Anda di halaman 1dari 5

1.

PELAYANAN KEBIDANAN
a. Perawatan Zaman Dahulu
Perawatan zaman dahulu atau sekarang dilakukan oleh dukun pria atau dukun wanita,
dukun menjalankan perawatanya biasanya dirumah penderita atau di rawat di rumah
dukunnya sendiri. Cara-cara mengobati penderita itu sendiri antara lain :
1) Dengan membaca mantra-mantra memohon pertolongan kepada Tuhan YME.
2) Dengan cara mengusir setan-setan yang mengganggu dengan menyajikan kurban-
kurban di
tempat itu, macamnya kurban ditentukan oleh dukun
3) Melakukan massage/mengurut penderita.
4) Penderita harus melakukan pantangan atau diet yang di tentukan oleh dukun itu
pula.
5) Kadang-kadang dukun bertapa untuk mendapatkan ilham cara bagaimana
menyembuhkan
penderita itu.
6) Memakai obat-obatan yang ramuannya ditentukan oleh dukun.Obat-obatan banyak
dipakai
dari tumbuh-tumbuhan yang segar dari daun mudanya, batang, kembang, akarnya.

b. Perawatan Kebidanan
1) Kehamilan
Semua pada wanita hamil diadakan pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh dukun
bayi
dan dukun memberikan nasehat-nasehat seperti :
a. Melakukan pantangan
- Pantangan makanan tertentu.
- Pantangan terhadap pakaian.
- Pantangan terhadap jangan pergi malam
- Pantangan jangan duduk di muka pintu.
b. Kenduri
Kenduri pertama kali dilakukan pada waktu hamil 3 bulan sebagai tanda wanita itu
hamil. Kenduri ke dua dilakukan pada waktu umur kehamilan 7 bulan.

2) Persalinan
Biasanya persalinan dilakukan dengan duduk di atas tikar, dilantai dukun yang
menolong menunggu sampai persalinan selesai.
Cara bekerjanya dengan mengurut-ngurut perut ibu, Menekannya serta menarik anak
apabila anak telah kelihatan. Selama menolong dukun banyak membaca mantra-
mantra. Setelah anak lahir anak diciprati anak dengan air agar menangis. Tali pusat
dipotong dengan hinis atau bamboo kemudian tali pusatnya diberi kunyit sebagai
desinfektan.

3) Nifas
Setelah bersalin ibu dimandikan oleh dukun selanjutnya ibu sudah harus bisa merawat
dirinya sendiri lalu ibu di berikan juga jamu untuk peredaran darah dan untuk laktasi.
c. Pelayanan Kebidanan DI Indonesia
· Sejak dulu sampai sekarang tenaga yang memegang peranan dalam pelayanan
kebidanan ialah “ Dukun bayi “ ia merupakan tenaga terpercaya dalam lingkungannya
terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan reproduksi, kehamilan , persalinan dan
nifas. Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat
tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1807 (zaman Gubernur
jenderal Hendrik William Deandels) para dukun dilatih dalam pertolongan persalinan,
tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan.
· Praktek kebidanan modern masuk di indonesia oleh dokter-dokter Belanda. Pelayan
kesehatan termasuk pelayanan kebidanan hanya diperuntukan bagi orang-orang
Belanda yang ada di Indonesia. Kemudian pada tahun 1849 dibuka pendidikan Dokter
Jawa di Batavia (Di RS Milliter Belanda, sekarang RSPAD Gatot Subroto). Seiring
dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851 di buka pendidikan
Bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang Dokter milliter Belanda (Dr. W.
Bosch). Lulusan ini kemudian bekerja di Rumah Sakit juga di masyarakat. Mulai saat
itu pelayan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan Bidan. Kursus bidan
yang pertama ini ditutup tahun 1873
· Tahun 1879 , dimulai pendidikan bidan
· Tahun 1950 , setelah kemerdekaan, jumlah paramedis kurang lebih 4000 orang dan
dokter umum kurang lebih 475 orang dan dokter dalam bidang obsgyn hanya 6 orang,
pada tahun 1952, mulai diadakan pelatihan Bidan secara formal agar dapat
meningkatkan kualitas pertolonga persalinan. Kursus untuk dukun masih berlangsung
samapai dengan sekarang, yang memberikan kursus adalah Bidan. Perubahan
pengetahuan dan keteramilan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak secara
menyeluruh di masyarakat dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenala dengan
istilah Kursus tambahan Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Jogjakarta yang akhirnya
dilakukan pula di kota-kota besar lain di Nusantara ini. Seiring dengan pelatihan
tersebut didirikan balai kesehatan ibu dan anak (BKIA) dimana bidan sebagi
penanggung jawab pelayanana kepada masyarakat. Dari BKIA inilah akhirnya mnejadi
suatu pelayanan terintregrasi kepada masyarakat yang dinamakan pusat Kesehatan
Masyarakat atau Puskesmas pada tahun 1957.
Kegiatan BKIA yang dipimpin bidan adalah menyelenggarakan :
1. Pemeriksaan Antenatal
2. Pemeriksaan Post natal
3. Pemeriksaan dan pengawasan bayi dan anak balita
4. Keluarga Berencana
5. Penyuluhan Kesehatan
Di BKIA ini diadakan juga pelatihan- pelatihan para dukun bayi.
· Dengan meningkatnya pendidikan tenaga kesehatan maka, pada tahun 1979 jumlah
dokter obsgyn 286 orang dan bidan 16.888 orang di seluruh Indonesia
· Bidan yang bertugas di puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayan akesehatan
ibu dan anak termasuk pelayanan KB. Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan
diberikan secara merata sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini melalaui
instruksi presiden secara lisan pada tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan
untuk penempatan di desa. tugas pokoknya adalah pelaksanan pelayanan KIA
khususnya pelayanan ibu hamil, bersalin, dan nifas serta pelayana BBL. Bidan di
puskesmas orientasi kepada kesehatan masyarakat beda dengan bidan di RS yang
berorientasi pada individu.
Tahun 1994 konfrensi kependudukan dunia di Kairo memeprluas area garapan
pelayanana bidan yaitu :
1. Safe Motherhood
2. Family Planning
3. Penyakit Menular Seksual
4. Kespro Remaja
5. Kespro Orang Tua
Bidan melaksanakan peran, fungsi dan tugasnya didasarkan pada kemampuan pada
kewenangan yang diberikan. kewenangan tersebut diatur melalui peraturan Mentri
Kesehatan atau permenkes.

2. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEBIDANAN


Perkembangan pendidikan Bidan berjalan seiring/berhubungan denang perkembangan
pelayaan kebidanan untuk menjawab tuntutan serta kebutuha masyarakat aakn
pelayan kebidanan yang dimaksud dalam pendidikan ini adalah pendidikan formal dan
informal.
v Pendidikan dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda pada tahun1851 seorang
dokter militer Belanda (Dr. W. Wosh) memebuka pendidikan bidan bagai wanita
pribumi di Batavia.
v Pada tahun 1902 pendidikan bidan dibuka kembali pada wanita pribumi di RS Militer
di Batavia.
v Pada tahun 1904 pendidikan bidan di Indonesia dibuka di Makasar.
v Tahun 1911 sampai 1912 dimulai pendidikan tenaga keperawatan secara terencana
di RSUP Semarang dan Batavia.
v Pada tahun 1914 telah diterima juga peserta didik wanita pertama dan bagi perawat
wanita yang lulus dapat meneruskan pendidikan ke kebidanan selama 2 tahun.
v Pada tahun 1935 sampai 1938 pemerintah kolonial Belanda mulai mendidik bidan
lulusan MULO (setingkat SLTP bagian B) dan hampir bersamaan dibuka sekolah bidan
di beberapa kota besar antara lain Jakarta di RSB Budi Kemulianan, RSB Palang II, dan
RSB Mardi Waluyo di Semarang.
v pada tahun 1950-1953 dibuka sekolah bidan dari lulusan SMP dari batasan usia
minimal 17 tahun dan lama pendidikan 3 tahun. Mengingat kebutuhan penolong
persalinan cukup banyak, maka dibuka pendidikan pembantu bidan yang disebut
penjenang kesehatan E atau pembantu bidan sampai tahun 1976. Setelah itu ditutup.
v Tahun 1953 dibuka kursus tambahan bidan di Yogyakarta lamanya kursus 7-12
minggu.
v Pada tahun 1960 KTB (kursus tambahan bidan) dipindahkan ke Jakarta dan pada
tahun 1967 KTB ditutup.
v Tahun 1954 dibuka pendidikan guru bidan secara bersama-sama dengan guru
perawat dan perawat kesehatan masyarakat di Bandung. pada tahun 1972 institusi
pendidikan ini dilebur menjadi SGR ( sekolah guru perawat).
v Pada tahun 1970 dibuka program pendidikan bidan yang menerima lulusan dari
sekolah pengatur rawat ditambah 2 tahun pendidikan bidan yang disebut sekolah
pendidikan lanjut jurusan kebidanan (SPLJK).
v Pada tahun 1974 jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak,
Depkes melakukan penyederhanakan pendidikan nonsarjana. Sekolah bidan ditutup
dan dibuka sekolah perawat kesehatan. Tujuan pemerintah agar SPK dapat menolong
persalinan tidak tercapai atau terbukti tidak berhasil. Tahun 1975 – 1984 institusi
pendidikan bidan ditutup sehingga selama 10 tahun tidak menghasilkan bidan. Namun
organisasi IBI ada dan hidup secara wajar.
v Tahun 1981 pendidikan diploma I kesehatan ibu dan anaka dibuka. pendidikan
berlangsung selama 1 tahun.
v Tahun 1985 dibuka lagi PPB lulusan dari SPR dan SPK, lam pendidikan 1 tahun.
v Tahun 1989 dibuka crash program pendidikan bidan secara nasional, pemerintah
memperbolehkan lulusan SPK langsung masuk program pendidikan bidan. Dikenal
sebagai PPB A.
v Pada tahun 1993 dibuka program pendidikan bidan program B yang lulusannya AKPER
lama pendidikan 1 tahun unutk tenaga mengajar pada PPB A. Pendidikan ini hanya
berlangsung 2 angkatan saja kenmudian ditutup.
v Pada tahun 1993 dibuka pendidikan bidan program C (PPB C) yang menerima lulusan
dari SMP. Dilakukan di 11 provinsi. Memerlukan kurikulum 3700 jam dan diselesaikan 6
semester.
v Pada tahun 1994-1995 menyelenggarakan program pendidikan bidan jarak jauh.
Diklat jarak jauh (DJJ) ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan
keterampilan bidan untuk penurunan AKI dan AKB.
v Pada tahun 1994 juga dilaksanakan pelatihan pelayanan kegawat daruratan maternal
dan neonatal.
v Pada tahun1995-1998 IBI bekerjasama langsung dengan mother care melakukan
pelatihan bidan Rumah Sakit dan bidan puskesmas serta bidan di desa di provinsi
Kalsel.
v Tahun 2000 telah ada pelatih Asuhan Persalinan Normal yang dikoordinasikan dengan
MNH. Pelatihan LSS dan APN tidak hanya untuk pelatihan pelayanan tetapi juga untuk
guru, dosen-dosen dari akademi kebidanan.

