Anda di halaman 1dari 70

SEMINAR KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.S


DENGAN DIAGNOSA MEDIS “ALL+HIPERLEUKOSITOSIS+ANEMIA GRAFIS”
DI RUANG BONA 2 RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA
TANGGAL 14MEI-26 MEI 2018

DISUS UN OLEH:
KELOMPOK B4
STASE KEPERAWATAN ANAK

Riska Windi Dewi L. (131723143068)


Arum Rakhmawati (131723143069)
Nurul Dwi Ismayanti (131723143070)
Amalia Azmi (131723143071)
Wiwin Nur Indah C. (131723143072)
Ramona Irfan Kadji (131723143074)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018

1
Daftar Isi
Halaman Judul ........................................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 3
1.3 Tujuan.......................................................................................................................... 4
BAB II KONSEP TEORI .......................................................................................................... 5
2.1 Definisi ........................................................................................................................ 5
2.2 Etiologi ........................................................................................................................ 6
2.3 Klasifikasi.................................................................................................................... 8
2.4 Patofisiologi .............................................................................................................. 10
2.5 Manifestasi Klinis ..................................................................................................... 12
2.6 Pemeriksaan Penunjang............................................................................................. 12
2.7 Penatalaksanaan ........................................................................................................ 13
2.8 Komplikasi ................................................................................................................ 23
2.9 WOC Leukemia Limfoblastik Akut (ALL) .............................................................. 25
2.10 Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak ................................................................... 28
2.11 Tumbuh Kembang Anak Usia 5 Bulan ..................................................................... 34
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................... 36
2.1 Pengkajian keperawatan ............................................................................................ 36
2.2 Diagnosa Keperawatan .............................................................................................. 41
2.3 Nursing Care Plan ..................................................................................................... 42
BAB IV RESUME KASUS ..................................................................................................... 49
BAB V PENUTUP .................................................................................................................. 68
5.1 Kesimpulan................................................................................................................ 68
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 70

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Akut Limfoblastik Leukimia (ALL) dianggap sebagai suatu proliferasi ganas
limfoblas. Paling sering terjadi pada anak – anak dengan puncak insideasi pada usia 4
tahun. Setelah usia 15, ALL jarang terjadi (Brunner, 2002). Penelitian yang dilakukan
pada ALL menunjukkan bahwa ALL mempunyai homogenitas pada fenotip permukaan
sel blas dari setiap pasien. Hal ini memberi dugaan bahwa populasi sel leukimia itu
berasal sari sel tunggal.
Pada pasien ALLterjadi proliferasi patologis sel – sel limfoid muda di sumsum
tulang. Ia akan mendesak sistem hemopoietik normal lainnya, seperti eritropoietik,
trombopoietik dan granulopoietik, sehingga sumsum tulang didominasi sel blast dan sel –
sel leukemia hingga mereka menyebar (berinfiltrasi) sampai ke darah tepi dan organ
tubuh lainnya dan akan terlihat tanda – tanda anemia seperti pucat, lelah, lesu, kemudian
anoreksia, osteoartritis akibat infiltrasi sel leukemi ke sumsum tulang, demam, infeksi
akibat penurunan daya tahan tubuh akibat aktifitas sel limfosit yang tidak normal,
perdarahan kulit, gusi, hematuria, perdarahan saluran cerna, hingga perdarahan otak.
Selain itu ditemukan juga hepatomegali, splenomegali, limfadenopati dan massa di
mediastinum.
Pada ALL (Acute Lymphoblastic Leukemia) 2-3/100.000 penduduk,lebih sering
di temukan pada usia dewasa (83%) daripada anak-anak (18%). Pada sebuah penelitian
tentang leukemia di RSUD Dr. Soetomo/FK Unair selama bulan Agustus-Desember
2015 tercatat adalah 55 kasus leukemia akut dari 63 penderita leukemia. Dengan 40
orang menderita ALL ( 40% ) dan 15 orang menderita AML (60 %) ( Boediwarsono,
2015 ). Berdasarkan dari beberapa pengertian mengenai Leukemia maka penulis
berpendapat bahwa leukemia merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh
prolioferasi abnormal dari sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya kanker pada alat
pembentuk darah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Akut limfoblastik leukimia (ALL)?
2. Apa etiologi Akut limfoblastik leukimia (ALL)?
3. Bagaimanakah patofisiologi Akut limfoblastik leukimia (ALL)?

3
4. Bagaimanakah manifestasi klinis Akut limfoblastik leukimia (ALL)?
5. Apa saja tanda dan gejala Akut limfoblastik leukimia (ALL)?
6. Bagaimanakah diagnosis Akut limfoblastik leukimia (ALL)?
7. Apa saja klasifikasi Akut limfoblastik leukimia (ALL)?
8. Bagaimanakah penatalaksanaan Akut limfoblastik leukimia (ALL)?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Menjelaskan pengertian Akut limfoblastik leukimia (ALL)
2. Menjelaskan etiologi Akut limfoblastik leukimia (ALL)
3. Menjelaskan patofisiologi Akut limfoblastik leukimia (ALL)
4. Menjelaskan manifestasi klinis Akut limfoblastik leukimia (ALL)
5. Menjelaskan tanda dan gejala Akut limfoblastik leukimia (ALL)
6. Menjelaskan diagnosis Akut limfoblastik leukimia (ALL)
7. Menjelaskan klasifikasiAkut limfoblastik leukimia (ALL)
8. Menjelaskan penatalaksanaan Akut limfoblastik leukimia (ALL)

4
BAB II

KONSEP TEORI
2.1 Definisi
Leukemia adalah keganasan organ pembuat darah, sehingga sumsum tulang
didominasi oleh limfoblas yang abnormal. Leukemia limfoblastik akut adalah keganasan
yang sering ditemukan pada masa anak-anak (25-30% dari seluruh keganasan pada
anak), anak laki lebih sering ditemukan dari pada anak perempuan, dan terbanyak pada
anak usia 3-4 tahun. Faktor risiko terjadi leukimia adalah faktor kelainan kromosom,
bahan kimia, radiasi faktor hormonal,infeksi virus (Ribera, 2009).
Leukemia lymphoblastic akut ( ALL atau juga disebut leukemia limfositik akut )
adalah kanker darah dan sumsum tulang . Kanker jenis ini biasanya semakin memburuk
dengan cepat jika tidak diobati .ALL adalah jenis kanker yang paling umum pada anak-
anak . Pada anak yang sehat , sumsum tulang membuat sel-sel induk darah ( sel yang
belum matang ) yang menjadi sel-sel darah dewasa dari waktu ke waktu . Sebuah sel
induk dapat menjadi sel induk myeloid atau sel induk limfoid (National Cancer Institute,
2014)
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) adalah suatu keganasan pada sel-sel prekursor
limfoid, yakni sel darah yang nantinya akan berdiferensiasi menjadi limfosit T dan
limfosit B. LLA ini banyak terjadi pada anak-anak yakni 75%, sedangkan sisanya terjadi
pada orang dewasa. Lebih dari 80% dari kasus LLA adalah terjadinya keganasan pada sel
T, dan sisanya adalah keganasan pada sel B. Insidennya 1 : 60.000 orang/tahun dan
didominasi oleh anak-anak usia < 15 tahun, dengan insiden tertinggi pada usia 3-5 tahun
(Landier dkk, 2004).
Acut limphosityc leukemia adalah proliferasi maligna / ganas limphoblast dalam
sumsum tulang yang disebabkan oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik.
(Smeltzer & Bare, 2008).
Leukemia Limfoblastik Akut adalah salah satu jenis keganasan yang terjadi pada sel
darah dimana terjadi proliferasi berlebihan dari sel darah putih. Pada LLA, terjadi
proliferasi dari sel prekursor limfoid dimana 80% kasus berasal dari sel limfosit B dan
sisanya dari sel limfosit T. Keganasan ini bisa terjadi pada stase manapun pada saat
proses diferensiasi sel leukosit (Howard dan Hamilton, 2008).

5
LLA merupakan kasus keganasan yang paling sering ditemukan pada anak usia 2-5
tahun (Permono dan Ugrasena, 2010) dan akan terus meningkat seiring berkembangnya
usia. Pada kasus LLA anak, tingkat kesembuhan dengan pengobatan kemoterapi sangat
besar hampir mencapai 80% sedangkan pada orang dewasa lebih rendah tingkat
kesembuhannya karena banyaknya pengobatan yang mengalami multi-drug resistance
(MDR) (Howard dan Hamilton, 2008).

2.2 Etiologi
Penyebab acut limphosityc leukemia sampai saat ini belum jelas, diduga
kemungkinan karena virus (virus onkogenik) dan faktor lain yang mungkin berperan,
yaitu:
1. Genetik (Faltor endogen)
a. Keturunan
1) Adanya Penyimpangan Kromosom
Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya
pada sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, sindroma Wiskott-
Aldrich, sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter, D-Trisomy sindrome,
sindroma von Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan
kongenital ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada
kromosom 21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti
pada aneuploidy.
2) Saudara kandung
Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik dimana
kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran. Hal ini berlaku
juga pada keluarga dengan insidensi leukemia yang sangat tinggi.
3) Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan kromosom
dapatan, misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang dihubungkan dengan
insiden yang meningkat pada leukemia akut, khususnya ALL.
4) Virus
Dalam banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus menyebabkan
leukemia pada hewan termasuk primata. Penelitian pada manusia menemukan
adanya RNA dependent DNA polimerase pada sel-sel leukemia tapi tidak
ditemukan pada sel-sel normal dan enzim ini berasal dari virus tipe C yang

6
merupakan virus RNA yang menyebabkan leukemia pada hewan. (Wiernik, 1985).
Salah satu virus yang terbukti dapat menyebabkan leukemia pada manusia
adalah Human T-Cell Leukemia . Jenis leukemia yang ditimbulkan adalah Acute T-
Cell Leukemia.
5) Ras (orang Yahudi lebih mudah terkena dibanding orang kulit hitam)

2. Bahan Kimia dan Obat-obatan (Faktor eksogen)


a. Bahan Kimia
Paparan kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan dengan peningkatan
insidensi leukemia akut, misal pada tukang sepatu yang sering terpapar benzen. Selain
benzen beberapa bahan lain dihubungkan dengan resiko tinggi dari AML, antara lain :
produk – produk minyak, cat , ethylene oxide, herbisida, pestisida, dan ladang
elektromagnetik
b. Obat-obatan
Obat-obatan anti neoplastik (misal : alkilator dan inhibitor topoisomere II) dapat
mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan AML. Kloramfenikol,
fenilbutazon, dan methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan kegagalan sumsum
tulang yang lambat laun menjadi AML
c. Radiasi
Hubungan yang erat antara radiasi dan leukemia (ANLL) ditemukan pada pasien-
pasien anxylosing spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan pada kasus lain seperti
peningkatan insidensi leukemia pada penduduk Jepang yang selamat dari ledakan
bom atom. Peningkatan resiko leukemia ditemui juga pada pasien yang mendapat
terapi radiasi misal : pembesaran thymic, para pekerja yang terekspos radiasi dan para
radiologis .
d. Leukemia Sekunder
Leukemia yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain
disebut Secondary Acute Leukemia ( SAL ) atau treatment related leukemia. Termasuk
diantaranya penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker payudara. Hal ini
disebabkan karena obat-obatan yang digunakan termasuk golongan
imunosupresif selain menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan DNA .

7
Faktor
Faktor Genetika Faktor Lingkungan predis
Sindrom Down Radiasi posisi
Sindrom Fanconi Obat-obat
Sindrom Bloom Alkylating agents dari
Diamond-Blackfan anemia Nitrosourea Leuke
Sindrom Schwachman Epipodophyllotoxin
Sindrom Klinefelter Benzene exposure mia
Sindrom Turner Advanced maternal age Limfo
Neurofibromatosis tipe 1
Ataxia-telangiectasia blastik
Severe combined immune deficiency Akut
Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria
Sindrom Li-Fraumeni (Tuber
gen
dan Bleyer, 2007)

2.3 Klasifikasi
Klasifikasi dari LLA terbagi atas beberapa jenis, yaitu klasifikasi berdasarkan
morfologik, berdasarkan genetika, dan immunofenotip.
1. Klasifikasi French-American-British (FAB)
Klasifikasi dari LLA yang digunakan oleh dunia adalah klasifikasi morfologik
menurut FAB (French-American-British) yang berdasarkan atas karakteristik dari sel
blas (ukuran sel, rasio sitoplasma-inti, ukuran dari inti sel, dan warna sel).
- LLA-L1
Pada tipe ini, sel blas berukuran kecil dengan sitoplasma yang sempit, nukleolus
tidak jelas terlihat, dan kromatin homogen. L1 merupakan jenis leukemia
limfoblastik akut yang sering terjadi pada anak-anak, sekitar 70% kasus dengan
74% nya terjadi pada anak-anak usia di bawah 15 tahun (Gamal, 2011).

- LLA-L2

8
L2 terdiri dari sel blas berukuran lebih besar, ukuran inti tidak beraturan,
kromatin lebih kasar dengan satu atau lebih anak inti, dan membran nukleolus
yang irregular serta sitoplasma yang berbeda warna. Sekitar 27% kasus LLA,
didapati morfologik tipe L2 dan lebih sering terjadi pada pasien usia di atas 15
tahun (Gamal, 2011).
- LLA-L3
L3 terdiri dari sel blas berukuran besar, ukurannya homogen, ukuran inti bulat
atau oval dengan kromatin berbercak, anak inti banyak ditemukan, sitoplasma
yang sangat basofilik disertai dengan vakuolisasi. Pada tipe ini, terjadi mitosis
yang cepat sebagai pertanda dari adanya tahapan aktifitas dari makrofag (Gambar
1) (Gamal, 2011).

2. Klasifikasi World Health Organization (WHO)


Kelainan klon kromosom sekarang juga dapat diidentifikasi pada sebagian kasus
dengan menghitung jumlah kromosom per sel leukemia dan hasil perhitungannya
dapat digunakan sebagai penentu baik buruknya prognosis penyakit leukemia. Selain
itu juga dilihat translokasi dari genetika sel itu sendiri. Pembagian dari klasifikasi
berdasarkan genetika yang dipakai adalah yang diluncurkan oleh WHO

Klasifikasi LLA berdasarkan WHO (Vadirman, 2009)


Klasifikasi WHO
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel B
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel B, tidak spesifik
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel B, dengan kelainan genetik
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel B, dengan translokasi
t(9;22)(q34; q11.2); BCR-ABL1
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel B, dengan translokasi t(v;
11q23); MLL rearranged
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel B, dengan translokasi
t(12;21)(p13; q22); TEL-AML1 (ETV6-RUNX1)
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel B, dengan hiperdiploid
(>50 kromosom/sel)
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel B, dengan hipodiploid
(<45 kromosom/sel)
Leukemia limfoblastik/limfoma prekursor sel T

3. Klasifikasi Imunofenotip
Klasifikasi berdasarkan imunofenotip dapat mengklasifikasikan leukemia sesuai
dengan tahap-tahap maturasi normal yang dikenal. Klasifikasi ini membagi LLA ke
dalam prekursor sel-B atau sel-T. Prekursor sel B termasuk CD 19, CD 22, CD 34,

9
dan CD 79. Sedangkan prekursor sel T membawa imunofenotip CD 2, CD 3, CD 4,
CD 5, CD 7, atau CD 8 (Gamal, 2011).

