Anda di halaman 1dari 16

TERAPI PROGRESIF

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gerontik


Dosen Pengampu : Ns. Aida Kusnaningsih., S.Kep M.Kep, SP., Kep. Mat

Disusun Oleh Kelompok XII:

1) Yoga Deswantono NIM: PO 62.20.1.16.166


2) Yohanes Tedi NIM: PO 62.20.1.16.167
3) Yuniarti Banten NIM: PO 62.20.1.16.168
4) Zulfi Anan Winaldi NIM: PO 62.20.1.16.169

PROGRAM STUDI D -IV KEPERAWATAN REGULER III

POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah
“Terapi Progresif” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini diajukan guna
memenuhi tugas yang diberikan dosen mata kuliah Keperawatan Gerontik. .

Pada kesempatan ini juga kami berterima kasih atas bimbingan dan masukan dari
semua pihak yang telah memberi kami bantuan wawasan untuk dapat menyelesaikan
makalah ini baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Kami menyadari isi makalah ini masih jauh dari kategori sempurna, baik dari segi
kalimat, isi, maupun dalam penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
dari dosen mata kuliah yang bersangkutan dan rekan-rekan semuanya, sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya.

Palangka Raya, 21 April 2018

Kelompok XII
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN: ........................................................................................... 1


A.Latar Belakang .................................................................................................. 1
B.Rumusan Masalah ............................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN: ............................................................................................ 2


A. Defenisi ............................................................................................................ 2
B. Tujuan .............................................................................................................. 2
C. Manfaat Relaksasi ........................................................................................... 3
D. Metode Relakasasi .......................................................................................... 3
E. Jenis-Jenis Relaksasi ...................................................................................... 3
F. Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Relaksasi ................................................ 4
G. Indikasi Relaksasi Otot Progresif ..................................................................... 4
G. Langkah-langkah Relaksasi Progresif ............................................................. 5

BAB III PENUTUP: ................................................................................................. 12


A.Kesimpulan ..................................................................................................... 12
B.Saran .............................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 13
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Jurnal Pengembangan multimedia relaksasi oleh Neila Ramdhani dan


Adhyos Aulia Putra pada tahun 2006, relaksasi merupakan salah satu teknik pengelolaan
diri yang didasarkan pada cara kerja sistem syaraf simpatetis dan parasimpatetis ini.
Teknik relaksasi semakin senng dilakukan karena terbukti efektif mengurangi
ketegangan dan kecemasan,membantu orang yang mengalami insomnia, dan asma.

Di Indonesia, penelitian tentang relaksasi ini juga sudah cukup banyak


dilakukan. Relaksasi bermanfaat untuk mengurangi keluhan fisik. Efektivitas latihan
relaksasi dan terapi kognitif untuk mengurangi kecemasan berbicara di muka umum,
selanjutnya relaksasi juga efektif dalam menunmkan tekanan darah pada penderita
hipertensi ringan, dan menurunkan ketegangan pada siswa penerbang.

B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian relaksasi ?
2. Apa tujuan relaksasi?
3. Apa manfaat relaksasi?
4. Apa saja metode relaksasi?
5. Apa saja jenis-jenis relaksasi?
6. Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam relaksasi?
7. Apa saja Indikasi Terapi Relaksasi Progresif?
8. Bagaimana langkah-langkah relaksasi?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Defenisi

Relaksasi adalah satu teknik dalam terapi perilaku untuk mengurangi ketegangan
dan kecemasan.Teknik ini dapat digunakan oleh pasien tanpa bantuan terapis dan
mereka dapat menggunakannya untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan yang
dialami sehari-hari di rumah.

Teknik relaksasi otot progresif adalah teknik relaksasi yang dilakukan dengan card
fokus pada kontraksi dan relaksasi otot-otot tubuh. Teknik relaksasi otot progresif adalah
teknik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan, atau sugesti
(Herodes, 2010) dalam (Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Terapi relaksasi otot progresif yaitu
terapi dengan cara peregangan otot kemudian dilakukan relaksasi otot (Gemilang, 2013).
Relaksasi progresif adalah cara yang efektif untuk relaksasi dan mengurangi kecemasan
(Sustrani, Alam, & Hadibroto, 2004).