Selain melalui pendidikan formal dan pelatihan, untuk meningkatkan kualitas


pelayanan kebidanan diadakan seminar dan lokakarya organisasi. Dilaksanakan setiap
tahun selam 2 kali mulai tahun 1996 – 2000 dengan biaya dari UNICEF.

3. PERKEMBANGAN PELAYANAN KEBIDANAN DALAM TAHUN TERAKHIR


Karena pelayanan kebidanan yang adekuat itu hanya dinikmati oleh sebagian kecil
masyarakat yang tinggal di kota-kota sedangkan masyarakat yang tinggal di pedesaan
tidak mendapatkan pelayanan tersebut maka keadaan ini melahirkan konsep
puskesmas ( Community Health Care )

Pembentukan Puskesmas dimulai pada Pelita I ( 1969 – 1974 ) tapi baru berkembang
pada Pelita II ( 1974 – 1979 ).
Sejalan dengan hal tersebut maka pendidikan perawat pun ditertipkan lebih
berkonsentrasi pada masyarakat dan didirikan sekolah perawat kesehatan dimana
pada sekolah ini diberikan mata pelajaran KIA termasuk pelayanan kebidanan.
Dibentuknya program pembangunan kesehatan pada tahun 1975. PKMD ini bekerja
sama dengan lembaga sosial desa, tenaga-tenaganya diambilka di masyarakat dan
diberi pelatihan selama 4 bulan selanjutnya mereka akan bertugas memberikan
pertolongan pertama pengobatan ringan termasuk penyuluhan dalam hal KIA dalam
program PKMD ini agar pelayanan kebidanan berlangsung aman dan dapat
dilaksanakan dengan baik maka :
1. Dibuka balai KIA didesa agar semua ibu hamil dapat memeriksakan diri secara
teratur
2. Tenaga dukun harus tetap dibuka dan diawasi
3. Pengawasan terhadap pelayanan KIA oleh bidan ditingkatkan
4. PUSKESMAS sebaiknya dapat melaksanakan pertolongan persalinan ditempat

4. PELAYANAN KEBIDANAN DI MASA DEPAN


Keberhasilan pembangunan kesehatan dewasa ini masih diwarnai oleh rawannya
derajat kesehatan ibu dan anak terutama pada ibu hamil, bersalin dan ibu nifas serta
janin / bayi pada masa pranatal. Hal ini ditandai dengan tingginya AKI dan AKB.
Sebagai salah satu program prioritas dalam pembangunan kesehatan yaitu dengan
menyediakan pelayanan kesehatan yang berualitas sedekat mngkin dengan masyarakat
yang didukung oleh peningkatan keterjangkauan dan kualitas pelayanan rujukan
tenaga yang mempunyai peran besar dalam pelayanan KIA ialah BIDAN. Oleh karena
itu sejak tahun 1990/1991 DEPKES menempatkan BIDAN-BIDAN DI DESA
http://yoanabidantoday.blogspot.com/2008/05/perkembangan-kebidanan-di-indonesia.html