2.4 Patofisiologi
Komponen sel darah terdiri atas eritrosit atau sel darah merah (RBC) dan leukosit
atau sel darah putih (WBC) serta trombosit atau platelet. Seluruh sel darah normal
diperoleh dari sel batang tunggal yang terdapat pada seluruh sumsum tulang. Sel batang
dapat dibagi ke dalam lymphpoid dan sel batang darah (myeloid), dimana pada
kebalikannya menjadi cikal bakal sel yang terbagi sepanjang jalur tunggal khusus. Proses
ini dikenal sebagai hematopoiesis dan terjadi di dalam sumsum tulang tengkorak, tulang
belakang., panggul, tulang dada, dan pada proximal epifisis pada tulang-tulang yang
panjang.
Leukemia Limfoblastik Akut terjadi dikarenakan oleh adanya perubahan abnormal
pada progenitor sel limfosit B dan T. Pada LLA, kebanyakan kasus disebabkan oleh
adanya abnormalitas dari sel limfosit B. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya
LLA seperti faktor genetika, imunologi, lingkungan, dan obat-obatan. LLA terjadi karena
pada sel progenitornya mengalami abnormalitas (Gambar 2) (Roganovic, 2013).

Faktor genetika mempunyai peranan paling penting dalam proses terjadinya LLA.
Pada beberapa penelitian menyatakan bahwa terjadi gangguan pada gen ARID5B dan
IKZF yang ternyata berperan dalam regulasi transkripsi dan diferensiasi sel limfosit B.
Selain peranan genetik, faktor lingkungan seperti radiasi dan beberapa bahan kimia,
infeksi, serta imunodefisiensi juga berpengaruh. Paparan terhadap radiasi meningkatkan
angka kejadian LLA karena menyebabkan adanya gangguan terhadap sel-sel darah yang
berada di sumsum tulang. Peranan infeksi terhadap kejadian LLA masih dalam proses
pengembangan oleh karena adanya tumpang tindih antara usia anak-anak terkena infeksi
dengan insidens puncak dari LLA (Roganovic, 2013).

10
Anak-anak dengan penyakit imunodefisiensi yang diobati dengan obat-obatan yang
bersifat imunosupresif mempunyai resiko tinggi untuk mengalami keganasan terutama
limfoma. LLA bisa saja muncul tetapi jarang. Adanya perkembangan sel kanker pada
pasien immunocompromised berhubungan dengan infeksi (Roganovic, 2013) ALL
meningkat dari sel batang lymphoid tungal dengan kematangan lemah dan pengumpulan
sel-sel penyebab kerusakan di dalam sumsum tulang. Biasanya dijumpai tingkat
pengembangan lymphoid yang berbeda dalam sumsum tulang mulai dari yang sangat
mentah hingga hampir menjadi sel normal. Derajat kementahannya merupakan petunjuk
untuk menentukan/meramalkan kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan
sel muda limfoblas dan biasanya ada leukositosis, kadang-kadang leukopenia (25%).
Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah, demikian pula kadar hemoglobin dan
trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan sel-sel blas yang
dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari sel stem pluripoten, kemudian sel stem
limfoid, pre pre-B, early B, sel B intermedia, sel B matang, sel plasmasitoid dan sel
plasma. Limfosit T juga berasal dari sel stem pluripoten, berkembang menjadi sel stem
limfoid, sel timosit imatur, cimmom thymosit, timosit matur, dan menjadi sel limfosit T
helper dan limfosit T supresor.
Peningkatan prosuksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat ekstramedular
sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar limfe dan hepatosplenomegali. Sakit
tulang juga sering dijumpai. Juga timbul serangan pada susunan saraf pusat, yaitu sakit
kepala, muntah-muntah, “seizures” dan gangguan penglihatan. Sel kanker menghasilkan
leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah yang berlebihan. Leukosit imatur ini
menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang dan menggantikan unsur-unsur
sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan
perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal. Hal ini menyebabkan
haemopoesis normal terhambat, akibatnya terjadi penurunan jumlah leucosit, sel darah
merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ menyebabkan pembersaran
hati, limpa, limfodenopati, sakit kepala, muntah, dan nyeri tulang serta persendian.
Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan jumlah trombosit
mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.).
Adanya sel kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat
menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi.
Adanya sel kaker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan makanan.

11
(Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare, 2002; Suriadi dan Rita Yuliani, 2001, Betz &
Sowden, 2002).

2.5 Manifestasi Klinis


1. Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
2. Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise
3. Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel leukemia),biasanya
terjadi pada anak
4. Demam, banyak berkeringat pada malam hari(hipermetabolisme)
5. Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis. Penyebab tersering adalah
gramnegatif usus
6. Stafilokokus, streptokokus, serta jamur
7. Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria
8. Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati
9. Massa di mediastinum (T-ALL)
Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan intrakranial naik,
muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan neurologik fokal, dan
perubahan status mental.
10. Abnormal WBC,Trombosit, HB, RBC
(Suriadi & Rita Yuliani, 2001: hal. 177)

2.6 Pemeriksaan Penunjang


Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menegakkan dan memastikan diagnosis
dari LLA, yaitu :
1. Pemeriksaan darah lengkap dan darah tepi
Gejala klinis dan pemeriksaan darah lengkap digunakan untuk menegakkan diagnosis
dari LLA. Pada pemeriksaan darah lengkap, dimana akan didapatkan adanya
peningkatan sel darah putih/white blood cell (WBC) mencapai > 10.000/mm3
sedangkan pada 20% kasus peningkatan mencapai > 50.000/mm3. Selain itu, akan
ditemukan neutropenia, anemia (Hb < 10 mg/dL) normokromik dan normositik
disertai rendahnya retikulosit, trombositopenia (hitung platelet < 100.000/mm3), dan
pada pemeriksaan darah tepi ditemukan adanya sel blas.
2. Aspirasi sumsum tulang belakang
Untuk memastikan diagnosis dari LLA, harus dilakukan aspirasi sumsum tulang
belakang. Aspirasi sumsum tulang juga dapat membantu kita mengklasifikasikan
LLA. Pasien disuspek menderita leukemia bila didapatkan lebih dari 5% blas pada

12
sumsum tulang, tetapi minimum 25% sel blas diperlukan untuk memenuhi standar
kriteria sebelum diagnosis ditegakkan. Biasanya akan dijumpai sel leukemia yang
homogen dan hiperseluler dari sumsum tulang. SDM abnormal biasanya lebih dari 50
% atau lebih dari SDP pada sumsum tulang. Sering 60% - 90% dari blast, dengan
prekusor eritroid, sel matur, dan megakariositis menurun.
3. Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSF)
Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien anak asimptomatik untuk mendeteksi
leukemia dengan cara pemeriksaan sitologi CSF yang akan menunjukkan pleositosis
dan adanya sel blas.
4. Pemeriksaan penunjang lainnya, seperti cytochemistry, imunofenotip, sitogenetik,
dan lain-lain , Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat
keterlibatan
(Roganovic, 2013).

2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dari leukemia terbagi atas kuratif dan suportif. Penatalaksanaan
suportif hanya berupa terapi penyakit lain yang menyertai leukemia beserta
komplikasinya, seperti tranfusi darah, pemberian antibiotik, pemberian nutrisi yang baik,
dan aspek psikososial (Permono dan Ugrasena, 2010).
Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan:
transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi
perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi. Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi
sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu.
Suatu kombinasi terdiri dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari
vinkristin dengan antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk mengatasi sel leukemik
di otak, biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan
terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah pengobatan
awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan pengobatan tambahan
(kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel leukemik. Pengobatan bisa
berlangsung selama 2-3 tahun. Sel-sel leukemik bisa kembali muncul, seringkali di
sumsum tulang, otak atau buah zakar. Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum
tulang merupakan masalah yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani
kemoterapi. Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada
penderita ini. Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka obat kemoterapi

13
disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu. Pemunculan kembali sel
leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan kemoterapi dan terapi penyinaran
Penatalaksaan kuratif, seperti kemoterapi, bertujuan untuk menyembuhkan leukemia.
Di Indonesia sendiri sudah ada 2 jenis protokol pengobatan yang umumnya digunakan,
yaitu protokol Nasional (Jakarta) dan protokol WK-ALL 2010. Selain dengan
kemoterapi, terapi transplantasi sumsum tulang juga memberikan kesempatan untuk
sembuh terutama pada pasien yang terdiagnosis leukemia sel-T (Permono dan Ugrasena,
2010).
1. Tahapan Kemoterapi
Pengobatan LLA yang umumnya dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi bertujuan
untuk menyembuhkan leukemia dan proses pengobatannya terdiri dari beberapa
tahapan-tahapan, yaitu fase induksi-remisi, intensifikasi awal, konsolidasi/terapi
profilaksis susunan saraf pusat, intensifikasi akhir (terbagi atas fase re-induksi dan re-
konsolidasi), dan maintenance/rumatan.
Terapi Induksi. Tujuan utama dari pengobatan kemoterapi adalah untuk mencapai
remisi komplit dan menggembalikan fungsi hematopoesis yang normal. Terapi
induksi meningkatkan angka remisi hingga mencapai 98%. Terapi ini berlangsung
sekitar 3-6 minggu dengan menggunakan 3-4 obat, yaitu glukokortikoid
(prednison/deksametason), vinkristin, L-asparaginase dan atau antrasiklin. Sekitar 2%
kasus pasien anak LLA yang menjalani terapi induksi mengalami kegagalan
(Roganovic, 2013).
Intensifikasi awal. Target pengobatan adalah anak-anak yang sudah mencapai remisi
dan fungsi hematopoesis-nya kembali normal. Tujuan dari tahapan intensifikasi
adalah untuk eradikasi sel leukemia yang tersisa dan meningkatkan angka
kesembuhan (Roganovic, 2013).
Konsolidasi/Terapi Profilaksis SSP. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk melanjutkan
peningkatan kualitas remisi di sumsum tulang dan sebagai profilaksis susunan saraf
pusat. Profilaksis SSP dilakukan mengacu pada fakta bahwa SSP merupakan pusat
dari sel leukemia dan dilindungi oleh sawar darah otak sehingga obat tidak bisa
menembusnya (Roganovic, 2013).
Intensifikasi Akhir. Penambahan dari tahap intensifikasi akhir ini setelah terapi
induksi ataupun konsolidasi ternyata meningkatkan prognosis pasien anak dengan
LLA. Tahap ini merupakan tahap pengulangan dari tahap induksi dan intensifikasi

14
awal dan untuk menghindari terjadinya resistensi obat maka dilakukan pergantian
obat (Roganovic, 2013).
Terapi rumatan. Setelah pengobatan dengan dosis tinggi dijalankan selama 6 sampai
12 bulan, obat sitotoksis dosis rendah digunakan untuk mencegah terjadinya kondisi
relaps. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengurangi sel leukemia sisa yang tidak
terdeteksi. Terapi rumatan dilaksanakan selama 2 atau 3 tahun setelah diagnosis atau
setelah tercapainya kondisi remisi morfologik. Keberhasilan ini dipantau dengan
melihat hitung leukosit (2.000-3.000/mm3) (Roganovic, 2013).
Pasien dinyatakan remisi komplit apabila tidak ada keluhan dan bebas gejala klinis
leukemia. Selain itu, pada aspirasi sumsum tulang didapatkan jumlah sel blas <5%
dari sel berinti, hemoglobin >12gr/dL tanpa transfusi, jumlah leukosit > 3.000/uL
dengan hitung jenis leukosit normal, jumlah granulosit > 2.000/uL, jumlah trombosit
> 100.000/uL, dan pemeriksaan cairan serebrospinal normal (Permono dan Urgasena,
2010).

2. Pemenuhan Nutrisi
Nutrisi yang bagus mempunyai banyak manfaat, seperti menurunkan resiko infeksi
pada saat pengobatan, menjaga pertumbuhan anak, memberikan kualitas hidup yang
bagus, dan lain-lain (ACS, 2013).
Anak-anak dengan kanker membutuhkan banyak nutrisi, seperti :
a. Protein
Tubuh membutuhkan protein untuk tumbuh; memperbaiki jaringan yang rusak; dan
untuk menjaga kulit, sel darah, sistem imun, serta sel epitel saluran cerna tetap
bagus. Apabila anak tidak mendapatkan asupan protein yang cukup, tubuh akan
memecah otot sebagai sumber energi. Hal ini akan meningkatkan resiko infeksi
dan memperpanjang proses penyembuhan dari penyakit. Anak-anak yang
menjalani kemoterapi, radiasi, dan operasi akan membutuhkan asupan protein lebih
untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan mencegah infeksi (ACS, 2013).
b. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber utama energi bagi tubuh untuk berfungsi secara
normal. Kalori yang dibutuhkan oleh anak-anak bergantung pada usia, berat badan,
serta aktifitas fisik mereka dan jumlah kalori mereka akan lebih besar daripada
orang dewasa. Anak-anak dengan kanker membutuhkan kalori sekitar 20-90%
lebih banyak daripada anak-anak yang tidak menderita kanker (ACS, 2013).

