Anda di halaman 1dari 42

PSIKOLOGI BUDAYA

SABU “SAVU”
Nama : Andry Marza Bale Doto
KLS/NIM: C /169114145
Masyarakat dalam budaya sabu yakni
masyarkat yang berdomisili
A. PENDAHULUAN di Pulau Sabu,yakni Flores Nusa
A.LATAR BELAKANG Tenggara Timur. Pulau Sabu dalam latar
belakang sejarahnya dulunya disebut
Secara lebih singkat dan lebih luas, dengan nama Sawu atau Savu
kebudayaan merupakan hasil karya selanjutnya dalam perkembangan orang-
dan cipta karsa manusia untuk orang Sabu menyebutnya RAIHAWU
memenuhi kebutuhan hidup agar atau Tanah Sabu. Pulau Sabu atau Rai
mampu bertahan dalam lingkungan Hawu merupakan pulau terpencil dengan
sosial atau lingkungan alam luas 460,78 km persegi, berpenduduk
dimana tinggal. Kebudayaan sekitar 30.000, dan sekarang telah
berupa nilai- nilai, kepercayaan, menjadi dimekarkan menjadi kabupaten.
ilmu pengetahuan, kesenian, Masyarakat Sabu sangat menghormati
hukum, moral, teknologi, adat dan menghargai budaya yang mereka
istiadat dan segala kemampuan anut dan terus dipertahankan warisan
lainnya yang diperoleh manusia budaya tersebut hingga saat ini, di mana
dan digunakan manusia. budaya yang dianut tersebut sangat
Manusia sebagai makhluk hidup berpengaruh kehidupan sosial mereka.
memiliki kecenderungan untuk Orang Sabu semenjak zaman nenek
bertahan hidup.Lingkungan dan moyang (bahkan sebelum agama barat di
masyarakat mengambil peran bawa masuk oleh bangsa penjajah
penting dalam proses terbentuknya Belanda dan Portugis) telah memiliki
budaya. Manusia memiliki cara dan menganut sebuah sistem
dan sudut pandang dalam kepercayaan atau agama suku yang
pemenuhan diri atau bentuk mereka sebut dengan Jingitiu. Jingitiu
mengekspresikan diri merupakan agama suku orang Sabu,
yang dibangun atas konsep dasar akan
adanya Zat Ilahi yang disapa sebagai
Deo Ama (Allah Bapa) Asal dari segala
sesuatu atau Deo Woro, Deo Pennji
(Tuhan Pencipta Semesta Alam); suatu
oknum Ilahi Yang Maha Tinggi,

2
Unsur – Unsur Budaya
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen

atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok,

yaitu:

1. alat-alat teknologi

2. sistem ekonomi

3. keluarga

4. kekuasaan politik

5. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

• sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota

masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya

• organisasi ekonomi

• alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan

(keluarga adalah lembaga pendidikan utama)

• organisasi kekuatan (politik)

Wujud dan Komponen Budaya


Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi

tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

1. Gagasan (Wujud ideal)


Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk

kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan

sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud

kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga


3
masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu

dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam

karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat

tersebut.

2. Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari

manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan

sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia

yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan

manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata

kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan

dapat diamati dan didokumentasikan.

3.Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari

aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat

berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan

didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud

kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan

yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain.

Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah

kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

4
B. ADAT ISTIADAT SABU
 Rumah Adat Sabu
Permukiman
Masyarakat Sabu Bagian yang khas
pada rumah adat Sabu adalah
Dalam buku mengenai Dunia atapnya. Bentuk atap rumah Sabu
Orang Sabu, Nico L kana menjelaskan seprti perahu yang ditelungkupkan.
bahwa perkampungan Sabu atau Sebelumnya telah dijelaskan bahwa
yang bisa disebut rae atau Rae bagian –bagian dalam rumah
kowa yang artinya adalah kampung merupakan bagian-bagian dalam
perahu terletak di punggung- perahu. Bagi orang Sabu rumah
punggung bukit dan dikelilingi pagar adalah bangunan fisik yang berada di
karang atau batu. “darat” yang berfungsi sebagai
Bentukperkampungan masyarakat tempat berlindung, pusat segala
Sabu umumnya elips atau bisa juga aktivitas manusia sedang perahu
persegi panjang dengan betukan adalah sebuah bangunan fisik tempat
lengkung di keempat sisinya. segala aktivitas serta tempat
perlindungan dilaut. Jadi ada dua
Pada kedua sisinya yang sarana yang dilakukan untuk
melebar terdapat dua gerbang melakukan aktivitas kehidupan yaitu
yang disebelah timur disebut Toka Rai Balla (daratan) dan Dahi Balla
Dimu dan yang berada disebelah (lautan). Rai Balla dan Dahi Balla
barat disebut Toka Wa, adalah makrokosmos sedangkan
diasosiasikan dengan terbit dan Ammu dan Kowa adalah
tenggelamnya matahari.Hal ini mikrokosmos. Lokasi tempat
juga berarti sesuai dengan mendirikan rumah selalu atau
ungkapan masyarakat di Sabu biasanya tempat yang tinggi yaitu
yaitu penau nga ngi’u rai yang bukit atau lereng, selalu menghadap
artinya bentuk memanjang seperti arah ke utara atau keselatan, haluan
pulau Sabu. Tatanan kampung rumah selalu ada arah barat dan
Sabu dibagi menjadi beberapa timur Ammu Kowa adalah perahu
bagian. Ditengah kampung orang yang melayari kehidupan di darat
Sabu terdapt lapangan kampung masyarakat Sabu. Menurut Mone Ama
tau Telora yang artinya tengah dan Bha leluhur mereka bernama
didalam lingkaran telora terdapat Maja ketika mencipta Amu Kowa ia
nada Rae atau altar kampung yang mentrasformasi bentuk dasar sebuah
biasa digunakan sebagai tempat perahu menjadi Amu Kowa dengan
upacara adat, berupa susunan batu cara melakukan peminjaman
yang melingkari 11 sebatang terhadap unsur-unsur penting dalam
pohon. Pohon yang terdapat perahu. Oleh karena itu dilihat secara
didalamnya jika bukan pohon konstruksi fisik semua bagian dari
kepaka (Nitas), pohon Madiri rumah Sabu mengambil nama dan
(beringin) atau pohon ko (bidara elemen pembentuk perahu antara
cina). lain pada bentuk atap Amu Kowa
adalah perahu yang ditelungkupkan
karena dibuat sedekat mungkin
dengan bentukan perahu.
5
Goetha (2010) dalam dimaknai sebagai Roapana.
kajiannya menuliskan Secara harfiah kata Roapana
pemaknaan ruang dalam terdiri dari dua suku kata yaitu
kehidupan masyarakat Sabu Roa yang diartikan sebagai
erat kaitannya dengan filosofi ruang dalam atau rongga dalam
mengenai hubungan perahu sedangkan Pana artinya
ketergantungan dengan panas.
lingkungan alamnya.yang

Tabel 1. Bagian Rumah Adat Sabu

 Pusat Informasi
Pusat informasi dalam bahasan ini Bangunan Pusat Informasi adat dan
adalah bangunan yang merupakan pusat Budaya didefinisikan sebagai satuan
untuk memperoleh pengetahuan mengenai bangunan yang memiliki fungsi
menginformasikan kepada baik wisatawan
keadaan, peristiwa adat dan budaya di
domestik maupun mancanegara mengenai
KabupatenSabu-Raijua yang dikumpulkan hal-hal yang menjadi kebiasan dan adat
melalui prose komunikasi dengan tua-tua istiadat suatu daerah sebelum wisatawan
adat dan masyarakat setempat serta mengalami atau merasakan suasana
pengumpulan tulisan-tulisan mengenai kehidupan masyarakanya melalui kegiatan
budaya dan adat yang ditulis oleh peneliti workshop, tontonan dan juga dokumentasi
terdahulu. Tatanan informasi yang berupa foto dan display peralatan sehari-
hari masyarakat setempat.Bangunan pusat
dibutuhkan adalah tatanan informasi yang
informasi adat dan budaya biasa
runtut dan mempermudah pengunjung memudahkan wisatawan untuk lebih
mengetahui alur kegiatan yang ada dalam mamahami kebiasaan masyarakat disuatu
Bangunan Pusat Informasi Adat dan daerah.
Budaya Sabu. Tatanan informasi
merupakan media komunikasi yang perlu
memperhatikan gagasan yang diberikan
oleh desainer.