B. Tujuan

Relaksasi otot bertujuan untuk mengurangi ketegangan dengan cara


melemaskan badan. Dalam latihan relaksasi otot individu diminta menegangkan otot
dengan ketegangan tertentu dan kemudian diminta untuk mengendurkannya. Sebelum
dikendorkan penting dirasakan ketegangan tersebut sehingga individu dapat membedakan
antara otot tegang dengan otot yang lemas. Sesuatu yang diharapkan disini adalah individu
secara sadar untuk belajar merilekskan otot- ototnya sesuai dengan keinginannya melalui
suatu cara yang sistematis. Subjek juga belajar ketegangan otot tersebut.

Selain itu, tujuan dari relaksasi ini adalah memperdalam relaksasi dan merilekskan otot
yang tegangannya berlebihan dan otot yang tidak perlu tegang.

Menurut Herodes (2010), Alim (2009), dan Potter (2005) dalam Setyoadi dan
Kushariyadi (2011) bahwa tujuan dari teknik ini adalah:
1) Menurunkan ketegangan otot, kecemasan, nyeri leher dan punggung, tekanan
darah tinggi, frekuensi jantung, laju metabolik.
2) Mengurangi distritmia jantung, kebutuhan oksigen.
3) Meningkatkan gelombang alfa otak yang terjadi ketika klien sadar dan tidak
memfokus perhatian seperti relaks.
4) Meningkatkan rasa kebugaran, konsentrasi.
5) Memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stres.
6) Mengatasi insomnia, depresi, kelelahan, iritabilitas, spasme otot, fobia ringan,
gagap ringan, dan
7) Membangun emosi positif dari emosi negatif.

C. Manfaat Relaksasi

Manfaat dari relaksasi otot progresif ini sendiri adalah untuk mengatasi berbagai
macam permasalahan dalam mengatasi stres, kecemasan, insomnia, dan juga dapat
membangun emosi positif dari emosi negatif. Keempat permasalahan tersebut dapat
menjadi suatu rangkaian bentuk gangguan psikologis bila tidak diatasi.

Stres terhadap tugas maupun permasalahan lainnya, yang tidak segera


diatasi dapat memunculkan suatu bentuk kecemasan dalam diri seseorang.Kecemasan
itu sendiri bila tidak juga diatasi dapat berakibat pada munculnya emosi negatif baik
terhadap permasalah yang timbul akibat stres juga perilaku sehari-hari seseorang.Dan
akibat dari itu semua menyebabkan suatu bentuk gangguan tidur atau
insomnia.Relaksasi bisa digunakan agar seseorang kembali pada taraf keadaan normal.

D. Metode Relakasasi

Salah satu metode relaksasi otot progresif adalah dengan menegangkan dan
mengendurkan otot-otot jari-jari kaki dan secara progresif bekerja hingga leher
dan kepala.Teknik ini juga dapat dimulai dari kepala dan leher dan bekerja turun ke jari-jari
kaki.

E. Jenis-Jenis Relaksasi
Relaksasi otot progresif dibagi menjadi tiga, yaitu:

1) Relaksasi Via Tension Relaxation

Dalam metode ini individu diminta untuk menegangkan dan melemaskan


masing- masing otot, kemudian diminta merasakan dan menilanati perbedaan
antara otot tegang dengan otot lemas. Disini individu diberitahu bahwa fase
menegangkan akan membantu dia lebih menyadari sensasi yang berhubungan
dengan kecemasan dan sensasi-sensasi tersebut bertindak sebagai isyarat atau
tanda untuk melemaskan ketegangan. Individu dilatih untuk melemaskan otot-
otot yang tegang dengan cepat seolah-olah mengeluarkan ketegangan dari
badan, sehingga individu akan merasa rileks,

2) Relaxation Via Letting Go

Pada fase ini individu dilatih untuk lebih menyadari dan merasakan
relaksasi. Individu dilatih untuk menyadari ketegangannya dan berusaha sedapat
mungkin untuk mengurangi serta menghilangkan ketegangan tersebut. Dengan
demikian individu akan lebih peka terhadap ketegangan dan lebih ahli dalam
mengurangi ketegangan.

