Anda di halaman 1dari 67

MEKANIKA TANAH

(CIV -205)
OUTLINE

• Definisi tanah & lingkup mekanika tanah


• Proses pembentukan tanah dan batuan
• Susunan partikel tanah
• Komposisi dan fase tanah
• Analisis butiran tanah
• Atterberg limit
APA ITU TANAH ???

Material yang terdiri dari butiran mineral-


mineral padat (agregat) yang tidak
tersementasi satu sama lain, dan atau dari
bahan organik yang melapuk, dimana
diantara butiran terdapat ruang-ruang
kosong yang terisi oleh zat cair dan udara

Rock Mechanic
GEOTEKNIK
Soil Mechanic
TANAH VS BATUAN

Tanah relatif dapat lebih mudah terurai


menjadi unsur mineral atau partikel
organik.

batuan (rock) memiliki sifat ikatan


internal (kohesi) dan kemampuan
mempertahankan ikatan butiran
mineral yang kuat.
MEKANIKA TANAH ….???
Karena tanah banyak digunakan sebagai material konstruksi maka dalam
teknik sipil harus mempelajari sifat – sifat tanah seperti asal-usul
pembentukan tanah, distribusi ukuran butiran, kemampuan mengalirkan
air, sifat kemampatan apabila dibebani, kapasitas daya dukung terhadap
beban, tegangan geser dan lain-lain

Mekanika tanah (soil mechanics) merupakan cabang ilmu


pengetahuan yang mempelajari sifat-sifat fisik dari tanah dan
perilaku masa tanah akibat menerima berbagai macam gaya. Soil
engineering merupakan ilmu terapan dari mekanika tanah untuk
permasalahan-permasalahan praktis
SOIL MECHANIC RELATED WITH OTHERS

Geologi  formasi (landform)  soils/rocks  informasi


engineer dan potensi masalah di lapangan

Secara umum, setiap formasi merupakan fungsi dari


• Asal usul batuan dan tanah (hubungan antara komposisi dan
strukturnya)
• Proses yang terjadi pada batuan dan tanah (mis. Aliran air tanah
dll)
• Kerangka waktu yang terjadi selama proses pembentukannya
SIKLUS BATUAN – PEMBENTUKAN TANAH
• Secara umum, tanah (soils) terbentuk akibat dari
pelapukan batuan
• Sifat-sifat fisis tanah terutama ditentukan dari mineral yang
terkandung pada butiran/partikel tanah ATAU batuan tsb berasal
• sifat-sifat fisis dari tanah dipengaruhi oleh ukuran,
bentuk, dan komposisi kimia butiran.
• Berdasarkan asal usul pembentukan batuan, maka dapat dibagi
menjadi tiga tipe batuan induk : batuan beku (igneous rocks),
batuan endapan (sedimentary rocks), dan batuan metamorf
(metamorphic rocks)
BATUAN BEKU

terbentuk dari proses pembekuan atau pengkristalan magma


yang mencair yang dikeluarkan dari dalam mantel bumi

Batuan beku dalam terbentuk pada


masa lalu dapat muncul di permukaan
sebagai hasil dari proses erosi material
yang menutupinya. Secara umum
butiran yang dihasilkan batuan beku
dalam adalah berbutir kasar (coarse
grained)
BATUAN BEKU
BATUAN SEDIMEN /ENDAPAN
Terbentuk batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil erosi atau
hasil aktivitas kimia maupun organisme yang diendapkan lapis demi lapis
pada permukaan bumi
• Batuan beku dalam terbentuk pada masa lalu dapat
muncul di permukaan sebagai hasil dari proses erosi
material yang menutupinya. Secara umum butiran yang
dihasilkan batuan beku dalam adalah berbutir kasar
(coarse grained)
• Ciri khas batuan sendimen adalah pelapisannya
(membentuk lapisan-lapisan),sehingga batuan sendimen
disebut juga batuan berlapis (strata=lapisan).
BATUAN SEDIMEN /ENDAPAN

Terdapat dua tipe batuan sedimen , yaitu :


