasi dari


masyarakat, dan membangun budaya dan stigma positif masyarakat
tentang Polri sehingga terwujud pengakuan dan apresiasi dari masyarakat
tentang pelaksanaan tugas yang telah dilakukan.

B. Rekomendasi

1. Mengajukan usulan kepada Kapolda untuk memberdayakan konsep


kepemimpinan profetik (prophetic leadership) sebagai upaya untuk
meningkatkan kedisiplinan dan budaya kerja yang baik dan benar di
seluruh satuan kerja dari Polda sampai dengan Polsek dalam upaya untuk
mewujudkan kepercayaan masyarakat.

2. Mengajukan usulan kepada Kapolda Up. Karo SDM untuk terus melakukan
pelatihan-pelatihan dalam rangka pembinaan mental sipritual dan karakter
seluruh personel kepolisian sehingga dapat merubah kultur kerja yang
pada akhirnya akan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat
terhadap Polri.
23

DAFTAR PUSTAKA

Firdaus, Bachtiar. 2016. Prophetic Leadership Seni Kepemimpinan Para Nabi,


Menjadi Pemimpin Reformasi, Revolusi, dan Transformasi. PT. Elex Media
Komputindo. Jakarta.

Keputusan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor : Kep/541/V/2016 tanggal


30 Mei 2016 tentang Road Map Reformasi Birokrasi Polri Gelombang II Tahun
2016-2019.

Pearce and Robinson. 2011. Manajemen Strategis: Formulasi, Implementasi dan


Pengendalian. Salemba Empat: Jakarta.

Rangkuti, Freddy. 2009. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis: Reorientasi
Konsep Perencanaan Strategis Untuk Menghadapi Abad 21. PT. Gramedia
Pustaka Utama: Jakarta.

Robbins, Stephen P. 1996. Perilaku Organisasi, Konsep, Kontroversi, Aplikasi. PT.


Prenhallindo. Jakarta.

Siagian, Sondang P, Prof. Dr. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya. PT. Rineka
Cipta. Jakarta.