3) Deffrential Relaxation

Deffrential relaxation merupakan salah satu penerapan ketrampilan


progresif. Pada waktu individu melakukan sesuatu bermacam-macam kelompok
otot menjadi tegang.otot yang diperlukan untuk melakukan aktifitas tertentu
sering lebih tegang daripada yang seharusnya (ketegangan yang berlebih) dan
otot lain yang tidak diperlukan untuk melakukan aktifitas juga menjadi tegang
selama aktifitas berlangsung. oleh karena itu untuk merilekskan otot yang
tegangannya berlebihan dan otot yang tidak perlu tegang, pada waktu individu
melakukan aktifitas tersebut dapat digunakan relaksasi defferential.

F. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Kegiatan Relaksasi


Hal hal yang perlu juga diperhatikan dalam melakukan kegiatan relaksasi otot progresif:
1) Jangan terlalu menegangkan otot berlebihan karena dapat melukai diri sendiri.
2) Untuk merilekskan otot-otot membutuhkan waktu sekitar 20-50 detik.
3) Posisi tubuh, Jebih nyaman dengan mata tertutup. Jangan dengan berdiri,
4) Menegangkan kelompok otot dua kali tegangan.
5) Melakukan pada bagian kanan tubuh dua kali, kemudian bagian kiri dua kali
6) Memeriksa apakah klien benar-benar rileks.
7) Memberikan instruksi tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lamban.

G. Indikasi Terapi Relaksasi Otot Progresif

Menurut Setyoadi dan Kushariyadi (2011, hlm.108) bahwa indikasi dari terapi relaksasi
otot progresif, yaitu:
1) Klien yang mengalami insomnia.
2) Klien sering stres.
3) Klien yang mengalami kecemasan.
4) Klien yang mengalami depresi.

H. Langkah-langkah Relaksasi Progresif

Menurut Setyoadi dan Kushariyadi (2011) persiapan untuk melakukan teknik ini yaitu:

a. Persiapan
1) Persiapan alat dan lingkungan : kursi, bantal, serta lingkungan yang tenang
dan sunyi.
2) Pahami tujuan, manfaat, prosedur.
3) Posisikan tubuh secara nyaman yaitu berbaring dengan mata tertutup
menggunakan bantal di bawah kepala dan lutut atau duduk di kursi dengan
kepala ditopang, hindari posisi berdiri.
4) Lepaskan asesoris yang digunakan seperti kacamata, jam, dan sepatu.
5) Longgarkan ikatan dasi, ikat pinggang atau hal lain sifatnya mengikat.

b. Prosedur
Langkah awal yang dilakukan adalah sebuah ruang (dapat tertutup atau terbuka)
yang memungkinkan udara bebas keluar masuk sangat dianjurkan dalam Jatihan
relaksasi.Kursi yang dapat fleksibel naik dan tunm (lihat gambar 1) Jebih diutamakan
daripada tempat tidur sehingga dapat diletakkan di tempat-tempat yang diinginkan.

Berikut dipaparkan masing-masing gerakan dan penjelasan mengenai otot-otot yang


akan dilatih:

1) Gerakan pertama

Ditujukan untuk melatih otot tangan yang dilakukan dengan cara


menggenggam tangan kiri sambil membuat suatu kepalan. Klien diminta
membuat kepalan ini semakin kuat (gambar 1), sambil merasakan sensasi
ketegangan yang terjadi.Pada saat kepalan dilepaskan, klien dipandu untuk
merasakan rileks selama 10 detik. Gerakan pada tangan kiri ini dilakukan dua
kali sehingga klien dapat membedakan perbedaan antara ketegangan otot
dan keadaan relaks yang dialami.Prosedur sempa juga dilatihkan pada tangan
kanan.