Batuan sedimen detrital atau klastik, batuan ini
terbentuk dari unsur-unsur sementasi yang
mengisi ruang-ruang di antara butiran dan
membentuk batuan sedimen. Contohnya
konglomerat, breccia, sandstone,mudstone, dan
shale.
Batuan sedimen kimia, batuan jenis ini terbentuk
dari proses pengendapan bersama air dan
mengalami proses reaksi kimia, dikelompokkan
berdasarkan kandungan mirealnya, contohnya
limestone, gipsum, dolomite, gamping,
bitominous coal
BATUAN METAMORF

Terbentuk akibat proses perubahan tekanan (P), temperatur (T) atau


keduanya di mana batuan memasuki kesetimbangan baru tanpa adanya
perubahan komposisi kimia (isokimia) dan tanpa melalui fasa cair (dalam
keadaan padat), dengan temperatur berkisar antara 200-800⁰C

mengubah mineral dan hubungan antar butiran/kristalnya


bila batas kestabilannya terlampaui
BATUAN METAMORF
PROSES GEOLOGI DAN PERUBAHAN BENTUK MUKA BUMI
Perubahan bentuk muka bumi dapat menjelaskan bagaimana proses geologi
yang membentuknya, sehingga menjadi sesuatu yang penting untuk
mengenal perbedaan bentuk muka bumi dan bagaimana material yang
membentuknya

Proses geologi dapat dideskripsikan berdasarkan tempat aktifitas


geologinya, yaitu
• pada permukaan bumi, termasuk pelapukan, gravitasi, permukaan
air, es, angin, aktivitas vulkanik
• di bawah permukaan bumi, antara lain air tanah dasar, proses
tektonik dan plutonik
• kasus extraordinary, antara lain jatuhnya benda luar angkasa seperti
meteor
PROSES PELAPUKAN
Merupakan suatu proses terurainya atau berubahnya komposisi atau struktur
batuan pada atau dekat permukaan bumi oleh proses kimia, fisik/mekanis dan
biologi.
Pelapukan mekanis disebabkan terurainya batuan secara mekanikal akibat
perubahan temperatur (pembekuan atau pencairan) dari unsur-unsur es
gletser, gelombang air laut dan udara. Umumnya terjadi di daerah dengan
temperatur rendah

Pelapukan kimiawi adalah proses dimana mineral batuan induk diubah


menjadi mineral-mineral baru melalui proses kimia seperti oksidasi, reduksi,
hidrolisis, karbonisasi dan asam-asam organik. Umumnya terjadi di daerah
dengan temperatur tinggi
PROSES GRAVITASI

Pergerakan massa dalam


proses geologi merupakan
pergerakan tanah dan batuan
ke bawah pada lereng akibat
pengaruh gravitasi. Bentuk
umumnya disebut longsoran
(landslide)
PROSES AIR PERMUKAAN
 Air permukaan adalah unsur geologi yang penting dan
terdapat di mana-mana. Erosi, transportasi, dan endapan
oleh aliran sungai, danau dan laut memiliki pengaruh
terhadap struktur geologi permukaan

 Dengan berjalannya waktu, suatu sistem jaringan


sungai akan membentuk pola pengaliran tertentu
diantara saluran utama dengan cabang-cabangnya dan
pembentukan pola pengaliran ini sangat ditentukan
oleh faktor geologinya
PROSES AIR PERMUKAAN
PROSES PENDINGINAN

• Struktur tanah yang


terbentuk dari proses Gracial
memiliki sifat material yang
sangat bervariasi bahkan
dalam area yang saling
berdekatan dalam horisontal
dan vertikal.
• secara teknik tidak baik
untuk untuk dikerjakan
karena sifat
kompleksitasnya yang tinggi
PROSES ANGIN

Struktur batuan yang


dipengaruhi angin banyak
ditemukan di daerah gurun
dan pantai. Deposit yang
paling penting pada
struktur eolian adalah
dunes, yang tersusun dari
pasir dan jarang tersusun
dari silt (lanau)
PROSES VULKANIK

Proses vulkanik merupakan hasil dari ekstrusi magma ke


permukaan bumi. Ketika gunung berapi meletus,
material seperti lava dan batuan piroklastik dan debris
(puing) dikeluarkan dan membentuk struktur batuan

Lava sesungguhnya adalah batuan yang meleleh dan


mengalir dari gunung berapi melalui erupsi celah
( fissure eruption) yang menghasilkan aliran lava pada
permukaan tanah
PROSES TEKTONIK
• Proses tektonik yang terjadi pada
kerak bumi dan pada lapisan dangkal
merupakan proses yang terjadi pada
area seismik aktif dan membentuk
struktur batuan yang penting dalam
rekayasa sipil