6
 Teori Transformasi
Transformasi merupakan perubahan bentuk atau pemalihan yang
artinya perubahan dari benda asal manjadi benda jadiannya.
Perubahan itu sudah tidak memiliki atau memperlihatkan kesamaan
atau keserupaan dengan benda asalnya namun perubahan jadiannya
masih menunjukkan petunjuk benda asalnya. Desain transformasi pada
perancangan ini dengan pendekatan tipologi yang menggunakan
pendekatan –pendekatan pemalihan atau transformasi, eksotik dan
multicultural serta kompleksitas dan kontradiksi dalam prosesnya.
Poin-poin yang akan dibahas dalam tiap aspek berbeda-beda.

Tabel 2. Teori Trasformasi

 Tipologi
Kajian ini digunakan untuk menjelaskan bentuk secara keseluruhan, strukur atau karakter
suatu bentuk atau objek tertentu (Johnson, 1994) Pengertian tipologi dikaitkan langsung
dengan objek arsitektural, karena pada dasarnya arsitektur merupakan kegiatan budaya yang
menghasilkan obyek tertentu. Tipologi merupakan kajian yang berusaha menelusuri asal-usul
awal mula terbentuknya objek-objek arsitektural.

 Metode
Tema pada perancangan Pusat Kebudayaan masyarakat sabu menggunakan metode
transformasi dari tipologi perkampungan dan rumah adat masyarakat Sabu. Metode umum
yang digunakan adalah penelusuran yang disusun melalui beberapa tahapan yang menujang
mecahan masalah.

Melalui pendekatan-pendekatan tersebut dianalisis dan disesuaikan dengan teori-


teori perancangan untuk mendapatkan konsep desain. Pada prosesnya dibutuhkan partisipasi
masyarakat sebagai narasumber dalam memberikan informasi dan pembenaran terhadap
keadaan permukiman dan rumah adat di Sabu.

Analisis
Fasilitas Pusat Informasi adat dan Budaya
Pusat Informasi adat dan budaya merupakan bangunan yang
memfasilitasi kegiatan khas dan memiliki nilai lokalitas yang tinggi. Kriteria
kebudayaan yang perlu difasilitasi dalam Bangunan Pusat Informasi Adat dan
Budaya: Merupakan kebudayaan yang khas didaerah tersebut, memiliki nilai
lokalitas yang tinggi, memiliki nilai ekonomi, masih dilakukan hingga sekarang
dan dapat difasilitasi dalam bentuk ruang
Tabel 3. Analisis Fasilitas Pusat Informasi Adat dan Budaya

Kegiatan menenun merupakan kegiatan khas yang dilakukan khusus


para wanita dan kegiatan yang berkaitan dengan nira atau lontar dalam hal ini
menyadap dan menganyam biasa dilakukan kamu pria. Sedangkan sabung
ayam merupakan adat istiadat setempat yang dilakukan secara bersama-sama
baik oleh kaum pria dan wanita.

Tipologi Permukiman Adat Sabu


Analisis Tipologi permukiman adat Sabu dibagi menjadi dua bagian
yang pertama mengenai visual bentuk yang mencakup bentuk pola
permukiman, bentuk pemanfaatan ruang terbuka, aksesbilitas, kosmologis
dan orientasi rumah dalam kampung. Sedangkan bagian kedua merupakan
prinsip desain yang mencakup keseimbangan penataan dalam kampung dan
unity massa dalam kampung.
Tabel 4. Hasil Analisis Tipologi Permukiman Adat Sabu

No Aspek Analisis Hasil Analisis


1 Pola Permukiman Linier
bentuk

2 Pemanfaat Ruang Terbuka 1. Ruang terbuka Dalam Kampung


2. Ruag terbuka Luar Kampung
3 Aksesibilitas Memanjang Timur –barat berupa gerbang
Visual

4 Kosmologis
5 Orientasi Rumah Orientasi rumah berhadap hadapan menghadap utara -selatan
6 Prinsip Keseimbangan Bentu perkampungan simetris
7 Desain Unity

Analisisis Tipologi Rumah Sabu


Pada analisis tipologi rumah adata terdapat dua hal yang akan dikaji
yang pertama mengenai spasial dan yang kedua adalah mengenai fisik dan
stilistik. Pada analisis spasial meneitik beratkan pada kajian tentang orientasi
rumah. Orientasi Rumah Sabu adalah memanjang timur ke barat dan
menghadap utara atau selatan.

Gambar 1. Metode Desain


(Sumber: Kini , 2012)

Sedangkan pada analisis spasial kedua mengenai pola ruang dalam rumah
Sabu sendiri. Masyarakat sabu membagi ruang dalam rumah mereka menjadi 3
pembagian ruang.
Gambar 2. Metode Desain
(Sumber: Kini , 2012)
Pada analisis mengenai Fisik dan Stilistik terdapat dua aspek yang
dikajian antara lain aspek Visual bentuk mencakup bentuk bangunan, warna,
tekstur, bukaan dan ornamen. Aspek kajian kedua adalah mengenai prinsip
desain yaitu tentang keseimbangan bentuk, irama, skala dan proporsi. Rumah
Adat Sabu memiliki kesimbangan bentuk bangunan yang
simetri.

Gambar 3. Keseimbangan Bangunan Simetri


(Sumber: Kini , 2012)

Gambar 4. Tampak Kawasan Pusat Informasi Adat dan Budaya


(Sumber: Kini ,2012)

 Desain
Tata massa bangunan Pusat Informasi Adat dan Budaya Sabu ini menggunakan tata massa
perkampungan adat dengan transformasinya. Pada Kampung adat Sabu terdapat beberapa
prinsip yang selalu ada antara lain terdapat ruang bersama yang dikelilingi oleh rumah-
rumah tinggal, letak ruang bersama selalu dibagian tengah, terdapat dua pintu masuk yang
terdapat di bagian barat dan timur disebut Toka Wa dan Tola Dimu, sirkulasi memutar dan
semua rumah selalu berpasang-pasangan .
 Ruang Bersama
Implementasi penggunaan ruang bersana pada Pusat informasi adat dan budaya sesuai
mengambil posisi ditengah kampung. Ruang bersama ini biasa digunakan untuk mengadakan
penampilan penari pedo’a yang dilakukan setiap bulan purnama dan beberapa tarian adat
lainnya.

