Anda di halaman 1dari 2

Rabu, 12 Oktober 2011 02:44:50 WIB

Obat Tradisional Pakai Zat Kimia


JAKARTA - Sejumlah tugas besar menunggu Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM). Yang paling mendesak adalah bocornya bahan-bahan kimia obat dan industri ke
perusahaan rumahan. Setelah merambah industri rumahan makanan, kini bahan kimia ini juga
ditemukan pada obat tradisonal. Tingkat kebocoran bahan kimia obat dan industri ini Deputi
Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM Roy Sparringa. Dia
menuturkan, modus kebocoran ini sudah semakin berkembang. Di antaranya, pihak
distributor mengirim langsung bahan-bahan kimia itu ke industri rumahan. "Jadi semakin
sulit dipantau, jika hanya dilihat di retailer-retailer saja," tuturnya. Untuk bahan kimia
berbahaya yang kerap ditemukan di makanan di antaraya pewarna tekstil, borak, dan
formalin.
Roy menuturkan, sebagian besar bahan kimia itu bisa ditemukan di jajanan sekolah.
Bahan kimia itu berisiko memicu kanker jika dikonsumsi terus menerus. Selain itu, bahan
kimia obat juga ditemukan BPOM pada obat tradisonal. Di antaranya fenilbutason,
metampiron, parasetamol, sibutramin, sildenafil, dan asam mefenamat. Roy berharap instansi
pusat hingga pemerintah daerah saling membantu mengawasi peredaran bahan kimia
makanan dan obat tersebut. Temuan terbaru BPOM yang dilansir akhir pekan lalu
menyebutkan, ada 21 obat tradisional yang diracik dengan bahan kimia obat (OT-BKO).
Celakanya, 20 di antaranya tidak terdaftar di BPOM. Setelah dianalisis, terjadi memang ada
perubahan tren obat tradisional yang diberi campuran bahan kimia obat.
Pada kurun waktu 2001 hingga 2007, obat tradisional yang kedapatan dicampur dengan
bahan kimia berjenis obat rematik dan penghilang rasa sakit. Sedangkan pada kurun waktu
2008 hingga pertengahan 2011 ini, obat tradisional yang dicampur bahan kimia obat
cenderung untuk obat pelangsing dan penambah stamina atau aprodisiaka. BPOM
menindaklanjuti temuan ini dengan menarik produk-produk yang sudah ada di pasaran lalu
dimusnahkan. Sementara bagi obat tradisional yang terdaftar, izinnya bakal dicabut. Lebih
lanjut Roy menuturkan, maraknya kebocoran bahan kimia ini disebabkan hukuman yang
lemah kepada para pelaku. BPOM melansir, sejak lima tahun terakhir sudah 114 kasus
kejahatan makanan dan obat yang diseret ke pengadilan. Dari seluruh kasus tersebut, rata-rata
berujung vonis kurungan delapan bulan penjara. Vonis juga berujung denda antara Rp 500
ribu hingga Rp 1,5 juta. "Kita berharap ada hukuman yang berat, sehingga pelaku bisa jera,"
katanya.
Sementara itu, ulasan tentang resiko atau bahaya mengkonsumsi obat tradisional yang
dicampur bahan kimia obat diutarakan oleh dr Ari Fahrial Syam SpPD. Dokter sekaligus
dosen Fakultas Kedokteran (FK) UI itu menuturkan, obat tradisional yang dicampur bahan
kimia obat ini cukup berbahaya. Setelah menyimak daftar obat tradisional yang
terkontaminasi bahan kimia obat dari BPOM, Ari menuturkan, tujuh obat tradisional
mengandung zat kimia berupa obat anti radang non steroid (fenilbutason, piroksikam atau
natrium diklofenak). Ari menjelaskan, obat tradisional yang mengandung zat kimia tersebut
memiliki efek samping yang kuat pada saluran cerna atas, terutama lambung dan usus dua
belas jari. "Efeknya bisa luka permukaan, erosi, bahkan luka yang dalam pada lambung atau
usus dua belas jari," katanya. Tanda-tanda efek samping ini, tutur Ari, orang akan merasa
tidak nyaman di sekitar ulu hati, seperti nyeri, panas, disertai mual hingga muntah-muntah.
Efek yang paling keras diantaranya, muncul pendarahan di lambung hingga kebocoran pada
usus dua belas jari. Ari menuturkan, separuh dari kasus pendarahan saluran cerna atas
berhubungan dengan konsumsi obat-obatan tradisional yang mengandung obat anti radang.
Dalam jangka panjang, konsumsi obat-obatan tradisional ini bisa memicu kerusakan ginjal.
"Dengan kemasan obat tradisional, itu hanya digunakan sebagai dalih saja," tutur Ari.
Dia berharap, BPOM harus ekstra ketat memantau obat-obat tradisional yang beredar di
masyarakat. Apalagi, masyarakat masih berpedoman jika seluruh obat tradisional benar-benar
alami. "Intinya BPOM dan masyarakat harus waspada. Benar-benar dicek kandungan di
dalam obat tradisional," pungkas Ari. (wan/nw/jpnn)

2. Jelaskan kenapa bisa terjadi?


Maraknya penambahan bahan kimia obat dalam obat tradisional diakibatkan karena lemahnya
hukuman kepada para pelaku, sehinggan tidak membuat efek jera kepada para pelaku. Selain
karena hukuman yang lemah, hal ini juga bisa terjadi karena kurangnya pengawasan BPOM
terhadap produk yang ada dipasaran, sehingga banyak produsen yang melakukan pelanggaran
tersebut.

3. Pasal yang dilanggar


- Pada Permenkes No. 246/Menkes/Per/V/1990 tersebut terdapat penjelasanmengenai persyaratan
dan larangan bagi obat tradisional yaitu sebagai berikut:

 Pasal 23
Untuk pendaftaran Obat Tradisional dimaksud dalam Pasal 3 obat tradisionalharus
memenuhi persyaratan:
a. Secara empirik terbukti aman dan bermanfaat untuk digunakan manusia;
b. Bahan obat tradisional dan proses produksi yang digunakan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan;
c. Tidak mengandung bahan kimia sintetik atau hasil isolasi yang berkhasiatsebagai obat;
d. Tidak mengandung bahan yang tergolong obat keras atau narkotika