15
c. Lemak
Lemak memiliki peranan penting dalam nutrisi pada anak karena lemak merupakan
sumber kalori paling besar untuk tubuh. Tubuh akan memecah lemak untuk
digunakan sebagai energi, melindungi jaringan tubuh, dan melarutkan vitamin
untuk diserap ke dalam aliran darah (ACS, 2013).
d. Air
Sel dalam tubuh membutuhkan air untuk berfungsi. Salah satu efek samping dari
kemoterapi adalah mual dan muntah, jika gejala ini berkepanjangan akan
menyebabkan anak mengalami dehidrasi sehingga keseimbangan cairan dalam
tubuh akan terganggu (ACS, 2013).
e. Vitamin dan mineral
Tubuh membutuhkan sedikit vitamin dan mineral untuk tumbuh kembang dan
berfungsi secara normal serta membantu tubuh untuk menggunakan energi yang
didapat dari makanan. Vitamin D dan kalsium sangat penting untuk pertumbuhan
tulang. Pada anak normal, asupan kedua zat ini tidak cukup sehingga pada anak
penderita kanker disarankan untuk memperbanyak asupan vitamin D dan kalsium
karena obat-obat kemoterapi dapat menurunkan kadar kedua zat dalam tubuh
(ACS, 2013).
3. Konsep exchange transfusion (transfusi tukar)
a. Definisi Transfusi Tukar
Transfusi tukar adalah suatu rangkaian tindakan mengeluarkan darah pasien
dan memasukkan darah donor untuk mengurangi kadar serum bilirubin atau kadar
hematokrit yang tinggi atau mengurangi konsentrasi toksin-toksin dalam aliran
darah pasien. Pada hiperbilirubinemia, transfusi tukar dilakukan untuk menghindari
terjadinya kern icterus.
Transfusi tukar merupakan tindakan yang bertujuan untuk memperbaiki
kondisi bayi dengan menurunkan kadar bilirubin indirek neonatus dan menurunkan
bahan toksik serta mencegah peningkatan kadar bilirubin dalam darah dengan cara
mengeluarkan darah dari tubuh bayi ditukar dengan darah pengganti, dengan syarat
sebagai berikut : darah harus segar <24 jam, dalam keadaan suhu sesuai dengan
suhu ruangan ±24°C (1 jam sebelumnya sudah dikelaurkan dari lemari pendingin).
b. Indikasi Transfusi Tukar
Jika setelah menjalani fototerapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin terus
meningkat hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukan terapi

16
transfusi darah. Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan kerusakan
sel saraf otak (kern ikterus). Efek inilah yang harus diwaspadai karena anak bisa
mengalami beberapa gangguan perkembangan. Misalnya keterbelakangan mental,
cerebral palsy, gangguan motorik dan bicara, serta gangguan penglihatan dan
pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang sudah teracuni akan dibuang dan ditukar
dengan darah lain.
Berbagai klinik menganut indikasi transfusi tukar yang berbeda-beda, tetapi pada
garis besarnya dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Semua keadaan dengan bilirubin indirek dalam serum lebih dari 20 mg%
dengan albumin kurang dari 3,5mg%, misalnya pada inkompatibilitas golongan
darah ( Rh, ABO, MNS ), sepsis, hepatitis, ikterus fisiologis yang berlebihan,
kelainan enzim (defisiensi G6PD, piruvat kinase, glukoronil transverase),
penyakit anemia hemolitik auto imun (pada anak besar)
2) Kenaikan kadar bilirubin indirek dalam serum yang sangat cepat pada hari-hari
pertama bayi baru lahir (0,3 – 1 mg%/jam)
3) Polisitemia ( hematokrit 68% pada bayi yang baru lahir): Biasanya terjadi pada
bayi yang sebelumnya telah terjadi malnutrisi atau mengalami hipoksia
intrauterin kronis, pada kembar identik dan pada bayi dengan ibu diabetes
4) Anemia sangat berat dangan gagal jantung pada pasien hydrops fetalis
5) Kadar Hb tali pusat lebih rendah dari 14 g% dengan uji coombs direk yang
positif
6) Semua kelainan yang membutuhkan komplemen, opsonin / gamma globulin
7) Pada prematuritas atau dismaturitas, indikasi tersebut harus lebih diperketat

Indikasi Transfusi Tukar pada penyakit hemolisis ( TT segera ) :


1) Kadar bilirubin tali pusat > 4,5 g/dl dan kadar Hb tali pusat < 11 g/dl
2) Kadar bilirubin meningkat > 1 mg/dl/jam meskipun sudah difototerapi
3) Kadar Hb antara 11-13 g/dl dan bilirubin meningkat > 0,5 g/dl/jam meskipun sudah
difototerapi
4) Kadar bilirubin = 20 g/dl atau tampaknya akan mencapai 20 dalam peningkatannya
5) Ada anemia yang progresif meskipun sudah difototerapi
Kontraindikasi Transfusi Tukar
1. Kontra indikasi melalui arteria tau vena umbilikalis :
 Gagal memasang akses arteri atau vena umbilikalis dengan tepat

17
 Omfalitis
 Omfalokel / Gastroskisis
 Necrotizing Enterocolitis
2. Kontra indikasi melalui arteri atau vena perifer
 Gangguan perdarahan ( Bleeding Diathesis )
 Infeksi pada tempat tusukan
 Aliran pembuluh darah kolateral dari a. Ulnaris / a.Dorsalis Pedis kurang baik
 Ketidakmampuan memasang akses arteri dan vena perifer
c. Pemeriksaan Laboratorium
Sebelum dilakukan transfusi tukar, harus dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu :
1. Darah tepi lengkap ( DTL ) dan hitung jenis
2. Golongan darah ( ABO, Rhesus ) bayi dan donor
3. Coombs test
4. Bilirubin total Direk dan Indirek
5. Elektrolit dan Gula Darah Sewaktu ( GDS )
6. PT dan APTT
7. Albumin
d. Penentuan Golongan Darah dan Cross Match
Sebaiknya dipakai darah segar dari donor dengan golongan darah yang sesuai dengan
menggunakan antikoagulan citrate phosphate dextrose (CPD) bila tidak ada darah
segar, maksimal yang berumur < 72 jam. Untuk gangguan-gangguan yang
berhubungan dengan hidrops fetalis/ asfiksia fetal, sebaiknya menggunakan darah
segar atau maksimal yang berumur < 24 jam. Hematokrit darah donor yang
diinginkan sebaiknya minimal 45-50%.
 Bayi-bayi dengan Rhesus inkompatibilitas: Darah harus golongan O, rhesus
negatif, dengan titer anti A dan anti B yang rendah. Harus di crossmatch dengan
darah ibu.
 Bayi-bayi ABO inkompatibilitas harus tipe O, rhesus yang sesuai dengan ibu dan
bayi atau rhesus negatif, dengan titer anti A dan anti B yang rendah. Harus di
cross match baik dengan darah ibu maupun darah bayi.
 Group inkompatibilitas darah lainnya
 Untuk penyakit-penyakit hemolitik lainnya, darah harus di crossmatch dengan
darah ibu untuk menghindari antigen-antigen yang mengganggu

18
 Hiperbilirubinemia, gangguan keseimbangan metabolik atau hemolisis tidak
disebabkan oleh gangguan isoimun. Darah harus di cross match terhadap plasma
dan eritrosit bayi.
e. Darah Donor untuk Transfusi Tukar
1) Darah yang digunakan golongan O
2) Gunakan darah baru. Kerjasama dengan dokter kandungan dan bank darah adalah
penting untuk persiapan kelahiran bayi yang membutuhkan transfusi tukar.
3) Pada penyakit hemotilik rhesus, jika darah disiapkan sebelum persalinan, harus
golongan O dengan rhesus (-), crossmatched terhadap ibu. Bila darah disiapkan
setelah kelahiran, dilakukan juga crossmatched terhadap bayi.
4) Pada inkomptabilitas ABO, darah donor harus golongan O, rhesus (-) atau rhesus
yang sama dengan ibu dan bayinya. Crossmatched terhadap ibu dan bayi yang
mempunyai titer rendah antibodi anti A dan anti B. Biasanya menggunakan
aritrosit golongan O dengan plasma AB, untuk memastikan bahwa tidak ada
antibodi anti A dan anti B yang muncul.
5) Pada penyakit hemolitik isoimun yang lain, darah donor tidak boleh berisi antigen
tersentisasi dan harus di crossmatched terhadap ibu.
6) Pada hiperbilirubinemia yang nonimun darah donor ditiping dan crossmatched
terhadap plasma dan eritrosit pasien/bayi
7) Transfusi tukar biasanya memakai 2 kali volume darah (160 mL/kgBB) sehingga
diperoleh darah baru sekitar 78%.
f. Teknik Transfusi Tukar
1) Simple Double Volume. Push Pull tehnique : jarum infus dipasang melalui
kateter vena umbilikalis/vena saphena magna. Darah dikeluarkan dan dimasukkan
bergantian.
2) Isovolumetric. Darah secara bersamaan dan simultan dikeluarkan melaui arteri
umbilikalis dan dimasukkan melalui vena umbilikalis dalam jumlah yang sama
3) Patrial Exchange Transfusion. Transfusi tukar sebagian, dilakukan biasanya pada
bayi dengan polisitemia.
(Di Indonesia untuk kedaruratan, transfusi tukar pertama menggunakan golongan
darah O rhesus(+)
g. Pelaksanaan Transfusi Tukar
1) Persiapan yang diperlukan :

19
 Menentukan dan memesan jumlah darah donor yang diperlukan untuk TT.
Volume darah normal pada neonatus cukup bulan 80 ml/kg BB, sedangkan pada
BBLR / BBLSR bisa sampai 95 ml/kg BB
 Misalnya pada bayi dengan berat badan 3 kg, volume darah bayi tersebut 240 cc.
Dua kali dari volume tersebut ditransfusi tukar pada prosedur 2 volume TT. Maka
jumlah darah yang diperlukan adalah 480 cc.
 Kompres kulit yang kering selama 30 menit dengan kasa yang dibasahkan dengan
Nacl o.9% supaya lebih lunak dan memudahkan mencari vena serta memasukkan
kateter
 Pada polisitemia dilakukan Partial exchange dengan menggunakan Nacl 0,9%
atau untuk anemia yang sangat berat dengan Packed Red Cells (PRC)
2) Persiapan Alat dan Bahan
1. Sarung tangan satu atau dua pasang
2. Vena section set

3. Kateter (polyethylene) 1-2 buah


4. Spuit 2,5cc, 5cc, 20cc (masing-masing 2 buah)
5. Knop sonde
6. Botol kecil untuk pemeriksaan (4 buah)
7. Lidi kasa
8. Duk lubang
9. Kassa
10. Infus set 2 buah
11. Cairan
12. Obat-obatan seerti heparin, kalsium glukonas 10%
13. NaCL 0,9%
14. Iodium tinkture 1%
15. Betadine 10%
16. Alat resusitasi, oksigen, termometer, stetoskop, lampu pemanas, darah sesuai
dengan identitas.

3) Persiapan Pasien
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2. Dapatkan persetujuan tindakan dari orang tua bayi
3. Lakukan untuk puasa 3-4 jam
4. Siapakan hasil pemeriksaan laboratorium seperti kadar bilirubin, Hb,
golongan darah, uji Coomb, kadar G6PD
4) Prosedur Pelaksanaan

20
No. Langkah Gambar
1. Terangkan tentang prosedur
dan indikasi transfusi tukar
pada orangtua atau keluarga
2. Meminta persetujuan tertulis
untuk melakukan tindakan
medis kepada orangtua atau
keluarga pasien
3. Melakukan pemeriksaan
golongan darah anak pada
kedua orang tuanya

4. Lakukan comb’s test darah


penderita bila dibutuhkan
 Untuk mendekteksi
adanya ab pada
permukaan eritrosit
pada serum

5. Memesan darah 200cc/kgBB


PRC cuci
6. Pindahkan pasien ke ruang
khusus
7. Mempersiapkan pasien
dengan posisi tidur telentang

8. Menyalakan lampu pemanas


dan diarah ke pasien

21
9. Mencuci tangan

10 Bila memungkinkan pasang


saluran umbilicus, bila tidak
memungkinkan lakukan vena
section
11. Lakukan tindakan anti septic
pada daerah kateter pembuluh
darah
12. Pergunakan handscoon

13. Siapkan 2 buah blood


transfusion set

14. Pasangan transfusi set ke


dalam wadah darah untuk
jalur pengisisan darah
15. Pasang transfusi set ke wadah
pembuang darah

22
16 Hubungkan kedua transfusi
set dengan 2 buah threcc way,
sedemikian rupa sehingga
terdapat jalur pengisian dan
pembuangan darah

17. Awasi keadaan umum pasien


18. Lakukan pengisapan darah
sebanyak 20cc, lalu dibuang
19. Masukkan darah sebanyak
20cc, diamkan selama +5
menit, lalu dihisap kembali
sebanyak 20cc untuk dibuang
ulangi prosedur ini sampai ±9
kali atau 180cc
20. Setiap 160cc darah ditukar,
beri heparin sebanyak
0,5cc/kgBB
21. Setiap 180cc darah ditukar
tambahkan Ca Glukonas
0,5cc/kgBB
22. Ulangi prosedur 18±21
sampai dengan jumlah darah
tertukar 200cc/kgBB
23. Mencatat jumlah darah yang
keluar dan yang masuk
perawat
24. Menyiapkan obat-obat yang
diperlukan bila pelaksanaan
tindakan sudah selesai
25. Merapikan pasien dan
membawa ke tempat semula
26. Membersihkan, merapikan,
mengembalikan peralatan ke
tempat semula.

2.8 Komplikasi
1. Perdarahan
Akibat defisiensi trombosit (trombositopenia). Angka trombosit yang rendah
ditandai dengan :
a. Memar (ekimosis)

23
b. Petchekie (bintik perdarahan kemerahan atau keabuan sebesar ujung jarum
dipermukaan kulit)
c. Perdarahan berat jika angka trombosit < 20.000 mm3 darah. Demam dan infeksi
dapat memperberat perdarahan
2. Infeksi
Akibat kekurangan granulosit matur dan normal. Meningkat sesuai derajat netropenia
dan disfungsi imun.
3. Pembentukan batu ginjal dan kolik ginjal.
Akibat penghancuran sel besar-besaran saat kemoterapi meningkatkan kadar asam
urat sehingga perlu asupan cairan yang tinggi.
4. Anemia
5. Masalah gastrointestinal.
d. Mual,Muntah
e. Anoreksia
f. Diare
g. Lesi mukosa mulut
Terjadi akibat infiltrasi lekosit abnormal ke organ abdominal, selain akibat
kemoterapi.