Gambar 5. Implementasi Ruang Bersama


(Sumber: Kini, 2012)

 Orientasi Kawasan dan Sirkulasi


Arah orientasi tata massa didesain sesuai dengan kosmologis budaya yaitu gerbang masuk
berada dibagian timur dan barat. Orientasi Bangunan- bangunan dengan fungsi utama juga
berorientasi timur dan barat.
Gambar 6. Implementasi Ruang Bersama
(Sumber: Kini, 2012)

 Zonasi Massa
Pada kawasan pusat informasi adat dan budaya dibagi menjadi tiga bagian yaitu
area publik, area semi publik, dan area privat.

Gambar 7. Zonasi
(Sumber: Kini, 2012)
Massa Rumah Tenun dan Rumah Nira
Massa rumah tenun ini menggunkan konsep penggunaan ruang secara vertical yaitu
semakin ke atas sifat ruangnya semakin privat.

Gambar 8. Bagian –bagian Massa Rumah Tenun dan rumah Nira


(Sumber: Kini, 2012)

Kesimpulan
Arsitektur tradisional rumah adat Sabu beraneka ragam dan indah yang

menunjukan bagaimana desain dan tipologi disesuaikan dengan alam dan kebutuhan

masyarakat. Secara arstitektur,pola bangunan yang ditetapkan yakni pola clutcer/pola

mengelompok,dimana masa bangunan yang ada tetap berpusat pada satu titik yang

berada pada ruang terbuka dimana pertunjukan seni dan tradisi adat dilakukan. Pada

daerah perbukitan,masyarakat setempat justru memanfaatkan kemiringan tanah

perbukitan untuk mengintai musuh dan menghindar dari bahaya lainya yang

mengancam.

Bentuk rumah adat juga mengambil konsep dasar dari bentuk perahu,bahkan sebagian besar

konstruksi mengambil nama dari elemen konstruksi perahu.Masyarakat sabu juga cukup tegas

dalam menzoning ruangan dimana ada pembagian ruangan perempuan dan laki-laki.

Tarian

Tarian Ledo
Merupakan sebuah tarian tradisional yang sakral bagi

masyarakat adat Sabu Raijua yang ditujukan untuk mengiringi arwah

manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang damai dan

abadi (surga/nirwana). Tarian ini akan dilaksanakan pada saat jenazah

orang meninggal di semayamkan di dalam rumah adat. Beberapa

orang yang telah ditunjuk untuk menarikan tarian ini melakukan

gerakan – gerakan sambil memegang pedang yang terhunus dan juga

diiringi oleh gong dan tambur serta syair – syair sakral oleh para

penyair.
Tarian ini juga ditarikan berpasang-pasangan secara

berurutan, inilah momen dimana bisa memamerkan pusaka seperti

rantai emas, anting dan sabuk, gelang gading dan kain ikat terbaik.

Para lelaki dengan pedangnya (hemala) memamerkan keahlian

berpedang dan mencoba memberi kesan mendalam kepada kaum

wanita yang bergerak secara amat perlahan dengan gerakan tangan

mereka yang gemulai. Para wanita diperbolehkan berhenti menari

kapanpun mereka mau. Selama masih ada wanita yang menari, para

lelaki harus selalu menari dan ini dapat berlangsung sampai 30

menit hingga lebih.

Tarian Ledo

Tarian Ledo terdiri dari beberapa gerakan, dimulai dari

gerakan yang lambat untuk memagari arena dari roh – roh jahat (Lau

Nada), kemudian dilanjutkan dengan gerakan yang cepat dan

tangkas (Gigi), lalu disusul dengan suatu gerakan perang antara dua

anggota penari laki – laki (Pej’uru) dan penutup adalah gerakan Lau

Nada kembali. Pada saat sekarang ini tarian Ledo Hawu juga
ditampilkan bila ada tamu kehormatan yang datang berkunjung ke

Sabu. Tarian ini dilaksanakan beralaskan tikar. Artinya bukan

langsung pada tanah (kaki tidak menyentuh tanah).

Pakaian dan atribut yang digunakan oleh penari laki –

laki berupa kain tenun berwarna putih atau motif Sabu di bagian

bawah bagi laki-laki, giring – giring di kaki, pedang terhunus di

tangan kanan, destar di kepala, aneka pernak – pernik kain warna –

warni. Sedangkan pakaian dan atribut yang digunakan wanita yakni

sarung motif adat Sabu, gelang gading gajah.

Saat ini tarian Ledo bukan hanya dilaksanakan pada saat hari

kematian saja, tarian ini juga dilaksanakan pada saat

memperingati hari ulang tahun dan bahkan sudah mulai

diperlombakan untuk terus selalu melestarikan tarian tradisional

kepada keturunan-keturunan berikutnya.

Tarian Pedo’a
Berbeda dengan tarian Pedo’a, dimana merupakan tarian

melingkar yang juga ditampilkan pada malam hari di setiap

penghujung musim hujan dan juga setiap malam bulan muda di

bulan Bungaliwu. Tarian ini digunakan untuk memanggil para

leluhur melalui doa dan mengingatkan kita untuk selalu berdoa

kepada tuhan. Setiap orang dipersilahkan untuk dapat mengikuti atau

berpartisipasi tarian ini.

Tarian ini dipimpin oleh seorang pemimpin tari yang

berada di tengah lingkaran dan akan memberikan ritme selagi

menyanyikan lagu-lagu ritual dan tradisional yang berkaitan dengan

leluhur dan kejadian lampau, sedangkan penari yang melingkar

menyambut lagu dan ritme tersebut dalam satu paduan suara. Tarian

ini dapat berlangsung selama 30 menit bahkan lebih. Setiap penari

memiliki wadah anyaman dikakinya yang diisi dengan kacang

ijon/hasil panen lainnya. Sesuai dengan tradisi, apabila biji-bijian

tersebut masih utuh setelah tarian selesai, maka biji-bijian tersebut

memiliki kualitas yang bagus dan akan terus ditanam.

Pakaian Adat

Busana laki-laki Sabu


Gbr. 1. Dewan Rue dari Mesara memakai selimut hi'i wohèpi, hubi

iki

Busana laki-laki Sabu adalah (atau pernah berupa) kain

persegi panjang dan berumbai yang dipakai mengelilingi pinggul

disebut hi’i (atau hig’i, hij’i) dalam bahasa Sabu, atau ‘selimut’

dalam bahasa Indonesia. Dewasa ini hanya para pengikut

kepercayaan kuno Jingi tiu yang memakai hi’i buatan lokal pada

waktu upacara-upacara ritual (Gbr. 1) dan kadang-kadang dalam

kehidupan sehari-hari. Dewasa ini mayoritas laki-laki Sabu

lebih suka memakai sarung Jawa dari bahan katun yang dingin,

sarung Bugis, atau celana panjang. Identitas etnis satu-satunya

adalah sehelai tenunan yang mengelilingi leher pria Sabu. Dalam

hal berbusana para perempuan Sabu jauh lebih konservatif dari

kaum pria, karena banyak perempuan dalam kehidupan sehari-

hari di desa-desa masih mengenakan sarung buatan sendiri.

Busana tradisional laki-laki yang dipakai pada waktu upacara

terdiri dari sepasang kain tenun ikat. Tenun pertama dipakai di

pinggul, tenunan kedua dipakai sebagai selendang di leher yang


juga menutupi bahu (Gbr. 1). Di masa yang lalu kedua kain

tenun memiliki ukuran dan nama yang serupa. Juga polanya

sama karena benang yang dipergunakan untuk membuat

sepasang kain diikat dan dicelup pada waktu yang sama. Dewasa

ini sudah tidak demikian halnya, busana tradisional bisa

memakai pola dan ukuran kain yang berbeda.