• patahan akan menghasilkan


struktur bumi dan unsur topografi
yang khas. Patahan curam yang
dihasilkan besarnya ditentukan
oleh pergeseran dan juga oleh
seberapa sering patahan itu terjadi.
Komposisi Mineral pembentuk tanah

MINERAL = komposisi + struktur kristalin

Empat tipe mineral utama :


• Silacates : Quartz, feldspar, mica, chlorite, amphibole,
pyroxene, olivine, serpentine, talc dan clay
• Carbonates : calcite, dolomite
• oxides : limonite, hematite
• kelompok lainnya (kelompok salt) : gypsum, anhydrite,
halite (NaCl), pyrite dan graphite.
MINERAL LEMPUNG

Mineral lempung merupakan senyawa aluminium silikat yang


komplek yang terdiri dari satu atau dua unit dasar yaitu :
• Silikat tetrahedra
• Aluminium oktahedra
INDEKS PROPERTIES
• Sifat-sifat indeks (index properties) menunjukkan sifat-sifat
tanah yang mengindikasikan jenis dan kondisi tanah, serta
memberikan hubungan terhadap sifat-sifat mekanis
(engineering properties) seperti kekuatan dan pemampatan
atau kecenderungan untuk mengembang, dan permeabilitas.

• Untuk tanah berbutir kasar (coarse-grained), sifat-sifat


partikelnya dan derajat kepadatan relatif adalah sifat-sifat
yang paling penting. Sedangkan, untuk tanah berbutir halus
(fine-grained), konsistensi (keras atau lunak) dan plastisitas
merupakan sifat-sifat yang paling berpengaruh
INDEKS PROPERTIES

Kohesif (diperlukan suatu gaya untuk


TANAH memisahkan butiran tanah pada saat kering)

Non – kohesif (butiran tanah sudah terpisah


pada saat kering, melekat saat basah saja)

Berdasarkan Berbutir halus (fine grained)


analisis
saringan
Berbutir kasar (coarse grained)
UKURAN PARTIKEL
Tanah merupakan campuran partikel-partikel yang terdiri dari
satu atau seluruh jenis berikut :
• Berangkal (boulders)
• Kerikil (gravel)
• Pasir (sand)
• Lanau (silt)
• Lempung (clay)
Dari segi mineral (bukan ukurannya) yang disebut tanah lempung
(dan mineral lempung) adalah yang memiliki partikel mineral
tertentu yang bersifat plastis bila dicampur dengan air
SUSUNAN TANAH
GRANULAR
PENGARUH AIR PADA LEMPUNG

• Air tidak mempengaruhi perilaku tanah non kohesif


(granular), contoh kuat geser pasir sama pada kondisi
kering/basah

• Pada tanah non kohesif  distribusi ukuran partikel


yang dominan

• Pada tanah lempung  variasi kadar air mempengaruhi


plastisitas
Bagaimana mekanisme nya ???

Partikel lempung memiliki muatan negatif, untuk mengimbanginya , partikel


lempung akan menarik ion muatan positif dari garam yang ada di air pori
KOMPOSISI FASE TANAH

Suatu massa tanah terdiri dari :


 Partikel padat (solid)
 Air (water)
 Udara (air)

Asumsi :
total volume Vt, dengan volume
massa padat Vs dan volume rongga Vv
yang dapat terdiri dari volume terisi
air Vw dan volume terisi udara Va
HUBUNGAN VOLUME – BERAT

3 FASE
HUBUNGAN VOLUME – BERAT
volume total tanah dapat dinyatakan :
Dimana :
V  Vs  Vv  Vs  Vw  Va Vs = volume butiran padat
Vv = volume pori (void)
Vw = volume air dalam pori
Va = volume udara dalam pori
Udara dianggap tidak memiliki berat maka berat total dari contoh tanah dapat
dinyatakan sebagai :
Dimana :
W  Ws  Ww Ws = berat butiran padat
Ww = berat air
Hubungan perbandingan volumetrik yang umum dipakai
dalam menentukan fase tanah ini adalah :

angka pori (e) : perbandingan antara volume pori dan volume butiran
Vv
padat. Umumnya dinyatakan dalam desimal dibandingan persen. Besaran e
nilai angka pori dari 0 sampai tidak terhingga. Vs

porositas (n) : perbandingan antara volume pori dan volume tanah total, Vv
umumnya dinyatakan dalam persen. Besaran nilai porositas antara 0 sampai n 100%
Vt
100 %

derajat kejenuhan (S), : perbandingan antara volume air dan volume Vw


pori,dinyatakan dalam persen. Bila tanah telah kering maka S = 0 % dan S 100%
Vv
bila pori terisi seluruhnya air maka S = 100 %.

