Anda di halaman 1dari 4

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PELUKAAN BENIH DAN PERENDAMAN DENGAN ATONIK


PADA PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN
TANAMAN SEMANGKA NON BIJI

(Citrullus vulgaris Schard L.)

INDRI LESTARI

A41151771

PROGRAM STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH


JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2018
I. Judul yang Diusulkan

“Pelukaan Benih dan Perendaman dengan Atonik pada Perkecambahan dan


Pertumbuhan Tanaman Semangka Non Biji (Citrullus vulgaris Schard L.)”.

II. Pendahuluan
A. Latar Belakang

Famili Cucurbitaceae merupakan salah satu tanaman yang cukup digemari oleh
masyarakat dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Salah satu jenisnya yang
terkenal adalah semangka. Bagian tanaman semangka yang biasa dikonsumsi
masyarakat adalah buah segarnya. Budidaya semangka pada awalnya dikembangkan
di gurun Kalahari di Afrika, kemudian tanaman ini berkembang ke negara Jepang,
Cina, Thailand, Taiwan, India, Jerman, Belanda, bahkan Amerika. Perkembangan
teknologi budidaya semangka saat ini menyebabkan buah semangka dapat ditanam
kapan saja. Teknologi dibidang pertanian banyak mengalami kemajuan, salah satu
diantaranya terciptanya jenis–jenis baru baik hibrida yang diploid (semangka berbiji)
maupun yang triploid (semangka tanpa biji) telah banyak dikembangkan dengan
kualitas buah dan hasil jauh lebih baik. Semangka seedless (semangka tanpa biji)
merupakan hasil persilangan antara semangka tetraploid (4n) dan semangka diploid
(2n) menghasilkan semangka triploid (3n) (Samadi, 2007). Semangka tanpa biji
mempunyai beberapa kelemahan.

Prof. Dr. Hitoshi Kihara, seorang profesor penemu teknik pembenihan


semangka tanpa biji menyatakan bahwa semangka seedless memiliki viabilitas yang
rendah. Daya berkecambah benih semangka rendah pada suhu 29ºC, sehingga benih
semangka triploid memerlukan suhu udara yang cukup tinggi agar perkecambahan
terjamin. Dilaporkan daya berkecambah rata–rata semangka triploid bervariasi antara
27.5%-85% (Tanindo, 2008a). Benih semangka tanpa biji memiliki kotiledon dan
radikula yang kecil sehingga menghambat perkecambahan. Pada awalnya,
pertumbuhan tanaman muda lemah, bahkan kadang-kadang tidak normal, setelah itu
tanaman tumbuh kuat (Kalie, 1998).
Benih semangka tanpa biji juga memiliki sifat dormansi sehingga perlu
perlakuan pendahuluan sebelum ditanam. Benih dikatakan dorman apabila benih
tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada
keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu
perkecambahan. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit
biji ataupun keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan
tersebut (Angga, 2009). Semangka tanpa biji memiliki kulit biji yang keras dan tebal
sehingga benih impermeabel terhadap air dan gas. Dormansi dapat dipatahkan
dengan skarifikasi benih baik secara fisik maupun kimia. Skarifikasi fisik dapat
dilakukan dengan cara mengikir atau menggosok kulit benih dengan amplas, dan
melubangi atau melukai kulit benih. Petani–petani semangka tanpa biji di Situbondo
menggunakan gunting kuku untuk menghilangkan sebagian kulit. Bagian atas tengah
kulit benih digunting menggunakan gunting kuku agar kotiledon mudah keluar dan
memudahkan biji menyerap air dari luar (Tanindo, 2008a).

Skarifikasi kimia lebih praktis dilakukan untuk keperluan pembibitan dalam


jumlah besar tetapi harus hati-hati dalam penggunaan jenis bahan kimia, ketepatan
dosis, dan waktu yang digunakan. Media perkecambahan merupakan salah satu
faktor eksternal yang mempengaruhi perkecambahan benih. Murniati dan Suminar
(2006) melaporkan bahwa media campuran tanah dan kompos dengan perbandingan
1:1 (b/b) merupakan media terbaik bagi daya berkecambah benih mengkudu yang
mencapai 88.7% dan pada media pasir mencapai daya berkecambah 74.7%,
sebaliknya pada media arang sekam daya berkecambah benih mengkudu sangat
rendah, hanya mencapai 24.5%. Setiap jenis benih memiliki respon yang berbeda-
beda terhadap perkecambahannya. Benih semangka tanpa biji tidak dianjurkan
disimpan dalam waktu yang lama (Tanindo, 200 8b). Perlakuan pendahuluan seperti
priming, baik dengan air maupun vitamin, dan zat pengatur tumbuh (ZPT)
diharapkan dapat memperbaiki vigor benih. Oleh karena itu perlu dilakukan
penelitian tentang pengaruh metode perlakuan pendahuluan dan pengaruh media
perkecambahan terhadap pertumbuhan kecambah semangka tanpa biji sehingga
diperoleh perlakuan pendahuluan yang efektif dan media yang paling optimum bagi
benih semangka tanpa biji.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah menghasilkan benih yang dapar berkecambah
dengan baik meskipun memiliki sifat dormnsi.
Tujuan penelitian ini adalah:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perngaruh jenis media
perkecambahan dan perlakuan pra perkecambahan terhadap viabilitas benih
semangka tanpa biji (Citrullus vulgaris. Schard) kultivar Long Dragon dan New
Lucky).

C. Hipotesis

1. Terdapat satu perlakuan pra perkecambahan yang dapat meningkatkan viabilitas


benih semangka.

2. Terdapat satu media perkecambahan yang optimum untuk perkecambahan benih


semangka.

3. Terdapat interaksi antara perlakuan pra perkecambahan dan jenis media


perkecambahan terhadap viabilitas benih semangka.