Ciri-ciri sehelai hi’i

Di pulau-pulau lain di Nusa Tenggara Timur, motif pada kain ikat

laki-laki menghubungkan si pemakai dengan suku tertentu, seperti

halnya di pulau Sumba. Di pulau Sabu, komposisi dan pola tenunan

mengidentifikasikan si pemakai dengan kelompok Bunga Palem

Besar atau dengan kelompok Bunga Palem Kecil (hubi ae dan hubi

iki). Identifikasi sosial mengikuti garis ibu ini sudah sangat kuno dan

sudah ada sebelum kedatangan orang Portugis (abad ke 16) dan

dikenal jauh sebelum suku (clan laki-laki) (udu) terbentuk. Secara

tradisi, perempuan hanya menenun pola kelompok ibunya sendiri.

Seorang isteri hanya menenun selimut bagi suaminya, kalau

suaminya keturunan nenek moyang yang sama (yaitu berasal

dari hubi atau wini yang sama). Bila garis keturunan mereka

berbeda, maka selimut laki-laki harus ditenun oleh ibunya, kakak

perempuannya atau anak dari kakak perempuan.

Pola utama, wohèpi dan komposisi dasar dari sehelai hi’i


Gbr. 2. Pola utama wohèpi untuk selimut kelompok laki-laki dari

hubi iki

Komposisi maupun pola sehelai sarung perempuan (èi)terikat oleh

peraturan ketat, dan setiap hubi memiliki polanya masing-masing.

Demikian halnya dengan selimut laki-laki: setiap hubi masing-

masing memiliki motif dasar. Sebenarnya kedua motif dilandaskan pada

sebuah pola belah ketupat yang dinamakan wohèpi yang mengingatkan

kita pada motif wajik pada sarung perempuan yang

dinamakan wokelaku. Bagi anggota kelompok Bunga Palem Kecil (hubi

iki), motif belah ketupat bagian sampingnya tertutup, dan motif

dinyatakan berbentuk ‘bulat’ (Gbr. 2). Bagi anggota kelompok Bunga

Palem Besar (hubi ae), motif belah ketupat bentuknya lebih lonjong, dan

cabang-cabangnya yang keluar terbelah oleh sebuah garis tenun

sederhana (Gbr.3).

Mengikuti zamannya, dari motif

dasar wohèpi dikreasikan sebuah motif baru untuk laki-laki

kelompok hubi ae yang dinamakan boda, walaupun di wilayah Liae


dan Dimu, motif wohèpi masih sering terlihat dipakai oleh laki-laki

kelompok hubi ae. Di pulau Sabu barat, di wilayah Seba dan

terutama di daerah Mesara, laki-laki kelompok hubi ae memakai

motif baru boda yang sering dikombinasikan dengan pola-pola

dekoratif lainnya.

Gbr. 3. Hi’i wohèpi, huri henguru pidu hubi ae (17 baris bermotif),

kelompok hubi ae. Hi'i hekene; sambungan simbolis merah.

Di pulau Sabu Timur, sehelai hi’i dengan motif wohèpi

dikombinasikan dengan sekumpulan motif segitiga putih

(wopudi) merupakan kain kafan wajib kaum pria, sedangkan di

pulau Sabu Barat, kain kafan wohèpi hanya diperuntukkan

anggota kelompok hubi iki. Motif wohèpi hegai berasal dari pola

yang sama yang ujung-ujungnya membentuk sebuah kait

(hegai), dan hanya boleh dipakai oleh anggota keluarga ningrat

awah). Pola-pola baru diciptakan untuk para penguasa, untuk

membedakan diri dengan orang biasa. Hal yang sama telah

disebutkan di atas mengenai sarung perempuan bangsawan (èi


raja). Sabuk seorang laki-laki bangsawan yang disebut wai

wake seringkali juga menunjukkan garis-garis raja.

Sebuah hi’i tradisional terdiri dari dua lembar tenunan

(d’ue kene) yang tidak sama dan memperlihatkan baris-baris

bermotif ikat yang berjumlah ganjil atau disebut juga huri.

Dalam sistem penalaran orang Sabu, jumlah yang ganjil

merupakan ciri khas bagi seorang laki-laki. Sehelai selimut dapat

memiliki 5 hingga 19 atau bahkan 21 baris dengan motif utama,

tergantung dari ukuran motif yang ditenun. Lebih banyak

jumlah huri, lebih tinggi nilai selimut tersebut. Hal ini menunjuk

pada kekayaan atau status sosial si pemakai. Sehelai selimut

besar yang bila dipakai melewati lutut merupakan hak istimewa

tambahan bagi seorang bangsawan. Dewasa ini hi’i ditenun

sebagai satu helai, hasil proses tenun tunggal, jadi terdiri dari

satu kenesaja (hekene). Hi’i ukuran ini seringkali ditenun dengan

sebuah sambungan simbolis berwarna putih atau merah (Gbr. 3),

sehingga masih tetap bisa dipakai untuk upacara penguburan,

dan pada umumnya berukuran lebih kecil dari selimut dua

lembar (d’ue kene). Hi’i d’ue kene memperlihatkan keterampilan

si penenun, karena kedua helai itu ditenun secara terpisah, tetapi

harus berukuran tepat bila disambung setelah selesai.

Hi’i womèdi (‘hitam’)

Hi’i yang paling tradisional dengan motif wohèpi hanya

memakai dua warna dalam baris-barisnya yang bermotif ikat,

yaitu warna indigo-biru dan (atau) putih, sehingga juga


disebut hi’i womèdi atau selimut ‘hitam’ (Gbr. 2 & 3). Warna

indigo bervariasi dari biru muda hingga biru tua atau hampir

hitam, tergantung dari daerah asal si penenun. Seorang penenun

dapat menyatakan daerah asal sehelai kain dari jenis warna

indigo-biru yang tampak. Motif-motif diperoleh melalui proses

ikat tunggal. Pada setiap sisi kain terdapat dua kelompok titik-

titik kecil berwarna hitam dan putih yang dinamakan kelutu

mèdi dikombinasikan dengan garis-garis tenunan sederhana

membentuk sebuah dini, sedangkan dua dini yang membatasi

sebuah baris yang terdiri dari sebuah motif utama

membentuk wurumada atau ‘mata halus’ kain

tersebut. Dini memiliki dua warna: indigo-biru dan putih atau

merah dengan indigo-biru. Selimut dari daerah Seba, biasanya

memiliki tiga atau enam baris kelutu. Mesara memiliki empat

atau delapan baris, dan dari Liae dan Dimu memiliki lima, enam

atau bahkan tujuh baris kelutu. Ban hitam

sepanjang wurumada disebut mèdi ae yang lebih besar dari roa di

Seba, Liae dan Dimu, tetapi ukurannya hampir sama

dengan mèdi ae pada selimut di Mesara. Melalui detil-detil ini

dapat diketahui daerah asal sehelai hi’i. Ada sejumlah hi’i yang

mengkombinasikan warna merah, putih dan indigo pada dini, dan

juga dapat memiliki garis-garis merah di motif utama. Walaupun

demikian, selimut jenis ini termasuk jenis hi’i wo

mèdi juga, karena baris-baris motif yang diikat hanya berwarna

indigo-biru dan putih.