Gambar 1
2) Gerakan kedua

Adalah gerakan untuk melatih otot tangan bagian belakang. Gerakan ini
dilakukan dengan cara menekuk kedua lengan ke belakang pada pergelangan
tangan sehingga otot- otot di tangan bagian belakang dan lengan bawah
menegang, jari-jari menghadap ke langit-langit (gambar 2).
Gambar 2

3) Gerakan Ketiga

Adalah untuk melatih otot-otot Biceps.Otot biceps adalah otot besar yang
terdapat di bagian atas pangkal lengan (lihat gambar 3). Gerakan ini diawali dengan
menggenggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan kemudian membawa
kedua kepalan ke pundak sehingga otot-otot biceps akan menjadi tegang.

Gambar 3

4) Gerakan Keempat
Ditujukan untuk melatih otot-otot bahu. Relaksasi untuk mengendurkan
bagian otot- otot bahu dapat dilakukan dengan cant mengangkat kedua bahu
setinggi-tingginya seakan-akan bahu akan dibawa hingga menyentuh kedua
telinga. Fokus perhatian gerakan ini adalah kontras ketegangan yang terjadi di
bahu, punggung atas, dan leher
.
Gambar 4

5) Gerakan kelima sampai ke delapan


Adalah gerakan-gerakan yang ditujukan untuk melemaskan otot-otot di
wajah.Otot- otot wajah yang dilatih adalah otot-otot dahi, mata, rahang, dan
mulut. Gerakan untuk dahi dapat dilakukan dengan cara mengerutkan dahi dan
alis sampai otot-ototnya terasa dan kulitnya keriput (gambar 5).

Gambar 5
6) Gerakan keenam
Gerakan yang ditujukan untuk mengendurkan otot-otot mata diawali dengan
menutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketegangan di sekitar mata
dan otot-otot yang mengendalikan gerakan mata (gambar 5).
7) Gerakan ketujuh
Bertujuan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh otot-otot
rahang dengan cara mengatupkan rahang, diikuti dengan menggigit gigi-gigi
sehingga ketegangan di sekitar otot-otot rahang (gambar 5).

8) Gerakan kedelapan
Ini dilakukan untuk mengendurkan otot-otot sekitar mulut. Bibir
dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga akan dirasakan ketegangan di sekitar
mulut (gambar 5).

9) Gerakan Kesembilan
(gambar 6) ditujukan untuk merilekskan otot-otot leher bagian depan
maupun belakang. Gerakan diawali dengan otot leher bagian belakang baru
kemud.ian otot leher bagian depan. Klien dipandu meletakkan kepala sehingga
dapat beristirahat, kemudian diminta untuk menekankan kepala pada permukaan
bantalan kursi sedemikian rupa sehingga klien dapat merasakan ketegangan di
bagian belakang leher dan punggung atas.

10) Gerakan Kesepuluh


Sedangkan gerakan kesepuluh bertujuan untuk melatih otot leher bagian
depan (lihat gambar ). Gerakan ini dilakukan dengan cara membawa kepala ke
muka, kemudian klien diminta untuk membenamkan dagu ke dadanya. Sehingga
dapat merasakan ketegangan di daerah leher bagian muka.

Gerakan ke-9 Gerakan ke-10


Gerakan ke-11 Gerakan ke-12
Gambar 6

11) Gerakan Kesebelas

Gerakan ini bertujuan untuk melatih otot punggung. Gerakan ini di lakukan
dengan cara mengangkat tubuh dari sandaran kursi, kemudian punggung
dilengkungkan, lalu busungkan dada sehingga tampak seperti pada gambar 6.
Kondisi tegang dipertahankan selama 10 detik, kemudian rileks.Pada saat rileks,
letakkan tubuh kembali ke kursi, sambil membiarkan otot-otot menjadi lemas.