24
2.9 WOCLeukemia Limfoblastik Akut (ALL)
Radiasi ionisasi Bahan kimia Obat-obatan genetik alkohol Riwayat reproduksi

Penyimpangan ekspresi protoonkogen dan


translokasi kromosom

Fungsi gena menyebabkan kinase lebih aktf dan ↑


faktor transkripsi gena

Perubahan transformasi leukimik dari sel stem


hematopoesis

Proliferasi sel darah putih tanpa batas


danmenghalangiapoptosis

Pembentukan sel darah putih immature dan non


fungsional(ganas

ALL

25
ALL

Infiltrasi dn penggantian setiap jaringan tubuh dengan sel-sel


darah putih non fungsional

Infiltrasi pada sumsum tulang menyebabkan sumsusm tulang


melakukan hematopoesis (kegagalan sumsum tulang yang
progresif)

Penurunan pembentukan sel Penurunan jumlah Sel-sel leukemia menginvasi Penurunan produksi
darah merah neutrofil periosteum trombosit

Imunitas menurun
Peningkatan tekanan pada
Anemia periosteum Proses pembekuan
darah menjadi
MK: Resiko terganggu
Infeksi MK: Nyeri akut
MK : Keletihan
Proses Inflamasi
MK : Resiko
perdarahan

MK :hipertermi
26
Penatalaksanaan

kemoterapi Transplantasi sumsum tulang


belakang

Efek samping kemoterapi :


merusak sel yg
bereprodusksi dengan
cepat

Mukosa bibir Mual/muntah Rambut rontok Kulit kering dan Mengganggu mukosa dan
gampang luka motilita usus

MK : Gangguan
Stomatitis Nafsu makan
citra tubuh Diare Susah BAB
menurun MK : Kerusakan
int.kulit

MK : Kerusakan Pengeluaran cairan MK : Konstipasi


MK :
int.jaringan berlebih dan intake
Ketidakseimbangan
MK : Defisis volume cairan kurang
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh dan resiko
ketidakseimbangan
elektrolit Dehidrasi

27
2.10 Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak
1. Pengertian Tumbuh Kembang
Secara alamiah, setiap individu hidup akan melalui tahap pertumbuhan dan
perkembangan, yaitu sejak embrio sampai akhir hayatnya mengalami perubahan ke
arah peningkatan baik secara ukuran maupun secara perkembangan. Istilah tumbuh
kembang mencakup dua peristiwa yang sifatnya saling berbeda tetapi saling
berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pengertian
mengenai pertumbuhan dan perkembangan adalah sebagai berikut :
Pertumbuhan adalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau dimensi tingkat
sel organ, maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pon,
kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang, dan keseimbangan metabolik
(retensi kalsium dan nitrogen tubuh) (Adriana, 2013).
Perkembangan (development) adalah bertambahnya skill (kemampuan) dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat
diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya
proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistem
organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat
memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual, dan
tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 2012).
Pertumbuhan dan perkembangan secara fisik dapat berupa perubahan ukuran besar
kecilnya fungsi organ mulai dari tingkat sel hingga perubahan organ tubuh.
Pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak dapat dilihat dari kemampuan
secara simbolik maupun abstrak, seperti berbicara, bermain, berhitung, membaca,
dan lain-lain.
2. Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak dapat ditentukan oleh masa atau
waktu kehidupan anak. Menurut Hidayat (2008) secara umum terdiri atas masa
prenatal dan masa postnatal.
a. Masa prenatal
Masa prenatal terdiri atas dua fase, yaitu fase embrio dan fase fetus. Pada masa
embrio, pertumbuhan dapat diawali mulai dari konsepsi hingga 8 minggu
pertama yang dapat terjadi perubahan yang cepat dari ovum menjadi suatu
organisme dan terbentuknya manusia. Pada fase fetus terjadi sejak usia 9
minggu hingga kelahiran, sedangkan minggu ke-12 sampai ke-40 terjadi

28
peningkatan fungsi organ, yaitu bertambah ukuran panjang dan berat badan
terutama pertumbuhan serta penambahan jaringan subkutan dan jaringan otot.
b. Masa postnatal
Terdiri atas masa neonatus, masa bayi, masa usia prasekolah, masa sekolah, dan
masa remaja.
1) Masa neonatus
Pertumbuhan dan perkembangan post natal setelah lahir diawali dengan
masa neonatus (0-28 hari). Pada masa ini terjadi kehidupan yang baru di
dalam ekstrauteri, yaitu adanya proses adaptasi semua sistem organ tubuh.
2) Masa bayi
Masa bayi dibagi menjadi dua tahap perkembangan. Tahap pertama (antara
usia 1-12 bulan): pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini dapat
berlangsung secara terus menerus, khususnya dalam peningkatan sususan
saraf. Tahap kedua (usia 1-2 tahun): kecepatan pertumbuhan pada masa ini
mulai menurun dan terdapat percepatan pada perkembangan motorik.
3) Masa usia prasekolah
Perkembangan pada masa ini dapat berlangsung stabil dan masih terjadi
peningkatan pertumbuhan dan perkembangan, khususnya pada aktivitas
fisik dan kemampuan kognitif. Menurut teori Erikson (dalam Nursalam,
2005), pada usia prasekolah anak berada pada fase inisiatif vs rasa bersalah
(initiative vs guilty). Pada masa ini, rasa ingin tahu (courius) dan adanya
imajinasi anak berkembang, sehingga anak banyak bertanya mengenai
segala sesuatu di sekelilingnya yang tidak diketahuinya. Apabila orang tua
mematikan inisiatifnya maka hal tersebut membuat anak merasa bersalah.
Sedangkan menurut teori Sigmund Freud, anak berada pada fase phalik,
dimana anak mulai mengenal perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-
laki. Anak juga akan mengidentifikasi figur atau perilaku kedua orang
tuanya sehingga kecenderungan untuk meniru tingkah laku orang dewasa
disekitarnya.
Pada masa usia prasekolah anak mengalami proses perubahan dalam pola
makan dimana pada umunya anak mengalami kesulitan untuk makan.
Proses eliminasi pada anak sudah menunjukkan proses kemandirian dan
perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan perkembangan, anak
sudah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah (Hidayat, 2008).

29
d. Masa sekolah
Perkembangan masa sekolah ini lebih cepat dalam kemampuan fisik dan
kognitif dibandingkan dengan masa usia prasekolah.
e. Masa remaja
Pada tahap perkembangan remaja terjadi perbedaan pada perempuan dan
laki-laki. Pada umumnya wanita 2 tahun lebih cepat untuk masuk ke dalam
tahap remaja/pubertas dibandingkan dengan anak laki-laki dan
perkembangan ini ditunjukkan pada perkembangan pubertas.
3. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak menurut
Adriana, 2013 adalah
a. Faktor internal
Berikut ini adalah faktor-faktor internal yang berpengaruh pada tumbuh kembang
anak, yaitu
1) Ras/etnik atau bangsa
Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika tidak memiliki faktor
herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
2) Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek,
gemuk, atau kurus.
3) Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun
pertama kehidupan, dan pada masa remaja.
4) Jenis kelamin
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada
laki-laki. Akan tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak
laki-laki akan lebih cepat.
5) Genetik
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak
yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang
berpengaruh pada tumbuh kembang anak, contohnya seperti kerdil.
6) Kelainan kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan
seperti pada sindroma Down’s dan sindroma Turner’s.

30
b. Faktor eksternal
Berikut ini adalah faktor-faktor eksternal yang berpengaruh pada tumbuh
kembang anak.
1) Faktor prenatal
a) Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama pada trimester akhir kehamilan akan
memengaruhi pertumbuhan janin.
b) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital
seperti club foot.
c) Toksin/zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin atau Thalidomid dapat
menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.
d) Endokrin
Diabetes mellitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali,
dan hyperplasia adrenal.
e) Radiasi
Paparan radiasi dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan
pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental, dan
deformitas anggota gerak, kelainan kongenital mata, serta kelainan
jantung.
f) Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma,
Rubella, Citomegali virus, Herpes simpleks) dapat menyebabkan
kelainan pada janin seperti katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi
mental, dan kelainan jantung kongenital.
g) Kelainan imunologi
Eritoblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah
antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibody terhadap sel
darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk ke dalam
peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolysis yang
selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan kerniktus yang
akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.

31
h) Anoksia embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta
menyebabkan pertumbuhan terganggu.
i) Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan serta perlakuan salah atau
kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.
2) Faktor persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan jaringan otak
3) Faktor pasca persalinan
a) Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
b) Penyakit kronis atau kelainan kongenital
Tuberculosis, anemia, dan kelainan jantung bawaan mengakibatkan
retardasi pertumbuhan jasmani.
c) Lingkungan fisik dan kimia
Lingkungan yang sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut
hidup berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider).
Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari,
paparan sinar radioaktif dan zat kimia tertentu (Pb, Merkuri, rokok,
dan lain-lain) mempunyai dampak yang negatif terhadap
pertumbuhan anak.
d) Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak
dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa
tertekan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan
perkembangan.
e) Endokrin
Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid, akan
menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
f) Sosioekonomi

32
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan serta
kesehatan lingkungan yang jelek dan tidaktahuan, hal tesebut
menghambat pertumbuhan anak.

g) Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat memengaruhi
tumbuh kembang anak.
h) Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan atau stimulasi, khususnya
dalam keluarga, misalnya penyediaan mainan, sosialisasi anak, serta
keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.
i) Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka panjang akan menghambat
pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang
terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi
hormon pertumbuhan.
4. Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menyebutkan aspek-aspek
perkembangan yang dapat dipantau meliputi gerak kasar, gerak halus, kemampuan
bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.
a. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan
otot-otot besar, seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
b. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh
tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang
cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis dan sebagainya.
c. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara,
berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.
d. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai
bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya, dan sebagainya.

33
2.11 Tumbuh Kembang Anak Usia 5 Bulan
1. Kemampuan Motorik
Motorik Kasar : Usia bayi 5 bulan ada sebagian bayi yang sudah berguling dari
posisi terlentang ke tengkurap.Setelah dia bisa mengguling dia akan
menggerakkan kakinya,dengan tujuan untuk mempersiapkan diri untuk
kemampuan baru yang akan dicapainya beberapa bulan lagi yaitu merangkak
dan bergerak maju.Ingat kalau dia sudah berguling jangan tinggalkan diranjang
atau permukaan yang tinggi.
Motorik Halus : Pada usia bayi 5 bulan genggaman semakin kuat dan bisa
menarik benda disekitarnya dan memindahkan objek dari satu tangan ke
tangan yang lain.Bahkan mungkin ia bisa menggenggam botol atau gelas
sendiri.
2. Kemampuan Bicara dan Bahasa
Terkait kemampuan bicara, ada beberapa hal yang bisa dilakukan bayi berusia
5 bulan, termasuk:
a. Mulai terbiasa dengan bunyi-bunyi yang terdengar sehari-hari di
sekitarnya, seperti suara TV, bunyi binatang peliharaan atau suara telepon.
Suara tersebut tidak lagi mengganggu atau menarik perhatiannya, namun
dia akan menoleh ke sumber suara yang baru pertama kali didengarnya.
b. Dapat memperhatikan orang dengan saksama saat orang itu berbicara.
Ocehannya pun mulai lebih beragam dan lebih sering.
c. Mulai mengucapkan beberapa patah kata, seperti ‘ma’, ‘pa’, ‘ba’, atau
‘ga’. Beberapa bayi lain dapat menggabungkan satu patah kata dengan
sepatah kata lain. Ia mengeksplorasi suara yang bisa ia buat dan mungkin
mengulangnya terus menerus. Semua ini merupakan bentuk awal dari
perkembangan bahasa dan komunikasinya, dan ia sedang berlatih.
3. Kemampuan Sosialisasi
Bayi 5 bulan dapat menyadari jika ada yang memanggil namanya atau
membicarakan dirinya. Dia akan menoleh ke arah suara itu. Selain itu,

34
biasanya dia sudah dapat lebih berinteraksi dengan sekitarnya, ditandai
dengan perilaku berikut:
a. Dia sudah dapat mengangkat tangan sebagai tanda ingin digendong atau
menangis ketika Anda menjauh darinya.
b. Selain menangis, tersenyum dan tertawa, bayi 5 bulan sudah dapat
menjerit, menirukan suara, dan bersuara dengan nada yang berbeda-beda
sesuai dengan respons terhadap suasana hatinya, seperti rasa senang,
puas, kecewa, atau sedih.
c. Dia senang didengarkan, direspons, dan diajak bicara.
d. Dia juga akan tertawa ketika melihat ekspresi atau sesuatu yang dia
anggap lucu.
e. Bayi 5 bulan yang sudah dapat mengenali orang-orang terdekatnya, bisa
jadi akan menangis jika berada di antara orang-orang atau lingkungan
yang tidak dikenalnya. Ini merupakan reaksi alami ketika bayi
menunjukkan ekspresi cemas dan tidak aman.

35
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian keperawatan


1. Identitas
Acute lymphoblastic leukemia sering terdapat pada anak-anak usia di bawah 15
tahun (85%) , puncaknya berada pada usia 2 – 4 tahun. Rasio lebih sering terjadi
pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama : Pada anak keluhan yang sering muncul tiba-tiba adalah demam,
lesudan malas makan atau nafsu makan berkurang, pucat (anemia) dan
kecenderungan terjadi perdarahan.
b. Riwayat kesehatan masa lalu : Pada penderita ALL sering ditemukan riwayat
keluarga yang erpapar oleh chemical toxins (benzene dan arsen), infeksi virus
(epstein barr, HTLV-1), kelainan kromosom dan penggunaan obat-obatann
seperti phenylbutazone dan khloramphenicol, terapi radiasi maupun kemoterapi.
c. Pola Persepsi - mempertahankan kesehatan : Tidak spesifik dan berhubungan
dengan kebiasaan buruk dalam mempertahankan kondisi kesehatan dan
kebersihan diri. Kadang ditemukan laporan tentang riwayat terpapar bahan-bahan
kimia dari orangtua.
d. Pola Nutrisi : Anak sering mengalami penurunan nafsu makan, anorexia, muntah,
perubahan sensasi rasa, penurunan berat badan dan gangguan menelan, serta
pharingitis. Dari pemerksaan fisik ditemukan adanya distensi abdomen,
penurunan bowel sounds, pembesaran limfa, pembesaran hepar akibat invasi sel-
sel darah putih yang berproliferasi secara abnormal, ikterus, stomatitis, ulserasi
oal, dan adanya pmbesaran gusi (bisa menjadi indikasi terhadap acute monolytic
leukemia)