kadar air (w) : perbandingan antara berat air dan berat butiran padat dari Ww
w 100%
volume tanah yang diselidiki Ws
Hubungan perbandingan volumetrik yang umum dipakai
dalam menentukan fase tanah ini adalah :

W m
Berat volume : berat tanah per satuan volume, berat   g   .g
dipengaruhi gravitasi (W = mg) V V

Berat volume juga dapat dinyatakan dalam berat  W 


Ws 1  w 
butiran padat, kadar air, dan volume total W Ws  Ww  Ws  Ws 1  w
   
V V V V
Berat jenis (specific gravity), didefinisikan sebagai
berat jenis dari butiran tanah padat, Gs.
Nilai berat jenis tanah berkisar antara 2,65 – 2,72

s Ws
Gs  
 w Vs w
Hubungan antara berat volume, angka pori, kadar air dan
berat spesifik

Karena volume butiran padat adalah


1, maka volume dari pori sama
dengan angka porinya (e). Berat
dari butiran padat dari air dapat
dinyatakan sebagai :

Ws = Gs w
Ww = w.Ws = w.Gs w
TANAH DALAM KONDISI JENUH

𝑊 𝑊𝑠 + 𝑊𝑤 𝐺𝑠 𝛾𝑤 + 𝑒𝛾𝑤 𝐺𝑠 + 𝑒 𝛾𝑤 Berat Volume


𝛾𝑠𝑎𝑡 = = = = tanah jenuh air
𝑉 𝑉 1+𝑒 1+𝑒
HUBUNGAN ANTARA BERAT VOLUME, POROSITAS DAN KADAR AIR

Karena V = 1, maka Vv sama dengan n.


Sehingga Vs = 1 – n . Berat butiran
padat (Ws) dan berat air (Ww) dapat
dinyatakan sebagai berikut :
𝑊𝑆 = 𝐺𝑠 𝛾𝑤 (1 − 𝑛)
𝑊𝑤 = 𝑤𝑊𝑠 = 𝑤𝐺𝑠 𝛾𝑤 1 − 𝑛
Jadi berat volume kering sama dengan
:
𝑊𝑠 𝐺𝑠 𝛾𝑤 (1−𝑛)
𝛾𝑑 = = = 𝐺𝑠 𝛾𝑤 (1 − 𝑛)
𝑉 1
Berat isi tanah sama dengan :
𝑊 +𝑊
𝛾 = 𝑠 𝑤 = 𝐺𝑠 𝛾𝑤 (1 − 𝑛)(1 + 𝑤)
𝑉
HUBUNGAN ANTARA BERAT VOLUME, POROSITAS DAN KADAR AIR

𝑊 +𝑊 1−𝑛 𝐺 𝛾 +𝑛𝛾
Pada tanah jenuh air 𝛾𝑠𝑎𝑡 = 𝑠 𝑤 = 𝑠 𝑤 𝑤
= 1 − 𝑛 𝐺𝑠 𝛾𝑤 + 𝑛𝛾𝑤
𝑉 1
Kadar air dari tanah jenuh air dinyatakan sebagai :
𝑊 𝑛𝛾𝑤 𝑛
𝑤= 𝑤= =
𝑊𝑆 1−𝑛 𝛾𝑤 𝐺𝑠 1−𝑛 𝐺𝑠

Berat isi tanah sama dengan :