Hi’i dengan motif utama dalam tiga warna

Gbr. 4. Hi’i worapi, motif kekama hab'a dan boda, Mesara

Pengembangan teknik ikat selanjutya memungkinkan penggunaan

tiga warna dalam satu baris ikat, menciptakan hi’i adati dari

jenis worapi (Gbr.1, 4 &5) yang mengingatkan kita pada

sarung worapiperempuan (èi worapi), yang menggunakan teknik

yang sama untuk memperoleh tiga warna. Dini dan hi’i

worapi berwarna cerah, terdiri dari garis tipis berwarna merah, biru

muda dan kuning. Hi’i yang dibuat untuk para bangsawan

memperlihatkan dini yang ‘lengkap’ yang terdiri dari enam atau

tujuh warna.
Gbr.5. Motif boda untuk hi’i worapi, Mesara

Dewasa ini, yang sering dipakai adalah benang komersial yang

sudah dicelup warna terlebih dahulu, sedangkan dahulu penenun

menggunakan bahan pewarna alami: kuning diperoleh dari kunyit,

hijau dari daun pohon pinang (Areca catechu) dan pohon dadap, biru

muda dari dedaunan nila (indigo), dan kedua nuansa merah dari akar

pohon mengkudu.

Di daerah Mesara (Sabu Mehara) dua sub-kelompok atau wini dari

kelompok Bunga Palem Kecil (hubi iki) memiliki motif melengkung

yang khas yang selalu menghias hi’i worapi mereka. Untuk

para wini Putenga, motif ini dinamakan huri kejanga atau motif

bercabang keluar. Bagi wini Jawu motif melengkung ini

dinamakan keware Hawu, atau ‘lengkung Sabu’. Motif kewaru

Hawu merupakan sumber dari motif modern kètu pedi yang tidak

dihubungkan dengan kelompok spesifik manapun (Gbr. 6).

TRADIS CIUM HIDUNG MASYARAKAT PULAU SABU

(Henge’do)

Masyarakat pulau sabu memiliki suatu tradisi unik sekaligus

sedikit kurang lazim bagi beberapa orang dan akan terlihat aneh jika

dinilai oleh orang dari luar Provinsi NTT atau dari budaya suku lain.
Karena pada umumnya orang Nusa Tenggara Timur kurang lebih sudah

mengetahui makna dari cium hidung ini. Ini bisa dilihat dari jumlah

penduduk yang sekitar 30.000 jiwa dengan sifat mobilitas tinggi, sehingga

banyak orang sabu yang menyebar ke seluruh pulau di NTT untuk mencari

pekerjaan dan ada pula yang menetap disana.

Seperti yang pernah terjadi di NTT ketika bapak Presiden

Jokowi berkunjung ke Kupang dan di sambut dengan pemberian salam

selamat datang oleh seorang ibu dengan cara cium hidung, dan saat itu juga

terlihat sekali bahwa presiden Jokowi sangat kaget dengan tingkah sang ibu

dikarenakan Presiden Jokowi belum mengetahui mengenai tradisi cium

sabu tersebut. Akan tetapi sebaliknya bila tradisi cium hidung ini tidak

dilaksanakan maka banyak pihak yang akan tersinggung, terutama keluarga

dan kerabat dekat.

Tradisi cium sabu atau tradisi berciuman dengan saling

menyentuhkan hidung ini adalah sebagai ungkapan rasa rindu, sayang,

persaudaraan, empati dan juga pemberian maaf yang tulus kepada orang

yang dianggap berhak mendapatkan itu. Cium hidung atau dalam bahasa

Sabunya disebut Henge’do, bisa anda temukan pada saat - saat tertentu
seperti pada saat adanya ritual – ritual seperti kematian, pernikahan dan

dalam ibadah – ibadah maupun pertemuan-pertemuan di dalam lingkup

Gereja dimana sang pemberi dan penerima ciuman berusaha

mengktualisasikan ekspresi dari hatinya. Misalnya karena perasaan rindu

sebab sudah lama tidak bertemu, pada saat merayakan hari – hari raya

keagamaan, pada saat menyampaikan ungkapan turut bersedih /

belasungkawa pada saat keluarga atau kerabat mengalami kedukaan atau

kematian, atau memberikan ucapan selamat karena suatu kejadian yang

mendatangkan kebahagiaan dan suka cita seperti di dalam acara pernikahan,

pembaptisan, dan acara ucapan syukur lainnya, serta pada saat mengakhiri

pertentangan / perselisihan yang entah itu di dalam suatu pertemuan adat

biasanya apabila menghadapi kesalah pahaman dalam menentukan jumlah

belis untuk kenoto (masuk minta calon pengantin perempuan) yang akan di

bawa oleh sang calon pengantin pria, serta penentuan hari pernikahan.

ataupun menentukan hak atas tubuh seseorang yang sudah meninggal akan

di taruh di rumah siapa serta tempat dan hari penguburan jenazah dari

keluarga yang meninggal, dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut Bapak RT (Pendeta GMIT, dari Loboae, desa

Ledeana, Sabu Barat), Henge’do dilakukan di dalam kalangan masyarakat

orang sabu dengan tidak mengenal umur, gender, profesi bahkan status

sosial. Ciuman antar hidung ini dilakukan dengan cara saling

menyenggolkan hidung satu sama lain, baik itu antara sesama perempuan,

atau pun laki-laki yang sudah dianggap kerabat dan saudara dekat maupun

saudara, bahkan antara perempuan dan laki-laki. Henge’do dalam suku sabu

ini mengandung makna sebagai penghormatan bagi orang yang di 'salami'.


Dengan cium hidung mereka mau menyatakan bahwa mereka menerima

seseorang dengan hati terbuka. Dalam keseharian masyarakat Sabu, cium

menciuman hidung menjadi tanda perdamaian.

Konflik yang sehebat apa pun akan berakhir dengan sendirinya

setelah berciuman hidung. Sungguh besar dan dalam makna cium hidung ini

bagi masyarakat di Pulau Sabu. Henge’dho adalah nilai luhur yang

diwariskan oleh nenek moyang Orang Sabu yang mengandung makna yaitu

betapa kita sebagai sesama manusia harus bisa saling memberi dan

menerima tanpa rasa pamrih dan juga bisa mengaktualisasikan kasih

sayang terhadap sesama tanpa pandang bulu. Cium Hidung

dilakukan sebagai salah satu bentuk salam perkenalan, persahabatan,

maupun sebagai ungkapan kasih dalam sebuah ikatan kekeluargaan dan

kekerabatan di dalam kehidupan sosial dan budaya kemasyarakatan. Secara

tidak langsung ini menunjukan penghargaan terhadap nilai-nilai sosial-

budaya masyarakat setempat, dan kita pun secara resmi telah diterima

menjadi bagian dari kelompok tertentu. Bagi masyarakat Sabu yang masih

kental dengan budayanya, cium hidung ini memiliki peran yang penting

dalam penyelesaian berbagai masalah, entah itu perselisihan dalam hal

perebutan tanah ataupun pertengkaran dalam pernikahan. Bahkan didalam

acara pernikahan yang masih ketat dengan belis (mahar) yang besar dan

berbagai tuntutan pada keluarga pria, bisa diselesaikan dengan

“memberikan” hidung kepada keluarga wanita yang hadir di acara tersebut

sebagai tanda permintaan maaf atas ketidakmampuannya untuk memenuhi

permintaan belis dari keluarga wanita dan setelah itu tidak ada lagi yang

boleh mengungkit-ungkit belis dan lainnya dalam acara kenoto


(peminangan) tersebut. Contoh lain juga bisa kita lihat pada saat

pemberkatan nikah di mana setelah pasangan pengantin di berkati oleh

Pendeta, pengantin pria akan membuka cadar pengantin wanita dan mereka

akan saling memberi hidung untuk dicium sebagai tanda bahwa mereka

telah resmi menjadi satu dalam kasih Kristus, karena dipercayai bahwa cium

hidung lambang kasih sayang dari suku sabu dan Kristus sebagai kepala

keluarga yang mengajarkan kasih.