36
e. Pola Eliminasi : Anak kadang mengalami diare, penegangan pada perianal, nyeri
abdomen, dan ditemukan darah segar dan faeces berwarna ter, darah dalam urin,
serta penurunan urin output. Pada inspeksi didapatkan adanya abses perianal,
serta adanya hematuria.
f. Pola Tidur dan Istrahat : Anak memperlihatkan penurunan aktifitas dan lebih
banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur /istrahat karena mudah mengalami
kelelahan.
g. Pola Kognitif dan Persepsi : Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami
penurunan kesadaran (somnolence) , iritabilits otot dan “seizure activity”, adanya
keluhan sakit kepala, disorientasi, karena sel darah putih yang abnormal
berinfiltrasi ke susunan saraf pusat.
h. Pola Mekanisme Koping dan Stress : Anak berada dalam kondisi yang lemah
dengan pertahan tubuh yang sangat jelek. Dalam pengkajian dapt ditemukan
adanya depresi, withdrawal, cemas, takut, marah, dan iritabilitas. Juga ditemukan
peerubahan suasana hati, dan bingung.
i. Pola Seksual : Pada pasien anak-anak pola seksual belum dapat dikaji.
j. Pola Hubungan Peran : Pasien anak-anak biasanya merasa kehilangan
kesempatan bermain dan berkumpul bersama teman-teman serta belajar.
k. Pola Keyakinan dan Nilai : Anak pra sekolah mengalami kelemahan umum dan
ketidakberdayaan melakukan ibadah.
l. Pengkajian tumbuh kembang anak.
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Count Blood Cells : indikasi normocytic, normochromic anemia
b. Hemoglobin : bisa kurang dari 10 gr%
c. Retikulosit : menurun/rendah
d. Platelet count : sangat rendah (<50.000/mm)
e. White Blood cells : > 50.000/cm dengan peningkatan immatur WBC (“kiri ke
kanan”)
f. Serum/urin uric acid : meningkat
g. Serum zinc : menurun
h. Bone marrow biopsy : indikasi 60 – 90 % adalah blast sel dengan erythroid
i. prekursor, sel matur dan penurunan megakaryosit
j. Rongent dada dan biopsi kelenjar limfa : menunjukkan tingkat kesulitan tertentu
4. Pengkajian

37
a. Anamnesis
sering terdapat pada usia sebelum usia 15 tahun ( 85% ), puncak nya berada pada
usia 2-4 tahun. Resiko lebih sering terjadi pada anak laki-laki di bandingkan
perempuan.
1) Keluhan Utama :
Nyeri tulang sering terjadi, lemah nafsu makan menurun, demam (jika disertai
infeksi) juga disertai dengan sakit kepala.
2) Riwayat kesehatan dahulu
Pada penderita sering di temukan riwayat keluarga yang terpapar oleh bahan
kimia ( benzene dan arsen ) ; infeksi virus ( Epstein barr, HTLV-1 ) ; kelainan
kromosom dan penggunaan obat-obatan seperti phenylbutazone dan
chloromphenycol ; serta terapi radiasi maupun kemoterapi.
3) Riwayat kelahiran anak :
a) Prenatal
b) Natal
c) Post natal
4) Riwayat Tumbuh Kembang
Bagaimana pemberian ASI, adakah ketidaknormalan pada masa pertumbuhan dan
kelainan lain ataupun sering sakit-sakitan.
5) Riwayat keluarga
Insiden LLA lebih tinggi berasal dari saudara kandung anak-anak yang terserang
terlebih pada kembar monozigot (identik).
b. Pemeriksaan Fisik :
1) Keadaan Umum tampak lemah
Kesadaran composmentis selama belum terjadi komplikasi.
2) Pemeriksaan Kepala Leher
Rongga mulut : apakah terdapat peradangan (infeksi oleh jamur atau bakteri),
perdarahan gusi
Konjungtiva : anemis atau tidak. Terjadi gangguan penglihatan akibat infiltrasi
ke SSP.
3) Pemeriksaan Integumen
Adakah ulserasi ptechie, ekimosis, tekanan turgor menurun jika terjadi dehidrasi
4) Pemeriksaan Dada dan Thorax
Inspeksi : bentuk thorax, adanya retraksi intercostae.

38
Auskultasi : suara nafas, adakah ronchi (terjadi penumpukan secret akibat infeksi
di paru), bunyi jantung I, II, dan III jika ada
Palpasi: denyut apex (Ictus Cordis)
Perkusi : untuk menentukan batas jantung dan batas paru.
5) Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi bentuk abdomen apakah terjadi pembesaran, terdapat bayangan vena
auskultasi peristaltic usus,
palpasi nyeri tekan bila ada pembesaran hepar dan limpa.
c. Pemeriksaan Persistem
1) B1 ( Breathing )
Anak lebih mudah mengalami kelelehan serta sesak saat beraktifitas ringan.
Dapat di temukan adanya dispnea, takipnea, batuk, ronki, dan penurunan suara
napas
2) B2 ( Bleedeing )
Penderita mudah mengalami pendarahan spontan yang tidak terkontrol dengan
trauma minimal, gangguan visual akibat pendarahn retina, demam, lebam,
perdarahan gusi , dan epitaksis. Keluhan berdebar , takikardia, suara murmur
jantung kulit dan mukosa pucat.
3) B3 ( Brain )
Keluhan nyeri abdominal , sakit kepala, nyeri persendian, dada terasa lemas,
kram pada otot, meringis, kelemahan dan hanya berpusat pada diri sendiri.
4) B4 ( Bladder )
Pada inspeksi didapatkan adanya abses perianal serta hematuria
5) B5 ( Bowel )
Anak sering mengalami menurunan nafsu makan, anoreksia, muntah, perubahan
sensasi rasa, penurunan berat badan, dan gangguan menelan. Dari pemeriksaan
fisik di dapatkan adanya distensi abdomen, penurunan bising usus, pembesaran
limpa, pembesaran hepar akibat invasi sel-sel darah putih yang berproliferasi
secara abnormal, ikterus, stomatitis, ulserasi oral, dan adanya pembesaran gusi (
bisa menjadi indikasi terhadap acute monolytic leukemia ).
6) B6 ( Bone )
Berikut ini akan di jelaskan mengenai dampak terhadap pola tidur, pola latihan,
dan aktivitas
d. Pola Istirahat Dan Tidur

39
anak memperhatikan penurunan aktifitas dan lebih banyak waktu yang di habiskan
untuk tidur/istirahat karena mudah mengalami kelelahan.
e. Pola Latihan
penderita sering di temukan mengalami penurunan koordinasi dalam pergerakkan
keluhan nyeri pada sendi atau tulang. Anak sering dalam keadaan umum lemah,
rewel, dan ketidakmampuan melaksanakan aktifitas sehari-hari dari pemeriksaan
fisik di dapatkan penurunan tonus otot, kesadaran samnolen, kelainan jantung
berdebar-debar ( palpitrasi ), adanya murmur kulit pucat, membran mukosa
pucat.serta penurunan fungsi saraf cranial, dengan atau di sertai tanda tanda
pendarahan serebral.
f. Pola Aktifitas
1) Gejala : kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan
aktivitas biasanya
2) Tanda: kelelahan otot
Peningkatan kebutuhan tidur, somnolen.
g. Sirkulasi
1) Gejala : palpitasi
2) Tanda : takikardia, murmur jantung
Kulit, membrane mukosa pucat
Deficit saraf cranial dan tanda perdarahan serebral
h. Eliminasi
1) Gejala : diare, nyeri tekan perianal, nyeri
2) Darah merah terang pada tisu, feses hitam’
3) Darah pada urine, penurunan haluaran urine
i. Integritas Ego
1) Gejala : perasaan tak berdaya/tak ada harapan
2) Tanda : Depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah tersinggung
Perubahan alam perasaan, kacau
j. Makanan/Cairan
1) Gejala : kehilangan napsu makan, anoreksia, muntah
2) Perubahan rasa/penyimpangan rasa
3) Penurunan berat badan
4) Faringitis, disfagia
k. Pola Kognitif Dan Persepsi

40
Anak penderita sering di temukan mengalami penurunan kesadaran ( samnolen),
iritabilitas otot dan sering kejang, ada nya keluhan sakit kepala, serta disorientasi
kerena sel darah putih yang abnormal berinfiltrasi ke susunan saraf pusat.
l. Pola Mekanisme Koping Dan Strees
Anak berada dalam kondisi yang lemah dengan pertahanan tubuh yang sangat
rendah. Dalam pengkajian dapat ditemukan adanya depresi, penarikan diri, cemas,
takut, marah, dan iritabilitas. Juga ditemukan perubahan suasana hati dan bingung

2.2 Diagnosa Keperawatan

1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh


2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
3. Resiko terhadap cedera: perdarahan berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
5. Perubahan membran mukosa mulut: stomatitis berhubungan dengan efek samping ,
agen kemoterapi
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,
malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
7. Nyeri berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
8. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi,
radioterapi, imobilitas

41
2.3 Nursing Care Plan

DIAGNOSA
NO (NOC) INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN
1 Resiko infeksi NOC : NIC :
Definisi : Peningkatan 1. Immune Status Infection Control (Kontrol
resiko masuknya 2. Knowledge : Infection infeksi)
organisme patogen control 1. Bersihkan lingkungan
3. Risk control setelah dipakai pasien lain
Faktor-faktor resiko : Kriteria Hasil : 2. Pertahankan teknik isolasi
- Prosedur Infasif 1. Klien bebas dari tanda 3. Batasi pengunjung bila
- Ketidakcukupan dan gejala infeksi perlu
pengetahuan untuk 2. Mendeskripsikan proses 4. Instruksikan pada
menghindari paparan penularan penyakit, pengunjung untuk mencuci
patogen factor yang tangan saat berkunjung dan
- Trauma mempengaruhi setelah berkunjung
- Kerusakan jaringan dan penularan serta meninggalkan pasien
peningkatan paparan penatalaksanaannya, 5. Gunakan sabun
lingkungan 3. Menunjukkan antimikrobia untuk cuci
- Ruptur membran amnion kemampuan untuk tangan
- Agen farmasi mencegah timbulnya 6. Cuci tangan setiap sebelum
(imunosupresan) infeksi dan sesudah tindakan
- Malnutrisi 4. Jumlah leukosit dalam kperawatan
- Peningkatan paparan batas normal 7. Gunakan baju, sarung
lingkungan patogen 5. Menunjukkan perilaku tangan sebagai alat
- Imonusupresi hidup sehat pelindung
- Ketidakadekuatan imum 8. Pertahankan lingkungan
buatan aseptik selama pemasangan
- Tidak adekuat pertahanan alat
sekunder (penurunan Hb, 9. Ganti letak IV perifer dan
Leukopenia, penekanan line central dan dressing
respon inflamasi) sesuai dengan petunjuk
- Tidak adekuat pertahanan umum
tubuh primer (kulit tidak 10. Tingktkan intake nutrisi
utuh, trauma jaringan, 11. Berikan terapi antibiotik
penurunan kerja silia, bila perlu
cairan tubuh statis,

42
perubahan sekresi pH, Infection Protection (proteksi
perubahan peristaltik) terhadap infeksi)
- Penyakit kronikhiperplasia 1. Monitor tanda dan gejala
dinding bronkus, alergi infeksi sistemik dan lokal
jalan nafas, asma. 2. Monitor hitung granulosit,
- Obstruksi jalan nafas : WBC
spasme jalan nafas, sekresi 3. Monitor kerentanan terhadap
tertahan, banyaknya infeksi
mukus, adanya jalan nafas 4. Batasi pengunjung
buatan, sekresi bronkus, 5. Partahankan teknik aspesis
adanya eksudat di pada pasien yang beresiko
alveolus, adanya benda 6. Pertahankan teknik isolasi k/p
asing di jalan nafas. 7. Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
8. Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
9. Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
10. Dorong masukan cairan
11. Dorong istirahat
12. Instruksikan pasien
untuk minum antibiotik
sesuai resep
13. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
14. Ajarkan cara
menghindari infeksi
15. Laporkan kecurigaan
infeksi
16. Laporkan kultur positif

2 Intoleransi aktivitas b/d NOC : NIC :


fatigue 1. Energy conservation Energy Management
Definisi : Ketidakcukupan 2. Self Care : ADLs 1. Observasi adanya
energu secara fisiologis pembatasan klien dalam
maupun psikologis untuk Kriteria Hasil : melakukan aktivitas
meneruskan atau 1. Berpartisipasi dalam 2. Dorong anak untuk
menyelesaikan aktifitas aktivitas fisik tanpa mengungkapkan perasaan
yang diminta atau aktifitas disertai peningkatan terhadap keterbatasan
sehari hari. tekanan darah, nadi 3. Kaji adanya factor yang
dan RR. menyebabkan kelelahan
Batasan karakteristik : 2. Mampu melakukan 4. Monitor nutrisi dan sumber
a. melaporkan secara verbal aktivitas sehari hari energi tangadekuat
adanya kelelahan atau (ADLs) secara 5. Monitor pasien akan adanya
kelemahan. mandiri kelelahan fisik dan emosi
b. Respon abnormal dari secara berlebihan
tekanan darah atau nadi 6. Monitor respon
terhadap aktifitas kardivaskuler terhadap

43
c. Perubahan EKG yang aktivitas
menunjukkan aritmia atau 7. Monitor pola tidur dan
iskemia lamanya tidur/istirahat
d. Adanya dyspneu atau pasien
ketidaknyamanan saat 
beraktivitas. Activity Therapy
1. Kolaborasikan dengan
Faktor factor yang Tenaga Rehabilitasi Medik
berhubungan : dalammerencanakan program
 Tirah Baring atau terapi yang tepat.
imobilisasi 2. Bantu klien untuk
 Kelemahan menyeluruh mengidentifikasi aktivitas
 Ketidakseimbangan antara yang mampu dilakukan
suplei oksigen dengan 3. Bantu untuk memilih
kebutuhan aktivitas konsisten
 Gaya hidup yang yangsesuai dengan
dipertahankan. kemampuan fisik, psikologi
dan social
4. Bantu untuk mengidentifikasi
dan mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktivitas yang diinginkan
5. Bantu untuk mendapatkan
alat bantuan aktivitas seperti
kursi roda, krek
6. Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
7. Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
8. Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
9. Sediakan penguatan positif
bagi yang aktif beraktivitas
10. Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
11. Monitor respon fisik,
emosi, social dan spiritual
3 Resiko terhadap Tujuan : klien tidak 1. Gunakan semua tindakan
cedera/perdarahan yang menunjukkan bukti-bukti untuk mencegah perdarahan
berhubungan dengan perdarahan khususnya pada daerah
penurunan jumlah ekimosis
trombosit 2. Cegah ulserasi oral dan rectal
3. Gunakan jarum yang kecil
pada saat melakukan injeksi
4. Menggunakan sikat gigi yang
lunak dan lembutLaporkan
setiap tanda-tanda perdarahan
(tekanan darah menurun,