𝑊 +𝑊
𝛾 = 𝑠 𝑤 = 𝐺𝑠 𝛾𝑤 (1 − 𝑛)(1 + 𝑤)
𝑉
Kerapatan Relatif
Kerapatan relatif atau relative density digunakan untuk
menunjukkan kerapatan dari tanah berbutir (granular) di lapangan.
Kerapatan relatif didefinisikan sebagai perbandingan antara angka
pori tanah pada keadaan paling lepas dan keadaan tanah di
lapangan terhadap perbedaan antara angka pori pada keadaan
paling lepas dan paling padat.
𝒆𝒎𝒂𝒌𝒔 − 𝒆
𝑫𝒓 =
𝒆𝒎𝒂𝒌𝒔 − 𝒆𝒎𝒊𝒏
Dimana :
Dr = kerapatan relatif (dalam %)
e = angka pori tanah di lapangan
emaks = angka pori tanah dalam keadaan paling lepas
CONTOH SOAL :
Dalam keadaan asli, suatu tanah basah memiliki volume 0.009345 m3 dan berat 18.111 kg.
Setelah dikeringkan dalam oven , berat tanah kering adalah 15.667 kg. Apabila Gs =2.71,
hitung kadar air, berat volume basah, berat volume kering, angka pori ,porositas dan derajat
kejenuhan
Pembahasan :
𝑊𝑤 𝑊 − 𝑊𝑠 18,111 − 15.667
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 𝑤 = = = × 100% = 15,6%
𝑊𝑠 𝑊𝑠 15.667

𝑊 18.111
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ = 𝛾 = = = 1938.041 𝑘𝑔/𝑚3
𝑉 0.009345
𝑊𝑠 15.667
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 = 𝛾𝑑 = = = 1676.511 𝑘𝑔/𝑚3
𝑉 0.009345
𝑉𝑣 𝑉𝑣 = 𝑉 − 𝑉𝑠 = 0.009345 − 0.00578
𝐴𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑝𝑜𝑟𝑖 = 𝑒 = ,
𝑉𝑠 w
= 1000 kg/m3
= 0.003565 𝑚3
0.003565
𝑊𝑠 15.667 𝑒= = 0.6167 ≈ 0.62
𝑉𝑠 = = = 0.00578 𝑚3 0.00578
𝐺𝑠 𝛾𝑤 2.71 × 1000
𝑉𝑣 = 𝑉 − 𝑉𝑠 = 0.009345 − 0.00578 = 0.003565 𝑚3

0.003565
𝑒= = 0.6167 ≈ 0.62
0.00578

𝑒 0.62
𝑝𝑜𝑟𝑜𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 = 𝑛 = = = 0.38 𝑥 100% = 38%
1 + 𝑒 1 + 0.62
𝑉𝑤
𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑗𝑒𝑛𝑢ℎ𝑎𝑛 = 𝑆 =
𝑉𝑣

𝑊𝑤 2.444
𝑉𝑤 = = = 0.002444 𝑚3
𝛾𝑤 1000

𝑉𝑤 0.002444
𝑆= = = 68.5 %
𝑉𝑤 0.003565
CONTOH SOAL 2 :
Suatu sampel tanah basah pada piringan adalah 462 gr. Setelah dikeringkan dalam
oven pada suhu 110⁰C dan kemudian ditimbang berat sampel dan piringan adalah
364 gr. Berat piringan kosong itu sendiri adalah 39 gr. Tentukan kadar air sampel
tanah tersebut.

Pembahasan :
Berat total (basah) sampel + piringan = 462 gr
Berat sampel kering + piringan = 364 gr
Berat air = 462 – 364 = 98 gr
Berat piringan = 39 gr
Berat tanah kering = 364 – 39 = 325 gr
98
kadar air = × 100 % = 30.2 %
325
ANALISIS UKURAN BUTIRAN
Uji Saringan (Untuk tanah berbutir kasar)

• Sifat tanah sangat tergantung dari


ukuran butirannya
• Analisis ukuran butiran digunakan
sebagai dasar pemberian nama dan
klasifikasi tanah.
• Definisi : penentuan persentase berat
butiran pada satu unit saringan, dengan
ukuran diameter lubang tertentu.
ANALISIS UKURAN BUTIRAN
Bila Wi adalah berat tanah yang tertahan pada saringan ke-i (dari atas
susunan saringan) dan W adalah berat tanah total, maka persentase berat
yang tertahan adalah :
𝑾𝒊
% 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒂𝒓𝒊𝒏𝒈𝒂𝒏 = × 𝟏𝟎𝟎 %
𝑾

Dan persentase lebih kecil dari saringan ke-i :


𝒊=𝒏

% 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒌𝒆𝒄𝒊𝒍 𝒅𝒂𝒓𝒊𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒂𝒓𝒊𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒆 − 𝒊 = 𝟏𝟎𝟎% − ෍ 𝑾𝒊