12) Gerakan Keduabelas

Gerakan berikutnya adalah gerakan keduabelas, dilakukan untuk melemaskan


otototot dada.Pada gerakan ini, klien diminta untuk menarik nafas panjang untuk
mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-banyaknya.Posisi ini ditahan selama
beberapa saat, sambil merasakat1 ketegangan di bagian dada kemudian turun ke
perut.Pada saat ketegangan dilepas, klien dapat bernafas normal dengan lega.
Sebagaimana dengan gerakan yang lain, gerakan ini diulangi sekali lagi sehingga
dapat dirasakan perbedaan antara kondisi tegang dan rileks.(gambar 6)

Gerakan ke-13
Gerakan ke-14
Gambar 7

13) Gerakan ketigabelas

Setelah latihan otot-otot dada, gerakan ketiga belas bertujuan untuk melatih
otot-otot perut. Gerakan ini dilakukan dengan cara menarik kuat-kuat perut ke dalam
,kemudian menahannya sampai perut menjadi kencang dank eras. Setelah 10 detik
dilepaskan bebas, kemudian diulang kembali seperti gerakan awal untuk perut
ini.Gerakan 14 dan 15 adalah gerakan-gerakan untuk otot-otot kaki.Gerakan ini
dilakukan secant berurutan.(Gambar 7)

14) Gerakan keempatbelas

Gerakan keempat belas bertujuan untuk melatih otot-otot paha, dilakukan


dengan cara meluruskan kedua belah telapak kaki (lihat gambar delapan)
sehingga otot paha terasa tegang. Gerakan ini dilanjutkan dengan mengunci Jutut
(lihat gambar delapan), sedemikian sehingga ketegangan pidah ke otot-otot
betis.Sebagaimana prosedur relaksasi otot, klien harus menahan posisi tegang
selama 10 detik baru setelah itu melepaskannya.Setiap gerakan dilakukan masing-
masing dua kali.(Gambar 7)
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Relaksasi adalah teknik yang dapat digunakan semua orang untuk


menciptakan mekanisme batin dalam diri seseorang dengan membentuk pribadi yang baik,
menghilangkan berbagai bentuk pikiran yang k:acau akibat ketidak berdayaan seseorang
dalam mengendalikan ego yang dimilikinya, mempermudah seseorang mengontrol diri,
menyelamatkan jiwa dan memberikan k:esehatan bagi tubuh.

B.SARAN

Jika dalam penulisan makalah ini masih bnyak terdapat kekurangan , kritik dan
saran yang membangun dapat di harapkan dari para pembaca agar dalam penulisan
makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Direja, A. H. S. (2011). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika
Gemilang, J. (2013). Buku Pintar Manajemen stres dan Emosi. Yogyakarta Mantra Books
Hawari, D. (2008). Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta : FKUI
Herodes, R. (2010). Anxiety and Depression in Patient.
Isaacs, A. (2005). Panduan belajar: keperawatan kesehatan jiwa dan psikiatrik. Jakarta:
EGC
Kaplan & Sadock. (2007). Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Psikiatri Klinis. (Jilid 1).
Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Perry, Patricia A., & Potter, Anne Griffin. (2005). Fundamental Keperawatan buku I edisi 7.
Jakarta : Salemba Medika
Ramdani, H. (2012). Pengaruh Latihan Relaksasi Otot Progresif terhadap Penurunan
Tekanan Darah Klien Hipertensi Primer di Kota Malang. Malang.
Setyoadi, K. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan Jiwa pada Klien Psikogeriatrik. Jakarta
: Salemba Medika
Stuart, G.W & Laraia, M.T (2005). Principles and practice of psychiatric nursing. (7th edition).
St Louis: Mosby
Stuart, G. W. (2006). Buku saku keperawatan jiwa. Jakarta: EGC
Suliswati., Payopo, Tijie, Anita., Maruhawa, Jeremia., Sianturi, Yenny., Sumijatun. (2005).
Konsep dasar keperawatan jiwa. Jakarta: EGC
Sustrani, L., Alam, S., Hadibroto, I. (2004). Hipertensi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Anggota IKAPI
Townsend, C.M. (2005). Essentials of psychiatric mental health nursing. (3th Ed.).
Philadelphia: F.A. Davis Company
Videbeck, S.,L. (2006). Psychiatric mental health nursing. (3rd edition). Philadhelpia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Videbeck, S.,L.(2008), Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta: EGC.