44
denyut nadi cepat, dan pucat)
5. Hindari obat-obat yang
mengandung aspirin
6. Ajarkan orang tua dan anak
yang lebih besar ntuk
mengontrol perdarahan
hidung
4 Defisit Volume Cairan NOC: NIC :
Definisi : Penurunan 1. Fluid balance Fluid management
cairan intravaskuler, 2. Hydration 1. Timbang popok/pembalut
interstisial, dan/atau 3. Nutritional Status : jika diperlukan
intrasellular. Ini mengarah Food and Fluid Intake 2. Pertahankan catatan intake
ke dehidrasi, kehilangan dan output yang akurat
cairan dengan pengeluaran Kriteria Hasil : 3. Monitor status hidrasi (
sodium 1. Mempertahankan kelembaban membran
urine output sesuai mukosa, nadi adekuat,
Batasan Karakteristik : dengan usia dan BB, tekanan darah ortostatik ),
- Kelemahan BJ urine normal, HT jika diperlukan
- Haus normal 4. Monitor vital sign
- Penurunan turgor 2. Tekanan darah, nadi, 5. Monitor masukan
kulit/lidah suhu tubuh dalam makanan/cairan dan hitung
- Membran mukosa/kulit batas normal intake kalori harian
kering 3. Tidak ada tanda tanda 6. Kolaborasikan pemberian
- Peningkatan denyut nadi, dehidrasi, Elastisitas cairan IV
penurunan tekanan darah, turgor kulit baik, 7. Monitor status nutrisi
penurunan volume/tekanan membran mukosa 8. Berikan cairan IV pada
nadi lembab, tidak ada rasa suhu ruangan
- Pengisian vena menurun haus yang berlebihan 9. Dorong masukan oral
- Perubahan status mental 10. Berikan penggantian
- Konsentrasi urine nesogatrik sesuai output
meningkat 11. Dorong keluarga untuk
- Temperatur tubuh membantu pasien makan
meningkat 12. Tawarkan snack ( jus buah,
- Hematokrit meninggi buah segar )
- Kehilangan berat badan 13. Kolaborasi dokter jika tanda
seketika (kecuali pada cairan berlebih muncul
third spacing) meburuk
14. Atur kemungkinan tranfusi
Faktor-faktor yang 15. Persiapan untuk tranfusi
berhubungan:
- Kehilangan volume cairan
secara aktif
- Kegagalan mekanisme
pengaturan
5 Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC :
kurang dari kebutuhan Nutritional Status : food Nutrition Management
tubuh b/d pembatasan and Fluid Intake 1. Kaji adanya alergi makanan
cairan, diit, dan hilangnya Kriteria Hasil : 2. Kolaborasi dengan ahli gizi
protein 1. Adanya peningkatan untuk menentukan jumlah
Definisi : Intake nutrisi berat badan sesuai kalori dan nutrisi yang

45
tidak cukup untuk dengan tujuan dibutuhkan pasien.
keperluan metabolisme 2. Berat badan ideal 3. Anjurkan pasien untuk
tubuh. sesuai dengan tinggi meningkatkan intake Fe
badan 4. Anjurkan pasien untuk
3. Mampu meningkatkan protein dan
Batasan karakteristik : mengidentifikasi vitamin.
- Berat badan 20 % atau kebutuhan nutrisi 5. Berikan substansi gula
lebih di bawah ideal 4. Tidak ada tanda tanda 6. Yakinkan diet yang
- Dilaporkan adanya intake malnutrisi dimakan mengandung tinggi
makanan yang kurang dari 5. Tidak terjadi serat untuk mencegah
RDA (Recomended Daily penurunan berat badan konstipasi
Allowance) yang berarti 7. Berikan makanan yang
- Membran mukosa dan terpilih ( sudah
konjungtiva pucat dikonsultasikan dengan ahli
- Kelemahan otot yang gizi)
digunakan untuk 8. Ajarkan keluarga pasien
menelan/mengunyah bagaimana membuat catatan
- Luka, inflamasi pada makanan harian.
rongga mulut 9. Monitor jumlah nutrisi dan
- Mudah merasa kenyang, kandungan kalori
sesaat setelah mengunyah 10. Berikan informasi tentang
makanan kebutuhan nutrisi
- Dilaporkan atau fakta 11. Kaji kemampuan pasien
adanya kekurangan untuk mendapatkan nutrisi
makanan yang dibutuhkan
- Dilaporkan adanya
perubahan sensasi rasa Nutrition Monitoring
- Perasaan ketidakmampuan 1. BB pasien dalam batas
untuk mengunyah normal
makanan 2. Monitor adanya penurunan
- Miskonsepsi berat badan
- Kehilangan BB dengan 3. Monitor tipe dan jumlah
makanan cukup aktivitas yang biasa
- Keengganan untuk makan dilakukan
- Kram pada abdomen 4. Monitor interaksi anak atau
- Tonus otot jelek orangtua selama makan
- Nyeri abdominal dengan 5. Monitor lingkungan selama
atau tanpa patologi makan
- Kurang berminat terhadap 6. Jadwalkan pengobatan dan
makanan tindakan tidak selama jam
- Pembuluh darah kapiler makan
mulai rapuh 7. Monitor kulit kering dan
- Diare dan atau steatorrhea perubahan pigmentasi
- Kehilangan rambut yang 8. Monitor turgor kulit
cukup banyak (rontok) 9. Monitor kekeringan, rambut
- Suara usus hiperaktif kusam, dan mudah patah
- Kurangnya informasi, 10. Monitor mual dan muntah
misinformasi 11. Monitor kadar albumin,
total protein, Hb, dan kadar
Faktor-faktor yang Ht

46
berhubungan : 12. Monitor makanan kesukaan
Ketidakmampuan 13. Monitor pertumbuhan dan
pemasukan atau mencerna perkembangan
makanan atau 14. Monitor pucat, kemerahan,
mengabsorpsi zat-zat gizi dan kekeringan jaringan
berhubungan dengan konjungtiva
faktor biologis, psikologis 15. Monitor kalori dan intake
atau ekonomi. nuntrisi
16. Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
17. Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
6 Nyeri NOC : NIC :
Definisi : 1. Pain Level, Pain Management
Sensori yang tidak 2. Pain control, 1. Lakukan pengkajian nyeri
menyenangkan dan 3. Comfort level secara komprehensif
pengalaman emosional termasuk lokasi,
yang muncul secara aktual Kriteria Hasil : karakteristik, durasi,
atau potensial kerusakan 1. Mampu mengontrol frekuensi, kualitas dan
jaringan atau nyeri (tahu penyebab faktor presipitasi
menggambarkan adanya nyeri, mampu 2. Observasi reaksi nonverbal
kerusakan (Asosiasi Studi menggunakan tehnik dari ketidaknyamanan
Nyeri Internasional): nonfarmakologi untuk 3. Gunakan teknik komunikasi
serangan mendadak atau mengurangi nyeri, terapeutik untuk mengetahui
pelan intensitasnya dari mencari bantuan) pengalaman nyeri pasien
ringan sampai berat yang 2. Melaporkan bahwa 4. Kaji kultur yang
dapat diantisipasi dengan nyeri berkurang mempengaruhi respon nyeri
akhir yang dapat diprediksi dengan menggunakan 5. Evaluasi pengalaman nyeri
dan dengan durasi kurang manajemen nyeri masa lampau
dari 6 bulan. 3. Mampu mengenali 6. Evaluasi bersama pasien
nyeri (skala, dan tim kesehatan lain
Batasan karakteristik : intensitas, frekuensi tentang ketidakefektifan
- Laporan secara verbal dan tanda nyeri) kontrol nyeri masa lampau
atau non verbal 4. Menyatakan rasa 7. Kontrol lingkungan yang
- Fakta dari observasi nyaman setelah nyeri dapat mempengaruhi nyeri
- Posisi antalgic untuk berkurang seperti suhu ruangan,
menghindari nyeri 5. Tanda vital dalam pencahayaan dan kebisingan
- Gerakan melindungi rentang normal 8. Kurangi faktor presipitasi
- Tingkah laku berhati-hati nyeri
- Muka topeng 9. Pilih dan lakukan
- Gangguan tidur (mata penanganan nyeri
sayu, tampak capek, sulit (farmakologi, non
atau gerakan kacau, farmakologi dan inter
menyeringai) personal)
- Terfokus pada diri sendiri 10. Kaji tipe dan sumber nyeri
- Fokus menyempit untuk menentukan
(penurunan persepsi intervensi
waktu, kerusakan proses 11. Ajarkan tentang teknik non
berpikir, penurunan

47
interaksi dengan orang dan farmakologi
lingkungan) 12. Berikan analgetik untuk
- Tingkah laku distraksi, mengurangi nyeri
contoh : jalan-jalan, 13. Evaluasi keefektifan kontrol
menemui orang lain nyeri
dan/atau aktivitas, aktivitas 14. Tingkatkan istirahat
berulang-ulang) 15. Kolaborasikan dengan
- Respon autonom (seperti dokter jika ada keluhan dan
diaphoresis, perubahan tindakan nyeri tidak berhasil
tekanan darah, perubahan 16. Monitor penerimaan pasien
nafas, nadi dan dilatasi tentang manajemen nyeri
pupil)
- Perubahan autonomic Analgesic Administration
dalam tonus otot (mungkin 1. Tentukan lokasi,
dalam rentang dari lemah karakteristik, kualitas, dan
ke kaku) derajat nyeri sebelum
- Tingkah laku ekspresif pemberian obat
(contoh : gelisah, merintih, 2. Cek instruksi dokter tentang
menangis, waspada, jenis obat, dosis, dan
iritabel, nafas frekuensi
panjang/berkeluh kesah) 3. Cek riwayat alergi
- Perubahan dalam nafsu 4. Pilih analgesik yang
makan dan minum diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
Faktor yang berhubungan : pemberian lebih dari satu
Agen injuri (biologi, 5. Tentukan pilihan analgesik
kimia, fisik, psikologis) tergantung tipe dan beratnya
nyeri
6. Tentukan analgesik pilihan,
rute pemberian, dan dosis
optimal
7. Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
8. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
9. Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
10. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala
(efek samping)
7 Kerusakan intergritas kulit NOC : Tissue Integrity : NIC : Pressure Management
b/d edema dan Skin and Mucous 1. Anjurkan pasien untuk
menurunnya tingkat Membranes menggunakan pakaian yang
aktivitas longgar
Definisi : Perubahan pada Kriteria Hasil : 2. Hindari kerutan pada tempat
epidermis dan dermis 1. Integritas kulit yang tidur
baik bisa 3. Jaga kebersihan kulit agar

48
Batasan karakteristik : dipertahankan tetap bersih dan kering
- Gangguan pada bagian (sensasi, elastisitas, 4. Mobilisasi pasien (ubah
tubuh temperatur, hidrasi, posisi pasien) setiap dua jam
- Kerusakan lapisa kulit pigmentasi) sekali
(dermis) 2. Tidak ada luka/lesi 5. Monitor kulit akan adanya
- Gangguan permukaan pada kulit kemerahan
kulit (epidermis) 3. Perfusi jaringan baik 6. Oleskan lotion atau
4. Menunjukkan minyak/baby oil pada
Faktor yang berhubungan: pemahaman dalam daerah yang tertekan
Eksternal : proses perbaikan kulit 7. Monitor aktivitas dan
- Hipertermia atau dan mencegah mobilisasi pasien
hipotermia terjadinya sedera 8. Monitor status nutrisi pasien
- Substansi kimia berulang 9. Memandikan pasien dengan
- Kelembaban udara 5. Mampu melindungi sabun antiseptic
- Faktor mekanik (misalnya kulit dan
: alat yang dapat mempertahankan
menimbulkan luka, kelembaban kulit dan
tekanan, restraint) perawatan alami
- Immobilitas fisik
- Radiasi
- Usia yang ekstrim
- Kelembaban kulit
- Obat-obatan

Internal :
- Perubahan status
metabolik
- Tulang menonjol
- Defisit imunologi
- Faktor yang berhubungan
dengan perkembangan
- Perubahan sensasi
- Perubahan status nutrisi
(obesitas, kekurusan)
- Perubahan status cairan
- Perubahan pigmentasi
- Perubahan sirkulasi
- Perubahan turgor
(elastisitas kulit)

BAB IV

RESUME KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. S

49
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK

Tanggal Pengkajian : 14 Mei 2018 Jam: 12.00 WIB


Tanggal MRS : 12Mei2018 No. RM: 12.67.XX.XX
Ruang/Kelas : PICU Dx Medis : ALL+Hiperleukositosis+anemia gravis
Identitas Anak Identitas Orang Tua
Nama : An. S Nama Ayah : Tn. A
Tanggal Lahir : 01-12-2017 Nama Ibu : Ny. S
Identitas

Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan Ayah/Ibu : Swasta/IRT


Usia : 3 bulan Pendidikan Ayah/Ibu : SLTA
Diagnosa Medis : ALL Agama : Islam
Alamat : Mojokerto Suku /Bangsa : Jawa /Indonesia
Sumber Informasi : Orang Tua Alamat : Mojokerto
Keluhan Utama : Ny. S mengatakan badan anaknya banyak bintik bintik merah.
Riwayat Penyakit Sekarang : Klien datang dari rujukan dokter keluarga di
Mojokerto dengan diagnosa alergi pada susu 2 bulan lebih dengan keluhan badan
keluar bintik2 merah dan suhu tubuh panas 3 hari.lalu di bawa ke RS Graha Medika
kemudian tidak sampai 1 hari langsung di rujuk di RSUD Soetomo dengan
diagnosa suspect ALL.
Riwayat Kesehatan Sebelumnya
Riwayat kesehatan yang lalu :
 Penyakit yang pernah diderita :
Demam Kejang Batuk
Mimisan Lain-lain: -
 Operasi : Ya Tidak Tahun : -
 Alergi : Makanan Obat Udara
Riwayat Sakit dan Kesehatan

Debu Lain-lain: -
 Imunisasi : BCG (Umur 2 bln )Polio (Umur ) DPT (Umur )
Campak () Hepatitis 0 (Umur 1 hari )
Imunisasi lengkap, terakhir program pemerintah Difteri
Riwayat Kesehatan Keluarga
 Penyakit yang pernah diderita keluarga :
Ibu mengatakan diri anak dan keluarganya tidak ada yang menderita sakit seperti
ini
 Lingkungan rumah dan komunitas :
Ibu anak mengatakan dirinya tinggal di perumahan di Mojokerto, lingkungan
rumah bersih
 Perilaku yang mempengaruhi kesehatan :
Ayah klien tidak merokok,
 Persepsi keluarga terhadap penyakit anak :
Orang tua anak tidak tahu tentang penyakit dan penyebab penyakit yang diderita
anaknya.
Riwayat Nutrisi
 Nafsu makan : Baik Tidak Mual Muntah
 Pola makan : 2X/hari 3X/hari > 3X/hari
 Minum : Jenis : susu, air putih Jumlah : 45cc/2 jam
 Pantangan maka : Ya Tidak
 Menu makanan : susu formula
 Lain-lain : -