𝒊=𝟏
Parameter penting adalah
ukuran efektif (effective size), koefisien keseragaman (uniformity coefficient) ,
koefisien gradasi (curvature coefficient)

• Diameter dalam kurva distribusi ukuran yang bersesuaian dengan 10% yang lebih
halus(lolos ayakan) didefinisikan sebagai ukuran efektif atau D10. Nilai D10 yang
besar menunjukkan tanah lebih kasar dan memiliki karakteristik drainase yang
baik
Koefisien keseragaman (Cu) menunjukkan kemiringan kurva dan
D60
menunjukkan sifat keseragaman tanah. Cu makin kecil maka Cu 
kurva makin tajam dan butiran tanah makin seragam. D10
Gradasi baik jika Cu > 4 untuk kerikil dan Cu > 6 untuk pasir

Koefisien gradasi (Cc) , suatu tanah dianggap


Cc 
D30 2
lengkungnya baik jika 1 < Cc < 3 dan jelek jika Cc < 1 D60  D10
dan Cc > 3, dinyatakan sebagai :
CONTOH SOAL
Hasil dari analisis saringan diberikan sebagai berikut :
No.Saringan (ASTM) Massa tanah tertahan pada
saringan (gr)
#4 0
10 40
20 60
40 89
60 140
80 122
Gambarkan kurva distribusi
100 210 ukuran partikel dan tentukan
200 52 D10, D30, D60 , Cu dan Cc
pan 12
Penyelesaian
Untuk membuat kurva distribusi ukuran partikel, dihitung dulu persen butir
tanah yang lebih kecil :
Penyelesaian :
Jumlah kumulatif massa tanah yang tertahan pada saringan ke – i
( misalnya saringan No.10) dihitung :
𝛴𝑀 #10 =𝑀 #4 +𝑀 #10 = 0 + 40 = 40 𝑔𝑟

Dan pada saringan no.20 adalah 𝛴𝑀 #20 =𝑀 #10 +𝑀 #20 = 40 + 60 = 100 𝑔𝑟

Persen masa tanah yang lolos saringan atau persen butir lebih kecil dari ukuran diameter tertentu
(misalnya 4,75 mm), dihitung :

F(#4) (%) 
 M  M (#4 ) 729  0
100% 100%  100%
M 729
Dan persentase massa tanah yang lolos saringan no.10 :

F(#10) (%) 
M  M (#10)
100% 
729  40
100%  94,5%
M 729

Dari kurva tersebut diketahui ukuran diameter butir D10 = 0,15 mm, D30 = 0,18 mm, dan D60 = 0,27 mm
ANALISIS HIDROMETER
Untuk menentukan gradasi butir-butir halus (<
0.075 mm) dan menentukan distribusinya
digunakan analiss hidrometer. Analisis
hidrometer didasarkan pada prinsip sedimentasi
(pengendapan) butir-butir tanah dalam air
Analisis ini didasarkan pada hukum Stokes yang
menyatakana bahwa butiran partikel
mengendap dengan kecepatan konstan, yaitu :
v
s  w D 2 18v 18v L
D  
18  s  w  s  w T

 s  Gs . w 18 L L
D  K
Gs  1 w T T
KONSISTENSI DAN PLASTISITAS
• ilmuwan Swedia bernama Atterberg telah menggembangkan suatu metode untuk
menjelaskan “sifat konsistensi tanah” berbutir halus pada kadar air yang bervariasi
APA ITU KONSISTENSI ???
merupakan sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat
memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi
(tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan
berbagai kadar air yang diberikan.

Sifat ini karena adanya air yang terserap di


sekeliling permukaan dari partikel
lempung. Bila mana kadar airnya sangat
tinggi, campuran tanah dan air akan
menjadi sangat lembek seperti cairan
BATAS CAIR (LIQUID LIMIT)
Ditentukan dengan melakukan percobaan
Batas cair adalah kadar air tanah Casagrande sesudah “25 pukulan” yang dilakukan
pada batas cair dan batas plastis sebanyak minimum 4 kali percobaan dengan
atau kadar air maksimum dimana kadar air yang berbeda dan jumlah pukulan (N)
tanah memiliki geser minimum yaitu antara 15 sampai 35
pada ketukan ke 25
BATAS CAIR (LIQUID LIMIT)
Kadar air dari tanah (%) dan N digambarkan dalam kertas semi log.
BATAS CAIR (LIQUID LIMIT)
Atas dasar hasil analisis dari beberapa uji batas cair, US waterways
Experiment Station, Vicksburg, Mississipi (1949) mengajukan suatu
persamaan empiris untuk menentukan batas cair , yaitu :