Cara mencium dalam budaya Sabu ada pesyaratannya,,,,

Seperti (1) harus tutup mulut,

(2) hanya di hidung saja, bukan di bagian lain dari wajah,

(3) harus tahan nafas.

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa Henge’dho adalah

nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang orang sabu


Sistem kepercayaan
PULAU Sabu di Nusa Tenggara Timur, hingga saat ini masih

menyimpan sebuah misteri,tentang kepercayaan tradisional.

JINGITIU, demikian masyarakat setempat menyebutnya.,

Kepercayaan tersebut, erat kaitannya dengan Penguasa Alam Semesta.

Menurut kepercayaan Jingitiu, kekuasaan terwujud dalam hierarki

yang jelas, mulai dari Tuhan hingga pemimpin adat.

Statistik Agama dan Kepercayaan di Kabupaten Sabu Raijua


2010
AGAMA & PERSENTASE JUMLAH RUMAH JUMLAH
KEPERCAYAAN PENDUDUK IBADAH ROHANIWAN
PENGANUT
AGAMA

KATOLIK 7,06 8 1
PROTESTAN 80,76 116 37
ISLAM 0,79 1 10
HINDU 0,02 0 0
LAINNYA 11,37 0 0
JUMLAH 100 125 48

Jejak dari kepercayaan ini adalah banyaknya kuburan batu, gua pemujaan, dan

hukum adat serta kekuasaan di masyarakat atau di desa-desa adat. Eksistensi

kepercayaan Jingitiu menjadi penanda bahwa agama modern belum menyentuh sisi

terdalam kebudayaan orang Sabu.

Ama Lay Lado, salah seorang tokoh masyarakat Sabu, yang di temui di

Menia, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua, Sabtu, 24 Maret 2012, menuturkan,

kekuasaan menurut kepercayaan Jingitiu, ada sejak nenek moyang orang Sabu yang

dikenal dengan nama Kikaga dan Liura.


Lay Lado mengisahkan, konon, mereka tinggal di Pulau Sabu,

tepatnya di Gua Merabu. Kekuasaan dalam kepercayaan orang Sabu tertata secara

hierarkis mulai dari Tuhan hingga pemimpin adat. Konsep kekuasaan ini masih

dijalankan meskipun mayoritas penduduk Sabu saat ini beragama Kristen.

“Konsep kekuasaan ini diperoleh Kikaga atas petunjuk

Lirubala (Tuhan langit) di atas sebuah batu merah (Wadumea). Hingga kini, gua

Merabu dan Wadumea dikeramatkan oleh orang Sabu. Selain tidak boleh

sembarangan orang menjamahnya, di kedua tempat ini juga sering digelar upacara

adat,” jelasnya.

Kepercayaan ini, bermula dari cerita rakyat Sabu. Awalnya

Kikaga adalah seorang pencari ikan. Suatu ketika, datanglah sosok dari langit

bernama Ludji Liru yang menanyakan dari mana asal Kikaga apa yang dicari.

Kikaga menjawab, ia berasal dari seberang dan sedang mencari ikan. Kikaga lalu

diajak Ludji Liru ke khayangan menghadap Lirubala.

Selama di khayangan, Kikaga terus menangis. Karena itu, ia

dikembalikan ke bumi dan diminta untuk tidur di atas batu merah (Wadumea)

untuk menantikan sesuatu yang akan diturunkan dari langit. Hingga sekarang,

penganut Jingitiu menjaga Wadumea yang dianggap sebagai tempat Kikaga

mendapat petunjuk dari Tuhan langit atau Lirubala.

Keesokan harinya, Kikaga mendapatkan dua hal dari langit. Pertama,

kepandaian dan keterampilan untuk mengajarkan budi luhur tentang Tuhan,

kemanusiaan, dan lingkungan. Kedua, Kikaga mendapatkan Liura (puteri

matahari) sebagai isterinya. Selanjutnya, keduanya tinggal di dalam Gua

Merabu dan beranak-pinak menurunkan orang Sabu sekarang ini. Dalam

perjalanan suci mengajarkan budi luhur, Kikaga mengendarai kerbau. Oleh

karena itu, hingga sekarang kerbau menjadi binatang yang dikeramatkan oleh

orang Sabu.
Menurutnya, penganut ajaran Jingitiu percaya bahwa

keturunan Kikaga dan Liura mulai berkembang dari kampung

yang bernama Teriwu Raeae. Mereka membentuk sebuah

komunitas bernama Mone Ama yang artinya “7 laki-laki yang

dibapakkan”.

Sejak dahulu, lanjutnya, di wilayah ini sudah terbagi dalam 7

bagian yang dipimpin oleh 7 pejabat, yaitu Deo Rai, Dohe Leo, Rue,

Bangu Uda, Pulodo Muhu, Mau Kia, dan Bawa Iri. Tujuh pejabat

tersebut memiliki tugas masing-masing, yaitu,

Deo Rai bertugas menjalankan dan memimpin upacara yang

berhubungan dengan kesejahteraan rakyat, seperti upacara meminta

hujan, mencegah hama, memohon panen yang melimpah, menangkal

bencana atau penyakit, dan lainnya.

Dohe Leo bertugas mengawal wilayah dan pengamat upacara.

Misalnya, jika terdapat kesalahan dalam pelaksanaan upacara yang bisa

mendatangkan kutukan, Dohe Leo akan meminta bantuan Deo Rai.

Rue bertugas melaksanakan upacara penyucian. Artinya Rue akan

menggelar upacara penyucian pengganti jika ada pelaksanaan upacara

yang salah. Bangu Uda bertugas mengurus tanah warga,Pulodo

Muhu adalah panglima perang yang bertugas menjaga keamanan

wilayah.Mau Kia bertugas melaksanakan pengadilan dan menyelesaikan

sengketa atau konflik di antara warga atau dengan warga kampung

lain.Bawa Iri bertugas menjaga, memelihara, dan membawa alat-alat

upacara.

Dalam pelaksanaan upacara adat, jelasnya, ketujuh pejabat di atas

memiliki anggota-anggota yang terdiri dari: Kiru Lihu (penolak

perang), Lado Aga (penjaga kedamaian), Lado Lade (penjaga keindahan


dan kelestarian alam), Hawa Ranga (pengatur musim), dan Puke

Dudu(penenang gelombang laut). Struktur paling bawah disebut Do

Gau atau rakyat. Do Gau bertugas mengikuti upacara dan melaksanakan

anjuran serta petunjuk.

“Pengetahuan Suku Sabu tentang kekuasaan hingga sekarang

masih diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun mayoritas

penduduk sudah memeluk agama Kristen. Jumlah pengikut Jingitiu,

diperkirakan masih ada sekitar 10 % dari jumlah penduduk Kabupaten

Sabu Raijua atau 8000 orang, yang menyebar di seluruh wilayah ini,”

ujarnya.

Meskipun saat ini kepercayaan tradisional itu masih ada dan

masih dipertahankan oleh para pengikutnya, membuat gundah Bupati

Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome. Hal ini karena, aliran Jingitiu

kurang dilindungi dan difasilitasi oleh pemerintah dan elemen

masyarakat lain. Bahkan, di tengah persoalan kemiskinan dan

keterbatasan yang dialami para penganut Jingitiu berdampak pada

lunturnya daya magis dari sebuah ritual.