50
Riwayat Pertumbuhan
 BB saat ini :7,2 kg
 BB lahir : 3100 gram BB sebelum sakit : 7,4kg
 Panjang lahir : 48 cm PB/TB saat ini :54cm
Riwayat Perkembangan
 Pengkajian Perkembangan (DDST) : Normaleksual : fase anal, ibu klien
mengatakan anaknya mulai melaporkan jika ingin BAK/BAB

Observasi dan Pemeriksaan Fisik (ROS : Review of System):


ROS

Keadaan Umum : Baik Sedang Lemah


Kesadaran : composmentis
Tanda vital : Nadi : 126 x/mt Suhu :37oC RR :40 x/mt TD :102/70 mmHg
Bentuk Dada : Normal Tidak, Jenis: -
Pola Napas :
Pernafasan B1 (Braeth)

Irama : Teratur Tidak Teratur


Jenis : Dispnoe Kusmaul Ceyne Stokes Lain-Lain:
Suara Napas : Vesikuler Stridor Wheezing Ronchi Lain-Lain
Sesak Napas : Ya Tidak Batuk : Ya Tidak
Retraksi Otot Bantu Napas: Ada ICS Supraklavikular Suprasternal
Tidak Ada
Alat Bantu Pernapasan : Ya Nasal Masker Respirator (1lpm)
Tidak
Lain-Lain :-
Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Irama Jantung : Reguler Ireguler S1/S2 Tunggal Ya Tidak


Kardiovaskuler B2

Nyeri Dada : Ya Tidak


Bunyi Jantung: Normal Murmur Gallop
(Blood)

Lain-Lain
CRT : <3 dt >3 dt
Akral : Hangat Panas Dingin Kering Dingin Basah
Lain-lain :-
Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

51
GCS Eye : 4 Verbal : 5 Motorik : 6 Total : 15
Reflek Fisiologis : Menghisap Menoleh Mengenggam Moro
Patella Triceps Biceps Lain-Lain
Persyarafan & Penglihatan B3 (Brain)

Refleks Patologis : Babinsky Budzinsky Kernig Lain-Lain


Lain-Lain :-
Istirahat / Tidur : 9 Jam/Hari Gangguan Tidur: tidak ada ganguan tidur
Kebiasaan Sebelum Tidur : Minum Susu Mainan Cerita/Dongeng
Penglihatan (Mata)
Pupil : Isokor Anisokor Lain-Lain : -
Sclera/Konjungtiva : Anemis Ikterus Lain-Lain : -
Gangguan Penglihatan: Ya Tidak Jelaskan: -
Pendengaran/Telinga
Gangguan Pandangan: Ya Tidak Jelaskan: -

Penciuman (Hidung)
Bentuk : Normal Tidak Jelaskan: -
Gangguan Penciuman: Ya Tidak Jelaskan: -
Masalah : ketidakefektifan perfusi jaringan perifer

Kebersihan : Bersih Kotor


Urin : Jumlah : 1300 cc/hari Warna : kuning Bau: khas urin
Perkemihan B4 (Bladder)

Alat bantu (kateter dan lain-lain):


Kandung Kencing : Membesar Ya Tidak
Nyeri Tekan Ya Tidak
Alat Kelamin : Normal Tidak Normal, Sebutkan....................
Uretra : Normal Hipospadia/Epispadia
Gangguan : Anuria Oliguri Retensi
Inkontinensia
Nokturia Lain-lain
Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

52
Nafsu makan : Baik Menurun Frekuensi 3 x/hari
Porsi makan : Habis Tidak
Minum : 540 cc/hari Jenis : susu formula
Mulut dan tenggorokan
Mulut : Bersih Kotor Berbau
Pencernaan B5 (Bowel)

Mukosa : Lembab Kering Stomatitis


Tenggorokan : Sakit /nyeri telan Kesulitan menelan
Pembesaran tonsil Lain-lain
Abdomen
Perut : Tegang Kembung Ascites Nyeri tekan, lokasi :
Peristaltik : 23 x/menit
Pembesaran hepar : Ya Tidak
Pembesaran lien : Ya Tidak
Buang air besar : 2x/hari Teratur Ya Tidak
Konsistensi lunak : lunak Bau: khas feses Warna: kuning

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Kemampuan pergerakan sendi : Bebas Terbatas


Kekuatan otot:
Muskuloskeletal B6 (Bone &

+5 +5
+5 +5
Integumen)

Kulit
Warna kulit : Ikterus Sianotik Kemerahan Pucat Hiperpigmentasi
Turgor : Baik Sedang Jelek
Odema : Ada Tidak ada Lokasi :-
Lain-lain :-

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Tyroid : Membesar Ya Tidak


Hiperglikemia : Ya Tidak
Endokrin

Hipoglikemia : Ya Tidak
Luka gangren : Ya Tidak
Lain-lain :-
Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Mandi : diseka 2 x/hari Sikat gigi : - x/hari


Keramas : 3 hari sekali Memotong kuku : -
Personal
Hygiene

Ganti pakaian : - 2x/hari


Lain- lain :-
Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

53
a. Ekspresi afek dan emosi : Senang Sedih Menangis
Psiko – Sosio- Spiritual Cemas Marah Diam
Takut Lain
b. Hubungan dengan keluarga: Akrab Kurang akrab
c. Dampak hospitalisasi bagi anak : anak sedikit rewel,
d. Dampak hospitalisasi bagi orang tua : orang tua kooperatif dalam setiap tindakan
yang diberikan untuk anaknya, namun orang tua kasihan kepada anaknya karena
masih kecil tp sudah masuk rumah sakit
e. Lain-lain : -

Masalah : kecemasan orangtua

Data Penunjang (Lab, Foto, USG, dll), tanggal 13 mei 2018

DATA HASIL NILAI RUJUKAN


LEUKOSIT 128.400 3000-10.000
HB 9,0 >12,0
HCT 28,6 13,5%
TROMBOSIT 44.000 150.000-450.000
Tanggal 14 mei 2018 (setelah
dilakukan exchange 2 klf)
LEUKOSIT 90.060 3000-10.000
HB 9,1 >12,0
HCT 25,6 13,5%
TROMBOSIT 48.000 150.000-450.000

Terapi/Tindakan lain tgl 14 Mei 2018 :


IVFD : D5 ¼ nS 1100ml/24 jam + Nabic 20 Meq
Injeksi furosemid 2 x 7,5 mg iv
Allupurinol 2x75mg, p.o
02 Nasal Canul 1 lpm
Diet parenteral susu 8 x 60 ml
Dilakukan Exchange Transfusi WBC 2 kolf

Surabaya,14 Mei 2018


Ners,

( )

RINGKASAN KASUS

54
1. Identitas Anak : An. S umur 5 bulan, jenis kelamin perempuan, alamat:
Mojokerto,, ayahnya Tn.A, ibunya Ny. S pekerjaannya ayah/ibu :Swasta/IRT,
pendidikan ayah/ibu: SLTA, agama: Islam, Suku/Bangsa: Jawa/Indonesia, Alamat:
Mojokerto
2. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik :
Ibu klien mengatakan badan anaknya banyak bintik2 merah
B1: bentuk dada normal, irama nafas cepat teratur, suara nafas vesikuler, tidak ada
otot bantu nafas, menggunakan alat bantu nafasnasal canul 1 liter per menit.
B2: irama jantung teratur, tidak ada nyeri dada, bunyi jantung normal, CRT< 3
detik, akral teraba hangat, konjungtiva anemis,
B3: kesadaran Composmentis, GCS E : 4V : 5M : 6, pupil isokor, tidak ada
gangguan penglihatan, pendengaran maupun penciuman.
B4: genitalia bersih, tidak ada nyeri tekan dan pembesarankandung kemih,
menggunakan kateter, uretra normal.
B5: anak minum susu 540 cc/hari, mendapatkan infus D5 ¼ NS 1100ml/24 jam,
peristaltik usus 23x/menit, tidak ada pembesaran lien dan hepar, buang besar teratur,
konsistensinya lunak, bau khas feses, dan berwarna kuning.
B6 : kemampuan sendi tidak terbatas, warna kulit kemerahan, turgor kulit baik,
tidak ada odema, banyak bintik2 merah dan lebam2 di kulitnya.
Tidak ada pembesaran tiroid, tidak hiperkalemia,tidak hipoglikemia, dan luka
gangren.
3. Pemeriksaan Penunjang :
Data Penunjang (Lab, Foto, USG, dll)

DATA HASIL NILAI RUJUKAN


Tanggal 13 Mei 2018
LEUKOSIT 128.400 3000-10.000
HB 9,0 >12,0
HCT 28,6 13,5%
TROMBOSIT 44.000 150.000-450.000
Tanggal 14 mei 2018 (setelah dilakukan exchange 2 klf)
LEUKOSIT 90.060 3000-10.000
HB 9,1 >12,0
HCT 25,6 13,5%
TROMBOSIT 48.000 150.000-450.000
Terapi/Tindakan lain tgl 14 Mei 2018 :
IVFD : D5 ¼ nS 1100ml/24 jam + Nabic 20 Meq
Injeksi furosemid 2 x 7,5 mg iv
Allupurinol 2x75mg, p.o
02 Nasal Canul 1 lpm
Diet parenteral susu 8 x 60 ml
Dilakukan Exchange Transfusi WBC 2 kolf

ANALISA DATA

55
DATA ETIOLOGI MASALAH
Ds : Ibu klien mengatakan Produksi sel limfoid yang Risiko Tinggi Infeksi
anaknya demam naik bersifat kanker menyebar ke
turun seluruh tubuh
Do :
- Suhu 37 derajat. Leukosit diproduksi banyak
- Leukosit 128.400 di organ ekstramedular
- Akral hangat (nodus limfa, limpa, hati)

Over produksi leukosit

Ds : Ibu klien mengatakan Pansitopenia Ketidak efektifan perfusi


anaknya Lemes jaringan perifer
Do : Eritropenia
- Pasien bedrest
- Hb: 9,0 g/Dl Hb menurun
- CRT <3 detik
- Konjungtiva anemis
- GCS 4,5,6
Ds : Ibu klien mengatakan Produksi sel darah imatur Risiko Perdarahan
di badan anaknya muncul
bintik bintik merah dan
lebam pansitopenia
Do :
- Trombosit 44.000
- Ada ptekie dan lebam trombositopenia
- Tidak ada perdarahan gusi
- BAB tidak berwarna
merah

Ds : Ibu mengatakan kasian Kurang terpajan informasi Kecemasan orang tua


dengan kondisi anaknya

Do : Prognosis Penyakit yang


- Keluarga selalu bertanya kurang baik
mengenai kondisi anaknya
dan bagaimana
prognosisnya Kecemasan orangtua
- Keluarga nampak gelisah
- Keluarga selalu menjaga
klien

56
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan eritropeni
2. Risiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder (imun) tidak adekuat
4. Kecemasan orang tua berhubungan dengan status kesehatan anak, kurang
pengetahuan

57
FORMAT MODEL PIE (PROBLEM INTERVENSI EVALUASI)
TGL MASALAH WAKTU IIMPLEMENTASI WAKTU EVALUASI
14/5/2018 MK: Ketidakefektifan perfusi 12.00 1. Mengedukasi keluarga agar 14.00 S: Ibu pasien mengatakanAn.S
jaringan perifer pasien selalu di tempat tidur lemas
2. Meningkatkan nutrisi klien O: Pasien bedrest, Hb: 9,0 g/dl,
Tujuan : CRT < 2 detik, konjungtiva
3. Mengobservasi tanda-tanda
Setelah dilakukan tindakan pucat, akral hangat
keperawatan selama 3x24 jam anemis (konjungtiva pucat, CRT
< 2 detik) A: Masalah teratasi sebagian
diharapkan Ketidakefektifan perfusi
4. Melakukan tranfusi WBC dengan P: Intervensi keperawatan
jaringan perifer teratasi
dilanjutkan
metode exchange 2 klf
Kriteria hasil: 5. Mempertahankan kolaborasi
- Hb >12 g/Dl pemberian oksigen dengan nasal
- Konjungtiva tidak anemis
canul 1 lpm
- CRT <2 detik
- Denyut nadi teraba kuat dan
regular
- Akral hangat
Intervensi:
1. Observasi ulangtanda tanda
anemia
2. Tingkatkan nutrisi klien
3. Kolaborasi pemberian
transfuse
4. Monitor hasil Laboratorium
5. Melanjutkan program terapi
pemberian:
- O2 nasal canul 1 lpm

58
14/5/2018 MK: Risiko perdarahan 12.00 1. Memonitor tanda-tanda 14.00 S: Ibu pasien mengatakan bintik-
perdarahan (tidak ada perdarahan bintik merah hilang timbul
Setelah dilakukan tindakan gusi) O:
keperawatan selama 3x24 jam - Trombosit 44.000
2. Mengobservasi tanda-tanda
diharapkan perdarahan tidak terjadi - Ada petekie dan lebam-lebam
trombositopenia (terdapat
petekie, terdapat lebam-lebam) - BAB warna kuning
Kriteria hasil:
3. Mengobservasi TTV - Tidak ada perdarahan gusi
- Tidak ada tanda-tanda perdarahan
- Tidak ada perdarahan gusi N: 122 x/m, S: 37,30C, RR:40 - HR : 122x/menit, RR: 40
- Tidak ada ptekie dan lebam x/m x/menit
- Trombosit dalam batas normal 4. Memonitor input dan output, A: Masalah teratasi sebagian
150.000-450.000 minum susu 45 cc/2 jam, ganti P: Intervensi keperawatan
popok 3 kali/hari, berat popok dilanjutkan
Intervensi:
1. Monitor tanda-tanda perdarahan setiap ganti ± 200 cc
2. Observasi TTV 5. Mempertahankan terapi IV line
3. Pertahankan klien untuk bedrest D5 ¼ NS 1000 cc/24 jam dan
4. Pertahankan cairan melalui oral Nabic 20 meq
dan IV line
5. Monitor input dan output

14/5/2018 MK: Risiko tinggi infeksi 12.15 1. Mengobservasi TTV 14.00 S: Ibu pasien mengatakan An.S
N: 126 x/menit, S: 37,30C, RR:40 demam naik turun
Tujuan : x/menit O:
Setelah dilakukan tindakan 2. Melakukan cuci tangan sebelum - S : 37,30C
keperawatan selama 3x24 jam - Leukosit 128.400
dan sesudah 5 moment
diharapkan infeksi tidak terjadi - Akral hangat
3. Mempertahankan lingkungan
Kriteria hasil: aseptik - Ibu mampu melakukan 6
- Suhu 36,5-37,5 derajat celcius 4. Mengganti IV line dan dressing langkah cuci tangan
- Akral hangattidak ada tanda-tanda A: Masalah belum teratasi
infus