tan 
N
LL  wN   metode satu titik (one point method)
 25 

Dimana :
N = jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk menutup goresan 0.5 in.
wN = kadar air untuk menutup dasar goresan dari contoh tanah yang
dibutuhkan pukulan sebanyak N
tan β = 0.121 (tidak semua tanah memiliki nilai tan β = 0.121)
BATAS PLASTIS (PLASTIC LIMIT)
Batas plastis (PL) didefinisikan sbg kadar air pd kedudukan antara daerah plastis
dan semi padat, yaitu % kadar air dimana tanah dgn diameter silinder 3,2 mm
mulai retak2 ketika digulung

Batas plastis dapat ditentukan dengan pengujian yang


sederhana dengan cara menggulung sejumlah tanah dengan
menggunakan tanah secara berulang menjadi bentuk
ellipsoidal
Kadar air contoh tanah yang mana tanah mulai retak-retak
didefinisikan sebagai batas plastis
Indeks plastisitas (plasticity Index) adalah perbedaan antara
batas cair dan batas plastis suatu tanah atau
PI  LL  PL
BATAS PLASTIS (PLASTIC LIMIT)
Burmister (1949) mengklasifikasikan indeks plastisitas berdasarkan tabel

DESKRIPSI INDEKS PLASTISITAS

Non plasticity 0 Indeks Cair (liquidity index) - LI


didefinisikan sbg kadar air tanah asli
Slighty plasticity 1- 5
relatif pada kedudukan plastis dan
Low plasticity 5 -10 cair
Medium plasticity 10 - 20
𝑤𝑁 − 𝑃𝐿 𝑤𝑁 − 𝑃𝐿
High plasticity 20 - 40 𝐿𝐼 = =
𝐿𝐿 − 𝑃𝐿 𝑃𝐼
Very High plasticity > 40
BATAS SUSUT (SHRINKAGE LIMIT)
Kadar air dimana perubahan volume suatu massa tanah berhenti

Ketika kadar air pada


tanah butiran halus
berkurang di bawah batas
plastis, penyusutan massa
tanah berlanjut hingga
batas susut tercapai
BATAS SUSUT (SHRINKAGE LIMIT)
Uji batas susut (ASTM Test Designation D-427) dilakukan di laboratorium dengan menggunakan
mangkok porcelin yang memiliki diameter 1.75 in ( 44,4 mm) dan tinggi kira-kira 0.5 in (12,7 mm).

Batas susut ditentukan menurut gambar kurva adalah : SL  wi (%)  w(%)


Dimana :
wi = kadar air tanah mula-mula pada saat ditempatkan dalam mangkok uji.
w = perubahan kadar air (antara kadar air mula-mula dan kadar air batas susut)
Sedangkan rumus kadar air mula-mula adalah
m1  m2
wi (%)  100
m2

Dimana :
mi = massa tanah basah dalam mangkok(gram)
m2 = massa tanah kering (gram)

Selain itu : Dimana :

w(%) 
V  V 
i f w
100
Vi = volume tanah basah saat permulaan
pengujian/ volume mangkok (cm3)
m2 Vf = volume tanah kering
ρw = kerapatan air ( g/cm3)
m1  m2   Vi  V f  w 
SL  100   100

m2  m2 
Contoh soal

Pengujian di laboratorium untuk menentukan batas konsistensi suatu


tanah adalah sebagai berikut :
Benda Uji 1 2 3 4
Jumlah pukulan 12 17 23 28
Berat tanah basah + cawan (gr) 28.15 23.22 23.20 23.18
Berat tanah kering + cawan (gr) 24.20 20.8 20.89 20.9
Berat cawan (gr) 15.3 15.1 15.2 15

Tentukan batas cair (LL) , indeks plastisitas (IP) dan indeks cair (LI) tanah
tersebut. Diketahui tanah memiliki PL =20% , kadar air lapangan = wN= 38 %