Sebagai misal, tuturnya, jika setiap ritual harus menggunakan

hewan kurban yang besar, tetapi karena masalah kemiskinan maka hanya

dilakukan dengan seekora ayam atau sabut kelapa yang dibakar sebagai

pengganti hewan kurban, maka daya magisnya akan hilang.

“Saya akan mengembalikan kepada yang sebenarnya dan mereka

akan melakukan ritual adat yang sungguh– sungguh sehingga apapun

yang dinginkan dari ritual itu akan terwujud, dan saya akan

memfasilitasinya,” kata Dira Tome.

Ia mengatakan, pemerintah bertindak sebagai penengah

dan memberikan ruang yang luas baik kepada agama Kristen

Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan Budha, juga kepada agama suku
Jingitiu untuk tetap eksis. Akan ada kebijakan khusus untuk melindungi

aliran Jingitiu agar jangan sampai hilang.

Model pemberian ruang oleh pemerintah itu, lanjutnya, ketika

anak dari orang yang menganut aliran Jingitiu lahir dan dipermandikan

sesuai ajaran Jingitiu yang dikenal dengan sebutan “hapo” maka anak

tersebut punya hak untuk mendapatkan akte kelahiran. Tidak harus

menunggu permandian seperti di agama Kristen, tapi dia punya hak

untuk mendapat akte dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang

layak

Selain itu, tambahnya, orang yang menganut aliran jingitiu

ketika dinikahkan oleh gereja jangan dipaksa n untuk menjadi Kristen.

“Meski pasangan Jingitiu itu menikah sesuai adat dan kepercayaan

Jingitu, kita berikan akte nikah,” katanya.

Ia mengatakan, langkah itu diambil pemerintah sebagai bentuk

keberpihakan untuk melindungi agama suku agar jangan musnah lantaran

keinginan agama. Hakekat sesungguhnya bukan persoalan orang menjadi

pengikut agama Kristen, Islam dan Katolik dan sebagainya tetapi

bagaimana orang bisa menjalankan norma kepercayaan yang tidak

bertentang dengan ajaran moral dan kepentingan masyarakat.

Hingga kini, jumlah masyarakat Sabu Raijua yang menganut

aliran Jingitiu semakin berkurang. Hal itu, lantaran ada kebijakan masa

lalu yang keliru. Selain itu, ada kegiatan upacara adat yang tidak bisa

diabaikan kerena aliran Jingitiu penuh dengan ritual dan prosesi adat.

Bahkan, dari bulan ke bulan ada ritual yang wajib dilakukan oleh

kepercayaan Jingitiu.

Menurut dia, pemerintah dan semua elemen masyarakat Sabu

Raijua harus memberikan perlindungan sehingga penganut Jingitiu dapat


dengan nyaman melakukan segala ritual itu agar budaya Sabu jangan

sampai hiang. “Saya ingin mereka tetap eksis,” katanya.

Melestarikan budaya, termasuk memelihara aliran Jingitiu di Sabu

merupakan ciri dari orang bermartabat. Langkah perlindungan yang

ditempuh itu bertujuan memberikan perlindungan dan penghormatan

kepada agama suku ini agar tetap ada. Upaya ini merupakan wujud

usaha Orang Sabu dalam melestarikan ajaran leluhur.

Pengertian Seni
Pengertian kata seni kita ambil dari Inggris art, yang berakar pada kata Latin

ars, yang berarti: "ketrampilan yang diperoleh melalui pengalaman,

pengamatan atau proses belajar". Dari akar kata ini kemudian berkembang

pengertian yang diberikan oleh kamus Webster sebagai berikut:

"penggunaan ketrampilan dan imajinasi secara kreatif dalam menghasilkan

benda-benda estetis." (Webster's Collegiate Dictionary, 1973, hal.63).

Pengertian lain diambil dari bahasa Belanda kunst, yang

mempunyai definisi sebagai berikut: "suatu kesatuan secara struktural dari

elemen-elemen estetis, kwalitas-kwalitas teknis dan ekpresi simbolis, yang

mempunyai arti tersendiri dan tidak membutuhkan lagi pengesahan oleh

unsur-unsur luar untuk pernyataan dirinya".(Winkler Prins, hal.427).

Definisi seni Kamus Umum Bahasa Indonesia: Kecakapan

membuat (menciptakan) sesuatu yang elok-elok atau indah. Sesuatu karya

yang dibuat (diciptakan) dengan kecakapan yang luar biasa seperti sanjak,

lukisan, ukiran-ukiran dsb.

Proses Penciptaan Seni


Seni itu merupakan suatu jenis kreasi atau penciptaan dan dengan

itu ditekankan segi kebaruan dari seni. Seni itu tidak mengulang alam,

karena itu Susanne K.Langer menolak teori Aristoteles yang mengatakan

bahwa seni merupakan peniruan (mimesis) dari alam. Seni sungguh-

sungguh menghasilkan sesuatu yang lain sama sekali dari realitas

alamiah. Karya seni meskipun dalam arti tertentu mempunyai kemiripan

dengan alam, namun ia sudah tercabut dari kenyataan alamiah. Pada seni

terdapat prinsip kelainan dari alam, yang membuat seni itu sungguh-

sungguh berdiri sendiri sebagai ciptaan.

Prinsip ketercabutan dari kenyataan alamiah menjadi prinsip

penciptaan seni. Karena Langer bertolak dari asumsi bahwa karya seni

adalah hasil simbolisasi manusia, maka prinsip penciptaan seni

mengambil pola dari prinsip simbolisasi atau pembentukan simbol.

Orang percaya bahwa intuisi atau inspirasi memegang peranan yang penting di dalam

aktivitas mencipta. Dari pengalaman estetik, manusia memperoleh kesan dalam

kehidupannya. Dan manusia cenderung ingin mengabadikan kesan yang dimilikinya.

Kesan-kesan inilah yang kemudian dituangkan dan diabadikan dalam sebuah karya

seni.
TEORI TENTANG SENI

Menjelaskan Budaya Daerah dengan Teori

 Realisme
Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan

subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan

sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu.

Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa unruk

memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang

buruk sekalipun.

Perupa realis selalu berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari

dari karakter, suasana, dilema, dan objek, untuk mencapai tujuan

Verisimilitude (sangat hidup). Perupa realis cenderung mengabaikan

drama-drama teatrikal, subjek-subjek yang tampil dalam ruang yang

terlalu luas, dan bentuk-bentuk klasik lainnya yang telah lebih dahulu

populer saat itu.

Dalam pengertian lebih luas, usaha realisme akan selalu terjadi

setiap kali perupa berusaha mengamati dan meniru bentuk-bentuk di

alam secara akurat.Sebagai contoh, bentuk rumah adat dan motif tenun

budaya sabu berupaya meniru perahu, bunga palem,dan bela ketupat.

Kejujuran dalam menampilkan setiap detail objek terlihat pula

Reality adalah keadaan atau sifat benda yang real atau yang ada, yakni

bertentangan dengan yang tampak. Dalam arti umum, realisme berarti

kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi bukan kepada yang

diharapkan atau yang diinginkan.