59
infeksi 5. Mengedukasi keluarga tentang P: Intervensi keperawatan
- Leukosit dalam batas normal 3.000- pentingnya cuci tangan dilanjutkan
10.0000
- TTV dalam batas normal
(Nadi : 100-140x/m, RR: 30-
40x/menit)
Intervensi :
1. Monitor TTV
2. Cuci tangan 6 langkah sebelum
dan sesudah melakukan tindakan
aseptic sesuai 5 moment
3. Pertahankan lingkungan yang
bersih
4. Ganti letak IV line dan dressing
setiap 3 hari sekali
5. Monitor laboratoorium leukosit
6. Kolaborasi pemberian antibiotic
7. Edukasi keluarga tentang PHBS

14/5/2018 MK: Kecemasan orang tua 12.15 1. Menggunakan BHSP dengan ibu 14.00 S : ibu pasien mengatakan kasian
klien kepada anak masih kecil sudah
Tujuan : 2. Menggali penyebab terjadinya terkena penyakit
Setelah dilakukan tindakan O:
cemas
keperawatan selama 1 x 24 jam - Ibu melakukan relaksasi
diharapkan kecemasan orangtua 3. Mendengarkan cerita ibu klien
4. Memberi tahu tentang penyakit nafas dalam
berkurang/ hilang dengan criteria
hasil : anak kepada ibu - Ibu mengerti tentang
- Klien koperatif, tidak gelisah 5. Mengajarkan ibu klien teknik penyakit anaknya
- Menunjukkan pengendalian relaksasi nafas dalam A : Masalah teratasi sebagian
terhadap cemas P : Lanjutkan intervensi
- Mengerti tentang penyakit anaknya

60
Intervensi :
1. Gunakan BHSP dengan ibu klien
2. Kaji dan dokumentasikan tingkat
kecemasan keluarga klien
3. Kaji faktor penyebab ansietas
4. Berikan informasi yang jelas dan
faktual
5. Motivasi keluarga dalam
pengendalian ansietas

TGL MASALAH WAKTU IMPLEMENTASI WAKTU EVALUASI


15/5/2018 MK: Ketidakefektifan perfusi 21.30 1. Mengedukasi keluarga agar 07.00 S:-
jaringan perifer pasien selalu di tempat tidur
2. Mengobservasi tanda-tanda O:
Tujuan : - Pasien bedrest, Hb: 9,1 g/dl,
anemis (konjungtiva pucat, CRT
Setelah dilakukan tindakan CRT < 2 detik, konjungtiva
keperawatan selama 3x24 jam < 2 detik)
3. Mengobservasi hasil lab setelah pucat, akral hangat
diharapkan Ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer teratasi melakukan exchange Hb: 9,1 d/dl A : Masalah teratasi sebagian
4. Mempertahankan kolaborasi
Kriteria hasil: pemberian oksigen dengan nasal P : Lanjutkan intervensi
- Hb >12 g/Dl canul 1 lpm
- Konjungtiva tidak anemis
- CRT <2 detik
- Denyut nadi teraba kuat dan
regular
- Akral hangat
Intervensi:
1. Observasi ulangtanda tanda

61
anemia
2. Tingkatkan nutrisi klien
3. Kolaborasi pemberian
transfuse
4. Monitor hasil Laboratorium
5. Melanjutkan program terapi
pemberian:
- O2 nasal canul 1 lpm

15/5/2018 MK: Risiko perdarahan 21.30 1. Memonitor tanda-tanda 07.00 S: Ibu pasien bintik-bintik merah
perdarahan masih ada
Setelah dilakukan tindakan 2. Mengobservasi tanda-tanda O:
keperawatan selama 3x24 jam - Trombosit 48.000
trombositopenia (terdapat petekie,
diharapkan perdarahan tidak terjadi - Ada petekie dan lebam-
terdapat lebam-lebam)
3. Mengobservasi TTV lebam
Kriteria hasil:
- Tidak ada tanda-tanda perdarahan N: 124 x/m, S: 36,80C, RR:42 - Tidak ada perdarahan gusi
- Tidak ada perdarahan gusi x/m - N: 124 x/m, S: 36,80C,
- Tidak ada ptekie dan lebam 4. Mengobservasi hasil lab RR:42 x/m
- Trombosit dalam batas normal trombosit : 48.000 A: Masalah teratasi sebagian
150.000-450.000 5. Mempertahankan terapi IV line P: Intervensi keperawatan
D5 ¼ NS 1000 cc/24 jam dan
Intervensi:
1. Monitor tanda-tanda perdarahan Nabic 20 meq
2. Observasi TTV
3. Pertahankan klien untuk bedrest
4. Pertahankan cairan melalui oral
dan IV line
5. Monitor input dan output

62
15/5/2018 MK: Risiko tinggi infeksi 21.40 1. Mengobservasi TTV 07.00 S: -
N: 124 x/menit, S: 36,80C, RR:42 O:
Tujuan : x/menit - S: 36,80C
Setelah dilakukan tindakan 2. Melakukan cuci tangan 6 langkah - Leukosit 90.060
keperawatan selama 3x24 jam
sesuai 5 moment - Akral hangat
diharapkan infeksi tidak terjadi
3. Mempertahankan lingkungan
Kriteria hasil: aseptik A: Masalah teratasi sebagian
- Suhu 36,5-37,5 derajat celcius 4. Mengedukasi keluarga P: Intervensi keperawatan
- Akral hangattidak ada tanda-tanda dilanjutkan
pentingnya kebersihan
infeksi
- Leukosit dalam batas normal 3.000- 5. Mengobservasi hasil lab
10.0000
- TTV dalam batas normal
(Nadi : 100-140x/m, RR: 30-
40x/menit)
Intervensi :
1. Monitor TTV
2. Cuci tangan 6 langkah sebelum dan
sesudah melakukan tindakan
aseptic sesuai 5 moment
3. Pertahankan lingkungan yang
bersih
4. Ganti letak IV line dan dressing
setiap 3 hari sekali
5. Monitor laboratoorium leukosit
6. Kolaborasi pemberian antibiotic
7. Edukasi keluarga tentang PHBS
15/5/2018 MK: Kecemasan orang tua 21.50 1. Melakukan BHSP dengan ibu 07.00 S: -
klien O:
Tujuan : 2. Menggali apakah ibu klien masih - Ibu mengerti tentang tanda dan
Setelah dilakukan tindakan gejala penyakit anaknya
merasa cemas
keperawatan selama 1 x 24 jam
63
diharapkan kecemasan orangtua 3. Mendengarkan cerita ibu klien - Ibu dapat melakukan relaksasi
berkurang/ hilang dengan criteria 4. Memberi tahu ibu tentang tanda nafas dalam
hasil : dan gejala penyakit - ibu tampak lebih tenang dan
- Klien koperatif, tidak gelisah kooperatif
- Menunjukkan pengendalian A: Masalah teratasi
terhadap cemas P: Hentikan intervensi
- Mengerti tentang penyakit anaknya
keperawatan
Intervensi :
1. Gunakan BHSP dengan ibu klien
2. Kaji dan dokumentasikan tingkat
kecemasan keluarga klien
3. Kaji faktor penyebab ansietas
4. Berikan informasi yang jelas dan
faktual
5. Motivasi keluarga dalam
pengendalian ansietas

TGL MASALAH WAKTU IMPLEMENTASI WAKTU EVALUASI


16/5/2018 MK: Ketidakefektifan perfusi 21.00 1. Mengobservasi tanda-tanda 07.00 S:-
jaringan perifer anemis (konjungtiva tidak pucat,
CRT < 2 detik) O : pasien bedrest, Hb: 9,1 g/dl,
Tujuan : CRT < 2 detik, konjungtiva
2. Mengedukasi keluarga untuk
Setelah dilakukan tindakan tidak pucat, akral hangat
keperawatan selama 3x24 jam sering membuatkan susu
diharapkan Ketidakefektifan perfusi 3. Mempertahankan kolaborasi
pemberian oksigen dengan nasal A : Masalah teratasi sebagian
jaringan perifer teratasi
P : Lanjutkan intervensi
canul 1 lpm
Kriteria hasil:
- Hb >12 g/Dl
- Konjungtiva tidak anemis

64
- CRT <2 detik
- Denyut nadi teraba kuat dan
regular
- Akral hangat
Intervensi:
1. Observasi ulangtanda tanda
anemia
2. Tingkatkan nutrisi klien
3. Kolaborasi pemberian
transfuse
4. Monitor hasil Laboratorium
5. Melanjutkan program terapi
pemberian:
- O2 nasal canul 1 lpm

16/5/2018 MK: Risiko perdarahan 21.00 1. Memonitor tanda-tanda 07.00 S:-


perdarahan
Setelah dilakukan tindakan 2. Mengobservasi tanda-tanda O:
keperawatan selama 3x24 jam - Trombosit: 48.000
trombositopenia
diharapkan perdarahan tidak terjadi - Ada petekie dan lebam-lebam
3. Mengobservasi TTV
N: 120 x/m, S: 370C, RR:44 x/m Akral hangat N: 120 x/m, S:
Kriteria hasil:
- Tidak ada tanda-tanda perdarahan 4. Mengobservasi hasil lab 370C
- Tidak ada perdarahan gusi trombosit : 48.000
- Tidak ada ptekie dan lebam 5. Mempertahankan terapi IV line A : Masalah teratasi
- Trombosit dalam batas normal D5 ¼ NS 1000 cc/24 jam dan
150.000-450.000 P : Lanjutkan intervensi
Nabic 20 meq
Intervensi:
1. Monitor tanda-tanda perdarahan
2. Observasi TTV
3. Pertahankan klien untuk bedrest

65
4. Pertahankan cairan melalui oral
dan IV line
5. Monitor input dan output

16/5/2018 MK: Risiko tinggi infeksi 21.10 1. Mengobservasi TTV 07.00 S :-


N: 124 x/menit, S: 36,80C, RR:42 O:
Tujuan : x/menit - S : 370C
Setelah dilakukan tindakan 2. Melakukan cuci tangan 6 langkah - Leukosit 90.060
keperawatan selama 3x24 jam
sesuai 5 moment - Akral hangat
diharapkan infeksi tidak terjadi
3. Mempertahankan lingkungan A : Masalah teratasi sebagian
Kriteria hasil: aseptik P: Lanjutkan intervensi
- Suhu 36,5-37,5 derajat celcius 4. Mengedukasi keluarga
- Akral hangattidak ada tanda-tanda
pentingnya kebersihan
infeksi
- Leukosit dalam batas normal 3.000-
10.0000
- TTV dalam batas normal
(Nadi : 100-140x/m, RR: 30-
40x/menit)
Intervensi :
1. Monitor TTV
2. Cuci tangan 6 langkah sebelum dan
sesudah melakukan tindakan
aseptic sesuai 5 moment
3. Pertahankan lingkungan yang
bersih
4. Ganti letak IV line dan dressing
setiap 3 hari sekali
5. Monitor laboratoorium leukosit
6. Kolaborasi pemberian antibiotic
66
7. Edukasi keluarga tentang PHBS

67
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Leukemia adalah keganasan organ pembuat darah, sehingga sumsum tulang
didominasi oleh limfoblas yang abnormal. Leukemia limfoblastik akut adalah keganasan
yang sering ditemukan pada masa anak-anak (25-30% dari seluruh keganasan pada
anak), anak laki lebih sering ditemukan dari pada anak perempuan, dan terbanyak pada
anak usia 3-4 tahun. Faktor risiko terjadi leukimia adalah faktor kelainan kromosom,
bahan kimia, radiasi faktor hormonal,infeksi virus (Ribera, 2009).
Leukemia lymphoblastic akut ( ALL atau juga disebut leukemia limfositik akut )
adalah kanker darah dan sumsum tulang . Kanker jenis ini biasanya semakin memburuk
dengan cepat jika tidak diobati .ALL adalah jenis kanker yang paling umum pada anak-
anak . Pada anak yang sehat , sumsum tulang membuat sel-sel induk darah ( sel yang
belum matang ) yang menjadi sel-sel darah dewasa dari waktu ke waktu . Sebuah sel
induk dapat menjadi sel induk myeloid atau sel induk limfoid (National Cancer Institute,
2014).
Penyebab leukimia ada beberapa faktor, diantaranya: genetik, saudara kandung, faktor
lingkungan, virus, bahan kimia dan obat-obatan. Klasifikasi leukimia terdiri dari
Leukimia Mielogenus Akut, Leukimia Mielogenus Kronis, Leukimia Limfositik Akut,
Leukimia Limfositik Kronik.
Manifestasi Klinis yang sering dijumpai pada penyakit leukimia adalah sebagai
berikut:
1. Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
2. Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise
3. Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel leukemia), biasanya
terjadi pada anak
4. Demam, banyak berkeringat pada malam hari(hipermetabolisme)
5. Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis. Penyebab tersering adalah
gramnegatif usus
6. Stafilokokus, streptokokus, serta jamur
7. Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria
8. Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati

68
9. Massa di mediastinum (T-ALL)
Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan intrakranial naik,
muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan neurologik fokal, dan
perubahan status mental.
10. Abnormal WBC,Trombosit, HB, RBC
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan tahapan kemoterapi, pemenuhan
nutrisi danexchange transfusion (transfusi tukar).Untuk menghindari leukimia harus dicegah
sedini mungkin, dan ketika sudah ada gejala-gejala segera periksakan ke dokter dan
pelayanan kesehatan.

69
DAFTAR PUSTAKA

Ross, Jullie dkk. 1994. ‘Epidemiology of Childhood Leukemia, with a Focus on Infants’.
Epidemiologic Reviews American Journal of Epidemiology,Volume 15, Nomor 1, 243.
Simanjorang, dkk. 2013. Perbedaan Kesintasan 5 Tahun Pasien Leukemia Limfoblastik Akut
dan Leukemia Mieloblastik Akut pada Anak di Rumah Sakit Kanker Dharmais.
Jakarta: Universitas Indonesia

Roberts, Irene. 2006. Chronic Myeloid Leukemia In Pediatric Hematology 3rd edition, p:384-
399. London: Blackwell Publishing

Mughal, Tarir dkk. 2006. Understanding Leukemias Lymphomas and Myelomas. Taylor &
Francis Group. London & New York.

Hoffbrand.A.V, Pettit. J. E, P. A .H. Moss. 2012. Hematologi.edisi 5. Alih Bahasa Jakarta:


EGC

70