Dalam arti filsafat yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa

obyek indera kita adalah real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari
kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada

hubungannya dengan pikiran kita. Bagi kelompok realis, alam itu, dan

satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah: menjalin hubungan yang

baik dengannya. Kelompok realis berusaha untuk melakukan hal ini,

bukan untuk menafsirkannya menurut keinginan atau kepercayaan yang

belum dicoba kebenarannya. Seorang realis bangsa Inggris, John

Macmurray mengatakan:

Kita tidak bisa melepaskan diri dari fakta bahwa terdapat

perbedaan antara benda dan ide. Bagi common sense biasa, ide adalah ide

tentang sesuatu benda, suatu fikiran dalam akal kita yang menunjuk suatu

benda. Dalam hal ini benda adalah realitas dan ide adalah 'bagaimana

benda itu nampak pada kita'. Oleh karena itu, maka fikiran kita harus

menyesuaikan diri dengan benda-benda , jika mau menjadi benar, yakni

jika kita ingin agar ide kita menjadi benar, jika ide kita cocok dengan

bendanya, maka ide itu salah dan tidak berfaedah. Benda tidak

menyesuaikan dengan ide kita tentang benda tersebut. Kita harus

mengganti ide-ide kita dan terus selalu menggantinya sampai kita

mendapatkan ide yang benar. Cara berpikir common sense semacam itu

adalah cara yang realis; cara tersebut adalah realis karena ia menjadikan

'benda' adalah bukan 'ide' sebagai ukuran kebenaran, pusat arti. Realisme

menjadikan benda itu dari real dan ide itu penampakkan benda yang

benar atau yang keliru. Ide berakar dari kenyataan virtual,kenyataan

tentang bgimana indra kita menangkap objek yang kita anggap

realitas.Pada daerah Sabu,masyarakat kebanyakan bekerja sebagai petani

dan pengiris lontar.Diwilayah sabu juga banyak ditumbuhi pohon

palem.Budaya masyarakat Sabu juga berakar dari realitas tempat

tinggal,lingkungan dan pekerjaan yang sekarang direpresentasikan dalam

bentuk seni
 Mimesis
Teori Mimesis berpijak pada pemikiran bahwa seni adalah suatu usaha

untuk menciptakan tiruan alam. Kata mimesis berasal dari kata Yunani

dimana teori ini pertama kali dicetuskan oleh Plato. Terjemahan yang

tepat dari kata mimesis agak sukar dicari, karena bagi Plato mimesis ini

tidak saja berlaku untuk seni rupa melainkan juga berlaku untuk seni

musik, drama dan sebagainya.

Teori mimesis ini amat penting dalam tinjauan seni karena

setelah zaman Yunani konsep ini dihidupkan kembali dalam seni

Renaissance dan sampai sekarng masih cukup berpengaruh. Inti dari

teori mimesis ini adalah perkembangan seni naturalis baik secara

formal maupun sebagai pengenalan pengalaman.

Yang dipermasalahkan di teori imitasi :

“Artwork harus bisa mempersembahkan Realita. Yang indah, yang bagus,

yang makin dekat dengan realita digambarkan di karya seni yang

bagus.Plato menggunakan “mimesis” sebagai bagian dari “representasi”

atau “imitasi”. Aristoteles melihat mimesis itu lebih dari sekedar imitasi

terhadap realita. Menurutnya konsep ini merujuk pada representasi dari

tipe-tipe dan tindakan manusia pada umumnya daripada imitasi dari

alam.Seniman tidak mengimitasi realita maupun alam, tetapi

merepresentasikan alam atau realita itu. Menurut pandangan ini, mimesis

adalah gambaran dari apa yang memungkinkan, jadi hasil karya seni

tersebut bisa juga menjadi tidak realistis.


Ini merupakan salah satu contoh karya dari penerapan teori

imitasi. Dimana seniman menggambarkan badak secara realis, sesuai

dengan kenyataan yang dapat kita indrai. Tapi karya ini pun tidak

mendukung teori imitasi sepenuhnya, karena teori imitasi

megharapkan hasil yang serupa dan sama sesuai dengan realita,

sedangkan, banyak sekali faktor-faktor yang tidak memungkinkan hal

itu terjadi; seperti perbedaan sudut pandang pelukis, latar belakang

budaya dan lingkungan tempat ia tinggal, dsb.

 INSTRUMENTAL
Teori ini berpijak pada pemikiran bahwa seni mempunyai tujuan

tertentu dan bahwa fungsi dan aktivitas seni sangat menentukan dalam

suatu karya seni. Misalnya fungsi-fungsi edukatif, fungsi-fungsi

propaganda, religius dan sebagainya. Cabang lain dari teori ini adalah

seni sebagai sarana penyampaian perasaan, emosi dan sebagainya. Seni

adalah sarana kita untuk mengadakan kontak dengan pribadi si seniman

ataupun bagi seniman untuk berkomunikasi dengan kita.

Sistem kekerabatan dan organisasi sosial


Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting

dalam struktur sosial. M. Fortes mengemukakan bahwa sistem

kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk

menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.

Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa

keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan.

Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu,


kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian

sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan

dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga

ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum

kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti,

keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.

Penutup

Kesimpulan

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama

oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke

generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk

sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,

bangunan, dan karya seni.

Dalam mempertahankan kelangsungan hidup diri dan kelompoknya,

manusia mau tidak mau mesti menyesuaikan diri dengan lingkunganya.

Akibatnya setiap wilayah memiliki budaya yang berbeda satu sama lain

karena mesti menyesuaikan dengan lingkungan.Budaya Timur akan

berbeda dengan budaya Barat. Budaya Masyarakat NTT akan berbeda

dengan budaya masyarakat Filnand. Muncul Paham serta Teori

Realis,Mimesis,dan Insturmental dalam menjelaskan Fenomena Ini.

Ketersediaan Sumber daya masing-masing wilayah berbeda-

beda,menuntut penggunaan alat yang berbeda-beda. Masyarakat Sabu

dan Sekitarnya berprofesi sebagai petani,nelayan, pengiris Tuak, dan


petani garam. Peralatan yang digunakan yakni peralatan yang disesuaikan

dengan profesinya yakni berupaya alat pancing,pisau,belatih,cangkul.

Masyarakat Sabu Juga memegang keyakinan serta norma-norma yang

mengatur perilaku masyarakat agar lebih Harmonis.

Budaya Masyarakat Sabu yang terkenal yang Henge’do (Cium Hidung

bertemu Hidung) adalah tradisi yang masih dipegang masyarakat Sabu

sebagai ungkapan rindu,saying,empati,menjalin kasih,membangun

keharmonisan dengan sesame. Tradisi menjadi tradisi satu-satunya

didunia yang tidak dimiliki wilayah lain

Pakaian adat wilayah Sabu juga terkesan terbuka, hanya terdiri dari

beberapa helai kain. Pakaian adat disesuaikan dengan iklim Tropis

wilayah Sabu. Motif pakaian adat daerah melambangkan pemikiran

masyarakat, jati diri masyarakat diwilayah tersebut. Motif yang sering

dipakai yakni bunga palem besar dan kecil, motif bela ketupat, garis

simetris, motif perahu.


Daftar Pustaka
 https://fajarsidiksitompul.wordpress.com/2015/10/13/40/
 http://docplayer.info/68282271-Perancangan-pusat-informasi-adat-dan-
budaya-sabu-raijua-transformasi-kampung-adat.html
 Kaho, Riwu. 2005 .Orang Sabu dan Budayanya. Jogjakarta: Jogja Global
Media.
 http://studylibid.com/doc/599667/masyarakat-indonesia---portal-e
 http://e-journal.uajy.ac.id/2374/3/2TA12077.pdf
 http://genevieveduggan. com/kain-adati-sabu-bunga-palem-dari-sabu/
selimut-laki-laki-sabu
 http://saburaijuakab.go.id/saburaijua255/index.php/home.html

Anda mungkin juga menyukai